DESTINY PART 10


Destiny Chapter 10

Cast : Nari (OC)

            Max Changmin

Lee Hyukjae

Other Cast

Genre : Romance, Family, Angst.

Rate : PG-17

******************************************************************************************

BRAKKK

Suara pintu mobil yang ditutup kasar oleh Nari membuat Eunhyuk menghela nafas panjang. Itu wajar, Nari tengah kesal dengan si dokter tak berambut yang baru saja mereka temui. Dokter itu bungkam, tidak ingin berbagi informasi dengan alasan itu adalah privasi pasien.

“Aku harap dia baik-baik saja,” lirih Nari yang sudah bisa menetralkan emosi. Eunhyuk menanggapinya dengan senyum tipis lalu melajukan mobil meninggalkan halaman rumah sakit itu. Ia pun khawatir, terlebih jika ini disangkut pautkan dengan malam itu, saat Max malam-malam berada dikantor.

Nari dan Eunhyuk memang mengikuti Max sejak tadi. Dan yang mereka lihat adalah Max memasuki ruangan seorang dokter. Cukup lama mereka berdiri di luar ruangan, menutup wajah dengan majalah dan koran dari pria berkepala licin yang duduk di kursi tunggu. Sekitar 20 menit barulah Max keluar dan dapat mereka dengar jika Max mengatakan akan lebih sering kesini. Jelas itu menimbulkan tanda tanya besar. Apa yang membuat Max harus sering kesini?

Saat Max sudah berlalu dari hadapan mereka, Nari menahan langkah dokter yang tadi. Mereka bertanya tentang apa yang terjadi pada Max. Sayang, yang didapat adalah penolakan untuk menjawab. Meski Nari sudah menggunakan alasan jika ia adalah istri dari Max, dokter itu justru tertawa pelan dan berkata, “Tidak ada istri yang tidak mengetahui kondisi suaminya sendiri.”

Sial! Jawaban itu seperti tamparan keras bagi Nari.Bukan diwajah tapi didadanya, benar-benar menyudutkan. Maka terpaksa mereka meninggalkan rumah sakit itu dengan dua kegagalan. Bukan hanya kehilangan jejak Max, tapi juga tidak tahu apa yang dilakukan Max di rumah sakit itu. Meski setidaknya ada satu hal yang disyukuri karena rumah sakit itu tidak ada hubungannya dengan Minho, tetap saja Nari khawatir terhadap Max.

“Kita sampai,” ucap Eunhyuk yang membuat Nari menyipitkan mata. Ia melihat-lihat sekitar dan ia tidak sedang didepan rumah.

“Ini bukan rumahku.”

“Ini apartemen Max,” jawab Eunhyuk pelan. Sontak Nari menoleh padanya, “A..apa?” tanyanya dengan mata berbinar.

“Mianhe, seminggu lalu aku sudah mencari tahu dan sepertinya Max memang tinggal disini, aku belum tahu pastinya seperti dilantai dan nomor berapa. Dan semua yang terjadi seminggu ini membuatku lupa memberitahumu,” terang Eunhyuk yang membuat Nari melebarkan senyumnya, meski terlambat, tentu ini adalah berita baik. Tanpa berkata-kata lagi Nari keluar dari mobil dan berlari kesana. Eunhyuk bahkan tidak sempat meneriakinya karena sudah tak terlihat. Eunhyuk mengejarnya cepat. Lagi, ia tidak suka sifat Nari yang selalu terburu-buru, melakukan apapun dengan tergesa tanpa berpikir lebih dulu.

Eunhyuk menemukan Nari berdiri didepan lift dengan satu jarinya berada didepan tombol nomor. Eunhyuk menghela nafas lega. Lihat kan? Nari pasti tidak tahu harus menekan tombol berapa.

“Kenapa ?” tanya Eunhyuk meski ia sudah tahu jawabannya. Nari menggigit bibir bawahnya lalu menurunkan jarinya.Ia menunduk dan mendesah,”Aku tidak tahu harus menekan tombol berapa.”

Eunhyuk tersenyum, lalu melihat-lihat sekitar dan mendekati seorang pria seumuran ayahnya yang hendak berjalan keluar, “Permisi..”

Pria itu berhenti dan mengernyit bingung, “Siapa kau ?” tanyanya ketus.

“Mianhe..Saya ingin bertanya soal penghuni baru disini yang bernama Max atau…Shim Changmin. Apakah Anda tahu dilantai dan nomor berapa ia tinggal?” tanya Eunhyuk sopan. Pria itu memutar bola matanya malas, “Lantai 4 nomor 125,” jawabnya singkat lalu pergi begitu saja tanpa mendengarkan ucapan terima kasih dari Eunhyuk.

Eunhyuk menoleh ke arah Nari dan tanpa diduga, wanita itu sudah berada dalam lift. Eunhyuk coba mengejar tapi terlambat. Ia menggerutu kesal lalu masuk kedalam lift disebelahnya. Nari benar-benar tidak bisa bersabar barang sedetik. Ia sudah sampai di depan pintu bernomor 125 itu, menekan bel dengan tidak tenang, berkali-kali.

Sedikit terengah dan dengan menyeret langkahnya, Eunhyuk sudah berdiri di samping Nari. Mengatur nafas sejenak lalu bergantian dengan Nari menekan bel. Ia mengintip dari lubang kecil dipintu. Tidak terlihat siapa-siapa.

“Mungkin…dia tidak sedang disini. Mungkin tadi dia bukan kemari tapi ke kantor atau..”

“Aku tunggu,” potong Nari.Ia memang serius. Dua minggu mencari keberadaan suami dan anaknya dan disaat sudah sedekat ini, tidak akan ia sia-siakan. Sudah jelas bukan jika ini adalah tempat tinggal Max? Maka selama apapun ia berada diluar, pasti akan kembali ke tempat ini.

Eunhyuk menemani Nari menunggu didepan pintu. Ia hanya bersandar pada dinding bercat putih itu memperhatikan Nari yang tidak pernah tenang, mondar mandir. Sesekali ia melihat jam tangannya dan tanpa terasa sudah memasuki pukul 6 sore. Ia memikirkan Spenser, rasanya sudah terlalu sering ia merepotkan orang tuanya. Terlebih mengingat janjinya sendiri kala itu untuk tidak membuat sekitarnya direpotkan.Ia berjanji akan melakukan semuanya sendiri termasuk membawanya saat bekerja. Tapi dua minggu ini, ia disibukkan dengan urusan Nari dan Max.

“Mianhe…” ucap Nari memecah keheningan. Eunhyuk menoleh padanya, “Untuk?”

“Untuk kebodohanku, untuk perasaanku, untuk sikapku, untuk semuanya. Mianhe..” jawab Nari tanpa menghadap Eunhyuk, matanya menatap kosong pada lantai.

“Kenapa maaf itu kau tujukan padaku?” tanya Eunhyuk yang memang tidak mengerti maksud kata maaf itu.

“Karena aku, kau terkena imbasnya. Karena perasaan bodohku, aku mengacaukan semuanya. Aku yang dulu meninggalkanmu, tapi aku juga yang tidak bisa lepas dari bayang-bayangmu. Aku yang menerima lamaran Max tapi aku juga yang menghancurkannya. Aku sahabat Yoona tapi aku sudah menghianatinya. Selama ini mataku tertutup rapat. Mataku hanya tertuju pada satu titik dimana kau berada. Aku mengacuhkan titik yang begitu terang yang ada didekatku,” Nari diam sejenak untuk menarik nafas. Kepalanya ia sandarkan ke dinding. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin membuat suatu pengakuan. Masa bodoh jika ini memalukan karena ia mengakui tentang perasaan bodohnya pada Eunhyuk. Ia mengatakannya bukan sebagai permintaan agar mendapat balasan perasaan, tapi sebagai permintaan maaf atas perasaan terlarangnya. Terlebih melihat usaha Eunhyuk yang nampak tidak perduli dengan  fakta itu dan membantu Nari memperbaikinya.

“Mianhe…Aku tidak bisa mengerti dengan benar perasaanku. Aku sakit saat melihatmu bersama Yoona. Aku selalu ingin punya alasan untuk kerumahmu. Aku mengabaikan Max yang sangat sabar menghadapiku. Sekarang bukan hanya Max yang tersakiti. Kau harus direpotkan dengan segala masalahku, Yoona pun….aku tidak yakin ia akan memaafkanku. Ia pasti kecewa. Ia..”

“Ia sudah memaafkanmu,” potong Eunhyuk lalu tersenyum simpul. Nari menoleh padanya dengan tatapan tidak mengerti.

“Nari…kau mengenal Yoona jauh sebelum aku mengenalnya bukan? Kau tentu lebih tahu bagaimana ia. Percayalah dia sudah memaafkanmu.”Eunhyuk menghela nafas panjang lalu ikut-ikutan menyandarkan kepala ke dinding. Mendengar pengakuan Nari, ia pun jadi ingin berbagi sesuatu. Bukankah ia dan Nari mengalami hal yang sama? Sama-sama sulit terlepas dari masa lalu dan berimbas pada seseorang yang berada didekat mereka.

“Kau tahu ?Setelah kau tiba-tiba pergi waktu itu, aku tidak tenang.Aku sangat berat meninggalkan Indonesia,” Eunhyuk memulai ceritanya. Sepertinya ini akan cukup panjang.

“Sikapku berubah, menurut para member aku jadi lebih temperamen, mudah marah, mudah tersinggung, tidak ada lagi Eunhyuk yang suka bercanda dan membuat keributan. Itu karena aku memikirkanmu,” papar Eunhyuk dengan suara tenang. Nari terkejut mendengarnya. Ia pikir…Eunhyuk sangat baik-baik saja dan apa yang terjadi tidak berpengaruh padanya. Ia pikir apa yang terjadi antara mereka hanya menjadi bagian kecil yang tidak menggangu. Ternyata…

“Aku hanya berbagi dengan Kyuhyun. Entahlah…saat itu ia datang dan tiba-tiba saja mulutku menceritakan semuanya. Bahkan saat aku hadir di televisi dan diminta untuk berbagi tentang apa yang kualami hingga 2 minggu menghilang, aku hanya menjawab seadanya. Aku tidak bisa jika harus menyebut namamu dan mengingat semuanya. Tapi semua berubah kala kami akan mengadakan super show dijakarta. Kau tahu apa yang pertama kali melintas dikepalaku ? Tentu saja bertemu denganmu,” Eunhyuk melanjutkan ceritanya dan Nari hanya bisa jadi pendengar yang baik, yakni hanya diam. Tidak perlu ditanya apakah untuk lanjutan cerita itu dia terkejut ?Matanya membulat coba mencerna dengan baik.Jadi? Nari ingat benar saat itu ia mati-matian menolak ajakan Max untuk menyaksikan konser. Ternyata justru Eunhyuk yang begitu menginginkan pertemuan itu.

“Aku pikir kau akan datang. Selama berjalannya konser, mataku tidak lepas dari bangku penonton berharap melihatmu, tapi..hingga konser usai, dan aku berlari keluar gedung berteriak memanggilmu, kau tidak ada. Kyuhyun dan dua security menarikku paksa untuk masuk. Situasi diluar tak terkendali karena ulahku.”

Suasana masih hening. Eunhyuk berhenti sekitar satu menit untuk mengumpulkan kepingan memorinya. Nari belum berminat bersuara sekedar untuk menanggapi sedikit. Ia teringat dengan cerita Donghae kala itu. Jadi ini yang dimaksud oleh Donghae? Ah, Nari tiba-tiba mendapat satu pertanyaan. Bukankah kala itu semua member ada diatas panggung dan meneriakinya untuk menerima tawaran Max ? Meski Eunhyuk tidak terlihat tapi Nari kira ia menyaksikannya.

“Setelah semua tenang, dan Kyuhyun terpaksa menceritakan masalahku pada semua member, aku mendengar satu fakta yang cukup membuatku sangat kecewa padamu.”

Nari masih memasang telinga dengan baik, menunggu lanjutan cerita yang tidak ia duga dan tidak diketahui. Apa kekecewaan itu datang karena ulah dia dan Max ?

“Sebelum konser dimulai, pihak promotor datang bersama seorang pria yang katanya ingin menyatakan cinta pada seorang wanita ditengah konser nanti. Saat itu aku tidak memperhatikan. Aku lebih sibuk dengan bayangan akan segera bertemu denganmu. Dan saat momen itu terjadi, dimana pria itu melakukan aksinya, aku sedang tidak di panggung. Lagi-lagi aku memilih di ruang rias dan menyendiri. Tapi…setelah mendengar nama wanita itu dari Kyuhyun, mendengar ciri-cirinya, aku tahu itu kau. Dan setelah bertemu denganmu di restoran, aku sadar Max lah pria itu.”

Nari menghembuskan nafasnya. Ia makin bingung dengan perasaannya. Jika selama ini ia selalu dibuat penasaran dan sangat antusias menyangkut Eunhyuk dan dirinya, jika biasanya ia akan kegirangan jika mendapat fakta kalau Eunhyuk memikirkannya, tapi sekarang? Cerita itu hanya terdengar seperti hal tersembunyi yang sangat menarik untuk diketahui, bukan hal yang akan membuatnya senang.  Jika perasaannya masih sama pada Eunhyuk, bukankah cerita itu berita bagus?

“Saat itu aku berpikir, jika kau sudah melupakanku, jika tujuanmu datang kekonser untuk memperlihatkan jika kau sudah menemukan seseorang yang tepat. Aku coba terima, tapi semua tidak segampang yang aku kira.”

Nari mengingat malam itu dengan baik. Saat ia tidak bisa menjawab Max dan berlari keluar gedung. Max meyakinkannya jika ia adalah orang yang tepat. Dan ketika Nari mengangguk, saat itu juga ia berjanji untuk tidak lagi mengingat-ingat Eunhyuk. Ia melepasnya. Tapi siapa yang menebak jika janji itu hanya kalimat biasa yang bisa diucapkan atau ditarik kapanpun?

“Lalu aku bertemu Yoona, gadis yang menurut para member membuatku kembali seperti dulu. Sejak awal kami lebih banyak bertengkar, tapi itu yang membuat kami dekat. Dia terus menemuiku dengan alasan untuk berfoto dengan member lain dan fotonya dikirim pada sahabatnya di Indonesia, sepertinya itu kau.”

Nari tersenyum, itu benar.Ponselnya sudah jadi korban atas ulah Yoona itu. Sesaat setelah Yoona menelpon dan berkata  telah mendapat banyak foto dengan member super junior terutama Eunhyuk, ia lempar ponsel murahannya ke dinding. Itulah yang membuat ponselnya harus masuk bengkel dan berakhir di tangan tukang servis sialan yang seenak jidat menjualnya.

“Yoona terus mengisi hari-hariku, dia gadis yang ceria, cerewet, tidak pernah mau mengalah, dia yang terang-terangan berkata kalau aku tidak bisa apa-apa selain menari, wajahku standar untuk ukuran seorang idola,” Eunhyuk tersenyum kecil mengingat momen-momen itu.Jika wanita lain berteriak memanggil namanya, mengaguminya, melemparnya dengan pujian, Yoona justru meneriakinya dengan kata-kata yang tidak begitu baik didengar.

“Tapi..itu yang membuatnya berbeda. Aku jadi candu, jadi merasa aneh kalau tidak melihatnya, melihat kecantikannya, senyumnya, wajah marahnya. Dia…” Eunhyuk terus mengucapkan pujian pada istrinya. Jika dulu saat mendengar pujian seperti itu, Nari ingin berteriak stop, menutup telinga atau ingin cepat-cepat pergi, sekarang justru ia ingin berkata lantang menyetujui semuanya. Sahabatnya memang cantik, mereka hanya memiliki kesamaan dalam sikap, sedangkan untuk urusan kewanitaan, termasuk berdandan dan berpakaian, Yoona jauh diatas Nari.

“12 Agustus 2012, adalah hari dimana aku mengalami kecelakaan besar. Aku pikir nyawaku akan dicabut saat itu. Tapi Tuhan lebih memilih mengujiku dengan membuat kakiku tidak lagi berfungsi dengan baik.Aku tidak bisa menerima semuanya saat itu. Aku penari utama di grup, aku yang berdiri paling depan memperlihatkan gerakanku, tapi karena kecelakaan itu, untuk berdiri pun aku butuh tongkat.” Eunhyuk memejamkan mata, mengingat betapa saat itu adalah hari yang sangat berat. Saat ia sadar dari koma berkepanjangan dan mendapat berita jika ia tidak bisa lagi berjalan dengan normal.

Nari ikut menutup mata. 12 agustus 2012. Hari itu adalah hari dimana ia menerima lamaran Max. Hari dimana ia harus berperang dengan hatinya sendiri. Bingung harus mengambil keputusan apa.Hatinya menolak, tapi Max begitu nyata didepannya, otaknya berpikir jika tidak ada salahnya menerima.

“Saat-saat berat itu, keluarga serta para member sangat membantuku. Termasuk Yoona, saat itu ia rela lebih banyak mengurusku dibanding kuliahnya. Beberapa kali aku mendapatinya mengerjakan tugas tengah malam diruang rawatku.Ia juga yang meyakinkanku untuk ikut tampil bersama super junior di konser terakhir. Meski harus berdiri di sudut lain, dengan tongkat, tidak ikut menari seperti yang lain, aku senang.”Eunhyuk tersenyum kecil dan memejamkan mata, “Yoona…saat-saat itu aku mulai sadar, saatnya aku melepasmu.”

Nari masih setia dengan posisi semula, mendengar dengan seksama.Ia tidak pernah menyangka jika apa yang dialami Eunhyuk seburuk itu. Memang setelah kembali dari Jakarta, setelah menerima Max sebagai seseorang yang mengisi hari-harinya, setelah melangkah meninggalkan gedung itu, Nari benar-benar menutup diri dari segala yang berhubungan dengan Eunhyuk.Maka untuk masalah kecelakaanpun ia buta, tuli, benar-benar tidak tahu.

“Semua mengalir. Aku dan Yoona semakin dekat. Meski aku sudah bisa berjalan tanpa tongkat, ia tetap setia datang ke rumah. Orang tuaku bahkan sangat menyukainya. Semua yang kami lewati layaknya sepasang kekasih. Melakukan banyak hal bersama, orang tuaku juga memintaku cepat-cepat menikahinya.Tapi aku tidak bisa menjawab dengan ya atau tidak.Aku bahkan tidak pernah menyatakan cinta pada Yoona. Aku hanya akan tersenyum saat ia berkata sangat mencintaiku. Dan saat aku merampas mahkotanya tanpa ikatan yang jelas, aku merasa sebagai pria paling jahat didunia. Entahlah..padahal aku sudah berjanji untuk melupakanmu, padahal Yoona tidak kekurangan apapun, tapi sangat sulit bagiku untuk melihatnya secara utuh. Selalu ada bayang-bayangmu Nari.”

Benarkah begitu? Haruskah Nari bersyukur mendengarnya karena ternyata mereka sama?

“Aku memang bodoh. Berkali-kali Yoona bertanya kapan aku menikahinya. Kami sudah melewati banyak waktu dimana member lain sudah menemukan jodohnya, mereka memiliki anak tapi aku ?Belum bisa mengambil keputusan. Dan saat Kyuhyun mendahuluiku, melamar Yoona, barulah aku menyadari sesuatu. Jika aku…tidak bisa kehilangan dia. Aku tidak bisa ia dengan pria lain. Kesadaran itu terlihat sangat terlambat, tapi Tuhan selalu punya rencana baik. Kyuhyun tiba-tiba berubah pikiran dan mengembalikan Yoona padaku.”

Nari teringat kisah Yoona waktu itu. Bagaimana Kyuhyun tiba-tiba menarik tangan Eunhyuk  lalu berkata jika tugasnya sebagai penyatu hubungan mereka sudah selesai. Persis seperti drama-drama yang kerap membuatnya menangis dulu.

“Tuhan mempertemukan kita, lalu memisahkan. Kau bertemu dengan Max, aku bertemu dengan Yoona. Aku mengabaikan Yoona, aku menyakitinya. Disaat ia sudah melepasku dan lelah menunggu, aku baru menyadari jika dia sangat berarti, aku mencintainya,” Eunhyuk menarik nafas lalu melanjutkan, ”Cinta memang sulit dimengerti. Ia bisa datang kapan saja, entah cepat, lambat, jelas atau tak terlihat. Manusia juga kadang terlalu lugu untuk mengerti perasaannya sendiri. Dan tidak selamanya kita bisa menangkap sesuatu dengan tangan kosong, kadang juga butuh pancingan. Aku baru bisa menangkap perasaanku saat Kyuhyun memancingnya. Tidak ada kata terlambat. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan.”

Kini mereka saling berhadapan dengan Eunhyuk yang menghampiri Nari. Mereka bertatapan sejenak. Eunhyuk memegang kedua bahunya erat coba memberi keyakinan.

“Kau mecintainya. Kau mencintai Max. Berhenti membohongi diri sendiri,” ucap Eunhyuk yang membuat Nari sedikit membuka mulutnya tapi tidak ada kata yang keluar. Ia ingin bertanya ‘benarkah ?’ tapi bibirnya mendadak bisu. Otaknya bergumul dengan perkiraan ini.

“Ini bukan perkiraan. Coba kau jawab aku, kenapa kau begitu kekeh untuk tidak bercerai ?Apa guna dari semua yang kau lakukan dua minggu ini?Hanya karena untuk memperbaiki kesalahan? Hanya untuk membalas budi? Karena tidak ingin menyakiti Minho? Itu adalah alasan kesekian.Alasan utama adalah karena kau membutuhkannya. Kau mecintainya Nari.”

Nari diam. Matanya coba bicara dengan melihat kedalam bola mata Eunhyuk. Benarkah begitu ?Ia memang mulai merasakan ada sesuatu yang hilang saat Max tidak lagi disampingnya. Saat Max mengatakan cerai, mengatakan ingin berpisah, mengatakan tidak berminat memperbaikinya, itu seperti tusukan pisau, sakit.Ia rindu saat Max memeluk pingganggnya saat tidur, rindu saat Max mengecup keningnya, rindu aroma tubuhnya, rindu suaranya, rindu tingkahnya yang terkadang bisa berubah manja.

“Aku…” satu kata akhirnya muncul juga dari Nari. Tapi ia tidak tahu harus berkata apa. Kepalanya rasa ingin pecah memikirkan semuanya. Max, Minho, Eunhyuk, ia bingung. Jika benar apa yang dikatakan Eunhyuk tentang perasaannya, bagaimana dengan Max ?Pria itu seolah menutup segala akses untuknya memperbaiki. Jika benar tidak ada kata terlambat, apa itu juga berlaku baginya yang sangat berdosa ini ?

Setetes air mata jatuh, mewakili kata-kata yang mungkin ingin terucap. Eunhyuk menariknya dalam pelukan.Membiarkan Nari meluapkan perasaannya.

“Menangislah. Yakin kalau Max akan membuka mata dan kembali seperti dulu. Tidak ada kata terlambat. Tidak ada.”

Hening. Hanya terdengar suara isakan dari Nari yang berada dalam dekapan Eunhyuk. Lorong panjang dimana mereka berada benar-benar lengang tanpa ada suara lain atau tanda-tanda kehadiran orang lain. Mereka diam, membiarkan waktu terus berjalan hingga matahari diluar sana sudah bersembunyi dibalik awan, hingga langit berubah jingga dan gelap. Kini giliran tugas bulan dan bintang yang menyinari malam.

Nari mulai melepaskan diri dari pelukan Eunhyuk. Ia sudah mendapatkan satu keyakinan tentang perasaannya dan cukup sampai disini juga urusannya dengan Eunhyuk. Jika ia ingin mengembalikan kepercayaan suaminya, bukankah terus bersama Eunhyuk juga bukan hal baik ?

“Pulanglah!” perintah Nari yang tidak lagi menangis. Ia sudah tersenyum dan berdiri tegak.

“Aku akan menemanimu.”

“Tidak, mungkin seharusnya…maaf kalau ini terdengar tidak sopan, lebih baik mulai sekarang biar aku yang berjuang sendiri.”

Eunhyuk mengernyit bingung, “Maksudmu ?”

“Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu.Kau sudah membantuku untuk mencari mereka.Sekarang aku sudah disini, rasanya untuk urusan ini, biar aku yang menyelesaikannya. Lagipula…aku tidak ingin Max semakin salah paham jika kita terlalu sering…….”

“Aku mengerti,” potong Eunhyuk begitu bisa mencerna maksud pernyataan Nari. Meski ia sendiri masih ingin bertemu dengan Max, meyakinkan pria itu jika ia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap istrinya, tapi untuk sekarang ia turuti permintaan Nari itu.

“Kau juga punya tanggung jawab. Jangan tambah daftar rasa bersalahmu dengan mengabaikan Spenser, pulanglah !” pinta Nari lagi. Eunhyuk nampak masih ragu dan berpikir sejenak, sebenarnya kakinya juga ingin sekali berlari pulang.

“Tapi kau..”

“Aku bukan bayi.”

Eunhyuk tersenyum, menegakkan tubuhnya, “Telpon aku jika terjadi sesuatu,” katanya dengan nada serius.Nari mengangguk menenangkan dan membiarkan Eunhyuk berjalan meninggalkannya. Dari belakang, ia terus perhatikan langkah pria itu. Teringat dengan niat Eunhyuk kala itu yang ingin melakukan operasi.Dan sepertinya niatan itu tertunda karena masalah ini. Nari menunduk, rasanya  terlalu banyak sikapnya memakan korban.

“Hah..”

Narisandarkan tubuh dan kepalanya ke dinding. Sesaat tersenyum dengan membayangkan jika sebentar lagi ia akan bertemu buah hatinya. Melihat bocah cerewet yang dua minggu ini tidak meriuhkan suasana rumah. Ah Nari rindu semuanya.

Ia menoleh ke arah lift yang berjarak beberapa meter disana, berharap tiba-tiba terbuka dan tentu saja si pemilik pintu nomor 125 yang muncul. Tapi..hingga ia mulai bosan mengecek jam, hingga ia jenuh menatap lift itu, tidak ada tanda-tanda kedatangan Max atau Minho. Dengan malas ia mengecek jam tangan untuk kesekian kalinya dan waktu sudah memasuki pukul 10 malam. Akhirnya ia kalah juga, lelah untuk terus berdiri kuat dan memilih untuk duduk dengan meluruskan kedua kaki. Ia pijit pelan kedua kakinya bergantian sambil sesekali tetap menoleh ke arah sana mengharapkan hal yang sama.

“Aku akan tetap disini,” batinnya lalu dengan pelan ia pejamkan mata. Nafasnya terdengar teratur, pelan dan pelan sampai akhirnya seluruh kesadarannya hilang, terbawa arus mimpi.

 

____^^^^____

 

“Hyung…!” seru seorang remaja pria saat melihat Max keluar dari lift. Max tersenyum sambil mengusap punggung anaknya yang terlelap dalam gendongan.

“Hyung, sejak tadi ada noona cantik yang menunggu didepan pintu. Coba lihat !” tunjuk pria berkacamata itu pada Nari yang tertidur didepan pintu. Max terkejut. Dilihatnya benar-benar dan wanita yang terlelap itu adalah istrinya. Saat terasa pergerakan dari tubuh Minho, Max buru-buru masuk kedalam, merebahkannya dan meyakinkan jika ia tidak akan terbangun. Lalu mengambil selimut untuk dibawa keluar. Dengan hati-hati ia menutup pintu, tidak ingin menimbulkan suara yang membuat Minho ataupun Nari terbangun.

“Hyung..Noona ini siapa?” tanya pria tadi yang ternyata masih berdiri di samping Nari.

“Dia temanku, ini sudah malam sebaiknya kau masuk sebelum orang tuamu merusak gendang telingaku,” suruh Max pada pria imut itu.Ia memajukan bibirnya tanda tidak terima, tapi kakinya tetap melangkah masuk ke dalam pintu bernomor 126.

Kini hanya ada Max dan Nari. Max berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana. Matanya sibuk melihat-lihat ke atas, menahan cairan yang ingin keluar. Ia tarik nafas dalam sebelum berjongkok di depan sang istri. Ia tidak bisa melihat Nari seperti ini dan sayangnya ia lah penyebabnya.

“Apa aku menyakitimu ? Tolong jangan begini !” ucapnya sangat pelan. Ia usap rambut hitam Nari dengan lembut. Lalu ia ambil selimut yang tadi diletakan di bawah, ia tutup tubuh Nari dengan itu. Ia tatap sejenak wajah Nari, memuaskan matanya yang ingin melihat wajah itu lebih dalam. Kemudian perlahan ia berganti posisi. Mengambil duduk tepat disamping Nari dengan meluruskan satu kaki, sedang satu kakinya ditekuk. Agak ragu ia tarik pelan kepala Nari hingga bersandar dibahunya. Tangannya bergerak mengelus-elus kepala Nari.

“Aku mencintaimu. Aku tidak ingin memberikanmu pada orang lain. Aku sakit jika melihatmu justru melirik orang lain. Tapi bukankah aku egois jika terus mempertahankanmu sedangkan kau tidak mencintaiku?” tanyanya seolah Nari mendengar. Tangannya sudah berhenti dengan kegiatan tadi. Lalu sedikit ragu, ia genggam telapak tangan Nari. Jari-jarinya mengelus-elus lembut.Ia rindu tangan ini, ia rindu aroma tubuh ini, ia rindu semuanya, dan andai bisa, ia ingin kedua tangan Nari memeluknya erat memberinya kehangatan. Jika bisa, ia ingin momen ini bukan hanya ia yang menikmati, ia ingin merasakannya dengan Nari yang secara sadar membuka mata, dan membalas pegangannya. Sejenak ia pejamkan mata, menikmati deru nafas istrinya yang terdengar teratur dan sedikit menyapu lehernya.

“Aku melepasmu Nari, berbahagialah dengannya! Berhenti menyiksa diri sendiri dengan memaksakan perasaanmu yang bukan untukku,” ucapnya lagi dengan senyum kecut,”Aku tau diri.”

“Aku memilih cara ini, tapi..apa menurutmu ini yang terbaik? Kau tahu? Sebenarnya aku masih ragu,” lanjutnya dan kali ini ia kembali menangis. Dadanya sesak. Pisau yang pernah ditancapkan Nari dihatinya terasa menyayat lagi. Tapi kali ini ia sendiri yang melakukannya, dengan ulahnya, bukan karena Nari.

“Mungkin terdengar bodoh jika kau tahu kondisiku tapi aku tetap menginginkan Minho bersamaku. Tapi hanya dia yang kumiliki, dia kekuatanku.”

Max bingung dan mulai ragu dengan keputusannya. Melihat Nari seperti ini, perjuangannya, rasa ingin menarik ucapan perpisahan dan memberinya kesempatan, tapi…argh ! Siapa yang bisa menjamin kalau Nari tidak akan kembali seperti dulu ?terjepit dengan masa lalu, selalu melihat ke belakang, siapa yang bisa menjamin itu tidak akan terjadi lagi ? Jika kembali bersama hanya membuat Nari sakit, Max lebih rela melepasnya dan membiarkannya bersama Eunhyuk. Tapi untuk itu, ia ingin Minho tetap disisinya. Tapi itupun tak kalah menyakitkan untuk Nari.Dan Minho yang tidak mengerti apa-apa dipaksa untuk hanya melihat salah satu dari orang tuanya, bukan keduanya.

Kenapa semua langkah terasa begini sulit ?Berpisah ataupun tidak, selalu ada pihak yang tersakiti.Dan untuk pilihan yang terlanjur diambil Max terasa menyakiti semua pihak.Jadi ? Salahkah ia ?

BUG

Max memukulkan kepalan tangannya ke tembok. Tidak mengerti jalan mana yang harus diambil. Sekali lagi ia pejamkan mata membiarkan genangan air dimatanya yang tadi terbentuk kini mengalir deras. Dadanya makin berdenyut.Banyak yang ia pikirkan, banyak yang ingin ia sampaikan, tapi sulit untuk membuatnya menjadi kalimat benar. Bibirnya mendadak kelu hingga yang bisa ia lakukan hanya membiarkan tangisannya yang mewakili, mengatakanya lewat suara isakan. Tidak ada lagi seorang Max yang kuat. Yang tengah tertunduk sedih itu adalah Shim Changmin yang terjatuh dari ketinggian. Tidak ada lagi senyum palsu seolah ia tegar, seolah ia baja tak terkikiskan. Ia rapuh juga, dan sekarang….ia bahkan gagal meredam suara tangisnya.

Perlahan, Max gerakan kepalanya mengarah pada Nari. Ia kecup puncak kepala sang istri lama. Beberapa tetes air matanya jatuh di rambut Nari. Ia salurkan segala apa yang ia rasakan disana. Sungguh, ia sangat mencintai wanita ini. Kesalahan sebesar apapun yang telah diperbuat Nari tidak menyurutkan sedikitpun rasa cintanya.Ia sudah memaafkan apa yang sudah diperbuat Nari kala itu. Ia tahu itu soal perasaan yang tidak bisa dipaksakan. Justru ia yang merasa berdosa karena saat itu tangannya begitu lancang melayangkan tamparan, mengatakan hal-hal yang begitu menusuk. Sudah cukup ia menyiksa diri dan Nari selama 6 tahun ini. Ia terlanjur memilih jalan ini, terlambat jika ingin menariknya. Ia melepas Nari, melepasnya untuk bersama pria lain. Meski proses yang dilalui harus sesakit ini, ia coba terima.

“Aku pasti sembuh dan bisa menjaga Minho dengan baik. Ia akan tumbuh menjadi pria gagah sepertiku, tinggi, suaranya merdu, penyayang. Percaya padaku Nari, aku sanggup melewati ini.”

Max menguatkan pegangan tangannya pada Nari saat dirasa dadanya makin berdenyut. Ia takut. Takut membayangkan hari-harinya ke depan tanpa Nari. Takut melihat bagaimana ia menghadapi semua tanpa wanita itu. Lebih takut lagi melihat tangis wanita itu dan itu karena dia, “Mianhe..jeongmal mianhe…” pintanya lirih sekaligus sebagai penutup. Max memang tidak lagi mengatakan sesuatu. Ia pejamkan mata dan ikut menyandarkan kepalanya di kepala Nari, nampak enggan melepas pegangannya. Mereka……terlelap bersama.

 

***********Destiny************ 

 

Hangat, tenang, damai. Aku merasakan kehadirannya disisiku. Aku merasakan tangannya menggenggam tanganku. Aku merasa dia tengah menjagaku dari gangguan sekecil apapun. Aku rasa dia yang membuat suasana disekitarku mendadak sejuk, menyenangkan. Aku ingin terus begini. Aku ingin tangan kami terus bertaut dan tidak terlepaskan. Aku rela ia bawa kemanapun. Aku rela ia tarik ke bagian ujung dunia sekalipun asalkan kami tetap bersama.

Perlahan, aku membuka mata.Dapat kulihat hanya ada putih disekitar.Lalu mataku mengarah ke samping. Sosok itu tersenyum padaku. Ia belai rambut serta pipiku lembut. Satu tangannya masih menggenggam tanganku erat.Seketika ada sesuatu yang…entahlah. Sulit kujabarkan menjadi rangkaian kalimat.Yang aku tahu, aku seperti manusia paling primitif yang baru saja menemukan indahnya dunia luar.Aku merasa buta. Aku merasa selama ini terlalu dalam bersembunyi di hutan hingga tidak melihat jika didepanku ada sebuah kota besar yang indah.

Sentuhannya menghangatkanku.Senyumannya membuatku ikut tersenyum.ia seperti kekuatan utamaku yang akan melemahkanku jika ia melepas pegangannya. Ia seperti…candu bagiku. Sedetik saja aku tidak ingin berkedip melewatkan tatapannya.Kenapa aku baru menyadarinya sekarang ?

“Max…”panggilku padanya pelan.Ia menaruh telunjuknya didepan bibirku. Aku diam. Lalu telunjuknya bergerak penuh kehati-hatian disekitar bibirku.Aku hanyut oleh sentuhannya, memaksaku untuk menutup mata.Tak lama, aku merasakan sesuatu yang lembut dibibirku. Aku tahu, dan kali ini aku membalasnya, bukan mendorongnya  seperti dulu. Jika otak sintingku kerap menolak hal seperti ini, sekarang justru aku seperti enggan melepas. Tubuhku makin bergejolak, seolah tersengat listrik ribuan volt.

“Aku mencin….”

“Mianhe…”

Aku terkesiap. Satu kalimat dariku yang entah bagaimana ingin keluar justru dipotong olehnya. Satu kata itu ia ucapkan dan dalam seketika aku tidak merasakan lagi kehadirannya. Aku membuka mata, meraba bibir dan tanganku. Dimana dia ?aku melihat sekeliling dan tidak menemukannya. Putih yang tadi menyelimuti kini berubah gelap. Apa-apaan ini ?Aku berdiri. Bergerak tidak karuan mencari-cari sosoknya ataupun cahaya yang akan menuntunku. Tanganku menggapai-gapai sekitar tapi hanya udara yang kugenggam. Tuhan..jangan permainkan aku. Max..Minho..dimana kalian ?

“Noona..noona…”

Nari menggeleng-geleng gelisah dibalik tidurnya. Pria tampan dan imut yang sejak tadi membangunkannya ikut khawatir. Sejak tadi Nari menggumamkan nama Max dan Minho.

“Noona….jangan buat aku takut,” ucap pria itu cemas. Ia sudah duduk dihadapan Nari dan agak ragu mengguncang bahu Nari.

“Hah…” Nari terbangun. Kepalanya reflex melihat ke arah lift dan pintu secara bergantian, tidak memperdulikan sosok imut didepannya.

“Max..Minho..” panggilnya cukup nyaring. Ia berdiri dan baru menyadari selimut menutupi tubuhnya.

“Hm…Noona..” sapa pria yang sejak tadi diacuhkan itu. Nari akhirnya sadar juga akan kehadiran orang lain disini. Ia tatap pria itu penuh selidik. Ia rasa tidak kenal.

“Siapa kau? Mana Max dan Minho?” tanya Nari cepat.

“Hm..Perkenalkan, aku Yoseob. Changmin hyung  memintaku untuk menjaga noona sampai bangun,” jawab pria berkacamata bening itu dengan senyum lugunya.

“Lalu dimana mereka?” tanya Nari tapi ia reflex berbalik dan mengetuk-ngetuk pintu bernomor 125 itu. Yoseob berdiri dan bersandar pada dinding.

“Changmin hyung sudah pergi pagi-pagi sekali. Aku tidak tahu ia kemana, sepertinya pindah ke tempat lain.  Ia hanya memintaku untuk menjaga noona. Ah..padahal aku suka sekali bermain dengan Minho. Ia lucu, sepulang sekolah aku pasti akan bermain dengannya. Ak..”

“Minho?” potong Nari cepat. Tangannya tidak lagi menggedor-gedor pintu.Toh itu percuma.

“Noona kau tidak apa-apa?” tanya Yoseob khawatir melihat Nari yang meneteskan air mata. Nari tidak menjawab justru berlari kencang. Tangisnya sudah pecah.Ia tekan sembarang tombol pada lift. Tinggal berharap ia tekan tombol yang benar, yakni ke lantai bawah, bukan ke atas. Di dalam lift, ia tertunduk lemah. Ia benamkan wajahnya dalam lututnya yang melipat.

“Kenapa Max ?” lirihnya. Kenapa Max pergi lagi disaat ia hampir menemukannya?Kenapa disaat ia baru akan mengatakannya Max justru seolah tidak berminat mendengar? Apa kesempatannya sudah tertutup ?Ia rindu pada Max, ia rindu Minho. Ia tidak bisa bernafas dengan benar tanpa kehadiran mereka.

Pintu lift terbuka, beberapa orang memandang bingung pada Nari yang masih tertunduk di lantai. Merasa menjadi pusat perhatian, Nari cepat bangkit menerobos kerumunan orang yang sepertinya tengah antri untuk masuk lift. Ah masa bodoh !Sekarang Nari sudah melambai-lambai pada taksi di pinggir jalan. Begitu mendapatkannya, ia hanya berkata pada sisupir untuk melaju kemana saja. Sisupir yang kebingungan tetap melakukan tugasnya. Ia arahkan mobilnya kemanapun, sedangkan Nari mengedarkan pandangannya. Matanya menyelidik sekitar, siapa tau tubuh tinggi suaminya atau tubuh mungil anaknya terlihat.

“Maaf, sebenarnya kita mau kemana?” tanya supir itu untuk kesekian kalinya, kesal juga. Bagaimana tidak? sejak tadi tepatnya satu jam, mereka hanya berkeliling tidak jelas. Kadang Nari meminta berhenti lalu turun mendekati seorang pria. Dengan wajah kecewa ia kembali masuk dan LAGI meminta supir melaju dengan kecepatan pelan. Setelah melihat gelagat tidak baik pada Nari, maksudnya tanda-tanda tidak beruang karena tidak membawa dompet, si supir menurunkan Nari di pinggir jalan.

“Silahkan turun!” pintanya tegas. Nari mengernyit heran. Bukankah harusnya penumpang adalah raja bagi seorang supir? Toh, ia pasti membayar. Tapi Nari sedang tidak punya tenaga untuk berdebat. Ia rogoh saku jaketnya dan beruntung ada lembaran uang disana. Entah berapa jumlahnya, ia berikan saja semua. Lalu dengan membanting pintu, ia pergi, berjalan kaki.

*********

Cause baby tonight

The DJ got us falling in love again

Yeah baby tonight

The DJ got us falling in love again

So dance dance

Like its the last last night

Of your  life life

Im’ma get your right

Cause baby tonight

The DJ got us falling in love again

Jaejoong asik bergoyang seirama dengan music yang ia putar dengan volume paling kencang. Sejak tadi ia berdiri didepan cermin hanya dengan handuk yang melilit dipinggang. Bukannya langsung mengenakan pakaian yang sudah siap di atas ranjang, ia jutsru asik dengan memandang tubuhnya yang …… yeah memang cukup atletis itu didepan cermin.

Ponselnya sejak tadi berdering, bel pintu apartemennya juga berkali-kali berbunyi. Tapi bagaimana ia mendengar jika musiknya begitu nyaring ?Dan saat ia berbalik hendak mengambil kemejanya, barulah ia melihat sebuah nomor tak dikenal dilayar handphone. Ia matikan terlebih dulu musiknya.

“Yoboseo,” ujarnya santai sambil senyum-senyum sendiri didepan cermin.Belum puas rupanya memuji keindahan tubuhnya.

“Kau dirumah?” Jaejoong tersenyum mengerti, ia kenal benar suara itu.

“Ya, semalam aku baru kembali dari Cina, kenapa?”

“BUKA PINTUNYA!”

Jaejoong menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendapat serangan dadakan ditelinga. Sudah lama telinganya tidak mendapat terapi gratis dari Max. Benar-benar  menyakiti pendengaran. Dengan malas ia menuju pintu dan membukanya.

“Annyeong,” sapaan Minho lah yang pertama menyambutnya. Jaejoong tersenyum dan langsung membawa Minho dalam gendongan.

“Ais, paman lupa kau sudah besar, tidak lama lagi kau berumur 5 tahun bukan? Kau sudahtidak asik untuk ku gendong,kkk” kekeh Jaejong lalu menurunkan tubuh Minho di sofa. Dan matanya baru menyadari jika Max berjalan dibelakangnya dengan menarik dua buah koper.

“Hey, kau tidak bermaksud minggat kemari kan ?” canda Jaejoong sambil mendekati Max.

“Boleh aku tinggal disini?”

 

*********

 

Max duduk menyandar pada sofa. Jaejoong yang sudah berkemeja ikut duduk disebelahnya setelah membuatkannya teh. Sedangkan Minho tengah asik menonton dvd power rangers yang ia temukan di dekat televisi. Duduknya begitu tenang seolah itu tontonan yang begitu menarik. Tapi hanya di awal, karena sekarang sesekali terdengar ia berseru,”ciat ciat ciat ,,”

“Yakkk,,hoooo”

“Huwoooo..”

Max dan Jaejoong tersenyum melihatnya dan memilih diam saja. Beberapa menit yang lalu Max baru menceritakan apa yang terjadi. Bahwa ia sudah menggugat cerai Nari, ia meninggalkan rumah dan membawa Minho. Semuanya ia ceritakan.

“Menurutmu ini baik?” tanya Jaejoong memecah kesunyian antara ia dan Max. Karena suasana sebenarnya cukup rusuh dengan seruan Minho.

“Aku harap begitu,” jawab Max pelan, masih menatap pada tubuh Minho yang membelakanginya.

“Kau tidak terdengar yakin, ini bukan hal main-main.”

“Tadinya aku begitu yakin, tapi….entahlah, tadi pagi, melihat Nari seperti itu rasanya…aku.. apa aku salah hyung?” tanya Max lalu menghadap Jaejoong. Yang ditanya memasang wajah serius, tepatnya tidak mengerti harus berkata apa.

“Kau bertanya pada orang yang salah. Kau tahu aku buta untuk hal-hal semacam ini,” jawab Jaejoong jujur. Ia memang tidak bisa memberi nasihat untuk kasus ini. Jika Max bertanya tentang tipe-tipe wanita yang ‘hebat’ di kamar mungkin bisa ia jawab dengan lantang.

“Tapi…” Jaejoong nampak berpikir lalu melanjutkan, “Kau punya hak untuk bahagia Max. Kau mencintai Nari, tapi ia tidak. Kau melepasnya dan meminta hak asuh Minho. Sedikit terdengar adil tapi…Nari seorang ibu, tidakkah kau pikir ini akan menyakitinya? Meski dia bukan anak kandung kalian tapi coba kau lihat !Kau saja begitu ingin bersamanya, apalagi Nari?Dan melihat kondisimu…kau tahu bukan?”

Max mengerti benar akan hal itu. Ia pun rasanya tidak kuat jika harus melihat Nari menangis karena tindakannya. Tapi…apa untuk yang satu ini saja, ia tidak bisa memilikinya? Memiliki Minho? Dan ia pun sadar akan kondisi tubuhnya yang…yah…tidak sesehat dulu.  Mungkin bukan ide bagus bersikeras menjaga Minho sedangkan tubuhnya sendiri perlu dijaga dengan ekstra. Tapi ia sudah bertekad semalam, tidak akan mundur dengan pilihan ini. Bertanya pada Jaejoong hanya untuk menambah sedikit lagi keyakinan.

“Tapi aku yakin akan sembuh hyung. Aku berjanji akan terus sehat dan bisa membesarkannya.”

“Lalu kau sudah pikirkan mental anak itu? Aku yakin, selama pelarianmu, ia sudah sering merengek ingin bertemu Nari, benar kan?” tebak jaejoong yang mendapat anggukan dari Max. Tentu saja itu benar. Bahkan tadi pagi saat Minho terbangun di mobil, ia berkata ingin pulang, ingin bertemu Nari. Katanya ia bermimpi bertemu Nari tapi mamanya itu justru pergi.

“Aku pikir hanya masalah waktu, ia akan terbiasa.”

“Yah…semua terserah padamu. Jika menurutmu ini baik silahkan lakukan. Dan jangan lupa jika kau butuh sesuatu, masih banyak orang disekelilingmu. Kita semua ada disini Changmin-ah.”

Max tersenyum lalu menyesap tehnya sampai habis. Sepertinya iaberada di tempat yang tepat sekarang. Semoga Nari tidak kemari mencarinya, semoga saja. Meski kemungkinan Nari untuk kemari cukup besar, tapi toh mulai pagi sampai sore Max dan Jaejoong tidak akan ada dirumah melainkan di kantor. Jika Nari lagi-lagi kesana, ia cukup menyuruh sekretarisnya mengarang sejuta alasan atau security yang mengusir. Sedangkan Minho seperti biasa dititipkan pada orang tuanya. Untuk yang satu ini sudah terbukti aman. Sudah dua kali Nari kesana beberapa waktu lalu tapi orang tuanya selalu berhasil menyembunyikan Minho.

Tapi hal itu hanya akan terus berlanjut jika Eunhyuk tidak buka mulut. Nyatanya ia sudah memberitahu Nari jika malam itu ia melihat Minho dijemput oleh Max di rumah orang tuanya. Maka tanpa diinstruksikan, Nari jadi rajin kesana, mengecek, melihat dan kadang lebih pantas disebut mengintrogasi dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan. Tapi usaha Nari selalu tidak berbuah hasil. Orang tua Max lebih pintar menyembunyikan anak itu. Terlebih saat mereka memberitahu Max jika Nari mulai mengetahui semuanya. Max tidak lagi menitipkan Minho disana.

“Berhenti mempermainkanku!” ucap Nari penuh penekanan. Ia sudah berdiri dihadapan sang ibu mertua. Menatapnya tajam. Ia sudah kehilangan rasa hormat dan terima kasihnya pada wanita paruh baya itu. Sudah berhari-hari ia kemari, mengemis-ngemis memohon dipertemukan dengan Max dan Minho, berteriak memanggil nama mereka tapi tidak mendapat hasil apa-apa.

“Kau yang sudah mempermainkan anakku. Dimana rasa terima kasihmu pada Max ?Dia yang telah mengangkat derajatmu dari anak seorang buruh menjadi anak pengusaha kaya. Dia yang memohon-mohon pada kami agar menyutujui pernikahan kalian. Dia yang memohon agar kami membantu mengembalikan usaha ayahmu. Dia sudah melakukan segala hal untukmu tapi apa yang kau lakukan untuknya?” balas wanita itu tak kalah kuat. Nari terdiam mendadak kehilangan kata-kata. Semua kalimat itu adalah pukulan telak bagi Nari. Tidak ada yang salah dari apa yang dikatakan tadi. Ia memang tidak tahu malu, tidak tahu terima kasih, tidak punya perasaan.

“Aku memang bersalah. Aku memang tidak pernah berlaku sebagai istri yang baik. Tapi aku tidak pernah meminta semua harta itu. Silahkan ambil. Silahkan kembalikan aku pada derajatku terdahulu. Silahkan lempar  aku dan buat aku kembali menjadi penjaga kasir supermarket. 15 tahun aku hidup serba pas-pasan dan kembali kekehidupan lama pun tidak masalah. Tapi satu hal yang perlu kau ketahui. Aku menyesal. Aku sungguh menyesal atas apa yang kuperbuat pada Max. Aku ingin menebusnya. Dan cara penebusannya bukan seperti ini. Aku tidak ingin berpisah darinya. Dan tolong…..” Nari terisak. Kata-katanya berubah lemah, tidak lagi penuh emosi seperti tadi. Perlahan ia bersimpuh didepan ibu mertuanya,”tolong…pertemukan aku dengan mereka, dengan Minho. Anak itu tidak berdosa.Jangan biarkan ia ikut menanggung kesalahanku.”

Sang ibu mertua mundur dua langkah, berusaha menjauh dari Nari. Sebagai seorang ibu, sesama wanita iapun mengerti bahwa penderitaan paling menyakitkan adalah berpisah dari anak. Tapi, ia sudah kehilangan rasa kasihan pada Nari. Setelah mendengar semua dari mulut Max. Mendengar kejujuran yang selama ini ditutupi. Melihat bahwa anak satu-satunya selama ini berlaga baik-baik saja. Ia tidak bisa berbelas kasih pada Nari sekalipun Max sudah mengatakan jika jangan sekali-sekali menyudutkan wanita itu.

“Sudah kubilang Minho tidak ada disini. Max tidak lagi membawanya kemari.”

“Tolong…pertemukan aku dengannya,” pinta Nari tanpa menghiraukan kalimat tadi. Tangisnya sudah membanjir dan sebenarnya wanita didepannya pun tengah menengadah berusaha menahan air matanya.

“Pergilah Nari,” suruhnya tegas lalu menutup pintu dengan kasar.

********

 

Usaha Nari tentu tidak berhenti sampai disitu. Setiap hari ia akan berdiri didepan pagar rumah mertuanya persis seorang penguntit atau bisa dibilang ia mirip perampok yang tengah melihat-lihat kondisi rumah incarannya. Jika tidak mendapat hasil disana, Nari akan pergi ke kantor Max, menghubungi ponselnya yang sebenarnya percuma karena sudah tidak lagi bisa dihubungi. Max mengganti nomor ponselnya.

Nari nyaris tidak mendapat istirahat yang baik. Kantung matanya yang besar sebagai bukti berapa lama yang ia gunakan untuk tidur. Makannya pun tidak teratur. Sukur jika ia sedang ingin memasak nasi, sayur atau makanan lain. Kadang ia hanya minum atau merebus mie instan.

Narijuga tidak lagi berhubungan terlalu intens dengan Eunhyuk. Ia melakukan pencariannya pada Max dan Minho sendirian. Jika orang tuanya atau Eunhyuk menelponnya, ia cukup menekan tombol merah dan lanjut melangkah entah kemana. Kemanapun mengikuti kata hatinya yang mungkin saja akan membawanya bertemu Max atau Minho.

Dua minggu berselang, Nari tetap melakukannya sendirian. Bisa dibilang Nari memang menghindar dari Eunhyuk. Sudah cukup masalah yang dibuatnya, sekalipun niat Eunhyuk untuk membantu, sangat lebih baik jika Nari melakukan sendiri.

Sialnya, belum ada hasil baik yang ia dapat. Bahkan hingga hari ini, hingga hari sidang perceraiannya yang kedua semua masih sama. Waktu terasa menghianatinya. Begitu cepat dan tau-tau ia sudah dihadapkan hakim menyebalkan untuk memulai sidang. Dapat ia lihat Max seperti sidang sebelumnya, duduk tenang tapi kali ini…ia nampak pucat.

Ada rasa khawatir saat Nari memperhatikan wajah itu. Wajah yang tidak ia lihat selama 2 minggu. 2 minggu ini bahkan nyaris setiap malam ia memimpikannya. Ia rindu momen-momen bersama Max. Saat duduk diteras menunggu Max pulang, saat duduk bertiga dengan Minho di meja makan, saat membuatkan teh untuk Max yang asik didepan laptop hingga larut. Terlalu banyak momen yang dilewati dan bodohnya baru saat inilah Nari merasa membutuhkan lagi saat-saat seperti itu. Kenapa semua serba nampak terlambat?

Sidang yang beragendakan pembacaan tuntutan dari pihak penggugat ini terasa lebih lama bagi Nari. Terlebih saat mendengar nama Minho disebut. Ya, nama itu keluar dari mulut pengacara Max. Bahwa Max menuntut cerai istrinya sekaligus meminta hak asuh anak. Jika Minho anak kandung mereka, mungkin bisa dipastikan hak akan jatuh ketangan Nari. Tapi mengingat statusnya, mereka bisa punya hak yang sama.

Nari rasa ingin menutup telinga dari perdebatan yang dilakukan dua pengacara itu. Sekalipun mereka sudah diberi bagian masing-masing untuk bicara tapi tetap saja ada sahutan tidak terima saat salah satu melakukan pembelaan. Ini sidang cerai atau apa? Nari seperti berada di kursi pesakitan dimana ia sebagai tersangka.

Jika Nari sempat berpikir kalau Max masih menjaga perasaannya karena memakai alasan pertengkaran, kali ini sepertinya ia salah. Sebagai alasan untuk mendapat hak asuh Minho, pengacaranya membuka kembali kejadian malam itu. Bukan detailnya, bukan hal gila yang Nari lakukan bersama Eunhyuk ditengah malam dan hujan itu, tapi tentang sikap Nari yang mengabaikan Minho.

Hey, perlukah Nari mengucap terima kasih karena si pengacara botak itutidak berkata dengan lantang tentang kejadian sebenarnya malam itu? Nari mulai kehilangan konsentrasi. Terlebih saat hakim menanyakan kebenarannya.

“Apakah benar pada tanggal 1 agustus 2018, anda telah lalai menjaga anak anda hingga ia nyaris hilang?” tanya hakim itu tegas. Nari mengangguk. Itu benar, saat itu ia tengah menerima telpon dari ibunya dan tidak menyadari kemana anaknya. Beruntung ia justru ditemukan Eunhyuk. Tapi kalau tahu semua akan begini, apakah pertemuan dengan Eunhyuk bisa disyukuri?

“Apakah benar pada malam 28 september 2018  anda pergi meninggalkan rumah ditengah hujan, meninggalkan Minho yang tengah sakit?”

Kali ini Nari menggeleng dan si pengacara cepat menyela, “Itu tidak benar. Klien saya memang pergi itupun untuk menjaga anak dari sahabatnya. Dan ia sama sekali tidak tahu jika Minho sedang sakit.”

“Bagaimana mungkin seorang ibu tidak mengetahui kondisi anaknya? Harusnya sebelum memustuskan pergi, ia mengecek keadaan anaknya lalu..”

Nari menutup telinga, tidak ingin lagi mendengar hal-hal yang menyudutkannya. Haruskah segala hal privasi itu diungkap seperti ini? Ia sudah tidak kekurangan rasa sakit. Kepalanya sudah berputar-putar sejak tadi. Jika boleh, ia ingin berteriak ‘DIAM’ pada sekumpulan orang berdasi didepannya. Ia pusing. Terlebih saat pengacara dari Max juga membagi fakta bahwa peristiwa nyaris hilangnya Minho kala itu bukan yang pertama. Sial, sial, sial! Nari merutuk kebodohannya yang makin menyudutkan posisinya. Suasana makin kacau. Maka setelah mendapat permintaan stop dari hakim, sidang dihentikan dan akan dilanjutkan dua minggu ke depan  dengan agenda keterangan dari para saksi.

Nari duduk di tempatnya, tidak berkutik. Meski perlahan suasana sekitarnya sepi, ia tetap disitu. Dapat ia lihat jika Max dengan cueknya berjalan melewatinya lalu pergi, menoleh pun tidak. Kakinya lemas, tangannya tidak kuat untuk menahan tubuh suaminya. Ia ingin berteriak tapi sulit. Yang bisa ia lakukan hanya menangis, saat tubuh jangkung Max menghilang dibalik pintu.

Tapi beberapa menit selanjutnya barulah ia menyadari sesuatu. Mendadak ia punya kekuatan untuk berdiri dan berlari keluar. Ia melihat-lihat sekitar berharap belum terlambat.

“Dimana mobilnya?” batinnya bertanya sendiri kemana mobil Max. Bisa-bisanya ia lupa mengikuti. Kalau sudah begini, cara apalagi untuk menemukan tempat tinggalnya? Argh! Nari menendang ban mobil yang ada disampingnya, kesal.

 

***************

 

“Papa…” panggil Minho pelan. Ia dan Max sudah berada di mobil. Max baru saja menjemput dari rumah orang tuanya. Karena hari ini merupakan sidang perceraian, maka akan aman jika ia menitipkan Minho disana, toh Nari akan disibukkan dengan segala sidang.

“Iya kenapa sayang?”

“Kapan kita pulang?”

DEG

Max nyaris menginjak rem mendadak, terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. Ia tahu betul maksud dari kata pulang adalah yang sebenarnya, yakni ke rumah mereka dimana Nari berada, bukan apartemen Jaejoong.

“Belum saatnya sayang, sekarang kita harus tinggal di rumah paman Jaejoong dulu,” jawab Max setenang mungkin. Coba membuat Minho mengerti meski rasanya kurang berhasil. Minho nampak tidak puas dengan hanya diam. Jelas itu bukan sifatnya. Jelas sekali ia tengah marah. Max menghela nafasnya kuat,”Minho…kita beli es krim saja oke?” tawarnya dengan senyum. Minho menggeleng.

“Oke..” Max tidak menanggapinya lagi. Mungkin lebih baik ikut diam membiarkan anaknya seperti itu. Semoga tidak bertahan lama.

Sayangnya, sesampainya di rumah, suasana hati Minho bukannya membaik justru memburuk.Ia masuk dengan menghentakkan kaki dilantai. Mulutnya dimajukan beberapa senti. Sebenarnya itu lucu, tapi Max tahu anaknya benar-benar marah. Ia duduk disamping Minho.

“Minho..masih marah?”

“Minho mau pulang, Minho mau ketemu mama, Minho mau sama mama, Minho mau kita pulang SEKARANG!” sahut Minho keras.

Max kembali menarik nafas, mengatur emosinya yang ingin keluar. Ia pikir setelah satu bulan ini, Minho mulai terbiasa dengan semuanya dan mulai hanya melihat dirinya, tapi Minho masih merengek minta dipertemukan dengan Nari. Tidak bisakah anak itu hanya ingin bersamanya?

“Minho…mama sedang tidak bisa bertemu dengan kita. Sekarang Minho sama papa, Min..”

“PAPA JAHAT!”

Dua kata yang cukup membuat Max terdiam.Makin terasa jarum-jarum menusuknya. Sungguh, ia tidak punya niat seperti itu. Apakah ia jahat?

“PAPA PEMBOHONG!” teriak Minho lagi dan kali ini sukses membuat Max bangkit.

“Itu tidak benar! Papa hanya ingin bersamamu. Apa papa salah? Papa hanya ingin kau tetap disini, salah?” tanya Max keras seolah bocah yang baru akan menginjak usia 5 tahun itu mengerti. Minho ikut bangkit dan berjalan menuju pintu. Max memanggilnya tapi diacuhkan. Max berjalan dengan langkah panjangnya menutup akses bagi Minho untuk keluar. Ia berjongkok menyamakan tinggi badan Minho. Emosinya yang sempat hilang kendali mulai dapat dikontrol.

“Minho, maafkan papa, papa bukan bermaksud jahat tapi mama memang sedang tidak bisa ditemui. Nanti kalau sudah memungkinkan papa janji akan membawa Minho menemui mama, oke?” tawarnya sepelan mungkin sambil memamerkan senyum. Tapi, Minho masih kekeh dengan ekspresi marahnya. Alisnya mengkerut dan kakinya akan melangkah lagi. Max menahan.

“Minho sayang, tolong tetap disini, sama  papa,” pintanya sungguh-sungguh. Baru saja tangannya terangkat untuk mengelus kepala sang anak, sesak itu datang. Ia menunduk dengan lenguhan kecil terdengar, dan kelengahan itu jadi kesempatan bagi Minho untuk melangkah.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Max coba memanggil nama sang anak, coba menahannya. Tapi percuma, bocah ituterus melangkah mendekati pintu.

BRUKK

Minho berbalik mendengar suara dibelakangnya. Tubuh Max merosot kelantai.

“Papa..”

Minho mendekat. Ia takut, tidak mengerti harus berbuat apa, tidak mengerti papanya kenapa. Ia duduk dilantai dan menangis.Lalu mengguncang bahu papanya kuat.Ia benar-benar bingung.

“Papa…”

Minho makin diselimuti ketakutan terlebih saat perlahan papanya menutup mata. Kali ini ia guncang lebih kuat bahu papanya sambil terus memanggil.

“Papa…..bangun…Minho janji tetap disini..hkss..”

Papanya tidak merespon.Ia sudah kehilangan kesadaran dan Minho makin tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Setelah mengguncang tubuh papanya dan dirasa itu tidak berhasil, Minho berdiri menuju sofa, mengambil ponsel papanya. Ia tidak tahu siapa yang harus dihubungi, hanya menekan tombol hijau pada kontak pertama lalu menunggu hingga terdengar nada sambung. Masih dengan menangis dan mata mengarah pada papanya, Minho menunggu telpon itu diangkat.

“Ada apa Changmin-ah?” tanya seseorang disana. Minho kenal suara itu.itu suara paman Jaejoongnya.

“Paman…” lirihnya, “Papa….papa….Minho takut paman,” isakannya makin bertambah. Sambungan telpon terdengar cepat diputus. Minho kembali mendekati papanya dan duduk disampingnya. Ia lipat kedua lututnya dan membenamkan wajah disana. Ia hanya bisa menunggu, menunggu paman Jaejoong tiba atau menunggu papanya membuka mata.

“Papa..bangun..”

*****

*****

TBC!!!!!

Thanks banget buat yang sudah sedia membaca, mengikuti dan menunggu kelanjutan FF ini. DUA CHAPTER depan adalah DUA CHAPTER TERAKHIR. Semoga pada suka endingnya ntar, hehe. Makasihhhh sekali lagi.

7 thoughts on “DESTINY PART 10

  1. aiiiisssshhh makin penasaran sama endingnyaaaa
    author sumpah dehhh feel nya dapet bangettt, bikin nyesek, apalagi kenyataannya max nya juga lagi sakitt.
    cepet dilanjut dong adminnim.
    atau author katanya udah pernah dipublish ditempat lain yaa, bisa minta linknya?

    • Sdh pernah dipublis thun lalu di misskyusuieworld. Tp Sayang sekali, karna ada masalah, smua ff freelance disana dihapus. So, tunggu lanjutannya disini aja ya, hehe. MAKASIH!

  2. chunnie_man berkata:

    Kalau max masih cinta kenapa harus minta cerai dengarkan dulu keinginan nari.mgkin diksh ksmpatan ke 2 akan lbh baik.max payah.gregetannn liatnya.semoga chapter berikut bahagia n ga ada pihak ke 3.trs jeje asik didunia dia ya eonn!!mudh2an happy end jg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s