Love(s) a Guardian Angel Part 7


Title : Love(s) A Guardian Angel

Main Cast : Park Yoochun, Lee Hee Young

Rating :NC17     

Author : Lee Eun Ri

DON’T LIKE DON’T READ !!!

Happy Reading

YUNHO POV

Aku duduk di samping tempat tidur dimana Hee Young berbaring. Hee Young masih belum sadarkan diri. Aku terus menggenggam tangannya dan berharap ia segera bangun. Pandanganku teralih saat mendengar suara pintu terbuka, kulihat Jaejoong datang dengan wajah marah. Aku berdiri, belum sempat aku berbicara Jaejoong sudah memukulku hingga aku terjatuh. Dara keluar dari bibirku. Aku tak bisa marah karena Hee Young seperti ini karenaku.

“KELUAR DARI SINI!!!” Teriak Jaejoong padaku.

“Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku berjalan keluar dan duduk tak jauh dari kamar Hee Young.

Entah apa yang harus kulakukan saat ini selain menunggu. Jika tahu akan jadi seperti ini aku tak akan berbuat seperti itu pada Hee Young, tak akan pernah aku menjauhinya. Kuacak-acak rambutku karena frustasi dan khawatir. Aku ingin sekali berada di sisi Hee Young dan menunggunya hingga sadar tapi Jaejoong marah padaku membuatku hanya duduk diam disini.

Aku berdiri dan berjalan mendekati kamar Hee Young. Aku berusaha mencari tahu tentang Hee Young dengan diam-diam. Kubuka pintu kamar rawatnya perlahan dan melihat Hee Young masih tertidur. Kututup lagi pintu itu dan melihat orang-orang yang lewat menatapku aneh. Kuakui yang kulakukan memanglah aneh mengingat umurku yang sudah cukup tua dan pakaianku yang berantakan penuh darah.

Aku kembali duduk dan menunggu Jaejoong keluar. Jika Jaejoong keluar aku akan berusaha berbicara dengannya, aku akan berusaha menjelaskan semuanya.

 

YUCHUN POV

Kutekan bel rumah Yunho sekali lagi dan tak ada yang membukakan pintu. Aku pun menelepon Hee Young tapi hasilnya sama saja. Akhirnya kutelepon Jaejoong untuk memberitahukannya. Saat menelepon Jaejoong, ia langsung menyuruhku ke Rumah Sakit sesegera mungkin. Ia mengatakan agar aku melakukan penyamaran seperti biasa. Aku cukup kaget saat mendengar dari Jaejoong kalau Hee Young tengah di rawat dan belum sadarkan diri. Setelah menelepon aku langsung pergi secepat mungkin.

Aku sedikit tak fokus saat menyetir karena khawatir pada Hee Young. Aku ingin tahu kenapa ia bisa sampai di Rumah Sakit. Sampai di Rumah Sakit aku melakukan penyamaran dan berlari ke ruang rawat Hee Young yang sudah di beritahu oleh Jaejoong tadi. Kubuka pintu dan masuk lalu membungkuk pada Jaejoong sebagai tanda sapaan aku telah datang. Aku menghampirinya sambil melihat Hee Young yang berbaring. Yeoja itu masih menutup matanya.

“Kau jaga Hee Young.” Ucap Jaejoong dengan tetap menatap putrinya itu.

“Baik. Tapi tuan kenapa nona kecil bisa sampai di Rumah Sakit? Apa yang terjadi?” Tanyaku penasaran. Jujur aku bingung karena saat kutelepon beberapa kali Hee Young terdengar ceria.

“Dia mencoba bunuh diri karena masalahnya dengan Yunho belum selesai.” Aku kaget mendengar jawaban Jaejoong.

“Jangan katakan pada Yunho kalau aku tahu masalah mereka berdua. Hee Young memintaku untuk diam karena dia ingin menyelesaikannya sendiri. Dia bilang dia yang salah.” Jelas Jaejoong. Aku hanya mengangguk lemas. Aku tak menyangka Hee Young akan menggunakan cara ekstrim seperti ini.

“Lalu apa yang akan anda lakukan sekarang?” Tanyaku lagi. Kulihat Jaejoong menghela nafas.

“Aku akan menunggu Hee Young sadar dan menanyakan langsung padanya.” Jawab Jaejoong. Tak lama ia berdiri dan menitipkan Hee Young padaku dan meminta agar aku menjaga putrinya dengan baik.

“Aku harus pulang. Jika tidak Rei Na akan curiga dan rencana kita akan berantakan. Sampaikan maafku pada Hee Young jika ia sadar. Satu hal lagi, Jangan biarkan Yunho masuk sampai aku mendengar langsung dari Hee Young kenapa dia melakukan ini.” Aku mengangguk mendengar ucapannya lalu duduk setelah Jaejoong pergi.

Kuraih tangan Hee Young lalu menciumnya. Kututup mataku dan berdoa agar yeojaku cepat sadar. Aku berharap Hee Young cepat sadar dan pulih lalu semua ini akan berakhir dengan baik. Aku tak mau melihatnya ketakutan dan kesulitan. Aku sangat menyayanginya dan takut kehilangannya.

 

—-

 

AUTHOR POV

Hee Young sadarkan diri setelah 2 hari. Ia sadarkan diri saat Yuchun tengah menjaganya seorang diri. Namja itu terlihat bahagia saat Hee Young membuka matanya. Hee Young ingin berbicara tapi Yuchun melarangnya. Ia menuruti namjachingunya itu dan baru berbicara setelah dokter memeriksanya. Yuchun pun bertanya kenapa ia melakukan hal gila itu. Hee Young menceritakan semuanya pada Yuchun. Tak ada satu pun yang ia tutupi, ia berharap Yuchun mengerti dan memberikannya saran apa yang harus ia lakukan. Ia pun meminta maaf karena menutupinya selama ini.

Setelah menceritakannya Yuchun mencubit pelan pipi Hee Young lalu memeluknya. Hee Young tak menyangka Yuchun akan memeluknya. Yuchun melepas pelukannya lalu menatapnya dan meminta maaf karena sudah melakukan hal yang seharusnya di lakukan suami istri. Hee Young mengangguk pelan.

“Yunho, kulihat tadi ada di luar. Dia selalu berada di luar sejak kau masuk rumah sakit. Dia hanya pergi sebentar lalu kembali kemari. Sepertinya hanya untuk mengganti pakaiannya. Dia mengkhawatirkanmu.” Ucap Yuchun memberitahu. Hee Young langsung meminta Yuchun untuk memanggil Yunho agar masuk tapi Yuchun langsung menolak. Ia memberitahukan alasannya pada Hee Young.

“Mianhae. Appa-mu sebentar lagi datang, aku sudah meneleponnya saat kau di periksa dokter tadi.” Yuchun mengelus rambut Hee Young pelan tapi tak lama ia langsung menjauhkan tangannya dari Hee Young karena seseorang membuka pintu dan orang itu tak lain adalah Jaejoong. Yuchun langsung menjauh.

Saat Jaejoong mulai berbicara pada Hee Young, Yuchun keluar karena tak mau menganggu pembicaraan mereka berdua. Ia berdiri di depan pintu dan melihat Yunho menatapnya. Ia sebenarnya ingin membantu Hee Young dan berbicara dengan Yunho tapi ia urungkan karena ia berpikir kalau Hee Young harus menyelesaikannya sendiri. Ini ia lakukan agar Hee Young bisa menjadi yeoja yang dewasa dan memikirkan akibat dari tindakannya.

Tak Yuchun pungkiri kalau ia pun menanggung salah karena sudah membuat Hee Young tak suci lagi tapi ia bertekad untuk bertanggung jawab dengan menikahi Hee Young. Yuchun tahu itu tidak akan mudah tapi akan berusaha menjadi namja yang pantas untuk Hee Young terlebih dahulu lalu menghadap appa Hee Young.

Jika mengikuti emosinya dan tak mengingat Hee Young, Yuchun pasti sudah menghajar dan memaki Yunho karena bisa begitu bodohnya mendiamkan Hee Young hanya karena masalah seperti itu. Memang itu amanat dari umma Hee Young tapi yeoja itu kan berpakaian mini hanya di dalam rumah, tidak di luar rumah. Dan Yuchun pun yakin kalau Hee Young tak sering memakai pakaian seperti itu. Yuchun menghela nafas panjang saat kembali melihat Yunho yang masih terlihat cemas.

Tak lama Jaejoong memanggilnya dan Yuchun pun masuk. Ia melihat Hee Young menangis dan hal itu membuat Yuchun ingin menenangkan yeojachingunya itu tapi sayang ia tak bisa. Ia hanya bisa menatap Hee Young.

“Tolong panggil Yunho.” Perintah Jaejoong. Yuchun pun memanggil Yunho masuk dan berdiri tepat di samping Jaejoong. Ia mendengarkan pembicaraan Jaejoong dengan Yunho. Terlihat jelas bagi Yuchun kalau Jaejoong menahan emosinya. Setelah selesai berbicara, Jaejoong membiarkan Yunho mengobrol dengan Hee Young.

Yunho menjelaskan semuanya dan meminta maaf pada Hee Young. Yeoja itu memeluk Yunho dengan senyuman. Setelah semua masalah selesai Jaejoong kembali berbicara. Perkataannya membuat Yunho, Hee Young dan Yuchun kaget.

“Hee Young, kau harus pindah. Appa akan segera menyiapkan tempat untukmu. Yuchun akan menjagamu. Kau tak usah tinggal di rumah Yunho lagi. Appa tak mau kau seperti ini lagi.” Ucap Jaejoong. Hee Young hanya diam tak membantah ucapan appanya.

“Satu lagi, appa akan mempercepat menjebak Rei Na. Sepertinya yeoja itu sudah mulai curiga pada appa. Keluar dari sini kau pun harus menyamar seperti Yuchun.” Ucap Jaejoong lagi lalu ia berdiri. Ia menatap Yunho lalu namja itu pun ikut berdiri.

“Aku akan ke rumahmu sekarang. Kau antar aku atau kau beri tahu aku password pintu rumahmu. Aku akan membereskan barang-barang putriku. Aku tak mau Hee Young menyusahkanmu lagi.”

“Appa pergi dulu, Hee Young-a.” Jaejoong berjalan keluar kamar rawat Hee Young tanpa menunggu kata-kata dari Yunho maupun Hee Young. Yuchun ikut keluar mengikuti Jaejoong.

“Kau tetaplah berjaga-jaga disini. Beritahu aku jika ada sesuatu. Setelah ini kau pun harus membereskan barangmu. Kau harus menjaga putriku 24 jam.” Ucap Jaejoong tegas.

“Ne, baik tuan.” Jawab Yuchun. Ia melihat Jaejoong keluar dan Yunho pun mengikutinya dari belakang. Yuchun menghela nafas panjang melihat kerumitan ini. Ia memandang wajah Hee Young yang sedih, di hampirinya yeoja itu dan ie kecup keningnya lembut. Yuchun berusaha meyakinkan Hee Young kalau semua akan baik-baik saja dan Yunho pasti mengerti akan tindakan yang di lakukan Jaejoong.

 

—-

 

Yunho hanya bisa menatap Jaejoong yang tengah membereskan pakaian Hee Young. Pikirannya kacau, di satu sisi ia berpikir ini jalan yang terbaik agar bisa melupakan Hee Young dari hatinya tapi di sisi lain ia merasa tak rela jika Hee Young pergi dari sisinya. Yunho memejamkan matanya dan berusaha fokus pada yang seharusnya ia lakukan. Melupakan Hee Young.

Yunho mulai membantu Jaejoong mengepak barang Hee Young. Sesekali ia meminta maaf pada Jaejoong karena telah membuat Hee Young seperti itu. Jaejoong membalasnya singkat.

Jaejoong sebenarnya memiliki alasan lain tentang kepindahan putrinya itu. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Yunho saat berada di rumah sakit. Ia tak tahu apa itu tapi ia merasa perasaannya itu bukanlah pertanda baik. Maka dari itu ia melakukan hal ini.

Selesai mengepak barang putrinya, ia menatap Yunho yang memberikannya barang Hee Young. Jaejoong mengambilnya lalu mengucapkan terima kasih karena selama ini sudah menjaga putrinya. Setelah itu Jaejoong pun pergi dari rumah Yunho. Selama perjalanan ia terus berusaha mencari apa sebenarnya arti dari sikap Yunho waktu itu. Jaejoong mulai takut kalau Yunho merupakan salah satu dari komplotan Rei Na.

Seperti mempunyai telepati, saat Jaejoong memikirkan yeoja itu tiba-tiba Rei Na meneleponnya. Jaejoong pun mau tak mau mengangkatnya. Ia mengatakan kalau ia tengah di perjalanan untuk menemui kliennya. Terdengar dari suara istrinya itu kalau Rei Na curiga padanya.

“Kau curiga padaku?” Tanyanya tegas dan sedikit kesal. Suara Rei Na mulai gelagapan. Jaejoong pun tersenyum kemenangan mendengarnya. Yeoja itu mengatakan kalau hanya khawatir padanya.

“Aku akan segera pulang, kau tenanglah tak usah khawatir seperti itu. Aku bukan tipe orang yang mudah mati.” Ucapan terakhir Jaejoong membuat Rei Na terdiam lalu tak lama Jaejoong mematikan teleponnya.

Sampai di rumah sakit Jaejoong langsung menaiki lift dimana Hee Young berada. Ia berhenti di depan pintu kamar rawat putrinya dan tak sengaja mendengar pembicaraan di dalam. Pembicaraan di dalam membuat Jaejoong tertarik sehingga ia tak langsung masuk dan mendengarkan semuanya hingga selesai.

“Oppa, aku tahu ini terdengar egois tapi tidak bisakah oppa mengatakan pada appa tentang hubungan kita? Diam-diam seperti ini membuatku tidak bebas berbicara denganmu.” Ucap Hee Young.

“Bersabarlah, tidak mungkin kita mengatakan hubungan kita sementara aku seperti ini. Tak ada yang bisa kubanggakan dari diriku sekarang ini. Tak mungkin appa-mu merestui hubungan kita. Seperti yang kukatakan, Setelah ini berakhir aku akan berjuang agar bisa menjadi namja yang layak untukmu lalu aku bisa menghadap appa-mu.” Ucap Yuchun sambil mencium punggung tangan Hee Young.

“Maafkan aku membuatmu harus menunggu lama agar hubungan kita di ketahui appa-mu.” Tambah Yuchun.

“Aku bisa membujuk appa jika hubungan kita tidak di restui. Appa pasti akhirnya akan merestuinya.” Ucap Hee Young dengan wajah memohon.

“Keyakinanmu besar sekali, di satu sisi itu bagus tapi tetap tidak akan beliau restui. Jika aku jadi appamu, aku tak akan merestuinya. Kenapa? Karena kau putri satu-satunya dan kau pikir beliau bisa dengan mudahnya merestui hubungan putrinya dengan namja sepertiku? Bodyguard tak berpendidikan dan tak mempunyai masa depan. Jangan pernah kau bermimpi akan di restui olehku jika aku appamu.” Yuchun mengelus pipi Hee Young sambil tersenyum. Ia harap yeojanya itu mengerti.

“Merestui hubungan anak mereka bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang orang tua pikirkan dan itu demi kebahagiaan dan kebaikan anak mereka.” Ucapan Yuchun di potong Hee Young.

“Aku kan bahagia bersama denganmu. Belum tentu apa yang dipikirkan dan di lakukan orang tua pada anaknya bisa membuat anaknya bahagia.” Ucap Hee Young. Yuchun menghela nafas panjang mendengar ucapan Hee Young.

“Tapi orang tua tidak hanya berpikir seperti itu. Mereka berpikir jauh, mereka pasti berpikir ‘apa yang akan diberikannya pada putriku jika mereka menikah?’. Sebuah hubungan tidak hanya di landasi cinta, chagi. Jika aku seperti ini apa yang akan kuberikan padamu seandainya kita menikah nanti?” Hee Young masih memasang wajah tak suka. Yuchun mencium kening yeojanya lembut.

“Jika kau sudah menjadi orang tua, kau pasti mengerti apa yang kukatakan hari ini dan mengerti bagaimana perasaan orang tuamu.” Ucap Yuchun lembut.

“Baiklah. Mianhae aku masih bersikap seperti anak kecil, aku belum bisa bersikap dewasa.” Ucap Hee Young. Ia menggenggam tangan Yuchun. Namja itu tersenyum padanya sambil mengelus rambutnya.

“Gumawo. Kita harus berjuang, ok? Aku berjuang demi hubungan kita dan kau harus berjuang demi appa-mu. Kau harus kuliah dan membanggakan orang tuamu.” Hee Young mengangguk pelan lalu memeluk Yuchun erat.

Jaejoong menghela nafas setelah mendengar pembicaraan itu. Ia menunggu beberapa menit baru setelah itu masuk. Terlihat jelas wajah kaget dari keduanya saat ia masuk. Jaejoong berusaha bersikap biasa saja. Ia memutuskan untuk diam sementara ini sampai waktunya tiba untuk bicara pada mereka berdua.

Ditatapnya Hee Young, putri kesayangannya itu. Jaejoong tersenyum tipis lalu mencium kening Hee Young. Yeoja itu memintanya mengijinkan untuk berkunjung ke rumah Yunho sebelum pulang. Jaejoong hanya bisa mengangguk tapi dengan syarat tidak menginap.

 

—-

 

Rei Na mengepalkan tangannya kesal. Sudah berkali-kali ia mendapat laporan dari orangnya yang bekerja di kantor kalau Jaejoong sering kali keluar, tidak seperti biasanya yang hanya diam di kantor mengerjakan pekerjaan atau keluar sebentar hanya untuk berbicara dengan klien. Sejak Jaejoong sering pulang terlambat dan tidak pernah lagi menyentuhnya membuat Rei Na curiga. Rei Na pun mencoba mengikuti Jaejoong berkali-kali tapi ia menemukan apapun. Sepertinya namja itu tahu kalau ia tengah mengikuti Jaejoong.

Rei Na berjalan keluar kamar dan mendapati Jaejoong sudah pulang. Namja itu menaiki tangga sambil menatapnya. Keningnya di kecup pelan oleh suaminya itu. tatapan Jaejoong seolah bertanya ia akan pergi kemana. Rei Na mengatakan kalau ia hanya ingin mengambil minum.

“Cepat kembali ke kamar.” Ucap Jaejoong yang sebenarnya hanya basa-basi. Ia mencium pipi Rei Na lalu berjalan ke kamarnya. Tanpa mengganti pakaian, Jaejoong langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya. Ia terlalu lelah hari ini hingga malas untuk mengganti pakaian. Jaejoong memegang kepalanya yang sakit karena terlalu banyak yang ia pikirkan. Matanya terpejam dan mendengar suara pintu terbuka. Ia yakin itu Rei Na karena begitu pintu terbuka parfum istrinya itu langsung tercium olehnya. Jaejoong tetap memejamkan matanya tanpa berniat untuk membukanya sedikit pun.

Rambutnya di belai lembut oleh Rei Na. Beberapa kali yeoja itu memanggilnya dengan lembut tapi Jaejoong tetap diam. Tak lama pipi dan bibirnya di cium oleh Rei Na lalu yeoja itu mengatakan hal yang tak Jaejoong duga.

“Kau akan segera menemui ajalmu, sayang. Putrimu pun akan segera menyusul. Setelah itu semuanya akan segera jadi milikku. Kau dan putrimu sudah cukup hidup dengan berlimpah harta, kini giliranku.” Ucapan Rei Na membuat Jaejoong geram.

“Maafkan aku, sayang. Inilah harga yang harus kau dan putrimu bayar karena sudah membunuh Sang Woo.” Ucap Rei Na sambil terus mengelus rambut Jaejoong.

Tak lama Jaejoong mendengar isak tangis yang berasal dari Rei Na. Kini Jaejoong bingung, kenapa yeoja itu menangis? Apa yang di tangisinya? Kematian Sang Woo?

“Sial!!! Kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku jadi sangat mencintaimu? Aku ingin berhenti tapi putrimu membunuh Sang Woo, namja satu-satunya yang menerimaku. Namja yang mengajariku hidup mandiri di tempat kumuh itu.” Ucap Rei Na sambil menangis.

“Tapi kau mengajariku tentang cinta dan kasih sayang, dua hal yang tidak kudapatkan dari Sang Woo. Apa yang harus kulakukan?” Rei Na menangis dan terus menangis. Ia menutup mulutnya agar tidak membangunkan Jaejoong. Ia pergi ke kamar mandi.

Jaejoong membuka matanya dan menghela nafas panjang. Bertambah satu hal lagi yang memperumit keadaan. Jaejoong memang tak melihat wajah Rei Na saat yeoja itu berbicara tapi ia pikir apa yang yeoja itu katakan benar jika mendengar dari nada suaranya. Jaejoong bisa saja memaafkan Rei Na jika yeoja itu tidak berniat membunuhnya dan juga putrinya. Ia mengacak-acak rambutnya kesal karena keadaan yng membuatnya sakit kepala.

Ia bangun dari tidurnya dan melihat Rei Na baru keluar dari kamar mandi. Yeoja itu terlihat kaget melihatnya bangun. Mata Rei Na sembab akibat menangis tadi. Jaejoong berusaha bersikap biasa dan bertanya kenapa mata yeoja itu memerah. Rei Na malah mengatakan tidak ada apa-apa. Yeoja itu melayaninya seperti biasa, membawakan pakaian ganti untuknya dan membawakan minum.

Jaejoong memejamkan matanya dan berharap semua ini akan segera berakhir dan apapun keputusannya nanti ia hanya bisa berharap ia tak salah membuat keputusan.

 

***

 

Hee Young sudah di perbolehkan pulang dan ia langsung pergi ke rumah Yunho. Ia meminta appanya untuk datang 2 jam lagi lalu setelah itu baru Hee Young akan mengikuti appa-nya pergi. Appa-nya mengijinkan dan Hee Young pun langsung masuk ke rumah Yunho. Yunho saat itu sedang tidak ada di rumah. Hee Young memasakkan namja itu masakan yang bisa ia buat.

Selesai memasak Hee Young masuk ke ruang kerja Yunho dan duduk di meja dimana Yunho sering melakukan pekerjaannya. Ia tersenyum melihat Yunho masih menyimpan foto mereka berdua saat ia masih kecil. Hee Young mengambil memo untuk menuliskan sesuatu yang akan ia berikan pada Yunho nanti. Saat sedang menulis Hee Young tak sengaja menyenggol mouse computer. Komputernya ternyata belum di matikan, ia berdecak melihat kebiasaan Yunho yang belum hilang juga.

Saat Hee Young akan mematikan komputernya tangannya terhenti karena melihat namanya tertulis di sebuah file Yunho yang masih terbuka. File yang sepertinya sangat rahasia tentang kehidupan Yunho. Hee Young berpikir seperti itu karena melihat judul file itu. Karena penasaran Hee Young pun membaca semuanya dan pada akhirnya ia tak menyangka dengan apa yang baru saja ia baca. Ia dengan cepat mematikan computer itu saat mendengar suara mobil. Ia mengambil memo yang ia tulis lalu keluar ruang kerja setelah yakin computer itu mati. Ia menaruh memo yang ia buat di atas meja makan.

Hee Young memasang senyum saat Yunho masuk. Namja itu terlihat kaget dengan kedatangannya. Hee Young memeluk Yunho dan meminta maaf sekali lagi atas kelakuannya yang membuat keadaan semakin rumit. Yunho membalas pelukannya membuat hati Hee Young nyaman.

“Nanti jangan melakukan itu lagi ok? Itu tidak menyelesaikan masalah. Paman pun minta maaf karena terlalu keras mendidikmu.” Ucap Yunho. Hee Young mengangguk lalu mengajak Yunho ke meja makan.

“Aku membuatkannya khusus untuk paman. Kupikir paman akan pulang malam jadi aku membuat memo ini lalu berniat pergi.” Ucap Hee Young.

“Gumawo. Wah terlihat enak, mau makan bersama?”  Hee Young dengan cepat mengangguk.

Keduanya makan siang bersama dengan diselingi obrolan kecil. Yunho menekan perasaannya sekuat yang ia bisa agar tidak memeluk Hee Young dan mencegah yeoja itu pergi. Ia yakin keputusan Jaejoong kini akan berdampak padanya juga. Entah kenapa Yunho merasa akan semakin sulit bertemu Hee Young nanti. Walaupun ia memang berniat melupakan Hee Young dari hatinya tapi tidak secepat dan mendadak seperti ini. Yunho yakin ia bisa menjadi gila jika Jaejoong melakukan itu padanya, beberapa hari ini saja ia tak bisa tidur sama sekali.

Selesai makan siang, Hee Young mengajak Yunho mengobrol. Ia memeluk Yunho seperti biasa. Tak lama ponselnya berbunyi dan appanya yang menelepon. Appanya mengatakan kalau ia sudah ada di luar dan memintanya segera keluar.

“Sebentar appa, aku akan keluar sebentar lagi.” Balasnya lalu menutup telepon itu.

Hee Young dan Yunho pun berdiri. Hee Young menatap Yunho dengan sedih lalu sekali lagi memeluk namja itu. Awalnya ia ingin melakukan tindakan gila tapi ia urungkan saat mengingat Yuchun. Ia melepaskan pelukannya lalu keluar rumah. Ia berbalik dan melihat Yunho tersenyum.

“Selamat tinggal ajusshi.” Ucapan Hee Young terasa aneh untuk Yunho. Tiba-tiba perasaannya tak enak.

‘Kenapa selamat tinggal? Apa Jaejoong melarangnya bertemu denganku lagi?’

Yunho hanya bisa diam melihat kepergian Hee Young.

Didalam mobil Hee Young memeluk appa-nya dengan erat. Tanpa tahu kalau appanya tengah sibuk menelepon. Ia tak mempedulikan hal itu sekarang ini. Yang ia inginkan hanya memeluk appanya sepuasnya. Ia tak mau memikirkan apa yang baru saja ia tahu tentang Yunho. Hee Young ingin melupakannya.

“Tuan, sepertinya kita sedang di ikuti.” Ucap Yuchun.

Jaejoong menatap kebelakang dan berdecak kesal karena beberapa mobil mengikutinya. Ia langsung meminta orang untuk segera datang dan melindunginya juga agar pelakunya tidak kabur. Jaejoong menyuruh Yuchun untuk berjalan seperti biasa seolah mereka belum tahu. Ia juga meminta Yuchun untuk berkeliling agar yang mengikuti mereka tak tahu tempat tujuan mereka.

 

—-

 

Rei Na menatap mobil di depannya dengan kesal. Ia ingin langsung menabrak mobil itu tapi tidak mungkin karena melihat posisinya tengah di keramaian. Jika ia lakukan sama saja bunuh diri. Rei Na menyuruh anak buahnya untuk bersabar dan menunggu kode darinya.

‘Maafkan aku.’ Batin Rei Na. Walaupun sebagian hatinya sakit tapi ia sudah memutuskan untuk membunuh mereka secepatnya. Rei Na cukup kaget tadi saat melihat Hee Young. Kecurigaannya selama ini ternyata benar dan melihat yeoja itu membuatnya marah dan semakin yakin untuk membunuh mereka.

Saat melihat jalan yang di lalui sepi akhirnya Rei Na tak bisa menahan amarahnya. Ia menyuruh anak buahnya yang menyetir untuk menabrak mobil di depannya. Anak buahnya mengangguk dan melajukan mobil dengan kecepatan penuh.

 

TBC

6 thoughts on “Love(s) a Guardian Angel Part 7

  1. Akhirnya hahaha
    Eonn ini udh mau tamat ya? Kok kayanya tegang bgt sih ceritanya
    Itu nnti reina sama aja bunih diri dong ya.
    Penasaran eonn.
    Ditunggu ke lanjutannya ya eonn hahaha

  2. karina berkata:

    tbx nya paaaassss bgt pas lg bkin galau …haduuuuh gimana ketauan sama reina ????? penasaran sama next nya d tunggiyah eon …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s