Twins Part 8


Title: TWINS

Main Cast:

–          Kim Jaejoong

–          Shim Changmin

–          Jung Yunho

Rating: PG13-NC17 / STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri

A/N: Mian klo tambah aneh & mian juga baru di publish sekarang.

DISCLAIMER: FF ini murni buatan author sendiri tanpa menjiplak dari FF di blog mana pun. Kalaupun ada kesamaan itu hanya kebetulan semata. FF ini hanya khayalan author.

DON’T LIKE? SO DON’T READ AND DON’T BASH MY FF!!!

Part sebelumnya bisa di cari di sini

Happy Reading : )

AUTHOR POV

Yunho masih berada di Rumah Sakit, sejak pagi ia memaksa Dokter yang menanganinya untuk mengijinkannya pulang. Ia ingin mengantarkan Di Kha ke airport karena yeoja itu akan pergi besok malam. Seberapa keras ia berusaha membujuk perawat dan Dokter di sana tapi hasilnya tetap sama, mereka belum mengijinkannya untuk pulang hari ini. Yunho menggerutu karena kesal.

Sebenarnya selain ingin mengantar Di Kha ke airport, Yunho juga ingin membujuk yeoja itu untuk memikirkan lagi tentang jawaban kemarin. Ia masih belum mau menyerah walaupun kemarin Di Kha menolaknya dengan alasan yang menurut Yunho sangat aneh.

Yunho mengambil ponsel miliknya yang kemarin di bawakan oleh Yunhyun dengan perlahan. Kondisinya memang masih lemah tapi sejak Di Kha menolaknya ia berusaha keras agar cepat pulih.

“Ah dapat.” Gumamnya saat berhasil meraih ponsel miliknya. Ia menelepon Di Kha yang sejak pagi tidak menjenguknya. Teleponnya tak diangkat membuat namja itu kebingungan. Yunho menelepon Di Kha lagi tapi hasilnya sama. Berulang kali ia berusaha menelepon akhirnya yeoja itu mengangkat telepon darinya.

“Kau dimana?” Tanya Yunho langsung tanpa basa basi.

“Aku masih di Seoul. Ada apa?” Di Kha menjawab dengan santai namun terkesan dingin. Yunho berdecak mendengar jawaban yeoja itu.

“Aku tau kau masih di Seoul tapi kau ada di mana?”

“Aku di rumah baru selesai mengepak barang yang akan kubawa besok. Ada apa kau menelepon?” Jawab Di Kha.

“Aku ingin bertemu denganmu. Aku sudah minta ijin untuk pulang hari ini tapi Dokter melarangku.” Ucap Yunho. Ia berharap Di Kha luluh dan akan menemuinya.

“Oh.” Respon Di Kha yang terdengar santai membuat Yunho kesal.

“Kau tidak mau kemari?” Tanya Yunho dengan nada memelas.

“Tidak. Aku sibuk mempersiapkan keberangkatanku. Aku hanya bisa mendoakan kau cepat sembuh dan bisa mendapatkan yeoja yang kau cintai. Kututup ya.” Ucapan Di Kha membuat Yunho sedih sekaligus kaget. Ia tak menyangka yeoja itu akan seperti itu padanya.

“Di Kha tunggu du..” Teleponnya terputus. Di Kha langsung menutup teleponnya. Hal itu membuat Yunho uring-uringan. Ia coba untuk menelepon lagi tapi teleponnya mati.

“Di Kha mematikan ponselnya. Aish! Bagaimana ini?” Yunho memikirkan cara agar ia bisa bertemu Di Kha. Ia ingin menemui yeoja itu sebelum berangkat. Yunho tidak ingin berpisah seperti ini. Ia ingin Di Kha memberi satu kesempatan lagi padanya.

—-

Di Kha menatap ponselnya lalu menggelengkan kepalanya. Ia kembali mengecek barang-barang yang sudah ia bereskan tadi. Di Kha menghela nafas saat semuanya sudah selesai dengan benar. Ia duduk di sofa kecil sambil memikirkan sesuatu.

“Ah aku sama sekali belum meminta maaf pada Hee Young tentang sikapku yang keterlaluan waktu itu. Padahal besok malam aku sudah akan berangkat.” Gumamnya pelan. Di Kha melirik ponselnya lalu menggelengkan kepalanya.

“Besok saja.” Gumamnya lagi.

Bosan di dalam rumah Di Kha memutuskan untuk pergi keluar. Ia mengambil jaket dan ponselnya, ia menyalakan ponselnya lalu mendapatkan puluhan pesan dari satu orang yaitu Yunho. Di Kha menghela nafas lalu memasukan ponselnya.

“Dasar.” Ucapnya sedikit kesal.

Di Kha jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan dan mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan saat di Amerika nanti. Saat sedang menelusuri tempat lain ia melihat sesuatu yang menarik. Ia mendekat lalu menanyakan tentang hal yang membuatnya tertarik itu. Di Kha tersenyum lalu membayar.

Yang membuat Di Kha tertarik itu adalah stand untuk berfoto dengan background yang tersedia disana, kebetulan ada background yang Di Kha sukai. Uniknya jika backgroundnya itu sebuah kota atau tempat maka hasil fotonya akan terlihat nyata, tidak terlihat seperti hanya sebuah gambar/lukisan. Entah teknik apa yang di gunakan Di Kha tidak peduli yang ia inginkan hanyalah berfoto dan menjahili Yunho.

Setelah beberapa kali di foto Di Kha meminta ijin pada salah satu pegawai di sana untuk berfoto dengannya. Terlihat pegawai itu sangat kaget tapi dengan cepat Di Kha menjelaskan semuanya. Akhirnya pegawai itu mengerti dan mau berfoto dengannya. Di Kha sengaja pasang wajah senang dan terlihat merangkul mesra pegawai itu. Selesai di foto Di Kha membungkuk berterima kasih pada pegawai namja itu.

Saat menunggu hasil fotonya selesai Di Kha teringat sesuatu dan meminta pegawai di sana untuk memasukan foto yang ada tadi ke dalam ponselnya juga.

“Lihat saja kau nanti.” Gumamnya senang. Di Kha mengambil kembali ponselnya yang sudah penuh dengan foto-foto tadi.

Di Kha mencari foto yang menarik dan mengirimkannya pada Yunho. Ia memang sengaja berfoto dengan pegawai itu untuk menunjukkannya pada namja itu. Selesai mengirimkan satu foto wajah Di Kha terlihat penuh senyum kemenangan. Setelah menerima fotonya ia kembali pergi jalan-jalan sambil tersenyum.

“Penasaran sekali bagaimana reaksinya dengan foto manis itu.” Ucapnya.

Tak lama ponselnya berbunyi dan melihat umma-nya menelepon, langsung saja Di Kha mengangkatnya dan mencari tempat yang agak tenang.

—-

Yunho kesal seharian ini karena tidak di ijinkan pulang dan sikap Di Kha yang tak peduli padanya. Ia bosan berada di kamar dan terus berbaring di atas ranjang. Saat sedang mengganti channel TV tiba-tiba ponselnya berbunyi. Yunho pun mengambil ponselnya dan membuka pesan yang ia terima itu dengan malas. Saat melihat pesan itu Yunho langsung membelalakan matanya. Yunho semakin emosi dengan pesan yang ada di foto itu.

Foto manis yang kuambil tadi. Khusus untukmu, Jung Yunho (^_^)

“APA INI??? FOTO MANIS KATAMU???” Teriak Yunho penuh emosi dan cemburu. Foto itu Di Kha tengah berpelukan dan tersenyum senang dengan seorang namja. Yunho menggenggam erat ponselnya dengan kuat. Matanya terlihat penuh amarah.

—-

Changmin diam saat menatap Chae Jin yang terus menunduk. Yeoja itu sama sekali tidak memandang wajahnya. Ia menghela nafas pelan lalu menatap keluar jendela. Ia tak mau memulai pembicaraan karena menurutnya yeoja itulah yang harus memulai. Yeoja itu yang mengajaknya bertemu. Changmin mengeluarkan kamera miliknya dan memotret pemandangan di luar jendela. Ia berusaha tidak peduli dengan Chae Jin.

Sementara itu Chae Jin sejak tadi menunduk, ia memang tak berani menatap Changmin. Entah kenapa keberaniannya yang tadi sudah terkumpul tiba-tiba hilang. Ia bingung harus berkata apa pada namja di depannya itu. Chae Jin memainkan jari tangannya di bawah meja.

‘Bagaimana ini? Changmin oppa juga sejak tadi diam saja.’

Changmin melihat jam di tangannya yang menunjukkan sudah hampir malam. Ia melirik Chae Jin sekilas dan yeoja itu tetap menunduk. Changmin menghela nafasnya pelan lalu mengambil tasnya.

‘Ini yang kau mau? Bertemu denganku dan diam saja?’

Changmin berdiri membuat Chae Jin mendongakan kepalanya.

“Aku pulang duluan.” Ucap Changmin. Saat ia akan beranjak pergi tiba-tiba Chae Jin menahan tangannya. Changmin menatap Chae Jin bingung, sedetik kemudian ia menepis tangan yeoja itu yang menahannya. Yeoja itu terlihat kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan.

“Jangan pergi.” Pinta Chae Jin. Ia menatap Changmin dengan sangat memohon.

“Wae? Kenapa aku tidak boleh pergi?” Tanya Changmin ketus.

“Aku ingin bicara. Kan di telepon aku sudah bilang.” Jawab Chae Jin.

“Kau pikir aku tidak ada kerjaan hah? Kalau memang ingin berbicara denganku kenapa sejak tadi kau diam saja? Kau pikir aku ini apa? Patung? Aku bosan menunggumu berbicara. Sekarang saat aku ingin pergi kau baru bicara. Apa maumu???” Ucap Changmin kesal. Ia menghela nafas panjang lalu duduk. Walaupun ia mencintai Chae Jin tapi ia paling tidak suka membuang-buang waktu tanpa melakukan apa-apa.

“Sekarang katakan apa yang mau kau katakan padaku. Jangan membuang-buang waktuku, atau aku akan pergi sekarang juga.” Ucap Changmin lagi.

Chae Jin menahan air matanya yang akan keluar. Ia tak ingin membuat Changmin tambah marah padanya. Ia menghela nafas lalu menatap Changmin. Namja itu membalas tatapannya dengan tajam.

“Sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah salah membedakan oppa dengan Changsoo oppa. Aku sudah berpikir lama tentang perasaanku ini. Akhirnya aku mengerti kalau aku sejak awal mencintaimu, oppa. Hanya saja kesalahan fatalku membuat keadaan menjadi seperti ini.” Ucapan Chae Jin membuat Changmin kaget. Ia tak menyangka Chae Jin akan berbicara langsung seperti itu. Changmin masih diam menunggu yeoja itu berbicara lagi.

“Aku akan putus dengan Changsoo oppa dan berusaha mendapatkanmu oppa. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku tapi aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku.” Ucap Chae Jin. Ia memang masih tidak mengerti dan tidak tahu tentang perasaan Changmin yang sebenarnya.

Changmin menghela nafas lalu tersenyum. Senyuman Changmin membuat Chae Jin juga ikut tersenyum dan membuat yeoja itu berharap.

Changmin mengambil tasnya lagi lalu berdiri. Senyuman Chae Jin langsung hilang saat melihatnya beranjak dari kursi. Chae Jin ikut berdiri dengan terus menatapnya. Ia menghampiri yeoja itu sambil terus tersenyum. Saat yeoja itu didepannya Changmin tak bisa menahan diri. Ia akhirnya memeluk Chae Jin. Chae Jin pun perlahan membalas pelukannya.

“Aku tidak mau munafik dengan berkata aku tak senang dengan ucapanmu tadi. Jujur aku sangat senang. Aku juga mencintaimu, Chae Jin-a.” Ucap Changmin. Akhirnya kata-kata yang ia pendam selama ini keluar dengan mulus dari bibirnya. Chae Jin memeluknya semakin erat. Changmin kembali tersenyum.

“Gumawo oppa.”

“Aku belum selesai. Aku memang senang dan juga mencintaimu tapi jangan kau artikan kata-kataku itu aku akan menerimamu dan menyetujui rencanamu memutuskan Changsoo. Keadaan tidak akan berubah. Kau akan tetap sebagai kekasih saudara kembarku.” Ucap Changmin sambil melepaskan pelukannya. Ia menatap yeoja itu yang terlihat kaget.

“Anggap saja pelukan itu pelukan dari seorang sahabat dan cintaku padamu itu pun sebagai sahabat dan seorang oppa.” Ucap Changmin. Ia terus berusaha tersenyum dan tidak terlihat sedih.

“Tapi aku mencintaimu oppa.” Ucap Chae Jin. Changmin menggelengkan kepalanya.

“Kau hanya mencintai Changsoo. Perasaanmu padaku hanya 1 detik. Ingat kau sudah memilih. Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik.” Changmin tersenyum lagi lalu melangkah pergi.

Chae Jin menatap punggung Changmin dengan uraian air mata, ia tak bisa lagi menahan air matanya. Tak lama ia menggelengkan kepalanya lalu berlari kearah Changmin. Kembali Chae Jin menahan namja itu.

“Tapi aku memilihmu oppa.” Chae Jin tak bisa menerima ucapan Changmin padanya. Namja itu berbalik. Ia menatap Changmin dengan terus menangis. Changmin menghapus air matanya yang terus mengalir.

“Kau tidak bisa memilih dua kali. Kesempatanmu untuk memilih sudah tidak ada. Ingat kesempatan itu hanya ada satu kali. Kini anggaplah aku sebagai sahabat atau oppa-mu. Tidak boleh lebih. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu. Satu yang kuminta cintailah Changsoo sepenuh hatimu.” Chae Jin terus menangis. Ia menggelengkan kepalanya lalu memeluk Changmin dengan erat. Ia bisa mendengar detak jantung Changmin yang berdetak sangat cepat. Hal itu membuatnya tak bisa menghentikan tangisannya.

‘Disini sama perihnya denganku, juga matamu terlihat jelas. Karena kesalahanku keadaan kita jadi seperti ini. Mianhae, oppa.’ Batin Chae Jin sambil mengelus dada kiri Changmin.

Changmin hanya bisa diam, ia terus menahan diri agar tidak lepas kendali dan memeluk yeoja itu untuk kedua kalinya. Ia memejamkan mata lalu melepaskan pelukannya. Yeoja itu masih terus menangis.

“Kabulkan permintaanku, oppa. Aku ingin bergandengan tangan denganmu sampai pintu keluar café ini. Kumohon.” Pinta Chae Jin.

Setelah lama terdiam Changmin menganggukan kepalanya. Reflek Chae Jin tersenyum, walaupun hal kecil tapi hal itu ingin ia jadikan kenang-kenangan. Chae Jin mengambil tasnya lalu menghampiri Changmin. Tanpa banyak kata Changmin menyerahkan tangan kanannya untuk di genggam yeoja itu. Changmin menatap yeoja itu seolah berkata ‘untuk yang terakhir’. Chae Jin mengangguk sambil tersenyum.

Chae Jin berpikir ia harus tersenyum walaupun hatinya sakit karena namja yang ia cintai pun tengah berusaha tersenyum di saat hatinya perih. Di raihnya tangan kekar itu dan di masukkannya ke dalam saku baju hangat miliknya. Chae Jin menggenggam erat tangan hangat itu.

Keduanya mulai berjalan keluar café. Changmin kembali bertemu temannya yang seorang pemilik café itu. Joong kook menatap Changmin dan yeoja itu bingung. Changmin menatap Joong Kook cukup lama. Joong Kook yang akhirnya mengerti mengangguk. Ia menghela nafas melihat namja itu.

“Aku tak tahu kesedihanmu sedalam apa tapi kuharap kau bisa bahagia, Changmin-a. Kuharap ada seseorang yang bisa menghapus kesedihanmu itu.” Gumam Joong Kook.

Sampailah Changmin dan Chae Jin di depan pintu Art Café. Chae Jin masih menggenggam erat tangan Changmin. Changmin menatap yeoja itu yang tidak melepaskan tangannya. Yeoja itu tersenyum padanya.

“Sebentar lagi, ya. Ada yang ingin kuberitahu.” Changmin menghela nafas pelan lalu mengangguk. Ia berusaha keras agar tekadnya tak goyah.

“Oppa tahu bagaimana akhirnya aku bisa membedakan kalian?” Reflek Changmin menggelengkan kepalanya. Entah apa yang lucu, gelengan kepala Changmin membuat Chae Jin terkekeh pelan.

“Mata kalian. Sejak tahu aku salah membedakan kalian, aku terus mencari tahu dengan melihat foto-foto oppa bersama yang lainnya yang ada di album kenangan Junsu oppa. Semua foto sejak kecil kuperhatikan dan akhirnya aku tahu satu hal yaitu mata kalian.” Ucap Chae Jin sambil mengenang.

“Kalau oppa tersenyum ataupun tertawa salah satu mata oppa akan lebih besar, itu terjadi jika oppa sedang benar-benar bahagia. Mata sebelah kirimu biasanya yang akan lebih besar. Seperti tadi, walaupun oppa tersenyum tapi mata oppa terlihat jelas.” Ucap Chae Jin.

Changmin cukup kaget dengan apa yang Chae Jin katakan karena ia sendiri pun tak menyadari hal itu. Tak lama yeoja itu melepaskan genggaman di tangannya. Changmin melihat yeoja itu menghela nafas.

“Gumawo sudah bisa membedakan aku dan Changsoo. Itu hal yang sangat berharga untukku. Semoga kau bahagia. Kau tak usah memikirkanku, aku akan berusaha melupakanmu. Ingat pesanku ya. Selamat tinggal.” Ucap Changmin sambil tersenyum. Chae Jin menatap Changmin tanpa ekspresi.

Changmin membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan meninggalkan Chae Jin. Ia ingin menangis tapi ia tahan.

“Oppa.” Panggil Chae Jin. Panggilan itu membuat Changmin berhenti melangkah.

“Jangan berbalik. Aku tak mau oppa melihat wajahku yang seperti ini.” Ucap Chae Jin lagi. Terdengar oleh Changmin kalau yeoja itu tengah menangis.

“Aku akan tetap bersamanya sesuai keinginan oppa tapi aku tidak akan pernah bisa melupakanmu oppa. Aku tak bisa melupakan cinta pertamaku.” Chae Jin terus menangis tanpa peduli dimana ia sekarang tengah berada.

“Aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal. Aku hanya bisa bilang, aku pergi oppa.”

“Gumawo.” Ucap Changmin lalu kembali melangkah pergi.

Tak lama Chae Jin pun berbalik memunggungi Changmin dan mulai melangkah pergi. Keduanya saling berjalan berlawanan arah. Tanpa Chae Jin tahu Changmin yang selama ini tidak pernah menangis mulai menangis. Begitupun Chae Jin tanpa Changmin ketahui yeoja itu mulai menangis tersedu-sedu.

Hujan tiba-tiba datang mengguyur kota Seoul. Changmin dan Chae Jin pun basah kuyup tapi mereka tidak peduli. Keduanya tersenyum tipis karena merasa seolah-olah hujan membantu mereka untuk menutupi tangis mereka. Di dalam hujan yang lebat itu Changmin dan Chae Jin menangis sepuasnya.

“Hari ini aku mau menangis sepuasnya. Besok aku tidak boleh menangis, harus kembali menjadi aku yang biasanya.” Ucap Changmin. Ia terus berjalan tanpa arah.

—-

Hee Young berjalan menuju taman. Ia tak bersemangat sejak memberitahu Jaejoong tentang beasiswa yang ia terima. Namja itu seperti menjauhinya. Berbicara dan tersenyum pada Hee Young pun tak pernah lagi. Hee Young merasa mungkin Jaejoong benci padanya.

“Haaah kenapa jadi seperti ini? Jika memang Joongie benci padaku harusnya katakan saja, jangan diam seperti ini. Aku tak mau berpisah dengan cara seperti ini.” Gumamnya pelan.

“Walaupun perpisahan itu menyakitkan paling tidak kita tidak bertengkar.” Tambahnya lagi.

Saat Hee Young masuk taman. Ia melihat sesosok namja yang basah kuyup tengah duduk di kursi. Memang tadi sempat turun hujan lebat jadi Hee Young tak heran jika ada orang kehujanan tapi yang membuat Hee Young bingung namja itu tak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup. Karena penasaran Hee Young menghampiri namja itu.

“Sunbae?” Ucap Hee Young kaget saat tahu namja itu adalah Changmin. Namja itu mendongakan kepala menatapnya. Changmin tersenyum padanya tapi Hee Young tahu kalau senyum itu palsu. Namja itu habis menangis.

“Kenapa tersenyum saat ingin menangis?” Tanya Hee Young. Seketika itu juga Changmin memeluknya. Hee Young ingin melepaskan pelukan itu tapi tak bisa. Ia kasihan pada Changmin dan merasa namja itu tengah ada masalah.

Perlahan Hee Young mengelus pelan punggung namja itu. Ia membiarkan Changmin menangis sekencang mungkin.

Setelah cukup lama menangis, Changmin melepaskan pelukannya pada Hee Young. Hee Young menatap namja itu lalu tersenyum. Di bukanya jaket yang ia pakai lalu memberikannya pada Changmin.

“Sudah merasa sedikit lega? Kalau belum, aku siap untuk mendengarkan masalah sunbae.” Ucap Hee Young sambil duduk di sebelah namja itu. Changmin menatapnya lama lalu menghela nafas.

“Aku habis berbicara dengan Chae Jin. Aku menyelesaikan semuanya tadi di café. Disini sangat sakit.” Changmin memegang dadanya.

“Walaupun sakit tapi aku harus berusaha menerima rasa sakit ini dan melupakannya. Dia bilang mencintaiku dan akan putus dengan Changsoo. Aku tidak setuju dengan rencananya. Aku mengatakan padanya untuk mencintai saudaraku. Aku melakukan ini untuk Changsoo.” Ucapnya lagi. Hee Young terus mendengarkan Changmin.

“Aku tak mau hanya karena seorang yeoja persaudaraan kami hancur. Apa aku salah?” Changmin menghela nafas dan menatap kedepan.

“Kurasa jika aku di posisi sunbae, aku akan melakukan hal yang sama. Itu tidak salah menurutku.” Ucap Hee Young.

“Hmmm begitu? Bagaimana jika akhirnya dia tahu lalu marah?”

“Kalau seperti itu jelaskan dengan rinci dan tanya Changsoo sunbae apa yang akan dia lakukan jika dia di posisimu. Kurasa dengan begitu dia akan mengerti posisimu, sunbae.” Jawab Hee Young. Changmin diam seolah merenungi ucapan yeoja di sampingnya itu.

“Bagaimana hubunganmu dengan Jaejoong hyung?” Tanya Changmin tiba-tiba. Hee Young tersenyum kecut mendengarnya.

“Memburuk. Jaejoong tak mau berbicara denganku. Apa lagi tersenyum. Rasanya aku ingin menangis kencang seperti yang sunbae lakukan tadi. Tapi tidak bisa, aku tak mau membuat keluargaku khawatir.” Ucap Hee Young.

Changmin terdiam mendengarnya. Ia merasa Hee Young dan dirinya mempunyai nasib yang hampir sama dalam hal percintaan. Changmin tersenyum saat memikirkan hal itu.

“Kau tahu kurasa nasib percintaan kita hampir sama, kurang bagus. Sepertinya kita berpacaran saja biar tidak sakit hati lagi.” Ucap Changmin sambil terkekeh. Hee Young tersenyum tipis mendengarnya.

Tak lama Hee Young teringat kondisi Changmin sunbaenya itu yang basah kuyup. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya pada namja itu. Changmin yang melihat menatapnya bingung.

“Kita ke rumahku, sunbae. Kau harus mengganti pakaianmu. Kalau begini terus kau bisa sakit nanti. Ayo.” Ajak Hee Young.

“Aku baik-baik saja. Tidak akan sakit.” Tolak Changmin halus. Kesal namja itu tak mau mendengarkannya akhirnya Hee Young menarik tangan Changmin.

“Kau harus ganti pakaian, sunbae. Untuk kali ini saja jangan membantah hoobaemu ini.”

—-

Jaejoong berjalan tanpa arah, ia tak peduli kemana kakinya ingin melangkah. Ia masih tidak bisa menerima berita Hee Young yang akan meninggalkannya. Walaupun yeoja itu pergi untuk belajar tapi baginya ini terlalu mendadak. Jaejoong tak ingin menjadi namja egois tapi ia masih belum bisa di tinggal yeoja yang ia cintai. Jaejoong sangat mencintai Hee Young.

Kakinya berhenti melangkah. Jaejoong menatap sekelilingnya lalu tersenyum kecut. Ia menatap kakinya.

“Jadi kau ingin kesini hah?” Ucapnya sambil terus menatap kakinya.

Jaejoong kini berada di depan rumah Hee Young. Di tatapnya jendela kamar Hee Young cukup lama. Sebenarnya ia merindukan yeoja itu tapi entah kenapa ia enggan masuk. Saat Jaejoong akan pergi tiba-tiba Ji Young memanggilnya. Namja itu menyapanya ramah dan menyuruhnya masuk. Awalnya ia menolak tapi Ji Young memaksa dengan alasan di rumah sepi dan ingin di temani. Jaejoong pun akhirnya masuk dan menemani namja itu.

Keduanya sempat mengobrol dan bercanda. Jaejoong sempat terbawa suasana dan membuatnya lupa dengan rasa sedihnya pada Hee Young. Tak lama raut wajah Ji Young berubah serius. Namja yang lebih muda darinya itu menatapnya tajam.

“Hyung, sebenarnya alasanku tadi hanya bohong. Kulakukan itu agar hyung mau masuk. Ada yang ingin kutanyakan.” Ucap Ji Young. Jaejoong hanya diam.

“Kau apakan noonaku? Belakangan ini noona selalu murung. Walaupun di rumah terlihat biasa saja tapi aku sebagai dongsaengnya tahu benar noona sedang ada masalah.” Ucap Ji Young. Ia terus menatap Jaejoong tajam.

“Aku belum bisa menerima ketentuan beasiswa yang ia terima. Sejak dia memberitahukanku tentang hal itu, aku terus berusaha menghindar.” Ucap Jaejoong dengan wajah sedih.

Mendengar ucapan Jaejoong itu membuat Ji Young geram. Ia berdiri dan menghajar Jaejoong. Ji Young tak peduli lagi siapa namja yang ia pukuli itu. Di tariknya baju yang di pakai Jaejoong dengan kesal. Ia menatap namja di depannya, namja yang tak melawannya sedikitpun.

“Dengar, apa kau tidak berpikir bagaimana perasaan noona-ku? Noona-ku itu mencintaimu!!! Bagaimana bisa kau seegois ini? Noona pergi bukan untuk main-main! Noona-ku  pergi untuk belajar, bodoh!!!” Teriak Ji Young. Jaejoong terus terdiam mendengarkan ucapannya. Kesal dengan Jaejoong yang hanya diam membuat Ji Young menarik tubuh namja itu.

“Ikut aku namja bodoh!!!” Jaejoong mengikuti Ji Young. Namja itu membawanya ke kamar Hee Young. Yeoja yang ia cintai. Ji Young mendorongnya ke ranjang milik Hee Young. Kamar itu terasa sangat hangat bagi Jaejoong. Ia melihat sekeliling kamar itu.

‘Wangi kau, Young-a.’

Jaejoong melihat Ji Young mencari sesuatu di meja belajar Hee Young. Tak lama sebuah suara membuat Ji Young menghentikan pencariannya.

“Ji Young-a, apa yang sedang kau lakukan? Jaejoong?” Pemilik kamar datang dengan wajah bingung. Hee Young menatap Jaejoong sekilas lalu pandangannya beralih pada dongsaengnya.

“Noona, maaf aku lancang masuk ke kamarmu saat kau keluar.” Ucap Ji Young.

“Tadi kebetulan Jaejoong hyung ada di depan rumah lalu kusuruh masuk dan aku menghajarnya. Aku merasa itu saja belum cukup jadi aku kesini untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa membuatnya mengerti.” Tambah Ji Young. Ia melihat noonanya menatap Jaejoong yang mengalihkan pandangannya dengan sedih. Lalu noona-nya itu menatapnya dan menghampirinya.

“Tidak ada seorang namja pun yang boleh membuatmu sedih dan menangis, noona.” Ucap Ji Young tegas.

“Gumawo.” Balas Hee Young. Ia mencari buku di meja belajarnya, saat mendapatkannya ia memberikannya pada Ji Young.

Hee Young berjalan menjauhi dongsaengnya dan berhenti di depan Jaejoong. Ia sangat sedih karena namja itu masih menghindarinya. Bahkan menatapnya pun tak mau.

“Bacalah buku diaryku yang baru saja kuberikan pada Ji Young. Awalnya aku ingin memberikannya saat aku pergi nanti. Tapi ternyata lebih cepat dari rencanaku.” Hee Young terus menatap namja di depannya itu.

“Aku punya satu permintaan terakhir. Kumohon bacalah hingga selesai.” Ucap  Hee Young sedih lalu pergi. Sampai di depan pintu ia berhenti melangkah.

“Terima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku.”

“Ji Young, noona pergi dulu.” Setelah itu Hee Young pergi. Ia menahan tangisnya agar tidak keluar.

Hee Young pergi ke kamar tamu dan mengambil beberapa pakaian yang mungkin bisa di pakai Changmin sunbaenya yang sejak tadi menunggu. Setelah mendapatkan apa yang di carinya ia keluar kamar. Hee Young sedikit kaget karena di depan kamar sudah ada Changmin sunbae. Ia berusaha tersenyum lalu memberikan pakaian yang tadi ia ambil.

“Semoga cukup. Sunbae ganti di dalam saja. Handuknya sudah kusiapkan.” Ucap Hee Young lalu pergi ke ruang tengah.

Hee Young duduk menunggu Changmin di ruang tengah, ia berharap sunbaenya itu segera keluar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana lagi jika Jaejoong yang lebih dulu keluar.

—-

Ji Young menatap Jaejoong cukup lama lalu tak lama ia memberikan buku diary milik noona-nya.

“Kau bacalah. Memang ini tidak sopan tapi noona sendiri yang memintanya. Baca sekarang!” Perintah Ji Young. Ia duduk di kursi yang menghadap Jaejoong. Ia terus menatap namja itu dengan tajam. Namja itu diam saja membuat Ji Young semakin kesal.

 “YA! Kau berani membuat noona-ku murung tapi tidak berani membaca buku hariannya? Jangan membuatku tertawa. Baca! Aku akan menunggu.” Perintah Ji Young lagi.

“Dengar. Kesempatanmu sudah habis. Tak ada lagi kesempatan untuk mendapatkan noona-ku. Kau ingat peringatanku saat kau pertama kali berpacaran dengan noona-ku kan?” Ucapan Ji Young membuat Jaejoong mendongakan kepalanya dan menatap namja itu. Ji Young tersenyum sinis padanya.

“Sepertinya kau lupa. Akan kuingatkan. Pada waktu itu aku bilang ‘kali ini kau kumaafkan tapi jika kau menyakiti noona-ku lagi aku tidak akan memaafkanmu.’. Sekarang ingat?” Ji Young senang sekali melihat reaksi Jaejoong yang terlihat kaget.

Tanpa di perintah lagi Jaejoong mulai membaca buku diary Hee Young. Lembar demi lembar ia buka dan baca dengan serius. Mimik mukanya berubah-ubah sesuai isi buku itu.

—-

Yunho berbaring di ranjangnya dengan tidak nyaman. Sejak Di Kha mengirimkan foto tadi siang ia semakin sulit menghubungi yeoja itu. Ponsel Di Kha di matikan. Yunho menghela nafas kesal.

“Kalau tidak sakit seperti ini pasti sudah kucari kau, Kim Di Kha.” Ucap Yunho.

“Kau tega sekali mengirimkan foto itu padaku. Apa benar kau tidak bisa menerimaku walaupun sedikit saja?” Yunho menatap ponselnya dengan sedih. Tak lama ponselnya bunyi. Ia langsung membuka pesan masuk itu. Lagi-lagi kiriman foto mesra dari Di Kha. Yunho mengepalkan tangannya. Saat akan membanting ponsel itu tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi, kali ini bunyinya tanda ada yang menelepon. Melihat Di Kha yang menelepon Yunho langsung mengangkatnya.

“Di Kha-a.” Panggil Yunho.

“Bagaimana fotonya? Bagus kan?” Mendengar pertanyaan itu membuat Yunho memanyunkan bibirnya kesal.

“Jelek.” Jawab Yunho singkat.

“Oh jadi aku ini jelek?”

“A anni bukan itu maksudku. Lagipula kenapa kau mengirimkan foto-foto itu?”

“Hanya iseng saja. Ah dan juga ingin memamerkan namjachinguku yang baru. Tampan kan? Sudah ya aku hanya ingin memberitahukanmu kalau aku sudah punya namjachingu. Semoga kau cepat sembuh. Aku tak akan melupakan pengorbananmu menyelamatkanku.”

“Ya, tu…” Belum selesai Yunho berbicara Di Kha sudah mematikan teleponnya. Yunho menatap ponselnya dan mencoba menelepon yeoja itu tapi ponsel Di Kha mati.

“Kenapa langsung di matikan?” Gumam Yunho sedih. Ia menaruh ponselnya. Ia memegang dadanya yang sakit.

“Sangat perih. Kau setega ini padaku, Di Kha-a?” Gumamnya lagi sambil menatap langit-langit kamar di Rumah Sakit.

—-

Chae Jin duduk di tepi ranjang sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong. Matanya sembab karena menangis. Yang ia pikirkan hanyalah Changmin dan pembicaraan mereka di café tadi.

“Chae Jin-a, buka pintunya. Kau kenapa?” Teriak Junsu. Namja itu sejak tadi berteriak memanggil Chae Jin. Ia sangat khawatir pada dongsaengnya itu.

Saat sadar Chae Jin menghapus air matanya dan pergi ke kamar mandi. Ia mencuci mukanya agar terlihat lebih baik. Setelah menepuk-nepuk wajahnya beberapa kali Chae Jin membuka pintu dan melihat wajah khawatir oppa-nya. Ia memasang senyum terbaik yang ia bisa hari ini. Junsu mengelus rambut dan pipinya.

“Tidak mau memeluk, oppa? Sepertinya akan lebih baik jika kau menangis di pelukan oppa-mu ini. Ceritakan masalahmu agar bebanmu sedikit berkurang.” Ucap Junsu lembut. Senyuman di wajah Chae Jin perlahan menghilang akibat mendengar ucapan oppa-nya.

“Kau menyebalkan, oppa. Padahal aku sudah berusaha keras agar terlihat baik-baik saja.” Ucap Chae Jin sambil memukul pelan dada bidang Junsu.

“Matamu itu bengkak mana mungkin kau baik-baik saja. Jangan pura-pura tersenyum saat hatimu sakit.” Junsu menarik Chae Jin masuk ke dalam kamar yeoja itu.

“Kalau aku menangis itu akan membuat orang-orang sekitarku khawatir.” Ucap Chae Jin. Ia tak mau mendengar nasihat Junsu. Oppa-nya itu terlihat menghela nafas panjang.

“Paling tidak jangan berpura-pura di depanku, bisa?” Reflek Chae Jin mengangguk.

Junsu duduk di sebelah Chae Jin sambil menunggu yeoja itu menceritakan masalahnya. Ia melihat dongsaengnya itu menghela nafas berkali-kali dengan memegang dadanya. Setelah itu Chae Jin menceritakan semua yang terjadi hari ini padanya. Terlihat jelas di mata Junsu kalau Chae Jin berusaha keras agar tidak menangis lagi.

Selesai menceritakan semua yang terjadi, Junsu sempat kehilangan kata-kata untuk menghibur Chae Jin. Ia hanya mengelus rambut yeoja itu pelan sambil memikirkan kata-kata agar hati Chae Jin sedikit terobati. Chae Jin menggenggam erat tangannya.

“Ini akibat kesalahanku tidak bisa membedakan mereka. Kesalahan yang membuat hatinya sakit. Dia terus terdiam di saat hatinya terasa perih. Aku harus menanggung semuanya sekarang.” Ucap Chae Jin. Junsu memeluk erat dongsaengnya itu.

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Tak sepenuhnya salahmu. Hari ini kau kuperbolehkan menangis sepuasmu tapi besok kau harus menjadi yeoja yang tegar. Semua masalah harus di hadapi dan oppa yakin akan berakhir bahagia. Tapi itu jika aku menerimanya dengan tulus dan menjalaninya dengan santai.” Ucap Junsu memberi nasihat.

“Oppa akan selalu ada di sampingmu dan mendukungmu.” Tambah Junsu. Chae Jin memeluk Junsu sama eratnya dengan oppa-nya itu. Ia menangis, tapi tangisannya kini tak seperti tadi.

‘Hanya ini yang bisa kulakukan.’ Batin Junsu.

—-

Hee Young duduk di pinggir sungai Han bersama Changmin. Namja itu menawarkan diri untuk menemani Hee Young. Keduanya terus terdiam dengan pikiran masing-masing. Hee Young memikirkan apakah Jaejoong membaca buku hariannya hingga selesai atau tidak dan bagaimana reaksi namja itu.

Sadar dari lamunannya Hee Young menoleh ke arah Changmin yang duduk di sebelahnya. Namja itu masih melamun. Ia menghela nafas pelan. Kembali Hee Young menatap sungai Han yang di hiasi lampu-lampu cantik. Malam itu sangat dingin tapi tidak membuatnya dan Changmin mengeluh kedinginan. Yang mereka rasakan hanyalah sakit di hati mereka masing-masing.

“Sepertinya aku ingin melakukan apa yang kau ucapkan tadi di taman, sunbae.” Ucap Hee Young membuka suara. Ia menoleh dan melihat namja itu menatapnya. Hee Young hanya tersenyum.

“Ingat ucapan sunbae tadi? Sunbae bilang ‘Kau tahu kurasa nasib percintaan kita hampir sama, kurang bagus. Sepertinya kita berpacaran saja biar tidak sakit hati lagi.’ Aku ingin melakukannya sekarang.” Ucap Hee Young. Changmin sedikit kaget dengan apa yang di katakan Hee Young.

“Apa yang terjadi?” Tanya Changmin.

“Aku putus dengan Jaejoong. Tadi saat di rumah aku melihatnya dan Ji Young di kamarku. Dia tetap tidak mau menatapku. Aku tak mau terus-terusan begini jadi aku memutuskan hubungan kami.” Jawab Hee Young.

“Tadi juga aku menyuruh Ji Young untuk memberikan buku harianku padanya. Aku ingin dia membacanya. Mungkin dia akan marah karena di sana aku menuliskan kalau aku tidak mencintainya saat awal kami berpacaran. Aku hanya ingin menyampaikan, kalau aku akhirnya mencintainya dengan setulus hatiku dan aku ingin dia mengerti tentang beasiswa yang kuterima.” Tambah Hee Young.

“Semuanya kutulis di buku itu hingga akhir.”

“Apa benar tidak apa-apa?” Tanya Changmin. Ia melihat yeoja itu seperti ingin menangis. Hee Young mengangguk mantap.

“Lebih baik seperti ini. Aku lebih memilih memutuskannya dari pada di putuskan karena rasa sakit di sini jauh lebih baik.” Jawab Hee Young. Changmin menghela nafasnya dan menatap kedepan.

“Kurasa rasa sakitnya sama saja. Akan kupikirkan tentang ucapanku tadi di taman. Akan kuberitahu saat pengumuman lombaku nanti, bagaimana? Setuju?” Changmin kembali menatap Hee Young. Yeoja itu tersenyum dan mengangguk.

“Setelah ini mau kemana?” Tanya Changmin. Hee Young terdiam sesaat lalu menggelengkan kepalanya.

“Aku belum tahu sunbae. Memang kenapa?”

“Aku tidak ingin pulang malam ini. Mau menemaniku?” Changmin mengucapkannya tanpa menatap yeoja di sebelahnya.

 

TBC

 

Mau lanjut apa STOP tergantung dari komen kalian ^^ 

11 thoughts on “Twins Part 8

  1. changmin n hee young pada patah hati deh n yunho patah hati tp sedikit krn dhi kha y main2 ja n masalah jaejoobg n changmin lebih serius…
    kasian ma changmin paling miris nasib percintaan y gmn nanti klo changsoo tau l, apa changsoo bakal bersikap kyk changmin or marah or gmn????
    Lanjut….

  2. Waaaaaa..
    Jadi heeyoung putus sama jaejoong?? Andwe!!!!!!
    Jaejoong bodoh ih😦
    Trus changmin sama heeyoung??
    Aaaaaaaa
    Andwe!!!!
    Eonni aku udah nunggu lama ff ini loh dan g mengecewakan sama sekali :*

  3. timpuk org yg bwt ff ini (╬◣д◢)
    ngajak ribut bgt onnie yg 1 ni, dmen bgt bkin aqu mncak2 nhan emosi gra2 bca ff ni!!
    ya! onnie, sungguh tega drimu mbuat smua couple di ff ni tdk bhagia (╥╯^╰╥)
    apalgi chaemin couple, hduh nelangsa bgt tuh couple /plak
    endingnya smua hrus bhagia, onnie jga kn ga mau love storynya sad end? mkanya ni ff hrus happy end ya?

  4. kok tambah ruwet sih -_-
    swear! Makin nyesek bacanya…
    Semua dalam keadaan tertekan dan rumit,tapi bukan saatnya memikirkan diri sendiri.
    Kalau memang mencintai seseorang,maka harus diperjuangkan,bukannya memikirkan perasaan orang lain…karena kita juga pantas untuk bahagia dan mendapatkan cinta sejati kita🙂
    just it,for JaeHee,ChangJin,and YunKha

  5. Midori-chan berkata:

    Thor sumpah makin lama makin ruwet ya -_-
    kebanyakan konflik jadi puyeng sendiri baca’a
    Tapi jalan crita’a tetep bagus
    Hee young ma jeje jgn d buat putus

  6. Rajaejoongie berkata:

    hhuuaaa…kenapa jdi galau begini T.T
    semoga mslh jaejoong hee young cpt terselesaikn ne,?
    aaaa…kangen sama keromantisan jae_young,huhuhu…T.T

  7. emi berkata:

    Huaaaaaa…knpa author bkn galau nee hbs bca chap ini…
    Smga gk ada kta putus yua buat couple jae-young yua….
    Next thor….
    Tacap gas bca smpai end….hehege

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s