My Girlfriend is a Vampire Chap 1


photoshake_1399968861568

Tittle : My Girlfriend is a Vampire
Genre : AU, OOC, Sraight/ Drama, Romance, Mystery, Spiritual, Horor (maybe).
Rating : NC/17
Lenght : 1 of ??.
Main Cast : Jung Yunho,Yoon Chae Rim, Kim Jaejoong, Song Ha Neul;
Other Cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, Han Seo Hwa, Seo Ji Na, Yoo Shin Hye, and others.
Author : Satsukisorayuki
Disclaimer : The fanfic is mine, terinspirasi dari manga ‘My Boyfriend is a Vampire’, ‘Vampire Knight’, and ‘Twilight Saga’.
.
Don’t like? Don’t Read!
.


A/n : Hello, Satsukisorayuki datang dengan fanfic baru. Mianhae karena idenya nggak original, tapi saya pasti akan berusaha agar alur cerita yang saya buat nggak terlalu terpaku pada cerita-cerita tentang vampire lainnya. Kalian semua juga pasti udah tau kan, kalau ada yang bikin ff tentang vampire pasti inspirasinya dari Twilight Saga, manga, or novel-novel tentang vampire. Kali ini saya ingin membuat fanfiction dengan tema tersebut karena menurut saya vampire itu adalah cerita horor yang bisa jadi romantis. So, kalau ga suka, mendingan nggak usah baca!! Gomawo! ^^

Yoochun : Ini orang bukannya lanjutin ff yang dulu-dulu, malah bikin ff yang baru lagi!
Jaejoong : Iya, nambah-nambah utang aja!
Changmin : Iya, mending lanjutin ‘Wanna Love You but I can’t..’ dulu sana!
Junsu : Harusnya kamu lanjutin yang ‘Kimi no Shiranai Monogatari’ dulu!
Jaejoong : Suki-chan, harusnya kamu lanjutin yang ‘Yume Sekai!!’ dulu!
Yunho : STOP!! Jangan protes! Kali ini dia mau bikin ff yang salah satu main castnya adalah aku!
Me : Tenang dulu, oppa-oppa sekalian! Aku bikin ff yang baru lagi karena aku lagi pengen bikin cerita tentang vampire. Fanfic yang lainnya pasti akan ku lanjutkan, tapi seperti yang ku katakan sebelumnya; “Yume Sekai!” dan “Wanna Love You but I Can’t…” untuk sementara belum bisa aku lanjutkan karena genre-nya lebih rumit. Sankyuu! ^^

Happy Reading?! ^^

.
.
“When her sharp fangs touched the nape of my neck, I felt shocking senses arouse inside of me.” —Kim Jae Joong—
.
.
Chapter 1 : Mind Reader
.
.

SMA Korea Selatan adalah sekolah yang paling terkenal di Korea. Tidak sembarang orang bisa bersekolah di sana. Hanya orang-orang jenius yang lulus dalam test masuk, atau orang-orang dari kalangan menengah-keatas yang bisa memasukinya. Sekolah ini sangat populer dan memiliki area yang sangat luas, bahkan di dalamnya terdapat hutan. Namun tahukah kalian, bahwa 1/3 murid di sekolah ini adalah Vampire? Diantara komunitas mereka ada yang merupakan vampire keturunan murni dan ada pula yang merupakan ‘vampire yang dirubah’. Mereka terlihat begitu sempurna di luar, tetapi sebenarnya mereka bisa menjadi orang yang berbahaya.

“Yoon Chae Rim!” panggil seorang siswi.

“Wae?” tanya Chae Rim singkat.

“Kamu sangat dekat dengan Kim Jaejoong oppa, kan? Aku ingin menitipkan kado ini untuknya… tolong berikan padanya, ya?!” kata siswi tersebut sambil tersenyum seraya menyodorkan sebuah hadiah.

“Ya.”

‘Geez~ dingin sekali dia! Kalau bukan demi Jaejoong oppa, aku tidak mau berbicara dengannya! Ratu sekolah apanya? Wajahnya saja sangat pucat seperti mayat hidup! Jelas sudah siapa yang paling cantik di sekolah ini, kan? Tentu saja orang itu adalah aku!’

“Heh, Jang Eun Ji! Kalau kau tidak mau berbicara denganku, ya sudah!” kata Chae Rim seraya membuang kado tersebut tepat di muka Eun Ji.

“Dasar, gadis angkuh!” teriak Eun Ji dengan muka merah menahan amarah.

“Dasar manusia rendahan!” balas Chae Rim tak kalah sengit.

“Apa katamu? Jangan mentang-mentang kau itu adalah pewaris salah satu perusahaan terbesar di Korea, kau seenaknya mengataiku begitu!”

“Aku bukan hanya pewaris perusahan ayahku, pabo! Aku adalah sang heiress dari clan Yoon.”

“Memang apa istimewanya ‘margamu’ itu, hah? Bukan cuma kau yang memiliki marga ‘Yoon’ di Korea!”

‘Berani sekali gadis ini! Sepertinya ia ingin aku gigit sampai mati! Lebih dari yang kau pikirkan, Jang Eun Ji… aku adalah vampire kelas satu!’

“Apa kau sudah selesai bicara? Kalau begitu aku akan pergi!” kata Chae Rim yang langsung melengos pergi.

“Dasar pengecut!!” teriak Eun Ji pula.

Ice Princess. Itu adalah julukan yang diberikan oleh seluruh siswa/siswi untuk Yoon Chae Rim. Diantara komunitas mereka, ia adalah satu dari beberapa orang vampire yang memiliki special abillity membaca pikiran. Hanya ada empat orang termasuk dirinya yang memiliki kemampuan tersebut. Bahkan ketiga orang lainnya adalah bagian dari clan Yoon—sama seperti dirinya—. Dengan kemampuan tersebut, ia bisa tahu isi hati manusia bahkan vampire sekalipun. Itulah sebabnya ia yang dulunya begitu periang berubah menjadi sosok yang dingin. Ia benci orang-orang bermulut besar yang sebenarnya berhati busuk macam Jang Eun Ji. Disekitarnya banyak sekali orang-orang yang seperti itu. Itulah sebabnya ia menjadi seorang penyendiri yang hanya memiliki beberapa teman dekat saja.

“Chae Rim-ah, sepulang sekolah nanti kita belanja, yuk!” ajak seorang gadis cantik saat Chae Rim memasuki kelasnya.

“Memangnya kau mau beli apa?”

“Banyak sekali! Baju, tas, sepatu, accessoris dan lain sebagainya!”

“Kau baru saja shopping satu minggu yang lalu!”

‘Itu kan satu minggu yang lalu. Aku ingin cuci mata sekalian mencari seorang pengantin.’

“Ji Na-ya, tidak bisakah kau mencari pengantin dari bangsa kita?”

“Eh? Aku kan ingin menikah dengan seorang manusia.” bisik Ji Na.

“…tapi mereka bisa mati kalau kau hisap darahnya. Hanya ada 1: 100.000 yang bisa bertahan hidup setelah tergigit. Manusia yang ingin kita ubah menjadi vampire biasanya tidak sanggup menahannya, maka mereka akan mati. Kalau senat sampai tahu, kau bisa dihukum!” jelas Chae Rim tak kalah pelan.

“Ya! Tentu saja aku akan berhati-hati agar tidak ketahuan!”

“Hey, memangnya tidak bisa jika aku saja yang kau jadikan pengantin.” Goda seorang pria yang sejak tadi memperhatikan Chae Rim dan Ji Na.

“Vampire playboys macam kau, siapa yang mau melakukan perjanjian darah denganmu?!”

“Ji Na-ya, kau terlalu kasar. Tidakkah kau lihat betapa tampannya aku?!” balasnya dengan senyuman yang sanggup membuat para gadis meleleh.

“Aku lebih suka manusia!” tegas Ji Na.

“Aku juga… mereka itu istemewa!” balas Chae Rim.

“So, apa yang membuat kalian berpikir kalau mereka itu istimewa?”

“Mereka bisa merona saat sedang malu, mereka hangat, dan mereka hidup.” jawab Ji Na. Chae Rim sendiri hanya mengangguk setuju.

“…tapi tubuh mereka sangat lemah dan hidup mereka singkat. Itulah kenapa aku lebih suka vampire daripada manusia.”

“Jaga kata-katamu, Park Yoochun! Itu bisa menjadi bumerang untukmu!”

“Geezz~ kau bukan Song Ha Neul yang bisa melihat masa depan, Yoon Chae Rim!”

“Well, aku hanya memperingatkanmu. Seperti yang kami bilang, manusia itu istimewa.”

‘Ding dong ding dong!’

Bel masuk pun berbunyi. Semua murid pun memasuki kelasnya masing-masing dan pelajaran yang berlangsung selama berjam-jam pun dimulai.

>>>>>.<<<<

 

=>One week later

‘Menyebalkan sekali! Kenapa Yoochun oppa menyuruhku pulang naik bus? Akan lebih cepat jika aku pulang dengan menggunakan skill vampireku, kan? Aish, kemana bus itu? Langit mulai tertutupi awan mendung… aku benci kehujanan!’ pikir Chae Rim sambil berdiri di halte. Tiba-tiba saja,

Tes!

Tes!

Tes!

Hujan mulai turun dan semakin lama semakin deras. Chae Rim pun duduk di halte sambil memandang tetesan air hujan yang membasahi bumi. Sejak dulu ia memang tidak suka hujan. Hujan akan membuat tubuhnya basah, dan ia benci kebasahan. Dinginnya air hujan malah membuat tubuh dinginnya semakin dingin. Selang beberapa menit, seseorang sudah duduk disebelahnya. Chae Rim pun menoleh ke arah orang itu.

Umm, orang ini… ia tampan sekali. Dia juga sangat keren dan bau darahnya begitu lezat. Tidak! Apa yang aku pikirkan! Kami sudah janji untuk tidak menghisap darah manusia lagi!’

“Ya! kau bawa payung tidak?” tanya orang itu tiba-tiba, membuat Chae Rim yang masih melamun tersentak kaget.

“Kau bilang apa?”

“Jika kau bawa payung, bisa kau antarkan aku ke sebrang sana? Aku memarkirkan mobilku disebelah sana!” ujar pemuda itu sambil tersenyum.

“Kalau aku bawa payung, aku sudah menerjang hujan sejak tadi, pabo! Bagaimana pun juga aku benci menunggu bus yang tak kunjung datang!”

‘Hmm, gadis ini cantik sekali. Aku belum pernah melihat gadis secantik ini sebelumnya, tapi kenapa wajahnya begitu pucat? Apa dia sakit?’

‘Tau apa kau? Aku ini sangat sehat, tahu!’

“Hey, apakah kau kedinginan? Kalau kau kedinginan akan kupinjamkan jacketku!”

“Apa aku terlihat menggigil?”

“Tidak.”

“Maka aku tidak butuh jaketmu!”

‘Jutek sekali dia, tapi entah kenapa aku sama sekali tidak merasa kesal. Aku tidak menyukai gadis ini, kan? Tapi saat aku memandang wajahnya seperti ini… kenapa jantungku berdebar jauh lebih kencang, padahal aku tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Ya Tuhan, matanya sangat indah! Dia terlihat seperti malaikat yang turun bersamaan dengan hujan.’

‘Dasar, sekarang kau terdengar seperti Yoochun oppa dengan rayuan gombalnya!’

“Kau sangat cantik. Siapa namamu?”

“Bukan urusanmu!”

‘Jangan tertawa Jung Yunho! Apa menurutmu gadis ini sebegitu menariknya?’

“Hahaha, mianhae… aku tidak tahan lagi, kau sangat lucu! Padahal aku hanya menanyakan namamu, tapi kau malah berkata ketus begitu. Tidakkah kau tahu saat kau cemberut seperti ini kau terlihat lebih manis?”

“Manis? Maaf saja ya, aku bahkan tidak blushing!”

‘Benar juga, kenapa dia tidak merona malu saat aku menggodanya seperti itu? Apa dia sebegitu dinginnya?’

“Aku Jung Yunho. Salam kenal, cherry.” ujar Yunho sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Ya! Apa maksudmu dengan cherry? Namaku bukan cherry!”

“Well, kalau begitu siapa namamu? Kau memiliki bibir indah sewarna cherry blossom, makanya aku memanggilmu cherry.”

“Yoon Chae Rim.”

“Rupanya memang cherry blossom! Bukankah Chae Rim itu artinya bunga sakura?”

“Terserah!”

Yunho tersenyum. Lalu ia berdiri, membuka jacketnya, dan memasangkan jacket itu ke bahu Chae Rim sambil berbisik di telinganya,

“Jangan menolak! Dengan wajah sepucat itu, kau bisa mati membeku karena kedinginan!”

Chae Rim terpaku. Tak pernah sekalipun ia mendapatkan perlakuan selembut ini dari seorang pria. Selama ini setiap pria yang mendekatinya tidak ada yang berhati tulus. Para vampire mencoba mendekatinya hanya untuk mendapatkan posisi ketua vampire dan menjadi ahli waris clan Yoon, karena ayahnya, Yoon Sang Ho, hanya memiliki seorang anak perempuan yaitu dirinya. Sedangkan manusia yang mencoba mendekatinya, hanya memandangnya sebagai gadis kaya raya, memiliki body yang indah, dan cantik. Tetapi orang ini, ia bahkan baru mengenalnya beberapa menit yang lalu. Dan orang ini sepertinya memang tidak pernah mengenalnya sebelumnya. Chae Rim menoleh. Sekarang Yunho sudah duduk kembali.

“Aku baru saja pindah ke Korea beberapa hari yang lalu. Aku berencana akan bersekolah di SMA Korea. Kebetulan sekali aku bertemu denganmu. Bukankah pakaian yang kau kenakan itu adalah seragam SMA Korea?”

“Seingatku aku tidak bertanya sama sekali. Berhenti bersikap sok kenal denganku. Aku bahkan tidak peduli kau akan bersekolah dimana. Lagipula itu bukan urusanku.”

‘Yoon Chae Rim, semakin kau bersikap dingin kepadaku, aku malah semakin ingin mengenalmu. Bisakah kita menjadi teman?’

“Chae Rim-ah, ayo kita berteman!” kata Yunho seraya mengulurkan tangan untuk yang kedua kalinya, namun lagi-lagi Chae Rim tampak tidak tertarik untuk berjabat tangan dengan Yunho.

“Apa tanganmu sedingin itu sampai kau tidak mau berjabat tangan denganku?”

Chae Rim menatap mata Yunho sekian detik. Orang ini, ia selalu mengatakan sesuatu yang sebelumnya ia katakan di dalam hati. Sejak tadi ia tidak pernah berbohong. Ia benar-benar tulus. Sebenarnya Chae Rim sendiri juga tidak takut dengan suhu tubuhnya yang selalu dingin, sebab saat kulitnya bersentuhan dengan kulit manusia, ia bisa menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu tubuh manusia tersebut. Itulah sebabnya, sosok asli mereka sebagai vampire tidak pernah ketahuan oleh kaum manusia berkat skill tersebut. Bangsa mereka juga tidak takut pada matahari seperti para vampire pada zaman dahulu, sebab bangsa mereka telah berevolusi sejak puluhan tahun silam.

Sejak puluhan tahun yang lalu, bangsa mereka sudah bisa bertahan hidup tanpa mengkonsumsi darah manusia. Mereka bisa memakan makanan manusia dan meminum minuman manusia. Mereka juga bisa tidur di malam hari, layaknya manusia biasa. Mereka tidak abadi, meski hidup mereka relatif lebih panjang dari hidup manusia pada umumnya. Mereka semua awet muda, itu sudah jelas. Sejak lahir mereka tumbuh seperti manusia; mulanya mereka hanya seorang bayi, kemudian mereka akan tumbuh menjadi anak-anak, dan remaja. Namun saat usia mereka mencapai enam belas tahun keatas, pertumbuhan mereka terhenti. Itulah sebabnya mereka tidak pernah menua dan renta.

“Wah, lihat! Hujan sudah berhenti! Bagaimana kalau aku antarkan kau pulang? Dimana rumahmu Chae Rim-ah?”

“Dengar, Jung Yunho-ssi! Jangan sok akrab, dan berhentilah memanggilku Chae Rim-ah!”

“Wae? Kau ingin aku panggil Chae Rim-ssi?”

“Ya, itu terdengar jauh lebih baik dari Chae Rim-ah!”

“Sayangnya aku tidak mau!”

“Mwo?”

“Kalau begitu panggil aku Noona! Aku ini jauh lebih tua darimu!”

“Hahaha, kau bercanda? Kau terlihat lebih muda 2-3 tahun denganku! Aku yakin umurmu baru 15 atau 16 tahun. Asal kau tahu, tahun depan umurku sudah 18 tahun.”

“Umurku 61 tahun!”

“Hah? Jadi maksudmu, kau adalah seorang Halmeoni? Hahaha… ternyata kau sangat lucu, Chae Rim-ah! Jangan berbohong, kau baru berusia 16 tahun, kan?”

‘Aish? Siapa yang berbohong, pabo!’

“Kajja!” kata Yunho seraya memegang tangan Chae Rim dan menyeretnya berlari ke sebrang jalan.

Setelah mereka sampai tepat di depan mobil mewah Yunho, Yunho pun membukakan pintu mobil untuk Chae Rim. Meski Chae Rim tampak enggan, pada akhirnya gadis itu bersedia duduk di jok mobil. Yunho pun tersenyum karena merasa senang sekaligus merasa puas pada saat yang bersamaan. Setelah itu ia pun memasuki mobilnya dan duduk di depan stir.

“Jadi dimana rumahmu?”

“Aku tidak tinggal di rumahku. Aku tinggal di dorm!”

“Arraseo. Kalau begitu tujuan kita adalah SMA Korea! Dengan ini aku bisa mendaftar di sana lebih cepat!” kata Yunho yang kemudian mulai menyalakan mesin mobil.

Sepanjang perjalanan Chae Rim hanya diam saja sambil terus memandang ke luar jendela. Sedangkan Yunho sesekali menoleh ke arah Chae Rim yang sejak tadi tidak berkata sepatah kata pun.

‘Apa gadis ini sama sekali tidak penasaran tentangku? Bahkan dia tidak bertanya aku pindahan dari mana meski hanya sekedar basa-basi. Astaga, padahal aku sangat penasaran dengannya.’

“Well, karena kau bilang umurku baru 16 tahun, aku akan memanggilmu ‘oppa’. Jadi oppa, kau bilang kau baru tiba di Korea beberapa hari yang lalu, kan? Memangnya sebelumnya kau tinggal dimana?”

‘Akhirnya dia bertanya padaku. Dia bahkan memamanggilku oppa. Oh God, kenapa rasanya aku senang sekali?’

“Sebelumnya aku tinggal di Jepang karena ibuku orang Jepang.”

“Oh, jadi kau blasteran?”

“Yeah, tapi aku jauh lebih mirip dengan ayahku… makanya banyak sekali orang yang bilang kalau aku sama sekali tidak mirip dengan orang Jepang.”

“Ne. Kau memang tidak mirip dengan orang Jepang.”

“Kau sendiri? Apa kau juga blasteran? Kau tidak terlihat seperti gadis Korea dengan mata besarmu yang berwarna hijau emerald itu, padahal warna kulitmu yang putih itu tampak seperti ras kami.”

“Ayahku orang Inggris. Dulu kami tinggal di London, tapi ibuku lebih suka tinggal di Korea, makanya kami pindah kesini.”

“Oh, pantas kau sangat cantik.” Puji Yunho.

Chae Rim sendiri hanya memutar bola matanya, karena lagi-lagi pujian Yunho mengingatkannya pada Yoochun yang suka sekali mennggombal pada gadis-gadis cantik.

“Kau juga tampan.”

“Dan aku juga sangat keren, kan?”

“Huh! Narsis!” komentar Chae Rim yang tanpa sadar tersenyum.

‘Senang melihatmu tersenyum, Chae Rim-ah. Aku jadi semakin menyukaimu. Kau makin cantik saat tersenyum.’

‘Aish, apa dia tidak bisa berhenti bersikap seperti Yoochun oppa! Dan kenapa pula aku terus memikirkan Yoochun oppa? Apa karena dia adalah cinta pertamaku? Aish, lupakan! Aku sudah tidak menyukainya lagi!’

“Kau cantik saat tersenyum. Teruslah tersenyum seperti tadi!”

“What?” tanya Chae Rim dengan tampang polos. Meski tadi Yunho memujinya, ia sama sekali tidak percaya kalau tadi ia benar-benar tersenyum.

‘Gadis ini… apa dia tidak sadar kalau tadi ia tersenyum kepadaku?’

‘Sulit dipercaya, aku bisa tersenyum kepada manusia?!’

>>>>>.<<<<
.
.

=> Junsu’s POV

SMA Korea. Aku tidak mengerti kenapa orang tuaku malah memindahkanku ke sekolah ini? Aku tidak suka sekolah ini! Siswa/siswi sekolah ini sangat angkuh hanya karena mereka berasal dari kalangan menengah-keatas. Hanya sedikit orang yang tidak seperti mereka… salah satunya adalah teman sekelasku, Shim Changmin.

Changmin adalah teman pertamaku di SMA Korea. Dia mengajakku berkenalan lebih dulu hingga akhirnya kami menjadi teman. Dia bilang, dia bisa masuk sekolah ini karena beasiswa. Changmin memang orang yang jenius, di usianya yang satu tahun lebih muda dariku dia bisa loncat kelas hingga akhirnya dia berada di tingkat yang sama denganku. Dia juga bercerita padaku, kalau anak-anak lain suka sekali membully dirinya karena penampilannya yang terlalu rapi dengan kacamata besar sekaligus tebal yang selalu bertengger di wajahnya. Di mata siswa/siswi yang lain, Changmin adalah anak yang culun. Mereka tidak tahu bahwa dibalik kacamata tebalnya itu, Changmin memiliki wajah yang tampan.

Hari ini adalah hari pertamaku bersekolah di SMA Korea. Sekarang adalah jam istirahat dan Changmin mengajakku berkeliling sekolah. Sulit dipercaya, di sekolah ini aku menemukan hutan. Saat Changmin menceritakan sejarah sekolah ini, aku melihat seorang gadis cantik sedang berbicara dengan seseorang. Namun karena lawan bicaranya sedang bersandar di pohon besar, aku tidak bisa melihat wajah orang itu.

“Changmin-a, siapa gadis itu? Baru kali ini aku bertemu dengan gadis secantik dia!” bisikku pada Changmin.

“Dia Song Ha Neul. Meskipun kau bilang dia itu gadis yang sangat cantik, Yoon Chae Rim jauh lebih cantik darinya.”

“Oh ya? Lalu siapa itu Yoon Chae Rim?”

“Hmm, se-sebenarnya dia adalah ga-gadis yang aku sukai.” Kata Changmin dengan nada gugup dan wajah yang memerah.

Aku kembali menoleh ke arah gadis yang bernama Song Ha Neul. Tiba-tiba saja gadis itu didorong oleh lawan bicaranya dengan kasar hingga ia terjatuh. Aku masih belum bisa melihat sosok orang itu dengan jelas. Akhirnya aku putuskan untuk mendekati mereka. Aku harus menolong gadis itu karena aku benci orang yang suka menyakiti orang lain.

“Jangan bermimpi! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah jatuh cinta pada seorang monster!”

“Wae? Padahal kau juga sudah menjadi bagian dari kami!”

“Kau pikir aku mengingankannya? Kalau bukan karena bangsa kalian, aku pasti masih bisa hidup normal dengan keluargaku!”

“…tapi aku mencintaimu, oppa.”

“Hahaha, memangnya berapa usiamu sampai kau memanggilku ‘oppa’? Kau bahkan jauh lebih tua dariku!”

Saat aku sudah berada dalam jarak beberapa meter dari mereka, Changmin menahan tanganku. Ia menggelengkan kepalanya.

“Junsu-ya, jangan ikut campur!” ujarnya. Tapi aku tidak peduli, aku ingin menolong gadis itu.

“Sadarlah, kau sudah menjadi bagian dari kami! Tidak sepatutnya kau membenci kami semua!”

Kali ini aku bisa mendengar suara gadis itu. Aku masih belum bisa melihat sosok lawan bicaranya, tapi sepertinya mereka sedang bertengkar.

“Aku harus berpisah dengan keluargaku gara-gara bangsa kalian, brengsek!!”

Suara ini? Aku tidak salah dengar, kan? Kenapa suaranya begitu mirip dengan suara kakakku yang menghilang satu tahun yang lalu?

“Jaejoong-a, kau harus bisa menerimanya. Itu adalah takdirmu. Aku sudah pernah melihatnya sebelumnya.”

Mendengar nama itu, aku pun tidak menghiraukan Changmin dan langsung menghampiri mereka.

“Jaejoong hyung?”

Sulit dipercaya, ia memang Jaejoong hyung. Kami pikir dia sudah meninggal. Syukurlah dia masih hidup. Aku senang sekali dan aku yakin Appa dan Eomma juga pasti akan bahagia mendengar kabar ini, tapi kenapa wajahnya begitu pucat? Apa dia sakit?

“Jun-junsu?”

“Hyung! Syukurlah… syukurlah kau masih hidup!” kataku yang langsung berlari dan memeluknya.

Aku tidak bisa menahan air mataku. Kakakku, akhirnya aku bisa berjumpa dengannya lagi.

“Junsu-ya, kenapa kau bisa ada disini?”

“Harusnya aku yang tanya? Kemana saja kau selama ini, hyung?”

“Ha Neul, bisakah kau pergi? Aku ingin berbicara dengannya! Kau juga pergilah, anak berkaca mata!” usir Jaejoong hyung.

Yeoja yang bernama Song Ha Neul itu pun lekas berdiri lalu pergi meninggalkan kami, begitu juga dengan Changmin. Jaejoong hyung mengajakku pergi ke tempat lain. Kami akhirnya tiba di pinggir sungai, dan aku duduk di salah satu batu besar. Udara disini sangat sejuk dan air sungainya juga masih jernih.

“Hyung, kemana saja kau selama ini? Dan kenapa wajahmu sangat pucat?”

Jaejoong hyung terdiam selama beberapa saat, entah apa yang sedang dipikirkannya. Namun dari sorot matanya tergambar gurat luka, kebencian, dan kemarahan.

“Hyung? Jujurlah padaku hyung, apa yang sebenarnya terjadi?”

Jaejoong hyung mengambil sebuah tabung kecil dari kantong blazernya dan menyerahkannya kepadaku. Aku pun mengambilnya dan membuka tutupnya. Aku sangat terkejut. Di dalamnya banyak sekali tablet berwarna merah muda. Entah obat apa ini.

“Aku sakit.”

“Mwo?”

“Itu adalah obatku.”

“Mwo?”

‘Mianhae Junsu-ya, aku berbohong… sebenarnya itu adalah tablet darah. Aku bukan lagi kakak yang kau kenal. Aku sudah menjadi seorang vampire.’

“Apa maksudmu? Sejak kapan kau sakit? Kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Satu tahun yang lalu. Mianhae Junsu-ya, aku tidak bisa menemui kalian lagi.”

“Wae?”

“Aku harus tetap disini. Clan Yoon memintaku untuk tidak berhubungan lagi dengan kalian.”

“Siapa mereka? Kenapa mereka melarangmu untuk berkumpul dengan keluargamu sendiri, hyung?”

‘…karena aku tidak ingin menyakiti kalian untuk memuaskan dahagaku akan darah.’

“…karena mereka adalah keluarga baruku. Mereka mengangkatku sebagai putera mereka.”

“Setidaknya kau harus menemui Appa dan Eomma terlebih dahulu, lalu menceritakan semuanya kepada mereka.”

“Aku tidak bisa, Junsu-ya. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir. Aku tidak mau melihat mereka sedih. Kau juga, Junsu-ya… tolong rahasiakan penyakitku dari mereka!”

“Arraseo, keundae… kau sakit apa, hyung?”

“Lemah jantung.”

“Tidak mungkin! Sejak kecil aku tidak pernah melihatmu sakit parah! Seingatku kau sangat sehat, hyung!”

“Setahun yang lalu aku mengalami kecelakaan. Tabrak lari. Kecelakan itu menyebabkan organ jantungku rusak dan cedera jantung itu membuatku seperti ini. Itulah sebabnya aku sangat membenci keluarga Song. Salah satu dari mereka-lah orang brengsek itu.”

“Jadi itu sebabnya kau kasar sekali pada Song Ha Neul?”

“Ne.”

Aku mengerti sekarang. Pantas Jaejoong hyung terlihat sangat marah. Ternyata pertengkaran mereka bukanlah tanpa alasan. Jaejoong hyung sakit gara-gara mereka. Nyaris saja aku menyukai gadis cantik itu.

“Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Kurasa sebaiknya kita kembali ke sekolah.” ujar Jaejoong hyung.

“Ne. Ini obatmu, hyung!” kataku sembari mengembalikan tabung plastik tadi pada Jaejoong hyung.

Jaejoong hyung menerimanya sambil tersenyum tipis. Hyung, aku harap kau bisa sembuh dan kembali sehat. Aku ingin kau kembali kepada kami dan kita sekeluarga bisa bersama lagi.

>>>>>.<<<<
.
.

=> Author POV

Junsu sudah kembali ke kelasnya. Sementara itu Jaejoong memutuskan untuk tidak mengikuti pelajaran kali ini dan bergegas pergi ke kamar asramanya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Junsu ada di sekolah ini, padahal ia tidak ingin dekat-dekat dengan keluarganya lagi. Ia adalah salah satu vampire yang dirubah dan sebagai vampire yang terbilang masih baru, ia sering sekali tidak bisa menahan dahaganya akan darah manusia. Meminum tablet darah sebanyak apapun tak cukup untuk menghilangkan rasa hausnya akan darah segar. Untung saja ia segera memisahkan diri dari Junsu. Hampir saja Junsu berada dalam bahaya dan identitas Jaejoong sebagai vampire terbongkar karena saat ini iris matanya telah berubah warna menjadi merah.

Mata vampire berubah warna menjadi warna aslinya adalah pertanda bahwa dirinya merasa lapar. Chae Rim sebagai vampire keturunan murni dari clan Yoon, matanya akan berubah warna menjadi hijau kalau ia merasa lapar. Mata emerald adalah ciri khas dari clan Yoon, sapphire blue merupakan ciri khas dari clan Song, warna gold adalah ciri khas dari clan Park, sedangkan violet adalah ciri khas dari clan Seo. Ke-empat clan itu adalah vampire terkuat. Namun hanya clan Yoon-lah yang merupakan vampire kelas satu. Darah mereka memiliki kekuatan yang sangat istimewa. Itulah sebabnya clan Yoon diperlakukan sebagai raja. Sedangkan ketiga clan lainnya adalah vampire kelas dua yang juga disebut sebagai kalangan bangsawan. Selain mereka masih ada vampire kelas tiga yang merupakan vampire biasa. Mereka semua biasanya menjadi bawahan vampire kelas satu dan vampire kelas dua karena mereka tidak lebih kuat. Vampire yang dirubah seperti Jaejoong adalah vampire kelas empat karena dulunya mereka adalah seorang manusia. Diantara mereka banyak pula yang menjadi pengkhianat. Mereka selalu mengincar darah vampire yang tingkatannya berada diatas mereka untuk bisa menjadi lebih kuat. Vampire-vampire tersebut biasanya dijuluki vampire level E. Vampire yang paling rendah diantara komunitasnya. Mereka juga tidak segan-segan untuk memburu dan membunuh kaum manusia. Mereka adalah musuh besar para vampire dan juga pemburu vampire.

Jaejoong mencengkram kuat dada kirinya. Ia meringis kesakitan. Hal itu selalu terjadi setiap kali ia merasa haus akan darah segar. Kalau sudah begitu tablet darah sama sekali tidak bisa membantu. Di sekolah ini banyak sekali mangsa, tetapi ia sudah berjanji pada clan Yoon untuk tidak menyakiti manusia lagi. Seperti yang ia katakan pada Junsu, clan Yoon adalah keluarga barunya. Yoon Sang Ho mengangkatnya sebagai putera karena beliau tidak memiliki seorang anak laki-laki. Sebagai putera angkat Yoon Sang Ho, ia memiliki kewajiban untuk melindungi sang heiress—Yoon Chae Rim—

“Joongie, kenapa kau membolos?” terdengar suara seseorang dari balik pintu. Namun Jaejoong masih sibuk menahan rasa sakitnya.

Tidak mendapatkan jawaban dari Jaejoong, Chae Rim pun menggunakan skill vampirenya hingga akhirnya ia sudah berada di kamar Jaejoong.

“Joongie!” teriak Chae Rim. Ia kaget karena Jaejoong sudah terduduk lemas di lantai sembari meringis kesakitan.

“Joongie, apa kau haus?”

“Nu-nuna apa kau punya labu darah untukku?”

“Aniya, hari ini darah dari donor belum tiba, tapi kau boleh minum darahku!” kata Chae Rim yang kemudian melukai pergelangan tangannya sendiri.

“Tidak, nuna. Bukankah pureblood adalah darah yang sangat istimewa. Orang sepertiku tidak pantas menerimanya.”

“Apa yang kau katakan? Kau adalah adikku, ingat? Di atas itu semua kau adalah pelindungku! Untuk menjadi pelindungku kau harus menjadi vampire terkuat! Jika kau minum darahku kau bisa menjadi vampire yang jauh lebih kuat dari Yoochun oppa dan lainnya, maka minumlah darahku!”

‘Gomawo, nuna. Aku janji aku akan selalu melindungimu. Tak akan pernah kubiarkan seorang pun melukaimu biarpun nyawaku yang menjadi taruhannya.’

Chae Rim tersenyum. Ayahnya memang cerdas. Beliau tidak memilih orang yang salah. Meskipun Jaejoong sangat membenci kaum vampire, ia memiliki hutang budi pada keluarga mereka. Itulah sebabnya Jaejoong sangat setia pada keluarga mereka.

Jaejoong akhirnya menurut. Ia meraih tangan Chae Rim dan mulai menghisap darahnya. Rasa sakitnya berkurang sedikit demi sedikit. Warna matanya berubah menjadi normal kembali. Dan sensasi aneh mulai menjalari tubuhnya. Darah dari seorang vampire keturunan murni memang luar biasa. Ia jadi merasa lebih kuat setelah meminum darah Chae Rim.

“Nuna, gwaenchanha? Aku tidak terlalu banyak meminum darahmu, kan?”

“Apa yang kau katakan? Sepertinya kau terlalu banyak meminum darahku. Aku sampai pusing dan lemas begini… keundae itu tak masalah karena kau adalah adikku yang paling aku sayang. Kurasa aku butuh istirahat. Boleh kan aku tidur di kamarmu?”

“Tentu,” kata Jaejoong yang kemudian menggendong Chae Rim bridal style dan menidurkannya di ranjangnya.

“Mianhae karena aku terlalu banyak meminum darahmu.” lanjutnya yang kemudian menyelimuti Chae Rim hingga dada.

“Gwaenchanha.” Chae Rim tersenyum lalu memejamkan matanya.

‘Kurasa aku harus mengecek apa darah dari pendonor sudah tiba disini atau belum. Nuna pasti membutuhkan darah.’

“Joongie, kajima!” Chae Rim membuka matanya kembali lalu menepuk sisi tempat tidurnya.

“Temani aku tidur, ne!”

“Ha?”

“Jebal!”

Jaejoong pun mengangguk lalu tidur disamping Chae Rim. Jaejoong tersenyum lalu membelai rambut Chae Rim lembut.

“Nuna, apa yang akan kau lakukan kalau aku jatuh cinta padamu?”

“Sayang sekali Joongie, aku lebih tertarik pada manusia.”

“Wae?”

“…karena mereka hangat.”

“Dulu aku juga hangat.” Kata Jaejoong, Chae Rim hanya tertawa kecil.

“…tapi sekarang kau dingin, Joongie!”

“Itu kan karena nuna juga vampire. Kalau kulitku bersentuhan dengan manusia… aku juga menjadi hangat. Nuna, apa aku bagimu?”

“Joongie adalah salah satu orang terpenting dalam hidupku. Adikku yang sangat berharga.”

‘Hhh, padahal aku benar-benar mencintaimu nuna! Saranghaeyo!’

“Mianhaeyo.” Kata Chae Rim kembali tersenyum.

.
=> Flashback <=

Jaejoong berjalan sempoyongan. Nafasnya tersenggal. Keringat dingin membanjiri wajahnya yang semakin memucat. Darah segar terus menetes dari dua lubang kecil di lehernya. Sulit dipercaya, diperjalanan tadi dia bertemu dengan seorang gadis cantik. Yeoja itu memperkenalkan dirinya sebagai Song Ha Ni. Dan tiba-tiba saja mata hitam yeoja itu berubah menjadi biru samudra dan dua buah taring yang tajam tumbuh dengan sendirinya, lalu dengan gerakan yang sangat cepat yeoja itu sudah menancapkan taring itu di lehernya.

Saat taring tajam itu tertancap dilehernya, rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Ia bagaikan terkena racun yang sangat mematikan. Ia merasakan shock dan merinding yang luar biasa. Sensasi aneh yang seakan-akan telah merusak pikiran sehatnya dari dalam. Saat itu, saat ia hampir kehilangan kesadarannya, seorang gadis bermata hijau emerald menyelamatkannya. Gadis cantik itu langsung menghajar vampire yang telah menggigitnya dengan gerakan yang sangat lincah.

Saat kedua gadis cantik itu masih sibuk bertarung habis-habisan, ia pun segera mengerahkan segenap tenaganya yang masih tersisa untuk melarikan diri. Hingga akhirnya ia tiba ditempat ini.

“Ugh!!” Jaejoong meringis kesakitan. Kini dadanya terasa begitu sakit. Tubuhnya pun merosot ke tanah.

‘Dadaku sakit. Tubuhku rasanya seperti terbakar. Apa aku sekarat?’

“Arrrggghhh!”

Jaejoong berteriak kencang. Rasa sakit di dadanya semakin menjadi-jadi, tenggorokannya terasa terbakar, dan seluruh tubuhnya terasa panas bukan main.

“Hey, nak? Kau kenapa?” tanya seorang pria paruh baya dengan wajah cemas.

“To-tolong a-aku, a-ajeossi!’ kata Jaejoong sambil terus meringis.

Ajeossi itu pun segera menelpon ambulance dan juga polisi.

“Bertahanlah, nak! Ambulance akan segera datang!”

Kini suara ajeossi itu terdengar sayup-sayup ditelinga Jaejoong. Pandangan matanya semakin buram hingga akhirnya hanya kegelapan yang bisa ia lihat.

Melihat seorang murid senior high itu tiba-tiba saja tidak sadarkan diri, ajeossi yang kebetulan lewat itu semakin panik. Ia pun berteriak,

“Tolooongg!!”

Kini beberapa orang berkerumun di gang sempit itu. Seorang anak muda berusia sekitar 20-an menghampiri ajeossi itu.

“Ajeossi, apa yang terjadi?” tanyanya.

“Aku tidak tahu. Saat aku lewat sini, anak ini sudah tampak kesakitan.” Jawab ajeossi itu.

Anak muda itu pun berjongkok di samping Jaejoong lalu memeriksa keadaannya. Seragam sekolah Jaejoong sudah ternodai oleh darah yang bersumber dari luka dilehernya. Wajah Jaejoong sangat pucat. Anak muda itu pun akhirnya memberanikan diri untuk mengecek denyut nadi di leher Jaejoong dan juga mengecek apakah Jaejoong masih bernafas atau tidak.

“Bagaimana keadaannya?” tanya ajeossi tadi. Anak muda itu menggeleng.

“Tidak ada denyut jantung. Anak ini juga sudah tidak bernafas… sepertinya dia sudah meninggal.” Katanya yang kemudian menutupi bagian atas tubuh Jaejoong dengan mantel tebalnya. Bersamaan dengan itu suara sirene ambulance dan mobil polisi mulai terdengar.

“Dia terluka dibagian leher. Itu seperti bekas gigitan binatang buas.. tapi kurasa polisi pasti bisa memastikannya nanti.” kata pria muda itu pula.

“Kasihan sekali anak itu,” komentar ajeossi tadi.

“Oh My God!! Apa dia adikku?” kata seorang gadis yang tiba-tiba saja muncul dari kerumunan orang-orang. Gadis cantik itu segera berlari ke arah Jaejoong dan membuka mantel yang menutupi wajahnya.

“Namdongsaeng, apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?” katanya sambil menangis.

“Agassi, apa dia memang adikmu? Kalian sepertinya seumuran?” tanya ajeossi tadi.

“Dia adik kembarku! Wae?”

“…tapi kalian berdua tidak mirip.” komentar anak muda tadi.

Chae Rim memejamkan kedua matanya. Tepat ketika ia membuka matanya kembali. Orang-orang disekelilingnya langsung tak sadarkan diri. Dan bersamaan dengan itu suara sirene ambulance dan mobill polisi semakin jelas terdengar, pertanda mereka sudah sangat dekat.

“Kalian semua yang berada disini, lupakan semua tentang anak ini termasuk mengenai keberadaanku.” Ucap Chae Rim yang kemudian mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, lalu segera menggendong Jaejoong dan bergerak dengan kecepatan tinggi.

Satu menit kemudian beberapa orang polisi datang dan mereka merasa heran karena semua orang dalam keadaan tak sadarkan diri. Salah satu dari mereka segera memeriksa TKP.

“Darah manusia.. tapi diantara mereka semua tidak ada seorang pun yang terluka. Ini benar-benar aneh.” gumamnya.
.
.

Perlahan-lahan mata Jaejoong terbuka dan Chae Rim tampak terkejut.

“Appa, dia bangun! Sulit dipercaya, dia adalah salah satu dari manusia yang bisa bertahan hidup setelah digigit vampire.”

“Chae Rim-ah, kalau seperti ini keadaannya berarti dia sudah menjadi bagian dari bangsa kita.”

“Di-dimana aku dan siapa kalian?“

“…”

“Kau… bukankah kau adalah gadis yang menyelamatkan nyawaku?”

“Selamat datang dalam komunitas kami! Namaku Yoon Chae Rim dan beliau adalah ayahku!”

“Aku Yoon Sang Ho. Mulai hari ini kau akan aku jadikan puteraku. Siapa namamu, nak?”

“Namaku Kim Jaejoong… tapi apa maksud anda dengan akan menjadikanku sebagai putera anda?”

“Baiklah, akan aku ceritakan semuanya kepadamu.” Kata Yoon Sang Ho yang kemudian menempelkan telapak tangannya di kening Jaejoong. Melalui skill istimewanya itu, Yoon Sang Ho meceritakan sejarah tentang kaum mereka –bangsa vampire—.

=> Flashback End <=
.

Jaejoong memperhatikan lekuk wajah Chae Rim dengan seksama. Kini Chae Rim sudah tertidur pulas. Ia sangat membenci vampires dan dia benci dirinya sendiri karena telah menjadi vampire—mayat hidup yang seharusnya tidak pernah ada di dunia ini— tapi Chae Rim sudah menyelamatkannya dan dia merasa berhutang budi pada keluarga Yoon. Itulah sebabnya ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu setia pada clan Yoon dan ia pasti akan melindungi Chae Rim sepanjang umurnya.

“Aku tahu aku sudah mati… tapi aku pasti akan selalu menjaga dan melindungimu, nuna! Ini adalah janjiku seumur hidup! Nuna, saranghae!”

>>>>>.<<<<
.
.

Yunho memperhatikan sekelilingnya. Ini adalah hari pertamanya di SMA Korea. Sulit dipercaya teman-teman sekelasnya memiliki tampang di atas rata-rata, terutama beberapa orang yang dijuluki murid-murid lain sebagai ‘gank muka pucat’. Mereka tidak sembarangan memberi julukan orang-orang itu sebagai ‘gank muka pucat’ sebab pada kenyataannya kulit mereka memang putih pucat. Namun hal itu tidak menutupi ketampanan dan kecantikan mereka sedikitpun. Yunho tersenyum saat ia menemukan sosok seseorang yang ia kenal diantara ‘gank muka pucat’. Setelah yeoja itu duduk di tempat duduknya, Yunho pun menghampiri yeoja itu dan duduk disampingnya.

“Chae Rim-ah, tak kusangka kita sekelas!” sapa Yunho dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.

“Ya, aku juga tak menyangka!”

“Apa mereka berempat adalah teman-temanmu? Kalau tidak salah yang itu Park Yoochun dan Seo Ji Na?! Mereka adalah model terkenal itu, bukan? Wow, hebat sekali… ternyata kau temannya artis!”

“Ya, mereka adalah sahabatku dan salah satu dari mereka adalah adikku!”

“Oh ya? Yang mana yang adikmu?”

“Kim Jaejoong.” Jawab Chae Rim sambil menunjuk Jaejoong.

“Menurutku kalian tidak mirip! Dan kenapa marga kalian berbeda?”

“…karena kami beda ibu.”

“Oh, begitu rupanya. Jadi ayahmu memiliki dua orang istri?”

“Ne.”

“…tapi aku penasaran, kenapa kulit kalian pucat? Wajahmu juga sama pucatnya dengan pada saat kita pertama kali bertemu!”

“Sepertinya aku belum menceritakan padamu mengenai penyakitku…”

“Mwo? Jadi kau sakit? Kau sakit apa?” tanya Yunho tampak cemas.

“Leukemia.”

‘Leukemia? Ya Tuhan, bukankah penyakit itu belum ada obatnya? Begitu rupanya, ternyata Chae Rim sakit… pantas wajahnya selalu terlihat pucat.’

“Adikku juga sakit. Lemah jantung.”

“Mwo?”

“Ba-bagaimana dengan Park Yoochun dan yang lainnya, apa mereka juga sakit?”

“Kalau Ji Na dan Yoochun oppa sakit, mereka tidak mungkin menjadi seorang artis. Hari ini mereka berdua hanya sedang kurang sehat saja… sepertinya mereka kelelahan karena belakangan ini schedule mereka sangat padat. Kalau Ha Neul memang sudah dari sononya dia begitu.”

“Begitu rupanya. Aku lihat anak-anak kelas lain juga banyak yang seperti kalian. Jujur saja, aku merasa ini sangat aneh.”

“Aku sama sekali tak keberatan jika kau menganggap mereka semua aneh… keundae aku tidak akan terima jika kau menganggap kami berlima sebagai orang aneh.”

‘Anieyo, kalian tidak aneh… apalagi kau dan adikmu, Chae Rim-ah. Kau bilang kalian berdua sakit, jadi menurutku itu hal yang wajar.’

“Aniya. Menurutku kalian tidak aneh.”

“Gomawo. Sebenarnya aku sangat iri pada kalian semua. Kalian memiliki tubuh yang sehat. Umur kalian pasti masih panjang, tidak seperti aku dan Joongie.” kata Chae Rim yang kemudian pura-pura sedih agar Yunho tidak mencurigainya.

‘Oh tidak, Chae Rim-ah! Kenapa kau menangis?’

“Chae Rim-ah, uljima!” kata Yunho yang langsung memeluk Chae Rim.

“Oppa, meskipun aku sakit parah. Kau masih mau menjadi temanku, kan?”

“Tentu. Aku bahkan rela memberimu darahku jika kau membutuhkannya.”

“Jeongmal?”

‘Tentu saja aku serius, Chae Rim-ah.’

“Ne.”

Yunho segera melepas pelukkannya. Sedangkan Chae Rim tersenyum mendengar isi hati Yunho.

“Nah, kau jauh lebih cantik kalau tersenyum. Chae Rim-ah, aku baru sadar… apakah kau memakai contact lens? Matamu sewarna emerald saat aku melihatnya pertama kali!”

“Ne. Aku lebih suka begini soalnya orang-orang selalu memandangku aneh jika aku memperlihatkan mata asliku.”

“Wae? Padahal menurutku matamu sangat indah!”

“Selain keluargaku, kau adalah orang pertama yang mengatakannya. Gomawo, oppa.”

‘Aku senang sekali karena Chae Rim tidak lagi bersikap jutex padaku. Sepertinya kemarin dia hanya sedang bad mood saja… sepertinya dia gadis yang ramah.’

‘Berani-beraninya orang itu mendekati nuna dan memeluknya. Rasanya aku ingin sekali membunuh manusia lemah ini.’ Pikir Jaejoong seraya mengepalkan kedua tangannya. Tiba-tiba saja ia mendapatkan pesan telepati dari Chae Rim.

‘Joongie-ya, ada apa dengan ekspresimu? Kau terlihat marah! Apa kau merasa cemburu pada Yunho? Dengar baik-baik Joongie, dia adalah manusia yang aku sukai… jadi kuharap kau tidak akan pernah mengganggunya. Jika kau menyakitinya bahkan hanya seujung rambutnya sekali pun aku tidak akan berbicara denganmu selama 10 tahun.’

‘Hah? Nuna jebal jangan begitu? Aku janji tidak akan pernah melakukan hal buruk kepadanya!’

‘Bagus. Kupegang janjimu, Joongie!’ tegas Chae Rim dan telepati mereka pun terputus.

‘Rupanya nuna sudah menemukan orang yang disukainya. Yah, kurasa aku sudah tidak punya kesempatan untuk mendapatkan hatimu, nuna. Seperti yang kau katakan dia istimewa. Dia manusia dan dia hidup, tidak seperti aku.’ Pikir Jaejoong yang kemudian segera keluar dari kelasnya.

Jaejoong pergi ke bukit belakang sekolah, lalu duduk dibawah pohon maple. Ia menyandarkan punggungnya ke pohon besar tersebut dan memejamkan matanya. Hatinya terasa sakit karena Chae Rim sudah menemukan manusia yang selama ini ia cari.

“Hyung?” kata Junsu yang langsung menghampirinya.

Jaejoong membuka kelopak matanya lalu tersenyum pada Junsu.

“Junsu-ya, kenapa kau ada di sini? Bukankah sebentar lagi bel masuk berbunyi?”

“Ah, tadi aku jalan-jalan sebentar soalnya aku masih penasaran seberapa besar tanah sekolah ini. Lalu aku melihatmu. Hyung sendiri sedang apa disini?”

“Aku mau bolos.”

“Hah? Wae?”

“Aku merasa tidak enak badan.”

Junsu mendekati Jaejoong lalu duduk di sampingnya.

“Kalau hyung merasa sakit, seharusnya hyung pergi ke ruang kesehatan atau ke rumah sakit.”

“Shireo. Lagipula aku akan segera membaik setelah tidur sebentar.” Kata Jaejoong yang kemudian kembali memejamkan kedua matanya.

‘Ding dong! Ding dong!’

Bel masuk berbunyi namun Junsu tidak ingin beranjak dari sana. Ia terus memperhatikan Jaejoong yang tengah bersandar pada pohon maple sambil memejamkan matanya. Mata Junsu mulai berkaca-kaca dan tiba-tiba saja air mata sudah menganak sungai di pipinya.

“Hyung! Apa rasanya sakit sekali? Jantungmu sesakit apa rasanya?” tanya Junsu dan Jaejoong pun langsung membuka matanya kembali.

‘Aigoo, anak ini! Kenapa dia menangis padahal kemarin saat aku berbohong padanya dia terlihat tegar?!’

“Hyung! Jangan membuatku khawatir! Akan kuantar kau ke rumah sakit!”

“Sudah kubilang aku tidak mau! Sebaiknya cepat kau masuk kelas!”

“Shireo! Aku akan menemanimu disini!”

“Saat ini aku sedang ingin sendirian!”

“Masa bodoh! Aku tak akan membiarkanmu sendirian!”

“Aish, keras kepala! Ya sudah, terserah kau!” kata Jaejoong yang kini merebahkan tubuhnya di atas rumput lalu kembali memejamkan mata.

“Hyung! Aku benar-benar khawatir! Kenapa kau tidak mau pergi ke rumah sakit padahal wajahmu sangat pucat!”

“Berhenti berteriak dan biarkan aku tidur!” balas Jaejoong. Junsu menghela nafas panjang lalu ikut berbaring disamping Jaejoong.

“Ya sudah, selamat tidur.” kata Junsu pula.
.
.

Ini adalah malam pertamanya di dorm dan Yunho tidak bisa tidur. Ia pun memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Yunho pun pergi ke gedung olahraga dan memutuskan untuk bermain basket. Berulang kali ia berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Saat Yunho hampir berhasil mencetak three point shoot untuk yang kesekian kalinya. Ia merasakan seseorang bergerak cepat disekitarnya.

Yunho tampak waspada. Ia pun mulai mengambil ancang-ancang untuk melakukan pertahanan diri dengan gerakan taekwondo-nya. Tiba-tiba seorang gadis cantik sudah berada dibelakangnya dan hampir menancapkan taringnya yang tajam ke leher Yunho. Namun dengan gerakkan yang cukup lincah, Yunho berhasil menghindar dan menendang tubuh gadis itu. Gadis itu menggeram dan bangkit berdiri. Yunho bisa melihat ekspresi marah dari wajah gadis itu. Gadis itu memiliki mata biru samudra.

“Jangan meremehkan, Song Ha Ni!” teriak gadis itu yang dengan gerakan yang sangat cepat berhasil mengunci pergerakkan Yunho dan melumpuhkannya.

Yunho tidak bisa bergerak, gadis ini begitu kuat dan gerakkannya sangat lincah. Leher Yunho hampir saja tergigit, saat tiba-tiba terdengar suara tembakkan. Tembakkan tersebut berhasil melukai dada Song Ha Ni. Darah bercucuran dan Song Ha Ni pun lekas menghilang dari sana.

Dihadapannya, seorang pria dengan postur tubuh yang sepertinya lebih tinggi darinya meniup asap yang mengepul dari pistolnya. Dia terlihat keren di mata Yunho dan dia memiliki wajah yang tampan. Pria yang sepertinya lebih muda darinya itu tersenyum padanya.

“Kau baik-baik saja? Tenang saja, ini adalah pistol khusus untuk membunuh vampire. Vampire level E itu tidak mungkin bisa bertahan hidup dengan luka seperti itu.”

“Makhluk apa tadi dan siapa kau?” tanya Yunho.

“Mungkin kau tidak akan percaya… tapi makhluk tadi adalah predator paling berbahaya. Seorang vampire.”

“Mwo?”

“Namaku Shim Changmin. Aku adalah seorang pemburu vampire.”

“Terimakasih kau sudah menyelamatkan nyawaku. Namaku Jung Yunho. Salam kenal, Changmin-ssi.”

“Lain kali berhati-hatilah, terutama pada saat malam tiba. Di sekolah ini banyak sekali vampire level E yang sering menyerang manusia.”

“Vampire? Omong kosong macam apa itu?”

“Itu bukan sekedar omong kosong. Vampire itu benar-benar ada dan wanita tadi adalah salah satunya.”

“Mwo?”

“Berhati-hatilah, sunbaenim!” kata Changmin yang kemudian bergegas pergi.

Yunho terpaku di tempat. Ia benar-benar tidak mempercayai keberadaan vampire.

“Aku pasti sedang bermimpi.” gumamnya.

 

.
.
>> To Be Continued <<
.
.

Nah ini adalah fanfic terbaruku yang terinspirasi dari manga ‘My Boyfriend is a Vampire’, ‘Vampire Knight’, and ‘Twilight Saga’. Akan saya lanjutkan jika yang komen minimal 5 orang. Like usual No Bashing okay, it just a fanfiction. Jangan lupa tinggalkan komentar atau kritiknya, ya?! Kamsahamnida. ^^

.

11 thoughts on “My Girlfriend is a Vampire Chap 1

  1. eunchan she peef berkata:

    Serem juga chaerim~ yunho baik banget dah pdhl baru kenal~😀
    Jae pegang pistol ngga yah nnti…. :3
    Hadeuh penasaran nih selanjutnya><

  2. nisa6002 berkata:

    Chapter ini bru perkenalan masing2 cast aja. Aku jadi penasaran gmna ceritanya nanti. Di tunggu ya next chapter nya.

  3. Chunnie jj berkata:

    Wah ada pistol untuk membunuh vampire jga ya. Keren.
    next ya Author (*゚▽゚)ノ(*゚▽゚(*゚▽゚)ノ

  4. lilaorion berkata:

    Wah2 awalnya aku kira changmin bkn vampire, tapi ternyata…
    Yunho sma Junsu akan jadi vampire jga gk ya?

    Author lanjuttin ya. Hwaiting 😄

    • Changmin emang bukan vampire, kok, dia vampire hunter dan dari kalangan manusia sama seperti Yunho and Junsu…
      Kalau soal itu lihat saja nanti😉
      Chap 2-nya udah dilanjut…

      Arigatou for read and comment🙂

  5. rayakwon berkata:

    Anyeong author-nim. Raya kwon imnidaa, aku yang komen d part 2 dlu, mianhe lompat lompat huhuhuu,
    Ceritanya menarik, bikin pnasaran kekekee. Tpi bagian yun oppa dikiit min. Dan terimakasih udah bikin ff yun oppa yang makin jarang ditemui sekarang ini,
    Author-nim, fighting ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s