Destiny Part 9


Cast : Nari (OC)

Max Changmin

Lee Hyukjae

Other cast

Genre : Romance, Family, Angst

Rate : PG-17

******

Omong kosong !

Ini pasti hanya bualan. Aku tidak terima. Pernikahan kita diikat dihadapan Tuhan dan kertas bermaterai ini tidak bisa mengubah apapun.

 

Apa kau benar-benar lelah Max ? Kau tidak melihat keseriusanku kali ini ? Tolong terima jabat  tanganku ! Genggam dan bawa aku kemanapun…

 

Tolong…

 

**************

 

Max duduk dengan santainya sambil menyeruput kopi yang baru diantarkan. Punggungnya bersandar pada kursi, satu kakinya bertumpu pada paha. Wajah datarnya mengelilingi tiap sudut restoran, mungkin mencari objek yang cukup menarik untuk dipandang ketimbang wanita yang menunduk didepannya. Ia begitu santai seolah tengah bicara dengan rekan bisnis untuk memulai kerja sama.

 

Kita cerai….

 

Dua kata itu baru saja Max ucapkan. Setelah itu tidak ada balasan kata dari wanita didepannya. Max cukup lama menunggu bahkan cukup untuknya memesan kopi serta menghabiskannya sebentar lagi. Berkali-kali terdengar desahan darinya. Sesekali ia mengetuk-ngetukan jari di meja. Tapi sepertinya..Max perlu angkat suara lagi.

 

“Aku tidak ingin kau mempersulitnya, cukup tanda tangani, selesai,” ujarnya semudah meminta Nari menulis angka 1-10. Dan kalimat itu membuat Nari bangkit juga dari lamunannya. Genangan air dimatanya makin ingin mengalir tapi masih bisa ditahan. Sejak tadi ia menunduk memikirkan semuanya. Ia masih menunggu siapa tau suaminya tiba-tiba berteriak ‘kena kau !’.  Siapa tau ini hanya lelucon yang dibuat suaminya untuk membuatnya tertawa. Tapi..pria yang kembali menyesap kopinya itu bukan tipe orang yang suka melucu.

 

Baru saja ia diberi angan-angan tapi dalam hitungan jam ia kehilangan harapan itu. Baru saja suaminya berkata sudah memaafkannya, tapi detik berikutnya sudah mengatakan cerai. Suaminya menerbangkan sekaligus menjatuhkannya dalam satu tepukan. Lalu apa maksud dari teh, perban dan kertas bertuliskan ‘aku mencintaimu itu’?

 

“Kau serius?” tanya Nari yang langsung dijawab dengan senyum tipis dari Max. Sudah jelas bukan jawabannya ?

 

“Aku tidak bisa. Aku tidak mau menandatanganinya !” tolak Nari tegas. Ia tutup map itu dengan kasar. “Bukankah kau bilang sudah memaafkanku dan Eunhyuk? Lalu ini apa?” Nari mengangkat map itu ke udara, menyalurkan kekesalannya.

 

“Aku memang sudah memaafkan kalian,” jawab Max lemah. Tidak lagi terdengar arogan dan dingin seperti tadi. “Tapi keputusan ini harus diambil. Aku ingin kita berpisah secara baik-baik.”

 

Nari menarik nafas sekali lagi. Dadanya sesak. Dan  cairan bening yang sejak tadi berteriak ingin keluar  akhirnya tumpah juga. Ia menggeleng, berusaha menahan emosi. Ia pikir akan lebih baik jika bicara dengan pelan,  lalu satu tangannya memegang telapak tangan Max yang tergeletak diatas meja.

 

“Max…” lirihnya. Max berusaha membuang pandangan dan dengan pelan melepaskan pegangan itu. Batinnya berharap Nari bisa menerima keputusan ini, bukan menangis seperti sekarang. Itu justru membuatnya sakit.

 

“Kau harus mempercayaiku sekarang. Aku akan berubah. Aku benar-benar ingin memperbaiki apa yang sudah aku rusak. Kita mulai semua dari nol,” pinta Nari pelan. Lalu melanjutkan,”Kumohon….!”

 

Max menggeleng dan menegakkan tubuhnya yang sejak tadi nampak santai, “Tidak Nari. Kita harus berhenti di titik ini. Kita tidak bisa lagi melanjutkannya.”

 

“Max, aku sadar aku sangat salah. Kau cukup sakit selama hampir 6 tahun ini. Kau bahkan terlalu mustahil untuk wanita sepertiku, tapi…bisakah aku berharap kemustahilan itu jadi nyata? Tolong, beri aku kesempatan!” pinta Nari lagi dan kali ini wajahnya sudah sangat basah.

 

“Tolong Nari. Berhenti bersikap seperti ini. Jangan mempersulit prosesnya,”

 

“Dan berhenti bicara seperti itu! Aku benar-benar akan mempersulitnya,” jawab Nari berubah emosi, penuh penekanan tiap kata. Matanya menyorot tajam. Ia tidak bisa pasrah begitu saja.

 

“Hah..” desah Max lalu kembali menyandarkan punggungnya.

 

“Perlu kau tahu aku sangat mencintaimu melebihi siapapun, melebihi pengetahuanmu, diluar jangkauanmu. Tangisanmu seperti jarum yang menancap disini,” ungkap Max menunjuk dada sebelah kirinya,”Aku bahkan masih punya banyak rancangan tentang kita yang belum dijalankan. Aku masih ingin memperlihatkan padamu bagaimana aku bemain sky. Aku masih ingin memperlihatkan kemampuanku bermain sulap yang akhir-akhir ini kuajarkan pada Minho. Aku masih ingin mengajakmu ke suatu tempat, kita bertiga du…..” Max tiba-tiba menunduk, menghentikan kalimatnya yang tidak bisa lagi dilanjutkan. Untuk satu menit, mereka sama-sama diam, sibuk menahan sesak. Beberapa orang yang tengah menikmati makan siang mereka cukup teralihkan dengan adegan itu.

 

“Aku tidak memikirkan ini sehari dua hari Nari. Jauh sebelum ini, aku sudah memikirkannya.”

 

Nari kehilangan kata-kata. Ia tatap mata calon mantan suaminya itu berharap kemurahan hati untuk kesekian kalinya. Tapi mata hitam itu membalasnya dengan kuat, seolah mengatakan jika ia tidak akan merubah keputusan. Nari kalah. Ia menunduk membiarkan air matanya terjun bebas membuat celana yang ia pakai basah.

 

Sungguh, bukan hanya Max yang punya banyak angan-angan itu. Ia pun sudah jauh membayangkan ke depan. Bagaimana ia dan Max berdiri menyaksikan putra semata wayang mereka mengikat seorang gadis dihadapan Tuhan. Ia dan Max mondar mandir didepan pintu ruang bersalin lalu mendengar suara tangis bayi. Mereka menggendong cucu mereka, dipanggil nenek dan kakek. Melihat rumah mereka yang kelewat besar itu diisi bocah-bocah yang berlarian. Lalu bocah itu tumbuh dewasa hingga akhirnya menemukan pasangan hidup. Mereka memiliki cicit. Dan ditutup dengan mereka yang terbaring bersama untuk berpamitan pada semuanya. Itu terlalu indah. Nyatanya itu hanya rancangan yang mustahil tercapai.

 

“Tunggu!” Nari sontak mengangkat wajahnya. Baru tersadar akan satu hal penting, “Bagaimana dengan Minho?”

 

“Bersamaku akan lebih baik.”

 

Pranggg

 

Jika tengah memegang cangkir minuman, dipastikan benda itu akan meluncur kelantai dan pecahannya menusuk-nusuk kaki Nari. Bagaimana bisa Max memilih seperti ini ? Ini jelas merugikan bagi anak itu. Jelas ini salah. Perpisahan yang disebut baik-baik oleh Max dianggap tidak baik oleh Nari.

 

“Kau bercanda? Dia bahkan hanya tau kita ada di kiri dan kanannya menuntunnya berjalan. Dia hanya tau kita menjadi penangkap bola yang ia lempar sembarangan. Dia hanya tau kita duduk bersama untuk makan. Bagaimana bisa kau sebut ini baik? Ini yang terburuk!” ucap Nari dan kali ini ia tidak bisa mengendalikan emosi. Intonasinya cukup untuk menarik perhatian sekitar.

 

“Ini hanya masalah waktu. Ia akan terbiasa, ia ak..”

 

“Kau tega menyakitinya? Tidak. Kita tidak akan bercerai!”

 

Max menghela nafas –lagi-. Sejenak mengedarkan pandangan sambil terus berusaha mengatur emosi dan tenang, “Apa yang membuatmu begitu kuat ingin tetap lanjut ? Sudah jelas tidak ada cinta darimu dan tidak ada kepercayaan dariku, lantas untuk apa?”

 

“Jika kita begitu sulit untuk menyatukan itu, setidaknya kita bertahan demi Minho,” balas Nari masih mempertahankan emosinya. Dan kali ini orang-orang mulai menggeleng malas melihatnya.

 

“Melihat orang tuanya seperti ini juga bukan ide baik. Ini yang terbaik Nari, percayalah!”

 

“Tidak ada perceraian yang disebut baik.”

 

“Kenapa kau begitu keras kepala?”

 

“Kenapa kau juga begitu keras ingin bercerai?”

 

“Jangan egois Nari! Kau tidak bisa terus-terusan ingin bersamaku sedangkan hatimu dengan orang lain.”

 

“Kau juga egois! Menginginkan hak asuh Minho tanpa berpikir itu akan menyakitinya.”

 

Max mulai tidak tahan. Telapak tangannya yang masih menyisakan bekas luka itu nyaris menapak keras diatas meja. Tapi sebisa mungkin ia mengontrol semua.

 

“Aku tidak berpikir makan siang kita berjalan seperti ini,”desah Max pelan.

 

“Kau sebut ini makan siang ? Kita bahkan belum memesan makanan apa-apa. Kau terlalu semangat mengajukan kertas sialan ini!”

 

Nari sudah termakan emosi. Terus membalas dengan kuat, urat bukan dengan otak yang jernih dan hati. Kemudian Max tiba-tiba bangkit. Mengambil tas serta jasnya yang tadi diletakkan di kursi kosong disebelahnya. Ia tidak bisa berlama-lama disini melihat istrinya melawan, menangis dan itu karena dia. Ia merasa jahat. Dan lebih baik ia pergi, toh sudah ada seseorang yang sebentar lagi akan menopangnya.

 

“Pikirkan ini baik-baik,” kata Max sebelum berjalan lalu menghilang dibalik pintu.

 

Max sudah tak terlihat. Max sudah pergi meninggalkan Nari bersama map hijau tersebut. Nari hanya diam, menatap hampa pada pintu kaca beberapa meter didepannya. Satu tangannya meraba dada. Sakit, sesak, seperti separuh bagian dari dirinya ditarik keluar.

 

GREP

 

Nari merasakan sebuah tangan menariknya dalam pelukan. Sepasang tangan yang menghangatkannya. Tanpa berbalik pun Nari tau siapa pemilik tangan itu. Para pengunjung saja sangat terganggu dengan ulahnya dan Max, apalagi pemilik restoran ? Pasti sudah menyaksikannya. Jadi jika tujuan Max mengajaknya ke restoran Eunhyuk adalah untuk ini, bukan karena ingin mengajak Eunhyuk berjabat tangan, Nari tidak tahu harus berterima kasih atau apa.

 

Si pemilik tangan alias Eunhyuk tidak bersuara. Ia hanya ingin membuat Nari meluapkannya. Kalau perlu silahkan berteriak asalkan bukan mematung, menggigit bibir, dan tidak bernafas dengan teratur seperti ini.

 

Tapi akhirnya…pertahanan Nari runtuh. Ia hancur….

 

___Destiny___

 

“Kau yakin baik-baik saja?” tanya Eunhyuk dari dalam mobil. Nari baru saja turun dari mobilnya dan berdiri sejak beberapa detik yang lalu. Dan pertanyaan tadi adalah kalimat pertama yang diucapkan Eunhyuk sejak insiden di restoran tadi.

 

“Pulanglah!” pinta Nari pelan. Dan itupun merupakan kata pertama yang diucapkan Nari sejak tadi. Eunhyuk menghela nafas kuat. Tatapannya lurus ke depan, “Aku harus bicara pada Max, aku punya andil besar atas ini.”

 

“Kumohon, pulanglah!” pinta Nari sekali lagi. Tanpa menunggu jawaban dari Eunhyuk atau menunggunya melajukan mobil, Nari melangkah kedalam. Langkahnya seperti terseret dengan beban karung beras 50 kg.

 

Nari melemparkan tubuhnya di pembaringan. Ia pejamkan mata sejenak sambil memijit keningnya. Hanya dalam satu hari semua berbalik 180 derajat. Baru tadi pagi ia merasa akan menggenggam semuanya, tapi belum sempat itu terjadi, semua sudah pergi tanpa sempat disentuh olehnya.

 

Hening, sepi. Nari tidak mendengar seruan anaknya, sambutan Minho yang selalu heboh jika melihatnya. Bukankah saat ia menjemput Minho tadi, sang mertua berkata jika Max sudah menjemput ? Astaga! Nari baru menyadari sesuatu, ia membuka pintu dengan kunci yang ia bawa, yang artinya rumah tidak sedang berpenghuni. Jadi..?

 

Nari mendapat firasat buruk. Meski terlalu cepat menyimpulkan tetapi semua kemungkinan bisa terjadi. Maka sekarang ia sudah berada di kamar sang anak.  Memanggil-manggil nama Minho dan suaminya. Tidak ada sahutan, tidak ada respon. Baru saja ia ingin berlari keluar, ia berhenti. Matanya menangkap hal aneh lain. Lemari mainan anaknya yang berada disudut kamar, hanya menyisakan satu kepingan puzzle. Dengan cepat ia berbalik dan membuka lemari pakaian. Dan benar saja ! Sama seperti nasib lemari mainan itu, bahkan tidak ada sehelai benang pun di lemari itu.

 

Apa Max seserius itu sampai nekat membawa Minho sekarang ? Tanpa bicara, pamit dan hal-hal lain ? Nari coba berpikir positif. Mungkin saja Max hanya mengajak Minho menginap di rumah orang tuanya atau dirumah siapapun itu, itupun kalau masuk akal menginap dengan memboyong semua pakaian serta mainan.

 

Tanpa pikir-pikir lagi, Nari bergegas turun dan keluar. Sialnya kejutan lain menyambutnya diluar. Guyuran air yang entah bagaimana tiba-tiba datang. Nari mendecak kesal. Kenapa cuaca selalu menantangnya ? Seolah bekerja sama dengan Max untuk mempersulitnya. Rasanya baru saja ia masuk ke dalam rumah dan tidak ada tanda-tanda akan hujan. Dengan segala rasa jengkelnya, Nari tetap berjalan menembus hujan. Melambai-lambai tidak jelas pada semua mobil yang melintas, tentu saja mencari taksi.

 

Nari berhenti sejenak untuk melihat-lihat sekitar. Ia usap wajahnya yang semakin basah. Ia usap-usap pula kedua tangannya meski hal itu tidak akan mengurangi  rasa dingin. Beruntung, sebuah taksi berhenti tepat didepannya setelah aksi melambai-lambainya sejak tadi.

 

Nari sudah menyebutkan alamat rumah mertuanya pada si supir. Meski kemungkinan itu hanya 30 %, karena jika ingin menginap di sana, Max tidak perlu menjemput Minho dulu. Tapi itu tebakan pertama, jika terbukti tidak benar, maka pilihan kedua adalah apartemen Jaejoong. Jika tidak ada juga, kemanapun akan Nari cari. Nari juga terus menghubungi ponsel Max, tetapi tidak diangkat dan terakhir sudah tidak aktif lagi. Ia coba hubungi nomor telpon rumah mertuanya dan sama, tidak ada respon. Ia sempat ingin menghubungi orang tuanya, tapi…rasanya mustahil jika Max kesana.

 

Belum selesai dengan tebakannya tentang keberadaan Max dan Minho, ia sudah dibuat semakin geram karena taksi tiba-tiba berhenti. Si supir berkali-kali coba menyalakannya tetapi tidak berhasil. Oh..apalagi ini ? Supir itu keluar dari mobil dan membuka kap mobilnya. Tak lama ia masuk kembali dan memperlihatkan tampang menyesalnya pada Nari.

 

“Mianhe, mobilnya mogok. Saya tidak bisa mengantarkan Anda. Sebaiknya Anda mencari taksi lain,” ucapnya sopan dan penuh maaf. Tapi bagi Nari kalimat tadi sama sekali tidak memperlihatkan penyesalan. Ini gila ! Ia diminta keluar ditengah hujan di malam begini ? Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia keluar dan berdiri di trotoar. Kembali melambai-lambai pada setiap mobil. Sekalipun itu bukan taksi, Nari tidak perduli.

 

Untuk sementara, kedua kakinya masih punya toleransi, bahkan masih sanggup jika ia harus berjalan kaki menuju rumah yang dituju. Tubuhnya pun masih cukup kuat jika ternyata hujan tidak mau berhenti. Silahkan hukum dia, karena dia tidak akan menyerah.

 

Sebuah mobil akhirnya berhenti didepan Nari dan itu bukan taksi. Sempat terbesit bagi Nari untuk kembali masuk saja ke dalam taksi. Takut kalau si empunya mobil bukan orang baik-baik. Tapi saat kaca mobil terbuka memperlihatkan isinya, Nari tersenyum lega.

 

“Kyuhyun ?” teriaknya karena tertutup suara hujan. Kyuhyun pun cukup terkejut tapi matanya seolah mengatakan pada Nari,’jangan pasang tampang bingung seperti itu, lebih baik cepat masuk saja bukan ?’. Seolah mengerti, Nari membuka pintu dan masuk. Ia keringkan rambut serta tubuhnya dengan jaket yang ia kenakan. Terlihat bodoh dan tidak berguna, tapi ia tidak punya handuk atau kain lain yang lebih memungkinkan.

 

“Apa yang kau lakukan?” tanya Kyuhyun sambil mengemudi.

 

“Bisa tolong kau antarkan aku ke rumah orang tua Max?” tanya Nari balik tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun. Yang ditanya nampak berpikir sejenak, meski ia penasaran tapi tidak ingin terlalu tau apa yang terjadi. Yang jelas tidak mungkin hanya hal kecil yang terjadi hingga Nari nekat hujan-hujanan begini.

 

“Baiklah.”

 

Maka dengan tuntunan Nari, Kyuhyun membawa mobilnya menuju rumah yang dituju. Sepanjang perjalanan tidak ada yang berniat untuk mengobrol atau bertanya lebih jauh. Yang Nari pikir hanya ingin cepat sampai dan Kyuhyun hanya ingin membantu. Sesekali suara petir cukup mengagetkan dan membuat Nari menutup telinga. Saat-saat seperti ini, biasanya Max akan memeluknya, memberi kehangatan dan perlindungan. Memberinya keyakinan jika itu bukan apa-apa, hanya hal biasa yang terjadi saat hujan, hanya petir. Dan Nari tiba-tiba saja rindu akan momen itu. Momen yang kemungkinan besar tidak akan lagi ia alami.

 

“Ini rumahnya ?” tanya Kyuhyun membuyarkan lamunan Nari. Nari menoleh dan memperhatikan, memang benar ini rumahnya. Maka ia cepat-cepat turun lalu dari luar menunduk, mengucapkan terima kasih. Ia berlari ke sana dan dengan cepat sudah berdiri didepan pintu. Ia pencet bel berkali-kali. Tangannya sudah sangat gatal ingin memukul-mukul pintu itu dengan kuat. Namun, baru saja tangannya terangkat, si pemilik rumah terlihat.

 

“Nari ?” ucap wanita paruh baya itu alias sang mertua. Ia diam beberapa detik memperhatikan Nari yang…cukup berantakan. Jaketnya hanya sedikit menutup tubuhnya, bukan dipakai. Tubuh basah kuyup dan bibir sedikit pucat. Oh,jika boleh bersikap tidak sopan, Nari ingin berteriak,’jika itu adalah tatapan iba, kenapa tidak langsung menyuruhku masuk ? ini dingin.’

 

“Astaga Nari..cepat masuk,” suruhnya sambil menuntun Nari yang mulai menggigil. Nari duduk di sofa ruang tengah dan tak sampai semenit, seorang pelayan sudah menyediakan coklat panas untuknya. Dan tanpa dipersilahkan pun Nari langsung menyeruputnya perlahan.

 

“Jadi ? Ada apa Nari ? Ini sudah malam, dan ..mana Max dan Minho ?”

 

Nari nyaris tersedak.  Ia letakkan cangkirnya diatas meja dengan gemetar. Tebakan pertamanya salah besar. Suami dan anaknya bukan disini.

 

“Jadi ?” tanya ibu mertuanya sekali lagi. Nari masih mengukir alasan yang tepat, tapi ia tidak cukup pintar untuk itu, terlebih saat genting begini, “Hmm..ah kami hanya tengah bermain petak umpet, dan sepertinya aku salah menebak tempat persembunyian mereka.”

 

Nari bangkit dan dengan cepat meninggalkan rumah, mengacuhkan teriakan mertuanya. Ia pun tahu jawabannya tadi sangat bodoh. Orang waras mana yang bermain petak umpet di cuaca buruk seperti ini ?

 

Nari sudah berlari lagi dipinggir jalan. Sedikit berharap Kyuhyun masih disekitar sini tapi rasanya mustahil. Jalanan begitu lengang, seolah hanya dialah satu-satunya makhluk disana, sendirian. Tubuhnya sudah berteriak minta dihangatkan, kakinya pun mengoceh cerewet minta diistirahatkan. Nari lepas sepatu high heels nya lalu dilempar ke sembarang  arah. Persetan jika mengenai kepala seseorang. Lagipula tidak ada orang gila lain yang berlari-larian ditengah hujan begini.

 

Ya, Nari memang nampak seperti orang stress yang kabur dari rumah sakit jiwa. Langkahnya sudah tak tentu arah. Meski ia berniat menuju rumah Jaejoong, tapi kakinya berkata lain. Kakinya melangkah tidak pasti.

 

“Seberapa berat lagi hukuman untukku ? Perlihatkan ! Aku akan menghadapinya,” batinnya coba meyakini jika ini belum apa-apa. Bahkan ia sudah berpikir, jika tiba-tiba Max memang berada dirumah Jaejoong, ia akan berlutut di depan rumahnya menunggu belas kasih, persis seperti adegan-adegan drama. Tapi..rencana tinggal rencana. Nyatanya ia sudah kehilangan kerja sama dengan tubuhnya. Seketika ia mencium aspal. Gelap.

 

____^Destiny^____

 

 

“Mama !!!”

 

“Ada apa sayang ?”

 

“Nanti jemput Minho kan ?”

 

“Tentu saja”

 

CUP

 

“Minho !!!”

 

Nari terbangun dengan nafas terengah. Dahi serta pelipisnya sudah dibanjiri keringat. Mimpi itu…mimpi itu datang seolah mengingatkannya jika mungkin saja itu adalah percakapan dan pertemuan terakhir mereka.

 

“Minumlah dulu!” perintah Eunhyuk yang sepertinya sudah duduk disamping ranjang sejak tadi. Nari menoleh dengan tatapan bingung, bukan menerima segelas air putih yang ditawarkan. Ia melihat-lihat kamar, sepertinya ini kamarnya, lalu ia menunduk melihat pakaiannya, dan ini bukan pakaian yang ia pakai semalam.

 

“Kyuhyun membawamu kesini, Jiyeon yang menggantikan pakaianmu,” jelas Eunhyuk seolah mengerti kebingungan Nari.

 

“Jadi…apa yang terjadi semalam?” tanya Eunhyuk. Nari menunduk sebentar untuk mengumpulkan kekuatan, rasanya sulit mengingat jika kemungkinan besar Max membuatnya terbiasa untuk tidak melihat Minho lagi.

 

“Max dan Minho tidak ada di rumah. Aku tidak tahu dia langsung bergerak sejauh ini. ini terlalu mendadak, aku tidak akan pernah siap kehilangan mereka, terutama Minho.” Nari memandang kosong ke depan. Lalu menutup matanya pelan, ia lelah.

 

“Aku…aku sudah bicara pada Max,”

 

“A..apa ?” Nari membuka mata dan tentu saja kalimat tadi sangat mengejutkan.

 

“Ya, semalam aku  mencari kontaknya di ponselmu, tidak ada respon sampai akhirnya telpon yang ke sepuluh ia angkat.  Dia tidak memberitahuku apa yang terjadi, yang jelas…dia tidak merespon apa-apa saat kuceritakan kondisimu.”

 

Nari tersenyum getir, “Begitukah?”

 

“Dengar !” Eunhyuk menatap Nari dengan menyalurkan segenggam keyakinan, “Max bersikeras untuk berpisah. Kau harus perjuangkan pernikahan kalian. Aku akan mencarikan pengacara hebat untuk membantumu.”

 

Mereka diam sejenak, saling memandang. Nari coba mencari-cari sensasi aneh yang biasa ia rasakan saat bersentuhan dengan pria didepannya ini. Biasanya akan ada magnet yang membuatnya sangat tidak berkenan melepas sentuhan itu. Tapi sekarang…ia bahkan ingin cepat-cepat menjauhkan tangannya. Ah, Nari menggeleng, bukan saatnya memikirkan itu.

 

“Kau percaya padaku? Aku akan melakukan apapun untuk memperbaiki kesalahanku.”

 

“Tapi Itu tidak terdengar baik, dan jika keinginan Max dikabulkan pengadilan, bagaimana dengan Minho ? Aku tidak mau menjadikannya bahan rebutan.”

 

“Tidak akan terjadi, kita akan berusaha.”

 

Eunhyuk memang menyewa pengacara handal yang sudah malang melintang untuk urusan perceraian rumah tangga para selebritis. Nari yang memang buta akan hukum hanya mengikuti perintah Eunhyuk untuk mempersiapkan ini dan itu, termasuk segala berkas yang dibutuhkan. Eunhyuk pula yang berusaha keras untuk bertemu dengan Max. Jangan pikir itu gampang. Ia sudah mengecek ke rumah Jaejoong, tentu atas pemberitahuan Nari, tapi sahabat Max itu katanya tengah pergi ke Cina. Dan rumahnya tidak memperlihatkan tanda-tanda tengah berpenghuni.

 

Berkali-kali pula Eunhyuk mendatangi kantor  Max, kadang bersama Nari tapi nihil. Ada-ada saja alasan dari sekretaris disana. Mulai dari Max sedang meeting di luar, belum datang, sudah pulang dan lain-lain. Sekalipun Nari sudah membentaknya karena ia adalah istri dari bos nya itu, si wanita seksi tersebut tetap menggeleng, kekeh dengan alasan-alasan tadi atau kadang yang paling simple, ia bilang tidak tahu kemana bos mereka. Kalau sudah begitu, Nari nekat menunggu Max di sana sampai larut, sampai security nyaris mengusirnya kalau bukan karena Eunhyuk yang memaksanya pulang.

 

“Kau tahu mustahil ia akan kesana sampai larut begini, harusnya kau berpikir dengan jernih.”

 

Mereka sudah berada di dalam mobil. Eunhyuk sedikit kesal dengan tingkah Nari yang selalu bertindak nekat, buru-buru, tanpa berpikir apakah itu benar, tepat atau salah.

 

“Kau tidak akan bisa berpikir jernih saat Spenser tidak kau temui dimanapun,” balas Nari pelan tapi cukup untuk membuat Eunhyuk memelankan laju mobilnya yang dari tadi cukup kencang.

 

“Aku berusaha untuk mengerti tapi kalau kau begini Minho tidak akan kau temukan.”

 

“Antarkan aku pulang,” pinta Nari datar, mengacuhkan omelan dari Eunhyuk. Ia sudah cukup lelah hari ini dan ingin segera berlayar menggunakan kapal yang akan membawanya menemui Minho, mimpi.

 

Maka tanpa melawan lagi atau memberi Nari nasihat yang sepertinya akan percuma itu, Eunhyuk kembali menambah kecepatan menuju kediaman Nari. Memang tidak ada gunanya memberikan nasihat semasuk akal apapun pada orang yang tengah kelimpungan seperti Nari. Yang ia tahu hanya harus bertemu dengan suami dan anaknya. Untuk itu, Eunhyuk merasa perlu lebih banyak bergerak. Membiarkan Nari melakukan semuanya sendirian bukan ide bagus.

 

Dan sepertinya Tuhan tengah memberinya satu kesempatan malam ini. Tepat saat mobilnya melintas didepan kantor Max, saat ia berniat pulang setelah mengantar Nari, ia melihat mobil Max masuk ke halaman kantor. Eunhyuk sempat melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 10 malam, jelas mencurigakan. Sekalipun Max si pemilik perusahaan, tentu  perlu alasan sangat penting untuk kembali ke kantor pada jam ini. Jika Nari tengah berada disini, ia pasti akan langsung berlari menghampirinya, dan mungkin akan terjadi keributan nanti. Maka Eunhyuk sengaja menyembunyikan ini.

 

Ia keluar dari dalam mobil, tidak berteriak memanggil Max, jutsru berjalan santai ( tetap pincang tentu saja ) menunggu Max benar-benar memasuki ruangannya dilantai 4.  Ini bagian yang cukup sulit. Terutama saat harus meredam langkah kaki ditengah suasana hening seperti ini, lalu ia harus super hati-hati agar bayangan tubuhnya bukan menimpa tubuh Max, ia juga takut kalau suara pintu lift yang ia naiki akan tertangkap telinga. Ia memang ingin bicara pada Max, tetapi jika tertangkap basah secepat ini, bisa-bisa tidak akan ada pembicaraan. Beruntung, situasi sangat mendukung. Lebih beruntung lagi karena ia tidak perlu berdebat dengan  sekretaris bermake up serba berlebihan itu, maka ia bisa terus mengikuti Max.

 

Dengan langkah pelan alias mengendap-ngendap berusaha meredam suara sepatunya dilantai, ia terus mengikuti Max. Tinggal satu meter lagi, Max sampai didepan pintu ruangannya, tapi langkahnya yang tadi nampak tergesa itu tiba-tiba berhenti. Eunhyuk terpaksa mengerem langkahnya dan bersembunyi dibalik tembok. Kepalanya ia sembulkan sedikit guna melihat incarannya.

 

Max menunduk, tangan kirinya berpegang pada tembok seperti akan jatuh. Itu yang Eunhyuk saksikan. Ia ingin mendekat dan bertanya kenapa tapi urung dilakukan. Ragu kalau-kalau itu bukan tindakan baik. Sekitar 1 menit ia hanya melihat gerak gerik Max yang tidak nampak sedang baik-baik saja, karena kini tangan kanannya yang terlihat memegangi dada. Eunhyuk hampir kehilangan control dan berlari kesana kalau bukan karena Max lanjut berjalan meski kini tertatih-tatih.

 

Max sudah memasuki ruangannya. Eunhyuk lanjut melangkah sepelan mungkin sambil melihat-lihat sekitar, takut kalau ada security tambun yang tadi nyaris mengusir Nari. Tapi sepertinya aman. Ia lihat pintu ruangan Max terbuka sedikit, ia mengintip. Dan yang ia saksikan sekarang adalah Max tengah mengaduk-ngaduk laci mejanya. Semua kertas, map dan benda-benda lain sudah ia lempar sembarangan ke lantai. Apa yang ia cari?

 

Eunhyuk masih mengamatinya. Bukan hanya penasaran tentang apa yang dicari-cari, tetapi tentang kondisinya. Jelas sekali terdengar nafas Max yang terputus-putus, seperti…bolehkah ia menyebutnya sesak nafas ? Wajahnya sudah berkeringat, matanya memerah dan itu membuat Eunhyuk makin khawatir. Tangannya sudah terjulur untuk mendorong pintu namun lagi-lagi tertahan karena Max sepertinya sudah menemukan apa yang dicari, yakni dua botol kecil berisi..entahlah, Eunhyuk menebaknya sebagai obat-obatan karena langsung ditenggak cepat oleh Max dilanjutkan dengan menghabiskan segelas air putih. Satu menit berselang barulah Max nampak tenang dengan menarik nafas perlahan. Ia melemparkan tubuhnya ke sofa.

 

Eunhyuk tidak ragu-ragu lagi, segera ia masuk dan tentu saja mengagetkan Max, “Kita perlu bicara,” kata Eunhyuk pelan. Max reflex membuka mata dan menemukan Eunhyuk sudah berdiri didepan pintu. Meski deru nafasnya belum begitu teratur tapi ia terlihat coba bersikap sebiasa mungkin.

 

“Apa yang membuatmu kesini ? Kau mengikutiku ?” tanya Max sinis, tapi dari nadanya juga terdengar sedikit ketakutan. Bagaimana kalau Eunhyuk melihat semuanya ?

 

“Aku hanya kebetulan lewat dan menemukan mobilmu disini,” jawab Eunhyuk sedikit berbohong, ia memang kebetulan lewat, tapi ia memang mengikuti Max bahkan melihat tingkah aneh Max sejak tadi. Dan sebenarnya pertanyaan pertama yang ingin dilontarkan adalah ‘apa yang terjadi denganmu?’, tapi Eunhyuk rasa lebih baik bicarakan masalah utama saja, yaitu Nari.

 

“Apa kau tidak bisa melihat keseriusan Nari ? Ia sangat terpukul, malam itu ia ..”

 

“Kau sudah bicarakan itu di telpon,” potong Max cepat, tanpa melihat mata lawan bicaranya, malahan asik dengan mengetik-ngetikkan sesuatu di ponsel.

 

“Pikirkan sekali lagi Max, sebelum kau menyesal.”

 

“Hey..pria yang disukai istriku sekarang memohon-mohon agar aku membatalkan perceraian ? Ajaib,” sindir Max sambil menyandarkan punggungnya pada sofa. Angkat kaki ke atas meja, sepertinya kali ini ia benar-benar baik-baik saja, bukan lagi berlaga seolah tidak terjadi apa-apa.

 

“Kau mungkin tidak tahu, kau tidak lihat apa yang ia alami satu minggu ini. Aku rasa..dia sebenarnya mencintaimu,” ucap Eunhyuk membuat Max sedikit tertarik, tapi hanya dua detik ia kembali seperti semula.

 

“Kau ingin membuatku tertawa huh ? haha jangan bercanda !”

 

“Max…setidaknya jangan memisahkan Minho dari Nari,”

 

Max tertawa kecil lalu berdiri. Berjalan menuju pintu dan dengan santai membukakan pintu untuk Eunhyuk, “Pintunya sudah terbuka lebar. Aku juga akan segera pergi.”

 

Eunhyuk ikut berdiri, sepertinya sulit untuk membuat Max berubah pikiran, “Nari tidak akan pernah mau bercerai darimu,” ujar Eunhyuk saat sudah berada diambang pintu.

 

“Ya..sampai ketemu dipengadilan,” balas Max  lalu tanpa kata-kata menutup pintu meski tadinya tubuh Eunhyuk belum sepenuhnya keluar.

 

Eunhyuk langsung menyandarkan kepalanya begitu sampai di mobil. Dengan mata terpejam, ia pijit pelipisnya berharap pusing yang tiba-tiba datang itu hilang. Tapi tidak berefek. Kepalanya justru makin berdenyut mengingat percakapan singkatnya tadi. Max benar-benar menutup pintu damai.

 

“Hah..” desahnya kuat. Perlahan, tangannya turun, tidak lagi memijit-mijit pelipis. Matanya tidak lagi terbuka, benar-benar terpejam. Dan selanjutnya terdengar deru nafas yang teratur, coba untuk tertidur. Tapi hanya dua detik, matanya terbuka. Ia melihat mobil Max sudah berlalu cepat. Tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

 

Beruntung sepanjang jalan, masih banyak kendaraan sehingga mobilnya tidak akan begitu tampak sebagai penguntit. Melihat jam, tentu saja harusnya  Max menuju rumah, yang artinya Eunhyuk bisa menemukan tempat tinggal Max hampir seminggu ini. Tapi mobil Max justru berhenti didepan rumah yang cukup Eunhyuk kenal. Ya, ini rumah orang tuanya. Maka ia berhenti agak jauh dari depan rumah tersebut, memperhatikan Max yang masuk dengan tergesa-gesa. Eunhyuk mulai menebak-nebak, jika memang Max menginap disini, artinya orang tua Max sudah bebohong pada Nari, tapi kenapa Max tidak memarkirkan mobilnya didalam justru diluar pagar ? Artinya lagi, ia hanya singgah sesaat bukan ?

 

Belum selesai dengan berbagai macam perkiraannya, Eunhyuk sudah melihat Max kembali ke mobil tapi kali ini dengan menggendong Minho yang nampak tertidur dalam gendongannya. Jadi ? Eunhyuk memukul stirnya pelan. Agak kesal karena ternyata orang tua Max benar-benar membohongi Nari. Katanya tidak tahu apa-apa. lalu ini apa ?

 

Maka sekarang Eunhyuk lanjut mengikuti mobil Max. situasi sekitar masih sangat mendukung baginya untuk tidak ketahuan. Dengan kecepatan sedang, coba mengimbangi laju mobil Max, Eunhyuk terus mengikuti sampai akhirnya mobil Max memasuki halaman parkir di depan sebuah apartemen. Melihat kondisi sekitar yang cukup sepi, Eunhyuk terpaksa menghentikan mobilnya lebih jauh. Hanya mengamati.

 

Ia sudah membuka pintu mobil, bersiap untuk kembali mengikuti Max, tapi baru satu langkah ponselnya berdering,“Hal…”

 

“Eunhyuk-ah !!” seru seseorang diseberang sana tanpa memberi kesempatan Eunhyuk bersuara.

 

“I….iya ma,”

 

“Kau kemana saja? Sudah lupa punya Spenser huh ?” omel sang ibu dan itu cukup untuk membuat Eunhyuk bergegas masuk kemobil, mematikan ponsel menyisakan ibunya yang masih ingin mengomel panjang. Lupakan Max ! Ia harus segera pulang dan melajukan mobil dengan kecepatan diatas biasanya.

 

Hari ini, pagi-pagi buta ia sudah memboyong anaknya itu untuk dititipkan pada orang tuanya dengan alasan harus mengurus banyak hal di hotel. Nyatanya ? ia tidak ke hotel, tidak ke restoran ataupun gedung SME, tidak juga menjurus ke sekolah seni miliknya. Sudah bisa ditebak apa yang ia lakukan hari ini ? Ya, sibuk menemani Nari mencari keberadaan suami dan anaknya. Segala yang ia lakukan hari ini seolah membuatnya lupa jika ia punya tanggung jawab yang jauh lebih besar ketimbang urusan Nari, yakni anaknya sendiri.

 

“Argh!” rutuknya kesal, bukan cuma karena kebodohannya hari ini, tapi juga karena ulah mobilnya yang tiba-tiba berhenti alias mogok. Oke, Eunhyuk makin kuat memukul-mukul stir hingga membuat bunyi klakson berkali-kali. Sialnya lagi, ia berhenti dijalan yang tengah sepi, bukan jalan raya. Harus meminta bantuan kemana ?

 

“Sial!” rutuknya LAGI. Ia malas keluar untuk mengecek apa yang terjadi dengan mobilnya. Ia bukan orang yang cukup mengerti akan mesin. Yang ia lakukan sekarang adalah memarahi diri sendiri, menunduk, menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangan yang melipat pada stir.

 

Hening, tidak ada suara-suara kesibukan diluar sana, termasuk suara mobil yang melintas. Eunhyuk tiba-tiba teringat dengan pertemuan keduanya dengan Yoona. Saat gadis itu tengah memeriksa mobilnya yang mogok, lalu Eunhyuk datang menawarkan bantuan seolah punya keahlian dalam bidang itu, padahal ?

 

“Hey….gadis tukang palak ! Perlu bantuan ?” tanya Eunhyuk santai dan menyandarkan sedikit bahunya pada mobil Yoona. Yoona menatapnya sinis lalu mengacuhkan.

 

“Cih, tukang palak, sombong, sok bisa, sok…”

 

“Diam !” potong Yoona kesal, lalu melanjutkan,”Aku tidak butuh bantuan artis pelit sepertimu !” tolak Yoona yang kembali mengutak-ngatik mesin mobilnya, hal itu justru jadi bahan tertawaan Eunhyuk.

 

“Kalau sedang butuh bantuan, gengsi perlu dikesampingkan,” sindir Eunhyuk yang masih betah pada posisi tadi. Yoona kembali menghadap Eunhyuk dengan tampang pasrah, membuat Eunhyuk menyeringai menang.

 

“Jadi ? Apa jaminannya kalau kau memang bisa memperbaiki mobil ini ? Bisa saja kau mengerjaiku, iya kan ?” tantang Yoona dengan berkacak pinggang.

 

“Ya terserah. Aku, sipelit yang kau benci ini sudah berbaik hati membantu tapi kau tolak, ah lebih baik aku pergi, aku.. SUPER SIBUK,” ucap Eunhyuk dengan penekanan pada dua kata terakhir. Tanpa menghiraukan teriakan kesal dari Yoona ia sudah memasuki mobil dengan tawa kemenangan, 1-1.

 

Eunhyuk masih menunduk, masih ingin mengingat-ingat momen 6 tahun lalu saat masa perkenalannya dengan Yoona. Lucu, menyenangkan dan…ingin sekali diulang. Ia ingin bertengkar lagi dengan Yoona, mempeributkan hal-hal tidak penting dan berujung dengan tawa bersama. Ingin kembali melihat bibir tipis itu yang melebar mengukir senyum. Ingin merasakan belaian tangannya yang saat ini sangat dibutuhkan, yang biasanya sangat menenangkan.

 

“Yoona…aku merindukanmu,” tuturnya pelan. Lalu semilir angin melintasi tengkuknya membuat hawa dingin dalam sekejab. Eunhyuk mengangkat wajahnya dan memeriksa jendela, sudah terkunci. Entah celah dari mana hingga angin mampu menembusnya. Kemudian ia menoleh pada bagian kosong disebelah kanannya. Ia tercengang, terdiam.

 

“Y…Yoona..”ucapnya nyaris seperti bisikan. Ia mengedipkan mata berkali-kali coba meyakinkan jika penglihatannya masih normal. Itu benar ! bagian kosong disebelahnya telah diisi oleh sosok putih yang kini tersenyum manis padanya. Sosok itu membelai pipi Eunhyuk lembut, memaksa Eunhyuk untuk memejamkan mata menikmati sentuhannya. Perlahan, sentuhan itu menjalar ke setiap senti wajahnya. Dahi, mata, alis, hidung, pipi, telinga dan terakhir bibirnya. Eunhyuk cepat membuka mata saat tidak lagi merasakan sentuhan itu. takut kalau-kalau ia hanya berhalusinasi dan sosok itu menghilang. Tapi ketakutannya termentahkan. Sosok itu masih setia duduk manis tanpa menghilangkan senyum sedetikpun.

 

“Mianhe…” ucap Eunhyuk pelan. Rasa bersalah tentang hal bodoh yang ia lakukan tiba-tiba mencuat. Buliran air mulai mengalir diwajahnya.

 

“Mianhe..jeongmal mianhe…” Eunhyuk terus mengucapkannya bahkan sampai suaranya tak terdengar lagi, tapi bibirnya terus membentuk kata maaf itu. Sosok transparan itu belum berhenti tersenyum, tapi mengalihkan pandangan ke depan. Mereka diam, membiarkan suara-suara binatang diluar sana mengisi kekosongan.

 

“Aku mencintaimu…”

 

Sosok itu menjawab dengan kembali menoleh pada Eunhyuk lalu menunjuk pahanya. Eunhyuk balas tersenyum, dan tanpa dijelaskan lagi atau diminta dua kalipun, Eunhyuk langsung merebahkan kepalanya pada bagian yang ditunjuk tadi. Lalu terasa belaian lembut di rambutnya. Belaian dari tangan yang sangat dirindukannya.

 

Eunhyuk menutup mata, mengusap sisa-sisa air matanya. Ia ingin menikmati momen ini. Tidak menyia-nyiakannya, maka ia tarik pelan satu tangan sosok itu yang menganggur, ia genggam kuat tidak membiarkannya pergi lagi, setidaknya..untuk malam ini saja.

 

*****Destiny*****

 

Max berjalan menuju pintu apartemennya yang bernomor 125 itu. Minho sudah terlelap dengan memeluk lehernya. Sesekali ia benarkan letak tidur Minho karena baru menyadari tubuh anak itu tidak mungil lagi, bahkan cukup berat. Begitu sampai di kamar, Max merebahkan tubuh anaknya, melepas sepatu dan jaketnya. Niatnya untuk ke kamar mandi terhenti saat sekilas melihat wajah malaikat kecilnya itu. Minho yang tertidur seperti ini, dengan mulut sedikit terbuka, sangat berbeda dengan Minho ketika bangun. Cerewet, super aktif, tidak bisa diam, hobi menyakiti telinga orang dengan teriakannya, bernyanyi dan menari tidak jelas.

 

“Kau lebih manis kalau tertidur,kkkk” kekehnya pelan lalu bangkit dan melanjutkan niatnya menuju kamar mandi.

 

“Mama…”

 

Max berhenti. Satu kata itu keluar dari mulut mungil putranya. Ia berbalik pelan dan menemukan bocah itu masih terlelap, mata tertutup.

 

“Mama..Minho kangen sama mama,” ucap Minho lagi. Igauan yang terdengar wajar itu membuat Max kembali bersimpuh didepan ranjang, menatap wajah anaknya. Untuk beberapa detik ia hanya diam. Sampai tirai jendela yang memang terbuka bergerak karena ulah angin, Max bersuara, “Apa tindakan papa ini salah ? Papa hanya ingin memilikimu, satu-satunya kekuatan papa sekarang, apa tidak boleh ?” bisiknya tepat didepan wajah sang anak, satu tangannya menyingkirkan helaian rambut disekitar dahi. Tanpa bisa ditahan, ia…menangis.

 

“Katakan kalau papa benar, katakan kalau papa boleh melakukan ini. Papa tidak bisa memiliki mama, apa kau juga tidak mau bersama papa hm ? Tolong..tetaplah disini,” pintanya yang diakhiri dengan setetes air dari matanya.

 

********

 

Tok tok tok

 

Suara ketukan pada kaca mobil membuat Eunhyuk membuka matanya malas. Ia kucek-kucek berkali untuk menetralkan pandangan. Sepertinya tersangka yang membuatnya terbangun adalah seorang polisi. Eunhyuk membuka kaca mobilnya membuat si polisi sedikit terkejut.

 

“Maaf, ini bukan area parkir. Menurut seorang saksi, anda disini sejak semalam,” ucap polisi itu tegas.

 

“Semalam mobil saya mogok. Saya dan istri saya kelelahan, sepertinya kami tertidur disi…” ucapan Eunhyuk terhenti kala matanya mengarah pada sebelah kanannya dan tidak menemukan siapa-siapa. Ia yakin benar semalam itu nyata, bahkan masih terasa sisa-sisa sentuhan dipipinya. Si polisi yang nampak seumuran dengannya itupun menatapnya iba. Seisi korea bahkan dunia pun tau, dimana istri seorang Lee Hyukjae, yang jelas bukan didalam mobil ini.

 

“Maaf ?” ucap polisi itu menyadarkan lamunan Eunhyuk, “Bisa perlihatkan surat-surat kendaraan Anda ?”

 

Eunhyuk membuka laci mobilnya dengan malas lalu menyerahkan apa yang dibutuhkan si polisi itu. Setelah tidak melihat ada kekurangan, polisi itu mengembalikannya.

 

“Jadi mobil Anda mogok ? Mungkin saya bisa membantu,” tawar polisi bertampang lumayan itu. Eunhyuk keluar dan membuka kap mobilnya. Si polisi tersenyum santai lalu dengan gesit mengutak-atik mesinnya. Entah apa yang ia lakukan, Eunhyuk tidak begitu perhatikan, pikirannya lebih tertuju pada istrinya yang semalam datang. Tidak mungkin itu mimpi. Sosoknya terasa begitu asli, bukan ilusi. Tapi..

 

“Selesai, silahkan dicoba,” ucap polisi itu sambil menepuk-nepuk tangannya. Eunhyuk kembali memasuki mobil dan coba menyalakan mobil. Dan suara mesin menyambutnya tanda ia sudah bisa melaju kemanapun. Maka setelah membungkukkan badan, mengucap terima kasih berkali-kali, Eunhyuk pergi. Tentu saja untuk pulang, terlebih ia baru menyadari sesuatu. Spenser !

 

“Selamat pagi jagoan ayah..” serunya gembira saat masuk ke kamar dan menemukan putranya tengah mengemut dotnya. Disampingnya, sang ibu memperhatikan.

 

“Kau kemana ? Semalam tidak pulang dan melupakan Spenser ?”

 

“Mobilku mogok, dan aku tertidur di mobil,” jawab Eunhyuk seadanya, tidak menjelaskan panjang kali lebar dengan alasan sebenarnya yaitu sibuk dengan Max dan Nari, lalu bertemu dengan Yoona.

 

“Baiklah, Mama harus pergi. Jangan lagi meinggalkan Spenser selama itu,” nasihat wanita yang nampak awet muda itu sambil mengambil tas tangannya. Setelah mendapat anggukan yakin dari Eunhyuk, ia menghilang dibalik pintu.

 

“Hey Jagoan…Kau tidak merepotkan nenek kan semalam ?” tanya Eunhyuk mengajak anaknya bicara. Yang ditanya masih asik dengan emutannya. Kedua kakinya yang mungil itu menendang-nendang pelan pada wajah dan leher Eunhyuk yang memang begitu dekat.

 

“Kau ini sehat sekali, coba lihat tubuhmu ! Tidak seperti bayi berusia 2 bulan,” ucapnya lagi seolah anaknya itu mengerti. Ia usap dahi Spenser penuh kasih. Lalu menepuk-nepuk pahanya pelan. Dan tanpa disangka ulahnya itu membuat si anak menutup mata, menghentikan aksi hisapannya pada dot, sekaligus menenangkan kakinya yang tadi bergerak.

 

“He ? kau tertidur ? Malam hari kau bisa berteriak dan mengganggu istirahat ayah, tapi pagi-pagi begini kau malah gampang sekali tertidur, benar-benar.”

 

Eunhyuk lalu menjauh dan mengambil ponselnya. Baru teringat jika pagi ini ia, Nari dan pengacara yang disewa berjanji untuk bertemu. Ia hanya mengirimi Nari pesan singkat untuk mengingatkan. Begitu selesai, ia menuju kamar mandi. Tubuhnya sudah sangat rewel meminta dibersihkan.

 

20 menit ia habiskan didalam kamar mandi. Ia keluar hanya dibalut dengan handuk dibagian pinggang. Handuk kecil melingkar di leher. Kakinya baru saja hendak menuju lemari pakaian saat bel bebunyi. Ia pikir itu Nari, meski rasanya terlalu cepat kecuali jika Nari sudah berada diperjalanan saat dikirimi pesan singkat tadi. Maka dengan cepat ia memakai pakaian seadanya dan menuju pintu. Tapi..yang berdiri tanpa senyum didepannya sekarang, bukan Nari, melainkan…

 

“……………….”

 

***Destiny***

 

Nari baru saja turun dari taksi. Ia begitu malas ke sini, kerumah ini. Karena tujuannya kemari adalah untuk membicarakan persiapan sidang pertama gugatan cerai suaminya yang akan dilaksanakan minggu depan. Yang lebih tidak mengenakan lagi karena ia belum juga tahu kabar tentang keberadaan Minho dan Max.

 

Saat memasuki pagar rumah, Nari mendapati mobil dengan model dan nomor kendaraan yang sangat familiar. Ia perhatikan lebih teliti dengan mendekatinya, melihat-lihat kedalam melalui kaca tapi tidak ada siapa-siapa. Mendapat firasat buruk, Nari berlari kedalam, mencari-cari si pemilik rumah dan pemilik mobil.

 

“Apa maumu huh ?”

 

Terdengar bentakan keras dari dalam. Nari belum berada dalam radius begitu dekat untuk mendengar lebih jelas. Ia melangkah lebih dalam dan menemukan seorang wanita yang sangat ia kenal berdiri memunggunginya dengan telunjuk mengarah pada Eunhyuk. Nari menutup mulut tidak percaya.

 

“Membantu Nari hanya alibi bukan ? Kau atur semua sebagus mungkin hingga kau terlihat sebagai pahlawan, iya kan ?”

 

Nari menggeleng tidak percaya mendengar kalimat tadi keluar dari mulut ibu nya sendiri. Ibu yang sudah mendengar cerita lengkap dan detailnya beberapa hari lalu. Ibu yang sudah mengangguk mengerti akan masalahnya. Ibu yang saat itu, memeluknya meski begitu terkejut dengan kenyataan yang Nari ceritakan.  Lalu ini apa ?

 

“Aku sadar aku salah, dan yang kulakukan sekarang adalah murni sebagai bentuk tanggung jawab, bukti aku benar-benar menyesal,” balas Eunhyuk berusaha tenang, tidak se emosi wanita yang pernah merawatnya selama di Indonesia itu.

 

“Tanggung jawab kau bilang ? Menyesal ? Satu-satunya bentuk nyata dari itu adalah kau enyah dari hadapan kami, kau..”

 

“IBU CUKUP !” teriak Nari yang sudah tidak tahan mendengarnya. Ibunya mendadak penuh amarah dan ini bukan sifatnya. Jika ingin mencari tersangka utama, maka menurut Nari dialah orangnya. Max dan Eunhyuk hanya korban.

 

“Nari, ibu dan ayah sudah menyewa pengacara handal. Jangan percaya dengan tipu pria ini, dia..”

 

“IBU! Aku sudah menceritakan semuanya. Aku yang salah, aku yang bodoh, aku yang kehilangan kendali, aku yang tidak pandai bersikap sebagai istri, aku yang..”

 

PLAKK

 

Sebuah tamparan keras baru saja hinggap dan membuat tanda merah dipipi Nari.  Sungguh baik sebagai penyadaran tapi ini sakit dan begitu berbekas. Ibu yang selama 29 tahun ini menjaganya, menjadi panutan, melahirkannya kedunia, merawatnya penuh kasih, sekarang baru saja memberi hadiah tak terlupakan. Ibunya paling pantang memberikan anaknya peringatan dengan hal-hal seperti ini, melayangkan tangan bukan gayanya, tapi barusan ? Ibunya mendadak berubah bak sosok antagonis di film. Sekarang ibu dan anak itu bertatapan tak percaya. Kilau mata sang ibu yang tadi menyaratkan emosi kini meredup. Ia kehilangan kata-kata dan pergi.

 

“Minumlah !” Eunhyuk menyodorkan segelas air putih yang baru diambilnya dari dapur. Setelah kepergian ibu Nari suasana berubah hening. Mereka duduk disofa tanpa bicara apa-apa, masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Nari tidak percaya. Max mengajaknya berperang, mengambil harta berharganya, dan sekarang ibunya bersikap demikian, lantas siapa yang sekarang berdiri di belakangnya ?

 

“Maafkan ibuku, itu bukan sifatnya. Aku yakin besok ia sudah memaafkanmu,” ujar Nari setelah menenggak habis minumnya.

 

“Aku memang salah Nari, aku masih pantas diperlakukan lebih dari tadi, jangan pernah membenci atau marah pada ibumu karena tadi, beliau hanya terlalu menyayangimu dan ingin yang terbaik.”

 

Mereka kembali diam, sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri. Eunhyuk sudah menelpon pengacaranya jika ia batal menggunakan jasanya. Sudah jelas orang tua Nari melarang dan menggunakan jasa pengacara lain. Maka yang bisa Eunhyuk lakukan sekarang hanya memberi dukungan pada Nari.

 

“Minggu depan adalah sidang pertama, aku akan datang dengan atau tanpa ijin orang tuamu.”

 

*****Destiny*****

 

Max menapakkan kakinya di depan gedung pengadilan. Pengacara yang ia sewa sudah berjalan mendahuluinya memasuki gedung. Tidak dengannya, Max justru begitu berat melangkah kesana. Ia benci tempat ini, tapi..semua harus ia lakukan.

 

Matanya coba menghambur sambil menarik nafas untuk menguatkan diri, tapi kekuatannya mendadak runtuh saat melihat pemandangan beberapa meter didepannya. Nari dan Eunhyuk berdiri didepan mobil. Eunhyuk nampak memegang kedua bahu Nari kuat. Tidak ingin berlarut-larut, sekaligus sadar jika Nari melihatnya, ia cepat-cepat masuk menyusul sang pengacara.

 

“Kau siap?” tanya Eunhyuk.

 

“Tidak pernah siap untuk hal seperti ini. Kau lihat ? Max tidak membawa Minho,” keluh Nari lalu menunjuk Max yang berlalu cepat masuk kedalam. Senyumnya sempat mengembang kala melihat suaminya turun dari mobil. Dua minggu tak bersua, diam-diam ada rasa rindu yang menyelinap. Ia rindu wajah itu, tubuh tinggi itu, suara itu, ia rindu segalanya. Dan satu lagi yang tadi membuatnya begitu senang melihat Max, tentu berharap dari pintu yang lain, turun seorang bocah dan berteriak dengan suara cemprengnya. Sayang, keduanya tidak terbukti. Max terlihat enggan melihatnya dan tidak ada Minho disana. Hey, dua minggu Max begitu pandai bersembunyi, bagaimana mungkin Nari berharap Max dengan gampang menampakkan sosok Minho disini ? Mimpi !

 

Eunhyuk melihat ke arah Max dan baru teringat hal penting yang belum ia beritahukan pada Nari, tentu saja tentang alamat rumah Max. Karena kejadian seminggu lalu dan karena ia tidak lagi mengurus perceraian Nari, ia mengurangi intensitas pertemuan. Dan kembali disibukkan dengan pekerjaannya sendiri, termasuk merawat Spenser yang sempat terabaikan.

 

Ia sudah akan bersuara tapi orang tua Nari datang dengan tampang juteknya lalu menarik tangan Nari untuk masuk. Eunhyuk menghela nafas lalu ikut ke dalam.

 

Nari dan Max sudah duduk bersebelahan di depan hakim berkacamata itu. Ketegangan yang Nari rasakan tidak nampak pada Max. Suasana asing dan sangat tidak diinginkan ini membuatnya kaku, takut dan gugup. Sedangkan Max ? Nampak santai tanpa sedetik pun menoleh padanya.

 

Sidang yang beragendakan mediasi ini seolah hanya formalitas. Max dengan kukuhnya menyebut jika pernikahan mereka tidak mungkin dilanjutkan. Dan Nari tidak pernah terpikir jika alasan yang dipakai adalah karena perbedaan prinsip, pertengkaran yang tidak berkesudahan setahun ini. Oh, Nari ingin berteriak jika itu tidak benar. Tapi ia masih punya control atas emosinya dan menolak semua yang dikatakan Max. Baginya rumah tangga mereka terlalu jauh dari kata perbedaan prinsip dan pertengkaran. Itu alasan yang terlalu sering dipakai. Max terlalu baik untuk memarahinya, Max terlalu sabar untuk menerima kesalahannya, maka yang disebut tadi adalah salah. Hubungan mereka baru memburuk dua bulan ini saat Nari dipertemukan kembali dengan Eunhyuk. Dan pertengkaran terbesar mereka adalah pagi itu, saat Max memergokinya di kamar Eunhyuk.

 

Nari pikir Max masih berusaha menjaga nama baiknya, karena jika mau gampang, cukup bicara apa adanya jika Nari bukan istri yang benar. Tidak pernah memberi kepuasan lahir batin, atau yang paling nyata, berselingkuh. Jelas pengadilan akan mengabulkan permohonan cerai itu. Apapun itu, intinya tetap sama. Max bersikeras ingin bercerai, maka sidang pertama diakhiri Nari dengan kepala tertunduk. Meski hakim sudah meminta Max untuk memikirkannya lagi, memikirkan baik buruknya terutama untuk anak, tapi percuma. Dengan senyum tenangnya, Max menggeleng. Tekadnya untuk berpisah sangat bulat.

 

“Kau tidak apa-apa ?” tanya Eunhyuk khawatir saat mereka baru saja keluar. Eunhyuk sudah membungkuk hormat pada orang tua Nari tadi, tapi tidak mendapat respon baik.

 

“Jelas aku tidak baik-baik saja,” balas Nari pelan. Lalu matanya menangkap jika Max masuk ke mobil dan pergi. Taksi yang kebetulan lewat pun langsung di stop oleh Nari, meminta si supir untuk mengikuti mobil Max, tidak perduli dengan teriakan orang-orang yaitu orang tua serta Eunhyuk.

 

Melihat hal itu, Eunhyuk tidak tinggal diam. Ia ikut mengendarai mobil dengan cepat, mengikuti dua mobil sekaligus. Kondisi jalan yang cukup sepi bukan sekedar kebetulan yang menguntungkan. Memang itu akan memperlancar laju mobil tanpa gangguan, tapi…bagaimana jika gerak mereka begitu kentara dan terbaca oleh Max ? dua mobil mengikuti, harusnya itu cukup menarik perhatian.

 

CKITTT

 

Taksi yang ditumpangi Nari dan mobil Eunhyuk berhenti bersamaan saat lampu lalu lintas memerintahkan mereka untuk berhenti. Umpatan tidak jelas dengan segala macam jenis binatang pun keluar dari bibir Nari. Tidak terima dengan lampu merah yang baginya terlalu lama. Terlebih saat mobil Max sudah jauh melenggang didepan, lalu hilang dibalik belokan.

 

Saat hijau menampakan dirinya, bersamaan mereka lanjut mengejar. Bahkan supir taksi tak segan menginjak gas sampai kecepatan diatas normal. Dan sepertinya keberuntungan berpihak pada mereka kala mobil Max dapat dikejar dan kini hanya diberi jarak sebuah motor.

 

Begitu Mobil Max berhenti pada sebuah tempat, baik Nari ataupun Eunhyuk terdiam. Mereka turun bersamaan dengan mata tertuju pada atas gedung dimana mereka berdiri. Disana, tertulis sebuah nama tempat yang dikhususkan bagi mereka yang butuh pengobatan.

 

Eunhyuk pikir….Max akan berhenti pada kantor atau….apartemen yang kala itu ia lihat. Tapi ini bukan keduanya.

 

“Rumah sakit ?”

 

 TO BE CONTINUE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

6 thoughts on “Destiny Part 9

  1. ahhh akhirnyaaa keluar jugaa, makasih adminya udah dipost, aku penasaran banget sama kelanjutan ff ini. Max nya kejem amat siih, truss Nari nya juga gigih bangett. makin penasaran, max pasti punya penyakit, ayoo dilanjut authornyaaaa
    trus publishnya jangan lama² yaa admin-nim🙂

    • He? Udah setahun lebih umur ff ini *udah dipost ditempat lain* dan baru ini ada yang blg Max kejam. Kkk, semua malah kasian sama dia. But. . .THANKS

  2. chunnie_man berkata:

    Hoo changmin mau ngapain kerumah sakit?apa dia sakit?ceritanya makin jelimet deh.semangat buat eonn untuk lanjut ffnya.ditunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s