Destiny Part 12 END


Destiny – Last Chapter

Author : Ramalia

Cast : Jung Nari (OC)

            Max Changmin

            Lee Hyukjae

Genre : Romance, Family, Angst.

Rate : M

**************************************************************************************************

Aku tidak sekuat yang kalian lihat.

Aku tidak sesabar yang kalian pikirkan.

Hatiku tidak selapang yang kalian tebak.

Aku hanya manusia biasa yang terkadang mengeluh dan mengumpat tidak terima pada-NYA.

Kadang tidak terima atas jalan-NYA.

Sampai sekarang pun, aku masih belajar untuk menerima, ikhlas, dan yakin Dia selalu punya rencana baik untuk kita.

 

***Destiny-Last Chapter***

 

Cerai. Kata itu sudah keluar dari mulut seorang Max. Kata itu sudah jadi pemisah antara ia dan istri serta anak. Kata itu juga sudah dikabulkan oleh pengadilan dan sudah jelas mereka tidak lagi terikat dalam hubungan rumah tangga.

Max yang memilih ini. Ia sendiri yang dengan yakin memilih cara ini karena tidak melihat ada celah baginya dan Nari untuk maju lagi. Mungkin perlu diralat. Ia bilang yakin ? Apa benar-benar yakin ?

Salah ! Sebelumnya, ia memang bulat dengan pilihan itu. Tapi setelah semua berjalan dan terjadi sesuai keinginannya, justru ada yang mengganjal. Sepertinya…ada yang salah.

Max memang sudah cukup sakit dengan sikap Nari selama ini. Maka ia bergerak untuk menyudahi semuanya. Awalnya ia pikir, semua hanya masalah waktu maka ia akan terbiasa. Tapi apa ? Belum genap sehari keputusan hakim terucap, ia mulai mengumpat pada diri sendiri atas apa yang dipilih.

Max berdiri di balkon, tidak perduli jika kemeja yang ia kenakan tidak cukup memadai menghadapi terpaan angin.Ia berdiri di sana tanpa kegiatan berarti, hanya melihat-lihat sekitarnya yang sebenarnya cukup memanjakan mata tapi tak teraba olehnya. Ia tidak bisa melihat ada hal yang bisa memuaskan matanya saat ini. Meski kerlap kerlip lampu kota dan bintang-bintang di atas  tidak putus asa menarik perhatiannya, Max tidak merasa cukup tertarik. Ada satu kalimat dari mantan istrinya yang mengotot untuk memaku diri di otaknya.

“Kau adalah pria normal.”

Max memejamkan mata sejenak coba mengusir kalimat itu tapi percuma. 4 kata yang cukup membuatnya ingin menghantamkan kepala ke aspal. Kenapa ia begitu tega melakukan ini pada Nari sedangkan ia sangat tahu jika wanita itu tidak memungkinkan untuk memiliki seorang anak. Ia yang sangat tahu bagaimana guncangan yang diterima wanita itu begitu mendengar vonis dokter.

“Kau telah mengatur semuanya sedemikian rupa,” ucapnya pelan.

Max tersenyum simpul. Mulai membayangkan berbagai kemungkinan jika yang terjadi sebelumnya berbeda.Jika Nari merupakan wanita normal, mungkin mereka tetap tidak akan mendengar suara tangis bayi karena sikap penolakan Nari. Jika berbeda, mungkin mereka tidak akan pernah bertemu dengan makhluk seperti Minho.

Max memasukan kedua tangannya ke saku celana. Mulai merasakan efek dari pakaian tipisnya. Sejenak ia menoleh pada Minho, melihat anak itu terlelap dengan  mengemut jempolnya. Kebiasaan  baru yang datang entah dari mana dan bagaimana.

“Kau adalah pria normal yang bisa menikahi gadis lain dan memiliki selusin keturunan. Sedangkan aku ?”

Max tersenyum lagi mengingat kalimat itu.

“Kau pikir aku akan mencari penggantimu dan memaksa Minho untuk melihatnya ? Pertanyaannya, apa waktuku cukup untuk mencari penggantimu ? Apa waktuku cukup sampai ke masa dimana aku bisa melupakanmu ?”

Max menoleh lagi tapi bukan pada Minho, melainkan pada dua buah koper yang sudah tersusun rapi di pinggiran tempat tidur. Ia menghela nafas lagi. Besok malam adalah keberangkatannya ke Amerika. Pergi untuk berusaha merubah sedikit goresan di lukisan hidupnya, berusaha tidak bernasib sama dengan orang lain yang seperti dia tapi tidak mendapat kesempatan menghirup udara lebih lama.

Memikirkan semuanya membuat Max jengah. Dengan cepat ia sambar jas dan kunci mobilnya. Tanpa menghiraukan panggilan Jaejoong, ia tetap melangkah cepat entah kemana.

 

****Destiny-Last Chapter****

 

Nari menatap pintu yang menjulang tinggi didepannya. Sejak tadi ia berdiri disana, tidak melakukan hal yang sama pada pintu itu seperti orang lain, yaitu mendorongnya. Orang-orang tidak begitu perduli dan tidak mau tahu kenapa ia hanya mematung seperti itu. Semua berlalu dihadapannya  sampai akhirnya ia mengangkat wajahnya.

“29 november 2018.”

Perlahan Nari melangkah maju, ia dorong pelan pintu hingga terlihat suasana tenang, damai di dalam sana. Deretan kursi memanjang hingga barisan kebelakang cukup dipenuhi beberapa orang.Tapi itu tidak menjadi fokus Nari.Matanya hanya tetuju pada satu titik didepan, tempat si empunya kehidupan.

Nari terus melangkah hingga ia berhenti di kursi paling depan. Ia duduk di sana dengan mata terus mengarah ke depan. Dagunya terangkat dan jelas terlihat berkali-kali ia menelan ludah dengan susah.

“Ini jalanku?” gumamnya. Nari menarik nafas panjang dan sedikit membentuk senyum terpaksa. Ada yang bisa melihat luka sayatan di hatinya sekarang? Luka itu bahkan tidak terlihat akan sembuh begitu saja. Hanya satu obat paling mujarab yang bisa mengobatinya.Hanya satu.

“Aku ingin mereka. Aku ingin suami dan anakku,” gumamnya lagi, tapi kali ini ia biarkan air matanya jatuh. Ia curahkan apa yang ada dihatinya disini.

“Aku berbohong lagi.Aku berbohong untuk kesekian kalinya.Aku bohong saat aku berkata ikhlas.Aku bohong saat aku bilang terima semua ini.Aku tidak bisa terima.”

Nari berkata dengan lirih. Matanya tidak sedetikpun teralihkan dari depan. Ia terima jika ia disebut sombong. Disaat ia butuh pertolongan, ia bahkan tidak melirikpada-NYA. Tidak menghiraukan bantuan paling nyata itu dan disaat semua nampak terlambat, barulah kakinya menapak kemari.

“Apa tidak ada lagi kesempatan untukku ?Seseorang berkata padaku, tidak ada kata terlambat. Seseorang yang lain mengajariku untuk tidak terjatuh dilubang yang sama. Apa aku si kelinci bodoh itu ? Yang terlambat menyadari kesalahan hingga terperosok ke jurang dan tertimbun tanah ?”

Nari tidak kuat terus-terusan mendongak. Ia tunduk juga dalam tangis yang entah kapan akan berhenti. Akhir-akhir ini hanya itu yang rutin ia lakukan, menangis.

“Aku akan tetap disini menunggu keajaiban-Mu.”

 

****Destiny-Last Chapter****

 

Max melajukan mobilnya dengan kencang. Berkali-kali ia pukul keras stir mobil menimbulkan bunyi klakson dan tentu juga menimbulkan tanda tanya bagi pengendara lain, karena tidak merasa ada yang perlu diperingati dengan klaksonnya. Tapi apa perdulinya Max ?Ia hanya ingin meluapkan kekesalan atas apa yang terjadi hari ini.

Bukankah ini yang ia inginkan ? Terpisah dari Nari, melepas wanita itu untuk pria lain, dan ia hanya berdua dengan buah hati, dimana salahnya ?

Max sekali lagi memukul stir. Salahnya adalah gejolak dalam dirinya yang tiba-tiba datang. Masih ada keraguan atas apa yang sudah ia lakukan. Ia pikir ia cukup kuat tapi nyatanya ?Ia tidak cukup kuat untuk berpisah dari Nari dan ia…merasa begitu egois memisahkan ibu dan anaknya.

CKITTT

Max mengerem mendadak didepan sebuah bangunan suci. Nafasnya beradu, matanya memandang sendu kedepan dimana bangunan itu berdiri. Perlahan ia turun dari mobil dan mendekat ke sana. Tak lama ia sudah berjalan cepat lalu mendorong pintu besar itu hingga terpampang jelas isinya.

Banyak orang yang mengisi kekosongan dikursi panjang didepannya.Beberapa terlihat menangis, dan beberapa nampak tersenyum, ada pula yang begitu hikmat menutup mata dengan mengatupkan kedua tangan.

Max memilih untuk duduk di bangku paling akhir dimana tidak ada orang disana. Arah matanya sama dengan yang lain, hanya tertuju pada-Nya.

“Aku berbohong.Aku berbohong padanya.Aku tidak cukup kuat.Aku bohong jika aku rela melepasnya.Aku bohong jika aku senang melihatnya seperti itu. Kau tahu kebenarannya ?Aku ingin berada disisinya, mempercayainya, menjalin lagi tali kami yang sejak awal sudah rentan putus.Tapi apa Kau punya lem yang begitu kuat untuk menyambung tali ini ?”

Max membiarkan setetes air matanya meluncur. Masih banyak yang ingin ia katakan pada-Nya.

“Apa aku juga egois sudah memisahkan dia dengan anak kami ? Apa Kau sengaja memberikanku penyakit hebat ini agar mengembalikan Minho padanya ?”

Max tidak menghapus air matanya. Iabiarkan terus mengalir, tidak perduli jika ia terlihat seperti pria lemah. Nyatanya ia memang lemah. Bahkan disaat semua sudah terjadi, ia masih bingung dengan pilihannya.

“Aku menyayangi mereka.Aku ingin terus bersama mereka.Tapi satu diantaranya sulit kumiliki.Disaat aku sudah mendapatkan salah satunya, aku justru merasa berdosa. Apa aku harus melepas keduanya ?”

 

***Destiny-Last Chapter***

 

Nari menutup telinga dari suara-suara disekitarnya. Meski beberapa terdengar menangis hebat, terdengar langkah kaki yang baru masuk atau pergi, ia tidak berniat menoleh ke belakang. Ia masih ingin disini.Lalu arah matanya tertuju pada jarum jam yang dalam hitungan menit menunjukan pukul 12 malam.

“30 november 2018.”

Nari memejamkan mata, mengingat satu persatu memorinya bersama si buah hati. Minho, anak itu pertama kali ia lihat di sebuah pantai asuhan. Tidak benar-benar serius untuk mengangkat salah satu diantara banyak anak disana, hanya ingin melihat-lihat.Tapi seorang bocah kecil yang baru bisa berjalan membuatnya jatuh cinta.Bocah itu melangkah dengan tertatih-tatih kearahnya.Bocah itu menarik-narik ujung roknya dan mengangkat tangan seolah ingin digendong oleh Nari.

Nari menyambutnya dengan senang.Ia angkat tubuh mungil itu dan mencium pipi tembemnya.

“Kau menyukaiku ?” tanyanya pada bocah itu yang hanya dijawab dengan suara tidak jelas khas balita.

“Mmamammma…ca..ccaca..mamamm”

“Max…dia lucu sekali. Bagaimana kalau kita………..”

Nari tersenyum mengingat saat itu. Max sempat menolak tapi ia kekeh ingin mengadopsi bocah itu yang katanya bernama Minho dan lahir pada tanggal 30 November 2013. Dan tidak butuh waktu lama, Max mengangguk setuju. Bocah yang kala itu hobi menyentuh pipi Max seperti punya daya pikat atau magnet yang membuat Max ikut tertarik.

Minho mampu membuat suasana rumah mereka yang terlalu besar itu lebih berwarna.Suara tangisnya, tawanya bisa membuat Max betah berada dirumah ketimbang pergi bekerja.

“Ppaappaa…ppppapapapa..”

“Hey Minho bilang apa tadi ? Coba ulangi !”

“Papaaa..ppapapapa…”

“Kau memanggilku Papa ? Nariiiiiiiiiiiiiii…….dia sudah bisa memanggilku Papaaaaa !”

Nari tersenyum dan menangis dalam detik yang sama. Mengingat saat Max berseru senang, mengeluarkan jurus andalannya untuk membuat gendang telinga pecah, ia berteriak memanggil Nari hanya untuk menunjukan kalau anak mereka sudah bisa memanggilnya Papa.

Nari membuka mata.Kenangan itu bukan mengundang senyumnya bertambah justru mengundang tangis lagi.Semua begitu menyakitkan jika menyadari tidak akan ada momen-momen kebersamaannya dengan Minho atau Max.

 

****Destiny-Last Chapter****

 

Ruangan besar itu lengang.Tidak ada lagi suara tangis dari beberapa orang yang memang ingin mengadu pada-Nya.Hanya tersisa dua orang disana. Seorang wanita yang menunduk dengan menutup mata, menangis tanpa suara, ia duduk dibangku paling depan. Sedangkan di barisan belakang, seorang pria mendongak kuat dengan air mata yang entah bagaimana bisa berakhir.Mereka tidak lagi bersuara, tidak lagi bicara lirih meminta petunjuk.

Max, pria yang duduk tegak itu, memejamkan mata, terlintas momen-momen saat bersama istri dan anaknya. Saat melihat pertumbuhan Minho, melihat hobi-hobi anak itu yang suka membuat keributan.

“Papaaaa….. Minho mau eskyim, lasa coklat.”

“Aiss, itu tidak baik, yang lain saja ya ?”

“MAUNYA ESKYIM !CEKALANG !”

Max tersenyum sesaat.  Anak itu entah bagaimana menuruni bakatnya, berteriak, kkk. Tapi untuk sikap, entah kenapa ia menuruni sikap Nari, keras kepala.

“Papa…malah sama mama?”

“Tidak kok, tadi itu cuma…cuma bercanda.”

“Benal ?”

“Tentu saja.”

Itu adalah percakapan singkat saat mereka hanya berdua di atas pembaringan. Sesaat setelah kejadian dimana Minho menyaksikan papanya menampar pipi mamanya. Itu menakutkan.

Max perlahan berdiri. Matanya menatap sendu pada-Nya. Sedikit susah ia berucap sangat pelan, “Aku akan melakukannya.”

Max berjalan cepat, meninggalkan tempat itu dan menyisakan seorang lagi. Wanita itu akhirnya menegakkan wajah.Berusaha kembali menatap kedepan dengan ketegaran yang tersisa. Lalu matanya tertuju pada jarum jam dimana sudah melewati angka 12.

“Saengil chukkae hamnida. Saengil chukkae hamnida..Saranghae Shim Minho…Saengil chukkae hamnida.”

Wanita itu, yang tak lain adalah Nari bernyanyi lirih dengan membayangkan wajah buah hatinya yang tengah meniup lilin dibantu olehnya dan Max.Sayang, itu hanya khayalan.Tidak ada lilin, tidak ada kue ulang tahun, tidak ada Minho, tidak ada Max.

Hari ini, detik ini, Minho tepat berusia 5 tahun. Perayaan besar-besaran yang sempat dirancang oleh Max, ataupun perayaan sederhana bersama keluarga yang dipikirkan Nari tinggal rencana tanpa realisasi.

“Aku akan menunggu.”

 

****Destiny-Last Chapter****

 

Eunhyuk melaju di jalan besar yang lengang dengan mobilnya. Beberapa menit lalu, tepatnya jam 12 malam, seseorang menelponnya dan secara tidak jelas mengajaknya bertemu.Tanpa berpikir dua kali, ia mendatangi lokasi yang dimaksud. Beruntung orang tuanya tengah berada di rumah, maka Spencer dapat ia titipkan sejenak meski orang tuanya jelas bertanya-tanya, keperluan sepenting apa sampai harus meninggalkan Spencer tengah malam begini.

Eunhyuk menginjak remnya begitu sampai di pinggir jalan dimana sebuah mobil terparkir sembarangan. Dilihatnya pria yang berdiri menyandar pada mobil dengan sebuah botol yang kalau tebakan Eunhyuk benar, itu adalah alkohol. Satu botol memang berada ditangan, tetapi bagaimana dengan tiga buah botol kecil yang berantakan di aspal ?

Eunhyuk berjalan pelan, mendekat pada pria itu yang harusnya sudah mabuk berat. Tapi melihat gelagatnya yang masih bisa berdiri tanpa gaya sempoyongan, sepertinya ia masih cukup kuat.

“Apa yang terjadi?” tanya Eunhyuk tanpa basa basi.

“Kau sudah datang ?” balas si pria yang entah tengah mabuk atau tidak itu dengan mata terpejam.

“Aku tahu harusnya minuman seperti ini tidak boleh lagi kau konsumsi.”

Eunhyuk lebih dekat dan ikut bersandar di samping pria itu. Ia mungkin terdengar sok tahu, tapi sejak kejadian di kantor malam itu, Eunhyuk yakin, pria di sampingnya tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Hening berjalan sekitar 5 menit. Eunhyuk sengaja diam, menjadi pendengar yang baik dan setia mendengar cigukan pria itu.

“Kau tahu ? Aku menang hari ini. Hakim….mengabulkan permohonan ceraiku, hak asuh Minho jatuh ke tanganku, hahaha… Akhirnya aku yang menang.”

Pria itu, alias Max masih memejamkan mata. Tapi kalimatnya barusan seperti pembukaan untuk menyambut air mata yang mulai datang.

“Bukankah harusnya aku senang ? Harusnya sebagai pemenang aku patut merayakannya. Haha..tapi kau tahu kebenarannya ? Aku lah yang kalah. Aku yang ditertawakan. Aku kalah.”

Eunhyuk menengadah menahan genangan air dimatanya. Serasa diserang secara tidak langsung. Sudah jelas Max menangisi kekalahannya karena melepas Nari. Dan tidak perlu diingatkan pun, Eunhyuk tahu diri kalau dialah penyebab semua ini.

“Kau memang kalah.”

Max membuka mata dengan senyum. Kalimat Eunhyuk sangat diiyakannya.

“Kau kalah karena melepas wanita yang kau cintai. Kau bodoh karena memaksanya untuk menjauh. Kau bodoh karena tidak mempercayainya.”

Baik Eunhyuk ataupun Max, tidak saling berhadapan, tidak saling menatap dengan tampang serius. Max memang tidak lagi terpejam tapi ia memilih melihat-lihat keatas. Baginya, apa yang dikatakan Eunhyuk sangat benar.

“Semua akan berakhir indah dan kau akan terhindar dari kekalahan jika kau memberinya kesempatan.”

Tidak untuk kalimat yang satu ini.

“Nari hanya melihatmu. Hanya kau.”

Eunhyuk tersenyum masam. Masih tidak habis pikir dengan pola pikir seorang Max yang mengotot dengan keyakinan bahwa Nari hanya melihatnya.

“Itu juga salah satu kebodohanmu,” Eunhyuk menghela nafas dengan satu tarikan panjang, lalu melanjutkan, ” berhenti berpikir seperti itu. Aku yakin ada hal lain yang membuatmu tetap ingin melepasnya. Jauh di dalam hatimu, kau mempercayainya, ingin memberinya kesempatan.”

Max menelan habis minumannya lalu menjatuhkan ke aspal, membuatnya bernasib sama dengan botol-botol lain.

“Kenapa banyak kebenaran yang kau katakan ? Kenapa kau tidak mendukungku ? Aku memintamu kemari untuk menemaniku minum ! Bukan membuatku berubah pikiran !”

“Karena ini harus ku lakukan !Aku tidak akan bisa tidur melihat kau, Nari dan Minho seperti ini dan semua dimulai karena aku.”

Max merebahkan tubuh nya pada kap mobil, dengan kedua tangan menjadi alas kepala, ia bergumam pelan, “Ini bukan salahmu, ini jalan-NYA.”

“Kau masih bisa merubahnya. Kejar Nari, katakan kau mencintainya.”

“Mulutku tidak pernah berhenti mengatakan itu, tapi kakiku harus berhenti berjalan bersamanya.”

Eunhyuk jengah. Entah apalagi yang harus ia katakan untuk merubah pemikiran Max.

“Aku dan dia memang pernah melewati waktu yang sulit dilupakan. Singkat namun melekat. Dia tetap setia berdiri di sini,” kata Eunhyuk menunjuk dadanya, dan untuk pertama kali sejak tadi, ia menoleh pada Max. Sedangkan Max, meski matanya tidak lepas dari ramainya pemandangan langit malam, ekor matanya dapat melihat gerakan tangan Eunhyuk.

“Sampai sekarang pun ia masih ada, tapi ia berdiri di satu bagian yang sama dengan orang – orang disekitarku, sebagai seseorang yang pernah mengisinya secara penuh. Tapi yang menempati seluruhnya, kemarin, sekarang, esok bahkan sampai aku mati, hanya istriku. Hanya Yoona.”

Max bangkit dari posisinya, sedikit terhuyung karena mungkin baru merasakan efek beberapa botol minumannya. Ia berjalan melewati Eunhyuk dengan menepuk pelan bahu pria itu.

“Bagaimana jika aku memintamu untuk mengembalikan posisi Nari ke tempat semula  ?”

“Apa?”

 

***Destiny-Last Chapter***

 

Nari sangat sangat serius akan kata-katanya. Ia duduk dibangku yang sama, tidak bergeser barang secuil, tidak memejamkan mata dalam artian tertidur. Kalaupun ia menutup mata itu hanya sekian detik yang hanya membuat air matanya terus meluncur.Nari tidak perduli sekalipun waktu terus berjalan.Masa bodoh jika sekarang sudah larut malam. Persetan dengan jarum jam yang terus bergerak.Tidak perduli pula dengan sinar matahari yang mulai masuk melalui kaca disekitarnya.Apakah sudah pagi ?

Drrt..drtt…

Itu getaran dari ponselnya untuk kesekian kali. Dan Nari tidak sedikitpun ingin mengangkatnya.

Drrt…drrt….

“Hah..” Nari mendesah lemah. Ia lihat layar handphonenya yang menunjukan nomor tak dikenal. Tanpa pikir panjang, ia tekan tombol merah. Tangannya sudah akan membuka paksa baterai ponsel yang sangat beruntung itu, karena masih sehat sekalipun sudah dibanting oleh Max. Tapi ponsel itu lagi-lagi berdering. Dengan kesal Nari mengangkatnya.

“Yob….”

“Kau sudah tidak ingin bicara denganku ?”

Nari terdiam lama. Sebuah pertanyaanyang diucapkan dengan datar itu berasal dari suara mantan suaminya, itu suara yang sangat ingin ia dengar, itu suara yang ia pikir akan sulit ia dengar lagi.

“Max….”

“Malam ini aku akan berangkat ke Amerika.”

“A..aapa??”

Lagi, ponsel itu hampir menjadi korban. Kalimat yang diucapkan masih dengan datar dan lancar itu terasa seperti kayu besar yang memukulnya.

“Kau bercanda ? Aku pikir kau akan tetap disini dan sesekali aku bisa bertemu denganmu dan  Minho, begitu bukan ?”

“Aku harus pergi.”

Nari berusaha tidak menangis lagi, menguatkan pegangan pada ponselnya. Sebegitu menjijikan kah dirinya sampai Max harus jauh terbang ke negara lain ?

“Kau tidak keberatan ….. kalau…..kita berjalan-jalan …. hari ini ?” tanya Max yang terdengar ragu-ragu. Nari membulatkan mata sipitnya, seperti benar-benar mendapat sinar matahari. Seperti sebuah harapan kecil sekecil-kecilnya tapi sayang dilewatkan.

“Maksudku..hmm.. Minho berulang tahun hari ini, aku sudah…. berjanji untuk..mengajaknya berjalan-jalan, melihat …….”

Nari tidak dapat menahan tangis dan senyumnya. Jadi ia akan bertemu dengan Max juga Minho ? Meski Max bicara terbata-bata, hati-hati, terdengar bingung untuk menyampaikan apa tapi yang terpenting bagi Nari, ini kesempatan terakhirnya untuk merubah keputusan Max.

“Tentu saja aku mau !” jawab Nari tanpa menunggu lanjutan ajakan Max yang sepertinya tidak akan berujung, masih terdengar nada berpikir darinya.

“Aku akan menjemputmu,” kini suara Max berubah datar seperti semula. Nari mengangguk semangat meski itu tidak akan terlihat oleh Max. Maka secepat kilat ia bergegas keluar. Mendorong pintu yang membuatnya perlu memicingkan mata saat bertabrakan dengan sambutan sinar matahari. Sudah setinggi ini kah matahari ? Ah, Nari tidak perduli jika ternyata ini tidak bisa disebut pagi lagi.

Ia berlari ke pinggir jalan dan menyetop taksi yang sepertinya bukan untuknya. Ia menyerobot cepat sebelum sipemanggil taksi yang sebenarnya masuk.

 

***Destiny-Last Chapter***

 

“Jam berapa ?” tanya Jaejoong pelan sambil ikut berdiri di samping Max yang baru saja mematikan ponsel.

“Jam 8 malam nanti.”

“Kau yakin dengan keputusanmu ? Apa karena kata-kataku dua hari yang lalu ? Aku hanya tidak suka kau melarang mereka bertemu bukannya memintamu mem…”

“Sudahlah hyung, jangan membuatku berpikir dua kali. Aku tidak bisa menggunakan kata yakin. Aku hanya bisa berharap kali ini benar.”

Max berbalik membelakangi pemandangan kota Seoul di pagi hari. Ia melihat-lihat Minho yang tengah berseru senang atas mainan baru yang diberikan pamannya sebagai hadiah ulang tahun.

“Baik-baiklah disana. Lakukan pengobatan dengan baik dan beri aku kabar bahwa kau sudah sembuh,” Jaejoong tersenyum sambil menepuk bahu sahabatnya pelan.

“Pasti ! Tapi saat kabar itu datang, aku juga  harus mendengar kabar bahwa kau sudah menikah,” kata Max coba mencairkan suasana.

“Hey, berhenti menyuruhku seperti itu !”

Mereka tertawa kecil lalu sama-sama diam. Mereka sama-sama berpandangan sebentar dan tak butuh waktu lama, Jaejoong sudah memeluk Max erat. Hal-hal biasa dan terlihat wajar yang jarang mereka lakukan tapi sulit ditahan kali ini. Bagaimanapun, Jaejoong tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Tidak bisa lagi pura-pura kuat dan menahan tangan untuk tidak memeluk sahabatnya.

“Jaga dirimu baik-baik !”

“Hyung..aku belum berminat ke neraka.” kata Max sambil berusaha melepas pelukan hyungnya.Memaksa membuat lelucon yang sebenarnya tidak lucu dan kurang tepat waktunya.Tapi Jaejoong dengan cepat melepas pelukan.Berlagak merapikan kemejanya yang sedikit kusut setelah memeluk Max.

“Memangnya kau tidak mengantarku ke bandara ?”

“Ada hal yang harus kukerjakan.Tapi aku akan menyempatkan datang.”

 

****Destiny-Last Chapter****

 

Dengan tergesa-gesa Nari turun dari taksi lalu berdiri didepan rumah.Tidak berniat masuk ke dalam, sekedar menyiapkan diri atau berdandan sedikit mungkin.Tidak ! Baginya yang terpenting kali ini adalah berdiri disini, menunggu mobil Max tiba dan ia segera melihat buah hatinya. Dan tentu saja, hari ini tidak akan dilewatkan begitu saja karena mungkin akan jadi satu-satunya kesempatan untuk memperjuangkan kepercayaan Max kembali, membuat Max tersenyum dan mengajaknya maju lagi. Semoga.

Dan hanya butuh waktu sekitar 10 menit bagi Nari untuk terus berdiri, karena mobil Max yang sudah berhenti tepat didepannya.Tanpa sempat diantisipasi, pintu langsung terbuka dan sepasang kaki mungil menapak didepan Nari.

“Mamaa….”

Minho, si pemilik kaki itu bergelayut manja pada mamanya, memeluk erat. Nari balas memeluknya, tentu saja. Dan tangisnya tidak akan ada yang bisa melarang untuk datang.

Max hanya bertindak sebagai penonton, berdiri memperhatikan mereka. Jika boleh, maksudnya……Max sendiri tidak tahu apakah ia dihalalkan bergabung dengan mereka, memeluk dan merasakan kehangatan mereka. Ia ingin sekali bergerak mendekat, tapi rasanya, mungkin lebih baik membiarkan ibu dan anak itu melepas rindu berdua saja.

“Selamat ulang tahun sayang… Semoga Minho jadi anak pintar, tetap sayang sama mama dan papa, ok ?”

Minho memajukan bibirnya dengan lucu, entah dengan maksud apa karena biasanya ia akan melakukan itu jika tengah merengek menginginkan sesuatu. Dan saat ini adalah momen yang bagus, kenapa rautnya begitu ?

“Mana hadiahnya ?”

Oh, Max tersenyum. Tidak menyangka ternyata itu yang membuat anaknya memasang tampang cemberut.Rupanya belum puas dengan hadiah mahal dari pamannya tadi pagi. Sedangkan Nari, sedikit bingung dengan menggaruk kepalanya. Ia bahkan tidak berpikir kesana, tidak berpikir untuk memberi anaknya sesuatu.

“Hm…Itu…..” Nari tidak tahu harus mengarang jawaban apa karena anaknya terus melihat dengan tatapan menunggu-nunggu.

“Mama belum sempat membelikannya sayang. Minho mau apa ? Nanti kita beli,” kata Max memecah kebuntuan Nari. Dan entah sadar atau tidak, kakinya bergerak mendekat, ikut berjongkok didepan anaknya.Nari memandangnya heran.

“Minho mau apa ya…..” anak itu ternyata masih berpikir keras tentang apa yang diinginkannya sebagai hadiah. Matanya berputar-putar serius.

“Ah, Minho mau dicium sama papa dan mama,” serunya senang. Max dan Nari tersenyum menanggapi. Tanpa diperintah lebih lanjut, mereka bersamaan mencium pipi kiri dan kanan Minho.

“Cuma itu ?” tanya Max lagi.

“Belum dong. Minho mau dibelikan mainan lagi yang banyak, telus…..”

“Oke oke….sekarang kita harus pergi.Ini hari minggu dan tempat yang akan kita kunjungi pasti akan sangat ramai,” Max memotong omongan Minho yang belum selesai.Ia berkata ringan, ceria seolah lupa jika tadi ia begitu takut mendekat dan bercengkrama bersama. Nari terus menatapnya. Meski bingung, dan sedikit canggung tapi ia usahakan bersikap sebiasa mungkin didepan Minho.

Max berdiri dan mengajak Nari dan Minho untuk segera masuk ke mobil. Minho berlari dengan riang meninggalkan Nari yang tadinya ingin terus menggenggam tangan mungil itu.Ia tersenyum sesaat lalu ikut masuk.

“Papa sama mama sudah baikan kan ?” tanya Minho santai saat mereka tengah dalam perjalanan, tanpa tahu kalau pertanyaan itu membuat Max dan Nari mendadak canggung. Suasana yang sejak tadi diusahakan semenyenangkan mungkin, berubah kaku. Max dan Nari kompak  berpandangan, saling bicara tanpa suara lalu dua detik berikutnya Max menjawab, “Papa sama mama tidak apa-apa kok sayang.”

Si supir, alias orang kepercayaan keluarga Max terdengar mendesah seolah menahan emosi. Sejak awal ia sudah menolak untuk mengantar tuannya hari ini, tentu karena sudah tahu alasannya. Dan sekarang, ia terpaksa menjadi penonton dan pendengar atas apa yang orang-orang lakukan dibelakangnya. Terpaksa mendengar pertanyaan polos anak seperti Minho.

“Jadi, nanti kita sama-sama ke Amelika ? Asiikkk..” seru Minho senang sambil menepuk-nepuk tangannya. Max yang melihat dan mendengar hanya diam, berusaha ikut larut dalam kesenangan yang Minho rasakan. Sedang Nari, berusaha mengalihkan pikiran dengan melihat-lihat keluar jendela berharap ada sesuatu yang cukup menarik dan bisa menahan laju air matanya yang tiba-tiba ingin keluar.

“Ya Tuhan, kuatkan aku.”

 

***Destiny-Last Chapter***

Mereka sudah sampai ke tempat pertama yakni Gunung Seroak.Seperti yang sudah diperkirakan Max, tempat ini akan sangat ramai dihari minggu. Minho, yang tadinya duduk tenang dipangkuan Nari, langsung berseru heboh sambil melihat keluar melalui jendela.

“Woaaa….”

Minho takjub dengan pemandangan disisi kiri jalan dimana terbentang sungai yang mengikuti jalur jalan raya dengan latar belakang puncak Gunung Seroak yang menawan.Minho, yang sudah tidak sabar langsung turun begitu mobil berhenti. Max dan Nari mengekor dibelakang.

“Tidak mau ikut ?” tanya Max pada supirnya. Supir beruban itu menunduk sopan, “Tidak, saya akan menunggu disini saja.”

Melihat Minho yang sudah tidak sabar, Max dan Nari mendekat, menawarkan tangan mereka untuk menggandeng tangan bocah itu disisi kiri dan kanan.Di belakang mereka, si supir tersenyum penuh harap.Melihat keharmonisan keluarga kecil itu, harusnya tidak ada kata cerai diantara mereka.

Sekarang, mereka sudah memasuki kawasan Gunung Seroak.Sepanjang jalan banyak terdapat penjual souvenir dan makanan.Sepertinya Minho sedang teralihkan dengan pemandangan didepannya, hingga acuh saja dengan sipenjual eskrim yang berusaha menarik perhatian pengunjung.

“Kita mau kemana ? Naik kereta gantung menuju puncak Gwonggeumseong, atau…ke air terjun Biryeong  berjalan kaki ?” tanya Max meminta pendapat Nari yang sebenarnya juga bingung. Jika menuju air terjun, maka waktu yang diperlukan adalah 1,5 jam berjalan kaki. Hmm, mungkin itu akan tidak baik bagi Minho.

“Bagaimana kalau….” ucapan Nari terhenti kala matanya melihat sebuah kuil dengan patung Budha yang tinggi, kalau tidak salah Nari pernah dengar patung itu setinggi  14 meter. Nari mengacuhkan Max dan Minho dan berjalan menuju area dimana terdapat cindera mata yang dibuat para biksu.Pengunjung bisa meminta untuk diukirkan namanya di salah satu cindera mata tersebut.Belum sempat Nari meminta pada seorang biksu, Minho sudah menarik-narik bajunya.

“Mama…ayooo..kita naik itu…” tunjuk Minho pada kereta gantung yang mengangkut beberapa orang menuju puncak. Ah, Nari ingin sekali menolak, ia ingin sekali minta dibuatkan ukiran namanya beserta Max dan Minho tapi sepertinya Minho sudah tidak sabar.

“Ini harinya, kita turuti dulu kemauannya,” Max membujuk Nari untuk ikuti kemauan Minho terlebih dulu.Akhirnya Nari segera menggenggam tangan Minho dan membawanya ke tempat yang di inginkan. Max belum mengikuti mereka, ia perhatikan tubuh dua orang yang paling berharga baginya itu. Lalu ia mendekat pada seorang biksu, bicara pelan sambil menunjuk salah satu benda yang dinginkan Nari tadi.

“Papa….cepatttt !” seru Minho yang melihat Max masih berdiri ditempat. Max berlari kecil mengejar mereka, menyamakan posisi dan kembali mereka bergandengan.

Mereka menaiki kereta gantung yang akan membawa mereka ke Puncak Gwonggeumseong. Kereta ini mampu menampung hingga 40 orang. Tapi Max berusaha mati-matian agar untuk kali ini, hanya mereka bertiga yang akan menaiki kereta.

“Apa tidak berlebihan ?Banyak sekali orang yang mau menaikinya,” kata Nari saat mereka sedang di kereta.

“Ini hari Minho, hari kita, jadi hanya akanada kita,” balas Max sambil mencoba menggendong Minho yang ingin melihat lebih jelas pemandangan apa saja yang ada. Nari tersenyum melihat keduanya, melihat senyum dan tawa Minho yang tidak pernah hilang sejak tadi.Tapi jika mengingat kalau ini adalah momen perpisahan, Nari kehilangan senyumnya.

“Mama…poto….”

“He ?”Nari mengerutkan dahinya mendengar permintaan Minho. Max segera merogoh saku jasnya dan memberikan Nari ponselnya.

“Dengan ini saja, aku lupa membawa kamera.”

Maka Nari menjalankan tugasnya, memotret Max dan Minho dengan berbagai pose yang lucu. Bocah itu punya berbagai ekspresi yang membuat Nari seolah lupa akan kesedihannya. Nari pun ikut berfoto dengan Minho, kali ini Max yang bertindak sebagai kameramennya.

“Nah….cekalang, papa sama mama bial Minho yang poto,” kata anak itu polos.Ia tentu tidak tahu kalau ajakan yang sebenarnya wajar itu membuat Max dan Nari perlu berpikir keras. Mereka berpandangan kaku, ragu dan ..entahlah, seolah-olah itu bukan hal benar. Padahal apa salahnya ?

“Ayo dong.Papa peluk mama,” seru Minho yang tidak sabar melihat orang tuanya hanya berdiri bersebelahan tanpa senyum, dan dengan jarak beberapa senti.Padahal Minho sudah siap dengan ponsel papanya.Ya, Minho memang cepat belajar dan mengerti.Untuk menggunakan benda-benda seperti ponsel canggih seperti ini pun dia bisa.Tapi yah, hanya sebatas itu.

Maka sekarang Max dan Nari pelan-pelan mendekat. Max beranikan diri merangkul pinggang Nari yang mendadak mendapat sengatan listrik. Entah sejak kapan, tapi rasanya baru kali ini Nari merasa segugup ini dengan jarak sedekat ini dengan Max.Nari menelan ludah berkali-kali, memaksakan senyumnya yang sulit keluar. Bukan tidak mau, tapi sungguh, ia gugup.

“Oke, Minho kita sudah sampai,” kata Max lalu melepas pegangannya dipinggang Nari. Meski harusnya Nari bersyukur karena sekarang detak jantungnya kembali normal, Nari tidak munafik kalau ia menginginkan momen seperti tadi lebih banyak lagi.

Mereka sudah menginjakan kaki di Puncak Gwonggeumseong.Kali ini pesonanya bukan hanya membuat Minho terperangah, tapi juga menarik perhatian Max dan Nari.Udaranya sejuk, terasa asri. Terdapat batu-batuan granit yang susunannya nampak seperti proses alam.

“Woa….bagus sekali…” seru Minho entah untuk yang keberapa.Ia melompat-lompat kecil membuat orang tuanya terbawa suasana. Adalah keputusan tepat mengunjungi tempat ini disaat musim gugur, meski sebentar lagi musim dingin akan tiba, tapi keindahannya belum berkurang.

Disaat Minho tengah asik dengan ponsel Max yang ia gunakan untuk memotret apapun yang menurutnya bagus, Max mendekati Nari.

“Dia begitu bersemangat,” Max berdiri disamping Nari dengan mata menatap pemandangan yang sangat menawan didepannya.

“Ya, dia begitu menikmati. Bukankah sudah lama sekali kita mengajaknya berjalan-jalan seperti ini ?”

Max tidak menjawab dan mereka sama-sama diam beberapa saat. Nari pikir ini saat yang tepat untuk bicara.Melihat Minho yang masih sibuk, maka kesempatan baik untuk bicara serius.

“Apa kau begitu membenciku ?” tanya Nari pelan. Ia menunduk sejenak memainkan batu-batu dikakinya.

“Itu pertanyaan macam apa ?Tidak akan ada hal-hal seperti itu untukmu.”

“Lalu kenapa?”

Hening kembali menyelimuti mereka. Max memasukan kedua tangannya ke saku jas dan tersenyum melihat tingkah Minho yang baru saja memotret dirinya sendiri.

“Kita kesini bukan untuk membahas itu, semua sudah selesai.”

Nari menghadap pada Max meminta pria itu mengalihkan pandangan padanya. Meski Max coba cuek, tepatnya pura-pura tidak melihat, ia gagal juga. Mereka berhadapan sekarang, dengan pandangan penuh harap. Tentu Nari berharap  Max akan berubah pikiran dan membuka jalan bagi mereka untuk memulai lagi. Dan sayangnya Max justru berharap agar Nari berhenti berusaha merubah pikirannya, berhenti menatapnya seperti itu.

“Tapi aku masih berharap kau membuka hati dan tidak membenciku. Kau lihat bagaimana senangnya Minho hari ini ? Bisa kau bayangkan saat kita harus berpisah didepannya ?Kita hanya akan merusak harinya, merusak harapan-harapan indahnya.”

Max tidak kuat harus terus-terusan menatap Nari. Ia juga tidak kuasa jika harus melihat Minho yang masih asik dengan kegiatannya. Lebih baik membuang mata untuk menikmati pemadangan yang terhampar didepannya, meski itu juga tidak berhasil.

“Kenapa kau begitu sulit percaya padaku ? Dan..kenapa harus Amerika ?” tanya Nari berusaha menarik kembali mata Max.

“Tolong Nari ! Berhenti bersikap seperti ini !Kita kemari bukan untuk membahasnya semakin panjang. Kita sudah cerai.” Kata Max tegas.Mereka berpandangan lagi dan kali ini Nari tidak melihat mata Max yang sebelumnya. Kali ini lebih kuat, tajam dan mampu membuat Nari berhenti melawan dengan pembelaan lain.

“Kita tulun yuk..” ajak Minho yang berada diantara orang tuanya. ajakan itu membuat orang tuanya berhenti saling menatap. Dengan agak kikuk, Max membawa Minho dalam gendongan dan mendahului Nari untuk kembali ke kereta.Nari belum mengikuti mereka.Ia buang pandangan kemanapun untuk menahan air matanya yang sudah menetes. Ia pikir hari ini semuanya akan berubah, ia pikir masih ada ruang baginya untuk Max, ia pikir Max akan….

“Mamaaa….”

Cepat-cepat Nari menghapus air matanya, berbalik untuk melihat anaknya yang berteriak memanggil. Cukup menangisi, lebih baik terus memanfaatkan sisa waktu yang ada.Nari menguatkan hatinya lalu menyusul mereka.

 

***Destiny-Last Chapter***

 

Setelah melalui banyak pertimbangan, dan tentu saja atas ikut campur Minho, mereka setuju untuk berjalan kaki menuju lokasi air terjun Biryeong.  Max dan Nari tadinya berpikir anak mereka akan merengek kelelahan, nyatanya sepanjang jalan mendaki, Minho lah yang paling heboh dengan menunjuk-nunjuk apapun yang menurutnya bagus. Sepanjang jalan, mata mereka di manjakan dengan pepohonan berdaun merah dan kuning yang berguguran.

“Huwoooo…”

Yak, mereka sudah sampai dan tidak perlu dicari tahu siapa yang berseru itu.Minho melompat-lompat seperti tadi dan nampak begitu ingin langsung menceburkan diri ke air. Anak itu tidakada rasa takut sama sekali. Justru Max dan Nari yang khawatir dengan berkali-kali menuntun Minho yang sudah sangat gatal ingin membasahi tubuh.

“Minho…hati-hati !”Nari memperingati untuk kesekian kali.Anak itu tengah bermain-main dengan air bersama Max.Air terjunnya memang tidak terlalu tinggi tapi tetap saja alirannya dari atas cukup deras dan kuat.Maka Max tidak mengijinkan Minho untuk bermain-main lebih dalam.Hanya disekitarnya dengan membasahi muka, tangan dan kaki.

Nari hanya duduk disebuah batu memperhatikan mereka.Tidak berniat untuk sekedar membasuh muka.

“Malam ini aku akan pergi ke  Amerika.”

Hah..Nari mendesah.Kalimat itu tiba-tiba datang, menyadarkannya untuk bangkit, bukan melamun, berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Bukankah tujuannya adalah untuk berusaha meraih Max kembali ?Setidaknya membuat mereka tidak jadi pergi.

Max dan Minho terlihat berjalan ke arah Nari yang juga baru saja berdiri. Nari yang begitu menggebu-gebu ingin bicara, berjalan dengan tidak sabar. Alhasil, ia terpelincir dan terhuyung ke belakang.

HUP

Nari menelan ludahnya susah, terasa ada seonggok kayu ditenggorokan. Max tengah menahan tubuhnya untuk tidak menyentuh batu besar dibawah. Max dengan sigap baru saja menahan tubuh mantan istrinya yang hendak menghantam batu dan mungkin akan membuat kepalanya bocor.

Mereka betah dengan posisi aneh ( menurut pandangan Minho ), saling menatap dalam dan lagi, Nari merasa darahnya berdesir. Jantungnya memompa lebih kuat dari normal. Ada yang mau memasang telinga didadanya ? Mungkin akan terdengar tidak karuan.

Minho, yang paling tidak mengerti disini, berdiri diantara orang tuanya, menaikan alis dengan lucu, tanda ia tengah berpikir tentang apa yang ia lihat. Hm..apa tidak capek dengan posisi seperti itu ? Mereka sedang apa sih ?

“Mama..papa…”

Oke, panggilan itu mungkin tidak tertangkap telinga orang tuanya.Selain karena tertutupi alias kalah oleh suara air, konsentrasi mereka juga hanya terpusat pada satu hal.

“MAMA….PAPAAAA!”

Max dan Nari cepat memperbaiki posisi mereka. Menggaruk kepala yang mendadak gatal dan tersenyum kikuk.

“Ngapain sih? Ayo kita makan!” ajak anak itu santai tanpa perduli orang tuanya masih berusaha mentralkan jantung, huh.

Mereka memutuskan meninggalkan kawasan Gunung Seroak dan mencari restoran terdekat untuk makan siang.Sepertinya waktu tengah mempermainkan Nari.Ia merasa semua berjalan dengan kecepatan tinggi. Rasanya baru saja sampai ke Gunung Seroak, sekarang sudah siang yang artinya waktu yang tersisa semakin tipis.

Selama makan, Nari berkali-kali berusaha mengajak Max untuk bicara. Tapi entah karena sengaja atau apa, Max selalu menghindar dengan memilih bicara pada Minho. Menyuapi anak itu yang sebenarnya tidak perlu.  Jika Nari mulai angkat suara, pasti Max akan mendahului dan bicara topik lain yang tidak penting. Nari yakin, Max memang menghindar.

Maka dengan wajah tertunduk, Nari mengikuti saja kemana ia dibawa. Mereka menuju kebun binatang yang sudah tidak begitu ramai.Minho tak henti-hentinya berseru senang saat melihat binatang yang menurutnya unik.Terlebih saat melihat monyet. Dengan polosnya ia mengeluarkan celetukan yang membuat Nari dan Max mendapat hiburan dadakan.

“Kok…milip paman unyuk ya ?”

Max lah yang pertama kali gagal menahan tawa. Ia sampai memegangi perut mendengarnya. Anak itu…dapat pemikiran dari mana sampai tega mengaitkan seorang Eunhyuk dengan seekor….ya…seekor itu.

Nari juga tidak bisa tidak tertawa. Bedanya ia tidak segila Max yang tawanya cukup untuk menarik perhatian sekitar. Suasana yang tidak begitu ramai membuat suara nyaringnya begitu kentara.

“Sepertinya Minho akan cocok dengan Eunhyuk…” kata Max santai lalu berlalu bersama Minho untuk melihat binatang lain. Nari memperhatikan mereka dengan satu pertanyaan, “Apa maksudnya ?”

Mereka lanjut melihat-lihat berbagai binatang disana.Nyaris tidak ada yang membuat Minho diam saja.Ada saja yang membuat anak itu ingin melakukan hal-hal aneh. Saat melihat Zebra, ia bilang ingin menungganginya, tentu itu tidak akan terkabul. Saat melihat ular, ia bilang ingin menyentuhnya, jelas sekali ini tidak akan diijinkan. Lalu saat melihat harimau, Minho bilang ingin berfoto bersamanya, memberinya makan dan mengelus bulu-bulunya.Hah ! Max dan Nari saja sudah bergidik melihat binatang buas itu menguap lebar memamerkan gigi taringnya yang nampak tidak putih. Maka bagaimanapun Minho merengek, permintaan gila itu tidak terealisasi.

Setelah puas mengelilingi kebun binatang, mereka memilih beristirahat di sebuah café.Hanya untuk menikmati secangkir teh, kopi atau coklat panas mungkin.

“Mamaaa…”

Nari tersadar dari lamunannya begitu ujung jaketnya ditarik oleh Minho. Seperti orang linglung, ia melihat-lihat sekitar.

“Mama..kenapa dali tadi diam ?”

“He? Eh…hmm…hehe tidak ada apa-apa,” jawab Nari memperlihatkan cengirannya. Karena tidak mendapat pertanyaan lain dari Minho, Nari mengalihkan pandangan pada Max yang terlihat tengah menelan dua buah tablet dari botol kecil.

“Kau sakit ?”

“Hanya vitamin,” jawab Max seadanya setelah menenggak satu gelas air putih sebagai pelancar masuknya obat-obatan tadi. Nari tidak percaya begitu saja, tapi tidak juga bertanya lebih lanjut. Agak aneh jika Max mengkonsumsi vitamin sedangkan itu bukan kebiasaannya. Menurutnya, Max sudah cukup kuat dan sehat tanpa perlu ditopang vitamin seperti tadi.

“Kau tidak tidur semalam,” kata Max pelan. Nari hanya sedetik melihatnya lalu mengalihkan pandangan pada secangkir coklat hangat yang sepertinya tidak bisa disebut hangat lagi, mungkin karena diacuhkan sejak tadi.

“Akan sulit bagiku untuk tidur.”

“Kau juga tidak mengganti pakaian,” kata Max lagi.

Nari tersenyum, “Tidak terpikir untuk itu.”

Nyatanya benar. Adakah yang bisa memberitahunya cara untuk tertidur sedangkan ia tahu tidak akan ada lagi dua orang yang mengisi tempat kosong disamping ? Memangnya ia sempat untuk berdandan, mengganti pakaian dulu sedangkan waktunya sempit ?

“Sudah jam 6, kita harus ke bandara sekarang.”

Nari berhenti mengangkat cangkirnya yang baru saja akan diminum. Secepat inikah ? Kenapa waktu terasa begitu cepat ? Hey, bukankah ini masih siang dan…. Sial ! Max bahkan sudah berdiri lalu membantu Minho turun dari kursi.

“Ayo..” ajak Max sambil menjulurkan tangan, menawarkan untuk bergandengan ? Nari menatapnya lama.Berharap uluran tangan itu adalah untuk menuju rumah, bukan bandara.

“Bandara ?”

Max hanya mengangguk tanpa menurunkan tangannya. Nari melihat Minho yang sudah berlari-lari kecil keluar menuju mobil. Ya Tuhan, Nari tidak akan sanggup jika ia benar-benar harus berpisah dari anak itu dan Max.

“Katakan kalau aku bermimpi. Atau katakan kau bercanda. Ini tidak lucu.”

Max menghela nafas lalu tanpa basa-basi ditariknya pelan tangan Nari. Ia bawa tangan lembut itu menuju mobil menyusul Minho yang sudah menunggu.

Nari merasakan kehangatan ditangan itu. Ia genggam kuat seolah tidak ingin melepaskan. Tapi memang ia tidak berminat melepasnya, meski kakinya takluk juga dan kini sudah  masuk ke mobil.

Selama perjalanan menuju bandara pun, Nari tidak berkenan melepas pegangannya, justru memperkuat. Minho yang sepertinya cukup lelah, dengan cepat terlelap dipangkuan Nari. Kepala bocah itu bersandar di dada Nari. Ia kecup puncak kepalanya lama menghirup aroma khasnya. Dan setelah itu, pertahannya runtuh. Ia tidak bisa untuk tidak menangis, pura-pura kuat.

Seketika ia merasakan sesuatu menimpa bahunya. Ia menoleh sedikit dan mendapati Max bersandar dibahunya tanpa melepas tautan ditangan mereka. Tangan kiri Nari yang menganggur digunakan untuk meremas ujung jaketnya, sebagai pelampiasan atas denyutan didadanya. Sungguh, ia tidak ingin berakhir seperti ini. Kenapa Max begitu kokoh dengan pilihannya ? Coba lihat mereka ! Bukankah mereka terlihat terlalu indah jika disebut sebagai sepasang mantan suami istri ? Mereka nampakterlalurukun sebagai dua orang yang sudah bercerai.

“Biarkan seperti ini,” gumam Max seraya memejamkan mata. Nari terus menangis tanpa suara. Si supir yang melihat dari kaca hanya bisa diam, melakukan tugasnya dengan baik yang sebenarnya sangat tidak ingin ia lakukan, menyetir menuju bandara.

“Ergh..”

Ditengah suara mesin mobil, Nari dapat mendengar erangan kecil dari Max dan tak lama pegangan ditangannya terasa lebih kuat. Sedikit sakit saat Max meremas tangannya.

“Max…”

Nari menoleh sedikit, karena terlahang rambut Max yang menusuk-nusuk pipinya. Max tidak menjawab dan sekali lagi Nari mendengar erangan itu, merasakan tangan itu lebih kuat lagi.

“Max..kau baik-baik saja ?”

Lagi=lagi tidak ada jawaban, maka Nari hanya diam, membiarkan tangannya diremas kuat hingga  perlahan Max mengendurkan pegangan.Terdengar deru nafasnya yang teratur. Apa yang baru saja terjadi ? Nari tidak bertanya lebih jelas, meski ia merasa perlu tahu, karena sepertinya Max hanya akan membisu. Dan sisa waktu yang ada, dilalui mereka dalam diam.

“Kita sudah sampai.”

Baik Nari ataupun Max tidak beranjak. Mendadak tuli dengan pemberitahuan dari supir pribadi orang tua Max itu.Sebenarnya itu bukan pemberitahuan penting. Karena tanpa diberitahukan pun mereka tahu mereka  berada dimana. Bahkan mereka tidak bergerak beberapa menit kebelakang saat mobil berhenti. Itu yang membuat sang supir dengan terpaksa bersuara. Tapi..rasanya jarak antara restoran tadi dengan bandara cukup jauh, memakan waktu satu jam lebih. Dan sekarang mereka sudah sampai ? Nari mengumpat tidak jelas, kesal dengan waktu yang tidak bersahabat dengannya hari ini.

Perlahan, Max mengangkat kepalanya dari bahu Nari. Sedikit kaku dan sangat terpaksa, ia melepas pegangan tangannya lalu keluar dari mobil.Nari yang masih dan tidak ingin bangkit, menguatkan pelukannya pada Minho. Anak itu masih tertidur, dan mungkin adalah kebetulan yang bagus jika Max membawanya pergi dalam keadaan seperti ini.

Tapi bagaimanapun usaha Nari untuk tetap diam, ia tetap kalah dan sekarang berdiri diam di samping mobil. Saat melihat ke depan, matanya bertabrakan dengan mata pria yang cukup lama tak dilihat.

“Eunhyuk..”

“Aku yang memintanya kemari,” jawab Max sambil menarik kopernya, berjalan paling depan berlagak tegar, santai.

Eunhyuk dan Nari yang masih menggendong Minho, hanya berjalan pelan mengekor langkah Max. Setiap langkah, terasa berat bagi Nari, berharap ada paku yang menajakkan kakinya dan Max hingga tidak akan pergi.

Max berhenti dan berbalik. Dengan senyum hangatnya ia menjulurkan kedua tangan dan tanpa di jelaskan pun Nari sangat tahu maksudnya. Ia kuatkan lagi pelukan pada Minho sebelum akhirnya menyerahkan anak itu pada Max.

Minho, yang terganggu tidurnya, membuka mata. Ia menguap lebar diikuti gerakan tangan mengucek-ngucek mata. Secepat kilat Nari menghapus air matanya.

“Kita mau pelgi ya ?” tanya bocah itu masih dengan mata setengah tertutup.

Max coba mengangguk. Ia kecup puncak kepala anaknya penuh kasih.

“Minho sayang kan sama papa ?” tanya Max dengan nada selembut mungkin dan cepat-cepat Minho mengangguk.

“Minho mau kan menuruti apa kata papa ?”

Minho mengangguk lagi sambil mengucek matanya, membuat kesadarannya sudah  penuh.

“Minho jangan nakal ya. Turuti perkataan mama. Jangan buat mama sedih, apalagi menangis, nanti papa marah.”

Nari terdiam, tak beda jauh dengan Eunhyuk yang berdiri diantara mereka. Apa maksud perkataan itu ?

“Minho harus jagain mama. Harus jadi anak yang baik, jadi jagoan, tidak boleh cengeng,” Max berkata lagi dengan senyum yang Nari sendiri tidak mengerti bagaimana itu terbentuk ditengah situasi seperti ini.

Minho yang belum mengerti maksudnya, hanya mengangguk patuh. Ia juga pasrah saat Max justru menyerahkannya pada Nari.

“Max…”

“Jaga dia baik-baik !”

Nari rasa tidak percaya dengan apa yang didengar. Tulang-tulangnya lemas dan perlahan ia turunkan Minho ke bawah. Air mata yang sempat dihapusnya meluncur deras. Max memberikan Minho padanya ?

“Kenapa kau menangis ? Itu semakin membuatku merasa bersalah,” Max mengangkat tangannya membersihkan aliran air dipipi Nari. Bukannya berhenti, tangis Nari makin menjadi.

“Kenapa kau melakukan ini ? Kita bisa memulainya lagi. Jangan pergi !”

Max susah payah menguatkan hati dan matanya, mengajak mereka bekerja sama agar tak terlihat lemah didepan Nari. Minho yang sudah sadar sepenuhnya hanya memandang orang tuanya dengan bingung. Ia berdiri disamping Eunhyuk yang tidak mengerti harus berbuat apa yang sedikit berguna. Maka Eunhyuk memilih menggendong Minho.

“Aku akan berubah. Aku bersumpah aku tidak akan seperti dulu. Ak..”

“Sstt..” Max menghentikan ucapan Nari dengan menaruh telunjuknya dibibir wanita itu.

“Aku tidak ingin memaksamu lagi. Sekarang, biar kita berjalan masing-masing. Kita butuh waktu untuk merenungkan semuanya.”

“Tidak ! Kau hanya perlu mempercayaiku dan kita mulai semua dari awal.”

Max menyentuh pipi mantan istrinya penuh kehati-hatian. Takut usahanya menghentikan air mata Nari tidak berhasil. Tapi memang tidak berhasil, Nari tidak akan bisa mengumbar senyum disaat seperti ini.

“Boleh aku menciummu ?” pinta Max lirih. Nari menggeleng cepat.

“Tidak jika itu untuk perpisahan.”

“Kumohon..” pinta Max sekali lagi dan Nari tetap menggeleng.

“Kuijinkan tapi setelah itu kau tidak akan pergi.”

Kali ini Max yang menggeleng. Maka sekalipun disambut penolakan  Nari, Max bergerak pelan, memperkecil jarak hingga hembusan nafasnya terasa kuat diwajah Nari.

Nari memejamkan mata, meski kepalanya menggeleng, menolak untuk apa yang akan dilakukan Max, tapi ia tidak bisa bohong jika ia menginginkannya. Dan tak lama, ia merasakan Max mengecup dahinya lama. Tuhan..Nari harap waktu berhenti  sekarang juga.

Max akhirnya kehilangan kekuatan untuk tersenyum. Tangisnya pecah dengan cairan bening yang jatuh dipipinya. Kedua tangannya pun kehilangan kerja sama. Dengan cepat ia tarik Nari kedalam pelukan yang langsung mendapat balasan.

“Jangan pergi !”

“Mianhe…”

Untuk waktu yang cukup lama, mereka tetap seperti itu. Mengeratkan pelukan yang kalau tidak salah adalah tindakan yang jarang mereka lakukan. Dan kalau Max tidak berubah pikiran maka ini bisa menjadi pelukan terakhir.

“Saranghae…” Nari berbisik dan langsung dibalas oleh Max tanpa suara , “Nado..”

“Tetaplah disini !” pinta Nari nampak enggan melepas pelukannya. Ia benamkan wajahnya didada Max.

“Ada hal yang harus kuselesaikan.”

“Kalau begitu kita selesaikan. Kau, aku, Minho kita pergi bersama.”

Max menggeleng lemah. Ia sudah memikirkan ini semalaman dan tidak akan berubah lagi. Ia hanya bisa berharap ini pilihan yang benar.

Perlahan, satu tangan Max bergerak hati-hati menuju saku jaket Nari, meletakkan sesuatu yang sudah ia siapkan. Setelah dirasa Nari tidak menyadari tindakannya, ia lepaskan pelukan yang langsung ditolak oleh Nari.

“Jangan lepaskan !”

“Jangan begini Nari…”

Susah payah Max berusaha melepaskan tangan Nari dari pingganggnya.Ia usap lagi air mata di wajah Nari meski wajahnya sendiri sangat butuh tangan untuk membersihkan tangisannya.

“Jangan buat Minho bingung. Kita tidak boleh menangis didepannya,” Max mengusap kepala Nari lembut, sedikit mengacak-ngacaknya. Lalu ia mendekat pada Eunhyuk dan Minho.

“Untuk alasan apapun, yang kau lakukan ini tidak benar.”

“Untuk suatu alasan, ini bisa dibenarkan.”

“Alasan macam apa ?”

Max tidak menanggapi Eunhyuk dan memilih mencubit pelan pipi anaknya yang berada dalam gendongan pria itu.

“Papa…”

“Minho..maafin papa ya. Papa harus pergi sendiri. Minho disini sama mama, paman Eunhyuk dan Spenser.”

“Tidak mau.. Minho mau sama papa, nanti kalau papa sakit lagi bagaimana ?”

Sakit ? Itu kata yang langsung menjadi pertanyaan dibenak Nari. Ingatannya kembali pada rumah sakit.

“Papa tidak apa sayang, pokoknya Minho tetap disini. Temani mama,”

“Nanti papa kesini lagi kan ? Papa cepat pulang kan ?” tanya Minho dengan mata berkaca-kaca. Meski ia tidak mengerti situasi sebenarnya, fakta kalau papanya akan pergi saja sudah cukup membuat tangisnya akan pecah sebentar lagi. Max tidak bisa menjawab pasti, ia hanya tersenyum lembut dan mengacak rambut anaknya.

Sebelum semua makin berlarut-larut, Max berdiri.

“Jaga dirimu baik-baik !”

Itu kalimat terakhirnya pada Nari sebelum berbalik, berjalan cepat dengan koper ditangan.Langkahnya makin cepat dan nyaris berlari. Andai pesawat yang akan membawanya terbang ke Amerika sudah didepan mata ia pastikan lebih baik langsung masuk kedalam dibanding berada disini lebih lama.

“AKU MENCINTAIMU !”

Max terhenyak. Ia berhenti sesaat untuk memperjelas pendengaran tentang siapa si pemilik suara yang berseru tadi.

“AKU MENCINTAIMU MAX…..AKU MENCINTAIMU…”

Max menggeleng. Ia memilih tetap berjalan meski tidak secepat tadi. Serasa ada yang menariknya untuk mundur tapi ia yakinkan hati sekali lagi kalau ia harus pergi.

“Papa…..” Minho menangis dalam gendongan Eunhyuk. Ia hanya tahu papanya pergi tapi melihat mamanya berteriak seperti itu seolah  menegaskan kalau papanya………tidak akan kembali.

 

***Destiny-Last Chapter***

 

Suasana hening cukup lama.Mobil hitam itu sudah berhenti sejak tadi dan si penumpang atau pun si pengemudi tidak beranjak atau bersuara. Masih berharap-harap apa yang baru saja mereka lalui hanya mimpi buruk. Dan tentu saja menyesali semuanya.

“Mama….Papa kenapa pelgi sendili ? Kemalin papa bilang, mau pelgi sama Minho, mau ajak Minho liat tempat yang bagus. Mau ajak Minho liat lumahnya powel lenjes,” kata Minho polos dengan posisi duduk manis dipangkuan Nari. Sejak tadi ia ikut diam mengikuti kondisi disekitarnya. Tapi akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu keluar juga.Dan itu membuat tangis Nari pecah lagi, karena pertanyaan itu menghancurkan harapannya agar ini bukan kenyataan.

“Nanti papa pulang kok, cuma pergi sebentar,” Nari coba menenangkan.Minho mengangguk pelan lalu mengajak Nari turun dari mobil.

“Mianhe.Aku tidak berguna, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya,” Eunhyuk bersuara pelan, menghentikan langkah Nari yang hendak masuk. Nari berdiri di depan pintu dengan satu tangan memasuki saku jaket.

“Ini bukan waktunya untuk itu.Pulanglah !Spenser menunggumu.”

Setelah bertatapan beberapa saat, Eunhyuk kembali menyalakan mobil dan pergi.Nari perhatikan mobil itu hingga tak terlihat saat berbelok.Ia hembuskan nafas panjang, berusaha melapangkan hatinya yang entah bagaimana bentuknya sekarang.Ia melihat ke bawah dimana Minho sudah memintanya untuk masuk.

“Jaga dia baik-baik !”

Air matanya rasa akan tumpah lagi kalau-kalau tidak cepat menengadah. Tanpa diminta pun Nari akan menjaga Minho dengan baik, tapi bukan berarti menjaganya seorang diri.

Satu tangan Nari yang berada dalam saku terangkat untuk menggendong Minho yang sudah merengek ingin masuk.Tapi gerakannnya terhenti kala mendapati kertas yang melipat kecil. Tangannya sudah bergerak untuk membuka tapi tiba-tiba…

Brukkk

“Hey noona cantik…”

Seorang pria yang nampaknya tengah mabuk menabrak Nari, menjatuhkan kertas itu ke aspal.Pria yang tidak terlihat seperti pria baik-baik saja itu mendekat pada Nari, tangannya berusaha mencolek pipi Nari.

“Mama…takut…” ujar Minho sambil bersembunyi dibalik kaki Nari.Tanpa menjawab, dan tanpa pikir lagi, Nari cepat-cepat masuk kedalam meninggalkan pria mabuk itu.

“Huggg…..Kenapa dia pergi ? Apa aku tidak cukup tampan ?kkkk..” pria mabuk itu lanjut berjalan saat terpaan angin menerbangkan secarik kertas yang mendarat diwajahnya. Dengan mata setengah terbuka, dan tubuh sempoyongan ia lihat kertas itu.

“Apakah ini surat wasiat ? Surat warisan ?”

When I see your face…

There’s not a thing that I would change

Cause you’re amazing..

Just the way you are….

Kau masih ingat lagu itu ?Kalau kusebut saja mungkin kau tidak tahu, kau tidak mengerti bahasa inggris, haha. Itu lagu yang kunyanyikan saat melamarmu di pantai Kuta Bali, kau ingat bukan ?

Lagu itu yang membuatmu terperangah, dan bukannya langsung menangkap maksudku justru bertanya, “Astaga…suaramu bagus sekali Max, kenapa kau tidak jadi penyanyi saja ?”

Ya Tuhan, kau tahu apa yang ada dipikiranku saat itu ? Aku ingin mengunci mulutmu, kkk. Sudah jelas aku membuat situasi seromantis mungkin dengan lilin disekeliling kita, para pemain musik dibelakangku, dan aku bernyanyi dengan menawarkan setangkai bunga, kau justru menanyakan hal lain yang tidak penting.

Jung Nari….

Kau tahu ?

Aku berterima kasih karena dipertemukan dengan sipenjaga kasir yang manis tapi bodoh sepertimu. Aku berterima kasih karena diberi anugerah perasaan suci dan tulus untukmu.Aku berterima kasih karena kau menerima uluran tanganku.Aku lebih berterima kasih lagi saat kau mengangguk yakin dan mempercayaiku sebagai seseorang yangakan selalu berdiri disampingmu dihadapan Tuhan.

Ah, berlembar-lembar kertas tidak akan cukup untukku menulis ucapan terima kasih atasmu.

Aku juga ingin meminta maaf padamu.

Maaf atas sikapku selama ini, maaf atas keegoisanku yang memaksamu bertahan padahal aku tahu, kau tersiksa.Maaf karena aku sempat memisahkan kau dan anak kita.Aku jamin itu adalah kesalahan terbesarku.

Maaf karena aku tidak bisa menepati janji dihadapan Tuhan kala itu.Maaf aku tidak bisa lagi menjagamu, berdiri disampingmu. Mungkin Tuhan menyiapkan orang lain yang lebih pantas berada diposisi itu.

Maaf atas kelancangan tanganku yang menyakitimu.Sungguh, itu bukan aku. Aku tidak akan tega melukaimu bukan ? Bahkan apa yang aku lakukan sekarang adalah karena aku tidak mau menambah lukamu.

Aku melepasmu karena itu terlihat lebih baik.Aku tidak mau kau memaksa diri lagi untuk hanya melihatku, untuk mencintaiku. Kau dan Eunhyuk sangat serasi, percayalah ! Aku yakin Yoona tidak akan marah padamu.

Jadi, sekarang biarkan kita berjalan sendiri.Kau dengan Minho dan kehidupanmu yang baru.Dan aku dengan perjuanganku di negeri orang.Kita tidak tahu apa yang ada didepan. Jika Tuhan berbaik hati mempertemukan kita lagi. Itu akan jadi hari yang sangat aku nanti. Aku pergi untuk melakukan pengobatan.Kau tidak perlu tahu aku kenapa, aku baik-baik saja.

Jaga Minho baik-baik. Aku harap ia akan sepertiku nanti. Tinggi, gagah, memiliki hati yang luas, sabar, kuat, dan menjadi idola para wanita, kkk. Apakah aku terdengar seperti memuji diri sendiri ?Tapi aku harap itu menjadi nyata.

Aku rasa selembar kertas ini tidak cukup untuk menampung apa yang ingin aku sampaikan. Untuk menulis ini saja, aku tidak cukup kuat. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, kau ingat dan itu tidak akan berubah. Bahwa aku……

Aku Mencintaimu…..

Max Changmin

“Kkkk….ternyata surat perpisahan, haha. Hey Kau yang diatas sana ! Kau lihat ? Sudah berapa banyak Yoochun yang kau buat begini ? LIhat surat itu ! Dia Yoochun ke berapa ? Kenapa kau tidak membiarkan kami bahagia…?”

Pria itu berjalan dengan tubuh berkali-kali nyaris mencium aspal.Ia buang surat itu ke sembarang arah, tidak perduli jika kembali terbawa angin menuju pohon, tersangkut didahan, terinjak seseorang, terikut tumpukan sampah, atau……..terlindas mobil.

 

*******Destiny-Last Chapter********

 

Aku salah ?semua orang juga melakukannya. Tapi aku candu untuk mengulanginya. Jadi..kalian menyebutku apa ?

Aku buta dan tidak melihat ada satu jalan lurus di antara puluhan lubang.Saat aku terjatuh, aku memang melihat tali yang menjuntai.Aku melihat tanda-tanda bantuan.Tapi…tali yang paling aku butuhkan tidak ada.Tidak ada yang melemparkan tali besar ke lubang dimana aku terperosok.

Aku menyesal, tentu saja. Kata ‘kenapa’ ‘dan ‘maaf’  tiba-tiba jadi kata paling akrab denganku. Tapi si objek untuk kuberikan kata itu tidak tertarik mendengar. Aku harus bagaimana ?

Aku bodoh, sudah jelas.Aku lebih bodoh lagi saat berpikir tidak ada yang bisa membantuku.Lalu aku melihat ke atas.Sejenak aku melupakan-Nya.Sejenak aku lupa kehadiran-Nya.

Dan Dia menunjukan jalan padaku.Menunjukan setitik harapan diantara gelap ini. Dan kalian tahu ?Aku meminta dua.Aku meminta dua hal dan hanya satu yang diberikan.Aku tidak terima.

Tapi…aku mendadak malu. Bagaimana mungkin aku begitu serakah ? Lihat dia !makhluk kecil yang tengah merebahkan kepalanya dipangkuanku. Ia disisiku. Dan aku masih meminta lebih ?

Aku terlempar jauh dari kata layak, tapi Dia mengembalikanku ke bagian atas lagi.Aku tidak bisa menjadi seorang ibu, tapi Dia membuatnya jadi nyata dengan menghadirkan seorang malaikat kecil. Itu hanya sedikit dari sekian apa yang sudah kudapatkan.

Aku belajar.Belajar melapangkan dada dan menerima semuanya.Anggaplah selama ini aku tengah mengikuti ujian kelulusan sekolah.Aku berkali-kali tergoda untuk menoleh kebelakang mencari jawaban. Dan setelah apa yang kuhasilkan dari itu, aku baru sadar itu adalah kesalahan besar. Tapi aku ingat. Aku punya penghapus bukan ?Aku menghapusnya.

Sayang, masih berbekas.

Tapi aku tidak berhenti menghapusnya.Setidaknya sedikit berkurang. Berhenti melihat kebelakang ! Berhenti menghabiskan waktu dengan penyesalan berkepanjangan !

Mungkin aku sudah banyak melakukan kesalahan, tapi selama waktu masih ada, aku akan berusaha memperbaikinya.Aku bukan si kelinci bodoh itu.Bukan !Loncengku belum berbunyi.Masih ada waktu untuk menyelesaikannya.

“Mama…”

Malaikat kecilku bergelayut manja dipangkuanku. Aku pikir dia sudah tertidur, tapi ia membuka mata dengan sangat lucu dan memelukku erat.

“Kenapa sayang ?”

“Papa kapan pulang ?”

Aku mengelus dada, menarik nafas dan tersenyum setenang mungkin didepannya meski sebenarnya…pertanyaan polos dan jujur dari Minho itu seperti pisau yang menghunus tepat dijantungku. Aku tahu, ia rindu papanya. Aku pun begitu, bahkan…….entahlah, aku tidak mengerti menjelaskan kerinduanku padanya.

“Minho tidur ya. Nanti papa pasti datang dan membawakan mainan yang banyak, hmm robot power rangers bukan ?”

“Benal ?”

Aku tersenyum lagi dibalik sakit ini.Aku tersenyum meski rasanya aku ingin meraung-raung menangis memanggil namanya.Sekali lagi aku menarik nafas, mengusap kepalanya.

“Sudah malam, ayo kita tidur.”

Minho mengangguk dan kembali memelukku erat.Disaat sekitar sudah semakin menyepi, saat tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan, tidak ada lagi yang menahanku, aku menumpahkannya.

Max…Mungkin aku belum bisa menjadi istri yang baik. Tapi setidaknya,  akuakan belajar menjadi ibu yang baik untuk anak kita.

Aku…menunggumu.

 

THE END

.

.

.

.

.

Nah, selesai juga. Seperti yang sudah dibilang di awal, ff ini sudah pernah dipublish dan ada sequelnya. Monggo ke blog saya kalau mau sekuelnya. Atau saya kirim kesini? Makasih semuanya yang udah baca. Silahkan kritik dan saran untuk akhir ff ini!! *bow*

4 thoughts on “Destiny Part 12 END

  1. angrybird_wu berkata:

    Hua hua sedih banget.kenapa dibuat gantung unn.minho kan nanyain max terus.hikss lagi-lagi perpisahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s