Twins Part 4


Title: TWINS

Main Cast:

–          Kim Jaejoong

–          Shim Changmin

–          Jung Yunho

Rating: PG13-NC17 / STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri

A/N: Mian klo tambah aneh >.<

DISCLAIMER: FF ini murni buatan author sendiri tanpa menjiplak dari FF di blog mana pun. Kalaupun ada kesamaan itu hanya kebetulan semata. FF ini hanya khayalan author.

DON’T LIKE? SO DON’T READ AND DON’T BASH MY FF!!!

Part sebelumnya bisa di cari di sini

Happy Reading : )

AUTHOR POV

Sejak kejadian waktu itu Chae Jin dan Changmin semakin dekat, yeoja itu bahkan terkesan sangat perhatian pada Changmin membuat namja itu sangat senang. Tapi namja itu bersikap biasa saja tak menunjukkan rasa senangnya sedikitpun. Ia masih takut kalau ia menanggapi sikap Chae Jin berlebihan nanti akan membuatnya sakit hati jadi ia tak mau berharap terlalu banyak dulu.

Kini Changmin berada di taman seorang diri, ia memotret beberapa hal yang menurutnya menarik. Fotografi merupakan salah satu hobi yang ia tekuni selama ini. Hobi yang ia sembunyikan dan hanya Jaejoong yang tahu. Ya, hobi yang ia tutupi dari orang-orang, bahkan keluarga sekalipun. Tak lama Changmin tersentak kaget saat sedang memotret hal menarik tiba-tiba Chae Jin muncul di depannya.

“Aish kau ini. Jangan muncul tiba-tiba seperti itu.” Ucap Changmin. Yeoja itu hanya tersenyum mendengar ucapannya. Chae Jin duduk di sebelahnya.

“Ada apa kau kemari? Tidak les privat dengan Hee Young?” Tanya Changmin sambil sibuk dengan kameranya.

“Libur, oppa. Mmm ngomong-ngomong oppa sendirian?” Chae Jin menatap sekeliling.

“Memangnya kau berharap aku datang dengan siapa?” Tanya Changmin balik. Yeoja itu tak menjawab pertanyaannya dan hanya menatapnya dengan serius.

“Oppa, aku ingin bertanya sesuatu.” Ucap Chae Jin. Changmin menatap yeoja itu dengan bingung.

“Apa?”

“Mmm oppa maukah memberitahuku bagaimana Changmin oppa itu? Maksudku sifat yang sebenarnya. Pasti Changsoo oppa tahu kan? Ayo beritahu aku.” Ucap Chae Jin yang mengira namja di depannya itu Changsoo.

Changmin menatap yeoja itu kaget.

“Memangnya kenapa kau menanyakan hal itu?” Tanya Changmin.

“Aku menyukai Changmin oppa ah tidak maksudku aku mencintai Changmin oppa. Aku ingin mengenal Changmin oppa lebih jauh. Sejujurnya aku mencintai Changmin oppa sudah lama tapi baru belakangan ini aku berani mendekatinya. Aku sedikit kesulitan Changsoo oppa, Changmin oppa sulit sekali di dekati. Cuek sekali padaku.” Ucap Chae Jin.

DEG

Changmin senang sekaligus sedih. Ia senang karena ternyata yeoja yang ia cintai juga mencintainya tapi di sisi lain hatinya sakit karena yeoja itu mengatakan mencintainya tapi masih tidak bisa membedakannya dengan Changsoo.

‘Kau sebenarnya mencintaiku atau Changsoo?’ Batin Changmin yang mulai ragu dengan perkataan yeoja itu. Changmin ragu kalau sebenarnya yeoja itu mencintai Changsoo bukan dirinya karena sikap cuek dan sulit didekati yang yeoja itu utarakan bukanlah sifatnya melainkan sifat saudara kembarnya. Changmin berusaha menahan rasa sakit di hatinya.

“Apa yang kau tahu tentang Changmin?” Tanya Changmin tanpa memberitahu yeoja itu siapa ia sebenarnya.

Chae Jin memberitahukan apa yang ia tahu tentang Changmin. Changmin tersenyum pilu saat mendengarnya. Dari keseluruhan yang yeoja itu katakan memang sebagian ada yang merupakan dirinya tapi sangat sedikit. Sebagian besar yang yeoja itu tahu hanya tentang sifat Changsoo. Changmin menghela nafas pelan sambil mengatur rasa sakit di hatinya.

‘Kau mencintai Changsoo.’

Perlahan Changmin pun memberitahukan Chae Jin tentang Changsoo yang belum yeoja itu ketahui. Ia tersenyum saat melihat Chae Jin tersenyum senang.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Changmin. Yeoja itu mengangguk cepat.

“Apa kau bisa membedakan kami berdua?” Tanya Changmin yang membuat Chae Jin terdiam. Yeoja itu menggelengkan kepalanya.

“Aku belum bisa membedakan kalian oppa. Ah tapi karena tadi Changsoo oppa sudah memberitahukanku tentang Changmin, aku mulai bisa membedakan kalian berdua. Tapi aku masih harus belajar, mohon bantuannya ya oppa.” Ucap Chae Jin riang. Changmin berusaha membalasnya dengan senyum tulus.

“Gumawo, Changsoo oppa. Aku permisi dulu, aku harus menyiapkan sesuatu untuk Changmin oppa besok. Dan tolong jangan beritahukan pada siapapun tentang hal ini ya.” Ucap Chae Jin. Changmin hanya mengangguk dan melihat yeoja itu pergi.

“Aku Changmin, Chae Jin-a. Aku bukan Changsoo.” Gumam Changmin pelan.

***

Setelah pertemuan tak terduga di taman waktu itu Changmin menjalani harinya dengan tidak bersemangat tapi ia menutupi kesedihannya itu dari orang-orang terdekatnya. Ia selalu berusaha bersikap ceria seperti biasa di depan orang-orang.

Changmin kini mulai jarang datang ke rumah Junsu dan Junho jika Hee Young akan mengajar Chae Jin. Itu ia lakukan agar hatinya tidak semakin sakit jika melihat yeoja itu mendekati saudaranya Changsoo.

Changmin duduk di taman waktu itu sambil memotret beberapa anak kecil yang tengah bermain. Ia menoleh saat seseorang menepuk pundaknya pelan. Changmin menghela nafas saat tahu ternyata orang itu Jaejoong.

“Tumben tidak bersama Hee Young?” Tanyanya sambil membenarkan lensa kameranya.

“Dia sedang mengajar Chae Jin. Tadi sudah kusuruh dia untuk kemari jika sudah selesai mengajar. Kau kenapa, Changmin-a?” Jaejoong menatap Changmin yang masih sibuk dengan kameranya.

“Maksudmu?” Tanya Changmin.

“Sikapmu belakangan ini aneh. Dan kau secara tiba-tiba jarang sekali datang ke rumah Junsu dan Junho. Jika kuajak pun kau sering kali menolak dengan berbagai alasan. Terjadi sesuatu?” Changmin langsung terdiam mendengar perkataan Jaejoong. Ia menaruh kameranya dan bersandar di kursi taman sambil menatap ke depan.

“Aku memang tidak bisa menutupi apa-apa darimu. Waktu itu kira-kira dua minggu yang lalu aku bertemu Chae Jin di sini saat sedang memotret. Dia menanyakan tentang diriku.” Ucap Changmin.

“Bukankah itu bagus kalau dia menanyakan tentang dirimu?” Changmin tersenyum pahit mendengarnya.

“Ya memang seharusnya aku senang tapi sayangnya rasa senangku itu langsung hilang saat dia memanggilku Changsoo. Dia mengatakan mencintaiku tapi tidak bisa membedakanku dengan Changsoo. Lagi pula saat Chae Jin bercerita padaku waktu itu aku mengambil kesimpulan kalau dia sebenarnya mencintai saudaraku.”

“Atas dasar apa kau mengambil kesimpulan itu?” Tanya Jaejoong.

“Semua cerita yang ia katakan padaku sebenarnya itu merupakan sikap Changsoo bukan aku. Saat mendengar itu aku membuat kesimpulan kalau dia mencintai saudaraku. Aku juga sudah memberitahukannya tentang Changsoo yang perlu dia ketahui.” Jawab Changmin. Jaejoong tak bisa berkata apa-apa, ia mengerti perasaan Changmin. Memang sakit jika orang yang kita cintai tidak bisa mengenali antara kita dan saudara kembar kita sendiri. Jaejoong hanya bisa menepuk pundak Changmin.

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” Tanya Jaejoong. Changmin menghela nafas lalu berusaha tersenyum.

“Mundur dan merelakan Chae Jin dengan Changsoo. Aku hanya bisa berharap jika mereka jadi sepasang kekasih akan bahagia. Sekarang aku hanya akan fokus dengan hobiku ini, hyung.” Ucap Changmin sambil menunjukkan kameranya. Jaejoong tersenyum dan memberi namja itu semangat.

“Berhenti memanggilku dengan sebutan hyung.” Ucap Jaejoong. Changmin tertawa mendengarnya.

“Walaupun dulu aku naik kelas dua tingkat secara langsung dengan Changsoo tetap saja kau lebih tua dariku, hyung.” Tolak Changmin. Jaejoong hanya bisa berdecak mendengarnya.

Tak lama Hee Young datang dengan wajah ceria. Yeoja itu menghampirinya dan Changmin lalu membungkuk sopan seperti biasa.

“Kemari kau.” Ucap Jaejoong galak. Hee Young pun duduk di sebelah Jaejoong. Changmin menatap Jaejoong dengan heran.

“Kau itu hyung. Sedikit lembutlah pada yeojamu, kau itu namjanya atau bukan? Galak sekali. Kalau aku jadi Hee Young, kau sudah kutinggalkan sejak awal berpacaran.” Hee Young terkekeh mendengar ucapan Changmin. Sedangkan Jaejoong berwajah kesal. Menyadari Jaejoong kesal dengan ucapan Changmin, Hee Young mengelus pipi namjanya itu.

“Jaejoong memang terlihat sangat galak tapi sebenarnya dia baik kok. Malah sangat perhatian padaku.” Ucap Hee Young pada Changmin. Changmin hanya bisa menghela nafas.

“Aku salut padamu. Bisa tahan berpacaran dengan Jaejoong hyung.” Ucap Changmin sambil memasukkan kameranya ke dalam tas khusus. Melihat itu Hee Young jadi teringat sesuatu.

“Sunbae, mmm sunbae hobi fotografi ya? Tadi aku dapat selebaran ini di jalan.” Hee Young memberikan selebaran yang ia dapat pada Changmin. Changmin pun membacanya dan sedikit tertarik dengan lomba yang di tawarkan. Lomba yang cukup bergengsi yang selama ini ia ingin ikuti. Tapi saat melihat syaratnya ia langsung menghela nafas lemas.

“Wae?” Tanya Jaejoong.

“Harus ada rekan tim minimal 1 orang, hyung. Aku tidak mengenal siapa-siapa yang mempunyai hobi sama denganku.” Jawab Changmin lemas.

“Bagaimana kalau dengan dongsaengku, Ji Young?” Ucap Hee Young saat teringat dongsaengnya juga mempunyai hobi yang sama dengan Changmin. Kedua namja itu menatapnya, saat ia akan kembali berbicara tiba-tiba ponselnya berbunyi. Terpaksa Hee Young menunda perkataan yang ia ingin ucapkan dan menjawab telepon itu. Dongsaengnya yang sedang di bicarakan meneleponnya dan memintanya untuk pulang.

“Oppa, aku harus segera pulang. Aku lupa kalau umma dan appa sedang keluar kota dan Ji Young sendirian di rumah. Dia belum makan, aku harus menyiapkan makan untuknya.” Ucap Hee Young.

“Kalau begitu ayo kuantar. Changmin ikut saja biar kalian bisa melanjutkan pembicaraan tadi, bagaimana?” Jaejoong menatap Hee Young dan Changmin lalu keduanya mengangguk setuju.

Ketiganya masuk ke dalam mobil yang di bawa Jaejoong. Changmin langsung bertanya pada Hee Young tentang Ji Young.

“Ji Young, dongsaengku itu menyukai hal yang sama dengan sunbae tapi aku tidak tahu jelas sejauh mana dia menyukai fotografi. Nanti sunbae bicara saja dengannya.” Ucap Hee Young sambil tersenyum. Changmin mengangguk lalu tersenyum senang. Jaejoong tersenyum tipis saat melihat Changmin yang bersemangat. Ia sedikit lega melihat sahabatnya itu tidak terus bersedih.

Sampai di rumah, Hee Young, Jaejoong dan Changmin langsung masuk ke dalam rumah dengan di sambut oleh Ji Young. Hee Young mengenalkan Changmin pada Ji Young dan mengatakan tentang lomba itu. Lalu setelah itu ia bergegas mengganti pakaian dan menyiapkan makan untuk Ji Young dan yang lainnya.

Jaejoong menghela nafas pelan saat mendengarkan pembicaraan Changmin dengan Ji Young yang sama sekali tidak ia mengerti. Ia mengalihkan pandangannya menatap Hee Young yang tengah memasak. Di hampirinya yeoja itu lalu duduk dan menatap Hee Young. Yeoja itu menatapnya lalu tersenyum lembut membuat hatinya hangat.

“Oppa coba ini.” Hee Young menyuapi masakan yang ia buat pada Jaejoong.

“Enak seperti biasa.” Ucap Jaejoong membuat yeojanya tersenyum senang.

‘Sepertinya sejak kau berpacaran denganku kau jarang sekali mengucapkan ‘saranghae’ padaku. Sepertinya hanya satu kali jika kuingat-ingat.’ Batin Jaejoong.

Saat masakan yang Hee Young buat selesai keempatnya makan bersama-sama dengan di selingi obrolan. Jaejoong memikirkan sesuatu tentang Hee Young saat sedang makan. Ia ragu apakah ia harus bertanya atau tidak pada yeojanya itu.

Selesai makan Jaejoong melihat-lihat sekitar rumah yeojanya itu bersama Changmin. Ia berdiskusi dengan Changmin tentang apa yang ia pikirkan.

“Aku setuju denganmu, hyung. Malam ini kita menginap disini untuk berjaga-jaga. Kalau begitu kau bicaralah dengan Hee Young.” Ucap Changmin. Jaejoong mengangguk dan menghampiri Hee Young yang tengah mencuci piring. Ia mengatakan pada yeojanya itu jika ia dan Changmin akan menginap untuk berjaga-jaga. Yeojanya itu tidak setuju dengan keputusannya.

“Jangan seperti itu, Joongie. Kau dan Changmin pulang saja. Aku dan Ji Young akan baik-baik saja di sini. Kami sudah biasa seperti ini.” Ucap Hee Young menolak. Ia berbicara sambil terus mencuci piring.

“Ya! Kau ini! Jangan di biasakan seperti itu. Kalian hanya berdua dan kurasa daerah ini tidak aman.” Ucap Jaejoong kesal. Ia menatap tajam yeojanya. Hee Young menghela nafas dan menatap Jaejoong.

“Jangan membuatku khawatir.” Ucap Jaejoong lagi. Walaupun Jaejoong menatapnya tajam dan tidak suka Hee Young bisa melihat kekhawatiran yang sangat besar dari namja itu. Hee Young menghela nafas pelan dan mengangguk.

“Baiklah. Mianhae, aku hanya tidak mau membuatmu repot.” Ucap Hee Young. Mendengar ucapannya Jaejoong langsung tersenyum padanya dan mencium keningnya pelan.

“Kalau begitu aku siapkan kamar untukmu dan Changmin sunbae dulu.” Ucap Hee Young. Ia berjalan dengan di ikuti Jaejoong dari belakang. Tak lama langkahnya terhenti saat melihat Ji Young.

“Noona, Changmin hyung mau menginap. Hyung tidur di kamarku saja.” Saran Ji Young dengan semangat. Tapi dengan cepat Hee Young menolaknya.

“Kau jangan kurang ajar, Ji Young-a. Dia itu sunbae, noona.” Hee Young memperingatkan.

“Tidak apa Hee Young-a. Kebetulan aku dan Ji Young harus membicarakan lomba itu.” Ucap Changmin.

“Baiklah tapi kalau sunbae tidak suka katakan padaku.”

“Ji Young-a, ingat kau tidak boleh main-main jika benar-benar ingin mengikuti lomba itu. Dan ingat kau harus meminta ijin umma dan appa jika mereka pulang.” Ucap Hee Young lalu berjalan ke lantai atas untuk menyiapkan kamar untuk Jaejoong. Ia membersihkan kamar itu dengan cepat dan mengambil beberapa pakaian namja dari lemari baju di kamarnya. Di berikannya pakaian itu pada Jaejoong yang berdiri di depan pintu kamarnya. Namja itu menatapnya saat menerima pakaian yang ia berikan.

“Itu kubeli kemarin untukmu dan rencananya akan kuberikan besok tapi karena kau menginap jadi kuberikan sekarang saja. Yang satu lagi tolong berikan pada Changmin sunbae.” Ucap Hee Young. Sontak Jaejoong tersenyum senang.

“Aish, sudah sana ganti pakaianmu.” Hee Young mendorong namja itu.

Hee Young menatap punggung Jaejoong yang tengah berjalan. Ia tersenyum tipis saat melihat namja itu begitu senang hanya karena sebuah pakaian murahan yang ia beli. Hatinya kembali di landa rasa bersalah karena sampai saat ini ia belum bisa mencintai Jaejoong.

Saat waktunya tidur semuanya masuk kamar masing-masing, begitu pula dengan Hee Young. Tapi sayangnya Hee Young tak bisa tidur hingga jam menunjukkan pukul 12 malam. Ia memikirkan Jaejoong, namja yang mencintainya.

Dengan kesal dan frustasi ia bangun dan menatap sekelilingnya. Hee Young menghela nafas. Tak lama ia turun dari ranjangnya dan keluar kamar. Hee Young ingin pergi ke dapur untuk mengambil minum tapi langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar tamu. Perlahan ia mendekat dan membuka pintu itu dengan sangat pelan lalu menutupnya kembali. Ruangan itu tidak begitu terang, hanya di terangi oleh lampu tidur kecil yang ada di sebelah ranjang.

Hee Young mendekat dan duduk di tepi ranjang dengan pelan. Ia tak mau menganggu Jaejoong yang sudah terlelap tidur. Hee Young mengelus pipi Jaejoong lembut, setelah itu ia menggenggam tangan namja itu dan menciumnya. Hee Young menatap Jaejoong sendu. Tak lama ia mendekatkan wajahnya lalu mencium Jaejoong.

“Oppa, gumawo.” Ucap Hee Young. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang namja itu lalu mengelusnya pelan.

Tak lama Hee Young bangun lalu membenarkan selimut Jaejoong dan keluar dari kamar itu.

___

Paginya Hee Young bangun dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa. Ia pun memasak sarapan seperti biasa. Saat sarapan ia tak merasa ada sesuatu hal yang aneh.

Setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah dan sarapan kini Hee Young beristirahat sambil duduk di sofa ruang tengah. Jaejoong dan Changmin masih ada di rumahnya, kedua namja itu berada di kamar dongsaengnya, Ji Young. Tak lama Jaejoong turun dari lantai atas dan menghampiri Hee Young. Hee Young tak sadar karena ia sedang memejamkan mata akibat kelelahan.

Saat Hee Young merasa ada yang duduk di sebelahnya ia pun reflek membuka mata dan melihat ternyata namjachingunya. Namja itu duduk di sampingnya dan menyalakan TV.

“Nanti kau ikut denganku.” Ucap Jaejoong. Hee Young mengerutkan dahinya.

“Ada apa Joongie? Ada masalah? Wajahmu kenapa di tekuk seperti itu?” Tanya Hee Young sambil mengelus lembut pipi Jaejoong. Jaejoong menatapnya lalu menggelengkan kepalanya.

“Aku baik-baik saja. Nanti saja kuberitahu.” Ucap Jaejoong berusaha lembut.

“Tumben sekali kau bersikap lembut, Joongie?” Jaejoong menghela nafas saat mendengarnya.

“Jadi kau mau aku terus kasar dan galak seperti dulu?” Hee Young memeluk lengan Jaejoong.

“Tidak, bukan begitu. Aku senang kau bersikap seperti ini tapi aku ingin kau menjadi dirimu sendiri. Jangan di paksakan jika tidak bisa. Toh aku tahu sikapmu yang sebenarnya, kau sangat perhatian padaku.”

Tak lama Hee Young melepaskan pelukannya di lengan Jaejoong saat melihat Ji Young dan Changmin turun dari lantai atas. Ia mengerutkan dahinya saat melihat Ji Young berpakaian rapi.

“Mau kemana?” Tanya Hee Young.

“Nuna, aku mau pergi dengan Changmin hyung.” Ucap Ji Young sambil menunjukkan kameranya.

“Kami ingin memotret sesuatu yang menarik. Hitung-hitung latihan untuk lomba.”

“Changmin hyung mau mengajariku lebih banyak, nuna. Boleh ya?”

“Baiklah tapi kau bawa kunci duplikat karena nuna akan keluar dengan Jaejoong.” Ucap Hee Young memberi izin. Ji Young mengangguk lalu pergi dengan Changmin lebih dulu.

Setelah mereka pergi Jaejoong langsung mengajak Hee Young pergi. Selama perjalanan tiap kali Hee Young bertanya Jaejoong selalu diam. Kesal karena namja itu tak juga menjawab pertanyaannya Hee Young menatap keluar jendela dengan kesal.

‘Apa yang harus kulakukan agar bisa mencintaimu, Joongie?’ Batin Hee Young.

Hee Young menoleh saat rambutnya di belai Jaejoong. Namja itu mengatakan kalau mereka sudah sampai. Ia dan Jaejoong pun keluar dari mobil.

***

Yunho tengah duduk di kursi belakang yang ada di ruang pegawai. Ia tengah beristirahat dari pekerjaan paruh waktunya. Sejak beristirahat Yunho terus melamun. Tak lama ia tersentak karena Di Kha mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya. Yeoja itu duduk di sebelahnya.

“Kau melamun terus sejak tadi.” Ucap Di Kha yang hanya bisa di jawab anggukan oleh Yunho.

“Bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman? Sesuai apa yang kau inginkan selama ini, Berteman denganku.” Ucap Di Kha yang langsung membuat wajah Yunho berubah.

“Kau yakin?” Tanya Yunho.

“Mungkin.” Jawab Di Kha sambil membuang muka. Wajah Yunho langsung berubah senang, ia pun reflek memeluk Di Kha.

“Gumawo, akhirnya kau mau berteman denganku.” Ucap Yunho sambil tersenyum senang.

Di Kha hanya bisa duduk diam menatap tingkah aneh Yunho yang kini tengah berteriak dan sesekali meloncat-loncat.

“Kenapa terlihat begitu senang hanya karena berteman denganku? Dasar aneh.” Gumam Di Kha pelan. Lalu tak lama ia pergi meninggalkan Yunho di ruang khusus pegawai seorang diri.

Tak lama Di Kha melihat Yunho keluar dari ruang pegawai dan kembali melayani pelanggan yang baru saja datang. Keduanya bekerja seperti biasa sampai sore hari.

Saat pulang Yunho mengantar Di Kha sampai depan rumah. Yunho menahan tangan Di Kha yang akan masuk ke dalam rumah. Yeoja itu berbalik dan menatapnya bingung.

“Aku ingin sedikit lebih lama bersamamu, bolehkah?” Tanya Yunho.

“Kenapa?” Tanya Di Kha balik.

“Molla, aku pun tak tahu. Baru kali ini aku seperti ini dengan temanku.” Jawab Yunho jujur.

‘Kenapa kau sepertinya selalu berlindung di balik kata itu?’ Batin Di Kha. Ia menghela nafas pelan lalu mengajak namja itu masuk ke rumahnya yang kecil.

Yunho masuk dan melihat rumah Di Kha, ia sedikit terkejut melihat rumah yeoja itu. Rumah itu sangat jauh berbeda dengan rumahnya. Yunho duduk di sofa dan melihat Di Kha pergi ke dapur.

“Orang tuamu kemana?” Tanya Yunho.

“Mereka ada di Suwon.” Jawab Di Kha. Yunho hanya bisa mengangguk mendengar jawaban Di Kha. Ia berdiri dan melihat-lihat foto yang ada di ruangan itu. Yunho tersentak saat mengenali salah satu orang yang ada di foto itu.

“Namanya Jin Hee Young. Kau menyukainya?” Pertanyaan Di Kha membuat Yunho kaget. Yeoja itu memberikannya minum lalu menatap foto itu.

“Dia teman dekatmu?” Tanya Yunho sambil meminum minuman yang di buatkan Di Kha.

“Dia sepupuku dari pihak ayahku dan dia dari pihak ibunya.” Jawaban Di Kha sontak membuat Yunho tersedak. Yeoja itu memukul-mukul bahunya pelan agar ia merasa lebih baik.

“Sepupu? Kalian terlihat dekat di foto itu.” Ucap Yunho sambil berusaha tenang.

“Ya, dia sepupu dekatku. Dia, adiknya dan orang tuanya sangat baik padaku. Kau tahu di sekolahnya sekarang dia sempat di bully oleh sunbaenya. Aku ingin sekali menghajar orang-orang yang membullynya.” Ucap Di Kha membuat Yunho terdiam.

“Dan bodohnya dia, dia tak memberitahukan kejadian itu pada orang tuanya. Dia menutupinya dengan alasan tidak mau membuat orang tuanya khawatir. Walaupun dia mengatakan padaku sekarang sudah tidak di bully lagi tapi aku ingin memberi pelajaran pada mereka.” Yunho menelan ludahnya sendiri mendengar perkataan Di Kha.

“Dia juga menyuruhmu tidak mengatakan pada keluarganya?” Tanya Yunho. Yeoja itu mengangguk.

“Apa kau akan memaafkan mereka jika mereka meminta maaf padamu ataupun yeoja itu?” Tanya Yunho takut.

“Tidak akan.” Jawab Di Kha tegas. Yunho hanya bisa terdiam mendengar jawaban Di Kha.

“Ah iya kau pernah mengatakan padaku kau membenci orang kaya. Apa itu tidak bisa berubah?”

“Sepertinya tidak akan pernah bisa. Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu kalau aku membenci tingkah mereka?” Yunho kembali terdiam mendengar jawaban Di Kha. Yunho semakin takut untuk berkata jujur pada yeoja di depannya itu.

Yunho kembali duduk di sofa tanpa menghiraukan tatapan bingung dari Di Kha.

***

Hee Young memeluk Jaejoong dengan erat setelah melihat salah satu ruangan di apartemen itu penuh dengan lukisan dirinya. Ia menangis di dada bidang namjanya. Hee Young memukul pelan punggung Jaejoong. Namjanya yang hanya diam saja membuat ia memukul punggung namja itu semakin keras.

“Aish ya! Sakit.” Protes Jaejoong.

“Peluk aku. Jangan diam saja. Aku ingin kau memelukku juga.” Ucap Hee Young. Ia mendengar helaan nafas Jaejoong lalu sedetik kemudian namja itu memeluknya erat dan mengelus rambutnya dengan lembut.

“Gumawo.” Ucap Hee Young sambil mempererat pelukannya.

‘Tuhan kumohon buat aku mencintainya dengn sepenuh hatiku.’ Batin Hee Young.

Hee Young melepaskan pelukannya perlahan lalu menghapus air matanya yang masih mengalir. Setelah itu ia kembali melihat sekeliling ruangan penuh lukisan itu.

“Aku mencoba melukismu dengan itu tapi gagal. Aku belum terbiasa menggunakannya. Nanti akan kucoba lagi.” Ucap Jaejoong saat melihat Hee Young menatap lukisannya yang gagal.

“Kau terbiasa melukisku hanya dengan pensil.” Ucap Hee Young yang di respon Jaejoong dengan anggukan. Hee Young tersenyum lembut.

“Aku menyukai semua lukisan buatanmu. Sangat indah.” Ucap Hee Young lagi. Ia mendekati Jaejoong lalu mencium namja itu sekilas.

Hee Young melihat satu persatu lukisan itu. Jaejoong tersenyum kecil melihat raut wajah yeojanya yang terlihat senang. Ia mendekati yeoja itu dan berdiri di sebelahnya.

“Kau harus kuhukum.” Ucap Jaejoong galak.

“Heh? Di hukum? Memangnya kenapa?” Tanya Hee Young.

“Karena semalam kau diam-diam masuk ke kamar dan menciumku. Aku tidak suka itu.” Jawab Jaejoong galak. Ia melihat raut wajah Hee Young yang langsung memerah. Hatinya bahagia melihat raut wajah yeojanya itu.

“Kau harus …” Perkataan Jaejoong terpotong karena suara yang berasal dari ponsel Hee Young.

“Ponselku berbunyi.” Ucap Hee Young lalu dengan cepat pergi ke ruang tengah di mana ia menyimpan ponselnya.

“Mau kemana?” Tanya Jaejoong sambil mencegah yeojanya pergi.

“Pulang. Ji Ji Young memintaku pulang.” Jawab Hee Young gugup. Dengan cepat Jaejoong memeluk Hee Young dari belakang.

“Jangan berbohong padaku. Kau mau pulang karena Ji Young atau karena ingin menghindari hukuman dariku? Semalam setelah kau menciumku kau berkata ‘Oppa, gumawo.’ lalu menyandarkan kepalamu di dadaku. Setelah itu kau malah pergi.” Ucap Jaejoong.

“Apa yang kau rencanakan setelah menciumku hah? Sepertinya kau merencanakan lebih dari itu.” Goda Jaejoong. Ia mencium pipi yeojanya yang semakin memerah.

“A aku memang menciummu tapi aku tak pernah merencanakan itu. Kalau kau ti tidak suka aku minta maaf dan tak akan melakukannya lagi. Sekarang lepaskan aku.” Ucap Hee Young gugup.

“Tidak akan kulepaskan sebelum kuberikan hukuman. Kau harus menciumku 100 kali dalam sehari mulai dari sekarang. Bagaimana? Kau pasti senang kan?” Goda Jaejoong lagi.

“Berhenti menggodaku.” Ucap Hee Young kesal. Ia berbalik dan menatap Jaejoong yang tersenyum nakal. Di pukulnya lengan namja itu pelan karena malu dan tak tahu harus berkata apa.

“Sikapmu semalam sangat manis. Aku senang.” Bisik Jaejoong lalu memeluk yeojanya.

‘Aku harus bisa mencintaimu.’

Tak lama Jaejoong melepaskan pelukannya dan mengajak Hee Young untuk duduk di sofa. Ia tak lagi membahas tentang ciuman yeoja itu, ia tak mau membuat yeojanya malu. Di lihatnya Hee Young mengambil salah satu buku sketsa yang ada di atas meja. Yeoja itu membukanya satu per satu. Jaejoong hanya diam sambil mengelus rambut Hee Young. Saat Hee Young membuka salah satu sketsa lukisan yang ia buat, yeoja itu menatapnya tapi dengan cepat ia mengalihkan pandangannya. Ia rasakan kalau yeoja itu mencium pipinya lembut.

Jaejoong melirik Hee Young yang menaruh buku sketsa miliknya. Yeoja itu menggenggam tangannya lalu menghela nafas pelan.

“Joongie.” Panggil Hee Young.

“Hmm.”

“Aku ada permintaan. Maukah kau mengabulkannya?” Ucap Hee Young membuat Jaejoong menatapnya.

‘Apa?’ Batin Jaejoong.

“Aku ingin kita lebih banyak menghabiskan waktu berdua. Aku ingin mengenalmu.” Pinta Hee Young.

“Kau tak mengenalku? Dalam hal apa?” Tanya Jaejoong serius.

“Sepertinya semua hal. Aku merasa belum mengenalmu lebih jauh. Selama ini kurasa hanya kau yang berusaha dekat denganku dan berusaha mengerti kehidupan dan kebiasanku.” Hee Young menunduk sambil memainkan jari tangan Jaejoong. Ia merasa tatapan namjanya itu marah padanya.

“Mmm a aku juga ingin saat liburan musim panas nanti kita menghabiskan waktu berdua.” Ucap Hee Young tetap menunduk. Ia mendengar helaan nafas Jaejoong.

Hee Young mendongakan kepalanya saat Jaejoong memegang dagunya. Namja itu menatapnya tajam.

“Baiklah kalau itu maumu tapi ini pertama dan terakhir kalinya. Jujur aku kecewa setelah mendengar ucapanmu. Aku jadi merasa hanya aku yang mencintaimu.” Ucap Jaejoong. Melihat mata Jaejoong yang terlihat terluka membuat Hee Young sontak menangis.

“Mianhae.” Ucap Hee Young sesegukan. Jaejoong memeluknya. Hee Young membalas pelukan namjanya itu dengan erat. Ia naik ke pangkuan Jaejoong dengan tetap memeluk namjanya.

“Berhenti menangis.” Ucap Jaejoong sambil mengelus punggung yeojanya. Jujur ia memang kecewa dan hatinya sakit mendengar ucapan Hee Young tadi. Tapi melihat yeojanya menangis membuatnya tidak tega.

“Mianhae. A aku janji tidak akan membuatmu kecewa lagi, Joongie. Maafkan aku.” Ucap Hee Young. Ia benar-benar merasa bersalah pada Jaejoong karena sudah berkata yang membuat hati namjanya terluka.

“Hmm.” Balas Jaejoong. Tak lama ia melepaskan pelukan yeojanya itu lalu menghapus air mata Hee Young. Yeoja itu memainkan kancing bajunya sambil tertunduk.

“Mau memaafkanku, Joongie?” Perlahan Hee Young mendongakan kepala dan melihat anggukan dari Jaejoong. Reflek Hee Young mencium Jaejoong mesra. Jaejoong pun membalas ciuman itu.

“Kau sudah mulai nakal ya sekarang. Berani menciumku lebih dulu.” Goda Jaejoong. Sekali lagi ia melihat rona merah di wajah kekasihnya itu.

“Joongie, beritahu aku tentangmu.” Pinta Hee Young. Sebelum menjawab Jaejoong pun mengajukan pertanyaan.

“Katakan padaku apa yang kau tahu tentangku sampai saat ini?” Hee Young pun menjawab pertanyaan namjanya itu. Ia memberitahukan apa yang ia tahu dan ia rasakan selama ini pada Jaejoong.

Setelah mendengar dari Hee Young, Jaejoong cukup kaget karena semua perkataan Hee Young tentang dirinya itu merupakan sikap atau kebiasaan dirinya yang tak pernah ia tunjukan secara terang-terangan pada orang lain termasuk pada yeojanya itu sendiri. Ia selalu diam-diam atau pura-pura jika ingin melakukan sesuatu.

Jaejoong mengelus pipi Hee Young dan menatap yeojanya itu lembut. Yeoja itu menatapnya bingung.

“Kutarik kata-kataku tadi yang mengatakan kecewa padamu. Setelah mendengar perkataanmu aku jadi merasa beruntung memilikimu.” Ucap Jaejoong.

“Heh? Kenapa?” Tanya Hee Young bingung. Jaejoong memeluk Hee Young.

“Kau sudah mengenalku jauh lebih baik dari orang-orang terdekatku bahkan keluarga sekalipun.” Jaejoong tersenyum tipis.

“Tapi aku merasa tidak seperti itu. Aku ingin lebih mengenalmu lebih jauh, Joongie.” Ucap Hee Young dengan nada manja membuat Jaejoong sedikit merasa senang.

“Arraseo, lakukanlah apa yang kau mau.” Hee Young melepaskan pelukan Jaejoong dan menatap namjanya. Saat di tatap Hee Young, Jaejoong teringat sesuatu. Ia teringat kebiasaan Hee Young yang selalu menjawab pertanyaannya yang ia utarakan dalam hati dan cara yeojanya itu mengenalinya dan Jaejoon.

“Aku ingin tahu bagaimana kau bisa membedakanku dan Jaejoon?” Pertanyaan Jaejoong membuat Hee Young kaget dan malu.

“Apa perlu kujawab? Kurasa jawabanku akan sedikit memalukan.” Wajah Hee Young mulai memerah.

“Jawab saja.”

“Mmmm aku membedakanmu dan Jaejoon sunbae dari wangi di tubuh kalian.” Jawab Hee Young. Jaejoong mengerutkan dahinya.

“Memangnya wanginya seperti apa?” Ucap Jaejoong.

“Wangi tubuhmu seperti vanilla sangat kusuka, kalau Jaejoon sunbae aku kurang begitu tahu tapi wanginya sedikit aneh.” Jawab Hee Young jujur. Sontak Jaejoong tertawa mendengar jawaban tentang saudara kembarnya itu. Ia mencium Hee Young sekilas.

“Mian, aku bukan menertawakanmu tapi aku membayangkan aroma tubuh Jaejoon seperti yang kau katakan tadi.” Ucap Jaejoong. Lalu tak lama Jaejoong menanyakan hal yang membuatnya bertanya-tanya selama ini, tentang yeoja itu yang bisa membaca pikirannya.

“Kalau itu hanya feelingku saja.” Jawab Hee Young jujur.

“Kau mengagumkan, Young-a.” Jaejoong memegang kedua pipi Hee Young lalu menciumnya lagi sekilas.

Tak lama Jaejoong melihat Hee Young turun dari pangkuannya lalu mengambil kertas dan duduk tepat di sebelahnya. Yeoja itu mulai membicarakan tentang rencana agar bisa mengenalnya lebih jauh dan bertanya beberapa hal tentang dirinya. Jaejoong menjawab semua pertanyaan itu dengan sabar.

Setelah cukup lama berada di apartemen itu Hee Young mengajak Jaejoong pulang. Tapi sebelumnya ia menghampiri ruangan yang penuh lukisan dirinya, ia ingin melihat lagi lukisan yang di buat namjanya. Saat melihatnya sekali lagi Hee Young merasakan cinta yang sangat besar dari namjachingunya itu. Hee Young tersenyum saat dadanya mulai merasa hangat.

Hee Young sedikit tersentak saat tiba-tiba Jaejoong memeluknya dari belakang. Ia mencium pipi Jaejoong pelan.

“Apa yang akan kau lakukan dengan semua lukisan ini, Joongie? Boleh kuminta satu?”

“Mian tapi lukisan ini tidak bisa kuberikan padamu. Aku akan melakukan hal yang lebih besar untukmu dan itu rahasia. Aku ingin memberikan kejutan untukmu.” Jawab Jaejoong. Hee Young menghela nafas lalu mengangguk mengerti.

“Ayo pulang ini sudah sore. Ah tapi kita ke supermarket dulu ya, aku harus belanja keperluan dapur. Bahan masakan di rumah habis.” Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Hee Young pergi.

“Joongie, bagaimana kalau kita makan malam bersama lagi hari ini? Kita makan malam berempat. Kira-kira makanan kesukaan Changmin sunbae apa ya?” Hee Young terus berceloteh selama perjalanan membuat Jaejoong hanya bisa tersenyum dan mendengarkannya.

‘Aku tak salah mencintaimu. Kau wanita sempurna untukku.’

***

Changmin dan Ji Young beristirahat di pinggir sungai Han. Ji Young pamit pergi pada Changmin untuk membeli minuman. Changmin hanya mengangguk lalu setelah namja itu pergi ia menatap sungai Han dengan wajah sedih karena teringat lagi dengan Chae Jin. Ia menghela nafas berkali-kali dan memegang dadanya yang terasa sakit.

“Oppa?” Reflek Changmin menoleh ke sumber suara. Ia cukup kaget saat melihat ternyata Chae Jin yang memanggilnya tapi yeoja itu tak sendirian. Yeoja itu bersama saudaranya , Changsoo. Changmin pun berdiri dan menghampiri mereka. Walaupun hatinya sangat sakit Changmin masih berusaha tersenyum.

“Sedang apa, oppa?” Tanya Chae Jin.

“Hanya istirahat sambil memandang sungai Han. Kalian sendiri?” Mendengar pertanyaannya, wajah Chae Jin langsung memerah. Changmin tersenyum tipis lalu menatap Changsoo.

“Sepertinya kalian sudah mulai dekat sekarang.” Goda Changmin.

‘Ji Young cepatlah datang. Aku tak tahan berlama-lama dengan mereka berdua.’

Doa Changmin terkabul karena tak lama Ji Young datang sambil berteriak memanggilnya.

“Hyuuung, maaf lama.” Teriak Ji Young sambil berjalan menghampiri Changmin. Saat sudah berada di samping Changmin, Ji Young terkejut melihat ada seseorang yang sangat mirip dengan Changmin. Ia berkali-kali menatap Changmin dan orang itu bergantian. Changmin menatapnya lalu terkekeh kecil.

“Dia itu kembaranku.” Ucap Changmin menjelaskan. Ji Young pun mengangguk mengerti.

“Kalian mirip sekali tapi kalau di lihat-lihat lagi sangat berbeda jauh ya.” Ucap Ji Young sambil tersenyum. Changmin sedikit terkejut mendengarnya karena baru kali ini ada seseorang yang baru tahu kalau ia kembar dan langsung bisa membedakannya dengan Changsoo.

“Kau bisa membedakan kami? Bagaimana bisa secepat ini?” Tanya Changmin tak percaya. Ji Young mengangguk bangga.

“Tentu saja itu hal mudah, hyung. Kalian memang kembar tapi ada perbedaan diantara kalian dan itu terlihat jelas.” Jawab Ji Young.

“Hebat sekali. Sepertinya kau dan noona-mu mempunyai bakat untuk mengenali orang-orang kembar sepertiku.” Ji Young tertawa mendengarnya.

“Mungkin ini hanya kebetulan, hyung. Lagi pula kurasa caraku dan noona membedakan orang kembar berbeda.” Ucap Ji Young. Mendengar itu Changmin semakin penasaran, begitupula dengan Changsoo dan Chae Jin.

“Beritahu hyung bagaimana kau bisa membedakan kami? Kalau noona-mu membedakan kami dari sifat kami yang bertolak belakang.”

“Kalau aku dari ciri fisik kalian. Hyung mempunyai bentuk mata sedikit agak besar dibandingkan saudara hyung. Memang sepertinya tidak terlihat perbedaan di mata kalian tapi kalau di perhatikan lagi sangat berbeda. Selain itu senyum kalian berbeda jauh.” Jawab Ji Young serius. Ia berkali-kali menatap kedua anak kembar itu dan membedakannya.

‘Anak ini bisa dengan cepat membedakan Changmin oppa dan Changsoo oppa. Berbeda jauh denganku yang sampai sekarang masih kesulitan. Walaupun beberapa minggu yang lalu namja di depanku ini sudah memberitahu perbedaan  mereka tapi aku masih tidak yakin.’ Batin Chae Jin.

Changmin memuji Ji Young yang bisa dengan cepat membedakan ia dan saudaranya. Ia sangat senang karena ada seseorang lagi yang bisa membedakannya dengan Changsoo. Changmin memang sedikit sensitive mengenai hal seperti ini.

“Cha…” Ucapan Ji Young dengan cepat di potong Changmin.

“Sebaiknya kita pergi Ji Young-a. Ada hal yang ingin kubicarakan.” Ucap Changmin. Ia sadar dengan cepat saat Ji Young akan memanggil namanya. Ia melihat namja di sampingnya  menatapnya dengan bingung.

“Kami pergi duluan ya.” Ucap Changmin lalu menarik Ji Young pergi.

Setelah cukup jauh Changmin berhenti sebentar lalu mengatakan pada Ji Young kalau jangan memanggil namanya jika ia sedang bersama Chae Jin. Ji Young yang bingung hanya bisa mengangguk. Ji Young memberikan Changmin minuman dan makanan ringan yang tadi ia beli.

Tak lama Changmin mengambil ponselnya yang tiba-tiba berdering tanda pesan masuk. Ia pun membuka pesan itu. pesan yang ternyata dari Changsoo.

From : Changsoo

Kenapa kau tadi seperti menghindar? Ada sesuatu yang kau tutupi dariku?

Changmin tersenyum setelah membaca pesan dari saudara kembarnya itu. Ia pun membalasnya lalu memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celana.

‘Kau memang sangat peka, Changsoo-a.’ Batin Changmin.

‘Tapi maaf Changsoo-a, kali ini aku tidak bisa jujur padamu.’

Changmin memegang dadanya yang terasa sesak. Ia menghela nafas berkali-kali berharap rasa sesak di dadanya berkurang.

***

Chae Jin kembali berjalan-jalan dengan namja yang ia pikir Changmin. Namja di sampingnya itu hanya diam dan berbicara jika ia ajak bicara saja. Sejak tadi hanya membaca buku dan mengacuhkannya. Chae Jin kesal sekaligus bingung dengan sikap aneh namja itu.

‘Sepertinya dulu changmin oppa yang kutahu tidak seperti ini.’ Batin Chae Jin sambil melirik namja di sampingnya.

“Apa oppa akan terus mengacuhkanku seperti ini?” Tanya Chae Jin kesal. Reflek Changsoo menutup bukunya dan menatap Chae Jin.

“Kau mau oppa bagaimana? Yang mengajak oppa pergi kan kau.” Ucap Changsoo. Chae Jin melirik namja di sampingnya.

“Ish, oppa menyebalkan.” Ucap Chae Jin lalu pergi. Reflek Changsoo pun mengikuti Chae Jin yang marah padanya.

“Mianhae Chae Jin-a, oppa tidak tahu harus berbuat apa padamu.” Ucap Changsoo jujur.

“Paling tidak oppa bisa kan tidak terus-terusan membaca buku ketika sedang bersamaku. Aku berusaha dekat dengan oppa tapi sepertinya oppa tidak mau dekat denganku. Aku mau pulang saja.” Ucap Chae Jin lalu mencari taksi. Changsoo menarik tangan Chae Jin yang akan pergi. Ia menghela nafas pelan lalu menatap Chae Jin.

“Baiklah, sekarang katakan kau mau ke mana? Oppa akan turuti keinginanmu.” Ucapan Changsoo membuat Chae Jin menatap serius namja di depannya itu.

“Serius? Oppa benar-benar akan menuruti keinginanku?” Changsoo dengan cepat mengangguk, ia menaruh buku yang sejak tadi ia baca ke dalam tas miliknya. Tak lama Chae Jin tersenyum lalu mengajak Changsoo pergi ke tempat yang menyenangkan.

‘Sejak kapan Changmin oppa suka membaca? Sepertinya dulu aku tidak pernah melihatnya membaca buku. Apa aku salah orang ya?’ Batin Chae Jin bingung.

***

Setelah Yunho ke rumah Di Kha beberapa hari yang lalu ia semakin takut mengatakan hal yang sebenarnya pada yeoja itu. Yunho pun selalu takut kalau ia sedang berdua dengan Di Kha tiba-tiba Hee Young datang dan semuanya akan terbongkar. Entah kenapa Yunho begitu takut kalau yeoja itu tahu siapa ia sebenarnya.

‘Apa aku harus mengatakannya sekarang? Tapi aku baru saja dekat dengannya dan aku belum siap kalau ia membenciku setelah tahu siapa aku sebenarnya.’ Batin Yunho sambil menatap Di Kha yang tengah mengobrol dengan salah satu teman yeoja itu. Yunho menghela nafas berkali-kali lalu menundukkan kepalanya.

‘Apa benar kata mereka kalau aku mencintai Di Kha?’ Yunho mendongakan kepalanya dan menatap Di Kha yang kini tengah bersama beberapa orang namja.

DEG

Jantung Yunho berdetak cepat saat melihat senyum Di Kha. Tapi tak lama ia mengepalkan tangannya saat melihat Di Kha begitu akrab dengan para namja itu. Ia berusaha menahan emosinya.

Setelah selesai mengobrol Yunho melihat Di Kha menghampirinya dengan penuh senyum. Ia masih mengepalkan tangannya di bawah meja jadi yeoja itu tak melihatnya. Yunho memberikan minuman milik yeoja itu dengan kasar. Ia dengan kesal menatap ruangan di sekeliling café itu. Mereka kini tengah beristirahat dari jalan-jalan. Yunho mengajak Di Kha pergi di hari libur kerja mereka.

“Kau kenapa?” Tanya Di Kha bingung. Yunho dengan cepat menggelengkan kepalanya.

“Benar?” Tanya Di Kha lagi curiga. Yunho pun menjawabnya dengan anggukan kepala.

Setelah cukup beristirahat Yunho dan Di Kha kembali berjalan-jalan ke tempat yang menyenangkan. Yunho masih menahan emosinya dan berusaha bersikap biasa di depan yeoja itu.

Di Kha mengumpat kesal di dalam hatinya melihat tingkah Yunho yang tiba-tiba menjadi aneh. Ia merasa suasana jadi tidak menyenangkan. Di Kha melirik Yunho yang kini berada di salah satu stand sebuah bazaar.

“Kenapa tingkahnya jadi aneh seperti itu ya? Sepertinya dia kesal denganku tapi aku melakukan kesalahan apa?” Gumam Di Kha.

 

TBC

16 thoughts on “Twins Part 4

  1. butuh part 5nya!! *demo di dpan onnie smbil bwa spanduk changmin
    brkli2 bca aqu ttp gemes sama chaemin abis mreka berdua sama bdoh!!
    mna si jj ksian bgt lgi si heeyoung kga cinta sama dya *pukpuk jj
    tp lbih mlas lgi oppaku yunho, uno oppa qu cintanya ga sampai abis dika onn ga sdar tp spertinya dika onn mlai perhatian.
    okeh aqu udh komen tuk yg ke2 klinya ttg ff ini pertama di note skrg di blog, klo onn update part 5nya lama. aqu kan demo dan ngedesek onnie ampe ff part brikutnya di publish :p

  2. Eunchan She Peef berkata:

    horeee~!!
    Akhirnya keluar juga ff nya~^^
    yaampun~ heeyoung masih belum ada perasaan sama jj??
    Kasian jj~
    heeyoung juga sepertinya kebingungan~

    chaejin~ sebenernya kamu suka sama siapa sih?? ==”
    changsoo suka sama chaejin yah??
    Hadeuh~ masih lola nih otak ku~==”
    hebat adik nya heeyoung udh bisa ngebedain changmin sama changsoo~

    eh, yunho… Gmna tuh unn~
    klw di kha tau klw yunho yg ngebuly heeyoung……yunho bakalan di maafin ngga??😦

    ngga sabar buat next chap nya~ :3

  3. annyeong! aku sebenarnya udah pernah baca disini,tapi baru sekarang bisa koment #eh
    aigoooo,heeyoung dirimu kapan sukanya sama jaejae? awas,ntar jeje direbut lhoo,keke~
    si chae jin itu sebenarnya suka sama changmin apa changsoo????

  4. sepertinya hee young udh mulai bisa mencintai jaejoong.. so sweet bgt sma jae-young couple >//<
    changmin kasian. tpi klo kataku sih si chae jin cintanya emng sma changmin cma chae jin nya aja yg masih kurang peka ckckck

    next part 5 ditunggu segera ya thor.. ga sabar nunggu part 5nya..
    like this ^^

  5. yunho kadi kyk pencuri gt ketakutan ketawan,,,, Lagian sih diawal jailin hee young coba klo ngak kan bisa minta tolong ma hee yoing buat ngeluluhin dhi ka,,,, n kayak y yunho kena imbas dari tongkah laku dia yg suka ngejailin org n sekarang jadi jatuh cinta cwe kyk shi ka m tau y dhi ka y sepupuan ma hee young….
    hee young aduh knp masi blm bisa cintaa jaejoong padahal jaejoong udah cinta mati gt n sikap y jug hadih bikin cewe jatuh hati….
    changmin kasian,,,pasangan ini salah oaham changmin salah ngira n sakit hati ma sikap y chaejin n chaejin jug keliru mana changmin n mana changso n bikin chanhmin sakit hati,,,, cepet sadar kek chaejin klo salah org……
    Lanjut…..

  6. hahaha aku baca untuk yang ke 2 kalinya tetep aja komennya sama.. hahahaha

    jaejoong harus bisa buat hee young suka bahkan cinta mati ama jaejoong..
    pasti yang chaejin suka bukan changsoo. dia salah orang kan??
    trus yunho kena karma. hahaha kasian bgt ya dia suka sama yeoja yang g suka orang kaya dan yang g suka sama org yang ngebully heeyoung.. sedih amat si yunho..

    NICE FF EONNI!! DAEBAK!!

  7. Midori-chan berkata:

    Kyaaaa Hee Young ma jeje so sweet bgt >.<
    suka deh liatnya, so sweet gtu
    ah ksian minnie chaejin bahkan ga bisa bedain antara minnie ma changsoo

  8. Rajaejoongie berkata:

    jaejoong&hee young tambh soswett aja,amein semoga hee young bisa mencintai joongie..^^
    sperti changmin slah phm ne dngn cae jin,dan cae jin juga msh binggung,hati nya untk changmin/changsoo???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s