Destiny Part 2


DESTINY (2/?)

Author : Ramalia

Cast : Jung Nari (OC)

Max Changmin

Lee Hyukjae

Other Cast

Genre : Romance, family

Rate : PG-15

***

Nari duduk di bangku taman belakang istananya sambil memperhatikan bocah lelaki yang tengah menendang bola sembarangan. Tendangan yang tidak punya kekuatan itu membuat Max sampai terjatuh untuk menangkapnya. Itu membuat si bocah tertawa bangga seolah telah membuat si ayah kerepotan. Sesekali Max membiarkan bola tersebut menembus gawang dengan lebar satu meter dibelakangnya, maka bocah itu akan berteriak goollllllllllllll. Lalu ia berlari memutari taman, sedangkan si ayah duduk menundukan kepala dan nampak raut kekalahan. Haha bocah itu puas sekali.

Nari ikut tertawa melihat anaknya. Ya, bocah itu anaknya dan Max. usianya baru  4 tahun. Beberapa  bulan lagi akan berubah menjadi 5. Max tadinya berencana akan mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan pertambahan umur anak semata wayang mereka, tapi terpaksa batal karena Nari lagi-lagi menganggap merayakan ulang tahun dengan meriah sedangkan yang berulang tahun tidak begitu mengerti adalah pemborosan. Akhirnya mereka sepakat nanti hanya akan makan malam bersama seluruh keluarga. Bukankah itu lebih terasa hangat ?

BUKKK

Sebuah benda bundar menghantam hidung Nari cukup kuat membuatnya hampir terlonjak kebelakang. Bocah kecilnya berlari-lari kecil menghampiri sang ibu dengan tatapan khawatir.

“Mama..maaf.”

Nari tersenyum lalu mengangkat tubuh mungil itu kepangkuannya.

“Tidak apa-apa sayang. Wah,, tendangan Minho sudah kuat ya, hidung mama sampai nyeri.”

Bocah yang dipanggil Minho itu tersenyum senang lalu mengecup pipi Ibunya lembut.

“Hey..Papa juga mau dicium,” seru seseorang yang sejak tadi merasa diacuhkan.

“Hahaha papa bau, Minho nda mau,” ujar Minho polos. Max dan Nari tertawa terbahak-bahak lalu bersamaan mencium pipi anak mereka.

“Ini sudah siang, kita makan diluar bagaimana?” tanya Max pada mereka.

“Asikkk makan makan !”

“Dasar bulat, papa tidak mengajakmu, papa cuma mau makan sama mama.”

Terlihat wajah Minho cemberut dengan bibir yang sangat lucu. Ia baru saja akan mengoceh tapi Max buru-buru mengangkat tubuhnya dan berkata, “Ahaha bercanda sayang, Minho mau makan apa?”

“Eskyimmm.”

“Bukan yang seperti itu, itu nanti saja.”

“Nda mau, pokoknya mau eskyimmmmmmmmm.”

“Ya sudah kita beli eskrim yang banyak ya,” Max memang tidak pernah bisa menang melawan dua manusia didepannya ini jika mereka sudah berkehendak. Wajah cemberut dan rengekan mereka seperti air dingin yang menghilangkan amarahnya. Layaknya perintah untuk tidak menggeleng menolak melainkan mengangguk menyetujui.

“Jadi kita mau makan dimana ?” tanya Nari saat mereka bertiga sudah berada didalam mobil.

“Hmm kudengar ada restoran baru yang menjual makanan khas Indonesia. Kita kesana ? aku sudah sangat rinndu makanan Indonesia.”

“Kau tahu tempatnya?”

“Hehhe aku tidak tahu pasti, hanya tahu jalannya. Kita tanya-tanya saja nanti.”

Mobil sedan hitam itu melaju dengan kecepatan sedang melewati padatnya kota Seoul. Hari ini adalah hari minggu itulah yang membuat Max tidak ingin menyia-nyiakan waktu liburannya karena dua minggu kebelakang dia sangat disibukan dengan urusan kantor, bahkan hari minggu pun ikut diisi dengan perkerjaan.

Selama dimobil, Minho tidak bisa tenang. Selalu ada yang dia lakukan dan dikatakan. Kadang ia melompat tidak jelas, mencium pipi ibunya, memegang-megang hidung mancung ibunya, dan cukup mengganggu, ia berkali-kali menyalakan music dengan volume tertinggi.

Mobil mereka sudah berada dijalan yang dimaksud, tapi mereka tidak menemukan sebuah restoran dengan papan nama Indonesia atau sekiranya yang menjurus kesana. Dengan kecepatan pelan Max mengendarai mobilnya sambil menengok kiri dan kanan berharap segera menemukan restoran yang dimaksud.

“Eskyimmmmmmmm,” seru Minho sambil menoleh ke kanan jalan diseberang.

“Hm..sebentar ya, papa kesana, Minho tunggu disini, rasa coklat kan ?” Minho mengangguk semangat lalu kembali duduk dijok depan setelah sebelumnya berdiri karena melihat kedai eskrim itu. Matanya tak lepas dari gerak-gerik sang ayah yang menyebrangi jalan.

Drttt drtttttttt

Ponsel milik Nari bergetar, ia segera mengangkatnya,“Yoboseyo.”

Minho menyalakan music dengan volume keras lagi. Itu membuat komunikasi Nari dengan ibunya yang tengah menelpon  terganggu. Berkali-kali ia mematikan musicnya atau mengecilkan volume dan berkali-kali pula Minho mengeraskannya lagi. Akhirnya Nari keluar dari mobil dan berdiri menyamping agar lebih tenang berbicara. Tidak ada hal penting yang dibicarakan, hanya ibunya yang rindu ingin melihat cucunya. Nari sadar sudah lama ia tidak mampir kerumah ibunya yang padahal hanya terletak beberapa blok dari rumahnya. Setelah mematikan ponselnya, Nari berbalik dan kembali kemobil.

“Astaga !” pekiknya saat tidak menemukan Minho di mobil. Ia baru ingat tidak menutup pintu saat ia keluar tadi. Ia melihat Max yang berjalan ke arahnya dengan dua cup eskrim ditangan, tanpa Minho. Nari panik dan melihat ke sekitar kalau-kalau Minho tertutupi  orang-orang tinggi yang lewat.

“Ada apa? Mana Minho?”

“Max…mmm…Min….ho…” ucap Nari takut.

“Mana Minho?” Tanya Max dengan sedikit meninggi sekaligus khawatir.

“Aku tidak tahu, aku tadi keluar sebentar untuk menerima telpon tapi sekarang sudah tidak ada.” jawab Nari menunduk takut.

“Ya Tuhan….Bagaimana bisa kau seceroboh itu ? Kita berpencar.”

Nari dan Max berpencar. Secara terpisah mereka menanyai siapapun kalau ada yang melihat bocah dengan jaket biru dan celana panjang. Max sedikit lebih tenang dan bisa bertanya dengan baik, sedangkan Nari mulai frustasi dan berteriak memanggil-manggil nama Minho. Ia akan menghukum dirinya sendiri jika terjadi sesuatu. Ia merutuki kelalaiannya menjaga Minho. Penyesalan yang sebenarnya hanya membuat konsentrasinya buyar terus saja datang. Menggangu cara jalan dan matanya yang tidak focus untuk mencari anaknya. Sial !

*******

Seorang pria dengan kemeja putih berdiri didekat meja kasir memperhatikan seisi restoran miliknya. Pria bermata coklat itu tersenyum melihat hampir semua meja terisi dengan wajah-wajah puas. Ia tidak menyangka jika usaha coba-cobanya ini berjalan dengan baik. Ahh dan jangan lupakan besarnya andil dari nama tenarnya. Karena mungkin sebagian menginjakan kaki disini untuk meminta foto bersamanya atau sekedar melihatnya. Apapun itu, ia bersyukur.

“Paman..” seru seorang bocah yang menarik-narik ujung kemeja putihnya. Pria itu menoleh kebawah lalu berjongkok menyamakan posisi,“Kenapa anak tampan?”

“Mau pipisssss ssttt” jawab bocah itu sambil menutupi bagian bawah tubuhnya. Pria itu tertawa lalu membawanya ke toilet. Lucu sekali melihat ekspresi bocah yang belum ia ketahui namanya itu yang terlihat menahan ingin buang air, kkkkkk.

“Sudah lega?” tanyanya saat si bocah sudah keluar dari toilet dengan raut melegakan. Lucu sekali. Bocah itu hanya mengangguk lalu melangkah keluar. Pria itu mengikutinya lalu kembali berjongkok ketika si bocah berhenti berjalan.

“Ada apa?”

“Hm..mama sama papa mana ya?” tanya bocah itu polos sambil mengedarkan pandangannya disekitar mobil orang tuanya.

“Tadi mereka disini?”

“Iya..huaa paman..” bocah itu mulai merengek dan menghentakkan kedua kakinya bergantian. Pria itu menggendongnya dan mengusap rambut anak itu lembut.

“Hey…jangan menangis, paman akan bantu cari orang tuamu. Hmm siapa namamu?”

“Aku Minho,” jawab anak itu dengan air mata yang mulai mengalir. Masih takut kalau-kalau tidak akan menemukan orang tuanya.

“Nama yang bagus, panggil aku paman Eunhyuk oke?”

Minho mengangguk setuju lalu kembali melihat-lihat sekitar mobil orang tuanya berharap tiba-tiba melihat mereka, tapi nihil.

“Kita makan eskrim dulu ya, baru kita cari orang tuamu.”

Eunhyuk membawa Minho ke seberang jalan untuk membeli satu cup eskrim coklat. Kemudian kembali ke depan restorannya atau beberapa meter dari posisi mobil orang tua Minho. Eunhyuk kembali berjongkok sambil memperhatikan wajah lugu Minho. Pipinya  menggembung seperti bakpao. Ia suka.

“Minho suka eskrim ya ?” tanya Eunhyuk karena melihat Minho begitu lahap menikmati eskrimnya. Yang ditanya hanya mengangguk tanpa suara, tidak punya waktu untuk itu, kkkk.

“Sebentar lagi kita cari orang tu…………..”

“Minho !!!!”

DEG

Eunhyuk tidak melanjutkan kata-katanya karena terputus oleh seruan seseorang dibelakangnya yang memanggil nama Minho. Ia terpaku ditempat dan membiarkan Minho berlari ke arah suara itu. Eunhyuk masih setia pada posisinya mencoba mencerna suara wanita itu. Ia harap telinganya sedang bermasalah atau apapun itu agar tebakannya tentang pemilik suara itu tidak benar.

“Sayang…maafin mama. Kamu tidak apa-apa kan?”

DEG

Eunhyuk mencoba menepis fikirannya tapi semakin wanita itu bersuara ia semakin yakin jika si pemilik suara itu adalah……..

“Mama…”

Apalagi ini? Eunhyuk menelan ludah setelah baru menyadari jika Minho memanggil wanita itu dengan sebutan mama. Bukankah itu berarti mereka……….

“Kita pergi ya..papa pasti khawatir.”

Eunhyuk kembali menelan ludahnya berat seolah itu adalah potongan kayu yang harus melewati sederetan batu karang. Papa ? Ia mengira-ngira siapa pria yang ia sebut papa atau dengan kata lain adalah suaminya itu? Apakah pria yang waktu itu……………..

“Mama…tadi Minho dibeliin eskrim sama paman baik.”

Eunhyuk mencoba berdiri dari posisi jongkoknya tapi tidak berbalik. Ia belum siap jika tebakannya benar.

“Paman baik? Siapa?”

“Itu….”

Eunhyuk belum mau membalikan tubuhnya meski ia tahu, mungkin wanita itu tengah menunggu siapa paman baik yang dimaksud anaknya.

“Hmm maaf…saya mau mengucap…………….”

“Sayang….kau disini?” tanya seorang wanita dengan perut membuncit yang baru keluar dari restoran milik Eunhyuk. Panggilannya pada Eunhyuk membuat Nari menghentikan kalimatnya seketika. Eunhyuk menarik nafas panjang dan tetap pada posisi semula yaitu membelakangi Nari dan Minho.

Minho bingung melihat reaksi ibunya yang seperti melihat setan. Padahal yang ia lihat adalah wanita cantik.

“Mama….” panggil Minho. Suara polos itu membuat wanita didepan Eunhyuk menoleh ke arah Nari dan saat mata mereka bertemu, wanita itu menutup mulutnya seolah tak percaya.

“Ya Tuhan..Nari?”

Eunhyuk makin membatu ditempatnya mendengar nama itu disebut dan yang semakin membuatnya terkejut adalah nama itu keluar dari mulut sang istri. Jadi mereka saling mengenal?

Wanita berkulit putih mulus itu mendekati Nari pelan dan stop sekitar satu meter sambil memandangnya. Dua detik kemudian mereka saling berpelukan erat. Minho hanya menggaruk kepala tidak mengerti, ia lebih suka menikmati eskrimnya sebelum meleleh.

“Ini kau kan?” tanya wanita itu masih tidak percaya.

“Iya Yon.. ahh kau semakin cantik saja,” jawab Nari senang. Iya, dia bahagia karena bertemu dengan sahabatnya.  Sahabat  yang tidak ia lihat sekitar 6 tahun. Sahabat satu-satunya saat masih berada di Indonesia. Sahabat yang terpaksa ia kehilangan kontaknya karena ponselnya rusak dan saat itu ia tidak punya cukup uang untuk membayar biaya servis nya.

“Kau juga..” puji wanita itu lalu matanya tertuju pada Minho, “Ya Tuhan bocah lucu ini anakmu?”

“Iya..dan kau ? Sedang hamil huh?”

“haha seperti yang kau lihat.”

“Jadi…kau tidak mau mengenalkanku pria yang sejak tadi berbalik itu ?” tanya Nari dengan senyum jahilnya. Kini ia bisa menebak jika paman baik yang dimaksud anaknya adalah suami dari Yoona, sahabat lamanya. Kebetulan sekali bukan ?

“Haha kau melihatnya sejak tadi ? Kau pasti akan pingsan jika melihat siapa dia.”

Wanita yang bernama Yoona itu berbalik kemudian mendekat ke arah suaminya. Dengan cepat ia membalik tubuh kurus itu menghadap Nari.

“Dia suamiku, Lee hyukjae. “

“Nah, dia paman baik itu ma, paman Eunhyuk.”

Hyuk…………..

Nari mencoba tersenyum mendengar dua kalimat dari dua orang didekatnya. Jika ada seorang sutradara handal disini, ia akan mengkritik acting nya yang buruk.   Ia tidak bisa menutupi dengan baik keterkejutannya dengan seulas senyuman. Itu tidak berhasil. Ia tidak pernah menyangka jika hari ini, detik ini ia kembali melihat wajah yang sudah lama ia kubur dalam-dalam. Wajah yang sempat terfikir olehnya tidak akan dilihat lagi. Pria ini…adalah salah satu penyebab…………………….

“Haha Nari, jangan memperlihatkan ekspresi tidak percaya begitu,” ujar Yoona heran karena melihat ekspresi suami serta sahabatnya yang nampak terkejut. Nari sadar, ini bukan saatnya. Ia menggeleng pelan lalu kembali mengukir senyum yang lebih terlihat nyata. Nari mendekat lalu menjabat tangan Eunhyuk. Dengan ragu-ragu Eunhyuk menyambutnya dan tanpa sadar tautan itu berlangsung sekitar beberapa detik. Mereka saling pandang. Mata mereka saling menyelami mencoba masuk lebih dalam. Untuk mereka yang menurut Yoona baru bertemu, jabat tangan ini terlalu lama dan intens. Untunglah Eunhyuk cepat menyadari tatapan heran dari istrinya dan segera melepas tangan Nari.

Mereka diam sama-sama tidak berkata lebih lanjut seperti apa kabar ? atau bagaimana kalau kita masuk dan makan atau apapun itu karena suasana saat itu begitu kaku.

“Nari..aku tahu kau pasti terkejut haha,” ucap Yoona memecah suasana hening.

“Haha iya..bagaimana bisa..kau yang sejak dulu tidak menyukai super junior, sekarang justru menjadi istri salah satu membernya ?” tanya Nari sambil tertawa. Tawa itu palsu dan terdengar dipaksakan. Kalimat yang ia ucapkan bisa diartikan seperti “Bagaimana mungkin kau mendapatkannya?”

“Ceritanya panjang..dan kau…..juga perlu menjelaskan padaku kenapa ponselmu tidak pernah aktif.”

Ahh, jika boleh dan di ijinkan Nari ingin berlari ke rumahnya sekarang juga dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang datang. Ia juga ingin menutup telinga dari cerita-cerita yang akan di kisahkan Yoona mengenai asal-muasal hubungannya bersama Eunhyuk. Meski ia sangat penasaran bagaimana seorang Yoona menjadi pendamping hidup seorang Lee Hyukjae, tapi ia juga takut mendengar kenyataan tersebut.

“Minho ! Nari !” panggil Max dengan nafas memburu. Eskrim yang tadi ia pegang entah sudah ia jatuhkan kemana saking paniknya mencari Minho. Ia segera memeluk Minho erat lalu mencium puncak kepalanya.

“Maaf, aku lupa memberitahumu kalau Minho sudah bersamaku.”

“Hey hey…ada apa ini?” tanya Yoona penasaran.

Max memperhatikan dua manusia asing didepannya yakni Yoona dan Eunhyuk. Alisnya berkerut ketika memperhatikan siapa pria itu.

“Eunhyuk super junior? “ tanya Max antusias. Matanya yang memang cukup besar itu makin membulat. Yang ditanya hanya tersenyum seadanya.

“Max…dia Yoona. Dan Eunhyuk suaminya. Kau ingat Yoona kan ? Aku sering cerita tentang nya,” terang Nari mencoba selancar mungkin, meski begitu sulit saat harus memperkenalkan Eunhyuk sebagai suami orang lain. Ya Tuhan, ada apa dengan otaknya ? dan lagi..kenapa harus kembali bertemu dengan pria ini ? terlebih dengan keadaan yang jauh diluar duggan, benar-benar sulit dipercaya.

Max menjabati tangan Yoona dan Eunhyuk bergantian. Ia juga ingin bertanya bagaimana bisa sahabat istrinya menikah dengan artis yang dulunya cukup ia sukai. Apalagi Nari, Max ingat benar jika istrinya adalah penggila super junior. Setidaknya dulu. Ya….Dulu.

“Aku yakin banyak pertanyaan disini. Akan lebih baik kita mengobrol didalam. Lihat Nari, ini restoranku dan Eunhyuk. Kami menjual makanan khas Indonesia.”

Diantara semuanya, Yoona lah yang paling antusias. Ia mengajak semuanya masuk kedalam. Nari ikut melangkah tapi matanya menangkap sosok pria yang berjalan paling akhir diantara mereka. Eunhyuk ? Ia berjalan dengan pincang ?

*****

“Kau tentu ingat kecelakaan tahun 2007 yang dialaminya bersama member lain. Pertengahan 2012 kemarin ia mengalami yang lebih mengerikan. Bisa kau lihat efeknya bukan ?”

Nari duduk menyandarkan kepalanya di tempat tidur dengan kaki lurus  ke depan. Kepalanya sedikit berdenyut mengingat percakapan panjang antara ia dengan sahabatnya siang tadi.  Yoona berbagi banyak hal termasuk perjalanan singkat hubungannya bersama Eunhyuk alias Lee Hyukjae. Wanita berkulit putih nyaris seperti susu itu juga begitu antusias saat berbagi tentang kehamilannya yang menginjak usia 9 bulan.

Percakapan tersebut harusnya menjadi lebih panjang jika Max tidak mendapat telpon dadakan dari asistennya di kantor dan harus segera pulang . Nari bersyukur karena ada penyelamatnya.

Ya, selama perbincangan, Yoona lah yang aktif dengan berbagai pertanyaan yang hanya dijawab seadanya oleh Nari. Nari bukan tidak ingin berbagi atau bernostalgia dengan kenangan masa lalu, ia hanya sedang tidak dalam mood yang baik untuk mengatakan semuanya karena pria berwajah tirus yang duduk tepat dihadapannya itu.

Otaknya masih shock dengan kejadian tiba-tiba ini. Ia tidak mengerti kenapa disaat seperti tadi, harusnya ia tertawa bersama sahabatnya bukannya tersenyum sesekali dan nyaris tidak menyimak hal-hal yang diceritakan. Bukan hanya otaknya yang menolak untuk bekerja dengan baik, hatinya pun ikut-ikutan bertindak aneh. Berdetak tidak karuan saat ia dan Eunhyuk berjabat tangan, berpacu lebih cepat saat tanpa sengaja atau tidak mata mereka bertemu. Jika ada yang berminat mendengarkan detak jantungnya mungkin malahan mendengar dentungan drum band. Nari ingin sekali bertanya pada seseorang apa arti dari itu ?

Yoona menceritakan pertemuan lucu nya dengan Eunhyuk. Hubungan mereka yang lebih mirip tokoh Tom and Jerry dan masih banyak yang tidak semuanya disimak oleh Nari. Telinganya ingin menutup. Jika ada yang sangat menarik perhatiannya adalah tentang kecelakaan tahun 2012. Itupun dapat masuk melalui telinganya karena  saat Yoona bercerita, Eunhyuk sedang ke toilet. Artinya ia sedikit lebih waras jika tidak ada pria itu.

“Kecelakaan itu terjadi sekitar pertengahan agustus, hmm 12 agustus … ya tanggal itu.”

12 agustus. Nari menoleh pada kalender yang terpajang dimeja persegi pada sisi kanan tempat tidurnya. 12 agustus menjadi momen yang kerap ia dan Max rayakan bersama. Bukan karena ada yang berulang tahun, tapi Max melingkari tanggal tersebut karena itulah saat ia merasa menang. Merasa perjuangannya terbayar, penantiannya terjawab dan yang diinginkannya tercapai.

“Menikahlah denganku !”

Nari pun tidak akan lupa hari itu. Hari dimana ia mengangguk dan mengiyakan penawaran Max.

“Aku mau.”

Jika ia dapat memutar waktu dan kembali pada 12 agustus tersebut, mungkin………..

“Hey…”

Nari menghentikan fikiran konyolnya dan membuka mata. Max ikut bersandar disampingnya. Entah ada angin apa, pria itu diam menatap lembut bola mata hitam milik Nari. Jarinya perlahan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi dahinya. Wajahnya mendekat. Dibiarkan nafasnya menyapu wajah wanita itu. Ia beri kecupan ringan namun cukup lama. Semua dilakukan seolah dalam adegan slow motion. Nari reflex menutup matanya saat bibir itu menyentuh dahinya. Ia menikmati itu. Tak lama ia mulai merasakan bibir itu turun ke hidung mancungnya, mata, pipi, telinga dan berakhir pada bagian yang lebih sensitive. Matanya masih tertutup. Semua terasa berbeda dari biasanya. Entah apa yang merasukinya saat ini.

Nari merasa ada pergerakan lebih dari suaminya. Ia sadar maksud dari pria jangkung itu dan seketika itu pula ia membuka mata melepas tautan yang sebenarnya ia pun mulai menikmati. Dapat ia lihat raut wajah kecewa dari Max. Ini bukan raut yang berbeda. Ia sudah sering mendapati raut seperti ini. Seperti kemarin-kemarin. Dan sayangnya ia masih harus membiarkan itu.

“Tidak sekarang, Max.”

Max tersenyum lembut lalu mengusap puncak kepala sang istri. Ia hanya perlu menarik nafas lebih panjang, memperbanyak stok kesabaran, dan menguatkan hati sekali lagi. Tanpa kata-kata ia tarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Ia peluk wanita yang hampir 6 tahun ia nikahi tersebut dan membawanya terlelap dalam dekapan.

Maafkan aku……

*********

Pertemuan tidak disangka-sangka dan mengejutkan seminggu lalu berefek luar biasa bagi Nari.  Suami sahabatnya itu kerap muncul dalam fikirannya. Ada saja sesuatu yang membuatnya mengingat pria yang tidak pantas ia fikirkan itu. Baik itu yang berhubungan dengannya langsung, sampai yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya bisa membawanya pada Eunhyuk. Bagaimanapun Nari menepisnya dan mencoba menghilangkan bayangan pria tersebut, ia tidak bisa. Apakah perasaannya masih sama ?

Jika menghantamkan kepalanya ke tembok akan berpengaruh tentu sudah ia lakukan. Terlebih mengingat tingkah bodohnya tempo hari, tepatnya dua hari yang lalu saat Nari tengah mencoba memasak makan siang karna sebelumnya Max berkata ingin menikmati makan siang buatan istrinya.

Saat itu fikiran Nari terbagi antara masakannya dan Eunhyuk. Entahlah, Eunhyuk lagi-lagi muncul dan nyaris mendominasi jalan fikirannya. Saat tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan hangat memeluk pinggangnya, ia reflex berbalik dan berkata “Kau kemari Hyuk…”

Kalimat yang disertai senyuman manis darinya itu berakhir dengan raut terkejut dan tentu rasa bersalah. Bagaimana bisa ia menyebut nama itu. Max pun ikut bertanya-tanya. Hyuk ? siapa itu ? Eunhyuk ?.

“Ahh Max..kau sudah pulang rupanya,” ucap Nari gugup.

“Kau menunggu seseorang ?” tanya Max dengan raut penuh selidik.

“Ha? Apa maksudmu? Aku..tentu saja sedang menunggumu,” jawab Nari dan sayangnya ia tidak bisa menutupi kegugupannya.

“Lalu siapa itu Hyuk? Hmm Eun….”

“Ah, kau sangat lapar ya sampai salah mendengar ? Aku menyebut namamu, Max bukan yang lain,” kali ini Nari dapat menjawab dengan santai sambil menyandarkan sedikit tubuhnya pada sisi meja dapur yang ia belakangi, seolah jawabannya adalah benar.

“Kau kemari,  Max? itu terdengar seperti bukan ucapan untuk suami yang baru pulang.”

“Oh..telingamu bermasalah, aku tadi bilang kau pulang, Max? oke cukup, kau temui Minho, lalu kita makan.”

“Tidak mau..aku mau menemani istriku memasak,” ucap Max dengan manja. Ia kunci tubuh sang istri dengan menggunakan kedua tangannya yang memegang pinggiran meja. Nari tidak berkutik. Terlebih tatapan suaminya seperti macan yang tidak makan seminggu. Nari rasa itu wajar tapi…..ini siang hari dan di depan penggorengan yang mungkin ayam goreng itu hampir gosong.

“Max…kau sebaiknya temani Minho.” pinta Nari mencoba setenang mungkin meski dadanya berdetak cepat. Ia dorong tubuh suaminya perlahan.

“Tidak mau.” tolak Max masih dengan gaya manja yang jarang Nari temui.

“Max !!!”

“Nari !!!”

“Papa !!”

“Mama !!”

“Suamiku sayang…. Temani Minho saja oke ?”

“Ughhh kau curang.”

Haha..Nari kala itu memang pandai mencari bahasan lain untuk mengalihkan perhatian suaminya. Jika tidak, mungkin suaminya masih akan bertanya siapa itu ‘hyuk hyuk’ yang dimaksud.

Itu adalah kejadian paling bodoh yang Nari alami seminggu ini. Selebihnya sekalipun Eunhyuk terus memutari isi kepalanya, ia masih bisa mengontrol itu dan tidak bertindak  atau berkata yang bisa memancing kecurigaan sang suami. Dan sekarang  Nari nyaris melompat girang karena mendapat telpon dari Yoona. Hmm bukan karena senang bisa mengobrol dengannya, tetapi karena permintaannya. Yoona menelpon Nari untuk menemaninya di rumah. Bagi Nari yang sedang gila, ia seperti mendengar ajakan “ maukah kau bertemu suamiku?”.

Ya, otaknya mungkin sedikit bergeser, tidak ! Bahkan sangat jauh bergeser dari posisi seharusnya dimana ia berfikir jernih. Bahagia karena akan bertemu dengan suami orang lain bukankah tidak wajar ?.Ia pun sangat sadar jika ini salah, tapi keinginannya untuk menemui pria beristri itu jauh lebih besar dibanding kesadarannya untuk berhenti.

Sekarang ia dan Minho sudah berada di dalam rumah yang baru pertama kali ia datangi. Mewah, tapi belum menyamai megahnya kediamannya sendiri, hmm lebih tepatnya kediaman suaminya. Pertama kali yang muncul dibenaknya adalah dimana Eunhyuk? Saat Yoona menyambutnya dengan pelukan, matanya melirik kesetiap sudut berharap melihat sosok yang dicari, atau sekedar batang hidungnya, tapi nihil.

“Hmm dimana suamimu?” tanya Nari mencoba sewajar mungkin dan baginya pertanyaan tadi terdengar biasa saja kecuali sahabatnya ini punya tingkat kecemburuan yang tinggi. Tapi ia tahu, itu bukan sifat Yoona.

“Dia akan pulang larut, tertular penyakit Hyungnya itu. Workaholic.”

Nari menelan kekecewaan. Ia fikir akan bertemu dengan Eunhyuk. Ia baru sadar, untuk apa Yoona mengajaknya kemari kalau bukan tengah sendiri. Harusnya sebelum ia menerima ajakan ini, ia mendengar penjelasan dari si pengajak itu dulu, bukan berkata iya dengan girangnya lalu menutup telpon secara sepihak seperti tadi.

“Maksudmu bekerja direstoran itu?” tanya Nari sambil duduk di sofa sekaligus mencoba menghilangkan rasa kecewanya.

“Bukan, itulah kenapa aku mengajakmu kemari, banyak yang ingin kubagi.”

Yoona berlalu menuju dapur, mungkin untuk membuatkan minuman. Minho berjalan kemana-mana mencari objek yang bisa ia mainkan. Nari melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia berdiri menuju deretan foto yang terpampang disekitarnya. Foto – foto Eunhyuk bersama grupnya yang menerima piala. Nari ingat, itu adalah penghargaan tebesar yang mereka terima selama berkarir. Disamping foto-foto itu, terdapat foto pernikahan Eunhyuk dan Yoona. Foto yang berbingkai kebahagiaan tersebut cukup membuat  setetes air keluar dari sebelah matanya. Itu diluar kendalinya, ia sendiri tidak tahu alasan kenapa ia menangis. Cemburukah?

“11 januari 2017”

Itu yang tertulis dipojok kiri bawah difoto tersebut. Disini, didadanya seperti ada yang berdenyut melihat itu. Sadar ini akan berlarut-larut, ia menghapus bekas  air diwajahnya. Ia tersenyum, menarik nafas panjang sampai tiga kali. Setidaknya ini sedikit berhasil menenangkannya.

Ia kembali mengamati foto tersebut. Eunhyuk dan Yoona tertawa lebar. Mereka di apit oleh member-member super junior dengan pose yang tidak bisa dikatakan indah. Yang menarik  adalah, pria-pria tampan itu masing-masing menggendong bayi atau balita, kecuali satu orang.

“Kyuhyun juga sudah menikah 3 bulan yang lalu,” ujar Yoona yang datang dengan dua gelas sirup dan dua toples biskuit. Minho berlari dan nampak semangat menyambar minuman itu. Nari menggeleng lalu kembali pada ucapan Yoona barusan.

“Kau memang perlu banyak bicara. Kau adalah Elf alias fans berat mereka, dan sekarang kau bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Saat kita bertemu, aku fikir kau tahu siapa suamiku. Kau berkelana kemana ?” tanya Yoona sambil duduk perlahan pada sofa sambil memegang perut bagian bawahnya. Sekarang ruang geraknya memang sedikit terbatas, untuk duduk pun agak susah. Perutnya seperti akan melahirkan hari ini.

Nari ikut duduk melupakan foto-foto yang belum ia amati semua. Ia tersenyum mendengar pertanyaan Yoona. Jika ia bisa, ia mungkin akan bercerita jika penyebab perubahannya adalah suaminya sendiri, Eunhyuk. Ia memutuskan untuk tidak menjawab hal itu. Banyak hal yang bisa mengalihkannya seperti masalah Kyuhyun tadi.

“Jadi ? Kyuhyun juga sudah menikah ?”

“Begitulah. Aku hampir menjadi istri si evil itu. Kau juga tidak tahu?”

“Ha?” Nari yang baru menyeruput sirupnya terkejut dan  tersedak. Minho malahan tertawa sambil memberikan tissue pada ibunya.

“Haha aku ingin tahu apa yang membuatmu tidak tahu soal ini. Kau pensiun sebagai Elf?”

Nari mengelap bibirnya yang sedikit basah lalu menatap wajah sahabatnya lagi. Yoona nyaris menikah dengan Kyuhyun ? Nari benar-benar penasaran.

“Bagaimana bisa?”

“Saat di restoran, aku hanya mengatakan bagaimana pertemuan kami dan bagaimana kami menikah. Aku tidak cerita bagaimana proses menuju pernikahan. …” ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya Yoona menarik nafas dan melanjutkan kalimatnya.

“Pertengahan 2012 adalah awal pertemuan kami. Dan kami baru mengikat janji sebagai suami istri 5 tahun setelahnya. Kau fikir itu karena segala kesibukannya sebagai artis atau wajib militernya? Jawabannya tidak.”

Aku….melewatkan banyak hal ????

“Kecelakaan itu..membuatnya tidak bisa menunaikan kewajiban sebagai pria korea dan…..tidak bisa menari lagi.”

Nari terkesiap mendengarnya. Tidak bisa menari ? itu sama seperti kehilangan seseorang yang disayangi. Kaki dan tangan menjadi sangat penting bagi seorang penyanyi dan penari seperti Eunhyuk.

“Konser mereka dibatalkan karena itu. Awal 2013 grupnya dinyatakan pensiun karena beberapa diantara mereka mulai menjalani wajib militer. Jadi itu artinya jika kami menjalani hubungan, kami bisa saja menikah bukan ?”

Nari mengangguk perlahan meski hatinya berdenyut.

“Sayangnya hubungan kami tidak terikat pada suatu yang bisa disebut berpacaran atau apalah itu. Meski kami melakukan banyak hal bersama. Melakukan hal-hal yang biasa dilakukan sepasang kekasih. Bahkan…..kesucianku kuberikan padanya,” Yoona tersenyum kecut mengingat bagian itu. Matanya menatap ke arah lain yaitu foto pernikahannya. Sedangkan Nari mencoba menutupi rasa sakitnya dengan menyentuh dadanya. Ini sakit. Mereka melakukan itu tanpa ikatan? Nari teringat kejadian januari 2012 disaat…….ahh Nari ingin menyumpal telinganya dengan tissue. Sekarang Eunhyuk justru terdengar seperti pria kurang ajar.

“Saat teman-teman di grupnya berdiri di depan pastor, mengikat janji, lalu istri mereka mengandung, mereka menggendong bayi, aku hanya bisa menyaksikan kebahagiaan mereka. Aku selalu berharap hal yang sama aku alami. Entah apa yang ada dikepala Eunhyuk dan apa yang mengganjalnya sampai ia biarkan Kyuhyun melamarku. Dan entah malaikat mana yang merasuki Kyuhyun. Saat akan mengucap sumpah, Ia menarik Eunhyuk menggantikan posisinya. Ia tertawa lalu berkata “Aku ini malaikat yang diutus untuk menyatukan kalian. Tugasku selesai. Hebat bukan?”

Setelah bagian yang menyesakkan itu, Yoona justru tertawa mengingat apa yang dilakukan manusia setengah setan seperti Kyuhyun. Mantan calon suaminya itu benar-benar penuh kejutan.

“Haha..tapi Kyuhyun sudah menikah 3 bulan lalu. Nama gadis tidak beruntung itu Jiyeon. Kau tahu ? dia adalah gadis penjaga pom bensin, ah ia juga pengantar Koran, hmm maksudku juga pengantar susu, penyanyi cafe juga. Dan masih banyak lagi pekerjaannya yang tidak aku ingat. Luar biasa bukan ?”

Nari melongo mendengar kisah sahabatnya itu. Itu terdengar seperti drama yang ia tonton di malam hari saat masih berada di Indonesia. Seingatnya dulu, saat masih menggilai Kyuhyun sebagai artis, pria tinggi itu terkenal dengan tingkah jahilnya, suka membongkar rahasia teman-temannya di depan tv, tidak sopan, yang jelas nyaris tidak ada kelebihan selain tampan dan bersuara merdu. Itu memang hanya ia lihat di layar kaca, ia bukan Yoona yang memang berhubungan dekat dengannya juga teman-temannya. Ia bukan Yoona yang mungkin tahu bagaimana sifat asli mereka. Sedangkan yang diketahui dan dilihatnya adalah berdasar berita, dari mulut kemulut, dari apa yang ditampilkan di televise, dari apa yang tertulis dimajalah, bukan dari apa yang ia lihat secara langsung karena memang ia tidak bisa melakukan itu dulu.

“Kau beruntung,” ucap Nari dengan senyuman terpaksa.  Jujur ia iri dengan wanita ini. Iri dengan segalanya. Terutama dengan apa yang ia miliki sekarang.

“Ayolah..kau tak kalah begitu. Suamimu tampan, kaya raya dan anakmu ini…ahhh aku harap anak ku perempuan dan hubungan kita bisa menjadi besan. Haha”

“Haha semoga. Jadi…yang kau maksud Eunhyuk tertular penyakit hyungnya tadi ?”

“Hmm restoran yang kami bangun hanya sambilan. Usaha sebenarnya ia membuka sekolah seni bersama Donghae. Setiap sabtu dan minggu ia kesana untuk melatih anak-anak yang mempunyai bakat seni terutama menari seperti keahliannya. Meski kakinya tidak lincah lagi tapi ia bisa. Kau tahu ia sangat payah dalam hal bernyanyi haha.”

Nari mengangguk semangat. Ia semangat membicarakan pria ini. Sekalipun masih sakit karena terdengar seperti Yoona lah yang tahu segalanya dan ia hanya pendengar yang baik.

“Ia juga membantu ayahnya mengurus hotel. Dan ia juga bekerja di SM Entertainment. Ia bilang tidak bisa jauh-jauh dari gedung itu. Meski tidak lagi bisa berkarya sebagai salah satu artis disitu. Ia ingin membantu. Hasilnya sudah banyak lagu –lagu hits yang dinyanyikan grup lain. Benar-benar gila kerja.”

Wow. Nari sangat tertarik mendengar cerita ini. Ia memang ingin tahu apa yang terjadi selama………6 tahun ia tidak bertemu pria itu. Tapi fikiran gilanya lenyap ketika melihat Yoona yang mengelus perutnya lembut. Pemandangan yang indah bagi orang lain tapi dimatanya…ini sakit. Sebut ia jahat atau hujatan lain yang pantas ditujukan untuk wanita yang tidak suka dengan kebahagiaan sahabatnya sendiri.

Ia memang gila, dan ia tidak tahu cara menyembuhkannya. Ia ingin lepas dari bayang-bayang Eunhyuk dan ikut tertawa melihat kebahagiaannya bersama Yoona. Bukan menangisi seolah tidak rela.

“Jadi…apa yang membuatmu tidak tahu apa-apa? ” Tanya Yoona membuyarkan lamunan Nari.

“Saat direstoran sudah kukatakan bukan jika hanya 8 bulan aku disini dan harus kembali ke Indonesia ? kami baru kemari akhir tahun lalu.”

“Bukan jawaban macam itu yang kuinginkan.”

“Huh..” Nari menghela nafas sejenak. Sepertinya susah sekali membelok  sedikit dari yang diinginkan Yoona.

“Tidak ada. Aku hanya ingin melupakan mereka. Aku menjadi seorang istri di awal 2013 Yon. Aku rasa cukup sampai disitu juga untuk menyukai mereka. Maksudku bukan berhenti menyukai tapi aku tidak mungkin kan seperti dulu? Aku punya suami dan kehidupan sendiri.”

“Kau benar.. lalu apa yang membuatmu tidak bisa dihubungi? Padahal dulu aku sengaja mengumpulkan foto-foto mereka untuk kukirim padamu. ”

“Itu…karena ulah pria tambun kurang ajar yang seenaknya menjual handphoneku hanya karena aku lama tidak bisa membayar biaya servisnya.”

“Haha…hey nama suamimu keren juga, tidak seperti nama pria Korea,” puji Yoona yang terua menampakan keceriaan.

“Kau tau? Nama aslinya Shim Changmin.”

“Hah?” Yoona berhenti tertawa, nampak begitu penasaran dengan nama yang begitu berbeda.

“Dia menghabiskan masa remaja di Amerika, selama disana ia mendapat panggillan Max. Jika kuceritakan asal muasalnya aku perlu menginap disini.”

“Lalu kenapa kau tidak memanggilnya Shim Changmin?”

“Itu permintaannya, dia bilang wajahnya yang maskulin lebih pantas dipanggil begitu.”

“Haha …”

Ting tong

Suara bel berbunyi. Yoona ingin berdiri tapi Nari dengan sigap menahannya. Ia tahu Yoona cukup kesulitan jadi ia menawarkan diri untuk membukakan pintu. Ia bergegas membuka pintu dan yang ia lihat adalah pria berwajah tirus dengan tas kerja ditangan kanan, jas hitam di tangan kirinya.

“Eunhyuk,,,,,,,,,,,,”

.

.

.

.

.TBC.

9 thoughts on “Destiny Part 2

  1. karina berkata:

    ada apa eunhyuk dan masa lalu nari ? , knapa nari kya yg ga suka d sentuh changmin -padahal kalo aku mau bgt ^^v hehe- next nyaw d tnggu yaw hehe

  2. cerita y emang sengaja dibut kyk gini ya loncat2 gt,,, padahal penasaram sama yg dipart 1 krn secara keseluruhan cerita ngebikin abu2 gt kurang jelas m part 2 y tau2 y mereka dah punya anak muncul tokoh eunhyuk….
    siapa eunhyuk kok Nari y jadi kyk gitu,,,, kayak org yg baru nmuin org yg dinanti n dicintain ma dia…..
    mudah2an part 3 masih nyambung gt cerita y,,,, ngak kyk part 1 n part 2 jujur bikin bingung….
    penasaran Nari cinta ma eunhyuk pa ngak,,, tingkah y kyk org ketemu masa lalu tg blm selesai gt…
    Lanjut….

    • Untuk part selanjutnya gak ada loncat2 lagi. Khusus part 1 2 aja karena disitulah masalah utamanya, soal tes mereka di dokter yg gantung, tiba2 muncul minho, disitu emang kusembunyikan, dan baru keungkap chap2 tengah, well..makasih komentar dan sarannya, kedepan kuperbaiki. *bowww*

      • ohhhhh gitu….. paham deh klo gitu,,,,, ternyata emang udah direncanain n bakal ada sangkut paut y d chapter kedepan ok deh q tancap liat part berikut y….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s