Love(s) a Guardian Angel Part 8


Title : Love(s) A Guardian Angel

Main Cast : Park Yoochun, Lee Hee Young

Rating :NC17     

Author : Lee Eun Ri

DON’T LIKE DON’T READ !!!

Happy Reading

AUTHOR POV

Jaejoong duduk di depan pintu ruang operasi putrinya. Rasa sakit di tangannya ia abaikan karena ia merasa rasa sakit di tangannya tak ada apa-apanya di banding Hee Young yang kini tengah berjuang di ruang operasi.

Kecelakaan yang baru saja ia alami begitu cepat hingga ia hampir tak bisa berpikir. Jaejoong hanya ingat mobil yang mengikutinya sengaja menabrak mobilnya dan saat itu malah Hee Young yang melindunginya. Saat ia membuka matanya, ia melihat Hee Young sudah tak sadarkan diri. Begitu juga dengan Yuchun. Ia keluar mobil sambil menggendong Hee Young dan melihat orang-orang suruhannya baru saja datang.

Yang Jaejoong dengar dari orang suruhannya. Semua yang membuntutinya di tangkap dan dua orang yang menabraknya pun sama. Hanya saja pengemudi meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, satu selamat tetapi luka parah. Yang selamat itu adalah Rei Na. Yeoja itu mengalami koma. Jaejoong berharap jika Rei Na mati. Ia tidak akan pernah memaafkan Rei Na.

Jaejoong berdiri saat melihat pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar dan mengatakan pada Jaejoong jika Hee Young bisa melewati masa kritisnya malam ini putrinya itu bisa selamat. Jaejoong terduduk lemas mendengar ucapan dokter itu.

Setelah Hee Young dipindahkan ke ruang rawat, Jaejoong terus berada di sisi putrinya itu. Masalah Rei Na, Jaejoong serahkan pada anak buahnya dan juga pengacaranya. Saat teringat Yuchun, Jaejoong langsung menelepon salah satu anak buahnya yang ia suruh untuk berjaga-jaga di depan pintu kamar rawat namja itu. Anak buahnya mengatakan jika Yuchun belum juga sadarkan diri. Mendengar itu Jaejoong hanya bisa menghela nafas lalu menutup teleponnya. Ia kembali fokus pada putrinya yang masih tertidur.

Sambil menggenggam tangan Hee Young, Jaejoong terus menunduk dan berdoa. Berharap agar putrinya melewati masa kritis. Sesekali Jaejoong berbisik di telinga Hee Young meminta putrinya itu agar terus berjuang karena ia menunggunya.

Tak lama Jaejoong menerima telepon dari anak buahnya yang menjaga Yuchun. Namja itu mengatakan pada Jaejoong jika Yuchun sudah siuman. Jaejoong langsung berdiri dan pergi menghampiri Yuchun. Saat berada di kamar rawat Yuchun, Jaejoong melihat namja itu tengah di periksa oleh dokter.

Setelah Yuchun di periksa Jaejoong menghampiri namja itu dan melihat kondisi Yuchun yang cukup parah. Yuchun tersenyum lalu mengangguk pelan padanya. Jaejoong meminta anak buahnya untuk keluar sehingga ia bisa leluasa untuk berbicara dengan Yuchun.

“Tuan, anda tidak apa-apa? Bagaimana nona kecil?” Tanya Yuchun dengan suara pelan.

“Aku baik-baik saja. Hee Young sedang dalam masa kritis. Kuharap Hee Young bisa melewati malam ini dan segera sadar.” Jawab Jaejoong.

“Nona kecil pasti bisa melewati masa kritisnya. Nona seorang wanita yang kuat, tuan.” Yuchun berusaha menghibur Jaejoong yang terlihat sedih. Jaejoong tersenyum tipis.

“Yuchun, bisakah kau menuruti permintaanku?” Ucap Jaejoong tiba-tiba. Yuchun mengangguk.

“Selama saya sanggup, saya akan menuruti permintaan tuan.” Jawab Yuchun.

“Pergilah ke Paris, Perancis. Tinggallah disana.” Ucapan Jaejoong membuat Yuchun kaget.

“Ma maksud tuan?”

“Aku memintamu untuk pergi jauh dari Korea. Aku tahu hubunganmu dengan putriku dan aku tak setuju dengan hubungan kalian. Kau pasti tahu alasannya.” Ucap Jaejoong tegas. Yuchun terlihat ingin berbicara tapi akhirnya ia hanya diam karena Jaejoong tak sedikit pun membiarkannya berbicara. Jaejoong terus berbicara padanya dan inti dari semuanya tetap memintanya untuk pergi dari Korea. Alasan tidak setujunya Jaejoong dengan hubungan Yuchun dan Hee Young sudah ia perkirakan sebelumnya dan dugaannya tepat. Semuanya karena statusnya. Yuchun hanya bisa mengangguk. Setelah melihat jawabannya Jaejoong meninggalkan Yuchun seorang diri. Yuchun hanya diam dengan terus menatap pintu kamar rawatnya itu.

 

***

 

Beberapa hari setelah kejadian Jaejoong meminta Yuchun pergi. Yuchun hanya bisa diam di kamar karena ia tak bisa keluar, sekali pun dengan kursi roda. Karena anak buah Jaejoong terus siaga di luar untuk mengawasinya agar tidak keluar. Awalnya ia berontak tapi setelah mendengar Hee Young sudah siuman Yuchun tak lagi berontak. Salah satu anak buah Jaejoong selalu memberitahukan kondisi Hee Young padanya secara diam-diam.

Perlahan kondisi Yuchun mulai membaik. Ia seharusnya senang tapi ia malah murung karena semakin cepat ia pulih semakin cepat pula ia pergi. Setelah Yuchun di periksa oleh dokter tak lama beberapa anak buah Jaejoong datang dan membawanya pergi.

Yuchun dibawa masuk ke sebuah mobil yang di dalam sudah ada pengacara Jaejoong. Namja itu mengatakan padanya jika ia harus memberikan kesaksian di pengadilan hari ini. Pengacara itu memberitahukannya hal-hal yang akan ditanyakan dan tentunya dengan jawaban yang harus ia jawab.

Sampai di pengadilan Yuchun memberi kesaksian sesuai dengan apa yang ia alami. Ada beberapa jawaban yang tak ia ikuti sesuai perkataan pengacara saat di dalam perjalanan. Ia tak mempedulikan ocehan pengacara itu saat memarahinya. Yuchun yakin jika jawabannya tidak akan merugikan.

Setelah selesai dengan urusan di pengadilan, Yuchun dibawa ke bandara. Yuchun tentunya kaget dan tidak menyangka akan pergi hari ini. Ia tak bisa melawan karena ia sudah menyetujui permintaan Jaejoong. Saat sudah dekat dengan pesawat, Yuchun melihat Jaejoong berdiri menunggunya. Ia mengangguk pelan lalu Jaejoong mendekat.

“Ingat ucapanku, ok? Baik-baiklah di sana dan lakukan apa yang sudah kita bicarakan. Pesawat ini milikku jadi bersantailah di dalam sana. Sesampainya di Paris, kau akan melakukan perawatan di Rumah Sakit hingga kau sembuh total.” Ucap Jaejoong. Yuchun mengangguk dan berusaha meminta agar di beri kabar mengenai Hee Young saat ia berada di Paris.

“Tidak bisakah tuan mengijinkan saya untuk mengetahui kabar Hee Young saat saya di Paris nanti?” Pinta Yuchun. Jaejoong menggelengkan kepalanya.

“Maafkan aku tapi aku tidak bisa melakukannya.” Jawab Jaejoong lalu pergi tanpa banyak kata lagi pada Yuchun. Yuchun hanya bisa menghela nafas panjang dan menatap punggung Jaejoong.

‘Pria tua yang sangat keras dan berkuasa dalam segala hal.’ Batin Yuchun.

Yuchun pun naik pesawat dan pergi meninggalkan Korea dan Hee Young dengan berat hati. Di dalam pesawat ia di perlakukan sangat baik tapi tak membuat hati Yuchun membaik sedikitpun. Tak lama Yuchun teringat jika ia tidak bisa berbicara bahasa Perancis. Ia pun mengacak-acak rambutnya dengan frustasi karena memikirkan bagaimana berkomunikasi di sana sementara ia tak mengerti dan tidak bisa bahasa Perancis.

Sementara itu Hee Young masih berada di rumah sakit tanpa tahu kalau Yuchun pergi dari Korea. Kondisinya masih lemah dan belum bisa bergerak dengan bebas. Semenjak Hee Young sadar, Jaejoong terus menemaninya dan jarang meninggalkannya kalau bukan hal yang sangat penting. Hee Young bersyukur appa-nya selamat, ia tak bisa membayangkan jika appa-nya yang terluka. Ia mungkin bisa gila, Hee Young tak mau kehilangan appa-nya. Kehilangan sosok umma saja sudah membuatnya menderita.

Tak lama appa-nya datang  dengan senyum hangat. Hee Young membalas senyuman appa-nya itu. Keningnya dicium dengan hangat. Tiba-tiba Hee Young teringat Yuchun dan ia pun panik karena mengingat saat kecelakaan Yuchun yang mengemudikan mobilnya. Hee Young menanyakan tentang Yuchun pada appa-nya.

“Dia baik-baik saja dan sudah pulang kerumahnya. Appa menyuruhnya untuk beristirahat total.” Jawab Jaejoong dengan santai. Ia mengelus rambut Hee Young dengan lembut.

Hee Young menghela nafas lega tanpa tahu kalau yang dikatakan appa-nya adalah sebuah kebohongan.

***

Setelah Hee Young pulih ia menjalani dua persidangan sebagai saksi dan tersangka. Ia tidak bisa menghindari dari statusnya sebagai tersangka karena membunuh Sang Woo. Hee Young menerima statusnya dan hukuman yang dijatuhkan padanya. Itu lebih baik baginya dari pada terus di liputi rasa bersalah dan takut.

Saat menjadi saksi ia melihat Rei Na dari kursi tersangka dengan tatapan tajam. Ia sangat membenci Rei Na dan berharap yeoja itu di hukum mati. Selesai bersaksi dan mendengarkan hukuman seumur hidup yang di terima Rei Na, Hee Young mendekati yeoja itu dan berbisik.

“Semoga kau mati di dalam penjara.” Hee Young menatap mata Rei Na dengan berani dan tersenyum. Senyuman yang membuat Rei Na takut.

Selesai di pengadilan Hee Young duduk dan menatap kearah pintu berharap Yuchun membuka pintu itu dan memeluknya. Semenjak ia sadar namja itu tak pernah menemuinya. Hal itu membuat Hee Young sedih sekaligus merindukan namja itu. Dengan kondisinya sekarang yang sedang menjalani hukuman tentunya semakin sulit baginya untuk menemui Yuchun. Ia ingin datang ke rumah Yuchun mencari namja itu dan bertanya kenapa tidak menemuinya.

“Apa karena sekarang aku seorang tahanan jadi dia meninggalkanku?” Gumamnya. Hee Young menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia tak mau menangis di depan umum. Hee Young akan berusaha tegar dan melewati semua ini. Ia berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan menemui namja itu jika sudah bebas.

Dari kejauhan Jaejoong melihat putrinya murung. Ia tahu kenapa putrinya itu murung belakangan ini. Itu karena Yuchun tak mengunjungi Hee Young sejak yeoja itu siuman. Jaejoong menghela nafas berat dan menatap Hee Young sedih.

“Maafkan appa. Appa melakukan ini untuk kebaikan kalian berdua.” Gumam Jaejoong.

***

Yuchun berjalan di salah satu jalan terkenal di kota Paris. Ia menganggumi bangunan sekelilingnya yang tampak unik. Senyumannya hilang begitu mengingat Hee Young. Ia berharap bisa datang ke Paris dengan yeoja itu tapi ia tahu jika harapan tinggallah harapan. Semenjak datang ke Paris ia benar-benar tidak bisa menghubungi Hee Young. Yuchun hanya bisa menghubungi keluarganya saja.

Semenjak datang ke Paris Yuchun selalu di awasi oleh orang suruhan Jaejoong. Para pria asing berbadan besar yang Yuchun yakin mereka sangat terlatih. Awal datang ke Paris membuat dunia Yuchun seakan berada di neraka. Bahasa yang tidak ia mengerti, suasana yang berbeda, makanan yang jauh berbeda dengan Korea, belum lagi ia tak mengenal siapa-siapa di Paris. Sulit baginya berteman dengan orang Paris karena keterbatasan bahasa. Tapi beruntung karena satu bulan setelah Yuchun tinggal di Paris, Jaejoong menyuruh orang untuk mengajarkannya bahasa Perancis yang ternyata sangat sulit untuk di pelajari. Yuchun berusaha keras untuk belajar bahasa Perancis agar lebih mudah berkomunikasi dan kini ia sudah bisa berbahasa Perancis dengan lancar.

Yuchun duduk santai di sebuah café dan membaca koran untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Ia membutuhkan uang untuk kehidupan sehari-harinya. Walaupun Jaejoong memberikannya uang tapi enggan untuk memakainya. Yuchun merasa kalau uang itu bukanlah haknya.

Sedang santai di café tiba-tiba seorang wanita datang dan duduk di sampingnya. Yuchun menaruh korannya dan melihat wanita Perancis yang belakangan ini selalu menempel padanya. Wanita yang juga tinggal satu gedung di apartemennya. Entah kenapa sejak berkenalan di lift dan membantu membawakan belanjaan wanita itu beberapa kali, wanita itu jadi sering menempel padanya. Yuchun sedikit risih dengan sikap wanita itu.

Wanita bernama Frasier, memiliki rambut panjang berwarna kecoklatan dan warna mata yang biru. Cantik tapi sayang Yuchun tak suka dengan sikapnya yang terlalu agresif, Selain itu juga dihati Yuchun masih ada Hee Young. Nama yeoja itu tidak mudah dihapus begitu saja di dalam hatinya. Entah bisa hilang seiring dengan waktu atau memang tidak akan pernah hilang nama itu di dalam hatinya.

Yuchun menyingkirikan tangan Frasier dari lengannya karena merasa risih. Wajah yeoja itu menjadi masam tapi Yuchun berusaha tak mempedulikannya.

“Kau membenciku ya?” Tanya Frasier tiba-tiba. Yuchun langsung menatap wajah yeoja itu kaget karena pertanyaan Frasier.

“Tidak, kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Kau selalu menolak jika aku memeluk lenganmu.” Jawab Frasier. Yuchun menghela nafas.

“Itu karena aku risih. Aku tak biasa lenganku dipeluk seperti itu oleh wanita. Kau harus ingat kalau aku pria Asia, aku dari Korea Selatan. Kebiasaan orang Perancis dan kebiasaan orang Korea berbeda jauh. Di tempat asalku wanita jarang sekali ada yang agresif mendekati pria.” Ucap Yuchun panjang lebar. Frasier terdiam.

“Maaf, aku permisi.” Yuchun pergi meninggalkan Frasier seorang diri. Ia harap Frasier mengerti dan berhenti mendekatinya.

Yuchun kembali menyusuri kota Paris dan ia tak pernah tak kagum dengan kota itu.

—-

Hee Young keluar dan melihat appa-nya tersenyum saat melihatnya. Hee Young baru saja selesai menjalani hukumannya dan kini ia bisa menghirup udara bebas. Ia berjalan ke arah appa-nya dan langsung memeluk appa-nya erat. Hee Young menangis dalam pelukan Jaejoong.

Menangis karena senang kini ia sudah bebas, selain itu juga menangis karena sedih. Sedih? Ya, Hee Young sedih karena selama menjalani hukumannya ia tak pernah mendapatkan surat maupun kunjungan dari Yuchun. Ia merasa Yuchun tak mau berhubungan lagi dengannya. Hee Young merasa di campakkan oleh Yuchun.

Sehari sebelum keluar dari jeruji besi Hee Young bertekad untuk melupakan Yuchun yang telah mencampakkannya dan akan melanjutkan hidupnya. Masa depan menunggunya dan Hee Young tahu ia tak mungkin terus menunggu Yuchun.

Hee Young melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Dalam hati ia berjanji itu air mata terakhir untuk Yuchun. Ia tak mau lagi menangisi namja seperti itu. Namja yang dengan mudahnya meninggalkannya disaat ia membutuhkan namja itu.

Didalam mobil menuju rumah, appa menanyakan padanya apakah ia ingin berlibur dulu atau langsung daftar kuliah. Hee Young langsung menjawabnya, ia ingin langsung daftar kuliah. Hee Young berpikir mungkin dengan menyibukkan diri perlahan ia bisa melupakan Yuchun.

Sampai di rumahnya, Hee Young langsung beristirahat dan tidur. Entah kenapa Hee Young merasa sangat lelah.

Sementara itu Jaejoong berada di ruang kerjanya sambil membaca laporan mengenai apa saja yang di lakukan Yuchun selama di Paris. Sejak mengirim Yuchun ke Perancis, ia meminta orang suruhannya untuk melaporkan semua kegiatan Yuchun. Jaejoong selalu menerima laporan seminggu sekali. Selama ini tak pernah ada hal yang membuat Yuchun marah dengan laporan itu karena Yuchun tak pernah melakukan hal yang aneh-aneh di Perancis. Namja itu melakukan semua hal yang ia minta waktu itu.

Jaejoong menutup laporan itu lalu berdiri, ia melangkah ke arah jendela besar dan melihat halaman rumahnya yang luas. Ia melihat seorang pelayan wanita tengah bekerja. Wanita itu melihatnya lalu tersenyum dan mengangguk sebagai sapaan. Jaejoong membalas anggukan itu. Ia sempat berpikir jika senyuman pelayan itu sedikit mirip senyuman istrinya.

Jaejoong menghela nafas dan merasa ada yang kosong di hatinya. Ruang kosong yang sangat besar yang membuat hari-hari Jaejoong tidak bersemangat. Jaejoong berpikir mungkin karena ia jarang mengunjungi makam istrinya jadi sudah beberapa bulan ini Jaejoong selalu mengunjungi makam istrinya dan  selalu berbicara dengan nisan sang istri seolah-olah yeoja itu ada di hadapannya.

Mengunjungi makam istrinya tidaklah menutupi kekosongan dihatinya. Jaejoong malah merasa kekosongan dihatinya semakin besar. Ia semakin merindukan sang istri, yeoja yang hingga kini masih ia cintai. Jaejoong sama sekali tidak berniat untuk mencari istri lagi sebagai pengganti istrinya yang sudah meninggal. Ia merasa itu hanya akan buang-buang waktunya saja.

Jaejoong memejamkan matanya dan mengingat masalalunya saat bersama sang istri. Ia tersenyum saat bayangan masalalu muncul. Hatinya hangat. Tak lama ia mendengar suara sang istri yang memanggilnya.

“Yeobo, lihat apakah aku pantas memakai pakaian ini?”

“Ya.” Jawab Jaejoong. Dalam bayangannya Jaejoong melihat istrinya memakai dress sederhana tapi cocok di tubuh istrinya.

Jaejoong membuka matanya saat merasakan ada yang menepuk pundaknya. Ia berbalik dan melihat istrinya. Ia menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat. Jaejoong langsung memeluk istrinya dengan erat.

“Yeobo” Gumamnya.

TBC

Maaf ya pendek (>o<) dan maaf juga baru update (>..<)

Kenapa Yuchun dikirim ke Perancis dan apa yang di lakukan Yuchun di sana? Permintaan apa saja yang di minta Jaejoong pada Yuchun? Siapa yang di peluk Jaejoong? Masih misteri hehehe kalo mau tau jawabannya jangan lupa feedback kalian berupa komen. Makasih.

6 thoughts on “Love(s) a Guardian Angel Part 8

  1. astaga authorr..
    tw gk sich, aq udh lumutan nungguin klnjutan ff ini..
    hah.., kerenn bggttt..
    JaeJong koq kejem bggtt sich, misahin Yoochun ama Hee Yong.,
    khand ksian mrka..
    di tunggu klnjutan x ya thor..
    “JANGAN LAMA-LAMA”

  2. Hhhh jaejong tega amat, dia kan juga pernah jatuh cinta pastinya tau dong rasanya dipisahin. Semoga permintaan jaejoong untuk menyatukan mereka lagi…thor jangan kejam kejam dong…hihihiii

  3. huahahaha, eonni maaf ya aku baru baca ff lagi soalnya lagi sibuk sama kuliah. hehehe
    Kenapa yoochun musti pergi? jangan jangan jaejoong nyuruh yoochun yg aneh2.
    terus kenapa jaejoong g jujur aja sih sama anaknya?
    itu yg di peluk jaejoong siapa? istrinya? apa jangan2 anaknya?
    heheheh’gomawo eonni udh ngelanjutin ff ini hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s