Love(s) a Guardian Angel Part 6


Title : Love(s) A Guardian Angel

Main Cast : Park Yoochun, Lee Hee Young

Rating :NC17, NC21     

Author : Lee Eun Ri

DON’T LIKE DON’T READ !!!

Happy Reading

AUTHOR POV

Sudah satu minggu lebih sejak Jaejoong bertemu dengan Hee Young di tempat persembunyian yeoja itu. Semenjak bertemu dan berbicara berdua dengan putrinya, Jaejoong jadi semakin memperhatikan Hee Young. Walaupun terlambat tapi Jaejoong pikir lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Setiap hari ia selalu mengunjungi Hee Young atau pun meneleponnya jika sedang sibuk.

Selain memperhatikan Hee Young, Jaejoong pun semakin intens memperhatikan gerak gerik istrinya, Rei Na. Semakin lama sikap Rei Na sangat mencurigakan membuat Jaejoong waspada selama 24 jam penuh. Ia masih bersikap seolah-olah tak tahu apa-apa dan tak mempedulikan putrinya.

Jaejoong bersandar di kursi kerjanya dan memikirkan cara agar bisa menjebak Rei Na untuk mengakui perbuatannya selama ini. Ia kesulitan mencari cara untuk menjebak istrinya itu. Tak lama ponselnya berbunyi dan melihat pesan dari Hee Young. Jaejoong langang membuka pesan itu.

Appa, aku bosan di rumah Yunho Ajusshi terus. Bolehkah aku pergi bermain?

Jaejoong menghela nafas lalu tersenyum setelah membaca pesan yang di sertai foto putrinya itu. Ia mengambil kunci mobil lalu pergi untuk membeli beberapa makanan dan barang kesukaan putrinya. Ia akan mengunjungi Hee Young dan menghibur putrinya yang sedang bosan itu.

 

—-

 

Rei Na tengah berada di depan laptop mencari info tentang keberadaan Sang Woo dan Hee Young. Ia sudah tak bisa menunggu lagi. Ia pun sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencari mereka. Perasaannya semakin hari semakin tidak enak, ia tahu kalau itu bukanlah pertanda baik. Rei Na mengumpat kesal saat tak mendapatkan hasil apapun.

Rei Na merebahkan tubuhnya di sofa lalu menatap langit-langit. Ia harus membuat rencana cadangan jika hal buruk terjadi. Rei Na harus mempersiapkan dirinya apapun yang terjadi pada Sang Woo.

“Aku harus mencarinya sendiri. Sang Woo dan Hee Young sampai sekarang belum kembali. Aku harus mencari salah satu dari mereka. Aku tak bisa tinggal diam menunggu anak buahku menemukannya.” Gumam Rei Na. Rei Na pun tak lama langsung keluar dengan mobilnya mencari Hee Young dan Sang Woo. Ia mencari di seluruh penjuru Seoul dengan bertanya pada setiap orang sambil membawa foto mereka berdua. Tapi tak seorang pun yang pernah melihat mereka.

Dari kejauhan Yunho yang baru saja keluar dari toko membeli roti dan beberapa cemilan melihat Rei Na tengah berbicara dengan seseorang lalu tak lama orang itu pergi, berkali-kali seperti itu membuat Yunho curiga dan perlahan ia bersembunyi agar tidak terlihat oleh yeoja itu. Ia memanggil seorang wanita yang tadi berbicara dengan Rei Na. Yunho bertanya apa yang di lakukan yeoja itu.

“Dia menanyakan keberadaan seorang gadis dan seorang namja.” Jawab wanita asing itu lalu pergi. Yunho langsung mengambil kesimpulan kalau Rei Ne tengah mencari Sang Woo dan Hee Young. Ia langsung menelepon Yuchun yang ia tahu di perintahkan untuk mengawasi Rei Na. Yunho meminta agar Yuchun melaporkan padanya kemana saja yeoja itu pergi dan apa yang tengah di lakukannya.

Setelah tahu kalau Jaejoong ada di rumahnya bersama Hee Young, Yunho langsung pergi. Sampai di rumah Yunho langsung berbicara dengan Jaejoong di ruang kerjanya tanpa melibatkan Hee Young. Hee Young yang penasaran menguping di depan pintu.

Hee Young kembali duduk di ruang tengah setelah tahu inti dari pembicaraan appanya dengan Yunho ajusshi. Tak lama ia pun mengirim pesan pada Yuchun menanyakan tentang apa yang baru saja ia dengar. Yuchun membalasnya dan memberitahukan semuanya. Namja itu pun memintanya untuk tidak khawatir dan ia akan melindunginya. Hee Young tersenyum membaca pesan dari Yuchun itu.

Jaejoong dan Yunho kembali dari ruang kerja dan Hee Young langsung menaruh ponselnya. Ia menatap kedua namja di depannya dengan penuh tanya dan berharap mereka memberitahukannya apa yang terjadi, walaupun ia sudah tahu tapi ia ingin mendengarnya langsung. Appanya dan Yunho diam saja membuat Hee Young kesal.

Hee Young mengapit lengan appanya lalu memeluk appanya itu erat.

“Appa, apa yang terjadi?” Tanyanya. Appa-nya mengelus rambutnya dan mengatakan tidak ada apa-apa. Hee Young mendengus kesal.

“Appa tidak mau memberitahukanku tentang Rei Na yang sudah mulai mencariku dan Sang Woo?” Hee Young melepaskan pelukannya dan menatap appanya juga Yunhoyang terkejut.

“Aku menguping pembicaraan kalian.” Ucap Hee Young jujur.

“Apa yang akan appa dan Ajushhi lakukan sekarang? Lambat laun dia pasti akan menemukanku dan Sang Woo.” Ucap Hee Young lagi.

“Kau tenanglah. Appa dan Yunho ajusshi akan mencari cara agar dia mengakui perbuatannya dan melaporkannya ke polisi.” Ucap appanya berusaha membuatnya tenang.

“Aku tidak bisa tenang, appa. Bagaimana kalau aku muncul di depannya?” Ucapan terakhir Hee Young membuat Yunho dan Jaejoong langsung mengelengkan kepalanya tidak setuju.

Hee Young pun memberitahukan maksud ucapannya pada appanya dan Yunho. Setelah mendengarnya Jaejoong dan Yunho masih sedikit ragu dengan rencana Hee Young. Mereka langsung menolaknya tapi Hee Young membujuknya sampai Jaejoong dan Yunho setuju. Mereka menghela nafas sambil menatap Hee Young khawatir.

“Saat kau muncul, appa atau Yunho ajusshi harus ada tak jauh darimu. Jangan membantah ucapan appa atau Yunho ajusshi, arra?” Ucap Jaejoong tegas. Hee Young mengangguk pasti sambil tersenyum.

Sementara itu Yuchun berada di dalam mobil mengikuti Rei Na seharian ini. Ia masih tidak mengerti apa yang di lakukan yeoja itu selama berjam-jam berpindah-pindah tempat dan mendatangi orang satu persatu. Yuchun turun dari mobilnya dan melihat ada anak kecil yang melewatinya. Ia meminta anak kecil itu untuk pergi menghampiri Rei Na agar tahu apa yang di lakukan yeoja itu. Yuchun memberikannya imbalan berupa uang. Anak kecil itu lari ke arah Rei Na sesuai dengan apa yang ia minta.

Setelah tahu apa yang di lakukan Rei Na, Yuchun melaporkannya pada Yunho apa yang di lakukan Rei Na dan kemana saja yeoja itu sudah mencari. Walaupun sudah melaporkannya Yuchun tetap mengikuti yeoja itu. Yuchun mengerutkan keningnya saat mobil Rei Na berjalan ke arah tempat yang sudah lama tidak terpakai dan sudah tidak ada orang yang melewati tempat itu. Gedung dan pabrik tua yang sudah lama tidak terpakai, banyak orang yang lebih memilih jalan memutar dari pada melewati gedung dan pabrik itu karena sangat menakutkan.

Yuchun menghentikan mobilnya beberapa meter dari mobil Rei Na. Ia keluar dan mengikuti yeoja itu yang masuk ke dalam gedung. Yuchun sedikit kaget karena ada beberapa orang di dalam gedung yang sepertinya menunggu Rei Na. Yuchun mengeluarkan ponselnya dan merekam apa yang di lakukan yeoja itu.

Yuchun tersenyum saat merekam hal penting yang keluar dari mulut Rei Na sendiri. Merasa yeoja itu akan pergi Yuchun pun dengan cepat berlari ke arah mobilnya dan pergi jauh dari gedung tua itu. Dari kejauhan Yuchun melihat mobil Rei Na dan ia pun tetap mengikutinya hingga yeoja itu kembali kerumah.

Merasa Rei Na tidak akan keluar lagi Yuchun pun menelepon Jaejoong untuk melaporkan apa yang baru saja ia dapat. Jaejoong mengatakan padanya untuk datang ke rumah Yunho. Yuchun pun segera pergi.

Sampai di rumah Yunho, Yuchun langsung memberikan rekaman berisi percakapan Rei Na dan beberapa orang di sebuah gedung yang ia dapatkan tadi. Sementara Yunho dan Jaejoong melihat rekaman, Yuchun melihat sekeliling mencari Hee Young tapi sayang yeoja yang ia rindukan tidak terlihat. Ia pun menghela nafas pelan.

Yuchun sedikit tersentak saat mendengar suara Jaejoong. Ia kembali fokus pada pekerjaannya dan berusaha bersikap biasa agar keduanya tidak curiga kalau ia memiliki hubungan dengan Hee Young. Ia mengambil ponsel miliknya dan mendengarkan ucapan Jaejoong dan juga tentang rencana mereka agar Hee Young muncul di depan Rei Na. Yuchun di perintahkan agar berada di dekat Hee Young saat rencana berlangsung. Yuchun mengangguk lalu pergi.

Saat ia keluar rumah Yunho ponselnya berbunyi. Ia melihat foto dirinya yang di kirimkan Hee Young. Ia tersenyum karena ternyata yeoja itu tahu kalau ia datang dan melihatnya walaupun secara sembunyi-sembunyi. Tak lama ia kembali menerima pesan dari Hee Young.

Berbalik dan lihat keatas.

Yuchun pun berbalik setelah membaca pesan itu. Ia tersenyum senang karena melihat Hee Young di jendela kamar menatapnya sambil melambaikan tangan. Yuchun membalas lambaian tangan itu dengan cepat lalu menelepon Hee Young.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Hee Young langsung saat mengangkatnya.

“Baik, kau sendiri bagaimana nona kecil?” Yuchun melihat wajah Hee Young cemberut saat mendengar pertanyaannya.

“Nona kecil? Jangan panggil aku seperti itu saat kita sedang berbicara berdua. Keadaanku buruk.” Jawab Hee Young.

“Arraseo, mianhae. Buruk kenapa? Kau sakit? Nanti kubawakan obat, bagaimana?” Tanya Yuchun khawatir.

“Iya aku sakit karena merindukan namja di foto tadi.” Jawab Hee Young. Yuchun terkekeh mendengarnya.

“Nado bogoshippo. Bersabarlah, setelah masalah ini selesai aku akan menghadap appa-mu untuk meminta restu. Aku akan berusaha menjadi orang sukses lalu setelah itu aku akan datang lagi ke rumahmu dengan gagah.” Ucap Yuchun serius. Hee Young mengerutkan keningnya tak mengerti ucapan Yuchun.

“Datang lagi? Maksudmu?” Tanya Hee Young.

“Setelah menjadi orang sukses aku akan meminangmu, chagi.” Jawab Yuchun menjelaskan. Ia melihat wajah Hee Young memerah dan tersenyum malu.

“Meminangku? Kau mau menikah denganku?”

“Hmm tentu saja. Wae? Kau tidak mau?” Tanya Yuchun.

“A anni tentu saja aku mau. Aku akan menunggu hari itu.” Ucap Hee Young cepat.

“Gumawo. Selama kau menungguku kau harus belajar di universitas dengan baik. Ingat satu hal. Kau tidak usah mengingat kebelakang. Masa lalu tinggallah masa lalu, tak perlu lagi kau ingat, arra?” Yuchun tersenyum dan bernafas lega saat melihat anggukan dari Hee Young.

“Aku pergi dulu. Kau jaga diri dan istirahatlah.” Ucap Yuchun lagi.

“Ne, kau juga istirahat. Kau terlihat lelah. Saranghae.”

“Nado saranghae.” Balas Yuchun. Ia memutus sambungan telepon itu lalu pergi dengan penuh senyuman.

Berbicara dengan Hee Young membuat rasa rindu di hatinya sedikit terobati. Yuchun pulang dan beristirahat di rumahnya. Untungnya tugas mengawasi Rei Na hanya saat yeoja itu keluar saja.

 

—-

 

Hee Young sudah bersiap-siap sejak 2 jam yang lalu. Ia hanya tinggal menunggu Yunho untuk menjemputnya. Hari ini ia akan muncul di hadapan Rei Na. Appa-nya tidak bisa menjemputnya karena appanya akan ada di samping Rei Na untuk melihat reaksi yeoja itu secara langsung. Tak lama Yunho datang menjemputnya dan keduanya pun langsung pergi ke tempat yang sudah di rencanakan. Di belakang mobil mereka ada Yuchun yang mengikuti sesuai perintah Jaejoong. Yuchun harus siap melindungi Hee Young jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

Sampai di sebuah mall besar di seoul, mereka semua berada di tempat masing-masing sesuai rencana. Hee Young duduk bersama Yunho di sebuah café, keduanya melihat Rei Na dan Jaejoong dari jauh. Mereka menunggu sinyal dari Jaejoong untuk segera beraksi.

Sementara itu mata Yuchun sejak tadi tak pernah lepas dari Hee Young. Ia sangat takut kalau rencana mereka akan kacau karena ternyata ada beberapa anak buah Rei Na di sekitar yeoja itu. Yuchun segera mengirim pesan pada Yunho dan Jaejoong. Tak lama Jaejoong membalas pesannya dan menyuruh tetap mengawasi Hee Young.

Hee Young mendapat sinyal dari appa-nya, ia pun berdiri dan berjalan ke arah Rei Na. Ia terus berjalan sampai Rei Na menatapnya tapi Hee Young pura-pura tak melihat dan terus berjalan. Sementara itu Jaejoong berpura-pura membeli makanan kecil untuk Rei Na dan memanggil yeoja itu saat terlihat ingin pergi menyusul Hee Young. Jaejoong mengambil kembali perhatian Rei Na.

Yuchun terus mengawasi Hee Young dan menutup wajahnya agar tak ketahuan. Ia melihat tak ada satu pun anak buah Rei Na yang turun tangan karena Rei Na memberi perintah untuk diam.

Yunho menunggu Hee Young dengan cemas. Saat Jaejoong menyuruhnya untuk menunggu di mobil setelah mendapat pesan dari Yuchun, ia mau tak mau pergi meninggalkan Hee Young sendirian di café. Walaupun ada Yuchun yang mengawasi tapi Yunho masih saja cemas. Yunho menghela nafas saat melihat Hee Young masuk ke dalam mobil. Ia menatap yeoja itu yang terengah-engah dan ketakutan. Hee Young menatapnya lalu memukul tangannya pelan meminta agar segera pergi. Yunho pun mengangguk dan pergi dari mall itu.

“Bagaimana tadi? Mianhae ajusshi meninggalkanmu sendirian.” Ucap Yunho saat mereka sudah jauh dari mall.

“Aku gugup sekali, ajusshi. Aku sempat melihat Rei Na kaget melihatku. Apa dia mengenaliku ya? Padahal aku berpenampilan tak seperti biasanya.” Ucap Hee Young masih tak percaya apa yang baru saja ia lakukan. Walaupun hanya berjalan did epan Rei Na sebentar tapi membuatnya gugup.

“Aku tak menyangka aku bisa melakukan hal gila seperti ini.” Tambahnya.

“Ajusshi rasa kau melakukan yang terbaik. Lihat saja tak ada yang mengikuti kita satu pun.” Yunho berusaha menghilangkan rasa gugup dan takut yang ada pada Hee Young.

Sampai di rumah keduanya menunggu Jaejoong datang untuk membicarakan rencana selanjutnya. Hee Young berbaring di sofa sambil menutup matanya. Ia menghela nafas berkali-kali sambil memegang kepalanya. Hee Young juga mendengar Yunho ajusshi menghela nafas panjang.

Yunho menatap Hee Young, jantungnya kembali berdetak dengan cepat. Ia mengelus rambut yeoja itu dengan lembut. Mata kecoklatan Hee Young terbuka dan menatapnya lalu tersenyum. Yunho memberikan minuman hangat kesukaan Hee Young. Yeoja itu meminumnya dengan semangat.

“Kau lelah?” Tanya Yunho. Hee Young menganggukan kepalanya.

“Kepalaku juga sakit, ajusshi.” Jawab Hee Young.

“Kau terlalu keras memikirkannya. Jangan terlau dipikirkan. Santai saja nanti pasti semuanya akan selesai dengan baik.” Hee Young mengangguk kecil mendengar ucapan Yunho.

Tak lama Hee Young menyandarkan kepalanya di bahu Yunho. Yunho sedikit terkejut tapi dengan cepat ia kendalikan dirinya.

“Tidurlah nanti kalau appa-mu datang atau memberi kabar, ajusshi akan memberitahukanmu.” Ucap Yunho. Hee Young membalasnya dengan anggukan lalu mulai tidur dengan bersandar di bahu Yunho.

Sejak Hee Young bersandar di bahunya sampai sekarang yeoja itu sudah tidur, Yunho masih belum bisa mengontrol detak jantungnya. Ia mengutuk dirinya sendiri yang seperti remaja yang tengah jatuh cinta bila berada di dekat Hee Young. Yunho sudah mulai mencintai Hee Young sejak yeoja itu beranjak SMA. Perubahan yeoja itu membuat Yunho mulai mencintai Hee Young sebagai seorang pria pada seorang wanita. Yunho sudah berusaha agar perasaannya hilang tapi sampai saat ini ia tidak bisa menghilangkan perasaan itu.

Yunho tahu kalau perasaannya pada Hee Young itu salah maka dari itu ia memendam perasaannya hingga sekarang. Ia tak memberitahu siapapun mengenai perasaannya ini apa lagi pada Hee Young, ia selalu menutupinya karena selain perbedaan umur yang sangat jauh juga ia takut kalau Hee Young akan menganggapnya aneh dan melihatnya dengan jijik.

Tak lama Yunho tersadar dari lamunannya karena suara ponselnya. Ia mendapatkan pesan dari Jaejoong yang mengatakan akan datang besok. Yunho menghela nafas setelah membacanya. Ia menaruh kembali ponselnya lalu menggendong Hee Young untuk membaringkan yeoja itu di kamar. Tubuh mungil Hee Young membuat Yunho dengan mudah membawa yeoja itu ke kamar.

Setelah membaringkan Hee Young, Yunho tak langsung pergi. Ia duduk di tepi ranjang dan menatap yeoja itu sambil tersenyum. Ia sangat merindukan Hee Young dan saat-saat yeoja itu yang selalu datang dengan tiba-tiba ke kantor dan menghancurkan semua jadwalnya hanya agar ia memberikan yeoja itu perhatian penuh. Yunho tahu kalau ia sangat egois, di saat seperti ini ia masih bisa mementingkan perasaannya di bandingkan masalah yang tengah di hadapi Hee Young. Yunho mencium kening Hee Young lalu menyelimuti yeoja itu.

“Mimpi indah.” Bisik Yunho lalu pergi ke kamarnya.

Sementara itu Jaejoong sejak tadi melihat wajah takut dan kaget Rei Na belum juga hilang. Walaupun yeoja itu sudah menutupinya tapi Jaejoong masih bisa melihatnya. Sejak tadi ia pun tak membiarkan Rei Na sendirian. Kemana pun yeoja itu pergi pasti Jaejoong mengikutinya. Ia berusaha bersikap seolah tak tahu apa-apa.

Rei Na menatapnya lalu memeluknya erat. Jaejoong berusaha bersikap biasa dan membalas pelukan yeoja itu. Rei Na mengatakan membutuhkannya, membutuhkan belaiannya seperti biasa. Jaejoong menolaknya dengan halus dengan alasan besok harus ke kantor pagi-pagi.

“Kenapa kau sepertinya cemas? Ada sesuatu?” Tanya Jaejoong. Rei Na langsung menggelengkan kepalanya.

“Tidak, aku tidak cemas. Hanya merindukanmu saja.” Jawab Rei Na sambil tersenyum. Jaejoong membalas senyum itu lalu melihat Rei Na pergi ke ranjang dan berbaring. Melihat Rei Na membelakanginya Jaejoong pun dengan cepat mengirim pesan pada Yuchun meminta namja itu lebih waspada dan untuk sementara ini Yuchun libur. Untuk menunggu reaksi apa yang akan di lakukan Rei Na. Setelah mengirim pesan itu, Jaejoong melihat ke arah Rei Na.

‘Apa yang akan kau lakukan sekarang setelah melihat putriku?’

Jaejoong berbring di sebelah Rei Na lalu mulai tidur. Ia memejamkan matanya. Tak lama ia mendengar gerakan dari arah Rei Na. Ia merasakan yeoja itu bangun dan pergi. Jaejoong pun membuka matanya dan melihat Rei Na benar-benar pergi dari kamar. Ia bangun dan mencari istrinya itu. Langkah Jaejoong terhenti saat mendengar suara istrinya Rei Na. Ia mendengar yeoja itu tengah berbicara, Jaejoong membuka perlahan pintu ruang kerjanya dimana Rei Na berada. Dilihatnya yeoja itu tengah menelepon seseorang. Mendengarkan semua pembicaraan Rei Na, Jaejoong mengepalkan tangannya kesal.

Yeoja itu berencana mencari Hee Young dan membunuh putrinya. Jaejoong kembali ke kamar sebelum Rei Na melihatnya. Ia berbaring di ranjang dan tidur. Kini Jaejoong benar-benar marah dan akan segera membuat rencana dengan Yunho untuk menjebak Rei Na dan memasukkan yeoja itu ke dalam penjara.

 

—-

 

Rei Na bangun dari tidurnya dan melihat Jaejoong sudah rapi. Ia terperanjat bangun dan melihat jam. Ia bangun kesiangan, ia merutuk dalam hati karena terlambat bangun. Ini pertama kalinya sejak menikah ia bangun setelah Jaejoong. Rei Na bangun dan menghampiri suaminya itu. Ia membantu memasangkan dasi Jaejoong dan meminta maaf karena terlambat bangun.

Jaejoong terus menatapnya membuat Rei Na tak bisa membalas tatapan namja di depannya. Rei Na merasa tatapan suaminya kali ini sangat berbeda dari biasanya. Jujur ia takut dengan tatapan Jaejoong yang satu ini. Ia berusaha menatap Jaejoong dan bertanya ada apa dan kenapa menatapnya seperti itu.

“Tidak ada apa-apa. Hanya sedang memikirkan pekerjaan di kantor saja.” Jawab Jaejoong datar. Rei Na menghela nafas.

“Benar? Apa bukan karena aku terlambat bangun? Aku minta maaf. Aku semalam terlalu banyak pikiran jadi sulit tidur.” Ucap Rei Na.

‘Memikirkan bagaimana cara menemukan putriku lalu membunuhnya setelah itu mencari cara membunuhku untuk mendapatkan semua hartaku? Jangan pernah bermimpi. Kau tak akan pernah berhasil.’

“Hmm benar hanya memikirkan pekerjaan kantor. Aku pergi dulu sudah terlambat.” Jaejoong pun pergi.

Rei Na menatap punggung Jaejoong. Perasaannya tiba-tiba tak enak. Ia langsung menelepon pengawal untuk mengawal Jaejoong hari ini tapi pengawal itu mengatakan kalau Jaejoong tak mau di kawal siapapun hari ini dan menyuruh semua pengawal untuk berjaga-jaga di rumah. Rei Na cukup kaget mendengarnya, tak biasanya suaminya itu menyuruh semua pengawal berjaga-jaga di rumah.

“Aku harus menanyakan padanya nanti.” Gumam Rei Na lalu ia pergi mandi untuk bersiap-siap pergi menemui anak buahnya. Ia akan meminta semua anak buahnya mencari Hee Young hidup-hidup mulai hari ini dan pencarian yeoja itu harus di lakukan 24 jam penuh. Ia ingin membunuh Hee Young dengan tangannya sendiri.

Saat bertemu dengan anak buahnya Rei Na langsung memerintahkan mereka untuk mencari Hee Young. Sejak bertemu dengan yeoja yang mirip Hee Young kemarin Rei Na semakin takut kalau nanti tiba-tiba Hee Young datang dan menghancurkan semua rencananya.

Rei Na mulai cemas dan tidak bisa lepas memikirkan Hee Young. Ia juga teringat Sang Woo yang hingga sekarang belum juga di temukan. Rei Na mulai menyimpulkan kalau namja itu sudah meninggal. Ia memutuskan untuk pergi ke salon agar rasa cemasnya hilang sejenak.

 

—-

 

Hee Young duduk di ruang tengah sambil menonton tv. Ia bosan seharian di rumah dan tidak di perbolehkan keluar oleh Yunho ajusshi. Yunho ajusshi melarang keras ia keluar karena akan berbahaya untuknya jadi ia menurutinya walaupun tahu akan bosan seharian di rumah tanpa melakukan apapun. Hee Young menghela nafas berkali-kali sambil mengganti saluran tv.

Tak lama ia teringat Yuchun. Ia pun menelepon namja itu karena ia merindukannya. Sekali tak diangkat membuat Hee Young menelepon namja itu berkali-kali dan barulah saat Hee Young menelepon untuk ke 10 kalinya diangkat oleh namja itu.

“Lama sekali.” Protes Hee Young.

“Mian, aku masih tidur. Ada apa?” Jawab Yuchun dengan suara serak khas orang baru saja bangun tidur.

“Datang ke rumah. Aku bosan disini, hanya sendirian dan tidak di perbolehkan keluar oleh Ajusshi. Aku juga merindukanmu.” Pinta Hee Young. Ia berharap Yuchun mau datang dan menemaninya di rumah.

“Tapi nanti kalau appa-mu dan Ajusshi-mu tahu aku kerumah bagaimana? Aku di suruh libur oleh appamu sementara ini. Mungkin sampai rencana berikutnya di susun.” Tolak Yuchun halus. Hee Young kecewa dengan jawaban Yuchun.

“Tidak apa, nanti kalau ketahuan aku yang akan bilang pada mereka. Ayolah datang ya. Kutunggu.” Hee Young langsung memutuskan sambungan telepon itu dan menunggu Yuchun datang. Ia harap Yuchun datang jadi ia bisa memeluk erat namja itu. Hee Young benar-benar merindukannya. Ia mulai tersenyum membayangkan Yuchun datang. Tak lama ia berlari ke kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian super mini.

Setelah mengganti pakaiannya dan menunggu selama 30 menit Yuchun pun benar-benar datang menemuinya. Namja itu datang dengan menyamar. Hee Young membuka penyamaran Yuchun dengan cepat dan sedikit memaksa lalu memeluk namja itu erat.

“Bogoshippo.” Ucapnya sambil tetap memeluk namja itu. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Yuchun. Ia tersenyum saat Yuchun membalas pelukannya.

“Nado.” Balas Yuchun. Hee Young melepaskan pelukannya dan menatap wajah namja yang ia rindukan itu. Ini pertama kalinya Hee Young bisa berduaan dan berpelukan lagi sejak di temukan oleh Yunho ajusshi dan appa-nya. Ia memejamkan matanya saat merasakan belaian yuchun di pipinya.

Saat Hee Young akan membuka matanya tiba-tiba Yuchun menciumnya lembut. Hee Young menerimanya dengan senang hati dan membalas ciuman itu. Tangannya ia kalungkan di leher namja itu dan sedikit menekannya agar ciuman namja itu tidak lepas dan semakin dalam.

Keduanya terus berciuman untuk melepaskan rasa rindu mereka. Tangan Yuchun mulai mengelus punggung yeoja-nya dan sesekali meremas bokong Hee Young. Yuchun terus memeluk Hee Young ke dalam dekapannya. Jujur ia pun sangat merindukan berduaan dengan Hee Young. Saat datang ia cukup kaget melihat pakaian Hee Young yang sangat mini. Pakaian yang hampir memperlihatkan seluruh tubuh mulus yeoja-nya, Hee Young hanya memakai hotpants dan tanktop.

Saat tahu Hee Young kehabisan nafas Yuchun pun melepaskan ciumannya dan melihat yeojachingunya terengah-engah. Walaupun kehabisan nafas karena ciumannya yang  tanpa henti tapi yeoja di depannya masih bisa tersenyum bahagia sambil menatapnya. Yuchun pun mengelus rambutnya dan mencium kening Hee Young dengan lembut. Ia merasa beruntung bisa memiliki Hee Young.

Yuchun merasakan kalau sifat nakalnya mulai keluar. Ini karena pakaian Hee Young yang sangat menggoda dan juga karena ia merindukan yeojachingunya. Perlahan tangannya mulai turun meraba bokong Hee Young. Tak ada penolakan dari yeoja itu membuat Yuchun terus merabanya, Hee Young baru bereaksi saat ia meremas bokong yeoja itu dengan gemas. Reaksi Hee Young menurut Yuchun sangat menggemaskan.

“Kau tak suka?” Tanya Yuchun. Hee Young  menggelengkan kepalanya.

“Mian, aku gemas denganmu. Selain itu kau juga menggoda. Ada apa dengan pakaianmu hari ini? Apa kau memakai pakaian seperti ini setiap hari?” Yuchun tak suka jika Hee Young memakai pakaian mini seperti ini setiap hari. Hee Young kembali menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya pakai hari ini saja, aku jarang memakai pakaian mini seperti ini. Aku memakainya karena yakin kau akan datang. Kau menyukainya?” Hee Young menunduk karena sadar wajahnya memerah. Entah kenapa tiba-tiba saja ia malu. Yuchun memegang dagunya hingga ia mendongakkan kepala menatap Yuchun.

“Aku suka, gumawo. Tapi gara-gara pakaianmu ini sifat nakalku keluar.” Ucap Yuchun sambil terus meraba dan meremas bokong Hee Young. Lagi-lagi Hee Young memberikan reaksi saat Yuchun meremas bokongnya. Hal itu malah membuat Yuchun terus melakukannya.

“Aku suka eranganmu.” Bisik Yuchun di telinga Hee Young. Yeoja itu memukulnya pelan.

Saat Yuchun akan kembali mencium Hee Young, yeoja itu malah mengajaknya duduk di ruang tengah dan membawakannya makanan dan minuman. Yeoja itu memeluknya sambil menonton tv. Yuchun menghela nafas panjang lalu mengelus pelan rambut yeojachingunya itu.

‘Kau berniat memakai pakaian ini untuk menggodaku tapi setelah aku tergoda olehmu kau malah minta di temani nonton tv. Aku ingin bermesraan denganmu. Kedepannya mungkin akan semakin sulit untuk kita berduaan seperti ini.’ Batin Yuchun lalu ia menghela nafas lagi.

Hee Young mendongakan kepalanya dan menatap Yuchun dengan bertanya-tanya. Yuchun hanya tersenyum melihatnya lalu mencium kening Hee Young. Ia menyandarkan kembali kepala yeoja itu di dada bidangnya.

“Ada apa? Kau menghela nafas terus.” Tanya Hee Young bingung. Ia mengelus-elus dada Yuchun.

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Yuchun lalu memeluk erat yeojachingunya itu. Ia berpikir untuk menekan sifat egois dan pemaksanya untuk sementara waktu.

Keduanya menghabiskan waktu berdua dengan menonton dan mengobrol. Hee Young sangat senang karena bisa berduaan dengan Yuchun. Rasa rindunya pada namja itu terobati hari ini. Hee Young mencium pipi Yuchun lalu tak lama ia memasang wajah kesal karena Yuchun mengatakan akan pulang. Ia masih ingin namja itu di sampingnya. Ia menahan Yuchun agar tidak pulang.

“Bagaimana kalau Ajusshi-mu dan appa-mu datang? Aku tidak bisa mengatakan apa-apa pada mereka jika hubungan kita terbongkar karena statusku.” Ucap Yuchun. Hee Young diam dan memanyunkan bibirnya. Yuchun memang pernah mengatakan hal itu sebelumnya dan ia setuju untuk merahasiakan hubungan mereka. Ia menunduk lalu memeluk Yuchun erat.

“Mianhae.” Ucapnya pelan. Yuchun membalas pelukan Hee Young lalu pamit pulang. Sebelum pulang Hee Young memintanya untuk mencium yeoja itu dan ia pun menurutinya karena terlihat dari mata Hee Young kalau yeoja itu masih belum mau ia pulang.

“Gumawo. Satu permintaan lagi, boleh?” Tanya Hee Young ragu. Yuchun mengangguk pelan. Ia bisa memaklumi sifat Hee Young yang sangat manja sekarang ini.

“Berikan aku sesuatu yang kau pakai.” Pinta Hee Young. Yuchun mengerutkan keningnya tak mengerti.

“Jika aku rindu padamu lagi dan kita sulit untuk bertemu aku bisa memakai barang milikmu. Jadi aku tak kesepian lagi karena barang milikmu kupakai.” Jelas Hee Young.

“Seolah-olah aku ada di sampingmu?” Tambah Yuchun yang di jawab anggukan oleh Hee Young. Yuchun tersenyum mendengarnya.

“Mianhae aku bersifat manja dan egois. Aku akan berusaha keras agar sifatku itu hilang.” Ucap Hee Young meminta maaf atas sikapnya. Yuchun mengelus rambut Hee Young.

“Kau mau barangku yang mana? Tak ada yang bisa kuberikan padamu. Semua yang kupakai bukanlah barang berharga yang bagus.” Yuchun menatap dirinya sendiri bingung apa yang harus ia berikan. Tak lama Hee Young menunjuk pada jaket yang tengah ia pakai. Yuchun tak percaya Hee Young memilih jaket yang baginya tak berharga sama sekali itu.

“Jaket yang kau pakai. Aku ingin itu agar bisa kupakai saat aku merindukanmu. Boleh?” Hee Young menatap Yuchun sambil tersenyum malu. Yuchun melepaskan jaket yang di pakainya membuat Hee Young tersenyum senang. Namja itu memberikan jaketnya pada Hee Young dan Hee Young langsung memeluk jaket itu. Tak lama Hee Young lari ke lantai atas dimana kamarnya berada. Ia mengambil jaket/hoodie dan hadiah kecil untuk Yuchun.

Hee Young memberikan jaket/hoodie kesayangannya dan hadiah kecil itu pada Yuchun. Ia mencium bibir Yuchun sekilas untuk berterima kasih.

Yuchun melihat Hee Young menggenggam erat jaket yang ia berikan. Ia teringat hal berharga miliknya yang tak pernah ia berikan pada siapapun termasuk mantan yeojachingunya yang terdahulu. Ia membuka kalung dengan liontin unik dan gelang warna hitam pemberian umma dan adik sepupunya. Ia memakaikan dua barang berharga itu pada Hee Young.

“Kalung ini pemberian umma saat aku pergi ke seoul untuk bekerja. Dan ini gelang dari adik sepupuku yang kuanggap sebagai adik perempuanku sendiri. Dia bilang ini gelang keberentungan. Simpan baik-baik.” Yuchun tersenyum saat memakaikan gelang itu pada Hee Young karena teringat adik sepupunya.

“Apa tidak apa-apa aku memakai ini? Ini kan dari orang-orang yang kau sayangi. Ini pemberian mereka untukmu.” Hee Young merasa tak enak dengan pemberian Yuchun yang satu ini. Yuchun menahannya saat ia akan melepaskan kalung dan gelang itu.

“Aku memberikan ini pada orang yang kusayangi dan kucintai. Kedua barang ini sangat berharga untukku jadi simpan baik-baik. Aku ingin kau memakainya.” Ucap Yuchun tersenyum. Hee Young pun mengangguk dengan wajah merah padam.

“Gumawo. Cepat pakai jaketnya dan pakai lagi penyamaranmu.” Yuchun pun memakai jaket kesayangan Hee Young dan memakai kembali penyamarannya. Ia melihat Hee Young seperti teringat sesuatu dan berlari meninggalkannya lalu kembali dengan membawa bungkusan yang cukup besar yang berisi makanan. Yuchun menatap Hee Young bingung.

“Aku sempat membuatnya untukmu. Kau pasti kesulitan mencari makanan di luar karena harus bersembunyi juga. Nanti aku akan mengirimkan makanan lagi ke tempatmu.” Hati Yuchun hangat karena perhatian kecil yang Hee Young tunjukkan padanya.

“Gumawo tapi sebaiknya kau tak perlu mengirimkan makanan. Berbahaya kalau appa dan ajusshi-mu curiga.” Ucap Yuchun berusaha menolak. Hee Young dengan mantap menggelengkan kepalanya.

“Mereka pasti tidak akan curiga. Terutama appa, aku pasti bisa membujuk appa dan tidak akan membuatnya curiga. Tenang saja.” Ucap Hee Young penuh percaya diri. Yuchun menghela nafas tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia melihat Hee Young sangat bersemangat hanya karena akan membuatkannya makanan jadi ia tak tega menolaknya lagi. Yuchun mencium kening Hee Young lalu berpamitan.

“Aku pulang dulu. Hati-hati. Gumawo untuk hadiah dan hoodienya.” Ucap Yuchun. Hee Young memeluk Yuchun.

“Saranghae, oppa.” Yuchun sedikit kaget saat Hee Young memanggilnya ‘oppa’ walaupun memang ia lebih tua dari Hee Young tapi yeoja itu tak pernah memanggilnya seperti itu. Dilihatnya wajah Hee Young yang memerah. Yuchun mencium Hee Young sekilas.

“Kau selalu berhasil membuatku terkejut dengan sifatmu yang menggemaskan ini. Nado saranghae, chagi.” Ucap Yuchun lalu tak lama ia benar-benar pergi.

Hee Young mengunci pintu dan pergi ke kamarnya. Ia langsung memakai jaket milik Yuchun. Hee Young benar-benar senang mendapatkan barang yang dipakai Yuchun. Ia ingin mengirimkan foro dirinya yang memakai jaket pada Yuchun tapi ia tidak memegang ponsel sejak pembunuhan itu. Ia meminta pada appanya untuk di belikan ponsel pun langsung di tolak appa-nya dengan alasan takut di sadap oleh anak buah Rei Na. Hee Young menghela nafas karena tak bisa memperlihatkannya pada namjachingunya.

Tak lama Yunho datang membuat Hee Young membuka jaket Yuchun dan turun ke bawah untuk menyapa ahjussinya itu. Namja di depannya menatapnya kaget dan tak suka. Hee Young menatap dirinya sendiri dan menyadari kalau ia masih memakai pakaian mini dan belum menggantinya. Ia menundukkan kepalanya tak berani menatap Yunho ahjussi karena ia tahu kalau ahjussinya itu tak suka jika ia memakai pakaian terbuka. Hee Young masih ingat jelas larangan dari Yunho ahjussinya itu, larangan itu sudah di terapkan namja di depannya sejak ia kelas 5 SD. Hee Young memberanikan diri lari ke kamarnya untuk mengganti pakaian.

Setelah mengganti pakaian Hee Young turun dan memeluk Yunho ahjussi agar namja itu tidak marah dan menghukumnya. Hee Young sangat takut jika Yunho ahjussi menghukumnya karena hukuman dari Yunho pasti tidak akan mudah baginya. Yunho ahjussi memang sangat keras dalam mendidiknya dalam hal apapun sejak ia kecil. Yunho ahjussi selalu bisa menempatkan mana waktu antara harus mendidiknya dan memanjakannya. Jujur Hee Young lebih takut pada amarah ahjussinya daripada appa-nya.

“Mianhae, ahjussi. Aku lupa mengganti pakaianku.” Ucap Hee Young meminta maaf. Ia masih memeluk Yunho ahjussi dan enggan untuk melepaskannya karena takut.

“Kenapa kau berpakaian seperti itu? Kau seperti wanita murahan dan hanya memakai pakaian dalam. Kau seperti telanjang.” Ucap Yunho keras. Ia merasakan kalau tubuh Hee Young bergetar dan seperti menahan tangis. Yunho masih tak bergeming karena Hee Young tak mengatakan apa-apa. Ia melepaskan pelukan Hee Young dengan sedikit paksaan. Dilihatnya wajah yeoja itu takut saat menatapnya, mata Hee Young pun terlihat ingin menangis.

“Ahjussi sudah bilangkan padamu untuk tidak memakai pakaian mini yang seperti pakaian dalam itu? Dan kau tahu alasannya kenapa. Masih tak mau memberitahu ahjussi kenapa kau memakainya?” Yunho menunggu jawaban dari Hee Young tapi yeoja itu masih diam membuatnya kecewa. Yunho pun menghela nafas.

“Baiklah terserah kau saja. Kau sudah besar dan ahjussi tidak bisa lagi menuntunmu ke arah yang seharusnya karena kau sekarang sudah bisa menentukan jalan hidupmu sendiri. Jalan hidup sesuai keinginanmu. Walaupun jujur ahjussi kecewa tapi ahjussi akan berusaha menerimanya.” Ucap Yunho. Walaupun hatinya juga sakit saat mengatakannya tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mendidik Hee Young. Selain itu juga umma Hee Young mengatakan padanya sebelum meninggal kalau jangan sampai Hee Young berpakaian mini sekalipun.

“Ahjussi tahu kalau didikan ahjussi membuatmu sangat tertekan dan pasti kau membencinya. Kau bebas sekarang. Ahjussi lupa kalau kau sudah dewasa. Maafkan ahjussi. Ini ambil. Ahjussi memilih sesuai yang kau sukai. Jangan takut dengan appa-mu. Biar nanti ahjussi yang berbicara dengannya.” Yunho memberikan ponsel yang ia beli khusus untuk Hee Young lalu pergi ke kamarnya. Ia membiarkan Hee Young di lantai bawah tanpa mempedulikan yeoja itu.

Yunho mandi dan memakai pakaian tidurnya. Ia berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit. Yunho merasa bersalah pada umma Hee Young karena tidak bisa memenuhi wasiat terakhirnya. Yunho memang keras mendidik Hee Young karena ia ingin melakukan yang terbaik untuk yeoja itu tapi sepertinya didikannya terlalu keras dan mungkin salah. Ia menghela nafas lalu memejamkan mata.

“Mungkin juga ini yang terbaik untukku agar bisa menghilangkan perasaan ini. Perasaan yang tidak seharusnya ada.” Yunho mematikan lampu utama dan hanya menyalakan lampu tidur. Tak lama ia mendengar pintunya di ketuk lalu suara Hee Young terdengar memanggilnya. Yunho sengaja mendiamkannya. Suara tangis Hee Young mulai terdengar dan yeoja itu memanggil-manggil nama Yunho dan meminta maaf. Yeoja itu juga meminta agar ia keluar menemuinya. Suara tangis Hee Young yang semakin keras membuat hati Yunho sakit tapi ia tak bisa melakukan apa-apa selain diam. Ia sudah memutuskan untuk melepaskan Hee Young dan hal itu tidak bisa ia tarik kembali. Yunho sudah membebaskan Hee Young dari didikan kerasnya selama ini dan Yunho rasa Hee Young memang sudah pantas mendapatkan kebebasan itu.

 

—-

 

Paginya Yunho bangun dan beraktivitas seperti biasa, mandi dan memakai pakaian untuk ke kantornya. Saat ia membuka pintu kamarnya ia melihat Hee Young tertidur di depan kamarnya. Di tangan yeoja itu ada ponsel pemberiannya dan kue ulang tahun yang ia pesan untuk di antar ke rumahnya semalam. Awalnya ia ingin merayakan ulang tahun Hee Young tepat jam 12 malam tapi kejadian tak terduga itu terjadi.

Hee Young terbangun saat Yunho akan mendekati yeoja itu. Yunho memasang wajah datarnya. Mata Hee Young terlihat sembab akibat menangis semalaman. Yeoja itu menatapnya dan berusaha tersenyum sebaik mungkin.

“Jangan pernah tidur di lantai depan kamarku. Pergilah kekamarmu dan tidur. Pikirkan kesehatanmu, kau akan sakit jika tidur di lantai.” Ucap Yunho lalu pergi meninggalkan Hee Young.

Yunho pergi ke dapur dan mengambil roti serta selai untuk sarapan. Saat tengah sarapan ia melihat Hee Young turun dan duduk di depannya. Yeoja itu sudah terlihat rapi. Yunho menyodorkan roti dan selai tanpa banyak bicara. Wajah cerah Hee Young tiba-tiba hilang saat melihatnya memberikan roti dan selai begitu saja tanpa berkata sedikitpun. Yunho melihat Hee Young mulai sarapan dengan lemas.

Selesai sarapan Yunho mengambil tas, jaket dan kunci mobilnya. Hee Young mengikutinya dari belakang membuatnya berhenti melangkah dan berbalik. Ia menatap Hee Young tanpa mengatakan apapun.

“Aku ingin mendengar wasiat dari umma.” Ucap Hee Young pelan. Yunho hampir lupa kalau setiap ulang tahun Hee Young, yeoja itu pasti akan mendengarkan wasiat dari ummanya. Umma yeoja itu memang memintanya untuk memberikan wasiat yang sudah di siapkan pada Hee Young. Satu wasiat setiap kali Hee Young berulang tahun.

Yunho  kembali berjalan dengan diikuti Hee Young. Yunho melihat yeoja itu memakai topi dan syal untuk menutup wajahnya. Selama perjalanan Yunho hanya diam dan tak merespon ucapan Hee Young sedikitpun.

Sampai di gedung tempat Yunho bekerja keduanya turun dan naik ke lantai 15. Yunho masuk dengan diikuti Hee Young, yeoja itu duduk dan menunggu. Wajah Hee Young terus menatapnya seperti ingin berbicara tapi ia tak pernah memberi kesempatan itu sedikitpun. Tak lama ia keluar dan pergi ke ruangan orang kepercayaannya. Yunho berbicara serius pada bawahannya itu dan memintanya untuk melakukannya dengan benar. Walaupun bawahan Yunho tampak ragu tapi mau tak mau menerimanya. Selesai berbicara Yunho dan orang kepercayaannya itu pergi ke ruangan Yunho untuk menemui Hee Young.

“Bawa dia keruanganmu, bicara di sana dan jelaskan dengan benar.” Ucapan Yunho membuat Hee Young bingung. Orang kepercayaan Yunho dengan sopan meminta Hee Young untuk pergi keruangannya sekarang. Hee Young menatap Yunho yang mengacuhkannya dan mulai sibuk dengan berkas-berkas yang ada di meja namja itu.

“Ahjussi, kenapa aku harus ke ruangannya? Ahjussi masih marah padaku? Mianhae, aku janji tak akan mengulanginya lagi.” Pinta Hee Young dengan sangat tapi sayang Yunho tak menggubrisnya.

“Ikut saja keruangannya. Kau akan tahu setibanya kau di sana.” Mendengar ucapan Yunho membuat Hee Young terdiam dan mulai keluar dari ruangan Yunho.

‘Ahjussi mendiamkanku, tak menatapku, dan memanggilku‘kau’ dengan nada yang sangat dingin. Ahjussi pasti marah sekali padaku. Apa yang harus kulakukan?’

Setibanya di ruangan orang kepercayaan Yunho yang bernama Jong Hyuk, Hee Young pun duduk dan mendengarkan penjelasan namja itu. Ia membelalakan matanya saat namja di depannya mengatakan kalau dia akan menjadi pengacaranya menggantikan Yunho ahjussi. Hee Young bertanya-tanya dalam hati kenapa Yunho ahjussi tak lagi jadi pengacaranya dan menyerahkan semuanya pada namja yang baru ia kenal itu.

“Apa kau tahu alasan kenapa Yunho ahjussi tak lagi jadi pengacaraku? Aku terbiasa di urus olehnya.” Ucap Hee Young.

“Beliau mengatakan kalau tidak bisa lagi mengurus anda dan wasiat dari mendiang ibu anda karena sibuk dengan pekerjaannya. Beliau memang seperti itu, jika sedang kewalahan dengan pekerjaannya dia akan mengalihkan pekerjaannya pada orang lain tapi ini pertama kalinya beliau menyerahkan berkas anda pada saya. Padahal sudah bertahun-tahun beliau menjadi pengacara anda.” Jawab Jong Hyuk. Jawaban Jong Hyuk membuat Hee Young tak percaya.  Hee Young  meminta namja itu untuk segera membacakan satu wasiat dari ummanya. Namja itu pun langsung membacakannya.

“Hee Young-a, kau sekarang pasti sudah besar dan cantik. Karena kau sudah besar ada hal yang akan umma katakan padamu. Sebenarnya umma meminta Yunho untuk mendidikmu jika appa menelantarkanmu dan memintanya untuk melarang keras kau berpakaian terbuka. Umma membenci pakaian seperti itu. Umma dulu pernah memakai pakaian terbuka tapi yang umma dapat hanya pelecehan, umma tak mau kau mengalaminya juga.” Hee Young mulai gemetar saat mendengarnya.

“Anda tidak apa-apa?” Tanya Jong Hyuk. Hee Young mengangguk dan meminta namja itu melanjutkannya.

“Umma tahu tanpa di minta pun pasti Yunho akan merawatmu dengan kasih sayang tapi yang umma takutkan kau tak menuruti Yunho. Umma harap kau terus menurutinya, mungkin sulit bagimu tapi tolong pikirkanlah dari sisinya yang pasti sangat sibuk dengan pekerjaan dan kehidupan pribadinya. Tapi jika kau kesulitan dengan didikan Yunho ataupun Yunho tidak bisa lagi  mendidikmu, umma mengijinkannya untuk memberikan tugas ini pada pengacara lain.”

“Umma harap kau bisa menjadi wanita yang sopan, anggun dan kau bisa menjaga kehormatanmu sampai kau menikah nanti. Umma tak bisa memberikan apa-apa selain meminta tolong pada Yunho untuk memberikan kasih sayang dan segala hal yang tidak bisa umma berikan langsung padamu. Maafkan umma. Selamat ulang tahun putriku sayang. Umma akan selalu menjagamu.” Mendengar wasiat atau bisa dibilang surat setiap tahun yang ia terima agar selalu mengingat ummanya itu membuat tubuh Hee Young lemas. Ia berdiri dan keluar dari ruangan Jong hyuk dan menghampiri ruangan Yunho tapi sayang namja itu tidak ada di ruangannya. Sekertarisnya bilang kalau Yunho menghadiri sidang.

Hee Young berusaha menelepon dan mengirim pesan pada Yunho dan berharap di balas. Sambil menunggu balasan, Hee Young duduk di ruangan Yunho. Ia mulai menangis dan meminta maaf pada ummanya dan Yunho. Ia kini merasa sangat berdosa pada mereka berdua. Orang-orang yang berusaha melindunginya dan mendidiknya dengan baik. Hee Young terus menangis sambil menyebut nama umma dan Yunho.

Hee Young menunggu hingga malam dan para karyawan di gedung itu sudah pulang hanya tinggal security di lantai bawah saja. Sekertaris Yunho sudah menyarankannya untuk pulang sejak tadi tapi Hee Young enggan pulang sebelum bertemu Yunho. Sudah berkali-kali ia berusaha menelepon dan mengirim pesan tapi tak ada yang di balas satu pun.

“Ahjussi mianhae.” Gumamnya.

Mata Hee Young tertuju pada pintu masuk di ruangan Yunho saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia berpikir mungkin itu Yunho yang datang. Hee Young menghela nafas saat melihat itu ternyata appa-nya. Appa-nya menghampirinya dan memeluknya lalu bertanya kenapa ia berada di ruangan Yunho sampai malam seperti ini.

“Appa tidak datang bersama Yunho ahjussi?” Tanyanya sambil melihat ke arah pintu berharap namja itu datang.

“Anni, appa sendirian. Appa tadi menelepon Yunho dan mengatakan kalau kau sepertinya masih di kantornya. Dia masih sibuk dengan kliennya. Ayo pulang.” Ucap Jaejoong lalu mengajak Hee Young pulang. Hee Young menurutinya tanpa banyak kata. Ia sebenarnya tadi ingin bertemu putrinya dan sudah berada di depan rumah Yunho tapi ia bingung karena rumah namja itu gelap dan tak ada yang membukakan pintu jadi ia menelepon Yunho untuk menanyakan keberadaan putrinya.

Selama perjalanan Jaejoong bingung karena Hee Young terlihat sangat murung. Ia bertanya apa yang terjadi tapi putrinya itu hanya menggelengkan kepalanya. Jaejoong yakin pasti terjadi sesuatu pada Hee Young dan ia ingin membantu putrinya itu sebisa mungkin. Sampai di rumah Yunho keduanya turun dan Jaejoong melihat Hee Young menghela nafas panjang dan semakin murung. Yeoja itu berjalan lemas kedalam rumah dan duduk di sofa. Jaejoong duduk di sebelah Hee Young dan bertanya sekali lagi apa yang terjadi padanya. Hee Young menatapnya sendu lalu memeluknya erat.

“Kumohon beri aku kekuatan, appa. Aku takut.” Ucap Hee Young. Jaejoong masih bingung dengan apa yang di katakan Hee Young tapi ia berusaha untuk menenangkan putrinya itu.

“Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Apa kau takut kalau Rei Na menemukanmu?” Tebak Jaejoong. Hee Young hanya diam saja dan terus memeluknya.

“Baru pulang?” Ucap Jaejoong saat melihat Yunho datang. Hee Young melepaskan pelukannya pada Jaejoong lalu menatap Yunho. Namja itu menatapnya seklias lalu beralih pada Jaejoong.

“Hmm, pekerjaanku hari  ini sangat banyak dan melelahkan. Bagaimana tentang rencana selanjutnya?” Tanya Yunho lalu duduk di sofa. Ia berusaha bersikap biasa saja.

“Appa, aku lelah. Aku ingin istirahat. Kalau ada yang bisa kubantu appa bisa langsung memberitahukanku nanti. Bagaimana? Boleh?” Hee Young menatap appa-nya sambil tersenyum. Appa-nya mencium keninganya.

“Tentu boleh, istirahatlah. Nanti appa beri kabar kalau kami butuh bantuanmu. Selamat ulang tahun putriku. Ini hadiah dari appa. Bukalah di kamar. Mian appa tidak bisa merayakan ulang tahunmu. Appa janji nanti kita akan merayakannya kalau semuanya sudah selesai.” Ucap Jaejoong sambil memberikan hadiah ulang tahun untuk putrinya. Hee Young mengangguk mengerti lalu pergi ke kamarnya dan membersihkan dirinya.

Setelah mandi dan mengganti pakaian Hee Young membuka hadiah dari appa-nya. Sebuah boneka beruang kecil favoritnya dan buku kecil. Ia membuka buku kecil itu dan membacanya. Buku itu tertulis permintaan maaf dari appa-nya yang selama ini menelantarkannya dan melewatkan hari-hari berdua dengannya. Semua yang di tulis appa-nya membuat Hee Young menangis. Selesai membaca Hee Young keluar kamar dan menghampiri appa-nya yang terlihat akan pulang. Ia langsung memeluk appa-nya itu sambil menangis.

“Wae? Ada apa? Kenapa kau menangis?” Tanya Jaejoong bingung. Ia mengelus punggung Hee Young agar isak tangis putrinya mereda.

“Aku menyayangimu, appa. Jangan meminta maaf. Terima kasih telah mencintai umma begitu besar.” Bisik Hee Young. Jaejoong kaget mendengarnya, ia terharu dengan ucapan Hee Young. ia di peluk erat oleh putrinya, hal itu membuat hati Jaejoong hangat tapi rasa bersalah karena sudah menelantarkannya semakin besar.

Jaejoong melepaskan pelukan Hee Young lalu menghapus air mata putrinya yang masih mengalir itu dan meminta Hee Young untuk tidak menangis lagi. Hee Young mencium kedua pipinya membuat ia hampir menangis karena ia merasa ini pertama kalinya Hee Young mencium pipinya setelah sekian lama.

“Gumawo. Mulai sekarang  appa akan selalu ada di sampingmu dan mendukungmu apapun yang terjadi. Kembalilah ke kamarmu dan istirahat. Appa akan pulang sekarang.” Hee Young menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan appa-nya.

“Aku ingin melihat appa masuk ke dalam mobil lalu pergi. Seperti yang umma lakukan dulu saat appa akan pergi bekerja.” Ucap Hee Young. Jaejoong tersenyum lalu mengangguk mengerti. Ia pun pergi lalu membalikkan badan melihat Hee Young terus menatapnya dari pintu utama rumah Yunho. Yeoja itu melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Kesedihan yang tadi ia lihat sudah tak tampak di wajah putrinya itu membuat Jaejoong sedikit lega. Ia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.

Hee Young menghela nafas melihat appanya pergi, ia tersenyum kecil dan bersyukur appa-nya sudah berubah dan sudah sepenuhnya kembali menjadi appa-nya lagi. Senyumnya hilang saat melihat Yunho. Ia sempat lupa kalau Yunho masih marah padanya dan ia belum menyelesaikan masalahnya dengan Yunho. Namja itu melewatinya begitu saja saat ia hendak berbicara. Hatinya sakit saat Yunho berubah seperti itu. Yunho merupakan orang yang sangat penting baginya, namja itu sudah membesarkannya dan sudah seperti umma, appa dan oppa baginya.

Hee Young menghampiri Yunho yang tengah berada di dapur. Ia menarik baju namja itu agar mendapatkan perhatiannya. Yunho menatapnya tajam, biasanya ia menunduk karena takut dengan tatapan itu tapi ia berusaha membalas tatapan Yunho itu.

“Ahjussi, masih marah? Maafkan aku. Aku sudah mengecewakan ahjussi dan umma. Aku tidak bisa menjadi yeoja seperti harapan umma dan ahjussi.” Ucap Hee Young. Ia berusaha menahan tangisnya.

“Aku tidak marah. Aku kan sudah bilang kau sudah dewasa dan sudah waktunya aku melepaskanmu. Kau bebas melakukan apapun sekarang. Tidurlah, ini sudah malam.” Yunho menepuk pundak Hee Young lalu pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Ia memegang dadanya yang terasa sakit karena memperlakukan Hee Young seperti itu.

“Ahjussi.” Panggil Hee Young dengan lirih tapi Yunho tak berbalik. Hee Young menaiki tangga dengan lemas dan semalaman tidak tidur. Ia terus menunggu dan memanggil nama Yunho dari depan pintu.

 

­***

 

Hubungan Yunho dan Hee Young sudah seminggu lebih tak ada perubahan. Hee Young terus meminta maaf dan berusaha berbicara dengan Yunho tapi sangat sulit karena ia merasa kalau Yunho menghindarinya. Appa-nya akhirnya tahu kalau ia dan Yunho tengah bertengkar. Hee Young mengatakan kalau ia yang salah karena tidak menurut dengan larangan Yunho dan ia akan menyelesaikan masalah ini sendirian. Hee Young pun meminta agar appa-nya tidak mengatakan apapun pada Yunho apa lagi membantunya menyelesaikan masalah ini.

Hee Young duduk di sofa ruang tengah dengan wajah frustasi. Ia sudah menggunakan segala cara tapi tak ada yang berhasil. Ia tahu kalau Yunho bersikap seperti ini karena ingin ia tahu kalau ia salah.

Ia berdiri dan pergi ke lantai atas dengan langkah gontai. Langkahnya terhenti di depan kamar Yunho. Hee Young membuka pintu kamar itu dan masuk. Senyumnya mengembang saat merasakan kehangatan Yunho di kamar itu. Hee Young mendekati ranjang Yunho dan berbaring di sana. Ia mulai menangis lagi dan memutuskan untuk menggunakan cara terakhir. Tangannya yang sejak tadi menggengam pisau mulai ia gunakan untuk melukai tangannya.

Hanya cara ini yang bisa Hee Young lakukan. Ia tahu caranya salah tapi ia tak tahu harus menggunakan cara apa lagi. Sikap Yunho padanya membuat hatinya sakit. Yunho merupakan orang yang sangat penting baginya. Sama pentingnya seperti appa-nya. Hee Young tak mungkin bisa senang lepas begitu saja dari Yunho yang sudah membesarkan dengan kasih sayang dan mendidiknya sejak kecil.

“Cara bodoh terakhir yang bisa kulakukan.” Gumamnya.

Yunho keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ia mengerutkan dahinya saat tak melihat sosok yeoja mungil di sofa ruang tengah. Ia hanya menghela nafas lega lalu pergi ke dapur seperti biasa.

“Akhirnya dia menyerah dan aku bisa perlahan menghilangkan perasaanku.” Ucap Yunho. Ia mengambil satu botol air mineral lalu pergi ke kamarnya.

Yunho membuka pintu dan cukup kaget saat melihat Hee Young tidur di kamarnya. Yunho menghela nafas panjang lalu menaruh tas dan botolnya di atas meja. Ia mendekati Hee Young dan duduk di samping ranjang.

“Bangun, kau tidak boleh tidur di sini. Kita bicarakan lagi nanti.” Ucap Yunho. Melihat Hee Young diam saja Yunho pun berinisiatif untuk menggendong yeoja itu dan membawanya ke kamar. Saat Yunho membuka selimutnya ia membelalakan matanya. Darah dimana-mana.

“Hee Young-a!!” Teriak Yunho. Ia menepuk-nepuk pipi Hee Young tapi yeoja itu tidak membuka matanya. Yunho pun langsung menggendong yeoja itu dan membawanya ke rumah sakit. 

TBC

 

mian klo ceritanya tambah aneh >.< saran n kritik are wellcome ^^

7 thoughts on “Love(s) a Guardian Angel Part 6

  1. Kyaa…
    Seneng bggtt..
    Finally klnjutan ff ini di publish jga..
    Udh lma nunggu x., aq sampai lumutan nih nungu x thor..
    Tpi aq ttp seneng koq thor
    #hehehe😀
    di tunggu next part x ya thor..
    ” JANGAN LAMA2 “

  2. eonni..
    kenapa jadi yunho ama heeyoung berantem😦
    kenapa yoochun cuman dikit?
    aaa semua jadi kenapa kan -_-
    eonni di tunggu kejelasan dan kelanjutan ff ini ya
    hahahaha
    gomawo eonni udah mau terus ngelajutin ff ini hahaha

    • di part ini emang sengaja Yuchun dikit hehehe…
      sebenernya udah ga ada feel sama FF ini (mungkin krn kelamaan ga di sentuh kmrn) tp eon usahain lanjut terus…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s