Twins Part 9


Title: TWINS

Main Cast:

–          Kim Jaejoong

–          Shim Changmin

–          Jung Yunho

Rating: PG13-NC17 / STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri

A/N: Sebelumnya belom author edit jadi kalo ada salah-salah kata mian ya🙂

DISCLAIMER: FF ini murni buatan author sendiri tanpa menjiplak dari FF di blog mana pun. Kalaupun ada kesamaan itu hanya kebetulan semata. FF ini hanya khayalan author.

DON’T LIKE? SO DON’T READ AND DON’T BASH MY FF!!!

Part sebelumnya bisa di cari di sini

Happy Reading : )

AUTHOR POV

Sejak pagi Yunho uring-uringan karena masih belum bias bertemu Di Kha. Ia mencoba menelepon yeoja itu tapi hasilnya sama, tidak di angkat. Pesan yang ia kirim pun belum di balas satu pun. Yunho menatap pintu berkali-kali dan berharap yeoja itu akan datang.

“Kau kejam sekali Di Kha-a.” Gumamnya sambil menundukkan kepala. Ia memainkan ponselnya dengan bosan. Tak lama terdengar suara pintu terbuka tapi hal itu tak membuat Yunho mendongakan kepalanya.

“Jadi aku yeoja yang kejam hah?” mendengar suara yang ia rindukan, Yunho langsung mendongakan kepala dan melihat Kim Di kha akhirnya datang menemuinya. Yunho tersenyum lebar dan meminta yeoja itu untuk mendekat padanya.

Di Kha menghampiri Yunho dan menaruh makanan yang ia buat untuk namja itu di atas meja. Ia berdecak kesal melihat mimik wajah Yunho yang seperti anak kecil kehilangan ibunya. Di Kha duduk di kursi dekat ranjang Yunho.

“Jadi aku kejam, hah?” Tanya Di Kha lagi. Yunho menggelengkan kepalanya lalu tersenyum kaku.

“Kau tidak kejam hanya tega. Kau tahu aku mencintaimu tapi kau mengirim foto seperti itu kemarin.” Keluh Yunho. Ia meraih tangan Di Kha dan yeoja itu tak menolaknya. Di Kha menatapnya lalu menghela nafas.

“Jujur aku memang sengaja mengirimkan foto itu untukmu. Kau boleh menganggapnya sebagai ancaman dariku.” Yunho kaget mendengar ucapan yeoja didepannya.

“Aku melakukan itu karena aku kecewa padamu. Kau mendukungku meraih impinku tapi kau menyerah begitu saja dengan mimpimu sendiri. Sebelum aku pergi aku ingin kau berjanji padaku. Kau harus menggapai impianmu yang kau katakan padaku . Setelah itu kau bisa menebak sendiri bagaimana kelanjutannya. Bagaimana? Bisa?” Di Kha menatap Yunho dengan penuh Tanya.

Yunho tampak berpikir keras tentang ucapan Di Kha. Appa-nya merupakan orang yang sangat keras. Dulu ia pernah membujuk appa tapi tidak berhasil. Umma-nya yang berbicara untuk membantuku pun hasilnya sama saja. Sekeras apa pun ia membujuk appa-nya tetap saja tidak ada hasilnya. Yunho ingin berkata tidak bisa tapi ia tak mau kehilangan Di Kha, yeoja yang sangat ia cintai. Setelah cukup lama berpikir akhinya Yunho menganggukan kepalanya menyanggupi. Walaupun akan sulit tapi ia akan berusaha demi Di Kha. Pengorbanannya itu membuahkan hasil yang sedikit mengejutkan namun manis baginya. Di Kha tersenyum lebar saat melihat ia menganggukan kepala. Yeoja itu pun sampai memeluknya erat dan berterima kasih. Yunho tersenyum dan membalas pelukan Di Kha.

‘Aku akan berjuang melawan appa. Apa pun yang terjadi aku tidak akan menyerah seperti dulu. Ini untuk mendapatkanmu Kim Di Kha.’ Batin Yunho

“Gumawo.” Ucap Di Kha. Yunho hanya menganggukan kepala pelan.

“Aku tak suka melihatmu menyerah dengan mimpimu. Ingin mendapatkanku saja kau tak mudah menyerah, kan? Aku akan menepati janjiku untuk berusaha mencintaimu jika kau juga menepati janjimu.” Ucap Di Kha lagi. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Yunho. Wajah namja itu terlihat sedikit lebih baik di bandingkan saat ia datang tadi.

“Kenapa diam saja? Tak ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?” Tanya Di Kha.

“Aku ingin ikut denganmu.” Ucap Yunho singkat. Di Kha langsung menjitak kepalanya cukup keras. Ia meringis kesakitan sambil mengelus kepalanya. Yeoja itu ikut mengelus kepalanya dengan wajah khawatir.

“Makanya jangan mengatakan hal yang tidak-tidak.” Ucap Di Kha. Yunho melepaskan tangannya yang sedang mengelus kepala namja itu.

“Kau tidak boleh tergoda namja lain saat di sana nanti. Jika kau mulai tergoda kau harus ingat aku, namja yang sangat mencintaimu dan akan terus menunggumu.” Yunho mencium punggung tangan Di Kha dengan lembut. Di Kha tersipu malu saat Yunho mencium tangannya. Ia merasa tak salah jika ia memutuskan untuk berusaha mencintai Yunho.

“Baik akan kulakukan. Aku akan menuruti semua yang kau katakan tapi aku ada satu syarat.” Ucapan Di Kha membuat Yunho penasaran.

“Saat aku pergi kau tidak boleh berbicara ataupun dekat-dekat dengan yeoja lain kecuali keluargamu.” Lanjut Di Kha. Untuk yang satu ini tanpa banyak berpikir Yunho langsung menyanggupinya. Ia memberi tanda ‘ok’ sambil tersenyum.

Di Kha tiba-tiba mencium bibir Yunho membuat pemilik bibir itu kaget dengan tindakannya yang mendadak itu. Ia menatap Yunho yang masih tidak percaya, namja itu memegang bibir sambil menatapnya. Di Kha kembali mencium Yunho. Ciuman ini lebih lama dari yang pertama. Saat mencium namja itu jantung Di Kha berdegup sangat kencang. Ia mencoba untuk tidak mempedulikan detak jantungnya.

Setelah lama mencium Yunho, Di Kha menjauhkan tubuhnya dari namja itu. Ia menatap Yunho sekilas lalu menundukkan kepalanya. Di Kha berusaha mengatur detak jantungnya.

“Itu sebegai ucapan terima kasih karena kau mau menuruti permintaanku dan juga sudah setia menungguku selama ini. Walaupun aku ketus padamu kau tidak menyerah. Selain itu aku juga minta maaf karena belum bisa mencintaimu.” Di Kha melirik Yunho sekilas. Namja itu masih memperhatikannya.

“Selama ini memang aku selalu menutup rapat hatiku dan tidak membiarkan siapapun untuk masuk ke dalamnya. Aku takut.” Tanpa Di Kha sangka Yunho mengelus pipinya membuatnya mendongakan kepala menatap namja itu.

“Boleh aku tahu apa yang kau takutkan?” Tanya Yunho lembut padanya.

“Aku takut di khianati dan kecewa. Aku pernah mengalaminya dan tak mau hal itu terulang lagi. Maka dari itu saat kau datang dalam kehidupanku pun aku menjauh dan menganggapmu sama dengan pria yang selalu membuatku sakit.” Di Kha memegang dadanya saat luka itu kembali terbuka. Perlahan air matanya mengalir dan Yunho menghapusnya dengan sebuah ciuman di kedua matanya. Entah kenapa apa yang di lakukan Yunho padanya membuat ia merasa tenang dan nyaman. Namja itu memeluknya dengan hangat.

“Aku janji aku tidak akan seperti itu. Aku akan jadi namja yang membuatmu bahagia. Kau tidak usah lagi menangis. Air matamu terlalu berharga untuk kau keluarkan hanya demi pria seperti itu.” Yunho mengelus rambutnya dan mencium keningnya.

—-

Hee Young dan Changmin berada di dalam mobil. Semalaman keduanya tidak pulang dan tetap berada di sungai Han. Changmin melihat Hee Young tengah tertidur. Wajah yeoja itu telihat lelah dan sedih. Ia menghela nafas dan kembali menatap ke depan.

‘Apa yang harus kulakukan?’ Batinnya. Tak lama ponselnya berbunyi. Dongsaeng Hee Young mengiriminya pesan. Namja itu mengingatkannya tentang pengumuman lomba yang akan di umumkan siang ini dan menanyakan tentang keadaan Hee Young. Changmin membalasnya lalu membangunkan Hee Young. Yeoja itu menggeliat karena terganggu dan beberapa menit kemudian membuka matanya.

“Engh sudah pagi.” Hee Young menatap Changmin.

“Mian mengganggu tidurmu. Ji Young tadi mengirim pesan mengingatkanku tentang lomba yang akan di umumkan hari ini. Kau mau ikut menemani kami?” Hee Young langsung mengangguk lalu menatap pakaiannya. Changmin menawarkan pada Hee Young pergi ke studionya untuk mengganti pakaian.

“Tapi aku tak membawa pakaian, sunbae.”

“Di sana ada beberapa pakaian, mungkin kau bisa memakainya dan kurasa pas di tubuhmu. Bagaimana?”  Hee Young mengangguk menyetujui saran Changmin.

Selama perjalanan Changmin fokus  menyetir, sedangkan Hee Young menatap keluar jendela. Yeoja itu membuka kaca jendela membiarkan angin pagi masuk ke dalam mobil. Angin sejuk membuat sedikit menenangkan pikirannya. Hee Young memikirkan masa depan yang akan di jalaninya dan ia meyakinkan diri sendiri jika ia bisa melewati semua ini. Hee Young menoleh ke arah sunbae-nya. Terlihat namja itu pun sedang memikirkan sesuatu.

Sampai di studio tempat Changmin mencetak foto-fotonya, keduanya masuk dan Changmin memberitahukan Hee Young di mana yeoja itu bisa mengganti pakaian dan juga pakaian gantinya.

Hee Young memperhatikan semua yang Changmin katakan.

“Semoga pakaiannya pas untukmu. Selama kau mengganti pakaian aku akan pergi sebentar, tak akan lama. Jangan membukakan pintu untuk orang asing. Jika aku datang aku akan langsung masuk, ok?” Hee Young mengangguk mengerti. Changmin pun pergi dari studio.

Changmin mengemudikan mobilnya lagi dan menuju tempat yang akan ia datangi. Ia gugup tapi ia sudah memikirkannya dan ia tidak bisa mundur lagi. Changmin mengemudikan mobilnya dengan cukup cepat hingga tak lama ia sampai di rumah temannya yang ingin ia ajak bicara.

Tanpa basa-basi Changmin langsung masuk ke rumah itu dan menuju kamar temannya. Ia mengetuk beberpa kali lalu masuk saat orang di dalam kamar bersuara.

Dilihatnya namja yang tengah bermain game dengan wajah sembab. Changmin mendatangi jaejoong untuk membicarakan Hee Young. Ia melihat Jaejoong tampak sangat hancur tapi wajahnya penuh emosi.

“Hyung, aku mau bicara.” Changmin mendekati namja itu dan berusaha menghentikan permainan Jaejoong. Namja itu terlihat marah padanya tapi Changmin tak peduli.

“Bicara apa? Aku tak mau bicara sekarang apa lagi tentang yeoja itu.” Jaejoong berbicara dengan penuh amarah.

“Memang kenapa? Kau tidak mencintainya lagi?” Tanya Changmin. Jaejoong menatapnya sinis.

“Kau tidak tahu ya? Yeoja itu tidak mencintaiku. Dia menulisnya di buku hariannya yang kubaca kemarin. Dia membohongiku, Changmin-a. Dia pembohong!” Jaejoong berteriak.Changmin menghela nafas panjang.

“Kau baca hingga selesai? Apa kau yakin?” Tanya Changmin lagi.

“Kenapa kau seolah membelanya? Aku tak perlu membacanya hingga selesai. Aku sudah yakin semua yang ia lakukan hanya kebohongan belaka.” Jaejoong berdiri dan menjauhi Changmin, ia duduk di tepi ranjang.

“Dalam kasusmu aku memang membelanya karena aku tahu yang sebenarnya. Dia mencintaimu, hyung. Kau yang bodoh tidak mau membacanya hingga akhir dan tidak menerima ia harus pergi sementara waktu untuk belajar. Kau egois, hyung.” Changmin melihat Jaejoong tertawa pelan. Tawa penuh rasa sakit.

“Kau tidak mau berbaikan dengannya? Asal kau tahu, Hee Young sebentar lagi akan pergi dari Korea.”

“Untuk apa aku berbaikan dengan pembohong seperti dirinya?” Jaejoong berkata sinis lagi pada Changmin. Changmin yang melihatnya hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepala.

“Haaaah sepertinya percuma saja aku membujukmu untuk berbaikan dengan Hee Young. Kau di liputi emosi.” Keduanya terdiam cukup lama. Changmin menunggu reaksi Jaejoong tapi namja itu hanya diam.

“Kalau begitu selanjutnya aku yang akan melindunginya. Aku sudah memberimu kesempatan untuk bersamanya lagi tapi kau menolak. Aku pergi, hyung.” Changmin berdiri dan tidak mempedulikan Jaejoong yang kaget dengan ucapannya. Di depan pintu Changmin menghentikan langkahnya lalu berbalik.

“Kesempatan tak datang dua kali dan jangan pernah menyesal dengan apa yang sudah kau putuskan. Aku tidak akan meminta maaf padamu karena kurasa ini bukan salahku maupun Hee Young. Hee Young sudah memperbaiki kesalahannya, dia sudah menebusnya.” Tanpa berkata-kata lagi Changmin pun pergi.

“BRENGSEK KALIAN SEMUA!!! BUKU SIAL!!” Changmin mendengar suara teriakan Jaejoong dan namja itu membanting sesuatu dengan keras. Saat ia keluar pintu utama ia melihat saudara kembar Jaejoong menatapnya. Tatapan namja itu bukan tatapan memusuhi melainkan tatapan bersahabat seperti biasa.

“Apa benar kau yang akan melindunginya sekarang? Mianhae tapi aku mendengar semuanya tadi.” Ucap Jaejoon. Changmin mengagguk mantap.

“Apa yang kau katakan tentang Jaejoong benar. Aku tak akan membelanya. Semalam aku menemaninya hingga pagi dan aku membaca semua buku harian Hee Young di depan Jaejoong. Dia tetap tak percaya yeoja itu mencintainya. Dia pikir itu karanganku saja.”

“Aku hanya berharap semua ini akan berakhir dengan baik. Kau, Hee Young, dan semuanya akan berakhir bahagia dengan pilihan hidup masing-masing. Kuharap juga kau bisa menjaga yeoja itu. Sebagai saudara Jaejoong memang terlihat salah jika aku membelamu dan Hee Young tapi aku tak memposisikan diriku sebagai saudaranya. Dalam masalah ini aku netral.” Ucap Jaejoon. Changmin tersenyum lalu mengangguk berterima kasih.

“Aku pergi dulu, hyung. Terima kasih karena sudah mengerti.” Changmin pun pergi ke studio untuk menemui Hee Young.

‘Sebenarnya aku memang membela kalian. Aku tahu apa yang sudah kau alami, Changmin-a. Junsu menceritakan semuanya padaku dan memintaku untuk diam. Jaejoong juga bodoh, kenapa tidak mau mendengarkan kata-kataku. Aish namja itu.’ Batin Jaejoon kesal.

Sementara itu Hee Young sudah selesai mengganti pakaiannya dan untung ada yang cocok serta pas di badannya. Ia menunggu kedatangan Changmin dengan bosan. Di studio itu hanya ada alat-alat yang tidak di mengerti olehnya.

Hee Young memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa bosannya. Saat sedang asik memainkan ponsel ia mendengar suara pintu terbuka. Hee Young berdiri dan menghampiri sumber suara. Ia yakin Changmin yang datang dan benar saja, saat melihat di depan pintu sudah ada namja tinggi itu.

“Sudah siap? Ayo pergi.” Hee Young mengangguk lalu keduanya pergi.

Di dalam mobil Changmin memikirkan sesuatu yang ia rasa sepertinya ia lupa akan sesuatu yang harus di katakan pada Hee Young. Changmin menjentikkan jarinya setelah mengingatnya.

“Hee Young-a, kau sudah tahu Di Kha akan pergi hari ini keluar negeri?” Changmin memberitahu Hee Young tanpa menatap wajah yeoja itu, ia tetap fokus menyetir.

“Mwo? Yang benar sunbae? Ada apa di pergi ke luar negeri? Pergi kemana?” Tanya Hee Young bertubi-tubi. Ia kaget mendengar berita mendadak itu.

“Sudah kuduga kau pasti belum tahu. Dia akan pergi ke New York. Dia mendapat beasiswa di sana.” Jawab Changmin. Ia melirik Hee Young sebentar  dan melihat yeoja itu menganggukan kepala.

“Ternyata dia sudah mewujudkan impiannya juga.” Gumam Hee Young yang terdengar oleh Changmin.

“Kau cobalah hubungi dia. Aku akan coba mengirim pesan pada Yunho. Siapa tahu Di Kha ada bersamanya.” Changmin mengirim pesan saat sedang berhenti di lampu merah.

Hee Young mengikuti saran sunbae-nya tapi sayang ponsel Di Kha tidak aktif. Ia langsung teringat jika ia dan sepupunya itu masih belum bicara sejak pertengkaran mereka waktu itu. Hee Young pun menghela nafasnya.

“Tenanglah. Pasti kita bisa menghubungi Di Kha sebelum keberangkatannya.” Changmin berusaha membuat yeoja di sampingnya bersemangat.

Sampai di gedung Cam, tempat di selenggarakannya perlombaan fotografi keduanya langsung masuk dan mencari Ji Young. Mereka menemukan Ji Young tengah menunggu dengan wajah tegang.

Ji Young menatap noona-nya dengan lekat. Hee Young mengerti arti tatapan dongsaengnya lalu tersenyum.

“Noona baik-baik saja.” Ji Young menghela nafas lalu mengangguk. Tak lama seseorang menghampiri mereka dan menyuruh Changmin dan Ji Young untuk masuk ke ruang penentuan. Sayang Hee Young tak di ijinkan masuk karena yang boleh masuk hanya peserta saja. Alhasil Hee Young menunggu di luar, ia tak menunggu sendiri tapi dengan para pendamping peserta lain. Mereka pun terlihat gugup di mata Hee Young.

Di saat menunggu dengan gugup Hee Young teringat orang tuanya. Ia pun menghubungi umma-nya dan menanyakan tentang Di Kha. Umma-nya memberitahukannya tentang  beasiswa dan jam berapa yeoja itu berangkat. Orang tuanya dan orang tua Di Kha akan mengantar sampai bandara. Hee Young pun sempat di marahi appa karena tak pulang semalam. Tapi umma-nya membelanya.

“Walaupun Ji Young bilang kau sedang ingin menyegarkan pikiranmu dengan Changmin di luar tapi kau tidak boleh tidak pulang. Jangan di ulangi lagi dan jangan lakukan ini du luar negeri nanti.” Tegas appa Hee Young.

“Ne. Mianhae appa. Aku hanya sedang ada masalah dan Changmin sunbae pun sama jadi kami pergi ke sungai Han untuk melepas penat.” Ucap Hee Young jujur. Tapi ia tak mau membertahukan secara detail tentang masalah hatinya. Setelah appa-nya mengerti ia pun menutup ponselnya.

—-

Jaejoong terdiam di kamarnya yang sudah ia buat sangat berantakan. Barang-barang yang ada di hadapannya ia buat hancur hingga tak berbentuk. Jaejoong tak mempedulikan suara di luar yang memintanya untuk membuka pintu.

Jaejoong benar-benar marah pada Hee Young dan namja itu selalu bergumam kalau Hee Young seorang pembohong. Ia melirik ke arah pintu saat seseorang mendobrak pintunya. Jaejoon, saudaranya itu mendobrak pintu dan menatapnya horror.

Namja itu mendekatinya dan menatapnya.

“Aku membencinya. Aku benci yeoja itu. Ia membohongiku selama ini padahal aku sangat mencintainya.” Jaejoon menghela nafas lalu duduk berhadapan dengan Jaejoong.

“Apa kau yakin selama ini yang di lakukan dan di katakan Hee Young hanya bohong belaka? Kau pikirkanlah baik-baik. Hilangkan emosi dan rasa sakit yang kau rasakan sekarang.” Saran Jaejoon. Bukannya menerima sarannya, ia malah menerima omelan dari Jaejoong. Namja itu pun mengusirnya.

“Terserah kau sajalah. Yang jelas aku sudah memberikanmu saran. Dan satu hal, bereskan kamarmu yang kau buat hancur ini sebelum umma-appa datang.” Jaejoon berdiri dan meninggalkan Jaejoong seorang diri di kamar.

Jaejoong kembali menangis membuat matanya bertambah sembab. Ia tertawa pelan melihat betapa hancur dirinya hanya karena seorang yeoja.

“Aku sampai seperti ini hanya karena Hee Young? Benar-benar memalukan.” Gumamnya.

—-

Di Kha masih memeluk Yunho dengan nyaman. Ia merasa sudah gila karena rasa nyaman yang ia rasakan itu. Di Kha belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Yunho pun terus memeluknya dan mengelus punggungnya dengan lembut. Tak banyak kata yang di katakan keduanya, hanya terus berpelukan.

“Kau harus jaga diri baik-baik. Haaah rasanya berat melepasmu pergi tapi aku tidak boleh egois. Jika ada sesuatu kau harus langsung menghubungiku, ok?” Di Kha menjawabnya dengan sebuah anggukan.

“Kau juga harus cepat sembuh. Ikuti saran dokter.” Yunho mempererat pelukannya membuat wajah Di Kha terbenam di dada bidang miliknya. Di Kha bisa mendengar detak  jantung Yunho.

Tak lama Di Kha melepaskan pelukannya dan menatap Yunho. Ia tersenyum tipis lalu menggengam tangan namja itu.

Yunho mendekati Di Kha perlahan dan mencium yeoja itu. Ciumannya lembut membuat Di Kha memejamkan mata dan terbuai oleh ciumannya. Yunho memegang tengkuk yeoja itu hingga ciumannya semakin dalam.

Di Kha melepaskan ciuman Yunho saat mendengar suara langkah kaki mendekat dari luar. Ia takut jika seseorang tiba-tiba masuk. Ia menatap Yunho sekilas dan merasakan wajahnya sangat panas. Ia tak menyangka namja itu menciumnya seperti itu. Namja itu mencium keningnya dan membisikkan sesuatu.

“Kau ternyata yeoja yang pemalu ya. Wajahmu sangat merah tapi aku suka karena aku bisa melihat sisimu yang manis. Mau kucium lagi?” Goda Yunho. Di Kha pun menatap namja di depannya kesal, ia ingin memukul Yunho tapi tidak bisa mengingat namja itu masih sakit.

“Di dalam tas itu ada makanan dan kue yang kubuat untukmu dan tas yang itu hadiah kecil untukmu. Hanya sebuah buku tapi kau hanya boleh membukanya saat aku pergi.” Di Kha berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau terus di goda oleh Yunho. Yunho hanya tersenyum mendengar ucapan yeoja di depannya.

“Gumawo.”

Keduanya melihat jam yang tak terasa sudah sore dan itu menandakan sebentar lagi Di Kha harus pergi dari RS dan menuju bandara. Ia berangkat malam ini. Semakin dekat Di Kha untuk pergi membuat hati Yunho semakin berat. Ia meminta yeoja itu untuk berada di pelukannya sebentar lagi. Yunho kembali memeluk Di Kha dengan sangat erat seolah tak akan bertemu lagi.

—-

Hee Young masih menunggu dengan perasaan gugup. Changmin dan Ji Young masih belum juga keluar dari ruang penentuan. Beberapa kali Hee Young sempat mengumpat pelan pada panitia perlombaan karena sangat lama.

Pintu ruangan di mana para peserta ada di dalam akhirnya terbuka. Sontak Hee Young pun berdiri dan menunggu keduanya dengan cemas. Para pendamping peserta pun ikut berdiri. Satu per satu para peserta keluar dengan berbagai ekspresi, ada yang sedih, gembira bahkan berteriak karena senang.

Wajah Changmin dan Ji Young belum terlihat membuat Hee Young tambah cemas. Perlahan ia mendekati ruangan itu dan melihat dua namja berdiri dan tersenyum padanya dengan piala yang sangat besar di depan mereka. Reflek Hee Young pun tersenyum senang dan berlari kearah Changmin dan Ji Young yang memenangkan lomba. Ia memeluk kedua namja itu. Hee Young sama sekali tidak menyangka keduanya mendapatkan juara pertama dan dengan itu mereka mendapatkan beasiswa penuh.

Hee Young tak dapat berkata-kata, yang ia lakukan hanya tersenyum lalu menangis. Menangis bahagia melihat kemenangan mereka. Ji Young memeluknya dan menenangkannya.

“Jangan menangis terus, noona. Ini kan berita bahagia. Kau harus tersenyum. Impian kita perlahan terwujud, begitupun dengan impian Di Kha noona. Ini hal baikkan jadi tersenyumlah.” Hee Young hanya mengangguk di dalam pelukan dongsaengnya.

“Chukae.” Ucap Hee Young sambil melepaskan pelukan Ji Young. Ia menghapus air matanya lalu tersenyum.

“Nah bagaimana kalau kita bawa piala ini ke bandara dan menunjukkan pada umma-appa, ajusshi-ajumma juga pada Di Kha noona?” Saran Ji Young.

“Hyung, bolehkah aku memperlihatkan kemenangan kita pada keluargaku?” Ji Young meminta persetujuan Changmin. Namja itu pun mengangguk.

Ketiganya pun meninggalkan gedung Cam dengan membawa kemenangan mereka. Selama perjalanan ke bandara Ji Young tak henti-hentinya menceritakan pada Hee Young apa yang terjadi di dalam ruangan tadi. Ji Young terlihat sangat bersemangat membuat Hee Young tersenyum.

Sampai di bandara ke tiganya menghampiri Di Kha dan melihat semuanya sudah berkumpul. Hee Young langsung menghampiri Di Kha dan menatap yeoja itu kesal. Di Kha memeluknya dan meminta maaf atas kejadian waktu itu. Keduanya menangis tapi tetap tersenyum. Hee Young  pun memberitahukan Di Kha tentang beasiswa yang ia terima.

“Chukae.” Ucap Di Kha.

“Noona, ucapkan selamat untukku juga. Lihat ini. Aku juara satu dengan Changmin hyung.” Ji Young menyela pembicaraan kedua noona-nya. Ia pun mulai menceritakan yang terjadi di gedung Cam tadi. Umma dan appa-nya pun mengucapkan selamat dan meminta maaf karena tidak bisa mendampinginya.

“Gwenchana, kan sudah ada Hee Young noona.” Ucap Ji young mengerti kalau orang tuanya sibuk membantu keberangkatan Di Kha.

Semuanya mengobrol dengan penuh senyum. Hee Young yang melihatnya pun ikut tersenyum dan menghampiri Changmin yang kerubuti keluarganya. Tak lama Hee Young menarik Di Kha sedikit menjauh dari kedua orang tua mereka.

Hee Young menatap sepupunya itu lekat. Ia ingin tahu mengenai hubungan Di Kha dengan Yunho. Ia tahu kalau sepupunya itu yeoja yang cukup keras dan selalu tak peduli dengan percintaan. Awalnya ia pun tak peduli tapi melihat pengorbanan Yunho membuatnya penasaran.

“Bagaimana kau dengan Yunho sunbae?” Tanya Hee Young langsung pada intinya. Ia melihat Di Kha terkejut dengan pertanyaanya dan enggan untuk menjawab.

“Kau tidak menyakiti hati sunbae kan?” Di Kha menggelengkan kepalanya.

“Tidak tahu.” Jawab Di Kha singkat. Hee Young bingung dengan jawaban sepupunya itu. Ia mengerutkan keningnya tanda bahwa ia tak mengerti.

“Aku belum menjawab pernyataan cintanya. Aku meminta waktu untuk memikirkannya.” Jelas Di Kha. Ia pun menceritakan semuanya pada Hee Young.

“Semoga aku tak salah.” Ucap Di Kha.

“Tidak, kau benar. Kau harus memikirkannya sebelum menjawab. Dan kurasa Yunho sunbae akan terus menunggu.” Hee Young tersenyum.

Di Kha melihat ada hal yang aneh dari Hee Young. Ia pun menanyakannya pada yeoja itu. Betapa kagetnya Di Kha saat tahu hubungan Hee Young dan Jaejoong sudah putus. Hee Young pun menceritakan semua padanya. Ia mengerti situasi yang di hadapi sepupunya. Di Kha hanya bisa memberi semangat. Hee Young pun meminta padanya jika nanti saat mereka di Amerika dan ada yang bertanya keberadaannya yeoja itu memintanya untuk tidak memberitahukannya.

“Aku tak mau di ganggu. Aku ingin memulai hidup baru di Washington nanti. Semua kenangan yang ada di sini tak akan kubawa ke sana.” Di Kha mengangguk. Ia mengerti perasaan Hee Young yang sedang terluka itu.

“Gumawo. Kau hati-hati di New York nanti. Jangan lupa kirimi aku kabar.” Keduanya kembali berpelukan lalu menghampiri keluarga mereka. Hee Young kasihan melihat Changmin yang terus di tanya oleh appa-nya tentang kejadian semalam. Ia pun menarik namja itu menjauh dan menatap kesal appanya.

“Apa yang appa lakukan? Jangan bertanya yang tidak-tidak.” Ucap Hee Young kesal. Ia malu pada Changmin sunbaenya. Ia pun menunduk meminta maaf.

“Gwenchana. Itulah tugas seorang appa, Hee Young-a. Menjaga putrinya sampai menikah nanti. Apa lagi kau putri satu-satunya di keluargamu.” Hee Young melihat appa-nya tersenyum bangga karena di bela Changmin. Ia pun memukul lengan appa-nya pelan.

“Tapi kan tak usah menanyakan hal memalukan seperti itu. Appa seolah tak percaya aku bisa menjaga diri.” Ucap Hee Young masih kesal.

“Arraseo, mianhae.” Ucap appanya.

Tak lama Changmin mengajak Hee Young duduk agak jauh dari keluarga yeoja itu. Hee Young menatapnya lama dengan tatapan bingung.

“Aku sudah memikirkannya. Ucapan yang kukatakan di taman kemarin. Ingat?” Changmin melihat Hee Young mengangguk.

“Bagaimana kalau kita memulainya? Walaupun belum saling mencintai tapi kita bisa mencobanya dulu kan. Aku sudah memikirkannya semalaman dan kurasa ini yang terbaik untuk kita.” Changmin menatap Hee Young serius. Hee Young kaget dengan ucapannya yang tiba-tiba.

“Ah dan kebetulan beasiswa yang kuterima juga pergi ke Washington.” Ucap Changmin memberitahu.

“Apa kau serius, sunbae?” Hee Young bertanya dengan hati-hati. Ia melirik keluarganya yang masih asik mengobrol lalu kembali menatap Changmin. Namja itu mengangguk.

“Aku tak pernah bercanda mengenai hal seperti ini.”

Hee Young berpikir keras, ia tak tahu harus menjawab apa. Ia menatap Changmin bingung lalu tak lama Hee Young menutup mata. Ia menghela nafas berkali-kali agar pikirannya tenang.

Setelah cukup lama akhirnya Hee Young membuka matanya dan menatap Changmin. Namja itu masih menatapnya dengan serius.

“Baiklah sunbae, aku mau. Tapi aku ada permintaan.” Hee Young akhirnya menerima Changmin sebagai namjachingunya.

“Apa? Katakan saja.” Changmin akhirnya pun tersenyum mendengar ucapan Hee Young.

Hee Young mengatakan pada Changmin sama persis dengan apa yang ia katakan pada Di Kha. Jangan memberitahu keberadaannya pada siapapun. Beruntung Changmin mengerti dan mengabulkan permintaannya.

“Kalau begitu mulai hari ini jangan memanggilku sunbae lagi. Aku akan berusaha mencintaimu, Youngie-a. Aku pun akan melakukan apa yang kau lakukan, tidak membawa kenangan masa lalu ke Amerika dan tak membiarkan orang lain tahu keberadaan kita. Dalam kasusku aku hanya memberitahukan orang tuaku. Tidak dengan Changsoo. Gumawo.” Changmin mengecup kening Hee Young kilat. Ia melihat yeoja itu mengangguk dan tersenyum malu karena ia mencium Hee Young di depan banyak orang. Ia dan yeoja itu menatap Ji Young dan yang lainnya yang masih asik mengobrol dan tak sadar dengan kejadian tadi. Hee Young mengela nafas lega.

Tak lama terdengar suara panggilan untuk penumang tujuan Amerika. Hee Young dan Changmin pun menghampiri Di Kha dan yang lain. Di Kha memeluk Hee Young, Ji Young dan orang tua sepupunya itu. Ia akan di antar oleh kedua orang tuanya. Mereka bertiga pun mulai berjalan pergi. Hee Young menatap punggung Di Kha yang terlihat mantap untuk pergi.

‘Hati-hati, Di Kha-a.’ Batin Hee Young.

Changmin mengelus punggung Hee Young saat melihat yeoja itu sedih. Yeoja itu tersenyum lalu mengajak Changmin dan keluarganya pulang. Changmin mengantar keluarga Hee Young pulang.

Setelah mengantar keluarga Hee Young pulang, Changmin pun pulang ke rumahnya. Ia hanya membawa sertifikat dan tak membawa pialanya. Ia membiarkan piala itu ada di rumah Hee Young. Changmin membuka pintu dan mendapatkan telepon dari Hee Young. Ia mengangkatnya sambil berjalan masuk. Di saat sedang berbicara ia melihat Changsoo dengan Chae Jin dari kejauhan. Langsung saja ia menyembunyikan sertifikatnya.

Changsoo dan Chae Jin melihatnya dan Changmin pun mengangguk lalu pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.

“Hmm aku sudah sampai, Youngie-a. Gumawo sudah meneleponku, tadinya aku akan meneleponmu jika sudah sampai kamar. Istirahatlah kau pasti lelah. Ne aku juga akan langsung tidur. Ne jalja.” Changmin menutup telepon dan memasukan ponselnya ke dalam saku.

Chae Jin mendengar percakapan Changmin dengan seseorang. Hal itu tak ia pungkiri membuatnya penasaran dan cemburu karena nada suara Changmin sangat lembut saat berbicara. Tapi ia tak bisa melakukan apa-apa karena ia bukan yeojachingu Changmin. Ia menatap Changsoo yang kini begitu perhatian dan sayang padanya. Chae Jin pun tersenyum melihat Changsoo. Ia tak mau membuat namja itu curiga dan tahu tentang perasaannya yang sebenarnya.

‘Aku seperti tengah menjalani hukuman karena kesalahanku. Apa aku bisa mencintaimu, Changsoo-a?’ Batin Chae Jin.

Changmin berhenti di depan pintu kamar kedua orang tuanya. Ia menghela nafas panjang lalu mengetuk pintu. Di bukanya pintu itu saat ada suara dari dalam. Changmin membungkuk hormat dan mendekat. Ia memberikan sertifikat kemenangannya pada umma appanya. Mereka sangat senang melihat Changmin memenangkan juara pertama. Ia di hadiahi pelukan serta ucapan selamat. Selain itu juga ia mendapatkan omelan karena tidak memberitahukan orang tuanya tentang hari pengumuman lomba. Changmin memang sengaja tidak memberitahukan orang tuanya. Changmin pun tak lupa memberitahukan jika piala kemenangannya ia taruh di rumah Ji Young.

Saat Changmin merasa waktunya sudah tepat ia pun memberitahukan kedua orang tuanya mengenai keinginannya untuk tidak memberitahukan keberadaannya pada siapapun termasuk Changsoo. Ia menjelaskan maksud dari keinginannya itu dan berharap orang tuanya mengerti. Changmin melihat kedua orang tuanya tampak ragu dan menatapnya sendu. Akhirnya setelah lama berpikir mereka menganggukan kepala dan memeluknya.

“Gumawo. Nanti aku akan cari alasan agar Changsoo tidak ikut mengantarku dan kuharap dia tidak curiga.” Ucap Changmin. Orang tuanya hanya mengangguk lalu Changmin pun pergi ke kamarnya dan beristirahat.

Changmin merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit.

“Kuharap jalan yang kupilih ini yang terbaik.” Gumamnya.

 

****

 

Ke esokan harinya Hee Young di ajak Changmin untuk menjenguk Yunho. Selama perjalanan Changmin mengatakan pada Hee Young jika ia akan mengatakan tentang beasiswa yang ia terima dan keinginannya tentang  merahasiakan keberadaannya.

Hee Young mengerutkan keningnya mendengar ide Changmin. Ia tak setuju dengan ide namja itu. Ia pun menolaknya.

“Kurasa itu bukan ide yang bagus. Bukankah bisa saja Yunho sunbae  menceritakan semuanya pada orang lain?” Tolak Hee Young.

“Memang bisa saja dia membocorkan keberadaan kita tapi kita bisa memintanya untuk tutup mulut. Kurasa jika Yunho tahu keadaan kita dia akan mengerti. Aku juga akan mengatakan alasannya. Tak mungkin kututupi dari Yunho. Bagaimana kau setuju?” Changmin melirik Hee Young sekilas dan melihat yeoja itu tampak berpikir.

“Jadi kau juga akan memberitahukan keadaanku pada Yunho dan hubungan kita?” Tanya Hee Young balik.

“Ya kalau kau setuju aku akan mengatakan tentang hubungan kita. Bagaimana? Kujamin dia akan mengerti perasaan kita. Kalau tidak ya aku akan memakai rencana cadanganku. Memakai nama sepupumu Di Kha untuk mengancamnya.” Hee Young melihat Changmin tersenyum penuh kemenangan.

“Baiklah jika menurutmu itu yang terbaik untuk kita, aku setuju. Tapi bantu aku mengatakan tentang keadaanku dan hubunganku dengan Jaejoong yang sudah putus.” Ucap Hee Young setuju. Changmin mengangguk.

Tak lama keduanya sampai di RS dan mereka pun langsung ke ruang rawat Yunho. Changmin memang sebelumnya menghubungi Yunho meminta waktu namja itu untuk berbicara serius dan meminta tak ada satu pun orang yang ada di sana selain mereka.

“Pagi.” Sapa Changmin yang di ikuti Hee Young di belakangnya.

“Cepat kemari. Katakan ada apa? Kau serius sekali saat di telepon kemarin. Sepertinya kau mau mengatakan sebuah rahasia.” Tebak Yunho. Changmin dan Hee Young pun duduk di dekat Yunho. Changmin menatap namja itu serius.

“Ne, kau benar. Ada hal serius yang ingin kukatakan.” Balas Changmin

Changmin mulai menceritakan semuanya dari awal pada Yunho juga tentang Hee Young. Ia menceritakan semuanya dengan detail. Terlihat jelas di matanya jika Yunho terkejut dengan semua ceritanya. Changmin pun tak lupa meminta pada namja itu untuk tetap merahasiakannya dan juga keberadaan mereka. Ia tak mau orang-orang yang berhubungan di masa lalunya dan Hee Young tahu.

“Kami ingin memulai hidup baru di Amerika nanti. Jika kami sudah siap dan sudah bisa memulai hidup baru, kami akan memberitahu pada yang lain juga. Kuharap kau mengerti.” Ucap Changmin. Ia melihat Yunho menatapnya dan Hee Young sedih.

“Jangan menatap kami seperti itu. Ini pilihanku dan kurasa aku sudah benar. Aku tak mau menyakiti perasaan Changsoo. Dia saudaraku satu-satunya.” Ucap Changmin. Yunho pun menatap Hee Young yang sejak tadi diam saja.

“Aku tak tahan dengan sikap Jaejoong yang selalu mendiamkanku setelah tahu beasiswa yang kuterima. Selain itu juga dia sepertinya sudah sangat membenciku sekarang.” Hee Young tersenyum sedih. Changmin mengelus punggungnya memberinya semangat dan ketenangan.

“Tapi kau kan sudah mencintainya.” Ucap Yunho.

“Ne, memang dia sudah mencintai Jaejoong tapi Jaejoong bodoh. Seperti yang kukatakan dia hanya membaca buku harian itu setengahnya saja dan itu tepat di saat Hee Young mengatakan tidak mencintai namja bodoh itu.” Ucap Changmin kesal. Ia selalu kesal jika mengingat kebodohan Jaejoong.

“Baiklah aku akan merahasiakannya tapi ngomong-ngomong kenapa kalian mengatakan semua ini padaku?” Yunho menatap keduanya bingung.

“Ini ideku. Aku berpikir keadaannya nanti akan kacau jika tidak memberitahumu. Di Kha sudah pasti tahu dan sudah di pastikan dia akan merahasiakannya termasuk juga padamu. Di saat semuanya sudah terbongkar nanti kau pasti akan marah. Kau kan tipe orang yang tidak menyukai ada rahasia dan mengetahui semuanya dari orang lain. Kau harus tahu dari orang itu langsung. Kau tahu kan maksudku.” Jelas Changmin. Yunho tersenyum malu lalu mengangguk. Changmin hanya bisa menggelengkan kepala.

Setelah cukup lama menjenguk Yunho dan namja itu pun menyetujui merahasiakan semuanya dan mengatakan akan membantu jika ada masalah, keduanya pun pergi dari RS. Saat berjalan di lorong RS Changmin dan Hee Young menghentikan langkahnya. Mereka melihat Jaejoong. Changmin menghela nafas lalu menatap Hee Young yang terlihat sedih.

“Ayo pergi. Jangan hiraukan dia dan jangan menatapnya. Kau akan menangis jika menatapnya. Dia masih emosi.” Bisik Changmin lalu kembali melangkah. Saat semakin dekat dengan Jaejoong, ia dan namja itu saling menatap tajam.

“Aku sudah memberimu kesempatan dan kau membuang kesematan itu. Kau bodoh, kau akan menyesal nanti.” Ucap Changmin lalu melangkah pergi melewati Jaejoong. Changmin menoleh kebelakang saat tidak merasakan keberadaan Hee Young. Ia melihat yeoja itu menatap Jaejoong dengan wajah menahan tangis. Changmin menghela nafasnya.

“Hee Young-a.” Panggil Changmin. Yeoja itu pun berlari kearahnya dan memeluknya. Yeoja itu menangis dalam pelukannya. Changmin berusaha menenangkan yeoja itu.

“Lihatkan? Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menatapnya.” Ucap Changmin. Ia menatap tajam Jaejoong yang melihatnya dan Hee Young.

“Lihat apa yang sudah kau perbuat pada seorang yeoja? Karena kebodohan dan keegoisanmu dia jadi seperti ini.” Changmin berteriak di kalimat terakhirnya. Hee Young melepaskan pelukannya dan berusaha mengatur nafasnya. Changmin menghapus air mata Hee Young lalu yeoja itu berbalik. Jaejoong tetap diam tak bersuara.

“Sunbae, kau membacanya hanya setengah saja kan?” Tebak Hee Young. Namja itu tetap diam tak meresponnya. Hee Young pun menghela nafas panjang.

“Aku tahu aku salah karena tidak mencintaimu di awal hubungan kita. Aku tidak akan membela diri karena aku tahu kalau ini sepenuhnya salahku. Kau pasti membenciku sekarang atau mungkin jijik melihatku. Kuharap perlahan nanti kau bisa memaafkan semua kesalahanku.” Ucap Hee Young.

“Aku tidak akan menunjukkan wajahku di depan sunbae lagi, aku janji. Ini terakhir kalinya tapi asal kau tahu hatiku sangat sakit. Selamat tinggal.” Hee Young sudah tidak bisa menahan tangisnya, ia kembali menangis. Namja yang masih di cintainya itu pun tak memberi reaksi apa-apa hanya sebuah tatapan benci yang Hee Young terima. Tubuhnya terasa lemas dan terus menangis. Changmin menggendongnya dan membawanya keluar dari RS.

Perpisahan memang selalu menyakitkan.

TBC

Mianhae ya nunggu lama. Harusnya part ini udah di posting sekitar seminggu yang lalu tapi tiba-tiba pas mau di posting laptop author bermasalah. Harddisk rusak dan harus di ganti. Yah bisa kalian bayangin gimana nasib semua data di laptop termasuk FF, ilang semua dan harus ngulang dari awal. Jujur ini jauh beda banget sama yang kemaren jadi kalo agak aneh harap maklum.

Next part kemungkinan bakalan di protect. Password bisa di kasih kalo udah komen minimal 60%, berarti author bakalan kasih password kalo udah ada yang komen di 5-6part

Bagi new reader bisa minta ke FB author ato tanya di grup.

Gumawo🙂

NOTE: UNTUK MINTA PASSWORD BISA LIHAT >> DISINI << 

Komen yang minta password di FF tidak akan author tanggapi karena sudah ada tempatnya tersendiri. terima kasih

 

12 thoughts on “Twins Part 9

  1. Akhirnya update juga :* :*
    EonnI aku kangen hahaha

    Jaejoong itu bodohnya kelewatan ya.
    Pantesan si heeyoung jadinya sama changmin
    Aku suka couple yunho–dikha :*
    Diam diam tapi menghanyutkan.
    Semoga couple ini jadi pasangan beneran di endingnya ya eonn
    Tapi kalo bisa ff ini dibikin sad ending buat heeyoung. Karna kayanya pas buat dia. Hahaha

    Kalo buat gaya tulisan no komen deh eonn. Eonni selalu daebak. Hahaha

  2. angrybird_wu berkata:

    Yunho-dikha hwaiting.heeyoung nasibnya sedih banget.gak pa2 dapat changmin.min juga cakep ga kalah jj.unn yang sabar ya juga bikin ffnya..didukung trs ko.supaya bikin ffnya lebih keren lagi nd bersemangat hwaiting

  3. ohhhhh jaejoong y keras kepala nih ngutamain emosi y n ngak mau denger n percaya siapa2…
    ntar dia nyesel deh hee young y bakal mulai.hidup baru ma changmin n di amerika lagi….
    ngak pa2 deh hee young ma changmin sama2 org yg tersakiti n patah hati gt…
    ngak tega ma changmin… sedih part ini kirain JJ mau baikkan tau y makin jadi marah y…
    Lanjut…

  4. ya! ya! ya! *lempar semua prabotan ke arah onnie (╬◣д◢)
    ige mwoya?!!? ya!! aishhh~ eonnie…
    aishhh saking keselnya aqu sampe lupa mau komen apa!!
    ya!! Aishhh~ jinjja..
    ya eonnie ya sungguh teganya dirimu pda chaemin n jaeyoung couple?
    msa si imin bebeb jdinya ama heeyong si?
    sklian ja si chaejin jdiin sama jj!!
    aish jongmal~
    hah~
    esmosi qu trsulut mbacanya!! ya!! eonni!! *lempar bom ke eonni
    yunkha bhagia, chaemin n jaeyoung nelangsa..
    sungguh teganya dirimu.. teganya.. teganya… teganya… teganya
    *mewek sambil gegulingan di pelukan imin (╥╯^╰╥)

  5. eunchan she peef berkata:

    jae~ sadarlah~ pacar elu mau belajar kok di sono~ -.-”

    kyaaa~!!
    Yunho sama dikha romatis banget deh!😀

    penarasan sama next chap nya~^^

  6. Rajaejoongie berkata:

    hhhuuuaaa…kenapa jdi sperti ini,,
    gak rela kalo hee young bnrn pacran sama changmin,aku sdh jatuh cinta sama couple jae_young,hiksss TT.TT
    author harus bikin semua couple happy ending ne,terutama psangan couple pavorit aku jae-young…!!
    blh mnta pw nya kn..?
    gomawo..^^

  7. Baru hari ΐηΐ baca part 1 mpe 9. Bagussss. Tapi sebellllllll sampe di sini.. jj ama heeyoung putus.. Ga relaaaaaaaaaaaaaaa…. Uda terlanjur suka sm couple ΐηΐ . (っ╥ ﹏╥)づ.
    Btw, junsu dikasi pasangan jg dunkzzz eonni. >.<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s