Love(s) A Guardian Angel Part 12


Title : Love(s) A Guardian Angel

Main Cast : Park Yoochun, Lee Hee Young

Rating :NC17     

Author : Lee Eun Ri

DON’T LIKE DON’T READ !!! YOU CAN LEAVE THIS BLOG. EASY RIGHT?

Happy Reading

AUTHOR POV

Jaejoong di rawat di rumah sakit selama 2 minggu. Selama itu pula Yuchun menemani Jaejoong di rumah sakit bersama Tom. Kuliah Yuchun dan Tom di urus oleh Frank dan Jimmy. Setelah 2 minggu Jaejoong pun di perbolehkan pulang oleh dokter tapi Jaejoong menolak untuk pulang ke rumahnya. Ia tak bisa pulang dengan keadaan Hee Young masih membencinya. Ia memutuskan untuk tinggal di hotelnya saja.

Melihat keadaan Jaejoong sekarang membuat Yuchun tidak tenang. Memang pria itu kini bersikap lebih baik di banding sebelumnya yang sangat tegas dan keras kepala tapi bukan seperti ini yang Yuchun harapkan.

Yuchun duduk di samping Jaejoong yang tengah membaca buku. Ia tak tahu harus melakukan apa untuk Jaejoong. Meninggalkan Jaejoong sendirian membuatnya tidak tenang. Ia menghormati Jaejoong karena namja itu begitu baik padanya dan juga keluarganya.

“Tuan, apa tidak sebaiknya anda pulang? Tidak baik jika anda terus disini.” Ucap Yuchun pelan agar penyakit Jaejoong tidak kambuh.

“Penyakitku akan kambuh jika pulang ke rumah. Aku tak tahan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Hee Young. Hatiku sakit.” Ucap Jaejoong yang terus fokus dengan buku di tangannya.

“Kau kembalilah ke Paris. Sudah cukup lama kau meninggalkan kuliahmu.” Ucap Jaejoong lagi.

“Tapi, Tuan.”

“Tidak ada tapi. Aku akan pergi ke kampung halamanku. Aku akan menghabiskan waktu disana sementara waktu dan mengurus bisnis disana dari jauh. Kuharap kau mau membantuku jika aku kesulitan dalam mengurus bisnisku.” Ucapan Jaejoong membuat Yuchun tak bisa lagi mengatakan apa-apa.

“Baiklah, tuan. Kalau begitu saya akan pergi sore ini. Saya permisi dulu, saya akan mengepak pakaian.” Ucap Yuchun lalu pergi untuk membereskan pakaiannya.

“Kenapa Hee Young berubah seperti ini? Dulu dia sangat menyayangi ayahnya walaupun ayahnya berbuat salah.” Ucap Yuchun sambil menaruh pakaiannya ke dalam koper. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Hee Young.

Tak lama ada yang mengetuk pintu kamarnya dan Yuchun melihat itu Tom. Pria itu sudah membawa koper miliknya. Tom masuk dan duduk di tepi ranjangnya.

“Apa yang harus kulakukan? Apa harus aku menemui Hee Young dan mengatakan tentang kabar tuan besar?” Tanya Yuchun pada Tom. Tom langsung menolaknya.

“Kurasa jangan. Kau bilang dia tidak boleh banyak pikiran kan? Kurasa segalanya akan runyam kalau kau beritahu sekarang. Dia baru saja pulih dan baru pulang dari rumah sakit. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau memberitahunya nanti. Dia membenci ayahnya sekarang, ingat itu.” Jawab Tom. Apa yang di katakan Tom ada benarnya dan Yuchun semakin bingung.

“Haaah, aku bingung.” Ucap Yuchun frustasi.

“Sudahlah, kau ikuti saja apa katanya. Kembali ke Paris dan biarkan dia menenangkan diri. Bukankah pasti ada yang menemaninya?” Ucapan Tom yang terakhir membuat Yuchun teringat dengan asisten Lee.

Selesai membereskan barang-barangnya, Yuchun dan Tom keluar kamar dan berpamitan pada Jaejoong. Yuchun benar-benar khawatir dengan pria tua itu.

“Tuan besar, mohon jaga kesehatan anda. Asisten Lee, mohon perhatikan kesehatan tuan besar.” Ucap Yuchun pada Jaejoong dan asisten Lee. Jaejoong tersenyum dengan perhatian Yuchun.

“Kau lebih perhatian di banding anakku sendiri. Jangan panggil aku tuan lagi. Panggillah appa atau ajushi, atau apapun yang kau merasa nyaman asal jangan tuan besar lagi.” Ucap Jaejoong. Yuchun mengangguk sambil tersenyum.

“Hati-hati di jalan. Beri kabar jika kau sudah sampai.” Ucap Jaejoong sambil memeluk Yuchun.

“Baik.” Jawab Yuchun lalu tak lama ia pergi dengan Tom ke bandara.

Saat di bandara Yuchun bertemu dengan Hee Young dan Junsu dan beberapa teman mereka. Yuchun berusaha bersikap biasa dengan mengangguk dari jauh sebagai sapaan. Tak disangka Junsu dan Hee Young menghampirinya dan Tom. Yuchun tahu kalau Hee Young terpaksa karena terlihat kalau Junsu yang menarik tangan yeoja itu.

“Bertemu lagi.” Ucap Junsu. Yuchun hanya mengangguk.

“Kau sering mengunjungi Korea?” Tanya Junsu.

“Tidak juga. Hanya ada hal penting yang harus kulakukan disini.” Jawab Yuchun yang tak sepenuhnya berbohong. Mereka mengobrol, Hee Young hanya diam menatap kedua namja itu mengobrol. Sedangkan Tom tak mempedulikan mereka, ia berkutat dengan ponselnya. Saat sedang mengobrol Junsu pergi ke toilet Hee Young mulai berbicara.

“Sering sekali datang ke Korea.” Ucap Hee Young yang terdengar seperti menyindir bagi Yuchun. Wajah yeoja itu juga terlihat kesal.

“Mengunjungi wanita itu ya?” Tanya Hee Young lagi. Yuchun mengerutkan keningnya dan tak lama ia tahu siapa yang di maksud Hee Young. Kyori, yeoja itu yang di maksud Hee Young.

“Kau cemburu? Kau tidak bisa lagi cemburu padaku. Aku bukan kekasihmu. Asal kau tahu Kyori itu tinggal di Paris. Tapi tebakanmu salah. Aku mengunjungi ayahmu.” Jawab Yuchun yang membuat Hee Young kaget.

“Mau apa kau mengunjungi appa?” Tanya Hee Young yang sepertinya tidak senang.

“Hanya ingin tahu keadaan beliau.” Jawab Yuchun cepat.

“Pasti dia merencanakan sesuatu lagi. Kali ini apa yang akan direncanakannya untuk memisahkanku dengan Junsu?” Ucapan Hee Young membuat Yuchun marah. Yuchun menampar Hee Young. Ia tak peduli dengan tatapan sekitarnya. Ucapan Hee Young yang kasar membuat Yuchun sangat marah. Ia menunjuk wajah Hee Young dengan jarinya dengan emosi.

“Jaga mulutmu! Bagimu mungkin beliau melakukan itu untuk memisahkan kita tapi bagiku tidak. Saat beliau menyuruhku ke Perancis memang aku berpikir beliau akan memisahkan kita tapi sampai di sana ternyata tidak.” Ucap Yuchun.

“Beliau melakukan ini untuk kita. Walau menurutmu salah tapi ayahmu berusaha agar semaksimal mungkin untuk kebahagiaanmu. Kau banyak berubah, aku tak mengenal lagi siapa wanita di depanku ini. Kau bukan Hee Young yang kukenal dulu.” Tambah Yuchun.

“Tapi aku tersiksa karena tak tahu kabarmu.” Ucap Hee Young membela diri.

“Itu bukan alasan. Kau pikir di Paris aku tahu kabarmu? Aku tak tahu kabarmu seperti apa karena ayahmu melarangku menghubungimu. Tapi itu yang menjadi kekuatanku dulu untuk cepat lulus.” Ucap Yuchun yang sengaja menekankan kata ‘dulu’ pada Hee Young.

“Tetap saja yang dilakukannya salah. Akhirnya kita putus karena dia.” Ucap Hee Young lagi.

“Tidak ada manusia yang sempurna, begitu juga ayahmu. Yang beliau pikir benar belum tentu menurut kita benar. Berpikirlah dari sisi ayahmu. Bukan dari sisimu sebagai anak. Dan jangan menyalahkan ayahmu karena putusnya kita. Hubungan kita berakhir karena aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku. Aku merasa kau sudah punya seseorang disini.” Ucapan Yuchun terhenti, hatinya yang terasa sakit dan kesal.

“Dan sepertinya apa yang kurasakan benar. Itu tak masalah karena kulihat kau bahagia. Aku dan ayahmu bahagia melihat kau bahagia.” Ucap Yuchun lalu menghela nafas.

“Satu hal lagi. Saat aku mengunjungi ayahmu, beliau meminta maaf dan menangis. Kau banyak berubah, kau bukan lagi Hee Young yang dulu.” Ucap Yuchun lalu pergi. Ia menghela nafas berkali-kali dan mengelus dadanya. Di sampingnya ada Tom yang menepuk pundaknya.

“Aku mengatakan semuanya.” Ucap Yuchun pada Tom. Ia pun menceritakan semuanya pada Tom.

“Kau sudah meluapkan emosimu, itu baik tapi apa tidak masalah? Bagaimana kalau wanita itu mencari ayahnya? Dan ayahnya sakit lagi.” Ucap Tom setelah mendengar semua cerita Yuchun.

“Sudah ada asisten Lee. Dia diperintahkan untuk tidak memberitahukan keberadaan tuan besar pada putrinya. Kurasa memang sebaiknya seperti itu dulu, mengingat kondisinya yang kapan saja bisa drop lagi.” Ucap Yuchun.

Hee Young memegang pipinya yang tadi di tampar Yuchun. Pandangannya masih tertuju pada Yuchun yang sudah berjalan cukup jauh. Ia ingin menangis tapi ia tahan karena tiba-tiba Junsu datang. Namja itu menatapnya khawatir.

“Ada apa? Kenapa pipimu memerah?” Tanya Junsu sambil menarik tangan Hee Young dari pipinya.

“Tidak ada apa-apa. Ayo pergi yang lain sudah menunggu.” Ucap Hee Young yang menghindari pertanyaan Junsu yang pasti akan berlanjut jika tidak ia hentikan.

Hee Young, Junsu dan temannya yang lain berjalan menuju pesawat. Langkah Hee Young terhenti saat salah satu temannya menyebut nama Yuchun. Ia berbalik dan melihat temannya tengah menatap Yuchun dan temannya yang berada di seberang mereka.

“Kau kenal?” Tanya Hee Young.

“Tidak secara langsung. Namanya Park Yuchun. Dia mahasiswa terkenal di kalangan fakultas bisnis, Universitas kita. Yang kudengar dari temanku yang fakultas bisnis, dia salah satu mahasiswa terbaik di universitas terkenal di Paris. Dan kalau tidak salah katanya dia sudah mau lulus.” Ucap Hyuna.

“Iya benar kata Hyuna. Hebat ya. Aku juga sempat membaca tentangnya di salah satu majalah bisnis yang menjadi langganan ayahku. Ayahku pernah bertemu dengannya dan kata ayahku, dia dan teman-temannya mempunyai target lulus dalam 3 tahun.” Ucap Yoona semangat.

“Ah satu lagi. Kata ayahku, dia dan 1 temannya menjadi incaran beberapa perusahaan terkenal dunia.” Tambah Yoona.

“Maksudmu yang bersamanya?” Tanya Hee Young.

“Bukan, itu kalau tidak salah Tom Campbell. Anak sulung dari keluarga bangsawan dan keluarga konglomerat Campbell.” Jawab Hyuna.

“Kalau tidak salah namanya Jimmy Anderson. Salah satu mahasiswa jenius.” Ucap Yoona. Hee Young melihat kedua temannya itu mengatakannya dengan semangat dan melihat kearah pesawat yang di tumpangi mereka berdua.

“Wah itu pesawat pribadi keluarga Campbell. Keren.” Ucap Hyuna dan Yoona bersamaan.

“Kalian stalker ya? Tahu banyak mengenai mereka.” Ucapan Hee Young membuat keduanya berdecak kesal.

“Bukan stalker tapi tak sengaja mendengar. Tapi mereka keren kan? Terutama Yuchun.” Ucapan Yoona yang berbinar-binar membuat hati Hee Young sakit. Sejujurnya Hee Young masih tidak rela putus dengan Yuchun dan masih mencintai namja itu. Hee Young berbalik dan masuk ke dalam pesawat. Kedua temannya yang duduk tepat di belakangnya masih saja membahas Yuchun dan temannya.

Hee Young mendengar kalau Yuchun dan ketiga temannya merupakan namja populer di kampus mereka. Yuchun terkenal selain karena tampan juga karena sikapnya yang sangat sopan terutama pada wanita. Masih banyak hal yang Hee Young dengar tentang Yuchun dari kedua temannya itu. Entah kenapa mendengar hal itu membuat hati Hee Young tambah sakit.

‘Oppa, apa benar aku banyak berubah? Apa karena ini juga oppa mengakhiri hubungan kita? Aku tahu aku salah karena menduakan oppa tapi apakah oppa tidak bisa memberiku kesempatan?’ Batin Hee Young saat mengingat kejadian di bandara bersama Yuchun. Ia sama sekali tidak memikirkan tentang appanya.

Sementara itu Junsu yang duduk di sebelah Hee Young sejak tadi memperhatikan yeoja itu. Junsu merasa kalau sikap Hee Young sedikit berubah dan ia merasa itu karena bertemu pria bernama Yuchn itu. Hal itu membuat Junsu tidak senang. Ia menggenggam tangan Hee Young dan yeoja itu menatapnya lalu tersenyum dan menyandarkan kepala di bahunya.

‘Sepertinya ada sesuatu antara Hee Young dengan pria itu.’ Batin Junsu.

Junsu sedikit kesal karena perubahan Hee Young, ia sadari itu karena pria bernama Yuchun. Ia tak suka jika kekasihnya berubah seperti itu. Apa lagi Junsu lihat wajah Hee Young tadi memerah saat ia kembali dari toilet. Setelah pertemuan itu Junsu merasa kalau Hee Young menjadi sedikit pemurung sekarang, tidak seperti dulu yang selalu terlihat ceria.

‘Aku harus tahu apa yang terjadi antara kalian berdua. Aku tak akan membiarkanmu bertemu dengannya lagi.’ Batin Junsu kesal.

Ia memejamkan mata dan mengatur emosinya. Ia harus mengontrol emosinya agar Hee Young tak tahu kalau ia tengah kesal.

Saat sampai di Amerika, Junsu, Hee Young dan temannya yang lain langsung pergi ke hotel untuk beristirahat sejenak sebelum memulai aktivitas. Mereka ke Amerika dalam rangka memperkenalkan budaya dan musik yang ada di Korea pada masyarakat Amerika. Mereka merupakan mahasiswa yang dipilih menjadi perwakilan dari Korea Selatan.

Di kamar hotelnya Junsu tidak bisa tenang karena teringat terus pada Hee Young dan pria bernama Yuchun. Ia menelepon seseorang untuk mencari informasi mengenai Hee Young dan Yuchun. Junsu berbaring di ranjang hotel sambil menunggu informasi yang di dapat oleh orang suruhannya.

Tak lama orang suruhan Junsu menelepon untuk memberikan kabar mengenai informasi yang ia suruh. Orang suruhannya tidak mendapatkan informasi apa-apa mengenai Yuchun dan Hee Young selain tentang sekolah dan keluarga. Junsu mengepalkan tangan dan berteriak kesal saat mendengar hasil yang didapat. Ia tak mengerti mengapa informasi yang di dapat hanya sedikit sekali.

Junsu duduk dan berpikir keras mengenai informasi yang di dapat. Saat mengingat Jaejoong, Junsu langsung mengerti. Jaejoonglah yang membuat semua informasi detail mengenai Yuchun dan Hee Young hilang. Tapi ada hal yang masih belum Junsu mengerti, mengapa informasinya harus dihilangkan? Pertanyaan itu yang kini ada dibenak Junsu dan ia tak menemukan jawabannya.

—-

Yuchun duduk di sofa apartemennya dan menatap tangannya yang saat di bandara ia pakai untuk menampar Hee Young. Ada rasa menyesal dihati Yuchun setelah menampar yeoja itu tapi ia tak bisa mengontrol dirinya saat mendengar Hee Young menjelekkan appa-nya sendiri. Baginya orang tua adalah segalanya, orang terpenting dan harus dihormati.

Yuchun tersadar dari lamunannya saat mendengar ponselnya berbunyi. Ia menghela nafas saat melihat Tom yang menelepon. Ia tahu kenapa pria itu meneleponnya. Yuchun hafal benar sifat pria yang satu ini.

“Apa?” Tanya Yuchun langsung.

“Ck, kau ini. Tidak adakah basa basi yang manis untukku?” Ucap Tom kesal.

“Untuk kau tidak ada.” Jawab Yuchun santai.

“Ayo kita keluar. Aku bosan dirumah terus. Kita cari udara segar.” Ajak Tom.

“Kemana? Club? Udara segar bagimu kan hanya club.” Jawab Yuchun yang sedikit menyindir sifat temannya itu.

“Untuk sekarang tidak tapi mungkin akan berakhir disana. Kita ke taman atau kemanapun asal aku tidak di rumah.” Jawab Tom sambil tertawa pelan.

“Baiklah. Kita ketemu ditempat biasa?” Ucap Yuchun. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengubah kebiasaan Tom yang selalu mencari kesenangan di club malam.

“Aku akan ke apartemenmu sekarang.” Tom langsung mematikan teleponnya dan Yuchun mengganti pakaiannya.

Setelah siap Yuchun turun ke bawah menunggu Tom. Saat turun ternyata Tom juga baru sampai. Yuchun pun naik dan menemani temannya itu pergi. Mereka pergi ke tempat yang menyenangkan yang tentunya bukan club. Selain karena hari masih sore juga karena Yuchun menolaknya. Namja itu merasa bosan dengan club malam.

Saat sedang beristirahat di café ponsel Yuchun dan Tom berbunyi bersamaan. Mereka melihat ID callernya lalu mengangkatnya. Keduanya ditelepon oleh dosen wali masing-masing. Yuchun dan Tom diminta untuk pergi ke Amerika untuk menghadiri acara yang diadakan salah satu kampus terkenal di sana. Yuchun mau tak mau pergi karena tak mungkin ia menolak.

Yuchun diantar Tom kembali ke apartemen dan ia langsung menyiapkan pakaiannya, ia akan berangkat hari ini. Selesai menyiapkan semuanya Yuchun langsung pergi dengan Tom yang sudah menunggu. Ia mengerutkan keningnya melihat temannya itu.

“Aku juga pergi. Proffesor memintaku untuk pergi juga.” Ucap Tom menjelaskan sebelum ditanya oleh Yuchun. Yuchun hanya mengangguk lalu masuk ke mobil Tom.

Sampai di bandara keduanya langsung naik pesawat dan harus menunggu beberapa jam untuk sampai di Amerika. Yuchun mengisi waktu luangnya dengan beristirahat atau mendengarkan lagu, berbeda dengan Tom yang selalu mencari kesempatan untuk menggoda pramugari.

Baru saja turun dari pesawat dan hendak naik mobil tiba-tiba ponsel Yuchun berbunyi. Ia pun mengangkatnya karena telepon itu dari Jaejoong. Yuchun memejamkan matanya saat mendengar permintaan Jaejoong, namja itu memintanya untuk ke Amerika. Untuk menghadiri rapat perusahaan. Kepala Yuchun sakit mendengarnya, acara yang harus ia hadiri saja belum mulai sudah ada acara lain yang menunggunya. Kepalanya benar-benar sakit kali ini.

Semenjak Jaejoong sakit waktu itu Yuchunlah yang diminta menangani perusahaan Jaejoong yang berada di Amerika maupun Eropa. Karena hal itu kini jadwal Yuchun semakin padat tapi terkadang ia menolak permintaan Jaejoong karena urusan perkuliahannya dan beruntung Jaejoong mengerti dan kini sepertinya Yuchun harus mengatakan alasan yang sama pada Jaejoong.

“Saya sedang berada di Amerika dan baru saja sampai. Saya dan teman saya diminta datang untuk menghadiri acara yang diadakan salah satu kampus terkenal disini.” Ucap Yuchun.

“Dosen kami sedang menunggu di hotel sekarang. Saya tidak tahu akan selesai kapan acaranya. Maaf.” Ucap Yuchun lagi dengan nada tidak enak.

“Baiklah tapi aku minta padamu, sebelum kau kembali ke Paris datanglah ke kantor dan minta pada mereka hasil rapat. Aku tak percaya dengan orang-orang disana.” Pinta Jaejoong.

“Baik.” Jawab Yuchun lalu sambungan telepon langsung terputus.

Sampai di hotel, Yuchun dan Tom di sambut oleh dosen mereka. Keduanya beristirahat sejenak lalu memulai aktivitas yang melelahkan di Amerika. Yuchun sama sekali tidak tahu kalau Hee Young juga berada di Amerika sekarang ini.

—-

Junsu berjalan keluar sambil membawa beberapa barang dari kamarnya. Ia berjalan menuju tempat acara berlangsung. Langkahnya terhenti saat melihat Yuchun, namja yang membuat sikap Hee Young menjadi aneh. Tanpa disadari ia menggenggam tangannya erat.

‘Apa yang dilakukannya disini?’ Batin Junsu kesal.

Suara ponsel menyadarkan Junsu dari lamunannya. Hee Young meneleponnya dan memarahinya karena begitu lama kembali dari hotel.

“Sunbae lama sekali. Aku kesana kalau begitu.” Ucapan terakhir Hee Young membuat Junsu langsung menghentikannya. Ia tak mau yeoja itu bertemu Yuchun dan mengetahui kalau namja itu ada di Amerika sekarang ini.

“Aku akan segera kesana. Ini sedang dalam perjalanan.” Ucap Junsu lalu mematikan sambungan teleponnya. Ia pun langsung pergi ke tempat acara dimana Hee Young dan yang lain menunggu.

Perasaan Junsu tidak tenang karena terus teringat dengan Yuchun. Ia takut namja itu menghancurkan hubungannya dengan Hee Young. Ia sangat mencintai Hee Young dan tak mau kehilangan yeoja itu.

Sejak tadi Junsu tidak fokus dan hal itu membuat Hee Young dan teman Junsu yang lain kesal. Beberapa kali mereka menegur Junsu agar fokus tapi berkali-kali pula Junsu melakukan kesalahan saat latihan.

Hee Young menarik tangan Junsu saat sedang beristirahat. Hee Young memarahi Junsu dan tak peduli dengan keadaan sekitar.

“Kenapa sunbae terus melakukan kesalahan? Dua jam lagi acara akan dimulai.” Omel Hee Young.

“Maaf, aku sedang memikirkan sesuatu.” Ucap Junsu.

“Buang pikiran itu jauh-jauh dan fokus, sunbae.” Ucap Hee Young kesal lalu pergi.

“Sunbae. Kau masih saja memanggilku seperti itu.” Gumam Junsu pelan.

Saat acara dimulai dan sudah waktunya Hee Young dan yang lain tampil, Junsu berusaha fokus dan akhirnya berhasil bermain musik dengan baik. Penampilan mereka diatas panggung sangat lancar. Mereka ingin merayakannya tapi mengingat besok masih harus tampil dan hari ini sangat lelah membuat mereka semua mengurungkannya. Mereka semua kembali ke hotel kecuali Junsu dan Hee Young. Hee Young meminta Junsu untuk membelikan minuman untuknya.

Hee Young dan Junsu menyusuri jalan di kota New York. Junsu menyuruh Hee Young untuk menunggu diluar sementara ia membeli minuman didalam. Hee Young pun menunggu dengan sabar sambil melihat sekeliling. Pandangannya terhenti saat melihat sosok yang ia kenal. Yuchun. Hee Young melihat namja itu tengah berjalan seorang diri. Ia hanya bisa melihat Yuchun dari jauh tanpa bisa mendekat ataupun memanggil.

Hatinya terasa sakit saat Hee Young melihat Yuchun dihampiri oleh seorang wanita. Wanita itu terlihat tersenyum pada Yuchun dan namja itu mengelus rambut sang wanita. Hee Young menatap pakaian wanita itu yang terlihat murahan.

‘Pelacu*’ Batin Hee Young yang kini sudah dipenuhi api cemburu. Perlahan Hee Young tidak bisa melihat Yuchun lagi karena namja itu telah pergi bersama wanita itu. Sebenarnya ia penasaran tapi ia mengingat Junsu jadi ia tak mungkin pergi dan mengikuti Yuchun.

Tak lama Hee Young merasakan ada seseorang yang mengelus rambutnya. Hee Young pun menatap kesamping dan melihat Junsu tersenyum sambil memberikannya minuman.

“Ada apa? Kenapa kau melamun?” Tanya Junsu. Hee Young pun menggelengkan kepalanya.

“Tidak ada apa-apa, sunbae.” Jawab Hee Young.

Setelah membeli minuman keduanya pun kembali ke hotel. Selama perjalanan ke hotel Hee Young lebih banyak diam. Hal itu membuat Junsu curiga jika Hee Young tadi bertemu dengan Yuchun. Saat sampai di hotel, Junsu mengantar Hee Young sampai ke depan kamar yeoja itu. Sebelum masuk kamar Hee Young berbalik dan menatap Junsu. Junsu hanya tersenyum tanpa banyak kata. Ia takut jika ia membuka mulutnya ia tak bisa menahan rasa cemburunya dan menanyakan hal yang membuat hubungan mereka hancur.

Junsu mencium kening dan pipi Hee Young lalu mengucapkan selamat malam pada yeoja itu. Tangan Junsu ditarik Hee Young masuk kedalam kamar yeoja itu. Junsu yang kaget tidak sempat melawan ataupun menolaknya. Saat didalam kamar, Hee Young langsung menciumnya. Junsu kaget dan tidak membalas ciuman itu tapi ciuman Hee Young terasa menuntutnya untuk membalas ciuman itu hingga Junsu pun membalasnya.

Hee Young melepaskan ciumannya yang tiba-tiba itu lalu memeluk Junsu erat. Entah setan apa yang merasukinya hingga ia berani mencium Junsu terlebih dahulu. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Junsu. Namja itu mengelus rambutnya dengan lembut.

“Kau kenapa? Kau tidak seperti biasanya. Ini pertama kalinya kau menciumku.” Tanya Junsu lembut. Walaupun sempat kaget dengan ciuman Hee Young  yang tiba-tiba sebenarnya dalam hati Junsu, ia merasa senang karena Hee Young menciumnya terlebih dahulu. Ia menunggu jawaban Hee Young tapi yeoja itu tidak juga menjawabnya. Hee Young malah mengeratkan pelukannya dan semakin membenamkan wajah di dada bidang miliknya.

“Baiklah aku tidak akan memaksa kau menjawabnya.” Ucap Junsu lalu mencium puncak kepala Hee Young. Rasa cemburu yang sempat timbul dihatinya menguap begitu saja dengan tindakan Hee Young yang tiba-tiba tadi.

“Sudah larut malam. Kau harus istirahat.” Ucap Junsu sambil melepaskan pelukan yeoja itu pelan. Junsu melihat Hee Young hanya mengangguk tanpa menatapnya. Yeoja itu langsung pergi dan berbaring di ranjangnya sambil menutupi seluruh tubuhnya. Junsu melihat itu hanya terkekeh kecil. Ia pun menghampiri Hee Young dan berusaha melepaskan selimut yang menutupi Hee Young tapi yeoja itu menahannya.

“Kenapa tak menatapku?” Tanya Junsu. Ia tahu kenapa Hee Young bersikap seperti ini setelah ciuman itu tapi ia ingin mendengar jawaban yeoja itu.

“Wajahmu jelek.” Jawab Hee Young asal. Seketika itu juga Junsu tertawa, ia tak bisa menahannya lagi.

“Baiklah, aku pergi. Selamat malam.” Ucap Junsu lalu pergi.

Setelah Junsu pergi barulah Hee Young membuka selimutnya dan menatap ke pintu. Ia buru-buru mengunci pintu dan memaki dirinya sendiri. Memaki tindakan bodohnya. Saat mencium Junsu yang ada dibayangan Hee Young adalah Yuchun. Ia membayangkan yang ia cium adalah Yuchun bukan Junsu.  Hee Young tak bisa mengendalikan dirinya saat itu.

Hee Young merasa bersalah pada Junsu yang sepertinya sangat senang dengan ciuman tadi. Sampai detik ini ia tak memiliki perasaan apapun pada Junsu. Dulu ia menerima Junsu pun hanya karena ia ingin melupakan Yuchun yang tidak pernah ada kabarnya.

“Sunbae mianhae.” Gumam Hee Young dengan perasaan bersalah.

—-

Yuchun duduk di café bersama Tom dan kedua wanita yang seperti biasa selalu dipesankan oleh pria itu. Wanita untuknya tetap sama, Anna. Kini tanpa canggung lagi Anna menyandarkan kepalanya di bahu Yuchun dan Yuchun pun tanpa ragu merangkul wanita itu. Keduanya hanya mengobrol kecil berbeda dengan pemandangan di samping mereka dimana Tom mulai bermain dengan wanita pilihannya. Yuchun yang merasa tak enak langsung berdiri.

“Tom, aku akan kembali kekamar. Ingat besok kita harus pergi pagi-pagi.” Ucap Yuchun lalu pergi dengan menggandeng tangan Anna. Anna hanya mengikuti Yuchun tanpa banyak berbicara. Itulah yang selalu Anna lakukan jika bersama Yuchun. Ia merasa nyaman dan aman jika berada di samping Yuchun. Yuchun adalah pelanggan yang sangat disukainya karena Yuchun tak banyak menuntut seperti pelanggan lain. Semenjak bertemu Yuchun, Anna selalu berpikir untuk berhenti dari pekerjaannya sekarang dan memulai hidup baru dengan pekerjaan yang layak.

Yuchun membawa Anna kedalam kamar hotelnya. Yuchun langsung pergi ke kamar mandi tanpa mempedulikan apa yang akan dilakukan Anna. Ia hanya tahu biasanya Anna akan menunggunya selesai mandi agar wanita itu bisa memakai kamar mandinya. Selesai mandi Yuchun keluar dan melihat Anna langsung pergi ke kamar mandi, sesuai dengan tebakannya. Itulah kebiasaan Anna jika sedang bersamanya.

Yuchun duduk di sofa sambil membaca bahan untuk acara besok. Ia menepuk sofa disampingnya saat melihat Anna selesai. Wanita itu menurut dan Yuchun kembali fokus pada kertas di depannya.

Anna cukup bosan diam saja menunggu Yuchun selama hampir satu jam ini. Saat ia akan beranjak dari sofa ia melihat Yuchun sudah selesai, ia pun kembali duduk. Anna melihat Yuchun kelelahan. Ia kasihan melihat Yuchun yang selalu seperti ini, kelelahan dan memikirkan mantan kekasihnya. Anna pun mengelus pipi Yuchun lembut.

“Kau terlihat sangat lelah. Tidurlah.” Saran Anna. Anna pun berdiri dan mengambil barangnya tapi Yuchun menahannya dengan memeluknya dari belakang.

“Temani aku.” Bisik Yuchun pelan. Anna berbalik dan melihat Yuchun menatapnya dengan memohon.

“Kau memikirkannya lagi?” Tebak Anna yang memang tahu kalau Yuchun kesulitan melupakan wanita itu. Yuchun menjawabnya dengan anggukan kepala lalu kembali memeluknya.

“Aku sangat tersiksa. Sulit menyingkirkannya dari pikiranku. Maaf aku membicarakan wanita lain saat sedang bersamamu.” Ucap Yuchun. Anna mengelus punggung Yuchun. Elusan seperti ini yang disukai Yuchun, bisa membuatnya sedikit tenang.

“Tidak apa. Aku tahu masalahmu. Baiklah ayo kita tidur.” Ucap Anna sambil melepaskan pelukan Yuchun dan menaruh kembali barangnya.

“Pakai ini. Kau tidak bawa pakaian ganti kan?” Yuchun memberikan pakaian miliknya pada Anna. Anna hanya menganguk lalu mengganti pakaiannya.

Yuchun menunggu Anna sambil berbaring di ranjang. Kepalanya sangat sakit memikirkan Hee Young dan kuliahnya. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain melampiaskannya pada Anna. Yuchun merasa tak enak dengan Anna karena wanita itu menjadi tempat pelampiasannya. Ia beruntung karena Anna tidak pernah marah atau menuntut apapun darinya. Yuchun tahu kalau itu bukan karena Anna dibayar oleh Tom untuk menemani Yuchun.

Lamunan Yuchun hilang saat merasakan Anna disampingnya. Wanita itu tersenyum lalu berbaring di sampingnya. Tanpa banyak kata Yuchun langsung mencium Anna dengan ganas. Wanita itu pun membalasnya. Yuchun merasa Anna seolah sangat mengerti perasaannya hari ini hingga merespon setiap apa yang ia lakukan pada wanita itu. Yuchun tak tahu apa saja yang ia lakukan pada Anna malam itu. yang ia tahu ia harus melupakan perasaannya pada Hee Young secepatnya. Ia tak mau lagi tersiksa karena Hee Young.

Paginya Yuchun terbangun karena terganggu dengan matahari pagi. Ia melihat tangan mungil melingkari perutnya. Anna tidur di sampingnya, Yuchun melepaskan tangan Anna perlahan. Saat menyingkirkan selimut Yuchun membelalakan matanya karena ia tak memakai sehelai benang sedikit pun. Yuchun pun melihat Anna yang tengah membalikkan tubuhnya karena mungkin terganggu olehnya. Punggung Anna yang polos membuat Yuchun sadar kalau semalam mereka berdua melakukannya. Yuchun tak begitu ingat dengan kejadian semalam karena pikirannya kacau. Sambil memakai pakaian Yuchun berusaha mengingat kejadian semalam.

Langkah Yuchun terhenti dan menatap Anna yang masih terlelap. Tak lama ia masuk ke dalam kamar mandi dan berusaha mengingat apa yang terjadi. Dengan guyuran air dingin akhirnya Yuchun ingat kejadian semalam. Ia lah yang memulainya terlebih dahulu dengan mencium Anna. Dari ciuman itulah semuanya terjadi. Ia mengeram kesal karena melakukan hal itu semalam dengan Anna.

Selesai mandi Yuchun bergegas berpakaian karena ia hampir telat untuk menghadiri acara dengan Tom dan dosen mereka. Saat akan pergi ia menghampiri Anna untuk mencium kening wanita itu tapi tiba-tiba Anna terbangun. Yuchun tersenyum lalu mencium kening wanita itu.

“Selamat pagi. Maaf aku harus meninggalkanmu pagi-pagi karena ada acara yang harus kuhadiri dengan Tom dan dosen kami. Kau tunggulah disini sampai aku selesai,ok? Kita kembali ke Paris bersama. Telepon aku jika ada sesuatu.” Melihat Anna mengangguk, Yuchun pun dengan cepat pergi.

“Jangan lupa sarapan.” Teriak Yuchun lalu menutup pintunya.

“Ya.” Jawab Anna pelan.

Yuchun menghampiri Tom yang sudah menunggunya di lobi. Tom sempat memakinya karena kesal menunggu lama. Yuchun hanya bisa meminta maaf karena memang ia tahu kalau ia salah. Tom mengatakan jika dosen mereka sudah terlebih dahulu pergi ke tempat acara. Keduanya pergi dengan mobil yang di kemudikan oleh Tom. Selama perjalanan Tom terus berbicara membuat Yuchun sedikit jengah.

“Diam sedikit!” Ucap Yuchun kesal. Tom pun terdiam karena tak biasanya Yuchun kesal seperti itu.

“Kau kenapa?” Tanya Tom yang merasa ada yang aneh dengan temannya itu.

“Semalam aku tidur dengan Anna.” Ucap Yuchun. Tom hanya mengangguk.

“Itu sudah biasa kan? Kau sudah pernah bilang padaku kalau kalian hanya tidur biasa. Kau memintanya menemanimu karena kau sulit tidur.” Ucap Tom santai.

“Aku tidur dengannya Tom.” Ucap Yuchun lagi.

“Iya aku tahu.” Ucap Tom lagi.

“Aku menidurinya TOM!” Teriak Yuchun kesal karena reaksi Tom yang biasa saja sedangkan ia sangat pusing karena kejadian semalam.

Kepala Yuchun terbentur karena Tom mengerem mobil mendadak. Yuchun memegang kepalanya yang sakit dan menatap Tom tajam. Ia mengumpat kesal pada Tom tapi tak di pedulikan pria itu.

“Kau apa? Katakan lagi?” Tanya Tom yang tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Aku melakukannya semalam dengan Anna. Pikiranku sedang kacau dengan Hee Young semalam. Awalnya hanya ingin menciumnya tapi entah kenapa malah jadi seperti itu. Sekarang aku tak tahu harus bagaimana dengan Anna.” Ucap Yuchun.

“Hei, bisakah kita membicarakan hal ini sambil jalan? Kita sudah terlambat.” Ucap Yuchun lagi yang sadar Tom tak kembali mengemudikan mobil.

Selama perjalanan Yuchun mengutuk dirinya sendiri karena sudah memberitahukan Tom kalau ia sudah melakukannya dengan Anna. Tom tak henti mendesaknya untuk bercerita tentang semalam.

‘Akhirnya sampai.’ Batin Yuchun saat mereka sudah sampai di tempat acara. Yuchun langsung keluar dan pergi menemui dosen mereka tanpa menunggu Tom.

Selama acara Yuchun disibukkan oleh kegiatan acara itu yang memang penting. Dosennya selalu memperkenalkannya pada kenalan dosen itu dan sesekali memberitahu mengenai beberapa hal yang tidak Yuchun mengerti.

Setelah berjam-jam berkutat dengan acara yang membosankan akhirnya Yuchun bisa terbebas dari acara itu. Yuchun duduk di sebuah café bersama Tom. Pikiran Yuchun kini tidak seperti semalam yang terus memikirkan Hee Young, kini pikiran Yuchun tertuju pada Anna. Yuchun memikirkan cara agar bisa berbicara dengan Anna tentang kejadian semalam. Tak lama Yuchun menelepon wanita itu dan menanyakan keberadaannya.

“Baiklah, jangan kemana-mana. Aku akan segera menyusul.” Ucap Yuchun. Ia berpamitan pada Tom lalu pergi menemui Anna. Sebelumnya Yuchun membeli bunga untuk wanita itu.

Yuchun memasuki sebuah toko buku dimana yang ia tahu Anna berada disana. Ia mencari sosok wanita itu di sekeliling toko itu. Yuchun tersenyum saat mendapati sosok yang ia cari. Ia menghampiri Anna yang tengah serius mencari buku.

“Serius sekali.” Ucap Yuchun yang membuat Anna kaget.

“Kau membuatku kaget. Tiba-tiba berada disampingku.” Ucap Anna.

“Itu karena kau yang terlalu serius mencari buku. Ini.” Yuchun memberikan bunga yang tadi ia beli pada Anna. Wanita itu mengambilnya sambil menatapnya bingung.

“Sebagai permintaan maaf karena semalam.” Ucap Yuchun pelan. Anna tersenyum.

“Tidak apa. Tak usah kau pikirkan.” Yuchun menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Anna.

“Bagimu mungkin biasa saja tapi tidak bagiku. Aku tidak biasa melakukannya. Aku merasa menyakitimu akibat ulahku semalam. Apa lagi kau tahu dibalik alasanku melakukannya. Kau wanita baik-baik bertemu pria malang sepertiku sepertinya sebuah kesialan.” Ucap Yuchun jujur sambil tertawa pelan. Ia memang tidak biasa melakukan hal itu tentunya ia hanya akan melakukannya dengan wanita yang benar-benar ia cintai.

Yuchun kaget karena melihat Anna tiba-tiba menangis. Ia menggaruk-garukkan kepalanya bingung apa yang harus ia lakukan.

“Kenapa menangis? Tisu-tisu.” Yuchun mencari tisu di sakunya tapi hanya ada saputangan. Ia pun memberikannya pada Anna.

“Maaf hanya ada saputangan. Kenapa menangis? Apa aku salah bicara? Maaf.” Ucap Yuchun bingung, ia menghapus air mata Anna. Anna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Aku terharu. Kau menyebutku wanita baik-baik dan merasa menyakitiku karena semalam. Padahal aku hanya seorang…” Ucapan Anna terhenti karena Yuchun menutup mulutnya dengan telunjuk. Yuchun menatapnya dengan serius.

“Jangan kau lanjutkan. Kurasa tidak ada seorang wanita pun yang bercita-cita melakukan pekerjaan itu. Bagiku kau wanita baik-baik. Dan maafkan aku.” Ucap Yuchun. Anna mengangguk.

“Terima kasih. Tidak ada yang perlu di maafkan, aku mengerti keadaanmu sama seperti kau mengerti keadaan dan pekerjaanku.” Ucap Anna mengerti. Yuchun mencium kening Anna.

“Bisakah kau berhenti menangis sekarang? Semua orang menatapku tidak suka karena kau menangis.” Pinta Yuchun sambil melihat orang-orang ditoko. Anna tertawa mendengar ucapan Yuchun dan melihat memang benar orang-orang menatap Yuchun tidak suka. Anna merangkul lengan Yuchun.

“Maaf semuanya. Aku menangis karena terharu dengan ucapan pria ini bukan karena dia menyakitiku. Maaf menganggu kenyamanan kalian.” Ucap Anna ramah. Yuchun di tarik Anna kesebuah rak buku khusus masakan. Ia menunggu wanita itu memilih buku dengan melihat-lihat buku yang ada disana. Perutnya tiba-tiba berbunyi hanya dengan melihat gambar buku masakan itu. yuchun melihat sekitar karena takut ada yang mendengar perutnya berbunyi.

“Anna, kapan kau selesai?” Tanya Yuchun. Anna yang sedang memilih buku menatap Yuchun.

“Apa aku membuatmu terlalu lama menunggu? Maaf. Ayo.” Anna mengambil beberapa buku dan memasukkannya kedalam tas belanjaan.

“Bukan itu. Tapi berada di tempat khusus masakan seperti ini membuatku lapar.” Ucap Yuchun dengan wajah memerah karena malu. Anna terdiam sambil menatap Yuchun. Ia tak percaya jika pria di depannya bisa lapar hanya dengan melihat buku masakan. Memang sampul buku masakan terdapat gambar masakan yang terlihat sangat menggiurkan tapi ia tak pernah mendengar orang bisa lapar hanya dengan melihat sampul buku resep masakan.

Sontak Anna tertawa pelan, ia baru tahu sosok Yuchun yang sangat lucu dan manis seperti ini. Yuchun mengalihkan pandangannya karena sangat malu tapi Anna langsung memegang kedua pipi pria itu agar menatapnya.

“Kita beli bahan masakan dan aku akan memasakan makanan enak untukmu di hotel. Sayang jika hotel dengan kamar besar dan lengkap seperti itu dapurnya tak dipakai. Aku akan mengobrak-abrik dapur hotel mewah itu.” Ucap Anna.

“Baik tapi kau jangan membuat hotel itu hancur di lalap api. Kita bisa masuk penjara. Dan tolong hentikan tawamu itu. Aku sangat malu.” Ucap Yuchun kesal karena Anna masih saja tertawa.

“Hei, aku ini jago masak. Aku akan membuat kau menarik kata-katamu. Kau terlihat manis jika seperti ini.” Ucap Anna. Hati Anna semakin hangat berada di samping Yuchun. Pria baik yang menghargainya sama seperti wanita lain. Juga tidak memandang sebelah mata pekerjaan yang ia lakukan sekarang ini.

Anna pergi ke kasir dan membayar semua buku yang ia pilih tadi. Ia melihat Yuchun masih berdiri dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Pria itu menatapnya kesal. Ia pun menghampiri pria itu.

“Kenapa?” Tanya Anna.

“Jangan menyebutku manis. Tidak ada seorang pria pun yang senang di panggil seperti itu.” Jawab Yuchun. Anna menahan tawanya dan mengangguk mengerti.

“Baik. Maafkan aku. Ayo.” Anna menarik tangan Yuchun pergi dari toko itu.

Disisi lain Hee Young yang sejak tadi berada di toko yang sama dengan Yuchun dan Anna hanya bisa melihat pasangan itu dengan hati yang dipenuhi rasa cemburu. Ia melihat mereka sejak awal Yuchun datang dengan memberikan bunga pada wanita itu. Ia melihat Yuchun sangat romantis pada wanita itu dan terlihat tidak peduli dengan tatapan orang yang ada di dalam toko. Hee Young juga melihat Yuchun sangat perhatian pada wanita itu.

Semua perlakuan Yuchun pada wanita itu yang Hee Young lihat tadi tidak pernah ia rasakan. Yuchun tak pernah memperlakukannya seperti itu. Hee Young tersenyum pahit saat menyadari status mereka dulu yang hanya bodyguard dengan majikan. Status yang tidak memungkinkan Yuchun untuk memperlakukannya seperti yang ia lihat tadi. Hee Young hanya bisa menghela nafas sambil berusaha menghilangkan rasa sakit di hatinya.

TBC

Maaf telat diposting,kendala ada di sinyal soalnya. jangan lupa komen minimal 60% ya buat dapetin passwordnya. gumawo buat yang udah mau baca dan tetep nunggu^^

5 thoughts on “Love(s) A Guardian Angel Part 12

  1. Oh ahirnya post juga ni ff, kirain author lupa sama ff ini…hahaa mian thornim.

    Tapi duuuhhh baca Yoochun romantis gitu jadi ngirii! Dan ternyata benar Jaejoong punya maksud baik sama Yoochun walaupun caranya kejam untuk ukuran orang yang sedang mabuk cinta. Yoochun terlihat cocok sama Anna, apa cinta diantara mereka akan datang?

  2. kuurauna hoseki berkata:

    Ya ampun ,ternyata sudah ada lanjutannya berminggu minggu aku nunggu ,pas aku ga chek udh ada dan aku ktinggalan bgus eonni trus smangat sumpah aku ktagihan ff ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s