Love(s) Guardian Angel Part 3


Title : Love(s) A Guardian Angel

Main Cast : Park Yoochun, Lee Hee Young

Rating :NC17

Author : Lee Eun Ri

DON’T LIKE DON’T READ !!!

Happy Reading

HEE YOUNG POV

Aku pulang ke rumah pagi-pagi sekali dan segera bersiap ke sekolah untuk mengikuti ujian pertama. Saat aku datang suasana rumah masih sepi. Itu membuatku senang karena tak usah berpapasan dengan orang yang tak ingin kulihat.

Aku pergi ke sekolah dengan di temani Yuchun. Namja itu terlihat lelah, aku sedikit kasihan padanya. Kusuruh ia beristirahat di mobil selama aku ujian. Awalnya Yuchun menolak dengan alasan takut terjadi apa-apa padaku. Kuyakinkan ia jika aku akan aman di sekolah hingga akhirnya ia menurut.

Ujian sekolah kuikuti dengan lancar. Sampai di depan mobil kulihat Yuchun masih tertidur dengan nyenyak. Aku langsung masuk ke dalam mobil dan membangunkannya. Yuchun terlihat gelagapan dan meminta maaf padaku. Aku tak merespon ucapannya dan menyuruhnya untuk segera pergi. Kini Yuchun tak hanya jadi bodyguardku tapi juga supirku. Sekarang aku hanya bisa percaya padanya, Hana dan Changmin oppa. Tak ada orang lain lagi yang bisa kupercaya saat ini.

Jujur aku lelah dengan kondisi ini. Aku ingin segera wanita itu menyingkir dari hidupku dan keluargaku. Aku ingin hidup tenang. Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah waspada akan serangan wanita busuk itu yang ingin membunuhku.

Appa sepertinya sudah di butakan oleh wanita itu sampai-sampai tak sadar kalau appa hanya di manfaatkan olehnya. Dulu tiap kali aku ingin memberikan bukti pada appa selalu gagal sampai akhirnya aku menyerah memberikan bukti itu dan diam sambil terus waspada.

‘Sampai kapan aku harus hidup seperti ini? Aku lelah.’ Batinku.

 

***

 

AUTHOR POV

Hari berjalan normal selama satu minggu ini. Hal ini malah membuat Hee Young curiga dan merasa aneh. Biasanya wanita busuk itu selalu berusaha untuk membunuhnya. Hee Young berusaha untuk tidak memikirkan hal itu sekarang karena ia tengah bersama Hana dan namjachingu yeoja itu yang merupakan temannya juga untuk merayakan berakhirnya ujian mereka. Sempat beberapa kali ia melirik Yuchun yang terus siaga menjaganya.

“Hee Young-a, setelah ini kau akan berlibur?” Tanya Hana. Hee Young terlihat berpikir sebentar lalu mengangguk.

“Aku akan pergi naik gunung.” Jawabnya. Hana terlihat menghela nafas mendengar jawaban Hee Young.

“Kenapa berlibur seperti itu? Itu kan melelahkan.” Keluh Hana.

“Itu menyenangkan.” Hee Young menanggapi keluhan sahabatnya itu. Hana terlihat hanya diam tak mau berdebat dengannya.

“Kapan kau pergi?” Tanya namjachingu Hana yang bernama Junsu.

“Mungkin besok atau lusa.” Jawab Hee Young santai.

“Kalian sendiri akan berlibur kemana?” Tanya Hee Young. Hana mulai terlihat antusias mendengar pertanyaan Hee Young.

“Aku dan Jun oppa akan pergi ke pulau Jeju dan Bali. Kami akan bersenang-senang di sana.” Jawab Hana senang lalu merangkul lengan Junsu.

“Kau hati-hati saat naik gunung. Jangan sampai terluka.” Nasihat Hana. Hee Young hanya mengangguk.

Selesai berkumpul merayakan berakhirnya ujian mereka, ketiganya pulang. Hee Young pulang sendiri sedangkan Hana pulang bersama Junsu. Saat di perjalanan Hee Young meminta Yuchun untuk bersiap-siap karena besok ia akan naik gunung sesuai pembicaraan mereka waktu itu. Yuchun hanya mengangguk.

Sampai di rumah Hee Young beristirahat dan Yuchun di ijinkan pulang. Hee Young berbaring di atas ranjang dengan menghela nafas berkali-kali.

Di balik pintu Hee Young seseorang tengah menguping. Istri Mr.Lee. Ya yeoja yang menjadi ibu tiri Hee Young itu tengah menguping berharap mendengar sesuatu. Ia membenarkan posisinya saat melihat pelayan datang dengan nampan berisi minuman. Ia mengambil nampan itu dan membawanya masuk ke kamar Hee Young. Di lihatnya yeoja itu menatapnya tajam. Ia berusaha untuk tidak emosi dan menampar anak tirinya itu.

“Minumlah, sudah kubuatkan ice tea kesukaanmu.” Ucapnya lembut. Hee Young masih menunjukkan wajah tajam padanya.

“Aku tak butuh. Keluar kau!” Bentak Hee Young.

Ia keluar tanpa banyak kata, pintu kamar Hee Young ia tutup. Setelah di tutup tangannya mengepal dan mulutnya mengeluarkan sumpah serapah dengan pelan. Ia benar-benar ingin segera membunuh putri suaminya itu. Emosinya sudah memuncak dan hal ini hanya bisa di sebuhkan oleh kekasihnya. Ia segera ke kamarnya dan menelepon sang kekasih gelap.

“Kau dimana?” Tanyanya. Ia mendengus kesal saat mendapatkan jawaban kalau kekasihnya tengah merencanakan sesuatu untuk anak tirinya bersama anak buahnya.

“Ya sudah kalau begitu.” Ucapnya lalu menutup teleponnya dan menaruh ponsel diatas meja.

Ia mengganti pakaiannya dengan lingerie transparan yang sangat seksi. Ia tersenyum melihat dirinya sendiri di depan cermin. Ia bangga dengan tubuhnya yang masih kencang dan seksi. Tak lama senyuman di wajahnya hilang saat mengingat suaminya tak pernah menyentuhnya. Ya sejak pernikahan mereka suaminya itu tak pernah menyentuhnya. Malam pertama pernikahan sebenarnya mereka melakukan hal yang biasa dilakukan pasangan suami istri di malam pertama. Tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi, sang kekasih gelapnya menelepon. Akibatnya suaminya tak mood melanjutkan dan tidur. Sejak saat itu terlihat jelas kalau suaminya enggan melakukannya. Sebagai wanita ia merasa tersinggung dan terluka. Terkadang ia berpikir apakah ada yang kurang dari dirinya. Hanya sikap dan perhatiannya yang tak berubah sejak awal berpacaran dulu.

Jujur terkadang ia ingin merasakan bagaimana di sentuh oleh suaminya yang tampan itu. Walaupun ia menikahi namja itu karena ingin hartanya tapi tak ia pungkiri ia ingin di sentuh olehnya. Beberapa kali ia sempat tergoda saat melihat suaminya selesai mandi, keluar dengan hanya melilitkan handuk dan memamerkan tubuh bagian atasnya. Dengan cepat ia menggelengkan kepala saat mengingat semuanya.

“Aku pulang.” Sebuah suara membuat yeoja itu kaget. Ia gelagapan melihat suaminya yang pulang lebih cepat itu.

“Sudah pulang? Tumben pulang cepat?” Ia menghampiri suaminya dan mengambil tas serta mantel namja itu.  Suaminya menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, menatapnya dengan tatapan aneh. Ia tak suka di tatap seperti itu walaupun wajar suaminya menatapnya aneh karena ia baru pertama kali memakai lingerie di depan suaminya itu.

“Aku mau mandi.” Ucap suaminya singkat.

“Mau kusiapkan air hangat untuk berendam?” Tawarnya. Suaminya membalasnya dengan anggukan. Ia dengan cepat menyiapkan air untuk suaminya. Selama menikah ia berusaha melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yang mengurus suami. Hal itu ia lakukan agar terlihat baik di depan suami yang sangat mencintainya itu. Setelah selesai menyiapkan air, ia berbalik untuk keluar kamar mandi. Ia kaget karena di depan pintu suaminya sedang memperhatikannya. Namja itu menghampirinya dan mencium keningnya.

“Gumawo.” Ucap namja itu lembut. Ia memejamkan mata merasakan kecupan itu.

Tak ia pungkiri kalau ia sering terlena dan tergoda melihat suami tampannya. Namja di depannya ini selain tampan juga mempesona. Pesonanya memang tak bisa ia tolak. Tak heran dulu para wanita mengejarnya dan berusaha mendapatkan perhatiannya.

Ia membuka mata lalu tersenyum. Suaminya membalasnya dengan senyum yang membuat ia terlena. Suaminya menjauh dan membuka baju, tubuh kekar dan berotot itu terlihat di depan matanya setelah sekian lama.

‘Ya Tuhan. Sempurna sekali. Kalau begini aku seperti mengkhianati Sang Woo.’ Batinnya.

Ia keluar dari kamar mandi dan duduk di tepi ranjang menghadap keluar jendela. Tak lama suara dering telepon membuatnya terhenyak kaget. Sang kekasih gelap meneleponnya.

“Ada apa?” Tanyanya langsung.

“Kau dimana? Kita bertemu di tempat biasa. Aku sudah merencanakan semuanya. Kau hanya tinggal melakukan tugas seperti biasa. Seperti seorang Mrs.Lee. Ingat jangan sampai mereka curiga. Kau akan kubunuh jika menghancurkan semuanya.” Ancam Sang Woo. Ia berdecak kesal mendengar kekasihnya yang suka memerintah dan mengancamnya itu.

“Aku tak bisa pergi, suamiku sudah pulang. Jangan pernah kau memerintah dan mengancamku.” Ucapnya kesal. Namja itu tertawa.

“Hei manis. Kau tidak ingatkah siapa yang membuatmu hingga seperti sekarang ini? Itu aku.”

“Sekali lagi kau membuatku kesal kau tahu apa akibatnya.” Ancamnya. Tak menunggu lama ia tutup teleponnya dan ia mematikan ponselnya. Ia menghela nafas pelan sambil memejamkan mata. Setelah rasa kesalnya reda ia menyiapkan pakaian untuk suaminya. Saat tengah mengambil pakaian sebuah suara membuatnya terhenti.

“Rei Na-a.” Panggil suaminya. Ia menoleh dan melihat suaminya yang selesai mandi, ia terdiam melihat sosok sempurna di depannya. Seksi, itulah kata pertama yang ada di pikirannya. Rambut suaminya yang basah menambah keseksiannya itu.

“N Ne?” Suaranya terdengar gugup.

“Aku tak suka memakai baju itu. Yang lain saja.” Ucap suaminya. Rei Na mengangguk dan mengambil baju yang lain. Saat sedang sibuk mencari baju dan menjernihkan pikirannya tiba-tiba suaminya memeluknya dari belakang. Rei Na terdiam merasakan tangan kekar memeluknya.

“Kenapa kau belum mengganti pakaianmu?” Tanya Suaminya.

“Lu lupa, oppa.” Jawabnya.

“Kenapa kau memakai lingerie seperti ini? Kau mau menggoda siapa?” Pertanyaan suaminya seperti menuduhnya ingin menggoda pria lain.

“Aa aku hanya ingin mencobanya saja. Aku tak berniat menggoda siapapun. A ak aku akan menggantinya. Maaf kalau pakaian ini membuat oppa marah.” Jawabnya lagi. Tangan suaminya semakin memeluknya erat.

“Ya, aku marah karena kau sudah membangunkan singa yang tengah tidur. Kau sejak tadi memang sengaja memakai ini untuk menggodaku kan?” Rei Na memejamkan mata merasakan hembusan nafas suaminya di leher miliknya.

“Mian, aku tak bermaksud seperti itu.” Ucapnya. Ia berusaha untuk melepaskan pelukan itu.

“Kenapa kau berusaha melepaskan pelukanku? Kan sudah kubilang kau sudah membangunkan singa yang tengah tertidur.” Ucap suaminya dengan suara berat.

“Bu bukankah oppa tidak mau menyentuhku? Sejak saat itu oppa tak pernah mau melakukannya denganku.” Ucap Rei Na jujur. Suaminya mengendurkan pelukannya dan membalikkan tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan.

“Aku selalu ingin menyentuhmu, ingin membelaimu dan mencium setiap inci tubuhmu. Tapi setiap kali aku ingin mencobanya lagi kau selalu sibuk dengan ponselmu. Kau sibuk menelepon orang yang bahkan aku tak tahu siapa itu.” Ucap suaminya. Rei Na menatap suaminya dengan perasaan bersalah.

“Mianhae, Jaejoong oppa.” Ucapnya menyesal.

Suaminya mulai menciumnya lembut. Rei Na berusaha mencari cara untuk menolaknya karena ingat kalau Sang Woo adalah kekasihnya, cinta sejatinya. Sejak dulu ia sangat mencintai Sang Woo walaupun namja itu selalu kasar dan senang memerintahnya. Dua namja yang sangat berbeda sifat. Sang kekasih yang kasar dan suka memerintah, sedangkan sang suami sangat lembut, perhatian dan tak suka memerintahnya.

Tangan suaminya mulai bergerilya di tubuhnya mencari titik rangsangnya. Pesona namja di depannya ini sulit ia tolak. Tiap sentuhan dan ciuman namja itu membuatnya terbuai.

‘Apa yang harus kulakukan?’ Batinnya.

‘Ini hukuman untuk Sang Woo karena suka memerintahku dan mengancamku. Dia tak pernah lembut seperti Jaejoong oppa. Dia mencintaiku dan menghargaiku sebagai seorang wanita.’ Batin Rei Na.

‘Ini hadiah untukmu suamiku.’ Batin Rei Na. Ia mulai membalas ciuman namja itu dan mengalungkan tangan ke leher Jaejoong.

Rei Na merasakan suaminya itu perlahan membawanya ke atas ranjang dan memulai aktifitas intim suami istri. Rei Na benar-benar terbuai oleh perlakuan Jaejoong padanya.

 

***

 

Sang Woo mengepalkan tangannya dan membanting ponsel. Ia kesal dengan Rei Na yang sulit di hubungi. Dengan cepat ia pergi ke rumah keluarga Lee untuk bertemu yeoja itu. Sampai di rumah salah satu bodyguard memberitahukannya kalau tak boleh melebihi batas yang sudah di tentukan. Ia berusaha tak protes setelah mendengarnya.

“Memangnya kenapa?” Tanya Sang Woo.

“Tuan Lee tak mau diganggu. Tuan juga berpesan agar semua bodyguard nyonya berjaga di depan rumah saja.” Jawab bodyguard itu.

“Cepatlah berjaga di depan. Sejak tadi kau pergi dan tuan sempat mencarimu. Kubilang kau ke apotik untuk membeli obat. Kubilang kau sedang sakit.” Ucap bodyguard bertubuh tegap itu. Sang Woo mengangguk lalu pergi.

Selama berjaga di rumah keluarga Lee, Sang Woo kembali mengingat tentang rencananya untuk membunuh Hee Young. Ia merencanakannya besok. Rencana Sang Woo memang setelah yeoja itu selesai ujian.

‘Kau akan mati di tanganku besok.’ Batin Sang Woo.

Sang Woo menjaga rumah itu semalaman. Saat menjelang pagi ia masuk untuk memberitahu bodyguard lain jika ia sudah selesai bertugas hari ini dan ia libur selama 2 hari. Ia naik ke atas dan melihat sudah tak ada penjaga di lorong menuju kamar Rei Na dan Jaejoong. Sang Woo melangkah mendekati kamar keduanya. Di depan kamar mereka pun tak ada bodyguard yang berjaga. Ia menengok ke kanan dan kekiri tapi memang tak ada orang berjaga. Sang Woo merasa aneh karena hal ini tak seperti biasanya. Tak lama terdengar suara dari dalam kamar.

“Gumawo untuk semalam.” Terdengar suara Jaejoong.

“Cheonma oppa. Kau hebat sekali tadi malam. Pesonamu memang sulit untuk di tolak.” Balas Rei Na.

Sang Woo terus mendengarkan percakapan mereka. Tak lama terdengar desahan nikmat dari suara Jaejoong. Suara Rei Na perlahan pun terdengar. Tangan Sang Woo mengepal saat tahu apa yang tengah di lakukan kekasihnya.

‘Kalau aku sudah mendapatkan semuanya kau juga akan mati di tanganku, Rei Na-a. Berani sekali kau mengkhianatiku. Sudah kubilang jangan berani berhubungan intim dengannya.’ Batin Sang Woo geram.

Sang Woo pergi dengan penuh amarah. Ia pulang dan membanting semua perabotan di apartemennya hingga hancur. Sang Woo berteriak dan menyumpahi Rei Na. Jika ia tak ingat masih membutuhkan Rei Na, ia akan membunuh yeoja itu sekarang juga.

“Brengsek kau!” Ucap Sang Woo.

 

—-

 

Rei Na mencium bibir Jaejoong sekilas. Ia hari ini senang karena semalam bercinta dengan Jaejoong. Namja itu akhirnya menyentuhnya, melakukan hal selayaknya suami istri. Rei Na melupakan sejenak semua rencananya dan Sang Woo. Ia terbuai oleh semua sikap dan sentuhan Jaejoong padanya. Di tatapnya Jaejoong lalu suaminya itu mencium keningnya pelan seperti biasa.

“Mandilah, oppa harus ke kantor kan.” Ucap Rei Na. Jaejoong hanya mengangguk lalu pergi ke kamar mandi. Melihat Jaejoong sudah masuk Rei Na tersenyum senang mengingat kejadian tak terduga semalam.

“Kau memang namja dengan 1000 pesona.” Gumamnya sambil menatap pintu.

Jaejoong keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya menghampirinya dan mencium pipinya lalu masuk ke kamar mandi. Dilihatnya pakaian sudah di persiapkan oleh Rei Na. Selesai berpakaian ia keluar kamar dan Rei Na menyusul. Saat menuruni tangga ia melihat putrinya Hee Young tengah berjalan ke arah pintu. Dari pakaian putrinya Jaejoong menebak jika Hee Young akan pergi.

Melihat putrinya beranjak dewasa dan masih tetap bersikap keras dan kasar seperti dulu membuat Jaejoong terkadang pusing. Ia selalu sedih jika melihat Hee Young karena tiap kali melihat putrinya, Jaejoong teringat akan mendiang istrinya.

Jaejoong menuruni tangga dan sarapan. Ia berusaha untuk tidak mempedulikan Hee Young. Sarapan bersama istri tercintanya membuat rasa hampa yang ada di dalam dirinya hilang. Selesai sarapan ia berangkat kerja seperti biasa.

 

—-

 

Hee Young dan Yuchun pergi naik gunung berdua dengan membawa peralatan yang di perlukan. Peralatan yang di bawa Hee Young sangat lengkap karena yeoja itu menyiapkannya dengan teliti. Hee Young pergi tanpa menggunakan kendaraan dari rumah, sengaja ia lakukan itu karena merasa akan lebih mengasikkan. Mereka berdua pergi ke gunung Odae yang berada di provinsi Gangwon tempat yang cukup jauh namun membuat Hee Young antusias dengan perjalanan ini.

Selama perjalanan Hee Young melihat pemandangan yang sangat indah. Keindahan itu terus ia kagumi tanpa sadar sejak tadi ada yang mengikutinya. Diliriknya Yuchun sebentar dan melihat namja itu terus waspada dengan sekeliling.

Yuchun sejak pagi memiliki perasaan yang tidak enak namun ia sendiri tak tahu apa itu. Ia merasa pasti ada sesuatu hal yang buruk akan terjadi. Di lihatnya Hee Young masih menatap pemandangan di luar.

Sampai di provinsi Gangwon, Yuchun dan Hee Young mencari penginapan terlebih dahulu. Keduanya beristirahat di kamar masing-masing. Yuchun hanya beristirahat sebentar lalu berjaga di depan pintu kamar Hee Young. Ia tak tenang meninggalkan yeoja itu terlalu lama. Yuchun menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka. Dilihatnya yeoja itu keluar dan melihatnya kaget. Yuchun mengangguk sopan.

“Ayo cari makan, aku lapar.” Ucap Hee Young lalu berjalan melewati Yuchun.

Saat tengah makan Hee Young mengatakan padanya kalau yeoja itu ingin pergi ke gunung sore hari. Yuchun tak setuju karena menurutnya itu berbahaya. Hee Young tetap ingin pergi sore hari membuat Yuchun tak bisa melakukan apa-apa.

Selesai makan Hee Young sempat berkeliling melihat tempat yang menarik di sana. Ia membeli beberapa barang lalu setelah itu pulang ke hotel tempat ia dan Yuchun menginap. Mereka langsung bersiap-siap untuk pergi ke gunung Odae. Setelah selesai keduanya langsung pergi ke gunung Odae.

Di gunung Odae keduanya menikmati pemandangan alam yang terhampar sangat indah. Yuchun terus mengawasi Hee Young. Ia sangat waspada malam itu membuat Hee Young yang melihatnya berdecak dan menghiraukan bodyguardnya itu.

Puas menikmati gunung odae Hee Young kembali ke hotel dan berniat untuk jalan-jalan lagi. Tak ingin pulang cepat itulah yang Hee Young inginkan sekarang. Hal yang tiba-tiba itu membuat Yuchun bingung. Ia ingin melarang tapi tak ada hak untuk itu.

Selama beberapa hari Hee Young bepergian dengan dikawal oleh Yuchun. Perjalanan tak tentu tujuan. Hanya mengikuti keinginan Hee Young yang terkadang sangat tiba-tiba dan tak masuk akal. Terkadang pergi di malam yang sangat larut secara tiba-tiba membuat Yuchun kewalahan.

Kini Hee Young dan Yuchun tiba di tempat singgah yang ke lima. Yuchun melihat tempat itu sedikit aneh dan mencurigakan karena beberapa orang menatapnya dan Hee Young dengan tatapan aneh dan mengerikan. Seperti biasa keduanya tidur dalam satu kamar agar Hee Young aman. Kini Yuchun mulai terbiasa tidur di kamar yang sama dengan Hee Young jika mereka menginap. Saat Hee Young tidur Yuchun duduk di sofa dekat ranjang yeoja itu dan menjaganya.

Paginya Hee Young bertanya-tanya pada penduduk sekitar tentang hutan yang sempat ia lihat saat perjalanan. Para penduduk di sana melarangnya untuk ke sana karena banyak hal aneh dan mistis di hutan itu. Hee Young sempat bertanya kenapa tapi tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya. Hal itu malah membuat Hee Young semakin penasaran dan ingin ke sana. Tanpa banyak berpikir ia pergi ke sana dengan Yuchun.

Selama ini ia maupun Yuchun tak pernah sadar kalau ada yang mengikuti mereka sejak perjalanan pertama. Hee Young asik dengan perjalanan itu.

Memasuki hutan terasa sekali perasaan aneh yang merasuki Hee Young maupun Yuchun. Hutan itu terasa sangat mistis, sama seperti yang di katakan penduduk pada Hee Young. Ia sebenarnya takut dan gugup tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya. Perlahan ia masuk menelusuri hutan. Semakin dalam Hee Young masuk semakin terasa kuat perasaan mistis dari hutan itu.

“Kyaaaaaaa!” Teriak Hee Young saat melihat kumpulan tengkorak manusia di depannya. ia berbalik dan memeluk Yuchun erat.

“Ya Tuhan. Apa ini?” Gumam Yuchun kaget. Di depannya banyak sekali tengkorak manusia. Ada yang terhampar di tanah dan ada yang menggantung di pohon. Ada pula tubuh seseorang di atas pohon yang mulai busuk dan dipenuhi oleh bilatung, binatang kecil yang sangat menjijikan.

“Sepertinya hutan ini tempat untuk bunuh diri atau mungkin tempat pembuangan mayat yang di bunuh.” Ucap Yuchun sambil melihat salah satu tengkorak utuh yang di bagian dadanya tertanam sebuah pisau.

“Ki Kita pergi ke tempat lain. Mu mungkin di sana tidak ada hal yang aneh.” Ucap Hee Young gugup sambil menunjuk arah yang berbeda. Walaupun takut Hee Young tak mau pergi hanya karena ia takut dengan tengkorak. Ia mendengar helaan nafas dari Yuchun yang sepertinya sudah tahu tentang sifat keras kepalanya.

Semakin dalam keduanya masuk hutan semakin terdengar suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk merinding. Tak lama terdengar suara lolongan seperti lolongan serigala. Kembali Hee Young berteriak saat melihat seekor serigala tengah memakan daging mayat manusia. Dengan sigap Yuchun mengambil ranting yang cukup besar untuk melawan serigala itu.

Serigala itu sempat melawan tapi setelah beberapa kali di pukul oleh Yuchun, serigala itu pun pergi. Yuchun berbalik dan melihat Hee Young tengah di bungkam mulutnya oleh seseorang. Yeoja itu memberontak membuat Yuchun panik, ia merutuki dirinya yang lengah.

“Lepaskan nona, Sang Woo-sshi.” Ucap Yuchun tegas pada pengawal pribadi Rei Na itu. Namja itu menatapnya tajam dan senyuman yang meremehkannya.

“Kau pikir aku akan melakukannya? Aku akan membunuh yeoja ini dengan tanganku sendiri.” Ucap Sang Woo. Hee Young terus berontak membuat Sang Woo kesal dan berteriak pada yeoja itu.

Melihat perhatian Sang Woo kini teralih pada Hee Young membuat Yuchun langsung mendorong Sang Woo agar jauh dari Hee Young. Keduanya pun tak luput dari perkelahian. Teriakan Hee Young agar keduanya berhenti bertengkar tak mereka hiraukan. Dari jauh Hee Young hanya melihat perkelahian itu dengan tubuh gemetar. Ingatannya kembali pada masa lalu, dimana pada akhirnya ibunya terbunuh di depan matanya sendiri dan ia tak melakukan apapun untuk membantu ibunya.

Mata Hee Young membelalak saat melihat Sang Woo memegang ranting cukup besar untuk memukul Yuchun yang tersungkur tak berdaya. Tanpa pikir panjang Hee Young mengambil batu yang cukup besar yang ada tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia menghampiri Sang Woo yang kini membelakanginya, namja itu masih fokus pada Yuchun membuat Hee Young dengan mudah memukul kepala namja itu dengan batu besar yang ia ambil.

Sang Woo langsung terjatuh tak sadarkan diri. Ia menatap Sang Woo dengan horror lalu melemparkan batu yang ada di tangannya. Di peluknya Yuchun dan mulai bergumam.

“Kau baik-baik saja kan? Kau tidak mati kan? Apa kau terluka parah?” Hee Young melepaskan pelukannya dan menatap Yuchun khawatir. Ia takut Yuchun akan berakhir seperti ummanya.

“Aku baik-baik saja. Nona tidak usah khawatir. Ini hanya luka biasa.” Jawaban Yuchun membuat Hee Young bernafas lega. Ia melihat tubuh Sang Woo yang tidak bergerak sama sekali. Perasaan takut mulai muncul dari diri Hee Young.

“A apa aku sudah membunuhnya?” Tanya Hee Young takut. Yuchun memeriksa denyut nadi namja itu lalu menatap Hee Young dan menggelengkan kepala.

“Aku membunuhnya. Aku pembunuh.” Ucap Hee Young dengan tubuh gemetar. Yuchun berusaha menenangkan Hee Young. Ia mengelap tangan yeoja itu dan menatap Hee Young.

“Kau di serang dan aku yang membunuhnya,ok. Aku yang akan bertanggung jawab. Nona tenanglah. Semua akan baik-baik saja.” Ucap Yuchun pelan. Hee Young menggelengkan kepalanya dan mulai menangis. Tangisan yang sangat jarang Yuchun lihat. Sekali lagi ia melihat kelemahan Hee Young yang jarang yeoja itu perlihatkan di depan banyak orang. Di hapusnya air mata yeoja itu dan memeluknya untuk menenangkan Hee Young.

Sebuah lolongan membuat Yuchun melepaskan pelukannya pada Hee Young. Keduanya melihat serigala yang lebih besar dari sebelumnya tengah menatap mereka. Yuchun mendorong Hee Young agar berlindung di belakangnya dan perlahan keduanya mundur. Yuchun tengah berpikir apa yang akan ia lakukan pada serigala besar itu sementara tubuhnya luka.

Serigala itu perlahan mendekat dan di belakangnya mulai bermunculan serigala-serigala lain namun tubuh serigala-serigala itu lebih kecil. Yuchun mulai waspada saat para serigala mendekat. Yuchun dan Hee Young menatap apa yang di lakukan para serigala itu. Kawanan serigala mulai menarik-narik mayat Sang Woo menjauh sampai tak terlihat lagi. Salah satu serigala mendekati Yuchun dan Hee Young tapi kembali mundur saat serigala yang lebih besar melolong seolah melarang serigala itu untuk menyerang mereka.

Saat kawanan serigala sudah jauh. Yuchun mengikuti mereka dan melihat tubuh Sang Woo ternyata di jadikan santapan oleh mereka. Sama seperti yang di lihat Yuchun dan Hee Young sebelumnya.

Hee Young menatap ngeri apa yang baru saja ia lihat. Ia menarik-narik tubuh Yuchun agar mereka segera pergi dari hutan mengerikan itu. Sudah cukup bagi Hee Young mengalami semua ini, kumpulan tengkorak, serigala yang memakan daging dari mayat manusia dan membunuh Sang Woo. Semua hal itu membuat Hee Young ketakutan dan gemetar. Perjalanan kembali kepenginapan terasa hening. Lengan Yuchun pun sejak tadi di genggam erat oleh Hee Young yang ketakutan.

“Hutan ini aneh dan lagi kenapa para penduduk di sini masih tinggal di sini? Hutan ini kan tak jauh dari desa mereka.” Ucap Yuchun memecah keheningan.

Sampai di desa Yuchun dan Hee Young menatap sekeliling dengan aneh. Suasana sepi, sangat hening di tambah rumah-rumah warga yang tadinya terawat jadi terlihat rapuh seolah jika di sentuh akan runtuh. Tempat mereka menginap pun terlihat seperti hotel tua yang sudah di tinggalkan selama bertahun-tahun. Desa yang tadinya cukup ramai kini sangat hening dan hanya ada mereka berdua. Hee Young menatap Yuchun takut dan mempererat genggaman tangannya di tangan Yuchun.

Keduanya masuk dan melihat barang-barang mereka masih tersimpan di tempat yang sama. Dengan cepat Hee Young dan Yuchun berkemas dan keluar dari hotel kecil itu. Keduanya tak tahu apa yang tengah terjadi, yang ada di pikiran mereka sekarang hanyalah keluar dari desa aneh itu. Hee Young dan Yuchun setengah berlari agar bisa secepatnya keluar dari desa.

Setelah berhasil keluar dari desa itu Hee Young dan Yuchun duduk di pinggir jalan untuk mengambil nafas. Keduanya kelelahan. Hee Young mendekat pada Yuchun saat melihat seseorang menghampiri mereka.

“Kalian baik-baik saja?” Tanya orang asing itu. Yuchun mengangguk.

“Kami baik-baik saja. Anda penduduk daerah sini?” Tanyanya. Orang asing itu mengangguk.

“Ya, saya tinggal di sana, desa yang akan anda temui setelah melewati jembatan.” Jawab namja asing bertubuh tegap itu.

“Boleh saya bertanya?” Namja itu mengangguk menjawab pertanyaan Yuchun.

“Anda tahu desa yang ada di sana?” Yuchun menunjuk desa yang berlawanan arah dari desa namja itu. Wajah namja itu terlihat pucat mendengar pertanyaan Yuchun membuat Yuchun curiga.

“Kalian ke desa itu?” Tanya namja asing itu. Tak mendapatkan jawaban membuat namja asing itu berpersepsi kalau keduanya baru saja datang ke desa itu.

“Sepertinya kalian baru saja dari sana. Desa itu sudah bertahun-tahun tidak berpenghuni bahkan sebelum saya lahir. Yang saya dengar dari cerita orang tua saya, desa itu merupakan desa kumpulan para pembunuh. Selain itu desa itu juga kumpulan para pasangan suami istri yang sebenarnya mempunyai hubungan darah.” Ucap namja asing itu membuat Yuchun dan Hee Young kaget.

“Awalnya hanya sedikit penduduknya tapi perlahan semakin banyak. Kumpulan pasangan sedarah dan para pembunuh pun semakin memenuhi desa itu. Semakin lama desa itu semakin terkenal dan kudengar ada tempat pelacuran juga di sana. Kata orang tuaku hutan yang ada tak jauh di sana ada kawanan serigala dan sepertinya mereka terganggu dengan aktifitas yang ada di desa baru itu dan mulai menyerang mereka satu per satu hingga tak tersisa satu pun.” Ucap namja itu melanjutkan cerita yang ia dengar dari kedua orang tuanya. Hee Young menggenggam erat tangan Yuchun takut.

“Kudengar dari seorang teman. Temanku itu bertemu dengan orang yang baru saja mengunjungi desa itu yang sudah lama tak berpenghuni. Katanya saat pertama kali datang desa itu sangat hidup, banyak orang. Rumah dan hal lainnya terlihat terawat, tak terlihat seperti desa tak berpenghuni. Tapi beberapa hari kemudian orang itu melihat desa itu kosong, tak ada keramaian seperti sebelumnya. Sepertinya arwah para penduduk desa ingin menganggu orang yang datang ke sana tanpa sengaja.” Semua ucapan namja itu membuat Yuchun dan Hee Young tambah kaget.

“Kalian mengalami hal yang sama?” Tebak namja asing itu.

“Ya, dan kami pergi kehutan itu juga.” Ucap Yuchun jujur. Namja di depannya menatapnya tak percaya.

“Lalu? Apa kalian tidak apa-apa? Jangan sekali-kali lagi kalian kesana. Setelah tak berpenghuni kudengar desa itu sering di kunjungi oleh orang-orang yang ingin bunuh diri. Kalian lihat tanda merah besar di sana?” Namja asing itu menunjuk tanda merah di pertigaan jalan besar yang mereka lewati kemarin.

“Itu tanda yang di buat orang-orang di desaku agar orang tak melewati jalan ini dan tak mengunjungi desa yang di juluki desa terkutuk itu. Ini sepertinya kalian haus dan kaget mendengar ceritaku.” Ucap namja itu lalu memberikan botol minuman pada Yuchun. Yuchun menerimanya dan berterima kasih.

“Lalu bagaimana dengan kawanan serigala itu. Kami sempat melihatnya.” Tanya Yuchun.

“Warga desaku membiarkan mereka semua di hutan yang memang sejak dulu itulah rumah mereka. Kami tak mau menganggu tempat yang menjadi rumah mereka. Kami membiarkan mereka hidup disana asal tak menganggu warga desa kami.” Jawabnya.

“Saya permisi. Jika kalian mencari penginapan di desaku ada satu penginapan kecil.” Ucap namja asing itu lalu pergi.

Cukup lama Yuchun dan Hee Young terdiam dan duduk di pinggir jalan. Mereka berdua memikirkan apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Hee Young berpikir tidak mungkin jika ia pulang karena wanita busuk itu pasti akan curiga dan melakukan rencana pembunuhan lain. Selain itu wanita itu pasti akan mencari keberadaan Sang Woo, pengawal pribadi sekaligus kekasih wanita busuk itu.

Tak lama Yuchun berdiri dan mengulurkan tangan pada Hee Young. Hee Young menyambutnya dan pergi dari tempat itu. Ia tak mengatakan ingin pergi kemana. Kali ini ia membiarkan Yuchun menuntunnya. Hee Young sendiri masih bingung dan takut karena baru saja membunuh Sang Woo.

TBC

mohon komennya ya. seperti biasa klo udah 5 yang komen baru author posting lanjutannya. 

part 4 sedang dalam tahap pengetikan ^^

8 thoughts on “Love(s) Guardian Angel Part 3

  1. akhirnya hahaha
    loh kok jadi ada cerita seremnya sih -_-
    itu jadi si sangwoonya mati ya? kasian banget sih.
    akhirnya mulai sedikit mengerti sama jalan ceritanya hehehe
    gomawo eonni.
    ditunggu chapter berikutnya🙂

  2. Oh_Sehun berkata:

    Keren thor , makin seru aja ^ belum ada tanda2 mereka lakuin itu ya ? “yadong akut —
    ditunggu lanjutan nya ..
    Maaf thor baru komen , soalnya aku baru baca hehe xD

  3. karina berkata:

    desa nya bkin serem …. yochun nya gentle bgt dsini suka bgt deh . … dan smakin penasaran dgn kelanjutanyaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s