TWINS Part 6


Title: TWINS

Main Cast:

–          Kim Jaejoong

–          Shim Changmin

–          Jung Yunho

Rating: PG13-NC17 / STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri

A/N: Mian klo tambah aneh & mian juga baru di publish sekarang.

DISCLAIMER: FF ini murni buatan author sendiri tanpa menjiplak dari FF di blog mana pun. Kalaupun ada kesamaan itu hanya kebetulan semata. FF ini hanya khayalan author.

DON’T LIKE? SO DON’T READ AND DON’T BASH MY FF!!!

Part sebelumnya bisa di cari di sini

Happy Reading : )

AUTHOR POV

Sudah beberapa minggu ini Di Kha mendiamkan Yunho. Ia benar-benar sudah tidak peduli dengan namja itu. Di Kha menjalani hari-harinya seperti biasa, sebelum Yunho datang. Tak ia pungkiri kalau ada yang kurang di hari yang ia jalani tapi rasa sakit hati karena di bohongi membuatnya tak mempedulikan kekurangan itu.

Di Kha berjalan di lorong sekolah, langkahnya terhenti di depan mading sekolah. Senyum mengembang di wajahnya saat membaca salah satu pengumuman. Sedetik kemudian ia berlari ke arah ruang guru. Di Kha memeluk wali kelasnya dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu ia pergi ke taman sekolah dan menelepon orang tuanya tentang kabar baik yang baru saja ia terima. Orang tuanya terdengar sangat bahagia mendengarnya.

“Aku akan mengunjungi kalian akhir pekan ini. Aku harus kembali ke kelas. Anyyeong. Saranghae.” Di Kha menutup teleponnya lalu kembali ke kelasnya dengan wajah cerah.

Sepulang sekolah Di Kha langsung pergi ke café, ia berbicara dengan bosnya untuk mengatakan kalau ia akan berhenti bekerja. Pada awalnya bosnya tidak setuju tapi setelah mendengar alasannya bosnya setuju. Di Kha memutuskan berhenti bekerja hari ini.

“Mianhae kalau pengunduran diriku terkesan terburu-buru. Pihak sekolah memberitahukan kalau kurang dari 2 minggu lagi aku berangkat.” Ucap Di Kha.

“Gwenchana. Aku ikut bahagia, sejak dulu kau mengincar beasiswa untuk sekolah di Amerika ini dan akhirnya sekarang berhasil. Chukae.” Ucap bosnya. Di Kha mengangguk sambil tersenyum lalu tak lama ia pamit.

Di Kha berjalan santai sambil berusaha menghubungi sepupunya, Hee Young. Ia berdecak kesal karena Hee Young tak mengangkat telepon darinya.

“Ya! Kenapa kau lama sekali mengangkat teleponnya?” Omel Di Kha saat teleponnya diangkat.

“Mianhae. Ada apa kau menelepon?” Tanya Hee Young.

“Kau di mana?” Tanya Di Kha tanpa menjawab pertanyaan sepupunya.

“Aku di mall biasa, tepatnya di toko buku.” Jawab Hee Young. Di kha yang sudah tahu dimana lokasi sepupunya pun langsung tersenyum.

“Kalau begitu aku kesana. Kau jangan kemana-mana.” Di Kha memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Hee Young. Ia pergi ke mall di mana Hee Young berada. Ia ingin sekali segera memberitahukan kabar baik itu.

Sampai di mall Di Kha langsung pergi ke toko buku dan mencari-cari keberadaan Hee Young. Ia menjentikkan jarinya saat menemukan sepupu dekatnya itu. Hee Young menatapnya curiga saat ia datang.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku mencarimu karena ada yang ingin kuceritakan padamu. Aku mendapatkan kabar baik tadi di sekolah.” Ucap Di Kha senang.

“Kabar apa?” Tanya Hee Young penasaran. Belum sempat Di Kha menjawab tiba-tiba ia mendengar suara namja memanggil nama sepupunya itu, ia dan Hee Young pun reflek menoleh ke sumber suara. Wajah Di Kha yang tadinya senang kini sudah lenyap saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Yunho, Jaejoong dan yang lainnya kini ada di hadapannya dan Hee Young.

Yunho, namja yang membuat Di Kha kesal dan merasa sangat di bohongi. Lalu namja-namja lainnya yang ikut mem-bully sepupunya dulu. Ia sangat membenci mereka semua. Termasuk namjachingu Hee Young.

Di Kha mundur beberapa langkah saat Yunho berusaha mendekatinya. Ia pun menarik Hee Young mundur. Di Kha menatap Yunho dan yang lainnya sangat tajam dan penuh kebencian.

“Di Kha-a, aku ingin bicara denganmu.” Pinta Yunho.

“Tidak ada yang perlu di bicarakan. Semuanya sudah jelas. Kau membohongiku dan kau juga otak saat mem-bully Hee Young. Aku benci kau dan semua temanmu.” Ucap Di Kha penuh amarah. Ia membentak Jaejoong saat namja itu akan mendekati Hee Young.

“Kenapa kau membentakku? Kau punya masalah dengan Yunho jangan bawa-bawa aku.” Ucap Jaejoong tidak suka. Di Kha tersenyum sinis pada Jaejoong.

“Aku juga membencimu. Kau juga ikut mem-bully Hee Young kan? Walaupun Hee Young memaafkanmu tapi aku tidak. Apa kau yakin umma dan appa Hee Young akan membiarkanmu mendekati putri mereka jika mereka tahu semuanya?” Jaejoong terdiam mendengar ucapan Di Kha.

“Kha-a, hentikan. Aku kan sudah pernah bilang kalau sebenarnya mereka namja yang baik. Jangan benci mereka terutama Jaejoong. Aku mencintainya.” Hee Young menatap Di Kha dengan wajah sedih. Di Kha menghela nafas panjang lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia tak mempedulikan teriakan Hee Young yang memanggilnya.

Di Kha memutuskan untuk pergi ke rumah orang tua Hee Young , ia menaiki bis yang tidak begitu penuh oleh penumpang. Di Kha duduk di belakang sambil menatap keluar jendela.

‘Mungkin aku terlalu berlebihan dan ikut campur dalam hubungan Hee Young dengan Jaejoong.’

Di Kha mengambil ponselnya dan menelepon bibinya yang merupakan umma Hee Young. Ia mengatakan pada bibinya jika ia akan pergi berkunjung.

Sampai di depan rumah bibinya, Di Kha memencet bel. Pintu di buka oleh pamannya, ia di sambut dengan senyum dan pelukan hangat paman dan bibinya. Mereka mengorol cukup lama. Saat Di Kha merasa sudah waktunya untuk memberitahu paman dan bibinya tentang kabar yang ia terima dari sekolah, ia menjadi gugup. Berkali-kali ia menghela nafas cukup panjang.

“Ajumma ajusshi, mmm kurang dari dua minggu lagi aku akan pergi ke Amerika.” Ucapan Di Kha itu membuat paman dan bibinya menatapnya terkejut.

Di Kha menceritakan semuanya pada paman dan bibinya. Ia meminta restu pada keduanya. Di Kha juga mengatakan kalau akhir pekan ini ia akan pulang untuk mengunjungi orang tuanya.

“Kami merestuimu dan akan terus berdoa agar kau lancar dan sukses di sana. Ajusshi akan berusaha mencoba mencari informasi tentang tempat tinggal di sana.” Di Kha tersenyum lalu mengangguk. Keduanya memeluknya dengan erat dan penuh kehangatan.

“Kau harus hati-hati nanti di sana.” Nasihat bibinya. Di Kha hanya bisa mengangguk mengerti. Melihat pamannya pergi ke ruang kerja, Di Kha  menatap bibinya ragu.

“Mmmm ajumma. Aku ingin meminta sesuatu.” Pinta Di Kha.

“Apa?”

“Begini bisakah ajumma tidak mengatakan tentang kepergianku ke Amerika pada Hee Young?” Permintaan Di Kha itu membuat bibinya mengerutkan dahi tapi tak lama bibinya itu menghela nafas.

“Baiklah. Ajumma tak tahu kalian bertengkar karena hal apa tapi ajumma harap kalian berdua bisa segera berbaikan. Sebelum kau berangkat kau dan Hee Young harus berbaikan, arra?” Di Kha mengangguk.

“Ne ajumma. Sebenarnya ini salahku, aku akan segera meminta maaf padanya.” Ucap Di Kha.

—-

Hee Young duduk di sebuah café dengan Jaejoong dan yang lainnya, ia berwajah sedih sejak bertemu dengan sepupunya Di Kha tadi. Jaejoong berusaha menghiburnya tapi tidak bisa. Dalam hatinya Hee Young sedikit marah pada Di Kha yang karena selalu bersikap seperti itu.

Hee Young teringat sesuatu lalu menatap Yunho bingung.

“Yunho sunbae, bagaimana bisa kau mengenal sepupuku Di Kha?” Tanya Hee Young. Yunho menatap Hee Young dan Jaejoong bergantian. Ia sedikit ragu apakah ia harus menceritakan semuanya atau tidak. Yunho menoleh ke arah Yunhyun saat namja itu menyikutnya. Yunhyun menatapnya seolah menyuruhnya untuk menceritakan semuanya.

Ia mulai menceritakan semuanya, dari awal hingga akhir. Selesai menceritakan semuanya Yunho terdiam. Diam karena menyesal telah membohongi Di Kha dan diam karena takut akan reaksi Hee Young.

“Aku ingin sekali membunuhmu, Yunho sunbae.” Ucap Hee Young marah. Ia menatap Yunho tajam.

“Mianhae.” Ucap Yunho lemas.

“Aku tak peduli dengan permintaan maafmu. Minta maaflah pada Di Kha.” Ucap Hee Young. Tak lama ia menatap Jaejoong.

“Oppa, aku pergi duluan.” Ucapnya lalu berdiri dan berjalan pergi. Jaejoong reflek berdiri.

“Semuanya berkumpul di rumah Yunho dan Yunhyun. Kita bicarakan masalah ini bersama. Nanti aku menyusul. Aku pergi dulu.” Ucap Jaejoong cepat lalu berlari menyusul yeojachingunya. Jaejoong menarik tangan yeojachingunya.

“Tunggu sebentar.” Ucap Jaejoong sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.

“Kau berjalan cepat sekali sih. Ayo pergi.” Hee Young tak melangkah sedikitpun. Hal itu membuat Jaejoong menatap Hee Young bingung.

“Kenapa menyusulku? Kenapa tidak bersama teman-temanmu?” Jaejoong menghela nafas pelan lalu mendekati yeojachingunya. Dipengangnya kedua pipi yeoja itu.

“Apa mau aku membentakmu lagi?” Hee Young pun reflek mengangguk.

‘Aish yeoja ini.’

“Kuanggap kau menjawab tidak. Ayo kita ke mobilku.” Jaejoong menarik tangan Hee Young untuk ikut dengannya. Kali ini Hee Young mau tak mau mengikuti keinginan namjachingunya. Ia masuk ke dalam mobil dan hanya diam saat Jaejoong mulai mengemudikan mobilnya. Saat di pertengahan jalan Hee Young membuka suaranya.

“Bawa aku ke tempat sepi. Tempat yang hanya ada kau dan aku, tanpa ada yang menganggu.” Ucap Hee Young. Jaejoong menatap Hee Young sekilas lalu mengangguk.

“Baiklah. Kalau begitu ke apartemenku saja.”

Sampai di gedung apartemen Jaejoong keduanya berjalan menuju lift. Sejak turun dari mobil Hee Young terus memeluk lengan Jaejoong. Ia tak mau melepaskannya sedikitpun.

Hee Young duduk saat sudah berada di dalam apartemen Jaejoong. Pikirannya kacau antara marah dan sedih pada Di Kha. Setelah mengetahui apa yang di lakukan Yunho pada Di Kha, Hee Young menjadi kasihan pada sepupunya itu. Jaejoong datang menghampirinya dengan membawa minuman. Rambutnya di elus namjachingunya dengan lembut.

“Aku tak suka Di Kha mencampuri urusanku. Aku kesal padanya tapi saat mendengar apa yang di lakukan Yunho padanya membuatku merasa kasihan.” Ucap Hee Young mengatakan apa yang ada di pikirannya sekarang.

“Kau bicaralah padanya baik-baik.” Hee Young mengangguk saat mendengar nasihat Jaejoong.

—-

Chae Jin berbaring di ranjang kamarnya sambil menatap langit-langit.  Ia sejak tadi memegang dadanya. Tanpa ia sadari air mata keluar dari matanya. Chae Jin menghapus air matanya. Ia mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan pada Junsu.

To : My Dolphin Oppa

Oppa di mana?

Chae Jin menunggu balasan cukup lama. Saat ia akan menelepon ia mendapatkan balasan dari oppanya itu.

From : My Dolphin Oppa

Di kamar sedang main game. Ada apa?

Setelah membaca pesan dari Junsu, Chae Jin langsung ke kamar oppa-nya itu. Ia melihat namja itu sedang asik bermain game sampai-sampai tak menyadari kehadirannya. Chae Jin duduk di sebelah Junsu lalu menyandarkan kepalanya di bahu oppa-nya itu. Tangannya memeluk lengan Junsu manja.

Junsu menoleh ke sampingnya saat merasakan ada yang berat di bahunya. Ia mengerutkan dahinya saat melihat ternyata Chae Jin yang bersandar di bahunya. Junsu bertambah bingung karena tak biasanya dongsaengnya itu bersikap seperti sekarang ini. Di taruhnya stik PS3-nya di atas meja. Setelah itu Junsu mencium puncak kepala Chae Jin yang ia tahu hal itu sangat di benci oleh yeoja itu.

‘Kenapa tidak mengamuk? Ada apa dengannya?’

“Kau kenapa? Tumben sekali seperti ini padaku.” Ucap Junsu lembut. Rambut dongsaengnya ia elus dengan lembut. Matanya membelalak saat Chae Jin mendongakan kepala menatapnya dengan menangis.

“Kau kenapa?” Tanya Junsu khawatir.

“Oppaaaaaaaaaa.” Chae Jin memanggilnya lalu memeluknya dan semakin keras menangis. Karena tangisan Chae Jin cukup keras sampai-sampai kedua orang tuanya dan Junho menghampiri kamarnya dan menanyakan ada apa.

“Kau apakan dongsaengmu, Junsu-a?” Tanya Mr.Kim.

“Ya! Kenapa Chae Jin?” Tanya Junho. Junsu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Sementara Chae Jin terus menangis. Saat Junsu akan membuka suara tiba-tiba dongsaengnya itu melepaskan pelukannya dan menatap orang tua mereka dan Junho dengan tatapan kesal.

“Apa yang Junsu lakukan padamu, Jin-a?” Tanya Mrs.Kim. Chae Jin berdiri lalu menyuruh mereka keluar.

“Tapi Chae Jin-a, katakan pada kami ada apa? Kenapa kau menangis? Apa Junsu menjahilimu?” Tanya Mr.Kim.

“Tidak. Jangan menuduh Junsu oppa seperti itu. Kalian kejam. Sekarang keluar! Aku ingin bersama Junsu oppa.” Ucap Chae Jin kesal karena merasa terganggu.

“Tapi ini sudah malam, nak. Kau istirahatlah. Junsu pun mungkin sudah ingin tidur.” Bujuk Mrs.Kim. Mr.Kim, Mrs.Kim dan Junho merasa Chae Jin tengah dalam masalah dan mereka ingin membantunya. Mereka melihat Junsu yang berada di belakang Chae Jin memberi isyarat untuk mengikuti permintaan Chae Jin.

“Aku akan tidur dengan Junsu oppa. Umma tak usah khawatir. Kalian keluar dulu.” Ucap Chae Jin kesal.

“Umma, appa, Junho, kalian keluarlah dulu.” Pinta Junsu. Ia membelai rambut Chae Jin lembut lalu dengan cepat yeoja itu memeluknya erat.

“Chae Jin akan baik-baik saja.” Ucap Junsu memastikan. Ketiganya pun keluar dari kamarnya.

Mendengar suara pintu tertutup Chae Jin kembali menangis. Ia menangis keras di pelukan oppa-nya itu. Ia tak menjawab pertanyaan Junsu. Junsu menuntunnya duduk di sofa. Namja kesayangannya itu membalas pelukannya dan kembali bertanya kenapa ia menangis.

“A aku se sepertinya sudah membuat kesalahan, oppa.” Jawabnya dengan sesegukan.

“Mau menceritakannya pada oppa dari awal?” Tanya Junsu lembut.

“Tapi janji tidak mengatakannya pada siapapun termasuk umma, appa dan Junho oppa.” Junsu mengangguk mendengarnya.

Chae Jin pun mulai menceritakan semuanya yang ia alami pada Junsu. Kesalahaan yang menurutnya fatal. Salah mengira kalau Changsoo itu Changmin dan begitu pun sebaliknya.

Mendengar semua cerita dari Chae Jin kini Junsu mengerti alasan kenapa dongsaengnya itu menangis.

“Padahal aku punya oppa kembar dan bisa membedakannya tapi kenapa tidak dengan mereka? Aku benar-benar bodoh.”

“Sshhh kau tidak boleh berkata seperti itu. Tidak semua anak kembar bisa dengan mudah kau bedakan. Oppa saja terkadang masih tidak bisa membedakan semua sahabat oppa. Itu wajar.” Ucap Junsu menenangkan Chae Jin.

“Tapi karena kesalahanku ini aku jadi bingung siapa yang sebenarnya aku cintai oppa.” Junsu terdiam. Ia tak bisa membalas ucapan Chae Jin.

“Apa Changsoo tahu kau salah mengiranya sebagai Changmin?” Chae Jin menggelengkan kepalanya.

“Sepertinya yang tahu hanya Changmin. Changmin tahu sejak awal tapi dia diam saja.” Keduanya terdiam. Saat Junsu teringat sesuatu ia melepaskan pelukan Chae Jin dan menatap dongsaengnya itu.

“Tunggu, kenapa Changsoo tidak sadar kalau kau salah membedakannya sebagai Changmin? Kau memanggil mereka dengan sebutan apa?” Tanya Junsu curiga. Chae Jin menundukkan kepalanya.

“Aku memanggil mereka dengan sebutan ‘oppa’.” Jawab Chae Jin pelan tapi masih bisa terdengar oleh Junsu.

“Aish pantas saja.” Junsu mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia ingin memarahi Chae Jin tapi tidak bisa karena yeoja itu sedang sedih akibat kebodohannya sendiri.

“Oppa hanya bisa memberi nasihat padamu. Kau renungkanlah dan tanya pada dirimu sendiri siapa yang benar-benar kau cintai. Siapa namja yang bisa membuat hatimu berdegup kencang? Siapa nama namja yang baru kau sebut saja namanya bisa membuatmu tersenyum bahagia? Siapa namja yang bisa membuatmu merasa nyaman, terlindungi, dan  di cintai dengan sepenuh hati? Jika kau sudah mendapatkan jawabannya oppa yakin kau sudah tahu langkah apa yang harus kau lakukan.” Ucap Junsu berusaha memberi semangat.

“Jika kau membutuhkan bantuan katakan pada oppa.” Chae Jin mengangguk. Junsu tersenyum tipis lalu mencium kening dongsaengnya itu lembut. Keduanya tersenyum.

“Gumawo oppa. Aku menyayangimu.” Ucapan Chae Jin membuat Junsu sedikit terkejut. Ia menatap yeoja di sampingnya tak percaya.

“Apa oppa tak salah dengar?” Junsu langsung mendapat hadiah cubitan cukup keras dari Chae Jin.

“Oppa kan dari dulu memang oppa kesayanganku. Aku menyayangimu lebih besar di bandingkan Junho oppa.” Ucap Chae Jin jujur. Junsu memegang kening dongsaengnya itu. Dengan cepat Chae Jin menepisnya.

“Terakhir kali kau mengatakan itu waktu umurmu 5tahun. Kenapa kau hari ini mengatakannya lagi?” Tanya junsu.

“Itu kan karena oppa yang menjauh dariku. Saat oppa menjauh aku merasa oppa tidak sayang lagi padaku.” Chae Jin berwajah sedih.

“Saat aku berusaha mendekat sepertinya oppa malu jika aku berada di dekat oppa.” Tambah Chae Jin. Junsu menatap Chae Jin dengan tatapan bersalah. Ia mengelus rambut Chae Jin dengan lembut.

“Mianhae.” Ucap Junsu. Chae Jin menanggapinya dengan tersenyum.

***

Yunho tengah berdiam diri di kamarnya. Sudah beberapa minggu ia berusaha mendekati Di Kha untuk meminta maaf tapi yeoja itu selalu menjauh dan menatapnya dengan tatapan benci. Yunho bertambah frustasi karena belakangan ini Di Kha sulit di temui. Bahkan ia tidak bisa menemukan yeoja itu di manapun.

Hari-hari Yunho setelah Di Kha mengetahui semuanya menjadi terasa suram, sepi dan ia tak bersemangat melakukan apapun. Tangannya menggenggam ponsel yang sedari tadi ia pegang. Jari-jarinya kembali menekan sebuah nomor yang tak lain nomor ponsel yeoja itu. Yunho berharap kali ini Di Kha mau mengangkatnya. Ia melonjak dari tempat tidurnya saat teleponnya di angkat.

“Yeoboseo.” Sapanya ramah dan terdengar sekali sangat senang. Terdengar helaan nafas cukup panjang di seberang sana. Ia terdiam beberapa saat.

“Maumu apa sebenarnya? Kalau tidak ada yang mau di bicarakan jangan menggangguku lagi.” Ucap Di Kha malas. Sebelum yeoja itu menutup teleponnya dengan cepat Yunho menahannya.

“A aku ingin berbicara denganmu. Secara langsung. Beberapa hari ini aku tidak bisa menemuimu di manapun.” Yunho berkata dengan suara biasa namun terdengar sedih. Sekali lagi ia mendengar helaan nafas dari yeoja itu.

“Aku tidak ada di Seoul sekarang. Nanti malam kemungkinan aku pulang.” Ucap Di Kha. Yunho tersenyum senang karena merasa yeoja itu mau berbicara dengannya.

“Kau mau bicara denganku?” Tanya Yunho tak percaya.

“Hm. Lagi pula aku bosan terus-terus kau ganggu. Tapi ini pertama dan terakhir kalinya.”

“Andwe. Aku tak  mau pembicaraanku denganmu yang terakhir kalinya.” Tolak Yunho.

“Kau di mana sekarang?” Di Kha hanya diam tak  menjawab.

“Kumohon katakan.” Pinta Yunho dengan sangat.

“Kau tak perlu tahu. Sudah aku sibuk.” Lalu sedetik kemudian yeoja itu menutup telepon dari Yunho. Yunho langsung teringat pembicaraannya dengan Di Kha saat pertama kali ke rumah yeoja itu. Ia langsung melesat pergi, ia berpikir mungkin yeoja itu ada di rumah orang tuanya.

Selama perjalanan Yunho hanya bisa berharap tebakannya benar kalau Di Kha kini berada di rumah orang tua yeoja itu. Selain meminta maaf ada yang ingin ia katakan pada yeoja itu. Ia tak mau menyesal di kemudian hari jika tak mengatakannya.

Setelah sampai Yunho menatap sekelilingnya, ia mengambil ponselnya dan menelepon orang kepercayaan appa-nya. Sebelum berangkat tadi ia sempat menelepon orang kepercayaan appa-nya itu untuk mencarikan rumah orang tua Di Kha. Yunho tersenyum saat mendapatkan alamat rumah orang tua Di Kha. Tak menunggu lama-lama lagi Yunho pun langsung ke alamat yang di tuju.

“Kenapa aku jadi gugup seperti ini?” Gumam Yunho sambil menatap rumah di depannya yang merupakan rumah orang tua Di Kha. Matanya terpejam dan menghembuskan nafas pelan. Detik berikutnya ia melangkah mantap mendekati rumah itu lalu menekan bel. Senyumnya mengembang saat pintu di buka oleh yeoja yang selama ini ia cari. Mata yeoja itu membelalak menatapnya. Terlihat jelas kalau yeoja itu kaget dan tak menyangka ia akan datang.

“Mau apa kau? Dari mana kau tahu rumahku?” Tanya Di Kha dengan nada suara tak suka. Yunho tersenyum tapi di dalam senyumannya itu tak Di Kha pungkiri kalau terlihat jelas kesedihan setelah mendengar ucapannya yang cukup ketus.

“Aku ingin bertemu denganmu dan ingin bicara. Aku tahu rumahmu dari orang kepercayaan appa, aku memintanya mencarikan rumah orang tuamu. Maaf kalau aku mengganggu.” Yunho menundukkan kepalanya sedikit.

“Siapa itu, nak?” Suara dari dalam membuat Di Kha menoleh ke dalam rumah.

“Hanya mantan teman kerjaku di café, umma.” Jawab Di Kha. Ia melihat umma-nya mendekat lalu tersenyum saat melihat Yunho. Umma Di Kha mengajak namja itu masuk membuat Di Kha tak dapat berbuat apa-apa. Di Kha pergi ke dapur karena umma memintanya untuk membuatkan minum untuk Yunho.

“Kau sudah lama mengenal putri kami?” Tanya umma Di Kha. Yunho gugup saat di ajak bicara oleh umma Di Kha.

“Belum terlalu lama. Hanya kenal saat bekerja di café saja.” Jawab Yunho sambil menatap barang-barang yang ada di dekatnya.

“Maaf apa ajumma mau pindah rumah?” Tanya Yunho.

“Ah bukan itu barang-barang Di Kha yang akan di bawanya. Nanti malam dia kembali ke Seoul.” Yunho mengangguk mengerti dengan jawaban itu.

“Mmm kalau boleh saya akan mengantar Di Kha pulang.” Ijin Yunho. Ia berdiri saat melihat ajusshi yang ia tebak dalam hati merupakan appa-nya Di Kha. Dengan sopan Yunho membungkuk lalu memperkenalkan diri.

“Jung Yunho imnida.” Ucapnya gugup. Namja yang lebih tua di depannya tersenyum lalu menyambutnya dengan hangat.

Tak lama Di Kha kembali dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil. Ia menatap Yunho dengan tak suka sekilas lalu duduk di samping umma-nya.

“Apa tidak merepotkanmu jika mengantar putri kami ke Seoul?” Tanya appa Di Kha. Yunho dengan senyum mengembang menggelengkan kepalanya.

“Sama sekali tidak. Saya kemari juga karena tadi Di Kha mengatakan di telepon akan pulang malam ini jadi saya ingin menjemputnya.” Jawab Yunho terlihat senang.

“Terima kasih banyak.” Ucap umma dan appa Di Kha. Yunho mengangguk sopan.

Di Kha hanya diam dengan hati kesal karena melihat Yunho berhasil mengambil hati kedua orang tuanya dan membiarkannya pulang dengan namja yang selama ini ia hindari.

‘Menyebalkan! Kenapa dia terus-terusan menggangguku sih? Untung saja sebentar lagi aku pergi dari Korea dan tidak akan bertemu namja menyebalkan ini.’

Di Kha semakin kesal saat melihat namja itu dengan akrab mengobrol dengan orang tuanya. Kesal dengan hal itu membuatnya pergi dari ruang tamu.

Di Kha pergi ke tempat yang sedikit jauh dari rumahnya. Ia berteriak sekuat tenaga memaki Yunho.

“Ayo kembali.” Sontak Di Kha melonjak kaget saat mendengar suara yang sangat familiar dari belakangnya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Yunho menatapnya.

“Tidak mau.” Tolak Di Kha ketus.

“Tapi orang tuamu mencarimu. Jangan membuat orang tuamu khawatir.” Ucap Yunho.

Di Kha mau tak mau berdiri setelah Yunho menyebut orang tuanya. Ia memang paling tidak mau membuat kedua orang tuanya khawatir. Ia berjalan cepat meninggalkan Yunho. Di Kha benar-benar ingin namja itu pergi dari kehidupannya. Tak lagi mengganggunya.

“Bisakah namja itu sehari saja tak menganggukku?” Gumamnya pelan. Ia melirik kebelakang dan melihat Yunho mengikutinya dari belakang. Di Kha terus berjalan sambil menatap Yunho di belakangnya dengan tidak suka. Ia tak memperhatikan jalan saat menatap namja di belakangnya itu.

“Awas!” Teriak Yunho. Di Kha mengerutkan keningnya tak mengerti, ia menghentikan langkahnya lalu mendengar suara klakson mobil. Di Kha menoleh ke sumber suara dan melihat mobil melaju dengan cepat ke arahnya. Ia memejamkan mata dan merasa sesuatu mendorongnya keras. Suara tabrakan terdengar jelas di telinganya dan juga suara orang-orang berteriak.

Di Kha perlahan membuka matanya dan meraba tubuhnya yang tak terasa apa-apa. Ia terbangun dan menatap tubuhnya sendiri.

“Aku selamat atau sudah meninggal?” Gumamnya pelan. Jantungnya masih berdetak dengan cepat dan tak bisa ia kontrol. Di Kha melihat kerumunan orang tak jauh dari tempatnya berdiri, reflek ia menghampiri kerumunan itu. Di Kha melewati kerumunan itu hingga ia berada di depan dan bisa melihat apa yang terjadi.

“Ya Tuhan.” Ucap Di Kha kaget saat melihat Yunho tergeletak berlumuran darah. Ia menghampiri Yunho yang tak sadarkan diri. Ia berteriak meminta orang-orang memanggilkan ambulans. Di Kha menepuk-nepuk pipi Yunho berharap agar namja itu sadar.

“Ya Yunho-a, sadarlah.” Ucap Di Kha.

“Nona, ambulansnya datang.” Ucap seorang ajumma padanya. Dengan cepat Di Kha meminta bantuan orang-orang yang ada di sana untuk segera membawa tubuh Yunho ke dalam mobil.

Di dalam mobil, perjalanan menuju rumah sakit Di Kha terus memanggil nama Yunho berharap namja itu sadar. Tapi sayang Yunho tak membuka matanya.

Di rumah sakit Di Kha terus menatap pintu ruang ICU di mana Yunho tengah di tangani. Beberapa menit yang lalu ia sudah menelepon orang tuanya dan menceritakan apa yang terjadi. Tak lama ia melihat seseorang keluar dari ruang ICU, ia pun menghampirinya.

“Anda keluarga pasien?” Tanya orang itu yang merupakan Dokter yang menangani Yuho. Di Kha menggelengkan kepalanya.

“Saya temannya, dok. Keluarganya ada di Seoul. Bagaimana keadaannya?”

“Keadaannya masih kritis dan harus segera di pindahkan ke rumah sakit Seoul. Rumah sakit di ibukota peralatannya lebih memadai di bandingkan disini.” Ucap Dokter itu. Tubuh Di Kha lemas mendengarnya, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.

“Boleh saya melihatnya sekarang, dok?” Tanya Di Kha.

“Silahkan. Kalau begitu saya permisi.” Dokter itu pergi dan Di Kha masuk ke ruang ICU.

Di Kha duduk di samping Yunho dan menatap namja yang masih tak sadarkan diri itu. Ia berpikir keras apa yang harus ia lakukan. Pikirannya sangat kacau hingga ia tak dapat berpikir jernih.

“Ah Hee Young.” Gumamnya saat mengingat nama sepupunya itu. Dengan cepat ia menelepon Hee Young dan meminta nomor telepon saudara ataupun keluarga Yunho. Karena ia sedang buru-buru ia tak sempat menjawab pertanyaan Hee Young yang menanyakan nomor itu untuk apa.

Setelah mendapatkan nomor saudara Yunho, Di Kha dengan cepat menelepon nomor itu. Ia mengatakan pada saudara Yunho tentang keberadaan Yunho sekarang dan meminta agar salah satu keluarga Yunho datang.

“Semoga mereka bisa datang dengan cepat.” Ucap Di kha sambil menaruh ponselnya ke dalam saku celananya.

Di Kha kembali menatap Yunho. Perlahan ia meraih tangan namja itu dan menggenggamnya pelan.

“Ya Yunho pabo! Kenapa kau nekat menolongku sampai seperti ini? Sebenarnya apa sih yang kau mau dariku?” Tanpa sadar Di Kha meneteskan air matanya. Bayangan kejadian beberapa jam yang lalu kembali terlintas dalam pikirannya tanpa bisa ia hentikan. Air mata pun semakin deras  mengalir, Di Kha mulai menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Yunho. Di Kha tertunduk cukup lama hingga perlahan ia mendongakan kepalanya dan menatap Yunho.

“Yunho-a. kumohon bangun. Jangan main-main seperti ini. Kalau kau kesal karena aku terus ketus dan menjauhimu katakan saja. Kau boleh memaki ataupun memukulku tapi jangan seperti ini.” Ucap Di Kha sendu.

Tak lama orang tua Di Kha datang, reflek Di Kha pun memeluk umma-nya. Ia menangis keras di pelukan umma-nya itu. Saat di tanya tentang kejadian itu oleh appa-nya, ia mau tak mau menjelaskannya secara detail. Di Kha hanya melihat appa-nya menghela nafas dan memeluknya hangat.

“Appa akan menanyakan tentang kondisi Yunho pada dokter dulu.” Ucap appa sambil melepaskan pelukannya. Di Kha hanya mengangguk. Umma-nya ikut dengan appa membuat Di Kha kembali menemani Yunho di samping ranjang namja itu.

Semalaman Di Kha menemani Yunho tanpa terlelap. Ia pun tak meninggalkan namja itu sedetikpun. Di Kha menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Ia langsung berdiri saat melihat namja yang sangat mirip dengan Yunho. Namja itu membungkuk sebagai sapaan lalu menghampiri Yunho.

“Bagaimana keadaan Yunho?” Tanya namja itu.

“Masih kritis. Tak ada perubahan sejak tadi malam.” Jawab Di Kha.

“Maafkan aku. Gara-gara aku, Yunho jadi seperti ini.” Ucap Di Kha dengan penuh penyesalan. Ia mulai menceritakan apa yang terjadi. Kembali Di Kha menundukkan kepalanya. Terdengar helaan nafas dari namja bernama Yunhyun itu membuat Di Kha semakin merasa bersalah.

“Kau jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu.” Ucapan Yunhyun membuat Di kha mendongakan kepalanya. Namja itu menatap Yunho.

“Dia sering sekali menceritakan tentangmu padaku. Dia berkata padaku kau teman yang menyenangkan tapi aku tahu kalau sebenarnya sejak awal Yunho mencintaimu. Yunho mencintaimu sejak pandangan pertama tapi karena dia bodoh dalam hal percintaan jadi ia tak sadar hingga kau marah karena Yunho membohongimu.” Ucap Yunhyun. Di Kha terus menatap Yunhyun.

“Sejak kau marah padanya. Dia jadi orang yang murung. Kuharap kau memaklumi sifatnya yang begitu bodoh tentang cinta. Semua sikapnya yang galak, suka memerintah dan menjahili orang, itu semua ada sebabnya, termasuk sifatnya yang bodoh atau lebih tepat kubilang tak peduli dan tak percaya akan cinta.” Ucap Yunhyun membuat Di Kha sedikit kaget.

“Kalau boleh kutahu apa sebabnya?” Tanya Di Kha. Yunhyun menggelengkan kepalanya.

“Sebaiknya kau bertanya seperti itu padanya nanti kalau ia sadar.” Jawab Yunhyun sambil tersenyum ramah.

“Oh iya sebentar lagi pesawat yang akan membawa Yunho akan datang. Tadi sebelum kemari aku sudah mengurus semuanya. Kau mau kembali ke Seoul bersama? Mungkin dengan kau ada di sampingnya Yunho akan lebih cepat sadar.” Di Kha mengangguk menyetujuinya lalu tak lama orang tua Di Kha datang. Di Kha pun memberitahukan pada orang tuanya kalau ia akan kembali ke Seoul bersama Yunhyun. Orang tua Di Kha mengangguk dan hanya berpesan agar ia jaga di diri.

“Mmm maaf aku harus pulang sebentar untuk mengambil barang-barangku.” Ucap di Kha pada Yunhyun.

“Baiklah. Sebentar.” Ucap Yunhyun lalu Di Kha melihat namja itu menelepon seseorang dan beberapa menit kemudian datanglah dua orang berbadan besar yang membungkuk sopan pada Yunhyun.

“Tolong antar Di Kha dan orang tuanya ke rumah mereka. Bantu Di Kha membawa barang-barangnya.” Perintah Yunhyun.

“Baik.” Jawab kedua namja berbadan besar itu. Di Kha menatap Yunhyun tak percaya.

“Tidak usah diantar, aku dan orang tuaku bisa sendiri. Aku tak mau merepotkan.” Yunhyun menggelengkan kepalanya tak setuju dengan Di Kha.

“Agar lebih aman dan cepat. Selama Yunho tak sadarkan diri aku yang akan melindungimu. Itu pesan Yunho beberapa hari yang lalu. Dia pernah bilang padaku aku harus melindungimu jika terjadi sesuatu padanya karena kau tinggal seorang diri di Seoul.” Ucap Yunhyun. Di Kha reflek menatap Yunho dan kembali menangis.

‘Dasar pabo!’

Di Kha pulang ke rumah dengan orang tuanya dan diantar oleh dua bodyguard Yunhyun. Sampai di rumah Di Kha langsung mengambil barang-barang miliknya lalu berpamitan pada kedua orang tuanya dan pergi ke rumah sakit.

Supir dan dua boduguard itu membawa Di Kha langsung ke bandara. Di Kha di antar ke pesawat pribadi keluarga Jung. Di dalam pesawat ia bisa melihat Yunhyun tengah duduk. Namja itu menyambutnya dengan senyuman.

“Duduklah, sebentar lagi pesawat akan segera berangkat.” Ucap Yunhyun. Ia melihat yeoja di depan menatap sekeliling mencari sesuatu.

“Yunho ada di dalam sana.” Ucap Yunhyun sambil menunjuk sebuah ruangan di mana Yunho berada. Di pesawat pribadi itu memang ada ruangan khusus seperti kamar tidur.

***

Changmin duduk di taman yang biasa ia datangi jika sedang ingin sendiri. Ia menikmati pemandangan indah yang ada di depan matanya. Ia menghela nafas beberapa kali sambil memikirkan masa depannya, apa yang harus ia lakukan. Chae Jin pun tak luput dari pikirannya. Tak ia pungkiri kalau yeoja itu masih ada di dalam hati dan pikirannya tapi hingga kini ia masih berusaha melupakan Chae Jin dan merelakan yeoja itu bersama Changsoo.

Ia mengambil ponselnya yang tiba-tiba berbunyi. Setelah melihat id callernya Changmin mengangkat telepon itu.

“Yeoboseo.” Sapanya.

“Kau di mana, Changmin-a?” Tanya namja yang tak lain adalah Junsu. Changmin mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan namja itu.

“Memangnya kenapa?  Umben sekali kau menanyakan keberadaanku?” Tanya Changmin balik. Junsu menghela nafas mendengarnya.

“Ada yang ingin kubicarakan.” Ucap Junsu serius. Perasaan Changmin mulai tak enak mendengarnya.

“Kau sudah tau semuanya?” Tanya Changmin ragu.

“Ne.” Jawab junsu tegas. Changmin sedikit kaget mendengarnya.

“Apa yang mau kau bicarakan? Sepertinya tak ada yang perlu kita bicarakan. Semuanya berjalan lancar seperti biasa.” Ucap Changmin menolak bertemu dengan Junsu untuk membicarakan masalah yang tak mau ia bahas.

“Tapi changmin-a…” Changmin memotong ucapan Junsu.

“Kumohon jangan membicarakan hal ini. Aku tak mau membicarakannya. Biarkan Chae jin dan Changsoo bahagia. Aku akan melupakan semua ini pernah terjadi. Lagipula sudah jelas kalau Chae Jin menyukai Changsoo.” Ucap Changmin sambil menahan perih di hatinya.

“Mianhae.” Ucap Changmin lalu menutup sambungan telepon itu dan memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.

Tak lama ponsel Changmin kembali berbunyi. Dengan malas Changmin mengambil ponsel dari saku celananya.

“Yeoboseo.” Sapanya malas.

“Ya! Changmin-a, kau di mana? Cepat ke Rumah Sakit Seoul. Yunho kecelakaan kemarin dan tadi sudah di pindahkan ke Rumah Sakit Seoul.” Ucap Yuchun. Mendengar itu membuat Changmin langsung berdiri dengan wajah kaget mendengar berita itu.

“Arra, aku kesana sekarang.” Ucap Changmin cepat lalu menutup teleponnya dan pergi ke Rumah Sakit.

Sampai di rumah sakit Changmin langsung ke ruangan di mana Yunho di rawat. Saat masuk kamar rawat Yunho, Changmin melihat semuanya berada di ruangan itu dengan wajah sedih. Di lihatnya Yunho yang tak sadarkan diri terbaring di ranjang. Perlahan ia mendekat dan bertanya pada Yunhyun.

“Kenapa Yunho sampai seperti ini?” Tanya Changmin dengan suara pelan.

“Tertabrak mobil. Sejak kemarin belum sadarkan diri.” Jawab Yunhyun. Changmin melirik yeoja di sebelah Yunhyun yang sejak tadi terus menatap Yunho.

‘Yeoja yang waktu itu.’ Batinnya. Ia lalu melirik Yunhyun dengan wajah penuh tanda tanya. Yunhyun menepuk pundaknya.

“Nanti kujelaskan.” Bisik Yunhyun pada Changmin.

Semua orang menoleh saat mendengar pintu terbuka. Junsu, Junho dan Chae Jin datang dengan wajah khawatir.

Changmin menoleh saat Yunhyun menyikutnya.

“Tolong bawa yeoja ini keluar sebentar, ajak dia makan dan beristirahat sebentar. Sejak kemarin dia tidak istirahat dan tidak makan. Namanya Di Kha.” Ucap Yunhyun meminta tolong pada Changmin. Changmin mengangguk mengerti lalu mendekati Di Kha dan mengajak yeoja itu untuk keluar sebentar. Yeoja itu mengikuti Changmin dengan wajah tanpa ekspresi.

Di Kha mengikuti Changmin tanpa mengatakan apapun. Changmin melihat wajah yeoja di sebelahnya ini terlihat sangat sedih dan menyesal. Saat berada di depan café yang lokasinya tak jauh dari Rumah Sakit Changmin menyuruh yeoja itu untuk duduk dan memesan sesuatu. Tapi Di Kha hanya diam menatap menu yang ada. Changmin menghela nafas melihatnya.

“Kau di suruh oleh namja bernama Yunhyun itu untuk mengajakku keluar kan? Apakah aku tidak boleh berada di samping orang yang telah menyelamatkan nyawaku? Apakah dia sebenarnya membenciku karena telah membuat saudara kembarnya koma?” Tanya Di Kha.

“Aish, kau jangan berbicara seperti itu. Ya memang Yunhyun yang memintaku untuk mengajakmu keluar tapi itu untuk mengajakmu makan dan beristirahat sebentar. Dia bilang kau sejak kemarin tidak istirahat dan tidak makan. Ayo sekarang kau pilih makanan yang kau suka lalu istirahat sebentar.” Ucap Changmin. Melihat yeoja itu diam saja membuat Changmin mau tak mau memesankan makanan untuk Di Kha.

“Kau tidak membenciku? Aku telah membuat sahabatmu koma.” Ucap Di Kha lagi.

“Bisa kau ceritakan semuanya dari awal?  Jujur aku masih bingung dengan semua ini.” Ucap Changmin jujur. Tak lama pesanan Changmin datang dan yeoja di depannya pun mulai menceritakan semuanya.

Changmin mengangguk mengerti setelah Di Kha menceritakan kejadian yang membuat Yunho koma.

“Aku hanya berharap jika Yunho bangun nanti dia sadar kalau sebenarnya dia mencintaimu sejak awal. Aku tak ada hak untuk membencimu. Hanya satu saranku, kau tak usah menyesali semua yang sudah terjadi. Semua pasti ada hikmahnya dan kau harus tetap semangat.” Ucapan Changmin membuat yeoja di depannya itu menatapnya. Ia tersenyum tulus.

“Kau pernah mendengar kalau kita berbicara pada orang yang sedang koma sebenarnya di bawah alam sadar orang itu mendengar semua perkataan kita? Kenapa kau tak mencoba berbicara pada Yunho setiap hari. Mungkin dengan itu dia bisa cepat sadar.” Saran Changmin.

“Mungkinkah bisa?” Tanya Di Kha.

“Kalau kau tak mencobanya kau tak akan tahu. Ayo makan.” Jawab Changmin sambil mulai makan.

 

TBC

 

ditunggu komennya ^_^ komen kalian menentukan part selanjutnya…

gumawo.

18 thoughts on “TWINS Part 6

  1. Author, mian komen ya sekaligus..
    Soalnya nanggung kalo baca 1 komen, baca 1 komen.. Apa karena aku bacanya sistem kebut..
    Menurut aku, ceritanya tidak terkira apa yang terjadi selanjutnya. Seperti tadi scene yunho oppa teriak awas, aku pikir yunho oppa teriak awas karena didepan Di kha ada jurang(biasanya kalo jauh dari ibukota kebanyakan jurang dari pada jalan raya), ternyata malah jalan raya dan ada mobil yang hampir menabraknya..
    Pengen tahu part 7nya seperti apa, tapi tadi aku baca katanya mau diprotect, jadi dag bisa baca lagi dhe..
    Semoga cerita selanjutnya semakin T.O.P
    Dan keep writing ya Author..

  2. hooooraaaayy ^o^
    akhirnya part 6 dipost juga! udah nungguin sampe tumbuh lumut,ganggang,paku dll😄
    part ini kayaknya fokus ke hubungan di kha-yunho ya? tapi tetap keren!
    part depan fokus ke siapa kira kira ye..🙂

  3. Eunchan She Peef berkata:

    ayolah dikha~ dicoba dulu lah tau yunho bisa come back lagi. Yahhh~ bagian jj nya sedikit.. Tapi tetep seru kok author~
    waiting for next chap~^^

  4. aishhhh ~ onnie ga blg klo udh posting, untung aqu buka jd lgsung bca deh

    bgian imin qu dikit, bgian chae ma imin jga ga ada *protes /plak
    skian komen qu ttg chaemin

    ni komen jaeyoung
    mkin sweet tp bgiannya dikit jga huuuu sprtinya onnie lg fokus ke yunka couple ya🙂

    dika onn bedon bgt di mari so soan ngambek mlah uno kn yg kna imbasnya -.- wlpun uno oppa slh mstinya jgn bgtu amat, pdhl uno oppa udh dteng loh nmuin dika onn ckckck pngorbanan yg sweet tu tp dika onn mlah bgtu *getok dika onn
    coba deh bisikin telinga uno oppa dng kta2 ‘saranghae yunho-a’ pasti lgsung sadar dh uno oppa hihihihi

    part 7 jgn lame lame ya onnie (・ω<) ✧*。

    • hahaha ini sengaja uno-dikha lbh bnyk abis yg kmrn dikit.slaen itu bingung buat bagian chaejin-min ama heeyoung-jae.ga tau hrs gmn.feelnya ga dpt pas di part ini….part 7 udah jd tp nunggu part 8 kelar yaaaaa (pdhl ngetik part 8 aja blm :3 *buru2 kabur*

  5. stuju sama kaka min bgiannya sedikit tp gpp ga ada scan sama chaejin :p
    yunho oppa kasiann #pukpuk oppa
    dika onnie kejamm sama yunho oppa,mstinya ga sgitunya #jitak dika onnie #kaburrrr
    smoga yunho oppa cepet sadar dan smuanya bisa happy ending😀

  6. eonni eonni.. kok baru di lanjutin sih?? aku udah nunggu lama loh.
    hahaha
    semoga happy ending hahaha..
    bingung mau koment apa.
    hahaha
    di part ini kayanya fokus sama couple yunho-dika ya
    hahaha kayanya part sebelumnya lebih fokus sama couple jaejoong-heeyoung..
    ayo eonn fokusin ke changmin dong.. hahaha

    NICE FF EONNI

  7. chunnie_man berkata:

    Akhirnya ada lanjutannya.dikha n yunho cepetan klian jadian gak ngiri sama jaehee couple.yun cepetan sadarnya jgn lama2.ditunggu lanjutan nya eonn.seru dan penasaran.

  8. iya vabyak scene dhika yunho y,,,,, mudah2an dua2 y sadar klo saling cinta n ngak bingubg sama perasaan mereka lagi pa lg yunho yg udah jelas cinta gt ma dhika…..
    mana yunho y blm tau klo dhika mau ke luar negri,,,, pa nanti akhir y dhika batalin ke luar negri y???
    changmin patah hati,,, agak sukit nih masalah changmin.menurutku krn dia harus ngadepin sama saudara krmbar y sendiri yg cinta sama cwe yg sama pa lg cwe y salah ngira gt… kasian changmin…..
    lanjut……

  9. Midori-chan berkata:

    Akhirnya di lanjut juga
    yg ini bnyk scene’a Yunho ma Di kha ya
    semoga Di kha cepet jatuh cinta ma Yunho
    terus terus itu gmn beasiswanya Di kha, yunho belom tau & belom sadar
    taerus nasib Changmin gimana ma chae jin??
    ahhh penasaran, cepet dilanjut ya >.<

  10. Rajaejoongie berkata:

    semoga yunho cepat sadar,dan di hka memaafkn yunho…
    sdkt kecewa di part ini scene couple jae_young dkt bngt,huhuhu T.T

  11. yeonhwa berkata:

    semoga abis kejadian itu di kha jadi sadar, dan mulai mencintai yunho.
    author…, jgn terlalu dibikin sengsara ya.. , kasian jj sma hee young dah saling mencintai🙂
    mimin sengsara bgt T.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s