Destiny Part 4


Author : Ramalia

Tokoh : Nari (OC)

Max Changmin

Lee Hyukjae

Other Cast

Genre: Romance, family.

Rating : PG-17

Length : Chaptered

Poster by AiTOP / @SanDeb11

***

***

Ramai. Bukan ramai karena suara tawa atau obrolan. Bukan karena ada hal lucu dan pantas dijadikan keributan. Ini suara tangisan yang terdengar dari sana. Dimana orang-orang bernuansa hitam berdiri mengelilingi sebuah gundukan tanah dengan nisan bertuliskan “ RIP Im Yoona”.

Orang-orang dengan kamera yang menggantung dilehernya hanya dapat mengabadikan momen tersebut dari kejauhan.Beberapa pria bertubuh kekar yang mungkin adalah bodyguard menjaga ketat upacara pemakaman, termasuk dari awak media.

Nari berdiri bersama suaminya serta orang-orang berpakaian hitam lain. Minho berada dalam gendongan Max. Kacamata hitam menjadi aksesoris paling utama disini. Terutama Nari yang menutupi mata sembabnya. Entah sampai berapa lama ia menangis semalam. Bahkan ia hanya tidur 2 jam dan Max perlu ekstra sabar menenangkannya.

Nari melewatkan tidur nyenyaknya. 2 jam ia menutup mata tidak bisa dikatakan tidur. Wajar.  Yoona adalah sahabatnya. Bisa dibilang dialah satu-satunya teman yang bisa sangat dekat. Dia yang merupakan anak dari pemilik supermarket dimana ia bekerja dulu adalah teman yang tidak ia temui selama….6 tahun. Dia adalah teman yang selalu ada untuk menemaninya menikmati bekal disekolah yang hanya berupa nasi dan tahu tempe. Dan dia..adalah istri dari pria yang sudah mengganggu fikirannya selama ini.

Bukan hanya tangis karena kepergian seseorang yang disayangi. Ini juga tangis karena rasa bersalah. Ia sebagai sahabat sudah lancang menaruh rasa pada seorang Lee Hyukjae. Ia telah membiarkan otaknya tidak terkendali dan berfikir hal-hal gila. Nari..menyesal.s

Sekarang mereka berada di area dimana ada banyak pelayat.Terdengar jelas suara isak tangis dari seorang wanita paruh baya disebelah kiri Eunhyuk.Nari kemudian memperhatikan wajah Eunhyuk yang sejak tadi hanya menatap pusara istrinya tanpa suara.Ia tidak bicara, tidak menangis padahal ia terkenal sebagai artis yang mudah menitikan air mata. Ia sangat sensitive. Tapi sekarang…tidak ada ekspresi jelas yang tergambar. Tapi semua tahu, ialah yang paling terguncang saat ini.

Sahabat-sahabatnya setia berdiri disamping Eunhyuk.Tidak ada respon darinya meski perlahan orang-orang mulai berpamitan pulang. Tepukan bahu atau kalimat penguat dari beberapa orang tidak ia balas dengan baik. Hanya diam.

Pria-pria tampan dengan setelan kemeja hitam setia berdiri untuk menjadi sandaran Eunhyuk. Setelah orang tuanya, tentu mereka lah yang paling mengerti apa yang dirasakannya. Ah tidak, mungkin tidak sepenuhnya mengerti. Tidak ada yang bisa tahu rasanya kehilangan sebelum kau merasakannya sendiri. Yang mereka tahu, ini bukan hal gampang. Ini bukan hal yang akan dilupakan dalam satu dua hari. Meski tidak ada yang melihat air mata diwajah itu, meski tidak ada yang melihat guratan sakit, semua tahu ini berefek luar biasa baginya.

Cuaca nampak cukup bersahabat dengan Matahari yang berdiri tegak di atas.Untuk mereka yang benar-benar kehilangan, benda bundar itu seperti ikut menekuk wajahnya. Ikut bersedihkah ?

“Papa..tulunin Minho” entah untuk apa tapi Max menuruti permintaan anak itu dan menurunkannya. Minho melangkah tertatih menuju Eunhyuk.Kyuhyun memberinya sedikit ruang.

“Paman unyuk” panggil Minho polos. Jika saat ini Eunhyuk tengah berada di rumah sakit di samping istrinya yang tengah menyusui Spencer, ia pasti akan tertawa mendengar panggilan unik dari Minho.

“Tadi Bibi Yoona datangin Minho, katanya Paman tenang aja, ada Minho yang jagain ade Spencel,” Ucap Minho yang membuat semua yang ada disitu menoleh ke arahnya dan terkejut. Benarkah perkataan bocah ini ? Bukankah perkataan anak kecil adalah jujur?

Eunhyuk pun untuk pertama kali sejak datang kesini merubah rautnya. Ia tersenyum getir menatap Minho lalu ia biarkan air matanya mengalir dari sebelah pelupuk matanya. Memang hanya dia yang tampil polos tanpa kacamata seperti yang lain. Mata sipit itu mulai dipenuhi oleh genangan air yang begitu cepat terbentuk.

“Bibi Yoona juga bilang paman nda boleh nangis. Nanti Bibi ikut cedih.”

Tangis Eunhyuk tak bisa ditahan lagi. Pertahanannya hancur dan menangis sejadi-jadinya. Tangannya menutup kedua wajahnya yang sudah basah. Isakannya makin terdengar bahkan terus mengencang.  Ada yang berdenyut dibagian dada para penonton melihat pemandangan itu. Miris.

“Kenapa kau tidak datang padaku?” ucapnya dengan suara parau bahkan nyaris tak terdengar.  Wajahnya masih bersembunyi dibalik kedua tangannya. Suara tangisnya terasa menyayat. Max cepat membawa Minho kembali dalam gendongannya sebelum anak itu kembali mengatakan hal yang mungkin membuat Eunhyuk bertambah sedih.

“Aku ke mobil duluan”

Nari hanya mengangguk kemudian kembali melihat Eunhyuk yang masih terisak. Tidak ada yang bersuara dan memilih membiarkannya melepas semua. Mungkin sejak semalam ia menahannya. Mungkin semalam ia berusaha tersenyum. Mungkin ia tidak ingin melepas kepergian istrinya dengan tangisan. Dan mungkin membiarkannya menangis sekarang  lebih baik. Tapi tiba-tiba tubuh kurus itu limbung dan jatuh dilengan Kyuhyun yang sigap menahan. Semua panik lalu membawanya ke mobil.

Nari ingin bergerak menuju mobil dimana orang-orang mengerubuni Eunhyuk. Tapi ia urungkan, ia tahu Eunhyuk tidak kekurangan perhatian. 12 sahabatnya di super junior serta keluarganya, itu cukup.

Setelah tidak ada lagi kerabat dari seseorang yang terlelap di dalam gundukan tanah itu, Nari berjongkok memposisikan diri menghadap pusara sahabatnya. Ia menangis lagi. Satu minggu pertemuan singkat yang diberikan Tuhan baginya untuk bernostalgia bersama Yoona. Dan rasanya seberapapun waktu itu tidak pernah cukup. Nari ingin lebih. Ia bahkan sempat berfikir jika salah satu penyebabnya adalah karna ia lambat menuju rumah sakit.  Tentu itu salah.

Banyak yang ia sesalkan. Bagaimana ia tidak memanfaatkan waktu seminggu kebelakang dengan baik. Bagaimana ia belum cerita banyak tentangnya, dimana hanya Yoona lah yang begitu gembira dengan berbagai pengalamannya selama tidak bertemu. Bagaimana ia harusnya banyak menghabiskan waktu bersama. Bukan mencuri kesempatan untuk melihat suami sahabatnya.

“Aku ingin mengakui sesuatu. Entah kau mendengar ini atau tidak. Jika kau mendengar dan ingin menamparku, aku terima. Jika kau mendengar dan mengataiku pengecut karna baru mengakuinya silahkan. Lakukan apapun, sebut aku sebagai apapun aku terima.”Nari berhenti sejenak untuk mengumpulkan keberaniannya.

“Aku dan Eunhyuk….dulu pernah bertemu. Kami bahkan………….”

Nari menceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal sedikitpun. Ia ingin mengatakan semuanya, dan rasanya cukup sampai disini juga ia berfikir untuk mendapatkan lebih dari Eunhyuk. Benar-benar tidak pantas dan lagi tidak mungkin.

Ia coba tarik kesimpulan jika apa yang ia rasakan kemarin hanyalah rindu berlebihan, bukan perasaan lebih yang memungkinkan untuk tercipta suatu hubungan. Ya, ia hanya terbawa suasana, tidak lebih. Semoga.

“Aku sudah mengakui semuanya. Maafkan aku. Kau jangan khawatir,  aku tidak akan mengambil Eunhyukmu.  Aku akan sering-sering ke rumahmu tapi itu untuk Spencer jagoanmu. Aku pulang.”

Lega. Beban berat yang ia bawa seperti ia jatuhkan ke tanah dan ia akan lanjut terbang dengan sayang yang lebih ringan. Ia punya janji pada sahabatnya dan ia fikir ia akan tepati itu.

Ia melangkah pelan menuju dua manusia yang sudah menunggunya. Deru angin mengiringi langkahnya seolah sebagai jawaban atas pernyataan tadi. Mungkin itu jawaban yang bagus, atau sebuah pernyataan balik yakni sebuah kepercayaan.

***

Ini adalah hari ke 3 setelah duka itu. Ini hari ketiga dimana tanah itu masih basah. Dan inilah hari ketiga dimana seorang pria yang paling merasa hancur tidak keluar dari kamarnya. Bahkan saat jagoan kecilnya menangis berharap dapat menarik perhatian sang ayah, dia tidak bergeming. Dia biarkan ibu, ayah, mertua atau sahabat-sahabatnya yang mengambil alih tugasnya itu. Mungkin ia lupa jika tak selamanya mereka ada. Jika tak selamanya waktu berpihak pada mereka.

Wajahnya yang memang sudah kecil serta bentuk rahang meruncing itu sekarang justru nampak makin mengecil. Seperti melihat mayat hidup. Ia hanya minum, makanan yang diantarkan tiga kali sehari oleh pembantu yang baru dipekerjakan oleh ibunya tidak ia masukan ke dalam mulut. Ia hanya duduk bersandar ditempat tidur, memegang foto wanita yang sudah tidak ada raganya. Ia tidak menangis, hanya menatap foto itu lekat.

Tentu mereka yang melihat sangat khawatir. Tidak ada kata, tidak ada asupan yang cukup, tidak ada reaksi dan lebih pantas disebut patung bernafas. Tubuhnya yang memang sudah kurus itu makin mencuatkan tulangnya. Jika ada yang bertanya kemana selusin pria dan keempat orang tuanya ? tidak ada yang menyadarkannya ? jawabannya sudah. Bahkan mereka sudah memancingnya dengan membawa spencer didekatnya. Harusnya itu berpengaruh tapi sayangnya tidak. Ia tetap diam, sesekali tersenyum sambil mengelus figura tersebut.

Kyuhyun bilang, cukup berikan ia waktu lagi untuk sendiri. Ia yakin ini tidak akan lama. Bagaimanapun ia tahu anaknya butuh pelukan sang ayah yang baru sekali dirasakan yakni saat anak itu baru terlahir kedunia.

Saat ini Nari berkunjung ke rumah itu atas permintaan ibu dari Yoona meski tanpa diminta pun Nari akan kesana karena berdasarkan cerita, kondisi Eunhyuk memperihatinkan.

Ibu Yoona atau yang biasa disapa Bibi Min oleh Nari punya urusan yang tidak bisa ditinggalkan, maka ia minta pada Nari untuk menjaga Spencer. Nari fikir ia akan sendiri disini. Nyatanya tidak. Ia melihat Kyuhyun dan seorang lagi yang ia kenal sebagai Leeteuk atau yang dulunya adalah leader super junior keluar dari kamar. Rasanya itu kamar Eunhyuk. Leeteuk nampak berfikir saat melihat Nari. Ya…ia sedikit lamban untuk mengingat kejadian pertengahan 2012 itu. Itu sudah 6 tahun yang lalu.

Nari menunduk dan mengucapkan salam. Ia perkenalkan dirinya pada Leeteuk yang mungkin masih lupa.

“Aku Nari, pengganggu di konser kalian dan aku adalah sahabat Yoona.”

“Ah ya..aku ingat…kau gadis itu kan ? ah aku melihat kau bersama pria itu saat di pemakaman. Jadi kalian ………”

“Bukankah kau ditunggu istrimu hyung ?” Tanya Kyuhyun sengaja memotong ucapan hyungnya itu. Leeteuk seperti baru menyadari sesuatu yang penting. Matanya membulat dikuti dengan mulutnya. Ia menepuk dahinya pelan lalu beranjak pergi tanpa pamit. Nari tidak tahu jika idolanya dulu punya sifat sepeti ini. Maksudnya untuk pria 35 tahun yang dulu terkenal karna karisma, ketenangan dan kedewasaan sebagai leader, kesan pertama Nari saat pertama kali bertemu adalah yang ia dengar dulu itu salah. Padahal ia baru bertemu pria itu 1 menit, tapi ia langsung menyimpulkannya, dan lagi kesimpulan macam itu tidak penting.

Sekarang hanya ada Kyuhyun dan Nari di ruang keluarga ini. Harusnya bertiga jika Spencer yang tengah tidur pulas dikamarnya dihitung. Pria dan wanita dewasa ini duduk berhadapan tanpa ada satu katapun terucap sejak 5 menit lalu. Nari punya cukup bahan untuk diperbincangkan termasuk masalah Eunhyuk. Tapi semua itu tersendat ditenggorokannya karena sikap pria yang tak kalah tinggi dibanding suaminya itu.

Kyuhyun diam, kadang memainkan ponselnya yang diyakini Nari tidak ada pesan atau apapun yang perlu dilakukan pada benda itu.Karna terlihat seperti basa basi saja. Kadang juga dia menatap Nari penuh selidik. Itu menurut Nari, ia merasa ditatap dengan penuh pertanyaan. Ayolah, Nari tidak tahu apa yang difikirkan mantan idolanya itu. Bertemu pun baru ketiga kalinya dan rasanya tidak pernah ada yang salah sejak pertemuan itu.

Oh Nari baru sadar, Kyuhyun sudah berlaku aneh sejak pertama bertemu. Apa dia marah karena dulu pernah mengganggu jalannya konser grupnya? Tapi..bukankah Max bilang sudah meminta izin saat itu? Dan lagi rasanya Kyuhyun juga termasuk diantara orang-orang yang berteriak ‘Say Yes’ . Oh tidak..Nari baru ingat jika saat itu Kyuhyun lah satu-satunya member yang nampak tidak mendukung dan terlihat tidak suka. Nari tidak menemukan kemungkinan lain selain itu. Dia mengangguk yakin.

“Kau kenapa?” Tanya Kyuhyun begitu melihat wanita didepannya mengangguk-ngangguk tanpa sebab.

“Eh? Aku kenapa? Tidak ada apa-apa”

Kyuhyun berdiri menuju dapur, ia terlihat membuka kulkas. Nari tidak perduli dan memilih masuk ke kamar Spencer tepat disebelah kanan kamar Eunhyuk. Tangannya yang sudah siap untuk memegang kenop pintu terhenti. Ia sedikit lebih tertarik untuk membuka pintu lain. Ia tahu mungkin kedatangannya tidak berpengaruh apa-apa. Dan mungkin, ia akan bingung melakukan apa jika sudah berada didalam.

Apa ia siap melihat pria itu mengacuhkannya dan hanya focus pada figura ditangannya? Ia sudah mendengar itu dari tante Min. tapi ia ingin bertemu dengannya. Apa salah? Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk berhenti dan yang sekarang ingin ia lakukan bukan membuktikan ia melanggar janjinya. Ia hanya ingin bertemu, tidak lebih. Tangannya sudah terjulur dan memegang kenop pintu. Sedikit gerakan pintu mulai terbuka.

“Ia baru saja tidur” seru Kyuhyun yang terdengar dari arah dapur.  Nari menghentikan gerakannya dan kembali menutup pintu.Ia memilih untuk langsung membuka pintu yang memang tadi menjadi tujuan awalnya. Disana Spencer tengah tertidur pulas. Bayi berusia 3 hari yang berbalut selimut itu nampak tersenyum. Mungkin ia bermimpi sedang bermain bola dan menertawakan temannya yang terjatuh ? atau…memimpikan tertawa bersama kedua orang tuanya? jari-jari Nari bergerak pelan mengelus pipi rapuh itu. Ia tidak tahu jika memiliki seorang bayi sebahagia ini.

“Minho tidak kemari?” Tanya Kyuhyun yang tiba-tiba muncul dengan dua gelas sirup ditangannya.  Satu ia minum sedikit dan satunya ia berikan pada Nari. Nari terima karena memang cukup haus.

“Tidak, ia kutitipkan pada neneknya” jawab Nari setelah menenggak minumannya sampai habis.

“Kau mau lagi?”

“Tidak, aku bisa ambil sendiri”

“Aku tidak bilang mau mengambilkanmu lagi”

Nari cukup kesal dengan sikap pria ini. Dia keluar kamar dengan wajah ditekuk lalu ke dapur untuk mengambil lebih banyak minuman lagi, ia jadi tambah haus. Setelah tenang ia berniat kembali ke kamar Spencer. Namun, saat ia berbalik Kyuhyun sudah duduk manis di meja makan sambil menunjukan gelasnya yng kosong.

“Gelasku kosong”

Dengan malas Nari membuka kembali kulkas lalu mengambil sirup untuk dituangkan pada pria menyebalkan itu. Kyuhyun tersenyum tanpa mengucapkan terima kasih lalu meminumnya.

“Nari yang menolong Eunhyuk hyung, Nari yang meninggalkan pria pemberani diatas panggung, dan Nari sahabat dari Yoona, kau kah itu?” Tanya Kyuhyun sambil memainkan gelasnya yang kosong. Sekarang Nari bersandar pada pinggir meja makan sekitar satu meter disebelah Kyuhyun.

“Iya, itu aku. Kenapa? Ehhh tunggu !! kau bilang Nari yang menolong Eunhyuk? Kau tau itu?” Tanya Nari penasaran. Ia fikir itu tidak akan sampai ketelinga makhluk seperti Kyuhyun, maksudnya teman-teman Eunhyuk. Kyuhyun menyeringai persis seperti yang sering Nari lihat di televisi.

“Kau fikir Eunhyuk hyung berbohong dengan mengarang cerita lain tentang kepergiannya ke Bali?”

“Hmm bukan begitu tapi yah….ah sudahlah lupakan” Nari salah tingkah lalu menenggak kembali minumannya.

“Aku setuju sekali dengan Donghae hyung. Dunia begitu sempit. Kau juga setuju?” tanya Kyuhyun lagi. Pria tinggi yang tadinya dingin dengan mulut terkunci sekarang justru jadi cerewet begini.

“Apa maksudmu?” tanya Nari yang memang tidak mengerti  kemana arah pertanyaan itu. Kyuhyun tersenyum lagi masih memandang gelas kosongnya.

“Bagaimanapun sesuatu yang menyedihkan seperti kepergian Yoona tidak bisa disyukuri . Tapi..jika ini sudah terencana MUNGKIN akan ada sesuatu nanti. ” Kyuhyun tersenyum kecil sambil memain-mainkan gelas kosongnya. Ia ketuk-ketukan beberapa kali dengan jari-jarinya. Nari jadi malas meladeni omongan Kyuhyun yang tidak ia mengerti.

“Kau bicara tentang dua hal berbeda dan aku tidak mengerti. Kalau ingin mengobrol, carilah topik yang bagus. Bagaimana keadaan Eunhyuk?” tanya Nari mengalihkan pembicaraan. Ia memang tidak berniat menjawab pertanyaan kyuhyun tadi.

“Dia cuma butuh waktu sedikit lagi”

“Itu artinya ia masih sama seperti kemarin-kemarin?”Nari bertanya lagi dan hanya dijawab anggukan kecil oleh Kyuhyun.

“Kau tidak ingin minta tanda tanganku?” Tanya Kyuhyun tiba-tiba dengan antusias. Nari hanya berdiri melongo mendengarnya. Pertanyaan macam apalagi ini? Meminta tanda tangan?

“Buat apa heh?”

“Hey, aku tahu kau itu sparkyu dan fishy. Mungkin itu dulu, tapi kau bisa menyesal melewatkan kesempatan ini”

Nari makin tidak mengerti dengan jalan fikiran manusia satu ini. Oke dia dulu adalah fans berat seorang Kyuhyun yang disebut Sparkyu, ia juga penggemar Donghae yang disebut fishy. Tapi perlu ditekankan itu DULU. Saat pertama bertemu di rumah sakit, ia memang sempat berfikir jika berada dalam kondisi yang baik, ia mungkin akan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan fnas pada idolanya. Tapi sekarang ia benar-benar tidak berminat, sekalipun sedikit dibagian hatinya ia cukup senang karena sekarang bukan hanya bisa bertatap muka, ia juga berbicara banyak.

“Itu DULU. Perlu kuperjelas?  Kau aneh sekali kau tahu? Sejak awal kau terlihat dingin, tapi sekarang kau begitu cerewet” cerocos Nari dengan mengatakan apa yang ada dikepalanya. Kyuhyun lagi-lagi tersenyum kecil. Ia bangkit dari kursi.

“Tidak menyesal ? jarang-jarang aku sebaik ini” tawar Kyuhyun sekali lagi yang membuat Nari makin kesal. Sebelum Nari menjawabnya dengan penolakan lagi atau bahkan melayangkan sepatu haknya, Kyuhyun buru-buru pergi sambil tertawa.

“Ternyata dia benar-benar menyebalkan”

***

Nari melangkahkan kakinya menuju pekarangan rumah begitu turun dari taksi. Ini sudah malam dan tubuhnya cukup lelah.  Tak sampai jauh, si supir taksi memanggil. Nari menoleh lalu mendekat heran.

“Ada apa ya pak?”

“Maaf, tapi anda belum membayar,” ucap pria beruban itu sopan. Ugh..kepala Nari dipenuhi hal lain hingga untuk hal sepele seperti turun dari taksi harusnya membayar menjadi turun lalu pergi. Ia keluarkan tiga lembar uang dari dompet silvernya lalu membungkukan badan sebagai permintaan maaf.

Nari memang tengah memikirkan suatu hal sejak tadi. Tepatnya sejak ia berpamitan pulang pada Eunhyuk. Hal yang dialami orang lain ia rasakan barusan. Ia diacuhkan. Sepanjang apapun yang diucapkan, tetap saja yang diajak bicara hanya diam melihat sebuah figura yang mungkin tidak pernah lepas dari tangannya.

Gilanya, yang membuat Nari sakit adalah hal lain. Bukan karena rasa prihatin melihat kondisi Eunhyuk. Ia justru seperti tak terima kenapa seorang Lee Hyukjae bisa sebegitu parahnya saat kehilangan seorang Yoona. Apa pria itu sangat sangat mencintai istrinya ? oh..orang bodoh mana yang bertanya seperti itu. Wajar jika Eunhyukbersikap demikian, meski banyak orang-orang senasib dirinya yang masih lebih baik.

Nari beberapa kali menggeleng mencoba menghilangkan fikiran bodohnya. Bagaimana bisa ia tidak terima itu? Justru akan sangat aneh jika melihat Eunhyuk tertawa.

Ya Tuhan…..kemana janjiku? Kemana penyesalan tadi ? Bukankah aku sudah berjanji  akan menghentikan perasaan bodoh ini?

“Kau sakit?” Tanya seseorang sambil memegang kening Nari. Nari baru sadar ia masih berdiri didepan pagar rumahnya. Berapa menit ia disini?

“Sayang..kau kenapa?” tanya seseorang itu lagi dan lebih lembut.

“Ah..Max…kau pulang ?”

“Tentu saja Nari. Ini sudah jam 8, waktu pulangku dua jam sebelum ini. kau lupa?…aku juga sud….”

“Astaga….aku lupa menjemput Minho dirumah ibu.” Nari menepuk dahinya kuat dan sudah pasang ancang-ancang untuk pergi.

“Hey..kau mau kemana?” Max menahan tangan istrinya.

“Tentu saja menjemput Minho”

“Haha…dengarkan dulu sayang. Aku tadi mau bilang kalau aku sudah menjemput Minho. Dia tertidur didalam,” jelas Max berusaha menenangkan sang istri. Ia melihat gelagat berbeda dari wanita cantik itu. Fikirannya seperti berada ditempat lain.

Max membawa istrinya masuk. Nari melempar tubuhnya disofa. Ia pejamkan mata lalu memijit kepalanya pelan. Ia masih tidak habis fikir kenapa sempat cemburu atas sikap Eunhyuk tadi. Ia menarik nafas pelan, lalu ia keluarkan. Ia lakukan itu selama tiga kali.

“Maafkan aku Max…aku bodoh. Aku sudah lan….”

“Aku mengerti”

Nari membuka mata begitu mendengar suara suaminya memotong gumamannya tadi. Untunglah kalimat itu tidak berlanjut dan terhenti ketika akan menyebutkan sebuah nama pria.

Max duduk disamping Nari lalu menyodorkan segelas teh. Nari hanya menghirupnya sedikit kemudian meletakkannya di atas meja.

“Max..maksudku tadi…”

“Sstt..sudah kubilang aku mengerti. Aku sudah janji akan menunggu hingga kau siap. Aku akan terus berusaha hingga kau tulus menerimaku,” ucap pria tinggi itu sambil memainkan rambut sang istri. Nari menelan ludahnya susah. Suaminya…mungkin sudah salah kaprah dengan maksud kalimatnya tadi. Sepertinya yang suaminya tangkap adalah tentang masalah mereka yang belum juga usai. Astaga…Nari ingin menghantamkan kepala ke lantai. Masalahnya dengan Max saja masih jalan ditempat, sekarang ia justru menambahnya dengan masalah baru.

“Sudah..sekarang kau rileks…sepertinya kau lelah. Malam ini biar aku yang masak oke”

Pria berkaki panjang itu melangkah meninggalkan Nari yang menatap punggunggnya.

Shim Changmin itu…terlalu baik.

Hatinya terlalu lapang. ….Kesabarannya melimpah.

Dan sialnya itu harus terus berlanjut karena ia memilih untuk bersama ‘orang sinting’ seperti aku.

Nari kembali menghempaskan tubuhnya ke sofa setelah tadi sempat ditegakkan.  Ia pejamkan mata dan lagi melakukan kegiatan  menghelas nafas berkali-kali seperti tadi. Tanpa membuka mata ia lepaskan jaketnya lalu dilempar kesembarang arah. Sekarang tangannya ia lipat didepan dada.

“Hah” ia kembali mendesah. Perlahan ia membuka mata. Pandangannya lurus menatap figura yang berisi fotonya bersama Max dan Minho yang terpajang diatas televisi. Di foto tersebut, Minho tengah menjilat eskrim coklatnya. Bajunya sudah bernoda dan disisi kiri kanannya, Max dan Nari menjulurkan lidah seperti mengejek.

“Tidakkah foto itu terlihat begitu lucu? Hah…..Aku lelah Hyuk. Tolong pergi dari fikiranku,” gumamnya sangat pelan. Bahkan mulutnya hanya terbuka sedikit saat mengucapkan itu. Perlahan matanya  tertutup lagi. Sekitar dua menit tidak ada pergerakan dari wanita 29 tahun itu. Mungkin ia sudah berpetualang ke alam mimpi.

Max datang sambil membawa dua buah piring. Hmm Max merasakan aroma makanan buatannya dan ia yakin makanan ini cukup enak untuk dinikmati bahkan bisa disebut lebih baik dari buatan istrinya.

“Tadaaaa……makanan sudah si……” ucapan Max terhenti ketika menemukan sang istri sudah menutup mata. Ia letakkan dahulu makanan yang ia buat susah payah itu diatas meja, lalu mendekat ke arah Nari.

Ia perhatikan wajah mulus itu dengan seksama. Dari ujung kepala hingga leher jenjangnya tak luput dari matanya. Kepalanya bersandar pada tangan kanannya yang bertopang pada sofa. Pelan tapi pasti, tangan kirinya mulai menjelajahi wajah makhluk yang tengah terlelap itu. Max dapat merasakan deru nafasnya yang teratur. Ia singkirkan beberapa helai rambut yang menutupi dahi Nari.

“Apa yang terjadi padamu huh?” tanyanya sangat pelan tanpa berhenti dengan kegiatan tadi.

“Tolong berbagilah denganku. Katakan apa yang mengganjalmu hingga…..hingga aku belum bisa mendapatkanmu seutuhnya,” ucapannya berubah lirih dan menjadi bisikan. Ia masih menatap wajah itu dengan sayu. Perlahan ia dekatkan wajahnya hingga nafas sang istri makin terasa. Terus mendekat…terus dan….

“OOoopssssh” sebuah suara mungil tertangkap oleh telinga Max. Ia menghentikan kegiatannya lalu menoleh pada makhluk yang hanya setinggi pahanya itu. Bocah dengan piyama bergambar power rangers itu nampak terkejut dan menutup mulutnya. Max mencoba sesantai mungkin lalu tersenyum lembut. Ia tidak beranjak dari duduknya.

“Hmm Minho kenapa bangun?”

“Hhehehehehe…tadi Minho mau pipis tapi……….” Bocah yang terlihat masih mengantuk itu tidak melanjutkan kalimatnya, justru memperlihatkan cengiran khasnya. Ya…tanpa dilanjutkan pun Max mengerti apa yang dilihat anaknya ini. baru saja Max ingin berdiri untuk mendekat pada anaknya, Minho sudah berlari menjauh sambil menutupi bagian bawah tubuhnya. Max tersenyum lalu kembali pada bidadari polos disampingnya.

“Kau lihat? Anak kita lucu sekali”

Jelas Nari tidak akan menggubris karena sudah menyelam jauh ke alam bawah sadarnya. Max hanya tersenyum kecil terlebih saat melihat anaknya yang menggemaskan itu terlihat keluar dari toilet lalu berlari ke dalam kamarnya.

“Hah,” ia mendesah dengan kepala mendongak ke atas, melihat langit-langit ruangan itu yang dihiasi lampu besar. Sekilas ia menengok ke kanan dimana sang istri nampak tenang dalam tidurnya.

“Beri aku waktu lagi, Max.”

Max menaikan alisnya saat mendengar suara dari Nari. Mengigau kah ? ia dekatkan tubuh dan telinganya agar dapat mendengar lebih jelas.

“Aku berjanji akan berubah. Aku tengah berusaha untuk menerimamu.”

Max tersenyum, diusapnya rambut Nari penuh kasih. Gerakan tangannya berhenti saat matanya tertuju pada  bibir ranum wanita yang masih ‘suci’ itu. Sungguh, tidak perlu ditanya dan tidak perlu dijelaskan seberapa besar Max mencintai Nari. Tapi……..Nari justru…..

Cup

Max berhasil mendaratkan kecupan singkat di bibir Nari.

“Apa pernikahan ini menyiksamu ?”

***

Pria dengan kemeja yang belum diganti sejak 17 hari itu bergerak gelisah di tempat tidurnya. Ia berputar-putar lalu menarik bantal atau guling untuk digunakan sebagai penutup mata serta telinganya. Tak sampai satu detik ia lempar bantal itu ke sembarang arah. Ia bangkit sejenak, seperti akan marah. Ah tapi mungkin ia berubah fikiran. Ia kembali menghempaskan tubuh ke tempat tidur lalu menutup telinga dengan guling.

Apa yang tidak ingin dia dengar ? ya..itu suara tangis seorang bayi yang rasanya sekitar setengah jam belum ada yang berminat menenangkannya. Nyatanya memang tidak ada orang disitu selain pria yang masih sibuk menutup telinga tadi. Suaranya makin lama makin memekakan.

Lee Hyukjae atau yang biasa disapa Eunhyuk itu masih asik dengan kegiatannya yang sebenarnya tidak berguna. Tangis itu tidak akan lenyap seketika hanya karena ia berusaha tidak mendengar. Ini sudah biasa baginya. Sejak 17 hari yang lalu tangis seperti itu sudah sering ia dengar, telinganya sudah terbiasa. Namun, jika suara mengganggu itu datang, Eunhyuk cukup mengambil kapas atau apapun untuk menutup telinganya lalu kembali berpetualang ke dunia mimpi. Ia tau benar keluarga atau sahabatnya berada disana. Itu benar. Biasanya tak sampai 10 menit suara itu akan tak lagi terdengar. Entah apa yang mereka lakukan pada bayi itu, Eunhyuk tidak perduli.

Malam ini berbeda, tidak ada keluarganya yang memberi bayi itu susu. Tidak ada sahabatnya yang menimang-nimang mencoba memberi ketenangan. Malam ini memang sudah disepakati bersama jika tidak akan ada yang menginap.

Itu adalah ide Kyuhyun. Meski awalnya ditolak tanpa penawaran oleh yang lain.  Kyuhyun meminta semua keluarga dan teman-temannya untuk tidak ada yang menginap di rumah Eunhyuk seperti biasa. Tentu itu ide paling buruk menurut yang lain. Bagaimana bisa meninggalkan Spencer pada Eunhyuk yang untuk urusan perutnya sendiri pun tidak bisa? Tapi Kyuhyun meyakinkan jika ini akan berhasil. Toh mereka hanya tidak menginap semalam, bukan meninggalkan Spencer sehari penuh.

“Hyung, kami semua sibuk, keluargamu juga ada urusan mendadak. Jaga Spencer ! Kau tahu ia suka menangis tengah malam” itulah kalimat terakhir Kyuhyun sebelum pergi.

Awalnya Eunhyuk cuek dan hanya mengangguk sekenanya. Tapi malam ini, tepat jam satu malam, Spencer menangis seperti biasa.  Tidak ada seorangpun di rumahnya. Bagaimanapun ia menutup telinga dengan berbagai benda, bagaimanapun ia berusaha mengabaikan, bagaimanapun ia pura-pura tuli, kakinya akhirnya bergerak juga menuju kamar disebelah kamarnya.

Ia melangkah dengan cepat masuk kekamar bayi yang sudah lama ia abaikan itu. Giginya menggertak kuat. Amarahnya seperti akan meledak. Ia berdiri tepat di depan tempat tidur bayinya.

”BERHENTILAH MENANGIS !!!!!!!” teriaknya pada Spenser seolah si bayi mengerti lalu akan menunduk takut dan berhenti menangis. Bodoh, Spenser justru semakin kencang mengeluarkan tangisannya. Miris.

”ASTAGA DIAMLAH…KAU MENGGANGGU TIDURKU” Eunhyuk berteriak makin keras yang dibalas dengan tangis lebih nyaring lagi oleh Spenser.

”AKU BILANG DIAM” Eunhyuk memegang rambutnya frustasi. Ia terduduk dan bersandar pada sisi tempat tidur anaknya. Amarahnya perlahan terganti dengan isak tangis. Suaranya ikut bersaing dengan tangis Spenser. Ia tenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya.

Cukup lama ia larut dalam tangisan. Tidak bergerak banyak. Hanya terus meluapkan segala kesedihan yang ia tahan. 17 hari sudah berlalu. Dan dia belum bisa merelakan bahwa hal paling menyakitkan itu terjadi padanya. Kehilangan.

”Aku tidak bisa yoon….hks…..aku tidak bisa….hhhhahhhhh” ucapnya parau.

”Kau lihat? Gadis-gadis itu seperti ingin membunuhmu haha”

”Ya ya…aku tidak mengerti kenapa mereka harus takut aku akan merebutmu. Aku bukan ELF. Dan kalaupun aku tertarik dengan grup mu itu maka bukan kau member yang kupilih.”

Eunhyuk mulai mengangkat wajahnya, berusaha sedikit tegak. Kepalanya bersandar. Buliran air diwajahnya belum menampakan tanda-tanda akan berhenti. Justru seperti akan meluap lagi.

”Kau bodoh Hyung…. kau tidak pantas bersamanya !”

”Kau kenapa Kyu ? aku hanya minta pendapat. Bukan pukulanmu”

Eunhyuk tersenyum getir diantara tangisnya. Kilasan apa yang terjadi tahun lalu melintas. Bagaimana ia begitu bodoh nyaris melepas Yoona, mengabaikannya, menyakitinya.

”Kyuhyun melamarku dan aku menerimanya. Kau puas ?”

”Aku……….”

Sedikit demi sedikit, memori itu bergerak tak tentu di otaknya. Tidak karuan, tidak berurutan. Memori yang mengundang air mata yang lebih lagi.

”Saranghae……………. aku mencintaimu. I love you. Wo ai ni….A…”

”Ya..kapan giliranku mengatakannya ?”

Eunhyuk belum bergeming. Tangis anaknya seperti nyanyian yang tidak lagi mengganggu. Pandangannya kosong. Kaki kirinya lurus kedepan, sedangkan kaki kanannya ditekuk. Kedua tangannya tertidur lemas dilantai. Tiba-tiba semilir angin terasa menerobos dari balik tirai jendela yang entah bagaimsana bisa terbuka. Angin itu menyapu wajah Eunhyuk dan sedikit menerbangkan helaian rambutnya. Hawa dinginnya menusuk hingga tengkuknya. Eunhyuk berdiri dengan panik.

”Yoona… kau kah itu? Sayang…kau datang untukku kan?”  Tidak ada jawaban. Eunhyuk memutar balikan tubuhnya berharap sosok cantik yang dicari tba-tiba mencuatkan tubuhnya.

”Sayang………”

Panggilan itu justru dijawab oleh Spenser dengan tangis yang lebih kencang, seperti penyadaran, Eunhyuk berbalik lalu mendekat pada tubuh ringkih itu. Ia masih ragu. Tapi tangannya mulai terjulur untuk mengangkat bayinya.

“Maafkan ayah…” ucapnya lirih. Spenser sudah berada dalam gendongannya. Ia mendekap bayi itu erat. Berkai-kali ia kecup puncak kepala serta pipi anaknya.

Eunhyuk menimang-nimang bayinya itu berusaha menenangkan. Inilah pertama kalinya ia berlaku benar sebagai seorang ayah. Spencer nampak mengeluarkan banyak keringat yang diusap oleh ayahnya secara perlahan. Eunhyuk membawa anaknya menuju dapur. Ia menyesal karena sikapnya selama  ini membuatnya tidak tahu apa-apa bahkan letak kotak susu anaknya pun tidak tahu. Ia buka semua lemari yang ada didapur mencari benda persegi itu.

Setelah ia temukan, ia kembali ke kamar untuk mengambil botol minum anaknya. Dengan tangan kiri yang masih menggendong Spencer yang belum juga berhenti menangis, Tangan kanan Eunhyuk bergerak tidak karuan untuk membuat susu. Banyak susu yang tumpah diatas meja, bahkan ia sempat dua kali melakukan kesalahan karena menggunakan air panas saja. Jika ada yang melihatnya, mungkin akan berkata “apa kau mau membunuh anakmu dengan air panas seperti itu?”

Eunhyuk memberikan susu pada anaknya sambil terus menimang-nimang. Tak butuh waktu lama, begitu susu tersebut meluncur kedalam mulutnya, Spencer berhenti menangis.

Saat itu Eunhyuk teringat kembali akan Yoona. Harusnya anak ini mendapat air susu ibunya, bukan susu buatan seperti ini. Harusnya saat ini Eunhyuk dan Yoona menidurkan anak mereka. Harusnya malam ini dan malam-malam selanjutnya Eunhyuk dan Yoona akan melewatkan tidur malam mereka karena menenangkan Spencer yang menangis.

Eunhyuk duduk di sofa ruang tamu masih dengan menggendong Spencer. Anak itu sudah telelap. Entah ide darimana, tiba-tiba saja Eunhyuk ingin bernyanyi untuk anaknya.

Sojunghameul itkko sarasseo, chaga un sesang sogeseo

Eodu un georireulhemaedo, nunmul heulil sueoptteon nayenneunde

Neoreul gidaryeoongeya, aju oraen shigandongan

Nareul kkok dalmeun sarangmeul wihae

Weroweotteon shiganmankeum neo ege dajugo shipeun

My endless moment, pray for you………….

Eunhyuk terkekeh sendiri. Anaknya sudah benar-benar tertidur. Apa setelah mendengar suara cempreng ayahnya?

“Kau tahu ? suara ayahmu ini paling buruk diantara 13 paman mu,” ucap Eunhyuk sambil merapikan helaian rambut anaknya yang mulai tumbuh. Ia melewatkan banyak hal ternyata.

“Kau merepotkan, kau tahu itu? Tapi ayah suka kau repotkan. Teruslah begini, buat ayah bangun setiap malam, setelah itu ayah akan menyanyi lagi untukmu. Sepertinya kau suka mendengar suara ayah. Iya kan ?” Eunhyuk terus bicara seolah anaknya itu mengerti dan mengiyakan semua kalimatnya.

“Berarti kau orang pertama yang bilang begitu. Ibumu saja bilang ayah lebih baik diam dari pada ikut bernyanyi bersama paman-pamanmu.”

Eunhyuk merebahkan tubuh anaknya di sofa. Ia lalu ikut merebahkan diri disamping jagoannya. Ia peluk tubuh mungil itu memberi kehangatan. Mata sipitnya mulai terpejam. Ayah dan anak itu tidur dengan lelapnya.

***

Max memukul-mukulkan pulpen hitamnya ke kepala. Tumpukan map menjadi hiasan yang memenuhi sekitarnya, terutama di atas meja. Beberapa dibiarkan terbuka dengan lembaran kertas yang berserakan. Dua gelas kopi yang sudah kosong ikut memperburuk pemandangan.

Ia bersandar pada singgasananya tanpa berhenti dengan kegiatan mengetuk-ngetukkan pulpen itu, bedanya meja lah yang menjadi tempatnya. Ia memejamkan mata, menarik dasinya yang mulai membuatnya gerah. Rasanya AC ruangan itu tidak pernah dimatikan, tapi rasanya begitu panas. Ia lempar dasinya ke sofa yang tepat berada didepan meja serta kursi kerjanya. Ia tidak terlihat baik.

”Sudah lupa cara tersenyum tuan Shim Changmin?” tanya seseorang yang entah kapan sudah berdiri didepan Max. Pria yang juga berstelan jas itu lalu duduk dengan santai disofa dimana dasi tadi terdampar. Max membuka mata dengan malas. Tidak begitu berminat meladeni pria itu.

”Sudah kubilang panggil aku Max,” kata Max sambil kembali menutup mata. Ia berputar-putar tidak jelas mengikuti arah kursinya.

”Sudah kubilang aku akan selalu memanggilmu Changmin.”

”Hah…………” Max menghelas nafas berat. Ia menghentikan kursinya yang berputar menghadap pria itu. Diam sejenak lalu kembali pada map-map berwarna warni itu.

”Singkirkan benda-benda itu ! Percuma….” perintah pria itu santai lalu mengeluarkan bungkus rokoknya dari saku jas. Ia mengambil satu lalu menyalakannya.

”Hah..otakku buntu,” keluh Max sambil melempar pulpennya ke arah pria itu. Refleks yang begitu bagus dari pria tersebut hingga bisa menangkap pulpen itu sebelum hinggap dikepalanya.

”Kau butuh ini !” pria itu melempar sepuntung rokok plus pemantiknya. Max terlihat kaget dan gagal menangkap dengan baik. Ia terpaksa memungut benda yang akhir-akhir ini terlupakan itu dari lantai.

”Refleksmu menurun…itu bukan pertanda baik.”

”Ya ya…kau memang peramal hebat.” Max bergerak menuju sofa. Ia duduk didepan pria tampan itu, menghidupkan rokok dan menghisapnya.

”Sudah berapa lama kau tidak merokok ?”

”Rasanya sekitar seminggu. Kau tahu Nari tidak suka ini”

”Hah…kenapa harus takut. Merokok itu hal biasa,” si pria cantik itu menaikan satu kakinya ke atas meja.

”Tapi aku harus menghargainya. Dia tidak suka jadi tidak mungkin melakukan secara terang-terangan.” Max terus menghisap rokok yang ia rindukan itu. Asapnya beradu dengan asap dari mulut pria didepannya.

”Cih..benar-benar payah..apa kabar Nari mu itu? Masih sama?”

”Aku harap ada topik lain, hyung.”

”Haha..artinya masih sama. Artinya istrimu masih begitu kan? Kalian itu pasangan super aneh,” pria itu berdecak pelan lalu mematikan rokoknya yang belum habis. Entah kenapa.

”Begitulah…………..” jawab Max sambil melepas kacamata lalu bersandar pada sofa. Punggungnnya sedikit pegal. Ia butuh orang baik hati yang ingin memijitnya secara cuma-cuma.

”Kau bodoh kau tahu itu? Kau sebagai pria tidak tegas. Kau mengikuti arus yang dibuat oleh Nari. Harusnya kau yang membawanya.”

”Ini tidak semudah itu hyung….”

”Ini simple. Tapi kalian yang membuatnya susah. Kau bodoh. Nari pun begitu. Aku tidak mengerti isi otak kalian. Ayolah…kalaupun masalahnya adalah karena cinta, hal itu tetap tidak wajar. Melakukan seks adalah kebutuhan. Tanpa cinta pun tidak masalah,” pria itu mengemukakan pendapatnya. Ia naikan satu kakinya lagi hingga kini kedua kakinya bertengger diatas meja.

”Aku bukan pria seperti itu hyung. Aku tidak ingin memaksanya sampai ia siap dan tulus menerimaku, bukan paksaan. Aku menunggunya membalas perasaanku, bukan semata menginginkan raganya.” Max mematikan rokoknya di asbak, menyusul tindakan hyungnya tadi.

”Astaga Changmin…kalau kau menunggu  maka kujamin sampai kau beruban pun itu tidak akan terjadi. Kau harus maju. Bersikap sebagai seorang pria. Aku jamin, setelah sekali ia merasakan maka akan ketagihan, haha,” ucap pria berambut pirang itu sambil melepas jasnya, ikut-ikutan gerah. Max bangkit dari sandarannya, sedikit tegak lalu memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan pria yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu.

”Lalu aku harus bagaimana ? aku sudah mencobanya berkali-kali sehalus mungkin. Tapi nihil, selalu akan berkahir dengan tatapan memohonnya untuk tidak berlanjut.” Max kembali menghempaskan tubuhnya karena frustasi.

”Haha..aku prihatin padamu. Apa setelah itu kau berlari kekamar mandi untuk menuntaskannya?” pria itu menahan tawanya yang akan meluncur lagi.

”Aku tidak ingin membahas itu.”

”Haha ya, ya, jangan sinis begitu. Jawabannya sudah jelas. Kau harus tegas. Jangan biarkan dia membuatmu luluh. Kau suami, dia harus berada atas kuasamu.” Max nampak berfikir dengan nasehat pria itu. Sedikit ragu tapi….mungkin akan ia coba.

”Ya…lihat saja nanti malam.” Max mengisyaratkan untuk meminta rokok lagi. Pria itu melempar satu bungkus yang masih baru pada Max. Dan lagi..ia gagal menangkap padahal jarak mereka begitu dekat.

”Ah..kau gagal dua kali. Kau harus periksa ke dokter.”

”Bicara apa kau hyung ? Sudahlah, kau pergi sana ! Aku harus lanjut mengerjakan setumpuk map sialan itu.”

”Cih…kau mengusirku ? hmmm aku punya tempat yang bagus untuk memuaskan hasratmu. Mau ikut ?” tawar pria itu sambil menurunkan kedua kakinya.

”Aku setia hyung. Aku bukan kau.” Max sudah bangkit dari sofa menuju kursi kerjanya. Tapi ia seperti masih ingin menyelesaikan ritual merokok dulu.

”Haha…aku tidak bisa membayangkan jadi sepertimu. Hampir 6 tahun menikah dan tidak melaku…..”

”Silahkan keluar hyung,” pinta Max masih berusaha sopan untuk menghentikan ucapan pria itu. Ia berdiri dengan malas, mengambil jasnya tanpa berminat memakainya kembali.

”Baiklah. Kutunggu kabar baiknya besok. Aku tidak ingin dengar kau mengeluh lagi” pria itu melenggang dan menghilang dibalik pintu. Max menghela nafasnya berat. Ia hisap rokoknya lalu menyembulkan asap dari mulut. Tak sampai satu menit, pintu ruangannya terbuka.

”Kau yakin tidak mau ikut denganku?” pria tadi kembali menawar dengan senyuman nakalnya. Max bersiap melempar pulpennya lagi tapi pria itu gesit menutup pintu. Max berniat menbuang rokoknya tapi harus ditunda karena pintu lagi-lagi terbuka.

”Changmin-ah……”

”Apalagi hyung ???” tanya Max jengkel. Pria tadi mendekat lalu menyerahkan sebuah kertas kecil. Max mengambilnya dan tertera sebuah alamat rumah sakit.

”Kau butuh ke dokter. Lihat ! wajahmu pucat.” Tanpa sempat Max membalas ucapannya, pria itu sudah menjauh pergi. Max mebalik-balikkan kertas itu lalu membaca alamat yang tertera disana. Belum selesai ia baca, pintu terbuka lagi menampakan sosok pria menyebalkan tadi.

”Oke hyung aku akan kesana !” Max setengah berteriak sebelum pria itu berkata lebih dulu.

”Haha, Aku hanya mau bilang. Dokter itu bukan cuma bisa menyembuhkan masalah fisik, tapi juga masalah hati.” pria tadi nampak berlari karena sadar akan ada bahaya jika ia berlama-lama disana.

”JAEJOONG HYUNGGGG !!!!! AWAS KAU !!!”

***

“Apa kabar istriku ini? Rasanya sudah seminggu melupakan suaminya,” kata Max yang baru duduk disamping istrinya diatas tempat tidur.  Ia matikan lampu yang berada tepat di samping kirinya.

“Maaf, akhir – akhir ini aku lebih sering ke rumah Yoona.” Nari menutup majalah yang sejak tadi ia baca. Max tentu tidak akan marah hanya karena ini, Nari tahu itu. Suaminya ini pria super sabar yang pernah ia temui. Max tersenyum lalu membelai pipi istrinya. Nari balas tersenyum lalu sedikit merebahkan tubuhnya dan berniat menarik selimut. Namun, tangan kekar suaminya berhasil menahan.

“Hampir 6  tahun sayang,” ucapnya pelan nyaris tidak terdengar jika mereka berada dtempat yang ramai. Nari mengerti maksud ucapan itu. Seketika itu juga jantungnya berpacu lebih cepat. Beberapa kali ia menelan ludah terlebih saat Max makin intens melihat dan membelai tiap lekuk wajahnya.  Tubuhnya berusaha untuk beringsut mundur. Tapi kedua tangan kekar suaminya cukup untuk memenjarakan tubuh mungilnya itu.

“Aku….aku…..mpppthttthpp” Max dengan gesit mengunci tubuh sang istri.

Nari sedang sinting. Tidak, sejak awal dia begitu. Jika biasanya dia mampu sedikit lebih sopan. Maksudnya menolak dengan halus permintaan wajar dari suaminya, kali ini ia dorong tubuh Max hingga tersungkur ke lantai. Untuk perbandingan wanita biasa dan pria tinggi kekar seperti mereka, tentu kemampuan Nari membuat Max terduduk seperti sekarang patut diancungi jempol. Dan lihat saja sekarang apa yang sudah Nari perbuat.

Max menatap istrinya yang menutup mulut dengan sayu. Nari melihat kedua tangannya yang baru saja bertindak salah. Kembali ia arahkan bola matanya pada sang suami yang memilih tetap di posisi semula.

Jika harusnya atau biasanya Max akan tersenyum memaklumi, maka kali ini diluar dugaan. Ia maju dan melakukan hal yang sama bahkan lebih intens. Max memperlakukan istrinya lembut tapi…..seperti sulit dihentikan.

”Mmmmmax…………”

”Ssssstt..saranghae..hhhahh.”

Nari tidak lagi bisa menutup mata. Diserang secara tiba-tiba membuatnya ingin mendorong tubuh kekar itu lebih kuat. Merasa Max seperti hendak mengunci lebih kuat kedua tangannya, ia gunakan seluruh tenaga untuk melepaskan tautan itu. Entah kekuatan dari mana, dorongan itu sukses membuat Max terjungkal kebelakang untuk kedua kalinya.

Max terpaku dilantai menatap sang istri yang sedikit berantakan karena ulahnya. Tapi bukan itu yang dipermasalahkannya. Melainkan sikap dari Nari. Nari menyentuh bibirnya yang masih basah. Ia pun tidak kalah terkejut dengan apa yang sudah ia perbuat. Mulutnya ingin bersuara tapi ia pun tidak tahu harus berkata apa. Sedangkan Max menarik sedikit ujung bibirnya. Tidak, itu bukan senyuman berupa penerimaan maaf.

“Kau membuatku seperti pria jalang yang ingin menodai remaja tidak berdosa.”

***

”Bodoh bodoh bodoh…” rutuk Nari dalam hati. Sejak malam, mungkin hanya kata itu yang ia ucapkan. Bodoh, maaf, ahh kata-kata itu jadi begitu akrab akhir-akhir ini.

Pagi ini tidak ada yang berbeda. Cerah seperti kemarin-kemarin. Burung-burung dalam sangkar yang tergantung diberanda belakang rumah pun tetap bersesahutan. Seperti biasa pula Minho sudah duduk dimeja makan menunggu sang ibu mengambilkan nasi goreng yang dibuat.

“Mama kok diam ci?” tanya Minho yang sudah tidak sabar ingin mengisi perutnya.

Memang hanya ini yang berbeda. Dimana Nari dan Max diam tanpa suara. Max fokus membaca korannya yang jika diperhatikan itu terbitan seminggu yang lalu. Nari menunduk dan berkali-kali menarik nafas panjang. Bahkan ia lupa mengambilkan nasi goreng yang ia buat tadi untuk anaknya. Padahal ia tahu anaknya itu paling tidak bisa terlambat makan.

“Mamaaaaaa,” panggil Minho sekali lagi.

“Ha? Iya kenapa sayang?”

”Issss..ambilin naci golengnya,” pinta Minho dengan wajah memelas.

“Eh? Belum ya? Maaf.”

Segera saja Nari mengambilkan dua sendok nasi dipiring Minho yang memang masih kosong. Tanpa kata-kata lagi, bocah itu melahap nasi buatan ibunya. Ia selalu suka sarapan nasi goreng buatan Nari.

“Aku berangkat.”

Max melipat kembali korannya, meletakkannya diatas meja lalu pergi begitu saja. Tanpa kecupan dipipi untuk sang istri dan tanpa kecupan didahi untuk sang anak seperti biasa. Minho tidak mempermasalahkan itu karena ia lebih tertarik dengan makanannya. Sedangkan Nari hanya diam melihat kepergian suaminya sampai terdengar suara mobil meninggalkan pekarangan rumah.

“Huh..bodoh kau Nari”

“He? Mama ngomong cama capa?” tanya Minho dengan mulut yang penuh nasi. Beberapa tercecer keluar dari mulut kecilnya.  Nari mendekat lalu membersihkan nasi disekitar mulut Minho.

“Kalau makan, jangan sambil bicara”

Nari kembali ketempat duduknya sambil menyuap sesendok nasi. Nafsu makannya sudah hilang, tidak enak menyantap makanan berdua saja dengan Minho. Tidak enak menyantap makanan dengan rasa bersalah seperti ini.

Ia tahu benar semalam telah mengecewakan suaminya entah untuk keberapa kali. Bagaimanapun setelah itu ia selalu menyesal dan minta maaf, tetap saja tidak ada perubahan. Selanjutnya ia akan ulangi lagi, lakukan lagi dan meminta maaf. Biasanya Max akan dengan mudah tersenyum lalu berkata tidak apa-apa. tapi kali ini berbeda. Max tidak bicara, tidak melihatnya, tidak menyapa.

Nari mengaduk-aduk nasi dipiringnya dengan tidak selera. Baru satu suap yang ia makan. Perutnya menolak untuk menerima asupan lagi. Ia bingung bagaimana meminta maaf pada Max ? apa ia benar-benar harus melakukan hal yang paling diinginkan oleh Max malam ini? Ya, ia tidak perlu berfikir untuk melakukan itu. Tapi hatinya masih menolak dengan alasan yang tidak masuk akal. Jika ada orang luar yang mengetahui masalah mereka maka dipastikan orang tersebut memaki-maki Nari dan bertanya-tanya bagaimana bisa seorang pria normal seperti Max alias Shim  Changmin bisa tahan ?

“Mama…hali ini kita ke lumah paman unyuk lagi ya !!!” pinta Minho setelah menghabiskan minumannya sebagai penutup dari sarapanya yang banyak itu. Nari tidak menghiraukan karena fikirannya masih berkutat dengan pilihan antara melakukan atau tidak.

“Mamaaaaaaaaaaaa” teriak Minho kencang yang membuat Nari menutup telinga. Bocah ini benar-benar menuruni segala sifat, kelakuan dan bakat ayahnya, termasuk dalam hal menyakiti telinga orang lain.

“Minho kenapa sih?”

“Siapa suluh mama nda jawab Minho !”

“Oke maaf. Jadi tadi Minho bicara apa?” tanya Nari sekali lagi dengan sabar.

“Minho mau main sama Spensel hali ini”

“Minho, besok saja ya ! baru kemarin kan kita kesana?”

“Aisss. Maunya hali ini titik tanpa koma” pinta Minho dengan tegas sambil memukul-mukulkan sendok pada piringnya. Kalau sudah begini tidak ada pilihan lain selain menuruti kemauannya. Nari tidak akan bisa menolak. Bisa-bisa sebentar lagi Minho akan membuat alunan nada yang memekakan telinga.

“Baiklah…sekarang atau nanti ?”

“SEKALANG !!!”

“Oke oke”

Permintaan Minho atau yang pantas disebut pemaksaan itu akhirnya dituruti. Setelah sarapan yang sama sekali tidak mengeyangkan bagi Nari, ia membawa anaknya menuju rumah Eunhyuk. Kebetulan Spencer bukan sedang tidur sehingga Minho yang begitu antusias langsung berlari mendekati bayi tersebut.

“Halo spensel !! lama nda ketemu” sapa Minho ceria. Eunhyuk dan Nari tertawa melihatnya.

“Minho, Kita baru dari sini kemarin ”

“Anakmu ini lucu sekali”

Nari hanya tersenyum menanggapinya. Ia ikut mendekat ke arah Minho yang sekarang mengajak Spenser bicara. Perlahan Eunhyuk melangkah lalu berdiri disamping Nari. Sedangkan anak-anak mereka duduk manis dilantai yang beralaskan karpet itu.

”Terima kasih..kau pasti cukup kerepotan akhir-akhir ini” ucap pria yang sudah sedikit berisi itu. Ya setidaknya lebih baik dibanding kemarin-kemarin.

“Tidak masalah Hyuk. Aku senang menjaga Spenser, walaupun aku sama sekali tidak pandai merawat bayi.”

“Haha kau ini. Kau tentu sudah berpengalaman karena Minho.”

Setelah hari kelam itu, inilah tawa pertama yang Nari lihat dari Eunhyuk. Tapi ia tidak bisa ikut tertawa setelah mendengar kalimatnya. Eunhyuk salah. Nari sama sekali tidak berpengalaman. Cara menggendong Spencer pun ia perlu diajari oleh orang tua Yoona.

“Tidak ada yang kemari?” tanya Nari sambil mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Ia memang tidak menemukan siapapun begitu memasuki rumah ini.

“Mereka tidak mungkin terlalu sering kesini, atau menginap hanya karena khawatir Spencer tidak terurus. Aku bisa.” Jawab Eunhyuk yakin.

Nari tersenyum mendengarnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berperan sebagai ayah sekaligus sebagai ibu. Disaat ia harus bekerja maka ia juga harus menjaga buah hatinya. Sekarang mungkin Eunhyuk belum memulai aktifitasnya. Tapi itu tidak mungkin terus menerus. Bagaimanapun ia harus melanjutkan pekerjaan yang terbengkalai.

Sebenarnya tidak ada yang terbengkalai, Eunhyuk saja yang tidak nyaman jika lama-lama meninggalkan pekerjaannya. Donghae tentu tidak keberatan jika Eunhyuk tidak membantunya mengurusi sekolah seni mereka, ayahnya tentu tidak masalah jika ia menambah daftar absennya di hotel,  pimpinan SME pun sangat memaklumi kondisinya saat ini, dan masalah restoran, orang tuanya sudah mengambil alih sementara, jadi harusnya Eunhyuk dapat konsentrasi mengurus sang buah hati.

“Kau akan melakukannya sendiri ?” tanya Nari hati-hati.

“Tentu. Karena ia masih lemah, mungkin aku akan menitipkannya dulu jika harus bekerja. Tapi jika sudah memungkinkan, aku akan membawanya kemanapun”

“Hey..kau bercanda ! Kau mau membawanya ke hotel ? Restoran ? Sekolah ? Gedung SME?”

“Semuanya”

“Kau bisa juga menitipkannya padaku, jangan memaksakan diri”

“Jangan bicara seolah itu sangat sulit, aku bisa tenang saja”

”Kau…”

”Mamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Minho dengan oktaf tertinggi.

“Minho ! Nanti Spencer menangis !” tegur Nari lalu mendekat ke arah anaknya dan saat itu juga tawanya menyembur. Anaknya sudah berdiri dengan tampang paling menggemaskan. Dan baju serta tangannya terlaaht basah. Eunhyuk ikut mendekat dan tidak jauh berbeda. Ia pun tertawa.

”Iissss.mama sama paman jahat ! Minho dipipisin Spencel tauuu”

“Hahaha” Eunhyuk tidak dapat menahan tawanya sampai menunduk memegangi perutnya. Sedangkan Nari sudah lebih baik dengan membawa anaknya menuju toilet.

”Untung mama bawa baju ganti,” ucap Nari sambil mengganti pakaian anaknya yang sedikit basah.

“Kenapa bisa begini huh?” tanya Eunhyuk sambil mengusap kepala Minho lembut. Minho tidak menjawab dan memajukan bibirnya. Nari berdiri untuk menggantikan celana Spencer.

“Kenapa tidak kau pakaikan popok, Hyuk ?”

“Aku belum sempat membeli popok, persediaanku habis. Jadi Minho ? kenapa bisa ? haha”

“Aiss paman, tadi itu Minho mau lihat popoknya Spensel gambal apa, tapi Minho buka malah begini “

“Hahahaha”

Hari-hari menyenangkan milik Eunhyuk terus berlanjut. Seperti yang dikatakan pada Nari, ia melakukannya sendiri termasuk membawa Spenser ketempat ia bekerja. Seperti hari ini, ia membawa Spenser ke gedung SME. Meski belum ada hal berarti yang ia lakukan, tapi ia ingin membuka kembali hari-harinya yang sempat hanya berkutat didalam kamar berukuran 5×6 meter itu. Para artis naungan agensi tersebut menyambut kedatangan Eunhyuk dengan baik. Intinya tidak ada kesulitan baginya menjalankan tugas ini bersamaan.

Begitupun ketika ia membawa Spencer ke sekolah. Donghae cukup terkejut karena sebelumnya tidak ada pemberitauan. Mungkin tempat ini yang paling cocok untuk Spencer, banyak anak-anak yang menyukainya.

Jika ada yang berniat mengetahui keadaan Nari maka jawabannya adalah tidak ada perubahan. Max masih melakukan aksi kunci mulut dengan hanya bicara hal-hal sekedarnya seperti “aku pulang, aku berangkat, selamat malam”. Malam hari setelah Nari kembali dari rumah Eunhyuk kala itu, ia mencoba membangun suasana romantis. Ia menyiapkan makan malam kesukaan suaminya dengan harapan akan ada reaksi bagus dari Max.

”Max..kau pulang ? aku menyiapkan makan malam dan semuanya makanan kesukaanmu” ujar Nari dengan senyum dan sikap semanis mungkin yang sudah ia siapkan. Max mendekat ke meja makan. Ia tidak duduk, tetap berdiri dan mencicipi sedikit sayuran yang terletak paling dekat dengannya. Nari harap-harap cemas.

Setelah sesendok kuah yang Max telan, tidak ada ekspresi jelas darinya. Nari menggigit bawah bibirnya menunggu apa yang dilakukan sang suami.

”Aku sudah kenyang”

Hanya kalimat singkat itu yang diucapkan Max lalu melangkah menjauh menuju kamar. Jika Nari tidak salah, suaminya bahkan tidak menoleh atau menatap matanya sedikitpun.

Alhasil, makanan tersebut terbuang sia-sia, tidak semua karena sudah menjadi tugas Minho untuk menghabiskan makanan itu. Tentu sebesaar apapun nafsu makannya, tidak mungkin makanan sebanyak itu mampu ia habiskan, sisanya mungkin menjadi rejeki untuk kucing yang melintas didapur.

Nari sudah tidak perduli, yang perlu ia lakukan saat itu adalah mendapatkan hati Max kembali. Ia sadar akan kekecewaan besar yang dirasakan suaminya. Maka dari itu, seharian ini ia sudah memikirkan dengan baik jika ia akan melakukan kewajibannya tersebut.

Nari mendekat ke arah suaminya yang berbaring membelakanginya. Ia tahu suaminya pasti belum tidur. Ia sudah bertekad untuk menyelesaikan masalah mereka malam itu juga. Dengan sangat hati-hati ia sentuh pundak suaminya. Satu detik, tidak ada respon.

“Max….” panggilnya pelan. Tetap tidak ada respon. Nari menghelas nafas panjang. ia rebahkan tubuhnya perlahan lalu menarik selimut menutupi dada. Matanya lurus menatap lampu yang tergantung diatas kepalanya.

“Aku siap Max, aku ingin melakukannya,” ujarnya sangat pelan tapi…tidak terdengar ketulusan disana. Bukan terdengar seperti sebuah pernyataan kesiapan, melainkan ketakutan. Kalimat itu tertangkap oleh telinga suaminya. Max membuka mata lalu berbalik menghadap sang istri. Nari fikir mungkin itu adalah pertanda baik. Baru saja ia ingin mengucapkan kalimat lain dan menghadap suaminya, sebuah kalimat meluncur dari mulut suaminya itu.

“Tidurlah..lupakan soal kemarin. Maafkan aku”

Nari mempererat pelukannya pada selimut. Matanya masih menatap ke atas. Dapat ia rasakan suaminya kembali berbalik membelakanginya. Saat itu juga air mata menetes perlahan. Sakit mendengar kalimat maaf justru dari mulut orang yang disakitinya. Bukankah harusnya ia yang meminta maaf ? ia yang harusnya berkata seperti itu, bukan suaminya.

“Maafkan aku,” ucapnya lirih. Jika Max belum tertidur harusnya ia dapat mendengar dua kata tersebut yang diiringi isak tangis.

Mungkin itu jadi malam penuh perenungan bagi Nari. Ia coba mencari jawaban atas kebodohannya selama ini. Apa benar ia tidak mencintai suaminya hanya karena menolak untuk melakukan hal itu ? apa…….Eunhyuk sudah mengambil alih seluruh tempat dihatinya? Nari ingin berbagi pada seseorang yang mungkin punya jawaban bagus atau setidaknya memberinya uluran tangan. Tapi ia tidak melihat tali yang menjuntai untuk menariknya dari lubang ini.

”Mungkin aku wanita paling bodoh didunia. Tapi percayalah..aku sedang berusaha”

Dan kalimat itu mengiringi setitik air mata dari pelupuk mata sang suami. Bukan itu yang ia inginkan. Bukan sekedar melakukan ritual wajib itu.  Ia ingin ketulusan, cinta dari Nari. Ia ingin……. ah ia………menangis.

.

.

.

.

TBC

FF ini sudah pernah di post di misskyusuieworld.wordpress.com ! saya kirim kesini dengan beberapa perubahan dan perbaikan. Makasih bagi yang berkenan baca, semoga menghibur.

*BOW*

5 thoughts on “Destiny Part 4

  1. kyk y di otak q udah sedikit ada gambaran tentang masa lalu y eunhyuk n nari,,,, q curiga pas ada kata ‘bibir suci’ y nari berarti selama ini changmin ngak pernah ciuman ma nari m ditamabah kenyataan yg mumcul setelah y selama 6 tahun nikah ma nari changmin ngak pernah berhubungan suami istri ma Nari?????? tu bikin curiga jgn2 MINHO bukan anak y changmin lagi tapi anak Nari daro eunhyuk???? n kata2 kyuhyun jua buat curiga eunhyuk yg kebali,,,,, tu yg ada di otak q Nari n hyuk ngejalin cinta sesaat n minho anak y eunhyuk????
    agak kesel sama nari krn ngelakuin changmin kyk gt mpe nolak gt sedih changmin y mpe bilang,,,dia kyk l mau perkosaanak remaja aja tu makin kasian ma chanhmin ditamabah pikiran y ke eunhyuk mulu n ngak nepatin janji y lupain eunhyuk tapi balik lg mikirin…..
    q kasian m changmin….. changmin q disia2 in…..
    Lanjut…..

  2. Yoona-nya meninggal? Hyuk sayang banget sama Yoona kayaknya, dan sepertinya dia gak ada rasa sama Nari lagi, atau… Gak tau deh, hanya admin yang tau wkwk
    Lanjutkan eon! ‘o’)9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s