Kimi no Shiranai Monogatari Chap 2


Tittle : Kimi No Shiranai Monogatari (The Story You Didn’t Know)

Rate : NC/17

Genre : AU/OOC/STRAIGHT (Drama, Friendship, Romance)

Lenght : Series/ chaptered

Main Cast :

–          Park Yoon Rie as Park Yeon Min

–          Kim Junsu

–          Shin Ae Ri as Shin Ae Ro

–          Kim Jaejoong

Others Cast :

–          Jang Eun Ji as Jang Eun Jae

–          Shim Changmin

–          Lee Hye Jin as Lee Jin Hyeok

–          Park Yoochun

–          Choi Yong Rae

–          Jung Yunho

–          Dll

Disclaimer : Inspiration from HANAKIMI (to the beautiful you)

Author : Satsukisorayuki

 

If You don’t like! Don’t read!

Chapter 2 : Cheossarang (First Love)

 

>>Previous Chapter

Ae Ri dan Yoon Rie terpaku, entah kenapa kedua wajah itu begitu familiar bagi mereka, terlebih detak jantung mereka mulai berdebar tak menentu. Jaejoong dan Junsu, sepertinya Ae Ri dan juga Yoon Rie benar-benar sangat merindukan kedua namja itu? Atau jangan-jangan namja di depan mereka ini benar-benar cinta pertama mereka—Jaejoong dan Junsu—oh, betapa keduanya begitu berharap hal itu benar adanya. Sementara itu setelah puas memperhatikan keempat wajah baru dihadapannya, Jaejoong menyeringai.

‘Dor! Kau kutemukan Ae Ri-chan!’ ujar Jaejoong dalam hati.

Jaejoong kembali mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang kini tengah berdiri di samping kanan Ae Ri. Di matanya orang itu terlihat begitu keren hingga akhirnya ia pun merasa cemburu karenanya. Ia mulai berpikir apakah orang itu seorang namja yang dekat dengan Ae Ri ataukah seorang yeoja seperti Ae Ri? Rasa penasaran membuat Jaejoong tertarik hingga akhirnya ia menghampiri keempat orang itu dan mulai menyapa mereka,

“Aku tidak pernah melihat kalian di sekolah ini, apakah kalian murid baru?”

Hye Jin menatap Jaejoong dengan tatapan tajam nan dingin, biar dikira namja betulan gitu. Kemudian ia menjawab pertanyaan Jaejoong dengan suara lantang,

“Ne. Manaseo bangapsumnida.”

‘Sebenarnya orang ini namja atau yeoja sih? Jika dia namja aku tak akan membiarkannya dekat-dekat dengan Ae Ri-chan,’ pikir Jaejoong yang tiba-tiba saja mendapatkan sebuah ide. Untuk memastikan sesuatu yang benar-benar menganggunya itu Jaejoong pun memeluk Hye Jin seraya berkata,

“Selamat bergabung di sekolah kami.”

‘Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba dia memelukku sih? Jangan-jangan dia tidak normal,” pikir Hye Jin.

Jaejoong merasakan sensasi yang berbeda ketika memeluk Hye Jin. Perasaan yang tengah ia rasakan saat ini sungguh berbeda dengan perasaan yang ia rasakan setiap kali ia berpelukan dengan teman-temannya. Jaejoong pun tersenyum dan sedetik kemudian ia menghela nafas lega.

‘Fuh. Syukurlah dia yeoja jadi aku tak perlu memasukannya dalam list rivalku,’ ujar Jaejoong dalam hati.

Setelah memeluk Hye Jin, Jaejoong pun memeluk Ae Ri…saat itu juga jantungnya berdebar jauh lebih kencang dibanding pada saat ia memeluk Hye Jin barusan.

Nae simjangi dugeun georigo isseoyo (Jantungku berdetak cepat). Neomu bogoshippo, Ae Ri-chan.’

Ae Ri sendiri merasakan hal yang sama, kini jantungnya berdebar jauh lebih kencang hingga ia khawatir namja yang kini tengah memeluknya bisa mendengar bunyi detak jantungnya. Entah kenapa rasa rindunya pada Jaejoong lenyap saat itu juga?

‘Apakah ini kau Jaejoong-niichan? Sejak dulu jantungku hanya berdetak cepat untukmu,’ pikir Ae Ri dalam hati.

“Kuharap kalian betah disini,” ujar Jaejoong pula.

“Tentu saja tapi kenapa kau tiba-tiba memelukku seperti ini?”

“Kau tidak tau? Ini adalah ungkapan selamat datang dariku.”

“Dengan memelukku seperti ini?”

“Ani. Tidak hanya kau yang aku peluk, tau!” ujar Jaejoong yang kini beralih memeluk seseorang yang berdiri disamping kiri Ae Ri—Yoon Rie—

‘Dia juga yeoja,’ pikir Jaejoong pula.

‘Apa-apaan orang ini? Kenapa tiba-tiba memeluk kami semua? Jangan-jangan dia ingin memastikan jati diri kami yang sebenarnya. Aku saja jika memeluk seorang namja bisa merasakan sensasi yang berbeda dengan pada saat aku memeluk sesama yeoja. Orang ini jika dia straight dia pasti akan langsung tau kalau kami….tidak, apa yang kau pikirkan Park Yoon Rie? Kau terlalu melebih-lebihkan, tidak mungkin rahasia kami terbongkar secepat ini kan?’

“Jangan salah paham aku bukan gay!” tegas Jaejoong yang merasa aneh melihat ekspresi Yoon Rie.

‘Justru karena kau normal itulah kau mungkin akan langsung tau kalau kami yeoja. Aku tidak bodoh,’ balas Yoon Rie dalam hati.

Setelah melepaskan pelukkannya dari Yoon Rie, Jaejoong pun memeluk Eun Ji. Saat itu juga dia merasa heran,

‘Ternyata mereka semua yeoja. Aku tau alasan Ae Ri bersembunyi disini tetapi yang lainnya…apa yang sebenarnya mereka inginkan atau jangan-jangan ada sesuatu yang mereka rencanakan? Tidak, sepertinya mereka sama sekali tidak kenal dengan Yong Rae ataupun teman-temannya. Benar, mungkin saja mereka hanya ingin menemani Ae Ri karena dari yang aku lihat mereka semua begitu akrab.’

“Kuharap kita semua bisa menjadi teman baik,” ujar Jaejoong pada Eun Ji setelah ia melepas dekapannya.

“Tentu saja. Kenapa tidak?” sambung Eun Ji.

Junsu yang merasa heran dengan tingkah aneh kakak sepupunya itu pun mulai bertanya-tanya dalam hati,

‘Jaejoong hyung yang selama ini begitu dingin kenapa tidak sungkan memeluk mereka padahal kami baru pertama kali bertemu? Sepertinya ada yang aneh, tidak biasanya dia seperti ini.’

Junsu memperhatikan keempat orang itu satu persatu tetapi entah kenapa lagi-lagi tatapannya tertuju pada Yoon Rie. Ia sendiri merasa heran kenapa lagi-lagi matanya terpaku pada orang itu. Wajah itu benar-benar terasa begitu familiar baginya tetapi lagi-lagi ia menepis pikiran konyol itu.

“Jadi kalian murid baru? Je ireumen Kim Junsu imnida,” ujar Junsu mulai memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah.

‘Kim Junsu? Dia Kim Junsu? Jangan-jangan dia benar-benar Junsu oppa yang aku kenal? Tuhan, apakah dia cinta pertamaku yang telah lama aku rindukan?’ tanya Yoon Rie dalam hati.

“Siapa nama kalian?”

“Na, Lee Jin Hyeok imnida.”

“Shin Ae Ro imnida.”

“Na neun Jang Eun Jae imnida.”

“Kau?”

“…” Yoon Rie terdiam seraya menunjuk dirinya sendiri.

“Ya, kau?”

“Park Yeon Min imnida. Pangapsumnida.”

“Nado. Ah ya, dia saudara sepupuku Jaejoong…Kim Jaejoong.”

‘Apa katanya? Dia Kim Jaejoong? Ya Tuhan, apakah dia Jaejoong oppa yang aku kenal?’ Ae Ri ikut bertanya-tanya dalam hati.

“Junsu, kajja!” ajak Jaejoong.

“Tunggu!” cegah Yoon Rie.

“Wae?”

“Anu, Jaejoong-ssi…ruang kepsek disebelah mana ya?”

Jaejoong pun merogoh saku seragamnya lalu mengambil sebuah kertas berwarna cream dan menyerahkan kertas itu pada Yoon Rie.

“Itu adalah peta sekolah ini. Cari saja ruangan itu sendiri!” ujarnya yang langsung melengos pergi diikuti Junsu di belakangnnya.

“Gamsahamnida,” teriak Yoon Rie sambil tersenyum. Setelah itu mereka berempat pun melangkahkan kaki mereka menuju ruang kepala sekolah.

>>>>>.<<<<<

Setibanya di kantin usai mengantri untuk mengambil makanan dan minuman yang merupakan menu hari ini, Jaejoong tersenyum-senyum sendiri. Junsu pun dibuat heran olehnya. Kalau dipikir-pikir hari ini Jaejoong memang aneh. Tidak biasanya ia menunjukan emosinya secara terang-terangan seperti ini.

“Apa kau sakit, hyung? Hari ini kau aneh sekali?” tanya Junsu setengah cemas.

“Yang sakit itu kau,” ketus Jaejoong.

“Kalau begitu kau ini kenapa? Apa tadi pagi kau terjatuh dari tempat tidur sehingga kepalamu terbentur?” tanya Junsu polos.

Jaejoong memandang Junsu dengan mata berbinar, kemudian tersenyum.

“Kau lihat! Ternyata dia memang jodohku!”

“Apa maksudmu, hyung?”

“Kami sudah berpisah selama 12 tahun. Saat dia kembali orang tua kami menjodohkan kami tapi kudengar dia menolak perjodohan itu karena ia tidak tahu kalau calon suaminya itu adalah aku.”

“Hahaha, yang seperti itu kau bilang jodohmu? Bukankah dia sengaja lari darimu, hyung?”

“…dan hebatnya dia lari kesini. Berarti aku dan dia memang di takdirkan untuk bersama, bukan?”

Junsu terbelalak kaget. Ia kembali menatap mata Jaejoong. Jaejoong masih menunjukkan ekspresi yang sama, raut kebahagian tergambar jelas di wajahnya yang kini sedikit bersemu merah. Entah apa yang tengah Jaejoong pikirkan saat ini?

“Hah? Jadi maksudmu anak baru itu…yeoja?”

“Hn. Menurut pengamatanku mereka berempat memang yeoja!”

“Eh? Keempatnya yeoja katamu? Kalau begitu bisa gawat kalau misalnya mereka ketahuan, kan?”

“Itulah sebabnya kita pura-pura tidak tahu saja dan lindungi mereka diam-diam!” tegas Jaejoong sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Hyung yeoja tidak boleh ada di sekolah ini, kau juga tau itu kan? Kalau memang mereka yeoja, kita harus segera melaporkan ini kepada kepala sekolah sebelum semuanya terlambat!”

“Come on, Junsu. Saat tante Christie memberikan kabar buruk tentang Ae Ri aku sangat cemas. Dia bilang Ae Ri hilang. Aku benar-benar kaget saat itu. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya di luar sana dan sekarang aku sudah berhasil menemukannya tapi karena aku tinggal di asrama aku tidak bisa dengan bebas menemuinya karena itulah tolong jangan katakan apapun, biarkan dia disini!”

“Sebentar? Maksudmu salah satu dari keempat yeoja itu adalah cinta monyetmu?”

“Cinta monyet?”

“Ne, cinta monyet. Saat itu kalian kan masih anak-anak. Cinta pertama tidak mungkin terjadi saat dirimu masih kanak-kanak hyung.”

“Padahal kau sendiri mengakui cinta monyetmu sebagai cinta pertamamu, dasar curang!”

“Hahaha, benar juga tapi sekarang aku sadar…aku merasakan cinta pertama itu saat aku melihatnya di rumah sakit tempo hari. Rasa sukaku terhadapnya saat masih kanak-kanak dulu sebenarnya hanyalah cinta monyet semata. Kita sama-sama merasakan cinta monyet, hyung.”

“Hn, benar juga itu cinta monyet.”

“Yah begitulah, jadi intinya aku ‘cintanya’ dan kau ‘monyetnya’ hahaha…” ledek Junsu

“Sialan kau!” ujar Jaejoong sambil cemberut,

“Jadi salah satu dari mereka itu Ae Ri?” Junsu kembali bertanya agar kekesalan Jaejoong teralihkan.

“Ne. Shin Ae Ro itu…dia adalah Ae Ri-chan.”

“Kau yakin, hyung?”

“Tentu saja. Ia itu kan tunanganku walaupun dia belum tau sih, jadi aku tidak mungkin salah orang lagipula aku punya banyak sekali fotonya. Semua foto-foto itu tante Christie yang memberikannya padaku. Biarpun dia sedang menyamar sebagai seorang namja, mataku tidak bisa ditipu.”

“Oh, begitu rupanya. Tadi kau bilang tante Christie memberikanmu banyak foto Ae Ri, ngomong-ngomong tante Christie itu siapa? Kau tidak pernah cerita padaku?”

“Dia ibunya.”

“Jadi Ae Ri blasteran?”

“Hn. Tante Christie adalah orang Amerika. Nama Amerika Ae Ri sendiri adalah Cherry Dawson. Alasan dulu ia pindah ke Amerika juga karena tante Christie tapi aku senang karena tante Christie tidak pernah lupa padaku makanya walaupun dia, Ae Ri, dan Rae Won ajeosi tinggal di Amrik selama 12 tahun, aku dan tante Christie tidak pernah putus kontak. Mereka juga masih sering menghubungi ayahku,” cerita Jaejoong panjang lebar.

“Hmm, sekarang aku mengerti kenapa kau bisa dijodohkan dengannya?”

“Tante Christie dan mendiang ibuku adalah sahabat baik. Berkat persahabatan mereka jugalah aku bisa mengenal Ae Ri. Hari itu aku ingin sekali menjemputnya di Bandara tapi aku terlambat datang, begitu aku tiba mereka sudah tidak ada,”

“Hah? Kenapa kau bisa terlambat? Cereboh sekali.”

“Hari berikutnya aku sengaja datang ke rumahya tapi Mi Cha bilang saat itu Ae Ri sedang pergi menemui temannya. Sialnya ia tidak memberitahuku dimana alamat rumah teman Ae Ri itu, katanya ia tidak tahu. Sekarang Ae Ri-chan begitu dekat karena itulah Junsu kumohon padamu kita pura-pura tidak tau saja kalau keempat orang itu adalah yeoja, kau mau kan?”

“Hhh, baiklah.”

“Gomawo,” balas Jaejoong sambil tersenyum.

“Sepertinya setelah ini akan merepotkan tapi kuharap hari-hariku bisa menyenangkan juga,” gumam Junsu.

“Oh iya, bagaimana keadaanmu Junsu?”

“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?”

“Katakan saja, aku tidak bodoh! Saat event olahraga kemarin kau hanya bermain sepak bola selama 15 menit padahal biasanya kau bisa bermain hingga 45 menit.”

“Hahaha…”

“Kenapa kau malah tertawa? Aku ini serius tau!”

“Yah, aktivas fisikku dibatasi lagi makanya aku hanya bisa bermain sebentar saja padahal aku ingin sekali bermain full.”

“Jadi?”

“Kurasa kau tidak usah tau!”

“Yaa! Aku ini kakak sepupumu, pabo!”

“Ternyata kau hanya menunjukan sifat aslimu padaku ya, cerewet!”

“KIM JUNSU!!”

“Iya…iya…akan kukatakan! Sebenarnya aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi tapi aku tidak mau berhenti sekolah. Aku lebih suka disini daripada di rumah sakit.”

“Maksudmu tidak bisa bertahan lama?”

“Aku butuh jantung baru, hyung.”

“Mwo? Sudah separah itu?”

“Ne. Sudahlah kau tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja!”

“Bagaimana mungkin aku tidak merasa khawatir?” bentak Jaejoong.

“Itulah sebabnya aku tidak mau memberitahumu. Ah, merepotkan!”

Suasana hening untuk sesaat. Tidak ada seorang pun yang membuka pembicaraan. Kini wajah Junsu terlihat muram dan matanya menunjukkan tatapan kosong.

“Hyung, adakah surga di atas sana? Apakah jika tubuh ini sudah tidak ada lagi di dunia ini, aku akan menemukan tempat yang bernama surga?”

“Junsu…”

“Akankah aku masih bisa melihat yeoja yang aku cintai dan juga kalian?”

“Kim Junsu, jangan bicara ngelantur!”

“Aku hanya mengatakan apa yang ada di dalam hatiku.”

“Huh! Ternyata bukan hanya aku yang menyembunyikan sifat asliku, kau juga sama saja denganku!”

Suasana kembali hening. Memang benar terkadang semua orang menyembunyikan sifat aslinya. Ini bukan karena mereka ingin membohongi seseorang tetapi karena ingin selalu berada di dekat orang-orang yang mereka sayangi, tetapi kau tau…terkadang lebih baik kau menunjukan sifat aslimu sebelum kau terlambat dan dia yang kau sayangi tidak ada lagi disampingmu.

“Setiap orang mempunyai rahasia di kehidupannya masing-masing dan mereka juga pasti mempunyai alasan untuk tidak menceritakannya pada orang lain hyung,” Junsu kembali membuka pembicaraan.

“…tetapi ketika kita bisa menceritakannya pada orang lain terutama pada orang-orang yang benar-benar kita inginkan untuk mengetahui rahasia itu, maka saat itulah perasaan kalian akan menjadi tenang,” sambung suara seseorang yang tiba-tiba saja ikut campur walaupun tidak ada kabel disekitarnya.

“Yoochun, sejak kapan kau disitu?” tanya Jaejoong,

“Sejak suasana diantara kalian hening seperti di kuburan,” ketus Yoochun.

“Kau seperti hantu saja…muncul tiba-tiba begitu, forehead” komentar Junsu.

“Kau tidak terlihat sakit, bebek.”

“Heh? Apa maksudmu?”

“Selama ini aku selalu berpikir, kita selalu memandang orang yang sedang sakit dari penampilannya tetapi sekarang aku mengerti.”

“Mengerti apa?” tanya Jaejoong,

“Ada satu hal yang tidak kita ketahui dari mereka. Mereka yang sakit juga berusaha untuk terlihat sehat di mata orang lain, benar kan bebek?”

“Hehe, ketahuan ya?”

“Tentu saja. Saat di rumah sakit aku bisa melihat kalau kondisimu itu belum pulih benar tapi sekarang kau berada disini bahkan kau ikut event olahraga kemarin. Sok kuat, eh?”

“Aku memang kuat, kok. Kau belum tau saja, forehead.”

“Hah?”

“Dia memang kuat, Yoochun. Kalau aku jadi dia, aku mungkin sudah berhenti sekolah,” sambung Jaejoong.

“Sudahlah, tidak usah membicarakan penyakitku lagi nanti ada orang yang curi dengar. Aku tidak mau ada orang lain lagi yang tau tentang penyakitku termasuk Yunho hyung dan Changmin. Hmm, kita bicara hal lain saja ya?”

“Aku tidak punya hal menarik yang ingin aku ceritakan.”

“Bagaimana dengan adikmu? Waktu itu kau bilang dia kabur dari rumah, kan? Apa sekarang dia sudah ketemu?” tanya Junsu harap-harap cemas.

“Belum. Dia seperti menghilang di telan bumi.”

“Lho, adikmu minggat dari rumah? Wae?”

“Dia mau dijodohkan dengan Yunho. Yoon Rie itu masih mengharapkan dolphinnya makanya dia nekat kabur dari rumah padahal dia baru saja pulang dari Amerika. Oh My God, aku takut dia tersesat dan sesuatu yang buruk terjadi padanya,” cerita Yoochun seraya melirik Junsu.

“Astaga, apa tahun ini lagi musim perjodohan dan minggat dari rumah ya? Kupikir hanya Ae Ri-chan saja yang mengalami hal itu.”

“Ae Ri-chan?”

“Ye, calon istriku itu juga minggat dari rumah padahal orang yang mau dijodohkan dengannya itu kan aku. Aku jadi curiga kenapa Ae Ri sampai tidak tahu, jangan-jangan ada udang di balik batu?”

“Maksudmu?” tanya YooSu bersamaan,

“Katanya belum sempat tante Christie menjelaskan semuanya, Ae Ri keburu kabur dari rumah seakan-akan ada orang yang sengaja meracuni pikirannya sebelum semua kebenaran itu terungkap.”

“Mungkin juga, hyung.”

“Jangan-jangan Mi Cha?” tebak Jaejoong,

“Siapa itu Mi Cha?”

“Dia saudara sepupunya Ae Ri. Lima tahun yang lalu aku pernah menolak cintanya. Aish, pantas saja waktu itu….”

“Ada apa, hyung?”

“Sialan! Mi Cha!”

Yoochun dan Junsu hanya saling pandang pertanda bingung. Kini Jaejoong mengepalkan kedua tangannya hingga urat-urat tangannya terlihat jelas. Yoochun pun bergidik ngeri, kalau sudah begitu….

BRAAAKK’

Ternyata dugaan Yoochun benar. Jaejoong menggebrak meja dengan sekuat tenaga hingga akhirnya meja malang tak berdosa itu terbelah menjadi dua bagian dan makanan serta minuman yang tersaji tadi berserakan di lantai dengan beberapa buah piring dan gelas yang pecah.

“Omo! Kau hampir membuatku terkena serangan jantung,” ujar Junsu sambil mengelus dada kirinya.

“Eh? Mianhae, Junsu-ya? Neo Gwaenchanha?”

“Gwaenchanhayo. Kau ini kenapa sih? Tiba-tiba ngamuk nggak jelas?”

“Mianhae, aku kesal sekali pada Mi Cha.”

“Tidak keberatan cerita pada kami?” tanya Yoochun,

“Kapan-kapan saja. Sekarang kita kembali ke kelas saja, kajja!” ajak Jaejoong, kemudian mereka bertiga pun berdiri dari kursi.

“TUNGGU! KIM JAEJOONG! APA YANG KAU LAKUKAN, HUH?” teriak Ahjuma pemilik kantin,

“Mampus kau hyung!”

“AKAN KULAPORKAN INI PADA KEPALA SEKOLAH!” teriak ahjuma itu seraya mengangkat sebuah kursi tinggi-tinggi, bersiap melemparkannya pada Jaejoong.

“Huaaa, laaarrrriiii!” teriak Jaejoong yang kemudian lari terbirit-birit seperti seekor anak kucing yang dikejar-kejang anjing chihuahua. #lhoKok

Junsu dan Yoochun hanya menggelengkan kepala di tempat dengan kompak. Sementara ahjuma itu setelah ia meletakkan kursinya kembali, ia langsung pergi menuju ruangan kepala sekolah.

“Jaejoong itu kenapa hobi sekali di hukum sih?”

“Hah? Hobi? Itu sih bukan hobi namanya!” sanggah Junsu.

“Ya sudah, kita kembali ke kelas saja!” ajak Yoochun yang lantas melangkahkan kakinya diikuti Junsu.

>>>>>.<<<<<

 

Yoon Rie menyeret koper besarnya seraya mencari-cari kamar No. 210, ia kemudian berhenti di depan sebuah kamar yang ternyata No.211 dan mulai membaca papan nama yang tertera di depan pintu,

“Park Yoochun.”

“Kim Junho.”

“Oh, rupanya ini kamarnya Park Yoochun dan Kim Junho,” ujar Yoon Rie yang dengan santainya kembali melangkahkan kakinya menuju kamar sebelah tetapi beberapa detik kemudian dia tersadar,

“EH? PARK YOOCHUN? HUAA! GAWAT! AKU LUPA KALAU SEKOLAHAN INI ADALAH SEKOLAHAN OPPAKU JUGA, OTTOKE?” teriak Yoon Rie histeris sampai-sampai beberapa kaca jendela disekitarnya bergetar dan hampir pecah gara-gara teriakan Yoon Rie yang super dahsyat cetar membahana badai itu, untung saja di jam-jam seperti ini asrama masih sepi.

“Ada apa sih Yeon Min? Jangan teriak-teriak seperti seorang yeoja dong, kalau kita semua ketahuan kan bisa gawat!” sambung Ae Ri sambil lari tergopoh-gopoh menghampiri Yoon Rie padahal ia masih belum menemukan kamar yang ia cari.

“Aku sudah menemukan kamar kita…tapi…”

“…tapi apa?”

“Kamar kita ada disebelah kamar oppaku. Hhh, aku lupa kalau ini adalah sekolahan oppaku juga. Ottoke? Kalau aku langsung ketahuan aku bisa diseret pulang, aku tidak mau!”

“Ya actingmu harus bagus dong biar nggak ketahuan!” sambung Ae Ri yang kemudian memasukan kunci yang ia pegang ke dalam lubang kunci kamar No.210. Sebelum memasuki kamar tersebut ia berhenti sejenak untuk mencari tahu siapa teman sekamar mereka.

“Kim Jaejoong.”

“Kim Junsu.”

“Hah? Yeon Min, rupanya kamar ini milik dua namja yang tadi sempat berpapasan dengan kita.”

“Benarkah?”

“Yaa! Kalian berdua, tau tidak dimana kamar No.211? Kami sudah mencari-cari kamar itu sedaritadi tapi tidak ketemu-ketemu,” teriak seseorang dari kejauhan yang ternyata adalah Eun Ji.

“Eun Jae, jangan teriak-teriak seperti seorang yeoja dong! Kamar kalian disebelah kami nih!” ujar Ae Ri seraya menunjuk kamar yang dimaksud.

Eun Ji dan Hye Jin pun menghampiri mereka. Setelah berdiri tepat di depan kamar No.211, Hye Jin yang penasaran langsung membaca papan nama yang tertempel di pintu itu,

“Park Yoochun.”

“Kim Junho.”

“Eh? Yeon Min, jadi kami berdua sekamar dengan kakak dan saudara kembar cinta monyetmu itu? Oh, so lucky!” ujar Hye Jin dengan pipi yang sudah bersemu merah, entah apa yang dia bayangkan? Mungkin dia membayangkan Yoochun yang sedang naked di depannya atau mungkin dia membayangkan hal-hal yang aneh. Tidak ada yang tahu selain Tuhan dan dirinya sendiri.

“Apa maksudnya saudara kembar cinta monyetku?”

“Hmm, bukannya Junsu itu punya saudara kembar yang bernama Junho?”

“Kalau begitu berarti orang yang tadi itu benar-benar Junsu oppa yang aku kenal?”

“Mungkin saja. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Junsu ataupun kembarannya tetapi seyumanya itu familiar sekali bagiku,” sambung Hye Jin.

“Kajja, kita pastikan hal ini!” ajak Ae Ri, Yoon Rie pun mengangguk sedangkan Hye Jin dan Eun Ji langsung memasuki kamar No.211 untuk membereskan semua barang-barang mereka.

Setibanya di kamar, Ae Ri segera memilih tempat tidur yang ia rasa paling nyaman. Di kamar tersebut ada satu kamar mandi, 4 tempat tidur, 4 meja tulis, 2 buah lemari berukuran sedang dengan dua pintu, dan juga sebuah kulkas mini.

“Yeon Min, kau saja yang tidur di atas ya?” tanyanya yang hanya dibalas Yoon Rie dengan anggukan kepala.

“Lemari yang kosong berarti milik kita berdua,” lanjut Ae Ri yang kemudian mengecek sebuah lemari yang ternyata terkunci.

“Sepertinya ini lemari milik mereka…berarti lemari kita yang ini,”

Ae Ri segera membuka lemari itu dan ternyata lemari itu tidak terkunci dan di dalamnya pun masih kosong. Ia pun segera merapikan barang-barangnya kedalam lemari tersebut. Setelah itu ia membuka sebuah laci yang ternyata di dalamnya tersimpan kunci lemari tersebut.

“Wow, ternyata ada cermin dibalik pintu sebelah kanan lemari ini. Kupikir di asrama namja tidak ada cermin hihi,” komentar Ae Ri.

“Aku tidak menyangka aku bisa bertemu dengan cinta pertamaku lagi. Kau tahu, aku sangat bahagia karena kita sekamar dengannya!” Yoon Rie yang sejak tadi tidak kedengaran suaranya akhirnya mengeluarkan suaranya.

“Oh iya ya, Yoon Rie juga baru kembali ke Korea kan?” tanya Ae Ri seraya menghampiri Yoon Rie yang tengah berdiri di dekat sebuah meja tulis.

“Hmm, tapi sudah lama sekali…10 tahun.  Apakah menurutmu dia masih mengingatku?”

Ae Ri menarik kursi meja tulis tersebut lalu duduk di atasnya. Ia pun mengalihkan pandangannya pada buku-buku dan beberapa barang lain seperti lampu belajar, pot bunga, dll. Ae Ri mengernyitkan dahi pertanda heran saat ia menemukan benda tak asing yang menarik perhatiannya.

“Aku juga sudah 12 tahun tidak bertemu dengan cinta pertamaku lagi. EH? Ini meja belajarnya siapa ya? Kok banyak sekali obat-obatan?”

“Obat-obatan?” tanya Yoon Rie yang ikut mengalihkan pandangannya ke arah meja belajar tersebut. Ternyata yang dikatakan Ae Ri benar, beberapa obat-obatan terletak disana.

“Hanya ada satu kesimpulan, pemilik meja belajar ini ‘sakit’. Tidak mungkin obat sakit biasa sebanyak ini, kan?” tanya Ae Ri sambil memperhatikan sebuah botol yang masih penuh dengan obat tablet.

“Kau benar, setahuku ini bukan obat demam ataupun flue. Kira-kira siapa ya pemilik meja tulis ini?” sambung Yoon Rie seraya ikut melihat-lihat beberapa macam pil yang masih terbungkus dalam plastiknya. Ia menunjukkan beberapa obat itu pada Ae Ri,

“Hm, kalau yang ini aku tau. Yang ini semacam vitamin suplemen tapi yang lainnya aku tidak tahu,” lanjut Yoon Rie.

Sementara itu, Ae Ri tengah assik mencari bingkai foto. Siapa tahu bingkai foto bisa menjadi petunjuk baginya. Senyumnya mengembang setelah ia berhasil menemukan sesuatu yang ia cari-cari sejak tadi.

“Ini dia…aku menemukan fotonya!” ujar Ae Ri yang kemudian mengamati pigura foto tersebut. Di dalamnya ada gambar tiga anak kecil yang sepertinya baru berusia 5 dan 7 tahun sedang memamerkan tawa ceria mereka.

“Anak perempuannya agak mirip denganmu,” komentar Ae Ri yang kemudian menyerahkan bingkai foto tersebut pada Yoon Rie.

Mata Yoon Rie terbelalak lebar. Foto itu sama dengan foto yang dia milikki. Tentu saja sama karena itu adalah fotonya bersama Junsu dan Junho saat mereka dan keluarga mereka berwisata ke kebun binatang.

“MWO? Mereka ini kan…”

Yoon Rie langsung terduduk di lantai karena kakinya melemas tiba-tiba. Air mata mulai menganak sungai di pipinya. Ia merasa bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena ternyata orang yang bertemu dengan mereka berempat tadi salah satunya memang cinta pertamanya—Junsu—sedih karena ia tidak tau obat-obatan apa yang ia temukan barusan. Benarkan cinta pertamanya itu sakit? Seingatnya waktu kecil Junsu sangat sehat dan jarang sakit atau ia saja yang tidak terlalu memperhatikan?

“Walaupun itu ditemukan di atas meja tulis Junsu belum tentu itu milik Junsu? Siapa tahu itu milik temannya yang tidak sengaja tertinggal disana jadi kau tidak usah menangis Yoon Rie! Kau harus ingat, mulai hari ini kita adalah namja dan sebagai seorang namja kita tidak boleh menunjukan air mata kita karena namja itu jarang menangis.”

“Kalau begitu bagaimana kalau seandainya obat-obatan itu milik Jaejoong dan Jaejoong itu ternyata adalah Jaejoong cinta pertamamu?” tanya Yoon Rie sambil terisak.

Mendengar pertanyaan Yoon Rie itu Ae Ri langsung terdiam. Untuk sesaat kepalanya terasa kosong. Tatapan matanya pun berubah menjadi sendu. Memang benar kata Yoon Rie, kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi mengingat kamar ini adalah milik mereka. Ia sama sekali tidak mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi pada cinta pertamanya. Entah bagaimana jadinya dia jika obat itu memang milik Jaejoong yang berarti namja itu mengidap sebuah penyakit yang mungkin termasuk penyakit yang serius? Apakah ia akan kuat menghadapinya?

“Jawab pertanyaanku! Apakah kau tidak akan menangis?” desak Yoon Rie yang mulai kesal karena Ae Ri hanya diam saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Terkadang kehidupan tidaklah bisa ditebak dan kita tidak akan tau nasib seseorang bagaimana? Ketika kita mengatakan ‘Ya’ pada hari ini, belum tentu kita akan mengatakan ‘Ya’ lagi pada keesokan harinya. Ketika kita mengatakan bahwa kita adalah orang yang paling sial di dunia ini, kenyataanya di luar sana masih ada orang yang lebih sial daripa kita. Sesuatu yang mutlak adalah, pada akhirnya kehidupan akan berakhir dengan kematian. Terkadang akhir dari sebuah kisah tidak seperti yang kita bayangkan. Awalnya kita menyangka akhir dari kisah itu akan bahagia tetapi ternyata tidak dan tentu saja hukum itu juga berlaku sebaliknya.

“Yoon Rie, mianhae tadi itu tidak seharusnya aku berbicara demikian. Aku sadar walaupun saat ini kita sedang menyamar sebagai seorang namja tetap saja kenyataannya kita ini adalah yeoja.”

“Aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku bersikap kasar padamu.”

“Gwaenchanha, salahku juga bicara seenaknya tanpa memahami perasaanmu. Mianhae, Yoon Rie.”

“Tidak usah minta maaf Ae Ri. Kau tidak salah. Kau hanya bicara apa adanya. Sekarang ini kita belum tau obat-obatan itu milik siapa, jadi bagaimana kalau kita mencari tahu?”

“Ne. Kita akan menyelidiki ini,” jawab Ae Ri sambil tersenyum.

Yoon Rie kembali meletakkan bingkai foto tersebut ke tempat asalnya. Saat ia menggeser sebuah pot bunga yang ternyata ditumbuhi oleh pohon mint yang tingginya hanya sekitar 25cm, ia menemukan sebuah gulungan kertas yang terselip diantara dedaunan. Yoon Rie yang merasa penasaran akhirnya mengambil gulungan kertas itu dan mulai membaca tulisannya,

“Beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja melihatmu di rumah sakit. Kau tau, malam itu untuk pertama kalinya aku merasa takut. Bukan takut akan kematian yang ada di depanku tetapi aku takut untuk meninggalkanmu, terlebih kau pernah meninggalkanku. Haruskah kita kembali berpisah setelah bertemu kembali? Aku tidak ingin membuat seseorang menangis. Aku hanya ingin melihat mereka tersenyum di depanku. Aku pernah berpikir lebih baik aku menanggung semuanya sendirian tanpa melibatkan mereka tapi ternyata walaupun aku mencoba untuk menyembunyikan sesuatu dari seseorang yang paling dekat denganku, pada akhirnya kebohongan itu tidak bisa aku sembunyikan. Sekarang ini bukan hanya keluargaku, kepala sekolah, wali kelas, dan guru olahragaku saja yang tahu tapi teman baikku juga tahu dan aku harap kau tidak pernah tahu sampai akhirnya aku pergi nanti.”

Selesai membaca paragraf pertama Yoon Rie pun membaca paragraf selanjutnya,

“Aku ingin sekali bertemu denganmu tetapi aku takut aku tidak bisa menyembunyikan hal ini darimu dan kalau kau mengetahui hal ini, kau pasti sedih. Kau semakin cantik, ya? Kira-kira bagaimana ya pendapatmu tentang aku? Apakah kau akan berkata ‘Kau sama sekali tidak berubah, masih tetap imut seperti dulu?’ ataukah kau akan berkata ‘Aku tak menyangka kalau kau semakin tampan?’. Astaga sepertinya aku keteluran narsisnya orang itu.”

Masih ada paragraf terakhir yang belum Yoon Rie baca dan karena masih penasaran ia lantas membaca paragraf selanjutnya,

“Mengenai penyakitku aku akan terus berusaha untuk menyembunyikannya darimu. Sejujurnya walaupun kau tidak pernah tahu ketakutan itu masih terus membayangiku. Aku tidak tahu apakah aku bisa terus membohongimu kalau aku baik-baik saja? Mungkin cepat atau lambat kau akan mengetahuinya juga sama seperti mereka. Aku selalu merindukanmu dan aku sangat senang ketika melihatmu ada di rumah sakit tempo hari tetapi disisi lain ketakutanku kembali muncul. Setiap kali tubuh ini sakit, aku selalu takut kau melihatku. Aku hanya ingin kau melihatku yang selalu tertawa dan tersenyum ceria karena aku sepertinya…sepertinya aku mencintaimu, cheossarang.”

Entah kenapa air mata Yoon Rie kembali menetes usai membaca tiga buah paragraf barusan padahal ia tidak tahu surat ini ditulis oleh siapa dan ditujukan untuk siapa? Satu hal yang ia pahami, hatinya mendadak sakit saat membaca surat tersebut.

“Yoon Rie, kenapa kau menangis lagi. Kertas apa itu?” tanya Ae Ri sambil memiringkan kepalanya,

Yoon Rie pun menyerahkan surat itu pada Ae Ri dan Ae Ri lantas membacanya. Dari sudut matanya Yoon Rie bisa melihat Ae Ri meneteskan air mata ketika membaca surat itu. Ia pun semakin merasa penasaran, sebenarnya siapa yang menulis surat itu? Junsu ataukah Jaejoong?

“Ae Ri, apakah belakangan ini kau pernah ke rumah sakit?” tanya Yoon Rie,

“Ne. Aku pergi ke sana untuk menjenguk kakaknya Mi Cha. Saat itu Mi Yoon eonni harus melakukan operasi usus buntu,” jawab Ae Ri.

“Jadi karena itu kau menangis?”

“Hn, aku takut kalau surat ini ditulis oleh Jaejoong oppa untukku soalnya dulu saat ia sedang tersipu malu aku pernah mengatainya imut.”

“Kita benar-benar harus menyelidiki ini!”

“Jadi belakangan ini kau juga pernah pergi ke rumah sakit?”

“Ye, aku menjenguk appa. Dia sedang sakit. Sekarang pun aku tidak tahu appa sudah pulang dari rumah sakit atau belum?”

“Membingungkan, ya?” sambung Ae Ri,

“Mungkin waktu akan menjawabnya. Ah iya, mulai sekarang aku akan memanggilmu Ae Ro, kuharap aku tak pernah keceplosan memanggilmu Ae Ri.”

“Aku percaya kau tidak akan pernah keceplosan. Eh? Kenapa kita ngobrol terus ya? Kita kan masih harus menata barang-barang kita,” ujar Ae Ri yang kemudian melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

Yoon Rie segera meletakkan gulungan kertas itu ke tempat semula lalu mulai fokus merapikan pakaian dan barang-barang bawaan lainya. Setelah selesai merapikan semua barang bawaannya, Yoon Rie pun merebahkan dirinya di sebuah ranjang yang entah milik Jaejoong atau Junsu. Tanpa sengaja ia mencium aroma familiar yang tertempel di sprei kasur yang ia tiduri. Wangi parfum ini persis seperti wangi parfum yang tertempel di sebuah sweeter yang tempo hari ia dapatkan di rumah sakit. Sweeter yang tidak ia ketahui milik siapa. Ia pun mulai menebak-nebak. Mungkinkah ini wangi parfum Junsu? Kalau memang ini wangi parfum Junsu itu berarti obat-obatan itu…

Saat Yoon Rie masih berpikir tiba-tiba saja ia kembali teringat kejadian dua jam yang lalu. Aroma tubuh Jaejoong yang sempat memeluknya tadi juga seperti ini.

“Hhh, bahkan mereka memakai parfum yang sama. Menyusahkan!” gumamnya frustasi.

>>>>>.<<<<<

‘Aku ingin sekali masuk club renang tapi kalau masuk club renang bisa ketahuan dong kalau aku bukan namja. Ya sudah, lebih baik aku ikut eskul basket saja lagipula mereka menerimaku di sekolah ini kan karena tertarik dengan prestasiku dalam olahraga basket,’ pikir Ae Ri seraya memperhatikan sebuah buku mengenai seluruh kegiatan eskul yang ada di sekolah Dong Bang.

Ae Ri kembali berjalan-jalan disekitar taman, harusnya setelah selesai makan di kantin ia langsung kembali ke kelasnya karena tidak lama lagi bel masuk akan berbunyi tetapi dia lebih tetarik untuk berjalan-jalan sebentar. Walau bagaimana pun Ae Ri ingin tau lebih banyak hal mengenai sekolahan ini karena ia baru sehari menetap di asrama. Saat Ae Ri masih jalan-jalan ia menangkap sosok seseorang yang tengah menikmati makan siangnya di salah satu bangku yang terletak di sekeliling taman. Ia pun langsung menyapa orang itu dengan riang,

“Hei, pretty boy! Kenapa kau makan sendirian disini?”

Sontak orang itu menoleh dan menghentikan aktivitas makannya lalu memamerkan muka yang seakan berkata ‘Enak saja memanggilku pretty boy, panggilan macam apa itu?’

“Rupanya kau, Shin! Ingat baik-baik jangan pernah memanggilku pretty boy kalau tidak ingin kuhajar, cukup kau panggil saja aku JJ yang tampan, arra!”

Ae Ri menertawakan kenarsisan Jaejoong lalu duduk disampingnya,

“Apa yang kau tertawakan?” ketusnya,

“Kalau begitu panggil aku Ae Ro, jangan memanggilku dengan margaku lagi kita ini kan sekamar!”

“Aku lebih suka memanggilmu Shin!”

“Kalau begitu aku akan terus memanggilmu pretty boy!” sambung Ae Ri keras kepala,

“Ckck, jelas-jelas kau jauh lebih cantik dariku…bukankah panggilan itu lebih cocok untukmu?”

Ya, cantik. Jaejoong mengakui itu, Ae Ri memang jauh lebih cantik dari yang dulu. Yeoja itu benar-benar telah berubah total. Dulu kulit Ae Ri berwarna kecokelatan dan sering sekali penuh dengan lumpur karena hobi sekali main kotor-kotoran yang Ae Ri sebut dengan main rumah-rumahan sampai-sampai anak itu pernah memaksanya memakan tanah yang dipadatkan yang Ae Ri sebut sebagai kue black flores. Dulu rambut Ae Ri pun hanya sebahu dengan ujung pecah-pecah, mulut dan dagunya sering kali penuh dengan noda cokelat lengket atau ice cream karena ia tidak bisa makan cokelat dan es krim dengan benar tapi lihatlah Ae Ri sekarang…sekarang ini kulit Ae Ri putih bersih nyaris menyaingi kulitnya yang bak salju. Rambutnya tampak terawat dan begitu indah bahkan Jaejoong sampai berpikir pasti akan jauh lebih cantik jika rambut itu panjang. Bibirnya pun merah bak cherry matang, membuatnya ingin sekali mengecup bibir ranum itu. Ingin, ya ingin sekali.

Ae Ri mundur sejengkal karena gugup. Bagaimana tidak gugup? Saat ini wajah Jaejoong semakin dekat dengan wajahnya membuat jantungnya berdebar jauh lebih kencang antara dag dig dug ser dan takut. Kenapa takut?

“Jae, aku…aku normal, ya normal!”

“Apa maksudmu aku juga normal!” tegas Jaejoong.

“Kalau begitu kenapa kau mempersempit jarakmu denganku?”

“…karena ada yang ingin aku katakan,” ujar Jaejoong dengan wajah serius.

“Kalau begitu berhenti! Katakan disana saja!”

“Tidak bisa, ini sangat penting…” sambung Jaejoong semakin mendekat,

Ae Ri benar-benar takut, antara takut ketahuan identitasnya yang jelas tidak bisa mengendalikan gejolak rasa dalam hati dan juga takut kalau Jaejoong itu  berubah jadi gay gara-gara sudah hampir dua tahun bersekolah di sekolah khusus laki-laki. Jantungnya nyaris copot karena sekarang Jaejoong tengah memegang kedua bahunya.

“Ae Ro, ada…ada…”

“Ada apa?” Ae Ri mulai kesal,

“…tapi kau jangan kaget apalagi histeris ya?”

“Tidak akan! Cepat katakan apa yang ingin kau katakan!”

“Ada ulat bulu di blazermu,” lanjut Jaejoong seraya menunjukkan ulat bulu itu pada Ae Ri,

“Kyaaa! Buaaang! Injak dia sampai mati! Cepat injaakkkk!” teriak Ae Ri histeris,

“Hahaha…” tawa Jaejoong pecah, ia pun membuang ulat itu dan menginjaknya.

Ae Ri tampak kegelian dengan wajah pucat, berkali-kali ia menggosok-gosok kedua lengannya dan menggelengkan kepala. Sejak dulu ia memang sangat takut dengan serangga.

“Ae Ro-ya, kau ini kan namja kenapa takut dengan serangga kecil seperti itu?”

“Jangan bicara seakan-akan kau tidak takut dengan kecoa ya!” teriaknya, wajah Jaejoong memerah seperti udang rebus.

“Aku bukan takut hanya…hanya geli dan merasa jijik!”

“Aku juga sama, aku tidak takut. Aku hanya jijik dan geli!” Ae Ri tak mau kalah,

“…tapi bagaimana kau tau kalau aku…”

“Takut dengan kecoa?” potong Ae Ri meremehkan,

Jaejoong semakin merasa malu, mau ditaruh dimana mukanya? Lagian kenapa Ae Ri bisa tahu sih?

“Kemarin sore saat aku sedang mandi, aku mendengarmu berteriak-teriak histeris seperti ini….” ucapan Ae Ri terhenti karena ia menahan tawanya untuk tidak pecah,

“Pergi kau! Jangan terbang kesana kemari! Kyaaa, pergi, pergi! Apa kau ingin kubunuh, huh? Cepat pergi dari kamarku dan jangan pernah bersembunyi di sela-sela pakainku dan Junsu lagi, kecoa sialan! Kyaa! Kubilang pergi!” Ae Ri meniru perkataan Jaejoong saat itu,

“Hahaha…” kini tawa Ae Ri pun pecah, bakan lebih parah dari Jaejoong. Ia sampai memegangi perutnya karena tawanya sama sekali tak bisa dihentikan,

“Goo Jun Pyo! Benar-benar seperti Goo Jun Pyo, aku yakin wajahmu pucat pasi saat itu hahaha…Aku tak menyangka seorang ketua club Taekwondo ternyata takut pada kecoa!”

“Keumanhae! Apa kau tak bisa berhenti menertawakanku lagipula siapa itu Goo Jun Pyo? Pacarmu, heh!” bentak Jaejoong kesal, cemburu mungkin.

“Mmhh, Jiahahaha….pacarku? Aku kan sudah bilang kalau aku ini namja normal. Rupanya kau tidak pernah menonton drama series ya? Hahaha, lihat wajahmu merah sekali!…aduh…aduh sakit!”

Akhirnya Ae Ri pun berhenti ketawa karena perutnya semakin terasa sakit lalu tersenyum pada Jaejoong yang tengah cemberut sambil memalingkan muka,

“Jae, jangan marah! Mian, aku tidak akan menertawakanmu lagi..” ujarnya sambil memamerkan tanda peace pada Jaejoong,

‘Siapa yang marah? Justru aku malu sekali! Aish, kupikir saat itu aku hanya sendirian di dalam kamar tapi ternyata…’ sambung Jaejoong dalam hati.

“Jae, kau benar-benar marah ya? Hey, JJ!”

“Tidak. Dengar, kalau kau membocorkan hal itu pada siapapun aku tak akan segan untuk mematahkan tulang-tulangmu!”

“Heol! Kau menyeramkan sekali! Iya…iya aku tak akan bilang pada siapapun,” Ae Ri kembali tersenyum pada Jaejoong dan namja itu terdiam seraya ikut tersenyum kecil.

“Ah ya, ada yang ingin aku tanyakan padamu…”

“Hn?”

“Kemarin aku dan Yeon Min menemukan obat-obatan di atas meja Junsu, apa itu punyamu?”

“Kalau itu punyaku memangnya kenapa?”

Senyum Ae Ri lenyap, ia menatap Jaejoong kaget bahkan air matanya hampir saja keluar.

“Aku tanya, kalau itu punyaku memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa, aku hanya sedikit penasaran,” Jawab Ae Ri.

Jaejoong melirik arlojinya, astaga ternyata pergantian pelajaran telah dimulai sejak 10 menit yang lalu. Terlambat. Jaejoong mengalihkan pandangannya pada Ae Ri. Yeoja itu tengah menunduk menatap rerumputan di bawah kakinya seraya menggigit bibir bawahnya.

‘Dia kenapa? Apa ia mengira obat-obatan itu milikku? lagian kenapa Junsu menaruh barang sepenting itu sembarangan sih?’ pikir Jaejoong,

Ae Ri menguatkan hatinya. Ia pun kembali menatap Jaejoong. Keduanya pun saling bertatapan selama beberapa menit. Ae Ri memiringkan wajahnya, ia baru tersadar akan satu hal.

Jantung Jaejoong semakin berdetak cepat tatkala wajah Ae Ri kini semakin dekat dengan wajahnya. Untuk sejenak ia kehilangan akal sehat, ia benar-benar sangat merindukan yeoja ini. Bahagia rasanya bisa bertemu dengannya kembali bahkan mereka tidur dalam satu atap. Mereka satu kelas dan yang terpenting mereka bisa cepat akrab walaupun sudah lama sekali tidak bertemu.

Ae Ri mengulurkan sebelah tangannya ke wajah Jaejoong, ia menyentuh ujung bibir Jaejoong…

“Ada sebutir nasi di pipimu,” katanya dan ia kembali tersenyum lalu menunjukkan sisa nasi itu pada Jaejoong membuat wajah Jaejoong kembali memerah.

‘Yeoja ini benar-benar….aish aku malu sekali,’ teriaknya dalam hati.

“Eh? Sudah jam berapa sekarang?”

“Sudahlah, kita membolos saja. Kita sudah terlambat sejak tadi!”

“Mwo? Padahal aku kan murid baru, gawaatt!”

Ae Ri segera bangkit dan hendak berlari saat tiba-tiba Jaejoong memegang tangannya,

“Bilang saja tidak enak badan, kau pasti tidak akan di hukum nanti.”

“Bagaimana kalau mereka tidak percaya? Kita baru saja membolos bersama, hey! Memangnya kau tidak takut dihukum?”

“Tenang saja, aku sudah terbiasa dihukum karena sering membolos di UKS!”

“Membolos? Di UKS?” raut wajah Ae Ri kembali berubah sedih,

“Wae?” tanya Jaejoong polos tak menyadari kegundahan Ae Ri.

“Anniyo. Tidak ada apa-apa.”

>>>>>.<<<<<

 

“Changmin-ssi, aku sudah memutuskannya….aku akan masuk club atletik saja!” ujar Yoon Rie setelah pelajaran olahraga kelas mereka berakhir,

“Jadi kau tidak ingin satu club denganku? Wae?” tanya Changmin setelah meneguk habis setengah botol air mineralnya.

“Aku punya asma!”

“Hah? Jadi kau punya penyakit yang sama dengan Yoochun hyung? Pantas saja kau agak lemah dalam pelajaran olahraga, tapi biarpun begitu murid-murid sekolah ini diwajibkan untuk mengikuti salah satu kegiatan eskul. Ini kan sekolah untuk calon atlet masa depan makanya pelajaran olahraganya juga dilakukan 4 kali dalam seminggu,” kata Changmin panjang lebar.

“Aku tahu, makanya kuputuskan untuk ikut club atletik!”

“Aa benar juga, kau kan diterima di sekolah ini karena kau juara lari jarak pendek di Amerika sana. Ya, kalau begitu aku setuju, memang lebih baik mengikuti kegiatan eskul yang sesuai dengan bakat dan prestasimu. Kalau begitu bagaimana dengan ketiga temanmu itu? Adakah diantara mereka yang mau satu club denganku?”

“Kurasa tidak, Ae Ri aquaphobia. Eun Jae tidak bisa berenang dan tidak pernah mau berenang karena takut tenggelam katanya, lalu Jin Hyeok…dia alergi kaforit.”

“Aku baru dengar alergi macam itu…”

“Ya, maklum kulitnya sensitif hahaha.”

“Hmm, sulit dipercaya padahal dia tidak kalah gagah dari Yunho hyung. Berarti, kalian berempat tidak akan pernah mengikuti pelajaran olahraga?”

“Ne, tidak akan pernah!” jawab Yoon Rie sambil tersenyum.

‘…soalnya kalau kami masuk air bisa ketahuan nanti,’ lanjutnya dalam hati.

“Baiklah, kajja kita kembali ke kelas!” ajak Changmin.

“Changmin-ssi pelankan sedikit langkahmu yang panjang-panjang itu, dasar tiang listrik!”

Yoon Rie setengah berlari mengejar Changmin, di lorong dekat perpustakan tiba-tiba saja Yoon Rie tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang baru saja keluar dari perpustakan. Seorang namja yang tengah membawa banyak buku di tangannya hingga akhirnya buku-buku itu terjatuh dan orang itu ternyata adalah…kakaknya. Gelagapan Yoon Rie pun membantu orang itu membereskan buku-bukunya hingga akhirnya keduanya saling bertemu pandang. Yoon Rie kaget tak menyangka orang yang tak sengaja ditabrakanya itu adalah Yoochun. Jantung Yoon Rie berdebar kencang. Beberapa keringat menetes di wajahnya.

Yoochun menatap Yoon Rie dengan tatapan heran. Entah kenapa wajah namja dihadapannya itu sangat familiar baginya. Matanya, hidungnya, bahkan dahinya yang lebar.

“Kau….”

>> To Be Continued <<

 

Yosh, akhirnya author bisa melanjutkan fanfic ini maaf kalau kepanjangan, minim deskriptif dan banyak typo. Cepat atau lambatnya update tergantung yang COMMENT. So, give me a Critic or Comment please, Thank You! ^^

At The Back Stage :

Ae Ri : Ternyata Jaejoong oppa sakit, hiks…hiks #lap Ingus, Eh Lap airmata IoI

JJ : Heh? Aku nggak sakit, ya kan thor?”

Author : ^_^

JJ : Kenapa cuma tersenyum? Dasar author gila! =_=

Changmin : Akhirnya kau bisa tertawa hyung, sungguh bersyukur pada Tuhan!

Yoochun : Hahaha, jadi si Ice Prince takut sama kecoa? Jadi ilfeel!

JJ : Diam! Kau juga takut laba-laba, kan?

Yoochun : Siapa yang bilang? Pasti kau ya, bebek?”

Junsu : Jangan menuduh sembarangan, forehead!

Yunho : Kenapa gue nggak muncul di chapter ini, dasar author sialan!

Author : Wah, ada yang marah #kabur!

6 thoughts on “Kimi no Shiranai Monogatari Chap 2

  1. chunnie_man berkata:

    Wah first nih aku authorr;
    Lucu-lucu menarik ffnya .4cwek mau dijodohin malah kaburnya ketempat salah.hehehe.junsu yg penyakitan masih ngatain yuchun forehead *tolakpinggang ksihan tp emng kenyataan lol~
    Lanjut-lanjut ceritanya ya author.mudah2 happy end n next part hrus ada yunho.cz dia udah ngamuk2 ga dpt adegannya
    (dikira sinetron)!semangat

    • Ne, km yg pertama yg lainnya tau deh pda jd siders x…
      wkwkwk, yoochun oppa kan playboys makanya dahinya lebar #ditendang
      Iya, Yunho oppa ngambek tu coz tkt diksh gaji yg lbh sedikit #eh
      lanjutannya di tunggu aja ya ^^

      Sankyuu for read & comment🙂

  2. Eunchan She Peef berkata:

    akhirnya ff ini di lanjutin juga~
    seru bange deh ini ff! Aish, yuchun tau ngga yah klw itu adik ny~??
    Hadeuh~ penaran nih, semoga yg baca ff ini tolong koment yah, aku pingin bgt baca kelanjutan nya

    • FF ini pasti aku lanjutin sampai tamat, kok..
      cuma ya updatenya itu yang nggak tentu kapan?
      Kira-kira Yoochun tau ga ya? Qta liat aja ntar😉

      Sankyuu for read and Comment ^^

  3. apa yeon rie bakal ketawan ma oppa y sendiri???? JJ ja bisa ngebalin ae ri dlm sekali liat…..
    yah ae ri y salah paham deh yg sakit kan junsu tp kyk y gara2 jawaban JJ aeri bakal mikir tu jj yg sakit parah padahal kab junsu….
    q nangis baca surat y junsu,,,, kasuan bgt dia sakit gt…
    makin seru lanjut….

    • Ketahuan nggak ya?😉
      Iya Ae Ri nya salah paham tu >,<
      Iya Junsu kasian hikz…
      Junsu : Yg bikin gw kyk gtu d ff kan elo author /plak
      Gomawo. Ne, lanjutannya ditunggu aja ya…

      Sankyuu for read and Comment ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s