Because I Love You Part 4


Title : Because I Love You

Cast : Jung Yunho

Rating : NC17(mungkin bisa berubah di next part)/Straight

Author : Lee Eun Ri

A/N: cerita ini author bikin dengan otak mumet jadi klo agak2 gaje, aneh and ga dpt feelnya mohon di maklum ya :D … ga di edit sebelumnya jd kemungkinan ada typo,skali lg mohon di maklum. judulnya agak2 aneh krn author bingung ngasih judul…

Part 1, 2 & 3 bisa di cari di sini

Happy Reading

 

“Jadi sampai sekarang kau masih menganggapku main-main? Setelah apa yang sudah kukatakn selama ini padamu, kau masih berpikiran seperti itu?” Perkataan tegas dari Yunho membuat Changmin menghentikan ucapannya. Ia dan Hee Young langsung menoleh ke samping mereka. Hee Young membelalakan matanya melihat Yunho, namja itu terlihat marah dan kecewa padanya.

Hee Young melihat Yunho pergi meninggalkannya. Ia hanya diam terpaku. Sebuah sentuhan dari tangan Changmin di punggung tangannya membuat ia menoleh pada namja itu.

“Hampiri Yunho hyung. Dan kusarankan kau jelaskan semuanya, kalau perlu katakan apa yang ada di hatimu agar dia tidak salah paham.” Saran Changmin. Hee Young mengangguk lalu mengejar Yunho.

 

Saat namja itu sudah ada di depannya, hanya dengan jarak 50cm. Hee Young tak berani berbicara, ia hanya menundukkan kepalanya sambil terus mengikuti Yunho. Ia tak sadar kalau ia terus mengikuti namja itu sampai ke tempat di mana mobil namja itu di parkir.

“Mi Mianhae.” Ucap Hee Young dengan terus menunduk.

“Kenapa kau mengikutiku?” Tanya Yunho padanya dengan nada ketus. Hee Young tak berani menatap wajah Yunho.

“Bukankah kau tidak percaya dengan cintaku yang sangat tulus? Kau hanya menganggapnya main-main. Dan aku heran kenapa kau menanyakan hal tentangku pada Changmin. Aku lelah.” Ucap Yunho lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Hee Young.

“Sunbae.” Gumam Hee Young sambil menahan tangisnya.

“Hei, hyung tidak mau mendengarkanmu?” Hee Young membalikkan tubuhnya mendengar suara Changmin. Namja itu berlari ke arahnya.

“Ne.” Jawab Hee Young. Ia mendengar helaan nafas dari namja itu.

“Baiklah, hyung kini mulai marah dan sepertinya akan kacau dan membuatnya kembali seperti dulu. Tapi kuharap itu tidak terjadi. Nah sekarang, kau ikut denganku ke kantin. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan.” Ucap Changmin serius. Hee Young hanya bisa mengangguk dan mengikuti Changmin.

Sampai di kantin Hee Young hanya melihat Changmin memesan makanan dan memakan semuanya tanpa jeda. Ia menatap namja itu bingung. Setelah selesai makan barulah namja itu menatapnya serius.

“Boleh kutahu kenapa kau berkata seperti tadi di taman? Kau masih menganggapnya main-main? Jawab dengan jujur.” Tanya Changmin.

“A aku awalnya su sudah yakin kalau Yunho sunbae mencintaiku sungguh-sungguh tapi tadi saat tak sengaja mendengar obrolan para yeoja di perpustakaan membuat keyakinanku goyah.” Jawab Hee Young jujur.

“Apa yang kau dengar dari obrolan mereka?” Tanya Changmin lagi.

“Mereka mengatakan kalau Yunho tak mungkin bisa bertahan lama dengan perubahannya itu dan mereka mengatakan kalau mereka akan membuat Yunho kembali kepelukan mereka dengan cara apapun karena Yunho  mencintai mereka dengan tulus. Da dan me mereka mengancamku untuk menjauhi Yunho sunbae. Maka dari itu aku bingung dan bertanya seperti itu pada Changmin sunbae.” Jawab Hee Young jujur. Changmin menghela nafas.

“Aish! Para yeoja itu.” Gumam Changmin kesal. Hee Young tersenyum tipis.

“Biar nanti aku yang bicara dengan Yunho hyung.” Ucap Changmin. Hee Young dengan cepat menggelengkan kepalanya.

“Tidak usah, sunbae. Biar nanti aku saja yang menjelaskannya.” Ucap Hee Young menolak halus. Tak lama ia berdiri dan membungkuk pada Changmin.

“Gumawo. Saya permisi dulu.” Ucap Hee Young lalu pergi.

Saat sedang berjalan Hee Young teringat tentang pekerjaannya sebagai asisten. Ia mengambil buku agenda lalu melihatnya, setelah itu ia menghampiri Junsu di fakultas namja itu. Hee Young berusaha untuk melupakan sejenak masalahnya dengan Yunho dan fokus pada pekerjaannya.

Ia mencari-cari keberadaan Junsu, ia mengintip ke sebuah kelas yang kebetulan pintu masuknya terbuka lebar dan tidak di tutup oleh sang dosen. Hee Young melihat Junsu ada di kelas itu membuatnya mengangguk lalu menunggu di tempat yang tidak jauh dari kelas bosnya itu. Selama menunggu ia mengirimkan pesan pada Yunho. Ia mengetahui no. ponsel namja itu karena pada waktu itu Yunho memaksanya untuk menyimpan no.ponselnya.

To: Yunho Sunbae

Sunbae, kau ada di mana? Aku ingin menjelaskan semuanya.

Hee Young mengutak-atik no.ponselnya menunggu balasan dari Yunho tapi tidak ada satu balasan pun yang datang. Ia menghela nafas pelan.

“Kenapa jadi seperti ini?” Gumamnya pelan.

Ia memutuskan untuk mengirimi namja itu sebuah pesan lagi

To: Yunho Sunbae

Sunbae masih marah padaku? Kumohon balas pesanku.

Tak lama Hee Young mendapatkan pesan dari Yunho.

From : Yunho Sunbae

Sampai tadi saat aku di kelas yang kupikirkan hanyalah kau. Berpikir bagaimana caranya menghilangkan trauma yeoja yang kucintai. Aku sangat bersemangat ingin membantumu. Setelah kejadian kemarin kau memberikanku sebuah harapan besar di tambah kau mengatakan akan berusaha mencintaiku. Kupikir dengan kejadian kemarin kau sudah yakin kalau aku tidak main-main denganmu. Tapi ternyata pikiranku salah. Aku kecewa dan sudah lelah. Hatiku sakit. Kuharap kau mengerti maksudku.

Setelah mendapatkan pesan seperti itu dari Yunho reflek Hee Young menangis. Ia tak peduli dengan tatapan aneh dari mahasiswa/mahasiswi yang lewat.

“Kau salah paham, sunbae.” Gumamnya pelan. Dengan gemetar ia membalas pesan itu.

To: Yunho Sunbae

Mianhae. Aku hanya bisa mengatakan kalau kau salah paham dengan ucapanku. Terima kasih atas semua yang telah kau lakukan untukku.

Hee Young menongakkan kepalanya dan menghapus air matanya. Tak lama Junsu menghampirinya dengan tatapan heran.

“Kau menangis? Ada masalah?” Tanya Junsu. Dengan cepat Hee Young menggelengkan kepalanya.

“Yakin?” Tanya Junsu lagi.

“Ne, tuan.” Jawab Hee Young.

“Baiklah. Ayo sekarang kita pergi dari sini.” Ucap Junsu lalu berjalan meninggalkan fakultasnya. Ia meminta Hee Young tak berjalan di belakangnya terus, ia ingin asistennya itu berjalan di sampingnya. Hee Young hanya bisa mengangguk dan menuruti perintah.

“Ada jadwal apa hari ini? Aku hanya ingat kuliahku sampai jam 12 nanti.” Ucap Junsu.

“Hari ini hanya ada jadwal mengikuti rapat jam 1 siang sampai jam 3 sore. Setelah itu tuan tidak ada jadwal. Di agenda tertulis kalau saat rapat nanti tuan akan di mintai pendapat dan idenya.” Ucap Hee Young dengan lancar. Ia melihat bosnya itu mengangguk.

“Kalau begitu karena sekarang masih jam 9 bagaimana kalau kita keluar dulu mencari makan? Aku belum sempat sarapan. Kau pilihkanlah tempat yang menurutmu enak, aku tak tahu menahu tentang Seoul. Setelah makan kita ke sini lagi dan jam 10 aku akan kuliah lagi. Selama dua jam aku kuliah kau bebas tapi jam 12 jangan lupa kalau kau harus kembali.” Ucap Junsu panjang lebar.

“Ne, saya mengerti.” Ucap Hee Young. Ia mengikuti Junsu dan saat namja itu masuk ia pun reflek membuka pintu mobil dan masuk.

“Kita kemana?” Tanya Junsu. Hee Young berpikir sebentar lalu menunjukkan arahnya pada namja itu.

“Saya pilihkan tempat yang dekat sini dan terkenal sangat enak. Maaf kalau pilihan saya nanti tidak sesuai dengan selera tuan.” Ucap Hee Young.

“Hmm tidak apa. Aku bukan tipe orang yang sulit dalam hal mencari makan. Apapun asalkan enak aku akan memakannya.” Ucap Junsu sedikit tertawa. Hee Young pun hanya bisa tersenyum mendengarnya.

“Ngomong-ngomong kenapa kau memilih tempat yang dekat? Pasti yang lebih enak ada kan dari tempat yang kau pilih itu?” Tanya Junsu yang sebenarnya mengetes asistennya itu.

“Saya berpikir kalau terlalu jauh nanti waktu makan dan kembali ke kampus akan sedikit. Tuan hanya mempunyai waktu kosong satu jam jadi saya memilih yang dekat. Memang yang lebih enak dari tempat yang saya pilih ada tapi cukup jauh dan memakan waktu.” Jawab Hee Young. Junsu mengangguk puas dengan ucapan Hee Young.

“Hmm Bagus. Aku suka jawabanmu. Kau cukup teliti, pertahankan itu.” Ucap Junsu sambil terus mengemudi.

“Ne, Khamsahamnida tuan.” Hee Young mengangguk.

—-

Yunho berjalan malas keluar kelasnya, ia menghela nafas panjang saat melihat Changmin. Namja itu menghampirinya dan menatapnya sedikit kesal.

“Ayo kita kelapangan basket. Yuchun menunggu di sana.” Ucap Changmin dan menariknya paksa.

“Dan aku harus mengatakan sesuatu padamu, hyung.” Tambah Changmin dengan penuh penekanan.

“Jika itu berhubungan dengan Hee Young, aku tidak mau mendengarnya. Aku sudah lelah dengannya.” Ucap Yunho malas. Ia berjalan mendahului Changmin.

“Tapi hyung, kau dengar dulu. Apa yang kau dengar itu tidak seperti apa yang pikirkan.” Ucap Changmin berusaha menjelaskan.

“Kurasa apa yang kudengar sudah cukup. Dan hatiku sakit, Changmin-a.”

“Lagi.” Lanjut Yunho sambil menatap Changmin lekat. Changmin terdiam dan menghela nafas pelan. Ia menatap Yunho yang berjalan menjauh dan ia mengikutinya dari belakang.

“Kau sepertinya memang tidak serius dengannya dari awal.” Ucap Changmin yang membuat Yunho menengok kebelakang dan menatapnya. Changmin tidak peduli dan terus berjalan ke lapangan basket.

“Dan sepertinya kini tak hanya satu hati yang terluka melainkan dua hati terluka di saat yang bersamaan. Kau bodoh, hyung. Hanya karena masalah sepele jadi seperti ini. Padahal sepertinya kemarin kulihat kau dan yeoja itu sudah cukup dekat. Kau benar-benar salah paham.” Gumam Changmin pelan. Ia terus berjalan menghampiri Yuchun.

Changmin duduk di samping Yuchun dengan lemas. Yuchun menatapnya aneh dan bertanya-tanya.

“Jangan tatap aku seperti itu. Teman kita yang satu itu sangat bodoh dan tak mau mendengarkan penjelasanku. Dia malah marah padaku.” Ucap Changmin. Yuchun yang sudah tahu masalahnya dari Changmin menatap Yunho yang kini bermain basket sendirian. Keduanya menatap Yunho dari kursi penonton di lapangan itu.

“Dia benar-benar salah paham.” Ucapan Yuchun dapat anggukan setuju dari Changmin.

“Hei ayo bermain.” Ajak Yunho. Yuchun turun dam mulai bermain dengan Yunho. Changmin hanya menatap permainan itu dengan malas.

 

***

 

Hubungan Yunho dan Hee Young semakin menjauh. Setiap kali berpapasan Yunho selalu bersikap tak peduli. Walaupun tak ia pungkiri hatinya masih milik Hee Young tapi ia masih sakit hati dengan ucapan yeoja itu sebulan yang lalu. Setiap kali ia sedang mengobrol dengan Junsu dan yeoja itu ada di samping teman barunya itu, terkadang ia masih sesekali menatap Hee Young.

Hee Young pun bersikap seolah-olah tak mengenal Yunho setiap kali bertemu dengan namja itu. Itu ia lakukan setelah melihat sikap namja itu padanya. Setiap ia berusaha untuk kembali menjelaskan masalahnya, namja itu menjauh dan tak peduli dengannya. Sudah beberapa kali ia mencobanya tapi tetap tidak ada hasil membuatnya memutuskan untuk berhenti dan kembali bersikap seperti dulu.

Hee Young kini kembali menjadi yeoja dingin dan menjauhi namja kecuali Junsu karena namja itu merupakan bosnya. Ia pun kini mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Awalnya ia berpikir akan sangat sulit dan berat tapi ternyata tidak selalu seperti itu. Ada kalanya ia hanya datang pada Junsu dan memberitahukannya kalau namja itu tidak mempunyai jadwal apa-apa. Setelah itu Junsu pasti menyuruhnya istirahat karena Junsu hanya akan berjalan-jalan sendirian seharian itu.

Kini Hee Young menunggu di luar ruang rapat, ia menunggu bosnya selesai di dalam. Ia menunggu dengan sabar sambil membaca buku. Mendengar pintu ruang rapat di buka reflek Hee Young menutup bukunya dan berdiri, ia dengan cepat memasukan bukunya ke dalam tas dan menghampiri Junsu.

“Kita bicara di ruanganku.” Ucap Junsu serius.

“Ne.” Jawab Hee Young patuh. Keduanya masuk ke dalam ruang Junsu. Hee Young berdiri menunggu Junsu berbicara.

“Duduk.” Perintah Junsu. Hee Young mengangguk dan duduk.

“Begini, tadi di dalam rapat aku di beri tugas oleh appa untuk pergi ke Amerika dan Paris. Aku di tugasi ke sana untuk melihat bagaimana kondisi perusahaan dan menangani beberapa hal lainnya. Aku pun berencana membuka bisnis di sana tapi aku harus melihat peluang dan keadaan.” Ucap Junsu. Hee Young mendengarkan dengan teliti.

“Kau harus tutup mulut tentang rencanaku, aku tak mau ada satu orang pun yang tahu. Nah aku ke sana membutuhkan waktu cukup lama dan kau harus ikut. Kurang lebih selama 6 bulan.” Ucap Junsu.

“Saya ikut juga, tuan?” Tanya Hee Young tak percaya.

“Ne, dan jika semuanya berjalan lancar termasuk rencana bisnisku aku akan menetap di Amerika atau Paris. Dan jika kau masih mau menjadi asistenku berarti kau harus ikut dan mengurus cuti kuliah. Untuk sementara lakukan cuti. Jangan dulu pindah kuliah. Bagaimana? Kuberi kau waktu berpikir sampai besok pagi. Aku tak ada waktu terlalu lama karena harus segera pergi.” Hee Young terdiam mendengarnya. Ia menatap Junsu cukup lama sambil berpikir.

“Saya ikut dan saya masih ingin menjadi asisten tuan.” Ucap Hee Young mantap. Ia berpikir ia menetap di Seoul pun untuk apa. Tak ada keluarga ataupun orang yang mencintai dan di cintainya.

‘Sepertinya ini memang yang terbaik. Dia pun sudah mengacuhkanku setelah membuat hatiku sudah perlahan terbuka untuknya. Hanya karena sebuah kesalahpahaman.’ Batin Hee Young.

“Kau yakin?” Tanya Junsu memastikan.

“Ne.” Jawab Hee Young cepat.

“Baiklah. Kalau begitu besok pagi urus cuti kuliah. Kita pergi bersama. Jika besok selesai mengurus cuti kuliah lusa kita langsung brangkat. Kau mulailah bersiap-siap.” Ucap Junsu.

“Bagaimana masalah tiketnya tuan? Apa saya harus memesannya sekarang?”

“Tidak usah. Tadi appa mengatakan kalau tiketnya sudah di urus. Ayo kuantar kau pulang. agar kau bisa bersiap-siap.” Junsu berdiri dan pergi. Hee Young hanya bisa mengkuti namja itu dari belakang.

Selama perjalanan Hee Young gugup karena ini pertama kalinya ia pergi keluar negeri.

“Oh iya ngomong-ngomong kau fasih berbahasa inggris?” Tanya Junsu tiba-tiba.

“Ne, bisa tuan dan kebetulan saya pernah belajar bahasa prancis juga jadi saya sedikit menguasai bahasa prancis.” Ucap Hee Young membuat Junsu sedikit kaget.

“Benarkah? Wah kau asistenku yang memang bisa diandalkan. Kau mulailah belajar lagi bahasa prancis melalui buku ataupun dvd agar lebih fasih, ok?” Ucap Junsu.

“Ne. Khamsahamnida tuan.” Hee Young tersenyum tipis.

Sampai di rumah Hee Young, Junsu tak menyangka kalau asistennya tinggal di lingkungan rumah yang seperti itu. Ia menatap Hee Young lalu menggelengkan kepalanya.

“Kau jangan tinggal di sini lagi. Tempat ini tidak aman. Kau itu betah sekali tinggal di tempat menyeramkan seperti ini padahal kau yeoja.” Ucap Junsu. Hee Young hanya bisa terkekeh pelan.

‘Kau asisten yang cekatan, teliti dan baik. Kau asisten yang sempurna untukku. Aku benar-benar tak menyangka kalau yeoja sepertimu di buang oleh keluarga hanya karena alasan bodoh.’ Batin Junsu. Ia sudah tahu kalau asistennya itu tidak memiliki keluarga dari Hyo Rim. Pembantu di rumahnya, selain itu Junsu juga meminta orang menyelidiki apa yang ia dengar itu.

“Baik tuan nanti jika aku kembali dari Amerika dan Paris, aku akan pindah.” Ucap Hee Young.

“Bagus. Kalau nanti kembali kau harus benar-benar pindah. Tapi kuharap kita melakukan pekerjaan kita dengan baik jadi kita bisa tinggal di sana. Dan kau bisa hidup lebih baik dari pada di sini.” Ucap Junsu tulus.

“Kau harus bahagia jika nanti kita tinggal di negeri orang. Aku tak tahu tentang kehidupan pribadimu tapi yang kulihat kau tak penah tersenyum. Tersenyum bahagia. Kau hanya memperlihatkan sikapmu yang dingin dan sepertinya hanya berkutat dengan pekerjaan.”

“Hiduplah bahagia nanti di sana, cari kebahagiaanmu. Aku mengatakan hal ini dengan tulus.” Perkataan Junsu sukses membuat Hee Young menangis.

“Jujur aku tahu kalau kau sendirian di dunia ini dan pernah mengalami hal buruk. Maka dari itu jika nanti kita di sana kau berusahalah melupakan hal buruk yang menimpamu. Jika kau butuh bantuanku kau katakan saja. Aku dengan tulus akan membantumu. Membantu sebagai seorang teman.” Hee Young mendongakan kepalanya menatap Junsu.

“Teman?”

“Ne, teman ah tidak bukan teman melainkan sahabat dekat. Ayo sudah jangan menangis lagi. Nanti orang-orang melihat berpikir kalau aku bos yang kejam.” Ucap Junsu yang mendapatkan kekehan dari Hee Young.

“Sana masuk dan bersiap-siap. Pekerjaan berat menanti kita.” Ucap Junsu. Hee Young mengangguk dan masuk ke dalam rumahnya.

Hee Young mulai bersiap-siap, ia membawa barang-barang yang ia kira sangat di perlukan di sana. Ia pun tak lupa membawa berkas-berkas penting juga agenda kerja Junsu. Setelah berjam-jam mengepak barang akhirnya Hee Young bisa beristirahat. Ia duduk di sofa kecil miliknya. Ia menatap ke sekeliling.

“Aku akan meninggalkan rumah ini sekitar 6 bulan atau mungkin akan kutinggalkan selamanya.” Gumamnya pelan.

“Meninggalkan segala kenangan buruk di masa lalu. Meninggalkan Seoul dan Yunho.” Hee Young terdiam sejenak setelah menyebut nama Yunho.

“Meninggalkannya dengan kesalahpahaman ini. Haruskah aku membiarkan ini? Atau berusaha menjelaskannya sekali lagi?” Gumamya lagi. Ia bingung. Ia berpikir sampai-sampai ia tertidur di sofa.

—-

Paginya Hee Young dan Junsu bertemu di depan kampus. Setelah bertemu mereka langsung ke ruang kemahasiswaan untuk mengurus cuti. Junsu memberitahukan alasannya cuti juga alasan untuk Hee Young.  Tak butuh waktu lama karena saat itu juga mereka bisa mengurus cuti kuliah mereka. Selesai itu Junsu menyuruh Hee Young ikut dengannya ke kantor untuk menggurus tiket dan hal lainnya.

Sampai di kantor Junsu menyuruh Hee Young menemui sekertaris appanya untuk meminta tiket dan hal lainnya. Hee Young mengangguk dan dengan cepat melakukan tugasnya. Ia di beri arahan oleh sekertaris appa Junsu yang juga bosnya. Hee Young mengangguk mengerti lalu kembali ke ruangan Junsu.

Hee Young memberitahukan Junsu kalau mereka akan pergi besok dengan penerbangan pukul 5 pagi. Ia juga memberitahukan kalau sekertaris Mr.Kim mengatakan sudah menyiapkan apartemen.

“Berapa apartemen?” Tanya Junsu cepat.

“Dua, tuan. Di gedung yang sama hanya berbeda lantainya saja.” Jawab Hee Young. Junsu mengangguk.

“Besok kita bertemu di bandara jam 4: 30 saja ok?”

“Ne.”

Junsu menghela nafas panjang dan merentangkan tangannya. Ia merasa sangat lelah karena beberapa minggu ini ia sangat sibuk dengan pekerjaan dan kuliah.

“Haaah ayo kita pergi. Sudah tak ada lagi pekerjaan di sini. Kau bisa istirahat hari ini.” Ucap Junsu.

“Ne, khamsahamnida.” Ucap Hee Young yang mengerti kalau ia sudah tidak ada pekerjaan lagi.

“Aku pergi.” Ucap Junsu lalu pergi dengan mobilnya. Sementara Hee Young hanya membungkukkan badannya sopan. Setelah itu ia naik taksi dan pergi jalan-jalan tak tentu arah.

Langkah Hee Young terhenti saat melihat sebuah aksesoris ponsel yang lucu. Ia pun masuk ke dalam toko itu dan membelinya. Setelah  itu ia kembali jalan-jalan, Hee Young masuk ke dalam toko elektronik dan melihat-lihat. Matanya terhenti saat melihat sebuah barang yang menarik. Barang yang sudah lama dulu ia inginkan. Ipad. Ia melihat harganya dan membelinya karena gajinya sudah bisa membeli barang itu.

Hee Young pergi ke taman dan mulai mengutak atik barang yang baru saja ia beli itu. Ia terlihat sangat serius saat menemukan sebuah ide. Dengan cepat ia kembali ke rumah dan melakukan idenya itu. Ia menggambar sesuatu yang indah. Tak lupa ia memasukkan lagu di sela-sela gambarnya itu. Ia memutuskan untuk membuat sebuah video. Semacam video animasi tapi tokohnya ia dan Yunho. Ia memutuskan untuk memberikan pesan terakhir pada namja itu sekaligus menjelaskan kesalahpahaman mereka.

Setelah berkutat berjam-jam akhirnya selesai. Hee Young melihat jam sudah jam 8 malam, ia pun memutuskan untuk pergi memberikan kaset berisi video yang ia buat, dan beberapa hal lainnya. Ia pergi ke rumah Yunho tapi umma namja itu mengatakan kalau Yunho ada di apartemennya. Hee Young pun pergi ke apartemen namja itu.

Sampai di apartemen, Hee Young langsung masuk ke dalam lift. Saat berada di depan pintu apartemen Yunho, Hee Young menghela nafas panjang lalu memencet bel. Tak lama seseorang membuka pintu dan itu Yunho. Hee Young tersenyum kaku.

“Ada apa kau kemari?” Tanya Yunho ketus.

“A ak aku ingin memberikan ini.” Ucap Hee Young sambil memberikan tas kecil berisi kaset video yang ia buat, aksesoris ponsel dan beberapa sketsa yang Hee Young buat untuk Yunho.

“Aku tidak butuh hal semacam itu.” Ucap Yunho.

“To tolong terima sunbae. Se setelah itu jika sunbae mau membakarnya sekalipun tidak apa-apa.” Pinta Hee Young. Yunho dengan malas mengambilnya.

“Sudahkan? Lalu?” Tanya Yunho lagi. Hee Young menggelengkan kepalanya lalu membungkukkan badannya.

“Gumawo, sunbae atas semua yang pernah kau berikan padaku. Selamat tinggal.” Ucap Hee Young. Ia pergi dan kembali ke rumah kecilnya.

Sementara itu Yunho menatap tas kecil itu sekilas lalu melemparnya asal. Ia kembali ke dalam kamarnya dan melanjutkan tidur. Ia tak menyadari kalau tadi Hee Young mengucapkan salam perpisahan.

—-

“Hyuuuuuuuuuung.” Teriak Changmin dan Yuchun. Mereka masuk ke apartemen Yunho, mereka tahu password apartmen temannya itu jadi tak perlu repot memencet bel. Changmin menggelengkan kepalanya saat melihat apartemen Yunho sangat berantakan. Ia menghampiri Yunho di kamarnya dan melihat namja itu masih tertidur.

“Bangun pemalas.” Ucap Changmin dengan sedikit berteriak dan hal itu suskses membuat Yunho terganggu.

“Brisik kau!” Umpat Yunho. Ia dengan kesal bangun. Ia tahu kalau ia tidak bangun Changmin akan terus menganggu dan menyiksanya.

“Mandi sana. Kita ada kuliah.” Perintah Changmin. Melihat Yunho masuk ke kamar mandi Changmin pergi ke ruang tv. Ia melihat Yuchun sedang menonton. Sambil menunggu Yunho keduanya duduk di ruang tv.

Tak lama Yunho keluar kamar dengan pakaian siap pergi.

“Ayo.” Ucap Yunho. Saat akan pergi Yuchun tertarik dengan sebuah tas kecil yang tak jauh dari jangkauannya. Ia pun mengambilnya dan membukanya. Ia melihat sebuah kaset, aksesoris ponsel dan buku sketsa. Ia menatap Yunho dan namja itu hanya menghela nafas malas.

“Hyung, coba lihat kaset itu apa isinya.” Ucap Changmin. Yuchun mengangguk dan memasukan kaset DVD itu ke dalam DVD Player. Yunho yang malas berjalan keluar dan tak mempedulikan kedua temannya.

“Sunbae, aku membuat ini untukmu.” Terdengar suara Hee Young di awal video itu. Yunho yang akan membuka pintu mendengar itu menghentikan langkahnya. Ia terdiam di depan pintu. Yunho mendengar sebuah lagu yang menjadi lagu kesukaannya.

“Aku tahu kalau sunbae menyukai lagi ini. Waktu itu sunbae selalu mengatakan kalau sunbae menyukai lagu ini dan selalu mendengarkannya. Kau tahu sunbae? Aku membuat video ini sendirian dan gambarnya pun aku yang membuatnya.” Ucap Changmin membaca text yang tertera di layar. Ia yakin kalau Yunho mendengarnya. Ia menyikut Yuchun dan namja itu mengangguk mengerti.

“Ini saat pertemuan pertama kita di perpustakaan. Kau terluka cukup parah waktu itu.” kini giliran Yuchun yang membaca text yang ada di layar. Tak lama Yunho menghampiri ke dua temannya, ia mengambil remote dan akan mematikan video itu tapi terhenti saat ia melihat gambar yang ada di sana. Gambar yang di buat Hee Young, gambar dirinya.

Saat itu aku tak mempunyai perasaan apa-apa padamu. Aku terus bersikap dingin tapi kau tak menyerah dan terus mengangguku.

Lihat di gambar yang kubuat ini. Kuharap kau sadar kalau kau itu playboy jelek dan bawel.

Tanpa kau sadari aku beberapa kali tersenyum seperti ini saat melihatmu dengan kedua temanmu tengah bercanda.

Kau mengisi hari-hariku dengan terus berada di sisiku setiap saat. Bahkan kau memelukku seperti ini di saat traumaku kambuh. Kau memelukku dengan erat.

Aku jujur saat mengatakan akan berusaha mencintaimu. Tapi ada satu hal yang belum pernah kukatakan pada sunbae. Saat aku mengatakan hal itu entah kenapa dadaku terasa hangat dan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apakah mungkin itu cinta?

Hari itu aku yakin kalau kau benar-benar mencintaiku dan tak main-main denganku tapi kejadian di perpustakaan membuat keyakinanku goyah dan aku takut.

Saat kau mengatakan lelah denganku dan mulai menjauhiku, entah kenapa aku merasa hari-hariku kembali hampa dan dadaku sakit.

Maaf jika aku selalu menyusahkanmu dan membuat hatimu sakit. Aku benar-benar tak bermaksud seperti itu.

Kuharap jika nanti kita bertemu kita bisa menjadi teman yang baik dan aku bisa melihatmu dengan yeoja yang sangat kau cintai. Bertemu tanpa mengingat masalalu dan kesalah pahaman ini.

Kuharap kau suka dengan hadiah dariku. Hadiah kecil dari seorang teman.

Mungkin aku terlambat mengatakannya tapi kurasa lebih baik kukatakan dari pada kusimpan dalam hati.

Saranghae jeongmal saranghaeyo, Jung Yunho.

Jantung Yunho berdetak sangat cepat saat melihat semua itu. Setelah video itu habis Yunho menatap ke dua temannya. Changmin menghela nafas lalu mulai menceritakan semuanya pada Yunho. Yuchun memberikan tas kecil dari Hee Young yang ia pegang pada Yunho. Yunho mengambilnya dan melihat isinya. Ia membuka buku sketsa yang isinya membuat hatinya sakit. Buku itu penuh dengan gambar dirinya saat sedang bersama Hee Young saat ia mendekati yeoja itu.

“Jadi selama ini kau memperhatikanku?” Ucapnya lemas. Changmin dan Yuchun berdiri.

“Ayo kita temui Hee Young.” Ucap Yuchun. Yunho mengangguk dan ketiganya pergi mencari Hee Young. Yunho terus menggengam buku sketsa dan aksesoris ponsel di tangannya.

“Kita kemana dulu?” Tanya Changmin yang tengah mengemudi.

“Rumahnya.” Jawab Yunho cepat.

Saat sampai di rumahnya Yunho mengetuk pintu berkali-kali tapi tak ada yang membukanya. Ia menoleh kebelakang saat mendengar suara. Seorang nenek menghampirinya.

“Kau mencari Hee Young, nak?”

“Ne, di mana dia nek?”

“Nenek lihat tadi dia pergi pagi-pagi sekali.” Jawab nenek itu. ketiganya saling berpandangan.

“Kampus.” Ucap ketiganya serempak.

“Gumawo, nek.” Ucap ketiganya lalu kembali ke dalam mobil. Changmin pun mengemudikan mobil dan pergi ke kampus.

Sampai di kampus Yunho langsung pergi ke kelas yang ia tahu seharusnya yeoja itu di kelas. Ia menunggu cukup lama karena kelas itu belum selesai. Saat melihat mahasiswa/mahasiswi keluar ia menghampiri salah satunya.

“Maaf apakah Hee Young masuk hari ini?” Tanya Yunho.

“Tidak. Tapi yang kudengar dia sudah cuti dari kemarin.” Jawab yeoja itu lalu pergi. Yunho terdiam tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Cuti? Kemana dia?” Gumamnya.

“Nanti kita cari lagi, hyung. Kau tenanglah.” Ucap Yuchun. Yunho menggelengkan kepalanya dan meminjam kunci mobil Changmin. Ia ingin mencari Hee Young dan memeluk yeoja itu.

Berjam-jam Yunho mencari Hee Young hingga malam tapi ia tak menemukan yeoja itu di mana pun. Yunho memukul stir mobil kesal.

“Kau di mana?” Gumamnya kesal.

—-

Hee Young menatap keluar jendela pesawat. Ia melamun dan memikirkan apa yang akan ia lakukan nanti. Dan ia juga memikirkan Yunho.

‘Selamat tinggal. Kuharap kau bisa bahagia. Tapi apakah hadiah dariku kau lihat. Ah jangan berharap terlalu tinggi, Jin Hee Young.’  Batin Hee Young.

Ia melirik ke sebelahnya. Junsu, bosnya. Namja itu terlelap dengan sangat nyenyak.

 

***

 

Hee Young dan Junsu sampai di Amerika. Keduanya langsung pergi ke apartemen yang sudah di sediakan. Junsu menyuruh Hee Young untuk beristirahat dan memesan apapaun yang di perlukan pada pegawai apartemen di lobby. Hee Young mengangguk mengerti lalu ia pergi ke apartemennya yang satu gedung dengan Junsu, hanya saja beda lantainya.

Sampai di apartemennya Hee Young langsung membereskan pakaiannya, mandi lalu istirahat. Ia sangat lelah. Hee Young berbaring di ranjangnya sambil menatap langit-langit. Wajah Yunho kembali terlintas di benaknya.

“Kau harus melupakannya dan memulai hidup baru. Hwaiting Hee Young-a.” Gumamnya pada diri sendiri. Tak lama ia tertidur dengan nyenyak.

Sementara itu Junsu yang akan beristirahat mendapatkan pesan. Ia membaca pesannya yang ternyata dari Yunho yang menanyakan tentang keberadaan Hee Young. Ia sedikit ragu membalasnya. Akhirnya Junsu memutuskan membiarkan pesan itu, ia akan menanyakannya terebih dahulu pada Hee Young.

Menjelang sore Hee Young terbangun dan ia pergi ke kamar mandi. Setelah itu ia berkeliling apartemennya karena tadi ia belum sempat melihat-lihat. Saat di dapur ia melihat hanya ada beberapa sayuran dan makanan lainnya yang sepertinya sudah di sediakan sebelum ia datang. Hee Young mencari bumbu dapur dan setelah mendapatkannya ia mulai memasak. Hee Young merasa cukup lapar sore itu.

“Akhirnya selesai.” Ucap Hee Young sambil tersenyum. Ia menaruh masakannya di atas meja dan kembali ke dapur untuk mengambil minum. Saat Hee Young  mengambil minum tiba-tiba seseorang memencet bel. Dengan cepat ia menghampiri pintu dan membukanya saat melihat di monitor ternyata Junsu yang datang.

“Mengganggu?” Tanya Junsu padanya.

“Anni. Masuk tuan.” Hee Young mempersilahkan Junsu masuk. Namja itu pun masuk.

“Sedang apa?” Tanya Junsu basa-basi.

“Saya baru saja akan makan, tuan. Tadi saya memasak di dapur dengan bahan makanan seadanya. Mau makan bersama?” Tawar Hee Young.

“Wah terlihat enak. Padahal tadi aku baru saja ingin mengajakmu makan di luar sekalian menjadi turis guide-mu selama kita di sini.” Ucap Junsu ramah. Hee Young segera mengambil piring lalu memberikannya pada Junsu. Keduanya duduk di atas meja, makan bersama dengan di selingi obrolan. Layaknya teman.

Selesai makan, Hee Young mencuci piring lalu setelah itu menghampiri Junsu yang duduk di ruang tengah.

“Kau cocok jadi koki. Masakanmu enak.” Puji Junsu.

“Gumawo.”

“Ah iya bagaimana kalau kita keluar? Kita mengobrol sekalian aku ingin meminta pendapatmu tentang rencana bisnisku.” Ucap Junsu. Hee Young mengangguk.

“Ne, kalau begitu saya ganti pakaian dulu, tuan.” Ucap Hee Young setuju. Junsu mengangguk.

Tak lama Hee Young kembali. Ia menghampiri Junsu dengan membawa agenda kerja Junsu. Junsu tersenyum melihatnya.

“Kau tak perlu membawa agenda itu setiap saat. Kali ini obrolan santai jadi simpanlah agenda itu.” Hee Young tersenyum malu lalu menaruh lagi agenda itu.

Keduanya turun dengan menggunakan lift. Junsu menghela nafas pelan lalu melirik Hee Young sekilas.

“Tadi Yunho mengirimiku pesan. Dia menanyakan tentang keberadaanmu. Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya tapi kalau boleh kutebak kalian dekat dan mungkin lebih dari teman.” Ucapan Junsu membuat Hee Young terdiam.

“Aku belum membalas pesan darinya. Saranku sebagai sahabat barumu. Kau sebaiknya menghubungi dia. Sepertinya dia mengkhawatirkanmu.” Hee Young tertunduk.

“Atau kau mau aku membalas pesan darinya dan mengatakan kau ada di Amerika?” Hee Young langsung mendongakan kepalanya dan menatap Junsu horror.

“Jangan, tuan. Lebih baik dia tidak tahu keberadaan saya. Sebelum pergi saya sudah menemuinya untuk mengucapkan selamat tinggal.” Ucap Hee Young. Junsu mengerutkan keningnya tak mengerti tapi tak lama ia menggelengkan kepalanya pelan.

‘Bukan urusanku. Jangan terlibat terlalu dalam dengan masalah orang.’ Batinnya

Keduanya masuk ke dalam mobil, kali ini Junsu menggunakan supir dan menyuruh Hee Young duduk di belakang. Selama perjalanan Junsu mengatakan tentang rencananya pada Hee Young dan meminta pendapat yeoja itu. Ia berencana untuk membuka bisnis furniture dengan desain menarik dan bertekhnologi canggih.

Mendengar rencana bisnis Junsu, Hee Young mengatakan apa yang ada di pikirannya. Ia pun memberi masukan-masukan pada Junsu.

Setelah membicarakan rencana bisnis itu Junsu dan Hee Young jalan-jalan di kota New York. Junsu kali ini dengan senang hati menjadi turis guide asisten sekaligus sahabatnya itu. Hari itu tak ada yang namanya bos dan asisten. Yang ada hanya dua sahabat yang tengah bersenang-senang di kota new York.

“Haaah menyenangkan sekali. Sepertinya malah aku yang di temani jalan-jalan bukannya menemanimu jalan-jalan. Baru kali ini aku bisa bersenang-senang dengan asistenku tanpa memikirkan pekerjaan dan melihat status bos dan asisten.” Ucap Junsu sambil tersenyum. Hee Young duduk di sebelah Junsu dan memberikan namja itu minuman.

“Memangnya asisten sebelumnya tidak bisa di ajak sedikit santai, tuan?” Tanya Hee Young. Junsu dengan cepat menggelengkan kepalanya.

“Asisten-asistenku sebelumnya sangat kaku dan tidak bisa di ajak bersenang-senang sedikit untuk melupakan penatnya pekerjaan kantor.” Jawab Junsu.

“Berhenti memanggilku tuan.” Ucap Junsu.

“Tapi kan tuan bosku.” Ucap Hee Young menolak halus.

“Tapi paling tidak panggil namaku saat kita tidak sedang bekerja.” Ucap Junsu lagi. Hee Young mau tak mau menganggukan kepalanya.

“Baiklah, Junsu-sshi” Ucap Hee Young. Junsu tersenyum mendengarnya.

“Besok kita pergi ke kantor jam 10 dan sesudah itu tidak ada kegiatan lagi, benar kan?” Tanya Junsu mengingat pekerjaannya besok.

“Ne, benar. Dan kalau tidak salah ingat hari berikutnya kita akan sibuk, Junsu-sshi.” Ucap Hee Young membuat Junsu menghela nafas panjang.

“Aku sebenarnya tidak suka pekerjaan seperti ini. Kalau bukan karena aku penerus perusahaan keluarga aku tidak akan mau bekerja seperti ini. Sangat tidak enak. Selalu sibuk bekerja dan jarang sekali mempunyai waktu santai seperti sekarang ini.” Keluh Junsu.

“Apa rencana bisnis itu untuk pelarian dari kejenuhan pekerjaan rutin? atau untuk hobi saja?” Ucap Hee Young. Junsu tersenyum dan menatap langit-langit.

“Ne, aku berencana membuka bisnis itu untuk melepaskan penat pekerjaan rutinku. Kalau hobi kurasa sedikit kurang tepat. Yah aku memang menyukai hal seperti rencana bisnisku itu tapi awal aku merencanakan itu karena penatku itu, bukan karena hobi.” Jawab Junsu.

“Aku pun tak ada niatan untuk membuka bisnis itu dengan besar. Aku hanya ingin memulai bisnis kecil.” Tambah Junsu. Hee Young mengerutkan dahinya.

“Kalau boleh tahu kenapa? Setiap orang bukankah ingin kalau bisnisnya berkembang dan menjadi bisnis yang besar?” Junsu tersenyum mendengar pertanyaan Hee Young.

“Ya memang benar tapi itu membuatku bosan dan lelah. Aku merasa seperti di perbudak oleh pekerjaan. Aku ingin melakukan pekerjaan yang sedikit santai tapi bisnis yang kulakukan lancar. Itu impianku sejak lama.” Jawab Junsu. Hee Young mengangguk mengerti. Keduanya terdiam sambil menatap langit-langit dan berkutat dengan pikirannya sendiri.

“Kau habis ini akan pergi kemana? Apakah pulang ke apartemen?” Tanya Junsu membuka suara.

“Sepertinya aku harus membeli ponsel baru. Entah kenapa ponselku yang lama tidak berfungsi. Mungkin karena kini aku berada di Negara yang berbeda.” Jawab Hee Young. Junsu mengangguk lalu memberikan saran toko ponsel yang terkenal di Amerika itu. Junsu pun mengantarkan yeoja itu membeli ponsel.

Di toko itu Hee Young memilih-milih ponsel yang ia sukai. Setelah mendapat yang ia suka, ia pun membayarnya dan kembali ke apartemen dengan Junsu. Keduanya berpisah di lift.

Hee Young masuk ke dalam apartemen lalu mengutak atik ponsel barunya. Ia terdiam saat hanya memasukan no.ponsel Junsu dan Hyo Rim. Ia hanya mempunyai dua no.ponsel di ponsel barunya. Dan entah kenapa Hee Young mengingat Yunho lagi dan hal itu membuatnya menangis. Menangis sangat keras di dalam apartemennya itu.

 

TBC

mian ya klo tambah aneh >.<

14 thoughts on “Because I Love You Part 4

  1. karina berkata:

    part ini lmayan nyesek , , , hee young nya kasian ga d denger sama yunho . . .

    jad pngen iktan nangis , , kena bgt nyesek nya k aku . , next nya sangat d tunggu yaaah ^^

  2. aaahhh sedih T^T nyesek yaa >//< yakin pasti yunho nyesel bgt. kira2 kapan mereka bisa ketemu lgi yaa ?? pengennya stelah bebrpa thn kemudian hee young balik ke seoul trus tiba2 ketemu yunho hahaa
    btw,, pengen dong jdi sahabatnya junchan jga ihihiii :p
    overall seruuuuu~
    next ditunggu yaaaaa.. jangan lama2 xD

  3. yahhhh…. hee young pergi kan ke amerika,,, yah ngak bakal ketemu yunho selama 6 bulan.bahkan ada kemungkinan klo lancar bakal netap disana….
    yunho sih pake marah gt n ngak ditambah sabar y,,, malah marah gt ma hee young udah tau hee young beda sifat n kehidupan y ma cwe lain malah pake marah n ngak mau ngedenger penjelasan h hee young,,, padahal hee young udah nyamoerin mulu tapi dicuekin bahkan mpe buat video krn mau pisah krn mikir yunho ngak peduli….
    baru ngerasa kehilangan kan yunho setelah hee young bener2 pergi n ninggalin penjelasan h….

  4. desi retina berkata:

    Eonni sumpah nyesek bgt baca part ini
    Please eon setelah mereka kesusahan kyk gt kasih ending yg bahagia ya
    Kasian bgt klo dah kyk gini eh ending nya sad juga sumpah nyesek bgt pasti
    Eonni the best deh
    Ditunggu part berikutnya y eon
    Eonni jjang ^^

  5. eonni tanggung jawab! aku hampir nangis baca part ini..
    sumpah nyesek banget😦
    satu sisi kasian ama uno satu sisi lagi kasian ama heeyoung..
    tapi nnti mereka bakalan ketemu lagi kan??
    6 bulan g bakalan ngerubah perasaan orang kan eonn??
    hahahaha

    semangat eonni..
    aku berharap sider disini pada tobat semuanya. hahaha

  6. chunnie_man berkata:

    Wah yun akhirnya kau menyesal.sm yeoja chingu.!aigo junsu bos yang colol habis dipart ini!!udah bae perhatiian lgi.dan ini episode paling sedih .soalnya ngeganntungg abiss.author ditunggu ya nextpartnya .smoga mood bikin ffnya

  7. taby_chan berkata:

    omigot..!. Kasian yunho sama hee young.. -_-
    gmn klnjutan hubgn mrka?
    semoga junsu sm hee young gk cinlok disana…

    Ditnggu part slnjtnya thor…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s