Love(s) a Guardian Angel Part 5


Title : Love(s) A Guardian Angel

Main Cast : Park Yoochun, Lee Hee Young

Rating :NC17     

Author : Lee Eun Ri

DON’T LIKE DON’T READ !!!

Happy Reading

Jaejoong bertemu langsung dengan pengacaranya dan membicarakan hasil yang di dapat pengacara Kim Woobin. Pengacaranya mengatakan kalau Hee Young dan bodyguardnya hilang seperti di telan bumi.

“Keduanya terlihat di gunung Odae dan beberapa gunung lain, penduduk sekitar mengatakan kalau mereka mendaki gunung hanya berdua. Setelah itu saya belum dapat informasi lagi. Keduanya hilang begitu saja di gunung terakhir yang mereka kunjungi.” Ucap Woobin melaporkan informasi yang ia dapat selama 3 hari pada Jaejoong.

Jaejoong terlihat cemas setelah mendengar informasi yang Woo Bin dapat.

“Kau sudah menyuruh tim mencari mereka?” Tanya Jaejoong. Woobin menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Jaejoong.

“Bagus. Kalau ada perkembangan hubungi aku langsung. Ingat, jangan memberitahukan istriku. Beritahu aku aktifitasnya jika datang ke kantor dan rahasiakan ini semua.” Ucap Jaejoong. Woobin kembali mengangguk lalu Jaejoong kembali ke ruangannya.

Ia duduk di kursi kerjanya sambil memegang kepala yang sakit. Jaejoong menyesal karena sudah menelantarkan Hee Young dan tidak bisa memenuhi wasiat istrinya yang terakhir untuk menjaga dan merawat Hee Young, putri mereka. Jaejoong membuka laci di meja kerjanya dan mengambil foto Eunri yang tengah menggendong Hee Young kecil.

“Sayang, maafkan aku. Aku terlalu egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Aku terlalu larut dalam kesedihan karena kau tinggal secara tiba-tiba. Aku tidak menjaga dan merawat putri kita dengan baik. Aku menelantarkannya. Maafkan aku.” Gumam Jaejoong sambil menatap foto itu.

“Beri aku kesempatan sekali lagi. Biarkan aku menemukan putri kita dan aku janji akan memperhatikannya dengan baik.” Gumamnya lagi. Jaejoong menaruh foto itu di atas meja.

“Kau dimana?” Ucap Jaejoong sambil menatap foto Hee Young.

Jaejoong kini benar-benar merasa seperti appa yang sangat jahat. Ia sangat frustasi menunggu informasi keberadaan Hee Young. Tak lama sekertarisnya datang membawa setumpuk pekerjaan yang enggan ia kerjakan.

Beberapa hari setelah mengetahui semuanya Jaejoong bersikap biasa saja pada Rei Na, ia tak menunjukkan kalau ia sudah tahu semuanya. Kini Jaejoong lebih berhati-hati pada istrinya. Ia pun kembali menyibukan diri dengan pekerjaan dan jarang menyentuh istrinya itu. Selain jijik pada Rei Na, Jaejoong juga tak mau mempunyai anak dari yeoja yang hendak membunuhnya dan putrinya. Jaejoong berpikiran seperti itu karena memang Rei Na sudah lama mengatakan ingin mempunyai anak darinya.

Jaejoong tak fokus bekerja dan menyerahkan pekerjaannya pada Jack, orang kepercayaannya di kantor. Jaejoong pergi keluar seorang diri dengan mengemudikan mobilnya. Ia berkeliling seoul untuk mencari putrinya, ia berharap bisa menemukan putrinya Hee Young. Setelah berjam-jam mencari memakai mobil tak mendapatkan apa-apa, Jaejoong memarkirkan mobilnya lalu mulai mencari dengan berjalan kaki.

Jaejoong mencari Hee Young ke setiap tempat, semua tempat ia datangi satu per satu. Hasilnya sama seperti tadi, Jaejoong tak menemukan putrinya. Ia berjalan menuju mobilnya dengan langkah lemas.

 

—-

 

Hee Young mengerutkan keningnya melihat appa-nya dari jauh yang sejak tadi seperti sedang mencari seseorang. Hari ini Hee Young memang terus mengawasi appa-nya sejak pagi. Hee Young bingung dengan perubahan appa-nya yang cukup drastis itu. Appa-nya terlihat sangat lelah dan sedikit kurus. Jujur Hee Young sedih melihat kondisi appanya yang sekarang, walaupun ia di acuhkan oleh appanya tapi di dalam lubuk hati Hee Young masih sayang pada appanya itu.

“Appa terlihat frustasi.” Gumamnya saat melihat appanya mengacak-acak rambut dengan wajah kesal.

“Sepertinya terjadi sesuatu, nona.” Tebak Yuchun. Hee Young menatap Yuchun bingung.

“Maksudmu?”

“Tidak biasanya bukan tuan bersikap seperti ini?” Hee Young mengangguk menjawab pertanyaan Yuchun.

Keduanya segera memanggil taksi begitu melihat appa Hee Young mengemudikan mobilnya. Hee Young menghela nafas panjang begitu melihat appa-nya kembali ke rumah. Jika appa-nya di rumah Hee Young sedikit sulit untuk mengawasinya jadi ia memutuskan untuk pulang saja.

Sampai di rumah kecilnya ia meminta Yuchun untuk menelepon Minho. Yuchun menurutinya dan mulai berusaha menelepon namja itu. Setelah berkali-kali berusaha menelepon akhirnya Minho mengangkat teleponnya.

“Yeoboseo, Minho-a.” Sapa Yuchun.

“Yuchun-a, ada apa? Terjadi sesuatu? Mian aku baru mengangkat teleponmu tadi aku sedang mengawal tuan besar.”

“Tidak terjadi apa-apa. Nona ingin bicara denganmu.” Ucap Yuchun.

“Minho?” Ucap Hee Young.

“Ne, nona.”

“Apa terjadi sesuatu pada appa?” Tanya Hee Young penasaran.

“Tuan? Saya tidak tahu pasti tapi yang jelas sejak beberapa hari yang lalu sikap tuan menurut saya sedikit berbeda dari biasanya. Tuan seperti memikirkan sesuatu yang sulit di pecahkan. Ahh…” Ucapan Minho yang tertahan tak membuat Hee Young merasa aneh. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah appa-nya.

“Bisakah kau mencari tahu apa yang terjadi pada appa? Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada appa.” Pinta Hee Young.

“Ak akan saya usahakan, nona. Tapi sekarang nona ada di mana? Apa nona baik-baik saja?” Tanya Minho takut dan gugup.

“Kau tak perlu tahu aku dan Yuchun ada dimana. Aku baik-baik saja. Nanti kutelepon lagi. Cepat cari tahu apa yang terjadi pada appa-ku.” Tak lama Hee Young menutup teleponnya dan mengembalikan ponsel itu pada Yuchun.

“Semoga Minho bisa secepatnya memberitahu keadaan tuan. Sekarang istirahatlah.” Ucap Yuchun. Hee Young mengangguk lalu memeluk Yuchun membuat namja itu kaget.

Sejak hari itu keduanya memang menjalin asmara sebagai sepasang kekasih tapi ada hal yang membuat Hee Young kesal sampai sekarang. Status diantara mereka belum mau Yuchun hapus dengan alasan itu pekerjaan dan tanggung jawabnya sejak awal sebelum memiliki perasaan itu. Jadi sampai sekarang Yuchun masih memanggil Hee Young dengan sebutan nona jika sedang berada di luar rumah.

Hee Young melepas pelukannya dan menatap Yuchun. Namja itu tersenyum dan mengecup keningnya.

“Semua akan baik-baik saja. Mandi dan istirahatlah.” Ucap Yuchun sopan namun tanpa embel-embel ‘nona’. Itu memang kesepakatan yang di buat Hee Young dan Yuchun. Jika berada di rumah Yuchun tak boleh memanggil Hee Young dengan sebutan nona.

Dengan manis Hee Young menuruti ucapan Yuchun untuk mandi dan istirahat. Saat sedang istirahat Yuchun menemaninya sampai ia tertidur, hal itu masih Yuchun lakukan karena ia masih suka bermimpi buruk tentang kejadian pembunuhan Sang Woo di hutan waktu itu.

 

—-

 

Rei Na duduk di sofa ruang baca, ia memegang buku sejak tadi tapi buku itu tak dibacanya. Pikirannya melayang pada Sang Woo yang sampai detik ini belum bisa ia temukan. Segala cara sudah ia lakukan tapi masih sulit untuk menemukan namja itu.

Ia frustasi dan ingin melampiaskannya tapi saat ia ingin melampiaskannya dengan bercinta dengan Jaejoong, namja itu selalu sibuk dengan pekerjaannya belakangan ini. Hal itu membuat Rei Na bertambah kesal.

Rei Na sama sekali tidak curiga dengan Jaejoong yang tiba-tiba sibuk dengan pekerjaannya. Ia hanya berpikir memang mungkin kini Jaejoong sedang sibuk-sibuknya di kantor.

“Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?” Gumamnya pelan.

“Apa harus membuat rencana cadangan jika Sang Woo tidak juga muncul?” Gumam Rei Na lagi.

Tak lama Rei Na mengambil buku note miliknya lalu mulai menuliskan beberapa rencana yang akan ia lakukan kalau Sang Woo tak juga muncul. Beberapa rencana yang ia buat ada yang sesuai dengan rencana Sang Woo sebelum namja itu hilang. Ia yakin jika memakai rencana Sang Woo dan di padukan dengan idenya, semua rencana akan berjalan dengan mulus. Tentunya asalkan anak buahnya tak ada yang berkhianat.

“Kalau begini pasti berhasil.” Ucap Rei Na sambil tersenyum senang. Ia menutup note itu dan langsung menelepon anak buahnya untuk membawa Hee Young hidup-hidup jika mereka menemukannya. Rei Na juga memberitahukan tentang rencana yang baru saja ia buat pada anak buahnya dan meminta mereka melaksanakan semua rencana sesuai perintahnya.

Sementara itu Jaejoong mengepalkan tangannya di balik pintu. Ia sejak tadi mendengar pembicaraan Rei Na di ruang baca. Jaejoong pergi ke kamarnya dan segera mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian biasa. Ia menatap keluar jendela dan tak lama seseorang mengetuk pintu kamarnya. Jaejoong menyuruh orang di balik pintu untuk masuk.

“Tuan.” Ucap salah satu namja yang selalu mengawalnya. Jaejoong berbalik dan melihat Minho menunduk tanpa berani melihatnya. Ia berjalan melewati pengawalnya itu dan tentunya Minho mengawalnya.

“Kau tak perlu mengawalku. Minho yang akan mengawalku.” Ucap Jaejoong pada salah seorang pengawalnya. Pengawalnya itu hanya bisa mengangguk dan Jaejoong pun pergi. Kunci mobil ia berikan pada Minho agar namja itu yang menyetir mobilnya.

Minho mengemudikan mobil ke tempat yang diinginkan Jaejoong. Sampai di tempat tujuan ia dan Jaejoong keluar lalu masuk ke dalam gedung itu. Sampai di depan pintu Jaejoong menghentikan langkahnya dan menatap Minho. Ia menadahkan tangan dan Minho yang tahu apa yang ia maksud langsung memberikan apa yang ia inginkan. Jaejoong masuk dan menyuruh Minho menunggu di luar.

Saat Jaejoong masuk Minho langsung bergumam frustasi, ia takut kalau semuanya berantakan karena kecerobohannya. Jaejoong memergokinya tengah berbicara di telpon tadi.

Jaejoong masuk ke ruangan Yunho dan memberikan ponsel Minho pada namja itu. Yunho menatapnya bingung.

“Cek dimana lokasi nomor terakhir yang masuk. Itu sepertinya nomor Hee Young atau Yuchun. Tadi aku memergoki salah satu pengawalku yang mencurigakan. Dia memanggil ‘nona’ dan kupikir itu Hee Young.” Ucapan Jaejoong membuat Yunho tak percaya. Yunho langsung menyuruh orang kepercayaannya untuk mengecek lokasi terakhir dari nomor itu.

“Anda sudah mengintrogasi pengawal itu?” Tanya Yunho. Jaejoong pun menggelengkan kepalanya.

“Bolehkah saya memanggilnya dan bertanya padanya di depan anda?” Jaejoong kali ini mengangguk membuat Yunho langsung memanggil pengawal itu.

Ketiganya duduk dan Yunho menatap Minho yang kini tengah menundukkan kepalanya. Namja itu terlihat berusaha setenang mungkin.

“Yang berbicara denganmu di telepon tadi Hee Young?” Tanya Yunho. Minho menjawabnya dengan sebuah anggukan. Jaejoong yang melihatnya terperanjat tak percaya.

“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Jaejoong cepat. Minho menatap Jaejoong takut.

“Nona menanyakan apakah terjadi sesuatu pada tuan.” Jawab Minho jujur.

“Hanya itu?”

“Ne.” Jawab Minho.

“Katakan pada kami semua yang kau tahu.” Ucap Yunho. Minho membelalakan matanya. Ia menatap Jaejoong dan Yunho bergantian. Jaejoong menghela nafas panjang.

“Katakan atau kurobek mulutmu!! Jangan kau sembunyikan apapun tentang putriku dariku.” Ucap Jaejoong tak sabar. Minho pun ketakutan melihat Jaejoong emosi seperti itu. Ia memejamkan mata dan bergumam.

“Nona, Yuchun-a, mianhae aku tidak bisa menjaga rahasia ini lagi.” Gumam Minho.

“Nona dan Yuchun tengah bersembunyi dari nyonya besar yang akan membunuhnya.” Ucap Minho. Ucapan pembuka Minho cukup membuat kedua namja di depannya kaget.

“Awal kepergian nona dari rumah untuk naik gunung. Tapi cerita yang kudengar dari Yuchun, di tengah perjalanan saat menuju hutan keduanya bertemu Sang Woo yang ternyata membuntuti mereka sejak awal perjalanan. Sang Woo berusaha membunuh nona tapi Yuchun menghadangnya lalu nona…” Ucapan Minho terhenti untuk melihat reaksi kedua namja yang lebih tua darinya itu.

“Lalu apa? Jangan potong ceritamu seperti itu!!!” Ucap Jaejoong kesal.

“Lalu nona memukul kepala Sang Woo dengan batu besar untuk menolong Yuchun. Sang Woo tewas.” Ucapan terakhir Minho membuat Jaejoong dan Yunho sangat kaget. Mereka berdua sulit untuk mempercayainya tapi wajah Minho tak ada sedikitpun kebohongan.

“Setelah berunding, nona dan Yuchun memutuskan untuk bersembunyi dan menjaga tuan dari jauh. Yuchun bilang awalnya nona ingin menyerahkan diri tapi berhubung keduanya tahu rencana nyonya jadi Yuchun menghentikan niat nona.” Ucap Minho lagi. Jaejoong mengerutkan keningnya.

“Menjagaku?” Jaejoong memperjelas apa yang ia dengar. Minho mengangguk.

“Ne, menjaga tuan dari jauh. Selama ini nona menjaga tuan dari jauh ketika tuan sedang berada di luar rumah. Jadi diluar rumah tak hanya saya yang menjaga tuan tapi nona pun ikut menjaga dan mengawasi tuan. Saat di rumah, saya yang 100% menjaga tuan dan mengawasi gerak gerik nyonya serta anak buahnya. Nona benar-benar takut terjadi sesuatu pada tuan.” Ucap Minho menjelaskan. Hati Jaejoong bergetar mendengar kalau putrinya selama ini mengawasinya dari jauh.

“Mmmm …”

“Katakan apa yang kau tahu.” Ucap Jaejoong yang kini suaranya tak seemosi tadi.

“Sebaiknya tuan tak mempercayai orang rumah. Baik itu tentunya nyonya maupun pelayan dan pengawal. Saya tidak tahu seberapa banyak anak buah nyonya di rumah tapi Yuchun pernah bilang kalau hampir semua orang yang bekerja di rumah tuan itu anak buah nyonya.” Ucap Minho.

“Saya dan Yuchun pernah diajak untuk menjadi anak buah nyonya tak lama setelah kami di terima sebagai pengawal tuan. Tapi kami menolaknya.” Ucap Minho lagi.

Minho mengatakan semua yang ia tahu dan pernah dengar secara tak sengaja. Ia pun memberitahukan tentang rencana nyonya yang akan membunuh nona lalu setelah itu membunuh Jaejoong.

“Benar-benar gila.” Ucap Yunho setelah mendengar cerita Minho.

“Yuchun pernah cerita kalau nona sudah tahu kebusukan nyonya sejak dulu. Sepertinya nona banyak cerita pada Yuchun. Saya tahu banyak dari Yuchun karena dia menceritakannya pada saya.” Ucap Minho menambahkan apa yang lupa ia katakan. Ia pun kembali menceritakan detailnya pada Jaejoong dan Yunho.

Setelah mendengar semuanya Jaejoong mengepalkan tangannya dan meninju sofa dengan keras. Ia benar-benar marah kali ini dan siap untuk membunuh siapapun yang mengkhianatinya. Yunho menepuk pundak Jaejoong agar Jaejoong mengendalikan emosinya.

“Kau tahu dimana Hee Young dan Yuchun tinggal?” Tanya Yunho.

“Tidak tuan. Hanya sempat bertemu satu kali dan itu pun mereka berdua menyamar.” Jawab Minho.

“Jangan pernah kau sekali-kali mengkhianatiku seperti mereka. Akan kubunuh mereka satu per satu jika menyakiti putriku.” Ucap Jaejoong. Minho mengangguk cepat.

Tak lama orang suruhan Yunho datang untuk mengembalikan ponsel dan mengatakan informasi akan siap 15 menit lagi. Belum ada 5 menit di kembalikan ponsel Minho bordering. Minho membelalakan matanya saat melihat ID callernya. Ia menatap Jaejoong dan Yunho, keduanya menyuruhnya untuk mengangkatnya. Minho pun menghela nafas panjang dan mengangkat telepon itu. Ia menloadspeakernya karena Jaejoong menyuruhnya.

“Yeoboseo.” Sapa Minho.

“Ya, Minho-a, bagaimana? Kau sudah tahu apa yang terjadi pada appa-ku?” Tanya Hee Young langsung saat Minho mengangkatnya.

“Be belum nona.” Jawab Minho asal karena tak tahu harus menjawab apa.

“BODOH! Kenapa masih belum? Kau kan pengawalnya. Kenapa tidak tahu appa-ku bisa jadi frustasi dan kurus begitu???” Ucap Hee Young sambil berteriak.

“Maaf nona. Kenapa nona tidak tanyakan langsung pada tuan? Saya tidak berani menanyakannya.” Ucap Minho. Dan kembali ia di hadiahi sebuah teriakan dari Hee Young.

“Kau BODOH hah? Kau lupa kalau appa sudah menelantarkanku selama bertahun-tahun? Kalau aku telepon pun mana mungkin dia mengangkatnya, dia tidak pernah mengangkat telepon dariku!!! Aku ini hanya pembunuh umma baginya, tidak lebih.” Ucap Hee Young. Minho hanya bisa diam mendengar ucapan Hee Young kali ini.

“Aish pria tua itu sudah menelantarkanku sekarang malah senang membuatku khawatir. Walau appa berbuat seperti itu padaku tetap saja aku menyayanginya, aku bohong jika mengatakan membencinya. Menyebalkan!!” Terdengar suara tangis yang berasal dari suara Hee Young.

“Minho-a, mian tadi aku membentakmu. Aku khawatir pada appa. Aku takut wanita busuk itu berbuat sesuatu pada appa. Tolong beritahu aku kenapa appa bisa seperti itu, ok? Sekarang aku tak peduli jika appa masih menganggapku sebagai pembunuh umma yang penting bagiku sekarang appa baik-baik saja. Lakukan tugasmu seperti biasanya. Aku dan Yuchun sedang merencanakan sesuatu.” Ucap Hee Young.

“Rencana? Rencana apa nona?” Tanya Minho penasaran.

“Kalau sudah selesai merencanakannya Yuchun akan memberitahumu. Yang jelas jika rencana ini berhasil aku bisa menyerahkan diri ke polisi untuk menebus dosaku. Dosaku yang membunuh Sang Woo juga membunuh umma. Sepertinya penjara tempat yang tepat untukku. Aku tak usah lagi melihat wajah appa yang selalu menatap jijik padaku dan appa tak usah melihat wajahku yang membunuh umma. Tolong beritahu aku jika ada sesuatu, Minho-a.” Ucap Hee Young lalu menghela nafas.

“Ne, saya pasti akan memberitahu, nona. Kalau butuh sesuatu katakan saja nona. Saya berada di pihak nona jadi nona tak sendirian lagi, kan ada saya dan Yuchun.” Ucap Minho memberi semangat. Terdengar kekehan dari Hee Young.

“Ne kau benar. Sekarang di sisiku ada kau, Yuchun dan mungkin Yunho ajusshi. Kututup dulu Minho-a. Gumawo.” Tak lama sambungan telepon itu pun terputus.

“Minho, kau tunggu diluar sebentar.” Perintah Yunho. Minho mengangguk lalu keluar. Yunho menatap Jaejoong yang kini hanya diam dengan wajah sedih.

‘Yunho ajusshi? Aish kenapa dia memanggilku ajusshi. Apa aku setua itu baginya?’ Batin Yunho. Pikiran pun kini tidak fokus, ia hanya memikirkan Hee Young. Tak lama ia fokus pada Jaejoong lagi.

“Anda tidak apa-apa?” Tanya Yunho berusaha menyadarkan lamunan Jaejoong.

“Ah ne, aku tidak apa-apa.” Jawab Jaejoong setelah sadar.

Tak lama orang kepercayaan Yunho datang dengan informasi lokasi dimana Hee Young berada. Yunho menyuruh orang kepercayaannya itu untuk tutup mulut dan kembali bekerja. Yunho menyarankan pada Jaejoong untuk pergi menemui Hee Young sekarang juga sebelum anak buah Rei Na mendahuluinya. Jaejoong setuju dan mereka pun pergi. Awalnya Jaejoong menyuruh Minho kembali tapi Yunho menahannya agar Rei Na tak curiga kalau Minho hanya pulang seorang diri. Akhirnya Minho ikut dengan Jaejoong dan Yunho.

Sampai di rumah kecil dan kumuh yang sesuai dengan informasi yang di terima, ketiganya pun turun. Yunho berjalan terlebih dahulu untuk memastikan apakah benar Hee Young ada di rumah itu atau tidak. Sementara Jaejoong dan Minho masih berada di samping mobil sambil menatap sekeliling dengan tidak percaya. Yunho mengetuk pintu berkali-kali tapi tak ada seorang pun yang membukanya. Ia pun melangkah menjauhi rumah itu tapi tak lama ia mendengar pintu terbuka. Yunho tersenyum karena Hee Young ada di hadapannya. Yeoja itu tersenyum cerah saat melihatnya.

“Yunho Ajusshi?” Ucap Hee Young tidak percaya. Ia pun berlari ke arah Yunho dan memeluk namja itu erat. Namja yang selalu berada di sampingnya sejak kecil.

“Kau kemana saja? Kenapa tidak menghubungiku?” Tanya Yunho sambil membalas pelukan Hee Young.

Jaejoong melihat pemandangan itu dengan hati terluka. Baru kali ini ia melihat putrinya tersenyum cerah seperti itu. Hee Young pun tak sadar akan kehadirannya. Jaejoong menatap sedih ke arah Hee Young lalu tak lama ia mendekati putri satu-satunya itu.

Hee Young melepaskan pelukannya pada Yunho saat melihat appa-nya. Appa-nya berjalan menghampirinya tapi Hee Young melangkah mundur karena takut. Appa-nya menatapnya sedih, baru kali ini Hee Young melihat wajah appa-nya seperti itu. Ia biasanya hanya melihat wajah acuh dan dingin dari appa-nya itu.

“Appa.” Ucap Hee Young pelan.

“Appa mohon jangan menjauh.” Pinta Jaejoong saat melihat Hee Young terus melangkah mundur dengan wajah takut. Hee Young pun menghentikan langkahnya saat mendengar permintaannya. Jaejoong memegang kedua pipi putrinya itu lalu mengecup kening Hee Young untuk pertama kalinya sejak sekian lama.

“Maafkan appa. Appa sudah jahat padamu.” Jaejoong pun tak kuasa menahan air matanya lagi. Ia menangis di hadapan putri satu-satunya. Di peluknya Hee Young dengan erat.

“Maukah kau memaafkan appa?” Sebuah anggukan kecil dari Hee Young membuat Jaejoong mempererat pelukannya.

Tak lama Yunho sedikit menganggu Jaejoong dan Hee Young. Ia mengatakan jika sebaiknya masuk ke dalam dulu agar lebih nyaman. Yunho pun menyuruh Minho dan Yuchun masuk. Ketiganya duduk di sofa kecil sedangkan Hee Young dan Jaejoong berada di kamar yeoja itu. Yunho yang menyarankan mereka berdua untuk berbicara empat mata agar lebih leluasa dan nyaman. Sementara menunggu Jaejoong dan Hee Young, Yunho mengintrogasi Minho dan Yuchun mengenai Rei Na dan semuanya.

Di dalam kamar Hee Young, Jaejoong masih terus memeluk putrinya itu. Ia enggan melepaskan pelukannya tapi Hee Young melepaskannya dengan halus lalu menatapnya dengan mata sembab karena menangis juga sepertinya. Jaejoong mencium kening dan pipi Hee Young  tanpa bosan. Di elusnya rambut putrinya itu dengan lembut.

“Maafkan appa. Selama ini appa terlalu egois, terlalu mementingkan diri sendiri. Appa terlalu larut dalam kesedihan karena di tinggal umma-mu. Wanita yang sangat appa cintai hingga detik ini.” Ucapan Jaejoong itu membuat Hee Young membelalakan matanya kaget.

“Masih mencintai umma?” Tanya Hee Young memperjelas apa yang ia dengar. Jaejoong mengangguk sambil tersenyum.

“Appa menikahi Rei Na hanya sebagai pelampiasan karena sulit melupakan kesedihan di tinggal umma-mu.” Ucap Jaejoong.

“Kau semakin mirip ummamu.” Ucap Jaejoong sambil menatap wajah Hee Young. Hee Young melihat ada kerinduan yang sangat besar di mata appanya. Hee Young menghela nafas sebelum memberanikan diri bertanya.

“Apa karena wajahku mirip dengan umma, appa menjauhiku?” Tanya Hee Young hati-hati. Jaejoong mengangguk dengan sedih.

“Maafkan appa, alasan appa memang terdengar konyol. Tapi bukan hanya wajahmu yang mirip umma tapi sikap dan tingkah lakumu mirip dengannya.” Jawab Jaejoong.

Hee Young menangis saat mendengar jawaban appa-nya. Bukan menangis sedih tapi senang karena alasan appa-nya bukanlah karena membencinya akibat membunuh umma seperti yang selama ini ia kira. Selain itu Hee Young pun senang karena hingga kini appa-nya masih mengingat umma. Ia baru tahu kalau cinta appa pada umma-nya sangatlah besar. Hee Young menghapus air matanya lalu mencium pipi appa-nya sambil tersenyum.

“Gumawo. Jawaban appa membuatku lega. Selama ini kupikir appa menjauhiku karena membenciku yang sudah membunuh umma. Gumawu juga karena sudah mencintai umma begitu besar.” Ucap Hee Young.

Keduanya mengobrol cukup lama karena bercerita semua hal yang selama ini tak bisa di sampaikan. Hati Hee Young dan Jaejoong pun kini lega karena tak ada hal yang mengganjal lagi.

Setelah cukup lama mengobrol tiba-tiba Hee Young terngat tentang pembunuhan itu. Ia bingung apakah harus mengatakan semuanya pada appanya atau tidak. Hee Young tidak bisa membayangkan reaksi appanya jika ia memberitahukannya.

“Ada apa? Kau terlihat cemas.” Ucap Jaejoong melihat wajah Hee Young jadi aneh.

“Mmmm anu akuuu…” Ucap Hee Young ragu.

“Aku membunuh Sang Woo, appa.” Ucap Hee Young lalu menunduk takut dengan reaksi appanya. Tak ia sangka ternyata appanya malah mengelus rambutnya. Hee Young pun mendongakan kepalanya dan melihat wajah appanya tak marah ataupun kaget.

“Appa tahu. Appa tahu semuanya.” Jaejoong pun menceritakan bagaimana ia bisa tahu tentang kejadian itu pada Hee Young.

Setelah berbicara banyak Jaejoong memikirkan untuk membawa Hee Young pulang tapi putrinya itu menolak karena takut Rei Na curiga Hee Young pulang dengan tiba-tiba. Jaejoong berusaha keras membawa putrinya pulang tapi Hee Young tetap pada pendiriannya. Akhirnya ia mengalah dan enggan berdebat lagi dengan putrinya itu. Tapi Jaejoong menentukan satu syarat yaitu Hee Young harus tinggal di rumah Yunho agar aman dan Yuchun akan ia tugaskan untuk tetap mengawasi putrinya tapi hanya dari jauh.

“Maafkan appa tapi hanya itu yang bisa membuat appa tenang. Appa kini tak bisa percaya pada siapa-siapa lagi. Hanya kau dan Yunho.” Ucap Jaejoong. Hee Young mengangguk mengerti.

Keduanya keluar dari kamar dan menemui Yunho juga Yuchun. Jaejoong memberitahukan pada keduanya tentang Hee Young yang akan tinggal bersama Yunho untuk sementara waktu. Yunho setuju sedangkan Yuchun hanya mengangguk mendengar perintah itu. Hee Young menatap Yuchun dengan tatapan meminta maaf. Yuchun hanya mengangguk mengerti.

Setelah berkemas Hee Young langsung pergi ke rumah Yunho yang cukup besar. Jaejoong ikut ke rumah Yunho untuk memastikan putrinya mendapatkan yang terbaik. Yunho tentunya memberikan Hee Young yang terbaik yang ada di rumahnya.

Yuchun hanya melihat Hee Young dari belakang. Ada perasaan jauh dari hati Yuchun saat melihat Hee Young bersama Jaejoong dan Yunho. Hati Yuchun tiba-tiba sakit dan takut kalau yeoja itu akan perlahan melupakannya. Selain itu juga ia merasa ada jarak yang jauh diantara mereka yang kembali muncul, majikan dan bawahan. Yuchun hanya bisa menghela nafas melihatnya.

Setelah selesai dengan urusan tempat tinggal Hee Young, Yuchun pergi dengan Jaejoong. Jaejoong menyuruhnya untuk menjaga Hee Young saat yeoja itu sedang keluar saja. Jika sedang tidak keluar Yuchun di perintahkan untuk mengawasi Rei Na. Ia di berikan nomor telepon Yunho untuk berkomunikasi dengan namja itu tentang Hee Young. jadi ia bisa bekerja dengan mudah.

Yuchun di berikan istirahat untuk hari ini karena Jaejoong sudah meminta Hee Young untuk tidak keluar dan terus mengikuti apa yang Yunho ucapkan. Yuchun pun pergi ke hotel untuk beristirahat. Jaejoong memberinya kunci hotel untuk ia tinggal sementara waktu.

 

­­­­­­—-

 

Hee Young berjalan mengelilingi rumah Yunho. Ia teringat masa kecilnya yang sering ia habiskan di rumah itu. Hee Young berhenti melangkah saat melihat Yunho tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. Namja itu menatapnya sambil tersenyum hangat. Hee Young pun membalas senyum itu.

“Kau masih harus berkeliling mengingat rumah ini?” Tanya Yunho yang sedikit menyindir Hee Young. Hee Young pun terkekeh mendengarnya.

“Ingatanku masih kuat, ajusshi. Aku tidak perlu lagi mengingat sekeliling rumah tempat aku menghabiskan waktu. Aku dibesarkan di tempat ini olehmu dengan kasih sayang.” Hee Young menghampiri Yunho dan memeluknya hangat. Memeluk tubuh namja yang telah membesarkannya padahal ia bukanlah tanggung jawabnya. Namja yang sangat Hee Young sayangi dan sudah ia anggap sebagai seorang appa, oppa juga ajusshi. Jujur saja sebenarnya posisi Jaejoong sebagai appa sudah di gantikan oleh Yunho. Hee Young tersenyum saat Yunho membalas pelukannya dan mengelus rambutnya dengan lembut.

“Kau kenapa tidak menelepon ajusshi? Padahal kau sedang kesulitan. Apa kau tidak lagi percaya pada ajusshimu ini?” Tanya Yunho. Hee Young melepaskan pelukannya dan menatap Yunho.

“Mianhae ajusshi. Aku takut kalau ajusshi kecewa dan marah karena perbuatanku itu. Aku sendiri waktu itu bingung harus bagaimana dan hanya menghilanglah yang ada di pikiranku.” Jawab Hee Young jujur.

“Ajusshi malah kecewa dan marah karena kau tak mengabari kondisimu. Lain kali kabari ajusshi apapun yang terjadi, ok? Sekarang kau istirahatlah.” Hee Young mengangguk mendengar ucapan Yunho lalu ia pergi ke kamarnya.

Yunho menatap punggung Hee Young sampai tak terlihat lagi. Ia menatap punggung itu penuh rindu. Sebenarnya ia masih ingin memeluk yeoja mungil itu tapi ia takut tak bisa mengendalikan dirinya. Yunho mengacak-acak rambutnya lalu pergi ke ruang kerja untuk menyibukkan dirinya agar bisa melupakan hal itu.

Di ruang kerja Yunho benar-benar tidak fokus dengan apa yang ia kerjakan. Yunho merasa penderitaannya kembali di mulai. Kehadiran Hee Young di rumahnya membuat Yunho antara senang dan menderita.

Ia akhirnya membuka file di komputernya dan melihat foto-foto yang ia simpan. Foto-foto dirinya bersama Hee Young kecil. Yeoja yang ia besarkan semenjak umma Hee Young meninggal dan yeoja itu terabaikan oleh appanya sendiri.

“Kau semakin besar dan cantik. Kau tumbuh menjadi seorang gadis manis yang terus berusaha kuat dan tegar.” Gumam Yunho.

 

TBC

 

Maaf lama post part 5-nya.

7 thoughts on “Love(s) a Guardian Angel Part 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s