My Boy Part 5


Title: My Boy

Cast :

–         Shim Changmin

–         Kim Jaejoong

–         Kim Junsu

–         Park Yoochun

–         Lee Chae Jin

–         Lee Hye Won

–         Jin Hee Young

Rating: PG13-NC17 / STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri 

A/N: author lagi-lagi terinspirasi ama komik jepang yang pernah author baca tapi lagi-lagi author lupa judul komiknya abis dah lama banget bacanya tapi yang jelas beda banget ma yang aslinya.

Part 1 s/d part 4 silahkan cari disini

DON’T LIKE DON’T READ !!!

Happy Reading

CHANGMIN POV

Sudah beberapa hari ini Chae Jin kulihat wajahnya selalu murung dan ketakutan. Walaupun ia menutupi semua itu di depanku tapi aku tahu kalau ia sedang menyembunyikan sesuatu. Setiap kali kutanya Chae Jin pasti mengatakan kalau ia baik-baik saja dan tidak ada apa-apa. Sebenarnya hari ini aku masih harus beristirahat di rumah tapi aku selalu teringat Chae Jin jadi aku pergi ke kampus untuk menemuinya. Jika Chae Jin tau aku keluar dari rumah dan tidak beristirahat ia pasti akan marah padaku tapi aku tidak peduli, aku sangat mengkhawatirkannya.

Kuparkirkan mobilku lalu keluar dari mobil. Kulihat sekelilingku mencari Chae Jin siapa tahu ia sedang berada di sekitarku. Aku tersenyum saat melihat sosok yeoja yang kucintai tengah berjalan dengan temannya. Kulambaikan tanganku sambil berteriak memanggilnya. Yeojaku menatapku bingung lalu berubah tajam.

‘Pasti marah’

Ia menghampiriku dengan temannya itu. Chae Jin memukul lenganku pelan dengan tatapan sama seperti tadi. Kulihat temannya ternyata teman yeojaku yang pernah membuatku cemburu waktu itu.

“Kenapa ada di sini? Kan kau sudah kubilang harus istirahat di rumahmu.” Chae Jin marah padaku.

“Aku hanya ingin menjemputmu.” Balasku. Kutatap Chae Jin dan namja temannya di sebelah dengan bingung.

“Tadi aku dan Yuchun mendiskusikan tugas kelompok kami.” Ucap Chae Jin. Aku mengangguk mengerti, tak lama aku mendengar suara telepon yang berasal dari ponsel Chae Jin. Yeojaku mengangkatnya lalu tak lama ia berpamitan sebentar padaku.

“Sebentar ya. Tadi Hye Won menelepon dan memberitahukanku kalau aku meninggalkan buku yang kupinjam dari perpustakaan. Aku akan segera kembali.” Ucapnya lalu berlari cepat tanpa menunggu jawabanku.

Kutatap Yuchun yang menatap punggung yeojaku.

“Ah kau jangan curiga seperti itu padaku. Aku hanya berteman dengan Chae Jin tak lebih.” Jelas Yuchun yang seolah tahu arti tatapanku.

“Mianhae, aku terlalu curiga padamu.” Ucapku.

“Gwenchana. Oh ya apa kau menyadari kalau belakangan ini Chae Jin berubah jadi aneh? Aku tak tahu apa itu tapi setiap kali mengerjakan tugas denganku wajahnya seperti sedang tertekan.”

“Dia bersikap seperti itu juga di kampus belakangan ini? Sebenarnya hari ini aku menjemputnya karena ingin menanyakan hal itu.” Yuchun mengangguk menjawab pertanyaanku.

“Ngomong-ngomong kudengar dari Chae Jin kau dari fakutas science ya?” Tanyanya sambil tersenyum. Senyum yang menurutku sangat aneh.

“Ne. Memangnya kenapa?” Tanyaku balik.

“Tidak ada apa-apa hanya saja setiap kali melihat penampilanmu dan mengingat kau dari fakultas science, aku jadi teringat dongsaengku. Dulu saat dia masih hidup dia bercita-cita ingin masuk universitas ini dan masuk fakultas yang sama sepertimu. Kalau dia masih hidup mungkin dia akan sama sepertimu, sepertinya dia dan kau sebaya. Ah maaf aku jadi menceritakan hal yang membosankan.” Kulihat wajahnya menjadi sedih, membuat perasaanku jadi tak enak. Terlihat sekali kalau namja di depanku ini sangat menyayangi dongsaengnya.

“Mianhae.” Ucapku. Tak lama Chae Jin kulihat berlari ke arahku dan Yuchun.

“Menunggu lama ya? Mianhae.” Ucap Chae Jin sambil mengatur nafasnya. Aku mengambil tas dan buku yang ia pegang. Aku mengajaknya pulang dan menawarkan Yuchun untuk kuantar tapi namja itu menolak dan berpamitan untuk pergi lebih dulu.

“Aneh.” Gumamku pelan. Chae Jin tiba-tiba mencubit pinggangku membuatku mengaduh kesakitan.

“Jangan berkata seperti itu. Dia itu orang yang baik. Awalnya memang aku sedikit risih dengannya tapi setelah melihat dan mendengar tentang dia aku jadi merasa kasihan dan salut.” Ucapnya. Aku hanya mengangguk.

“Masuk.” Ucapku sambil membukakan pintu mobil untuknya. Yeojaku itu tersenyum lalu masuk.

Kubawa Chae Jin ke apartemennya. Selama di perjalanan kulihat Chae Jin terus menatap keluar jendela mobil. Sambil terus mengemudi aku menggenggam tangannya.

“Gwenchana? Kau terlihat aneh.” Ucapku sambil terus fokus mengemudi. Kurasakan ia membalas genggaman tanganku.

“Ne gwenchanayo.” Jawabnya.

Sampai di depan gedung aparteman Chae Jin, aku langsung membukakan pintu untuknya. Ia tersenyum padaku. Kami berjalan masuk ke dalam lift.

“Sebentar ya. Aku ganti pakaian dulu.” Ucapnya. Aku mengangguk sambil berjalan masuk ke dalam apartemennya. Aku duduk di sofa ruang tengah. Tak berapa lama kulihat yeojaku keluar dari kamar, aku menatapnya bingung. Ia berpakaian rapi sekali, aku berusaha mengingat sesuatu yang mungkin aku lupakan.

“Mau kemana? Rapi sekali? Apa kau ada acara, chagi?” Tanyaku sambil berdiri dan menghampirinya.

“Ke rumahmu. Kau kan masih sakit dan harus banyak istirahat. Ingat apa kata dokter sebelum kau di perbolehkan pulang.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku menghela nafas pelan sambil membalas senyuman manisnya. Kuelus kedua pipinya lalu menciumnya sekilas.

“Tidak usah ke rumahku. Lagi pula aku bosan terus menerus di rumah tak melakukan apa-apa. Aku sudah cukup banyak istirahat.” Kucoba menolak halus, aku ingin Chae Jin juga istirahat.

“Aish kau ini, baiklah tapi kau harus di apartemenku seharian ini dan istirahat.” Ucap Chae Jin. Aku mengangguk.

“Kalau begitu sekarang kau ganti pakaianmu.” Ucapku sambil mendorongnya masuk ke dalam kamar.

Sambil kembali menunggunya berganti pakaian aku berjalan pelan mengelilingi apartemennya. Langkahku terhenti saat melihat foto keluarga Chae Jin yang terpampang cukup besar, aku tersenyum sedih saat melihatnya. Aku jadi teringat orang tuaku yang sudah cukup lama meninggal.

“Umma appa bogoshippo.” Ucapku pelan. Kuhembuskan nafasku pelan.

“Kalian semua terlihat bahagia.” Ucapku pada foto besar itu.

“Seandainya umma dan appa masih hidup pasti mereka akan sangat senang karena aku mempunyai tunangan cantik dan baik sepertimu, chagi.” Ucapku lagi sambil menatap foto Chae Jin yang berada tengah kedua orang tuanya sambil tersenyum.

“Ahh.” Lenguhku kaget saat tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. Aku tersenyum saat tahu itu Chae Jin. Kuelus lembut tangannya yang memeluk perutku. Ia menahanku saat aku berusaha melepaskan pelukannya, ia jadi semakin mempererat pelukannya padaku.

“Hei ada apa? Kenapa kau seperti ini, chagi?” Tanyaku lembut. Ia menggelengkan kepalanya lalu melepaskan pelukannya. Saat berbalik kulihat Chae Jin berjalan meninggalkanku.

“Duduklah, akan kubuatkan kau makanan dan minuman hangat.” Ucapnya tanpa berbalik menatapku. Aku mengerutkan dahiku lalu duduk di sofa. Aku menatapnya yang tengah asik memasak. Aku tersenyum saat membayangkan kalau aku dan ia sudah menikah nanti.

“Kau bawa obatnya?” Tanya Chae Jin setelah selesai memasak. Ia berjalan ke arahku sambil membawa makanan yang ia masak. Di taruhnya masakan itu di atas meja lalu menatapku menunggu jawaban. Aku mengangguk lalu menunjukkan obatku padanya. Ia mengambil obat itu dari tanganku lalu menciumku sekilas.

“Makanlah.” Chae Jin menyuapiku. Aku pun memakan semua yang ia masakkan untukku lalu meminum obat.

Selesai makan kulihat Chae Jin bergelayut di lenganku sambil menonton TV. Kucium puncak kepalanya dengan lembut.

“Akhir-akhir ini kau kenapa? Aku merasa ada yang kau tutup-tutupi dariku, chagi.” Ucapku. Chae Jin langsung menatapku, sorot matanya kembali terlihat ketakutan.

“Bisa kau ceritakan padaku, chagi? Aku menunggumu mengatakannya tapi kau tak juga mengatakan padaku.” Chae Jin langsung membenamkan wajahnya di dada bidangku, ia memelukku erat. Kuelus punggungnya dengan lembut sambil menunggu ia bercerita padaku.

Setelah cukup lama Chae Jin memelukku, ia melepaskan pelukkannya lalu naik ke pangkuanku dan kembali memelukku. Kali ini pelukkannya tak seerat tadi.

“Aku takut, Minnie-a. Sudah beberapa hari ini perasaanku tak enak. Aku takut terjadi sesuatu dengan hubungan kita dan kau. Entah kenapa aku sangat takut kehilanganmu, Minnie-a. Semakin hari perasaanku semakin tidak enak dan bertambah berat. Kumohon jangan pergi dariku, Minnie-a. Aku sangat mencintaimu, Minnie.” Mendengar perkataannya membuatku mempererat pelukanku padanya.

“Jangan khawatir, chagi-a. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kau wanita terakhir dalam hidupku. Kau tak usah memikirkan perasaanmu itu, kita akan baik-baik saja dan seperti yang kau lihat aku pun tidak apa-apa kan? Semuanya akan baik-baik saja, tenanglah.” Ucapku menenangkannya.

“Janji kau dan hubungan kita akan baik-baik saja?”

“Aku janji, chagi.” Jawabku. Chae Jin melepaskan pelukannya lalu menatapku sambil menghapus air matanya. Ia tersenyum lalu mencium bibir dan pipiku sekilas.

“Gumawo.” Ucapnya. Tak lama ia melepaskan kacamataku lalu mengacak-acak rambutku. Dengan penglihatan yang tidak begitu jelas aku melihat Chae Jin menaruh kacamataku sedikit jauh dari jangkauanku. Setelah itu ia membuka baju hangat yang kupakai dan melepas dua kancing kemeja yang kupakai.

“Aish jangan lakukan ini lagi. Kumohon kembalikan kacamataku, chagi. Aku tidak bisa melihat dengan jelas.” Chae Jin memegang kedua pipiku lalu menatapku sambil tersenyum. Jarak kami cukup dekat jadi aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa Chae Jin terlihat sangat cantik, seksi, dan menggoda. Padahal tadi aku melihatnya biasa saja seperti hari-hari sebelumnya.

‘Aish ada apa denganku? Jangan berpikir yang tidak-tidak Shim Changmin. Yeojamu sekarang sedang membutuhkanmu, tenangkan perasaannya dan hilangkan pikiranmu itu!’ Batinku.

Chae Jin tersenyum sambil terus memegang kedua pipiku. Aku sedikit tenang saat melihatnya kembali ceria tapi itu tak berlangsung lama karena kulihat wajahnya kembali murung. Ia memelukku lagi, kuelus punggung dan rambutnya dengan lembut.

“Kenapa lagi?” Tanyaku.

“Aku masih takut. Takut kehilanganmu, Minnie.” Jawabnya dengan suara yang kuyakin ia sedang menahan tangisnya. Aku menghela nafas pelan dan mengeratkan pelukanku padanya.

“Aku kan sudah bilang kalau semua akan baik-baik saja. Tenanglah dan kembalilah menjadi Chae Jin yang kukenal.” Ucapku. Chae Jin mengangguk pelan.

AUTHOR POV

Hye Won sedang berada di rumahnya bersama Junsu. Sambil memasak ia sesekali melihat namjanya itu yang sedang asik bermain game. Ia merasa bersyukur mempunyai namjachingu seperti Junsu yang baik dan perhatian walaupun terkadang menyebalkan.

Selesai memasak Hye Won menyiapkannya di atas meja makan. Ia menghampiri namjanya itu lalu mengajak makan malam. Hye Won berdecak kesal saat Junsu tak menghiraukannya. Ia bergumam kesal lalu berbalik dan pergi ke meja makan sendirian. Ia makan seorang diri tanpa menghiraukan Junsu yang masik asik bermain game.

“Menyebalkan. Dasar lumba-lumba bersuara aneh.” Gumamnya kesal sambil makan. Tak lama tiba-tiba Junsu mencium pipinya.

“Siapa yang kau maksud menyebalkan dan bersuara aneh?” Tanya Junsu. Hye Won menatap namjanya itu.

“Menurutmu?” Tanya Hye Won balik. Ia tak menghiraukan Junsu dan terus makan tanpa menatap namjanya itu sedikitpun.

Selesai makan pun Hye Won tetap diam, ia mencuci piring sambil merutuki namjanya itu dalam hati. Ini salah satu yang Hye Won benci dari Junsu. Jika namjanya itu sudah bermain game ia selalu tidak di perhatikan dan Junsu terkesan tak peduli dengannya. Ia memanggil namjanya pun tak pernah ada sahutan sedikit pun.

“Chagia jangan marah. Maafkan aku.” Bujuk Junsu saat Hye Won selesai mencuci piring. Hye Won menatap Junsu dengan kesal, ia merasa bosan setiap kali bertengkar dengan Junsu selalu saja masalah yang sama.

“Kau pulanglah. Aku tak mau melihatmu lagi.” Ucap Hye Won kesal. Junsu menatap Hye Won dengan puppy eyes andalannya tapi kali ini hal itu tak berhasil meluluhkan kemarahan Hye Won.

“Aku bosan kau selalu saja seperti ini.” Ucap Hye Won sambil menatap Junsu dengan tatapan tidak suka.

Mendengar perkataan Hye Won membuat Junsu menggenggam kedua tangan yeojanya itu dengan erat. Ia mencium kedua tangan yeojanya lalu kembali meminta maaf. Junsu berusaha membujuk Hye Won agar tidak marah lagi padanya.

“Ayolah jangan marah lagi. Kalau perlu game itu kau buang juga tak apa asal kau tak marah lagi padaku.” Ucap Junsu. Hye Won menatap Junsu lalu melirik game yang di beli namjanya itu.

Junsu langsung mengambil game-nya itu dan membuangnya di depan mata Hye Won. Setelah itu ia menghampiri yeojanya dan berharap Hye Won akan memaafkannya.

“Lihat sudah kubuang. Maafkan aku, chagia.” Bujuk Junsu. Ia melihat Hye Won menghela nafas, melihat itu Junsu tersenyum lalu memeluk yeojanya. Ia tahu kalau yeojanya itu sudah menghela nafas seperti itu berarti Hye Won memaafkannya.

“Kau menyebalkan.” Ucap Hye Won. Junsu semakin mempererat pelukannya mendengar itu.

“Mianhae, chagia. Aku akan berusaha tidak akan seperti itu lagi.”

“Terserah kau lumba-lumba jelek.” Ucap Hye Won.

“Walaupun aku lumba-lumba jelek tapi kau mencintaiku kan?” Tanya Junsu yang langsung mendapatkan cubitan di pinggang dari Hye Won.

Junsu membawa yeojanya itu untuk duduk di sofa. Ia mencium pipi Hye Won saat melihat raut wajah yeoja itu masih kesal. Raut wajah yeojanya tak berubah membuat Junsu terus menciumi pipi dan bibir Hye Won.

“Ayo tersenyumlah. Kalau tidak aku akan terus menciumimu.” Ucap Junsu. Hye Won tak bergeming.

“Baiklah. Kau yang minta.” Ucap Junsu lagi. Lalu ia kembali menciumi wajah dan leher Hye Won hingga yeojanya itu tertawa karena sedikit geli dengan ciumannya di leher Hye Won. Yeojanya itu memang paling sensitive jika di cium di bagian leher.

“Begitu lebih manis. Kau lebih cocok tersenyum.” Ucap Junsu sambil menatap Hye Won. Yeojanya itu menatapnya sambil tersenyum lalu membenamkan wajah di dada bidangnya.

“Gumawo sudah memaafkan kesalahanku lagi.” Ucap Junsu. Keduanya berpelukan cukup lama.

“Oiya besok kita jenguk Changmin ya? Sejak keluar dari rumah sakit sepertinya kita belum pernah menjenguknya, bagaimana?” Saran Hye Won. Junsu tersenyum.

“Baiklah, besok kita menjenguk Changmin kebetulan ada yang ingin kubicarakan dengan Changmin.” Ucap Junsu. Hye Won menatap Junsu bingung.

“Bicara apa?”

“Tentang science. Kemarin aku melihat di salah satu website akan diadakan lomba science di Amerika dan aku teringat Changmin. Aku sudah berbicara dengan orang tuaku untuk mengijinkan Changmin menginap di rumah mereka di sana jika Changmin mengikuti lomba. Appa langsung setuju, kau tau kan appa menyukai science di bandingkan seni.” Jawab Junsu. Hye Won mengangguk mengerti.

“Orang tuamu di Amerika baik sekali. Ah apa mereka baik-baik saja?” Junsu menjawabnya dengan menganggukan kepala.

—–

Jaejoong membuka pintu apartemennya lalu masuk ke dalam dengan langkah pelan. Ia masuk ke dalam kamar lalu mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah itu ia keluar kamar ia menatap sekeliling mencari yeoja yang bekerja di apartemennya. Ia mencari yeoja itu ke setiap ruangan, langkahnya terhenti saat melihat yeoja itu tengah berdiri sambil menatap rak buku miliknya.

“Bukunya sepertinya sangat menarik. Boleh aku baca tidak ya? Apa kalau aku meminta ijin tuan Jaejoong akan mengijinkannya?” Gumam yeoja itu.

“Baca saja kalau kau suka.” Ucap Jaejoong. Hee Young tersentak kaget lalu menatap ke arah pintu di mana Jaejoong berdiri. Ia membungkuk sopan, ia sama sekali tidak tau kalau Jaejoong sudah pulang.

“Mau di buatkan minuman atau makanan, Tuan?” Tanya Hee Young.

“Tidak usah. Kau bacalah buku yang kau suka.” Ucap Jaejoong lalu pergi meninggalkan yeoja itu. Ia duduk di sofa ruang tengah lalu menonton TV. Saat menonton TV Jaejoong melihat Hee Young datang menghampirinya.

“Tuan, bolehkah saya pulang sekarang?” Tanya Hee Young.

“Hmm…” Jawab Jaejoong singkat.

“Terima kasih, Tuan.” Ucap Hee Young sambil membungkukkan badannya. Ia berjalan ke arah kamar kecil di mana ia menaruh tasnya. Setelah mengambil tasnya Hee Young kembali menghampiri Jaejoong.

“Tuan, saya permisi dulu. Besok saya akan datang lagi.” Ucap Hee Young sopan. Jaejoong melihat yeoja itu hanya membawa tas kecil.

“Tidak membawa buku yang mau kau baca?” Tanya Jaejoong basa basi.

“Tidak tuan, saya akan membacanya sewaktu saya di sini saja jika menunggu tuan pulang. Permisi dulu tuan, saya harus segera pulang ini sudah terlalu malam untuk saya.” Ucap Hee Young lalu bergegas pergi.

Jaejoong menghela nafas panjang setelah Hee Young pergi dari apartemennya. Ia berdiri dan berjalan ke kamarnya. Di bukanya lemari rahasia tempat ia menyimpan semua rencana, foto dan informasi tentang Changmin dan Chae Jin. Kembali ia membaca rencana yang sudah ia susun itu. Jaejoong tersenyum licik saat membaca rencana akhirnya.

“Harus berhasil.” Ucapnya. Tak lama ponselnya berbunyi, ia mengangkatnya.

“Yeoboseo.” Sapanya ramah. Temannya menelepon dan mengajaknya untuk pergi ke bar. Mereka ingin bersenang-senang dan mengajak Jaejoong. Jaejoong mengiyakan ajakan teman-temannya itu.

Setelah itu Jaejoong mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu pergi ke bar yang di katakan temannya tadi.

Saat sampai Jaejoong memarkirkan mobilnya agak jauh dari bar karena tempat parkir di dekat bar sudah cukup penuh. Jaejoong keluar mobil lalu berjalan dengan santai ke arah bar mirotic. Saat tengah berjalan ia mendengar suara teriakan seorang yeoja.

“Kyaaaa lepaskan aku!!!!” Teriak seorang yeoja. Jaejoong menatap sekeliling tapi tak menemukan apa-apa. Ia berusaha mencari sumber suara, entah kenapa ia merasa penasaran dengan suara teriakan itu.

Langkah Jaejoong semakin masuk ke dalam gang kecil di dekat bar saat merasa sumber suara semakin terdengar jelas. Jaejoong membelalakan matanya saat melihat beberapa namja berusaha memperkosa seorang yeoja. Wajah para pemerkosa maupun yeoja itu tak bisa ia lihat dengan jelas karena cahaya di gang itu yang tidak terlalu terang.

Jaejoong hanya berdiri terpaku melihat pemandangan itu. Ia teringat akan kejadian saat ia memperkosa Chae Jin. Ia terus diam tanpa melakukan apa-apa.

Para pemerkosa itu tidak tau kalau ada Jaejoong yang melihat karena mereka semua membelakangi Jaejoong. Tapi yeoja yang di perkosa itu melihat bayangan Jaejoong yang tengah menatapnya. Yeoja itu berteriak meminta tolong pada Jaejoong. Hal itu membuat para pemerkosa kaget dan menghentikan usaha untuk memperkosa yeoja itu. para pemerkosa itu menatap ke arah Jaejoong.

“Pergi kau! Kau mengganggu kami saja.” Ucap salah seorang namja. Jaejoong tetap tak bergeming.

“YA!!! Dengar atau tidak? Kau tuli hah?” Teriak namja lain sambil menghampiri Jaejoong dengan kesal. Karena Jaejoong tetap diam membuat para pemerkosa itu marah.

Saat salah seorang namja akan menghajar Jaejoong, ia dengan cepat menangkis pukulan itu. Jaejoong reflek memukul para pemerkosa itu hingga babak belur.

“Pergi.” Ucap Jaejoong dingin. Para pemerkosa itu pun langsung berlari ketakutan.

Jaejoong berbalik lalu berjalan meninggalkan yeoja itu tanpa menghampiri yeoja itu. Langkahnya terhenti saat mendengar isak tangis yeoja itu. Jaejoong menghela nafas panjang sambil mengepalkan tangannya. Ia berbalik.

“Berdiri dan pergilah dari sini. Jangan pernah berkeliaran di sekitar sini malam-malam.” Ucap Jaejoong dingin lalu berbalik dan berjalan pergi. Yeoja itu terus menangis.

“Tuan. Apakah anda tuan Jaejoong?” Tanya Yeoja itu sambil terisak. Langkah Jaejoong terhenti lagi. Ia berbalik lalu menghampiri yeoja itu untuk memastikan siapa yeoja itu. Ia tak mengenali suara yeoja itu. Jaejoong kaget saat melihat dengan jelas siapa yeoja itu.

“Kau?”

Hee Young langsung memeluk Jaejoong sambil menangis kencang. Ia bersyukur Jaejoong telah menolongnya karena kalau tidak ia tak tau apa yang akan terjadi padanya. Mungkin setelah di perkosa ia akan di bunuh oleh sekelompok namja tadi. Tubuhnya bergetar hebat saat memeluk Jaejoong.

Jaejoong hanya diam saat Hee Young memeluknya. Tubuh yeoja itu di rasakannya bergetar tapi ia tak melakukan apa-apa untuk menenangkan yeoja itu.

“Terima kasih tuan. Anda sudah menolong saya, kalau tuan tidak ada saya pasti sudah di perkosa dan mungkin akan di bunuh oleh mereka.” Ucapan Hee Young membuat Jaejoong reflek secara perlahan membalas pelukan yeoja itu.

Tak lama Jaejoong melepaskan pelukan yeoja itu lalu memberikan jaketnya pada Hee Young untuk menutupi tubuh yeoja itu. Saat membantu yeoja itu untuk berdiri ia merasakan kaki Hee Young gemetar.

“Bisa berdiri?” Tanyanya tapi yeoja itu tidak menjawab malah terus berusaha agar bisa berdiri dan berjalan. Ia menghela nafasnya pelan lalu menggendong yeoja itu. Jaejoong membawa Hee Young ke dalam mobilnya.

Jaejoong menelepon temannya dulu untuk memberitahukan kalau ia tidak bisa datang. Setelah itu ia mulai mengemudikan mobil membawa pergi yeoja itu ke apartemennya.

Sampai di apartemen, Jaejoong memberikan pakaian untuk yeoja itu ganti. Tanpa banyak kata Jaejoong keluar dari kamar itu. Ia duduk di sofa ruang tengah miliknya. Ia menatap ke depan dengan tatapan kosong. Ia teringat kejadian tadi dan kejadian saat ia memperkosa Chae Jin.

“Anni.” Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.

‘Jangan terbawa suasana Kim Jaejoong. Terus lakukanlah rencanamu dengan baik. Bersikaplah seperti biasa.’ Batin Jaejoong.

Jaejoong mengalihkan pandangannya saat melihat pintu kamar terbuka. Ia melihat Hee Young sudah berganti pakaian dan terlihat seperti selesai mandi. Mata yeoja itu memerah dan sedikit bengkak akibat menangis.

“Kau istirahatlah di kamar itu.” Ucap Jaejoong.

“Ta tapi tuan kamar itu…”

“Kamar itu tidak pernah ada yang pakai.” Potong Jaejoong. Ia membiarkan Hee Young untuk tidur di kamar sebelahnya untuk malam ini.

“Tidurlah.” Ucap Jaejoong sambil berjalan ke kamarnya.

“Terima kasih banyak, tuan. Kau baik sekali padaku.” Ucap Hee Young sambil membungkuk 90 derajat pada Jaejoong sebelum namja itu pergi ke kamar.

“Hmm.” Jawab Jaejoong singkat. Tanpa sadar tangannya reflek mengelus kepala yeoja itu. Setelah itu ia berjalan ke kamarnya.

“Aku benar-benar bersyukur, tuan. Tuhan sudah mempertemukanku denganmu karena kalau tidak aku pasti sudah tinggal di jalanan atau mungkin sudah mati. Gumawo jeongmal gumawoyo.” Ucap Hee Young saat melihat Jaejoong sudah masuk. Perlahan ia kembali menangis karena kejadian yang baru saja ia alami. Ia berjalan ke kamar lalu duduk di ranjang sambil terus menangis.

Sementara itu Jaejoong kini tengah menelepon temannya untuk membicarakan tentang kelanjutan rencananya. Jaejoong memberitahukan tentang hal detail selanjutnya yang harus di lakukan temannya itu.

“Bagaimana kau mengerti?” Tanya Jaejoong setelah selesai menjelaskan.

“Ne, aku mengerti.” Jawab namja itu.

Tak lama Jaejoong memutuskan sambungan teleponnya dan menaruh ponselnya itu di atas meja. Ia berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit di kamarnya.

***

Yuchun dan Chae Jin kini tengah mengerjakan tugas kelompok mereka di perpustakaan. Keduanya sangat serius dengan tugas mereka yang harus selesai hari ini.

“Akhirnya selesai juga.” Ucap Yuchun sambil meregangkan otot lengannya.

“Nanti siang tinggal kita kumpulkan.” Ucap Chae Jin sambil tersenyum. Yuchun dan Chae Jin beristirahat sejenak di perpustakaan sambil membereskan semua buku yang ada di atas meja.

“Ngomong-ngomong bagaimana kabar namjachingumu?” Tanya Yuchun.

“Dia sudah membaik sekarang.” Jawab Chae Jin. Yuchun teringat sesuatu lalu ia membuka tasnya. Chae Jin menatap Yuchun dengan bingung.

“Chagi, kau sudah selesai?” Tanya Changmin tiba-tiba dengan suara pelan. Chae Jin menatap namjanya dengan kaget.

“Minnie?” Ucap Chae Jin.

“Ah kebetulan sekali kau datang, Changmin-sshi. Ini.” Yuchun memberikan beberapa lembar kertas pada Changmin.

“Kemarin lusa saat aku menelepon saudaraku di Kanada dia memberitahukanku akan mengikuti lomba science di sana. Aku teringat kau jadi kuminta dia untuk memberikanku informasi lengkap tentang lomba itu. Mungkin kau akan tertarik mengikuti lomba itu.” Jelas Yuchun. Changmin mengangguk sambil membaca informasi yang di berikan Yuchun.

“Menarik. Aku ingin mengikuti lomba ini tapi sangat jauh. Aku tidak mungkin bisa ke sana.” Ucap Changmin. Chae Jin melihat wajah namjanya itu muram. Ia melirik Yuchun dengan bingung.

“Kenapa tidak mungkin?” Tanya Yuchun.

“Biaya pesawat, hotel dan lainnya pasti sangat mahal. Aku tidak mempunyai uang sebanyak itu. menabung pun butuh waktu yang cukup lama.” Jawab Changmin. Chae Jin menatap sedih Changmin.

“Ah sudahlah, lain kali aku pasti bisa mengikuti lomba ini.” Ucap Changmin sambil tersenyum. Ia tak mau melihat wajah yeojanya yang terlihat sedih saat menatapnya tadi. Tangannya di genggam oleh Chae Jin.

“Oh iya kau kenapa kemari? Bukakah aku sudah memperingatkanmu untuk beristirahat di rumah?” Tanya Chae Jin saat ingat pesan dokter minggu lalu. Ia melihat wajah Changmin kesal.

Yuchun tersenyum saat melihat Chae Jin dan Changmin berbicara.

“Changmin-sshi, apakah Chae Jin menyuruhmu beristirahat di rumah tanpa melakukan apapun?” Tanya Yuchun. Changmin pun mengangguk cepat.

“Chae Jin-sshi, kau itu seorang penyiksa yang hebat.” Ucap Yuchun sambil menatap Chae Jin dengan tersenyum. Chae Jin menatap Yuchun bingung.

“Penyiksa? Aku kan hanya menyuruhnya beristirahat agar cepat sembuh.”

“Ya, aku tau niat baikmu pada namjachingumu ini tapi apa kau tidak berpikir kalau berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun itu sangat membosankan? Kusarankan jika kau mau namjachingumu cepat sembuh ajak dia jalan-jalan atau lakukan hal menyenangkan.” Ucap Yuchun.

“Kenapa kau bisa tau apa yang kurasakan?” Tanya Changmin.

“Karena dulu aku pernah merasakannya. Yeojachinguku tidak memperbolehkanku keluar rumah dan bangun dari tempat tidur saat aku sakit. Dulu dia sangat over protektif jika aku sakit. Kau masih beruntung Changmin-sshi memiliki Chae Jin yang sepertinya pengertian padamu.” Jawab Yuchun.

“Ternyata aku masih beruntung.” Gumam Changmin. Tak lama Hye Won dan Junsu datang dan duduk di meja yang sama dengan Yuchun, Chae Jin dan Changmin. Junsu memberitahukan Changmin tentang lomba science yang akan di adakan di Washington DC, Amerika. Changmin menolak halus pada Junsu.

“Sayang sekali. Tadinya kupikir kau akan mengikuti lomba ini tapi kalau kau berubah pikiran hubungi aku saja.” Ucap Junsu. Changmin mengangguk sambil tersenyum. Tak lama kelimanya pergi dari perpustakaan. Chae Jin dan Yuchun pergi terlebih dahulu karena harus segera menyerahkan tugas kelompok mereka pada dosen. Sedangkan Changmin pergi menemui dosen wali-nya. Junsu dan Hye Won pergi kuliah.

—–

Chae Jin dan Changmin berjalan keluar kampus. Kegiatan mereka sudah selesai. Ke duanya naik mobil Changmin. Selama perjalanan Chae Jin terus menatap Changmin yang tengah serius mengemudi. Ia memikirkan cara agar namjanya itu bisa ikut lomba di Kanada dan Amerika. Ia tahu sekali kalau Changmin sangat ingin mengikuti lomba itu.

‘Kalau pakai uangku dulu bagaimana ya? Apa Minnie tidak akan marah?’

Tak lama saat sampai di apartemen, Changmin mengantar yeojanya sampai masuk ke dalam. Chae Jin memintanya untuk masuk ke dalam lebih dulu, ia pun menurutinya. Ia duduk di sofa sambil memikirkan tentang lomba science yang di beritahukan oleh Yuchun dan Junsu. Ia ingin mengikuti lomba itu.

Changmin tersenyum saat Chae Jin memberikannya minuman. Yeoja itu menatapnya dalam sambil mengelus pipinya dengan lembut.

“Kau ingin mengikuti kedua lomba itu kan?” Tanya yeojanya.

“Jujur iya. Aku ingin mengikuti kedua lomba itu tapi mau bagaimana lagi? Aku tak punya biaya untuk ke sana. Mungkin lain waktu aku bisa ikut lomba itu.” Jawab Changmin sambil tersenyum.

“Mmmm bagaimana kalau kau pakai uangku? Jadi kau kan bisa ikut lomba itu. pertama kau ikut lomba di Kanada itu lalu lomba yang di Amerika. Waktunya kan tidak berbenturan, selang waktunya 2 minggu kan? Bagaimana Minnie-a?” Chae Jin menatap namjanya dengan was-was. Ia takut kalau menyakiti perasaan Changmin. Namja itu menatapnya lama.

“Kau mau mengihanku, chagi?” Ucap Changmin. Chae Jin menghela nafas pelan, ia tahu kalau ia menawarkan hal seperti ini namjanya itu akan marah dan merasa terhina. Ya memang wajar Changmin merasa seperti itu. Ia menggenggam tangan namjanya itu.

“Minnie-a, jangan marah dulu. Aku menawarkannya padamu pun perasaanku tidak enak dan takut kau merasa terhina. Tapi kalau kulihat wajahmu yang ingin sekali mengikuti lomba aku jadi tidak tega.” Jelas Chae Jin. Changmin berusaha mengatur emosinya.

“Kalau begitu tidak usah kau tawarkan hal seperti itu lagi padaku, chagi.” Chae Jin mengelus pipi Changmin sambil menatap namjanya itu.

“Bagaimana kalau kau anggap meminjam dariku? Kau bisa mengganti uangnya kapan pun kau bisa. Ini kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali. Jangan beranggapan kalau aku menawarkan hal seperti ini karena ingin menghinamu. Aku tak mungkin menghina tunanganku sendiri  kan?” Chae Jin berusaha membujuk namjanya. Changmin menatapnya dalam, ia pun membalas tatapan itu dengan serius. Tak lama Changmin menghela nafas berat.

“Baiklah, aku akan meminjam uang darimu dan akan segera kukembalikan.” Chae Jin tersenyum saat mendengar jawaban namjanya itu tapi wajah Changmin masih terlihat marah dan tidak suka.

“Minnie-a, jangan marah lagi. Aku kan tidak bermaksud menghinamu. Apa kau pikir aku gila, aku bisa dengan mudahnya menghina orang yang sangat kusayangi? Ayo tersenyumlah. Kau seperti bukan namjaku.” Rayuan Chae Jin tidak mempan karena Changmin tetap menekuk wajahnya.

“Bagaimana kalau aku ikut denganmu ke Kanada dan Amerika? Ah sepertinya itu ide yang bagus. Aku jadi bisa melihatmu lomba.” Chae Jin tersenyum senang dengan idenya sendiri. Namjanya menatapnya.

“Kalau kau ikut bagaimana dengan kuliahmu? Jangan macam-macam Lee Chae Jin.” Chae Jin mendengus kesal.

“Kuliahku kan sudah libur saat perlombaan itu. Kau masih marah ya? Kenapa memanggilku dengan nama lengkap seperti itu?” Changmin hanya diam sambil menatap Chae Jin.

“Baiklah kalau kau masih marah.” Ucap Chae Jin lalu dengan nakal tangannya mengelus junior Changmin dari luar celana namja itu. Ia tersenyum saat melihat Changmin kaget dengan perbuatannya yang tiba-tiba. Chae Jin terus mengelus junior namjanya dengan lembut. Ia tahu kalau Changmin kini tengah menahan desahan dan nikmat yang di rasakannya.

“Cha aahh chagi lepaskan tanganmu mmhhh.” Ia tersenyum saat melihat namjanya itu menatapnya.

“Kau masih marah kan? Kalau begitu aku tidak akan berhenti.” Ucap Chae Jin. Kini ia meremas junior namjanya itu.

“Ahh anni mmhhhh aku tidak marah ja jadi ahh lepaskan, chagi.” Ucap Changmin. Mendengar itu Chae Jin pun melepaskan tangannya dari junior Changmin. Ia menatap namja itu sambil tersenyum senang.

“Kau nakal, chagi.” Ucap Changmin.

“Tapi kau suka kan?” Chae Jin mencium pipi namjanya.

Chae Jin melihat junior namjachingunya itu sudah membesar di balik celananya. Ia menatap Changmin sambil tersenyum penuh arti lalu menunjuk ke arah junior Changmin.

“Sepertinya ‘adikmu’ itu sudah sesak di dalam sana, Minnie-a. mau kubantu?” Goda Chae Jin. Changmin dengan cepat menutup juniornya yang membesar dengan bantal kecil yang ada di sofa. Wajahnya memerah karena malu.

“Ti tidak usah, chagi.” Jawab Changmin gugup. Yeojanya itu mencium lehernya lalu berbisik.

“Yakin, Minnie? Ini sudah sangat besar loh. Kurasa ‘dia’ sudah mau keluar dari dalam sana. ‘dia’ mungkin merasa sesak.” Goda Chae Jin di telinga Changmin. Tangannya masuk di sela-sela bantal yang menutupi junior namjanya itu lalu kembali mengelus benda yang sudah membesar itu. Tak lama Chae Jin menyingkirkan bantal yang sejak tadi di pegang Changmin untuk menutupi juniornya. Ia melempar bantal kecil itu kesembarang arah.

“Biar kubantu.” Ucap Chae Jin. Ia turun dari sofa lalu berlutut di hadapan Changmin. Ia menggoda Changmin dengan meremas junior namja itu dari luar.

“Chagi, ja jangan.” Tolak Changmin halus.

“Wae? Kau tidak suka?”

“Anni, ta aahh tapi …” Ucapan Changmin di potong Chae Jin yang langsung menciumnya.

“Aku tidak apa-apa jadi biarkan aku melakukannya untukmu.” Tanpa menunggu  jawaban dari Changmin, Chae Jin langsung membuka celana namjanya itu hingga kini bagian bawah Changmin sudah tidak tertutup apa-apa.

Chae Jin menatap junior Changmin, ia tak menyangka kalau junior namjanya itu sebesar ini. Ukuran yang menurutnya big size. Saat ia akan meremas junior Changmin, namja itu menutupi juniornya dengan tangan. Ia menatap Changmin. Lalu menyingkirkan tangan namjachingunya itu. Perlahan ia mulai meremas junior itu dengan lembut. Changmin hanya bisa mendesah merasakan pijatan Chae Jin di juniornya.

“Ahhh mmppphhh chagi ahhhh.” Lenguh Changmin nikmat. Chae Jin mulai mengocok junior Changmin dengan tempo yang cepat. Setelah ia merasa cukup ia memasukkan junior big size itu ke dalam mulutnya dan mengocok junior itu. Chae Jin semakin bersemangat saat mendengar desahan Changmin yang terdengar sangat menikmati apa yang ia perbuat. Ia menyedot dan memainkan lubang kencing namja itu dengan lidahnya.

“Ahhhh cha chagi ahhh mmmhhhh aku ma mau keluar mmmppphhhh.” Ucap Changmin sambil menengadahkan kepalanya karena nikmat. Chae Jin yang mendengar itu dan merasakan junior namjanya mulai berkedut-kedut semakin mempercepat kocokannya.

“Ahhhhh.” Lenguh Changmin saat mencapai orgasmenya. Tak lama ia sadar kalau ia mengeluarkan spermanya di dalam mulut yeojachingunya. Ia melihat Chae Jin melepaskan juniornya dari dalam mulut yeoja itu. Terlihat jelas kalau yeoja itu berusaha menelan habis spermanya. Jari-jari yeoja itu masih bermain di junior miliknya dan sesekali bermain di lubang kencingnya membuatnya kegelian.

“Mianhae aku mengeluarkannya di dalam mulutmu. Kau pasti tidak suka. Jeongmal mianhae.” Ucap Changmin tak enak. Chae Jin menggelengkan kepalanya lalu duduk di pangkuan Changmin dan menatap namja itu. Changmin menghapus spermanya yang tersisa di ujung bibir yeojanya.

“Mianhae, chagi.” Ucap Changmin lagi.

“Gwenchana. Ini pertama kalinya aku menelan sperma jadi rasanya memang aneh. Tapi nanti aku pasti akan terbiasa. Kau tahu Minnie? Kau terlihat sangat seksi saat mendesah tadi.” Ucap Chae Jin sambil memainkan rambut belakang namjanya. Ia mencium pipi Changmin saat melihat wajah namja itu memerah.

“Ayo turun aku mau memakai celanaku.” Ucap Changmin mengalihkan pembicaraan. Ia melihat yeojanya menggelengkan kepala. Chae Jin meraih tangannya dan menaruhnya di vagina yeoja itu.

“Sudah basah.” Ucap Chae Jin manja.

“Kau mau aku melakukannya untukmu?” Tanya Changmin yang langsung di jawab anggukan kepala oleh yeoja itu.

“Baiklah aku akan melakukannya tapi aku hanya akan mengelus milikmu tidak lebih. Jujur aku sebenarnya tidak setuju kau melakukan hal itu padaku tapi kau menggodaku dan tidak mendengarkan jawabanku terlebih dahulu.” Ucap Changmin serius. Chae Jin menatap Changmin bingung.

“Kau tidak suka dengan apa yang kulakukan padamu tadi? Wae?” Tanya Chae Jin.

“Bukan tidak suka hanya aku tidak setuju. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri saat perpacaran denganmu kalau aku akan melakukannya di saat kita menikah nanti. Tapi jujur terkadang aku tergoda saat kau bermanjaan denganku, dulu hampir pertahananku runtuh saat kau ingin melakukannya denganku.” Jelas Changmin.

“Tapi kan aku sudah tidak perawan lagi.” Ucap Chae Jin sedih. Changmin menatapnya tidak suka.

“Jangan mengatakan hal itu lagi, aku sudah bilang berkali-kali kalau aku tidak suka mendengarnya. Aku tidak peduli kau masih perawan ataupun tidak yang jelas aku tau kalau kau mencintaiku.” Jelas Changmin lagi. Chae Jin langsung memeluk Changmin saat mendengar penjelasan namjanya itu, ia tak menyangka kalau Changmin akan berpikiran seperti itu.

Changmin membalas pelukan yeoachingunya itu dengan erat dan hangat. Ia mengelus rambut Chae Jin dengan lembut.

“Saranghae.” Changmin tersenyum mendengar ucapan Chae Jin.

“Nado saranghae, chagi.” Balas Changmin. Tak lama ia melepas pelukan yeoja itu dan menatapnya.

“Aku akan melakukannya tapi tidak lebih dari yang kukatakan tadi, arra?” Ucap Changmin. Ia mau melakukannya karena mengerti bagaimana rasanya menahan nafsu.

“Tidak usah. Aku akan menunggu sampai kita menikah nanti.” Ucap Chae Jin senang. Changmin mengelus pipi Chae Jin.

“Kau yakin? Tidak apa tidak melepaskannya? Kalau kau mau aku melepaskannya tidak apa, aku tau bagaimana rasanya menahan nafsu.” Ucap Changmin pengertian. Yeojanya tersenyum.

“Aku yakin tapi maukah kau menciumku, Minnie-a?” Tanya Chae Jin. Changmin mengangguk pelan sambil tersenyum.

Changmin memegang tengkuk Chae Jin lalu menariknya hingga wajah keduanya mendekat. Ia mulai mencium lembut yeojanya itu tapi tak ia sangka Chae Jin membalas ciumannya dengan penuh nafsu. Ia berusaha mengimbangi ciuman yeojanya itu.

“Mmmpphhh engghhhh enggghhh.” Lenguh Chae Jin sambil terus mencium Changmin.

Changmin memasukan lidahnya ke dalam mulut chae Jin, keduanya saling beradu lidah dengan penuh nafsu. Ia melepaskan ciumannya agar Chae Jin bisa bernafas. Ia mencium sekilas bibir mungil Chae Jin.

“Gumawo.” Ucap Chae Jin padanya.

“Yakin sudah cukup? Chagi, aku tak mau kau menahannya. Sudah kubilang kalau kau mau melepaskannya tidak apa.” Ucap Changmin. Yeojanya itu menggelengkan kepalanya.

‘Dasar yeoja keras kepala. Aku tau kau masih terangsang.’ Batin Changmin.

Tangan Changmin memegang vagina Chae Jin dari luar celananya. Ia menatap Chae Jin.

“Minnie-a, ahhh ja jangan menyentuhnya ahhh.” Ucap Chae Jin sambil berusaha menahan desahannya.

“Aku tak suka kalau kau menahannya. Sudah kubilang berkali-kali kalau kau mau melepaskannya tak apa. Akan kubuat kau melepaskannya hari ini.” Changmin menekan-nekankan jarinya ke vagina Chae Jin tanpa melepaskan celana yeoja itu. Ia pun menggesekkan jarinya membuat yeojanya menggelinjang dan mendesah. Chae Jin menyandarkan kepalanya di bahu Changmin dan terus mendesah.

“Minnie ahhh eengghhhhh aku tak tahan mmppphhhh ahhhh ahhhh.”

“Keluarkan saja, chagi.” Jawab Changmin sambil terus menggesekkan  jarinya di vagina Chae Jin.

“Ahhh aahhhh.” Lenguh Chae Jin saat ia mencapai klimaks. Ia bersandar lemas di bahu Changmin. Ia mengatur nafasnya lalu memeluk namjanya. Changmin memeluknya.

Tak lama Chae Jin melepaskan pelukannya lalu menatap Changmin. Saat ia akan berbicara namjanya itu manahannya dengan menciumnya sekilas.

“Jangan mengatakan apa-apa.” Ucap namjanya itu yang seolah tau apa yang akan ia katakan. Chae Jin hanya tersenyum menanggapi ucapan Changmin. Ia membenarkan rambut namja itu yang berantakan.

Chae Jin turun dari pangkuan Changmin lalu mengambilkan celana namjanya itu.

“Mandilah, Minnie. Akan kuambilkan baju ganti untukmu. Kau mandi di kamar mandiku saja.” Ucap Chae Jin. Lalu ia berjalan ke kamarnya dan mengambil baju ganti yang cocok dan pas untuk namjanya. Ia pun mengambil handuk dan memberikannya pada Changmin yang berdiri di belakangnya.

Saat melihat Changmin masuk kamar mandi ia pun langsung mengambil baju dan mandi di kamar mandi luar.

—–

“Aku harus melakukan sesuatu. Kalau tidak rencananya bisa berantakan.” Ucap namja yang menjadi suruhan Jaejoong.

“Harus kubuat celaka secepatnya.” Ucapnya lagi.

“Lebih cepat lebih baik. Setelah itu aku bisa melakukan langkah selanjutnya.” Namja itu menatap foto-foto yang bertebaran di atas meja kerjanya.

Tak lama ia membereskan foto-foto itu lalu menyimpannya di tempat yang sangat rahasia agar tak seorang pun tau. Ia mengambil ponselnya lalu menelepon Jaejoong untuk memberitahukan tentang rencana yang akan ia lakukan.

TBC

Jeongmal mianhae kalo kelamaan and makin aneh ceritanya. Jujur ini FF udah mandek ide and ga tau mau di apain lagi. (>/\<) jeongmal mianhae ya. Author juga ga janji next chapter bakalan lebih seru atau lebih panjang. Author akan melanjutkan FF ini kalau komen minimal 10. di part sebelumnya yg komen hanya 1 orang sedangkan yang baca banyak.

11 thoughts on “My Boy Part 5

  1. eonni!!!
    itu siapa yang bantuin jaejoong?? yoochun kah??
    jawab pertanyaanku di part berikutnya ya eonn. hahaha
    ahhh.. ada NCnya.. hahahaha

    jadi yang komen di part kemaren cuman aku doang ya eonn??

    dasar sider jahat ckckck.

  2. deewookyu berkata:

    Hahahahahah…..akhirnya chaejin gak tahan juga
    Gimana changmin maw tahan kl sdh digituin…..

    Yg bantuin jae sapa saeng…..?
    Kl yochuun ky nya baik….
    Teruuusss sapa doongggg

  3. SunakumaKYUMIN berkata:

    Changminnie udah gede ya sekang, udah berani NCan.. Kekekeke

    ikh.. Tu yg bantu jj siapa seh? Yoochun? V kya.y bukan deh..
    Apa yunho?? Loh kenapa jdi kepikiran yunho ya?? Hahaha

    oya ni yg part 6 udah da belum thor?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s