DESTINY PART 6


Cast : Nari ( OC )

Max Changmin

Lee Hyukjae

Other Cast

Genre : Romance, Family, Angst

Rate : M

***

Aku melihat jalan berlubang di depan

Bahkan…aku melihat jurang

Tapi aku bukan akan beringsut mundur

Aku maju dengan wajah tegak

Apakah terlihat seperti aku menyukai tantangan ?

Tidak..yang aku sambangi adalah lumbung masalah

Bukan tantangan yang akan membuatku terlihat hebat

Kakiku semakin mantap menuju kesana…

Tapi ternyata…aku…

Terjatuh…

Lagi….

 

 

***

’Dia….Lee Hyukjae”

Max tidak bergeming. Ia betah dengan posisi awal tanpa memperlihatkan akan ada pergerakan. Hanya ujung bibirnya yang sedikit tertarik untuk membuat senyum getir. Matanya memutar gelisah. Sebisa mungkin untuk tahap ini ia menahan emosinya. Meski rasanya mulai sesak. Ia masih kuat. Karena ia baru mendengar sebuah nama, bukan penjelasan lebih.

”Mungkin terdengar konyol. Aku tidak mengenalinya padahal wajahnya memenuhi dinding kamarku.. Karena melihat lebih dekat, secara langsung, dia …berbeda….dia…. ….entahlah…sulit kujelaskan”

Max menarik nafas panjang. Istrinya yang sejak tadi bercerita itu tidak akan melihat jika satu tangannya bergerak menepuk dadanya pelan. Terasa berdenyut. Ia ingin berteriak stop, telinganya tidak kuat mendengar istrinya memuji pria sialan itu dan terdengar sangat…tulus…manis…. Tapi ia sendiri yang memaksa istrinya untuk berbagi meski ia tidak menyangka jika resikonya adalah menyakiti perasaan sendiri.

”Ia bercerita jika ia berlibur ke Bali sendirian. Malam terakhir ia disana, ia berjalan-jalan cukup jauh dari hotel. Meski penyamarannya bisa dikatakan memadai, tetap saja para gadis histeris saat menyadari siapa pria didekat mereka. Eunhyuk di kejar lalu…ia bersembunyi disuatu tempat, ya..terlihat berhasil. Lepas dari mulut singa sayangnya justru masuk ke kandang buaya. Seorang pria dengan senjata tajam meminta ponsel dan dompetnya. Eunhyuk menolak dan melawan, kakinya terluka. Ia berlari sampai tak lagi terkejar oleh pria itu. Ia bilang saat itu baru menyadari untuk segera menelpon teman-temannya, tapi ponselnya mati. Dan..yah…Ia tertidur di depan pintu rumahku.”

Max ingin tertawa dalam hati, jika boleh, ia ingin menyumpah kenapa saat itu Eunhyuk tidak mati saja, atau…bukan tertidur didepan rumah istrinya. Atau segala hal buruk dan baik yang akan menjauhkannya dari sang istri. Max melirik sedikit ke istrinya. Wanita itu diam menunduk. Mungkin sedikit tidak enak jika harus melanjutkan ceritanya. ”lanjutkan !” perintah Max pelan.

”Sekitar dua minggu ia berada di rumahku. Dia sudah meminta untuk diantar ke hotel. Tetapi aku beralasan jika tidak tahu letak hotel dan lagi…kakinya yang belum sembuh. Tapi aku merasa keberuntungan memihakku. Jika ia  benar-benar ingin pulang, maka cukup memintaku mencari taksi atau angkutan diluar bukan ? supir tentu tidak akan ditugaskan jika tidak mengetahui semua tempat. Entah ia yang masih ingin berada disana, atau…ia tidak memikirkan kemungkinan itu. Yang jelas itu cukup membuatku senang” Nari bercerita dengan senyum gembiranya. Ia seperti tengah berdongeng lucu dan sang anak yang mendengarkan. Ia seperti lupa jika harusnya ia bercerita penuh kehati-hatian mengingat siapa pendengar sebenarnya.

”Aku juga sengaja menyimpan ponselnya saat ia belum sadarkan diri kala itu. Ia fikir ponselnya hilang. Untunglah ponsel itu mati sehingga tidak ada bunyi telpon atau pesan dari keluarganya yang pasti sudah mencari-carinya. Aku juga perlu berdebat panjang dengan Yoona agar ia mau meminjamkan charger untuk ponsel itu. Yoona tidak tahu apa-apa, aku mengarang banyak alasan untuk mendapatkannya.” Nari sedikit tersenyum mengingat saat ia harus memutar otak agar Yoona mau meminjamkan charger untuk jenis ponsel mahalan tersebut.

”Selama di rumahku…aku merasakan sesuatu. Saat di supermarket, aku ingin waktu berjalan lebih cepat, saat di rumah, aku ingin semua terasa lebih lambat, terutama saat bersamanya. Aku ingin terus menyuapinya makan meski yang terluka adalah kakinya. Aku ingin terus menuntunnya berjalan meski kakinya tidak apa-apa.”

Max menegakkan wajahnya. Ini sakit. Entah sejak kapan genangan air sudah terbentuk di pelupuk matanya. Bisakah ia meminta Nari untuk berhenti sekarang ? bahkan ini belum apa-apa, Max yakin ada yang lebih dari ini dan ia takut untuk mendengar itu.

”Malam ke 15 ia di rumahku, Ryan  memintanya untuk bernyanyi. Aku….” Nari berhenti sejenak lalu menyandarkan kepalanya pada bantal. ”telingaku seperti mendengar alunan yang merdu, meski Ryan dengan jujurnya berkata jika Eunhyuk jangan bernyanyi lagi. Dan saat itu…aku menyadari satu hal, jika perasaanku sudah melebihi sekedar rasa suka pada idola. Aku berlari menuju kamar. Aku merasa harus menyelesaikan semua ini. Aku berniat menyalakan ponselnya dan menghubungi siapapun untuk memberitahu keberadaan Eunhyuk. Tapi..ponsel tersebut tiba-tiba berdering, aku menekan tombol hijau dan  kalau tidak salah, itu suara Donghae” Nari mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan.

***

Nari mendengar suara seseorang disana yang bertanya dengan panik. Pertanyaan- pertanyaan yang tidak begitu jelas dipendengarannya. Tapi Nari berusaha untuk menjawab. Namun, semua tersendat ketika matanya menangkap sosok pria sipemilik ponsel tersebut. Pria dengan rambut blonde itu berdiri di ambang pintu dengan raut terkejut. Ponsel yang ia fikir hilang nyatanya berada dalam genggaman gadis yang menolongnya.

 

Nari menurunkan ponsel itu dari telinga, telapak tangannya nyaris meloloskan benda tipis itu hingga ke lantai. Ia tidak mengharapkan hal seperti ini, tapi… ah bukankah  sama saja ? ia memang  ingin membuat pria itu pergi dari rumahnya. Sekarang mungkin pria itu berfikir jika ia pembohong, maka tanpa dimintapun ia akan pergi. Hanya berbeda cara.

 

Nari melangkah mendekatinya, memberikan ponsel yang masih tersambung pada seseorang disana. Tanpa kata-kata Nari buru-buru pergi lalu menutup pintu kuat. Tetapi ia tidak benar-benar pergi, bersandar pada pintu hingga  telinganya dapat mendengar jika pria itu akan pergi besok.

 

Ia melangkah keluar menuju teras. Berdiri dengan berpegangan pada pagar rumah. Sejak didalam kamar ia berusaha menahan tangis.  Ah.. kenapa ia harus menangis ? siapa yang ditangisi ?. Pria yang menjadi idola para gadis diluar sana itu hanya tamu tak diundang yang singgah di rumahnya, bukan hatinya.

 

”Nari……………” terdengar suara pria itu di belakangnya. Nari buru-buru membersihkan pipinya yang basah. Berusaha tegak dan mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Sesegera mungkin ia memutar keadaan dan suasana. Dengan memaksakan senyum dan dibuat seolah ia baik-baik saja, ia berbalik.

 

”Hey….kau pasti akan memarahiku kan ? ya aku memang sengaja menyimpan ponselmu. Kau tahu aku hanya gadis biasa yang merasa rugi jika melewatkan kesempatan bersama idolanya. Aku ha…” ucapan yang terkesan biasa itu terputus saat tiba-tiba pria itu menariknya dalam  pelukan. Pria dengan nama Eunhyuk itu mengunci tubuhnya dengan erat. Memberikannya kenyamanan, membiarkannya dapat merasakan deru nafas serta datak jantung Eunhyuk. Udara memang tengah membuat hawa amat dingin, tetapi dekapannya mampu membuat Nari merasa hangat, tenang.

 

Tidak ada yang bersuara. Gang sempit yang hanya ditempati beberapa rumah serta pepohonan besar itu memutar lagu khas mereka yakni nyanyian para binatang dengan jangkrik dan katak sebagai vokal utamanya. Nari memejamkan mata, kedua tangannya sulit untuk membalas pelukan itu. Berkali-kali tangannya sedikit terangkat tapi sedetik kemudian akan turun kembali. Ia hanya ingin menikmati ini, tidak ingin melewatkan aroma tubuh ini, mungkin ini yang terakhir.

 

Pelan, Eunhyuk melepas pelukan itu. Ia mengangkat wajah Nari yang menunduk. Nari berusaha kuat untuk balik menatap bola mata coklat pria di depannya. Meski setitik air mata seperti akan jatuh lagi, ia tetap tegak. Lalu satu tangan Eunhyuk membelai wajah Nari lembut. Ia usap pelan bekas-bekas air mata wajah mulus itu. Sentuhan itu memaksa Nari untuk kembali menutup mata. Tangan pria itu mesih terasa menjalar di sekitar wajahnya.

 

1 menit. 2 menit. Nari mulai kehilangan sentuhan itu. Apa Eunhyuk sudah pergi ? Ia berniat membuka mata. Namun, belum sempat hal itu ia lakukan, ia merasakan sesuatu mengunci bibirnya. Ia tidak akan membuka mata. Tautan itu memerintah matanya untuk terus terpejam menikmati perlakuan Eunhyuk. Tidak ada balasan darinya, hanya ingin berlaku sebagai korban yang pasrah. Lembut, itu yang Eunhyuk lakukan padanya. Tidak ada paksaan disana, tidak ada nafsu berlebih, mungkin itu murni…karena cinta.

 

Pelan tapi pasti, Eunhyuk melepaskan  tautan tersebut. Ia memang hanya berniat menyalurkan satu kata yang sulit terucap dari bibirnya, bukan membuat gadis didepannya terluka. Nari membuka mata dan  hal yang pertama ia lihat adalah wajah malaikat yang tersenyum manis padanya. Senyum itu tidak akan bisa ia tolak. Tapi, ia harus melakukannya. Ia menyentuh bibirnya yang masih basah lalu dengan cepat pergi meninggalkan Eunhyuk yang berusaha untuk mengucap satu kata itu. Mulutnya sulit untuk terbuka dan mengatakannya. Entahlah……..

 

***

 

Esoknya, Eunhyuk sudah bersiap didepan cermin, melihat wajahnya yang sedikit tirus dari biasa. Matanya memperhatikan tubuhnya dari atas hingga kaki, pakaian yang melilit tubuhnya adalah kaos dari ayah gadis yang mungkin takkan ia lihat lagi.. lalu ia melihat-lihat sekitar,  kamar kecil yang ia tempati dua minggu. Ia akan segera pulang dan meninggalkan rumah sederhana ini

 

”Hey..kau sudah siap ? Tadi Ayah menyuruhku untuk mengantarmu. Hmm atau kau mau berpamitan dulu dengan Ryan dan Ibu ?” tanya Nari beruntun dengan senyum manisnya. Ia bersandar pada pinggiran pintu dan bertanya seperti tidak terjadi apa-apa.

 

”Kau lupa atau pura-pura lupa ? Ryan sudah berangkat sekolah dan Ibu mu sudah pergi ke pasar” Eunhyuk sedikit menaikan intonasinya. Ia cukup kesal dengan sikap gadis bercelana panjang didepannya itu.

 

”Oh..aku lupa.hhehe. ya sudah ayo kuantar. Ya..aku juga berbohong soal letak hotel yang sebenarnya sangat aku ketahui. Tapi maaf aku hanya bisa mengantarmu dengan motor bebek ini, kau tahu aku tidak punya cukup uang untuk memanggil taksi dan…”

 

”Berhenti bicara !” Eunhyuk mulai muak. Ia tidak bisa berakting seperti Nari dengan sikap seolah akan mengantar keberangkatan teman yang pergi berlibur. ”Tak bisakah kau menahanku pergi ?”

 

Nari diam. Sejak semalam ia mengumpulkan kekuatan untuk berhadapan dengan pria ini dan bersikap biasa. Tapi usahanya terasa sia-sia begitu mendengar permintaan yang terdengar lirih dan memaksa itu. Ia menunduk sejenak, menarik nafas lebih panjang lalu memasang senyum.

 

”Hyuk..kau tahu aku harus segera ke supermarket. Kau tidak mau aku dimarahi kan ? ayo…!!” ajak Nari dengan menarik tangan Eunhyuk menuju motornya yang sudah terparkir dihalaman rumah. Nari menyerahkan helm padanya lalu ia segera bersiap menyalakan motor. Eunhyuk menatapnya ragu. Ia ingin disini, tetap disini. Ia tahu keluarga serta sahabat-sahabatnya sangat panik dengan kepergiannya yang tidak kunjung kembali, tapi hatinya tersangkut di tempat ini.

 

”Ah..kau malu dibonceng olehku ? mau bagaimana lagi..hanya ada ini. Ayo cepat !!”

 

Dengan segala keterpaksaan, Eunhyuk duduk juga dibelakang. Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara. Nari berusaha untuk konsentrasi mengendarai motornya meski sulit. Fikirannya terbagi saat ini. Pria yang duduk manis dibelakangnya akan segera pergi dan itu bukan hal gampang. Dibalik senyum yang ia buat, dibalik helm yang menutupi wajahnya, buliran air mata terus jatuh tanpa bisa ditahan. Ramainya jalanan seperti bukan lagi gangguan.

 

Perlahan…Nari merasakan sesuatu melingkari tubuhnya. Beberapa detik ia butuh waktu untuk menetralkan rasa terkejutnya. Nafasnya terasa berat dan tidak beraturan. Lama kelamaan, kedua tangan yang memeluk tubuhnya dari belakang makin erat. Nari ingin menghentikan itu, ia tidak ingin ada lagi hal-hal yang membuatnya berharap.  Ia hanya ingin cepat mengantarkan ’penumpang’nya dan bergegas pergi. Maka semua akan selesai.

 

”sampai”

 

Nari melepas helmnya lalu dengan cepat mengelap sisa-sisa air mata di wajahnya. Ia lagi-lagi tersenyum pada Eunhyuk. ”Aku harap kau tidak berminat kembali ke negara ini. Korea tidak kekurangan pemandangan bagus.”

 

”Kau sungguh-sungguh tidak ingin melihatku lagi ?”

 

”haha..aku pasti akan melihatmu lagi di tv dan majalah. Oke. Aku harus pergi” belum sempat Nari menyalakan motornya, tangan Eunhyuk sudah menahan lengannya kuat. Sedikit berat ia menelan ludah saat bertemu pandang dengan Eunhyuk. ”Tolong..sebentar saja….” dan permintaan itu seperti hipnotis yang takkan bisa di tolak hingga sekarang mereka sudah berada dalam sebuah kamar hotel.

 

***

 

Nari duduk di pinggiran ranjang dengan sprai putih tersebut. Rasanya ini pertama kalinya ia memasuki kamar super luas dan mewah yang hanya pernah  ia lihat di tv. Eunhyuk datang dengan secangkir teh. Nari menyambutnya.

 

”Terima kasih”

 

Eunhyuk ikut mendudukan diri disamping Nari. Senyumnya sulit untuk terhapus sejak Nari setuju untuk mengikutinya kemari. Nari menyadari ia terus saja dipandang, ia bangkit dan melangkah cepat menuju balkon. Ia rentangkan kedua tangan merasakan udara merasuk kedalam kulit. Matanya terpejam. Udara pagi memang menyejukkan. Letak hotel yang berhadapan langsung dengan bibir pantai membuat telinganya mendengar deburan ombak yang terasa seperti nyanyian untuknya.

 

”Kau menyukainya ?” tanya Eunhyuk sambil memposisikan diri disamping gadis berambut pendek itu.

 

”Ya..ini pemandangan yang sangat indah.”

 

Tiba-tiba Eunhyuk menarik satu tangan Nari hingga mereka berhadapan. Lalu satu tangan lagi ia tarik. Nari berusaha menghindari mata itu dengan membuang pandangan ke pantai yang terbentang didepannya. Tapi Eunhyuk menarik dagunya dan itu hanya bisa membuat Nari pasrah.

 

Dua insan itu sama-sama larut dalam pandangan. Saling menatap lebih dalam mencari-cari kejujuran disana. Mencari bukti jika apa yang mereka rasakan bukan suatu kesalahan. Mencari jawaban pasti atas segala yang terjadi dalam waktu singkat ini. Ini memang singkat, dan berharap tidak akan berakhir pada titik ini.

 

Perlahan..Eunhyuk mendekatkan wajahnya. Perlahan Eunhyuk memperkecil jarak antara mereka. Perlahan Nari memejamkan mata dan……

 

***

 

Max meremas sprai tempat tidurnya. Kegelapan yang menyelimuti sekitar membuat istrinya tidak akan  melihat jika wajahnya sudah basah entah sejak kapan. Sakit. Kisah istrinya berhenti sejenak saat para tokoh tengah berada dalam satu kamar hotel. Otaknya tentu bisa menebak apa yang dilakukan dua orang berbeda jenis didalam kamar.

”Bisa kuartikan jika kalian…………………?” Max menggantung kalimatnya. Ia tidak mungkin bertanya secara gamblang.

”Tidak..jika kau fikir itu terjadi, jawabannya tidak. Nyaris, tapi…aku sadar. Itu salah. Kita tau kondisinya, maka melakukan itu hanya akan menambah luka. Aku sadar posisiku. Bagaimana mungkin kami melakukan suatu hubungan dengan banyak perbedaan. Lagi pula aku yakin, aku hanya gadis yang lebih beruntung dibanding yang lain. Hanya itu.  Maka dengan sedikit berantakan aku pergi.”  Nari menyelesaikan ceritanya. Memang setelah hari itu, ia tidak lagi mengaitkan diri dengan nama Eunhyuk. Apapun itu termasuk dengan grupnya, termasuk dengan membakar semua benda yang berhubungannya. Meski semua barang yang menyangkut pria itu dulunya ia dapatkan dengan perjuangan lebih, dengan menguras kantong yang memang tidak pernah tebal, tetapi itu adalah salah satu cara untuk melenyapkan pria itu dari fikirannya.

”Kau masih mencintainya?” tanya Max yang akhirnya menoleh juga pada Nari. Nari balik melihatnya. Tidak mengangguk ataupun menggeleng. ”Aku juga tidak tahu. Aku tidak mengerti kenapa harus bertemu lagi dengannya dan kondisinya seperti ini. Dia, Yoona, itu sulit. ”

Max tiba-tiba bangkit dan berjalan  menuju balkon setelah sebelumnya membuka pintu kaca yang membatasinya. Ia berdiri dengan kedua tangan di depan dada. Air matanya sudah mengering. Matanya coba menikmati pemandangan malam  kota Seoul. Kota yang terlihat seperti kumpulan bintang yang mengerjapkan sinarnya.

Hidungnya coba menghidup udara sekitar, berharap hal-hal seperti itu akan menetralkan hatinya. Nari ikut berdiri disana. Ia rapatkan  tubuhnya karena memang udara yang menusuk. Musim dingin mulai tiba dan berdiri menantang angin ditengah malam begini bukan ide baik.

“Aku fikir dengan menerimamu….aku akan terlepas dari ikatannya. Aku fikir setelah melewati banyak waktu, aku bebas darinya” Nari bersuara tanpa menoleh pada suaminya. Ia dan Max masih berdiri bersebelahan dengan pandangan lurus kedepan.

“Dia tidak mengikatmu. Kau yang sengaja mengikat diri sendiri padanya. Kau sendiri yang tidak ingin dibebaskannya. Kau lihat ? Eunhyuk sudah melangkah lebih maju. Ia sudah punya Yoona dan Spenser. Sedangkan kau ?” Max tersenyum sinis. Sudah tidak diperdulikannya lagi jika ucapannya mungkin akan membuat Nari tersinggung. Nari tidak bisa menjawabnya. Mulutnya terasa lebih baik terkunci daripada melakukan pembelaan  yang mungkin akan dijawab dengan kalimat-kalimat menyakitkan dari Max.

“Apa yang kau harapkan dari masa lalu ? kau berharap bisa mengubahnya ? tidak bisa kah kau  hanya melihatku dan Minho saja sekarang ? ” tanya Max lagi. Dan ia tidak mengharapkan jawaban. “kenangan baik atau buruk, selamanya hanya akan menjadi bagian yang pernah kita lewati. Silahkan kau simpan dan dikenang, bukan  kau jadikan sandungan”

Nari merapatkan kedua tangannya didepan dada. Bukan karena udara yang semakin membekukannya, tetapi karena kata-kata pria disampingnya. Nari merasa sangat beruntung dengan sikap suaminya. Meski sakit, Suaminya bukan bicara dengan lantang lantas memarahinya. Tidak, suaminya tetap bicara dengan tenang sejak tadi, setidaknya sampai saat ini. Ia mencoba mencerna segala kalimat dari Max.

“Aku berjanji. Akan memperbaikinya. Aku janji” Nari mengucap janjinya dengan sungguh. Semilir angin meniup helaian rambut dikeningnya seolah sebagai saksi atas janji tersebut. Lalu diikuti suara angin yang mulai mengencang.

“sebelum kau mengucap janji. Kau perlu pelajari maknanya”

Tanpa kata-kata lagi, Max berlalu dari hadapan Nari. Nari tidak mengejar, mencegah atau berbalik untuk memanggil atau hanya sekedar melihat  punggungnya. Ia biarkan sampai terdengar suara pintu yang tertutup dengan pelan. Nafasnya lolos seketika. Beberapa menit kebelakang ia seperti tengah mengalami perjalanan berat dimana ia dipaksa mencari-cari udara.

Ia harap kali ini ia tidak lagi melanggar janji yang sudah ia ucapkan berkali-kali itu. Cukup menyakiti suaminya, cukup menjadikan suaminya sebagai korban atas kebodohannya. Cukup.

——–^^^^——-

“Dol dol dol……ya ya…papa kalah.. papa kena..hahaha Minho menang…” seru Minho sambil melompat-lompat gembira. Max menyandarkan tubuhnya pada pinggiran sofa. Mulutnya dimajukan sedikit dan membuat sang anak kembali merasa menang. Untuk pertama kalinya ia berhasil mengalahkan ayahnya bermain game.

“Ya..anak papa memang sudah hebat. Hey..kita tanding sekali lagi. Papa yakin Minho kalah” tantang Max lalu menegakan tubuhnya semangat. Ia melihat jam yang tergantung di dinding kamar Minho yang menunjukan pukul 9 malam. Masih ada waktu untuk bermain-main fikirnya. Minho yang merasa tertantang sama sekali tidak takut dan dengan cepat duduk kembali disamping Max.

Suasana hangat itu hanya disaksikan Nari dari ambang pintu. Sejak 10 menit yang lalu ia berdiri disana dengan satu tangan berpegangan pada kenop pintu. Ia ingin berbaur dan ikut merasakan serunya pertarungan suami dan anaknya itu. Tapi kakinya sulit untuk mendekat kesana. Mulutnya sulit untuk berkata-kata riang lalu dengan asiknya ikut bergabung.

Tiga hari berlalu sejak malam itu dan semua terasa berbeda bagi Nari. Max memang bukan kembali melakukan aksi kunci mulut seperti waktu itu. Hanya saja….ada kecanggungan pada setiap hal yang mereka lakukan bersama. Segala rasa bersalah yang ia punya membuatnya sedikit takut jika berdekatan dengan suaminya. Seperti saat ini untuk melakukan hal wajar seperti duduk disebelah mereka dan menyemangati satu diantaranya sedikit sulit.

Entah karena mereka tidak menyadari kehadiran Nari atau bukan, keberadaannya yang tidak juga ditanggapi membuat Nari merasa semakin tidak nyaman. Ia menutup pintu pelan lalu memasuki kamar sebelah yakni kamarnya sendiri. Matanya tertuju pada ponselnya yang bergetar. Tanpa berniat untuk melihat si pemanggil, Nari merebahkan tubuhnya di pembaringan.

Ia tahu siapa si penelpon itu. Ia tahu benar itu adalah orang yang sama yang hampir setiap jam membuat ponselnya berdering. Dia pria yang juga sudah mengirimi banyak pesan yang tak juga dibalas oleh Nari. Dia pria yang sudah diakui oleh Nari sebagai seseorang yang membuatnya gila seperti sekarang. Dia pria yang dicemburui sang suami. Dia…Eunhyuk.

Sejak hari itu, Eunhyuk tidak berhenti menghubunginya. Pesanpun tak terhitung lagi. Meski sebenarnya isi pesan itu berisi hal-hal wajar seperti ’bagaimana kabarmu ? aku khawatir. Aku ingin bertemu dengan suamimu. Aku ingin menjelaskannya. Aku ingin minta maaf. Beri tahu alamat rumah kalian.’’ Tapi Nari tidak bisa membalasnya. Setidaknya sampai suasana rumahnya membaik.

Tapi kali ini Nari geram juga. Jika bukan karena takut ibu atau keluarganya menghubungi, ia pasti sudah mematikan ponsel tersebut. Ia bangkit dari posisi tadi lalu dengan cepat menekan tombol hijau.

”Ha…”

”Halo Nari” sapa Eunhyuk cepat bahkan sebelum Nari bicara.

”Hah. Mungkin pesan dan telponku mengganggumu. Tapi sungguh aku ingin minta maaf  terutama pada  Max. Kau tidak kemari artinya terjadi hal tidak baik bukan ? apa Max memarahimu ? tolong berikan telpon ini padanya . aku ing……”

”Tolong Hyuk………….” Nari memotong ucapan Eunhyuk. Ia mengangkat telpon ini bukan untuk mendengar kata maaf darinya lagi, baginya bukan Eunhyuk yang salah. Ia hanya ingin meminta untuk tidak menghubunginya selagi sementara waktu.

”Aku baik-baik saja. Max tidak marah dan ia mengerti semuanya. Kau tidak perlu kemari dan…….. mungkin ini terdengar tidak sopan, aku minta kau tidak lagi meng…….. Hyuk ? itu suara Spenser ?” apa yang ingin Nari sampaikan berubah tatkala mendengar suara tangis bayi yang begitu jelas ditelinganya.

”iya.. sejak tadi Spenser memang menangis, tetapi setengah jam yang lalu sudah kutenangkan lalu tidur. Tapi sekarang ia tiba-tiba menangis lagi.”

”Apa susunya habis ? ” tanya Nari khawatir.

“Aku sudah memberinya susu tapi ia menolak. Aku periksa suhu bandannya. Sepertinya ia demam”

“Astaga…apa obat-obatan milik Yoona tidak ada yang sesuai untuknya? “

“Tidak. Kau tahu Yoona bukan dokter an..”

BRAKKKKK

Nari menatap ponsel miliknya tergeletak dilantai dengan tidak baik. Beruntung lantai kamarnya dimana benda tidak berdosa itu terjatuh dilapisi karpet. Nari mengangkat wajahnya dan melihat si pelaku yang telah merampas serta menjatuhkan ponselnya. Dia…Max.

Max berdiri dengan nafas memburu. Kedua tangannya mengepal kuat. Matanya menatap tajam pada Nari yang terpaku. Apa suaminya sudah salah paham lagi ?

”mm…Max…”

”Kau masih menghubunginya ? kau mengabaikanku tapi hal yang sama tidak bisa kau lakukan padanya. Kenapa Nari ?” tanya Max dengan masih berusaha menahan emosinya. Satu tangannya bahkan nyaris melayang tapi sebisa mungkin ia kontrol itu.

”Kau jangan salah paham. Tadi itu hanya…”

”CUKUP” akhirnya teriakan itu bergema juga. Kemarahan yang belum diantisipasi oleh Nari. Teriakan yang cukup baginya untuk menutup telinga. Nari tidak lagi berani menegakkan wajah, ia menunduk takut. Perlahan terdengar isakan dari bibirnya. Ini pertama kalinya Max membentak.

”Papa….mama…..hiksssss” terdengar suara parau dari arah pintu. Serentak sepasang suami istri itu menoleh dan menemukan Minho dengan  piyama dan gulingnya berdiri disana. Satu tangannya mengucek-ngucek matanya yang mengeluarkan air mata. Entah apa anak itu melihat adegan orang tuanya sejak tadi yang jelas apa yang ia lihat cukup untuk membuatnya takut. Bahunya bergetar.

Max bergegas mendekati tubuh mungil anaknya dan membawanya dalam gendongan. ’’papa jangan malahin mama hkss….” tangis Minho pecah dan Max merasa bahunya mulai basah. Ia usap tubuh anaknya lembut.

”Minho sayang…. sekarang kita kembali ke kamar ya…” Max mengusap pipi anaknya dengan tangan kanan. Ia kecup dahi anaknya pelan dan cukup berhasil untuk membuatnya tenang.

”Tapi..papa nda malah kan sama mama ?” tanya Minho lagi. Tangisannya sudah berhenti. Max tersenyum lalu mengecup lagi dahi anaknya. ”Kita kekamar ya….mama perlu istirahat”

Minho mengangguk ragu lalu arah matanya melihat pada Nari yang masih menunduk. Ia terus melihat sang ibu sampai tak terlihat lagi karena Max membawanya kembali ke kamar. Saat itulah tangis Nari pecah. Bukan lagi karena kemarahan suaminya melainkan karena suaminya tidak ingin berbohong sedikit didepan anak mereka. Max tidak berkata tidak saat Minho bertanya apakah ia marah padanya ?.

Perlahan ia turun dari ranjang untuk mengumpulkan ponselnya yang tadi terabaikan. Beruntung benda itu ternyata tidak mengalami kerusakan. Setelah disatukan kembali, bahkan masih bisa menyala. Tetapi lebih beruntung lagi saat tidak ada panggilan atau pesan baru disana oleh Eunhyuk. Ia jadi teringat pada Spenser. Apa anak itu baik-baik saja ? sepertinya tidak, mengingat bagaimana tadi terdengar suara tangis disana. Nari berniat untuk menghubungi Eunhyuk lagi…tapi urung dilakukan. Rasanya hanya akan menambah masalah. Bisa saja Max tahu dan membuat ponselnya tidak lagi berbentuk.

——^^^^^^——

Jam sudah menunjukan pukul 10 malam dan tangis bayi yang menggema dirumah mewah ini belum berhenti. Spenser, bayi itu masih berada dalam gendongan ayahnya. Eunhyuk terus menimang-nimang anaknya dan sesekali mengusap peluh disekitar wajahnya. Suhu tubuh anaknya masih tinggi meski ia sudah memberinya obat penurun panas yang ia temukan diantara lemari obat milik Yoona dulu. Eunhyuk harap ia tidak salah memberi obat karena anaknya tidak memperlihatkan tanda-tanda akan membaik. Berkali-kali ia kecup puncak kelapa Spenser berharap ada sesuatu yang baik terjadi.

Eunhyuk sudah berniat akan membawa anaknya ke rumah sakit. Namun, keadaannya benar-benar tidak mendukung. Mobilnya masih berada dibengkel sejak kemarin. Satu mobilnya lagi atau yang sebenarnya milik Yoona, tidak ia temukan kunci mobilnya. Mobil itu memang sudah lama tidak terpakai dan hanya terparkir manis di garasi. Seisi kamarnya sudah cukup barantakan karena ulahnya untuk menemukan benda itu. Sayang, nihil.

Lalu ia juga sudah coba menghubungi orang tuanya, sialnya tidak ada yang bisa dihubungi alias tidak aktif. Beberapa sahabatnya tinggal di luar kota. Hanya Kyuhyun, Donghae serta Leeteuk yang masih tinggal di Seoul. Itupun tidak bisa dikatakan dekat. Namun, bukan berarti Eunhyuk tidak menghubungi mereka. Sudah ia lakukan tetapi hasilnya sama.

”Argh..kenapa semua orang hari ini mematikan telponnya”

Eunhyuk beralih untuk mencari nomor handphone mertuanya. Namun belum juga ia menekan tombol hijau, ia mengurungkan niat. Ia teringat jika kemarin mertuanya berpamitan untuk mengunjungi saudara mereka yang tengah sakit. Ya Tuhan…Eunhyuk ingin berteriak tapi untuk apa. Ia ingin mengumpat tapi percuma.

Yang sekarang ia lakukan hanyalah terus berusaha membuat sang anak lebih tenang. Dengan langkahnya yang pincang ia bergerak dan berhenti didepan jendela. Ia sibakkan sedikit tirainya dan melihat keadaan luar dimana tengah hujan. Tidak deras memang. Tapi itu cukup untuknya mengurungkan niat untuk berdiri dipinggir jalan dan mencari taksi.

Ia melangkah lagi lalu berhenti didepan figura yang tergantung rapi disalah satu sudut ruangan. Dalam figura tersebut, terdapat foto mendiang istrinya. Yoona tengah berdiri di tepi pantai dengan tangan kanannya memegang topi sedang kedua jari pada tangan kiri membentuk huruf V.  Foto yang diambil saat mereka tengah bebulan madu itu membuat setetes air mata nampak diwajah Eunhyuk. Senyum hangat istrinya begitu ia rindukan. Ia rindu saat-saat bersama. Ia rindu semuanya.

”Spenser ingin bertemu denganmu. Kau tidak ingin kemari huh?”

——^^^—–

Nari bergerak gelisah di pembaringannya. Sejak tadi ia tidak berminat untuk menyusul putra serta suaminya ke alam bawah sadar. Susah untuk terlelap sementara otaknya dipenuhi kekhawatiran tentang seorang bayi disana. Ia punya firasat tidak baik untuk itu.

Dilihatnya jam dinding. Sudah pukul 11malam dan satu jam  lalu ia sudah melihat jika Max dan Minho sudah tertidur di kamar sebelah. Ia bangkit lalu berdiri, dua detik berikutnya ia berjalan-jalan mengitari kamar luasnya tidak jelas. Matanya terus mengarah pada ponsel miliknya yang berada diatas meja rias. Berkali-kali tangannya terjulur untuk mengambil, tapi selalu gagal. Ia masih takut akan  kejadian tadi.

Ia berhenti didepan meja riasnya dan  melihat dengan benar benda hitam dan tipis itu berharap ada telpon dari pria yang mungkin sekarang sangat dibenci suaminya. Ia harap Eunhyuk memberi kabar jika Spenser baik-baik saja. Tapi rasanya tidak mungkin benda itu akan berdering. Tidak ada alasan masuk akal untuk Eunhyuk menghubungi pada jam segini. Fikirannya berdebat antara menelpon atau tidak.

Setelah beberapa detik yang terasa lama, akhirnya ia ambil juga benda itu lalu mencari-cari nama Eunhyuk disana. Saat ditemukan, ia lagi-lagi ragu untuk segera menekan tombol hijau. Mungkin ini terlihat bodoh, tapi Nari sungguh hanya khawatir pada Spenser bukan  ayahnya. Dan keinginnannya untuk menghubungi pria itu lebih besar dari keinginan wanita hamil yang menginginkan durian dimusim rambutan.

Akhirnya ia tekan juga tombol itu dan menunggu sambungan. Berkali-kali hanya terdengar nada sambung, tidak ada respon lebih. Nari fikir itu pertanda jika sipemilik handphone tengah tertidur yang artinya Spenser baik-baik saja. Nari sudah berniat untuk memutusnya tapi tiba-tba terdengar suara seseorang disana.

”Hallo Hyuk ? Spenser baik-baik saja ?” tanya Nari cepat. Terdengar desahan nafas dari pria yang ditanya.

”Ya..dia baik-baik saja. Kenapa kau menelponku ? aku fikir tindakanku tadi salah besar. Max marah lagi bukan ?”

”Tidak..kau jangan fikirkan itu. Tadi hanya…..” Nari menghentikan ucapannya begitu mendengar suara tangis lagi. ”Spenser masih menangis ? kenapa tidak kau bawa ke rumah sakit Hyuk ?”

”Sudahlah Nari.. kau tidak perlu memikirkanku dan Spenser. Ini sudah larut, tidurlah”

Nari menatap ponselnya tidak percaya. Sambungan diputus secara sepihak. Ia justru makin khawatir, ini sudah malam dan bukan pertanda baik jika Spenser belum berhenti menangis. Tanpa fikir lagi ia sambar kunci mobi dan jaketnya yang tergantung dibalik pintu. Sebelumnya ia memastikan jika suami dan anaknya benar-benar tertidur.

Dengan cepat ia menuruni tangga lalu keluar menuju garasi, sedikit terkejut saat baru menyadari jika tengah hujan. Tapi sepertinya hujan akan segera berhenti. Nari menyalakan mobil lalu melaju kencang meninggalkan pekarangan rumahnya.

Ia tahu bahkan sangat sadar jika kemampuannya membawa mobil tidak ada peningkatan. Terutama setelah ia merasa gagal membawa Yoona lebih cepat ke rumah sakit kala itu. Tapi otak standarnya tidak punya ide lain selain nekat membawa mobil sendiri. Sebelumnya ia berhenti di apotik yang melayani selama 24 jam. Ia hanya membeli obat demam  untuk bayi berusia hampir dua bulan.

Tidak ada kata lamban bagi Nari saat ini. Ia melakukannya dengan tergesa-gesa. Termasuk membawa mobil meski kondisi cuaca tidak memungkinkan. Bahkan saat ia nyaris bertabrakan dengan mobil lain, ia tidak mengurangi niat untuk maju.

Perlahan, hujan yang memang tidak begitu deras itu berubah menjadi tetesan kecil, gerimis. Nari bernafas lega karena setidaknya pandangannya tidak lagi mengabur. Jalanan terlihat lebih lengang dan terang. Ia masih memacu mobinya dengan tidak baik itu menuju kediaman Eunhyuk.

Sekitar 20 menit yang ia butuhkan untuk sampai. Dan sekarang ia sudah berada didepan pintu rumah itu dan tidak henti menekan-nekan tombol putih di depannya. Pintu belum juga terbuka dan Nari mulai tidak sabar. Satu tangannya sudah terangkat untuk mengetuk tapi pintu lebih dulu terbuka. Eunhyuk terdiam dengan segala rasa terkejutnya.

”Nari ? bagaimana kau….”

’’Dimana Spenser ?” tanya Nari yang langsung menerobos masuk tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Enhyuk. Dan tanpa dijawab pun, Nari langsung menuju kamar bayi itu. Segera ia angkat kedalam  pelukan dan keluar menemui Eunhyuk.

”Kenapa kau tidak membawanya ke rumah sakit Hyuk ? astaga dia panas sekali. Cepat kau siapkan obat ini. hancurkan lalu bagi menjadi 4 bagian. Buatkan teh hangat” perintah Nari cepat yang tidak begitu ditanggapi dengan baik oleh Eunhyuk. Dia masih berusaha mencerna bagaimana mungkin Nari bisa berada di depannya terutama mengingat jika percakapan terakhir mereka tidak begitu baik.

”Hyuk !!!!” panggil Nari setengah berteriak dan berhasil mengembalikan fikiran Eunhyuk kembali. Cepat ia lakukan apa yang diperintahkan oleh Nari. Kedua tangannya sedikit bergetar saat harus membuat teh dan menjadikan tablet obat itu menjadi bubuk. Setelah siap, ia ikuti perintah Nari untuk perlahan memberikan anaknya obat tersebut. Agak miris bagi Eunhyuk saat harus mencekoki anaknya dengan obat-obatan. Ia merasa tidak berguna sebagai seorang ayah.

”Huh…..” Nari mengusap dahi bayi bertubuh subur itu. Bayi yang mulai tenang itu masih berada dalam gendongannya. Reaksi obat tersebut terlihat berhasil. Perlahan Nari meletakkan tubuh Spenser di pembaringannya. Spenser mulai terlelap dengan bibir yang bergerak pelan seperti tengah mengemut botol minumnya. Nari bersimpuh untuk menyamakan posisi. Ia usap keringat yang masih tetringgal di dahi bayi malang itu.

”Kau anak pintar bukan ? jangan membuat ayahmu kerepotan oke ?”

Cup. Satu kecupan di pipi lalu Nari melangkah keluar meninggalkan Spenser yang sudah bermain-main dengan teman-temannya di alam mimpi. Ia sedikit menghempaskan tubuhnya ke sofa diruang tamu. Matanya terpejam sejenak. Hanya sesaat karena ia merasakan seseorang mengisi ruang kosong disebelahnya. Ia buka mata dan menemukan Eunhyuk dengan segelas teh yang ditawarkan padanya.

”Ini…minumlah”  Nari menegakkan tubuhnya lalu menghirup sedikit teh tersebut. ”Apa yang kau fikirkan ?” tanya Eunhyuk.

’’Memangnya apa yang kufikirkan ?”

”Kau tahu situasinya. Kau sudah melihat jam bukan ? kau kemari tanpa sepengetahuan Max ? ini hanya akan menambah masalah Nari….”

” Sudah kubilang Max tidak marah padamu”

”Dan sudah kubilang kau tidak perlu mengkhawatirkanku dan Spenser”

”Llalu kalau aku tidak datang bagaimana huh ?”

Eunhyuk diam. Ia pun sangat berterima kasih pada Nari atas tindakan  nekatnya tapi sangat berguna itu. Tapi ia juga tidak mau menambah daftar kesalahpahaman antara dia dan Max.

”Kau tenang saja Hyuk. Aku hanya perlu pulang dan tidur maka Max tidak akan tahu. ” ujar Nari dengan yakinnya lalu berdiri didepan jendela untuk melihat keadaan luar. Ia agak terkejut saat melihat hujan tiba-tiba menambah intensitasnya. Seingatnya tadi hanya berupa gerimis dan itu bukan gangguan, tapi jika sederas ini..ia tidak yakin bisa segera tidur di kamarnya.

”Kau perlu menunggu” ucap Eunhyuk yang sudah berdiri disampingnya. Untuk beberapa saat mereka diam melihat keluar dimana hujan tidak menampakan akan berhenti. Kaca jendela dihadapan mereka sudah basah dengan beberapa titik air. Nari mendesah pelan. Ia fikir rencananya akan berjalan lancar. Kalau begini, siapa bisa menebak jika hujan akan berhenti.

Ia sibakan sedikit tirai jendela untuk memperhatikan dengan benar keadaan  luar. Ia menunduk sebentar, menggeleng lalu menutup tirai. Saat hendak beranjak, sesuatu menahannya. Ia melihat kebawah dan menemukan satu  kancing jaketnya tersangkut pada tirai putih itu. Ia berusaha untuk melepaskan tapi cukup kesulitan. Eunhyuk yang melihatnya mengisyaratkan untuk meminta izin membantunya. Nari mengangguk ragu dan membiarkan Eunhyuk mencari celah untuk melepas sangkutan itu.

—-^^^—-

Hujan makin turun dengan deras. Suara petir nya pun tidak mau kalah. Max yang tengah tertidur juga sedikit terganggu. Dengan agak malas ia membuka mata dan melirik ke arah jam dinding. Sudah jam 12 malam. Ia beranjak dari tempat tidur menuju toilet yang berada diluar.

Dengan sedikit gontai dan mata yang belum terbuka sempurna, ia berjalan menuju toilet di ujung lorong. Langkahnya berhenti sejenak saat tiba dikamarnya dan Nari. Masih teringat di memorinya kejadian tidak mengenakan tadi. Ia pun tidak sampai hati harus membentak sang istri sekeras itu, tapi yang dilakukan Nari sudah kelewatan. Sedikit ragu ia ingin memegang kenop pintu. Pelan dan pelan ia dorong hingga terlihat sesuatu di atas tempat tidur yang tertutupi selimut. Max fikir istrinya sudah tertidur. Ia tutup kembali dan melanjutkan  langkahnya ke toilet.

Sekitar 5 menit Max menyelesaikan ritual wajib didalam sana. Ia kembali ke kamar dan merebahkan diri di samping tubuh anaknya.

”Eugh…” lenguhan pelan tertangkap oleh telinga Max. Ia memiringkan tubuhnya dan menemukan Minho bergerak gelisah. Max segera bangkit dan mendekat.

”Minho…Sayang…. ini papa.. Minho kenapa ?” tanya Max panik. Keringat mulai membanjiri dahi anaknya. Bibirnya terlihat pucat. Suara-suara lenguhan pun masih terdengar. Anak itu meracau tidak jelas.

”Panas sekali” Max memeriksa suhu tubuh anaknya dan rasanya ini kelewat panas. Cepat-cepat ia berlari menuju kamar untuk membangunkan Nari. ’’Nari…Minho sak….” ucapan Max terhenti saat ia menyibak selimut dan yang ia temukan hanya bantal guling. Ia berputar-putar mencari keberadaan sang istri. Ia turun ke bawah, menuju dapur, ruang tamu, ruang keluarga, bahkan ia kembali ke toilet dan hasilnya nihil.

’’Nari……” Max tak henti-hentinya memanggil nama itu. Antara marah dan  khawatir, kemana istrinya tengah malam dan disaat genting begini. Ia kembali ke kamar dan menemukan ponsel istrinya yang fikir sudah rusak itu di atas meja rias. Cepat ia ambil dan membuka daftar panggilan terakhir.

Darahnya seakan naik ke ubun-ubun. Rasa khawatirnya tentang sesuatu yang buruk yang mungkin menimpa Nari lenyap. Ia tahu jawabannya. Ia bisa menebak kemana dia. Hanya dengan satu nama yang tertera di ponsel itu.

”Lee Hyukjae”

—^^^^^—

Nari memperhatikan wajah pria di depannya yang masih sibuk dengan kegiatan  melepas sangkutan benang tirai pada kancing jaketnya. Entahlah…ia ingin membuang muka tetapi seperti rugi jika melewatkan pemandangan ini. Saat menyadari Eunhyuk sudah hampir selesai dengan kegiatannya, Nari berniat mengalihkan pandangan, tapi ia kalah cepat. Eunhyuk lebih dulu mengangkat wajah hingga kini…mereka bertemu pandang.

Nari semakin merasa rugi jika melihat pada objek lain. Mata coklat didepannya lebih menarik dan….ia suka. Eunhyuk pun demikian. Entah setan darimana yang menghinggapinya, tetapi matanya sulit untuk teralihkan. Tatapan mereka saling beradu. Saling melihat lebih dalam. Ada kerinduan disana. Kerinduan yang tersimpan lama, kerinduan yang sempat tersembunyi dan mulai berani mencuatkan dirinya. Nari sedikit sulit menghirup udara. Nafasnya tercekat karena ulah pria yang menatapnya dengan intens ini.

Sekelebat bayangan masa lalu melintas cepat. Tentang kebersamaan singkat itu. Tentang hubungan yang gagal sebelum dibangun. Dan tentang cara perpisahan mereka. Tidak ada yang terlupa. Eunhyuk pun masih ingat saat ia berdiri berhadapan dengan Nari saat itu. Persis seperti ini. seperti…dulu. Dan tentu mereka ingat, saat itu mereka tidak akan diam  lama dengan posisi saling bertatapan.

Perlahan….Eunhyuk mendekatkan wajahnya. Arah matanya kini beralih pada bibir kecil dan merah dihadapan. Jarak semakin menipis. Hidung mancung mereka mulai bersentuhan. Perlahan Nari menutup mata dan detik berikutnya ia sudah merasakan kehangatan pada salah satu bagian wajahnya. Tidak ada lagi sekat diantara mereka. Semua jarak terhapuskan.

Suara jatuhnya air dari atas sana seperti alunan musik romantis yang mengiringi. Bunyi petir yang makin nyaring seperti dentungan drum  sebagai penyemangat. Suara yang mengganggu telinga dan lebih tepat disebut alarm peringatan  justru makin membuat dua insan itu larut. Masa bodoh. Tidak perduli! Persetan semuanya!

Saling menutup mata sebagai tanda tidak ada pihak yang dirugikan, korban atau apapun itu. Mereka menikmatinya. Tanpa melepas tautan yang bahkan tidak terlihat akan berhenti, mereka berjalan menuju salah satu ruangan dimana terdapat pembaringan besar disana. Suara petir sekali lagi memperingatkan. Tidak ada pengaruhnya. Mereka sudah berada disana dan…………

BLAM

Pintu tertutup.

.

.

.

.

.

 

TBC

Makasih buat yang berkenan baca. Silahkan dikomentari.

7 thoughts on “DESTINY PART 6

  1. Konfliknya makin kerasa, Thor dirimu sudah berhasil membuatku terbawa oleh cerita ini. Oh Tuhan, Nari stop jangan lagi! Aku emosi -_-
    Max kasian, kenapa harus hujan? Kenapa? Jangan hujan, spenser nangis kek -_-
    Lanjutannya cepetan thor, geregetan

  2. azizah berkata:

    annyeong aku baru baca FF di blog ini trus tertarik sama FF Destiny dari part 1 – 6..
    authorny DAEBAK! Bahasa penulisan sama plot ceritanya keren banget. di part 4,5,6 konflik makin kerasa. liat si changmin aku nangis bacanya huhuhu..
    posisi Nari serba salah juga…
    penasaran si Minho itu anak siapa kalo Nari sama Changmin belem pernah “melakukan”?
    author lanjuuuttt….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s