Destiny Part 3


 

Author : Ramalia

Tokoh : Nari (OC)

            Max Changmin

            Lee Hyukjae

            Other cast

Genre: Romance, family.

Rating : PG-15

Length : Multi Chapter

 

****************************************************************************************

“Eunhyuk…”

 

Sekitar beberapa detik mereka hanya diam saling tatap. Tidak ada ekspresi jelas yang terlihat. Entah apa yang ada difikiran Eunhyuk saat ini. Tapi bagi Nari, ia hanya ingin memandang wajah ini lebih lama. Seketika itu pula bayangan yang terjadi di januari 2012 berputar seperti film pendek dikepalanya.Ia ingat benar jika akhir darii pertemuan mereka yang memang singkat itu adalah tangisnya. Ia menangis.

 

“Kau pulang?” seru seseorang yang tak lain adalah Yoona.  Nari sadar untuk mengalihkan tatapannya, bukan lagi focus pada mata coklat milik Eunhyuk.

 

“Semua jadwal kubatalkan. Tidak ada hal benar yang kulakukan hari ini” jawab Eunhyuk sambil menyentuh pipi Yoona tepat dihadapan wanita lain yang ingin berteriak yaitu Nari.

 

“Kau sakit?” tanya Yoona sambil menyentuh kening suaminya. Memang cukup hangat, ia sebagai dokter tau jika Eunhyuk tengah demam.

 

“aku tidak apa-apa hanya perlu istirahat”

 

Sepasang suami istri ini lagi-lagi memperlihatkan kemesraannya dengan saling mengusap pipi. Yang menjadi penonton setia hanya bisa menahan sakit. Salah besar ia datang kemari. Dan entah perasaannya saja atau apa tapi ini terlihat seperti kesengajaan dari mereka untuk membuat Nari terbakar.

 

Tanpa menyapa, tanpa sepatah kata dan tanpa menoleh, Eunhyuk berlalu melewati Nari yang berusaha menahan air matanya.Yoona setia berjalan dibelakangnya.Mereka seperti lupa dan merasa hanya berdua di rumah mewah itu. Nari kembali ke ruang tamu dan duduk mendekati Minho yang wajahnya sudah tidak karuan karena  makanan yang melumurinya. Satu toples sudah nyaris habis, hanya tersisa potongan-potongan kecil biscuit.Sirupnya pun sudah tak bersisa lengkap dengan gelas Nari yang tadi masih tersisa setengah.

 

Entah apa yang kuharapkan dari ini. Kakiku ingin kesini, mataku ingin melihatnya, tanganku ingin menyentuhnya. Buat apa semua itu ?untuk melanjutkan hal-hal yang tertunda dulu? Tidak ada yang perlu dilanjutkan karna memang belum dimulai. Apa aku sudah gila ?arggghhh tapi aku tidak mengerti kenapa isi kepalaku hanya ada dia dan dia. Ya Tuhan buat otakku kembali normal. Ini sangat salah

 

Nari berusaha menahan genangan air di matanya. Saat matanya menangkap sosok Eunhyuk yang keluar dari balik pintu, mungkin itu kamar mandi karna dapat ia lihat rambut basah Eunhyuk serta handuk kecil di bahunya. Yoona keluar dari kamarnya dan menyentuh lagi dahi suaminya. Nari sudah berniat berpamitan karna tidak tahan dengan adegan-adegan yang dilakukan suami istri ini. Ia sudah berdiri dan ingin berkata, “Yon…ak…”

 

“Nari, kau makan siang disini ya, tidak ada tapi-tapian. Aku akan masak dan kau duduk disini, Eunhyuk akan menemanimu. Oke?”

 

Ha? Dia menemaniku ?bukankah dia sedang sakit dan butuh istirahat ? lebih baik aku pulang atau membantu Yoona memasak dari pada duduk bersama pria ini sekalipun tadi aku sangat itu terjadi tapi sekarang tidak.

 

“Eunhyuk butuh istirahat.”

 

“Dia sudah baikan dan dia sendiri yang ingin menemanimu. Ayolah aku biarkan kali berdua, aku tahu kau sangat ingin berbincang dengan dia.”

 

“Ha?” Nari terkejut dengan maksud kalimat itu. Eunhyuk ingin menemaninya dan Yoona tau dia ingin bicara berdua saja?

 

“Jangan pasang tampang tidak mengerti itu ! Aku tahu bagaimanapun kau masih mengidolakan grupnya kan ? sekarang salah satu membernya ada didepanmu. Silahkan kalian berbincang-bincang !” perkataan Yoona membuat Nari bernafas lega, setidaknya yang dimaksud ingin bicara berdua olehnya adalah karna Nari pernah mengidolakan suaminya, bukan karna hal lain.

 

Tanpa persetujuan dari Nari, Yoona sudah berjalan menuju dapur meninggalkan tiga manusia di ruang tamu.Minho masih setia menikmati biskuitnya seperti tidak pernah kenyang. Sedangkan dua makhluk lainnya setia berdiri mematung.

 

“Duduklah” perintah Eunhyuk pelan. Nari menurutinya dan duduk disebelah anaknya sedangkan Eunhyuk duduk di hadapannya, mereka hanya diberi jarak oleh meja berukuran 1×0,5 m itu. Suasana makin kaku, hanya terdengar suara kunyahan Minho pada biskuitnya yang hampir habis dan detak jarum jam.

 

“Bagaimana kabarmu?” tanya Eunhyuk memulai.

 

“Seperti yang kau lihat”

 

Setelah tanya jawab yang singkat itu, mereka kembali diam. Nari berniat untuk menanyakan tentang sifat dingin pria ini. Karena setelah pertemuan mereka seminggu lalu, tidak ada percakapan diantara mereka selain sesi perkenalan, tidak ada kontak mata selain Nari sendiri yang menatapnya, jadi inilah pertama kalinya mereka bicara.

 

“Kau marah..?” tanya Nari sehati-hati mungkin.Ia juga tidak tahu apa maksud perkataan itu. Eunhyuk menaikan satu alisnya dan bersandar pada sofa, “Untuk apa?”

 

“Untuk….lupakan, kau pasti sudah lupa. Aku saja yang bodoh masih mengingatnya dan berfikir kau kecewa karna……” Nari menghentikan kalimatnya begitu sadar mulutnya sudah berkata jauh. Ia sama saja  seperti mengakui jika Eunhyuk tidak pernah pindah tempat dari fikirannya. Nari merutuki kebodohannya ini. Ia jadi tidak berani menatap lawan bicaranya.

 

“Akupun tidak lupa, dan aku tidak pernah marah. Semua sudah berlalu dan kita sudah punya hidup masing-masing,” ucap Eunhyuk karena Nari tak juga melanjutkan kalimatnya. Tapi jawaban itu seperti penegasan bagi Nari kalau ia…begitu bodoh masih menempatkan Eunhyuk pada posisi yang sama dihatinya, tidak berubah.

 

“Tapi..kenapa kau begitu…dingin?” uuhh, lagi-lagi Nari ingin memukul bibirnya sendiri yang makin tidak karuan. Ini diluar kendalinya.

 

“Lalu menurutmu aku harus apa? Saling berpelukan dan berkata  hay..lama tidak jumpa?”                          

 

Nari diam, ia tahu itu benar, tidak mungkin kan mereka bicara dengan akrab terlebih jika mengingat akhir pertemuan mereka yang tidak begitu baik. Terlebih itu juga akan membuat Yoona sebagai pihak yang tidak tahu apa-apa bingung.

 

“kakimu kenapa?” tanya Nari mengalihkan pertanyaan.

 

“Yoona pasti sudah cerita”

 

“Ya,,,,bagaimana rasanya? Kau tidak bisa menari lagi. Itu pasti…..”

 

“Menyakitkan memang, tapi aku bisa apa? Kau sendiri bagaimana ? Kau seperti…tidak tahu apa-apa tentang ini dan yang lainnya” Tanya Eunhyuk sembari mengeringkan rambutnya. Terlihat santai seperti ia sedang bertanya “ apa kau sudah makan?”. Pertanyaan yang membuat ada kumpulan jarum-jarum baru yang menusuk Nari.Seperti bukti baru jika keputusannya dulu adalah benar. Dan juga membuktikan jika tidak ada efek berarti bagi Eunhyuk atas apa yang terjadi dulu. Jadi benar jika hanya dia sebagai pihak yang terluka ?Nari menarik nafas pelan.Bodoh.Itu kata yang tepat baginya. Bagaimana bisa ia terllau mendramatisir dengan berharap pria yang masih mengeringkan rambutnya ini juga merasakan hal yang sama? Mimpi.

 

“Aku hanya berhenti menjadi orang-orang yang selalu ingin tahu tentang mu dan grupmu itu” jawab Nari dengan sedikit dingin.Eunhyuk menghentikan kegiatannya dan menatap Nari bingung.

 

“Pasti ada alasannya.”

 

“Mungkin kau bisa menebaknya.”

 

“Karena aku ?.” tanya Eunhyuk seolah sangat yakin dan nyatanya Nari ingin berkata iya. Pria ini entah kenapa jadi begitu menyebalkan sekarang. Ia bertanya seperti menebak “ada berapa koin ditanganku?”, jelas-jelas ini hal serius.

 

“Percaya diri sekali kau.”

 

“Paman…” seru Minho yang sejak tadi diabaikan memotong ucapan yang sebenarnya ingin didengar oleh Nari. Eunhyuk menunduk menghadap bocah 4 tahun itu.

 

“Kenapa hm?”

 

“Nyanyi yukk !” ajak Minho sambil meletakan toples  biscuit yang sudah tidak berisi lagi.

 

“Nyanyi ? Minho suka nyanyi?”

 

“Suka dong, nih liat ya !”

 

Nari dan Eunhyuk hanya tersenyum menunggu pertunjukan apa yang ditampilkan Minho. Nari tahu anaknya ini memang menuruni bakat dari sang ayah. Tapi Nari tidak berharap Minho benar-benar menjiplak kemampuan Max.jika begitu, telinganya mungkin akan terus panas mendengar teriakan mereka. Ya, jika saja Max terjun kedunia musik, dia pasti terkenal dengan suara tinggi yang melengking.

 

Minho sudah turun dari sofa, berdiri tegak didepan ibu dan paman baiknya. Kedua tangannya ditaruh dipinggang.Bibirnya mengukir senyum dan mulutnya mulai terbuka. Perlahan ia menggerak-gerakan pinggangnya kekiri dan kekanan. Sepertinya ia akan memnyanyikan lagu yang lucu. Begitu fikir Nari dan Eunhyuk.

 

“Baby baby cukuplah cudah…antala aku nenan dilimu….kalna aku ta mungin bica membuat dilimu mengelti…”

 

Hening. Tidak ada yang bersuara selain nyanyian dewasa dari bocah yang bahkan tidak mengerti apa yang ia nyanyikan. Nari tahu harus berbuat sesuatu. Ia bekap mulut anaknya yang tentu membuat si korban memprotes.

 

“Mmppthhttt……..”

 

“BWAHAHAHAHAHAHAHA………………..”

 

Tawa Eunhyuk pecah begitu Minho berontak masih dengan mulut yang ditutup oleh sang ibu. Terlihat Yoona sampai menyembulkan kepalanya dari dapur dan tersenyum. Nari mendelik melihat anaknya jadi bahan tertawaan. Sadar anaknya kesulitan bernafas, ia lepas telapak tangannya dari bibir mungil itu.

 

“Hahaha kau mau membuat anakmu tidak bisa bernafas”

 

“Berhenti tertawa !! Dan kau bocah. Siapa yang mengajarimu lagu itu ?”

 

“Papa,” jawab Minho dengan polosnya dan super jujur. Nari melotot horror. Bagaimana bisa lagu seperti itu diajarkan pada anak seumuran Minho?

 

“Haha.. suamimu hebat juga.”

 

Suasana itu memang berubah hangat karena ulah spontanitas dari Minho. Nari pun sedikit terlupakan tentang rasa sakitnya dan berfikir tentang kepintaran suaminya yang mengajarkan Minho lagu macam begitu. Bagaimana bisa?

“Hey…sudah berapa lama kau tinggal di Korea?” tanya Eunhyuk yang sudah bisa menetralkan perutnya yang tadi terasa geli.

 

“Jika Max tidak perlu kembali ke Indonesia karena pekerjaannya yang menghabiskan waktu tiga tahun lebih, harusnya sudah 5 tahun aku disini”

 

“Dan selama disini kau tidak tahu apa-apa tentang ku?” tanyanya lagi tapi kali ini nampaknya begitu penasaran. Sekalipun gadis berhidung mancung ini bukan lagi penggemarnya, sangat aneh jika ia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Terutama pernikahannya kala itu yang nyaris mendominasi berita pada televisi atau media cetak. Korea bagian mana yang ia tempati sampai buta tentangnya?

 

“Kehidupan presiden pun aku tidak tertarik. Kenapa aku harus tahu tentangmu?” jawab Nari dingin.

 

“Kau tidak punya tv huh?” Tanya Eunhyuk yang terdengar melecehkan. Nari menggembungkan pipinya yang justru membuatnya menyamai tingkat kelucuan Minho. Lagipula apa maksud pembicaraan ini? Masalah tv apakah penting ?

 

“Hey.. tvku lebih besar bahkan lebih banyak dibandingkan milikmu.”

 

“Tapi kau tidak mengerti menyalakannya kan ? hahah”

 

Nari terdiam. Bagaimana bisa pria ini menebak dengan benar kebodohannya dulu saat pertama kali menginjakan kaki di rumah mewahnya ? kebetulan yang sangat tepat. Nari ingat benar jika saat itu, ia ingin menyalakan tv berukuran 45 inci yang menempel pada dinding. Ia menemukan remote yang menurutnya remot tv. Yang ia rasakan justru hawa sekitar yang semakin dingin. Tak lama, suaminya menghampiri dan menekan salah satu tombol pada remot tersebut. Lalu ia duduk disofa dan tangannya menekan satu tombol yang berada pada pegangan sofa tersebut. Ajaibnya tv langsung menyala dan membuat Nari melongo. Untuk merubah channel, cukup memilih melalui tombol lain disisi kiri tombol tadi.

 

“Ah, apa yang kau maksud?” Tanya Nari dengan sedikit meninggi.

 

“Maksudku sudah jelas, kau bersembunyi dimana sampai tidak tahu apa-apa? sekalipun kau tidak bisa disebut ELF, bukan berarti kau tidak melihat wajah atau berita tentangku di tv”

 

“Hah..kau tuli atau apa, sudah kujelaskan bukan. Perlu kutambahkan ? aku hanya berada di rumah melakukan tugasku dengan sebagai seorang istri, meski tidak begitu berhasil”

 

“Tidak berhasil ?” Eunhyuk menaikan sebelah alisnya. Rambutnya mulai mengering dan handuk putihnya sudah ia jatuhkan kelantai. Kebiasaan malas yang menurut Nari tidak pernah berubah.

 

Nari sadar harus membawa lakban jika ingin bertemu pria ini. Sejak tadi mulutnya sendiri yang terus berucap terlalu jujur dan mengundang pertanyaan. Jika masih sempat, ia ingin meminta otaknya sedikit direparasi ulang atau dibuat menjadi yang baru. Setidaknya tambahkan secuil bagian pada otaknya agar bisa lebih pandai berfikir.

 

Nari tidak berniat menjawab dan mengalihkan perhatiannya pada Minho. Bocah itu masih bersenandung kecil dan gilanya masih dengan lagu tadi. Apa tidak ada lagu yang lebih gila dari itu?

 

Melihat Yoona yang mulai sibuk dimeja makan, Nari berniat berdiri menuju kesana. Lebih baik membantu menyiapkan makan siang dan ia segera pulang. Duduk berhadapan dengan Eunhyuk dan mendengarnya bicara masa lalu segampang membicarakan masa-masa SD yang konyol membuatnya kesal.

 

Baru selangkah, kakinya tersandung toples biscuit yang sudah kosong karena Minho.Tubuhnya terhuyung kedepan tepat menimpa manusia menyebalkan tadi. Eunhyuk menahan tubuhnya. Tapi posisi mereka sekarang mengundang Tanya dari Minho. Bagaimana tidak ? mamanya berada diatas tubuh paman Eunhyuk dan mereka saling melihat secara intens.  Tentu Minho tidak mengerti tentang tatapan macam itu. Yang ia ingin tahu, apa yang dilakukan dua manusia didepannya ? jika hanya karena terjatuh kenapa betah sekali dalam posisi begitu ?

 

Nari dan Eunhyuk seolah tidak perduli dengan situasi sekitar. Atau mungkin sudah lupa mereka berada dimana, didepan siapa. Bagaimana jika Yoona melihat pose mereka ini dari arah dapur ? ohh, Nari bahkan sempat tidak memperdulikan kemungkinan itu. Dia hanya ingin menikmati momen ini dimana dia dan Eunhyuk lebih dekat dan……………….

 

PRANGGGGGGG

 

Suara pecahan benda kaca terdengar dari arah dapur. Sontak Eunhyuk dan Nari berlari ke asal suara dan mendapati Yoona tertunduk sambil berpegangan pada sisi meja makan, tangan kirinya meremas perut bagian bawahnya. Peluh mengalir deras dari wajahnya yang nampak pucat. Eunhyuk memegang bahu istrinya tersebut.

 

“Yoon. Kau kenapa?”

 

“Ssssssssss…saki,t” jawab Yoona dengan mata terpejam dan menggigit birbir bawahnya.

 

“Ya Tuhan,” seru Nari terkejut saat matanya melirik kearah bawah tepatnya pada kaki Yoona. Darah segar mengalir dari sana. Tanpa pikir panjang Eunhyuk membopong tubuh berat itu menuju mobil. Tentu Nari serta Minho yang sejak tadi cukup takut melihat pemandangan itu ikut ke Rumah sakit.

 

Nari dan Minho sudah berada di jok belakang bersama Yoona yang masih meremas perutnya. Nari menocba menggenggam erat tangan sahabatnya itu berusaha menyalurkan kekuatan. Entah itu berpengaruh atau tidak yang jelas Nari tidak tega melihat Yoona dalam keadaan seperti itu.

 

Dalam kepanikannya, Eunhyuk baru sadar ia belum memegang kunci mobil. Dengan langkah terseok ia berlari kedalam. Kepanikannya membuat ia hilang konsentrasi. Ia juga merutuki kakinya yang tidak bisa diajak kerja sama. Harusnya ia terima saja tawaran operasi dari Yoona dua bulan lalu.

 

Kunci yang tergantung jelas di depan pintu kamarnya pun tak ia lihat. Ia justru sibuk membuka laci lemari, meja, membongkar isinya sampai semua tercecer dilantai. Saat ia hendak masuk kekamar barulah matanya menangkap benda yang dicari-cari menggantung dengan baik. Dengan gesit ia ambil dan menuju mobil. Belum sempat ia menyalakannya, terdengar teriakan dari sang istri. Eunhyuk mengurungkan niatnya dan berpindah kebelakang.

 

“Nari, tolong bawa mobilnya, aku harus bersama Yoona,” Pinta Eunhyuk dengan amat sangat bahkan nyaris menangis.

 

Nari tidak menjawab dan hanya berdiri lalu keluar membiarkan Eunhyuk duduk disamping istrinya. Ia usap peluh yang mengalir didahi wanita itu. Tangan kirinya melingkar dibelakang tubuh itu dan menggenggam tangannya erat. Sedangkan tangan kanannya mengusap lembut perut buncit itu berusaha memberi ketenangan pada makhluk didalamnya. Nari masih berdiri menatap adegan itu. Bukan hanya karna sakit tapi ia juga ragu. Apa ia harus membawa mobil sedangkan ia……….

 

“Nari !!! apa yang kau fikirkan !!” seru Eunhyuk dengan sedikit berteriak karna gemas melihat Nari masih saja berdiri. Nari sadar dan bergegas menyalakan mobil. Sebelumnya memindahkan Minho kedepan. Dengan satu tarikan nafas panjang ia nyalakan mobil dan….

 

‘Ya tuhan..”

 

Eunhyuk terdorong kedepan karna mobil yang tiba-tiba bergerak cepat. Mungkin ia fikir ini karna kepanikannya dan juga karna kepedulianya melihat sahabatnya itu.

 

Sekarang mereka tengah berada ditengah jalan yang sialnya sedang ramai. Situasi Nampak tidak bersahabat dengannya. Kenapa harus begitu banyak kendaraan ? truck pun tak terhitung. Apa-apaan ini ? sejak kapan truck berkeliaran bebas di jalan tol ? banyak yang Nari pertanyakan.

 

Tangan dan kaki Nari bergetar. Ia harap untuk kali ini saja ia berhasil dan menyelamatkan Yoona. Beberapa kali mereka yang berada didalam mobil terguncang, terdorong karna ulah sang pengemudi. Kecuali Minho yang mungkin sudah kebal dengan guncangan-guncangan seperti ini.

 

“Mama kok belani ci ? kalo papa tau pasti dimalahin” Tanya Minho dengan santainya. Sebuah pernyataan dari bibir mungil itu membuat Eunhyuk mengernyit bingung.

 

“Kau bisa bawa mobil kan?”

 

“Aku harap begitu,’ jawab Nari tidak yakin. Ia masih sibuk dengan menyalip mobil bahkan truck yang ada didepan. Jika sedang beruntung maka tidak akan ada polisi yang mengejar lengkap dengan suara sirinenya. Mungkin saat ini ia sedikit beruntung. Hanya terdengar bunyi klakson dari beberapa mobil yang ia selip. Atau suara pria yang meneriakinya sambil menyembulkan kepala dari dalam mobil. Bagi para pejalan kaki, lebih berharap ada kumpulan pria dengan kamera disekitar mereka,  mungkin saja yang mereka  lihat ini adalah proses pembuatan film action.

 

Ditengah konsentrasinya mengacaukan jalanan, sesekali Nari melirik melalui kaca spion dan melihat Eunhyuk menciumi dahi istrinya penuh kasih. Ia sandarkan kepala Yoona dibahunya. Terdengar isak tangis darinya.

 

“Sakit Hyuk….”

 

“Tenang sayang, kita akan segera sampai dirumah sakit,” ucap Eunhyuk lembut.

 

“Peluk aku….” pinta Yoona yang terdengar lirih. Eunhyuk langsung melakukannya dan berusaha membuat sang istri tenang.

 

“Kau ikuti aku ! tarik nafas pelan-pelan lalu keluarkan. Lakukan itu !”

 

Hal itu tentu tidak mengurangi rasa sakit, tapi setidaknya Yoona sedikit lebih tenang dan mengatur nafasnya dengan baik. Baik bagi Yoona, bencana bagi Nari. Untuk ‘orang sinting’ sepertinya, adegan dibelakang itu justru menusuk. Ini cukup mengalihkan perhatian si pengemudi mobil dan nyaris menabrak seorang pria yang menyebrang jika Minho tidak berteriak dan Nari sempat menghindar.

 

“Tuh kan” dua kata super singkat dari Minho membuat Nari ingin melakban mulut bocah itu.

 Semua menarik nafas lega begitu memasuki jalan yang sedikit lengang sehingga kecil kemungkinan akan ada gangguan lagi. Nari tidak habis fikir disaat genting begini otaknya sempat teralihkan oleh hal lain yang tidak pantas. Ia sakit karena melihat pemandangan dibelakang ? oh benar-benar tidak patut.

 

“Kau benar-benar bisa membawa mobil?’ tanya Eunhyuk sekali lagi.

 

“Aku bisa, Hyuk.’ jawab Nari yakin, “Hanya empat kali memasukan mobil Max ke bengkel’ lanjutnya  pelan, “Hampir menabrak pejalan kaki..ya hanya itu..”

 

“Waktu itu mama juga hampil nablak mobil polici. Untung polcinya ganteng jadi mama nda dibolgol. Telus mama juga…….” Minho melanjutkan perkataannya tentang sepak terjang Nari dalam mengemudikan mobil. Eunhyuk ingin menanggapi tapi ia lebih memilih menenangkan sang istri.

 

“Kita sampai”

                                                                                    *****

 

Jam menunjukasn pukul 5.24. itu yang Nari lihat pada jam di ponselnya. Berarti sudah hampir dua jam ia, Minho serta Eunhyuk duduk dikursi tunggu didepan ruang bersalin. Ah bukan, Eunhyuk tidak duduk bahkan tidak pernah duduk. Ia hanya mondar mandir didepan pintu dengan cemas. Sesekali tangannya meremas rambut coklatnya seperti tengah frustasi. Nari ingin bersuara setidaknya untuk menenangkan pria itu tapi ia takut. Sekarang ia tengah bersandar pada dinding bercat abu-abu tersebut sambil memejamkan mata.

 

Nari cukup khawatir melihat pria itu. Terlebih jika mengingat bagaimana tadi saat Yoona dibawa menuju ruang bersalin, ia tidak cukup kuat untuk berlari menyamakan posisi dengan Nari dan suster yang sudah menjauh. Ia tertinggal dengan langkah terseret.

 

Nari sebenarnya juga ingin bertanya kenapa Eunhyuk tidak menemani Yoona saja. Setidaknya itu yang ia lihat pada drama ditelevisi dan itu pula yang ia lihat saat ibunya berjuang melahirkan Ryan. Ayahnya menunggu dengan setia didalam ruang bersalin, bukan bergerak ala setrika seperti ini. Baru saja Nari ingin membuka mulut, terdengar panggilan dari suara yang familiar.ia menoleh kebelakang dan menemukan Max berlari-lari kecil.

 

“Bagaimana?”

 

“Belum selesai”

 

Mata pria jangkung itu melihat ke arah anaknya Minho yang tengah tertidur dengan kepala bersandar pada sandaran kursi. Ia duduk disampingnya lalu perlahan meletakkan kepala bocah itu dipahanya.

 

“Maaf , harusnya aku membawanya pulang. Ia pasti lelah, tapi aku khawatir pada Yoona.”

 

“Tidak apa, aku mengerti.”

 

Suami istri itu duduk dikanan dan kiri Minho sambil mengelus rambutnya. Minho memang sudah terlelap sejak satu jam yang lalu. Ia bukan tipe anak yang gampang tidur. Matanya akan otomatis tertutup jika suasana sekitarnya dianggap membosankan. Seperti tadi Minho merasa suasananya begitu kaku, hanya melihat paman Eunhyuknya kekiri dan kekanan, dan ibunya duduk diam seperti tidak berminat mengajaknya bicara. Jelas saja bocah itu langsung ke alam mimpi.

 

“Aku harap sebentar lagi akan seperti kalian. Duduk diantara anak kami dan menidurkannya. Tapi ini…sudah terlalu lama” ujar seseorang yang sejak tadi tidak bersuara. Ia masih setia pada dinding dan tidak beranjak.

 

“Apa kau juga seperti ini, Max?” tanyanya lagi tanpa menoleh.

 

“Maksudmu?”

 

“Maksudku…berjam-jam menunggu Nari melalui ini. Atau kau didalam bersamanya ?” tanya Eunhyuk untuk memperjelas yang membuat Max serta Nari terdiam. Max tersenyum kikuk tidak tahu harus mengatakan apa. Sementara Nari menunduk. Secara tidak langsung pertanyaan itu menyudutkannya.

 

“Aku…” pria bernama lengkap Shim Changmin tersebut masih mencari-cari kalimat yang tepat dan terdengar meyakinkan. Perlukah mengarang cerita? Mengingatnya saja sudah membuat sakit. Masalah ini bahkan sudah disepakatinya bersama Nari tidak akan diungkit lagi.

 

“Eunhyuk !!!!” seru seseorang yang membuat Max menghentikan kalimatnya. Setidaknya ia tidak perlu lagi menjawab pertanyaan itu. Hanya akan menambah luka. Karena  pertanyaan macam itu tidak pernah dibahas atau dikaitkan lagi sejak 5 tahun ini. Nari tahu, suaminya akan sangat sakit jika menyangkut masalah ini.

 

Dua orang pria yang sangat Nari kenal berlari menghampiri Eunhyuk. Salah satu diantaranya memakai kaca mata hitam tapi Nari tidak akan lupa. Jika saat ini bukan di rumah sakit dan bukan suasana yang buruk, mungkin ia akan melompat dan memeluk pria-pria itu.

 

“Bagaimana, hyuk?” tanya salah seorang dari mereka yang Nari kenal sebagai sahabat Eunhyuk.

 

“Entahlah Hae, ini sudah dua jam.”

 

Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Eunhyuk menegakkan tubuhnya menghadap dokter bertubuh kurus yang keluar dari dalam. Tentu ia ingin tahu apa istri dan anaknya selamat.

 

“Bagaimana dokter?”

 

“Ini sulit, saya harap anda bisa membujuknya. Nyonya Lee ingin anda mendampingi didalam, cepat masuk !” tanpa fikir panjang Eunhyuk masuk kedalam bersama dokter. Entah apa yang terjadi didalam yang jelas Nari cukup terkejut mendengar kalimat dokter. Jadi selama dua jam ini belum selesai ? ia menoleh pada suaminya yang masih menunduk.

 

“Apa ia masih memikirkan pertanyaan tadi?” batinnya. Ia genggam tangan pria itu membuat sang suami mengangkat wajah. Nari memejamkan mata lalu telinganya menangkap ada kalimat yang diucapkan suaminya meski sangat pelan.

 

“Anak kita lahir pada 30 November 2013 jam 1 malam dan aku setia mendampingimu.

Nari membuka mata begitu mendengar itu, ia menoleh pada Max yang sudah bersandar pada kursi dengan pandangan lurus kedepan dimana hanya ada dinding putih serta kursi yang sama. Kalimat itu seperti tamparan bagi Nari. Ia kuatkan pegangan tangannya.

 

“Maafkan aku ! aku istri yang buruk,” ucapnya lirih.

 

“Kau tidak buruk, aku sangat mengerti soal itu”

 

Selalu begitu. Selalu saja tidak ada jawaban ya atas kesalahan Nari. Nari ingin mendengar suaminya itu mengiyakan jika ia istri yang buruk. Bukan hanya sudah mengecewakan Max selama 5 tahun, ia bahkan sekarang begitu lancang menaruh perasaan pada pria yang baru saja memasuki ruang bersalin itu. Selalu saja Max berkata tidak apa., tidak masalah, aku mengerti dan kalimat semacam itu justru terdengar sakit ditelinga Nari karna kenyataannya tidak begitu.

 

“Kau?” tanya seorang pria berkacamata yang Nari kenal sebagai Kyuhyun. Pria disampingnya yaitu Donghae ikut terkejut setelah melihat Max.

 

“Kalian……”

 

“Ya. Ini kami” jawab Max kemudian tersenyum. Sepertinya fikirannya sedikit teralihkan.

 

“Kau kenal mereka ?” tanya Nari.

 

“Kau ini, kau tidak ingat kejadian saat super show dijakarta? Jangan bilang kau lupa”

 

Nari memutar otaknya yang sedikit lamban sampai akhirnya ia ingat. Ia dan suaminya adalah ‘perusuh’ di konser tunggal super junior saat itu.

 

“Jadi..kalian kenapa ada disini?” tanya Donghae.

 

“Aku sahabat Yoona”

 

“Benarkah ? dunia begitu sempit ya ” Donghae terkejut. Ia nampak berfikir lalu memperhatikan Nari dari ujung rambut  hingga ujung kaki, “berarti..kau adalah Nari yang meno……”  Donghae menggantung kalimatnya karena merasa ada yang bergetar di jaketnya. Ia sedikit menjauh untuk menerima telpon.

 

Kyuhyun tidak berkata apa-apa lagi setelah ekspresi terkejutnya mendengar jawaban Nari. Ia memilih duduk dikursi tunggu dihadapan Max, melepas kacamata hitamnya lalu memasukannya kedalam saku jaket. Ia terlihat tenang tapi matanya sesekali melirik Nari dan Nari tentu menyadari itu. Ia cukup risih karna tatapan itu sulit diartikan.Nari membuang pandangannya ke pintu berharap Eunhyuk keluar dengan sumringah dan berkata anak istrinya sehat. Ia melihat jam pada ponselnya yang sudah menunjukan pukul 6 sore.

 

“Aku pikir kalian tidak seperti ini. Bukankah waktu itu……’

 

“Aku berhasil meyakinkannya diluar, ” jawab Max cepat sebelum Kyuhyun menyelesaikan pertanyaannya. Kyuhyun melirik bocah yang tengah terlelap dipangkuan Max.

 

“Dia anak kalian? Lucu sekali”

 

Tidak ada lagi kalimat setelah itu karna pintu terbuka dan nampak Eunhyuk tersenyum pada mereka.Nari fikir itu sebagai pertanda baik bukan? Nafasnya sedikit memburu. Dadanya bergerak naik turun tidak karuan.Lebih pantas disebut setelah melakukan pacuan kuda. Pasti proses yang dilalui sangat menegangkan. Ya, itu fikiran dari mereka yang menunggu jawaban pasti darinya.

 

“Jagoanku sehat, bahkan sangat sehat.”kata Eunhyuk antusias. Namun, setitik air turun dari pelupuk matanya. Jika melihat rautnya harusnya itu tangis bahagia. Mereka yang mendengar tentu ikut bahagia dan pastinya bernafas lega. Mereka menunggu apa lagi yang akan dikatakan Eunhyuk karna ia terlihat terus tersenyum.

 

“Kami memberinya nama Spencer. Itu nama lainku. Terdengar bagus kan?” tanyanya tanpa melepas senyum. Kyuhyun mencoba mendekatinya.

 

“Ia sangat lucu. Hidungnya sepertimu Kyu. Matanya sepertiku, dagunya seperti ibunya, rambutnya belum tumbuh. Beratnya 4,7 kg. Bukankah itu sangat baik? Aku yakin kalian sangat menyukainya”

 

4,7 kg? itu cukup berlebih. Sekarang mereka bertanya-tanya bagaimana kondisi sang ibu setelah melahirkan secara normal dengan bayi berbobot cukup besar itu?

 

“Bagaimana dengan yoona?” tanya Kyuhyun tegas.

 

“Kalian harus melihat bayiku, dia sangat tampan, dia…”

 

“Aku bertanya yoona !!” bentak Kyuhyun.

 

“Apa kalian tidak ingin melihat bayiku? Dia….”

 

“Lee Hyukjae !!! Jawab pertanyaanku” pinta Kyuhyun sekali lagi penuh penekanan. Eunhyuk diam dan menunduk sesaat. Nari serta dua orang didekatnya pun semakin penasaran. Sejak tadi Eunhyuk belum menyebut nama itu, nama sang istri. Ini tidak terlihat baik.

 

“Anak kami terlalu sehat ? Sampai-sampai Yoona kesulitan. Ia memang bodoh, padahal…..” Eunhyuk menarik nafas sejenak. Ada jeda cukup lama sebelum ia melanjutkan, “padahal dokter sudah ingin melakukan operasi tapi ia menolak. Dasar keras kepala.” Eunhyuk tersenyum getir. Ia melangkah melewati semua orang yang penasaran. Langkahnya yang terseok-seok itu makin pelan dan terasa berat. Tidak dihiraukannya panggilan Kyuhyun ataupun Donghae. Ia berjalan lebih pelan lalu berhenti. Ia berbalik dan mereka dapat melihat wajah tirus itu sudah basah.

 

“Ia berpamitan dengan senyum terbaik yang pernah kulihat”

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

7 thoughts on “Destiny Part 3

  1. karina berkata:

    yoona nya meninggal ? ? ? Bgaimana kasian eunhyuk nya . . . Nanti nari nya mkin galau kyanya antara mak dan eunhyuk . . . Bner bner ga d sangka sangka part ini . . . Next nya d tunggu yaaaah ^^

    • mian lg. Diatas udh ditulis nama max diatas unyuk. Part 4 dan seterusnya max lbh keliatan dia cast utama bersama nari. Unyuk adalah orang ketiga. Tp kalo ternyata keliatannya ini tdk memenuhi syarat, silahkan hapus dan lanjutannya tdk sy kirim lg. *bow*

  2. yoon y jangan2 meninggal lagi???? yah hyuk y bakal jadi duda deh n Nari bakal tergiur deh……
    q penasaran bgt ada apa sih sebener y dimasa lalu mereka kehidupan Nari-eunhyuk n Nari-chanhmin,,,, masa2 sulit apa yg mereka lewatin sampe ngak bisa ngilangin tu semua makin penasaran……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s