Love(s) a Guardian Angel Part 10


Title : Love(s) A Guardian Angel

Main Cast : Park Yoochun, Lee Hee Young

Rating :NC17     

Author : Lee Eun Ri

DON’T LIKE DON’T READ !!!

Happy Reading

Jaejoong tengah makan malam bersama putrinya. Ia sejak tadi diam saja tidak mengatakan apa-apa. Hal itu membuat Hee Young bingung karena tak biasanya Jaejoong diam selama makan malam.

“Appa, apa ada masalah?” Tanya Hee Young ragu.

“Tidak ada.” Jawab Jaejoong singkat. Ia berusaha tersenyum pada Hee Young agar putrinya itu tidak khawatir.

Sebenarnya Jaejoong sejak tadi diam saja karena khawatir memikirkan Hee Young. Ia menjadi sangat khawatir saat melihat putrinya itu bersama Junsu di sebuah café. Jaejoong terus memikirkan hal itu.

Tak lama Jaejoong mendapatkan sebuah ciuman di pipi dan pelukan hangat dari Hee Young. Yeoja itu menyandarkan kepalanya di bahunya. Jaejoong tersenyum dan mengelus pipi putri kesayangannya itu.

“Maaf membuatmu khawatir. Appa, baik-baik saja. Bagaimana kuliahmu?” Ucap Jaejoong. Hee Young menatapnya curiga. Jaejoong menghela nafas.

“Hanya masalah pekerjaan.” Ucap Jaejoong lagi.

“Appa kan bisa menyuruh orang kepercayaan appa untuk menyelesaikannya.” Ucap Hee Young dengan nada kesal.

“Baiklah tuan putri. Nanti appa akan menyuruh orang menyelesaikannya.” Mendengar itu Hee Young langsung mengangguk puas lalu kembali makan malam.

Jaejoong tersenyum melihat tingkah putrinya yang membuatnya bahagia. Hee Young memperhatikannya dan selalu meluangkan waktu untuk bersamanya. Hal itu sudah lebih dari cukup untuknya bisa bahagia bersama Hee Young.

‘Apa yang harus kulakukan sekarang?’ Batin Jaejoong.

“Apa kau berhubungan dengan Junsu?” Tanya Jaejoong yang akhirnya menanyakan hal itu. Hee Young menatapnya kaget lalu tertawa pelan.

“Appa melihatmu di café bersamanya tadi.”

“Appa, dia hanya sunbaeku tidak lebih.” Jawab Hee Young. Jaejoong menghela nafas panjang.

“Bagus kalau begitu.” Ucap Jaejoong.

Selesai makan keduanya langsung beristirahat di kamar masing-masing. Di dalam kamarnya Jaejoong tidak langsung beristirahat. Ia masih mengingat kejadian saat melihat Hee Young bersama seniornya. Hal itu membuat pikirannya kacau.

***

Yuchun melakukan kegiatannya seperti biasa. Selesai kuliah ia langsung pergi bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji. Yuchun bekerja dengan sangat giat. Hari ini ia di tugaskan melayani pelanggan langsung. Biasanya ia berada di dapur atau merapikan meja yang kotor yang baru saja dipakai oleh pelanggan. Senyuman selalu ia berikan setiap kali melayani pesanan pelanggan. Senyumannya hilang saat melihat Frasier di depannya. Wanita itu tersenyum manis padanya.

‘Sepertinya masih belum menyerah.’ Batin Yuchun sedikit kesal. Ia berusaha melayaninya seperti pelanggan lain. Selesai memesan Frasier mengatakan hal yang sudah bisa Yuchun tebak. Mengajaknya keluar alias kencan. Tentu saja Yuchun menolaknya halus.

“Aku tidak akan menyerah.” Ucap Frasier pada Yuchun dengan memamerkan senyuman menggodanya. Yuchun hanya menghela nafas berat.

‘Kehidupanku kedepan sepertinya akan sangat berat jika dia belum menyerah sama sekali.’ Batin Yuchun sambil melayani pesanan pelanggan lain.

Selesai bekerja beberapa temannya menghampirinya dan mengajaknya minum. Yuchun lelah dan menolaknya tapi teman-temannya tidak mau tahu itu dan tetap memaksanya. Akhirnya Yuchun pun pergi ke club. Di club seperti biasa teman-temannya mencari mangsa baru agar bisa menemani mereka. Yuchun melirik mereka satu per satu tanpa minat. Tak lama ada wanita yang menghampirinya tapi Yuchun diam saja. Teman disebelahnyalah yang menyikutnya dan memberi kode untuk melihat kesampingnya. Yuchun pun melihat kesamping dan mempertajam penglihatannya. Frasier. Wanita itu menyapanya dan mengajaknya berdansa tapi Yuchun tolak. Ia melihat Frasier tampak kecewa tapi Yuchun tak mau memberinya harapan karena dihatinya masih ada Hee Young.

“Kau gila?” Ucap Teman Yuchun tiba-tiba.

“Aku masih waras.” Jawab Yuchun tanpa minat. Ia mendengar temannya berdecak kesal.

“Kenapa kau menolak ajakannya? Kau tahu kan dia wanita populer di kampus dan dia sulit untuk di dekati. Frasier menjadi incaran para mahasiswa di kampus. Dia mengejarmu dan kau menolaknya?” Ucap teman Yuchun menggebu-gebu karena ia juga mengincar Frasier.

“Lalu? Bukankah bagus kalau aku menolaknya jadi kau bisa tetap mengejarnya kan?” Tanya Yuchun.

“Aku serius, Yuchun.” Balas teman Yuchun.

“Disini sudah ada nama lain.” Jawab Yuchun sambil memegang dadanya.

“Siapa?” Tanya teman Yuchun bernama Tom itu.

“Hee Young. Aku masih mencintainya dan akan kembali mendapatkannya setelah selesai kuliah disini.” Jawab Yuchun sambil tersenyum mengingat wajah ceria Hee Young.

“Frasier pasti akan kecewa jika mendengarnya.” Ucap Tom.

“Kalau begitu kau hibur dia. Kau serius dengannya kan? Jangan jadikan wanita sebagai mainan, nanti kau akan dapat hukuman. Ingat ucapanku mengenai  sebab akibat kemarin.” Ucap Yuchun. Temannya Tom ini memang terkenal seorang playboy dan sudah beberapa kali pula Yuchun menasehati temannya itu untuk tidak menyakiti hati wanita.

“Hmmm.” Jawab Tom malas.

Yuchun melihat Frasier berdansa dengan sangat liar, ada beberapa pria di sekeliling Frasier menatap wanita itu penuh minat. Saat menggoda pria itu Frasier menatap Yuchun.

‘Kau mau memanas-manasiku atau berharap aku cemburu? Maaf saja Frasier, aku tak tertarik. Aku tidak suka melihat wanita berpakaian mini dan berdansa seperti itu di depan orang lain.’ Batin Yuchun lalu ia mengalihkan pandangannya pada ponsel miliknya. Ia tersenyum melihat foto Hee Young. Tak lama ponselnya berbunyi Yuchun pun menjauh dan mengangkat telepon itu.

“Yeoboseo.” Sapa Yuchun sopan karena yang menelepon adalah Jaejoong.

“Kau ada dimana?” Tanya Jaejoong tanpa basa basi.

“Sedang diluar, pak.” Jawab Yuchun. Jaejoong diam dan Yuchun tahu kalau pria tua itu ingin lebih detail.

“Saya diajak teman-teman untuk pergi ke club, pak.” Jawab Yuchun jujur.

“Pulang sekarang. Kutunggu 15menit.” Ucap Jaejoong lalu menutup teleponnya. Yuchun menatap ponselnya cukup lama lalu membelalakan matanya saat menyadari sesuatu.

‘Sial! Dia ada di Paris.” Ucap Yuchun lalu berlari ke dalam club untuk mengambil jaketnya. Ia berpamitan pada teman-temannya dan melihat Frasier sekilas yang sepertinya ingin menghampirinya tapi Yuchun dengan cepat pergi keluar dan mencari taksi. Ia meminta supir agar mengemudikan lebih cepat.

Sampai di gedung apartemennya, Yuchun langsung menuju apartemennya. Saat masuk ia melihat Jaejoong sudah berada di dalam. Nafas Yuchun terengah-engah saat menyapa Jaejoong. Pria itu mengisyaratkan agar ia duduk di depannya. Yuchun menurut tanpa banyak kata.

“Kapan kau selesai kuliah?” Tanya Jaejoong.

“Perhitungan saya tahun depan, Pak.” Jawab Yuchun.

“Selesai kuliah, kau cobalah urus perusahaanku yang ada disini. Kulihat kau kuliah sangat baik disini. Kudengar kau juga menjadi mahasiswa terbaik. Selamat.” Ucapan Jaejoong membuat Yuchun kaget.

“Te terima kasih, Pak.” Ucap Yuchun.

“Mmm pak, apa boleh setelah kuliah saya kembali ke Korea dulu? Saya merindukan keluarga saya disana dan suasana Korea.” Ucap Yuchun ragu.

“Tidak.” Jawab Jaejoong tegas.

Yuchun menghela nafas. Ia takut Jaejoong akan semakin membuatnya jauh dari Hee Young. Yuchun mengacak rambutnya frustasi.

Melihat Yuchun yang frustasi dan ketakutan membuat Jaejoong menghela nafas panjang.

“Istirahatlah, ini sudah malam. Besok pagi kau ikut denganku ke kantor.”  Ucap Jaejoong lalu berdiri dan menepuk pundak Yuchun pelan.

“Baik.” Ucap Yuchun.

“Mau kemana, Pak?” Tanya Yuchun saat melihat Jaejoong menuju pintu.

“Kembali ke hotel.” Jawab Jaejoong.

“Bagaimana kalau anda istirahat disini saja? Disini ada 3 kamar, Pak. Ini juga apartemen bapak.” Ucap Yuchun lalu menghampiri Jaejoong. Jaejoong menatapnya dan diam cukup lama.

“Akan lebih baik anda istirahat disini, Pak. Mungkin perjalanan kembali ke hotel akan memakan waktu dan itu akan membuat anda tambah letih.” Ucap Yuchun lagi.

“Baiklah jika kau tidak keberatan bersama pria tua ini.” Ucap Jaejoong membuat Yuchun tersenyum. Jaejoong menelepon orang untuk membawa pakaiannya yang ada di hotel. Yuchun menunjukkan kamar yang kosong pada Jaejoong dan meninggalkannya agar bisa beristirahat.

Besok paginya Yuchun dan Jaejoong pergi ke perusahaan Jaejoong yang ada di Paris. Jaejoong memberitahu seluk beluk perusahaan yang nantinya akan ia percayakan pada Yuchun untuk diurus. Sisanya Jaejoong meminta sekertaris untuk menjelaskannya pada Yuchun. Jaejoong pergi keruangannya dan tak lama ia melihat ada Hee Young di skype. Ia pun menyapa putrinya itu dan melihat Hee Young tampak senang. Dalam video Hee Young terlihat berseri-seri membuat Jaejoong tersenyum.

“Appa, ada yang ingin kuberitahu. Kabar gembira.” Ucap Hee Young tak sabar. Saat Hee Young akan mengatakannya Jaejoong menghentikannya terlebih dahulu.

“Appa, bertemu Yuchun disini.” Ucapan Jaejoong membuat wajah Hee Young berubah.

“Bertemu Yuchun?” Gumam Hee Young yang masih terdengar Jaejoong. Jaejoong mengangguk. Jaejoong berdiri dan menghilang dari layar computer Hee Young.

“Kuijinkan kau berbicara dengannya. Hanya 15 menit setelah itu kau ke ruang rapat segera.” Ucap Jaejoong.

“A An Anda tahu hubungan saya dengan Hee Young?” Tanya Yuchun yang kaget tiba-tiba Jaejoong mengijinkannya berbicara dengan Hee Young.

“Ya.” Jawab Jaejoong.

“Aku sudah tahu hubunganmu dengan putriku maka dari itu aku membawamu kesini.” Ucap Jaejoong lalu pergi. Yuchun melihat punggung pria tua itu dan terdiam beberapa saat.

“Appa?” Panggilan itu membuat Yuchun tersadar dan menghampiri meja kerja Jaejoong.

Ia duduk dan melihat Hee Young ada di layar. Wajah yeoja itu terlihat kaget tapi Yuchun tersenyum melihat yeoja yang sangat ia rindukan ada di depannya walau hanya di depan layar.

“Apa kabar, chagi?” Tanya Yuchun. Hee Young masih tetap diam. Wajah yeoja itu terlihat ingin menangis.

“Aku merindukanmu. Maaf aku tidak bisa menemuimu saat di rumah sakit atau saat kau di penjara.” Ucap Yuchun lagi.

“Aku sangat merindukanmu. Aku ingin memelukmu.” Ucapnya lagi. Kini air matanya mengalir karena rindu yang tak tertahankan lagi. Ia menyentuh layar seolah menyentuh wajah Hee Young.

“Kenapa kau pergi? Aku menunggumu mengunjungiku di penjara dan menemuiku saat aku di rumah sakit.” Ucap Hee Young yang kini juga menangis.

“Kenapa kau harus pergi di saat aku membutuhkanmu.” Tambah Hee Young.

“Maafkan aku. Ini diluar kendaliku, Chagi.” Jawab Yuchun sambil menghapus air matanya.

“Berhentilah menangis. Aku lebih suka melihatmu tersenyum. Kumohon.” Pinta Yuchun. Hee Young pun menghapus air matanya dan tersenyum.

“Katakan padaku apa yang kau lakukan disana, oppa?” Tanya Hee Young. Walaupun hatinya sakit tapi Hee Young berusaha tegar. Ia pun melihat sepertinya Yuchun tersiksa dan sangat sedih terpisah dengannya.

“Aku kuliah disini dan perkiraanku tahun depan aku sudah selesai. Disini juga ada wanita yang mengejarku.” Jawab Yuchun sambil menghela nafas saat mengingat Frasier. Hee Young sedikit tidak senang mendengar ada yang mengejar Yuchun.

“Lalu apa oppa menerimanya?” Tanya Hee Young berusaha bersikap biasa. Yuchun menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak suka. Hanya ada kau di hari-hari yang kujalani disini selama beberapa tahun ini.” Jawaban Yuchun terdengar seperti rayuan belaka di telinga Hee Young.

“Bohong.” Ucap Hee Young. Yuchun pun mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan layar ponselnya yang terpampang foto Hee Young. Ia pun memperlihatkan beberapa foto lain pada Hee Young. Hee Young menutup mulutnya tak percaya kalau Yuchun memiliki fotonya.

“Foto inilah yang menjadi kekuatanku agar aku terus kuat disini tanpamu. Walaupun sebenarnya hanya foto saja kurang tapi ini lebih baik dari pada tidak.” Ucap Yuchun tersenyum.

“Maaf oppa.” Ucap Hee Young membuat Yuchun bingung.

“Setelah keluar penjara aku mulai berusaha membencimu oppa karena oppa tidak mengunjungiku sama sekali semenjak kejadian itu terkuak.” Ucap Hee Young.

“Maafkan aku, kau seperti itu gara-gara aku. Maaf.” Ucap Yuchun. Hee Young kembali mengeluarkan air matanya lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Keduanya banyak mengobrol, menceritakan hari-hari mereka semenjak di rumah sakit tapi Yuchun tak memberitahu Hee Young kalau yang mengirimnya ke Paris adalah Jaejoong. Ia melakukan itu karena tak mau terjadi keributan antara ayah dan anak itu. Walaupun Yuchun sendiri merasa apa yang di lakukan Jaejoong kejam tapi entah kenapa jauh dilubuk hatinya, ia merasa kalau Jaejoong melakukan ini semua untuknya agar bisa sepadan dengan Hee Young.

Saat sekertaris datang untuk mengingatkannya agar datang ke ruang rapat segera, Yuchun langsung berpamitan pada Hee Young. Tak lupa keduanya bertukar no.ponsel dan ID lain yang memungkinkan mereka berkomunikasi lagi dengan lancar. Tentunya hal ini Yuchun lakukan diam-diam agar tak ketahuan Jaejoong.

“Aku mencintaimu, Hee Young.” Ucap Yuchun sambil tersenyum pada Hee Young.

“Aku juga mencintaimu, oppa.” Balas Hee Young. Lalu tak lama sambungan Skype mereka terutus. Yuchun dengan cepat datang ke ruang rapat yang di tunjuk sekertaris Jaejoong

Hee Young menangis keras di kamarnya setelah berbicara dengan Yuchun. Hatinya sangat sakit saat melihat Yuchun yang tiba-tiba.

“Kenapa kau datang di saat seperti ini? Saat aku baru saja menjalin hubungan dengan Junsu sunbae? Kenapa kau datang terlambat?” Ucap Hee Young dengan terus menangis. Hatinya teramat perih. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia tidak bisa berfikir. Di satu sisi ia mulai menyukai Junsu tapi di sisi lain ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau ia masih mencintai Yuchun. Sulit baginya melupakan namja itu walaupun ia sudah berusaha membenci dan melupakannya tapi semakin keras ia berusaha melupakan atau membenci Yuchun, Hee Young malah semakin mencintai dan merindukan Yuchun.

Tak lama ponselnya berbunyi, Hee Young melihat siapa yang menelepon lalu menghapus air matanya dan berusaha agar suaranya terdengar biasa saja.

“Yeoboseo, sunbae.” Sapanya pada Junsu yang meneleponnya.

“Kenapa masih memanggilku sunbae? Aku kan sekarang kekasihmu.” Ucap Junsu yang sedikit kecewa di panggil sunbae oleh Hee Young.

“Mian, aku belum terbiasa.” Ucap Hee Young meminta maaf. Junsu merasa ada yang aneh dengan Hee Young.

“Kau kenapa? Suaramu berbeda. Kau sakit?” Tanya Junsu khawatir.

“Tidak, aku hanya sedikit tidak enak badan.” Ucap Hee Young bohong.

‘Mian, sunbae. Aku berbohong padamu.’

“Kalau begitu aku kesana sekarang. Kita ke dokter ya.” Ucap Junsu cepat.

“Anni, tidak usah. Aku sudah minum obat. Hanya perlu istirahat saja.” Ucap Hee Young lagi. Ia menggigit bibir bawahnya menahan tangisnya. Ia sudah membohongi namja yang mencintainya. Ia tak tega membohongi Junsu tapi ia tak mungkin mengatakan hal tentang Yuchun sekarang. Hee Young mendengar helaan nafas dari Junsu.

“Baiklah kalau begitu. Kau istirahat dan tidak usah kuliah kalau masih sakit. Aku akan pinjam catatan temanmu nanti dan kubawa ke rumahmu. Cepat sembuh ya.” Ucap Junsu lembut membuat Hee Young tak kuasa menahan tangisnya.

“Ne. Gumawo.” Ucap Hee Young lalu menutup teleponnya. Ia kembali menangis.

“Apa yang harus kulakukan.” Ucap Hee Young. Ia terus menangis hingga tertidur.

Semenjak kejadian di café Hee Young sebenarnya sudah berusaha menjauhi Junsu karena ingin fokus kuliah tapi Junsu tak pernah menyerah dan terus mendekatinya. Selama beberapa bulan Junsu terus mendekatinya tanpa kenal waktu.  Akhirnya Hee Young pun luluh dan saat Junsu menyatakan cintanya dua hari yang lalu Hee Young pun menerimanya. Hee Young berpikir ia akan berusaha mencintai Junsu mulai saat itu karena ia sudah mulai menyukai namja itu.

Tekadnya untuk mencintai Junsu dan terus berusaha membenci Yuchun hilang begitu saja begitu melihat Yuchun dan melihat namja itu masih sama seperti dulu. Matanya masih memancarkan cinta yang teramat dalam untuk Hee Young.

Selama beberapa hari Hee Young terus mengurung diri di kamar dan menangis. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan pada dua namja itu. Ia tak mungkin menjalani hubungan dengan keduanya sekaligus.

“Siapa?” Tanya Hee Young dengan suara serak saat mendengar ada yang mengetuk pintunya.

“Ini appa. Appa baru kembali tapi sambutan yang appa dapat malah kabar kalau kau mengurung diri di kamar beberapa hari ini. Ada apa?” Tanya Jaejoong yang baru saja kembali dari Paris.

“Tidak ada apa-apa, appa. Aku akan segera keluar sebentar lagi. Aku mandi dulu.” Ucap Hee Young.

“Baiklah. Appa tunggu di meja makan.” Balas Jaejoong.

Hee Young langsung ke kamar mandi dan melihat matanya bengkak  akibat terus menangis. Ia berusaha mengompres matanya agar tidak terlihat bengkak. Selesai mandi Hee Young pun keluar dan appa melihatnya dengan kaget.

“Kau kenapa? Habis menangis?” Tanya Jaejoong khawatir. Hee Young hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Jaejoong tahu ada yang tidak beres tapi ia tak mau memaksa putrinya itu. Ia ingin Hee Young sendiri yang menceritakannya tanpa ia paksa. Makan malam pun berlangsung dengan keheningan, Hee Young tak nafsu makan dan itu membuat Jaejoong semakin khawatir.

“Kau yakin baik-baik saja, Young-a? sejak tadi kau hanya mengaduk makanan tanpa memakannya.” Ucap Jaejoong yang membuat Hee Young sadar dari lamunannya.

“Aku baik-baik saja, appa.” Jawab Hee Young lalu memakan makanannya. Jaejoong hanya menghela nafas mendengarnya.

Selesai makan malam Jaejoong ke kamarnya dan menelepon Yuchun.

“Yeoboseo.” Sapa Yuchun.

“Ada yang ingin kutanyakan padamu. Kau belakangan ini menghubungi Hee Young?” Tanyanya langsung.

“Ti tidak, pak. Memang ada apa dengan Hee Young?” Tanya Yuchun khawatir dan penasaran. Jaejoong yang mendengar jawaban Yuchun sedikit kecewa karena tidak tahu apa yang terjadi pada putrinya.

“Saat makan malam tadi, aku melihat matanya bengkak dan wajahnya sedikit pucat. Dia terlihat sedih. Itu membuatku khawatir. Dia mengatakan tidak ada apa-apa tapi matanya mengatakan lain.” Jawab Jaejoong.

“Kalau kau tahu sesuatu katakan padaku. Maaf menganggu aktivitasmu.” Ucap Jaejoong lalu mematikan teleponnya.

Sementara itu Hee Young kini berbaring di ranjangnya dan menatap keluar jendela yang sengaja ia buka agar ia bisa melihat langit malam. Tak lama ponselnya berbunyi dan ia melihat Yuchun yang menghubunginya. Ia tersenyum tipis lalu wajahnya kembali sedih.

“Yeoboseo, oppa.” Sapa Hee Young dengan nada suara yang ia buat seceria mungkin.

“Jangan pura-pura ceria jika kau sedang sedih.” Ucap Yuchun langsung. Hee Young kaget mendengarnya.

“Tidak, oppa. Siapa bilang aku sedang sedih? Oppa sok tahu. Oppa sedang appa?” Tanya Hee Young berusaha mengalihkan pembicaraan. Yuchun menghela nafas pelan.

“Chagi, aku tahu dari suaramu. Kau sedang sedih kan? Jangan berbohong padaku dan jangan mengalihkan pembicaraan. Jangan membuatku khawatir. Katakan apa yang membuatmu sedih.” Ucap Yuchun yang benar-benar mencemaskan Hee Young.

“Tidak ada oppa. Aku hanya sedih karena peran untuk pentas drama musical di kampus nanti aku tidak mendapatkannya.” Jawab Hee Young. Cukup lama keduanya terdiam hingga akhirnya Yuchun yang membuka suara terlebih dahulu.

“Chagi, sepertinya kau banyak berubah. Kau tak lagi terbuka padaku padahal aku kekasihmu, aku menyayangimu dan mencintaimu. Apa hanya aku yang merasa bahwa hubungan kita masih tetap sama seperti dulu?” Ucap Yuchun kecewa.

“Aku tahu kalau kau berbohong padaku. Apa kau sudah tidak percaya padaku lagi?” Ucap Yuchun lagi.

“Oppa.” Panggil Hee Young.

“Maafkan aku. Sepertinya aku yang terlalu egois. Aku masih merasa kau milikku dan tidak berpikir kalau kau mungkin sudah memiliki kehidupan lain disana. Aku benar-benar minta maaf, Hee Young-shi. Aku lupa kalau kita sudah bertahun-tahun tidak bertemu dan kau pasti sudah bahagia disana. Maaf kalau aku menganggu kebahagiaanmu.” Ucap Yuchun. Yuchun memegang dadanya yang sakit. Ia tahu ada yang tidak beres dengan Hee Young karena beberapa kali ia telepon suaranya sama seperti sekarang. Serak seperti habis menangis tapi pura-pura ceria saat ia telepon. Satu hal yang sempat terpikir di benak Yuchun dan sepertinya apa yang ia pikirkan benar, apa lagi saat menelepon Hee Young sekarang membuat apa yang ada di benaknya semakin membuatnya yakin kalau itu benar..

“Oppaaaa.” Ucap Hee Young berharap Yuchun menarik kata-katanya.

“Jangan panggil aku oppa lagi. Aku bukan lagi siapa-siapamu. Maaf kalau aku tiba-tiba muncul di kehidupanmu yang baru. Kuharap kau bisa melupakan kehadiranku yang tiba-tiba ini. Maaf sekali lagi dan aku berjanji tidak akan menganggu kehidupanmu. Bye.” Ucap Yuchun lalu menutup teleponnya.

“Oppa oppa jangan tutup teleponnya. Oppaaaaaa.” Hee Young kembali menangis dan memanggil Yuchun. Ia berusaha menelepon namja itu tapi tidak diangkat, kedua kalinya ia menelepon, ponsel Yuchun tak bisa dihubungi. Yuchun mematikan ponselnya.

“Oppa, mian.” Ucap Hee Young sambil menatap ponselnya.

Yuchun memegang dadanya yang sakit. Ia menangis di apartemen milik Jaejoong. Yuchun merasa perjuangannya selama ini di Perancis sia-sia. Apa yang akan Yuchun lakukan ke depan ia masih tidak tahu.

“Ya Tuhan sakit sekali. Kumohon sembuhkanlah rasa sakit ini dan berikan dia kebahagiaan.” Ucap Yuchun.

Tak lama Yuchun mendengar suara telepon apartemennya yang berdering. Dengan langkah gontai Yuchun ke ruang tengah di mana telepon itu berdering. Ia mengangkatnya dengan malas.

“Halo.” Sapanya.

“Hei, kau mau ikut kami? Kami akan berlibur. Apa kau akan liburan ke Korea?” Teman Yuchun bernama Tom mengajak Yuchun berlibur.

“Aku tidak pulang. Liburan ke mana? Dan kenapa kau tidak menelepon ponselku.” Tanya Yuchun. Tom berdecak mendengarnya.

“Temanku sayang, ponselmu mati tidak bisa kuhubungi. Kau terdengar lesu. Kau harus ikut kami kalau begitu. 30 menit lagi kami akan menjemputmu dan kau harus siap.” Tanpa menunggu jawaban Yuchun, Tom langsung mematikan ponselnya.

Yuchun hanya menghela nafas dan kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap dan berjaga-jaga membawa beberapa pakaian ke dalam kopernya. Ia mengambil ponselnya yang sengaja ia matikan dan memasukkannya ke dalam koper.

Tepat 30 menit semua teman Yuchun datang dan memeluknya. Mereka langsung mengambil koper Yuchun dan memaksa namja itu untuk ikut berlibur. Yuchun berusaha bersikap biasa dan berpikir mungkin liburan akan membuat pikirannya teralihkan dari Hee Young.

Yuchun menghentikan langkahnya saat teman-temannya membawanya ke bandara dengan pesawat pribadi Tom di depannya sekarang. Ia menatap curiga semua temannya itu dan mereka membalasnya dengan senyuman. Senyuman mereka bertambah lebar saat mendengar suara wanita memanggil mereka. Yuchun melihat mereka wanita-wanita berpakaian seksi dan wanita paling belakang sudah Yuchun kenal. Wanita yang waktu itu menemani Yuchun.

“Wanita baru kalian.” Komentar Yuchun.

“Ya, mereka wanita baru dan yang itu sangat menggemaskan. Wajah asia apa seperti mereka semua, Yuchun? Sangat mungil.” Tanya Frank. Frank menatap Yuchun yang tampak berpikir.

“Aku tidak tahu kalau semua Negara asia tapi yang kutahu di asia timur itu sebagian besar memang berwajah kecil tapi ada juga yang hasil operasi.” Ucap Yuchun yang tak menutupi kalau di Negaranya memang banyak yang berwajah kecil hasil operasi agar mereka lebih percaya diri. Yuchun melihat Frank mengangguk dengan tetap menatap salah satu wanita asia. Yuchun pun menatapnya.

“Dia asli.” Ucap Yuchun yang tahu kalau Frank membenci wanita yang melakukan operasi dan make up terlalu tebal. Frank lebih menyukai wanita tanpa make up, menurutnya lebih alami. Frank menatapnya.

“Benar? Ah maaf aku tidak bermaksud.” Ucap Frank meminta maaf takut kalau menyinggung Yuchun karena kebenciannya dengan wanita yang melakukan operasi plastik. Dan Frank tahu kalau Negara Yuchun merupakan Negara terbesar yang melakukan operasi plastik. Ia tak mau menyinggung Yuchun.

“Santai saja. Aku tidak terlalu memusingkan hal itu.” Ucap Yuchun tersenyum dan menepuk pundak Frank pelan.

Yuchun melihat wanita-wanita itu menghampiri mereka satu per satu. Frank berebut dengan Tom yang mengambil wanita asia yang membuat Frank penasaran. Yuchun hanya menggelengkan kepalanya melihat ulah mereka terutama Tom yang sengaja menjahili Frank.

“Hai, apa kabar?” Yuchun mengalihkan pandangannya saat melihat wanita itu menyapanya.

“Hai, aku baik. Kau?” Tanya Yuchun balik.

“Baik.” Jawab wanita itu.

“Yuchun, kami memesankannya untukmu. Apa kau juga ingin yang baru? Kami tidak tahu seleramu seperti apa.” Ucap Tom sambil memeluk pinggang wanita yang menemaninya.

“Tidak apa. Aku lebih nyaman bersamanya. Aku tak perlu bersusah payah berkenalan lagi.” Jawab Yuchun.

Mereka pun naik pesawat pribadi Tom dan perjalanan menuju tempat liburan yang Yuchun sendiri masih tidak tahu akan kemana di penuhi dengan cumbuan teman-teman Yuchun dengan para wanita mereka. Yuchun menghela nafas berkali-kali dan melihat wanita yang menemaninya hanya bergelayut dilengannya. Yuchun menarik tangan wanita itu ke tempat yang lebih sepi. Pesawat sebesar itu tentunya masih ada tempat kosong. Yuchun pun mencari tempat kosong dan jauh dari teman-temannya. Bingo. Yuchun mendapatan tempat kosong dan duduk di sana bersama wanita itu.

“Kita disini saja. Mereka sangat tidak enak dilihat.” Ucap Yuchun. Wanita itu mengangguk.

“Ngomong-ngomong aku belum tahu namamu. Perkenalkan aku Yuchun. Pria Korea yang tengah menuntut ilmu di Paris.” Ucap Yuchun sambil tersenyum.

“Aku Anna.” Ucap Anna memperkenalkan diri.

“Nama yang indah.” Ucap Yuchun. Tak lama Yuchun kembali ingat pada Hee Young. mengingat itu membuat Yuchun mencium Anna dengan frustasi. Anna membalasnya dan mereka pun berciuman dengan panas. Yuchun melepaskan ciumannya saat merasa kalau Anna hampir kehabisan nafas. Dilihatnya wanita itu terengah-engah. Yuchun menyeka bibir Anna yang penuh dengan saliva mereka berdua.

“Maaf.” Ucap Yuchun. Anna tersenyum dan mengelus pipinya lembut.

“Tidak apa. Kau sepertinya sedang ada masalah, aku bisa merasakannya di ciumanmu barusan.” Ucapan Anna membuat Yuchun memeluk wanita itu. Anna mengelus punggungnya dengan lembut.

“Aku tahu tak seharusnya pria bersikap lemah seperti ini dan malah memelukmu disaat ada masalah percintaan. Tapi aku tak tahu lagi harus bagaimana, aku butuh seseorang untuk menopangku.” Ucap Yuchun.

“Pria juga kan manusia, ada saat dimana mereka butuh seseorang untuk menopang mereka disaat mereka lemah dan aku senang orang itu adalah aku.” Ucap Anna. Yuchun melepaskan pelukannya dan menatap Anna dengan wajah sedih.

“Mau bercerita padaku? Mungkin akan membuatmu lega.” Saran Anna. Entah kenapa Yuchun percaya kalau wanita di depannya akan menyimpan rahasianya. Yuchun pun menceritakan semuanya pada Anna.

Selesai menceritakan semuanya Yuchun menghela nafas dan melihat Anna kembali mengelus pipinya dengan lembut. Wanita di depannya memang wanita yang sangat lembut dan terlihat keibuan.

“Yuchun.” Panggil Tom. Yuchun menengok dan melihat Tom menatapnya dengan serius.

“Aku ke toilet sebentar.” Ucap Anna beralasan.

“Apa benar yang kau katakan barusan pada Anna?” Tanya Tom lagi.

“Kenapa kau tidak menceritakannya pada kami? Apa kau tidak percaya pada kami?” Tanya Frank yang kecewa Yuchun malah menceritakannya pada Anna.

“Maaf.” Ucap Yuchun. Ia tahu kalau ia salah jadi ia tak membela diri. Semua temannya baik padanya.

“Sekarang beritahu kami apa yang akan kau lakukan setelah wanita itu pergi?” Tanya Jimmy yang kini duduk di depan Yuchun.

“Aku akan berubah. Entah seperti berubah menjadi seperti apa yang jelas aku harus bisa melupakannya dari kehidupanku. Harus selesai kuliah dan membalas kebaikan Jaejoong. Pria tua yang membawaku kemari.” Ucap Yuchun. Ia mendengar Tom memaki Jaejoong.

“Hei, jangan berkata seperti itu. Dia memang menjauhiku dengan putrinya tapi aku yakin dia bermaksud baik. Kalau dia berniat jahat kenapa dia menyuruhku untuk kuliah disini dan setelah selesai aku di minta untuk menjalani perusahaannya. Lalu kalau dia jahat kenapa dia akhirnya memperbolehkanku berbicara dengan putrinya?” Ucap Yuchun. Tom hanya menghela nafas melihat Yuchun membela pria tua itu.

“Aku tak mau tahu tentang pria tua itu maupun putrinya. Yang jelas kami akan berusaha membantumu untuk melupakannya. Kau bisa mengandalkan kami.” Ucap Frank. Yuchun mengangguk dan berterima kasih. Ia bersyukur mempunyai teman seperti mereka yang mendukungnya.

“Baiklah kalau begitu. Mari kita lanjutkan pestanya.” Ucap Jimmy. Yuchun hanya tertawa melihat mereka kembali liar dengan para wanita yang menemani mereka. Yuchun sempat melihat Frank bersikap lembut pada wanita yang menemaninya. Dan terlihat hanya mencumbu wanita itu, tidak lebih. Terlihat jelas kalau Frank memang gemas dengan wanita berwajah mungil itu.

Yuchun melihat Anna kembali dan duduk di sampingnya.

“Sudah merasa baikan sekarang?” Tanya Anna. Yuchun mengangguk.

Yuchun memeluk Anna dan mengobrol selama perjalanan.

Setelah sampai Yuchun baru tahu kalau ia di bawa ke sebuah pantai dan mereka menginap di hotel lantai 10 yang Yuchun tahu lantai 10 sudah di booking oleh Tom. Selama berlibur Yuchun benar-benar bersenang-senang bersama temannya dan juga Anna yang selalu menemaninya. Rangkaian liburan yang di buat oleh teman-temannya Yuchun ikuti. Teman-temannya berusaha menghibur Yuchun dan menyemangatinya. Yuchun sangat berterima kasih pada mereka semua.

Saat waktunya tidur, Yuchun meminta Anna menemaninya. Bukan untuk melakukan hal itu tapi hanya tidur menemani Yuchun. Setelah putus dengan Hee Young entah kenapa Yuchun sulit sekali tidur dan bisa tidur saat Anna di sampingnya. Itu Yuchun sadari saat bersama Anna waktu mereka mengobrol. Yuchun sedikit bersyukur karena Anna tidak mengeluh sedikit pun dan selalu menemaninya.

Anna terbangun saat mendengar suara ketukan pintu. Ia membukanya dan melihat Tom. Tom mengisyaratkannya untuk keluar. Ia pun menurutinya.

“Aku mengganggu kalian?” Tanya Tom.

“Tidak, kenapa?” Jawab Anna.

“Dia sudah tidur kan?” Tanya Tom lagi. Kini Anna hanya mengangguk.

“Kita besok pagi-pagi sekali akan pergi. Kita bawa dia ke Korea. Aku tidak peduli larangan pria tua itu. Kau bereskan pakaianmu dan pakaian Yuchun.” Ucap Tom. Anna mengangguk mengerti.

“Dan ingat jangan beritahu dia. Nanti biar aku yang menngatakannya. Masuklah.” Ucap Tom lalu pergi. Anna pun langsung masuk ke dalam kamar dan membereskan pakaiannya dan Yuchun.

Pagi-pagi sekali sekitar pukul 4 pagi, kamar kembali di ketuk. Anna membukanya dan melihat Jimmy, Tom, Frank dan beberapa karyawan hotel datang. Anna mundur dan melihat mereka membawa Yuchun yang masih tidur perlahan dan membawa kopernya dan Yuchun.

Mereka semua pergi menuju bandara dimana pesawat pribadi keluarga Tom sudah siap siaga. Pesawat tinggal landas dan Yuchun masih terlelap.

“Dia sama sekali tidak terganggu.” Ucap Jimmy tak percaya Yuchun tak bangun sedikitpun. Anna tersenyum mendengarnya.

“Itu karena Yuchun sulit tidur.” Ucap Anna. Anna pun menceritakan kalau Yuchun sulit tidur kalau malam.

“Pasti karena wanita itu. Aku tidak pernah mendengar Yuchun sulit tidur. Dia malah gampang sekali tertidur karena kelelahan bekerja dan kuliah.” Ucap Frank.

“Apa yang akan kita lakukan di Korea?” Tanya Anna. Tom, Jimmy dan Frank tersenyum penuh arti.

“Kita akan membawanya ke orang tuanya dan sisanya kau lihat saja nanti. Istirahatlah, perjalanan panjang di Korea nanti menunggu kita.” Ucap Tom. Anna mengangguk.

TBC

Jangan lupa komennya ya.

8 thoughts on “Love(s) a Guardian Angel Part 10

  1. Kasian yoochun tapi setuju dengan pendapatnya kalau jaejoong punya maksud tertentu. Mungkinkah akan menjadikan yoochon sebagai pebisnis handal sebelum memberikan putrinya pada yoochun? Thor next ditunggu ya kelanjutannya semoga tidak pake lama.

  2. kuurauna hoseki berkata:

    Kerasanya pndek bngt mungkin gra2 nungguin bngt ff ini d lanjut…….
    Ayo thor lanjut ff nya …..

  3. aduh kasian yoochun. heeyoung juga kelewatan ih. kenapa musti ama junsu sihh. emang g ada yg lain ya -_-
    apa yg bakalan yoochun bilang pas dia tiba2 udh dikorea?
    hahahaha
    ditunggu kelanjutannya ya eonn.
    jgn cepet2 ending. hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s