Fated To Love You Part 2


Title: Fated To Love You

Cast: Jung Yunho

Author: Lee Eun Ri

DON’T LIKE DON’T READ !!! YOU CAN LEAVE THIS BLOG. EASY RIGHT?

Happy Reading

Yunho menggendong In Hye dan berlari masuk ke arah rumah sakit. Ia sangat panik saat melihat In Hye langsung pingsan. Ia ditahan oleh perawat saat akan masuk ruang ICU. Yunho pun menunggu di depan pintu dengan cemas. Ia sedikit menyesali apa yang ia lakukan tadi, ia tahu kalau apa yang ia lakukan sangat kasar. Lebih kasar dibandingkan sebelumnya.

Pintu terbuka dan Yunho pun langsung berdiri. Dokter mengatakan jika In Hye terlalu lelah dan kurang makan juga stress. Ia baru tahu kalau tubuh In Hye lemah saat dokter mengatakannya tadi.

Pintu ruang rawat In Hye dibuka dengan ragu oleh Yunho. Dilihatnya In Hye tengah berbaring dengan selang infus di tangannya dan wajah pucat. Yunho duduk di samping In Hye. Tak lama istrinya itu membuka mata dan tersenyum saat melihatnya. Yunho menyesal melihat In Hye yang masih bisa tersenyum lembut padanya.

Saat Yunho ingin meminta maaf, In Hye menghentikannya dan menggelengkan kepalanya. Saat ia akan menelepon orang tua In Hye pun wanita itu menahannya dan menggelengkan kepalanya.

“Jangan.” Ucap In Hye lemah.

“Nanti saja teleponnya. Jika sudah pulang dan lukanya hilang. Aku tidak mau mereka banyak bertanya.” Yunho semakin merasa bersalah setelah mendengar alasan In Hye.

“Kau masih marah?” Tanya In Hye. Yunho mengutuk dirinya karena In Hye masih memikirkan perasaannya. Ia tahu kalau seharusnya In Hye lah yang marah padanya sekarang ini. Yunho diam saja tidak menjawab.

“Maafkan aku. Tapi perasaanku padamu tulus.” Hati Yunho terasa teriris saat mendengar ucapan In Hye. Yunho menggenggam tangan istrinya itu dan menunduk.

“Tidakkah kau marah padaku?” Tanya Yunho. In Hye tersenyum dan menyentuh pipi Yunho lalu menggelengkan kepalanya.

“Aku mengerti kenapa kau melakukan itu. Kau mungkin kesal karena perjodohan ini atau mungkin karena aku melakukan kesalahan saat mengurusmu dan rumah kita.” Senyuman dan ketulusan In Hye meruntuhkan sikap dingin Yunho yang selalu ia perlihatkan pada istrinya itu. Yunho mengelus pipi In Hye dengan lembut dan merasa sedih saat melihat luka diwajah In Hye atas perbuatannya.

“Maafkan aku.” Akhirnya Yunho mengucapkan apa yang sejak tadi ingin ia ucapkan.

“Jangan mengatakan itu lagi. Kau tidak salah apa-apa.” Ucap In Hye tulus. Ia merasa Yunho melakukannya memang karena kesal dan juga karena kondisi dimana mereka dipermainkan oleh perjodohan ini. In Hye menggelengkan kepalanya saat melihat Yunho akan menangis.

“Tersenyumlah. Aku ingin melihatmu tersenyum sekali saja kalau boleh.” Yunho tidak mengerti dengan wanita di depannya yang begitu baik. Ia pun tersenyum tulus untuk pertama kalinya pada In Hye semenjak menikah.

“Aku sudah menandatangani surat perjanjian dan surat cerainya. Sehari setelah kau pergi pengacara datang. Aku membukakan pintu dengan kunci cadangan, tenanglah aku tidak keluar sama sekali. Hanya membuka pintu untuk pengacara itu. Setelah ini berakhir kau bisa kembali pada kehidupanmu yang dulu.”

“Aku harap kau hidup bahagia. Aku hanya bisa berharap semuanya akan berjalan dengan baik sesuai dengan rencanamu. Maaf kehadiranku membuat hidupmu hancur, Yunho-sshi.” Entah kenapa hati Yunho sangat sakit saat mendengar semua ucapan In Hye.

Selama In Hye sakit, Yunho merawat wanita itu dengan sabar. Ia pun cuti dari pekerjaannya agar bisa merawat In Hye. Ia benar-benar merasa bersalah pada In Hye dan berusaha bersikap baik pada wanita itu tapi sikap In Hye biasa saja. Yunho merasa jika sikap In Hye karena sakit hati dengan perjanjian dan surat cerai yang sudah ia siapkan.

Setelah sembuh In Hye diperbolehkan untuk pulang dan dokter mengatakan jika In Hye tidak boleh terlalu lelah. Sampai di rumah In Hye malah melakukan pekerjaan rumah seperti biasa membuat Yunho harus menghentikannya. Tapi In Hye keras kepala dan terus melanjutkannya.

In Hye duduk di sofa sambil menghela nafas lelah setelah merapikan rumah. Yunho yang sejak tadi berusaha menghentikannya langsung pergi ke dapur entah akan membuat apa, In Hye sedikit tidak peduli karena ia sangat lelah. Ia menutup matanya dan teringat pengacara yang datang waktu itu. Hari dimana keyakinannya akan bisa mengubah sikap Yunho runtuh tak bersisa. Hatinya pun sakit mendengar ucapan pengacara itu tentang surat perjanjian dan surat cerai yang disiapkan Yunho.

Setelah pengacara itu datang In Hye berusaha menenangkan dirinya dan terus berpikir dari sisi positifnya. Selama berhari-hari In Hye berusaha mengalihkan pikiran dari kedua surat itu dengan menyiapkan pesta kecil untuk Yunho. In Hye berpikir untuk menceritakan semuanya pada Yunho saat ulang tahun pria itu. Tapi kejadiannya tak ia sangka, suaminya itu benar-benar marah hingga ia berakhir di rumah sakit.

Matanya terbuka saat Yunho menyentuh pundaknya. Pria itu membuatkan minuman hangat untuknya. In Hye hanya bisa tersenyum dan meminumnya. Sikap Yunho yang begitu baik belakangan ini membuat In Hye bingung. Apakah sikap itu akan bertahan lama atau tidak? Itu yang selalu ia pikirkan hingga ia teringat jika pria itu terkadang bersikap baik dan pada akhirnya selalu menyiksanya.

Jika tidak ada kedua surat itu mungkin melihat perubahan Yunho akan membuat In Hye semakin yakin bisa merubah sikap ringan tangan suaminya itu. Tapi pikirannya masih tidak bisa lepas dari kedua surat itu.

In Hye menghela nafas dan menaruh gelas diatas meja. Ia berdiri dan pergi ke kamarnya. In Hye membersihkan diri dan berharap dengan begitu ia bisa lepas sejenak dengan pikirannya selama ini.

Keluar kamar mandi In Hye cukup kaget karena melihat Yunho berdiri di depan pintu. Pria itu menatapnya tanpa berkata apa-apa. Ia mengambil pakaian ganti lalu pergi kekamar yang selama ini selalu kosong.

Kamar kosong yang selalu di tempati jika ada tamu menginap itu kini akan menjadi kamar In Hye. Itu yang ia pikirkan karena secara hukum ia sudah bercerai dari Yunho. Hanya tinggal menunggu waktu ia harus keluar dari rumah itu. Tak lama ia berpikir tentang pekerjaan, ia harus melakukan sesuatu agar ia mempunyai penghasilan untuk menghidupi dirinya sendiri. Ia tak mau memakai uang Yunho lagi karena ia memang bukan lagi istrinya.

In Hye membuka laptopnya dan membuka kembali file yang sudah lama tidak ia sentuh. File yang berisi novel yang ia buat sejak lulus SMA. Ia berpikiran untuk mengirimkan ceritanya itu pada sebuah penerbit yang selama ini membujuknya agar mau membukukan semua cerita yang ia buat. In Hye menghela nafas dan memejamkan matanya. Ia berharap jika keputusannya untuk mengirimkan salah satu ceritanya itu benar.

Sementara itu Yunho menunggu In Hye keluar di ruang keluarga tapi sudah tiga jam ia menunggu In Hye tidak juga keluar. Ia cemas terjadi sesuatu pada In Hye, Yunho pun menghampiri In Hye dan mengetuk pintunya. Yunho terlihat lega melihat In Hye baik-baik saja.

“Makan malam. Kau harus minum obat.” Ucap Yunho. In Hye mengikuti Yunho dari belakang dan duduk di meja makan seperti biasa. Ia makan seperti biasa lalu minum obat tanpa berbicara membuat Yunho salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Kau tidak harus seperti ini, Yunho-sshi. Bersikaplah seperti biasa. Mulai saat ini aku akan tidur di kamar itu dan akan mematuhi semua perjanjian yang sudah kutandatangani.” Ucapan In Hye membuat Yunho tidak bisa berkata apa-apa.

“Terima kasih atas makan malamnya. Besok aku akan memasak sarapan seperti biasa.” Setelah mengucapkan itu In Hye pergi kekamarnya dan berkutat dengan laptopnya.

Semalaman In Hye berkutat dengan laptopnya. Ia kembali menyelesaikan ceritanya yang belum selesai ia kerjakan. Ia berhenti menulis semenjak menikah dengan Yunho karena waktu itu In Hye hanya ingin fokus menjadi ibu rumah tangga yang mengurus suami. Tapi kini keadaannya berbeda, ia harus mengerjakan sesuatu agar mendapatkan penghasilan untuk menghidupi dirinya sendiri.

In Hye menyandarkan diri di kursinya sambil melemaskan otonya yang tegang karena kelelahan. Ia melonjak dari kursinya saat melihat sudah jam dua dini hari, In Hye bergegas tidur agar bisa bangun pagi dan mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Paginya In Hye terlambat bangun, ia bangun jam enam pagi. Ia langsung bergegas untuk menyiapkan sarapan lalu membersihkan rumah secepat yang ia bisa. Setelah sarapan selesai, In Hye menuliskan memo dan ia taruh diatas meja makan agar Yunho bisa membacanya. Matanya menatap sekeliling rumah dan melihat semuanya sudah bersih, ia lalu masuk ke dalam kamar dan menunggu di balik pintu. Ia menunggu suara Yunho keluar rumah agar ia bisa pergi untuk menemui beberapa penerbit yang pernah menawarkan menerbitkan novelnya.

Setelah kurang lebih tiga puluh menit menunggu akhirnya perlahan In Hye keluar dari kamar dan melihat makanan di atas meja sudah habis tak bersisa. Memo yang ia tulis pun sudah tidak ada. In Hye mencuci piring kotor itu lalu keluar.

In Hye pergi menemui Tae Hwan, seorang pemilik salah satu penerbit terbesar di Korea yang selalu membujuknya untuk mau menerbitkan novelnya. Tae Hwan mengaku jika mengetahui ceritanya dari beberapa cerita yang pernah ia publikasi di sebuah blog. In Hye hanya berharap jika Tae Hwan masih mau menerima ceritanya.

Tangannya ia genggam karena gugup. Seorang receptionist menyuruhnya menunggu karena Tae Hwan tengah rapat. Duduk di sofa empuk itu sebenarnya sangat nyaman tapi In Hye terlalu gugup untuk menikmati kenyamanan sofa mewah itu. Ia berdiri saat melihat Tae Hwan menoleh. Pria itu terlihat sangat kaget dengan kedatangan In Hye. Ia hanya bisa mengangguk sambil tersenyum tipis.

Pria itu menyambutnya dengan sangat ramah. Tanpa basa basi In Hye mengatakan tujuannya menemui Tae Hwan. Pria itu terlihat sangat senang dengan keputusannya untuk menerbitkan ceritanya. Senyuman Tae Hwan menghilang saat In Hye mengatakan tidak ingin nama aslinya dipublikasikan dan hanya ingin menggunakan nama samaran. Awalnya Tae Hwan menolak tapi setelah In Hye mengatakan alasannya, pria itu menyetujuinya.

In Hye dan Tae Hwan membuat surat perjanjian dan surat kontrak yang tentunya menguntungkan kedua belah pihak. Setelah semuanya jelas, In Hye menandatangani surat itu. Ia tersenyum puas setelah melihat surat kontraknya. In Hye lalu menyerahkan cerita yang ia selesaikan semalam pada Tae Hwan. Pria itu terkejut lalu tak lama tersenyum senang. Lagi-lagi In Hye menunggu dengan gugup karena Tae Hwan langsung membacanya. Cukup lama pria itu membacanya tapi In Hye menunggu dengan sabar. Jantungnya berdengup lebih kencang saat melihat Tae Hwan menaruh ceritanya diatas meja.

“Aku menyukainya. Bahasanya pun mudah untuk diterima oleh publik. Kita akan langsung mencetaknya.” Ucapan Tae Hwan membuat In Hye lega.

“Terima kasih.” Hanya itu yang bisa In Hye katakan.

Setelah urusannya selesai, In Hye pun pergi dengan hati yang sangat senang. Ia memutuskan untuk pergi ke supermarket dan saat ia tengah memilih bahan makanan, ponselnya berbunyi. Ia melihat ada pesan dari nomor yang tidak ia kenal.

Aku sudah mengirimkan uang untuk novel perdanamu. Anggap saja uang muka dariku karena aku sangat senang kau datang padaku untuk mempublikasikan ceritamu. ~ Tae Hwan ~

In Hye tersenyum membaca pesan dari Tae Hwan. Lalu ia mengecek tabungannya dan ia membelalakan matanya saat melihat uang yang masuk kedalam tabungannya. Uang yang masuk itu sangat tidak masuk akal jika disebut sebagai uang muka. In Hye Memasukkan ponselnya dan bergegas menyelesaikan belanjanya. Ia akan mengirim pesan pada Tae Hwan saat di rumah nanti.

Sampai di rumah In Hye benar-benar mengirim pesan pada Tae Hwan untuk menanyakan tentang jumlah uang yang dikirim pria itu yang menurutnya tidak masuk akal. Tapi pria itu tidak membalasnya membuat In Hye kesal. Ia ingin menelepon tapi ia takut menganggu pekerjaan Tae Hwan. Akhirnya ia menyibukkan diri dengan memasak sambil sesekali melirik ponselnya.

Di sisi lain Yunho yang kini di kantor tidak bisa fokus bekerja karena terus memikirkan In Hye yang belakangan ini sangat berubah. Saat makan pagi pun ia merasa ada yang kosong, ia baru menyadari kekosongan itu saat melihat foto pernikahannya dengan In Hye saat akan pergi ke kantor. Yunho merebahkan tubuhnya sambil menatap foto ia dan In Hye yang ada di atas meja.

“Bukankah aku seharusnya senang In Hye sudah menandatangani kedua surat itu?” Gumamnya pelan. Yunho menghela nafas pelan lalu keluar ruangan untuk menjernihkan pikirannya.

Saat pulang ke rumah Yunho berhenti setelah melihat toko bunga. Ia membeli bunga yang cocok untuk In Hye dan membelikan wanita itu kue. Memang hari ini bukan hari ulang tahun In Hye tapi entah kenapa ia ingin membelikannya untuk wanita itu. Wanita yang telah ia sakiti. Sampai di rumah Yunho melihat rumah bersih seperti biasa tapi tidak ada In Hye. Yunho melihat meja makan sudah ada makan malam dan di kamar sudah ada pakaian ganti yang biasa In Hye siapkan untuknya. Ia menghela nafas dan menaruh bunga serta kue diatas meja lalu ke kamar mandi.

Yunho makan dalam diam dan ia merasa sangat sepi. Belum selesai makan ia berdiri dan menghampiri kamar In Hye. Ia sudah tidak tahan lagi jika berlanjut seperti ini. Hatinya entah kenapa merasa kosong. Ia mengetuk pintu itu berkali-kali hingga akhirnya In Hye membuka pintu dan terlihat kaget saat melihatnya.

“Bisa kita bicara?” Tanya Yunho. In Hye mengangguk dan keduanya berbicara di ruang tengah.

Yunho memulai pembicaraan dengan meminta maaf untuk kesekian kalinya karena ulahnya yang menyakiti In Hye. Wanita itu pun menjawabnya sama seperti saat di rumah sakit. Yunho meminta In Hye untuk tidak menjauh dan bersikap seperti biasa tapi In Hye tidak menjawabnya membuat Yunho frustasi. Ia berlutut di samping In Hye dan memegang tangan wanita itu. Di tatapnya In Hye dengan lembut.

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa tapi bisakah kau bersikap biasa? Aku benar-benar minta maaf karena sangat kasar padamu dulu. Aku tidak akan melakukannya lagi.” Ucap Yunho menyesal.

“Aku tahu kalau aku yang menyiapkan kedua surat itu tapi setelah semua ini terjadi entah kenapa aku tidak menyukainya.” Malam itu Yunho mengatakan semua yang ada di hatinya pada In Hye. Ia pun berkali-kali meminta maaf pada wanita di depannya hingga akhirnya In Hye memeluknya dengan erat dan menangis. Tangisan In Hye membuat Yunho membalas pelukan wanita itu dengan erat.

“Bisakah kita saling mengenal sekarang?” Reflek In Hye mengangguk.

“In Hye, aku benar-benar minta maaf karena kasar padamu. Aku tidak tahu kalau kau bukan dia. Kau sangat mirip dengannya. Aku kasar padamu karena aku pikir kau dia. Dia selingkuh dibelakangku. Aku sangat marah padahal waktu itu perasaanku tulus padanya.” Ucap Yunho jujur. Ia mengatakan semuanya pada In Hye tentang wanita yang mirip dengan wanita itu sambil tetap memeluknya. Setelah menceritakannya In Hye diam saja.

“Mungkin yang kau maksud In Hye saudara kembarku. Wanita yang seharusnya kau nikahi. Wanita yang kabur entah kemana setelah mendengar akan dijodohkan.” Mendengar itu Yunho melepaskan pelukkannya dan menatap wanita di depannya horror. Yunho memang tahu jika wanita didepannya bukanlah wanita yang seharusnya menjadi istrinya karena wanita itu menuliskan semuanya di dalam surat yang di simpan di meja kerjanya. Tapi Yunho sama sekali tidak tahu kalau In Hye kembar. In Hye belum memberitahukan tentang hal itu padanya. Di dalam surat wanita di depannya hanya mengatakan jika ia bukanlah wanita yang seharusnya dijodohkan dengannya lalu meminta maaf. Hanya itu.

“Wanita yang akan di jodohkan denganmu sebenarnya bernama In Hye. Dia kabur 2 hari sebelum pernikahan. Orang tuaku bingung lalu terpaksa menyuruhku menggantikan In Hye.” Ucap wanita itu.

Yunho terdiam cukup lama untuk mencerna ucapan wanita di depannya. Ia baru tersadar setelah mengerti semua situasi yang ia hadapi sekarang. In Hye yang asli dulu sulit di hubungi karena akan dijodohkan lalu kabur dari rumah dan mungkin pergi bersama pria yang sempat ia lihat di hotel waktu itu. Lalu In Hye di depannya terpaksa menggantikan In Hye yang asli dan ia sendiri merasa jika istrinya adalah In Hye yang ia kenal selama ini. Tak lama terbayang kembali sikapnya yang kasar pada In Hye di depannya ini.

“Ya Tuhan. Maafkan aku. Aku kasar padamu karena benar-benar kupikir kau In Hye.” Wanita di depannya mengelus pipinya sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa. Kau kan sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi.” Ucap wanita itu. Ia menarik tangan Yunho agar duduk di sofa. Ia menghentikan Yunho saat pria itu akan mengatakan hal yang sama.

“Jangan bicarakan itu lagi. Aku tidak mau mendengarnya. Bisakah kita memulainya dari awal tanpa mengingat masa lalu terutama wanitamu itu?” Yunho mengangguk.

“Dia bukan lagi wanitaku. Sebelum menikah aku sudah sangat membencinya. Ia mengkhianatiku.” Mata Yunho berkilat marah saat mengingatnya. Wanita di depannya mengelus dada Yunho agar amarahnya reda.

“Aku Eun Hye, wanita yang sering kau lihat di perpustakaan.” Yunho tersenyum. Entah kenapa hatinya kini kembali terisi dan lebih hangat daripada sebelumnya. Yunho tidak mau menyimpulkan terlalu cepat jika perasaannya itu cinta. Ia ingin menjalaninya perlahan dan tidak ingin melepas Eun Hye, wanita yang ada di depannya ini karena melepas wanita itu hanya akan membuat hatinya kosong seperti beberapa hari ini.

Keduanya memutuskan untuk memulainya dari awal. Eun Hye sangat senang dengan semuanya. Ia sudah sangat mencintai Yunho dan saat pria itu meminta maaf dan ingin memulainya dari awal tentunya ia sangat senang. Rasa sakit dihatinya entah sejak kapan perlahan menghilang. Cinta bisa mengalahkan segalanya bahkan sakit di hatinya. Itu yang selalu menjadi kalimat favorit Eun Hye dan kini ia semakin menyukai dan meyakini kalimat itu benar adanya.

Eun Hye menghampiri meja makan dan melihat Yunho hanya makan sedikit. Ia meminta pria itu untuk melanjutkan makan tapi Yunho hanya menggelengkan kepala. Akhirnya Eun Hye mengambil makanan itu dan menyuapi Yunho. Ia tersenyum saat menyuapi pria besar di depannya.

“Kenapa tersenyum?” Tanya Yunho.

“Aku punya pria yang sangat kucintai dan dia seorang bayi besar.” Perkataan Eun Hye membuat Yunho menghentikan aktifitasnya pada ponselnya dan menatap Eun Hye. Wanita itu hanya tersenyum sambil terus menyuapi Yunho.

Setelah makan, keduanya bersantai di ruang tengah untuk pertama kalinya. Eun Hye sejak tadi selalu menatap Yunho, seperti ada yang ingin dikatakan. Yunho sadar akan hal itu tapi ia ingin Eun Hye yang terlebih dahulu mengatakannya tanpa ia tanya. Perlahan Eun Hye mengubah posisi duduknya hingga ia lebih dekat dengan Yunho. Ia ingin menanyakan tentang hal yang selama ini selalu menganggu pikirannya.

“Yunho-sshi.” Panggil Eun Hye ragu.

“Apa?” Eun Hye tiba-tiba menundukkan kepalanya saat Yunho menatapnya. Ia memainkan jari tangannya untuk menghilangkan kegugupannya.

“Hmmm bagaimana dengan surat cerai dan perjanjiannya? Sebelum kau pulang dari singapura surat itu selalu menganggu pikiranku.” Eun Hye masih menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Yunho. Ia melonjak kaget saat tiba-tiba bel berbunyi. Yunho menyuruhnya tetap duduk dan pria itu yang membuka pintunya.

Saat kembali Yunho membawa amplop berwarna coklat ditangannya dan kembali duduk di sofa. Ia membuka amplop itu dan merobek isinya di depan Eun Hye. Robekan kertas itu ia berikan pada Eun Hye. Setelah menerimanya barulah wanita di depannya itu menatapnya. Yunho tersenyum.

“Itulah jawabanku.” Ucapnya singkat.

Eun Hye menatap kertas yang ada di tangannya bingung tapi saat ia melihat tulisan yang cukup besar yang masih bisa ia baca, ia langsung menatap Yunho lagi dengan tidak percaya. Reflek Eun Hye memeluk Yunho dengan senang. Surat cerai yang sudah ia tandatangani dan juga surat perjanjian itu sudah dihancurkan oleh Yunho didepannya. Pria itu mengelus lembut kepalanya dan kembali meminta maaf.

“Bagaimana bisa? Bukankah kita sudah bercerai?” Tanya Eun Hye.

“Untungnya pengacaraku belum memprosesnya. Dia bilang jika dia tahu sifatku dan pasti akan menarik kembali kedua surat itu. Pengacaraku itu temanku dari kecil.” Jawab Yunho. Ia senang bisa kembali melihat senyuman lembut Eun Hye.

Yunho berjalan ke dalam kamar dan keluar dengan membawa bunga serta kue yang tadi sempat ia beli. Ia memberikannya pada Eun Hye. Wanita itu bingung tapi Yunho tidak mengatakan apa-apa. Ia menyalakan tv dan menonton dengan santai.

Eun Hye membuka kuenya dan melihat ada kertas kecil di dalamnya, begitu juga dengan bunga yang ia terima. Ia membaca kedua surat kecil itu lalu tersenyum. Tulisan tangan Yunho yang mengatakan maaf dan memintanya untuk tersenyum lagi untuk pria itu. Eun Hye menoleh pada Yunho dan melihat pria itu menonton dengan santai.

“Kau yang membelikannya untukku?”

“Tidak, tadi itu untuk klien di hotel tapi tidak jadi karena klien itu sudah pergi.” Jawab Yunho asal.

Eun Hye tersenyum mendengar jawaban Yunho. Baru kali ini ia melihat sikap manis pria itu. Walaupun hal sederhana tapi Eun Hye menyukainya. Satu hal lagi yang Eun Hye ketahui tentang Yunho. Pria itu sebenarnya sangat manis tapi selalu menutupinya dengan sikap dingin dan cuek.

“Ini sepertinya sangat enak. Kau mau?” Tawar Eun Hye. Yunho menggelengkan kepalanya tanpa menatap Eun Hye.

Eun Hye memakan kue itu sambil terus menatap Yunho yang tidak lepas dari menonton tv sejak tadi. Ia sengaja melakukannya karena senang melihat wajah suaminya itu yang memerah. Selesai memakan kue, Eun Hye mengambil kertas kecil tadi dan membacanya.

“Sepertinya kau membuat kesalahan pada klienmu hari ini ya? Sampai kau meminta maaf dan memintanya untuk tersenyum lagi untukmu.” Eun Hye berdiri dan menaruh sisa kue ke dalam kulkas. Saat di dapur Eun Hye tersenyum puas karena sejak tadi ia selalu menahan senyumannya di depan Yunho.

Eun Hye kembali ke ruang tengah dan melihat Yunho tengah memukul bantal yang ada di sofa. Yunho langsung berhenti saat melihatnya. Ia menghampiri Yunho lalu mencium pipi pria itu.

“Terima kasih atas kue dan bunganya. Aku menyukainya.” Eun Hye masuk ke dalam kamarnya dan Yunho lalu mendengar teriakan tertahan Yunho. Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia menaruh bunga diatas meja nakas disamping tempat tidurnya lalu berbaring diatas ranjangnya.

Yunho masuk kedalam kamar dan melihat Eun Hye sudah tertidur. Ia menarik selimut agar Eun Hye tidak kedinginan lalu perlahan ia berbaring di sebelah istrinya. Yunho membelai rambut Eun Hye dengan lembut sambil memikirkan untuk membalas In Hye. Ia masih tidak bisa melupakan pengkhiatan In Hye dan tetap akan membalas perbuatan wanita itu. Ia ingin In Hye menderita.

***

Yunho tak henti-hentinya tersenyum. Sepanjang hari ia terlihat senang sampai-sampai orang kantor bingung karenanya. Ini karena Eun Hye memberikan kabar yang membuatnya cukup senang. Eun Hye memberi kabar jika malam ini ia dan istrinya itu akan makan malam bersama keluarga Eun Hye. Itu artinya Yunho kemungkinan akan bertemu In Hye. Yunho ingin melihat bagaimana reaksi wanita itu jika melihatnya.

Saat makan malam Yunho hanya melihat kedua orang tua Eun Hye. Mereka mengobrol dan Yunho mengatakan mengenai pernikahannya dan mengatakan jika ia tahu kalau istrinya itu adalah Eun Hye bukan In Hye. Kedua mertua Yunho terlihat kaget dan takut tapi sebelum mereka bersuara, Yunho menyelanya. Ia meminta ijin untuk melakukan pernikahan ulang atau cara apapun agar nama In Hye dibuku pernikahan mereka berubah menjadi nama asli istrinya, Eun Hye. Kedua orang tua Eun Hye langsung menyetujuinya dan berterima kasih pada Yunho karena tidak mempermasalahkan hal ini.

Yunho memang tidak akan mempermasalahkan kebohongan mereka tapi ia tidak akan membiarkan In Hye hidup tenang.

Yunho menghampiri Eun Hye, ia mencium puncak kepala wanita itu dengan lembut. Eun Hye tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya ke sebuah kamar. Wanita itu mengatakan jika itu kamarnya. Yunho menatap sekeliling kamar Eun Hye, kamar istrinya itu di dominasi oleh warna biru dan buku. Jelas sekali jika Eun Hye sangat suka membaca.

Perhatian Yunho tertuju pada sebuah foto gadis kecil, ia menyimpulkan jika itu foto Eun Hye saat masih kecil. Ia mengambil album foto yang ada di meja samping dimana ia berdiri. Dibukanya album itu dan melihat foto Eun Hye. Yunho tersenyum melihat betapa senyum Eun Hye sangat manis dan wanita itu terlihat sangat bahagia.

“Difoto itu aku sangat kurus dan jelek bukan?” Ucap Eun Hye membuat Yunho menatap istrinya itu sekilas sambil tersenyum. Yunho menggelengkan kepalanya.

“Kau terlihat manis dan bahagia.” Ucap Yunho jujur.

Tak lama terdengar keributan di luar membuat Yunho dan Eun Hye keluar dari kamar. Mereka melihat In Hye tengah bertengkar dengan orang tua Eun Hye. Keduanya menghampiri mereka dan melerainya. In Hye berhenti saat melihatnya, Yunho puas dengan reaksi in Hye yang kaget. Orang tua Eun Hye tampak bingung dan tak tahu harus mengatakan apa.

“Kau?” Ucap In Hye. Yunho hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Kalian saling kenal?” Tanya ayah Eun Hye dengan nada tegas.

“Tidak – Ya.” Jawab Yunho dan In Hye bersamaan.

“Kami dulu pernah menjalin hubungan.” Ucap Yunho jujur.

“Tapi kami berpisah.” Lanjutnya. Ayah Eun Hye menatap Yunho penuh tanda tanya.

“Karena sulit dihubungi dan selingkuh.” Ucap Yunho lagi. Ia mengatakan semuanya dengan jujur pada kedua mertuanya. Ibu Eun Hye terlihat manatapnya dan Eun Hye bergantian dengan tatapan sedih. Yunho seolah tahu tatapan itu lalu memeluk pinggang Eun Hye erat.

“Tenanglah, bu. Saya tidak memandangnya sebagai In Hye lagi setelah dia mengatakannya dengan jujur. Saya pernah bertemu dengan Eun Hye sebelum menikah. Dia adalah wanita yang saya temui di perpustakaan.” Ibu Eun Hye tersenyum simpul mendengar ucapannya.

“Saya akan membuatnya bahagia.” Ibu Eun Hye memeluk Yunho setelah mendengar ucapan terakhir Yunho. Ia mengelus punggung wanita tua itu dengan lembut. Yunho mengerti hati seorang ibu di situasi seperti ini.

“Saya ingin melakukan pernikahan ulang secepatnya, bu.” Bisik Yunho yang dijawab anggukan oleh ibu Eun Hye.

“Terima kasih dan maafkan kami.” Bisik ibu Eun Hye. Yunho menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.

Yunho pamit pulang saat malam sudah semakin larut. Ia tahu jika kedua mertuanya ingin berbicara serius dengan In Hye. Saat akan keluar tangannya di tarik oleh In Hye. Wanita itu menatapnya dengan penuh kekesalan. Yunho hanya tersenyum melihatnya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku dijodohkan lalu menikah dengan Eun Hye.” Jawab Yunho santai membuat In Hye semakin kesal.

“Aku tidak tengah bercanda. Apa yang akan kau lakukan dengan Eun Hye dan kedua orang tuaku? Aku tidak akan tinggal diam jika kau menyakiti mereka.” Yunho tersenyum meremehkan.

“Aku tidak akan menyakiti mereka tapi aku akan membuatmu menderita karena berani bermain-main denganku disaat aku mencintaimu dengan tulus dulu. Kau akan membayar semuanya. Ingat itu.” Yunho menepis tangan In Hye dengan kasar sampai wanita itu meringis kesakitan.

“Tunggulah permainannya dimulai, Pela***.” Yunho berbalik dan menghampiri Eun Hye dengan senyuman seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Dalam perjalanan pulang Yunho sadar jika Eun Hye sering kali menatapnya dan seperti ingin mengatakan sesuatu. Yunho menatap Eun Hye sekilas dan terlihat kecemasan dimata istrinya itu. Ia mengelus punggung tangan Eun Hye berusaha menenangkannya.

Sebelum tidur Yunho menghampiri Eun Hye yang sudah berbaring diatas ranjang sambil memunggunginya. Ia memeluk Eun Hye sampai wanita itu tenggelam dalam pelukannya. Diciumnya punggung wanita itu.

“Jangan khawatir. Aku tidak memiliki perasaan lagi padanya, hanya ada kebencian dalam hatiku tiap kali melihatnya.” Ucap Yunho. Ia merasakan jika Eun Hye menangis.

“Kami kembar. Kau melihatku sebagai dirinya. Berarti kau juga membenciku.” Ucap Eun Hye sambil terisak. Ia takut kehilangan Yunho dan takut suaminya itu kembali pada kembarannya.

“Kalian memang kembar tapi kalian sangat berbeda. Kini aku bisa membedakan kalian setelah melihat kalian tadi. Kau jangan khawatir lagi. Aku hanya milikmu sekarang.” Ucap Yunho. Eun Hye berbalik dan memeluknya, wajahnya ditenggelamkan didadanya yang bidang. Yunho terus mengelus rambut Eun Hye dan berusaha membuat istrinya tenang. Malam itu Eun Hye menangis dan memintanya tidak meninggalkannya. Dengan permintaan Eun Hye, Yunho tahu jika istrinya itu sudah jatuh cinta padanya.

Yunho melepaskan pelukannya dan menarik dagu Eun Hye agar ia bisa melihatnya. Ia lalu mencium Eun Hye dengan lembut, istrinya itu membalasnya. Ciuman Eun Hye terasa frustasi bagi Yunho. Ia tak tahu harus bagaimana agar Eun Hye percaya dengan apa yang ia ucapkan. Yunho melepaskan ciumannya lalu menatap Eun Hye yang tengah mengatur nafasnya.

Diciumnya pipi Eun Hye lalu turun ke leher wanita itu. Yunho memberi tanda cukup banyak disana.

“Kau harus percaya padaku. Aku milikmu.” Ucap Yunho sambil menatap Eun Hye dengan serius. Eun Hye akhirnya tersenyum sambil mengangguk.

Sikap Eun Hye perlahan berubah kembali seperti biasa setelah Yunho berhasil meyakinkan Eun Hye kalau ia memang milik wanita itu dan tidak akan kembali pada In Hye. Yunho memang tidak berniat dan tidak akan pernah kembali pada wanita itu. Yang ada di benaknya sekarang hanyalah membuat In Hye menderita.

Hal pertama yang Yunho lakukan adalah menyuruh orang mencari informasi tentang kehidupan In Hye dan yang ia dapatkan membuatnya senang. Semua informasi yang ada hanyalah kejelekan wanita itu. Itu akan ia pakai untuk di sebarkan pada seluruh perusahaan yang ada di Negara ini. Ia tersenyum puas saat mendapatkan kabar jika In Hye di pecat dari pekerjaannya.

‘Ini hanyalah permulaan.’ Batin Yunho. Ia menoleh saat suara pintu terbuka, keningnya berkerut saat melihat Eun Hye datang kekantornya. Wanita itu menunjukkan sesuatu.

“Aku membuatkan makan siang untukmu.” Ucap Eun Hye. Yunho tersenyum dan menghampiri istrinya itu. Eun Hye membuka makanan yang dibawanya dan Yunho melihat makanan yang ia suka. Tanpa banyak bicara keduanya mulai makan siang.

Selesai makan siang, keduanya mengobrol ringan sampai Eun Hye meminta Yunho untuk memperkerjakan In Hye di hotel. Yunho menatap istrinya dengan bingung.

“Kenapa? Bukankah kau tidak pernah membicarakannya saat kita berdua?” Tanya Yunho bingung.

“Hanya saja aku kasihan dengannya. Dia dipecat dari pekerjaannya dan sekarang dia butuh pekerjaan. Beberapa kali ia melamar pekerjaan selalu ditolak.” Jawab Eun Hye. Wanita di depannya menatapnya dengan memohon.

“Aku hanya manajer disini. Bukan pemilik lagipula banyak rumor tidak bagus mengenai saudaramu itu.”

“Kau bisa memperkerjakannya di perusahaan keluargamu.” Pinta Eun Hye dengan sangat. Yunho sadar akan sesuatu, wanita di depannya bukan Eun Hye melainkan In Hye. Sikapnya baru Yunho sadari sangat berbeda. Tak lama ponselnya berbunyi, Yunho mengambilnya dan melihat nama yang tertera di layar. Ia tersenyum lalu menatap wanita di depannya. Yunho mengangkatnya tanpa menyebut nama penelepon yang merupakan istrinya, Eun Hye.

“Maaf tapi aku tidak suka memperkerjakan orang seperti ini. Jika saudaramu ingin mendapatkan pekerjaan dia harus berusaha sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Aku harus kembali bekerja.” Yunho berdiri dari sofa dan kembali ke meja kerjanya tanpa mempedulikan wajah In Hye yang terlihat sedih. Ia tahu jika itu hanyalah sandiwaranya agar ia luluh tapi sayang itu tidak berpengaruh sama sekali.

Ia melirik In Hye sekilas saat wanita itu akan pergi, wanita itu menatapnya dengan tatapan sedih lalu pergi. Yunho sengaja tidak mengatakan jika ia tahu kalau wanita itu adalah In Hye. Ia akan membiarkannya selama tidak membahayakan.

Disisi lain Eun Hye kini berada di café bersama Tae Hwan. Ia bertemu dengan pria itu untuk menanyakan tentang cerita baru yang semalam ia kerjakan. Eun Hye ingin tahu komentar pria itu tentang ceritanya dan ia mendapatkan komentar bagus yang membuatnya semakin bersemangat melanjutkannya.

Eun Hye melihat diseberang jalan ada Yunho yang tengah menatapnya dengan tatapan tidak menyenangkan. Dengan cepat ia menelepon Yunho tapi pria itu tidak menjawabnya dan langsung pergi. Eun Hye buru-buru pamit pada Tae Hwan dan pulang. Ia khawatir akan terjadi hal buruk pada hubungannya dengan Yunho karena salah paham.

Sampai di rumah Eun Hye melihat Yunho tengah duduk di sofa ruang tengah. Aura pria itu sangat gelap membuatnya ketakutan tapi ia berusaha menghilangkan ketakutannya dan menghampiri suaminya itu. Yunho tidak bereaksi apa-apa hanya meliriknya dan mencium pipinya dengan dingin. Ini yang tidak Eun Hye harapkan, Yunho salah paham padanya.

“Aku tadi bersama Tae Hwan.” Ucapannya di potong oleh Yunho.

“Aku tidak mau tahu kehidupanmu diluar rumah.” Ucap Yunho. Eun Hye menatap Yunho sedih.

“Dia hanya bosku. Aku mulai mengirimkan ceritaku semenjak pulang dari rumah sakit. Disaat aku sudah menandatangani kedua surat itu.” Eun Hye berusaha menjelaskannya tapi Yunho tetap diam. Eun Hye memikirkan cara agar Yunho percaya dan kesalahpahaman ini segera selesai. Ia masuk kedalam kamarnya dan membersihkan diri.

Eun Hye keluar kamar dan kembali menghampiri Yunho. Ia menatap Yunho yang masih berwajah dingin. Ia mengelus pipi pria itu dan menciumnya lembut.

“Maafkan aku tidak memberitahukanmu tentang hal ini. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu.” Yunho akhirnya menatapnya, Eun Hye berusaha meyakinkannya hingga Yunho memeluknya dengan erat.

Perlahan Eun Hye membuka pakaiannya di depan Yunho hingga tersisa lingerie di tubuhnya. Yunho menatapnya kaget. Ia sedikit menarik-narik lingerie itu karena risih, jika bukan karena Yunho marah ia tidak akan mau memakainya. Yunho menariknya hingga ia duduk di pangkuan pria itu. Eun Hye menunduk malu.

“Kau ingin menggodaku?” Tanya Yunho.

“Aku hanya ingin meyakinkanmu jika aku tidak akan selingkuh. Hanya cara ini yang terpikir olehku.” Jawab Eun Hye jujur. Ia kembali tertunduk karena malu. Tak lama Yunho mulai meraba tubuhnya membuat jantung Eun Hye berdetak cepat. Pria itu menciumi lehernya dengan ganas. Yunho baru berhenti setelah membuat kissmark dilehernya.

“Kita lanjutkan dikamar.” Bisik Yunho lalu menggendongnya ke kamar.

Paginya Yunho bangun lalu keluar dari kamar, ia tak sengaja mendengar obrolan Eun Hye di telepon dengan seseorang. Ia sengaja diam dan mendengarkan obrolan itu dari tempat yang tak terlihat oleh Eun Hye. Yunho keluar saat istrinya itu menyebut nama In Hye. Ia menunjukkan jari telunjuknya di bibirnya tanda agar Eun Hye diam dan melanjutkan pembicaraan itu. Eun Hye mengangguk lalu tak lama menutup teleponnya.

“In Hye?” Tanya Yunho yang dijawab anggukan oleh Eun Hye.

“Apa yang diinginkannya? Kau terlihat marah.” Tebak Yunho. Eun Hye menghampirinya dan memberikan sarapan untuknya.

Selesai sarapan Yunho melihat Eun Hye menundukkan kepalanya dan terlihat takut. Digenggamnya tangan Eun Hye sambil tersenyum. Wanita itu menghela nafas panjang lalu mengatakan apa yang diinginkan In Hye ditelepon tadi. Mata Yunho membelalak kaget mendengarnya. Tangannya mengepal karena marah.

“Biar aku yang mengurusnya. Kau tak usah mengatakan apa-apa. Ini sudah kelewatan.” Ucap Yunho sambil berdiri. Ia langsung mandi agar bisa mendinginkan otaknya dan meredakan emosinya. Ia memikirkan cara agar In Hye bisa lebih menderita. Yunho tersenyum licik saat menemukan caranya. Dengan cepat ia mandi lalu keluar dan mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.

 

Maaf ya lama updatenya. kemaren sempet hiatus buat fokus sama cerita di wattpad yang non ff ^^ mampir ya #promosi —-> wattpad

Jangan lupa komennya ya

5 thoughts on “Fated To Love You Part 2

  1. omo eon lama bgt br muncul…
    hehehe…
    takapa eon aq msh setia…😀
    wah, skrg aq ngerti kasian eun hye dy tersiksa krn in hye…
    tp syukurlah yunho oppa bs baik lagi…
    next jgn lama2 y eon…🙂🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s