Destiny Part 8


Cast : Nari (OC)

Max Changmin

Lee Hyukjae

Other Cast

Genre : Romance, Family, Angst

Rate : PG-17

 

**************************************************************************************************

 

Aku sakit…

Dalam artian …..yah terserah kalian mengerti atau tidak.

Dulu aku sering mengejek mereka, pria yang berotot lengkap dengan tampang garangnya, mendadak lemah seperti manusia paling menderita dan memilih mati, hanya karena cinta. Cih. Aku dan Jaejoong Hyung dulu sering mencibir mereka. Konyol !!!

Jaejoong Hyung masih setia dengan pandangan sepihak seperti itu. Tapi aku mundur, aku kalah. Aku tiba-tiba menjadi satu dari sekian yang akan menunduk lesu seperti kaca yang baru terlempar dari posisi paling atas hanya karena sentilan semut. Jadi… bagaimana aku menyebut diriku sekarang ? Aku sama dengan mereka. Tidak lebih baik dan mungkin lebih buruk.

Aku tak ubahnya manusia terlalu percaya diri yang merasa bisa menggenggam batang euphorbia. Kalian tahu itu berduri dan bisa melukai kapan saja. Dan saat aku benar-benar menggenggamnya, yang kurasa hanya sakit, yang kulihat adalah darah, yang ku dengar si bunga pemilik batang memberiku angan-angan, “ Bertahanlah.. sakit itu hanya sesaat !” Lalu bunga lain yang berada tepat disebelahnya mengejek, “Kau pikir kau bisa huh? Lepaskan tanganmu, maka kau cukup mengobati luka itu tanpa harus terus sakit lagi”

Aku kalah oleh bunga  euphorbia  itu. Pesonanya mampu membuatku mengacuhkan segala ancaman dari duri di tubuhnya. Bunga itu punya obat super mujarab yang akan membuatku tersenyum meski perlahan ia menancapkan durinya lebih dalam. Dia terus memberiku harapan bahwa suatu saat aku akan menggenggamnya secara utuh tanpa rasa takut. Tapi…aku mulai jenuh menunggu, menunggu kapan tepatnya waktu yang ia janjikan itu tiba. Apa itu benar ? Dengan melepasnya maka sakit itu akan berkurang ? Aku tidak yakin, apa aku perlu mencoba ? Tapi ini bukan hal yang bisa dianggap coba-coba.

Aku bodoh..

Aku juga sudah dikalahkan oleh bunga lain disebelahnya. Kalian tahu ? Bunga sialan itu hanya pernah singgah selama 2 minggu dirumah si bunga yang ku genggam selama 6 tahun. Jadi…6 tahun berbanding 2 minggu. Hahhaha. Perbandingan yang secara jelas terlihat siapa pemenangnya. Tapi kalian tahu lagi ? Aku si 6 tahun itu sudah jatuh dan terinjak oleh si 2 minggu. Silahkan tertawakan aku.

Mungkin sudah saatnya aku melepasnya. Sepertinya SI PEMILIK  tempat ini, ( pemilik tempat aku dan bunga-bunga lain tinggal ) lebih memilih bunga yang mengejek itu sebagai pendamping bungaku. Sedangkan aku ? Hanya makhluk kelewat beruntung  yang singgah di rumahnya. Jadi biarkan aku melangkah dengan keyakinan jika ini baik, bukan berarti  benar.

Jung Nari…

Maaf…

*********

Tuk tuk tuk

Suara ketukan kecil di meja kayu persegi itu berasal dari jari-jari Max, tepatnya jari-jari pada tangan kanan. Telapak tangan kirinya sudah dililit perban putih akibat ulahnya tadi pagi yang kehilangan kontrol. Matanya hanya memandang kosong pada gelas yang juga sudah kosong didepannya. Sesekali ia tarik nafas kencang dan desahannya sangat terdengar oleh pria dihadapan.

Jika ada yang berniat memberitahukan mereka, tolong katakan mereka sudah cukup membuang waktu. Hampir 40 menit mereka hanya diam. Max dengan olahraga jarinya sedangkan Eunhyuk hanya menunduk. Mungkin harusnya Eunhyuk bisa bersuara lebih dulu untuk memecah kebuntuan. Atau setidaknya ia mengangkat muka untuk meregangkan otot leher. Tapi..mungkin Nari ( pihak yang tidak diijinkan ikut dalam pembicaraan antara dua pria ini ) harus menunggu lebih lama untuk tahu apa hasilnya.

Memang tadi saat Max dan Eunhyuk bertemu, Nari pikir akan terjadi perkelahian lagi. Ahh salah ! Tepatnya Max yang melanjutkan tinjuannya yang belum terpuaskan di ronde pertama pagi tadi. Tapi ternyata, Max dengan tenangnya mengajak Eunhyuk untuk menjauh dan bicara empat mata. Eunhyuk tentu anggap ini sebagai lampu hijau dan mungkin dengan bicara secara tenang, akan ada hasil baik ( entah hasil baik bagaimana itu ). Tapi kalau sudah 40 menit seperti ini saja, Eunhyuk jadi tidak yakin ini bisa disebut pembicaraan.

“Aku merasa Tuhan sudah mempermainkanku,” Max angkat suara, masih dengan tatapan kosong pada gelas. Dan Eunhyuk mulai bereaksi. Ia angkat wajahnya untuk melihat Max.

“Kenapa kau harus lebih dulu bertemu dengannya ? Saat kau kembali ke Korea, saat itu juga aku melihatnya. Melihat wajah manisnya menatap ke atas langit,” Max tersenyum sebentar, “Hanya beberapa menit setelah kau pergi, aku datang. Tapi aku baru tahu kalau itu sudah sangat terlambat.”

Eunhyuk sedikit tidak mengerti dengan pembicaraan ini. Tapi hanya diam dan mengikuti apa selanjutnya. Sekarang ia belum perlu menanggapi, mungkin.

“Aku menawarkan diriku padanya sebagai seseorang yang akan menjaganya. Sebagai sandaran dan peraduan. Tapi sepertinya aku tidak begitu menarik untuk itu. Aku terlalu percaya diri,”  Max lalu menghentikan aksi jari-jarinya membuat suara di meja.

“Mungkin ini juga salahku yang tidak becus sebagai suami. Aku terus biarkan dia seperti itu tanpa ketegasan. Aku pikir hanya masalah waktu. Tapi nyatanya…3 bulan lagi pernikahan kami genap 6 tahun dan kau sudah lihat hasilnya.”

“Apa maksudmu sejak tadi?” tanya Eunhyuk yang memang tidak mengerti kemana arahnya. Ia pikir akan bicara tentang keselahan semalam. Lalu Max mengalihkan pandangannya dari gelas tadi dan kini tersenyum kecil pada Eunhyuk.

“Jangan bilang kau lupa kalau kau lah pria pertama itu. Kau yang pertama mendapatkannya. Apa itu belum bisa menjelaskan padamu kalau ada yang salah pada pernikahan kami ? bukan ada tetapi banyak.”

Eunhyuk menunduk sejenak untuk berpikir. Memang ia cukup penasaran tentang itu, tapi bukankah itu bukan kapasitasnya untuk tahu ? Yang perlu ia lakukan adalah meminta maaf, meluruskan kesalahan semalam, bukan mengorek masalah rumah tangga orang.

“Semalam hanyalah kesalahan. Aku kehilangan akal sehat dan kendali. Semua terjadi begitu cepat dan sulit dihentikan. Sungguh semalam kami hanya…..”

“Tolong berhenti!” perintah Max tegas dan terdengar jelas penekanan disana. Jari-jarinya yang tadi nampak santai nyaris menyatu dan menguat lagi. Ia tidak menghabisi Eunhyuk saja itu sudah syukur, kenapa Eunhyuk harus mengulang sekilas kejadian semalam? Ia sudah cukup sakit.

“Maaf” ujar Eunhyuk merasa bersalah.

“Bagimu mungkin hanya sebuah kesalahan, tapi bagi Nari?” Max menatap Eunhyuk dengan sinis. Lalu rasa ingin muntah saat itu juga dan tepat diwajah pria didepan. Bukankah terdengar jahat jika semalam Eunhyuk tidak menganggap semalam apa-apa. sedangkan Max tahu jika istrinya masih menyimpan rasa pada Eunhyuk, yang artinya mungkin Nari menikmati apa yang disebut kesalahan oleh Eunhyuk. Eunhyuk yang memang tidak mengerti menaikan satu alisnya, bingung.

“Kau belum sadar juga? Bagaimana jika aku bilang kalau kaulah penyebabnya terus-terusan menolakku, tidak melihatku.  Itu karena kau!” Tuduh Max yang kini mulai santai dengan menyandarkan punggungnya pada kursi. Tapi tatapannya pada Eunhyuk tidak bisa dibilang santai. Matanya melihat dengan tajam. Urat-urat lehernya membentuk cepat. Sedangkan Eunhyuk jelas terkejut dengan fakta kalau dialah penyebabnya. Ia pikir hanya dia yang harus mengabaikan Yoona selama nyaris 5 tahun karena Nari.

“Tidak mungkin. Aku dan Nari memang pernah…argh kami bahkan belum memulai apa-apa. Ka..”

“Nyatanya hanya kau yang ada diotaknya. Kau mengambil alih dirinya hanya dengan dua minggu. Sebanyak dan sekuat apapun usahaku untuk melepas ikatanmu, terlihat sia-sia,” Max tersenyum getir mengingat rentetan hal-hal yang sudah ia lakukan untuk Nari. Terlalu banyak.

“Yoona berkata pada Nari jika kau dan Yoona juga mengalami masa-masa sulit. Kau menggantungnya selama 5 tahun. Boleh kutebak jika itu karena Nari ?” tanya Max masih berusaha santai. Meski dia tahu jawabannya, tapi masih berharap jika itu salah. Sayang, Eunhyuk justru mengangguk pelan. Max tersenyum lagi.

“Lihat! Kalian hampir sama.”

“Tapi aku berani sumpah. Aku hanya mencintai istriku, Yoona. Aku sudah sangat berdosa padanya,” bantah Eunhyuk yang memang sebenarnya. Ia punya keyakinan atas apa yang ia katakan.

“Masalahnya adalah Nari. Sudah jelas dia tidak mencintaku, haha” Max tertawa, terdengar janggal dan terlalu dipaksakan. Eunhyuk menelan ludahnya susah, merasa bersalah atas semuanya. Argh! Andai ia bisa mengulang apa yang terjadi semalam.

“Tuhan sedang mengujiku. Tapi aku tidak yakin akan lulus dengan nilai A. Kenapa kau harus ke Bali? Kenapa kau harus tersesat? Kenapa kau harus pingsan di rumah istriku ? Kenapa Nari harus menggemarimu? Kenapa kalian berpisah? Kenapa kalian tidak bersama saja saat itu? Setidaknya aku tidak akan pernah merasakan rasa terlalu cinta seperti ini. Kalaupun kalian berpisah, kenapa harus dipertemukan lagi sekarang? Kenapa Yoona harus pergi? Kau lihat! Tuhan sudah mengaturnya sedemikian rupa dan semuanya sukses menjatuhkanku. ” Max meracau tidak jelas dibalik tawanya.

Sesekali ia pukul meja bahkan dengan tangan yang berbalut perban itu. Sekilas orang  melihatnya tengah terpingkal-pingkal karena lelucon yang dibuat Eunhyuk. Nyatanya setitik air mengalir dipipinya.

Eunhyuk tidak tega. Tetapi apa yang bisa ia lakukan sekarang ? Ia bukan orang yang akan berhasil menghibur Max. Karena sekarang dialah orang yang paling dibenci saat ini. Ia hanya bisa menunduk. Mendengarkan kalimat-kalimat dari Max yang tidak begitu jelas ditelinganya. Yang ia tahu, Max benar-benar menangis, bukan tertawa lagi.

“Aku tidak mengerti kenapa mengajakmu kemari, harusnya aku mengirimmu ke neraka,” ucap Max penuh penekanan dan pelan. Satu tangannya  meremas dadanya kuat. Lalu dengan cepat ia melangkah menjauh. Namun, baru dua langkah ia berbalik,”Aku sampai lupa. Sebenarnya aku hanya ingin bilang kau dan Nari sangat serasi.”

____________^^^^^^_____________

Empat setelah hari yang sangat panjang itu, semua tidak baik-baik saja. Tidak ada komunikasi berarti antara Max dan Nari selain karena Minho. Mereka hanya akan bicara jika Minho yang mulai duluan. Saat dimeja makan, mereka juga makan dalam diam, hanya suara gesekan sendok Minho yang terdengar. Bocah yang tak lama lagi akan berulang tahun itu nyatanya tidak tahu apa-apa. Ia pikir orang tuanya baik-baik saja karena mereka selalu ada. Mereka akan mencium keningnya sebelum tidur, Nari yang memasakannya sarapan, Max yang membelikannya mainan baru, Max dan Nari yang mengajarkannya membaca dan menulis, semua terlihat biasa bagi Minho. Dari sudut pandang bocah seumurnya, tidak ada yang salah.

Max memang melakukan aksi kunci mulut didepan Nari. Max lebih suka tidur bersama Minho ketimbang Nari. Max lebih suka melihat Koran, layar laptop, atau dokumen perusahaan daripada Nari. Max lebih nyaman menjadi bisu dari pada harus bicara pada Nari. Argh ! Nari. Nari. Nari. Dia sudah membuat Max nyaris gila.

Max lebih banyak menghabiskan waktu dikantor tiga hari ini. Setumpuk pekerjaannya yang sebenarnya bisa dikerjakan esok hari pun akan ia selesaikan hingga larut. Ia pikir, saat pulang ia hanya perlu mandi lalu pergi tidur di kamar anaknya. Tapi wanita yang masih berstatus istrinya itu selalu duduk diteras rumah, memasang senyum semanis mungkin dan berkata, “Kau pulang Max? Kau belum makan? Kau pasti lelah. Kau pasti bla bla bla…” Max tidak pernah meresponnya. Ia hanya akan melepas jas dan melempar tas kerja lalu masuk ke kamar mandi.

Karena tidak ingin hal itu terulang, malam ini Max tidak melajukan mobilnya ke arah rumah, melainkan tempat lain yang katanya merupakan surga bagi para manusia yang stress. Mungkin setelah ini ia akan menempel pada Jaejoong dan bertanya tempat apalagi yang bagus untuknya. Sahabatnya itu pasti tahu banyak.

Sekarang ia sudah memarkirkan mobil didepan bangunan tersebut. Ia sudah banyak mendengar tentang tempat-tempat semacam ini, dan dia adalah pria baik-baik yang paling anti melangkah kemari. Tapi maaf, malam ini dan mungkin seterusnya ia harus menjilat ludah sendiri.

Ia sudah masuk kedalam dan yang pertama ditangkapnya adalah musik yang begitu keras dan bau alkohol. Sedikit menutup hidup dan mulut tapi perlahan ia coba berbaur dengan suasan asing itu. Okelah dia menghabiskan masa remaja di Amerika. Disana tak terhitung tempat seperti ini. Bahkan sangat wajar jika mengadakan pesta ditempat kelap-kelip ini. Tapi sungguh, Max sangat anti dan lebih suka berpesta di taman belakang rumah dengan memanggang daging, minum jus. Satu-satunya kebiasaan agak nakalnya hanya merokok.

 

Max terus melangkah lebih dalam. Cahaya warna-warni membuatnya kurang fokus melihat sehingga berkali-kali bertubrukan dengan orang-orang. Hanya beberapa pria dan itu tidak masalah. Masalah adalah saat yang menabraknya adalah seorang wanita. Dan sekarang wanita berpakaian serba terbuka itu memegang lengan Max manja. Ia pasang senyum mautnya yang mungkin selama ini berhasil. Sayang, itu tidak akan berhasil pada Max. Ia lepas pegangan wanita itu dengan sopan, “Maaf.” Hanya itu, lalu si wanita menjauh pergi, mungkin pikirnya Max terlalu polos dan akan monoton jika diajak ‘bermain’.

Akhirnya Max duduk disalah satu kursi kosong didepan meja yang memanjang sebagai pembatas antara pelanggan dan pelayan. Max melihat-lihat  sekitar dan entah kebetulan atau apa, ia melihat Jaejoong tengah asik dengan dua orang wanita di sisi kiri dan kanannya. Max tersenyum kecil, entah kapan hyungnya itu mau berpikir serius.

Max memutar kursinya lalu dengan asal mengambil salah satu gelas ( yang entah apa isinya ) dari nampan seorang pelayan yang melintas. Tanpa pikir panjang, Max menenggaknya dan iuuhhh. Rasanya sangat asing, menyengat ditenggorokan, rasa ingin muntah. Tetapi…entah kenapa ia justru seperti ingin lagi. Maka ia hanya menunggu seorang pelayan pria yang tidak jauh darinya membawa nampan berisi lima gelas minuman seperti tadi.

HUP

Dengan sigap ia rampas nampan tersebut dari tangan sang pelayan. Si pelayan memandangnya heran, tapi Max meyakinkan jika ia akan bayar semuanya. Sekarang, nampan itu sudah ia letakkan diatas meja didepannya, memandanginya satu persatu. Bukan langsung diminum, ia justru memisahkan beberapa.

Ia dekatkan dua gelas disebelah kanan, dan dua gelas lagi disebelah kiri. Satu gelas yang paling besar ia biarkan berada ditengah. Ia tersenyum tidak jelas, “Max…Nari” absennya pada dua gelas disebelah kanan, “Eunhyuk…Yoona” sebutnya lagi menunjuk gelas sebelah kiri.

Lalu ia tarik salah satu gelas disebelah kiri, ia dekatkan pada gelas yang paling besar, “Tuhan mengambil Yoona” ucapnya lagi lalu ia tarik salah satu gelas disebelah kanan untuk disatukan pada gelas sebelah kiri.

“Nari memilih Eunhyuk” Max tersenyum melihat gelas-gelasnya, “Max sendiri. Harusnya Tuhan juga mengambil nyawanya, maka akan terlihat selaras haha”

Pria yang masih berjas itu tertawa sendiri. Persetan orang-orang sekitar dan orang lain pun tidak perduli padanya. Ini tempat umum. Pemandangan pria atau wanita yang menangis dan tertawa sendiri sudah biasa disini. Max melihat satu gelasnya yang tadi berperan sebagai dirinya. Ia pegang dan bersiap akan diminum tetapi gerakannya terhenti. Pegangannya menguat bahkan jika gelas kaca itu merupakan kaleng, mungkin sudah tidak berbentuk.

Rasa ini, sesak ini datang lagi. Ia coba acuhkan dengan tetap mengangkat gelas siap untuk diminum. Namun, seketika gelas itu terlepas dari pegangan menimbulkan bunyi pecahan dilantai. Cukup untuk membuat orang sekitar memperhatikannya. Pandangan Max mulai mengabur. Orang-orang yang mengelilinginya terlihat lebih banyak, berbayang dan perlahan gelap.

GREP

Seseorang menahan tubuhnya sebelum menyentuh lantai.

_____^^^^^^_____

Max membuka mata perlahan. Bukan karena cahaya matahari pagi, tetapi memang sudah waktunya ia bangun terlebih jika melihat jam. Ia kucek matanya untuk memperjelas penglihatan. Ia seperti bukan berada di rumah. Yang terakhir ia ingat, ia berada di tempat yang kata orang sangat mengasyikan. Apa ia mabuk lalu di bawa kesalah satu kamar di sana lalu seorang wanita centil melayaninya ? Astaga…Max cepat menggeleng. Tidak mungkin.

“Ya..jangan berpikir macam-macam !” seru seseorang yang baru muncul dibalik pintu dengan nampan berisi segelas susu putih dan semangkok bubur. Max makin mengernyit bingung. Ia baru sadar ini adalah kamar sahabatnya alias Jaejoong. Jadi ? mereka tidur bersama ?

“Otakmu itu perlu dibawa ke bengkel. Jangan berpikir yang tidak-tidak !” Jaejoong mengomel seolah tahu isi kepala Max. Ia letakkan nampan tadi di atas meja. Lalu ia duduk di tepi ranjang tempat Max berbaring.

“Aku mabuk dan kau membawaku ke sini?” tanya Max dengan suara paraunya. Ia berdehem untuk menetralkan suara.

“Ya…aku pikir kau hampir mencium lantai karena mabuk. Tetapi kata seorang pelayan, kau hanya minum satu gelas,” ungkap Jaejoong yang kemudian berdiri. Ia memilih duduk di salah satu sofa di samping kanan Max.

“Stres….aku pikir karena itu,” Max tersenyum santai dan arah matanya tertuju pada langit-langit kamar. Dan ia baru sadar terdapat foto pria cantik itu di sana. Dengan tanpa atasan, tepatnya telanjang dada memperlihatkan perut kotak-kotaknya. Sejenak ia ingin tertawa. Bagaimana bisa memajang foto di tempat sulit seperti itu? Dan untuk apa?

“Aku sudah memanggil dokter semalam, maksudku dokter yang sudah kau kunjungi beberapa waktu lalu,” ujar Jaejoong pelan yang membuat Max menoleh padanya. Mereka berpandangan sejenak, saling bicara melalui mata. Dan tanpa diungkapkan secara jelas pun, mereka sudah mengerti maksud masing-masing.

“Dan dia mengatakannya padamu?”

“Dia bilang kau….” Jaejoong menarik nafas kencang, “Kau stress berat. Pikiranmu terlalu banyak. Dan suatu saat kepalamu akan meledak.”

Max tersenyum mendengar sindiran itu, kembali betah melihat poster besar Jaejoong di atas wajahnya. Pantas saja pria itu begitu gampang mendapatkan gadis hanya dengan mengedipkan mata, memang tampan. Sangat malah.

“Apa yang terjadi? Kau bisa datang padaku bukan ke tempat sialan itu! itu bukan gayamu,”  Jaejoong berdiri kesal lalu kembali duduk di tepi ranjang seperti tadi. Max bangkit dari posisi tidur menjadi duduk. Matanya masih memerah dan bibirnya sedikit pucat.

“Bukankah waktu itu kau yang menyarankannya?”

“Bodoh!!!” umpat Jaejoong yang makin kesal. Bagaimanapun tawaran kala itu hanya candaan agar Max tertawa, terhibur. Bukan benar-benar dilakukan.

“Nari sudah menghancurkan ku Hyung,” keluh Max. Ia menunduk dan Jaejoong dapat melihat sprai merahnya ditetesi air. Sekarang Jaejoong juga tidak tahu harus bagaimana. Ia dan Max bukan tipe lelaki yang akan sama-sama menguatkan dengan pelukan, atau hal-hal manis lainnya. Kurang jantan menurut mereka. Tapi kali ini Jaejoong tidak tahan. Seorang Max tidak akan selemah ini. Ia yang sudah mengenal manusia jangkung itu sekian tahun tahu betul Max bukan lelaki cengeng.

“Hey… Shim Changmin! Sejak kapan kau jadi cengeng begini? Jangan memperlihatkan drama didepanku!” Jaejoong coba mengubah suasana dengan sedikit mendorong bahu sahabatnya. Max memaksakan tawanya. Rasanya sudah cukup ia bermelow-melow tiga hari ini. Banyak yang harus ia lakukan dan pikirkan bukan ?

Jaejoong mengambil mangkok buburnya lalu mengarahkan satu sendok pada Max, “Buka mulutmu!” pinta Jaejoong yang membuat Max bergidik.

“Hyung..kau membuatku merinding! Kenapa kau jadi manis begini? Aku bisa makan sendiri,” Max sedikit memundurkan posisinya membuat Jaejoong memutar bola matanya malas.

“Harusnya semalam dokter juga memeriksa kepalamu,”

Hanya butuh beberapa detik bagi mereka untuk mencairkan suasana. Jaejoong pun rasanya sudah lama tidak melihat Max tertawa seperti ini. Meski masih terlihat gurat sakit diwajahnya.

Drrrttt….

Suara ponsel Max bergetar. Ia mengambilnya dan melihat nama sang istri. Ia jadi kehilangan mood untuk tertawa lagi. Ia tekan tombol merah lalu mencabut baterainya.

“Kenapa?” tanya jaejoong.

“Aku sedang tidak ingin bicara padanya,” Max melempar ponselnya masih disekitar pembaringan yang besar itu. ia merampas mangkok bubur dari jaejoong dan melahapnya.

“Dokter juga bilang kalau kau .. tidak makan sejak kemarin pagi. Hhahh Changmin….Kau begini sudah tidak bisa menyuruhku menikah,” ucap jaejoong yang nampak frustasi. Ia gelengkan kepala dua kali. Harusnya kalimat tadi bisa jadi hal serius lain untuk dibicarakan. Jaejoong benar-benar terkejut begitu dokter mengatakan kalau Max belum mengisi perutnya. Dan satu-satunya cairan yang ia terima adalah minuman beralkohol semalam. Benar-benar.

“Hyung. Daripada kau mengomeliku. Tolong buatkan yang lebih. Aku tidak mau hanya makan nasi lembut putih ini. Aisss aku mau nasi goreng, jangan lupa telur dadar, dan susunya segelas lagi tapi rasa coklat, lalu….”

“Cih..Kalau bukan kau pasti sudah kutinggal kau sejak tadi,” gerutu Jaejoong, tapi ia tetap bangkit lalu berjalan keluar. Setidaknya ada hal berguna yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki suasana hati Max. Sebelum ia menutup pintu, ia kembali sejenak untuk mengambil bungkus rokok yang tadinya sudah menggoda Max.

“Eitss.. mulai sekarang kau tidak boleh menyentuh barang seperti ini !”

“Ya, ya, ya..aku tahu,” Max mengangguk malas lalu merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemas, “Dalam 30 menit semua harus siap didepanku.”

______^^^^^______

BUG

Satu pukulan mendarat di pipi kanan Eunhyuk. tapi ia cukup kuat untuk bertahan dan tidak jatuh. Merasa tidak terima dengan serangan tiba-tiba ini, Eunhyuk balas menyerang dengan pukulan telak di wajah sebelah kiri penyerangnya itu. Pria yang lebih kekar darinya tidak tinggal diam. maka baku hantam itu tidak terhindarkan, lalu berubah menjadi perkelahian brutal ala lelaki.

“Eunhyuk-ah !”

Eunhyuk mendengar seruan teman-temannya tetapi tak dihiraukan karena masih asik dengan ‘kegiatannya’. Ya..ia terlihat menang dengan pria asing tadi berada dibawah tubuhnya. Tapi ia harus menahan emosi begitu teman-temannya datang melerai.

“CUKUP!” teriak Leeteuk yang sejak tadi diabaikan. Meski tidak bisa disebut nyaring, tetapi Eunhyuk tidak bisa mengacuhkannya. Ia menurut lalu melonggarkan otot-ototnya yang tadi menegang.

“Apa-apaan ini ?” tanya Leeteuk yang hanya dijawab dengan arah dagu Eunhyuk yang tertuju pada pria yang tengah merunduk dilantai.

“Kau siapa ? Dan apa alasannya kalian berkelahi ?”

Pria berkulit putih itu bangkit sambil meraba ujung bibirnya yang meneteskan darah. Nampak santai dan coba memperlihatkan kalau apa yang ia terima belum apa-apa. Dan tanpa diduga, satu tangannya melayang lagi.

BUG

Eunhyuk tercengang. Bukan Cuma dia, tetapi 3 temannya yang berada disana, leeteuk, Kyuhyun dan Donghae. Dan…ternyata pria yang baru saja melayangkan pukulan itu juga tersentak kaget. Ia melihat tangannya dan si korban bergantian. Dia bukan Eunhyuk. Dia…

“Yoona..” Eunhyuk bersuara pelan, seperti bisikan.

Gadis berambut panjang yang tiba-tiba muncul dan akhirnya mendapat hadiah keras itu mengangkat wajahnya. Ia..menangis, “Sudah puas ?” tanyanya pelan. Pria dihadapannya diam, bukan keinginannya jika ia salah sasaran. Tapi sebelum pria itu menjawab, Yoona sudah berbalik lalu menunduk maaf pada Eunhyuk dan cepat pergi. Tentu saja, pria tadi langsung mengejar dan sebenarnya Eunhyuk juga akan melakukan hal yang sama. Tetapi Donghae buru-buru menariknya untuk dibawa ke rumah sakit. Meski ia bisa disebut menang, tetap saja wajahnya babak belur.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Eunhyuk tidak berkonsentrasi. Bahkan saat dokter serta suster-suster seksi mereparasi wajahnya yang tidak begitu tampan itu, ia tidak begitu sadar. Yang ada dikepalanya adalah gadis penolongnya, maksudnya gadis yang sudah satu bulan tidak ditemuinya yang tiba-tiba merelakan dirinya untuk dipukul. Bodoh. Rutuk Eunhyuk. Bukan untuk Yoona tetapi untuk dirinya sendiri yang hanya jadi penonton bukannya bertindak secara jantan.

“Jadi..apa yang membuat kalian berkelahi ? Kalian memperebutkan Yoona ? Aku tidak tahu kalau kau menyukainya, kenapa kau tidak pernah cerita padaku ? Ahh aku juga tidak kenal pria yang memukulmu, siapa dia ?” tanya Donghae beruntun membuat Eunhyuk yang tengah berbaring di sofa bangkit, kesal juga rupanya. Sudah seminggu sejak insiden perkelahian tanpa sebab itu, Eunhyuk selalu menghindar dari berbagai pertanyaan. Persis seperti Donghae.

“Heh ikan. Kenapa kau sangat ingin tahu ? Aku tidak kenal pria sialan itu. Dia yang datang dan memukulku, tentu aku perlu melawan,” jawab Eunhyuk kesal lalu bangkit dan berdiri didepan jendela.

“Nah satu lagi yang berubah darimu. Kau sering membentakku,” ungkap Donghae tak kalah kesal.

Eunhyuk tidak begitu perduli. Hanya memperhatikan jalan dari atas. Jika ada penggemar yang menunggu dibawah, pasti akan histeris melihat idolanya berdiri disitu. Tiba-tiba matanya menangkap sosok yang ia kehilangan kabarnya seminggu ini. Gadis itu nampak menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Tanpa babibu, Eunhyuk sambar kunci mobil yang tergantung dibalik pintu lalu berlari keluar tanpa mengindahkan panggilan Donghae. Bahkan ia langsung menuruni tangga, bukan menggunakan lift. Sepertinya ia perlu meminjam tenaga kuda ala Siwon karena ternyata menuruni tangga dari lantai 6 itu sangat melelahkan.

Saat sampai dibawah, ia mencari-cari gadis yang ia lihat tadi. Dan matanya berhenti pada Yoona yang baru saja memasuki mobil, “Yoona !!!” panggilnya cukup nyaring, cukup untuk menarik perhatian sekitar. Ahh ia cepat menuju mobil dan melaju mengikuti mobil Yoona. Nomor kendaraan Yoona sudah diluar kepala, maka saat sempat kehilangan jejaknya, Eunhyuk dengan gampang menemukan lagi, mengikuti lagi.

Eunhyuk berhenti tepat didepan gedung apartemen Yoona. ia langsung keluar dari mobil dan sebelum incarannya melangkah jauh, ia berlari kesana.

“Yoona !” serunya. Yoona berbalik dan terkejut mendapati Eunhyuk mendekatinya. Ia mempercepat langkah untuk menghindar, tetapi tetap saja ia kalah cepat. Satu tangannya berhasil ditahan oleh Eunhyuk.

“Tolong..berhenti!” pinta Eunhyuk. Dan dengan cepat ia putar tubuh wanita itu. Ia terkesiap. Apa matanya sedang rabun ? Ia melihat lebam-lebam diwajah Yoona. Astaga..bukankah pukulan kala itu hanya sekali ? dan itu dipipi kiri, kenapa sekarang juga ada di pipi kanan dan sekitar mata ?

“Ya Tuhan Yoona, apa yang terjadi ?”

Yoona tidak menjawab malah sekuat tenaga melepas tangannya dan cepat pergi. Eunhyuk masih diam di tempat, tidak berusaha mengejar seperti tadi. Masih mencerna apa yang ia lihat. Apa lebam itu karena ulah pria sinting tersebut ?

Eunhyuk sudah berada dalam mobil. Sejak sore tadi, tepatnya setelah menemui Yoona, ia hanya berputar-putar tidak jelas di jalan dengan kecepatan 80 km/jam. Belum berniat untuk pulang meski ponselnya berkali-kali berdering. Kepalanya masih diliputi banyak pertanyaan tentang Yoona.

Drrrt…

Ponselnya lagi-lagi bergetar. Kali ini ia kesal juga lalu mengangkatnya, “Hallo..”

“Kemana saja kau ? Kau tahu kita semua cemas. Kau pergi buru-buru, tidak mengangkat telpon dari kami, tidak juga pulang, ini sudah jam 11 malam,” Donghae bicara dengan nada ibu-ibu yang memarahi anaknya. Eunhyuk hanya manggut-manggut malas.

“Sebentar lagi aku pulang,”

“Bukan sebentar lagi, tapi sekarang !”

“Ya..Aku sedang dijalan, tunggu seben…Ya Tuhan..”

Refleks ponsel itu terjatuh dari tangannya, menyisakan tanda tanya besar bagi sipenelpon. Sebuah truck besar tiba-tiba sudah muncul didepan. Entah bagaimana caranya tau-tau cahaya truck pengangkut barang itu sudah menyilaukan pandangan. Eunhyuk coba menghindar, banting stir ke kanan tetapi justru menabrak mobil lain. Mobilnya terhantam keras lalu berputar dua kali diudara, kemudian terpental beberapa meter dari mobil yang ia tabrak.

BRAKKK

Semua berlalu begitu cepat. Orang-orang sekitar hanya bisa terperangah dan menahan nafas beberapa detik saat menyaksikan mobil hitam itu jatuh menghantam aspal dengan posisi terbalik. Dalam sekejab, orang-orang mengerubuni mobil tersebut, tentu saja untuk melihat sikorban. Melihat kejadiannya, rasanya sulit berkata jika korban masih bernafas.

Eunhyuk diam, matanya coba berkedip. Ia berusaha membuka mata tapi tidak berhasil. Seketika rasa sakit menjalar. Kakinya terasa terhimpit keras dan seluruh tubuh sulit digerakkan. Ia tidak tahu bagaimana rasa ini bisa disebutkan, ini sangat sakit. Rasanya hampir sekujur tubuhnya dibasahi cairan kental. Mulutnya coba terbuka tetapi tidak ada suara yang keluar sekalipun untuk mengeluarkan erangan sakit. Ia hanya diam dan kali ini berusaha kembali membuka mata. Perlahan, hanya putih yang ia dapat. Lalu terlintas bayangan pria kecil yang berjalan menghampiri orang tuanya, remaja pria yang mendapat hukuman dari gurunya, pria dewasa yang bernyanyi di atas panggung, pria berambut blonde yang berboncengan dengan seorang gadis, pria berambut coklat yang adu mulut dengan gadis berambut panjang, dan semua terus melintas tidak berurutan.

Samar-samar ia mendengar suara berisik disekitar. Mulai suara asing sampai suara yang begitu familiar ditelinga.

“Dia masih bernafas!”

“Ambulans datang!”

“Kakinya terhimpit!”

“Eunhyuk-ah !!!!”

Semua tidak begitu jelas lagi bagi Eunhyuk. Dengan sisa-sisa tenaga, ia berusaha tetap sadar. Berusaha mencari titik fokusnya saat membuka mata. Tetapi prosesnya terasa begitu lama. Ia lelah. Pertahannya cukup sampai disini dan semuanya …gelap.

____^^^^____

Wussss

Angin berhembus dan menyingkirkan helaian rambut Eunhyuk yang menutupi dahinya. Bahkan kini rambutnya sudah acak-acakan. Ia tidak berniat memerintahkan tangannya untuk sekedar merapikan sedikit atau seluruhnya. Ia hanya diam, menikmati hembusannya.

Ia berdiri di balkon kamarnya sejak 30 menit yang lalu. Dengan kemeja dan celana hitamnya yang belum diganti sejak pulang dari hotel 3 jam lalu. Sudah pasti sejak kembali dan sempat pergi tidur dia belum memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuh. Ia masih ingin disana, di bagian favoritnya saat bersama Yoona dulu.

Eunhyuk baru saja terbangun dari tidurnya. Lagi-lagi ia bermimpi buruk, mimpi tentang kecelakaan itu, tentang Yoona, tentang semua yang tidak begitu baik. Tidak ada mimpi tentang kebersamaannya dengan Yoona, saat pertama bertemu di depan apartemen, atau saat menikah. Yang beberapa hari ini mendatanginya adalah kejadian-kejadian yang mengingatkannya kalau Yoona sudah cukup tersakiti. Bagaimana Yoona diperlakukan kasar oleh kekasihnya terdahulu. Bagaimana Yoona rela menunda kuliahnya demi menemani Eunhyuk pasca kecelakaan. Bagaimana ia merampas mahkota gadis itu tetapi mengabaikannya dan tidak memberi kepastian. Bagaimana ia hanya diam saat Yoona bertanya kapan mereka akan menikah. Ia merasa sudah begitu jahat.

Pagi tadi ia dan Spenser sudah mengunjungi makam Yoona dan entah benar atau tidak, Eunhyuk merasa Yoona marah padanya. Ia merasa tidak mendapat respon baik seperti saat-saat sebelumnya ke sana. Ahh istri mana yang tidak kecewa atas perbuatannya ? Meski sekeras apapun ia menggunakan alasan ‘kesalahan’, tetap saja, itu sulit diterima.

“Maafkan aku, Yoona.”

______^^^^^______

Nari mondar mandir tidak tenang didepan pintu. Hampir tiap menit ia melihat ke arah jam dan sekarang sudah jam 12 malam. Suaminya belum pulang, tepatnya tidak pulang sejak semalam. Tentu saja Nari khawatir. Minho pun terus bertanya kemana papanya itu dan Nari hanya bisa mengarang cerita jika papanya harus menyelesaikan banyak pekerjaan di kantor.

Dua jam yang lalu Minho sudah tertidur, meski awalnya ia memaksa jika ingin menelpon papanya menyuruh untuk pulang, tapi ponsel Max tidak bisa dihubungi sejak pagi tadi.

Langkah Nari berhenti, ia cepat mendekati jendela dan menyibak tirainya. Dapat ia lihat mobil suaminya yang mulai terparkir digarasi. Tapi…gerak gerik suaminya tidak karuan. Melangkah tanpa melihat kedepan, bahkan nyaris jatuh. Kalau berjalan saja begitu, bagaimana ia bisa sampai ke rumah dengan selamat ?

Nari bersiap menyambut suaminya didepan pintu meski ia ingin langsung keluar dan bertanya suaminya itu kenapa. Ia tarik nafas kuat-kuat dan tepat saat helaan terakhir, pintu terbuka.

BRAKKK

Suara pintu yang ditutup dengan kasar membuat Nari terlonjak. Ia melihat suaminya pulang dengan langkah gontai. Tubuhnya seperti akan jatuh kalau saja ia tidak terus berpegangan pada lemari, dinding atau apapun itu. Cepat Nari menahan tubuh Max yang nyaris menghantam lantai. Dapat ia cium bau alkohol begitu menyengat.

Max memang baru kembali dari tempat setan itu. Ia terpaksa melanggar janjinya pada jaejoong untuk tidak kesana dan merokok lagi, apalagi minum. Dan sekarang, susah payah Nari menahan tubuh Max, bahkan ia sendiri nyaris terjatuh jika tidak berusaha sekuat mungkin.

“Hey..istriku tercinta. Kau menungguku huh ? Istri yang baik…hhugg..” racau Max yang diikuti dengan cigukan. Matanya setengah tertutup dan sepertinya ia benar-benar akan ambruk. Nari tidak mungkin sanggup membawanya ke kamar, artinya ia harus menaiki tangga. Perlahan, ia bawa tubuh suaminya menuju sofa. Tetapi gerakan mabuk ala Max tiba-tiba menjatuhkan sebuah guci di dekat pintu. Salah satu pecahannya gagal dihindari Nari sehingga sukses melukai telapak kakinya. Luka yang kala itu belum sembuh benar terbuka lagi. Tapi sebisa mungkin ia menahan lalu merebahkan Max di sofa. Belum sempat ia menjauh, Max sudah menarik satu tangannya hingga kini tubuh Nari menimpa Max.

“Aku mencintaimu sayang,” ucap Max dengan mata tertutup tapi memegang kedua tangan Nari kuat. Nari menelan ludah, ia perhatikan wajah suaminya yang pucat itu. Ia perhatikan bibir suaminya yang terus meracau tidak jelas. Cinta. Cinta. Kata itu terus diucapkan Max.

Nari telusuri wajah kecoklatan itu dengan teliti. Tiap senti, tiap bagian, sekecil apapun itu, ia ingin menelisiknya lebih dalam. Ia ingin menyelami hal-hal yang mungkin selama ini terlupa. Nyatanya itu benar, ia bahkan baru tahu jika dibagian leher suaminya terdapat tahi lalat.

Nari asik dengan kegiatannya yang sekarang beralih pada hidung mancung Max. lalu mengarah pada matanya yang menutup. Dan terakhir pada bibir pucatnya. Ia kembali menelan ludah. Helaan nafas Max yang tidak teratur terasa begitu kuat di wajah Nari. Ia dapat merasakan ada sengatan listrik menjalarnya mulai dari ubun-ubun hingga ujung jempol kaki.

“Aku mencintaimu Jung Nari. Aku mencintaimu melebihi si brengsek itu. Aku mencintaimu sampai aku rasa aku akan gila. Hahaha aku mencintaimu…..” Max terus mengucapkannya. Ia tidak akan melihat jika Nari hanya bisa jadi penonton setia. Nari membeku melihat suaminya yang begitu hancur. Ia bangkit untuk melepas sepatu Max lalu perlahan melepas satu persatu kancing kemejanya. Ia berlari kekamar untuk mengambil piyama dan memakaikannya pada Max. Hanya atasan.

“Aku mengaku kalah Nari. Kau memang hebat. Aku tidak akan menang melawanmu. Kau tahu aku rela melakukan apapun asal kau tetap disisiku meski resikonya adalah menyakiti diri sendiri. Hahaha”

Nari tahu suaminya tengah mengigau. Dan biasanya apapun yang diucapkan manusia setengah sadar seperti itu adalah kenyataan. Dan kenyataan bahwa apa yang dikatakan Max beberapa hari lalu belum cukup mewakili kesakitannya, cukup membuat Nari membiarkan air matanya mengalir. Ia terisak.

Sungguh, sejak menerima lamaran Max, tidak terbesit niat secuilpun untuk membuatnya seperti ini. Ini diluar skenarionya yang ia rangkai cukup rapi. Dan yang jelas tidak ada nama Eunhyuk dalam skenario itu. Tapi kenyataan berkata lain. Pria itu datang sebagai tokoh kejutan ( mungkin dianggap bencana bagi Max ).

Ia sendiri tidak paham kenapa sangat sulit baginya untuk maju kedepan bersama Max dan Minho. Padahal ia sudah start duluan dibanding Eunhyuk, tetapi justru terlihat pria itulah yang nyaris menuju finish lebih dulu. Sedang ia? masih tertatih-tatih dipertengahan jalan. Tapi ia juga tidak punya niat untuk melepas tangan suaminya sekalipun suaminya sudah nampak sangat lelah.

Nari pegang tangan suaminya. Ia rasakan betapa hangatnya tangan itu. Perlahan, ia cium tangan itu, ia cium berkali-kali hingga ia merubah posisi kepalanya menjadi bersandar pada bagian sofa yang tersisa sedikit. Ia tertidur tanpa ada niat melepaskan tangan Max.

Dalam sekian detik, hembusan angin cukup berhasil menembus pertahanan jendela, menerbangkan tirainya lalu melewati dua insan yang tengah terlelap. Sapuannya membuat si pria bergerak sedikit. Kepalanya bergerak pelan lalu sebuah gumaman terdengar, “Aku mencintaimu Nari…”

_____^^^^^____

“Mama….”

Nari terbangun mendengar suara mungil memanggilnya. Tetapi ia masih malas untuk membuka mata secara sempurna. Lalu ia mulai merasakan dua tangan kecil mengguncang pelan bahunya. Ia tersenyum lalu membuka mata.

“Hey…kau bangun lebih dulu dari mama hm ?” tanya Nari yang langsung menarik tubuh Minho dalam pelukan.

“Mama tersayang, ini sudah jam 8. Mama tidurnya kaya sapi, susah bangun,” ejek Minho sambil menjulurkan lidahnya. Haha Nari ingin tertawa, sejak kapan sapi disangkut pautkan dengan istilah susah bangun, bukannya kerbau ya ?

“Tadi papa yang bangunin Minho, telus papa nyiapin loti buat salapan, susu coklat untuk Minho, teh untuk mama telus….”

“Apa kau bilang?” tanya Nari terkejut. Ia baru sadar di sebelahnya tidak ada lagi tubuh Max yang terbaring lemah karena mabuk.

“Panjang kalau Minho ulang.”

Oke, tanpa diulang pun sebenarnya Nari sudah mendengar, hanya butuh keyakinan. Ia arahkan matanya ke atas meja dan menemukan segelas teh yang masih panas. Jadi benar jika Max membuatkannya teh ? Nari rasa ingin melonjak gembira.

“Telus…papa juga yang obatin luka dikaki mama.”

Satu lagi kalimat yang membuat Nari benar-benar ingin melompat dan berteriak. Cepat ia melihat ke bawah dan benar ! Kakinya yang semalam terluka sudah dililit perban. Apa itu tanda jika suaminya sudah memaafkannya ? ahh ia tidak boleh terlalu percaya diri. Ia sambar teh panas itu lalu ia menemukan secarik kertas yang melipat rapi dibawah gelas tersebut. Ia buka dan menemukan dua kalimat yang membuatnya tidak bisa menahan lompatan.

“Siang ini kita makan siang BERDUA di restoran milik Eunhyuk. Aku mencintaimu.”

Itulah dua kalimat yang tertulis disana. Dan Nari tahu betul itu adalah tulisan tangan suaminya, Max alias Shim Changmin. Argh…Nari melompat girang membiarkan Minho yang hanya menatapnya bingung. Ia garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, memandang ibunya seolah bertanya ‘Mama kenapa sih?’.

“Ahh Minho. Siang ini Minho di rumah Nenek ya.. Mama sama papa mau pergi.”

“Loh? kenapa Minho tidak diajak?” tanya bocah itu, protes tentu saja.

“Minho sayang, ini permintaan papa, Papa sama mama ada urusan, cuma sebentar kok.”

Nari coba beri penjelasan sebaik mungkin hingga Minho bisa mengerti. Entah berhasil atau apa, Minho justru bereaksi dengan seringaian nakalnya, mendadak berubah menjadi titisan seorang Cho Kyuhyun.

“Cie….Papa sama mama mau kencan ya? Cie….hahaha.” goda Minho yang membuat pipi mamanya memerah. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya. Dengan tidak sabar ia berlari ke kamar, bergegas mandi lalu membongkar isi lemari. Ia persis seperti gadis yang akan melewati kencan pertama. Jujur, Nari sudah lama tidak se excited ini. Serasa ada kumpulan kupu-kupu yang mengelilinginya dan memberi semangat.

Mungkin terlihat berlebihan jika ia menyiapkan sekarang sementara yang ditujunya adalah restoran berjarak 28 km, dan itu jam 1 nanti, sekarang baru jam 9. Tapi yang namanya terlalu gembira, mau bagaimana lagi ? Ia ingin tampil sempurna di depan Max. Ia ingin menjadi Nari yang baru. Nari, seorang istri yang akan belajar dari awal. Kesempatan emas ini tidak akan disia-siakannya.

Sekitar dua jam Nari berkutat menghancurkan kamar. Nyaris seluruh pakaiannya tercecer dilantai. Minho mendadak jadi designer untuk mamanya. Ia duduk di kursi depan meja rias dengan santai. Satu tangannya mengelus-ngelus dagu lalu memperhatikan mamanya dari atas hingga bawah setiap mamanya berganti pakaian. Sekitar 13 stel di coba Nari dan belum ada satupun yang membuat Minho mengacungkan jempol. Ia selalu berkata, ‘biasa aja, jelek ah, ganti ma, jangan yang ini ma, kurang pas warnanya dan blablablabla…’

Untunglah, pakaian ke sekian yang dipilih Nari mendapat anggukan semangat dari Minho. Maka sekarang adalah waktunya untuk merias wajah. Huh harusnya itu lebih dulu dilakukan, tetapi ia sudah tidak bisa berpikir normal, hanya ingin cepat berdandan dan menuju restoran Eunhyuk. Hm..Nari menghentikan kegiatannya memakai eye shadow. Ia baru menyadari kenapa tempat yang dipilih Max adalah restoran Eunhyuk ? Apa itu juga pertanda bahwa Max akan memaafkan Eunhyuk ? wahh Nari semakin bersemangat. Entah benar atau tidak, tapi Nari akan sangat berterima kasih pada minuman yang diminum Max semalam hingga merubah suaminya hari ini.

“Nah selesai…” seru Nari semangat. Minho juga sudah berganti pakaian dan bersiap untuk tidak menganggu kencan orang tuanya alias menjadi anak baik yang menunggu di rumah neneknya.

Mereka sudah berada dalam taksi dan Nari belum bisa menyembunyikan kegugupannya. Berkali-kali ia menarik nafas lalu dikeluarkan kencang. Persis murid SMA yang menunggu kelulusan. Minho hanya geleng-geleng melihatnya. Mamanya seperti anak remaja saja.

Oke, mereka sudah sampai di rumah orang tua Max. Melihat penampilan Nari dan setelah mendapat kedipan mata dari Minho, sang ibu mertua mengangguk nakal dan mempersilahkan Nari pergi, lama pun tidak apa. Dan dengan wajah semerah kepiting kelewat masak, Nari pergi. Tapi belum sempat ia membuka pintu taksi, suara Minho menahannya. Ia berbalik, “Ada apa sayang ?”

“Ma..Nanti jemput Minho kan?” tanya bocah itu serius.

“Tentu saja.”

CUP

Nari menghadiahkan kecupan dipipi anaknya lalu bergegas menaiki taksi. Ia melambaikan tangan lama pada Minho hingga tubuh mungilnya tak terlihat lagi. Hah..ia semakin tidak sabar.

Ia sudah duduk manis di salah satu kursi. Duduknya tidak bisa tenang sejak tadi. Ia harap jam yang menunjukan pukul 12 itu berubah menjadi 1. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gugup. Matanya tidak lepas dari pintu, tentu berharap akan memperlihatkan tubuh tinggi suaminya dengan jas dan tas kerja ditangan kanan kirinya. Ah..kenapa waktu terasa begitu lama ?

“Nari ?” sapa Eunhyuk yang jelas terkejut melihat penampakan Nari di sini.

“Hey…” Nari hanya bisa menjawab dengan itu. Ia masih mencoba menetralkan kegugupannya.

“Sesuatu terjadi?” tanya Eunhyuk khawatir.

“Ya. Sesuatu terjadi dan itu sangat baik. Lihat ini!” Nari membuka sepatunya dan memperlihatkan perban disana.

“Kau sebut ini baik? Astaga…”

“Hyuk..bukan itu. Sesuatu adalah karena Max yang mengobatinya, pagi tadi ia membuatkanku teh dan memintaku untuk bertemu siang ini di sini. Bukankah sangat baik? Aku yakin tujuannya mengajakku ke sini karena juga akan memaafkanmu,” papar Nari semangat. Dikepalanya sudah terbayang saat Max dan Eunhyuk berjabat tangan.

“Kau yakin itu tujuannya?” tanya Eunhyuk sangsi. Ia mencium aroma tidak enak disini. Benarkah Max sudah meaafkan dia dan Nari?

“Aku yakin, “ angguk Nari semangat.

Eunhyuk baru sempat membuka mulut untuk membalas jawaban Nari, tapi panggilan terdengar dari arah dapur. Sepertinya terjadi sesuatu maka ia terpaksa meninggalkan Nari. Sedangkan Nari sendiri memlih lanjut melihat pintu kaca didepannya.

Dan tak butuh waktu lama, pria dengan jas dan tas kerja ditangan kanan kiri itu muncul juga. Lebih cepat dari perkiraan. Nari cepat berdiri dan memasang senyum secerah mungkin. Jika boleh, sebenarnya ia ingin melompat-lompat.

“Max…” sapa Nari lebih dulu. Max tersenyum lalu matanya memperhatikan Nari dari atas hingga bawah, “Kau terlihat berbeda,” pernyataan yang entah bertujuan apa tetapi bagi Nari terdengar seperti pujian baginya. Mereka sama-sama duduk sekarang.

“Hm..Max…untuk teh dan perbannya, terima kasih,” Nari tersenyum tanpa berniat mengalihkan pandangannya.

“Tidak masalah,” Max hanya bicara sekedarnya. Lalu ia mengeluarkan sebuah map hijau dari dalam tas, ia letakkan di atas meja.

“Hmm aku harap doaku terkabul. Aku berjanji akan belajar, aku akan memperbaiki semuanya, aku..”

“Aku sudah memaafkanmu dan juga….Eunhyuk,” potong Max cepat. Ia tidak ingin ini berkepanjangan. Tujuannya kesini harus segera dijelaskan.

“Kau serius?” tanya Nari meyakinkan. Jujur, Nari tidak bisa menggambarkan suasana hatinya sekarang. Bahagia dan sangat sangat bahagia mungkin belum mampu mewakili, “Tuhan..aku tidak akan menyia-nyiakan ini,” batinnya.

“Sebenarnya aku membawa ini,” ujar Max sambil memperlihatkan map tadi. Nari mengambilnya saja, “Apa ini?” tanyanya santai.

“Buka saja,” perintah Max. Nari membuka map tersebut lalu mulai membacanya. Awalnya ia tidak begitu paham karena otaknya masih diselimuti kegembiraan. Ia masih merasa terbang ke langit dan tidak ingin turun dan tolong jangan di turunkan. Tapi saat otaknya mulai bekerja, saat matanya menelaah kata demi kata yang tercoret diatas kertas putih dua lembar tersebut, ia menemukan ada yang salah. Dengan gemetar ia meletakkan map tersebut lalu menatap sang suami mencari jawaban. Matanya sudah berkaca-kaca dan rasanya….ia sudah dilempar ke tanah tanpa aba-aba, tanpa diminta.

“Max…ini…..”

“Kita cerai.”

**************************************************************************************************

TO BE CONTINUE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

4 thoughts on “Destiny Part 8

  1. desi retina berkata:

    Eonni sumpah nyesek abis baca nya airmata keluar g pake aba2
    Aq nyesek bacanya
    Eon plis kasih ending yg bagus
    Walaupun aq blm baca smw part nya tp aq yakin ni sedih bgt
    Huaaaaa T.T T.T

  2. chunnie_man berkata:

    Eonn jangan buat minnie cerai dong kasihan kan.udah seneng si nari.di buat mewek.kasihan minhonya harus milih satu!si eun hyuk dibuang aja kekolam…aku gak suka eun hyuk perusak rumah tangga orang.ditunggu part yang bagus ya!!

  3. wooooowww ini daebaaaakkkk!!
    mian dateng² ngerusuh, tapi beneran dehh daebak bangett ff nyaa, walaupun aku baru baca part 7 sama 8 tapi feel nyaa dapet bangett, kereeenn author.
    pokoknya ditunggu kelanjutannyaa /penasaraaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s