Destiny Part 7


Author : Ramalia

Cast : Nari (OC)

                Max Changmin

                Lee Hyukjae

                Other Cast

Genre : Romance, Family

 

Awal…Dia menusukku pelan dengan lidi

Lalu membuat goresan kecil di tanganku dengan ranting.

Kemudian dia membuat lubang di dadaku dengan batang kayu

Dan sekarang dia mengoyak tubuhku dengan pisau

Dia hanya tahu cara membuatku sakit

Dia tidak punya cara menyembuhkannya. Dia tidak punya obatnya.

************

Sinar matahari yang menerobos masuk membuat tidur si wanita yang hanya berbalut selimut itu terganggu. Terasa ada paksaan dari luar untuknya agar segera membuka mata. Dengan malas ia mengucek-ngucek matanya, tapi bukan berniat untuk membuka lebar. Malahan ia kembali terlelap dengan guling dipelukan.

Sekitar satu menit ia seperti kembali berlayar di lautan mimpi. Entah apa dalam mimpinya ada hal yang menggangu atau hal lain, satu menit kemudian matanya tiba-tiba ingin terbuka. Perlahan cahaya yang datang disekitar terutama dari jendela itu menyilaukan pandangannya. Masih dengan sangat malas dan terpaksa, ia mencoba melihat lurus ke depan.

Hal yang pertama dapat ditangkap oleh indra penglihatannya adalah sosok pria berpiyama putih berdiri didepan jendela menghadap keluar. Nari tersenyum entah untuk apa. Dengan mata setengah tertutup ia menyapa pria itu.

“Hyuk…” panggilnya parau, khas suara baru bangun tidur. Tidak ada jawaban. Nari tidak begitu perduli dan sempat kembali memejamkan mata. Menit berikutnya ia memanggil kembali nama itu. “Hyuk !”

Pria yang disapa dua kali itu akhirnya menoleh juga. Hanya sesaat dan tidak ada ekspresi jelas diwajahnya. Pria bernama Eunhyuk itu lanjut memandang kedepan. Sejak tadi ia memperhatikan tanaman-tanaman yang seingatnya selalu ia rawat. Apa matanya tidak salah lihat ? Ia seperti melihat bunga-bunga merah dan kuning menjadi layu, berubah coklat, nyaris jatuh dari tempatnya. Dan jika mengingat semalam, harusnya bunga-bunga itu telah mendapat banyak asupan yakni hujan. Hmm mengingat hujan, semalam, jaket, benang. Hal-hal itu mengundang setitik air jatuh dipelupuk matanya.

Nari yang merasa diacuhkan akhirnya sedikit bangkit dari posisi tidurnya. Kepalanya ia sandarkan pada bantal. Sekali lagi mengucek mata lalu memandang Eunhyuk, tubuhnya hendak beranjak lebih, bermaksud untuk bangun tetapi saat itulah niatannya terhambat. Selimut yang menutupi tubuhnya ternyata…adalah satu-satunya kain disitu. Ia bergerak panik. Mengacak-ngacak selimut tersebut, bantal serta guling mencari-cari pakaian yang ia kenakan semalam, maksudnya piyama dan jaketnya yang semalam tersangkut be……oke..satu persatu memori singkat semalam berputar. Satu persatu hal bodoh dan gila itu muncul dibenaknya. Ia tidak lupa. Tidak mungkin lupa. Hanya saja……

Nari bergerak lagi, mencari pakaiannya yang entah bagaimana sulit ditemukan. Dan gerakan tangannya terhenti kala menemukan hal lain. Menemukan noda merah pada bagian sprai putih tempat ia berada. Dengan gemetar tangannya menuju kesana, memastikan dan jawabannya sudah jelas. Dengan cepat ia menoleh pada pria yang sejak tadi diam.

“ Eunhyuk !”

Eunhyuk menoleh sebentar lalu melangkah menuju Nari yang masih  duduk dipembaringan. Ia bersimpuh didepan Nari dan tertunduk. Sungguh ia sendiri tidak mengerti bagaimana menyatakan penyesalannya. Semalam itu…..diluar kendali. Diluar akal sehat.

“Maafkan aku !” permintaan maaf itu diiringi oleh tangisan yang intensitasnya bertambah tiap detik. Air mata Nari jatuh bersamaan dengan tersusunnya urutan kejadian semalam. Bagaimana ia menyetir mobil dengan nekat, mengobati Spenser, berdiri didepan jendela menunggu hujan reda lalu…..ia….Eunhyuk…..mendekat hingga…..Argh Nari ingin berteriak. Semuanya seperti kaset rusak yang tidak bisa dihentikan. Mereka berpelukan, Nari melepas pakaiannya dan…

“Maafkan aku” sekali lagi Eunhyuk mengulang permintaannya yang terdengar salah dari Nari.

“Tidak. Ini salahku. Aku yang memulai. Karena aku, semua karena aku. Aku…” sulit melanjutkan kata-kata. Tubuh Nari terasa kaku dan satu-satunya yang terpikir olehnya sekarang adalah suaminya.

“Aku….aku sudah bersalah pada Max. Bagaimana jika ia tahu ?” tanya Nari yang diiringi isak tangis. Dadanya sesak  membayangkan jika Max melihat ini dan…. Ya Tuhan..Nari merasa seperti wanita paling jahat didunia.

Eunhyuk tidak langsung menjawab. Diantara banyaknya rasa bersalah atas ini, terselip pertanyaan penting tentang….noda itu. Ia ingin bertanya tetapi ini bukan waktunya dan lagi bukan sebagai pekara utama, tapi berfikir sendiri dengan tebakan konyol juga tidak berguna. Jadi..jika ia adalah pria pertama yang merenggut kesucian Nari, lantas dari mana datangnya makhluk mungil seperti Minho ? Lalu hubungan macam apa yang dilakukan Max dan Nari 6 tahun ini ?

“Aku takut Hyuk…” suara Nari menyadarkan Eunhyuk. Ia menegakkan tubuh Nari.

“Aku akan mengantarmu pulang. Kita atur alasan apapun agar ini tetap menjadi rahasia kita.”

“Tapi aku sudah disini”

DEG

Dalam situasi dengan atmosfer bahagia, pastinya suara itu akan langsung disambut dengan seruan, “Panjang umur, baru juga dibicarakan !” Sayangnya, sekarang bukan itu yang terjadi. Tertangkap basah melakukan suatu kesalahan adalah situasi yang tidak mengenakan, bukan ? dan sialnya, itu yang menimpa dua manusia yang mendadak seperti patung, bedanya mereka bernafas.

Pria itu…berdiri diambang pintu. Kedua tangannya mengepal kuat siap untuk mematahkan rahang pria pincang didepannya. Giginya menggertak menahan emosi yang sepertinya ingin membludak. Jika dua insan yang masih setia pada posisi semula itu bersedia mengangkat wajah maka mereka akan melihat, pria itu masih berpiyama, rambut acak, mata merah, kusam. Dia…Max.

Max hancur sekarang. Sepanjang perjalanan menuju tempat ini, tidak sedikitpun ia terfikir akan melihat pemandangan yang begitu indah dimana istrinya bersama pria lain. Sungguh, istrinya keterlaluan. Inikah balasannya ? Jika ia ingin mengajak Nari bermain hitung-hitungan maka kamus tebal yang mampu menjatuhkan seekor kucing pun tidak akan cukup menulis daftar hal-hal baik darinya untuk Nari.

“Aku mengganggu ?” ia mulai angkat bicara. Sebisa mungkin ia menahan untuk tidak langsung menghabisi Eunhyuk, meski tangannya sudah sangat gatal membuat Eunhyuk seperti vas bunga yang semalam tak berbentuk setelah ia melihat ponsel istrinya.

Eunhyuk cepat bangkit lalu dengan tertatih ia mendekati Max. Ia berusaha tegak, bertatapan dengan pria yang mungkin sekarang sangat membencinya. “Max…..” untuk sementara hanya itu yang mampu diukir bibirnya. Max nampak tidak begitu menanggapi. Matanya beralih pada wanita yang masih menunduk takut.

“Kalian sangat menikmati waktu semalam?” tanya Max dengan nafas berat.

“Max…dengar! Semalam kami….”

“Kalian juga tidak mengunci pintu. Sengaja agar aku datang dan melihat?” Max memotong apapun pembelaan yang akan dilakukan Eunhyuk.

“Max, Dengar dulu!”

BUG

Satu bogem mentah berhasil melayang tepat diwajah sebelah kiri Eunhyuk. Ia tersungkur ke lantai sambil menutupi bagian wajahnya yang sedikit berdarah. Max tidak perduli lalu bergerak mendekati istrinya. Ah apa wanita itu masih pantas disebut istri?

PLAKKK

Satu tamparan membekas dipipi Nari. Itu mengundang tangisannya makin menjadi. Ia terima. Apapun itu ia terima. Jika suaminya akan memberi hukuman lebih dari ini ia pasrah asalkan setelah itu…ada pintu maaf yang terbuka baginya.

“Apa yang kau fikirkan, huh?” tanya Max nyaris berteriak. Nari tidak sanggup untuk menjawab. Dan satu tamparan lagi hinggap dipipi sebelah kanan. Melihat itu, Eunhyuk cepat bangkit untuk menahan tangan Max yang hendak melayangkan tamparan ketiga.

“Max, Hentikan!”

Dengan kasar Max menepis tangan Eunhyuk yang terasa jijik jika menyentuhnya. “Kalian puas sekarang ? Dan kau Nari !” max menunjuk tepat ke wajah Nari, “Kau senang telah memperlihatkan bahwa aku bahkan belum pernah menyentuh tubuhmu ?”

Nari cepat menegakkan wajahnya mendengar kalimat itu. “Tidak Max. Itu tidak benar. Kau suamiku. Semalam aku dan Eunhyuk hanya…….” Nari kehilangan kata-kata. Lagipula kata macam apa yang mampu membuatnya terlihat benar dimata sang suami?pembelaan macam apa yang pantas?

“Hanya apa? Kau bahkan tidak bisa berkata lagi. Kau terlihat murahan!“

Caci maki lebih menyakitkan dari inipun bisa Nari terima. Meski hatinya ingin berteriak stop. Meski luka akibat cacian itu sangat membekas, sepertinya belum seberapa dibanding apa yang dirasakan Max saat ini.

“Dan kau!” kata Max dengan mata melotot mengarah pada Eunhyuk. Satu tangannya hendak naik lagi tapi masih bisa ditahan. “Aku turut prihatin atas Yoona. Tapi kenapa harus istriku sebagai gantinya ?”

“Ini memang salahku.  Semalam Nari bermaksud untuk mengobati Spenser. Jangan berfikir yang macam-macam tentang Nari. Jangan salahkan istrimu. Kami…”

“CUKUP!” suara bentakan Max kali ini benar-benar memekakan telinga. Rahangnya sudah mengeras sejak tadi dan cukup baginya terus-terusan menahan. Ia tarik kerah piyama Eunhyuk dan memandangnya dengan marah.

“Aku tidak menemukan istriku di kamar dan menemukannya di kamar pria lain tanpa busana. Fikiran baik macam apa yang bisa kusimpulkan?”

Nari dan Eunhyuk kehabisan kata. Rasanya mustahil membuat Max tersenyum lalu berkata ‘tidak apa. aku memaafkan kalian’ oh,,,itu mungkin adalah mimpi paling baik sekarang.

“Maafkan aku. Maaf…” ujar Nari dengan berusaha memegang lengan sang suami, berharap kemurahan hatinya untuk kesekian kali.

“Kata maaf sudah kehilangan makna setelah kau ucapkan.” Tanpa kata-kata lagi Max bergegas keluar dari kamar yang mungkin akan jadi tempat yang paling ia benci sekarang. Eunhyuk dengan segala keterbatasannya berlari, berusaha mengejar. Sementara Nari, masih sibuk dengan mencari-cari pakaiannya.

“Ya Tuhan… kemana pakaianku”

Setelah cukup lama berkutat di atas ranjang, akhirnya ia menemukan kain penutup tubuh itu di balik bantal dan dibawah kolong ranjang. Entah bagaimana benda penting itu tersasar kesana. Nari sudah tak begitu ingat. Dengan cepat ia mengenakan pakaian lalu berlari keluar.

Hal yang pertama ia dapati adalah Max yang menindih tubuh Eunhyuk dilantai. Suaminya itu tanpa ampun menghajar Eunhyuk dengan membabi buta. Seperti tidak lagi perduli akan hukum yang mungkin akan menjeratnya karena membuat orang babak belur. Yang menjadi korban tetap pasrah tanpa ada niatan melawan. Ia sadar betul pukulan itu belum seimbang dengan kesalahan yang ia perbuat. Nari berlari untuk menahan Max melakukan hal lebih lagi.

“Max….cukup !” Nari berusaha menarik tangan suaminya tapi justru ia yang tersungkur ke belakang karena tepisan Max. Max berhenti memukuli Eunhyuk lalu beralih pada Nari yang terduduk dilantai dengan wajah basah. Kedua tangannya kembali mengepal. Pelan ia berjongkok menyemakan posisi. Lalu tiba-tiba satu tangannya melayang.

BUG.

Nari tercekat. Nafasnya tertahan saat tangan itu hendak mendarat diwajahnya tapi berbelok dan berhenti pada dinding putih disampingnya. Tanpa memperdulikan tangannya yang terluka karena ulah sendiri, Max menatap istrinya dengan marah. Sorot matanya yang menusuk tidak pernah Nari temui seperti itu. Wajah yang biasanya tersenyum hangat padanya sekarang mampu membuatnya nyaris tidak bisa bernafas.

“Aku….kecewa padamu”

Setelah kalimat singkat yang diucapkan penuh penekanan itu, Max pergi. Suara pintu yang ditutup secara kasar itu membuat Nari tersentak. Tak lama terdengar suara mobil yang menjauh meninggalkan pekarangan rumah.

Saat itu barulah Nari bisa sedikit bernafas dengan normal. Air matanya kembali jatuh satu persatu bahkan lebih dan lebih. Matanya mengarah pada Eunhyuk yang sudah mulai bangkit dan bersandar pada sofa. Pria itu menunduk dan terdengar isakan dari bibirnya.

Tidak ada yang berkata-kata. Hanya terdengar tangis dari dua orang yang sama-sama tidak beranjak dari posisinya. Mereka diam. Lalu sama-sama melihat figura yang tergantung di depan. Foto itu….wanita yang tengah tersenyum itu justru terlihat seperti tengah memandang mereka dengan tangis.

“Yoona…..” Eunhyuk bersuara pelan tapi harus terhenti karena tangisnya tidak bisa ditahan. Kemudian terdengar suara mobil yang memasuki pekarangan. Mereka hanya diam menunggu siapa tamu yang berkunjung pagi-pagi begini. Ahh bukan ! Setelah melihat jam, Nari baru menyadari jika sekarang sudah pukul 9.

“Hyung….kenapa pot-pot bunga didepan beranta…..kan ? Ya Tuhan….apa yang terjadi pada kalian?”

*********

Nari sudah berada dalam mobil dan mengendarai dengan nekat. Tidak ada pilihan lain. Ia harus segera pulang dan menjelaskan semuanya pada Max. Entah penjelasan bagaimana nanti ia juga tidak tahu. Yang jelas mereka perlu bicara dan itu dengan hati bukan emosi.

Setelah Kyuhyun datang dan meyakinkan Nari jika ia bisa menghandle urusan Eunhyuk, maka Nari bergegas pulang. Sepanjang jalan tangisnya tidak bisa berhenti. Sepertinya stok air mata seseorang tidak bisa ditebak dan mungkin memang tidak berbatas. Hanya ini yang sementara bisa ia lakukan, menangis, menyesal.

“Argh”

Nari memukul stir mobil saat terpaksa harus berhenti karena jalanan macet. Ohh Nari ingin mengumpat. Sejak kapak Korea punya istilah macet dipagi hari ? Ia sembulkan kepala keluar jendela untuk melihat. Ia tidak bisa tahu apa yang terjadi didepan hingga membuat antrian mobil yang begitu panjang. Sekali lagi ia pukul stir hingga menimbulkan bunyi klakson berkali-kali. Kepalanya ia benamkan dibalik kedua tangannya yang melipat.

Sekitar beberapa menit, ia betah dengan posisi seperti itu. Mentralkan nafasnya yang sejak tadi diajak memburu.  Lalu tiba-tiba ia mengangkat muka, membuka pintu dan berlari kedepan. Tanpa alas kaki yang memang tadi terlupa, ia berlari melewati panjangnya antrian mobil. Beberapa meter didepannya segerombolan orang mengerumuni sesuatu. Entah apa itu, Nari belum berada pada posisi yang memungkinkan untuk tahu dan lagi ia tidak begitu ingin tahu.

Saat sampai pada kerumunan, Nari berhenti sejenak untuk melihat kalau-kalau ada taksi yang melintas. Ditengah pencariannya, telinganya mendengar kasak-kusuk dari orang sekitar jika telah terjadi kecelakaan mobil dan truck sehingga menyebabkan kemacetan.

“Mana taksinya ?”

Nari bergerak tidak karuan melihat-lihat lagi berharap ada taksi. Suara orang-orang sekitarnya yang membicarakan tentang kecelakaan seperti ‘Siapa korbannya ? Apakah selamat ? Bagaimana bisa terjadi ?Siapa yang salah?’ terdengar seperti hujatan yang ditujukan padanya. Telinganya seperti menangkap jika mereka tengah bicara ‘Lihat ! Dia istri yang bodoh. Dia tidak pantas mendapatkan suami sebaik Max. Dia pasti sudah gila. Dia butuh psikiater… Dia……

“Arghhh hentikan !” teriak Nari yang membuat orang-orang melihatnya, menjadikannya pusat perhatian kedua setelah korban kecelakaan. Nari sadar lalu berlari menjauhi kerumunan. Beruntung, ia melihat taksi dan menghentikannya.

Nari sudah berada dalam taksi. Si supir dengan segala kesangsiannya, tetap menuruti permintaan Nari yaitu membawa mobil dengan kecepatan penuh. Mereka memang sudah terbebas dari area macet dimana kecelakaan terjadi, maka sisupir mampu menjalankan permintaan Nari dengan baik. Ya..ngebut.

Tangan kaki Nari bergetar. Sesekali tangannya memegang ujung piyamanya dengan gelisah. Wajahnya sudah sangat basah. Kakinya menghentak dengan tidak sabar. Andai tidak ada gangguan, maka bisa dipastikan sekarang ia tengah mengendarai sendiri mobilnya dan bisa dibayangkan bagaimana kacaunya jalan atau mungkin dialah yang akan dikerubuni orang-orang sebagai korban kecelakaan.

Nari ingin berteriak, ingin mengumpat diri sendiri, ingin menghantamkan kepalanya ke aspal. Bodoh, bodoh mengingat bagaimana semua kelakuannya terhadap Max, mengingat kesabaran suaminya itu. Mengingat begitu banyak yang ia terima sebagai istri seorang Shim Changmin. Mengingat betapa gegabahnya ia semalam. Ia…Eunhyuk..berdua…lalu Max melihat, menangis. Semua begitu menyakitkan untuk diingat. Ia seperti tengah memainkan drama gila dimana ia sebagai peran utama dan drama tersebut pantas di beri judul ‘Bodoh’.

Sisupir meski tetap focus dengan menyetir ngebutnya, matanya sesekali melirik melalui spion bagaimana penumpangnya. Sejak awal ia memang ragu. Karena jika menelaah penampilan Nari lebih terlihat seperti warga rumah sakit jiwa yang melarikan diri atau….

“Saya waras. Saya punya uang dan tolong lebih cepat lagi !” pinta Nari tegas karena menyadari tatapan penasaran dari supir beruban itu. Mungkin terlihat tidak sopan karena supir itu terlihat sebaya dengan ayahnya. Tapi yang ada difikiran Nari sekarang hanyalah Max dan Max.

Akhirnya rumah megah yang menjulang tinggi itu nampak didepan. Taksi berhenti dan dengan tidak sabar Nari mengeluarkan lembaran uang dari saku jaketnya. Ia yakin itu berlebih tapi itu tidak penting lagi.  Segera ia berlari kedalam dan pemandangan yang ditemukannya adalah keadaan rumah yang tidak baik.

Beberapa perabotan sudah menjadi kepingan dilantai. Beberapa figura yang membingkai kebersamaan Nari dan suaminya juga tergeletak dilantai dengan kaca retak. Pecahan kaca menjadi hiasan lantai yang bisa saja menusuk kaki Nari. Ini diluar dugaan. Nari tidak mengira jika akan sampai berakibat seperti ini.

Nari berjongkok untuk mengambil salah satu figura dimana  terdapat foto pernikahan mereka. Setitik air jatuh tepat pada wajah sepasang suami istri yang tertawa lebar itu. Rumah tangganya terancam sekarang. Tawa bahagia dalam foto tersebut hanya sesaat. Tawa itu dihancurkan oleh Nari sendiri, karena ulahnya, karena kebodohannya, karena…

PRANGGG

Suara pecahan kaca terdengar dari dalam kamar. Dengan cepat Nari berlari kesana.Nari menemukan suaminya berdiri didepan cermin yang tidak karuan. Segala benda yang tadinya tersusun rapi di depannya sudah terhambur kemana-mana. Nari memfokuskan tatapannya pada Max. Suaminya berdiri tegak membelakanginya dengan air mata yang terus mengalir.  Salah satu telapak tangannya meneteskan cairan kental kemerahan. Dadanya naik turun cepat.

Max menatap istrinya melalui pantulan kaca yang retak tersebut. Perlahan, ia berbalik. Maju dua langkah lalu berhenti. Nari tidak bergeming. Ia masih berdiri didepan pintu. Ia memang ingin cepat menyelesaikan ini, tetapi…apa kalimat yang harus ia ucapkan pertama-tama ?

“Lihat apa yang sudah kau lalukan padaku !” ucap Max sangat pelan. Mereka hanya berjarak satu meter sekarang. Nari coba lebih dekat. Ia beranikan diri terus menatap sang suami.

“Max..kau perlu tahu, semalam aku pergi kesana karena Spenser sakit. Eunhyuk tidak memungkinkan untuk ke rumah sakit dan sebenarnya dia sudah melarangku, tapi…aku hanya berfikir untuk menjaga Spenser. Aku punya janji pada Yoona”

“DIAM!” teriak Max tepat diwajah sang istri. Nari diam. Ia ingin menutup telinga tapi bagaimana pun ia harus menghadapi ini.

“Kau..yang bahkan tidak pandai membawa mobil nekat pergi kesana tengah malam. Kau tahu pria sialan itu punya selusin sahabat dan keluarga yang masih lengkap. Dia cukup menghubungi salah satu nya, maka mereka akan datang lebih cepat darimu. Lagipula kau tahu apa soal bayi huh?”

DEG

Nari terdiam. Hal ini, harusnya tidak lagi dibahas. Dan cara Max menyampaikannya seperti lupa jika dulu ia pernah berjanji tidak lagi bicara soal itu. Max begitu ingin membuat Nari lupa tentang vonis dokter kala itu. Tapi sekarang ?

Dan untuk urusan Spenser, jujur, Nari tidak terpikir apa-apa semalam. Kemungkinan jika harusnya Eunhyuk tidak kekurangan bantuan pun jauh dari perkiraan. Yang ia tahu hanya ingin menjaga bayi malang itu. Tak bisakah suaminya melihat itu bukan sebagai kesalahan ?

“Dan apapun alasannya, toh akhirnya kalian tetap melakukan hal keji itu bukan ?” tanya Max masih berusaha tenang. Ia memegang kedua bahu Nari kuat. Lagi, Nari merasa seperti sebuah cengkraman dan kali ini lebih kuat. Untuk sesaat tidak ada suara. Nari kehabisan pembelaan. Ia hanya bisa menunggu cacian macam apa yang akan ditujukan padanya.

“Aku..sudah menjajakan segala yang aku punya. Aku menawarkan segalanya. Aku menjual semua bahkan diriku sendiri, berharap kau berminat, memilih satu atau membeli semuanya. Tetapi apa yang kau lakukan ? kau bahkan tidak melirikku sedikitpun. Kau fikir aku apa ? aku hanya manusia biasa. Aku hanya suami yang ingin hidup bahagia bersama istri dan anak-anakku.”

Max belum melepas pegangannya. Ia menunduk perlahan. Dan berikutnya terdengar suara isakan. Nari tidak kuat melihat ini dimana seorang Max menangis sejadi-jadinya.

“Max….” Nari coba bersuara meski untuk itupun begitu sulit. Meski itu mungkin tidak punya guna. Tapi membiarkan suaminya menangis juga bukan hal benar.

“Kapan kau pernah melihatku ? Kapan kau menganggapku sebagai suamimu ?” Max kembali menatap Nari dan kali ini berucap dengan kasar. Ia guncang bahu sang istri meminta jawaban.

“Maafkan aku…” Nari tidak bisa lagi merangkai kalimat yang benar. Ia hanya punya itu sekarang. Kosakatanya terbatas saat ini, menyisakan maaf.

“Telingaku sudah tidak ingin lagi mendengar itu. Aku sudah kenyang.”

Max menghentak bahu Nari kuat dan menjauh. Ia berbalik membelakangi Nari. Dadanya bergerak cepat dan tidak karuan. Satu tangannya memegang dada berharap itu dapat menenangkan. Agak sulit baginya untuk menghirup udara. Mulutnya terbuka mencari-cari udara untuk mengisi paru-parunya yang semakin sesak. Satu tangannya lagi berpegangan pada ujung meja rias yang sudah berantakan. Nafasnya terdengar sulit dan itu tidak bisa dikatakan baik. Melihatnya, Nari berani mendekat.

“Max..”

“Jangan sentuh aku !” Max berbalik dan menepis kesar tangan Nari.

“Tolong maafkan aku. Hukum aku. Tampar aku. Pukul aku silahkan asal kau mau memaafkanku” pinta Nari sambil berusaha mendapatkan kedua tangan suaminya. Namun, sebanyak apapun usahanya, sebanyak itu pula Max menepis.

“Aku kecewa padamu Nari. Kau melanggar janjimu sendiri dihadapan Tuhan. Kau bukan hanya mengabaikanku, tetapi juga Minho. Kau rela ke rumah si brengsek itu ditengah hujan deras demi Spenser. Kau tidak memikirkan Minho ? Aku tahu dia bukan darah daging kita tapi siapa yang dulu mengotot untuk mengadopsinya ?”

“Demi Tuhan. Aku sudah menganggap Minho anak kandungku. Aku menyayanginya. Aku tidak bermaksud mengabaikannya.”

“Tapi kau meninggalkannya semalam. Kau tidak terpikir dia akan menangis mencarimu atau mungkin dia sakit ? Sekarang kau tahu dimana dia ?”

Pertanyaan sinis itu membuat Nari membeku. Tidak lagi berusaha menggapai tangan sang suami. Ia baru menyadari satu hal. Sejak tadi…..sejak menginjakan kakinya dirumah yang berantakan ini, ia tidak melihat atau mendengar suara anak itu. Melihat jam dan matahari yang seterang ini, harusnya Minho sudah bangun dan merengek didepan meja makan. Apa bocah itu meringkuk dibawah meja makan karena takut melihat amukan papanya ?

“Kau baru menyadarinya ?” tanya Max pelan lalu mengambil kunci mobil yang tergeletak diatas pembaringan. Ia melangkah cepat tanpa menoleh pada Nari yang hanya diam. Saat terdengar suara mobil yang melaju kencang, barulah Nari berlari menuju kamar anaknya.

“Minho!” panggilnya. Ia memeriksa ke dalam lemari pakaian dan kolong ranjang mengira-ngira jika anaknya bersembunyi disana. Tapi Minho sangat benci kegelapan. Ia berlari lagi keluar sambil terus memanggil nama itu. Dapur, toilet, taman belakang, kolam renang, semua ia datangi dan hasilnya nihil. Ia kembali ke kamar untuk mencari ponselnya yang seingatnya, semalam ia letakkan diatas meja rias. Tetapi sekarang meja itu berantakan dan tidak ada ponsel disana. Ia mengacak-ngacak benda yang tercecer disana dan juga lantai untuk mencari benda hitam tersebut. Tak butuh waktu lama, ia menemukannya.

Belum sempat ia mencari nama sang ibu, ponsel itu sudah menandakan adanya panggilan. Segera ia angkat, “Hallo”

“NARI! Kemana saja kau ?” tanya ibunya keras cukup untuk membuat Nari menjauhkan ponselnya sejenak.

“Aku..memangnya kenapa bu?”

“Astaga…kenapa kau belum ke rumah sakit juga ?”

“Rumah sakit? ibu sakit? Ryan? Ayah?” tanya Nari berturut-turut.

“Minho dirawat sejak semalam dan kau tidak tahu?”

DEG

****

“Minho!” seru Nari saat membuka pintu. Yang pertama ia temukan adalah senyum manis anaknya yang tengah duduk bersila diatas ranjang dengan selang infus disalah satu tangan. Segera saja Nari menghambur kesana lalu memeluk Minho erat. Minho yang tidak begitu mengerti kenapa hanya memasang tampang bingungnya. Bibir pucatnya tersenyum kecil.

“Minho…maafkan mama. Semalam mama…..”

“Semalam kau kemana ?” tanya seseorang tiba-tiba dan pertanyaan itu cukup untuk membuat Nari diam. Ia alihkan pandangan kesekitar dan ia baru sadar, kedua orang tua serta mertuanya duduk di sofa dengan tatapan mengintrogasi. Ibunya menggeleng lemah, sedangkan ayahnya memandang penuh pertanyaan. Dan pertanyaan yang terdengar dingin tadi…keluar dari bibir ibu mertua.

Nari menelan ludah berkali-kali. Ia berdiri dihadapan ke empat orang itu lalu menunduk hormat. Jadi apa yang harus ia katakan ? Jujur itu memang dianjurkan tapi apa ia harus berkata dengan gamblang jika semalam ia ‘tak sengaja’ berlayar ke surga dunia ? Yang benar saja.

“Jadi…?” tanya ibu mertuanya sekali lagi. Nari belum berani menatapnya, masih menunduk takut, belum menemukan alasan masuk akal dan yang jelas bukan kejujuran.

“Aku…”

“ Max berkata jika semalam kau ke rumah Eunhyuk untuk menjaga Spenser yang juga sedang sakit. Kau tidak bisa pulang karena hujan dan …..tertidur. Benar begitu ?“ pernyataan dan pertanyaan ibunya itu membuat Nari bingung. Ia memang kesana, benar memang hujan, dan benar ia tertidur tapi…. Ah meski begitu, ia tetap mengangguk.

“Lain kali jangan diulangi Nari ! Beruntung Minho tidak apa-apa. Jika sesuatu yang buruk dan kau tidak ada bagaimana ?”

Nari membungkukkan badannya sekali lagi, “Maaf…Aku janji ini tidak akan terulang”

Setelah sesi tanya jawab yang terasa menyeramkan itu, orang tua Nari serta mertuanya pergi karena harus menyelesaikan banyak urusan. Minho memang tidak apa-apa dan besok sudah bisa pulang. Meski sebuah penyakit terlebih memasuki rumah serba putih ini tidak bisa disyukuri, setidaknya mereka bersyukur Minho tidak kenapa-kenapa. Hanya demam tinggi.

Sekarang hanya ada Nari dan Minho di ruang rawat bernomor 405 ini. Minho asik dengan mainan robotnya, sedangkan Nari hanya memperhatikan anaknya dengan penuh rasa bersalah. Bagaimanapun ia merasa begitu jahat tidak berada disisi Minho semalam.

“Minho..papa..kemana ?” tanya Nari agak ragu. Meski harusnya pertanyaan itu bisa diucapkan dengan biasa karena Minho tidak tahu apa-apa, tetapi terasa sulit bagi Nari. Minho menghentikan aksi robotnya, menatap sang ibu.

“Tadi kelual bental. Nah..itu papa” seru Minho riang saat pintu terbuka dan memperlihatkan tubuh jangkung papanya. Nari tidak berani menoleh kebelakang atau bergerak sedikitpun. Ia takut. Max nampak tidak perduli bahkan tidak melirik istrinya barang sedetik. Ia lebih tertarik mendekati Minho lalu mengecup puncak kepalanya.

“Papa…Minho mau disini telus. Doktelnya baik. Sustelnya cantik-cantik” ungkap Minho dengan polosnya. Jika tengah berada dalam suasana hati yang baik, harusnya sepasang suami istri disitu akan tertawa terbahak-bahak lalu memeluk anak mereka bersamaan. Nyatanya untuk sekedar menanggapi dengan senyuman pun susah. Nari yang masih tidak berani menatap Max bermaksud menjauh menuju sofa. Namun, baru selangkah, ia merasakan nyeri dibagian telapak kaki.

“Aww..” ringisnya. Ia menunduk untuk mengecek dan menemukan segores luka disana. Entah sejak kapan luka itu terbentuk. Terkena pecahan kaca dirumah kah ? Ia bahkan tidak merasakan sakit, dan baru menyadarinya sekarang.

“Mama kenapa ?” tanya Minho khawatir. Nari coba tersenyum yang menandakan ia tidak apa-apa. Max, meski sekuat tenaga membuang muka, coba mengabaikan, berusaha tidak tahu, tidak perduli, pura-pura tidak mendengar, kakinya berkata lain. Ia melangkah mendekati Nari untuk melihat luka tersebut. Ia berjongkok dan menemukan luka goresan disana. Dengan cepat dan agak kasar ia tarik lengan Nari untuk keluar.

Nari hanya pasrah saat mereka sudah berada diluar ruang rawat Minho. Max tidak mengucap sepatah kata apapun. Ia hanya melihat kesana kemari entah untuk apa. Lalu ia menghentikan jalan seorang suster cantik yang melintas.

“Maaf. Ada seorang wanita yang terluka. Bisa kau obati luka wanita ini?”

Wanita ini ? Nari ingin menangis. Bahkan untuk hal seperti ini Max menyebutnya seperti orang asing, bukan istri. Dan sekarang, tanpa kata-kata lagi, ia meninggalkan Nari bersama suster itu dan masuk menemui Minho. Saat pintu tertutup, barulah setets air matanya lolos dari pertahanan. Kemudian dilanjutkan dengan aliran lain yang lebih kuat.

“Maaf Nyonya. Apa lukanya begitu sakit sampai kau menangis ? Ikut saya biar saya obati !”

**************

Nari menyandarkan kepalanya kedinding putih itu. Tubuhnya ikut beristirahat pada kursi tunggu didepan ruang rawat anaknya. Setengah jam lalu suster sudah mengobati kakinya. Andai ada, Nari ingin meminta obat untuk menghilangkan kebodohannya, atau obat ajaib yang bisa membuat suaminya memberi maaf.

Nari tidak berani masuk kedalam, hanya melihat dari kaca persegi dibagian pintu jika Max tengah bermain-main dengan Minho. Ia ingin bergabung kesana, merasakan kehangatan keluarga seperti biasa, tapi…

“Nari ?” sapa seseorang. Nari mengalihkan pandangan menuju sipemanggil. Sedikit terkejut tapi detik berikutnya ia tersenyum. Pria yang tak kalah tinggi dengan suaminya itu menunjuk ruang kosong disebelahnya, Nari mengangguk.

“Siapa yang sakit?” tanya pria berkulit putih itu untuk memulai obrolan, maksudnya Kyuhyun.

“Minho, hanya demam.” Nari menoleh sebentar pada Kyuhyun, “Hmm..kau disini…untuk mengobati luka Eunhyuk?” tanya Nari ragu. Melihat keadaan Eunhyuk tadi, tidak bisa dikatakan baik.

“Eunhyuk hyung cukup kuat. Aku bahkan pernah memberinya lebih dari itu saat ia mengabaikan Yoona.” Ujar Kyuhyun santai. Memajukan tubuhnya dan kedua sikunya bertumpu pada paha dan, telapak tangannya menyatu. Ia tersenyum simpul saat sekilas melihat adegan ayah dan anak diruangan didepan.

“Aku kesini untuk membawa Spenser.”

“Dia juga dirawat? Dia masih sakit?” tanya Nari beruntun.

“Kau tahu dia sakit dan berhenti bersikap seperti itu !”Kyuhyun sedikit menaikan intonasi. Nari tidak mengerti. Untuk ukuran hubungan mereka yang baru beberapa kali bertemu dan obrolan mereka tidak pernah berjalan baik, cara Kyuhyun bicara terlalu akrab. Kyuhyun diam sejenak. Menarik nafas panjang.

“Aku mungkin tidak pantas ikut campur dan mungkin…setan sepertiku akan terlihat aneh memberikan pencerahan. Tapi….” Kyuhyun berhenti lalu menoleh pada Nari.“Kau mau mendengar ceritaku?”

Nari tidak menjawab dengan anggukan atau gelengan, hanya diam. Kyuhyun kembali pada dinding putih didepannya yang tadi menjadi objek paling menarik untuk dipandang.

“Sewaktu kecil, ayahku pernah bercerita tentang seekor kelinci yang tersesat di hutan, ia tidak menemukan jalan pulang. Ia terus melompat mencari jalan yang benar. Lurus, membelok kekiri atau kekanan. Ia memilih jalan kiri yang berlubang, lalu jatuh. Untunglah hanya lubang kecil. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya. Kali ini hanya ada jalan kekiri atau kekanan. Ia putuskan memilih jalur kanan, hmm mungkin matanya yang tidak awas sehingga ia terjerembab ke dalam lubang yang cukup besar. Untuk ukuran binatang sepertinya, perlu usaha ekstra untuk lolos.

“ Kau tahu ? Setelah sebelumnya ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan terjatuh lagi, ia berhasil keluar. Dengan kepercayaan diri yang tinggi ia kembali melompat-lompat. Kau pikir ia akan segera sampai ? Tidak, dengan pintarnya ia melewati jalan setapak yang tidak sampai setengah meter itu. Kiri dan kanannya adalah lubang besar yang untuk ukuran binatang sepertinya bisa disebut jurang. Jika ia pikir ia cukup hebat untuk melewatinya maka ia salah. Ia terjatuh. LAGI. Ia menangis. Ia sendirian. Ia melihat hari mulai gelap. Dengan suara yang tidak terlalu nyaring ia meminta bantuan berharap ada seorang pemburu melintas atau mungkin teman bahkan keluarga yang mencarinya datang. Setelah cukup puas menangis, ia berusaha bangkit dengan mencoba mendaki jurang tersebut. Ia nyaris menggapai tepi jika bukan karena ia terpeleset dan ia terjatuh lebih dalam. Seketika itu pula reruntuhan tanah menimpanya. Ia tidak selamat”

Nari tersenyum getir. Kelinci sebodoh itu ya ? Rasanya hewan lain akan menghindar jika ada mobil yang melaju. Apa lubang tidak semengancam menyebrang jalan ? Dan mendengarnya..seperti mendengar cerita diri sendiri. Apa ia juga sebodoh kelinci itu ? Ahh..kelinci itu adalah hewan yang punya banyak keterbatasan. Hal-hal seperti itu masih terlihat wajar. Tapi bagi Nari, wajarkah ?

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Kyuhyun sepertinya sudah mengakhiri cerita. Ia bersandar pada dinding persis seperti Nari. Nari masih diam. Ia…tidak ingin seperti kelinci itu. Jatuh dan tertimbun tanah. Ia pasti bisa mencapai tepi dan selamat. Setidaknya..ia berusaha.

“Ahh..aku lupa kapan terakhir kali bicara sepanjang tadi. Terdengar bagus bukan ? jika orang berpikir aku adalah setan yang berlindung dibalik wajah malaikat, aku menyebut diriku malaikat yang bersembunyi dibalik punggung setan.”

Nari tertawa sesaat. Seharian ini ia sampai lupa cara menarik ujung bibirnya untuk tertawa. Dan ucapan Kyuhyun yang menurutnya terlalu memuji diri itu cukup untuk membuatnya sedikit terhibur. Disaat ia berada dalam lubang, ia seperti melihat tali yang menjuntai.

“Hey Tuan Cho ! Kau selingkuh” seru seorang wanita yang entah sejak kapan sudah berdiri dihadapan mereka. Tubuhnya bersandar pada dinding, kedua tangannya dimasukan ke dalam saku jaket kulitnya. Satu kakinya yang jenjang dan dilapisi celana jeans itu ditekuk, juga menapak pada dinding.

“Ya Nyonya Cho, kau mau berkenalan dengan selingkuhanku?” Kyuhyun nampak santai dengan menaikan satu kakinya untuk bertumpu pada paha. Nari hanya menunggu interaksi antara dua orang itu. Ia tidak kenal wanita berambut pendek tersebut. Dari penampilan dan tingkahnya, tidak seperti kenalan seorang Cho Kyuhyun super junior, maksudnya kalangan elit dan bertata krama.

“Ahh..aku salah. Mana ada wanita cantik dan waras yang mau denganmu” ujar wanita itu sambil menatap Nari dari atas hingga kaki.

“Berarti kau wanita tidak cantik dan tidak waras”

“Aku wanita cantik dan waras tapi tidak beruntung !” seru wanita itu tak mau kalah.

“Mendapatkan pria bernilai 9 sepertiku tidak bisa dikatakan tidak beruntung”

“Cih…berhenti memuji diri sendiri Tuan Cho !” wanita itu membuang permen karet dari mulutnya dengan asal dan sialnya tepat menempel pada bagian belakang tubuh seorang suster.

“Ak…”

“Stop !” Nari menghentikan perdebatan dua manusia itu yang tidak memperlihatkan akan selesai. Ia ulurkan tangan kanannya, “Aku Nari dan aku bukan selingkuhan Kyuhyun”

Wanita itu tertawa, bukan menyambut tangan Nari. Jika Nari mau berbalik, maka ia akan melihat hal yang tidak beda jauh pada Kyuhyun, ia tertawa.

“Aku tahu Nari. Aku Jiyeon, istri pria dibelakangmu itu”

“He?”

Nari tidak bisa mengubah tampang bodohnya begitu mendengar pernyataan Jiyeon. Bagaimana bisa interaksi aneh tadi terjadi antara sepasang suami istri ? Dan sekarang mereka tengah tertawa bersama. Kyuhyun bangkit dari duduknya untuk mendekat pada Nari.

“Kami harus pulang Nari. Semoga Minho cepat sembuh”

Setelah membungkukan badan, pasangan ajaib itu melangkah membelakangi Nari. Mereka berjalan beriringan dengan tangan saling bertaut. Sesekali Jiyeon nampak mendorong tubuh Kyuhyun tapi selanjutnya Kyuhyun akan menarik pinggang sang istri dan lanjut berjalan.

Untuk sesaat, Nari betah melihat pemandangan itu. Memperhatikan langkah mereka yang terlihat ringan. Melihat tubuh mereka yang perlahan hilang dibalik belokan diujung lorong, seperti melihat potret rumah tangga yang sesungguhnya.

Nari menunduk sejenak lalu saat mengangkat wajah, ia menemukan seorang pria dengan kacamata hitam keluar dari ruangan bernomor 406. Pandangan mereka bertemu. Nari memperhatikan wajah itu dimana terdapat beberapa lebam. Dan Nari yakin dibalik kacamata itu terdapat bekas yang sama.

Mereka sama-sama diam. Perlahan, Eunhyuk melepas kacamatanya, memandang sendu pada Nari. Tubuh mereka berjarak dua meter dan tidak ada niatan satu sama lain untuk memperkecil jarak. Eunhyuk coba mengisyaratkan maaf dan seolah mengerti, dibalas dengan gelengan pelan oleh Nari.

Saat ini, detik ini, dunia seolah hanya milik mereka, sama sekali tidak terusik dengan tangisan seorang wanita dua meter dari posisi mereka berdiri, tidak terganggu dengan suara-suara lain yang sebenarnya cukup riuh untuk ukuran sebuah rumah sakit bagian khusus anak-anak. Mereka bukan kembali berpikir gila ! Tapi berkutat dengan sejuta penyesalan yang tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Apa yang terjadi semalam, mungkin menjadi waktu yang tak ingin lagi diingat dan jika bisa tolong hapuskan dari daftar hal-hal yang telah dilakukan. Bisakah mereka memutar waktu ?

Arah tatapan Eunhyuk berubah. Nari coba ikuti arahnya dan matanya berhenti pada sosok pria tinggi yang berdiri didepan pintu. Nari memandang dua pria itu bergantian. Memperhatikan dua orang pria disisi kiri dan kanannya. Max –pria yang berdiri disamping kiri Nari- menatap murka wajah Eunhyuk yang entah sejak kapan sudah berair. Kemarahannya secara cepat memerintahkan anggota tubuh lain untuk berekasi keras. Tangannya mengepal kuat, bahkan dapat terlihat bagaimana urat-urat tangan serta lehernya timbul dengan jelas. Bolehkah tangannya melayang sekarang ?

*

*

TO BE CONTINUE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Makasih ya buat yang mengikuti FF ini. Ayo ditunggu kritik dan sarannya!!!

2 thoughts on “Destiny Part 7

  1. chunnie_man berkata:

    Akhirnya part lanjutannya nongol juga.setelah menunggu lama *lebay.tapi akhirnya ketauan juga selingkuh.kasihan changmin perasaannya pasti sngt kcwa.cinta dan kasih syg tidak terbalas oleh nari.lagian juga nari kok mau sm eunhyuk.padahal kan minnie udah ganteng,tinggi,baek.apa kurangnya.ya smoga aja happy end berpihak sama changmin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s