Love Sick Chap 9


Tittle : Love Sick
Genre : AU/ Angst, Family, Romance, Supernatural.
Rating : back to NC/17
Lenght : 9 of ??
Main Cast : Park Yoochun, Kim Jaejoong, Park Yoon Rie & Park So Jin (Girls day)
Other Cast : Jung Yunho as Jaejoong’s brother, Kim Junsu, Seo Ji Eun, Shim Changmin, Kim Jun Mi, Shim Min Ah, Han Mina, and others
Author : Satsukisorayuki
Disclaimer : The fanfic is mine (Plot is my own). Inspirasi author dapat dari lagu-lagu, dan realita kehidupan manusia.
A/n : Fanfic ini menceritakan tentang perjalanan hidup manusia sekaligus cerita fiktif yang muncul dari otak sendiri yang author karang sedemikian rupa. Fanfic yang berisi tentang cinta, harapan, kasih sayang dan perjuangan hidup.


.

A/n : Hello, Satsukisorayuki comeback!! Adakah yang masih ingat dengan saya? Atau mungkin kangen sama saya */plak? Mianhae karena saya baru bisa muncul lagi! Untuk fanfiction yang judulnya “Wanna Love You but I can’t…” dan “Yume Sekai!” saya mohon maaf karena saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya untuk sementara waktu, karena kedua ff ini genrenya lebih rumit. Jadi mungkin kedua ff tersebut akan saya lanjutkan jika kedua ff yang lainnya sudah Ending.

Changmin : Satsuki-chan, kemana saja kau?
Me : Hehehe, aku sibuk oppa!
Junsu : Jadi Suki-chan mau mendahulukan ff yang “Love Sick” and “Kimi no shiranai Monogatari” dulu?
Me : Yup. Dan mungkin ntar aku mau bikin ff baru yang main castnya Yunho oppa.
Yunho : Benar juga, kau belum pernah membuat ff yang main castnya aku.
Me : Kalau ada inspirasi pasti aku bikinin kok, oppa tenang aja.
Yoochun : Yeay. Akhirnya ff ini yang lebih dulu di update, keundae Satsuki-chan… akunya jangan dimatiin ya?!
Me : Itu sih terserah readers, oppa. Aku mau minta pendapat mereka, ini ff maunya happy ending atau sad ending?
Jaejoong : Aku berani bertaruh readers-mu pasti udah pada kabur karena Suki-chan sudah menghilang selama bertahun-tahun.
Junsu : Ne, atau mungkin mereka semua sudah pada lupa dengan fanfic-fanfic yang kau buat termasuk ff ini, Suki-chan!
Me : Yeah, kalian benar oppa! Bisa jadi mereka bahkan sudah lupa denganku.
Changmin : Bisa jadi!

Semuanya, apa kabar? Ada yang masih ingat dengan ff ini? Kalau yang minat dengan ff ini, silakan baca lagi chapter-chapter sebelumnya! Nah, jika ada readers yang kebetulan mampir kesini dan suka mengikuti ff-ku ini, kalau udah Read and Comment, tolong cantumin jawaban kalian, okay! FF ini pengennya Happy End or Sad End?
Aku udah lama ga nulis FF lagi. Jadi kalau misalkan lanjutan ff ini jadi ga nyambung dengan chapter-chapter sebelumnya dan ada yang berubah dengan gaya penulisanku, mohon dimaklumi. Okay, nggak usah banyak bacot lagi. Happy Reading?! ^^

.
Chapter 9
.

‘Dalam kesendirianku… bayangan dirimu masih selalu datang menghampiri… memelukku dan menguatkanku.’—Park Yoochun—
.
.

=>Yoochun’s POV

Egoiskah aku jika aku berharap aku masih bisa hidup lebih lama lagi?
Aku ingin hidup lebih lama karena aku masih ingin bersama orang-orang yang aku sayangi. Aku tidak bermaksud untuk menghindari takdir, tetapi jika semua yang aku lakukan dapat mengirimkan bahkan hanya sedikit kepingan dari cinta, kebaikan, dan juga harapan bagi orang lain, maka aku akan mati dengan tenang. Indah hatinya, indah cintanya mampu menyadarkan diriku, walau tak ada cinta di dunia, aku akan selalu disisinya, dihatinya… selamanya. Yoon Ri-ya, bagiku kau adalah happy endingku.

Yoon Ri-ya. I love you so much. When I look sad, you always come to me and cheer me up, and when I’m happy, move close to me and enjoy it with me. I know I can’t be like them, I don’t have what they have… but at least , I have a heart that loves you sincerely. I love it when you don’t treat me like others, because it makes me feel special.
.

_Flashback_

“Oppa, mau lomba lari denganku?” ajak Yoon Ri dengan senyuman riang di wajahnya.

“Umm? I guess, I can’t do that!” Yoochun tersenyum kecil. Tentu ia ingin sekali bisa berlari dengan Yoon Ri disampingnya, itu pasti akan sangat menyenangkan…tetapi ia mungkin akan collapsed setelahnya. Detik itu juga wajahnya berubah murung.

Yoon Ri terlihat marah. Ia pun cemberut. Yoochun pikir ucapannya barusan membuat gadis itu tersinggung karena ia menolak ajakannya.Tak disangka itu hanya dugaannya saja.

“Kalau bicara denganku jangan pakai bahasa planet dong!!” komentar Yoon Ri. Seketika kesedihan dihatinya seakan menguap ke udara dan tergantikan oleh tawa.

“Hahaha. Yoon Ri-ya, itu namanya Bahasa Inggris!”

“Oppa, kau tertawa? Aku senang bisa mendengarmu tertawa lagi!”

“EH?”

“Padahal aku tidak serius mengajakmu lomba lari. Aku hanya ingin kau berbicara denganku lagi. Ada apa denganmu oppa? Sejak minggu kemarin kau tidak banyak bicara! Apa ada sesuatu yang menganggumu?”

“Yoon Ri-ya, aku mungkin sudah tidak memiliki banyak waktu yang tersisa. Aku…” Yoochun tidak bisa melanjutkan ucapannya karena detik itu juga hatinya terasa sesak dan rasanya ia ingin menangis.

“Oppa?”

“I’m sorry. Aku hanya berpikir betapa aku akan sangat merindukanmu.”

“Wae?”

“Waktu akan terus bergulir dan tidak akan pernah bisa berputar kembali. Seiring berjalannya waktu, aku merasa jarak diantara kita semakin besar dan aku sadar aku tidak akan bisa meraih tanganmu lagi.”

“Oppa, apakah Appa mengatakan sesuatu yang buruk saat kau melakukan check up minggu lalu? Kenapa kau terlihat begitu sedih? Aku bahkan bisa melihat ketakukan dari bola matamu?”

“Appa bilang jantungku semakin melemah setiap harinya.”

“Mwo?”

“Aku takut!”

Yoon Ri sangat terkejut mendengar pengakuan Yoochun barusan. Sesungguhnya ia ingin sekali menangis, tetapi ia sadar bahwa menangis di depan Yoochun hanya akan memperburuk keadaan. Ia pun memasang topengnya. Berpura-pura tegar dengan wajah tersenyum.

“Oppa, itu tidak mungkin! Kau bahkan baru berusia 16 tahun. Bukankah vonis Appa jatuh pada usiamu yang ke-20?”

“Itu dulu, Yoon Ri-ya. Kenyataannya kondisiku memburuk seiring berjalannya waktu.”

“Aku percaya oppa akan sembuh!! Jangan terus memikirkan soal kematian! Lupakan kalau kau sakit! Dan kita akan bersenang-senang bersama!” seru Yoon Ri dengan penuh semangat.

Melihat ekspresi Yoon Ri yang riang, Yoochun merasa tertular. Rasa takutnya lenyap saat itu juga dan ia tersenyum. Senyuman yang sukses membuat Yoon Ri memalingkan wajahnya yang sudah dihiasi semburat merah.

“Yeah. Aku tidak kalah sehat darimu!”

“Tentu. Kau jauh lebih kuat dari yang kau kira, oppa!!” kata Yoon Ri yang langsung melompat ke punggung Yoochun.

“Hey! Don’t hug me like that!”

“Kau bilang apa?”

“Kubilang jangan memelukku seperti itu! Tidak bisakah kau memelukku dari depan?”

“Ge-er banget sih, siapa yang ingin memelukmu?! Kau harus menggendongku sampai rumah!!”

“Hah? Are you kiding me? Jarak dari taman ini ke rumah kita itu sekitar 200 meter!”

“Memangna kenapa? Kau kan sehat, oppa! Ayo cepat jalan!!”

“Baiklah, adikku yang manja.” kata Yoochun menuruti keinginan Yoon Ri.

‘Mianhae, oppa. Aku berbohong. Di depanmu aku berpura-pura tegar padahal sesungguhnya aku ingin sekali berteriak dan menangis sekencang-kencangnya. Aku pura-pura semangat padahal sebenarnya rasa takut akan kehilanganmu jauh lebih besar dari rasa takutmu, oppa. Aku berharap kebohonganku saat ini adalah kebohongan yang indah. Kebohongan yang bisa membuatmu tidak kehilangan semangat hidup.’

“Yoochun-a, ternyata kau disini! Tadi aku mencarimu ke rumah, tapi tante bilang kau sedang pergi keluar bersama Yoon Ri!” kata seseorang yang tiba-tiba saja muncul didepannya dan menghalangi jalannya.

“Eun Ha-ya, untuk apa kau mencariku?”

“Aku ingin berbicara denganmu!”

“Yoon Ri-ya, mianhaeyo. Kau turun sebentar, ya?!” kata Yoochun seraya menurunkan Yoon Ri dari gendongannya.

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

“Yoochun-a, sebenarnya aku… aku sangat mencintaimu Yoochun-a! Maukah kau berkencan denganku?”

“Eun Ha-ya, jangan becanda!!”

“Aku tidak becanda, aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu… tapi aku baru berani mengungkapkannya sekarang! Maukah kau menjadi kekasihku?”

Yoochun tampak kaget setengah tak percaya. Eun Ha adalah adik dari salah seorang guru privatnya—Cha Eun Jeong— Kakaknya itu adalah guru Bahasa Inggris dan ia lulusan Oxford. Eun Ha juga adalah senior Changmin dan Yoon Ri.

Pertama kali Yoochun bertemu dengan Eun Ha adalah pada saat gadis itu datang ke rumahnya. Setahun yang lalu Eun Ha memaksa ikut ke rumah salah satu murid kakaknya karena ia merasa bosan. Akhirnya Yoochun dan Eun Ha berkenalan dan menjadi teman baik. Changmin juga pernah bercerita pada Yoochun, kalau Eun Ha adalah siswi yang paling populer di sekolahnya. Tidak hanya pintar, ia juga sangat cute. Setiap hari lokernya selalu penuh dengan bunga atau surat cinta. Menurut Yoochun rasanya aneh jika gadis seperti Eun Ha menyukainya.

Yoon Ri tidak bisa menahan emosinya lagi. Selama ini yeoja yang dekat dengan Yoochun hanya dirinya dan sekarang muncul gadis lain. Di sekolahnya Yoon Ri dan Changmin memang salah satu murid terpopuler. Setiap hari loker mereka tidak pernah kosong, selalu saja ada bunga, kado, atau surat cinta. Hanya saja Eun Ha berbeda, ia jauh lebih populer dan ia sangat populer dikalangan laki-laki. Yeoja yang cantik dan menarik. Ia benar-benar merasa cemburu.

“Aku tidak akan membiarkanmu berkencan dengan kakakku!!”

“Huh?”

“Kakakku adalah pria idaman para gadis. Ia tidak pantas berpacaran dengan gadis sepertimu.”

“Hey, Yoon Ri! Jaga bicaramu! Eun Ha itu lebih tua darimu!”

Eun Ha tertawa kecil. Ada apa dengan gadis ini sampai-sampai ia mengabaikan ucapan kakaknya dan tetap terpaku kepadanya dengan tatapan tak suka.

“Yoon Ri-ya, coba kau katakan? Bagianmana dari diriku yang tidak pantas untuknya?”

“Kamarnya tidak bau seperti laki-laki lain. Dan dia selalu begitu bersih setiap kali selesai mandi. Aku tidak akan menerima seorang yeoja sebagai pacar oppa, jika dia bukan pacar yang ideal untuknya. Tidak akan pernah! Diatas itu semua, aku mencintainya lebih dari kau mencintainya!”

“ITU TIDAK BENAR! Aku mengerti bahwa kau juga menyukai Yoochun. Jika aku adalah adiknya, aku juga akan menyukainya!! Tetapi cintaku untuk Yoochun tidak akan kalah darimu!”

“Apa? Kalian bahkan baru mengenal satu sama lain selama satu tahun!”

“Itu tidak ada hubungannya dengan rasa cintaku padanya!”

“Kau bahkan tidak tahu dimana letak tanda lahir kakakku! Dan kau juga tidak tahu bahwa kakakku sangat jelek saat bangun tidur! Kau juga tidak pernah tau sebau apa kentutnya!”

“Hey!!” protes Yoochun dengan wajah memerah. Ia benar-benar merasa malu.

“Huuh? Really? I never know that!”

“Hentikan kalian berdua! Kenapa kalian berkelahi? Lebih dari itu Yoon Ri-ya, kenapa kau membongkar rahasia oppa seenaknya?”

“DIA BAHKAN PERNAH MANDI DENGANKU SEBELUMNYA!!”

“Dia pernah berenang di kolam renang yang sama denganku sebelumnya!”

“Dengar! Dari dulu sampai sekarang, akulah satu-satunya orang yang selalu berada disisinya! Kau benar-benar bukan gadis yang baik untuk kakakku!!”

“Ada apa denganmu? Apa yang sebenarnya coba kau lakukan? Apapun yang kau katakan, kau tidak akan pernah bisa berkencan apalagi berpacaran dengannya. Kau adalah adik Yoochun! Kalian berdua adalah saudara kandung!”

“Tau apa kau? Aku bukan—”

“YOON RI, KEUMANHAE!!”

“Kenapa kau membelanya? Apa kau juga mencintainya, oppa?” teriak Yoon Ri yang langsung berlari sambil menangis.

“Eun Ha-ya, tolong maafkan adikku! Dia tidak bermaksud berbuat kasar padamu, dia hanya sedang bad mood!!”

“Yoochun-a, kau tidak perlu meminta maaf. Aku juga punya seorang adik. Aku mengerti betapa labilnya anak-anak seumuran mereka.”

“Kau mau memaafkannya, kan?”

“Tentu, dia hanya remaja labil! Usianya saja lebih muda dua tahun dari kita!”

“Gomawo.”

“Soal pertanyaanku tadi, apa jawabanmu Yoochun-a?”

“Mianhae, Eun Ha-ya! Aku mencintai gadis lain dan aku ingin kita tetap menjadi sahabat!”

“…tapi Yoochun-a, tidak bisakah kau mencoba untuk mencintaiku?”

“Kurasa tidak! Aku sudah mencintai gadis itu sejak lama. Dia adalah cinta pertamaku.”

“Kau yakin dia adalah cinta pertamamu… bukan cinta monyetmu?”

“Ya. Pertama dan terakhir.”

“Siapa gadis itu?”

“Lain kali saja kita bicarakan ini. Aku harus mencari adikku.” kata Yoochun yang langsung berlari seraya mencari-cari sosok Yoon Ri. Sosok yeoja yang ia cintai tetapi tidak akan pernah bisa ia cintai, sebab ia dan Yoon Ri adalah saudara kandung bagi kedua orang tua mereka.

Eun Ha terduduk di atas tanah. Ia benar-benar merasa sedih dan patah hati. Ternyata namja yang selama ini ia cintai mencintai gadis lain.

_Flashback End_
.

Sesungguhnya aku tidak akan menyesal jika memang waktuku habis sekarang, karena pada akhirnya aku sudah menemukan sebuah jawaban atas pertanyaanku. Aku dan Yoon Ri, kami berdua saling mencintai satu sama lain. Mencintainya namun tidak boleh mencintainya adalah satu-satunya hal yang membuatku berpikir ‘Lebih baik aku mati daripada melihatnya bersanding dengan orang lain. Menyayanginya hanya sebatas rasa sayang seorang kakak kepada adiknya adalah hal yang paling menyakitkan di dalam hidupku’. Namun jika memang aku memiliki satu pilihan lain, aku ingin hidup lebih lama lagi.

Aku ingin hidup untuk bisa terus melihat betapa cantiknya Yoon Ri saat ia tersenyum. Merasakan betapa bahagianya aku setiap kali ia merasa gembira. Melihatnya tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik. Mendengarkan segala keluh kesahnya ketika ia merasa kesal atau marah. Memeluk dan menghiburnya setiap kali ia merasa sedih. Memainkan piano untuknya saat ia tidak bisa tidur. Menangis dan tertawa bersamanya. Dan masih banyak lagi.

Aku kembali memperhatikan semanggi berdaun empat yang Jaejoong berikan kepadaku. Ketika aku berkata aku akan mempercayai keajaiban sambil tersenyum, aku benar-benar serius mengatakannya. Namun tetap saja semuanya kembali kepada Tuhan. Takdirku, akan kupasrahkan semuanya kepada-Nya.

>>>>>.<<<<

=>Yoon Rie’s POV

Aku berdiri di atap gedung sekolahku. Aku bisa melihat matahari yang mulai tenggelam dari atas sini. Seharusnya aku langsung pulang. Oppa mungkin sedang sendirian sekarang, tapi saat ini aku tidak bisa. Aku tidak bisa menemui oppa dengan perasaan seperti ini. Kali ini aku benar-benar tidak bisa memeluk dan menguatkannya.

“Yoon Ri-ya, apa yang sedang kau lakukan disini?”

Aku mendengar suara Changmin. Aku pun membalikkan badanku. Didepanku Changmin tampak terengah-engah. Dia pasti mencariku sejak tadi.

“Apa kau tahu sudah berapa lama aku berlari kesana-kemari hanya untuk mencarimu?”

“Mian.”

“Aish, apa hanya itu yang bisa kau katakan? Aku sangat mengkhawatirkanmu, tahu!”

“Apa yang kau khawatirkan? Aku tidak kesini untuk bunuh diri!”

“Ayo kita pulang!” ujarnya seraya menyeretku menuju pintu keluar.

“Sakit!” ujarku sambil menepis cengkraman tangannya dengan kasar.

“Pabo! Ada apa denganmu hari ini? Yoochun hyung pasti akan cemas melihatmu sekacau ini!”

“Itulah sebabnya aku tidak mau pulang!”

“Aish, jinjja!! Well, jika aku tidak bisa menyeretmu pulang! Akan aku suruh orang lain!” tegas Changmin yang langsung mengambil paksa tasku dan mengeluarkan ponselku dari sana.

“Yeoboseo, hyung! Bisakah kau kesini? Akan ku kirimkan alamatnya via email!”

“Kyaa, tiang listrik! Apa kau sudah gila? Kenapa kau menelpon oppaku?”

“Kau pikir aku tidak waras? Mana mungkin aku menelponnya!”

“Kalau begitu siapa yang kau hubungi barusan, hah?”

“Yeah, aku juga tak menyangka kau menyimpan nomor ponselnya!”

“Nomor ponsel siapa maksudmu?”

“Oh, aku mengerti. Sepertinya Yoochun hyung yang menyimpan nomornya di ponselmu.”

Aku benar-benar tidak mengerti, apa yang sebenarnya Changmin bicarakan. Masa bodoh. Pokoknya aku tidak mau pulang. Aku tak akan mempedulikan ocehan Changmin lagi.

Aku kembali pada posisiku semula. Berdiri sambil terus memperhatikan matahari yang akhirnya tenggelam seutuhnya. Senja pun berganti malam. Aku melirik ke arah Changmin. Bagus sekali, sekarang dia malah assik dengan dunianya sendiri dan mengacuhkanku. Serius membaca buku tebalnya. Aish, bagaimana bisa dia membaca buku di tempat seperti ini. Merasa pegal, aku pun memutuskan untuk duduk.

Aku jadi teringat apa yang Eomma dan Appa katakan saat aku dan Oppa ketangkap basah sedang bermesraan. Mereka sangat marah dan tampak begitu kecewa. Oppa juga jadi sedikit menjauh dariku. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang terbaik untuk kami semua? Aku sangat mencintai oppa dan aku ingin hubungan kami tetap seperti itu—sebagai sepasang kekasih— tapi aku juga tidak mau menjadi anak durhaka. Entah sudah berapa lama aku melamun sampai-sampai aku baru sadar kalau bintang-bintang mulai bermunculan di langit malam dan aku melihat ‘Cassiopeia’.

“Cassiopeia. Aku juga suka Cassiopeia.”

Aku mendengar suara seseorang. Tunggu, sepertinya aku pernah mendengar suara seperti ini sebelumnya. Siapa dia? Bagaimana dia tahu kalau saat ini aku tengah memperhatikan Cassiopeia.

“W juga berarti ‘Wish’. Pernahkah kau ‘make a wish’ pada saat muncul bintang jatuh?”

“…”

“Aku pernah melakukannya saat aku masih kecil.”

Penasaran aku pun segera menoleh ke samping kananku. Seseorang sudah duduk disampingku tanpa aku sadari. Pandangan matanya masih terpaku pada Cassiopeia.

“Jaejoong oppa?”

Jaejoong oppa menunjuk Changmin, “Dia bilang kau tidak mau pulang. Pulanglah, Yoochun sedang menunggumu!”

“Jadi yang Changmin hubungi tadi adalah oppa? Ya, Changmin! Bagaimana kau bisa tahu soal Jaejoong oppa?”

“Yoochun hyung pernah memperkenalkannya kepadaku. Baiklah, aku pulang duluan. Sampai jumpa!”

‘Dasar licik! Awas kau Changmin!’

“Yoon Ri-ya, Yoochun bilang… ia akan mempercayai keajaiban mulai dari sekarang. Aku yakin saat kau sampai di kamarnya, ia akan langsung tersenyum kepadamu. Senyuman dari hati, bukan senyuman yang dipaksakan. Kajja, kuantar kau ke rumah sakit!!” katanya sambil tersenyum.

Aku memperhatikan Jaejoong oppa dengan intens. Hari ini dia tampak berbeda. Ia sangat tampan dan terlihat fresh, padahal ketika pertama kali aku bertemu dengannya wajahnya tak kalah pucat dari Yoochun oppa.

“Oppa, kau mengubah style rambutmu?”

“Ne. Bagaimana, aku tampan bukan?”

“Hahaha, kau narsis sekali oppa! Ya, kuakui light brown cocok untukmu.”

“Ahaha, gomawo.”

“Kalau oppa tertawa seperti itu didepanku, So Jin eonni akan cemburu.”

“So Jin tidak akan cemburu. Kajja!”

“Oppa, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar… setidaknya sampai aku bisa bersemangat kembali.”

“Oke, kau mau pergi ke mana?”

“Kita ke Cafe milik Eun Ha eonni. Kupikir kopi bisa sedikit menghilangkan stres-ku.”

“Baiklah. Katakan dimana tempatnya?!”

Aku pun memberitahukan alamatnya kepada Jaejoong oppa. Satu tahun yang lalu Eun Ha eonni pindah ke daerah Gangnam karena pekerjaan ayahnya. Dan kudengar ayahnya memberikan Eun Ha eonni sebuah Cafe di tempat yang strategis empat bulan yang lalu, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-17. Aku penasaran apakah dia masih mencintai oppaku. Hari itu aku belum sempat meminta maaf kepadanya.

Aku memesan Hazelnut Latte dan French Toast, sedangkan Jaejoong oppa memesan Peppermint Latte dan Keylime Pie. Kubilang pada salah satu barista yang bertugas hari ini, aku ingin bertemu dengan Eun Ha eonni. Barista itu menanyakan namaku dan meminta kami untuk menunggu sebentar. Kami pun memilih tempat duduk terlebih dahulu dan beberapa menit kemudian seorang waitress mengantarkan pesanan kami.

“Oppa tidak memesan kopi?” tanyaku basa-basi.

“Aniyo. Hyung pasti akan memarahiku.”

“Wae? Dia tidak memperbolehkanmu mengkonsumsi caffein?”

“Ne.”

“Benar juga. Sepertinya oppa baru sembuh. Tentu saja kau tidak boleh makan dan minum sembarangan.”

“Yah, begitulah.”

“Apa tidak apa-apa, oppa menemaniku ke Gangnam?”

“Gwaenchanha.” Jawabnya yang kemudian mencicipi makanannya.

Aku pun meminum kopi yang aku pesan. Wah, tak ku sangka kopi di sini rasanya sangat enak. Pantas Cafe ini lumayan penuh. Aku sudah menghabiskan setengah cangkir kopiku saat orang yang sejak tadi aku tunggu akhirnya muncul dan menyapa kami.

“Rupanya kau Yoon Ri-ya, kupikir Yoon Ri siapa yang mencariku.”

“Yoon Ri-ya, aku akan pindah ke kursi sebelah sana sampai pembicaraan kalian selesai.” kata Jaejoong oppa. Aku pun tersenyum dan menganggukan kepala.

Jaejoong oppa sudah pindah ke tempat yang ia maksud, dan sekarang Eun Ha eonni sudah duduk di kursi yang ditempati Jaejoong oppa tadi. Satu tahun tidak bertemu, Eun Ha eonni semakin cantik. Rambutnya yang saat itu hanya sepanjang bahu, kini sudah bertambah panjang.

“Siapa namja tadi? Apa dia pacarmu?”

“Anieyo. Dia temannya Yoochun oppa.”

“Well, sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabar kalian? Dan apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

“Kabarku baik. Aku kesini untuk meminta maaf pada eonni. Mianhae tahun lalu aku tidak sempat meminta maaf. Eonni keburu pindah sedangkan aku sangat sibuk sejak saat itu.”

“Lupakan saja, itu sudah lama berlalu lagipula sejak awal aku sudah memaafkanmu.”

“Gomawo eonni.”

“Bagaimana kabar Yoochun? Sejak aku pindah, dia bahkan tidak pernah menghubungiku lagi. Aku penasaran, apakah dia marah padaku karena sebagai sahabatnya aku malah menyatakan cinta kepadanya?”

“Oh, tidak seperti itu eonni. Oppa sama sekali tidak marah.”

“Lalu kenapa dia tidak pernah menghubungiku lagi? Padahal dia sendiri yang bilang, kalau ia ingin kami tetap bersahabat… keundae apa seperti itu sikap seorang sahabat?!”

“Eonni, kau jangan salah paham. Oppa tidak seperti yang eonni pikirkan.”

“Dimana dia sekarang? Waktu itu dia bilang, ia mencintai yeoja lain. Aku yakin Yoochun sudah mengungkapkan perasaannya pada yeoja itu. Apa kau sudah pernah bertemu dengan yeoja itu? Mereka pasti bahagia!”

“Anieyo. Mereka tidak bahagia karena cinta itu.”

“Apa maksudmu? Tidak mungkin kalau mereka tidak bahagia!”

“Yeoja itu adalah yeoja yang tidak boleh dicintai oppa. Foolish. Feeling weak. Mereka mencintai orang yang salah. Love-sick!”

Hatiku benar-benar sakit setelah menceritakan hal itu pada Eun Ha eonni dan aku tidak bisa menahan tangisku lagi. Seharusnya aku tidak boleh menangis di depan Eun Ha eonni, tapi aku benar-benar tidak tahan lagi. Sampai kapan pun Eomma dan Appa tidak akan pernah merestui hubungan kami. Memikirkannya benar-benar membuat hatiku sesak. Aku mencintai oppa sejak dulu, tapi bagi mereka… selamanya kami berdua adalah kakak beradik. Meskipun kami tidak memiliki hubungan darah, mereka tidak akan pernah peduli…itulah kenyataannya.

“Hoksi… yeoja itu adalah kau? Jadi kalian incest? Aku tidak percaya ini!”

Eun Ha eonni terlihat shock. Dia seakan tidak percaya dengan opininya sendiri.

“Aku dan Yoochun oppa… sebenarnya kami bukan saudara kandung!”

“Mwo? Kalian bukan—“

“Yoochun oppa adalah anak angkat kedua orangtuaku. Aku mencintainya. Itulah sebabnya tahun lalu aku berkata kasar pada eonnni. Mianhae, saat itu aku sangat cemburu.”

“Kalian berdua sangat dekat. Kupikir kalian berdua adalah saudara kandung?”

“Bukan. Eonni, apa kau masih mencintai kakakku?”

Jawablah eonni! Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku akan melepas Yoochun oppa. Itulah kenapa aku sengaja datang kesini untuk menemuimu. Aku ingin memastikan apakah perasaanmu pada oppa masih sama? Jika kau masih mencintainya maka aku bisa merelakannya untukmu.

“Aku masih mencintainya.”

“Jeongmal? Meskipun seandainya oppaku sakit parah dan hidupnya tidak lama lagi, apakah kau akan tetap mencintainya?”

“Dia adalah cinta pertamaku. Dan bagiku dia juga adalah yang terakhir. Aku akan mencintainya apa adanya.”

“Kau serius eonni?” tanyaku dan aku melihat kesungguhan di matanya. Eun Ha eonni, dia berkata jujur.

“Tentu. Kau tahu pasti seberapa besar aku mencintainya. Bukankah aku sudah bilang, cintaku padanya tidak akan kalah dari cintamu padanya.”

“Kalau begitu tolong temui oppaku! Aku ingin kau selalu berada disisinya karena mulai sekarang aku akan tetap menjadi adiknya!”

“…tapi Yoon Ri, dia tidak mencintaiku!”

“Kau hanya perlu terus berusaha sampai ia bisa melupakanku dan mencintaimu, eonni!”

“Yoon Ri-ya, dia mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Dia mencintaimu sepenuh hatinya. Aku tidak mungkin bisa menggantikan posisimu di hatinya.”

“Kumohon eonni, aku hanya ingin oppaku bahagia.”

“…tapi bahagianya adalah kau, Yoon Ri-ya!”

“Jebal, berusahalah eonni! Kau tidak boleh bilang ‘tidak bisa’ sebelum mencobanya!”

“Baik. Aku akan mencobanya.”

“Gomawo eonni!” kataku yang langsung memeluknya.

Oppa aku percaya pada Eun Ha eonni. Kita tidak mungkin bisa bersama. Aku ingin kau bisa hidup bahagia bersama Eun Ha eonni. Dan mulai sekarang aku akan menjadi adik yang baik untukmu.

“Eonni, ada satu hal yang ingin aku katakan pada eonni.”

“Apa itu?”

Aku pun menceritakan semuanya pada Eun Ha eonni. Tentang siapa oppa sebenarnya, termasuk tentang penyakitnya. Eun Ha eonni sangat shock mendengarnya. Ini memalukkan. Ini bukan tempat yang tepat untuk menangis… tapi kami benar-benar tidak bisa menahan air mata kami.

‘Oppa-ya, Eun Ha eonni ternyata memang sangat mencintaimu.’
.
.

“Kenapa kalian sampai menangis seperti itu? Apakah kau menceritakan soal kondisi Yoochun pada yeoja itu?” tanya Jaejoong oppa saat kami dalam perjalanan menuju rumah sakit.

“Ya. Aku menceritakan semuanya.”

“Wae?”

“Orang tua kami tidak akan pernah merestui hubungan kami. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk melepasnya.”

“MWO?” Jaejoong oppa sangat kaget sampai ia mengerem mendadak.

“Yoon Ri, apa kau tidak sadar apa yang sudah kau lakukan? Kau akan menyakiti Yoochun!”

“Aku tahu tapi inilah yang terbaik untuk kami berdua, oppa. Dia adalah kakakku dan aku adalah adiknya.”

“Kau juga sudah menyakiti dirimu sendiri! Memangnya tidak ada cara lain selain mengorbankan perasaan kalian?”

“Tidak ada, oppa. Aku tidak ingin membohongi dan menyakiti Appa & Eomma lagi.”

“Lalu sebagai gantinya kau menyakiti dirimu sendiri dan juga Yoochun?”

“Aku akan tetap berada disisinya sebagai adiknya. Tidak terlalu sulit, bukan? Kami masih bisa berhubungan baik!”

“Pikirkan baik-baik! Berada disisinya sebagai adik dan sebagai yeoja yang ia cintai itu berbeda.”

“Aku tidak punya pilihan lain.”

Jaejoong oppa menghela nafas panjang. Ia pasti sudah lelah berdebat denganku. Terimakasih oppa, kau sudah mempedulikan kami. Kau benar-benar sahabat yang baik.

>>>>>.<<<<
.

=> Author POV

Yoon Ri sudah sampai di kamar Yoochun. Yoochun menyambut kedatangannya dengan senyuman. Yoochun merasa heran karena Yoon Ri tidak membalas senyumannya. Ia memperhatikan Yoon Ri dengan seksama. Mata Yoon Ri bengkak seperti habis menangis. Sweater hitam menutupi seragam sekolahnya.

“Yoon Ri-ya? Sepertinya itu sweater milik seorang namja? Punya siapa?”

“Jaejoong oppa, tadi dia yang mengantarkanku ke sini.”

“Oh ya? Lalu dimana dia sekarang?”

“Di kamar kakaknya. Dia bilang besok Yunho oppa sudah boleh pulang, jadi ia mau membantunya berkemas.”

“Oh, begitu rupanya. Lalu kenapa matamu bengkak? Wajahmu juga agak pucat? Apa kau sakit?”

“Anieyo. Ini karena aku habis menangis.”

“Wae? Kenapa kau menangis? Apa Jaejoong menyakitimu?”

“Dia orang yang baik, mana mungkin dia menyakitiku oppa.”

“Kalau begitu, kenapa kau menangis?”

“Oppa aku sudah memutuskan. Aku akan menuruti keinginan eomma dan appa mulai dari sekarang. Kita akhiri saja hubungan kita. Mulai sekarang aku adalah adikmu dan selamanya akan tetap menjadi adikmu.”

“Mwo? Yoon Ri-ya, kau tidak serius kan?”

“Mianhae oppa. Ini yang terbaik untuk kita berdua. Mulai sekarang aku akan tetap disisimu sebagai adikmu.”

Yoochun terdiam, ia memang ingin menuruti keinginan kedua orang tuanya sebagai balas budi. Namun ia tak menyangka Yoon Ri memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Ia pun tersenyum pahit.

“Ya, kau benar. Mungkin itu yang terbaik untuk kita.”

Yoon Ri tidak sanggup lagi melihat ekspresi Yoochun. Yoochun tampak terluka, kecewa, sekaligus sakit hati. Akhirnya ia pun berlari menuju taman dan menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba hujan turun dengan deras diiringi suara petir yang menyambar. Namun Yoon Ri tidak menghiraukannya. Ia biarkan tubuhnya basah. Ia tidak peduli biarpun tubuhnya mulai menggigil kedinginan.

Yoochun mencengkram dada kirinya yang terasa semakin sakit akibat menyetujui ucapan Yoonn Ri barusan. Sedih, kecewa, dan sakit hati, itu sudah pasti, tapi Yoon Ri… yeoja itu bahkan langsung meninggalkannya sambil menangis. Kesedihannya jadi semakin berlipat karena ia juga memikirkan perasaan Yoon Ri. Hal ini pasti juga sangat berat untuknya dan ia paling tidak bisa melihat Yoon Ri terluka. Nafasnya tersenggal-senggal. Wajahnya semakin pucat dan dipenuhi keringat dingin. Pandangan matanya mulai mengabur.

Yoochun menengok ke arah jendela yang sudah tertupi tirai. Ia bisa mendengar suara hujan diselingi suara petir. Saat itu yang ada dipikirannya hanya Yoon Ri. Ia yakin Yoon Ri pasti berlari ke taman belakang RS. Ia ingin sekali menyusul Yoon Ri dan memeluknya tetapi apa daya, tubuhnya terlalu lemah bahkan untuk sekedar duduk di ranjangnya. Ia pun meraih ponsel di atas meja dan menekan angka 4 yang merupakan panggilan cepat untuk nomor Changmin.

“Yeoboseo, hyung?”

“Haa… hhh… haa… eodiga?”

“Hyung, ada apa? Kenapa suaramu begitu?”

“Eodiga… neo?

“Aku sedang berada di rumah.”

“Ca-cari Yo-yoon Ri di-disekitar RS, ppalli!”

“…tapi kau kenapa, hyung?”

“Ppalli…” sesaat setelah Yoochun berkata demikian, pandangannya semakin buram dan ponselnyanya pun terjatuh ke lantai bersamaan dengan Yoochun yang tidak sadarkan diri.
.
.

“Yeoboseo? Hyung?”

Changmin heran karena tiba-tiba saja suara Yoochun tidak terdengar lagi dan sambungan telpon itu terputus. Ia yakin pasti telah terjadi sesuatu pada Yoochun. Ia pun segera menelpon Yoon Ri untuk memastikan apa yang terjadi. Tiba-tiba terdengar dering ponsel dari saku jacketnya yang tergeletak di atas sofa.

“Aish, tadi aku lupa mengembalikan ponsel Yoon Ri.”

Dengan panik ia pun segera mengambil ponsel Yoon Ri lalu menekan panggilan terakhir.

“Yeoboseo, Jaejoong hyung? Ini aku, Shim Changmin!”

“Ada apa?”

“Jigeum e hyung eodiga?”

“Di rumah sakit. Wae?”

“Tadi Yoochun hyung menelponku tapi tiba-tiba saja terputus. Ada yang aneh dengannya. Tolong segera cek keadaannya, hyung! Jebal!”

“Sebentar, bukankah Yoon Ri—“

“Yoon Ri sedang tidak ada di sana. Hyung justru menyuruhku untuk mencari Yoon Ri.”

“Arraseo. Aku akan segera memastikannya.”

“Gomawoyo, hyung.”

Setelah memutus sambungan telpon, Changmin pun lekas menyambar jacketnya dan bergegas pergi ke rumah sakit untuk mencari Yoon Ri. Ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah sakit, ia pun segera berlari ke arah taman belakang yang merupakan tempat favorit Yoon Ri.

“YOON RI!!” teriak Changmin menghampiri Yoon Ri yang sudah tergelatak tak sadarkan diri.

Changmin semakin panik. Ia langsung menggendong Yoon Ri menuju ke dalam dan berteriak-teriak sepanjang koridor, sampai akhirnya beberapa orang suster datang membantunya. Di ruang tunggu Changmin tidak bisa tenang. Tadi tubuh Yoon Ri benar-benar dingin. Entah sudah berapa lama gadis itu hujan-hujanan di taman.

>>>>>.<<<<

Tiga hari berlalu sejak Yoon Ri memutuskan hubungannya dengan Yoochun. Hari itu terakhir kali yang Yoon Ri ingat, ia menangis tanpa henti dibawah guyuran hujan. Setelah itu ia tidak tahu apa yang terjadi. Ketika ia terbangun keesokan harinya, ia sedang berada dalam perawatan medis. Saat itu kepalanya sangat sakit dan tubuhnya terasa begitu lemah, tetapi Changmin malah langsung memarahinya habis-habisan. Namja itu tak segan-segan mengatainya bodoh, gila, dan lain sebagainya.

Hari ini ia merasa jauh lebih baik. Ia ingin sekali menemui Yoochun tetapi entah kenapa ia merasa ragu. Setelah berpikir lama, akhirnya ia pun segera pergi menuju kamar Yoochun. Sesampainya di kamar Yoochun, ia merasa Yoochun bersikap aneh padanya. Yoochun tidak menyapanya dan mulai tidak mengacuhkannya.

“Oppa, mianhaeyo aku baru bisa menjengukmu.”

“Gwaenchanha. Changmin bilang kau sakit jadi untuk sementara kau tidak bisa menemuiku.”

“Ne, tapi sekarang aku sudah sehat.”

“Syukurlah!”

“Umm. Oppa sendiri, apa kabar?”

“Baik. Yoon Ri-ya, hari ini aku ingin sendirian. Bisakah kau pergi?”

“Wae?”

“…”

Yoon Ri heran karena Yoochun tidak menjawab pertanyaannya dan langsung memalingkan wajahnya. Yoon Ri menyentuh pipi Yoochun hingga mereka berdua kembali bertatapan satu sama lain. Sejak tadi Yoochun tak tersenyum sedikit pun. Dalam jarak sedekat ini, Yoon Ri bisa melihat Yoochun jauh lebih kurus, jauh lebih pucat, dengan lingkaran hitam yang jelas disekeliling matanya.

‘Ada apa dengan oppa? Hari ini oppa terlihat rapuh, satu-satunya hal yang menunjukkan bahwa ia masih berjuang hanya sinar matanya.’

Kini Yoochun memandang Yoon Ri dengan tatapan tajam.

“Pergilah!” ujarnya dingin. Dan ia kembali memalingkan wajahnya ke luar jendela.

“Oppa, apa kau marah karena aku memutuskan hubungan kita secara sepihak?”

Yoochun memejamkan mata dan bergumam pelan, “Tolong pergilah!”

“Aku mengerti.” kata Yoon Ri yang kemudian segera keluar.

Yoon Ri berjalan dengan gontai. Ini pertama kalinya Yoochun bersikap dingin kepadanya. Hatinya sakit dan air mata jatuh membasahi pipinya. Saat ia hendak pergi ke taman untuk menenangkan diri, ia berpapasan dengan ibunya.

“Eomma?”

“Yoon Ri, kenapa kau berkeliaran di sini? Ayo kembali ke kamarmu, kau harus istirahat!”

“Aniya. Aku sudah sembuh.”

“Apa yang kau katakan? Wajahmu saja masih pucat begitu! Kajja!” kata Ny.Eun Hye seraya menyeret Yoon Ri kembali ke kamarnya.

Yoon Ri duduk diranjangnya sambil menatap ke luar jendela.

“Eomma, apa oppa sebegitu marahnya kepadaku? Mungkinkah dia membenciku?”

“Apa maksudmu?”

“Aku merasa dia menghindariku.”

“Menurut eomma, Yoochun-ie tidak marah padamu!”

“…tapi tadi dia mengusirku, eomma.”

“Bagaimanapun, saat ini kakakmu jauh lebih lemah daripada sebelumnya, jadi wajar saja kalau kadang-kadang ia lebih suka berdiam diri.”

“Maksud eomma?”

“Oppamu, setelah dia pingsan tempo hari… kondisinya semakin memburuk, sampai-sampai dia bisa mengalami serangan lebih dari satu kali dalam sehari.”

“Mwo? Oppa pingsan? Kapan?”

“Bersamaan dengan hari dimana kau jatuh pingsan di taman. Kini namanya berada di puncak daftar pasien yang menunggu donor jantung.”

“Puncak daftar? Padahal waktu itu ia masih berada dalam urutan ke-5, bukan? Wae?”

“Entahlah. Kita berdo’a saja! Semoga oppamu bisa bertahan hingga dia mendapatkan donor.”

“Kurasa ini kesalahanku. Aku yang membuat oppa menjadi begini.”

“Apa maksudmu, sayang? Itu bukan kesalahanmu!”

“…tapi aku sudah—“

“Sssttt! Yoochun-ie pasti akan segera sembuh! Eomma baru sadar betapa kuatnya dia!”

“Eomma…” kata Yoon Ri yang langsung memeluk ibunya.

“Tadi eomma pergi menemui Junsu tapi tiba-tiba saja kakaknya muncul dan gadis itu langsung mengusir eomma!”

“Bagaimana keadaan Junsu oppa?”

Nyonya Eun Hye menggeleng, “Kondisinya masih begitu-begitu saja. Kau pasti bisa menebak apa maksud eomma.”

“Begitu rupanya? Jadi masih belum ada perubahan yang berarti?”

“Anak itu satu-satunya harapan kita, tapi ayahmu bilang, kakakmu tidak mengingankan jantungnya. Yoochun-ie menyuruh kita untuk berhenti memaksa keluarga Junsu. Dia bilang lebih baik dia mati daripada menerima jantung sahabatnya sendiri.”

“Jadi oppa sudah tau kalau Junsu oppa—“

“Hmm.”
.
.

‘Tok! Tok! Tok!’

Yoochun menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara ketukan. Ia heran siapa yang datang. Ia baru saja mengusir Yoon Ri, jadi ia yakin orang yang berada dibalik pintu itu bukanlah Yoon Ri. Kedua orang tuanya tidak mungkin sampai repot-repot mengetuk pintu. Mungkinkah itu Jaejoong? Changmin bilang hari itu Jaejoong lah yang menemukannya dalam kedaan tak sadarkan diri dan lekas memanggil dokter. Ia juga belum sempat berterimakasih pada Jaejoong.

“Masuklah!” teriak Yoochun. Tidak lama kemudian orang itu pun masuk.

“Kau…”

Rupanya itu bukan Jaejoong, tetapi seorang gadis yang sudah lama tidak ia temui—Cha Eun Ha—. Yeoja itu menghampirinya sembari membawa sebuket mawar putih dan ia tersenyum kepadanya. Meskipun Yoochun kaget karena Eun Ha tiba-tiba saja muncul dihadapannya, ia pun membalas senyuman Eun Ha.

“Untukmu!” Eun Ha menyodorkan bunga itu pada Yoochun dan Yoochun pun menerimanya.

“Gomawo.”

“Aku pikir kau sudah tidak menganggapku sebagai sahabat sampai-sampai kau tidak pernah menghubungiku lagi apalagi datang menemuiku. Ternyata ini alasannya, rupanya kau sangat sibuk.” Kata Eun Ha setengah becanda.

“Lama tidak bertemu En Ha-ya, keundae kenapa kau bisa ada disini?”

“Wae? Kau kaget karena kondisimu sudah tidak lagi menjadi rahasia?”

“Ah, rupanya kau sudah mengetahui rahasiaku! Aku penasaran siapa yang memberitahumu?”

“Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Yoon Ri. Lalu aku menanyakan tentangmu, Yoochun-a.”

“Dan Yoon Ri memberitahumu segalanya?”

“Ne. Jinjja, kau benar-benar pandai berakting. Setiap kali kau bersamaku kau tidak pernah terlihat sakit sedikitpun.”

“Sudah kubilang, aku ingin menjadi seorang actor.”

“Yup! Chukhae Park Yoochun, kau berhasil menipuku!” sindir Eun Ha.

“Mianhae.”

“Aku kaget sekali. Wajahmu benar-benar seperti hantu. Sahabatku yang dulunya terlihat ceria, kini terlihat jauh lebih kurus, jauh lebih pucat dan semakin mirip panda.”

“Hahaha, aku senang bisa mengejutkanmu.”

“Jahat sekali! Boleh kutahu bagaimana keadaanmu?”

“Yah, seperti yang kau lihat… aku tidak baik-baik saja. Aku benar-benar merasa sangat sakit dan tidak berdaya… tapi aku akan terus bertahan sampai akhir.”

“Terima kasih sudah mau jujur kepadaku.”

“Apa maksudmu terima kasih? Percuma juga kalau aku sembunyikan, bukan?”

“Yoochun-a, aku merindukanmu tahu!” kata Eun Ha yang langsung memeluk Yoochun.

“Na do.”

Yoochun senang sekali bisa bertemu dengan Eun Ha lagi. Eun Ha adalah salah satu sahabatnya yang paling baik—selain Yoon Ri dan Changmin— Ia jadi teringat, dulu ia sering sekali meminta bantuan Eun Ha setiap kali ia ada tugas matematika, fisika, atau kimia. Eun Ha memang gadis yang cerdas.

Setelah cukup lama berpelukkan, Eun Ha pun menyeka air mata di pipinya lalu kembali tersenyum. Saat mereka berpelukkan tadi, jantungnya berdebar kencang. Ternyata ia memang masih mencintai Yoochun. Ia benar-benar merasa bahagia bisa bertemu dengan Yoochun lagi. Namun pada saat bersamaan ia juga sangat sedih melihat kondisi Yoochun. Yoochun pasti sangat menderita dan bodohnya selama ini dia tidak pernah menyadari kalau Yoochun sakit. Di depannya Yoochun benar-benar pandai sekali berakting.

“Aku benar-benar menyesal, Yoochun-a. Kupikir selama ini aku tahu banyak hal soal dirimu tetapi ternyata tidak. Kita saling mengenal satu sama lain tapi ternyata aku tidak memahamimu sama sekali.”

“Eun Ha-ya, mian. Tidak seharusnya aku menyembunyikan sesuatu dari sahabatku sendiri.”

“Gwaenchanha. Kalau aku yang berada dalam posisimu saat ini, kurasa aku juga akan melakukan hal yang sama, sebab aku tidak ingin membuat teman-temanku khawatir dan yang lebih penting.. aku tidak suka dikasihani.”

“Kau tidak marah karena selama ini aku merahasiakan sesuatu darimu? Padahal dalam hal apapun kau selalu terbuka kepadaku?”

“Anieyo. Yoochun-a, kau tahu? Perasaanku padamu tidak pernah berubah… sampai sekarang pun aku masih mencintaimu!”

“…”

“Maukah kau belajar untuk mencintaiku juga?”

“Mian. Aku tidak punya waktu untuk itu.”

“Yah, aku mengerti. Ngomong-ngomong, kalungmu bagus sekali! Apa itu handmade?”

“Ne.”

“Siapa yang membuatnya, Yoon Ri kah?”

“Bukan. Ini hadiah dari temanku.”

“Oh. Sulit dipercaya temanmu bisa menemukan semanggi berdaun empat.”

“Ini memang hadiah dari temanku tapi yang menemukan semanggi ini bukan dia. Yoon Ri dan Changmin yang menemukannya.”

“Arraseo. Mereka pasti butuh waktu lama untuk bisa menemukannya. Benar juga, dimana Yoon Ri?”

Yoochun tidak menjawab. Ia memang sengaja menghindari Yoon Ri. Ini pertama kalinya ia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di depan Yoon Ri. Ia tidak ingin Yoon Ri menangis untuknya. Ia tidak ingin membuat Yoon Ri khawatir. Di atas itu semua ia belum siap menemui Yoon Ri. Ia sangat mencintai Yoon Ri dan ia tidak bisa hanya memandang Yoon Ri sebatas kakak-adik.

“Yoochun-a? Wae?”

“Aku tidak bisa menahan gejolak perasaanku setiap kali Yoon Ri berada didekatku. Saat ia berada didekatku, aku tidak tahan untuk memeluk dan menciumnya…keundae itu tidak boleh sebab dia adalah adikku.” Jawab Yoochun sambil tersenyum pahit.

“Yoochun-a…”

Eun Ha menggigit bibir bawahnya. Kini mata Yoochun terlihat berkaca-kaca. Eun Ha bisa melihat setetes air mata jatuh dari sudut mata Yoochun dan ia cepat-cepat menghapusnya. Eun Ha memberanikan diri mengulurkan tangan dan menggenggam tangan kiri Yoochun. Yoochun tak menolak dan Eun Ha merasa jantungnya berdebar lebih keras.

“Katakan padaku, bagaimana perasaanmu pada Yoon Ri?” bisik Eun Ha. Ia ingin memastikan sendiri bagaimana perasaan Yoochun sebenarnya.

Begitu kata-kata itu meluncur dari mulut Eun Ha, sebuah isakan lirih terdengar dari mulut Yoochun. Eun Ha bisa melihat Yoochun menangis dalam diam. Yoochun kemudian memejamkan mata dan menggigit bibir.

“Apakah kau sangat mencintai Yoon Ri? Tidak adakah sedikit saja kemungkinan kau bisa mencintaiku?”

“Mianhae. Yoon Ri… hanya dia yang aku cintai. Sakit sekali rasanya mengingat kenyataan bahwa aku tidak boleh mencintainya lagi.”

Mendengar itu Eun Ha tidak bisa menahan air matanya lagi. Tangan kanannya terangkat membekap mulutnya sementara ia memejamkan mata dan terisak-isak sampai sekujur tubuhnya berguncang keras.

“Pabo! Kenapa kau begitu jujur?” teriak Eun Ha. Hatinya jauh lebih sakit daripada satu tahun yang lalu. Namun meskipun hatinya terasa hancur berkeping-keping, ia tidak kuasa melihat Yoochun sesedih ini. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Yoochun menangis. Sesakit apapun hatinya… saat ini keinginan terbesarnya hanya satu. Ia ingin Yoochun bahagia

 

.
.
.
=> To Be Continued <=
.
.
Yeay, ini adalah fanfic terlebay di abad ini. Mianhae karena jadinya minim deskriptif gini, maklum udah lama ga nulis ff. Dan kalau ceritanya jadi nggak nyambung atau semakin membosankan.. mianhaeyo, tolong dimaklumi saja, soalnya saya juga udah agak lupa dengan jalan cerita di chapter-chapter sebelumnya. Terlalu lama hiatus benar-benar membuat segalanya menjadi sulit #Halah. Sebenarnya notebook saya lagi rusak, nggak bisa ngetik huruf ‘Y’ tapi untungnya ada keyboard nganggur. Hahaha, aneh juga sih ngetik di notebook tapi pake keyboard PC, tapi yah mau bagaimana lagi? *terpaksa karena belum punya uang buat biaya service-nya*

Like usual No Bashing okay, it just a fanfiction. Jangan lupa tinggalkan komentar atau kritiknya, ya? kamsahamnida. ^^

 

 

14 thoughts on “Love Sick Chap 9

  1. sbelumnya gomawo buat author yg bersedia lanjut ff ini. mian aku udah maksa2 kkk ~

    hmmm berasa direfresh.
    ada cast baru, rasanya kayak orang baik tp kedatangannya bikin sebel.

    suka scene yoon ri adu mulut sama eun ha XDD

    happy or sad ending, mana aja asal ga terkesan memaksa ehehe

    lanjut ya thor. gomawo

    • Haha, iya nggak apa-apa, kok. ^^
      Tenang aja cast barunya cuma cameo, kok. Chapter depan Eun Ha-nya jg udah ga diceritain lagi… kecuali kalo misalnya ntar ada squelnya😀
      Oke, kalo gtu silakan baca chapter selanjutnya.

      Sankyuu udah read and comment🙂

  2. huuuuuaaaa akhirnya muncul juga.
    uda jamuran saya.ihihi

    chapter ini fokus yoo-yoo couple ya. suka saya kekeke

    emmm apa ntar changmin suka yoon rie? diliat dari sikap dia kekeke

    • Hehe, maaf ya abis authornya sibuk nih😉
      Yup, chapter kali ini emang sengaja difokuskan ke yoo-yoo couple.
      Ahaha, Changmin emang suka sama Yoon Ri tapi selama ini dia ga tega ma Yoochun, makanya diem aja…

      Sankyuu udah read and comment🙂

  3. khairunnisa berkata:

    Uda lama banget nungguin lanjutan dari FF ini. Author daebak. Ini ff yang paling berkesan buat aku. Aku ampe nangis” gara-gara kebawa ama alur ceritanya. Aku harap Author apdatenya cpt. Dan aku harap akhirnya happy ending.

  4. Hhuuuaaaa udah lama banget pengen liat ni ff , nggak kok min ini ff terbagus + yg paling bisa nguras air mata ,
    Seneng banget tau kalo ff ini dilanjutin lg walaupun ga dikasih tau PW chap 7&8 nyaa ,aga kurang ngerti jadinya hehehe
    Btw lanjut yaa thor , ditunggu^^

    • Gomawo… ^^
      Wah, kalo gitu PW chap 7&8 nya, silakan minta ke saya via dm twitter or fb… mumpung udh comeback dari hiatus nih.
      Ne, lanjutannya akan segera diposting…

      Sankyuu udah read and comment🙂

      • Oke min ntar aku mnta di twitter yak . penasaran bgt sama ceritanya . haha
        Oke min jangan lama” yaa postingnya wkwkwk

  5. Tiya EverLaistingFriens CloudsForever berkata:

    Saya tidak bisa melihat chapter 4-8 nya karena di butuhkan kata sandi ..
    Sungguh saya tidak mengerti jalan cerita nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s