TWINS PART 7


Title: TWINS

Main Cast:

–          Kim Jaejoong

–          Shim Changmin

–          Jung Yunho

Rating: PG13-NC17 / STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri

A/N: Mian klo tambah aneh & mian juga baru di publish sekarang.

DISCLAIMER: FF ini murni buatan author sendiri tanpa menjiplak dari FF di blog mana pun. Kalaupun ada kesamaan itu hanya kebetulan semata. FF ini hanya khayalan author.

DON’T LIKE? SO DON’T READ AND DON’T BASH MY FF!!!

Part sebelumnya bisa di cari di sini

Happy Reading : )

AUTHOR POV

 

Hee Young berjalan di lorong sekolahnya, ia mengetik sebuah pesan untuk Jaejoong yang kini tengah berada di Rumah Sakit menjenguk Yunho yang baru saja sadarkan diri setelah 2 minggu lamanya mengalami koma. Hee Young memang belum pulang sekolah karena ada kegiatan yang rutin ia lakukan di sekolah. Setelah mengirim pesan ia memasukkan ponselnya ke dalam saku. Tak lama langkahnya terhenti oleh pengumuman yang baru di pasang di papan pengumuman sekolah. Hee Young membaca nama yang tertulis di sana satu per satu dan saat namanya tertera di sana, ia membacanya berkali-kali. Hee Young meloncat kegirangan saat yakin itu benar-benar namanya.

Tak lama ia berhenti dan senyum di wajahnya menghilang. Ia teringat Jaejoong, ia belum memberitahu namja itu. Hee Young berjalan lemas keluar sekolah, ia tak tahu bagaimana caranya memberitahu namjachingunya itu.

“Aku menerima beasiswa yang sudah lama menjadi impianku, aku sebenarnya senang sekali tapi bagaimana dengan Joongie?” Gumamnya pelan.

Hee Young menyusul Jaejoong di RS.

Sampai di RS Hee Young menjenguk Yunho lalu tak lama menyusul Jaejoong yang berada di kantin. Di depan pintu masuk kantin ia mencari-cari Jaejoong lalu saat menemukan namja itu, Hee Young langsung merangkul lengan Jaejoong dengan erat.

Jaejoong melirik Hee Young dengan tatapan bingung karena tingkah yeojanya yang tidak biasa. Ia berusaha melepaskan rangkulan Hee Young di tangannya tapi di tahan. Di elus rambut yeojachingunya.

“Ada apa?” Tanya Jaejoong. Hee Young menggelengkan kepalanya.

“Tidak ada apa-apa.” Jawabnya.

‘Pasti terjadi sesuatu.’ Batin Jaejoong.

‘Apa yang harus kulakukan? Apa harus kukatakan sekarang?’ Batin Hee Young takut. Entah kenapa ia sangat takut mengatakan tentang beasiswa itu pada Jaejoong.

—-

Di Kha berlari menuju kamar di mana Yunho di rawat. Setelah mendapat pesan dari YunHyun kalau Yunho sudah sadar, ia langsung bergegas kembali ke RS. Di bukanya pintu kamar Yunho lalu Di Kha melihat namja yang sudah lama terbaring di atas ranjang menatapnya dengan tatapan sendu.

Perlahan ia mendekati namja itu. Ia tak mempedulikan Yunhyun yang beranjak keluar. Di Kha melihat jari Yunho yang bergerak perlahan meminta ia menyambut tangannya. Ia menggelengkan kepalanya.

“PABO!! KAU PIKIR KAU ITU MANUSIA SUPER! JANGAN BERLAGAK MENOLONGKU!! KAU BODOH! AKU MEMBENCIMU, SANGAT MEMBENCIMU!!” Teriak Di Kha. Yunho masih berusaha meraih tangan Di Kha. Ia tersenyum sambil menatap Di Kha. Di Kha yang kini menangis dihadapannya.

“Kemarilah kumohon.” Pinta Yunho dengan suara pelan.

Yeoja itu duduk tepat di sampingnya, Di Kha tak menatapnya. Yunho kembali berusaha meraih tangan Di Kha, ia sedikit kesulitan karena tubuhnya yang masih lemah. Yeoja itu terus menangis.

“Jangan menangis.” Ucap Yunho. Yeoja itu menatapnya dengan wajah tidak suka tapi Yunho tersenyum.

Sedetik kemudian Di Kha memeluknya dengan terus menangis. Yunho dengan perlahan mengelus punggung yeoja itu.

“Jangan lakukan itu lagi. Kau koma dan lama sekali sadar, kupikir kau akan mati.” Ucap Di Kha sambil terus menangis tanpa henti.

“Maafkan aku. Maafkan karena membuatmu khawatir dan maafkan aku karena membohongimu. Aku tak berniat sama sekali untuk membohongimu tentang statusku dan semuanya.” Ucap Yunho. Dengan tenaga yang masih lemah Yunho memaksakan diri untuk menjelaskan semuanya walaupun sudah dilarang oleh Di Kha.

Setelah menjelaskan semuanya Yunho menggenggam tangan Di Kha lebih erat dari sebelumnya. Yeoja itu tak membalas genggamannya tapi hanya menatapnya.

“Saranghae Kim Di Kha. Jeongmal Saranghae.” Ucap Yunho yang membuat Di Kha cukup kaget. Di Kha berusaha melepaskan genggaman tangan Yunho tapi namja itu menahannya.

“Aku tahu mungkin kau kaget mendengar kata-kata itu dariku. Tapi aku serius. Ini pertama kalinya aku serius tentang hal berbau percintaan setelah sekian lama. Jika kuingat-ingat sudah sejak kecil aku tak peduli dengan cinta, bahkan bisa di bilang aku tak percaya. Tapi kau menyadarkanku jika ternyata cinta itu ada.” Ucap Yunho. Ia tersenyum saat mengingat kebodohannya yang menganggap perasaannya pada Di Kha saat pertama kali bertemu itu hanyalah keinginan untuk berteman.

“Aku tak percaya cinta karena melihat kedua orang tuaku.” Ucap Yunho sambil mengingat masa lalu. Masa di mana ia tak percaya lagi dengan yang namanya cinta.

Di Kha melihat Yunho menahan air matanya. Saat namja itu akan menceritakan masa lalunya ia menahannya.

“Jangan ceritakan kalau kau belum siap.” Ucap Di Kha. Yunho tersenyum lalu mengangguk.

“Lalu bagaimana?” Tanya Yunho. Di Kha mengerutkan keningnya.

“Apanya?”

“Maukah kau jadi yeojachinguku?” Tanya Yunho memperjelas pertanyaannya. Reflek Di Kha melepaskan tangannya yang sejak tadi di genggam Yunho.

“Mianhae aku tidak bisa.” Jawab Di Kha.

“Tidak bisa karena kau akan pergi dari Korea?” Tanya Yunho yang membuat Di Kha menatapnya.

“Kau pergilah menggapai mimpimu di sana. Aku disini akan berjuang juga, jika nanti sudah sukses aku akan menyusulmu. Saat kita bertemu lagi nanti kau harus menjawab pernyataan cintaku.” Ucap Yunho tersenyum tulus. Walaupun sebenarnya berat tapi ia tak mau menghalangi mimpi Di Kha. Mimpi yang ia tahu dari orang tua Di Kha kalau itu mimpi Di Kha sejak lama. Orang tua Di Kha memberitahunya beberapa saat sebelum kecelakaan waktu itu.

“Bagaimana?” Tanya Yunho. Ia melihat yeoja itu tampak bingung.

“Aku tahu akan berat karena kau dan aku akan berada di Negara yang berbeda dan perbedaan waktu yang sangat jauh tapi aku yakin bisa melewatinya. Aku akan menunggumu.” Ucap yunho lagi. Di Kha menatapnya takut, baru kali ini Yunho melihat tatapan Di Kha yang seperti itu. Di Kha yang ia kenal selama ini adalah yeoja keras kepala dan sangat kuat tak pernah sekali pun yeoja itu terlihat takut. Kali ini Yunho melihat sisi yeoja itu yang berbeda dari biasanya.

“Aku akan menunggumu sampai kapanpun dan aku akan terus menjaga hatiku hanya untukmu. Hanya untuk Kim Di Kha. Seorang yeoja keras kepala yang sangat kusayangi.” Ucap Yunho meyakinkan. Ia menatap Di Kha dengan tatapan bertanya-tanya. Yunho tersenyum saat akhirnya yeoja itu mengangguk. Yunho ingin memeluk Di Kha tapi yeoja itu menolaknya.

“Jangan peluk sembarangan, aku bukan yeojachingu-mu. Jangan salahartikan pelukanku padamu tadi ya. Tadi itu kesalahan, itu hanya karena hatiku lega.” Ucap Di Kha kembali dengan sikapnya yang biasa. Ketus, keras kepala, sedikit kasar dan selalu cuek pada Yunho.

“Baiklah tapi paling tidak berikan tanganmu. Aku ingin menggenggamnya.” Pinta Yunho. Di Kha diam tidak bergeming. Yunho menghela nafas.

“Akkhhh.” Tiba-tiba Yunho melenguh kesakitan. Hal itu sontak membuat Di Kha kaget dan khawatir. Ia berdiri dan menatap Yunho cemas.

“Aku panggilkan dokter dulu ya.” Ucap Di Kha cepat tapi Yunho menggelengkan kepalanya.

“Tapi kau terlihat sangat kesakitan. Bagian mana yang sakit?” Tanya Di Kha di samping ranjang Yunho. Ia melihat namja itu terus melenguh kesakitan.

Yunho menunjuk ke arah perutnya yang memang terluka. Ia meraih tangan Di Kha dan perlahan menempelkannya di perutnya yang terluka.

“Di sini yang sakit? Kalau begitu aku panggilkan dokter.” Ucap Di Kha. Yunho kembali menggelengkan kepalanya.

“Tidak usah, sekarang sudah lebih baik.” Ucap Yunho sambil tersenyum puas. Di Kha mengerutkan keningnya melihat senyum Yunho. Ia melihat ke arah perut Yunho dan di sana tangannya di genggam erat oleh namja itu.

“Ya! Itu tidak lucu!” Teriak Di Kha kesal karena kejahilan Yunho. Dalam hati ia bernafas lega karena Yunho baik-baik saja. Di Kha pun kembali duduk di kursi samping Yunho. Namja itu masih menggenggam tangannya.

“Kubiarkan kau kali ini.” Ucap Di Kha kesal.

Di Kha menatap Yunho dan perlahan menunduk. Ia menunduk karena teringat pengorbanan yang sudah di lakukan namja itu untuknya. Di Kha merasa bersalah karena sikapnya selama ini pada Yunho.

“Kapan kau berangkat?” Tanya Yunho tiba-tiba.

“Besok lusa.” Jawab Di Kha. Yunho mempererat genggamannya di tangan Di Kha.

—-

Changmin duduk seorang diri sambil menatap sungai Han. Pikirannya melayang tentang apa yang terjadi belakangan ini. Ia menghela nafasnya lagi.

“Rasanya beban di pundakku semakin berat. Jadi ingin cepat pergi dari sini, mungkin bebanku akan sedikit ringan jika sudah ada di sana.” Gumam Changmin.

Changmin tak menyadari jika di belakangnya ada yeoja yang sejak tadi menatapnya dari kejauhan. Yeoja yang ia cintai dan akan ia lupakan karena yeoja itu sudah jadi milik saudara kembarnya. Ya yeoja itu adalah Chae Jin.

Chae Jin tak beranjak dari tempat ia berdiri dan terus menatap punggung Changmin. Sudah cukup lama Chae Jin mengikuti Changmin. Ia memberanikan diri untuk mendekati namja itu.

“Cha Changmin oppa.” Panggilnya. Namja yang di panggilnya pun reflek menengok dan terlihat jelas kaget karena kedatangannya yang tiba-tiba. Changmin berdiri dengan tetap menatapnya.

“Chae Jin? Ada apa? Kenapa tiba-tiba kesini? Mana Changsoo? Kau bersamanya?” Changmin membombardir Chae Jin dengan pertanyaan. Chae Jin menundukkan kepalanya dan menahan tangisannya.

“Mi mianhae oppa. Selama ini aku salah membedakanmu dengan Changsoo oppa. Aku malah mengira oppa itu Changsoo. Jeongmal mianhae.” Ucap Chae Jin menyesal. Ia berusaha mendongakan kepalanya untuk menatap Changmin. Namja itu terlihat tersenyum tapi terlihat di matanya kalau Changmin sangat sedih.

“Tidak apa, hal itu sering terjadi. Aku sudah mulai terbiasa jika orang salah membedakan kami.” Ucap Changmin.

“Dan kurasa aku salah memilih Cha…” Ucapan Chae Jin langsung di potong Changmin. Ia langsung sadar apa yang akan di katakan yeoja di depannya itu.

“Aku harap kau bahagia bersama Changsoo. Apakah dia sudah tahu kalau kau salah membedakan kami?” Tanya Changmin. Chae Jin tak menyangka dengan ucapan selamat yang di berikan Changmin padanya. Hatinya perih mendengar ucapan namja itu. Ia menggelengkan kepalanya. Terdengar helaan nafas dari Changmin.

“Kurasa sebaiknya dia tak usah tahu. Dia akan sangat sedih jika tahu. Dia orang yang lebih sensitive dari pada aku tentang hal ini.” Ucap Changmin.

“Tapi oppa aku…” Ucapan Chae Jin kembali terpotong oleh bunyi telepon dari ponsel Changmin. Ia melihat namja itu langsung mengangkatnya.

“Ada apa, hyung?”

“Ah benarkah? Baiklah aku kesana sekarang.” Ucap Changmin lalu memutuskan sambungan telepon itu dan memasukan ponselnya kembali ke saku celana.

“Mianhae Chae Jin-a, aku harus pergi ke RS sekarang.” Ucap Changmin lalu dengan cepat ia pergi meninggalkan yeoja itu seorang diri di sungai Han.

“Mianhae.” Gumam Changmin pelan sambil berjalan menuju mobilnya. Ia mengemudikan mobilnya dengan cukup cepat.

“Gumawo Jaejoong hyung karena kau menelepon aku jadi selamat. Aku tak bisa dan tak mau mendengar apapun tentang kau dan saudaraku. Aku hanya bisa mendoakan kalian agar selalu bahagia.” Ucap Changmin dengan tetap fokus mengemudi.

“Kau tak salah memilihnya.” Gumam Changmin sambil tersenyum.

Sampai di RS Changmin langsung ke kamar Yunho di rawat. Ia tersenyum melihat Yunho dan Di Kha tengah bercanda. Ia mendehem membuat kedua orang di depannya tersentak dan salah tingkah.

‘Dasar!’ Batin Changmin.

“Kenapa kalian salah tingkah seperti itu?” Goda Changmin. Ia melihat Yunho tersenyum kaku dan menggaruk kepalanya.

“Sepertinya ada pasangan baru disini.” Tambah Changmin.

“Aku bukan kekasihnya!” Tolak Di Kha langsung saat mendengar ucapan Changmin. Ucapan Di Kha malah membuat Changmin tertawa.

“Baik, aku mengerti.” Ucap Changmin sambil terus terkekeh.

“Ah hyung, bagaimana keadaanmu?” Tanya Changmin.

“Baik.” Jawab Yunho.

Tak lama Jaejoong dan Hee Young datang. Changmin sedikit terkejut saat melihat reaksi Di Kha yang terkesan enggan melihat Hee Young yang merupakan sepupunya. Ia melihat yeoja itu malah menggenggam tangan Yunho dan terus menatap namja itu. Changmin menatap Yunho dengan tatapan bertanya tapi Yunho menggelengkan kepalanya tanda bahwa namja itu pun tak tahu.

“Bagaimana luka di kaki-mu?” Tanya Jaejoong pada Yunho.

“Dokter bilang akan baik-baik saja dan aku harus ikut terapi jalan.” Ucap Yunho. Jaejoong mengangguk dan menatap Changmin.

“Kau sendiri bagaimana perlombaanmu dengan Ji Young?” Tanya Jaejoong. Changmin menghela nafas.

“Tinggal menunggu pengumuman, hyung. Jika ingat itu aku jadi gugup. Aku takut hasilnya tidak bagus.” Jawab Changmin. Sebenarnya memang Changmin tidak pernah yakin kalau ia akan menang apa lagi mendapat tanggapan baik dari para juri.

“Lomba?” Gumam Di Kha yang masih terdengar oleh Changmin.

“Hmm aku ikut lomba fotografi dengan Ji Young.” Ucap Changmin memberitahu. Yeoja itu menganggukan kepalanya.

“Mmm mian sebelumnya tapi kurasa kau harus tetap semangat dan percaya diri. Asalkan kau sudah berusaha semaksimal yang kau bisa pasti hasilnya akan memuaskan. Jika tidak untuk juri paling tidak kau puas dengan hasil karyamu sendiri.” Ucap Di Kha yang membuat Changmin kembali tersenyum.

“Benar juga ucapanmu. Gumawo.” Di Kha hanya bisa mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Seperti ini lebih baik. Kau jangan pesimis seperti itu lagi.” Changmin menganggukan kepalanya mendengar ucapan Jaejoong. Jaejoong memang teman yang selalu mengkhawatirkannya dalam kondisi apapun. Walaupun namja itu tak pernah memperlihatkannya secara langsung tapi Changmin tahu. Sikap Jaejoong yang seperti itu membuat Changmin terkadang merasa senang.

‘Gumawo hyung. Kau selalu mengkhawatirkanku. Kau benar-benar seperti kakak kandung bagiku.’ Batin Changmin.

“Hyung, nanti malam kalau kau ada waktu hubungi aku ya. Nanti aku ketempatmu, ada yang ingin kubicarakan.” Pinta Changmin. Jaejoong mengangguk.

“Kalau begitu aku dan Hee Young pergi dulu. Cepatlah pulih Yunho-a.” Yunho hanya tersenyum dan mengangguk.

—-

Jaejoong mengendarai mobilnya dengan diam. Beberapa kali ia melirik Hee Young yang tengah menatap keluar jendela. Jaejoong yakin ada yang di tutupi yeoja itu darinya.

‘Aku ingin hari ini juga kau mengatakan apa yang kau tutupi dariku.’ Batin Jaejoong.

“Ada tempat yang mau kau kunjungi, Young-a?” Ucap Jaejoong.

Hee Young menatap namja di sebelahnya cukup lama. Ia tersenyum tipis.

“Bagaimana kalau ke sungai Han?” Jawab Hee Young.

Jaejoong menganggukan kepalanya lalu melajukan mobil miliknya ke sungai Han.

Sampai di sungai Han, keduanya menikmati pemandangan indah di sore hari. Hee Young menghela nafasnya pelan. Ia masih bingung dengan apa yang harus ia katakan pada Jaejoong tentang beasiswa yang ia terima. Di liriknya namja yang ada di sebelahnya itu lalu ia memeluk erat lengan Jaejoong.

Saat Hee Young memeluk erat lengannya, Jaejoong menghela nafas.

“Sampai kapan kau mau diam saja? Sejak di Rumah Sakit aku berusaha bersabar dan menunggumu untuk berbicara terlebih dahulu padaku.” Ucap Jaejoong. Hee Young kaget dengan ucapan Jaejoong itu.

“Kau mau menguji kesabaranku karena aku pernah mengatakan padamu kalau aku akan berusaha bersikap lembut dan tidak lagi kasar padamu?” Tanya Jaejoong yang terlihat jelas menahan rasa kesalnya.

“Bukan itu maksudku.” Jawab Hee Young cepat.

“Atau kau tidak percaya padaku lagi? Sampai-sampai kau ada masalah tidak mau membicarakannya denganku.” Ucap Jaejoong sambil menatap Hee Young dengan serius.

“Bukan seperti itu. Ak aku… Aku bingung harus memulainya dari mana.” Ucap Hee Young takut. Jaejoong tak mengatakan apa-apa, ia menunggu yeoja itu berbicara.

“Aku mendapatkan beasiswa. Aku tahu saat di sekolah tadi. Namaku tertera sebagai salah satu penerima beasiswa. Aku senang saat mengetahuinya tapi aku bingung mengatakannya padamu.” Ucap Hee Young tanpa menatap namjachingunya.

“Bukannya itu bagus? Kupikir kau ada masalah apa ternyata mendapatkan beasiswa.” Ucap Jaejoong sambil tersenyum. Hee Young menatap Jaejoong sedih.

“Jadi kau senang berada jauh dariku?” Tanya Hee Young. Jaejoong mengerutkan keningnya tak mengerti.

“Kenapa aku harus jauh darimu? Kan kau menerima beasiswa bukan pergi dariku.” Ucap Jaejoong sambil terus tersenyum.

“Aku menerima beasiswa untuk sekolah di luar negeri. Aku mendapatkan beasiswa penuh, Joongie.” Ucap Hee Young menatap Jaejoong sendu. Jaejoong menatap yeoja di sampingnya tak percaya.

“Berapa lama?” Tanya Jaejoong.

“Cukup lama. Jika sekolahku di sana lancar, kudengar akan diberikan beasiswa penuh untuk kuliah juga.” Jawab Hee Young.

“Apa kau masih senang setelah mendengar semua penjelasanku? Aku akan segera meninggalkan Korea.” Ucap Hee Young sambil menundukkan kepalanya. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana pada Jaejoong setelah menjelaskan semuanya.

Jaejoong masih diam, tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia berharap ini hanya mimpi.

‘Tidak mungkin.’ Batin Jaejoong.

“Kau bercanda denganku kan?” Jaejoong menatap Hee Young sambil tersenyum. Hee Young menatap Jaejoong yang terlihat menolak semua ucapan yang baru saja ia katakan.

“Semua itu benar, Joongie. Aku mendaftar untuk mendapatkan beasiswa ini saat baru masuk sekolah, sebelum aku mengenalmu. Waktu itu aku berfikir mungkin jika mendapatkan beasiswa penuh seperti ini aku akan mengurangi beban orang tuaku yang membiayai sekolahku dan dongsaengku. Kau tahu kan  keadaan keluargaku seperti apa.” Jaejoong tidak bisa mengatakan apa-apa mendengar ucapan Hee Young.

“Beberapa minggu yang lalu aku teringat beasiswa ini dan kupikir aku di tolak karena sudah cukup lama aku mendaftar tapi tidak ada pengumuman apa-apa. Mianhae, seharusnya aku mengatakannya dari dulu padamu.” Ucap Hee Young lagi.

Keduanya terdiam cukup lama. Mereka berkutat dengan pikiran mereka masing-masing. Tak berapa lama Hee Young memberanikan diri menatap Jaejoong. Namja itu terlihat sedih dan menatap sungai Han dengan tatapan kosong. Hee Young tersenyum pahit.

“Sudah kuduga akan seperti ini.” Gumamnya pelan.

“Joongie, sebaiknya kita pulang.” Ajak Hee Young tapi sayang namja itu tak meresponnya sedikitpun. Berkali-kali ia memanggil namja itu tapi tak ada respon yang ia terima. Akhirnya Hee Young menyerah, ia menghela nafas berat lalu menelepon Changmin. Ia meminta Changmin untuk datang ke tempat ia berada sekarang.

Hee Young berdiri dan menjauh dari Jaejoong. Ia duduk beberapa meter di belakang namja itu. Di tatapnya punggung namja yang masih terdiam dan tak menyadari keberadaannya itu. Tak lama Changmin datang dan Hee Young langsung meminta namja itu untuk menemani Jaejoong.

“Ada masalah?” Tanya Changmin. Hee Young tersenyum lalu menjelaskan semuanya.

“Tolong kau temani Jaejoong. Dia tidak merespon ucapanku sedikitpun.” Pinta Hee Young.

“Baik.” Jawab Changmin.

“Gumawo.” Hee Young tersenyum. Lalu ia menghampiri Jaejoong, dilihatnya namja itu masih diam dan tak meresponnya. Hee Young memeluk Jaejoong sambil menahan tangisnya.

“Mianhae. Aku pulang dulu. Changmin akan menemanimu.” Hee Young mencium pipi Jaejoong lalu pergi.

“Tolong ya. Maaf merepotkan.” Ucap Hee Young pada Changmin. Namja itu menepuk pundaknya pelan.

“Tenang saja.”

Hee Young pun pergi dari sungai Han itu menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Hee Young langsung ke kamarnya dan menangis sekencang yang ia bisa.

Saat tangisnya reda dan sudah saatnya makan malam, Hee Young pergi ke ruang makan seperti biasa. Ia menutupi kesedihannya.

“Ada yang ingin kukatakan pada kalian.” Ucap Hee Young setelah selesai makan malam. Ucapannya itu membuat orang tua dan dongsaengnya menatapnya bingung.

“Aku mendapatkan beasiswa belajar di luar negeri. Tadi aku membaca pengumumannya sebelum pulang sekolah.” Ucap Hee Young menjelaskan. Melihat reaksi keluarganya yang sangat senang Hee Young pun tersenyum.

“Besok sepertinya akan ada pemberitahuan lebih lanjut. Seperti yang kubilang dulu sebelum mendaftar, kalau lancar akan ada kemungkinan mendapat beasiswa lagi untuk kuliah.” Ucap Hee Young lagi.

“Kami selalu berdoa yang terbaik untukmu.” Ucap umma Hee Young senang.

—-

Yunho tersenyum melihat Di Kha yang masih ada di sampingnya. Yeoja itu menemaninya sejak siang tadi.

‘Kuharap saat kita bertemu nanti kau mau menerimaku.’ Batin Yunho.

Di Kha yang sejak tadi hanya berkutat dengan ponselnya kini menatap Yunho. Cukup lama ia menatap namja yang telah menolongnya itu.

“Apa yang akan kau lakukan setelah keluar dari rumah sakit?” Tanya Di Kha. Yunho terdiam sambil memikirkan sesuatu.

“Lulus SMA lalu kuliah dan bekerja.” Jawab Yunho simple. Di Kha menghela nafas mendengarnya.

“Tidak adakah sesuatu yang ingin kau capai? Misalnya impianmu atau menekuni hobimu lebih dalam.” Tanpa ragu Yunho menggelengkan kepalanya.

“Dulu aku ingin menekuni bidang hukum tapi orang tuaku melarangnya. Mereka ingin aku menekuni dunia bisnis agar aku bisa secepatnya meneruskan bisnis keluarga.” Ucap Yunho sambil tersenyum. Di Kha melihat kesedihan di mata namja itu. Ia menghela nafasnya pelan.

“Boleh kujawab pernyataan cintamu tadi siang sekarang saja?” Tanya Di Kha. Yunho menatapnya tak percaya tapi tak lama menganggukan kepalanya.

“Aku tidak bisa menerima perasaanmu. Mianhae.” Ucap Di Kha. Yunho terlihat membelalakan matanya. Dengan tubuhnya yang masih lemah ia berusaha bangun dan meminta penjelasan dari Di Kha.

“Wae? Kenapa tidak bisa? Kau tidak mencintaiku? Kau kan bisa belajar mencintaiku dulu.” Ucap Yunho tak bisa menerima jawaban Di Kha.

“Aku tidak mau menerima namja yang mudah menyerah. Kau bilang kau ingin menekuni bidang hukum kan? Hanya karena dilarang lalu kau menyerah begitu saja?” Ucap Di Kha dengan penuh penekanan. Yunho terdiam sesaat.

“Tapi orang tuaku sangat keras. Khususnya appa. Umma sudah berusaha membantu tapi sia-sia.” Yunho berusaha menjelaskan tapi sayang Di Kha tetap tak mau mendengar penjelasan apapun.

Yunho terus berusaha membujuk Di Kha agar merubah jawabannya tapi yeoja itu tidak bergeming sedikitpun. Yeoja itu malah terlihat asik dengan ponselnya.

Sebenarnya Di Kha sedang menguji Yunho. ia ingin tahu apa yang akan namja itu lakukan. Jika namja itu tak melakukan apa-apa Di Kha benar-benar akan menolak pernyataan cinta namja itu. Di Kha memang tidak suka dengan namja yang mudah menyerah.

‘Pabo.’

—-

Changmin masih menemani Jaejoong, kini mereka berada di rumah namja itu. Walaupun sekarang sikap Jaejoong tidak separah saat di sungai Han tapi Changmin melihat Jaejoong masih terdiam. Ia menghela nafas melihat sikap namja itu.

“Apa kau akan terus seperti ini, hyung? Kalau berlanjut seperti ini kau bisa gila.” Ucap Changmin. Ia sedikit kesal dengan sikap Jaejoong yang tidak biasa.

“Hee Young akan pergi. Jadi menurutmu apakah aku harus tertawa? Pikiranku kacau saat dia menjelaskan semuanya.” Ucap Jaejoong. Changmin menatap namja di sebelahnya dengan tidak percaya. Jaejoong menoleh ke arah Changmin.

“Hee Young mendapat beasiswa sekolah di luar negeri.” Ucap Jaejoong memberitahu. Changmin semakin kaget mendengarnya.

“Aku belum siap di tinggal olehnya. Ini sangat tiba-tiba. Tadi aku tak tahu harus mengatakan apa pada Hee Young. Aku ingin menyuruhnya untuk tidak pergi tapi jika aku mengatakannya itu berarti aku egois.” Jaejoong mengacak-acak rambutnya frustasi. Changmin mengelus punggung Jaejoong, ia tak tahu harus mengatakan apa pada namja di sebelahnya itu.

“Aku sangat mencintainya. Belum pernah aku mencintai seseorang sampai seperti ini.”

“Jujur aku bingung harus mengatakan apa. Tapi kau harus merelakan Hee Young, dia kan pergi untuk menuntut ilmu. Kalian bisa berhubungan jarak jauh, aku tahu itu sulit tapi harus di jalani. Demi masa depan kalian.” Saran Changmin.

Jaejoong kembali terdiam dan memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Changmin masih menemaninya dengan setia.

Cukup lama Changmin dan Jaejoong terdiam, ia melihat Jaejoong sedikit lebih tenang. Changmin menghela nafas dan menepuk pundak namja itu. Ia tersenyum dan Jaejoong membalas senyumannya. Changmin tahu arti senyuman itu.

—-

Chae Jin duduk di sofa kecil yang menghadap keluar jendela kamarnya. Ia terus menangis sambil mengingat kejadian di sungai Han tadi. Pertemuannya dengan Changmin. Ia gagal memberitahukan isi hatinya. Chae Jin sadar kalau Changmin sengaja memotong ucapannya.

Hubungan Chae Jin dengan Changsoo masih terjalin. Awalnya Chae Jin ingin memberitahukan semuanya pada namja itu setelah perasaannya pada Changmin tersampaikan. Tapi setelah kejadian di sungai Han tadi sepertinya ia tidak akan bisa melakukannya. Bahkan perasaannya yang sebenarnya mungkin akan terus tersimpan di dalam hati

“Apa kau membenciku?” Gumam Chae Jin sedih.

Chae Jin mengambil ponselnya dan berusaha menelepon Changmin tapi sayang ponsel namja itu tidak aktif. Ia berdecak kesal lalu kembali duduk di sofa kecil miliknya.

“Apa yang harus kulakukan?” Gumamnya lagi.

Ia berharap Changmin akan meneleponnya dan mengatakan kalau namja itu pun mencintainya. Chae Jin kembali mengingat masa-masa dimana ia mengobrol dengan Changmin yang dulu ia kira Changsoo dan masa-masa namja itu datang ke rumahnya dengan alasan mengantar Hee Young yang saat itu menjadi guru privatnya. Senyum tipis mengembang di wajahnya.

Saat mengingat masa lalu Chae Jin tersentak. Ia kembali mengingat masa-masa dimana Changmin dan Changsoo ada di hadapannya.

Chae Jin tersenyum sedih.

“Ternyata bukannya aku tidak bisa membedakan kalian tapi aku yeoja yang tidak peka. Padahal kalian sangat berbeda. Sifat kalian sangat bertolak belakang.” Ucap Chae Jin.

“Chae Jin pabo!” Teriaknya pada diri sendiri. Lalu tak lama ia kembali menangis, menangisi kebodohannya.

Di saat ia sedang menangis tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tanpa melihat siapa yang menelepon Chae Jin langsung mengangkatnya.

“Yeoboseo.” Sapanya dengan terisak.

“Hei, Kau kenapa? Kau menangis?” Tanya Changsoo. Chae Jin yang kaget langsung menyeka air matanya dan berusaha bersikap biasa.

“Aku tidak apa-apa.” Jawab Chae Jin bohong.

“Jangan berbohong padaku. Jelas-jelas kau menangis. Ada apa?” Desak Changsoo.

“Aku baik-baik saja, oppa.” Ucap Chae Jin lagi. Terdengar helaan nafas dari seberang sana, Chae Jin hanya bisa diam.

“Ya sudah.” Ucap Changsoo lalu menutup teleponnya.

Chae Jin menatap ponselnya lalu menaruhnya di samping.

“Mianhae.” Gumamnya. Chae Jin kembali menatap keluar jendela dengan wajah sedih. Ia tak tahu harus bagaimana. Tak lama seseorang mengetuk pintu kamarnya. Chae Jin pun menyuruh orang itu masuk. Seorang pelayan di rumahnya mengatakan jika ada tamu untuknya.

“Aku kan sudah bilang tidak mau bertemu siapa-siapa. Bilang saja aku sudah tidur.” Ucap Chae Jin menolak.

“Saya sudah mengatakan seperti yang nona perintahkan tapi tamu itu tidak mau pergi.” Ucap pelayan itu. Chae Jin menghela nafas berat.

“Memangnya siapa orang itu?”

“Changsoo.” Jawab Junsu yang entah sejak kapan sudah ada di belakang pelayan itu. Junsu menyuruh pelayan itu untuk pergi.

Chae Jin kaget mendengar ucapan Junsu. Ia segera berdiri dan pergi ke kamar mandi lalu mencuci mukanya. Chae Jin melihat wajahnya sendiri di cermin, ia bernafas lega karena matanya tidak terlihat bengkak. Ia keluar kamar mandi dan melihat Junsu masih berdiri di depan pintu kamarnya. Perlahan Chae Jin mendekati Junsu dan melihat oppa-nya itu menatapnya sendu. Ia berusaha tersenyum.

“Apa yang bisa oppa lakukan? Oppa ingin melihatmu bahagia. Chae Jin yang oppa kenal bukan seperti ini.” Ucap Junsu. Chae Jin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Aku harus menemui Changsoo. Dia sudah menunggu lama.” Ucap Chae Jin lalu pergi menemui Changsoo. Junsu menghela nafas berat. Di lihatnya punggung Chae Jin yang semakin menjauh.

“Oppa.” Panggil Chae Jin dengan wajah ceria. Ia menghampiri Changsoo dan melihat wajah namja itu serius menatapnya. Kedua pipinya di pegang oleh Changsoo.

“Kau tidak apa-apa? Di telepon kau menangis jadi aku berusaha secepat mungkin kesini.” Ucap Changsoo sambil menatap Chae Jin dengan khawatir. Chae Jin bingung apakah harus senang atau sedih dengan perhatian yang di berikan namja di depannya itu. Di satu sisi ia berharap namja di depannya itu Changmin tapi di sisi lain ia tak tega melihat Changsoo yang sangat perhatian padanya.

“Aku baik-baik saja. Kan sudah kukatakan di telepon.” Ucap Chae Jin. Changsoo tetap memegang kedua pipinya dan menatapnya sama seperti tadi. Namja itu tak bersuara sedikit pun membuat Chae Jin sedikit salah tingkah. Chae Jin sadar kalau Changsoo tak percaya dengan ucapannya.

“Aku hanya sedang sedih dan banyak hal yang kupikirkan.” Ucap Chae Jin akhirnya. Namja itu langsung memeluknya dengan erat dan mengelus rambutnya dengan lembut.

“Jangan membuatku khawatir lagi. Jika kau sedih ataupun ada masalah katakan padaku, jangan kau sembunyikan.” Entah kenapa Chae Jin mengangguk mendengar ucapan Changsoo.

‘Apakah kau akan membenciku jika kukatakan masalah dan kesedihanku ini?’

Chae Jin yang masih dipeluk Changsoo melihat Junsu yang menatapnya dari lantai 2. Namja itu menatapnya serius lalu menggelengkan kepalanya. Chae Jin hanya bisa diam. Tak lama Junsu mengatakan sesuatu padanya tanpa bersuara.

“Jangan bohongi hatimu. Kau tidak mencintainya.” Ucap Junsu tanpa suara. Chae Jin yang mengerti yang di katakan Junsu hanya bisa menahan kesedihannya. Chae Jin tak mau Changsoo tahu kalau ia sedih karena Changmin. Tak lama namja itu melepaskan pelukannya dan mencium pipinya. Ia mengajak Changsoo untuk duduk di sofa bersamanya, namja itu terus menatapnya.

“Tidak mau menceritakan apa yang menjadi masalah dan kesedihanmu?” Tanya Changsoo dengan nada lembut. Chae Jin terdiam beberapa saat.

“Aku hanya sedih dengan teman-temanku yang sedang bertengkar. Kau tidak usah khawatir seperti itu, oppa.” Chae Jin berusaha menenangkan Changsoo yang terlihat masih mengkhawatirkannya.

“Benar hanya itu?” Tanya Changsoo. Chae Jin langsung menganggukan kepalanya mantap. Ia terpaksa berbohong pada namjachingunya.

‘Mianhae. Aku tidak bermaksud membohongimu.’ Batin Chae Jin.

 

***

 

Changmin duduk di atap sekolah. Ia memotret beberapa hal yang ia anggap menarik. Ia kembali fokus dengan lomba yang ia ikuti bersama Ji Young. Kegiatannya terganggu saat ponselnya berbunyi. Ia mengangkat telepon yang tak ia kenal itu.

“Yeoboseo.” Sapa Changmin.

Ia menunggu orang yang menelepon itu bersuara tapi sayang orang itu tak bersuara sedikitpun. Hal ini sedikit membuat Changmin kesal.

“Yeoboseo.” Sapa Changmin lagi. Ia berusaha menahan emosinya. Changmin menghela nafasnya saat tak ada suara.

“Ya! Jangan main-main!” Bentak Changmin kesal. Ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.

“Oppa.” Terdengar suara lemah saat Changmin hendak mematikan telepon itu. Ia mendekatkan ponselnya lagi untuk mendengar lebih jelas suara itu.

“Nugu?” Tanya Changmin ragu-ragu.

Sebenarnya di dalam hatinya Changmin menebak kalau pemilik suara itu adalah Chae Jin. Tapi dengan cepat ia berharap kalau yang meneleponnya bukanlah yeoja itu. Ia benar-benar ingin melupakan Chae Jin dari hatinya. Changmin tak mau hubungannya dengan Changsoo hancur karena mencintai yeoja yang sama.

‘Kumohon jangan kau.’

“Oppa, ini aku Chae Jin.” Jawab yeoja itu. Seketika itu juga hati Changmin sakit, sangat sakit. Di saat ia sedang berusaha melupakan Chae Jin, yeoja itu malah sering menemui dan meneleponnya. Changmin menghela nafas pelan untuk meredakan sakit di hatinya. Ia pun mengelus dadanya berharap sakitnya bisa berkurang.

“Ada apa?” Tanya Changmin dengan nada datar.

“Jangan menggangguku jika tidak ada hal yang penting. Aku sedang tidak bersama Changsoo, kau cobalah telepon ke ponselnya.” Tambah Changmin.

Kembali Changmin menghela nafasnya. Ia dan Chae Jin terdiam tapi Changmin bisa mendengar isak tangis yang berasal dari yeoja itu. Ada rasa tak tega mendengar isak tangis itu tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena yeoja itu bukan miliknya.

“Oppa, aku ingin bertemu. Aku ingin bicara denganmu. Jangan menghindariku lagi seperti di sungai Han waktu itu.” Ucap Chae Jin. Changmin diam, tak memberi jawaban.

“Oppa.” Ucap Chae Jin lagi tapi kini dengan nada memelas. Yeoja itu mendengar helaan nafas Changmin.

“Mau bicarakan apa?” Tanya Changmin ketus.

“Mau membicarakan tentangmu. Oppa ada dimana? Aku ingin bicara denganmu sekarang juga.” Ucap Chae Jin kini dengan suara tegas. Jelas sekali yeoja itu tak ingin permintaannya di tolak.

“Baiklah, tapi ini terakhir kali. Aku tidak mau ada yang kedua kalinya. Datanglah ke green park sepulang sekolah.” Ucap Changmin akhirnya.

“Tidak mau di tempat yang terbuka.” Ucapan Chae Jin itu membuat Changmin sedikit kaget.

“Jangan main-main.”

“Oppa, aku ingin bicara serius jadi tidak mungkin di tempat terbuka.” Bujuk Chae Jin.

“KAU!” Changmin menghela nafas tak bisa berbuat apa-apa dengan yeoja itu.

“Datanglah ke Art Café sepulang sekolah jam 3 sore.” Changmin mendengar suara riang di seberang sana.

“Guma…” Sebelum yeoja itu melanjutkan ucapannya Changmin sudah menutup telepon itu dan menaruh ponselnya kedalam saku celana.

“Kumohon jangan bicara yang bisa membuat keyakinanku runtuh. Aku sedang berusaha membuat dinding besar antara kita dan menghilangkan kau dari hatiku. Jangan membuatku semakin sulit.” Gumam Changmin.

Changmin yang sudah tidak bersemangat memotret memasukan kameranya. Ia berdiri dan pergi menuju kelasnya. Di dalam kelas ia terus menatap keluar jendela dan berusaha bersikap biasa di depan teman-temannya. Ia tak mau teman-temannya selain Jaejoong tahu masalah yang tengah ia hadapi sekarang.

Sepulang sekolah Changmin berjalan dengan langkah berat menuju art café. Café milik seorang teman yang jauh lebih tua darinya. Tak lama Changmin sampai, café itu memang tidak jauh dari sekolahnya. Ia menyapa pemilik café yang kebetulan ada di sana dan langsung mengatakan jika ia ingin memesan ruangan khusus. Art café memang menyediakan rungan khusus untuk pengunjung.

Pemilik café yang bernama Joong Kook menatap Changmin dengan bingung. Terlihat jelas di matanya jika namja kurus itu sedang ada masalah. Changmin yang menyadari tatapan bingung itu langsung tersenyum dan berusaha bersikap biasa.

“Kau ada masalah?” Tanya Joong Kook penasaran. Changmin langsung menggelengkan kepalanya.

“Tidak ada. Aku hanya sedang lapar saja, hyung.” Jawab Changmin bohong.

“Hyung, aku pesan makanan seperti biasa. Oiya aku minta tolong jika ada seorang yeoja mencariku tolong katakan aku di ruang VIP.” Ucap Changmin mengalihkan pembicaraan. Joong Kook menyadari Changmin tak mau diusik hanya mengangguk.

“Baik. Akan kusiapkan pesananmu, segera.”

Changmin tersenyum lalu berjalan menuju ruang VIP. Langkahnya semakin berat saat memasuki ruangan yang ia pesan. Ia menunggu sambil menatap keluar jendela, pemandangan di ruangan itu memang sangat indah. Tak lama menunggu pintu ruangan itu di ketuk dua kali, Changmin menyuruh orang di balik pintu itu untuk masuk.

“Permisi tuan, pesanan anda sudah siap.” Ucap pelayan.

“Bawa masuk.” Ucap Changmin tanpa menoleh ke arah pelayan itu. Ia tetap menatap pemandangan di luar jendela. Changmin tak peduli dengan pelayan yang tengah menyajikan makanan yang ia pesan.

“Selamat menikmati.” Ucap pelayan itu lalu pergi. Changmin hanya menghela nafas lalu menatap makanan di depannya dengan sangat tidak nafsu.

Tak lama seseorang mengetuk pintu lagi. Sama seperti tadi, Changmin hanya mengatakan untuk langsung masuk. Pintu pun terbuka perlahan. Dengan malas Changmin menatap pintu yang tengah terbuka.

“Ada apa lagi?” Tanyanya.

 

TBC

Mau lanjut? Mohon komennya ya. Author jujur ga semangat lanjut FF ini soalnya yang komen dikit banget apa lagi di part awal-awal. Malah ada yang komen cuma 1 orang. Yang komen sama yang baca jauh banget. Author ngerasa kalo ceritanya membosankan. Kelanjutan author memposting FF ini tergantung yang komen kalian ^_^

11 thoughts on “TWINS PART 7

  1. Oiii eonni -_-
    Kenapa baru dipost sekarang?
    Hahahaha

    Jangan jangan pas changmin buka pintu yg ada di depan dia si chaejin. Hahhaaha
    Trus apa kabar sama hubungan jae dan hae?? Kalo si haenya mau pergi😦 ..

  2. Eunchan She Peef berkata:

    di lanjutin dong author~😥
    aissh~! Si changmin pabo. Jj oppa kasian..
    Kerasa deh bingung ny kaya gmna..
    Yunho.. Di kha cocok!😀
    nnext chap author.. Aku tunggu yh..^^

  3. chunnie_man berkata:

    Eonni lanjutin partnya.ayo semangat!!!
    Jaejoong ditinggal keluar negri.Long distance dong?
    Yunho oppa cepetan jadian sama dikha.nanti keburu diambil.next part ya!semoga caejin n changmin jadian juga..

  4. Midori-chan berkata:

    ahhh di lanjut
    gimana nasib jeje ma hee young
    uno’a cpetan ma dikha’a ksian uno
    minnie ayo jgn galau, tunjukan semangat cinta (?) mu

  5. kasian deh ma percintaan y changmin-chae jin-changsoo masalah y ini kembaran n salah ngira jd bakal sakit hati bgt krn bakal nyakitin satu sama lain…sedih T.T
    n lg pasangan lain y jaejoong n yunho oada mau ditinggal sama sang kekasih yg mau keluar negri,,, bakalan pacaran jarak jauh deh,,, tp pa jaejoong bakal nerima pacaran jarak jauh???? n pa yunho bakal berjuang demi keinginan y n bakal diterima ma dhi ka?????
    Lanjut…..

  6. huwaaaaa….baru sempat baca sekarang ><
    aishh,kasian banget nasib para namja disini…pada berpisah sama yeojanya😥
    hiks,padahal baru kemaren Jae sama Heeyoung mulai mesra,kenapa harus pisaaaaah???
    #mewek di ketiak jaejae

  7. onieeee~ aqu dtg /plak
    apa2an ni msa smuanya pda merana, si jj mu ditinggal prgi si uno cuma bbrapa lngkah ada kmjuan ama dikha.. hah~ yg pling nelangsa si chaemin, yg go to the lau ckckckc
    sngguh tega dirimu onnie, mbuat semua trsakiti trutama chaemin /plak
    aqu ga snggup klo smuanya pda sad end *ditabok onnie
    klo bisa bkin smuanya happy end onn, aplgi chaemin couple ya *puppy eyes mode on
    pdhl pas continue bgian yg pling seru, aqu ykin psti si chaejin yg dtg tuh dn psti akan ada pmbicaraan seru ttg hbungan chaemin *100% yakin
    lnjut dong onnie, jgn lama2 ya *bow

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s