Destiny Part 1


DESTINY (1/?)

Author : Ramalia

Tokoh :  Jung Nari (OC)

Max Changmin

Lee Hyukjae

Other Cast

Genre: Romance, family.

Rating : M

Length : Chaptered

 

“Seekor kelinci tersesat di hutan, ia tidak menemukan jalan pulang. Ia terus melompat mencari jalan yang benar. Lurus, membelok kekiri atau kekanan. Ia justru memilih jalan berlubang lalu jatuh ke dalamnya. Untunglah hanya lubang kecil. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya. Kali ini hanya ada jalan kekiri atau kekanan. Ia putuskan memilih jalur kanan, hmm mungkin matanya yang tidak awas sehingga ia terjerembab ke dalam lubang yang cukup besar. Untuk ukuran binatang sepertinya, perlu usaha ekstra untuk lolos. Kau tahu ? setelah sebelumnya ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan terjatuh lagi, ia berhasil keluar. Dengan kepercayaan diri yang tinggi ia kembali melompat-lompat. Kau pikir ia akan segera sampai ? Tidak, dengan pintarnya ia melewati jalan setapak yang tidak sampai setengah meter itu. Kiri dan kanannya adalah lubang besar yang untuk ukuran binatang sepertinya bisa disebut jurang. Jika ia pikir ia cukup hebat untuk melewatinya maka ia salah. Ia terjatuh. LAGI, Ia menangis. Ia sendirian. Ia melihat hari mulai gelap. Dengan suara yang tidak terlalu nyaring ia meminta bantuan berharap ada seorang pemburu melintas atau mungkin teman bahkan keluarga yang mencarinya datang. Setelah cukup puas menangis, ia berusaha bangkit dengan mencoba mendaki jurang tersebut. Ia nyaris menggapai tepi jika bukan karena ia terpeleset dan ia terjatuh lebih dalam. Seketika itu pula reruntuhan tanah menimpanya. Ia tidak selamat”

“Kelinci sebodoh itu ya ?”

“Haha…diantara banyaknya pertanyaan kenapa kau malah mempertanyakan itu?”

“Ya…dia kan bisa menghindar, mencari jalan yang lebih baik.”

“Ooo..anak papa pintar ya ternyata.”

“Oya, kenapa endingnya begitu ?”

“Itu resiko atas pilihannya.”

“Padahal kan..dia sudah berusaha.”

“Tapi semua tergantung sang pengarang cerita.”

“Bingung….”

“Haha…sudah ayo tidur.”

**********

Gadis berambut lurus sebahu itu duduk ditepi ranjang dengan gelisah. Berkali-kali ia menarik nafas seperti mencoba untuk meyakinkan sesuatu. Kedua kakinya bergantian menghentak menimbulkan suara ketukan dilantai marmer tersebut. Bibirnya sesekali bergerak kekiri atau kanan, maju satu sentimeter lalu kembali normal, begitu seterusnya. Ia nampak seperti menunggu sesuatu yang penting, nampak juga seperti sedang menimbang-nimbang akan suatu hal, apapun itu, yang ia lakukan cukup menarik perhatian seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sebenarnya sudah 5 menit yang lalu ia muncul dibalik pintu kamar mandi dengan handuk putih yang melilit pinggangnya. Pemandangan yang ia lihat membuatnya betah untuk berdiri bersandar pada dinding bercat biru laut itu. Ia ingin bergerak menuju si gadis, tapi urung karena tidak mengerti kenapa kehadirannya beberapa menit disini yang sengaja terlihat menggoda justru jadi tidak tertarik dimatanya ?

Setelah 10 menit suasana kaku itu tidak berubah, si pria melangkah dan berjongkok memposisikan diri menghadap si gadis. Ia tarik perlahan dagu si gadis dan saat itu tatapan mereka bertemu. Mata hitam ini sudah menghipnotisnya sejak pertama bertemu tepatnya setahun lalu. Ia telusuri tiap goresan diwajah polos itu. Perlahan tangannya bergerak mengelus pipi sang gadis yang mulai menutup matanya. Ia tidak tahu seperti apa dan sesempurna apa seorang bidadari karena baginya sosok dihadapannya saat ini sudah cukup membuatnya takjub. Kecantikan murni tanpa polesan bedak ini membuat matanya nyaris tidak berkedip dan terus melanjutkan kegiatan tadi. Silahkan sebut dirinya berlebihan karena …bukankah memang seperti itu ? Kita akan memuja pujaan hati setinggi langit seolah tidak ada cela ?

Sang gadis membuka mata membuat si pria sedikit kecewa karena kegiatannya terganggu. Ia tersenyum manis.

“Kamar mandi sudah kosong, silahkan pakai !” ucap si pria yang membuat alis si gadis bertaut.

“Aku tidak butuh kamar mandi.”

“Lalu apa yang kau lakukan sejak tadi kalau bukan sedang menahan untuk buang air ?” tanya si pria sedikit menahan tawa yang ditanggapi pandangan malas dari lawan bicaranya.

“Ayolah Max..kau tahu maksudku.” ucap si gadis sedikit meninggi, tapi sedetik kemudian ia menurunkan nada bicaranya, “Aku takut Max,”  sambungnya pelan dan memang terdengar jika ada ketakutan disana.

“Kau bukan akan melakukan perang atau hal mengerikan lainnya Nari,” pria yang bernama Max itu mengusap lembut tangan gadis yang ia panggil Nari itu.

“Aku pernah mendengarnya dan sepertinya itu mengerikan,” ucap Nari polos.

“’Hahaha, siapapun yang membuatmu berfikir seperti itu, kupastikan ia sudah gila.”

“Jadi kau sebut ibuku gila ?” tanya Nari melotot. Max berhenti tertawa. Agak kikuk dan menggaruk kepalanya yang mendadak gatal atau gatal yang dibuat-buat, “Bu..bukan begitu.”

“Max..aku serius, ini pertama kalinya.”

“Jadi kau pikir aku sudah berkali-kali?” tanya Max yang membuat Nari kehabisan kata-kata untuk mengelak. Nari menelan ludahnya berat lalu memainkan kembali bibir indahnya.

“Aku tidak akan memaksamu. Jika kau belum siap, aku bisa menunggu. Bukankah waktu kita……………sangat panjang nyonya Shim ?”

*********

12 Januari 2013

Minggu, 07.00 WITA

Nari menatap rumah sederhana berukuran 7×5 m dihadapannya. Rumah yang 15 tahun ini menjadi tempat baginya dan keluarganya berteduh. Satu-satunya tempat tujuan jika sudah selesai dengan segala urusan diluar. Tempat dimana ia bersama ayah, ibu dan adik nakalnya duduk bersama menonton televisi, sarapan, makan malam dan segala kegiatan lainnya. Rumah ini menyimpan banyak kenangan.

Max menepuk bahunya pelan dan tersenyum. Ia tahu ini tidak mudah, tapi apa tujuan ia melakukan ini adalah untuk hal yang lebih baik. Mereka bertatapan sejenak kemudian bersamaan menatap bangunan kecil tersebut. Max dapat mendengar helaan nafas panjang dari wanita disampingnya.

“Kau yakin tidak ada yang tertinggal ?”

“Rasanya tidak, ahh Max..aku akan merindukan semuanya.”

“Aku tahu, tapi kau juga tahu sangat mungkin bagi kita kembali kesini, yah sesekali maksudku, itu hal gampang.”

Setelah 10 menit dua manusia itu berdiri, mereka melangkah menuju mobil yang sudah cukup kepanasan. Dengan sedikit bercanda dan bermaksud untuk mencairkan suasana, Max membukakan pintu dengan gaya bak pangeran yang menuntun sang putri menuju kereta kuda. Nari tersenyum. Ia duduk di jok depan lalu membuka kaca mobil. Untuk terakhir kalinya, meski ia tahu ini tidak akan jadi yang terakhir tapi mungkin saja, ia menatap bangunan bercat coklat itu. Yah..ia pasti akan sangat merindukan tempat ini. Mobil sedan hitam yang dikendarai oleh Max melaju menembus jalan kecil itu.

Sayonara Indonesia

Awal yang indah….semoga

                                                                                         *************

Max, Nari serta orang tuanya dan jangan lupakan adiknya turun serentak dari mobil yang Nari pikir mungkin adalah salah satu mobil pribadi milik suaminya. Tadinya Nari mengira mobil mewah ini akan membawanya ke rumah mertuanya karena sekarang ia tengah berdiri memandang takjub rumah megah yang menjulang tinggi. Berapa lantai dan berapa luas rumah ini ? Ah ini bukan rumah tapi gedung perkantoran bukan ? Nari sibuk dengan tebakan-tebakannya saat sang ibu mengatakan sesuatu.

“Max..ini kan……” ucapnya terbata. Yang ditanya hanya memamerkan deretan gigi putihnya lalu menuntun mereka untuk segera masuk. Begitupun dengan Nari yang tidak menangkap ekspresi terkejut dari orang tuanya. Ia ikut melangkah masuk meski otaknya masih bergumul dengan perkiraan tentang seberapa luas rumah ini, ada berapa kamar, ada berapa lantai, memakai tangga atau lift, dan masih banyak lagi.

Sampailah mereka pada pintu utama yang menjulang tinggi. Max tidak perlu membukanya dengan mendorong atau memegang kenop pintu, karena pintu otomatis terbuka setelah Max menekan beberapa tombol pada sisi kiri pintu. Hal itu cukup mengalihkan perhatian Nari dari fikirannya. Bertambah lagi rasa`takjubnya akan bangunan ini. Apa tadi itu kode ?

Mereka masuk dan terpampanglah pemandangan yang membuat mata nyaris tidak berkedip. Ah tidak, hanya Ryan dan Nari yang melongo dengan tampang tak percaya, sedangkan dua manusia paruh baya disisi kanan mereka justru tersenyum miris dan ada bulir air mata yang hendak meloncat. Tentu Nari dan Ryan tidak menyadari hal itu. Nari bergerak mengedarkan seluruh pandangan. Ia seperti ingin menyelidiki dengan seksama akan benda-benda yang tertata rapi disekitarnya. Ia bergerak menuju sebuah lemari di sisi kiri ruang keluarga. Ia menyebut begitu karena terlihat dari televisi besar, sofa yang nampak untuk mereka yang ingin meluruskan kaki serta karpet berwarna cream dibawahnya. Ia melihat isi lemari tersebut dengan seksama. Terdapat deretan foto dua orang paruh baya seumuran orang tuanya. Matanya bergerak lagi dan ia menemukan foto seorang bocah lucu dengan pipi menggembung. Dilanjutkan foto bocah tadi yang beranjak dewasa dan sampai ia berdiri dengan gagah dengan setelan jas. Nari tersenyum mengerti. Ini foto suami dan keluarganya. Jadi ini pasti rumah mertuanya. Wow.

“Kak Nari !!” seru Ryan yang berdiri didepan sebuah lemari disisi lain ruangan besar tersebut. Nari datang menghampirinya dengan langkah santai. Ia masih tidak menangkap keadaan sekitar.

“Kenapa?”

“Ini mirip kakak ya ?” tanya bocah 9 tahun itu dengan polos. Nari mengikuti arah pandangnya dan ia menemukan deretan foto dirinya.

“Lah, ini mirip ibu sama ayah ya?” tanyanya lagi dan membuat Nari lebih memperhatikan. Benar, bukan hanya foto dirinya tapi juga orang tuanya dan..tunggu ! Kenapa hanya ada foto-foto masa kecilnya? Ia bahkan sudah lupa itu diambil saat sedang apa dan dimana. Ia segera menoleh ke arah pria yang harusnya dapat menjawab itu. Tapi matanya justru menangkap sosok lain yang tengah menangis dipelukan sang ayah. Ada apa?

“Ibu………”

Ibunya mendongak dan terlihat tangisan mulai berhenti meski wajahnya masih basah. Tangan Nari reflex bergerak membersihkan sisa-sisa air mata itu.

“Ada apa?”

“Kau tidak ingat rumah ini?”

Nari menggeleng pelan, tapi otaknya yang tidak dianugerahi kecerdasan dan kecepatan berfikir itu mencoba mengingat-ngingat. Rasanya ia tidak kenal rumah ini.

“Kau lupa ? Wajar saja, dulu kita pergi dari sini saat kau berusia 8 tahun. Dan lagi…sudah banyak perubahan disini.”

“He?”

“Max..apa yang kau lakukan?” tanya Ayah Nari yang tak kalah terkejut. Nari yang mungkin jadi orang yang tidak tahu apa-apa selain Ryan tentunya hanya menunggu apa lanjutan percakapan mertua dan menantu itu.

“Aku hanya ..mengembalikan apa yang harusnya menjadi milik Ayah.”

Nari memutar bola matanya tidak mengerti dengan percakapan ini. Ibunya menangis, suaminya yang berkata telah mengembalikan yang harusnya jadi milik ayahnya. Ohh adakah yang berbaik hati memberinya penjelasan ? Karena entah kenapa ia sulit melontarkan kalimat tanya meski hanya sekedar “ada apa?” lagi. Ia menatap tiga orang tersayangnya bergantian berharap ada yang mengerti lalu menjawabnya. Ibunya sudah tak menangis justru tersenyum lembut. Ayahnya pun demikian, lalu bertanya, “Apa kau tidak ingat ?”

Sudah tiga kali ia mendengar kalimat tanya itu. Sekarang suaminya mengusap rambutnya pelan kemudian membawanya dalam pelukan.

“Ini rumahmu sayang.”

Ia..suami yang baik

**************************************************************************************************

Apa yang Nari dengar beberapa menit lalu cukup memberinya alasan untuk terus tersenyum. Entah tersenyum atas kebahagiaan yang mana. Kenyataan jika ia kembali ke tempat yang terpaksa ia tinggalkan 15 tahun lalu ? Kenyataan jika ia mendapat itu semua berkat pria jangkung yang tengah bersandar manja dibahunya? Atau karena senyum keluarganya ? Yah…ini karena semua yang terjadi hari ini. Ia bahagia.

Nari tidak berfikir bahkan tidak pernah menduga jika hal luar biasa yang dilakukan Max itu belum berhenti. Max mengembalikan rumahnya, rumah hasil kerja keras ayahnya dulu yang terpaksa disita karena usaha ayahnya bangkrut. Kebangkrutan yang menjadi awal menurunnya tingkat kesejahteraan mereka secara materi hingga mereka terbawa arus dan sampai di Indonesia, tepatnya pulau Bali.

Selama di Bali, ayahnya bekerja di sebuah hotel milik sahabat lamanya. Itulah alasan mereka bisa sampai jauh terbang ke Indonesia, karena tidak ada tanda-tanda akan ada perubahan baik pada ekonomi mereka setelah kebangkrutan itu. Dan satu-satunya tawaran baik hanya datang dari sini. Yaitu sebagai staff disebuah hotel berbintang. Tentu untuk ukuran mereka yang tidak semakmur dulu, ini sudah sangat baik. Sayang, hal itu tidak berlangsung lama. Selang 5 bulan setelah itu, hal yang tidak jauh berbeda terjadi di hotel tersebut. Bangkrut.

Ayah Nari merasakan itu dua kali. Merasakan bagaimana semua berawal dari pemecatan beberapa karyawan. Semua tau itu hanya pembukaan karena yang sebenarnya adalah semua harus angkat kaki dari hotel itu. Tak terkecuali Ayah Nari. Ia kehilangan pekerjaannya LAGI.

Setelah kejadian itu, ia  harus bekerja serabutan, tidak pernah menentu selalu berganti setiap harinya. Itupun jika sedang beruntung, karena jika tengah sial tidak akan ada pekerjaan di hari itu dan berakhir dengan menu makan malam seadanya. Mereka juga harus membiasakan diri mempelajari bahasa Indonesia. Ingin kembali ke Korea ? Mustahil.

Nari sedikit mengingat saat-saat seperti itu tidak membuatnya menangis. Ia bahkan mulai ingat jika ia yang saat itu belum bisa berfikir dengan benar mencoba untuk membantu dengan meniru beberapa anak sebayanya dijalan, yakni bernyanyi. Ia tidak pernah melihat hal semacam itu di Korea. Yang ia tahu, setelah bernyanyi, cukup menengadahkan telapak tangan maka akan ada koin ditangan kita atau jika beruntung akan ada lembaran uang yang cukup untuk membuatnya riang. Kegiatan itu hanya bertahan dua hari karena Ayahnya sendiri yang memergokinya melakukan itu disiang hari. Dan Nari kembali ingat setelah itu ia akhirnya menangis dipelukan sang ibu karena takut dimarahi.

Apapun itu, toh sekarang ia dan keluarganya sudah kembali ke rumah yang menyimpan banyak kisah ini. Banyak perubahan. Dulu tidak ada pintu dengan tombol-tombol seperti sekarang. Dulu sofa serta televisi nya tidak semewah saat ini. Desain kamar pun berubah drastis.

Ryan yang memang sejak kecil belum merasakan kehidupan seperti ini berteriak gembira ketika Max memperlihatkan kamarnya. Jika sebelumnya bocah itu berbagi tempat tidur dengan kakaknya, maka sekarang ia memiliki ruangan sendiri untuk istirahat. Bahkan ini lebih dari cukup untuk tidur. Televisi, playstation, dvd, laptop yang duduk rapi di meja pojok kamarnya. Kamar tersebut bertemakan sepak bola sesuai dengan hobinya.

Ahh Max belum berhenti sampai disitu. Rupanya ia dan Nari tidak akan tinggal satu atap dengan orang tua Nari ataupun orang tuanya sendiri. Max justru membeli rumah baru untuk ia dan istrinya. Nari fikir ini pemborosan dan berlebihan. Rumah yang ia tempati sekarang saja terlalu luas untuk 5 orang, jadi untuk apa membeli yang tidak kalah besar dan hanya akan ditinggali 2 orang ?

Saat Nari berkata seperti itu, Max justru menggodanya dengan berbisik, “Bukankah tak lama lagi akan diramaikan oleh bocah-bocah yang berlarian ?” dan setelah kalimat itu Nari selalu kalah alias diam dengan wajah memerah.

Sekarang Nari dan Max sudah menempati rumah baru mereka. Nari pastikan ia bisa mati bosan berada di rumah ini jika suaminya bekerja nanti. Ahh dia memang memutuskan akan menjadi ibu rumah tangga yang sesunggguhnya. Bukan karena ia yang rela meninggalkan karier demi suami. Tidak begitu.

Nyatanya ia bukan wanita karier, sebelum mengikat janji dengan Max, ia hanya gadis penjaga kasir disebuah supermarket di Bali. Nyatanya ia bukan wanita karier, karena di sekolah menengah atas pun ia hanya melewati tidak lebih dari 2 tahun. Nyatanya ia bukan wanita karier, karena ia dianugerahi otak lamban dengan cara kerja standar.  Jadi ia tidak punya kemampuan yang bisa diandalkan atau setidaknya untuk mendapat pekerjaan yang terlihat hebat.

Jadi lagi, apa yang ia maksud dengan menjadi ibu rumah tangga yang sebenarnya ? Ya..dia akan melakukan semuanya sendirian layaknya seorang istri. Ayolah..itu sangat gampang fikirnya. Rumah ini memang 10 kali lipat lebih besar dari rumahnya di Bali. Itu bukan alasan untuk berkata tidak sanggup membersihkan isinya. Terdengar gila ? Tidak. Nari benar-benar melakukannya. Ia bangun tepat pukul 5 pagi untuk merebus air panas untuk suaminya mandi. Ia tidak tahu saja hal itu jadi bahan tertawaan Max karena itu terlalu tradisional.

Setelah itu Nari akan membuatkan sarapan yang menurutnya cukup pantas dinikmati. Ia yakin, itu terlihat dari ekspresi Max yang nampak menyukai masakannya. Tapi itu tidak berlangsung lama, Max tidak pandai berbohong seolah sangat menikmati sarapan buatan istrinya tersebut. Yah..Max bahkan tidak tahu rasanya layak disebut apa. Berturut-turut seperti itu dan Nari tidak pernah menyerah.

Disaat Max tidak ada maka Nari akan berkutat dengan beberapa alat ditangannya. Kain pel, ember berisi air, sapu, lap kaca, dan lain-lain. Bisa ditebak apa yang akan ia lakukan dengan alat-alat itu. Ia mengepel lantai yang sebenarnya sama sekali tidak berdebu bahkan cukup bening untuk berkaca. Ia membersihkan perabotan-perabotan seperti guci dibeberapa sudut ruangan, lemari yang berisi pajangan, foto-foto keluarga dan sebagainya. Jika ada tamu mendadak datang pasti wanita ini akan disangka pelayan baru. Rambutnya diikat asal dengan beberapa helai jatuh menutupi dahi, baju kaos lengan pendek dan celana jeans selutut.

Pertama kali Max melihat itu, ia terkejut. Bagaimana tidak ? Ia pulang disambut dengan Nari yang……sekali lagi lebih terlihat seperti pembantu rumah tangga. Max ingin tertawa tapi ingin juga memarahi istri polosnya itu.

“Siapa kau ?” bagaimana bisa kalimat macam itu yang diucapkan seorang suami pada istrinya ? Nyatanya itu yang terlontar dari mulut Max saat pulang ke rumah dan mendapati seorang wanita asing yang membukakan pintu. Pembantu baru kah ?

PLETAK

“Aww..”

“Sejak kapan kau butuh kaca mata untuk mengenali istrimu sendiri huh?”

Haha..karena hal itu Max memutuskan untuk benar-benar memakai jasa pembantu tapi dengan tegas di tolak oleh Nari. Baginya, itu adalah pemborosan. Tapi bagi Max itu sangat perlu mengingat rumah ini sangat luas dan juga kemampuan memasak istrinya yang belum membaik. Max tidak ingin terlalu sering memesan makanan diluar seperti kemarin-kemarin. Nari sempat berfikir itu benar tapi hanya sesaat ia berubah fikiran lagi. Ia tidak mau ada pembantu. Max mulai berkilah dengan berkata, “Bukankah aku akan membantu seseorang atau lebih yang sedang butuh pekerjaan ?”.

Nari menjawab, “Simpan uangmu dan biarkan  itu jadi hal baik yang dilakukan kedua orang tuamu.”

Max pasrah, percuma berdebat dengan manusia keras kepala seperti Nari. Maka Max membiarkan Nari melakukan semuanya seperti biasa termasuk memasak air panas terlebih dahulu. Max tidak ingin memberitahu cara mudahnya, ia biarkan saja istrinya melakukan hal-hal terlalu rajin itu. Yang penting Nari menikmatinya.

*****************

Hari ini Max pulang bersama orang tuanya. Nari sempat terdiam beberapa detik dan melotot horror pada suaminya karena tidak memberitahu jika orang tuanya datang. Nari malu dengan pakaian asal-asalnya ini. Dengan cepat ia membersihkan diri kekamar dan keluar dengan rapi. Satu lagi yang Nari takutkan, mertuanya itu ingin mencicipi makanan yang dibuatnya beberapa waktu lalu.

Ia memang memasak, lebih tepatnya menghancurkan dapur dengan eksperimennya. Ia membuat masakan yang ia lihat di tv tadi. Ia dan Max hanya berdoa semoga kali ini tidak akan berakhir dengan orang tua mereka yang bolak balik toilet. Semoga.

“Wow”

Nari dan Max saling pandang. Mereka menoleh ke asal suara yaitu Ayah dan Ibu mereka yang baru saja memasukan sesuap makanan ke dalam mulut. Apa itu reaksi yang berarti enak ?

“Ini enak. “

Nari dan Max berpandangan lagi seperti tidak percaya. Nari buru-buru mencobanya sendiri dan ternyata benar. Ia terus memasukan makanan itu kedalam mulut, saking antusiasnya sampai tersedak.

Max memijit tengkuk istrinya lembut tapi itu tidak berhasil. Nari justru mulai merasa ada sesuatu yang bergejolak didalam perutnya dan ingin melompat keluar. Ia berlari ke toilet dan berusaha memuntahkannya. Tidak ada yang keluar selain cairan bening seperti air. Max masih setia memijit tengkuk dan bahu istrinya. Setelah tenang, mereka duduk kembali di meja makan.

“Kau kenapa ?” tanya ibu mertuanya dengan nada khawatir.

“Entahlah, tadi hanya tersedak tapi kemudian jadi mual-mual.” Jawab Nari yang kemudian dapat melihat raut sang mertua berubah menjadi seringaian.

“Sebaiknya kau ke dokter.”

“Tidak perlu bu, aku hanya tersedak,” sanggah Nari cepat.

“Bukan begitu…hmm mungkin kau……..hamil?”

DEG

Pertanyaan itu membuat Nari melongo beberapa saat mencoba mencerna maksud kalimat tersebut. Ia reflex menoleh pada suaminya dan mendapati ekspresi yang sama, canggung. Ohh Nari tahu betul itu tidak akan terjadi dan Max pun tahu.

“Itu tidak mungkin bu…”

“Tidak mungkin bagaimana? Kalian sudah menikah 6 bulan lalu,  bukankah wajar?”

Max dan Nari terdiam. Tidak mungkin jika mereka berkata sangat jujur sebagai alasan ketidakmungkinan Nari untuk hamil sekarang. Dan mereka tidak punya pilihan selain mengikuti perintah orang tua meski hasilnya sudah bisa ditebak. Nari tidak berkonsentrasi dan tahu-tahu esoknya ia sudah di boyong Max pagi-pagi ke rumah sakit. Nari ingin menjitak kepala suaminya itu supaya sadar dan harusnya cukup berpura-pura saja pada ibunya jika mereka sudah memeriksakan diri ke dokter.

Sekarang mereka duduk menghadap seorang pria tambun yang sejak tadi berkali-kali memperbaiki letak kaca matanya yang sebenarnya tidak perlu. Itu lebih terlihat seperti basa basi sebelum mengatakan sesuatu yang….tidak baik mungkin.

“Jadi ?” tanya Max masih dengan ekspresi seolah sangat antusias. Dokter tersebut menggeleng, “Maaf, istri anda tidak sedang mengandung.”

Jawaban itu membuat Nari  bernafas lega, bukan karena ia tidak ingin hamil, tapi karena perkiraannya terbukti. Ia tahu kondisi tubuhnya sendiri dan ia yakin sedang tidak ada janin didalamnya. Ia baru saja ingin menertawai suaminya karena begitu bodoh kemari, baginya itu justru lucu, tapi urung dilakukan setelah melihat ekpresi Max yang nampak kecewa. Nari merutuki kebodohannya, ia tidak tahu kalau ternyata Max sangat ingin seorang bayi.

“Hmm maaf, sepertinya saya harus melakukan tes lain..” ucap sang dokter membuyarkan suami istri tersebut dari fikiran masing-masing.

“Tes apa ?” tanya Max.

“Tes………”

.

.

.

TBC

10 thoughts on “Destiny Part 1

  1. yhe_yhe berkata:

    haduuh test ap y??

    Ceritany langsung dah nikah. . . agak blum ngerti sih ceritany. .mungkin krn chap 1 kali y. . atw ak ny yg lemot. .hehe

  2. karina berkata:

    tes apa tuh ? ?
    Masi rada blum ngeh , , , jad kyanya hrus aga d prcepat next nya biar ngerti hehe d tunggu yaaah ^^

  3. dari cara penulisaan y agak beda gt ngebangun imajinasi direader y menurut q beda dari ff yg lain n juga cerita y bikin penasaran n mereka udah nikah…
    q susah ngungkapin y krn q kurang tau bahasa2 tulus gmn tau y baca n komen yg ada dipikiran q ja….
    Nari y ada sesuatu kah???? kok q mikir y nari y mandul n tu lg dokter y suruh periksa jangan2 sakut parah lg nari y???
    Lanjut…

  4. waww.. aku suka gaya tulisannya, gak terlalu belibet menurutku.. hoaaa~~ baru awal aja udah bikin penasaran.. makin semangat menulis ya thor~ aku pasti bakal baca ampe habis nih.. wkwkk.. #ancang-ancang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s