Love(s) a Guardian Angel Part 4


Title : Love(s) A Guardian Angel

Main Cast : ParkYoochun, Lee Hee Young

Rating :NC21

Author : Lee Eun Ri

NOTE: Maaf ya baru di posting sekarang, lagi sibuk banget soalnya *bow*

DON’T LIKE DON’T READ !!!

Happy Reading

AUTHOR POV

Yuchun membawa Hee Young pergi cukup jauh dari tempat mengerikan itu. Ia tak memikirkan hal lain selain melindungi Hee Young. Yeoja itu terlihat masih ketakutan karena membunuh Sang Woo untuk menyelamatkannya. Sebelum mencari penginapan Yuchun pergi membeli beberapa barang yang ia rasa di perlukan nantinya. Setelah itu barulah Yuchun membawa Hee Young ke sebuah penginapan. Keduanya masuk ke kamar dan Yuchun langsung mengecek kamar itu.

“Nona, mandilah dulu.” Ucap Yuchun. Ia melihat Hee Young melamun tak menghiraukan ucapannya. Yuchun pun menghampiri yeoja itu. Di tepuknya bahu Hee Young pelan hingga yeoja itu sadar. Ia tersenyum melihat wajah khawatir Hee Young.

“Semua akan baik-baik saja. Mandilah dulu, nona.” Yuchun mendorong pelan Hee Young masuk ke dalam kamar mandi.

Yuchun duduk memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ini sangat tiba-tiba. Ia merutuki dirinya sendiri yang tak menyadari kalau ia dan Hee Young di ikuti oleh Sang Woo. Tak lama Hee Young keluar dari kamar mandi dan duduk tepat di samping Yuchun. Wajah yeoja itu tertunduk. Bisa Yuchun lihat kalau yeoja itu masih takut dan habis menangis. Yuchun menghela nafas pelan.

“Nona, malam ini kita akan istirahat dan besok kita pulang.” Ucap Yuchun. Hee Young tak bergeming.

“Hanya itu?” Gumam Hee Young yang masih terdengar oleh Yuchun.

“Setelah mengantar nona, saya akan menyerahkan diri pada polisi dan mengatakan saya telah membunuh Sang Woo. Dengan begitu nyonya pasti mengubah rencananya untuk membunuh nona atau mungkin bahkan menghilangkan niatnya karena nona dan saya tahu niat jahatnya.” Ucapan Yuchun membuat Hee Young mendongakan kepala dan menatap Yuchun kaget.

“Selain itu tuan Lee juga akan tahu seperti apa sifat asli nyonya dan sadar kalau nona butuh perhatiannya.” Tambah Yuchun. Ia tersenyum pada Hee Young yang tengah menggelengkan kepala dan mulai menangis.

“Jangan lakukan itu. Aku yang membunuhnya. Aku yang harus menyerahkan diri ke polisi dan mengakui semuanya.” Ucap Hee Young. Yuchun tak setuju dengan hal itu.

“Lalu saat nona di penjara apa nona akan membiarkan nyonya melanjutkan rencananya untuk membunuh tuan? Ingat rencananya yang akan membunuh tuan setelah membunuh nona. Jika nona di penjara maka dia dengan bebas melakukan rencana itu. Tapi jika aku yang mengaku aku akan mengatakan semua hal yang pernah kudengar di depan pengadilan dan di depan tuan Lee. Dengan begitu tuan Lee tahu rencana busuk itu dan nona bisa menjaga tuan dengan baik.” Ucap Yuchun tegas. Hee Young tetap menggelengkan kepalanya dan terus menangis. Yuchun berusaha meyakinkan Hee Young kalau semuanya akan baik-baik saja jika ia yang mengaku.

“Aku tak butuh perhatian appa, sudah terlambat jika dia ingin memberiku perhatian. Aku juga tak butuh pengorbananmu, aku ingin kau di sampingku. Terus menjagaku. Kita bisa bersembunyi dan menjaga appa dari jauh. Kita menghilang dari hadapan mereka. Lakukan apapun asal jangan mengakui pembunuhan yang kulakukan. Jangan pergi meninggalkanku seperti umma, jangan mengacuhkanku seperti appa. Kumohon. Aku hanya percaya padamu.” Tangis Hee Young meledak di dalam pelukan Yuchun.

Yuchun menghela nafas dan mengelus punggung Hee Young. Ia tak tega melihat wajah Hee Young yang begitu menderita. Mata yeoja itu terlihat sangat tersiksa membuatnya tak tega. Kini Yuchun semakin bingung apa yang harus ia lakukan.

‘Haruskah kami bersembunyi dan berpura-pura hilang bagai di telan bumi padahal keberadaan kami tak jauh dari mereka? Apa yang harus kulakukan? Nona semakin lama tak bisa lepas dariku, dia sangat percaya dan mengandalkanku.’ Batin Yuchun.

Yuchun melepaskan pelukan Hee Young dan menghapus air mata yeoja itu. Ia berdiri dan menutup tirai jendela. Tak lama bel berbunyi, Yuchun pun membukanya dan ternyata pelayan hotel datang membawa makanan. Ia melarang pelayan hotel masuk dan hanya memberikan tips saja. Yuchun membawa masuk makanan itu dan ia taruh di atas meja.

“Nona mau makan? Sejak siang nona belum makan, ini sudah sore.” Ucap Yuchun. Yeoja itu tak menggelengkan kepalanya.

“Aku ingin istirahat.” Ucap Hee Young pelan.

“Temani aku. Aku takut.” Hee Young menepuk ranjang di sebelahnya tanda kalau ia ingin Yuchun berada di sampingnya. Ia tak mau sendirian dan takut kalau saat ia membuka mata Yuchun tak ada. Namja itu menghampirinya dan duduk di tepi ranjang. Hee Young pun berbaring dan menepuk ranjang.

“Tidur di sebelahku. Aku tak mau kau hilang saat aku membuka mata. Jangan pergi meninggalkanku dan melakukan rencanamu itu.” Ucap Hee Young. Yuchun sepertinya mengerti dirinya karena sejak tadi namja itu tak menolak dan terus menurutinya. Hee Young berbaring sambil berhadapan dengan Yuchun, di genggamnya tangan namja itu agar tidak pergi.

“Nona tenanglah aku tidak akan pergi. Saat nona membuka mata aku akan tetap di sini. Aku akan memikirkan apa yang akan kita lakukan selama nona tidur.” Ucap Yuchun menenangkan Hee Young. Yeoja itu mengangguk pelan lalu mulai memejamkan matanya. Wajah mungil itu terlihat sangat lelah membuat Yuchun tak tega.

 

***

 

Rei Na berdiri sambil menatap keluar jendela. Ia tengah memikirkan Sang Woo yang sudah beberapa hari ini tidak masuk.  Biasanya Sang Woo hanya mendapatkan dua hari untuk libur dan ini sudah seminggu lebih sejak liburnya berakhir. Rei Na mencemaskan namja itu, apakah berhasil membunuh Hee Young sesuai rencana ataukah tidak. Hee Young pun sudah lama tak terlihat di rumah. Suaminya Jaejoong pun seperti biasa tak mempedulikan putrinya itu. Sifat suaminya pada Hee Young ada sedikit keuntungan untuknya tapi ia takut perlahan Jaejoong menanyakan keberadaan yeoja itu padanya.

Sejak bercinta dengan Jaejoong malam itu, Rei Na jadi sering kelelahan karena suaminya itu suka sekali bercinta dengannya. Satu hal yang baru Rei Na tahu mengenai Jaejoong, suaminya itu. Jaejoong ternyata sangat pervert dan ganas. Jika sudah mencumbunya dan bercinta di atas ranjang namja itu sangat menguasai permainan.

Jaejoong selalu berhasil membuat Rei Na terlena akan sikap namja itu yang perhatian, manis dan semua sifatnya jika mereka bercinta. Pesona namja itu pun tak pernah bisa pudar.

Seharian ini Rei Na menunggu kabar dari Sang Woo maupun anak buah namja itu tapi tak ada satupun yang memberinya kabar. Jika ia menelepon salah satu anak buah Sang Woo pasti jawabannya selalu sama, belum ada kabar dari Sang Woo. Rei Na menghela nafas untuk kesekian kalinya.

Tubuhnya terperanjat kaget saat tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Dari suara deheman dan wangi tubuhnya Rei Na sudah tahu siapa yang memeluknya itu. Ia membalas pelukan itu dengan memeluk lengan Jaejoong. Namja itu menciumi leher dan pipinya.

“Pulang cepat.” Ucap Rei Na.

“Hmm.” Balas Jaejoong malas. Ia masih sibuk dengan leher sang istri tanpa menyadari bahwa putrinya sudah seminggu lebih tak ada di rumah. Jaejoong bersungut kesal saat Rei Na menghentikan aktivitasnya. Yeoja itu berbalik dan menatapnya sambil tersenyum.

“Mandi dulu. Aku akan siapkan untuk malam malam nanti.” Ucap Rei Na. Jaejoong diam tak bergerak sedikitpun. Ia tak mau mengikuti ucapan istrinya itu. Jaejoong kembali memeluk dan mencium Rei Na.

“Aku menginginkanmu, chagi.” Bisik Jaejoong dengan suara khasnya. Rei Na sempat melenguh saat Jaejoong mencium lehernya sambil meraba payudaranya.

“Mandi dulu.” Tolak Rei Na halus. Jaejoong mendengus kesal.

‘Walaupun kau sudah berumur tapi sikapmu sangat manis jika sedang bersamaku. Selain itu pesonamu tak pernah hilang sejak dulu.’ Batin Rei Na.

Rei Na tersenyum lalu berjalan ke kamar mandi. Di depan pintu kamar mandi ia berbalik lalu tersenyum manis pada Jaejoong. Namja itu terlihat antusias lalu setengah berlari menghampirinya. Rei Na masuk tanpa menunggu Jaejoong. Suaminya itu kembali memeluknya dari belakang tapi dengan cepat Rei Na berbalik dan membuka ikat pinggang serta celana kerja Jaejoong. Dengan nakal ia memainkan kejantanan suaminya yang masih berbalut celana dalam. Wajah suaminya yang tersiksa dan perlahan kejantanan namja itu yang membesar membuat Rei Na tersenyum senang. Jarang sekali ia bisa membuat Jaejoong seperti ini biasanya ia yang selalu berada di posisi Jaejoong sekarang.

Rei Na setengah jongkok dan melihat kejantanan suaminya yang membengkak. Ia menggigit pelan lalu keras kejantanan itu membuat Jaejoong melenguh dan terkadang mengaduh kesakitan. Puas mempermainkan Jaejoong, Rei Na pun berhenti dan menatap Jaejoong puas.

“Mandi.” Bisiknya menggoda lalu pergi.

“YA!” Teriak Jaejoong frustasi di permainkan oleh istrinya sendiri.

Rei Na berhenti melangkah lalu menatap Jaejoong lagi. Senyumnya semakin lebar melihat wajah frustasi Jaejoong karena hasrat terpendam itu.

“Itu pembalasan karena kau senang sekali mempermainkanku saat kita sedang bercinta. Nikmatilah mandimu, sayang.” Rei Na pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Ia tak sepenuhnya membuat makan malam karena ia selalu di bantu oleh pelayan di rumah.

Selama menyiapkan makan malam Rei Na tak henti-hentinya tersenyum membayangkan seperti apa Jaejoong di kamar mandi. Setelah makanan selesai di buat Rei Na menyiapkannya di atas meja makan.

Sambil menunggu Jaejoong, Rei Na menatap ke luar jendela di mana ada taman di belakang rumahnya yang sangat indah. Suasana mulai gelap dan hanya di terangi beberapa lampu kecil di taman membuat perasaan Rei Na tenang.

DEG!!

Rei Na membelalakan matanya saat melihat di taman berdiri sosok seseorang yang tengah menatapnya. Jantungnya berdegup kencang karena takut. Perlahan sosok itu mendekat dan membuat Rei Na ketakutan. Sosok Sang Woo yang berlumuran darah tengah menatapnya tajam. Tatapan itu penuh amarah. Lalu tak lama setelah menatapnya dan tangan Sang Woo seolah terarah padanya tiba-tiba sosok itu menghilang begitu saja.

“KYAAAAAA!!!!” Teriak Rei Na ketakutan saat merasakan tepukan di pundaknya.

Rei Na berbalik dan melihat Jaejoong yang bingung menatapnya. Dengan cepat ia memeluk suaminya itu erat.

“Di dia berlumuran darah. Dia mau mencekikku.” Ucap Rei Na dengan suara gemetar.

Ini pertama kalinya Jaejoong melihat Rei Na bersikap seperti ini. Tubuh Rei Na pun gemetar membuat Jaejoong langsung membalas pelukan itu dan mengelus punggung istrinya. Ia berusaha menenangkan Rei Na yang ketakutan.

“Kau kenapa?” Tanya Jaejoong lembut. Ia melepaskan pelukan Rei Na dan menatap wajah takut yeoja itu.

“A aku melihat hantu. Di dia menatapku tajam dan penuh amarah. Ta tadi dia mau mencekikku. Aku takut.” Ucap Rei Na terbata-bata.

“Sssssh sudahlah. Jangan kau pikirkan lagi. Ayo kita makan. Kulihat kau membuatkan makanan kesukaanku.”  Jaejoong berusaha mengalihkan perhatian Rei Na agar tak mengingatnya lagi.

 

—-

 

Yuchun berjalan sambil menggenggam tangan Hee Young. Keduanya baru saja dari rumah Hee Young, mengawasi keadaan rumah itu. Yeoja itu dan Yuchun pergi setelah melihat Jaejoong pulang dengan keadaan baik-baik saja. Setiap dua hari sekali keduanya pergi memantau keadaan rumah dan keadaan Jaejoong, appa Hee Young.

Setiap kali keluar Hee Young dan Yuchun menyamar dengan menggunakan wig, kumis palsu, pakaian lusuh dan lainnya agar tak ada yang mengenali mereka. Setiap malam Hee Young selalu di mendapatkan mimpi buruk tentang hari pembunuhan itu. Beruntung Yuchun selalu menemaninya sehingga tiap kali mimpi itu datang Hee Young bisa langsung di tenangkan oleh Yuchun.

Selama ini Yuchun dan Hee Young menetap di sebuah rumah kecil yang mereka sewa dari seorang nenek tua. Rumah yang jauh dari keramaian kota. Baik Yuchun maupun Hee Young mendapatkan uang dari bekerja di sebuah café untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Mereka bekerja bersama-sama dan tentunya dengan tetap menyamar.

Hee Young tak mau menggunakan uang dari umma-nya untuk sementara waktu agar pengacara umma-nya tak mengetahui keberadaannya. Ia akan menggunakannya jika keadaan terpaksa dan akan mengambil uangnya di tempat yang jauh dari tempat tinggalnya.

Hee Young bekerja sebagai pelayan di café itu, sama seperti Yuchun. Terkadang saat bekerja Hee Young sering kali di goda oleh para namja jahil. Hee Young sempat risih dengan hal itu tapi setelah dua kali di goda ia berpikir untuk mencuri dompet para namja yang sengaja menggodanya itu.

Tentunya Yuchun tahu apa yang Hee Young lakukan. Ia sering kali menasehati Hee Young agar berhenti melakukan itu agar aman. Karena jika ketahuan mereka berdua bisa di pecat oleh pemilik café. Hee Young tak sedikit pun mendengarkan nasehat Yuchun dan terus melakukan pencurian itu.

Kini keduanya sampai di café dan mulai bekerja seperti biasa. Yuchun bekerja lebih keras dari biasanya. Ia selalu menghampiri para pelanggan yang datang sebelum Hee Young. Itu ia lakukan agar yeoja itu tak di goda oleh para namja jahil. Apa yang ia lakukan di sadari oleh Hee Young, yeoja itu selalu menatapnya tidak suka tapi Yuchun tak mempedulikannya.

Setelah lelah bekerja berjam-jam di café akhirnya Yuchun dan Hee Young pulang dan bisa melepas penyamaran yang melelahkan itu. Yuchun keluar kamar setelah selesai mandi, ia tak melihat siapa-siapa. Yuchun berpikir mungkin Hee Young langsung tidur. Ia pun duduk di sofa kecil dan menyalakan tv. Saat sedang menonton Hee Young keluar kamar dan menatapnya tajam. Yeoja itu duduk di sampingnya.

“Apa-apaan kau tadi?” Tanya Hee Young marah. Yuchun menghela nafas pelan lalu mematikan tv.

“Aku sengaja melakukannya agar kita tidak di pecat. Selain itu kalau ketahuan pelanggan bisa kacau.” Jawab Yuchun. Hee Young masih tidak terima. Melihat ekspresi Hee Young yang kesal Yuchun pun kembali berbicara.

“Apakah nona senang di goda dan di sentuh seperti itu? Kalau nona suka tinggal katakan padaku jadi aku tak perlu repot melindungi nona dari para namja itu.” Ucap Yuchun yang mulai kesal. Sikap Hee Young yang keras kepala dan rasa lelah yang ia rasakan membuatnya sedikit sulit untuk bersabar.

“Kenapa kau seperti ini? Bisa kan kau melindungiku dari jauh?” Ucap Hee Young.

“Jangan-jangan kau mulai menyukaiku ya? Kurasakan perlahan kau mulai berlebihan menjagaku.” Tebak Hee Young.

“Kalau kujawab iya apa yang akan nona lakukan? Ah sudahlah, kalau nona tak mau aku melakukan hal itu lagi aku tak akan melakukannya. Aku akan menjaga nona dari jauh sesuai permintaan nona. Permisi.” Yuchun pun pergi ke kamarnya dan berbaring di ranjang kecil miliknya.

Yuchun menghela nafas berkali-kali dan mengacak rambutnya kesal. Ia merutuki dirinya sendiri yang baru saja mengatakan hal aneh pada Hee Young. Yuchun menutup matanya mencoba untuk tidur. Tak lama Yuchun mendengar pintu kamarnya terbuka lalu tertutup. Langkah yang Yuchun ketahui itu Hee Young semakin mendekat. Dirasakannya yeoja itu ada di sampingnya, tengah menatapnya. Yuchun masih menutup matanya dan berpura-pura tidur. Hee Young menggoyang-goyangkan tangannya sambil memanggil namanya. Suaranya pelan dan terdengar sedih.

“Yuchun-a, bangun.” Ucap Hee Young lagi.

“Aku tahu apa yang kulakukan salah. Maafkan aku.” Ucap Hee Young. Yuchun tetap diam tak merespon ucapan Hee Young.

Sampai Yuchun benar-benar tertidur, Hee Young masih di kamar namja itu. Ia pun sampai tertidur menunggu Yuchun bangun. Ia benar-benar merasa bersalah dan bersikap terlalu kekanak-kanakan. Ia sadar kalau bukan saatnya bersikap seperti itu di kondisi sekarang ini.

Paginya Yuchun bangun dengan melihat Hee Young masih berada di sampingnya. Yeoja itu tertidur dengan pulas. Yuchun bangun tanpa membangunkan yeoja itu. Ia mandi dan membereskan rumah seperti biasa. Sarapan pun ia yang menyiapkannya. Yuchun duduk di sofa sambil mulai memakan makanan yang ia buat.

“Yuchun-a.” Panggil Hee Young. Yuchun menoleh lalu melanjutkan makannya.

“Mandilah lalu sarapan. Siang nanti harus bekerja.” Ucap Yuchun. Jujur ia malas membahas hal semalam. Selain itu Yuchun pun sadar kalau ia hanyalah seorang bodyguard yang hanya bisa menjaga majikannya dan menuruti apa yang majikan inginkan, selama tidak membahayakan dan bisa ia tangani.

Hee Young, Yuchun lihat langsung pergi ke kamar mandi menuruti apa yang ia katakan tadi. Setelah yeoja itu hilang dari pandangannya Yuchun menghela nafas panjang. Ia tak tahu harus bagaimana bersikap pada Hee Young saat wajah yeoja itu terlihat sangat menyesal dan sedih. Yuchun mengacak rambutnya sambil bergumam kesal.

Yuchun teringat ponselnya yang lama, ia mengambilnya lalu menyalakannya. Tak lama ponselnya pun berbunyi. Dengan ragu ia mengangkatnya.

“Akhirnya kau angkat juga.” Ucap Minho dengan suara lega. Yuchun hanya diam saja.

“Kau kemana saja? Dimana nona? Kalian baik-baik saja kan?” Tanya Minho.

“Yuchun-a, kalian baik-baik saja kan? Apa ada sesuatu? Sejak tadi kau diam saja.” Minho mulai curiga karena Yuchun tak bersuara sedikit pun.

“Ya, kami baik-baik saja. Kau tak usah khawatir. Minho-a, bisakah kau merahasiakan kalau kau berhasil menghubungiku?” Pinta Yuchun. Tangannya mulai mengepal karena khawatir kalau Minho akan menjawab yang tidak sesuai dengan harapannya.

“Baik. Kurasa terjadi sesuatu sampai kau memintaku seperti ini.” Yuchun terdiam tapi tak lama ia merespon ucapan Minho. Ia berharap kepercayaannya pada Minho tidak di hancurkan oleh namja itu.

“Di tengah perjalanan kami bertemu dengan Sang Woo. Dia mengikuti kami.” Ucap Yuchun pelan.

“Mwo? Jinja? Mau apa dia mengikuti kalian?” Suara Minho terdengar sangat kaget saat mendengar ucapan Yuchun.

“Dia mau membunuh nona. Saat kucoba menghalanginya dia malah memukulku. Kami berkelahi dan nona menolongku dengan memukul Sang Woo dengan batu besar. Bisa kau bayangkan seperti apa kelanjutannya.” Yuchun menghela nafas berat begitu pun dengan Minho.

“Dia mati dan kalian kabur.” Tebak Minho.

“Ne, kami juga tidak mungkin untuk kembali karena tidak bisa membayangkan seperti apa reaksi nyonya dan rencana apa lagi yang akan di buatnya. Nona pun tak mungkin menyerahkan diri, jika itu terjadi siapa yang akan memantau nyonya? Kau pasti tau apa yang kumaksud.” Yuchun bersandar di sofa kecil sambil memegang kepalanya yang sakit.

“Ne, aku mengerti. Kalian berhati-hatilah. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku akan menggunakan nomor lain nanti agar tak ada yang curiga. Kututup dulu, aku harus kembali bekerja.” Minho menutup teleponnya dan Yuchun menghela nafas panjang sambil menatap langit-langit. Matanya tertutup, ia memikirkan langkah selanjutnya yang harus di lakukan.

Tak lama Yuchun merasakan ada yang duduk di sampingnya. Ia pun membuka mata dan melihat Hee Young yang sudah selesai mandi. Yeoja itu menatapnya dengan wajah sama seperti tadi. Hee Young juga terlihat khawatir. Yuchun masih diam tak bersuara. Hee Young memegang tangannya erat. Tangan yeoja itu gemetar.

“Aku minta maaf atas sikapku kemarin. Tak seharusnya aku bersikap seperti itu. Aku janji tak akan melakukannya lagi.” Ucap Hee Young dengan suara menyesal. Yuchun kembali menghela nafas lalu tak lama menepuk punggung tangan Hee Young.

“Tidak apa-apa nona. Saya kan hanya bodyguard nona. Saya yang seharusnya meminta maaf karena tak seharusnya saya berbicara dan mengatur nona seperti itu. Sudahlah, sekarang nona sarapan dulu.” Yuchun berdiri dan pergi ke kamarnya.

Langkah Yuchun terhenti oleh Hee Young yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Yuchun berusaha untuk melepaskan pelukan yeoja itu tapi Hee Young terus menahannya. Sekali lagi Yuchun berusaha melepaskannya tapi kali ini dengan perlahan. Yuchun berbalik dan melihat Hee Young menatapnya sambil menangis.

Yuchun menghapus air mata Hee Young lalu mengelus kepala yeoja itu dengan lembut. Ia membalikkan tubuh Hee Young lalu mendorongnya pelan hingga yeoja itu duduk. Yuchun memberikan sarapan untuk Hee Young dan menyuruh yeoja itu menghabiskannya.

Selama Hee Young sarapan Yuchun kembali kekamarnya dan berbaring. Ia kembali memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang. Matanya terpejam dan bayangan kejadian tak terduga itu kembali muncul.

“Yuchun-a, aku sudah selesai sarapan. Boleh aku masuk?” Suara Hee Young membuyarkan semua pikiran Yuchun. Yuchun membuka mata lalu duduk. Yeoja itu masuk saat melihatnya mengangguk.

“Ada apa nona? Kita kan bekerja masih 3 jam lagi.” Ucap Yuchun.

“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Mmm tadi kudengar kau berbicara dengan Minho. Bukankah dia salah satu bodyguard di rumah?” Tanya Hee Young. Ia duduk di samping Yuchun saat namja itu menepuk-nepuk ranjang kecil itu.

“Kupikir sebaiknya kita menunggu reaksi mereka terlebih dahulu. Kalau kita yang bertindak lebih dulu bisa berbahaya. Nanti akan kuminta pada Minho untuk mengawasi nyonya besar dan memberitahu kita kalau nyonya merencanakan sesuatu.” Jawab Yuchun.

Hee Young mendekat dan berbaring dengan paha Yuchun menyangga kepalanya. Yuchun sempat kaget namun ia berusaha untuk bersikap biasa. Hee Young menghela nafas berat. Ia mulai lelah terus bersembunyi dan mengawasi appa-nya dari jauh. Hee Young ingin beristirahat dan tidak memikirkan semua hal yang melelahkan ini.

“Bisakah kita cuti untuk beberapa hari?” Pinta Hee Young. Yuchun mengerutkan keningnya.

“Memangnya kenapa?”

“Aku ingin istirahat. Aku mulai lelah dengan semua ini.” Jawab Hee Young jujur. Ia bangun dari tidurnya dan menatap Yuchun.

“Bolehkah?” Tanya Hee Young lagi.

“Baiklah jika itu keinginan nona. Aku akan menelepon ke café untuk meminta ijin.” Yuchun langsung mengambil ponselnya dan menelepon café tempatnya dsn Hee Young bekerja.

Setelah menelepon Yuchun menatap Hee Young lalu menganggukan kepalanya.

“Manajer mengijinkan kita tapi hnya 3 hari.” Ucap Yuchun memberitahu. Hee Young bersandar di bahu Yuchun dengan nyaman dan memeluk namja itu. Hal itu membuat Yuchun kaget karena Hee Young tak pernah melakukan hal itu. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat dengan tindakan Hee Young yang tiba-tiba itu.

“No nona, jangan seperti ini.” Suara Yuchun terdengar sangat gugup. Bukannya melepaskan pelukannya Hee Young malah semakin erat memeluk Yuchun.

‘Asih kenapa malah memelukku semakin erat. Lepaskan!!! Aku bisa gila jika kau memelukku seperti ini. Aku bisa lepas kendali.’ Batin Yuchun.

Tak lama Hee Young melepaskan pelukannya dan melihat Yuchun menghela nafas lega. Muka namja itu terlihat sangat merah dan gugup. Saat melihat Yuchun akan mengatakan sesuatu Hee Young langsung membungkamnya dengan sebuah ciuman hangat dan lembut. Hee Young tak tahu kenapa ia bisa melakukan hal itu tapi yang jelas sejak kejadian semalam ia baru menyadari kalau ia semakin nyaman berada di samping Yuchun dan ingin terus seperti itu. Mencium Yuchun membuat perasaannya sangat berbeda dengan mencium para namja di sekolah dulu.

Yuchun berusaha melepaskan ciuman Hee Young tapi Hee Young menahannya dan terus mencium Yuchun. Ia mengalungkan tangannya di leher namja itu. Saat kehabisan nafas barulah Hee Young melepaskan ciumannya. Ciuman yang tidak di balas Yuchun sedikit pun. Keduanya saling bertatapan. Yuchun menatapnya seolah mencari sesuatu.

“Nona, jangan seperti ini. Ini tidak benar.” Tolak Yuchun halus. Hee Young menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Bisakah kita melupakan status kita dan melakukan ciuman hangat? Aku ingin melupakan semuanya termasuk status ini. Bolehkah aku menanyakan sesuatu?” Tanya Hee Young. Yuchun pun mengangguk.

“Apa benar kau menyukaiku?” Tanya Hee Young memastikan.

“Aku tidak menyukaimu tapi aku mencintaimu, nona. Maafkan atas kelancanganku, aku sendiri tak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh.” Jawab Yuchun.

“Jadi bisakah kita melupakan status antara nona dan bodyguard?” Yuchun menjawabnya dengan sebuah anggukan ragu.

Hee Young kembali mencium Yuchun. Kali ini ciuman Hee Young di balas oleh Yuchun perlahan. Ciuman itu berubah menjadi ciuman panas. Ciuman yang di lakukan Hee Young membuat Yuchun kini benar-benar hilang kendali dan membuatnya mengendalikan permainan. Kini Yuchun memimpin ciuman diantara mereka berdua.

Entah sejak kapan Hee Young kini sudah duduk di pangkuan Yuchun. Tangannya masih berada berada di leher Yuchun dan terkadang ia menekankan kepala namja itu agar ciuman mereka semakin dalam. Tak lama keduanya menghentikan ciuman mereka untuk menghirup oksigen yang hampir habis. Keduanya terengah-engah dengan saling bertatapan. Hee Young menyeka saliva yang ada di sekitar bibir namja itu.

Dengan nakal tangan Yuchun meremas bokong Hee Young membuat yeoja itu melenguh pelan karena kaget. Yuchun ingin tahu seperti apa reaksi Hee Young jika ia melakukan hal itu. Tanpa di sangka olehnya ternyata Hee Young tersenyum malu dan memeluknya erat.

“Hari ini tak ada status yang membuatku harus menjaga jarak dan bersikap seperti biasa padamu kan?” Tanya Yuchun memastikan. Akal sehatnya kini sudah hilang entah kemana, yang ada hanyalah keinginan untuk mencumbu Hee Young.

“Ne.” Jawab Hee Young singkat. Yuchun tersenyum evil lalu langsung meremas bokong yeoja itu lagi. Sama seperti tadi, Hee Young melenguh tapi kali ini lenguhannya berbeda dari sebelumnya. Karena Yuchun meremas bokong Hee Young sambil menekankan tubuh yeoja itu pada kejantanannya yang mulai membesar. Hee Young masih pada posisinya yang memeluk Yuchun. Ia menggigit bibir bawahnya menahan lenguhan yang menurutnya memalukan.

Tak tahan dengan perlakuan Yuchun, Hee Young pun menghentikannya dan bangun dari pangkuan Yuchun. Wajah Yuchun terlihat kaget dan kecewa tapi tak Hee Young hiraukan. Ia meraih ikat pinggang namja itu dan membuka celana yang masih menempel di tubuh Yuchun. Ia melotot saat melihat kejantanan Yuchun yang sudah berdiri tegak siap tempur. Dengan ragu ia meraih kejantanan itu dan mulai memainkannya. Kini lenguhan Yuchun yang terdengar olehnya, lenguhan nikmat dari Yuchun.

Yuchun dibuat gila oleh Hee Young yang tengah bermain di bawahnya. Posisi Hee Young membuatnya tambah terangsang. Posisi bagian depan yeoja itu membungkuk karena tengah bermain dengan senjata kebanggaannya semantara bokong Hee Young menungging membuat tangan Yuchun tak tahan untuk bermain di sana. Karena Hee Young memakai hot pants yang sangat pendek membuat Yuchun mudah bermain.

“Hee Young-a, aku aaaah.” Yuchun merasakan ia akan mencapai klimaks. Ia sengaja memberi tanda itu agar tak mengeluarkannya di dalam mulut Hee Young. Yeoja itu sepertinya mengerti dan melepaskan kejantanannya dan menggantinya dengan mengocoknya dengan cepat. Hal itu membuat Yuchun semakin gila dan tak lama mengeluarkan apa yang ia tahan sejak tadi.

Hee Young melihat wajah Yuchun lega dengan nafas terengah-engah. Yuchun memberinya minum, Hee Young pun mengambilnya. Setelah itu ia memeluk Yuchun, kembali rasa nyaman itu muncul saat memeluk Yuchun. Namja itu meraih dagunya membuat ia mendongakan kepala dan menatap Yuchun. Namja itu mencium bibirnya sekilas.

“Gumawo.” Ucap Yuchun. Namja itu menatapnya berbeda dari biasanya. Tatapan kali ini Hee Young menyukainya.

Yuchun membaringkan Hee Young pelan. Lalu bermain di tubuh Hee Young yang baru Yuchun tahu kalau tubuh polos Hee Young sangat seksi. Ia terus bermain dan membuat lenguhan Hee Young semakin keras karena perbuatannya.

Yuchun memposisikan dirinya untuk bersiap ke tahap akhir, ia memasukan miliknya ke dalam milik Hee Young dalam sekali hentakan. Teriakan sakit yeoja itu membuat Yuchun kaget dan memeluk Hee Young erat. Yuchun merasakan ada yang mengalir di bagian bawah. Ia sedikit bangkit untuk melihat apa itu. Matanya membalalak.

‘Ini…’ Batin Yuchun. Ia memeluk Hee Young erat dan mendiamkan miliknya agar Hee Young tak kesakitan. Yuchun tak perlu menanyakan lagi apa yang baru saja ia lihat karena sekali lihat ia langsung tahu kalau ia adalah namja pertama yang menyentuh Hee Young.

“Yeoja bodoh! Kenapa tak bilang kalau ini pertama untukmu?” Umpat Yuchun. Ia merasa bersalah karena melakukan ini. Dilihatnya wajah Hee Young menahan kesakitan tapi yeoja itu malah tersenyum padanya membuat Yuchun berdecak.

“Aku tak akan menyesal memberikannya padamu karena aku merasa nyaman berada di sampingmu, aku baru menyadarinya semalam. Sepertinya aku juga mencintaimu, oppa.” Ucapan Hee Young membuat Yuchun terdiam.

“Jinja?” Tanya Yuchun. Hee Young mengangguk.

“Aish! Apa yang harus kulakukan jika sudah seperti ini?” Ucap Yuchun bingung. Ia kembali sadar kalau yang ada di hadapannya kini adalah nona kecil, majikannya sendiri dan status mereka tak memungkinkan untuk menjalin hubungan cinta. Hee Young membelai pipinya sambil tersenyum manis.

“Jangan bingung. Kita bisa menghadapinya bersama kan? Ciuman dan semua sentuhan lembut oppa tadi menyadarkanku kalau aku mencintaimu dan membutuhkanmu.” Ucap Hee Young jujur. Mungkin apa yang di katakannya gila dan tak bisa di percaya tapi itulah kenyataannya. Yuchun tak mengatakan apa-apa dan hanya menciumnya dengan lembut dan melakukan tahap akhir dalam bercinta dengan pelan. Hee Young tahu kalau Yuchun melakukannya perlahan karena tak mau menyakitinya lagi seperti tadi.

“Oppa aaahh gumawo. Saranghae.”

 

***

 

Rei Na mulai curiga dengan Sang Woo yang belum juga ada kabar sampai saat ini. Ia memanggil semua pengawalnya dan memerintahkan untuk mencari keberadaan Sang Woo. Setelah itu Rei Na pun menelepon anak buahnya dan Sang Woo untuk mencari namja itu.

Rei Na berdiri di jendela kamar dengan perasaan tidak enak. Sejak hari itu ia sering sekali mimpi buruk tentang Sang Woo. Mimpi itu membuatnya ketakutan dan memimta suaminya untuk pulang lebih cepat agar bisa menemaninya.

“Setelah aku menemukan Sang Woo baru aku akan mencari Hee Young.” Gumam Rei Na pelan.

“Awww.” Lenguh Rei Na kesakitan saat akan melangkah ke sofa. Bagian bawahnya sangat sakit karena semalaman Jaejoong menyerangnya hingga pagi. Rei Na menghela nafas saat duduk di sofa.

“Kau namja menyebalkan! Kenapa energimu besar sekali sih? Sudah menyerangku semalaman masih bisa kerja. Membuatku tampak lemah saja.” Ucap Rei Na kesal.

“Kenapa nafsumu besar sekali? Padahal umurmu tak muda lagi. Dan lagi pesonamu yang semakin lama semakin sulit untuk hilang. Kau makan apa hingga bisa seperti itu?” Gumam Rei Na asal.

Tak lama Rei Na di kagetkan oleh suara dering ponselnya. Ia mengumpat kesal karena di buat kaget. Rei Na mengangkat ponselnya saat melihat yang meneleponnya itu Jaejoong.

“Yeoboseo.” Sapanya.

“Kau tidak tidur? Bukankah aku memakanmu sampai pagi?” Ucap Jaejoong.

“Mana bisa tidur? Tiap kali aku tidur pasti bermimpi buruk. Aku takut. Aku sebenarnya sangat mengantuk tapi jika ingat mimpi itu aku jadi takut. Lain kali bisakah kau melakukan itu tidak sampai pagi? Aku mendertita sekarang, ingin tidur tapi takut.” Keluh Rei Na.

“Mianhae, habis semalam kau terlihat sangat menggairahkan jadi aku tak tahan.” Ucapan Jaejoong membuat wajah Rei Na memerah.

“Aku akan pulang cepat. Maafkan aku ya.” Ucap Jaejoong terdengar tulus.

“Hmm cepatlah pulang.” Ucap Rei Na. Selesai menelepon Rei Na menyibukan dirinya dengan melakukan sesuatu agar tidak tertidur sampai suaminya pulang.

Saat hari sudah sore Jaejoong pun pulang. Rei Na langsung memeluknya dan mengajaknya ke kamar mereka berdua. Setelah mengganti pakaian Jaejoong menemani Rei Na sampai yeoja itu tertidur. Jaejoong tersenyum lalu mencium kening istrinya itu. Ia keluar kamar dan berjalan di lorong dan berhenti di kamar putrinya. Putri yang sudah ia telantarkan sejak kematian istri pertamanya. Menganggap putrinya itu tak ada walaupun ada di dekatnya. Terdengar kejam memang tapi Jaejoong sampai saat ini masih belum bisa melupakan kematian istri pertamanya yang membuatnya hancur.

Jaejoong memang sering mengatakan kalau ia sangat mencintai Rei Na, istri keduanya tapi sejujurnya cintanya pada istri pertamanyalah yang paling besar hingga saat ini. Bercinta dengan Rei Na merupakan pelampiasan agar bisa sedikit melupakan kesedihannya selama bertahun-tahun ini.

Saat ia belum bisa bercinta dengan Rei Na, Jaejoong selalu menyibukan diri dengan pekerjaan sebagai pelampiasan. Kini pekerjaan ia lakukan dengan normal dan pelampiasan barunya adalah Rei Na. Jujur ia tak peduli dengan rasa lelah yang di rasakan yeoja itu dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia tahu kapan saja Rei Na merasa lelah dan tak bersemangat untuk bercinta. Jaejoong tak pernah menghiraukan semua itu, yang ia pedulikan hanyalah perasaannya pada istri pertamanya yang terus tumbuh dan tak pernah hilang sedikit pun. Hal itu menyiksanya karena sosok yang sangat ia cintai sudah tidak ada.

Jaejoong membuka pintu kamar putrinya perlahan dan melihat kamar itu kosong. Terasa sangat dingin, itulah yang Jaejoong rasakan saat masuk. Ia mengerutkan dahinya merasakan hal itu. Biasanya jika Jaejoong masuk kamar itu yang ia rasakan adalah kehangatan. Ya, diam-diam selama ini Jaejoong suka masuk ke dalam kamar putrinya hanya untuk merasakan kehangatan. Ia tidak setiap hari masuk ke kamar Hee Young hanya sesekali dalam seminggu. Yang Jaejoong bisa lakukan sampai sekarang hanyalah ini, mengunjungi kamar putrinya. Jaejoong masih belum bisa menatap wajah putrinya karena wajah putrinya semakin lama semakin mirip istri pertamanya. Itu sangat menyiksanya.

Saat Hee Young datang ke ruang kerjanya untuk memprotes keputusannya untuk memberikan Hee Young bodyguard saja Jaejoong tak tahan untuk berlama-lama menatap wajah putrinya itu. Ia tak peduli jika orang menyebutnya pengecut atau apapun. Mereka tak tahu penderitaan yang ia alami selama bertahun-tahun. Jaejoong akui jika ia egois, di saat seharusnya memperhatikan putrinya ia malah mementingkan diri sendiri.

Jaejoong tahu kalau Hee Young menderita akibat perlakuannya dan berusaha kuat saat berada di depannya. Ia tidak membenci Hee Young sama sekali dan itu tak mungkin terjadi.

Tak lama pelayan membuyarkan lamunannya.

“Tuan besar mencari nona kecil? Nona sudah satu bulan lebih tidak pulang, begitu pun pengawalnya yang bernama Yuchun.” Ucap pelayan itu. Perkataan pelayan itu membuat Jaejoong kaget. Ia melangkah keluar dari kamar itu.

“Jangan pernah kau berani-berani mengatakan pada siapapun aku masuk ke kamar ini. Mengerti?” Ucap Jaejoong tegas. Pelayan itu mengangguk lalu Jaejoong pun berjalan kembali kekamarnya. Langkahnya kembali terhenti saat mendengar suara Rei Na di balik pintu kamarnya. Pintu yang tidak tertutup rapat membuatnya bisa mendengar ucapan Rei Na yang sepertinya tengah menelepon.

“Cari terlebih dulu Sang Woo. Baru kita mencari Hee Young dan Yuchun. Jika terjadi sesuatu pada Sang Woo, aku yang akan membunuh Hee Young dengan tanganku sendiri. Ingat prioritas utama mencari Sang Woo.” Ucapan Rei Na membuat Jaejoong kaget.

“Baiklah, tangkap saja jika kalian menemukan Hee Young dan Yuchun terlebih dahulu. Aku ingin menyiksa mereka terutama Hee Young. Setelah itu baru kita rencanakan ulang untuk membunuh target utama kita, Lee Jaejoong.” Ucapan terakhir Rei Na membuat Jaejoong tak kalah kaget. Tak lama Jaejoong mendengar umpatan kasar dari mulut Rei Na.

“Brengsek. Rencanaku dan Sang Woo tertunda seperti ini. Lagi pula kemana sih Sang Woo itu?” Ucap Rei Na lagi.

“Ah iya suamiku mana? Tumben dia tak ada di sampingku? Biasanya saat aku bangun aku sudah telanjang bulat dan di buat nikmat olehnya di atas ranjang cinta ini. Tak kupungkiri jika saat bercinta dengannya aku selalu terlena dan menikmati perlakuannya padaku. Dia sangat menggairahkan jika bercinta tapi kejadian semalam benar-benar membuat tubuhku sakit.” Keluh Rei Na.

Jaejoong langsung pergi keluar rumah setelah mendengar semuanya. Ia menelepon pengacaranya yang ia percayai dan memintanya untuk mencari Hee Young dan memintanya jangan sampai istri keduanya tahu. Jaejoong mengingat pengacara istri pertamanya dan langsung meneleponnya juga. Terdengar jelas kalau pengacara itu kaget saat menerima telepon darinya. Reaksi itu wajar karena sudah lama Jaejoong tak berkomunikasi dengan pengacara Jung.

“Pengacara Jung Yunho, bagaimana kabarmu?” Tanya Jaejoong basa basi.

“Baik. Ada apa? Tumben sekali menelepon setelah sekian lama.” Jawab Pengacara Jung.

“Sebenarnya aku ingin berbicara banyak dan lebih santai tapi untuk saat ini aku ingin meminta bantuanmu. Bisa kita bertemu? Ada masalah dengan putriku.” Ucap Jaejoong dengan tetap fokus menyetir.

Pengacara Jung membelalakan matanya saat mendengar Hee Young dalam masalah. Memang belakangan ini ia sedikit bingung karena Hee Young tak menghubunginya. Biasanya yeoja itu dalam seminggu menghubunginya walaupun hanya untuk menyapa dan menanyakan kabar.

“Bisa, bagaimana kalau datang ke kantorku? Agar bisa lebih leluasa dan privasi terjaga.” Jawab pengacara jung cepat.

“Aku kesana.” Tak lama Jaejoong menutup teleponnya. Perasaan Jaejoong kini di penuhi penyesalan dan khawatir.

Sampai di kantor pengacara Jung, ia masuk dan melihat pengacara itu menunggunya datang dengan wajah cemas dan takut. Keduanya duduk di sofa dan Jaejoong melihat meja dan dinding di kantor pengacara Jung di penuhi foto pengacara Jung, istri pengacara dan putrinya Hee Young. Jaejoong melihat wajah putrinya yang tersenyum manis dan bahagia. Senyuman yang tak pernah ia lihat.

“Kami masih sering bertemu walaupun nyonya sudah tiada. Sejujurnya nyonya meminta saya untuk melindungi dan menjaga nona kecil diam-diam dan tanpa sepengetahuan anda.” Ucap pengacara Jung. Pengacara Jung pun memberitahukan apa yang terjadi pada Hee Young setelah nyonya pergi. Ia memberitahukan semuanya sesuai permintaan nyonya sebelum meninggal.

“Nyonya sudah memprediksi semuanya dan semua prediksinya tak ada satu pun yang meleset.” Ucap Pengacara Jung.

“Kau masih sering berkomunikasi dengan Hee Young, Yunho-sshi?” Tanya Jaejoong.

“Terakhir kami berkomunikasi sudah hampir dua bulan yang lalu tapi kalau bertemu terakhir kali di sekolahnya sebelum ujian. Apa terjadi sesuatu pada nona?” Yunho menatap Jaejoong dengan cemas. Ia sudah menganggap Hee Young seperti putrinya sendiri karena sejak nyonya meninggal Hee Young selalu bersamanya dan sangat dekat dengannya.

Jaejoong menceritakan semua yang ia dengar pada Yunho dan meminta bantuan namja itu. Ia pun meminta untuk merahasiakan semuanya karena ia kini semakin tak percaya dengan semua orang yang ada di rumahnya dan semua yang berhubungan dengan Rei Na.

Yunho langsung menyanggupi permintaan Jaejoong dan langsung meminta sekertarisnya untuk mengecek transaksi yang di lakukan Hee Young melalui ATM yang Yunho berikan. Tak lama sekertarisnya datang dengan data yang ia minta. Ia membacanya dan menghela nafas.

“Sepertinya memang terjadi sesuatu. Tak biasanya dia dalam sebulan ini tak mengambil uang dari ATM yang kuberikan.” Ucap Yunho dan memberikan data yang ia dapat pada Jaejoong. Namja itu mengerutkan keningnya melihat rekening bank yang tertera.

“Itu uang yang nyonya berikan pada nona sebelum meninggal dan meminta saya yang mengurusnya.” Ucap Yunho menjelaskan.

“Jadi selama ini dia tak pernah memakai uang yang kuberikan?” Tanya Jaejoong.

“Saya tidak tahu kalau tentang uang yang anda berikan tapi jika uang yang nyonya wariskan saya bisa mengatakan kalau nona setiap bulan selalu mengambil uangnya itu.” Mendengar ucapan Yunho membuat hati Jaejoong sakit. Putrinya sampai uang yang ia berikan pun tak dipakainya.

“Saya akan meminta teman saya yang seorang detektif untuk mencari nona secepat mungkin.” Ucapan Yunho membuat Jaejoong sedikit merasa lega.

“Gumawo, Yunho-sshi.” Ucap Jaejoong.

“Tidak apa. Saya malah berterima kasih anda mau menelepon saya dan memberitahukan kalau nona hilang.”

“Kalau begitu aku pergi. Kalau ada sesuatu tolong telepon langsung ke ponsel. Jangan ke nomor lain.” Jaejoong pun pergi dengan mencemaskan Hee Young.

 

FLASHBACK

Jaejoong memeluk istrinya yang tengah berdandan dari belakang. Pelukannya menghentikan aktifitas istrinya itu. Tangannya di pukul pelan dan di lepaskan oleh istrinya.

“Kau mau kemana? Seharusnya kau menemaniku.” Jaejoong memasang wajah kesal agar istrinya tidak pergi. Bibirnya di cium lembut oleh istrinya.

“Aku kan harus menjemput Hee Young, yeobo. Kau mau ikut? Hee Young pasti senang kau menjemputnya.” Ucap istri Jaejoong, Eun Ri.

“Kenapa Hee Young harus ke rumah orang tuaku setiap hari sih? Kalau tidak kan kita bisa berduaan saja. Aku di rumah saja menunggu kalian.” Ucap Jaejoong kesal. Eun ri mencium pipinya dan mengelus pipinya lembut.

“Hee Young kan sedang di ajari macam-macam oleh orang tuamu sebelum masuk TK. Mereka meminta kita agar mereka saja yang mengajarkan Hee Young, kau lupa?” Jaejoong menghela nafas mendengarnya.

“Yeobo, jika aku tidak bisa merawatnya kau harus merawat dan membesarkan Hee Young dengan baik ya. Ingat itu. Aku pergi dulu.” Setelah mencium sekilas bibir Jaejoong, Eun ri pun pergi.

Jaejoong masih terdiam setelah mendengar ucapan Eun Ri yang aneh itu. Tak biasanya istrinya itu mengatakan hal seperti itu.

Eunri datang ke rumah mertuanya untuk mengambil Hee Young. Putrinya terlihat berlari menghampirinya lalu menangis dalam pelukannya. Eunri kaget saat putri kesayangannya menangis.

“Wae? Ada apa? Kenapa menangis?” Tanya Eunri lembut.

“Kakek dan nenek jahat. Mereka memaksa Hee Young untuk melakukan hal yang Hee Young benci tanpa henti. Hee Young ingin bermain, umma bukan belajar setiap hari.” Keluh Hee Young sambil menangis.

Saat mertua Eunri datang menghampiri sambil menjelaskan, Hee Young malah semakin menangis keras dan menolak kakek neneknya. Eunri berbicara lembut pun tak Hee Young dengar, yeoja kecil itu terus menangis.

“Kami tak bermaksud memaksanya.” Ucap mertua Eunri. Eunri mengangguk mengerti. Ia berdiri sambil menggendong Hee Young.

“Kalau begitu saya pamit dulu.” Eunri pun pulang dengan Hee Young. Di tengah perjalanan Hee Young kembali ceria dan meminta dibelikan ice cream pada ummanya.

Eunri menurutinya dan keluar bersama Hee Young. Setelah membeli ice cream Eunri dan putrinya berjalan menuju mobil tapi saat sudah dekat keduanya di halangi oleh beberapa wanita yang sudah Eunri tahu siapa. Para wanita yang mengejar suaminya tapi tak berhasil dan menganggap Eunri sebagai penghalang. Eunri sering diganggu oleh para wanita itu. Tak lama ada yang menyerang Eunri dari belakang dan membuat Eunri tak sadarkan diri.

Eunri membuka matanya dengan merasakan perih di bagian bibirnya. Ia membelalakan matanya saat melihat sekelilingnya, para wanita itu membawanya ketempat asing yang sepi dan kotor. Matanya beralih mencari putri kecilnya. Putrinya berada tak jauh dari tempatnya berada. Hee Young menatapnya dengan wajah takut.

“Tidak usah takut nanti kita pasti keluar dari sini, Young-a.” Ucap Eunri lembut.

Eunri di pukuli oleh para wanita itu bergantian tanpa mempedulikan teriakan dan tangisan Hee Young kecil. Eunri meminta Hee Young untuk menutup matanya agar tak melihat kejadian mengerikan itu.

“Kau wanita jalang!! Berani sekali kau merebut Jaejoong kami.” Ucap salah satu wanita dengan marah.

Tak lama para wanita itu kabur setelah mendengar bunyi sirine. Eunri berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya. Setelah berhasil ia melepaskan putrinya dan memeluknya erat. Tubuhnya ambruk membuat Hee Young berteriak memanggil namanya. Eunri yang masih sadar meraih pipi putri kecilnya sambil tersenyum.

“Kau anak pintar, Young-a. Kau menuruti apa yang umma katakan tadi. Kau membawa ponsel kecil yang umma berikan?” Tanya Eunri. Hee Young menangangguk dan memberikan ponsel yang ia sembunyikan hingga para wanita itu tidak tahu. Eunri langsung menelepon pengacara Jung.

“Yunho-a, bisakah kau datang? Aku sudah tak tahan lagi. Sakit sekali rasanya.” Ucap Eunri sambil menahan rasa sakitnya.

“Nyonya dimana? Kenapa suara nyonya seperti itu?” Ucap Yunho. Ia tahu ada yang tidak beres.

“Cepatlah datang. Selamatkan Hee Young. Dia ketakutan.” Ucap Eunri. Setelah itu Yunho tak mendengar apa-apa selain teriakan Hee Young.

Dengan cepat Yunho melacak Eunri dari ponsel tadi. Yunho langsung mendatangi lokasi bersama ambulans begitu tahu keberadaan mereka. Sampai di lokasi ia membelalakan matanya melihat tubuh Eunri penuh dengan lebam dan luka-luka, Eunri pingsan sambil terus memeluk Hee Young yang menangis. Yunho langsung meminta perawat yang datang bersamanya untuk membawa Eunri. Ia menggendong Hee Young yang masih menangis.

Sampai di rumah sakit Yunho dan Hee Young menunggu di depan ruang ICU. Yunho terus memeluk Hee Young yang ketakutan dan menangis tanpa henti. Ia berdiri saat dokter keluar dari ruang ICU. Dokter menggelengkan kepalanya membuat Yunho semakin cemas.

“Pasien koma. Jika bisa melewati malam ini kemungkinan bisa selamat.” Ucap dokter itu.

“Lukanya parah?” Tanya Yunho.

“Sangat parah. Pasien di pukul tepat di daerah rawan dan jika melihat luka dalamnya pasien di pukul sangat keras. Berdoalah pasien bisa melewati malam ini.” Ucap dokter lalu pergi.

Yunho yang masih menggendong Hee Young masuk ke ruang rawat Eunri. Terlihat Eunri terbaring lemah, Hee Young menangis dan memanggil Eunri agar membuka matanya. Tak lama Yunho menelepon Jaejoong untuk memberitahukan keadaan Eunri dan Hee Young.

Tak lama Yunho melihat tangan Eunri bergerak lalu tak lama yeoja itu membuka matanya. Yunho dan Hee Young menghampiri Eunri.

“Yunho-a, kau tahu kan tentang warisan orang tuaku? Aku memintamu untuk mengganti nama itu menjadi nama Hee Young. Aku ingin mewariskan semuanya pada putriku. Tolong kau urus semuanya dan lakukan seperti wasiatku waktu itu. Buku itu juga, jangan berikan jika Jaejoong berubah.” Ucap Eunri dengan menahan sakitnya. Ia merasa waktunya sudah tak lama lagi.

“Umma.” Eunri menoleh pada putrinya yang menangis sambil memanggilnya. Diraihnya tangan mungil itu dan dielusnya dengan lembut.

“Young-a, jangan menangis. Umma baik-baik saja. Kau lelah? Mau tidur dengan umma?” Hee Young mengangguk mendengar pertanyaan ummanya. Ia berbaring di samping ummanya sambil memeluk hangat ummanya itu.

“Umma harus cepat sembuh dan kita bisa membalas perbuatan ajumma-ajumma jahat itu.” Ucap Hee Young.

“Ssshhh jangan seperti itu. Kau tidak boleh dendam pada orang lain walaupun orang itu menyakitimu. Mereka menyakiti kita hanya karena mereka iri pada kita. Janji pada umma ya? Young-a yang cantik tidak boleh dendam pada orang.” Eunri tersenyum saat Hee Young mengangguk di dalam pelukannya.

“Kau harus jaga appa-mu dengan baik ya. Marahi appa kalau appa berbuat yang tidak baik. Katakan kalau umma melihat appa dan umma akan marah. Kau harus tumbuh menjadi wanita yang cantik dan pintar.” Ucap Eunri. Kembali Hee Young mengangguk. Tak lama Hee Young lepas dari pelukannya, putrinya itu bangkit dan mencium kening serta bibirnya.

“Saranghae, umma. Cepat sembuh nanti kalau umma sudah keluar dari sini, Hee Young akan menjaga dan merawat umma juga.” Seketika itu juga Eunri menangis dan melebarkan tangannya meminta putri kecilnya untuk memeluknya.

“Gumawo, Young-a.”

“Yunho-a, jangan lupa kau harus melakukan semua wasiat dariku untuk Hee Young .” Yunho mengangguk. Lalu tak lama Eunri menyanyikan lagu yang biasa ia nyanyikan untuk Hee Young sebelum putrinya tidur.

Yunho tak bisa menahan air mata saat melihat Eunri yang sudah tak sadarkan diri terus memeluk Hee Young dengan erat. Ia memanggil dokter lalu dokter itu dengan cepat memeriksa Euri. Hee Young yang terlelap ia gendong. Dilihatnya dokter dan perawat berusaha keras menyelamatkan Eunri. Tak lama Jaejoong datang dan Yunho menjelaskan semuanya yang ia tahu.

Dokter keluar kamar dan menggelengkan kepalanya. Jaejoong berteriak tak terima. Ia masuk dan melihat istrinya sudah tidak bernafas lagi. Ia mengguncang-guncangkan tubuh tanpa nyawa itu dan berteriak memanggil Eunri agar membuka matanya tapi tak berhasil. Di peluknya tubuh Eunri dengan erat.

 

—-

 

Sehari setelah pemakaman Eunri sikap Jaejoong langsung berubah. Tak hanya pada Hee Young tapi juga pada orang tuanya dan semua keluarganya. Ia tak mempedulikan tangisan Hee Young yang meminta di peluk karena takut dan sedih ummanya tak ada lagi di sampingnya.

Jaejoong jadi sibuk kerja dan jika ada waktu luang ia selalu pergi ke bar dan bermain wanita. Ia sama sekali tak mempedulikan putri satu-satunya itu. Kehidupan Jaejoong jadi kacau semenjak Eunri meninggal. Ia masih belum bisa menerima kalau istri yang ia cintai itu meninggal.

Yunho melakukan semua wasiat yang Eunri berikan. Ia menjaga dan merawat Hee Young karena selain sayang pada putri kecil itu juga karena Hee Young tak ada yang mengurus. Yunho sempat menanyakan tentang kejadiaan naas itu pada Hee Young tapi tak disangka Hee Young malah berteriak ketakutan lalu pingsan. Ia membawanya pada dokter psikologi anak dan dokter mengatakan kalau Hee Young mengalami trauma yang cukup mendalam dan menyarankan agar tidak menanyakan tentang hal yang membuatnya trauma. Dokter juga menyarankan agar Hee Young melakukan terapi agar hal yang buruk bisa dihindari. Yunho melakukan apa yang dokter sarankan dan merawat Hee Young seperti putrinya sendiri.

END OF FLASHBACK

 

TBC

11 thoughts on “Love(s) a Guardian Angel Part 4

  1. karina berkata:

    ooooh jd gtu critanya kbapa jaejoong jad brubah … untung ada aa yunho hehe
    heeyoung sama yunho nya mkin sweet
    next nya d tunggu yah eon

  2. jadi simama tirinya itu cuman pelampiasan aja.
    kasian bgt si heeyoung😦
    hahaha heeyoung jadinya ama abang yoochun??
    mendingan mereka nikah aja eonn.
    terus mereka ganti nama mereka.
    terus hidup bahagia deh. hahaha

    makasih eonn udah bikin flashbacknya
    hahaha

    nice ff eonn. ditunggu kelanjutannya ya hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s