Love(s) a Guardian Angel Part 9


Title : Love(s) A Guardian Angel

Main Cast : Park Yoochun, Lee Hee Young

Rating :NC17     

Author : Lee Eun Ri

DON’T LIKE DON’T READ !!!

Happy Reading

HEE YOUNG POV

Aku terdiam dalam pelukan appa. Appa memanggilku ‘yeobo’. Appa merindukan umma. Pelukannya begitu erat membuatku menangis dalam pelukannya. Cukup lama aku menangis hingga akhirnya aku sedikit melepaskan pelukan appa. Aku menatap appa yang terlihat kaget. Sepertinya appa sadar kalau yang dipeluknya itu aku, putrinya. Bukan umma.

“Appa, aku Hee Young. bukan umma. Mianhae.” Ucapku.

Appa menghapus air mata yang masih mengalir membasahi pipiku. Kulihat dimatanya penuh kerinduan dengan sosok umma.

“Appa merindukan umma?” Tanyaku. Appa tak langsung menjawab, ia diam beberapa detik lalu menjawab.

“Ya, appa sangat merindukan umma-mu.” Jawab appa.

“Bagaimana kalau kita pergi keluar berdua. Kencan. Kita pergi ke tempat dulu appa dan umma sering kunjungi saat berkencan.” Ucapku ragu. Aku tak berani menatap appa karena aku tak pernah mengatakan hal ini sebelumnya. Sedikit memalukan tapi aku tak tahu hal apa lagi yang bisa kulakukan agar kerinduan appa terobati.

“Kau mau berkencan dengan pria tua?” Aku mendongak saat mendengar pertanyaan appa. Matanya terlihat bahagia ditambah dengan senyuman appa yang kusukai. Aku mengangguk lalu memeluk appa. Pria yang sangat kusayangi.

“Kalau begitu aku siap-siap dulu, appa.” Ucapku. Appa menahan tanganku saat aku akan pergi.

“Kau istirahat dulu. Tidak usah sekarang. Kau pasti lelah.” Aku menghela nafas mendengar ucapan appa.

“Appa, aku tidak lelah. Saat di penjara aku tidak melakukan kegiatan yang yang terlalu berat. Appa tak usah khawatir. Appa ganti pakaian.” Ucapku lalu pergi.

Aku bersiap-siap secepat yang kubisa. Setelah selesai aku turun keruang tengah dan melihat appa sudah menungguku. Appa melihatku dengan penuh senyuman. Kuhampiri appa dan memeluknya dengan erat.

“Kau mirip sekali dengan umma.” Ucap appa lalu mengecup puncak kepalaku lembut. Aku mendongakan kepala.

“Aku juga mirip appa.” Ucapku. Aku sedikit tidak suka jika appa mengatakan jika aku hanya mirip umma. Appa tertawa sambil mengelus rambutku setelah mendengar ucapanku.

“Baiklah kau mirip kami berdua.” Aku mengangguk puas. Mungkin terdengar seperti anak kecil tapi aku tidak peduli. Toh aku akan tetap menjadi putri kecilnya walaupun aku sudah dewasa.

Aku dan appa pergi ke tempat dulu dan appa sering kunjungi bersama umma. Saat mereka berkencan. Aku sangat antusias saat appa menceritakan masa-masa appa dan umma masih berpacaran. Sangat romantis dan aku menyukainya. Appa sangat mencintai umma, begitupun dengan umma.

Sebenarnya acara kencanku dengan appa belum selesai tapi karena hujan lebat jadi kami berteduh di sebuah café. Tak terasa sudah lebih dari 3 jam aku pergi dengan appa. Saat akan berbicara seorang pelayan datang dan memberikan menu pada kami. Aku melihat-lihat dan memesan ice cream yang menarik perhatianku. Selesai memesan aku melihat appa terdiam.

“Ada apa, appa? Ada yang salah?” Tanyaku. Appa menggelengkan kepalanya.

“Tidak, hanya saja pesananmu sama seperti umma dulu.” Ucap appa. Appa mengatakan jika umma dan appa pernah berteduh juga di café ini saat hujan lebat dan pesanan pertama yang umma pesan sama persis dengan pesananku tadi.

Aku tersenyum senang mendengarnya. Ternyata seleraku dengan umma sama. Sambil menunggu pesanan dan hujan reda aku meminta appa menceritakan tentang mereka dan umma dimasa mudanya.

 

JAEJOONG POV

Aku menceritakan semua tentang istriku pada Hee Young. Ia terlihat sangat antusias mendengar ceritaku tentang umma-nya. Sifatnya masih seperti putri kecilku yang dulu. Aku senang ia masih mau bermanja-manjaan denganku yang sudah tua ini. Ternyata walaupun Hee Young sudah dewasa ia tak malu bersikap manja padaku di depan umum. Biasanya anak seumurannya tak pernah melakukannya di depan umum.

Hee Young tak menanyakan tentang Yuchun sejak ia keluar tadi pagi. Aku sedikit bingung karenanya tapi enggan untuk bertanya. Aku masih menyimpan rahasiaku pada Hee Young jika aku tahu hubungannya dengan pemuda itu juga tentang Yuchun yang kusuruh untuk pergi dari Korea.

Aku tersadar dari lamunanku saat Hee Young menepuk tanganku. Ia kini mengajakku pergi ke universitas yang ia sukai. Universitas Korea. Hee Young mengatakan jika ia ingin masuk ke universitas itu.

Sampai di Universitas Korea, kulihat Hee Young senang dan berkeliling dengan penuh semangat. Aku mengikutinya dari belakang. Aku menyadari sesuatu setelah beberapa menit. Para mahasiswa menatap Hee Young dengan tatapan aneh. Sepertinya mereka tahu siapa Hee Young. Kenapa aku yakin? Karena sewaktu Hee Young menjalani persidangan, kasusnya dimuat di surat kabar. Dan itu sangat memungkinkan semua orang tahu siapa Hee Young. Mereka pasti akan menjulukinya pembunuh dan mantan narapidana.

Aku menghampiri Hee Young dengan langkah cepat. Kugenggam erat tangannya. Hee Young kaget dan menatapku bingung.

“Jangan universitas ini.” Ucapku tegas.

“Wae?” Tanyanya dengan wajah kecewa. Aku menatap sekeliling dan sepertinya Hee Young tahu akan kecemasanku. Ia tersenyum sinis pada mahasiswa yang menatapnya lalu tersenyum lembut padaku.

“Aku tak peduli dengan tatapan itu, appa. Hidup di dalam penjara lebih kejam dibandingkan disini.” Ucapnya tanpa takut. Ia mengelus dadaku agar tidak cemas tapi tetap saja sebagai appa yang melihat putrinya di tatap seperti itu hatiku sakit dan cemas.

Hee Young melepaskan genggaman tanganku dan kembali berkeliling. Tak lama kulihat seorang pemuda menghampirinya dan tersenyum ramah. Aku menghampirinya karena takut Hee Young disakiti. Pemuda itu menyapaku saat aku datang.

“Mahasiswa baru atau ..?” Tanya Pemuda itu dambil menatapku dan Hee Young bergantian.

“Putriku masih melihat-lihat. Belum menjadi mahasiswi disini. Kau siapa?” Jawabku. Hee Young menyikut lenganku karena pertanyaanku yang tiba-tiba.

“Ah maafkan saya tidak sopan tiba-tiba menyapa putri anda. Saya Kim Junsu, Ketua Senat Mahasiswa disini. Mau saya antar berkeliling?” Tawarnya. Hee Young terlihat antusias lalu mengiyakan ajakan pemuda asing itu.

Aku hanya mengawasi mereka dari belakang. Jujur aku menjadi lebih waspada dengan orang yang mendekati Hee Young sejak kejadian tadi, orang-orang menatapnya aneh. Aku tak mau putriku disakiti. Kulihat pemuda itu berbicara dengan seorang wanita lalu Hee Young mengikuti wanita itu masuk ke dalam ruangan yang kulihat dari jendela sepertinya ruang seni musik. Aku mendekati pemuda itu sementara Hee Young sibuk di dalam.

“Kau tahu siapa putriku kan?” Tanyaku tiba-tiba yang embuat pemuda itu kaget.

“Ya.” Jawabnya.

“Apa yang kau inginkan? Mendekati putriku secara tiba-tiba seperti itu.” Ucapku tegas. Pemuda bernama Junsu itu terlihat bingung lalu tak lama tersenyum.

“Saya tidak menginginkan apa-apa. Saya menyapa putri anda karena mengira mahasiswa baru yang tersesat. Jujur saya baru sadar siapa putri anda setelah berbicara beberapa menit tadi. Saya tahu kecemasan anda.” Ucap pemuda itu sambil tersenyum seolah benar-benar tahu kecemasanku.

“Pasti hati anda lebih sakit dibanding putri anda karena ditatap seperti itu oleh mahasiswa disini. Saya pribadi tidak memandang putri anda sebagai pembunuh ataupun mantan narapidana. Dari surat kabar yang saya baca dulu, putri anda mengatakan jika hal itu dilakukannya untuk melindungi diri dari orang yang berencana membunuhnya.” Ucap pemuda itu lagi. Tak lama temannya memanggilnya dari dalam. Kulihat Hee Young pun masih ada disana. Pemuda itu melambaikan tangan. Sebelum masuk Junsu berbalik dan mengatakan hal yang membuatku terdiam sesaat.

“Itu hanyalah masalalu putri anda. Tidak usah mempedulikan tatapan aneh orang sekeliling anda karena mereka orang yang berpikiran sempit. Yang perlu anda lakukan sekarang hanyalah memberinya semangat serta dukungan karena putri anda akan mulai menata masa depannya. saya permisi masuk dulu.” Junsu pergi menghampiri temannya yang mengobrol dengan putriku.

Semua ucapannya terngiang dikepalaku dan membuatku gemetar. Ucapan seorang pemuda yang membuatku sadar jika yang perlu kulakukan sekarang hanyalah memberinya dukungan dan semangat.  Bukan cemas dengan hal yang tidak penting sama sekali.

 

AUTHOR POV

Jaejoong masuk ke dalam ruangan itu dan melihat ruangan yang penuh dengan peralatan musik. Ia melihat Hee Young tersenyum dan tertawa saat berbicara dengan mahasiswa disana. Hee Young menoleh saat Jaejoong mengelus rambutnya.

“Ada yang kau sukai?” Tanya Jaejoong. Hee Young mengangguk.

“Sepertinya seni musik menyenangkan. Aku akan memilih seni musik.” Ucap Hee Young sambil menatap Jaejoong penuh harapan. Jaejoong menghela nafas dan mengangguk. Setelah itu ia langsung mendapatkan pelukan dari Hee Young di depan para mahasiswa tanpa malu sedikitpun. Para mahasiswa disana Jaejoong lihat hanya tersenyum.

Hee Young melepaskan pelukannya dan mulai bertanya pada para mahasiswa yang ada disana tentang bagaimana perkuliahan seni musik. Ia mendengar jawaban mereka dengan semangat. Dari semua jurusan yang ada di Universitas Korea, Hee Young langsung tertarik dengan seni musik.

“Maaf menganggu kesenanganmu. Aku hanya ingin mengatakan jika kau sudah mantap dengan jurusan seni musik dan sudah siap tes. Kau bisa ikut tes harian yang diadakan universitas.” Ucap Junsu. Hee Young menatap Junsu dan mengangguk berterima kasih atas info namja itu.

Sudah puas dengan semuanya Hee Young berpamitan pada semua mahasiswa disana yang nantinya akan menjadi seniornya. Semuanya sangat ramah padanya dan itu yang semakin membuat Hee Young yakin akan masuk seni musik.

Hee Young dan Jaejoong pergi dari ruang seni musik menuju tempat pendaftaran. Hee Young tak sabar untuk mulai kuliah di Universitas Korea.

—-

Yuchun bangun dari tempat tidur dan mencium foto Hee Young yang sempat ia ambil diam-diam. Ia menyapa yeoja itu seolah ada di hadapannya. Setelah itu ia bersiap-siap untuk memulai aktifitasnya.

Selesai bersiap-siap Yuchun langsung pergi kuliah. Ya Yuchun berada di Paris untuk kuliah. Jaejoong yang membiayai kuliahnya dan menyuruh Yuchun untuk kuliah. Itu ia ketahui saat sampai di Paris, Jaejoong meneleponnya dan menyuruhnya untuk kuliah. Jaejoong tak memberitahu Yuchun apa alasannya. Tapi Yuchun berasumsi kalau Jaejoong ingin membuatnya lebih baik dan pantas untuk mendampingi Hee Young. Ia berasumsi seperti itu karena selama di Paris ia tak pernah diperlakukan buruk dan semua fasilitas terpenuhi.

Hanya satu yang membuat Yuchun menderita yaitu tidak boleh menghubungi Hee Young selama ia di Paris. Hal itu yang sampai saat ini masih belum bisa Yuchun terima. Ia sangat menderita karenanya.

Tapi tanpa Yuchun sadari karena larangan itulah Yuchun menjadi giat belajar dan melakukan aktifitas yang bisa membuat kuliahnya cepat selesai. Walaupun sulit karena kini ia bekerja paruh waktu tapi Yuchun tak pernah mengeluh. Tujuannya hanya satu, menyelesaikan kuliah lalu bekerja sehingga bisa menemui Hee Young lagi.

Sampai di kampus Yuchun kuliah dan menemui beberapa temannya. Di kampus Yuchun hanya mempunyai beberapa teman orang Perancis asli. Mereka yang pertama kali memperkenalkan segala hal tentang perkuliahan dan kota Paris.

Yuchun melangkah bersama temannya ke dalam kelas. Yuchun sadar kalau ia di tatap oleh para wanita disana. Ia menatap dirinya sendiri takut kalau ada hal yang aneh dari dirinya.

“Hei, Kenapa mereka menatapku seperti itu? Ini perasaanku saja atau aku yang terlalu percaya diri?” Tanya Yuchun pada temannya. Temannya tertawa pelan dengan pertanyaan yang Yuchun ajukan.

“Kau tidak tahu kalau kau cukup terkenal di kampus? Kau banyak di puja oleh wanita-wanita di kampus.” Jawab salah seorang teman Yuchun bernama Frank.

“Kau no.2 tentunya dan aku tetap pria no.1 yang paling di puja di kampus.” Tambah Frank dengan percaya diri. Yuchun hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Frank.

Setelah segala kegiatan kampus yang melelahkan akhirnya Yuchun selesai kuliah. Semua temannya mengajak Yuchun pergi ke club tapi Yuchun menolak dengan alasan harus bekerja paruh waktu. Alasannya tidak digubris oleh teman-temannya karena mereka tahu jadwal Yuchun bekerja. Mereka tetap memaksa Yuchun untuk bersenang-senang.

Yuchun akhirnya menuruti teman-temannya dan malam itu ia pergi ke club. Yuchun cukup menikmati suasana club tapi ia hanya duduk dan minum tanpa pergi ke lantai dansa. Ia tersenyum melihat teman-temannya berdansa dengan gila-gilaan.

Salah seorang teman Yuchun datang dan mengambil minuman Yuchun dan meminumnya. Pria itu menarik tangan Yuchun dan mengatakan jika mereka sudah memesan tempat VIP. Yuchun menurut dan mengikuti semua temannya dari belakang. Sampai di ruang VIP Yuchun duduk tapi tak lama ia di kejutkan oleh wanita-wanita yang tiba-tiba datang. Mereka memakai pakaian super mini. Salah seorang dari mereka duduk di sebelah Yuchun dan menemani Yuchun minum.

Yuchun melihat teman-temannya asik bermesraan dengan para wanita itu. Wanita yang menemaninya pun sejak tadi berusaha menarik perhatiannya agar ia melakukan hal yang sama seperti teman-temannya. Yuchun menghela nafas berat dan berusaha tersenyum pada wanita disebelahnya.

Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada Yuchun dan mengelus dada bidangnya. Yuchun risih dengan perlakukan wanita itu tapi ia tak bisa melakukan apa-apa karena teman-temannya pasti akan melakukan hal gila padanya jika melihatnya menolak wanita seksi di sampingnya. Hal itu pernah ia alami saat pertama kali mengenal mereka semua dan ia tak mau mengalami hal gila itu lagi.

Satu hal yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah memegang tangan wanita itu yang sejak tadi mengelus dadanya.

“Geli.” Ucap Yuchun beralasan. Wanita itu tersenyum. Yuchun melihat mata wanita itu dan sedikit kasihan karena mata wanita itu terlihat kelelahan.

“Yuchun, aku keruang sebelah sebentar.” Ucap teman Yuchun. Yuchun melihat temannya itu sibuk dengan wanita yang menemaninya. Pakaian pria itu ia lihat sudah berantakan.

“Ya.” Jawab Yuchun. Tak lama temannya yang lain pun keluar dan mengatakan hal yang sama. Mereka semua sibuk dengan wanita yang menemani mereka.

“Kau tak mau melakukan itu?” Tanya wanita disampingnya. Yuchun mengerti arah pertanyaan wanita itu dan menawabnya dengan gelengan kepala.

“Maaf tapi aku hanya akan melakukannya dengan wanita yang kucintai.” Jawab Yuchun.

“Tidak bisakah kita melakukannya sekali saja?” Pinta wanita itu dengan nada cemas kali ini. Yuchun sempat bingung namun tak lama ia mengerti. Ia mengeluarkan dompet dari sakunya dan memberikan wanita itu uang. Wanita itu menatap Yuchun bingung.

“Untukmu. Kau bisa mengatakan pada bosmu jika kau sukses melakukannya denganku malam ini. Tidak apa-apa kan kita berbohong demi kebaikan? Toh disini sekarang tidak ada siapa-siapa. Ada sedikit waktu sebaiknya kau tidur sekarang sebelum mereka semua kembali.” Ucap Yuchun sambil tersenyum ramah.

“Kenapa kau baik sekali? Aku tak pernah menemui pelanggan sepertimu. Mereka semua pasti ingin berakhir di tempat tidur denganku.” Ucap wanita itu.

“Yang jelas aku bukan seperti pelangganmu yang lain. Kau tidurlah, matamu terlihat lelah. Yang lain mungkin bisa kau kelabuhi dengan make up tapi aku tidak.” Ucap Yuchun. Wanita itu hanya tersenyum lalu mulai berbaring untuk istirahat sejenak.

Yuchun menghela nafas panjang lalu memejamkan matanya. Tak lama ia mendengar suara wanita itu. Yuchun lihat wanita itu mengigau dan tangannya dilipat seperti kedinginan. Ia berusaha mencari remote AC tapi tak menemukannya jadi Yuchun melepaskan jaketnya dan memberikannya pada wanita itu sebagai pengganti selimut.

***

Junsu berbaring diatas tempat tidurnya dengan senyum menghiasi wajahnya. Sejak pertemuannya dengan yeoja bernama Hee Young, Junsu tidak bisa melupakan wajah yeoja itu. terutama senyuman Hee Young yang menurutnya sangat manis. Keceriaan Hee Young membuat Junsu jatuh hati.

Beruntung Junsu karena kini mereka satu kampus bahkan satu fakultas. Ia jadi bisa melihat Hee Young sesering mungkin. Junsu sangat senang apa lagi jika Hee Young meminta bantuannya atau menanyakan hal tentang perkuliahan. Junsu bertekad untuk mendekati Hee Young secara perlahan dan mendapatkan hati yeoja itu.

Dikampus terkadang Junsu sangat kesal dengan mahasiswa yang menatap Hee Young dengan tatapan aneh. Ia sering memberi peringatan pada mahasiswa yang menatap Hee Young seperti itu dan itu cukup berhasil. Kini semakin sedikit mahasiswa yang menatap Hee Young dengan tatapan seperti itu.

Teringat harus membeli sesuatu untuk keperluan besok di kampus, Junsu bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil jaket serta kunci mobil lalu pergi keluar. Saat membeli keperluan kampus besok Junsu tak sengaja bertemu dengan Hee Young. Yeoja itu tengah duduk seorang diri di café. Wajahnya tampak sedih membuat Junsu ingin menghibur Hee Young agar yeoja itu kembali ceria seperti biasa yang ia lihat di kampus.

Junsu menghampiri café itu dan memesan ice cream dan duduk sedikit jauh dari tempat Hee Young. Ia akan menghampiri Hee Young jika pesanannya datang. Junsu terus menatap Hee Young yang masih memasang wajah sedih. Tak lama pesanannya datang dan Junsu pun menghampiri Hee Young.

“Boleh aku duduk di sini?” Tanya Junsu yang membuat Hee Young kaget.

“Ah tentu, Sunbae. Silahkan duduk.” Jawab Hee Young.

“Gumawo.” Junsu pun duduk dan memberikan ice cream yang ia pesan pada Hee Young. yeoja itu menatapnya bingung.

“Makan ice cream mungkin akan membuatmu lebih ceria. Tadi aku lihat kau seperti sedang sedih.” Ucap Junsu. Hee Young terlihat kikuk saat mendengar ucapan Junsu.

“Makanlah.” Ucap Junsu lagi. Hee Young hanya mengangguk lalu memakan ice cream itu.

“Itu ice cream kesukaanku. Kalau aku sedang kesal biasanya aku memakan ice cream kombinasi seperti itu.” Hee Young tersenyum mendengar ucapan Junsu.

“Gumawo. Ini enak.” Ucap Hee Young singkat. Junsu tersenyum senang.

“Bagaimana harimu di kampus? Apa masih ada kesulitan? Kalau ada kau tinggal katakan padaku. Aku akan berusaha membantu sebisaku.” Ucap Junsu.

“Baik-baik saja. Sampai hari ini tidak ada kesulitan berarti. Gumawo.” Hee Young semakin tidak enak menerima kebaikan Junsu. Sejak pertama kali masuk kuliah Hee Young merasakan kalau Junsu sangat perhatian dan baik padanya.

Keduanya sempat terdiam beberapa menit hingga akhirnya Hee Young membuka suara.

“Sunbae, sebaiknya sunbae tidak melakukanku seperti ini. Aku tidak enak dengan yang lain.” Ucap Hee Young akhirnya mampu mengatakan hal yang mengganjal hatinya selama ini.

“Memang beberapa kali aku yang mendekati sunbae untuk meminta bantuan tentang matakuliah yang tidak kumengerti. Tapi sepertinya perhatian sunbae sudah berlebihan. Maaf.” Hee Young menundukkan kepalanya.

Junsu sedikit kecewa dengan ucapan Hee Young. Yeoja itu sepertinya terganggu dengan perhatian yang ia berikan. Junsu berpikir jika hal seperti ini terus berlanjut mungkin usahanya untuk mendekati Hee Young dan mendapatkan hati yeoja itu kana gagal. Ia memikirkan cara agar Hee Young tak lagi berpikir seperti itu.

“Maksudmu tidak enak dengan yang lain apa? Apa ada yang tidak suka? Ada yang mengancammu?” Tanya Junsu setelah berpikir beberapa menit.

“Mmmm itu. Sepertinya setiap kali aku dan sunbae tengah berdiskusi di kampus ada beberapa wanita yang menatapku tidak suka. Selain itu di beberapa kelas semua wanita menjauhiku.” Jawab Hee Young jujur. Ia ingin menjalani kuliah dengan damai, maka dari itu ia nekat mengatakan hal itu pada Junsu.

Junsu terdiam, ia tak tahu jika ada orang yang tidak suka melihat mereka berdua. Ia menatap Hee Young yang masih menunduk.

‘Aku harus tahu siapa yang tidak suka melihatku mendekati Hee Young.’ Batin Junsu.

Di lain sisi Jaejoong kaget melihat Hee Young duduk berdua di sebuah café dengan Junsu. Ia kini tengah bersama kliennya. Saat berjalan tadi ia tak sengaja melihat Hee Young ada di café di seberang jalan dimana ia berdiri sekarang.

“Mereka berdua berkencan?” Gumam Jaejoong. Wajahnya tampak takut dan khawatir.

“Bagaimana bisa?” Gumamnya lagi. Kini raut wajah Jaejoong semakin terlihat khawatir.

Tak lama Jaejoong sadar setelah sekertarisnya menepuk pundaknya dan memberi sinyal jika klien menunggunya. Jaejoong langsung meminta maaf dan kembali berjalan dengan kliennya memasuki gedung.

TBC

8 thoughts on “Love(s) a Guardian Angel Part 9

  1. d berkata:

    Mmm plang dri asrama kngen udh lma g bca ff ,aku pembaca baru d sni ,aku ngebut baca dri part1sampe 9..seru tapi knapa jdi ada junsu …heu …..mna ychunnya

  2. aduh itu jaejoong sebenernya punya rencana apa sih -_-
    ngirim anak orang ke paris biar g ngehubungin anaknya
    nah sekarang anaknya deket ama laki2 lain heboh juga.
    sebenernya maunya apa sih -__-
    hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s