Love(s) A Guardian Angel Part 1


Title : Love(s) A Guardian Angel

Main Cast : ParkYoochun, Lee Hee Young

Rating : PG13 – NC17

Author : Lee Eun Ri

DISCLAIMER:FF ini murni buatan author sendiri tanpa menjiplak dari FF di blog mana pun. Cerita ini hanya khayalan belaka. Jika ada kesamaan di dunia nyata itu hanyalah kebetulan semata.

NOTE: Sesuai janji sebelumnya kalau udah ada 5 orang yang komen langsung author posting. Moga suka ya, mian klo aneh. kalo ada kritik dan saran langsung komen aja ^^

DON’T LIKE DON’T READ!!!

Happy Reading

 

AUTHOR POV

 

Hee Young yang tengah beristirahat berjalan ke atap sekolahnya sambil membawa bekal makanan yang ia bawa dari rumah. Ia membuka pintu menuju atap sekolah lalu melihat beberapa namja sudah mengantri untuk dilayani olehnya. Ia menghela nafasnya lalu berjalan ke tempat para namja itu menunggu.

“Akhirnya kau datang.” Ucap salah satu namja yang sudah lama menunggu. Namja itu tersenyum senang melihat kedatangan Hee Young.

“Baiklah masing-masing hanya akan kuberi 1 menit. Tidak lebih.” Ucap Hee Young. Ucapannya itu membuat para namja yang sudah mengantri mengeluh. Hee Young yang sudah berjalan ke tempat biasa ia melayani para namja itu menoleh dan menatap para namja itu dengan tatapan tajam.

“Kalian tidak suka? Silahkan pergi.” Mendengar ucapan Hee Young, para namja itu terdiam.

Hee Young menunjuk namja yang paling depan mengantri dan menyuruhnya untuk mengikutinya. Namja itu pun mengikutinya. Ia menaruh bekalnya lalu menatap namja itu.

“Tutup pintunya dan kemarilah.” Perintah Hee Young santai. Ia ingin semua ini segera selesai jadi ia bisa makan siang dengan tenang.

Ia dan namja itu tengah berada di ruangan kosong yang ada di atap. Hee Young melihat namja tinggi itu berjalan ke arahnya dengan gugup. Ia baru pertama kali melihat namja itu. Hee Young memasang senyum seperti biasanya. Namja itu berhenti tepat di depannya lalu menundukkan kepala.

“Angkat kepalamu. Aku kan bukan sedang membullymu. Siapa namamu?” Namja itu mengangkat kepalanya.

“Aku Sang Hyun. Aku baru pindah seminggu yang lalu.Aku dengar tentangmu dari teman-teman. Mmm apakah kau bisa…” Ucapan Sang Hyun di potong oleh Hee Young.

“Ya, apa yang kau dengar tidak salah. Kau mau mulai sekarang atau tidak sama sekali? Jangan buang-buang waktuku.” Ucap Hee Young.

Hee Young menarik lengan namja itu lalu mulai menciumnya. Kim Hee Young yang seorang gadis SMA mempunyai pekerjaan sampingan disekolahnya. Mencium, itulah pekerjaan Hee Young. Ia akan mencium setiap namja minimal 1 menit lalu namja yang memakai jasanya itu harus membayar 10.000 won. Pekerjaan ini hanya di ketahui oleh para murid. Para guru tidak mengetahuinya karena para murid namja menutupi pekerjaan Hee Young agar mereka bisa mendapatkan jasa ciuman itu.

Hee Young sudah melakukan pekerjaan ini sejak masuk SMA. Awalnya ia hanya iseng tapi dari keisengannya itu membuatnya terkenal diantara para namja dan ia di juluki pencium yang handal.

Hee Young mencium Sang Hyun dengan mesra, ia beradu lidah dengan namja itu dan menekan tengkuk sang namja agar ciumannya semakin dalam. Tiba-tiba Hee Young menghentikan ciumannya dan membuat Sang Hyun kaget. Namja itu terlihat jelas kecewa. Hee Young tersenyum melihat reaksi Sang Hyun yang seperti itu.

“Sepertinya kau mulai menikmati ciumanku tapi sayang waktunya sudah 1 menit. Ini ciuman pertamamu kah?” Tanya Hee Young. Sang Hyun menganggukan kepalanya. Melihat jawaban itu membuat Hee Young tersenyum lebar.

“Pantas saja. Tapi kau cukup nakal ya.” Ucap HeeYoung. Ia mendekati namja itu lagi lalu berbisik di telinga Sang Hyun.

“Baru kucium disini sudah tegang. Kau nakal juga ya.” Ucap Hee Young sambil mengelus junior Sang Hyun dari luar. Terdengar lenguhan tertahan dari namja itu. Hee Young semakin gemas untuk mempermainkan namja itu. Saat Sang Hyun tengah berusaha menahan agar lenguhannya tidak keluar tiba-tiba Hee Young menghentikan aksinya itu. Ia menatap Sang Hyun lalu menadahkan tangan meminta bayarannya.

Dengan perasaan kecewa Sang Hyun pun memberikan uangnya pada Hee Young. Hee Young mengambilnya lalu mendorong namja itu hingga terjatuh dan tersandar di tembok. Ia duduk di atas pangkuan namja itu sambil tersenyum manis. Hee Young benar-benar tak tahan untuk mempermainkan namja didepannya itu. Dengan sigap ia membuka kancing seragam namja itu lalu mencium dada bidang dan perut Sang Hyun. Hee Young menciumnya hingga ada kissmark ditubuh namja itu.

Puas mencium Sang Hyun, Hee Young merapikan seragam namja itu lalu kembali memasang senyuman manis yang selalu ia berikan pada setiap namja yang memakai jasanya. Namja itu menatapnya dengan gugup.

“A aku harus bayar berapa untuk yang tadi? Jujur aku tak bawa uang lagi selain yang tadi kuberikan.” Ucap Sang Hyun jujur.

“Yang tadi kuberikan gratis asal kau tak memberitahukan pada yang lain. Aku bisa repot kalau yang lain tahu. Ok?” Bisik Hee Young di telinga Sang Hyun lalu menjilat dan mengigit pelan telinga namja itu. Hee Young tersenyum saat melihat anggukan dari namja itu.

“Gumawo.” Ucap Sang Hyun sambil berdiri dan pergi.

Siang itu hampir Hee Young habiskan untuk mencium para namja yang sudah mengantri. Beruntung saat ia sudah selesai bel jam istirahat belum berbunyi sehingga ia bisa makan siang.

Selesai makan Hee Young pergi menuju kelasnya. Ia dengan santai berjalan dan masuk ke dalam kelas. Saat duduk di kursinya ia langsung di introgasi oleh teman dekatnya yang bernama Kim Ha Na. Yeoja itu selalu menanyakan tentang pekerjaan Hee Young setiap hari lalu menasehatinya.

“Tadi ada yang baru. Namanya kalau tidak salah Sang Hyun.” Ucap Hee Young pelan. Ha Na langsung membelalakan matanya tak percaya. Hee Young hanya mengerutkan keninganya melihat reaksi Hana yang tak biasa itu.

“Kenapa? Tumben reaksimu seperti itu.”

“Apa kau tidak tahu kalau anak pindahan kelas 2 itu mulai popular diantara para yeoja di sekolah ini? Kau tahu kan bagaimana jadinya kalau namja populer di dekati?” Ucap Hana.

“Tapi bukan aku yang mendekatinya. Dia yang datang terlebih dahulu untuk mendapatkan jasaku.” Jawab Hee Young tak mau kalah. Hana menghela nafas mendengar ucapannya.

 

—-

 

Yuchun menatap dirinya di depan cermin. Ia tersenyum saat melihat dirinya sudah rapi. Yuchun akan berangkat kerja seperti biasa hari ini. Ia mengambil tas dan ponselnya lalu keluar dari apartemen kecilnya. Ia mengambil sepedanya lalu berangkat kerja. Ia memang selalu memakai sepeda kemana pun ia pergi. Yuchun memakainya karena ia tak memiliki uang untuk membeli mobil maupun motor. Uang dari bekerja Yuchun pakai untuk keperluan sehari-hari dan untuk membayar sewa apartemen.

Sampai di tempat bekerjanya Yuchun langsung masuk ke dalam dan menyapa para pekerja lain. Selesai menaruh barangnya di loker Yuchun langsung ke bekerja seperti biasa. Meracik minuman untuk setiap pelanggan yang meminta. Yuchun bekerja sebagai bartender di sebuah bar terkenal di Seoul. Yuchun sudah bekerja setelah ia lulus SMA.

Hari semakin malam dan Yuchun pun semakin sibuk karena permintaan dari pelanggan yang meminta dibuatkan minuman olehnya. Ia tak pernah mengeluh dan terus tersenyum melayani semua permintaan pelanggan.

Saat bar akan tutup pelanggan pun semakin berkurang tapi ada satu pelanggan yang masih duduk di salah satu kursi. Sejak yeoja itu datang Yuchun selalu memperhatikannya. Sesekali ia selalu menatap yeoja itu dari tempatnya berada. Yuchun menghampiri yeoja itu setelah selesai membersihkan meja bar. Ia mengetuk meja agar yeoja itu sadar tapi sayang yeoja itu hanya diam tak merespon. Sekali lagi ia mengetuk meja tapi kali ini cukup keras. Hal itu cukup berhasil karena kini yeoja itu menoleh padanya dengan tatapan kesal. Yuchun mengangguk sopan tanda ia meminta maaf.

“Bar akan segera tutup.” Ucap Yuchun.

Yeoja itu berdiri dan memberikannya uang bayaran atas minuman yang di minum yeoja itu. Yuchun sedikit mengerutkan keningnya saat melihat mata yeoja itu sembab. Ia mengambil uang itu dan mengangguk berterima kasih.

Yuchun menggelengkan kepalanya dan kembali membereskan meja yang tadi di pakai yeoja itu. Ia membersihkannya dengan cepat lalu keluar bar untuk pulang. Yuchun naik sepedanya lalu pulang. Baru mengayuh beberapa kali Yuchun langsung berhenti karena melihat yeoja yang tadi tengah jongkok sambil menundukkan kepala. Yuchun turun dari sepeda dan menghampiri yeoja itu. Ia menepuk pundak yeoja itu, terdengar suara tangis yeoja itu.

“Ada apa? Apa aku tidak boleh duduk di sini juga?” Ucap yeoja itu kesal. Yuchun menghapus air mata yeoja di depannya.

“Kenapa menangis? Ini sudah malam, sebaiknya kau pulang. Tidak baik seorang yeoja malam-malam di luar. Mau kuantar pulang? Tapi aku hanya punya sepeda.”  Yuchun tersenyum ramah pada yeoja itu.

“Kau orang asing dan kita baru bertemu tapi kenapa kau bersikap baik padaku?” Yeoja itu menatap tajam bartender bertubuh tegap di depannya. Pria di depannya itu menatapnya kesal.

“Kalau begitu aku tidak akan peduli lagi pada wanita sepertimu. Wanita dari keluarga kaya yang sombong. Padahal hanya berusaha ramah, dasar menyebalkan!” Yuchun berdiri dan mengambil sepedanya. Ia pergi meninggalkan wanita itu dengan perasaan jengkel. Wanita itu merupakan tipe wanita yang ia benci.

Belum begitu jauh Yuchun mengayuh sepedanya ia mendengar suara teriakan yang cukup keras. Hal itu membuat Yuchun menghentikan sepedanya dan menoleh kebelakang, sumber teriakan itu berada. Lama kelamaan teriakan itu semakin kencang. Yuchun berlari menghampiri suara teriakan itu. Ia melihat yeoja tadi tengah di kelilingi para pria yang sedang menganggunya. Salah satu dari mereka Yuchun lihat tengah meraba-raba bagian pribadi yeoja itu. Yeoja itu dilihatnya berusaha menolak sekeras mungkin. Yuchun menghela nafas dan mendorong para namja itu menjauh dari yeoja itu.

Salah seorang pria menatapnya dengan tatapan merendahkannya dan yang lainnya menertawakannya.

“Kenapa kalian mengganggunya? Kalian terlihat seperti pengecut menganggu wanita lemah.” Ucap Yuchun sinis.

“Kami ini mengenalnya dan satu sekolah. Kau pasti tidak tahu kan kalau dia di sekolah memiliki pekerjaan yang bisa menyenangkan para namja di sekolah? Kuberitahu kau, dia itu bekerja tiap makan siang, menjual jasa ciuman.” Ucap namja yang Yuchun pikir mungkin pemimpin dari kelompok mereka. Yuchun cukup kaget mendengarnya tapi dengan cepat ia bersikap biasa lagi.

“Dia seorang pencium yang handal. Dia itu tak lebih dari seorang pelacur bagi kami. Dia bahkan bersedia mencium kami lebih lama jika bayarannya tinggi.” Tambah pria lain yang bertubuh paling pendek.

Yuchun menengok kebelakang dimana yeoja itu berlindung di punggungnya. Yeoja itu menunduk sambil menangis tersedu-sedu. Yuchun menghela nafas berat.

“Kalau begitu dia hebat juga ya, terima kasih atas info menariknya. Nah sekarang bisakah kalian pergi sebelum kulaporkan pada polisi kalau sekelompok pria di bawah umur pergi ke tempat hiburan malam?” Ancam Yuchun. Wajah para namja itu berubah pucat.

“Apa yang akan kau lakukan pada teman kami itu?” Tanya namja bertubuh gembul.

“Teman? Kurasa tidak ada teman yang melecehkan dan menghina temannya sendiri seperti kalian. Apa lagi teman kalian sampai menangis dan berteriak. Dan kurasa apa yang akan kulakukan padanya bukanlah urusan kalian. Pergi sekarang atau kulapor polisi.” Yuchun mengambil ponselnya dan para pria itu langsung berlarian. Ia memasukkan ponselnya lagi kedalam saku celana.

Yuchun berbalik dan yeoja itu langsung memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu. Dielusnya rambut yeoja itu lembut walaupun hatinya kini antara masih kesal dan kasihan. Bajunya terasa basah oleh air mata yeoja itu tapi Yuchun diamkan.

Setelah yeoja itu sudah tidak menangis lagi Yuchun membawanya jauh dari daerah itu. Daerah yang penuh dengan hiburan malam. Yuchun memberikan minuman yang tadi sempat ia beli. Ia melihat yeoja itu meminumnya dengan pelan. Cukup lama keduanya terdiam. Yuchun memang sengaja tak mengatakan apa-apa karena ia merasa yeoja itu perlu menenangkan diri.

“Terima kasih.” Ucap yeoja itu tanpa meminta maaf atas sikapnya yang ketus pada Yuchun sebelum kejadian tadi terjadi. Yuchun hanya mengangguk lalu menghela nafas.

“Aku hanya membantumu sekali ini saja. Lain kali jangan harap aku akan membantumu karena kita BARU SAJA BERTEMU DAN KAU ORANG ASING.” Yuchun menekan perkataan terakhirnya dengan sengaja agar yeoja itu ingat. Ia memang sengaja menyindir yeoja itu.

“Sebaiknya kau segera pulang. Ini sudah terlalu larut bagi seorang yeoja berkeliaran di luar.” Yuchun berdiri lalu pergi meninggalkan yeoja itu tanpa pamit terlebih dahulu. Ia mengayuh sepedanya dengan kecepatan biasa. Tak terdengar suara apapun dari yeoja itu membuat Yuchun menengok kebelakang dan melihat yeoja itu tengah menatapnya namun dengan cepat berpaling saat ia berbalik. Yuchun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya lalu pergi lagi.

“Dasar gadis keras kepala dan sombong.” Gumamnya pelan.

 

 

Seminggu berlalu sejak pertemuan tak terduga itu. Kini Yuchun tengah mencari pekerjaan tambahan untuk mendapatkan uang lebih. Untuk awal pencarian ia mencarinya di satu daerah dulu. Yuchun duduk di kursi untuk beristirahat. Di teguknya minuman dingin yang baru saja ia beli. Yuchun menghela nafas panjang melepas lelahnya.

“Sulit sekali mendapatkan pekerjaan.” Gumamnya pelan.

Setelah beristirahat Yuchun kembali berjalan mencari pekerjaan. Baru 2 toko yang di datangi tiba-tiba Yuchun melihat Hee Young di seberang jalan. Yeoja itu pun menatapnya dan langsung menghampirinya. Yuchun menatap yeoja di depannya bingung. Jarak mereka sangat dekat. Yeoja itu menatapnya tajam dan takut.

“Kau harus membantuku.” Ucap yeoja itu dengan nada memerintah. Yuchun yang tengah lelah langsung emosi mendengarnya.

“Kenapa aku harus membantumu? Kita kan tidak saling kenal. Hanya bertemu satu kali.” Ucap Yuchun tak kalah tajam.

Tak mendengar ucapannya, Hee Young menarik tangan Yuchun pergi jauh. Yuchun di bawa ke sebuah gang kecil. Dilihatnya Hee Young terengah-engah dan mata yeoja itu melihat sekeliling seolah takut ada seseorang yang mengejarnya. Yuchun melihat apa yang di lihat Hee Young. Tak ada orang mencurigakan menurutnya.

“Kau kenapa? Seperti di kejar hantu.” Tanya Yuchun tanpa menurunkan nada suaranya. Yeoja itu tak menatapnya dan terus melihat sekeliling. Yuchun melihat tiba-tiba mata yeoja di depannya membelalak. Yeoja itu pun langsung mengalungkan tangan ke lehernya dan menciumnya. Yuchun kaget dengan tindakan yeoja itu yang tiba-tiba, ia berusaha melepaskan yeoja itu.

“Kumohon bantu aku.” Tangan yeoja itu Yuchun rasakan bergetar. Di dorongnya pelan yeoja itu dan ia melihat mata yeoja itu takut akan sesuatu. Yuchun mengangguk mengiyakan permintaannya.

“Gumawo.” Ucap Hee Young pelan. Lalu tak lama Hee Young kembali mencium namja didepannya saat mendengar derap langkah kaki. Tangan Yuchun ia arahkan agar memeluknya, menyentuh bagian pinggul yeoja itu.

Yuchun melakukan apa yang di minta Hee Young. Ia memegang pinggul yeoja itu tapi tak membalas ciumannya. Kini matanya membelalak saat beberapa orang pria melihatnya tengah berciuman dengan Hee Young. Beberapa pria di depannya itu tak peduli. Yuchun melepaskan pelan ciuman yeoja itu.

“Maaf menganggu tapi apakah anda melihat yeoja berlari dengan wajah pucat dan baju warna putih sekitar sini?” Tanya salah satu namja itu. Yuchun menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Bisakah kalian pergi sekarang? Kalian menggangguku.” Ucap Yuchun dengan tegas. Sebelah tangannya memegang kepala Hee Young agar wajah yeoja itu tetap bersembunyi di lehernya. Tubuh yeoja itu kini Yuchun rasakan benar-benar gemetar.

Hee Young belum mendengar langkah kaki semua namja itu pergi membuat ia berinisiatif untuk mencium leher Yuchun. Ia harap dengan melakukan itu para namja itu segera pergi. Hee Young sedikit kesal karena para namja yang mengejarnya belum juga pergi. Di raihnya tangan Yuchun dan ia arahkan ke bagian bokongnya.

“Remas bokongku dan bersikaplah selayaknya orang yang sudah tak tahan ingin bercinta. Kumohon lakukan apapun agar mereka pergi jauh.” Bisik Hee Young di telinga Yuchun. Ia kembali mencium leher namja itu, ia sama sekali tak fokus mencium namja itu. Hee Young melenguh kecil saat merasakan namja di pelukannya itu meremas bokongnya.

“Kenapa kalian terus memperhatikan aktifitasku? Kalian ingin juga? Carilah wanita lain. Dia pacarku. Bisa kan pergi sekarang?” Ucap Yuchun tegas, tangannya kini hanya meraba bokong Hee Young.

“Ah mi mian.” Ucap salah satu namja itu lalu pergi. Setelah di rasa sudah aman, Yuchun melepaskan pelukan itu dan melihat wajah yeoja itu masih takut.

“Ma maafkan aku tadi bertindak tak sopan.” Ucap Yuchun tak enak.

“Gwenchana. Gumawo sudah membantu.” Ucap Hee Young. Ia berusaha menenangkan diri tapi sulit, ia masih takut para namja itu mengejarnya. Hee Young menatap namja di depannya bingung karena Yuchun mengulurkan tangannya. Dengan ragu Hee Young membalas jabatan tangan itu.

“Aku Park Yuchun.” Ucap Yuchun memperkenalkan diri.

“Kau kini sudah tahu namaku kan jadi aku bukan orang asing lagi yang baru kenal. Ayo kita minum di kedai dekat sini. Kulihat kau masih shock.” Yuchun sengaja mengatakan itu agar yeoja itu mengingatnya. Tak ada jawaban dari yeoja itu membuat Yuchun mengulurkan tangannya agar Hee Young menggengamnya.

“Agar kau merasa aman. Aku bukan orang jahat, nona.” Yuchun berusaha tersenyum. Sebenarnya dalam hati ia kesal melihat Hee Young yang memperlihatkan wajah angkuhnya yang sempat Yuchun lihat waktu itu.

Keduanya berjalan ke kedai yang Yuchun tahu. Di sana Yuchun memesan minuman hangat untuk yeoja di depannya. Di lihatnya yeoja itu meminumnya dengan perlahan. Yuchun tak bertanya apa-apa karena ia merasa tak perlu menanyakan atau berkata apapun. Cukup lama keduanya terdiam hingga yeoja itu akhirnya berdiri membuat Yuchun mendongakan kepalanya.

“Aku harus pergi. Terima kasih atas bantuanmu. Permisi.” Ucap Hee Young dingin.

Yuchun mendengus pelan lalu ikut berdiri. Di tatapnya tajam yeoja itu. Ia benar-benar kesal melihat sikap yeoja di depannya.

“Siapapun kau, nona. Bisakah kau bersikap ramah sedikit pada orang yang membantumu?” Yuchun melihat yeoja itu tak bergeming.

“Semoga harimu menyenangkan.” Ucap Yuchun lalu menaruh uang di atas meja dan pergi membiarkan yeoja itu sendirian.

Yuchun memutuskan untuk pulang. Ia merasa sangat kesal dengan yeoja itu. Ia pun tak lagi mencari pekerjaan di saat moodnya sedang jelek seperti sekarang. Selama perjalanan pulang Yuchun bergumam kesal. Ia pulang naik bis membuatnya sedikit lebih lama sampai di rumah.

***

 

Yuchun sejak pagi keliling seoul untuk mencari pekerjaan tambahan. Di hari kedua mencari pekerjaan belum satu pun pekerjaan yang ia dapat sampai sekarang. Yuchun duduk di sebuah kedai sambil membaca Koran bagian lowongan pekerjaan. Mencari pekerjaan bagi lulusan SMA memang sulit dan Yuchun sadar akan hal itu tapi ia tak menyerah sedikitpun. Walaupun lelah seharian berkeliling mencari pekerjaan tapi Yuchun yakin kalau ia pasti akan mendapatkannya.

Keluar dari kedai Yuchun kembali berjalan dan mendatangi toko atau restoran untuk melamar pekerjaan. Semua yang ia datangi menolaknya membuat Yuchun harus ekstra keras lagi mencari pekerjaan. Saat rasa lelah kembali menghampiri ponselnya tiba-tiba berbunyi. Salah satu temannya yang bekerja di bar meneleponnya dan memberitahukannya kalau ada lowongan sebagai bodyguard di salah satu rumah keluarga bermarga Lee. Yuchun di beri alamatnya dan di beritahu juga kalau hari ini seleksinya. Yuchun tak lupa mengucapkan terima kasih pada temannya itu.

Yuchun langsung pergi ke alamat yang di berikan. Yang ia tahu daerah perumahan itu merupakan perumahan para keluarga kaya. Selama perjalanan di periksanya kelengkapan surat lamaran dan lainnya yang sudah ia buat beberapa lembar di apartemennya pagi tadi. Sampai di tempat tujuan Yuchun menghela nafas dan merapikan pakaiannya. Cukup banyak yang melamar membuat Yuchun menghembuskan nafas pelan agar rasa gugupnya hilang.

Saat masuk Yuchun memberikan map berisi surat lamaran, CV dan lainnya lalu duduk menunggu di panggil. Rumah yang sangat besar pikir Yuchun sambil menatap sekeliling. Tak lama ia melihat temannya berada tak jauh dari tempatnya duduk, teman yang memberikan informasi tentang lowongan pekerjaan itu. Ia dan temannya itu saling melambaikan tangan sebagai sapaan. Yuchun memberikan isyarat berterima kasih pada temannya itu.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya Yuchun di panggil masuk dan di wawancara. Yang mewawancarai ada 3 orang dan dua diantaranya Yuchun pikir mungkin pemilik rumah besar itu. Cukup aneh baginya di wawancarai pekerjaan sebagai bodyguard di rumah karena setahunya wawancara pekerjaan semacam ini biasanya di kantor. Ia duduk setelah di persilahkan, dilihatnya mereka membaca surat lamarannya. Yuchun berusaha agar tak terlihat gugup di depan mereka. Wajah mereka terlihat aneh bagi Yuchun lalu menatapnya dengan tatapan yang Yuchun tebak sebagai tatapan ragu.

“Kenapa kami harus menerimamu sebagai bodyguard?” Tanya pria bertubuh tinggi yang penuh charisma. Wajah pria yang paling tua diantara ketiga pewawancara itu juga terlihat orang yang sangat keras. Pertanyaan yang masih umum pikir Yuchun.

“Mungkin saya hanya lulusan SMA tapi saya ahli beladiri.” Jawab Yuchun penuh percaya diri. Ia di beri beberapa pertanyaan yang ia jawab dengan lancar.

Keluar dari ruang wawancara Yuchun berjalan ke tempat duduknya yang tadi. Ia di suruh menunggu karena pengumumannya akan di umumkan hari ini juga. Matanya terpejam sambil berdoa berharap ia di terima. Matanya terbuka dan melihat para pelamar lain melakukan hal yang sama. Setelah menunggu cukup lama seseorang keluar dan mengumumkan satu per satu nama yang di terima. Setiap satu nama di sebutkan Yuchun semakin gugup.

“Park Yuchun.” Sontak Yuchun berdiri begitu namanya di sebut. Ia membungkuk sopan dengan senyum senang. Ia dan pelamar yang lain berjalan mengikuti pria yang menyebutkan nama mereka. Yuchun bersalaman dengan temannya yang bekerja di bar yang kebetulan di terima juga.

“Aku benar-benar berterima kasih padamu.” Ucap Yuchun pelan.

Mereka semua berjalan ke sebuah ruangan lain dan duduk di masing-masing tempat yang sudah di sediakan. Pria yang tinggi tadi memberitahukan peraturan yang harus mereka taati dan siapa saja yang harus mereka kawal. Yuchun dan yang lain memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Dua pewawancara tadi datang setelah pria tinggi itu selesai menjelaskan semuanya. Pria tua berkharisma itu menatapnya lalu mengatakan kalau ia akan bekerja full time dan menyuruhnya untuk berhenti bekerja di tempatnya sekarang. Pria tua itu mengatakan hal yang sama pada teman Yuchun. Yuchun langsung menyanggupinya begitu juga dengan Minho temannya itu.

Beberapa bodyguard baru itu di panggil ke ruangan yang berbeda untuk diarahkan lebih detail tentang pekerjaan mereka. Yuchun di panggil oleh pria tua berkharisma dan istrinya yang juga tadi mewawancarainya. Di ruangan yang mirip ruang kerja itu Yuchun di tugaskan untuk mengawal pria tua itu yang merupakan pemilik perusahaan bisnis terkenal di Seoul. Selesai berbicara tiba-tiba pintu masuk terbuka dengan suara gebrakan yang membuat mereka semua kaget. Yuchun membelalakan matanya melihat siapa yang masuk dengan tidak sopan itu.

“Appa.” Teriak orang yang membuka pintu tadi.

“Kenapa appa dengan seenaknya melakukan ini tanpa bertanya dulu padaku? Aku tidak butuh bodyguard! “ Tolak yeoja itu. Yeoja itu merupakan yeoja yang beberapa hari lalu Yuchun temui di bar. Yeoja itu masih tidak sadar dengan kehadiran Yuchun.

“Appa takut ada yang mencelakaimu.” Jawab appa yeoja itu. Yeoja itu menghela nafas sambil melirik wanita di sebelah appa-nya dengan sinis.

“Maksud appa dia?” Sindir yeoja itu. Yuchun menatap heran pada  yeoja itu yang begitu sinis pada istri appa-nya.

‘Kenapa sinis begitu pada ummanya?’ Batin Yuchun. Pria tua di depannya menggebrak meja dengan keras mendengar ucapan putrinya.

“Jangan bicara seperti itu pada umma-mu.” Pria tua itu terlihat sangat marah. Yeoja itu tak bergeming atau pun takut. Ia malah tersenyum menghina pada appanya.

“Umma? Appa, umma itu adalah orang yang melahirkan dan membesarkanku sedangkan wanita busuk ini bukanlah wanita yang melahirkanku.” Yeoja itu menatap wanita di sebelah appa-nya dengan tajam. Wanita itu memasang wajah sedih.

Yeoja itu menatap Yuchun dan bersikap biasa walaupun sebenarnya ia kaget namja itu ada di rumahnya.

“Appa tidak mau mendengar ucapanmu yang seperti itu lagi dan jangan membantah tentang bodyguard. Appa sudah menyiapkan 3 bodyguard untukmu.” Ucapan appanya membuat yeoja itu menatap tak suka pada appanya.

“Kau siapa? Bodyguard baru disini?” Tanya yeoja itu tanpa menghiraukan ucapan appa-nya. Yuchun mengangguk mengiyakan ucapan yeoja itu.

“Ne, saya bodyguard baru tuan Kim.” Jawab Yuchun. Ia berusaha menutup keanehan pada diri yeoja di depannya yang seolah tak mengenalnya.

“Miss Shin tolong berikan aku map lamaran pria ini.” Pinta yeoja itu saat asisten appanya datang. Dengan cepat asisten Shin memberikan apa yang di inginkan yeoja itu. Yeoja itu membacanya dengan teliti dan tersenyum tipis.

“Aku akan menuruti ucapan appa tentang bodyguard untukku. Aku mau dia dan hanya dia yang jadi bodyguardku.”  Yeoja itu menatap appa-nya serius.

“Tidak ada jawaban berarti iya. Ayo kau ikut denganku.” Yeoja itu melirik Yuchun.

“Ini, terima kasih.” Ucap yeoja itu pada asisten Shin. Yeoja itu berjalan menuju pintu keluar saat sampai di depan pintu ia berbalik dan menatap appa-nya yang masih menatapnya dengan tatapan penuh charisma yang yeoja itu sukai dari appa-nya.

“Appa, kau harus ingat wanita-wanita yang menjadi pacar appa sebelum menikahinya. Mereka hanya mengincar harta kekayaan appa. Aku sudah memberitahukan appa berkali-kali tapi tak appa hiraukan dan hasilnya apa? Appa kecewa pada mereka setelah mengetahui semuanya kan?” Yeoja itu menghela nafas sedih mengingatnya.

“Aku harap appa memikirkan ucapanku lagi tentang hal itu. Ingat appa, ucapanku selalu terjadi pada akhirnya. Aku putrimu tak mau melihat appa sakit hati lagi. Aku mengatakan ini karena aku menyayangimu, appa.” Yeoja itu menahan tangisnya.

“Aku tahu appa membenciku setelah kejadian itu. Kejadian yang membuat umma meninggal. Aku akui memang aku yang telah membunuhnya dan appa berhak membenciku. Appa boleh membenciku tapi aku ingin appa bahagia, aku ingin melihat appaku yang seperti dulu.” Ucap yeoja itu lagi.

“Appa, bolehkah aku memelukmu seperti dulu? Sekali saja. Sejak kejadian itu appa tak pernah memelukku dengan hangat dan menatapku penuh sayang seperti dulu.” Yeoja itu tersenyum perih saat tak ada jawaban dari appanya. Ia menghela nafas dan air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia dengan cepat menghapus air matanya. Saat appanya akan bicara yeoja itu langsung mendahuluinya.

“Baik aku mengerti, appa tak usah memberi alasan apapun. Jaga diri appa, jangan pulang terlalu malam. Aku tak akan keluar kamar setelah makan malam agar appa tak usah melihat wajahku yang menyeramkan ini. Selamat siang.” Yeoja itu berbalik dan pergi.

Yuchun menatap yeoja itu dan pria tua itu bergantian. Pria tua itu mengisyaratkan untuk mengikuti yeoja itu. Yuchun mengangguk dan berlari menyusul yeoja yang tengah menangis itu. Ia mengikuti yeoja itu dan masuk ke ruangan penuh pakaian. Yeoja itu menyuruh salah satu pelayan untuk memberikannya pakaian.

“Setelah selesai kau ke kamarku. Tanya pelayan disini dimana kamarku. Jangan lama-lama.” Ucap yeoja itu.

Dengan cepat pelayan wanita itu memberikan Yuchun beberapa pakaian dan salah satunya langsung ia pakai. Pelayan itu memberitahukannya nama yeoja itu dan sifatnya yang menurut pelayan wanita itu sangat sombong, galak dan tidak ramah sama sekali. Ia hanya mendengarkan ocehan wanita itu tanpa mengatakan apa-apa. Sejujurnya ia tak tahu harus mengatakan apa tentang yeoja bernama Lee Hee Young itu karena ia tak begitu mengenalnya dan hanya bertemu dua kali.

Yuchun berjalan menuju kamar Hee Young setelah selesai mengganti pakaian. Ia berpikir mungkin ia akan langsung bekerja hari ini. Yuchun mengetuk pintu lalu masuk saat suara di dalam menyuruhnya masuk. Dilihatnya yeoja yang kini menjadi majikannya itu menatap jendela.

“Jangan katakan pada siapapun kalau kita pernah bertemu sebelumnya.” Hee Young berbalik dan menatap Yuchun angkuh. Yuchun hanya mengangguk mendengarnya.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu di bar?” Tanya yeoja itu.

“Harus berhenti sekarang juga. Tadi tuan Lee menyuruhku dan temanku untuk bekerja full time.” Jawab Yuchun.

Hee Young berjalan keluar dan Yuchun pun mengikutinya. Saat berada di luar kamar sikap Hee Young menjadi lebih angkuh dari sebelumnya. Yuchun tak bisa lagi melawan atas sikap Hee Young yang tak ia suka karena kini yeoja itu menjadi majikannya. Langkahnya terhenti saat yeoja itu berhenti di depan mobil. Yuchun pun membuka pintu belakang untuk Hee Young lalu ia masuk dan duduk di depan. Ia mengangguk kecil pada supir di sebelahnya.

“Bar Mirotic.” Ucap Hee Young  singkat. Yuchun membelalakan matanya tak percaya. Ia menatap supir di sebelahnya yang hanya mengangkat kedua bahunya. Menoleh kebelakang dan yeoja itu hanya acuh tak mempedulikannya.

Suasana di dalam mobil sangat hening membuat perjalanan menuju bar sangat terasa kaku. Sesekali yuchun menatap ke arah kaca spion untuk melihat Hee Young. Wajah yeoja itu terlihat sedih sambil menatap keluar jendela. Ini keempat kalinya Yuchun melihat wajah sedih Hee Young seperti itu. Pertama saat pertama kali bertemu waktu itu, kedua pertemuan kedua kalinya. Ketiga tadi di ruang kerja bersama kedua orang tua yeoja itu dan kini di dalam mobil. Wajah sedihnya kali ini terlihat begitu tersiksa membuat Yuchun sedikit merasa kasihan.

Suara supir di sebelahnya membuat Yuchun tersadar dari lamunannya. Ia menatap keluar dan ternyata mereka sudah sampai di depan bar Mirotic.

“Uruslah pemberhentianmu sekarang. Aku tunggu disini. Katakan padaku jika kau mengalami kesulitan.” Ucap Hee Young. Yuchun mengangguk lalu keluar dan masuk ke dalam bar.

Yuchun langsung menemui manager bar itu. Ia sedikit kesulitan membuatnya harus meminta tolong pada majikan barunya. Setelah cukup lama berdebat akhirnya Yuchun bisa berhenti dari pekerjaannya sebagai bartender hari itu juga.

Hee Young bertanya pada Yuchun apakah ia bisa menyetir atau tidak. Yuchun menjawabnya dengan sebuah anggukan. Hee Young langsung menyuruh supir untuk meninggalkan mobil itu bersamanya dan Yuchun. Ia memberikan uang untuk supirnya itu pulang.

“Tolong jaga, nona kecil.” Ucap supir itu pada Yuchun. Setelah Yuchun mengangguk supir itu pun pergi naik taksi.

Melihat Hee Young melangkah menuju mobil membuat Yuchun dengan sigap membuka pintu lalu ia pun masuk dan mulai mengemudikan mobil itu. Sama seperti sebelumnya perjalanan ini pun sepi karena Hee Young diam seribu bahasa. Yuchun ingin menanyakan ingin kemana tapi ia ragu, ia memikirkannya berkali-kali hingga akhirnya ia bertanya.

“Mau kemana nona?” Tanyanya dengan terus fokus menyetir. Ia melirik ke arah kaca spion, melihat yeoja itu menoleh kearahnya.

“Pantai.” Jawab Hee Young singkat.

Tanpa banyak bicara Yuchun pun mengemudikan mobil kearah pantai. Perjalanan ke pantai cukup jauh membuat Hee Young sempat tertidur dan Yuchun menghentikan mobil untuk menyelimuti yeoja itu dengan selimut kecil yang tersedia di dalam mobil. Yuchun sempat tersenyum melihat wajah tertidur yeoja itu.

Sampai di pantai yang menurutnya sangat indah, ia membangunkan Hee Young pelan hingga yeoja itu bangun. Ia pun lumayan sering datang ke pantai itu. Yuchun melihat yeoja itu menggeliat sambil menatap sekeliling. Wajahnya tampak asing dengan pantai ini.

“Ini di mana?” Tanya Hee Young padanya.

“Ini di pulau Deokjeokdo, pantai di sini sangat indah.” Jawab Yuchun.

“Aku sering mendengarnya tapi belum pernah kemari.” Ucapan Hee Young membuat Yuchun sedikit tak enak. Ia mengangguk meminta maaf.

“Maafkan saya, nona. Saya pikir nona akan menyukainya. Pantai di sini sangat indah, pemandangan alam hutan dan pegunungannya pun sama indahnya. Kalau begitu kita pergi ke pantai yang nona sukai saja. Sekali lagi maaf, nona.” Yuchun langsung membenarkan posisi duduknya dan saat akan memakai sitbelt Hee Young menghentikannya.

“Kau pernah kemari?” Tanya nona-nya itu.

“Ne, saya lumayan sering kemari jika sedang libur kerja.” Jawab Yuchun.

“Tidak usah pergi. Disini saja. Aku ingin melihat-lihat. Sepertinya indah.” Ucap Hee Young datar. Yuchun mengangguk lalu keluar.

Hee Young keluar mobil dan berjalan mengelilingi pantai terlebih dahulu. Ia sangat kagum dengan keindahan pantainya yang di penuhi oleh bebatuan kerikil. Hee Young juga melihat pohon pinus di pantai itu. Ia merasakan air pantainya lalu duduk di salah satu bebatuan dan menatap hamparan laut yang sangat indah. Hee Young menoleh saat merasakan bayangan melindunginya dari sinar matahari. Yuchun, bodyguard barunya itu melindunginya dari teriknya sinar matahari dengan tubuh tegapnya. Ia menghela nafas pelan lalu kembali menikmati pemandangan didepannya lagi.

Selama berjam-jam Hee Young terus menatap indahnya pantai itu tanpa bosan. Ia berdiri saat perutnya terasa lapar. Di lihatnya Yuchun berkeringan dan lelah karena terlalu lama berdiri di bawah terik matahari. Ia merasa kasihan melihatnya. Diambilnya tisu lalu menyeka keringat Yuchun tanpa mempedulikan wajah kaget namja itu.

“Maaf.” Ucap Hee Young lalu berjalan pergi membiarkan Yuchun bingung dengan ucapannya. Ia menoleh kebelakang saat tak merasakan Yuchun mengikutinya. Setelah menatap namja itu cukup tajam akhirnya Yuchun sadar dan berlari menyusulnya.

Hee Young berjalan santai dan menatap pegunungan dan hutan yang ada di depannya, yang cukup jauh untuk ia datangi. Sebenarnya ia penasaran dalamnya seperti apa hutan itu tapi ia terlalu takut untuk menjelajahi hutan.

“Kau pernah masuk ke dalam hutan dan pegunungan?” Tanya Hee Young dengan terus berjalan keluar pantai.

“Pernah nona, pegunungan dan pantai disini sangat indah. Beberapa hutan dan gunung di Korea Selatan pernah kukunjungi bersama teman.” Jawab Yuchun. Hee Young mengangguk.

“Kapan kau dan temanmu akan menjelajahi hutan dan naik gunung lagi? Aku ingin mencobanya. Sejak dulu aku ingin berpetualang tapi takut dan tak ada teman yang mempunyai hobi sepertiku.” Ucap Hee Young.

“Saya tidak tahu kapan bisa melakukannya lagi karena saya dan teman-teman mulai sibuk bekerja.” Jawab Yuchun tak enak.

“Kalau begitu minggu depan kita pergi. Setelah aku selesai ujian akhir. Setelah itu aku bebas dan tidak ada kegiatan di sekolah selain pengumuman kelulusan.” Yuchun hanya mengangguk mendengarnya.

Hee Young masuk ke dalam mobil dan menyuruh Yuchun untuk pergi ke café atau restoran terdekat yang namja itu tahu.

Yuchun mengemudi dengan sesekali melirik kaca spion menatap Hee Young. Sepertinya hal itu mulai jadi kebiasaan Yuchun. Ia melihat nona-nya itu tersenyum sambil menatap keluar jendela. Pemandangan indah pulau Deokjeokdo yang berada di Incheon. Wajah itu baru kali ini Yuchun lihat, wajah tersenyum bahagia seorang Lee Hee Young.

‘Sepertinya sikapnya yang angkuh, sombong dan suka bersikap seenaknya itu hanya sebuah tameng. Senyuman itu dan tangis tadi membuktikan kalau nona kecil bukanlah orang yang suka bersikap menyebalkan. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya menciptakan sikap itu jika berada di luar dan di depan orang-orang tertentu.’ Batin Yuchun.

Sampai di sebuah restoran kecil keduanya turun dan masuk ke dalam restoran itu. Yuchun menyapa ajumma pemilik restoran yang tentunya sudah ia kenal. Ajumma itu merupakan ajumma yang dulu bekerja di kantin sekolahnya saat SD. Yuchun memeluk ajumma itu hangat.

“Nona, mau makan apa? Saya sering makan disini jika kemari. Disini makanannya enak-enak.” Ucap Yuchun semangat. Ajumma memberikan Hee Young menu. Hee Young melihat menu itu satu persatu. Makanan yang tidak Hee Young tahu karena ia tak pernah makan makanan seperti itu di rumah. Pelayan selalu menyiapkan makanan ala restoran bintang 5. Di sekolah pun sama. Sekolahnya merupakan sekolah elit. Hee Young menatap Yuchun.

“Makanan apa ini?” Tanyanya angkuh dan terlihat sedikit bingung. Ia gagal menutupi kebingungannya. Yuchun menatap ajumma yang terlihat marah. Ia mengelus punggung ajumma pelan agar sabar.

“Jangan marah dulu ajumma. Dia dari kalangan atas jadi harap maklum tapi dia orang yang baik kok.” Bisik Yuchun. Ajumma itu mengangguk dengan wajah masih kesal karena merasa terhina.

Yuchun duduk di samping Hee Young dan melihat makanan mana yang tak di ketahui nona-nya itu. Ia tersenyum saat Hee Young menunjuk semua makanan. Ia menjelaskan makanan itu satu per satu dengan sabar. Setelah itu ia melihat Hee Young menatap ajumma.

“Makanan apa yang terkenal di sini?” Tanya Hee Young dengan nada suara biasa. Ia tahu kalau sikapnya tadi membuat ajumma itu kesal dan ia ingin memperbaiki hal itu tanpa di ketahui orang lain. Atau bisa di bilang ia pura-pura tak terjadi apa-apa.

Ajumma itu menyebutkan makanan terkenal di restoran kecilnya. Mata Hee Young terlihat antusias membuat ajumma tersenyum kecil lalu menggelengkan kepala.

‘Menutupi sikap manisnya dengan bersikap angkuh. Anak aneh.’ Batin ajumma. Ajumma itu menawari Hee Young untuk melihat pembuatannya di dapur.

“Boleh? Apa tidak menganggu?” Tanya Hee Young. Ajumma menggeleng lalu menarik Hee Young. Di dapur Hee Young melihat cara membuat semua makanan yang ia pesan. Ia seperti manusia jaman purba yang melihat hal baru dan aneh.

“Terlihat mudah membuatnya.” Gumam Hee Young yang terdengar oleh ajumma. Ajumma itu membawa makanan yang di masak tadi dan Hee Young pun membantu. Tak lama Hee Young dan Yuchun makan bersama.

Yuchun makan dengan santai sambil menatap Hee Young yang asik mencoba satu per satu makanan yang di pesannya. Terlihat lucu di mata Yuchun.  Selesai makan ia dan Hee Young pulang kerumah. Karena perjalanan yang panjang membuat mereka sampai di rumah malam hari. Hee Young menyuruh Yuchun untuk diam di depan gerbang dan jangan memasukan mobil. Ia pun disuruh untuk menanyakan pada penjaga apakah appa-nya sudah pulang atau belum. Yuchun pun keluar dan menanyakannya pada penjaga.

Ia kembali dengan jawaban yang membuat terdiam dan murung. Yuchun masih diam di depan kemudinya menunggu perintah dari Hee Young. Tak lama yeoja itu menyuruhnya pergi dari rumah itu.

Hee Young keluar dari mobil dan berjalan ke dalam hotel. Ia sengaja tak pulang karena appa-nya sudah pulang terlebih dahulu. Hal ini memang beberapa kali ia lakukan jika saat ia pulang appanya sudah pulang terlebih dahulu. Wajahnya angkuhnya masih ia pasang. Di pesannya satu kamar hotel dengan dua tempat tidur. Ia membayarnya dengan kartu yang di berikan umma-nya sebelum meninggal.

Setelah umma-nya meninggal memang Hee Young jarang memakai uang dari appa-nya. Hanya sesekali ia pakai. Selain enggan memakainya ia juga tak mau karena ia yakin wanita busuk itu akan mengawasinya jika ia memakainya. Ia sangat yakin karena ia pernah mengalaminya satu kali dan itu menjadi pengalaman berharga untuknya.

Ia masuk ke dalam hotel dan pelayan hotel memberikan baju tidur yang ia minta. Ia memberikan tips lalu setelah itu ia mengganti pakaiannya dan membiarkan Yuchun di dalam mengecek kamar hotel itu. Hee Young kembali dengan pakaian tidur, ia memberikan Yuchun pakaian tidur dan menyuruh namja itu menggantinya di kamar mandi. Hee Young duduk di atas ranjang dan membuka laptop yang ada di dalam tasnya yang ia bawa sejak tadi.

Hee Young belajar dengan serius, membaca materi yang ia simpan di dalam laptop. Sebenarnya ia sudah belajar sebelumnya tapi ia merasa harus mengulang beberapa mata pelajaran. Ia melirik sebentar saat pintu terbuka, Yuchun sudah mengganti pakaiannya. Hee Young mengisyaratkan namja itu untuk istirahat di ranjang sebelah.

“Mmmm nona, sebaiknya saya berjaga di depan saja.” Ucap namja itu menolak halus. Hee Young menggelengkan kepala tak setuju.

“Kalau tiba-tiba ada yang jahil dari sana bagaimana?” Hee Young menunjuk jendela. Melihat Yuchun terdiam Hee Young kembali menatap laptopnya.

“Istirahat saja, kau sudah seharian menjagaku. Toh kita tidur beda ranjang.” Ucap Hee Young acuh tak acuh. Di lihatnya sekilas Yuchun hanya duduk sambil tetap siaga dan menatap sekeliling.

TBC

11 thoughts on “Love(s) A Guardian Angel Part 1

  1. karina berkata:

    lee he young kdang lucu kdang sdikit bkin gereget .. hehe tapi td itu yg ngejar he young nya masi bodyguard nya ????

  2. Akhirnya hahaha
    Itu siapa yg ngejer si heeyoung?
    Aduh emang bener ya heeyoung bunuh eommanya?
    Butuh flashbacknya nih eonn hehehe
    Nice ff eonn hihihi
    Ditunggu part 2nya ya hehehe

  3. makin penasaran dengan apa sebenarya yang dialami tokoh wanita tersebut sehngga ia bersifat acuh dan dingin, kq bisa dia membunuh ummanya sendiri???
    mickeyppa pasti salah tingkah tu tinggal 1 ruangan dengan wanita ihihihi… next part ditunggu mimin… hehehee:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s