Twins Part 5


Title: TWINS

Main Cast:

–          Kim Jaejoong

–          Shim Changmin

–          Jung Yunho

Rating: PG13-NC17 / STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri

A/N: Mian klo tambah aneh >.<

DISCLAIMER: FF ini murni buatan author sendiri tanpa menjiplak dari FF di blog mana pun. Kalaupun ada kesamaan itu hanya kebetulan semata. FF ini hanya khayalan author.

DON’T LIKE? SO DON’T READ AND DON’T BASH MY FF!!!

Part sebelumnya bisa di cari di sini

Happy Reading : )

AUTHOR POV

Hee Young kini sering menghampiri Jaejoong di sekolah jika sedang beristirahat. Di luar sekolah ia pun suka mengajak Jaejoong jalan-jalan keluar. Hee Young benar-benar berusaha agar ia bisa mencintai namjachingunya.

Ia berjalan ke café tempat ia akan bertemu Jaejoong. Kali ini namja itu yang mengajaknya keluar jalan-jalan. Sampai di café Hee Young mencari namjachingunya dan melihat Jaejoong tengah di kerumuni oleh beberapa yeoja yang sepertinya pengunjung di sana. Ia mengepalkan tangannya melihat itu semua. Cukup lama Hee Young melihat Jaejoong dengan para yeoja itu. Kesal karena yeoja-yeoja itu terus berada di dekat namjanya, Hee Young pun melangkah mendekati Jaejoong.

Hee Young memukul meja membuat para yeoja itu terdiam dan menatapnya aneh. Ia menatap Jaejoong tajam.

“Kau sudah datang. Ayo pergi.” Ucap Jaejoong pada Hee Young sambil menggenggam tangan yeoja itu tapi Hee Young menepisnya.

Hee Young melempar tas kecil yang ada di tangannya pada Jaejoong lalu pergi meninggalkan namja itu. Ia tak mempedulikan teriakan yang berasal dari namja itu. Hee Young menggerutu dalam hati selama berjalan. Langkahnya tiba-tiba terhenti karena seseorang menahan lengannya. Jaejoong. Namja itu menahan tangannya dan kini berdiri di hadapannya. Jaejoong menatapnya.

“Kau kenapa?” Tanya Jaejoong.

“Kau masih bertanya kenapa?” Tanya Hee Young lalu kembali meninggalkan Jaejoong. Jaejoong mengikutinya dan kembali menahannya.

“Kau cemburu?” Tebak Jaejoong. Hee Young menghela nafas lalu menatap Jaejoong.

“Ne, aku cemburu. Siapa yang tidak cemburu melihat namjachingumu sendiri di kerumuni oleh para yeoja. Sepertinya kau menikmatinya tadi, buktinya kau diam saja saat yeoja-yeoja itu menggodamu.” Ucap Hee Young kesal.

“Ah atau kau memang sengaja mengajakku bertemu di café untuk memperlihatkan hal menjijikan tadi?” Tambah Hee Young. Mendengar ucapan Hee Young membuat Jaejoong reflek tersenyum senang karena ini kali pertama ia melihat Hee Young cemburu.

Senyuman Jaejoong membuat Hee Young kesal dan salah paham. Ia menganggap senyuman itu sebagai ledekan karena ia cemburu pada namja itu.

“Kenapa tersenyum? Kau meledekku karena aku cemburu padamu? Baiklah memang kurasa cemburuku ini konyol.” Ucap Hee Young dengan air mata tergenang di matanya yang siap membasahi pipinya.

“Anni, kau salah paham.” Hee Young tak mempedulikan ucapan Jaejoong. Ia kembali berjalan dan saat melihat taksi Hee Young langsung naik taksi dan menyuruh supir untuk segera pergi.

Selama perjalanan Hee Young sadar kalau akhirnya ia bisa mencintai Jaejoong, ia sempat tersenyum tapi tak lama senyumannya hilang. Hee Young memegang dadanya.

‘Ternyata rasa sakitnya seperti ini.’ Batinnya.

Sementara itu Jaejoong berdecak kesal sambil menatap taksi yang membawa Hee Young pergi. Tak lama ia berlari menuju mobilnya untuk pergi ke rumah Hee Young, ia berpikir mungkin yeoja itu akan pulang ke rumah.

Saat menuju rumah Hee Young, Jaejoong berusaha menelepon yeojachingunya itu tapi sayang Hee Young tak mengangkatnya. Hal itu membuat Jaejoong menghela nafas. Sampai di rumah Hee Young, ia langsung keluar dan melihat yeojanya akan masuk ke dalam. Jaejoong lari mendekati yeojanya dan menahan yeoja itu agar tidak masuk. Di balikkannya tubuh Hee Young agar menghadapnya. Mata yeoja itu sembab.

“Lepaskan!” Hee Young berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jaejoong tapi namja itu tetap menggenggam tangannya.

“Kita bicara. Kau harus mendengarkan penjelasanku dulu.” Ucap Jaejoong tegas. Ia menarik Hee Young pergi ke taman yang ada di dekat rumah yeoja itu.

Di taman, Hee Young duduk berjauhan dari Jaejoong dan tak mau menatap namja itu. Jaejoong menatap yeojanya lalu menghela nafas pelan. Di dekatinya Hee Young dengan perlahan dan menggenggan tangan yeoja itu.

“Dengar kau benar-benar salahpaham tadi. Aku diam saja karena sudah bosan menyuruh yeoja-yeoja itu untuk pergi dan asal kau tahu sebelum kau datang tadi aku sudah berkali-kali ganti meja tapi mereka semua tetap tidak menyerah. Padahal sudah kubentak dan kumaki juga.” Jelas Jaejoong. Hee Young tetap diam tidak bergeming sedikitpun.

“Satu lagi. Aku tadi tersenyum bukan karena meledekmu tapi karena aku senang melihat kau cemburu padaku. Ini pertama kalinya aku melihat sisimu yang lain.” Ucap Jaejoong. Hee Young masih tetap diam dan tak mau menatap Jaejoong.

“Kumohon maafkan aku.” Hee Young masih diam. Tak lama Jaejoong teringat tas kecil yang tadi yeoja itu lempar padanya. Ia membukanya dan tersenyum. Tas itu berisi satu set lengkap peralatan melukis dari merek yang ia suka.

“Ini pasti untukku kan?” Tanyanya pada Hee Young. Yeoja itu meliriknya lalu mengambil tas dan alat melukis itu darinya. Jaejoong melihat yeojanya itu menatap bungkusan itu kesal dan melemparnya ke depan. Ia menatap Hee Young tak percaya lalu mengambil alat lukis itu. Saat ia akan kembali ia melihat yeoja itu pergi meninggalkannya. Langsung saja ia menahan yeojanya itu.

“Hei, jangan seperti ini. Kan sudah kujelaskan semuanya, kenapa kau masih marah?” Tanya Jaejoong. Hee Young menatapnya sendu bercampur kesal.

“Kau sama saja seperti namja lainnya. Brengsek dan suka mempermainkan wanita.” Ucap Hee Young dengan air mata kembali membasahi pipinya.

“Jangan bicara seperti itu. Kau tahu persis seperti apa diriku ini. Aku tidak mungkin menggoda wanita lain.” Ucap Jaejoong. Hee Young hanya diam.

“Lalu kenapa kau tidak pergi dari café itu dan menungguku di tempat lain? Asal kau tahu di sini terasa sangat sakit melihatmu dengan yeoja lain.” Hee Young memegang dadanya. Jaejoong menghela nafas dan diam.

“Aku tak tahu kata-kata apa yang bisa membuatmu mengerti. Begini saja, kau hukum aku dan aku akan menerima semua hukuman darimu. Kau perintah aku sesukamu, aku akan menurutinya. Lakukan semua yang bisa membuat hatimu senang. Kau bisa menghukumku selama satu bulan, bagaimana?” Ucap Jaejoong.

“Dasar kau namja licik yang menyebalkan! Baiklah aku akan menghukummu sangat berat karena sudah membuat hatiku sakit.” Ucap Hee Young lalu tak lama ia mencium Jaejoong.

Jaejoong cukup kaget saat tiba-tiba Hee Young menciumnya. Kini kedua tangan yeoja itu pun sudah melingkar di lehernya dan menekan tengkuknya sehingga membuat ciuman mereka itu menjadi semakin dalam. Perlahan Jaejoong pun membalas ciuman Hee Young  dan tangannya memeluk pinggang yeoja itu. Ia mencium yeojanya dengan lembut.

Setelah cukup lama berciuman akhirnya keduanya melepas ciuman mereka. Hee Young menatap Jaejoong tidak suka, ia mencubit lengan namja itu dan menggerutu kesal. Ia melepaskan kedua tangan Jaejoong yang masih memegang pinggangnya. Hee Young sedikit menjauhkan dirinya dari Jaejoong.

“Kenapa kau menjauh? Masih marah?” Tanya Jaejoong. Reflek Hee Young mengangguk.

“Aku masih kesal padamu. Kau menyebalkan.” Ucap Hee Young.

“YA! Kenapa kau masih marah? Lagipula ini kan bukan kesalahanku, seharusnya kau menyalahkan para yeoja genit dan aneh itu.” Ucap Jaejoong galak.

“Kau pikir aku suka mereka mengerumuniku seperti itu hah? Asal kau tahu aku…” Ucapan Jaejoong di potong oleh Hee Young.

“Saranghae, Joongie-a. Jeongmal saranghae.” Ucap Hee Young lalu pergi meninggalkan Jaejoong. Hee Young merasa wajahnya kini sudah sangat merah karena malu. Tak lama langkah Hee Young terhenti karena Jaejoong memeluknya dari belakang. Namja itu memeluknya sangat erat.

“Ucapkan sekali lagi. Aku ingin mendengarnya sekali lagi.” Pinta Jaejoong. Hatinya tersentuh dan senang oleh ucapan Hee Young tadi, ucapan yang mungkin sederhana namun sangat berati bagi Jaejoong karena yeojanya itu hanya pernah satu kali mengatakan hal itu. Jaejoong terus memeluk yeojanya sambil menunggu tapi yeoja itu tidak juga membuka suara.

“Kumohon katakan sekali lagi. Aku sangat ingin mendengarnya lagi.” Pinta Jaejoong lagi. Hee Young menggelengkan kepalanya.

“Sireo.” Tolak Hee Young.

“Ayolah, katakan lagi. Aku benar-benar ingin mendengarnya. Aku sudah lama tidak mendengar kata-kata itu darimu. Selama kita berpacaran kau hanya satu kali mengatakannya.” Ucap Jaejoong. Hati Hee Young merasa sangat bersalah saat mendengar ucapan Jaejoong, ia jadi kembali teringat kalau dulu ia sebenarnya tidak mencintai namja itu.

“Saranghae, Joongie-a.” Ucap Hee Young pada akhirnya. Mendengar itu membuat Jaejoong mempererat pelukannya pada Hee Young. Ia merasa sangat senang mendengarnya.

“Mianhae kalau selama ini aku jarang mengatakannya. Mulai sekarang aku berjanji kau akan sering mendengarnya.” Ucap Hee Young lagi.

“Gumawo. Nado saranghae Young-a.” Balas Jaejoong. Ia melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Hee Young agar berhadapan dengannya. Jaejoong mencium kening Hee Young lembut.

“Nah sekarang kita pergi. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Jaejoong menarik lengan Hee Young pergi dari taman itu.

“Mau kemana? Aku mau di rumah saja.” Ucap Hee Young.

“Jangan bawel!” Teriak Jaejoong. Hee Young hanya bisa berdecak kesal sambil terus mengikuti Jaejoong. Selama perjalanan pun Hee Young hanya diam tak banyak bicara.

Jaejoong melirik Hee Young lalu tersenyum tipis. Ia sudah menyiapkan kejutan untuk yeojachingunya itu. Jaejoong berharap kalau Hee Young akan menyukainya.

“Sudah sampai.” Ucap Jaejoong datar.

“Aku tahu.” Balas Hee Young dingin lalu keluar dari mobil tanpa mempedulikan Jaejoong. Ia menatap ke sekeliling dan hanya melihat sungai Han dan orang-orang yang berlalu lalang di pinggir sungai itu.

“Mau apa kau mengajakku ke sini? Aku sudah sering kemari.” Ucap Hee Young sedikit ketus.

“Ketus sekali kau. Ayo kita jalan-jalan.” Hee Young menghela nafas lalu mengikuti Jaejoong jalan-jalan di pinggir sungai Han. Ia sedikit kecewa karena ia berpikir namja itu akan mengajaknya pergi ke tempat yang sangat indah dan jarang ia kunjungi.

‘Kau sepertinya memang tidak akan pernah bisa menjadi namja yang sedikit romantis.’ Batin Hee Young.

Jaejoong menggenggam tangan Hee Young dan berjalan santai di pinggir sungai Han. Hee Young hanya mengikuti Jaejoong. Ia melihat tak begitu jauh di depannya ada sesuatu yang cukup besar dan di tutupi oleh tirai.

“Joongie, di depan itu akan ada acara ya?” Tanya Hee Young penasaran.

“Entahlah, mungkin iya.” Jawab Jaejoong asal.

—–

Chae Jin menatap Changmin dan Changsoo yang tengah mengobrol di taman. Ia perlahan semakin dekat dengan Changmin dan namja itu juga kini perlaham mulai terbuka dengannya. Yang membuat Chae Jin senang adalah saat namja itu mengajaknya jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan.

Ia berjalan mendekati kedua namja kembar itu dan duduk di sebelah Changmin. Changsoo tersenyum tipis padanya lalu berkutat dengan ponsel yang ada di tangan namja itu. Chae Jin menatap Changmin lalu tersenyum. Tak lama namja itu mengeluarkan buket bunga dan bergantian menatapnya dan Changsoo lalu buket bunga itu Changmin berikan pada Chae Jin.

“Saranghae, Chae Jin-a. Mianhae aku mengucapkannya dengan cara seperti ini. Aku namja yang tak begitu romantis. Maukah kau menjadi yeojachinguku?” Ucapan Changmin membuat Chae Jin kaget.

“Aku ingin kau menjadi saksi dan merestuiku.” Ucap Changsoo sambil menatap saudara kembarnya Changmin. Changmin menaruh ponselnya lalu kembali menatap Changsoo.

“Aku merestuimu.” Mendengar itu Changsoo menatap Chae Jin lalu tak lama yeoja itu mengangguk dan memeluknya erat.

“Nado saranghae, oppa.” Ucap Chae Jin senang. Ia memeluk namja yang ia kira Changmin itu dengan erat.

“Chukae. Aku juga ada kabar untuk kalian.” Ucapan itu membuat keduanya melepas pelukan mereka.

Changmin memberikan sebuah surat pada saudaranya Changsoo. Ia melirik sekilas Chae Jin yang kini berwajah bahagia. Walaupun hatinya sangat sakit tapi ia berusaha tersenyum dan menerima kalau yeoja yang ia cintai kini sudah jadi milik saudaranya Changsoo.

‘Semoga kalian bahagia.’

“Apa ini?” Tanya Changsoo dengan nada kaget dan tidak suka. Ia menatap saudara kembarnya.

“Itu surat lomba fotografiku dan Ji Young. Finalnya minggu depan. Sebenarnya menurut jadwal perlombaan akan berjalan cukup lama tapi entah mengapa berubah dan jadi berjalan secepat ini. Mianhae aku baru memberitahukannya padamu. Umma dan appa pun baru kuberitahu semalam.” Ucap Changmin.

“Kuharap kau mendukungku dan memaafkanku.” Tambah Changmin. Changsoo menatap saudaranya dalam diam sambil beberapa kali menghela nafas.

“Kenapa kau sembunyikan hobimu ini dariku?” Tanya Changsoo.

“Mianhae, aku hanya merasa aneh jika menceritakannya padamu ataupun umma dan appa. Karena di keluarga kita tak ada yang pernah menekuni hobi seperti ini.” Jawab Changmin.

“Baiklah, aku memaafkanmu dan mendukungmu.” Ucap Changsoo tersenyum. Changmin pun ikut tersenyum dan memeluk saudaranya itu.

“Chukae, oppa. Semoga kau dan Ji Young menang.” Ucap Chae Jin memberi selamat.

“Gumawo.”

Changsoo mulai bertanya-tanya tentang hobi Changmin yang baru ia ketahui itu. Changmin pun dengan senang hati menceritakannya.

“Ah sebaiknya aku membeli minuman di mini market itu dulu. Kalian tunggulah dulu.” Ucap Changmin lalu berlari ke mini market yang ada di dekat taman itu.

Changsoo menatap Changmin yang pergi membeli minuman itu lalu menatap Chae Jin lembut. Ia sangat senang bisa mendapatkan yeoja yang ia cintai itu. Jika ia di tanya sejak kapan ia mencintai Chae Jin, ia pun tak tahu jawabannya. Tak lama Changsoo mengalihkan pandangannya saat namanya di panggil.

“Changsoo hyung, mianhae menganggu. Apa kau tidak melihat Changmin hyung? Tadi aku ke rumah hyung dan kata orang rumah kalian sedang berada di taman.” Ucap Ji Young sambil terengah-engah.

“Oh, Hyung sedang membeli minuman di mini market itu. Tunggulah sebentar.” Jawab Changsoo ramah. Ji Young mengangguk dan berterima kasih lalu duduk.

Chae Jin yang mendengar itu terdiam cukup lama. Ia masih bingung dengan apa yang ia dengar tadi.

‘Kenapa Ji Young memanggil Changmin oppa dengan sebutan Changsoo? Ah mungkin dia salah bicara karena terburu-buru.’ Batin Chae Jin.

“Ji Young-a, aku baru mendengar kalau kau dan hyung ikut lomba.” Ucap Changsoo membuka obrolan. Reflek Ji Young mengangguk.

“Ne, yang tersisa hanya tinggal 5 dan minggu depan final.”

Tak lama Changmin datang dan cukup kaget dengan kedatangan Ji Young. Ia memberikan minum untuk mereka semua dan menanyakan kenapa namja itu ada di sini. Changmin duduk di samping Ji Young.

“Begini hyung tadi di rumah aku berpikiran kenapa kita tidak menyelesaikan semua foto kita untuk lomba final sekarang saja dan kita membuat beberapa foto tambahan.” Usul Ji Young.

“Foto tambahan?” Changmin tak mengerti dengan ucapan terakhir namja itu.

“Ne, untuk jaga-jaga saja. Kalau nanti saat penyerahan foto ada yang menyamai konsep/tema kita nanti dengan cepat bisa kita ganti. Kalau tidak salah ingat kita masih belum memakai satu kesempatan mengganti konsep/tema yang di berikan panitia kan?” Jelas Ji Young.

“Idemu boleh juga. Kalau begitu ayo sekarang kita lakukan tapi ke rumahku dulu ya. Aku tak membawa kameranya.” Ucap Changmin lalu berdiri. Ji Young mengangguk lalu ikut berdiri.

“Changmin oppa.” Panggil Chae Jin ingin memastikan. Ia berharap kalau namja yang duduk di sebelahnyalah yang menyahut tapi sayang namja yang berdirilah yang menyahutnya.

“Ne?” Changmin menatap Chae Jin dengan tersenyum.

Seketika itu juga Chae Jin merasa di sambar petir di siang hari. Hatinya entah kenapa tiba-tiba saja sakit dan terasa kosong. Ia terdiam cukup lama.

“Chae Jin-a?” Changmin dan Changsoo mengibas-ngibaskan tangan mereka di depan wajah yeoja itu. Chae Jin tersadar lalu berusaha bersikap biasa.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Changsoo. Chae Jin mengangguk.

“Changmin oppa, hwaiting. Semoga kau menang.” Ucap Chae Jin. Changmin tersenyum lembut padanya.

“Gumawo.”

“Oiya hyung, kalau menang lomba bagaimana dengan passport? Aku belum punya passport, hyung. Cara mengurusnya pun aku tidak mengerti.” Ucap Ji Young tiba-tiba. Changmin terkekeh pelan mendengarnya.

“Tidak usah khawatir. Nanti biar hyung yang mengurusnya dan mengobrol dengan orang tuamu.” Jawab Changmin. Obrolan Changmin dan Ji Young membuat Changsoo dan Chae Jin bingung.

“Passport? Untuk apa?” Tanya Changsoo bingung.

“Ah begini. Pemenangnya nanti selain mendapatkan hadiah uang tunai dan perlengkapan kamera juga akan mendapatkan beasiswa penuh untuk belajar di luar negeri.” Jawab Changmin. Jawabannya itu membuat saudaranya dan Chae Jin kaget.

“Jadi kalau kau menang kau akan pergi dari Korea?” Tanya Changsoo.

“Hei, aku ini hanya pergi untuk belajar.” Jawab Changmin.

“Aku pergi duluan ya. Kalian bersenang-senanglah hari ini, aku tak akan menganggu.” Ucap Changmin dengan hati sedih saat mengingat kembali kalau yeoja yang ia cintai sudah di miliki saudaranya. Ia pun pergi dengan Ji Young.

—-

Hee Young memeluk Jaejoong cukup lama di hadapan semua orang , ia memeluk namjanya itu sambil menangis. Hee Young tak peduli dengan tatapan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Namja itu berusaha melepaskan pelukannya tapi ia menahannya. Hee Young tak bisa mengontrol emosi dan tangisnya. Ia terus menangis.

“Jangan menangis terus. Lepaskan pelukanmu ini! Orang-orang menatap kita.” Ucap Jaejoong galak. Ia berusaha melepaskan pelukan yeojanya itu tapi Hee Young malah semakin erat memeluknya.

“Biarkan aku memelukmu  sebentar lagi, Joongie.” Pinta Hee Young. Jaejoong hanya bisa menghela nafas dan membiarkan Hee Young memeluknya. Ia membalas pelukan yeojanya itu.

Jaejoong membuat lukisan yang cukup besar untuk Hee Young. Lukisan yang belum pernah yeoja itu lihat sebelumnya. Di tempat itu Jaejoong memajang semua lukisan Hee Young yang sudah ia buat. Baik lukisan yang sudah pernah yeojanya lihat maupun yang belum pernah ia tunjukan.

Jaejoong sadar kalau ia bukanlah namja yang romantis tapi ia berusaha menjadi namja yang romantis hanya untuk Hee Young. Ia tak tahu apa usahanya ini bisa membuat yeojanya senang atau tidak.

“Gumawo, Joongie-a.” Ucap Hee Young.

“Kau suka?” Tanya Jaejoong pelan tapi Hee Young masih bisa mendengarnya.

“Ne, aku sangat menyukainya. Jadi lukisan yang waktu itu kau tutup dan melarangku membukanya yang itu?”

“Mmm.” Jawab Jaejoong singkat.

“Sangat indah. Bolehkah aku memilikinya, Joongie?”

“Tidak. Aku hanya berniat memperlihatkannya padamu. Lukisan yang satu itu akan kupajang di kamarku.” Jawab Jaejoong tegas. Ia langsung mendapat cubitan dari Hee Young.

Hee Young melepaskan pelukannya dan menatap Jaejoong kesal. Ia tak mempedulikan ringisan sakit dari namjanya itu.

“Aish sakit!” Bentak Jaejoong.

“Untuk apa kau menyimpaan lukisan dirimu sendiri? Itu sangat aneh.” Ucap Jaejoong galak. Hee Young menatap Jaejoong tak suka.

“Lalu untuk apa kau melukisku sebesar itu?”

“Tentu saja untuk kupajang di kamarku.” Jawab Jaejoong tetap galak. Hee Young menatap namjanya dengan wajah tak percaya.

“Kenapa di pajang di kamarmu?” Tanya Hee Young. Jaejoong yang sadar akan ucapannya itu langsung berbalik dan pergi meninggalkan yeojanya. Ia berjalan menghampiri orang-orang suruhannya yang membawa semua lukisan dari apartemennya. Hee Young berlari menghampiri Jaejoong saat tahu maksud ucapan namja itu. Ia memeluk lengan Jaejoong dengan erat sambil tersenyum bahagia.

“Kalian bawa kembali semua lukisa ini ke tempat asal. Jangan sampai ada yang cacat. Hati-hati membawanya.” Ucap Jaejoong memberi perintah pada orang suruhannya. Hee Young menatap Jaejoong kecewa. Ia masih ingin melihat lukisan itu bersama namjanya.

“Jangan dulu di bawa, Joongie.” Pinta Hee Young manja. Jaejoong menatap yeoja di sampingnya.

‘Wae?’ Batin Jaejoong.

“Aku kan masih ingin melihatnya denganmu. Ya? Sebentar lagi saja.” Ucap Hee Young lalu menarik lengan namjanya.

Hee Young dan Jaejoong melihat-lihat lukisan yang Jaejoong buat. Setiap kali melihat lukisan, Jaejoong selalu menatap wajah Hee Young yang terlihat bahagia. Hal itu membuatnya senang. Ia merasa tak sia-sia ia melakukan hal ini untuk yeojachingunya. Saat ia dan Hee Young tengah menatap lukisan terakhir, ia melihat wajah yeoja itu sedikit berubah dan terlihat agak sedih. Jaejoong menarik dagu Hee Young agar menatapnya.

‘Wae? Ada yang salah dengan lukisanku?’

“Anni, hanya saja kenapa semuanya lukisanku? Kenapa tidak ada lukisanku denganmu? Hanya aku seorang diri.” Ucap Hee Young sedikit kecewa. Ia memeluk lengan Jaejoong. Jaejoong tersenyum tipis mendengarnya.

“Aku ingin lukisanku denganmu, Joongie.” Pinta Hee Young.

“Bagaimana kalau kita foto berdua saja nanti?” Usul Jaejoong. Hee Young menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. Karena kesal Hee Young menarik tangan Jaejoong pergi dari tempat itu. Jaejoong dengan cepat memberi tanda pada orang suruhannya agar semua lukisan di bawa kembali. Ia mengikuti Hee Young tanpa berkata apapun tentang lukisan.

“Kita ke apartemenku saja ya?” Tanya Jaejoong sambil tetap fokus mengemudi.

“Ne.” Jawab Hee Young singkat.

Sampai di apartemen, Jaejoong dan Hee Young duduk di sofa sambil mengobrol santai. Jaejoong menatap Hee Young yang sejak tadi memainkan rambutnya. Yeoja itu tak mempedulikan tatapannya dan terus memainkan rambutnya dengan lembut.

“Kau kecewa?” Tanya Jaejoong. Hee Young menggelengkan kepalanya.

“Setelah kupikir-pikir mungkin tadi aku hanya sedikit egois karena ingin melihat lukisanku bersamamu. Lagi pula aku sadar melukis itu bukan hal yang mudah. Maafkan aku, Joongie.” Ucap Hee Young sambil mencium pipi Jaejoong. Setelah itu seperti biasa wajah Hee Young  memerah, bukannya berhenti ia malah mencium bibir namjanya sekilas lalu membenamkan wajah di dada bidang Jaejoong. Jaejoong tersenyum lalu mencium puncak kepala Hee Young dan memeluknya.

‘Kau sangat manis.’

Hee Young sedikit mendongakan kepalanya untuk menatap namjachingunya. Ia tersenyum lembut membuat hati Jaejoong makin terasa hangat. Jaejoong memegang tengkuk yeoja itu lalu mencium Hee Young dengan lembut. Tak lama keduanya melepaskan ciuman mereka lalu bertatapan dengan lembut dan dalam. Hee Young naik ke pangkuan Jaejoong lalu mengalungkan tangannya di leher namja itu.

“Apa yang mau kau lakukan?” Tanya Jaejoong dengan nada suara yang cukup keras. Menyadari hal itu Jaejoong langsung merutuki dirinya sendiri.

“Mian. Aku belum bisa merubah sikapku yang buruk ini.” Ucap Jaejoong menyesal. Hee Young tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

“Gwenchana, Joongie. Kau tak perlu merubah apapun yang ada di dalam dirimu karena aku mencintaimu apa adanya. Lagipula terkadang aku menyukai kebiasaanmu itu.” Mendengar ucapan terakhir Hee Young membuat Jaejoong mengerutkan dahinya.

“Kau menyukai semua kebiasaanku itu?” Hee Young dengan cepat mengangguk.

“Karena aku tahu kalau kau mencintaiku. Di balik semua sikapmu itu kau sangat perhatian padaku. Itulah yang membuatku sangat menyayangimu.” Ucap Hee Young jujur. Ia melihat Jaejoong terus menatapnya.

“Aku sangat menyayangimu, Joongie.” Ucapnya lagi lalu mencium Jaejoong sekilas dan memeluknya erat.

“Nado, aku juga menyayangi dan mencintaimu, Young-a.” Jaejoong membalas pelukan yeojanya. Perlahan Hee Young melonggarkan pelukannya ia mulai mencium leher namjanya dengan lembut. Jaejoong sedikit tersentak dengan perlakuan Hee Young yang tiba-tiba padanya itu. Ia berusaha menahan desahannya tapi itu tak bertahan lama karena kini Jaejoong mulai mendesah. Ia juga merasakan nafasnya semakin berat. Yang Jaejoong lakukan hanyalah mengelus pinggang serta pinggul yeojanya.

Puas mencium leher Jaejoong, Hee Young pun perlahan melepaskan ciumannya dan menatap namjanya. Ia tersenyum malu lalu menundukkan kepalanya, tangannya memainkan kaos yang Jaejoong pakai.

“Mian.” Ucapnya pelan. Ia mendongakan kepalanya saat merasa Jaejoong mencium keningnya.

“Jangan meminta maaf.”

“Mmm jadi bolehkah aku bermanjaan padamu? Walaupun mmm sedikit berlebihan seperti tadi?” Tanya Hee Young ragu-ragu.

“Tentu saja boleh.” Jawab Jaejoong. Hee Young tersenyum senang.

Tak lama Jaejoong menyuruh Hee Young untuk duduk sementara ia pergi ke ruang lukisnya. Cukup lama ia berada di ruangan itu hingga Hee Young beberapa kali berteriak memanggilnya. Jaejoong tersenyum sesaat lalu keluar menghampiri yeojachingunya. Tanpa berkata apa-apa Jaejoong menutup mata Hee Young dengan kain lalu menuntunnya ke ruang lukisnya tadi. Yeoja itu menggenggam tangannya dengan sangat erat.

“Mau kemana? Jangan tutup mataku seperti ini. Aku takut, Joongie.” Ucap Hee Young. Jaejoong menjawabnya dengan mengelus pipi yeoja itu.

Sampai di ruang lukisnya Jaejoong membuka penutup mata Hee Young. Jantungnya berdetak cepat karena gugup dan takut akan reaksi Hee Young yang tidak suka dengan apa yang ia lakukan. Ia menatap Hee Young yang sejak tadi hanya diam melihat apa yang ada  didepannya.

“Ehem eeh bagaimana? Kau suka atau tidak?” Tanyanya dengan nada gugup. Yeoja itu menengok kearahnya.

“Apa ini?” Jaejoong menghela nafas mendengar pertanyaan itu.

“Ini kejutan.” Jawab Jaejoong malas.

“Maksudku kenapa kau membuat kejutan lagi untukku? Dan itu apa benar itu lukisanku denganmu?”

“Kejutan yang tadi sebenarnya hanya kejutan pembuka dan ini kejutan inti yang aku persiapkan sendiri.” Jawab Jaejoong sambil menatap ke sekelillingnya.

“Tadinya aku tak mau memperlihatkan lukisan yang baru kubuat beberapa hari yang lalu itu. Menurutku lukisan itu jelek sekali. Ini pertama kalinya aku membuat lukisan yang dimana aku ada di dalamnya.” Tambah Jaejoong. Hee Young mencium pipi Jaejoong membuat Jaejoong menoleh ke arah yeojanya. Yeoja itu terlihat menangis terharu.

“Gumawo. Aku suka sekali lukisan ini. Lukisan yang sangat indah jadi jangan menyebutnya jelek. Aku menyayangimu, Joongie.” Ucap Hee Young.

“Nado. Syukurlah kau suka.” Ucap Jaejoong berusaha tenang dan santai. Hatinya sangat senang mendengar yeoja itu menyukai apa yang ia siapkan. Ia melirik yeojanya kini tengah berjalan mengelilingi ruangan yang penuh dengan lilin dan bunga.

—–

Di kha mengerutkan keningnya saat melihat Yunho berada di sebuah café. Namja itu tengah mengobrol bersama teman-temannya. Di Kha menggelengkan kepalanya sambil berdecak.

“Sudah saatnya kerja part time malah ke café bukannya ke tempat kerja. Dasar.” Di Kha berjalan mendekati namja itu.

“Ya! Yunho-a, kenapa kau malah di sini? Sudah saatnya kerja part time.” Omel Di Kha. Di Kha melihat namja di depannya itu menatapnya heran.

“Ne?” Ucap namja itu padanya bingung. Di Kha memegang kening Yunho.

“Yunho-a kau salah minum obat ya?” Ucapan Di Kha membuat namja di depannya terkekeh.

“Kau salah orang nona. Dia itu YunHyun, saudara kembar Yunho. Kau temannya? Duduklah dulu, kau sepertinya terkejut.” Ucap Yuchun. Di Kha menatap namja yang mirip dengan Yunho itu.

“Kau berbeda, kau bukan Yunho. Yunho tidak mempunyai mata sepertimu.” Ucapan Di kha membuat YunHyun, YuHwan dan Yuchun sedikit tersentak.

“Kau mirip sekali dengan hoobae kami di sekolah. Bisa dengan cepat membedakan anak kembar seperti kami.” Ucap Yuchun. YuHwan pun mengangguk setuju dengan ucapan saudaranya.

“Namanya Jin Hee Young.” Mendengar nama itu sontak membuat Di Kha tersentak. Para namja di depannya menyebutkan nama sepupu dekatnya.

Di Kha terdiam cukup lama, ia masih bingung dengan semuanya.

“Boleh kutanya sesuatu?” Tanya Di Kha. YunHyun mengangguk.

“Apa Yunho bersekolah di sekolah yang sama dengan Hee Young?” Tanyanya.

“Ne, tentu saja. Bahkan kami sempat mengerjai Hee Young. Kami berhenti mengerjai yeoja itu karena Hee Young berpacaran dengan sahabat kami.” Jawab YuHwan.

“Kalau boleh tahu siapa otak dari semua itu?”

“Tentu saja Yunho.” Jawab YuHwan spontan. Mendengar itu membuat Di Kha meremas tangannya. Ia merasa sangat di bohongi oleh Yunho. Di Kha sangat emosi dan kesal saat ini. Pikirannya pun kacau.

“Kalau boleh tahu kau kenal dengan yeoja bernama Hee Young?” Tanya YunHyun penasaran.

“Aku sepupu dekatnya. Terima kasih sudah membertahukanku semuanya. Permisi.” Di kha langsung pergi meninggalkan ketiga namja itu. Saat berada di depan pintu café langkahnya terhenti karena melihat Yunho. Di Kha menghela nafas pelan lalu kembali berjalan, ia tak mempedulikan Yunho tapi namja itu menahan tangannya.

“Mau kemana? Aku ikut ya.” Ucap Yunho. Di Kha menatap Yunho dengan penuh emosi. Ia melepaskan tangan namja itu.

“Bukan urusanmu. Kau pergilah ketempat saudara KEMBARMU berada. Jangan pernah kau mendekatiku lagi, pembohong.” Di Kha pun pergi meninggalkan Yunho.

Yunho kaget dengan ucapan Di Kha. Ia menoleh saat seseorang menepuk bahunya. Saudara kembarnya menceritakan semua yang terjadi.

“Maafkan aku, aku tidak tahu kalau yeoja itu yeoja yang pernah kau ceritakan dulu.” Ucap YunHyun menyesal. Yunho menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa. Toh semuanya tidak bisa kututupi selamanya kan? Aku sudah banyak membohonginya. Mulai dari statusku sampai tentang aku yang merupakan otak dari bully sepupunya. Harusnya sudah sejak lama aku mengakui semuanya tapi aku terlalu takut.” Ucap Yunho lemas. Keduanya terdiam cukup lama.

“Ngomong-ngomong kau sudah mengerti tentang perasaanmu sekarang?” Yunhyun menatap Yunho yang kini memegang dadanya.

“Hyung, apa omongan kami pada yeoja itu salah? Mianhae.” Ucap Yuhwan sambil menghampiri Yunho.

“Tidak mau mengejarnya? Hmmm berarti kau memang tidak mencintainya. Mungkin perasaanmu itu hanya sebagai teman saja.” Ucap Yunhyun. Sontak Yunho menatapnya lalu sedetik kemudian Yunho berlari keluar untuk mengejar Di Kha. Yunhyun hanya menggelengkan kepalanya melihat Yunho.

“Aku tak habis pikir, kenapa otakmu berjalan begitu lambat? Ingin sekali aku memperbaikinya.” Gumam Yunhyun.

“Yunho hyung marah ya?” Tanya Yuhwan.

“Anni.” Jawab Yunhyun. Ia menarik Yuchun dan Yuhwan keluar cafe, ia hanya berharap saudaranya bisa mendapatkan cintanya.

Sementara itu Yunho kini tengah berlari ke café tempatnya bekerja. Ia berharap yeoja itu ada di sana. Yunho berhenti saat sampai di depan café, ia mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah.

Perlahan Yunho masuk ke dalam café dan mencari Di Kha. Ia melihat ke sekeliling café tapi tak menemukan yeoja itu. Yunho tersenyum lega saat melihat yeoja itu ada di ruang pegawai. Ia mendekati Di Kha tapi dengan cepat yeoja itu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun padanya.

“Di Kha-a, mianhae.” Ucap Yunho membuat Di Kha berhenti melangkah beberapa detik. Hati Di Kha sudah terlalu sakit dengan kebohongan  yang Yunho lakukan. Di Kha meninggalkan Yunho sendirian di ruangan itu. Ia tak peduli dengan namja itu.

Selama bekerja Di Kha tak pernah mengeluarkan suara sedikitpun jika Yunho mengajaknya bicara. Yang ia lakukan hanya diam dan tak mempedulikan namja itu.

—-

Changmin duduk seorang diri di pinggir sungai Han. Ia menatap kosong sungai di depannya yang kini terlihat sangat cantik karena di hiasi lampu warna-warni. Malam yang dingin tak membuat Changmin beranjak dari tempat ia duduk. Ia sudah berada di tempat itu sekitar 2 jam yang lalu. Yang dilakukannya hanyalah menatap ke depan sambil beberapa kali menghela nafas panjang.

“Kuharap aku bisa menang lomba itu.” Gumam Changmin.

‘Sehingga aku bisa belajar melupakanmu dan menghapus namamu dari hatiku.’

Changmin mengalihkan pandangannya saat mendengar bunyi ponselnya. Ummanya menelepon membuat Changmin mau tak mau mengangkat telepon itu. Ummanya menyuruhnya untuk cepat pulang karena hari sudah hampir larut malam. Changmin mengiyakan lalu setelah sambungan telepon itu terputus ia pun langsung pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah Changmin melihat Chae Jin ada di rumahnya tengah mengobrol dengan ummanya. Ia mengerutkan dahinya saat mengingat hari sudah malam untuk seorang yeoja berkunjung ke rumah namjachingunya. Changmin tak sadar kalau ia sejak datang teruus menatap Chae Jin.

“Changmin-a, kenapa kau pulang malam sekali? Kau membuat umma cemas.” Tanya Ummanya. Changmin tersentak lalu menghampiri ummanya. Ia mencium pipi ummanya lalu meminta maaf karena pulang terlambat.

“Annyeong oppa.” Sapa Chae Jin.. Changmin membalasnya dengan tersenyum.

“Chae Jin tadi sempat pingsan. Mungkin karena terlalu lelah.” Ucap ummanya. Changmin hanya mengangguk mengerti. Ia sempat melirik yeoja itu yang tengah bersandar di bahu Changsoo.

“Aku ke kamar dulu.” Ucap Changmin. Ia berjalan ke lantai 2 di mana kamarnya berada. Saat akan masuk ke kamar langkahnya terhenti oleh suara dari appa-nya. Changmin menoleh dan melihat wajah appanya sangat serius.

“Bisa kita bicara di ruang kerja appa sekarang, nak?”

“Tentu.” Keduanya pun berjalan ke ruang kerja yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Di ruang kerja terjadi keheningan cukup lama. Hal itu membuat Changmin merasa sedikit heran dan tidak nyaman. Ia tak mengerti arti tatapan appa padanya.

“Ada apa, appa?” Tanya Changmin. Ia melihat appa-nya menghela nafas.

“Kau menyukai kekasih saudaramu?” Tanya appa-nya. Changmin sedikit tersentak lalu tak lama tersenyum.

“Bagaimana appa tahu?”

“Tatapanmu pada yeoja itu berbeda.” Jawab appa-nya serius. Changmin menghela nafas panjang.

“Ne, aku menyukainya appa.” Ucap Changmin. Ia mulai menceritakan semuanya pada appanya itu. Changmin memutuskan untuk menceritakannya agar appanya tak salah paham dan mengerti. Kini tak ada yang ia tutupi dari appa-nya. Keheninggan kembali terjadi di ruangan itu.

“Appa tak usah khawatir, aku tak akan merebutnya dari Changsoo. Aku tak mau persaudaraan hancur karena memperebutkan seorang yeoja.” Mendengar ucapan Changmin membuat appanya bernapas lega. Di sisi lain appa Changmin merasa kasihan dengan anaknya itu.

“Lalu lomba itu apa kau …” Lagi-lagi Changmin memotong ucapan appa-nya.

“Aku mengikuti lomba itu karena memang aku ingin mengikutinya. Bukan karena yeoja itu. Aku sempat berpikir tadi saat di sungai Han. Jika aku menang mungkin ini memang jalanku untuk menekuni hobiku lebih dalam dan kurasa ada keuntungan yang kudapat. Di sana aku bisa belajar melupakannya dan fokus dengan hobiku. Appa tak usah cemas, aku tak akan merebutnya.” Ucap Changmin sambil tersenyum. Appa-nya berdiri dan memeluknya.

“Appa sangat berterima kasih padamu, nak. Appa tak mau keluarga kita hancur hanya karena hal ini.”

“Ne, aku tahu appa. Tenanglah. Appa juga perlu tahu kalau aku bukan namja cengeng.” Appa-nya terkekeh mendengar ucapan terakhirnya.

“Kau ternyata sudah besar. Selama ini appa beranggapan kalau kau dan saudaramu masih anak kecil yang cengeng.” Changmin menghela nafas sebal.

“Ah iya appa teringat sesuatu. Jika kau menang lomba kau tetap harus memperhatikan sekolahmu. Appa tak mau mendengar sekolahmu terbengkalai hanya karena fotografi. Pintar-pintarlah membagi waktu. Ingat itu.” Ucap appa Changmin memperingatkan.

“Siap.” Jawab Changmin sambil memberi hormat. Keduanya tersenyum penuh kasih sayang. Sebenarnya hati appa Changmin tak tega melihat Changmin seperti ini tapi ia tak tahu harus berbuat apa. Ia tahu kalau Changmin sangat menyayangi yeoja itu dan akan sangat sulit bagi anaknya itu untuk melupakan Chae Jin. Hal itu dapat ia lihat dari mata anaknya.

“Jangan katakan apa yang kudengar itu benar?” Changmin dan appa-nya menoleh ke sumber suara. Sontak Changmin membelalakan matanya saat melihat umma-nya di depan pintu. Umma Changmin masuk dengan tetap menatap kedua namja di depannya.

“Umma dengarkan dulu.” Ucap Changmin pelan.

“Jadi apa yang umma dengar itu benar?”  Tanya umma Changmin sekali lagi. Changmin dengan lemas mengangguk membenarkan. Melihat jawaban Changmin membuat umma Changmin reflek memeluk anaknya itu.

“Kita harus memberitahukan hal ini pada Changsoo.” Ucapan umma-nya membuat Changmin melepaskan pelukan umma-nya. Ia menatap yeoja di depannya lekat.

“Jangan pernah umma melakukan itu. Untuk apa umma melakukannya? Mereka saling mencintai.” Ucap Changmin. Umma Changmin terdiam.

“Lalu apa yang harus umma dan appa lakukan? Hanya diam saja?” Tanya umma Changmin sambil bergantian menatap suami dan anaknya. Changmin menghela nafas pelan.

“Umma biarkan mereka bahagia. Aku tak mau merusak kebahagiaan saudaraku. Aku yakin nanti aku akan mendapatkan yeoja lain yang sangat kucintai. Aku tak mau lagi membahasnya. Aku mau istirahat. Permisi.” Changmin berjalan keluar ruang kerja menuju kamarnya.

 

TBC

pengen baca lanjutannya?silahkan komen dan stop jadi orang *****K alias Silent Reader (mian tapi saya emosi liat Silent Reader yang makin g tau diri)

terima kasih

20 thoughts on “Twins Part 5

  1. jedeerrr!.. akhirnya kebongkar. chaejin itu sebenernya pasti cintanya sma changmin. changmin nya aja yg salah paham..

    suka bgt sama jae-young couple. so sweet bgt.. tpi kenapa yeojanya yg agresif yaa -_-

    yunho susah bgt sih sadarnya klo cinta sma di kha.. kayanya kisah cinta yunho paling ribet dh..

    diantara tiga kisah cintanya aku paling suka sma jaejoong heeyoung. so sweet xD

    like this thor..
    next ditunggu yaa~^^

  2. huwaaaaaaaaa >,< lega banget akhirnya hee young suka sama uri joongie!
    jaejae so sweet banget! mau berubah demi hee young🙂
    hm,tapi di kha bisa maafin yunho gak ya????
    si changmin juga,sebenarnya yang chae jin suka itu changmin apa changsoo?

    hhhh,keep writing author^^

  3. ahhhhhhn..percintaan changmin n yunho lg dlm masalah cuma jaejoong ja yg lagi bahagia2 y krn hee young udah sadar n cinta ma dia n tu bikin seneng tapi pas baca ke sini jadi sedih liat yunho yg ketawan akhir y semua y lewat omongan temen2 y ke dhika nukan dari yunho,,,,, n yg bikin nyesek changsoo y nyataim cinta y ke chae jin n sampe chae jin sadar klo yg dia terima cinta y bukan changmin tapi changsoo n ortu y changmin juga dah tau deh anak y cinta ma cwe yg sama,,,, cuma tinghal changsoo yg blm tau…..
    makin megang nih masalah y,,,, p jaejoong nanti bakalada konflik yg besar kah????
    Lanjut…..

  4. huuu onnie twga deh ngasih tau aqu klo ni epep udh lnjut *tabok onnie :p

    wew si heeyoung, ngapa jdi bringas (?) gtu ma jj /plak jdi seagresif si chaejin yg di my boy *diteplak onnie tp sweet bgt deh si youngjae bkin envy gymna gtu XP
    akhirnya heeyoung bneran cinta ma si jj, romantisan mlu lgi beda bgt ma nasib chaemin😦
    ukkh si onnie tega bgt deh bkin chaejin merana, krna dya slh mngira changmin ma changsoo trus onn jga tega ngebiarin changmin pergi demi ngelupain chaejin dan ngeralain tuk changsoo. onnie, chaejin tuh cuma trcipta tuk changmin maupun sbliknya! jgn pisahin chaemin couple dung, bisa merana gegulingan ni aqu😦
    si uno my bro jga melas amat, si dikha onn udh tau smuanya. ampe uno didiemin😦 ksian uno oppa.

    pkoknya onnie hrus bkin smuanya happy end! ga mau tau aqu,pkoknya hrus happy end! ngamuk aqu klo smuanya ga happy end trutama chaemin wajib kudu harus happy end😀 *ditabok krna bnyk request

  5. eonni oh eonni.. #ala upin ipin
    setelah sekian lama hahahaha
    akhirnya..
    hahaaha…

    jangan jangan nanti heeyoung ama jaejoong ada bagian ncnya!!
    hahaha
    changmin baik banget ya ngerelain changsoo bahagia🙂
    di ff ini yang paling merana kayanya si yunho ya. ckckck
    sedih liatnya.
    trus si junsu ama yoochun kok g ada kisah cintanya sih??
    tapi kayanya yunjaemin ini aja udah ribet ya gimana di tambah ama yoosu nanti ckckck..

    pokoknya jangan sad ending ya eonni ku sayang,,, hahahaha

    • nc?oh noooooo…dr awal bikin eon g da rencana bikin nc tp g tau jg klo lg mood XDD

      uno emang dibikin semerana mungkin ….. XDD tebak aja sendiri kelanjutannya.

      kisah cinta buat yg laen tdnya kepikiran tp itu dia yunjaemin aja udah ribet ToT moga2 kedpnnya nanti ada ide buat bikin kisah mreka tersendiri.

  6. omo sweetnya jj oppa dan heeyoung bkin envy deh :3
    tp kasian si min qu gpp si kaka ini yg ga jd sama min
    onnie si chaejin ga ush di jadiin sama siapa2 biar dia merana hwakakakak #ditabok kaka
    lanjut ya onnie sama ff my boy juga ya🙂

  7. Rajaejoongie berkata:

    gggyyyyaaaa……jaejoong romantis bangt..!!
    yyaeey…akhir nya hee young bisa mencintai jeajoong dngn tulus,,aaaaaaa senang bangt liat psngn jaejoong&hee young tmbh romantis….!!hihihii..
    hhuuaaa…kenpa cae jin bisa jdian chansoo T.T
    trbongkr lh sdh status yunho,

  8. yeonhwa berkata:

    seneng…. akhirnya hee young bisa cinta sma jaejoong ^_^ , changmin sma aku aja sini TT *plakk

    hayooo yunho mau diapain sma di kha..?

  9. emi berkata:

    Eh mf yua kak …aq keenakan bca jdi lupa ksh komen…”abaikn”

    Aq suka ma coupel jae-young….so sweet …tp knpa ada kbohongn sh…??? Sbel tau

    Yunho opaaaaaaa….knpa kmu msh blm sadar hah…..klo opaa tu cinta ma di kha eoniii tau….ini jga tmbh bkin sebel tau…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s