Destiny Part 5


Author : Ramalia

Cast : Nari (OC)

                Max Changmin

                Lee Hyukjae

                Other Cast

Genre : Romance, Family

Rate : M

***

 

Melakukan kesalahan adalah manusiawi bukan ?

 

Ya..silahkan kau berlindung dibalik kalimat itu sekalipun kau melakukannya berkali-kali

 

Tapi setelah itu siapkan dirimu untuk menerima muakan dari sekitar

 

***

 

Max menurunkan map yang berisi dua lembar kertas itu dari depan wajahnya. Ia terus menelaah tiap kalimat yang tertera disana, berharap menemukan kesalahan atau apapun untuk menepisnya. Sayang, apa yang tertulis itu nyata. Dan itu cukup untuk membuat kepalanya rasa ingin pecah.

 

Tanpa fikir panjang, ia remas kertas-kertas itu lalu membuangnya ke tong sampah kecil yang berada disudut ruangan. Tidak perduli dengan deretan kalimat disana yang beberapa menit lalu sudah menjungkir balikkan hidupnya. Ia sandarkan tubuhnya dikursi lalu memijit kepalanya pelan. Akhir-akhir ini begitu banyak masalah yang datang padanya. Dan sekarang ia kedatangan masalah baru.

 

Ia tiba-tiba bangkit dari kursi lalu dengan santai melangkah keluar ruangan kerjanya yang terasa panas. Ia berhenti didepan lift. Wajahnya menunduk, mungkin sepatunya kini jadi objek lebih menarik untuk dilihat. Pintu lift terbuka. Tanpa menegakkan wajahnya ia masuk ke dalam. Kedua tangannya berada dalam saku celana. Kedua kakinya bergantian mengetuk-ngetuk lantai, larut dalam fikiran sendiri. Bahkan ia tidak tahu apa ada orang lain disekitarnya.

 

Saat pintu lift terbuka, Max berniat keluar. Namun, baru satu langkah, ia merasa ada sebuah tangan yang menahannya. Ia menoleh kebelakang dan menemukan pria yang sudah satu minggu tidak ia lihat. Pria itu tersenyum malas lalu menekan tombol 1 pada lift.

 

”Hyung..? Kau Jaejoong Hyung ?” tanya Max memastikan. Seperti anak kecil yang mencoba mengenali orang yang lama tidak ditemui.

 

”Apa kau sudah mengunjungi dokter itu? Kurasa penglihatanmu juga bermasalah. Memangnya aku siapa?” tanya Jaejoong jengkel.

 

”Ah maaf. Aku fikir kau masih di jepang. Bukankah harusnya dua hari lagi kau kembali?”

 

”Itu pekerjaan gampang. Kalau bukan karena wanita-wanita seksi disana, tak sampai satu minggu aku sudah kembali.” Jaejoong sedikit menyandarkan tubuhnya yang lebih rendah dari Max itu ke dinding. Max berniat menanggapi Jaejoong, tetapi pintu lift terlebih dulu terbuka dan Jaejoong menariknya keluar secara paksa. ”Kita mau kemana Hyung ?”

 

”Makan,” jawab Jaejoong singkat lalu mendudukan pria tinggi itu di kursi.

 

”Kau belum makan siang bukan ? Sekarang aku yang traktir.” Jaejoong duduk dihadapannya lalu mulai membuka-buka buku menu.

 

”Tumben hyung. Aku ingin minum saja. Aku tidak nafsu makan.” Max menyandarkan tubuhnya dan terlihat malas untuk bicara lagi. Bohong jika ia tidak lapar, tapi berita yang ia terima tadi cukup membuatnya kehilangan nafsu makan. Jaejoong tentu sangat ingin bertanya sejak kapan Shim Changmin si jago makan jadi tidak punya nafsu untuk menyantap makanan ? Terlebih ini gratis.

 

”Harusnya kau ikut denganku ke Jepang. Wanita disana cukup untuk menjernihkan fikiranmu,” ucap Jaejoong memainkan sedotan yang ada di dalam gelas besar diatas meja. Buku menu sudah ia letakkan tanpa berminat memesan salah  satu isinya.

 

”Berhenti bermain-main hyung. Pilihlah satu lalu menikah.”

 

”Haha apa sih gunanya? Aku ingin terus begini. Bebas melirik wanita manapun tanpa berfikir akan ada yang menamparku.”

 

”Mengikat suatu hubungan, memiliki seseorang yang setia berdiri di samping kita, menggendong bayi. Kau harus tahu itu luar biasa.” Max menegakkan tubuhnya lalu tersenyum tidak jelas. Ia seperti tengah membayangkan suatu hal yang lucu.

 

”Kau sudah pernah menggendong bayi huh? Yang rumah tangganya jalan ditempat tidak bisa menasehatiku,” kata Jaejoong santai, tidak perduli kata-katanya sedikit menyinggung. Seketika itu pula senyum Max menguap. Itu benar. Ia bicara seolah ia bukti nyata yang pernah merasakan itu. Nyatanya ia hanya punya bayangan, khayalan, cerita dari orang-orang jika hal-hal seperti itu menyenangkan.

 

”Ya, kau benar. Malam  itu, aku….” Max melempar ingatannya pada kejadian beberapa waktu lalu saat dengan ’sopannya’ Nari mendorongnya ke lantai,”Aku gagal. Aku kalah lagi,” ucap Max pelan. Sedikit menarik ujung bibirnya tapi itu tak terlihat baik, seperti paksaan.

 

”Aku sudah kenyang mendengar itu. Nasehat dari penakluk wanita sepertiku bahkan tidak mempan padamu”

 

”Entahlah…aku merasa sangat bodoh sebagai pria.”

 

”Haha..kau baru menyadarinya ? kau harus bicara pada Nari. Aku fikir ada pria lain dihatinya,” ujar Jaejoong santai seperti menebak hal gampang. Max sedikit terkejut dan menaikan sebelah alisnya. Tidak ! Ia berusaha menepis anggapan itu. Tidak ada pria lain.

 

”Tidak hyung. Tidak mungkin ia berselingkuh,” sanggah Max cepat.

 

”Ya..ini hasil mu sekolah di luar negeri ? aku hanya bilang mungkin ada pria lain. Bukan berarti selingkuh. Berfikirlah !” Jaejoong memanggil si pelayan pria yang datang dengan cepat dengan buku kecil dan pulpen ditangannya. Sebenarnya setengah jam yang lalu ia baru meninggalkan tempat ini untuk mengisi perutnya. Jadi sekarang ia hanya memesan minuman yang sama seperti Max. Orange juice.

 

”Lalu….?”

 

”Mungkin saja…dulu sebelum bersamamu ia pernah menjalin hubungan dan itu masih sangat melekat.” Jaejoong masih bicara dengan acuhnya.

 

”Tapi…….” Max masih menimbang-nimbang apa anggapan itu benar. Apa masuk akal hanya karena ada seseorang yang tertinggal dihati istrinya ? tapi bukankah  lebih tidak masuk akal lagi kalau alasannya karena belum siap ? argh..Max malas menebak-nebaknya.

 

”Kenapa? Ragu? Cih…kau masih percaya saja kalau dia menolakmu hanya karena belum siap ? benar-benar konyol,” pria yang biasa disapa Jae tertawa kecil, tepatnya menertawakan Max. Ia keluarkan ponselnya dari saku jas, Jari-jarinya bergerak menekan-nekan tombol pada benda silver it.

 

”Apa sebesar itu efeknya? Kami melewati banyak waktu bersama, apa itu tidak cukup untuknya melupakan pria itu ?” Jaejoong tersenyum malas menanggapi pertanyaan sahabatnya. Lalu meletakkan ponselnya di atas meja.

 

”Cinta. Aku tidak mengerti artinya. Cinta bisa buat orang jadi gila. Buat orang jadi bodoh sepertimu dan Nari. Bahkan cinta juga buat orang memilih mati. Sinting. Mereka fikir mati itu menyenangkan?” baik Jaejoong ataupun Max sama-sama diam setelah kalimat itu. Jaejoong membiarkan pria jangkung didepannya untuk berfikir. Ia memilih membuang pandangan ke sekitar dimana pada meja nomor 5, tiga wanita dengan rok yang mungkin saja sengaja menjadi lebih tinggi dari lutut, duduk sambil melirik ke arahnya. Jaejoong menyandarkan tubuhnya lalu melempar senyum manisnya pada wanita-wanita itu. Para wanita berpakaian formal tapi serba minim itu balas tersenyum padanya lalu mengangkat tangan. Jaejoong membalasnya dengan kedipan mata.

 

Drrrt…

 

Ponsel Max bergetar. Ia mengambilnya dari saku jas. Sesaat setelah membaca pesan yang ia terima, Max tersenyum. Ia tekan beberapa tombol sebagai balasan.

 

”Nah..sekarang kau ikut gila”

 

”Apa sih Hyung ? aku hanya baru membalas pesan dari istriku. Nanti kalau kau merasakannya, aku jamin kau tidak akan perduli sedang apa dan dimana, senyummu tidak akan berhenti jika menyangkut dia.” Max memasukan kembali ponselnya lalu meminum sedikit orange juice yang baru saja tiba di atas mejanya.

 

”Hah…aku tidak akan tertular penyakit jatuh cinta yang aneh itu. Memangnya apa isi pesan dari istrimu?”

 

”Hanya meminta izin untuk pergi ke taman perumahan bersama Minho.”

 

”Dan kau percaya?”

 

”Apa maksudmu Hyung?”

 

”Tidak berniat menyusul mereka?”

 

 

***

 

 

Nari melangkah masuk kedalam rumah mewah mantan artis terkenal bernama Lee Hyukjae itu. Satu minggu ia tidak menginjakan kaki di rumah itu karena fokus untuk memperbaiki hubungannya dengan Max. Memang cukup berhasil. Setelah malam dimana ia berkata ’siap’, Max bersikap seperti biasa. Seperti tidak terjadi sesuatu yang tidak baik, bahkan sebelum ia berangkat ke kantor pagi tadi, ia mengecup pipi istrinya yang membuat Minho terus-terusan menggoda mereka. Tapi bukan berarti kata ’siap’ itu kembali terlontar dari mulut Nari dan berakhir baik pada malam-malam selanjutnya, tidak. Semua masih sama. Hanya mengucap janji memang gampang bukan ?

 

”Dimana Spenser ? Tidur?” tanya Nari sedikit menaikan suaranya karena Eunhyuk tengah membelakanginya dan berdiri di taman belakang rumahnya. Minho sejak datang sudah duduk manis di sofa sambil berusaha membuka tutup toples kue coklat yang ada di atas meja. Usahanya belum berhasil dan Nari tidak ingin membantunya. Anak itu semakin terlihat menggemaskan dengan wajah jengkel seperti itu.

 

”Spenser di kamar. Bermain dengan teman-teman di mimpinya,” sahut Eunhyuk dengan intonasi sedang karena Nari sudah berdiri di sampingnya.

 

”Hey..kau menyiram  tanaman di siang hari begini?” tanya Nari saat menemukan Eunhyuk tengah menyirami tanamannya yang beragam  itu.

 

”Untuk mereka yang tidak kuperhatikan hampir sebulan ini. Rasanya makan pagi atau siang pun tidak ada bedanya,” jawab Eunhyuk yang masih asik dengan kegiatannya.

 

”Kalau kau tidak memindahkan pembantu barumu ke rumah Bibi Min, dia pasti akan mengurus tanaman ini juga.”

 

”Aku senang mengerjakan semua ini.” Sedikit ide nakal melintas di kepala Eunhyuk. Dalam hitungan ketiga, ia mengarahkan selang yang ia gunakan untuk menyiram tanaman itu ke arah Nari.

 

”Huah..apa yang kau lakukan ?” Nari terlambat menghindar. Tubuhnya sudah basah kuyup. Melihat Eunhyuk yang terus menyiramnya, Nari berlari mengelilingi sekitar taman untuk menghindar. Sayang, bagaimanapun ia berlari, selang panjang milik Eunhyuk tentu bisa menjangkau tubuhnya.

 

”Hahahahha….” tawa Eunhyuk yang diikuti oleh Minho yang masih duduk di sofa. Adegan paman dan ibunya itu seperti tontonan menarik sembari menikmati kue coklat yang berhasil ia dapatkan dengan usaha ekstra itu.

 

”Hentikan Hyuk !”

 

”Haha oke oke.” Eunhyuk mematikan air dari kran. Lalu melemparkan sebuah handuk yang ditangkap dengan baik oleh Nari.

 

”Apa – apaan kau ? ” gerutu Nari sambil mengelap tubuhnya.  Rambutnya yang panjang itu menutupi sebagian wajahnya. Tidak ada bagian kering pada tubuhnya.

 

”Hahah..kau lebih cantik seperti ini”

 

Nari nyaris menghentikan kegiatannya karena kalimat itu. Kalimat yang sama yang pernah ia dengar dari orang yang sama, dari waktu yang berbeda.

 

”Hey..sejak kapan kau memakai rok?”

 

”Nah..kau lebih cantik seperti ini.”

 

Nari menampar pipinya pelan. Ia beralih pada Eunhyuk dan Minho yang masih berusaha menahan tawa. ”Ya..lalu aku bagaimana ? aku tidak membawa pakaian.”

 

”Kau fikir pakaian Yoona kukemanakan? Ayo masuk.” Eunhyuk mengajak Nari  ke kamar pribadinya yang sudah lama tidak ia tempati untuk tidur. Ia lebih suka berada di kamar Spenser akhir-akhir ini. Eunhyuk menuju lemari pakaian berwarna putih di bagian kiri kamar. Masih tersusuk rapi pakaian mendiang istrinya. Ia tidak akan merusak atau menghilangkan satupun barang- barang di kamar itu.

 

”Nah..silahkan kau pilih yang mana saja.”

 

Eunhyuk keluar dan meninggalkan Nari di situ yang masih memangdang takjub. Bagaimana tidak ? dia bahkan tidak menemukan hiasan atau pajangan lain di ruangan itu selain foto-foto Eunhyuk yang tertawa bersama Yoona. Bahkan ada beberapa foto yang menempel di bagian dalam lemari pakaian. Nari memperhatikan satu foto dimana Eunhyuk tengah memeluk Yoona erat, dengan kedua tangannya mengelus perut istrinya yang sudah membesar.

 

Jarinya bergerak perlahan menyentuh foto tersebut. Dilihatnya perut wanita itu. ”Kau begitu sempurna sebagai seorang wanita.”

 

Jari-jarinya bergerak lagi menuju foto lain di dalam lemari tersebut. Satu foto yang sukses mengundang setetes air jatuh dari pelupuk matanya. Dimana Eunhyuk mencium pipi istrinya mesra. Nari menarik nafas berat lalu dengan cepat memilih pakaian yang dirasa cocok lalu menutup pintu itu rapat. Harusnya ia tidak melihat foto-foto itu.

 

Nari keluar dari kamar yang terasa sesak itu kemudian mendekat ke arah anaknya yang asik bergerak, maksudnya berjoget kalau gerakan aneh itu pantas disebut berjoget atau menari. Sebuah lagu dari ponsel Nari mengiringi gerakannya. Dan setelah Nari perhatikan, anak itu seperti tengah meniru gerakan salah satu boy band terkenal.

 

”Ling ding dong ling ding dong.. digiding digiding…” nyanyian yang entah benar atau tidak itu keluar dari mulut mungil Minho. Nari asik memperhatikannya sembari tersenyum.

 

”Hey..kalian mau ikut dengan kami? Spenser baru saja bangun, aku ingin mengajaknya ke Kona Beans,” ajak Eunhyuk yang baru saja keluar dari kamar anaknya lengkap dengan kereta bayi serta tas kecil yang biasa dibawa untu keperluan Spenser. Bayi yang baru berusia sebulan itu menggeliat pelan dalam gendongan ayahnya. Kedua tangannya bergerak-gerak seperti hendak menyentuh pipi ayahnya yang baginya cukup sulit dijangkau.

 

”Kona Beans? Hmm bagaimana Minho ? mau ikut ?” tanya Nari yang kemudian mematikan musik di ponselnya sehingga bocah itu memajukan bibirnya, kesal kegiatannya diganggu.

 

”Ikut kemana ?”

 

”Kona Beans, sama Paman dan Spenser. Bagaimana ?” tanya Nari sekali lagi. Batinnya begitu ingin agar Minho mengangguk semangat dan mereka segera pergi bersama. Dan ya…benar. Minho mengangguk-ngangguk tapi dengan satu syarat. ”Ada esklim kan ?”

 

”Tentu saja,” jawab Eunhyuk sambil memainkan jari-jari anaknya.

 

”Oke…kita ikut..”

 

Hah, dalam hati  Nari bersorak gembira. Bukankah artinya untuk pertama kali mereka akan jalan bersama? Ya..otak Nari mungkin berpindah tempat hingga ia berfikir hal-hal seperti ini sangat menyenangkan.

 

Mereka beranjak menuju mobil yang terparkir di halaman. Selama di mobil, Minho dengan wajah cemberutnya terpaksa duduk dibelakang sedangkan Nari berada didepan dimana Spenser berada dalam gendongannya. Minho ingin memangku Spenser tetapi tidak diperbolehkan. Hmmm tidakkah mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia ?

 

”Mama…bikin ade bayi kaya Spensel ya..” kalimat polos dari Minho yang membuat Nari menghentikan kegiatannya bermain-main dengan Spenser. Ia sedikit menelan ludah lalu menoleh kebelakang memberikan senyum paksa pada anaknya.

 

”Wah..Minho mau punya adik ya? Nari…kau perlu katakan itu pada Max, haha” goda Eunhyuk yang masih fokus menyetir. Nari hanya menanggapinya dengan tersenyum. Menjawab dan berkata iya rasanya sulit. Atau menjawab dengan sangat jujur jika itu tidak akan terjadi adalah tindakan bodoh.

 

Nari berusaha mengalihkan topik pembicaraan dengan kembali mengajak Spenser bermain-main. Memiliki bayi begitu luar biasa. Nari baru bisa merasakannya akhir-akhir ini saat tangannya menyentuh pipi mungil Spenser, saat ia memeluk bayi itu, mencium aroma tubuh khas seorang bayi, ia ingin seperti itu, tapi…..

 

”Kita sampai.”

 

Eunhyuk membukakan pintu untuk Nari dan Minho lalu mengeluarkan kereta bayinya dari dalam bagasi. Ia mengambil alih Spenser dan meletakkan bayi tampan itu pada kereta bermotif Doraemon tersebut. Mereka memasuki sebuah Cafe dengan papan besar didepannya bertuliskan Kona Beans.

 

”Mana paman esklimnya?” tanya Minho bahkan sat mereka belum menemukan tempat duduk yang nyaman. Setelah menemukan posisi yang pas dimana terdapat di pojok ruangan persis di samping jendela berukuran besar, Eunhyuk pergi meninggalkan mereka untuk mengambilkan eskrim coklat kesukaan Minho.

 

Selama menunggu, Nari melihat-lihat sekitarnya. Tempatnya memang nyaman. Dari posisinya sekarang ia bisa memandang seluruh bagian dari tempat itu. Ia juga bisa melihat aktifitas diluar dimana begitu banyak pejalan kaki lalu lalang. Lalu pandangannya sedikit terganggu saat menemukan beberapa meja dimana para wanita yang tidak bisa disebut muda lagi melihat kearahnya dengan tatapan tidak suka. Hmm, Nari melihat pakaiannya yang rasanya biasa saja, jadi satu kemungkinan kalau tatapan tidak suka itu berasal dari kesalahan berbusana terbantahkan. Hmm ia semakin tidak nyaman dan membuang pandangan ke arah lain. Dia menemukan si penjaga kasir yang dikerubuni para wanita. Oh.. rupanya mantan leader grup super junior berdiri disana melayani para pembeli. Dan diatas meja, seorang bocah wanita duduk sambil memainkan boneka power ranger nya. Lucu juga fikir Nari.

 

”Itu anaknya?” batinnya. Ia melihat-lihat lagi dan menemukan dua pria tampan yang sudah lama tak ia lihat masuk dan….sepertinya mereka menuju ke arahnya. Ah..Nari jadi penasaran kenapa hanya tiga makhluk macam Donghae, Kyuhyun serta Leeteuk yang ia temui selama pertemuannya dengan Eunhyuk dan Yoona selain saat pemakaman. Kemana para member lain ? dan sejak kapan Kyuhyun terlihat begitu dekat dengan Eunhyuk? Kyuhyun yang paling sering ia lihat berada di rumah pria itu, dan dimata Nari seperti orang yang tidak punya kesibukan lain alias pengangguran.

 

”Hay…” sapa Donghae ramah dan tanpa disuruh ia dan Kyuhyun sudah duduk dihadapan Nari. ”Hallo Minho” sapa Donghae lagi. Minho tersenyum tapi rautnya seperti bertanya siapa pria itu ? ia hanya ingat pernah melihatnya, bukan mengenalnya.

 

”Kalian bersama Eunhyuk ? mana monyet itu ?” tanya Donghae setelah melihat ke arah Spenser yang tenang saja di keretanya.

 

”Dia mengambilkan eskrim untuk Minho. Hmm, apa kalian tahu kenapa wanita-wanita disana melihatku seperti itu ?” tanya Nari pelan sambil mengarahkan matanya pada para wanita yang sekarang semakin melotot horor. Donghae mengikuti arah tatapannya sedangkan Kyuhyun justru sibuk bermain-main dengan Spenser.

 

”Haha…kau tahu ? mereka pasti iri kenapa kau bisa duduk berhadapan dengan kami.” jawab Donghae bangga yang membuat Nari membulatkan mulutnya. Tidak ia sangka kepopuleran grup yang pernah ia sukai itu masih cukup tinggi. Bahkan disaat member-membernya sudah cukup berumur, masih banyak yang tidak suka jika salah satunya berdekatan dengan wanita.

 

”Ah Nari..kau yang menolong Eunhyuk saat di Bali kan ?” tanya Donghae penasaran. Nari cukup terkejut, ia fikir hanya Kyuhyun yang mengetahui hal ini. Artinya Eunhyuk berbagi pada semua teman-temannya.

 

”Hmm..iya itu aku”

 

”Dan kau datang ke konser kami di jakarta kan ? untung saja saat itu Eunhyuk tidak melihat adegan kau dan pria itu, maksudku suamimu.” Donghae bercerita cukup antusias seperti berdongeng. Kyuhyun menaikan satu alisnya lalu menyenggol pinggang pria itu yang tidak ditanggapi oleh Donghae.

 

”Kau tahu ? saat itu Eunhyuk tidak tahu kau benar-benar datang, tapi ia yakin kau pasti ada. Saat konser selesai ia keluar untuk mencarimu. Hah, ia sampai tidak berfikir itu memicu ELF membuat keributan.” Nari menatap Donghae penasaran. Benarkah seperti itu ? ia fikir adegannya dan Max itu juga disaksikan oleh Eunhyuk. Kyuhyun melotot pada Donghae yang hanya ditanggapi dengan kalimat tanya ”Apa sih Kyu?”

 

”Oh ya Nari, saat itu bahkan butuh tiga security untuk menahannya. Lalu…awww” cerita itu terhenti saat tangan panjang Kyuhyun menjitak kepala pria yang lebih tua darinya itu. ”Apa-apaan kau Kyu? Tidak sopan !”

 

”Ini sudah biasa dan mulutmu itu perlu ku lakban hah?”

 

”Jadi….?” tanya Nari agar Donghae berkenan melanjutkan ceritanya.

 

”Sudahlah Nari. Ikan ini memang suka asal bicara. Ayo Hyung kita ke sana saja !” Kyuhyun menarik kuat lengan pria yang memberontak itu. Tapi tenaga Kyuhyun nampak berlebih sehingga perlawanannya tidak berhasil. Mereka menghilang dibalik pintu yang berada di belakang meja kasir. Entahlah ruangan apa yang terletak disana, yang di sesalkan Nari…kenapa cerita yang tidak ia tahu itu tidak dilanjutkan ? kenapa Kyuhyun harus menahannya ?

 

”Nah ini eskrimnya Minho. ” Eunhyuk datang dengan segelas eskrim coklat dan itu tidak bisa dikatakan sedikit. Nari tidak perduli juga akan hal itu. Ia masih memikirkan perkataan Donghae tadi. Sungguh ia penasaran.

 

”Nari ….?” tidak ada tanggapan dari yang dipanggil oleh Eunhyuk. Wanita berambut panjang itu masih memainkan bola matanya kesemua arah. Eunhyuk coba sedikit menyentuh telapak tangan Nari dan saat itulah Nari refleks menoleh. Ia cukup terkejut dengan sentuhan tiba-tiba itu. Dengan cepat ia menjauhkan tangannya dan tersenyum kikuk.

 

”Kau melamun?” tanya Eunhyuk pelan. Nari lagi-lagi hanya tersenyum sambil memegangi tengkuknya. Ia coba mengalihkan rasa canggung itu dengan melihat ke arah anaknya yang…..astaga Nari baru menyadarai anaknya tengah melahap segelas besar eskrim. Itu bisa dikatakan jumbo.

 

”Hyuk…ini terlalu banyak.”

 

”Ini enak ma,” ucap Minho tanpa ditanya. Seputaran bibirnya sudah dipenuhi coretan-coretan coklat.

 

”Haha..sesekali saja Nari, tidak apa.”

 

Nari hanya mendesah pelan lalu entah kenapa fikiran tentang cerita Donghae tadi kembali datang. Arah tatapannya kembali tak tentu. Benarkah Eunhyuk mencarinya saat itu. Nari fikir..Eunhyuk akan begitu gampang melupakannya dan ia hanyalah gadis sedikit beruntung yang bisa dekat dengan idola para wanita itu. Nari fikir…hanya ia sebagai pihak yang terluka. Nari fikir…saat itu… ….

 

”Kau melamun lagi. Apa yang kau fikirkan huh?”

 

”Ah..tidak..aku hanya…….” Nari menggantung kalimatnya, mencari-cari alasan yang tepat dan dalam sekejab ia menemukan topik obrolan untuk mengalihkan itu.

 

”Ah, aku hanya memikirkan kenapa kau tidak melakukan operasi Hyuk? Yoona sudah bilang harusnya untuk jaman sekarang kakimu bisa kembali lagi seperti dulu,” ucap Nari sambil sesekali melirik ke arah anaknya yang masih lahap. Eunhyuk sedikit memajukan tubuhnya lalu memainkan botol minuman Spenser yang memang sejak tadi berdiri diatas meja.

 

”Harusnya Yoona juga sudah bilang kalau aku menolak,” jawab Eunhyuk santai.

 

”Ya…tapi…ayolah Hyuk. Kau pasti merasakan efeknya akhir-akhir ini. Kau mungkin tidak akan bisa cepat berlari menuju Spenser saat ia menangis, kau mungkin…..” Ugh..Nari menghentikan ucapannya begitu menyadari kalimatnya tadi sedikit tidak baik. Ia buru-buru tersenyum seolah menyampaikan permintaan maaf yang langsung ditanggapi kalimat ”Tidak apa-apa ” oleh Eunhyuk.

 

”Hm..apa menurutmu aku harus melakukan operasi ?” rupanya pria berambut coklat itu mulai berfikir jika operasi bukan ide buruk. Nari menegakan tubuhnya dan mengangguk semangat. ”Tentu saja Hyuk..lagi pula apa ruginya ?”

 

”Ugh..kenyaaanggg” Minho bersuara sambil menyentuh perutnya. Matanya sesekali terpejam lalu perlahan menenggelamkan wajahnya dibalik kedua tangan yang terlipat di atas meja. Satu gelas yang berisi eskrim tadi sudah lenyap, hanya bersisa sedikit bagian pada pinggiran gelas kaca tersebut.

 

”Hm..sepertinya ia mengantuk Nari”

 

”Minho…ngantuk? kita pulang ya?” bocah itu tidak menanggapinya. Ia hanya mengangkat wajahnya lalu bertumpu pada meja. Matanya mengerjap-ngerjap lucu, pipinya menggembung.

 

”Baiklah..aku antar kalian” belum sepat Nari menjawab dengan penolakan, Eunhyuk sudah berdiri menuju seorang wanita di salah satu meja. Eunhyuk nampak akrab lalu sedikit membungkukan badan. Nari tidak mengenalnya. Eunhyuk sudah melangkah keluar dengan mendorong kereta bayi Spenser. Nari belum berkutik. Kini matanya teralihkan pada kaki pria itu, cara berjalannya. Itu tidak bisa dikatakan baik dan tidak mengganggu. Nari tidak mengerti kenapa Eunhyuk menolak untuk melakukan operasi. Ayolah..ini Korea di tahun 2018. Korea bukan negara yang baru menguak kemarin sore. Tekhnologi mutakhir terutama dibidang kesehatan, untuk hal yang dulu tidak bisa dilakukan harusnya sekarang memungkinkan.

 

”Apa Minho perlu kugendong?” tanya Eunhyuk saat mendapati Nari masih duduk ditempatnya. Nari buru-buru menggeleng lalu menuntun anaknya untuk berjalan keluar. Diluar, Eunhyuk sudah bersiap didepan pintu dengan Spenser yang berada di sampingnya. Satu tangannya terjulur membukakan pintu untuk Nari, disaat yang sama Nari melakukan hal yang sama dan ssaat ini….kedua tangan dari dua insan itu menyatu. Mereka bersamaan mengangkat wajah dan kini…pandangan mereka yang bertemu.

 

Tangan dingin ini…ini adalah kedua kalinya setelah sebelumnya hanyalah sesi jabat tangan yang memang cukup lama saat pertama bertemu di depan restoran sebulan lalu. Tangan ini…pernah ia rasakan bahkan lebih dari sekedar seperti ini. Mereka larut dalam fikiran masing-masing. Entah apa yang membuat Eunhyuk betah menumpukan tangan kanannya diatas telapak tangan wanita bersuami itu, tapi bagi Nari ia ingin menikmati ini…lebih….lama. Mereka bahkan tidak perduli bagaimana kedua buah hati mereka yang menunggu untuk segera bisa memasuki mobil dan pergi.

 

”Mmpptth..ssssaranghae…………………”

 

”Tidak…ini salah. Kau pasti salah bicara”

 

”Hey..apa maksudmu ? aku serius. Aku menyukaimu. Aku..”

 

”Stop..ini tidak mungkin kan ? kita..”

 

”Kenapa tidak mungkin ? hanya karena waktu yang singkat ini? Waktu tidak bisa mewakilinya, kita yang merasakan, kita yang …”

 

”Tidak hanya itu..kau fikirkan hyuk… kau siapa, aku siapa, kau bahkan akan kembali ke korea beberapa jam lagi. Otakmu yang lebih baik dariku harusnya bisa memikirkan ini. Kita….kita hanya terbawa suasana”

 

”Nari apa yang kau bicarakan ?”

 

”Aku..aku sudah di tunggu di supermarket..kau juga harus berkemas bukan ? aku pergi”

 

”Nari….!!!!!!”

 

”Papa…….?” satu sebutan dari bibir polos Minho membuat tautan antara Nari dan Eunhyuk terpaksa dilepas. Pria yang disebut papa oleh Minho itu berdiri dengan tenangnya dengan kedua tangan disaku celana. Bibirnya mengukir sedikit senyum paksa. Matanya bergerak meneliti dua manusia didepannya bak tersangka. Sedangkan yang menjadi objek hanya bisa menunduk takut. Bukan Eunhyuk, pria itu meski dengan segala rasa bersalahnya, ia masih bisa memandang dengan tegak pria berkemeja putih tersebut. Nari lah yang tidak lagi berani menatap kedepan.

 

”Aku tidak tahu kalau taman perumahan sudah pindah ke sini” sindir Max. Ia bergerak sedikit untuk bersandar pada salah satu mobil yang terparkir.

 

”Mmmm..Max..kau kenapa..bisa ada disini?” tanya Nari yang hanya berani sesekali menegakkan wajahnya. Ia benar-benar takut.

 

”Ya, jalanan terlalu sepi untuk menyembunyikan tubuh kalian. Jadi ? aku mengganggu ?”

 

”Max…kau jangan salah paham.” Eunhyuk coba mendekat pada pria yang lebih tinggi darinya itu. ”Itu tadi hanya ketidaksengajaan. Tidak berarti apa-apa”

 

”Hey…aku tahu itu..tapi rasanya…hmm..apa perlu selama itu ? aku bahkan berdiri cukup lama disini untuk melihatnya.”

 

Nari dan Eunhyuk menalan ludahnya berat. Sulit untuk menjelaskan apa yang terjadi karena mereka pun tidak mengerti. Bahkan mereka tidak tahu hal tadi berlangsung cukup lama, benarkah ?

 

”Papa…..kita pulang yaaaa” pinta Minho sambil menarik-narik celana hitam milik Max. Pria itu mengangkat tubuh anaknya dan berlalu menuju mobil. Nari masih membeku di tempat, mulutnya ingin melakukan pembelaan tapi entaha kenapa jadi tersendat.

 

”Lanjutkan saja !!!” teriak Max saat sudah berada di mobil. Dan dengan cepat mobilnya melaju kencang menembus jalanan yang memang tengah lengang. Saat itulah Nari baru menyadari kebodohannya. Ia buru-buru berlari menuju pinggir jalan untuk menghentikan taksi.

 

”Nari…aku akan mengantarmu. Aku juga perlu menjelaskannya.” Eunhyuk coba menahan tangan yang berbalut jaket kulit itu. Dengan sopan Nari melepaskan tangannya lalu menyetop sebuh taksi dan duduk didalamnya.

 

”Tidak perlu Hyuk. ,maaf atas sikap suamiku.” itu adalah kalimat terakhir dari Nari sebelum taksi yang membawanya tancap gas dan hanya menyisakan asap knalpotnya di wajah Eunhyuk.

 

 

***

 

Nari sudah duduk dengan gelisah didalam taksi. Kedua kakinya bergantian menghentak, tangannya sesekali memegang atau memijit kepalanya pelan. Ia benar-benar ingin rumah mewahnya yang masih berjarak 20 km tiu tiba-tiba terlihat didepan. Sayang, taksi yang membawanya tidak akan mungkin membawanya pulang secepat kilat meski dengan kecepatan penuh. Lagipula tidak akan ada taksi yang dipersilahkan melaju  dengan kecepatan berlebih.

 

”Pak..bisa lebih cepat !!” pinta Nari dengan amat sangat. Si supir hanya mengangguk lalu menambah sedikit kecepatannya dari 50 km/jam menjadi 80 km/jam. Setidaknya itu lebih baik.

 

Hah. Nari ingin menghantamkan kepalanya ke kaca jendela mengingat kejadian tadi. Tidak bisa dibayangkannya apa yang suaminya rsakan sekarang. Meski tadi suaminya nampak menanggapi santai, bukan meluapkan amarah seperti yang ditakutkan, tapi Nari tahu itu hanya kamuflase belaka. Justru yang seperti itu ia tidak akan bisa menebak bagaimana saat nanti ia berada di rumah, apa akan sesantai tadi atau mungkin semuanya meluap ?

 

”Sampai” si supir berseru yang membuat Nari keluar dengan cepat. Saking semangatnya, ia perlu mengerem larinya untuk stop sejenak dan memberikan beberapa lembar uang pada supir tersebut. Nari melangkah cepat tanpa perduli apakah uangnya tadi berlebih atau bahkan kurang. Hal pertama yang ia dapati adalah…sepi. Dengan pelan, ia berjalan menuju lebih dalam hingga ia menemukan sang suami tengah menenggak sebotol air dingin dari kulkas. Masih dengan segala rasa takutnya, Nari mendekat.

 

”Max….” panggilnya pelan. Max masih menikmati minumannya. Namun, ekor matanya melirik ke arah sang istri. Setelah satu botol besar itu bersih tak bersisa, Max melangkah menghindari tubuh Nari. Ia berhenti didepan meja makan membelakangi Nari.

 

”Kenapa cepat sekali ? sudah selesai ?” tanya Max dengan sinisnya. Nari mencoba lebih dekat dan memegang lengan suaminya.

 

”Maaf… tadinya aku memang ingin ke taman, tapi….aku berubah fikiran lalu… ” Nari bingung harus bicara bagaimana. Penjelasan macam apa yang pantas dan bisa membuatnya dimaafkan, ia bingung. Berbohong dengan berkata akan pergi ke taman pun ia sendiri tidak mengerti kenapa ia lakukan. Dengan lembut, Max melepas pegangan Nari. Ia tersenyum lemah.

 

”Aku hanya ingin tahu kenapa kau harus berbohong ? kalau kau ingin bertemu dengan pria itu, kau cukup berkata ingin ke rumahnya, itu kebohongan yang lebih baik bukan ?”

 

”Tapi bisa kupastikan tidak ada apa-apa diantara kami” sanggah Nari cepat. Max berbalik lagi lalu kedua tangannya bertumpu pada pinggiran meja makan.

 

”Apa Eunhyuk orangnya ?” sebuah pertanyaan yang membuat Nari tidak berkutik. Otak standarnya coba menepis bahwa suaminya bukan sudah benar menebak. Suaminya bukan bertanya tentang masalah mereka.

 

”Apa maksudmu ?” tanya Nari berat. Ia masih setia berdiri dibalik punggung suaminya. Ia tidak lagi berani mendekat dan berhadapan seperti tadi. Takut, takut kalau ia tidak akan bisa menjawab pertanyaan lain. Namun, justru suaminya yang perlahan berbalik. Mereka berhadapan sekarang dengan sedikit jarak. Tatapan Max mengintrogasi. Ia maju satu langkah hingga wajahnya begitu dekat dengan sang istri yang rupanya juga berani balik menatap matanya, meski…nampak ada ketakutan besar disana.

 

”Otakku cukup bisa untuk menebak ini meski aku baru melihat satu bukti. Meskipun apa yang terjadi hari ini belum bisa dikatakan bukti akurat, setidaknya..itu membuktikan ada yang salah padamu,” ucap Max datar dan masih fokus pada mata hitam Nari. Lalu tanpa disangka kedua tangan kekarnya memegang bahu Nari kuat, bahkan itu cenderung disebut cengkraman.

 

”Max….aku dan Eunhyuk tidak ada apa-apa,” bela Nari meski rautnya tidak bicara sesuai apa yang ia katakan..

 

”Kalau begitu kau ada apa-apa dengan seorang pria diluar sana.”

 

”Apa yang kau bicarakan ? ”

 

”Kesabaranku sudah hampir habis. Dan berhenti menghindar !! kau masih memikirkan seseorang ? hatimu tersangkut ditempat lain ? alasan tidak siap hanya karangan? Kata siap saat itu hanya ucapan terpaksa ? ” tanya Max beruntun dengan cepat tapi masih dengan nada pelan. Kemarahan yang sudah diantisipasi oleh Nari mungkin masih bisa ditahan. Jika boleh, ia ingin mengangguk yakin dan berkata dengan lantangnya ”IYA”. Tapi itu…tindakan bodoh lain. Nari hanya diam. Matanya mencoba tetap kuat untuk terus bertatapan dengan sang suami.

 

”Tolong………….tolong katakan padaku. Tolong berbagi padaku. Tolong !!!” pinta Max dengan nada berubah lirih dan perlahan ia menunduk, cengkramannya di bahu Nari mengendur. Max………..menangis?. Setitik air mata akhirnya jatuh juga membasahi pipi Nari. Ia mencoba sedikit merunduk untuk melihat wajah suaminya. Ini..seperti bukan suaminya yang ia kenal kuat, tegar. Air mata terakhir yang ia lihat dari suaminya adalah saat mendengar vonis dokter kala itu. Fakta menyakitkan 6 tahun lalu sudah ia pendam lama dan tidak ada hal lain yang akan memicu suaminya selemah ini. Nari merasa bersalah.

 

 

***

 

Sekarang, sepasang suami istri yaitu Nari dan Max sudah duduk di atas pembaringan dengan posisi senyaman mungkin. Sore tadi setelah permintaan dari Max, Nari masih mencoba menghindar dengan berkata tidak ada yang perlu dibagi, ini murni kebodohannya. Tapi Max mengotot, untuk mendengar cerita dari Nari. Ia sebagai pria normal yang belum mendapat perlakuan benar dari istri, tentu sangat ingin tahu apa yang mengganjal dihati Nari. Dan tentu sikap sabarnya selama ini sudah berlebihan, atau mungkin ada museum rekor untuknya sebagai suami tersabar si Korea ?

 

Max duduk bersandar pada bantal dipunggungnya dengan satu kaki lurus kedepan, sedang satu kaki lagi ditekuk. Tangan kirinya yang menganggur sejak 10 menit tadi mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja yang terdapat di samping tempat tidurnya. Nari pun tidak jauh berbeda. Namun, kedua kakinya lurus, sedang kedua tangannya mencengkram kuat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

 

Sejak 10 menit mereka diam dalam posisi seperti situ. Ini sudah pukul 9 malam, lampu yang tergantung di atas sudah dimatikan dan penerangan satu-satunya hanya berasal dari lampu meja yang terdapat di samping Nari. Nari masih mencari-cari alasan lain untuk menghindari pertanyaan suaminya tadi tentang apakah ada orang lain dihatinya ? kalaupun ia harus berkata iya, tentu tetap ada alasan dan cerita yang benar. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.

 

”Aku…….apa yang harus aku ceritakan ?” tanya Nari memulai pembicaraan.

 

”Siapa dia ? aku mengenalnya?” tanya Max balik tanpa menjawab pertanyaan tadi. Sulit bagi Nari untuk lari lagi. Meski ia tidak tahu apa yang akan ia ceritakan itu tindakan benar atau salah, ia mencoba untuk jujur. Dengan menarik nafas berat, ia kembali membuka mulut.

 

”Kau mengenalnya, bahkan sangat. Aku bertemu dengannya di Bali, sebelum bertemu denganmu. Saat itu……………” Nari menggantung ceritanya karena seketika itu pula kilasan kejadian-kejadian lucu dan konyol itu berputar didepannya.

 

’’Pagi itu..aku berniat keluar untuk melakukan rutinitas, membuang sampah. Saat aku membuka pintu, sesuatu menimpa kakiku. Aku menemukan seorang pria dengan luka dikakinya. Aku fikir dia mayat korban perampokan, tapi Ryan meyakinkan jika dia masih bernafas.” Nari kembali menghentikan cerita. Ia menoleh ke arah suaminya yang tidak memperlihatkan tanda-tanda akan menanggapi.

 

”Lanjutkan ! ” perintah Max tegas.

 

”Ia tidak sadarkan diri selama satu hari. Dan aku tidak mengenalinya meski ibu dan Ryan berkali-kali bertanya bagaimana mungkin aku tidak tahu siapa dia ? ya…saat ia memperkenalkan diri barulah aku sadar. Dia…..” Nari lagi-lagi berhenti. Perlu jeda cukup lama untuk menyebut nama itu. Nama yang mungkin sudah diperkirakan suaminya.

 

”Dia..Lee Hyuk jae”

 

 

TBC

 

 

5 thoughts on “Destiny Part 5

  1. agak sebel nih sama nari,,,, kok dia gitu bgt sih sama changmin sikap kan kasian changmin y udah setia gitu n cinta mati walaupun setelah ngelihat nari ma hyuk tetep ja ngak marah n ngamuk kyk yg q bayangin malahan begitu reaksi changmin y… kuang pa coba klo gitu….
    beneran deh q bener2 geregetan ma Nari masi ja mikirin hyuk n masi mau ada banyak2 moment ma hyuk….
    Lamjut makin seru….

    • Haloha ! Makasih ya kamu udh mampir ke misskyusuieworld dan baca plus komen ff ini sampai tamat. Pagi2 senyum2 baca komenmu,hehe. Kalo mau, baca special chapternya, minho’s story dan sekuel diblog pribadi saya. *bow*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s