This is (not) Drama [1 shoot]


Author : Ramalia

Cast : Kim Jaejoong

                Han Ye Rin

                Shim Changmin

                Other cast

Genre : Romance

Rate : PG-15

Poster by AiTOP / @SanDeb11. You can request poster ini here http://www.bang2bang.wordpress.com

*******

Suara langkah kaki terdengar kuat dan cepat. Lorong itu yang semula senyap mendadak riuh. Nafas tidak terkontrol iramanya, kerja jantung meningkat dari biasa, keringat mengalir, dan air mata tidak mau kalah untuk menunjukan kehadirannya bahkan sebagai yang teratas, paling unggul diantara segalanya.

Mereka, para pelari itu masih memacu langkah dan menambah kekuatan kaki untuk mencapai pintu yang sangat ingin dituju. Sesekali salah satunya bersuara meminta si ‘manusia tidur’ itu membuka mata, atau paling tidak…menunjukan tanda-tanda bahwa ia baik-baik saja. Tapi, tidak untuk sekarang. Tidak sampai mereka tiba pada pintu besar bercat putih itu dan akhirnya..mereka harus rela untuk berhenti disitu. Hanya berhenti memerintahkan kaki terus berlari, bukan berhenti mengucap doa dan harapan baginya. Berharap yang terbaik.

Lampu merah di atas menyala, menandakan sebuah usaha tengah dilakukan. Mereka setia menunggu dengan tindakan tidak bisa disebut tenang. Hanya satu orang yang cukup waras dan bisa mengendalikan emosi, setidaknya dibalik kepanikan yang tidak kalah dibanding yang lain, ia masih bisa duduk di tempat yang disediakan, mengatupkan kedua tangan, mengucap hal yang sama, doa baginya.

Tiga orang lainnya, berdiri tidak tentu. Bersandar pada dinding putih, kadang berputar-putar mengelilingi satu titik dilantai, atau berkali-kali menengok ke atas berharap lampu segera berubah warna dan si pria berjubah putih akan keluar dengan senyum lega.

Dan benar ! ketika waktu sudah berlalu cukup lama dimana mereka tidak perduli berapa lama pastinya, lampu merah itu padam diikuti pintu yang terbuka. Seorang pria berpakaian putih keluar dengan melepas masker di mulutnya. Mereka bergerak cepat mengerubuninya, menyerang dengan berbagai macam pertanyaan, tapi hanya satu intinya. Apakah ia….selamat ?

“Maaf. Kami sudah berusaha.”

Itulah jawaban yang mereka dapatkan dan tanpa dijelaskan lebih lanjut, tanpa harus berteriak atau menarik kerah baju pria itu, tanpa harus menghentak bahunya agar ia berkata yang lebih baik lagi, mereka tahu, bahwa dia..yang didalam sana sudah pergi.

Kim Jaejoong….

Kau berbohong padaku….

Han Ye Rin…

Maaf aku harus pergi….

****

Drrtt drrtt

Jaejoong merasa ada getaran di kepalanya, cukup geli dan mampu mengembalikan kesadarannya, mengembalikannya pada dunia nyata yang masih berjalan normal. Membuatnya perlu benar-benar mengucap syukur karena apa yang barusan ia alami..hanya mimpi.

Ia bangun dan mengerjapkan mata berkali-kali, merentangkan kedua tangan merasakan hawa manis merasuk kekulitnya. Dia masih mengumpulkan seluruh kesadaran dan berkali-kali mendesah lega. Saat benda dibalik bantalnya terus bergetar, ia seratus persen yakin, sudah berada di dunia yang sebenarnya. Tangannya meraba bagian bawah bantal dan mengambil benda itu tanpa melihat siapa pelaku baik hati yang sudah membangunkannya.

“Yoboseyo.”

“Jae….”

Suara itu, Jaejoong mendadak dibuat tenang dengan panggilan lembut itu. Bayangan mimpi buruknya segera tertutup oleh suaranya. Ia tersenyum lalu kembali merebahkan tubuhnya masih dengan posisi ponsel berada ditelinga.

“Selamat pagi tuan putri,” ucap Jaejoong dengan senyum yang dia sendiri tidak yakin apakah bisa pergi jika dalam keadaan begini.

“Hmm Jae…”

Jaejoong masih mengumbar senyum, cukup dengan panggilan singkat yang merdu itu, ia bisa segera pergi ke dunia khayal lagi, tapi kali ini adalah surga bukan mimpi buruk. Ia memiringkan tubuh altletisnya dan memeluk guling.

“Jae..”

Jaejoong mengernyit heran. Sejak tadi hanya itu yang diucapkan gadisnya. Hanya namanya, ada apa ?

“Ada apa ?”

“Hm..” terdengar nada berpikir di seberang sana. Jaejoong setia menunggu tanpa menuntut meski ia dibuat begitu penasaran.

“Kau baik-baik saja ?”

Jaejoong makin bingung. Ia mendudukan diri lalu melihat-lihat sekitarnya kalau-kalau sudah terjadi sesuatu. Ia lihat tubuhnya, semua anggota tubuh sudah ia absen. Matanya masih normal, masih ada dua. Hidungnya masih utuh, masih mancung juga. Telinganya ada dua, rambutnya masih agak panjang dan sedikit menutup dahinya, lalu tangan serta kaki juga lengkap, tidak ada luka atau lecet, kamarnya juga tidak berantakan seperti habis dirampok mungkin, jadi tentu saja dia baik-baik saja.

“Sepertinya aku yang perlu menanyakan itu padamu.”

“Jadi kau baik-baik saja ? Apa kau mengalami keluhan akhir-akhir ini ? Kau..sakit ? Atau..kau ada salah makan ? atau..”

“Han Ye Rin..”

Diam. Tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan dengan tempo cepat itu setelah Jaejoong mengucapkan namanya lengkap dengan nada tegas. Itu pertanda bahwa Jaejoong tidak ingin mendengar lanjutannya, tanda bahwa ia yang ingin bicara dan didengarkan.

“Mianhe..” ucap gadis itu lirih. Jaejoong mendesah dengan sedikit rasa bersalah. Ia coba mengembalikan senyumnya yang ternyata tadi tiba-tiba pergi tanpa pamit. Ia turunkan kedua kakinya ke lantai, mendesah panjang, “Apa yang terjadi ? Aku sangat baik-baik saja. Aku tidak sakit, aku tidak ada keluhan apapun, dan aku tidak salah makan, bukankah semalam kita berkencan ? Kau mengantarku pulang dengan selamat, kau mengirimuku pesan sebelum tidur, dan sekarang kau membangunkanku di jam…” Jaejoong menoleh pada jam dinding, “Jam 6 pagi. Jelas aku sangat sehat.”

“Aku..hanya bermimpi buruk.”

Jaejoong perlahan bangkit, berdiri menghadap jendela. Menyibakkan tirainya lalu membuka jendela dengan tangan yang menganggur. Sinar matahari pagi yang belum tinggi itu membuat Jaejoong kembali pada kata-kata Ye Rin. Gadisnya bermimpi buruk ? Tentang dia kah ?

“Tentang aku ?”

“Aku melihatmu tidak sadarkan diri. Aku, Changmin dan ibu melihatmu. Semuanya begitu cepat. Kondisinya tidak mengenakkan, situasi yang sangat tidak ingin ku hadapi bahkan dalam mimpi lagi. Dan akhir dari itu adalah…kau pergi. Kau meninggalkanku.”

Jaejoong berbalik hingga kini bersandar pada kaca jendela. Memindahkan ponselnya dari telinga kiri ke telinga kanan. Ia cukup tertarik dengan topik ini. Mimpi itu…kenapa mirip ?

“Perasaanku tidak nyaman, Jae..”

Jaejoong coba buang jauh-jauh pikiran itu. Meski ia sependapat, tapi tidak mungkin ia katakan,“Itu hanya mimpi bukan ? Hanya bagian dari malam hari yang dilalui semua orang. Entah baik atau buruk, hanya tontonan seru saat malam. Tidak lebih,” Jaejoong coba menenangkan meski ia tidak bohong kalau ia pun, penasaran dengan kesamaan itu. Karena menceritakannya sama saja membuat Ye Rin semakin khawatir. Gadis itu, punya tingkat kepanikan dan rasa takut yang tinggi. Bahkan luka sekecil apapun ditangan Jaejoong bisa membuat air matanya datang.

“Tapi, perasaanku menyetujuinya. Mimpi itu…”

Jika boleh, Jaejoong akan membalas bahwa ia pun begitu, bahwa ia bangun dengan rasa tidak nyaman pagi ini. Entah apa itu. Tapi jika yang ditakutkan oleh Ye Rin adalah ia meninggalkannya, itu tidak mungkin.

“Jadi kau ingin mimpi itu terjadi padaku ?”

“Tidak begitu, hanya saja…”

“Jika aku meninggalkanmu, itu hanya akan terjadi atas campur tangan Tuhan, saat Dia memanggilku. Jika kau menyetujui mimpi itu, artinya kau ingin aku menutup mata selamanya sekarang ?”

“Jae !!” terdengar nada tidak terima dari Ye Rin, Jaejoong tersenyum dan melanjutkan, “Artinya mari lupakan dan mulai hari ini dengan senyuman, seperti wajahku sejak kau bangunkan.”

Jaejoong berjalan pelan menuju lemari pakaian dan melihat kemeja serta celananya yang semalam ia persiapkan,“Aku sedang dalam mood yang baik hari ini. Kau tahu kan kenapa ?” umpan Jaejoong berharap perhatian gadis itu teralihkan.

“Ah, kau ada wawancara hari ini ? Perlu kuantar ? Atau aku meminta paman Chen mengantarmu atau..”

“Chagiya…” panggil Jaejoong dengan nada selembut mungkin. Ia tebak sekarang wajah gadis itu sudah sewarna dengan cat kamarnya.

“Aku kesana untuk wawancara, untuk meyakinkan mereka bahwa aku bukan sekedar butuh pekerjaan tapi karena aku mampu. Bagaimana mungkin mereka menerimaku sedangkan aku diantar oleh seorang supir dan mobil mewah ? Aku akan berjuang sendiri dan kau tinggal tunggu kabar gembiranya.”

“Baiklah Tuan serba mandiri, sekarang cepat mandi, dan bersiap. Semoga kau berhasil !”

Jaejoong terkekeh dan menutup ponselnya. Ia coba hilangkan tentang kesamaan mimpi itu dan lebih bersemangat untuk memikirkan wawancaranya hari ini.  Ada dua perusahaan berbeda yang memanggilnya hari ini. Tentu itu kabar super gembira setelah sekian lama menebar surat lamaran ke berbagai sudut. Setelah lama tidak mendapat satu panggilan telepon pun, akhirnya kemarin, ada dua sekaligus yang menghubungi. Meski rasa ada yang mengganjalnya sejak pagi, ia tetap bersemangat untuk memulai hari ini. Berharap usahanya untuk memperbaiki kelayakan hidup berbuah hasil, bekerja di tempat yang setidaknya tidak begitu berbeda jauh dengan sang kekasih, dan tentu saja itu semua bermuara pada…restu orang tua Ye Rin.

Meski belum pernah ada pertemuan secara langsung dengan orang tua Ye Rin sekalipun hubungan mereka tidak bisa disebut singkat, Jaejoong merasa perlu memperbaiki pekerjaannya, bukan maju dengan status sebagai pelayan restoran seperti saat ini. Bukan malu, tapi ia tahu Ayah Ye Rin tidak pernah mengijinkan anaknya bergaul dengan mereka yang berada di bawah tingkatannya. Meski apa yang ia lakukan belum mampu membuatnya setara, setidaknya inilah usaha pertamanya, perlahan tapi pasti ia yakin akan mencapai tingkatan itu.

Ia sudah berdiri di depan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fashion. Berkali-kali mengembungkan pipi lalu menghembuskan nafas kencang.

Drrtt

Ponselnya bergetar, ia membuka dan rasa gugupnya langsung terbang entah kemana.

From : RinRin

Tarik nafas, jangan gugup ! Kau pasti bisa, hwaiting !!!

*****

Kicauan para pelanggan yang tengah menikmati makanan didepan terdengar ramai. Aroma makanan dengan cepat merasuk ke dalam indra penciuman. Terlebih bagi yang sedang butuh asupan, apapun itu bisa terlihat dan tercium seperti makanan.

Jaejoong mengelus perutnya yang sejak tadi berkicau tak kalah ribut dengan pelanggan. Ia berjalan cepat menuju dapur, mengganti kemejanya menjadi seragam kebanggaannya selama 2 tahun ini. Dengan buku kecil ditangan, ia bergegas keluar bersiap kembali pada rutinitas seperti biasa.

Entah kenapa, hari ini semua orang seperti mendadak kelaparan masal. Terus menerus menyerbu restoran tidak perduli apakah itu adalah jam makan sewajarnya. Hingga sejak tadi, para pelayan termasuk Jaejoong bekerja lebih ekstra. Menguatkan kaki dan tangan dari biasa untuk tetap bersikap sopan didepan pelanggan lalu bergegas memberikan pesanannya ke dapur, berpindah ke meja lain, kembali ke dapur, lalu kembali ke meja lagi dengan hidangan yang sudah tersedia di tangan.

Tidak perduli peluh yang membasahi sekitar dahi, acuh pula dengan perutnya yang terus memainkan berbagai alat musik seperti gendang atau gitar. Apapun melodi yang dikeluarkannya yang terdengar menuntut itu, Jaejoong tetap melanjutkan pekerjaan. Melihat teman-temannya yang tidak mengeluh sedikitpun memacu semangatnya lebih. Bukankah teman-temannya lebih lelah karena sudah melakukan ini sejak pagi ? Sedangkan ia baru kemari saat matahari tengah menyinarkan cahayanya dengan terang alias siang hari.

“Hyung..”

Jaejoong terlonjak kaget dan nyaris menyemprotkan air dimulutnya yang belum sampai benar pada tenggorokan.

“Uhukk…”

Pria jangkung yang menjadi tersangka itu menepuk bahu Jaejoong pelan lalu kembali menyodorkan segelas air putih,“Pelan-pelan hyung,” ujarnya lalu duduk didepan Jaejoong. Mereka tengah berada di dapur dimana para pelayan atau juru masak tengah bersiap pulang. Ini belum bisa disebut larut malam, masih jam 8. Tapi mengingat keramaian yang terjadi hari ini, si pemilik restoran memilih untuk menutup lebih awal.

“Bagaimana bisa kau kemari ?”

“Aku sudah sering kemari dan kau baru menanyakan itu ?”

Benar juga, Jaejoong menggaruk bagian belakang kepalanya. Pria didepannya sudah biasa datang dan pergi tanpa jejak, lalu kenapa ia perlu menanyakannya lagi. Ah, efek teriakan kencang diperutnya kah ? Hingga mengganggu kerja pikirannya ?

“Jadi ? Kau diterima ?”

“Hah…” Jaejoong mendesah berat, andai dibelakangnya sekarang adalah sofa empuk seperti di rumah sahabatnya ini, atau itu adalah tempat tidurnya, ia pasti akan menghempaskan punggung ke belakang.

“Mereka bilang bukan orang sepertiku yang dibutuhkan, mereka juga bilang sebaiknya aku tetap bekerja disini. Aneh, mereka hanya buang-buang waktu memanggilku, dan tentu saja membuang uangku untuk ongkos kesana,” keluhnya pelan, nyaris seperti bisikan. Mungkin tanda menurunnya semangat hari ini yang tadi menggebu-gebu. Harapan dan kabar gembira yang ia janjikan tanpa bukti. Ia gagal, maksudnya untuk hari ini. Ia mendapat gelengan dari dua perusahaan itu yang artinya ia harus menelan ludah kecewa dan kembali pada pekerjaan awal.

“Hyung, kenapa kau tidak menerima tawaranku saja ? Ayolah Hyung, jangan keras kepala lagi !”

“Jangan memaksaku, Changmin-ah, kau tahu alasanku.”

Pria itu –Changmin-  mendecak kesal. Ia mengambil paksa air putih yang baru saja hendak di minum Jaejoong. Membuat si empunya air menatapnya gemas seolah berkata ‘Changmin sialan kau tidak mendengar suara perutku hah?’

“Alasan aneh, apa sih bedanya ? Kau tidak perlu menyebar lamaran kemana-mana. Cukup datangi Ayahku dan semua selesai.”

Jaejoong menuangkan kembali air putih kedalam gelasnya, sayang hanya tersisa sedikit. Ia minum semua sampai habis lalu menarik kursi didekatnya untuk diduduki.

“Jelas beda. Aku tidak melihat sebuah usaha jika menerima tawaranmu. Itu lebih kepada rasa simpati pada seorang teman. Aku tahu perusahaan ayahmu sedang tidak butuh karyawan.”

“Yang penting kan, kau bisa bekerja lebih baik dan setidaknya itu modal yang cukup untuk menghadapi ayah Ye Rin.”

Jaejoong memainkan gelasnya yang sudah kosong. Sebenarnya sejak tadi, itu sangat mengganggu pikirannya. Mati-matian menyingkirkan pikiran tentang ayah Ye Rin dan berusaha begitu sibuk dengan melayani pembeli, dan kebetulan ia memang tengah sangat sibuk hari ini. Bahkan…pesan yang diterimanya dari Ye Rin tidak ia balas.

“JAE !!!”

Mereka menoleh bersamaan pada asal suara. Baru saja dibicarakan, langsung menampakkan diri. Si pemilik suara berlari kecil dan sudah berada di depan mereka, siap dengan sederetan pertanyaan,“Kenapa kau tidak membalas pesanku ? Aku khawatir kau tahu ? Kau baik-baik saja kan ? Kau tidak sakit kan  ? Aku takut terjadi sesuatu padamu, aku takut kau kenapa-kenapa. Aku..”

“Ehem..”Changmin sengaja berdehem keras untuk menghentikan pertanyaan berlebihan dari gadis yang baru tiba itu alias Ye Rin. Sikap kelewat panik itu tidak akan berhenti jika tidak ada yang menyelanya.

“Aku baik-baik saja. Hari ini restoran tengah ramai, jadi aku tidak sempat membalas pesanmu,” Jaejoong coba menjelaskan sepelan mungkin. Tapi seolah tidak perduli, Ye Rin justru memegangi pipi, telinga, hidung, atau tepatnya mengabsen semua anggota tubuh Jaejoong, meyakinkan semua baik-baik saja. Changmin yang melihatnya perlahan bangkit dengan tatapan malas.

“Oke, oke, aku tahu itu cara kalian mengusirku. Aku pergi !”

Tanpa mendengarkan balasan dari Jaejoong ataupun Ye Rin, Changmin berbalik, lalu pergi sambil bersiul dan memainkan kunci mobilnya.

“Jadi ?” tanya Ye Rin penasaran.

“Jadi apanya ?” tanya Jaejoong balik. Ye Rin memegang tangannya dan bertanya lagi, “ Pekerjaanmu bagaimana ?”

Jaejoong tersenyum setenang mungkin, bersiap meruntuhkan harapan-harapan yang sudah digantung tinggi.  Ye Rin terus memegang tangannya, memasang tampang penuh harap dan tentu saja hanya jawaban baik yang ingin didengar.

“Mianhe…”

“Apa?”

Jaejoong balas memegang tangan Ye Rin kali ini lebih erat. Ia tahu jawaban itu bukan jawaban yang ingin didengar, tapi seburuk apapun itu, kenyataan jauh lebih baik dibanding kebohongan. Dan dia tidak akan berbohong jika hanya akan menambah masalah.

“Tapi itu bukan berarti aku berhenti disini, aku masih akan terus mengusahakannya.”

Ye Rin tersenyum. Mereka bertatapan lama dengan menguatkan pegangan tangan. Cukup dengan sentuhan seperti itu, Jaejoong dapat melenyapkan apapun yang menganggu perasaan Ye Rin. Sentuhan yang sangat mereka nikmati dan mungkin tidak akan berakhir jika seseorang tidak berdehem lagi.

“Ehem…”

Mereka menoleh bersama. Leeteuk, si kepala pelayan tengah berdiri diantara mereka menggoyang-goyangkan kunci didepan wajah mereka.

“Maaf mengganggu, tapi security tidak tega memberitahu kalian kalau ia sudah ingin menutup pintu.”

Oh, mereka tersenyum malu, sadar sudah begitu berlarut-larut melewatkan waktu. Benar kata orang, semua terasa berjalan dua kali lipat lebih cepat saat hal-hal indah bermain. Tanpa kata-kata lagi, Jaejoong menarik tangan Ye Rin keluar.

“Kau membawa mobil ?” tanya Jaejoong dengan nada kecewa setelah sudah berada diluar dan ternyata mobil kekasihnya sudah terparkir.

“Tentu saja, memangnya aku kemari dengan apa ?”

Jaejoong memegang kedua tangan gadisnya erat lalu tersenyum, “Kalau begitu pulanglah ! Aku bisa berjalan kaki atau..menumpang dengan Leeteuk hyung.”

Ye Rin menggeleng cepat layaknya bocah 5 tahun yang menolak di tinggal pergi sang ibu,“Tidak mau. Kau pikir aku tega ? Lagipula tujuanku kemari karena ada hal yang sangat penting. Kau pasti akan suka.”

“Baiklah..katakan sekarang !”

Ye Rin tersenyum misterius dan tanpa sempat di cegah, ia tarik kuat tangan Jaejoong lalu mendudukannya di dalam mobil. Memasangkannya sabuk pengaman dan tanpa menjawab ocehan ‘penumpangnya’, ia tancap gas menuju tempat yang dituju.

“Kita mau kemana ?”

“Kita lihat saja nanti !”

Ye Rin terus melajukan mobilnya mengacuhkan tampang penasaran sekaligus kesal dari Jaejoong yang sebenarnya punya satu alasan kuat kenapa begitu ingin pulang. Apalagi kalau bukan untuk mendiamkan perutnya yang sejak pagi berteriak ? Sejak pagi ia sudah tidak baik hati memperlakukan tubuhnya dan sekarang Ye Rin mengajaknya pergi tanpa tahu tujuan. Maka Jaejoong hanya bisa pasrah. Ia tahu, Ye Rin mungkin tengah dalam suasana hati yang baik hingga begitu bersemangat. Apapun itu, jelas hal yang sangat baik bahkan sampai menyingkirkan kekecewaan tentang gagalnya Jaejoong mendapat pekerjaan lain.    

Sepanjang jalan Ye Rin memutar musik favoritnya, satu album milik penyanyi rapper terkenal di Korea. Kalau bukan karena jasa musik itu yang menyamarkan suara perutnya, Jaejoong pasti akan meminta Ye Rin mematikan. Selera musik Ye Rin tidak biasa, bukan lagu-lagu romantis yang ia dengar melainkan musik hip hop yang sama sekali bukan minat Jaejoong. Dan fakta baru, kalau Ye Rin tetap menyalakan musik itu padahal ia tahu betul Jaejoong membencinya, membuktikan bahwa ada hal yang sangat luar biasa.

“Sampai !”

Jaejoong ikut turun bersama Ye Rin, menurut saja saat Ye Rin menggamit lengannya lalu mengajaknya berjalan memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Apalagi ini ? Ye Rin juga sangat mengerti kalau ini adalah tempat yang tidak begitu disukai Jaejoong. Sebenarnya ada apa ?

“Nah coba kau pakai ini !” perintah Ye Rin saat memilih salah satu jas hitam yang menurutnya pantas untuk Jaejoong. Tanpa babibu Jaejoong menurut dan memasuki ruang ganti. Tenaganya sudah habis untuk bertanya kenapa, apalagi melawan. Kepalanya mulai berputar dan pandangannya pun sedikit berbayang.  Ia keluar dengan pakaian yang tidak begitu ia nikmati ditubuhnya tapi mampu membuat Ye Rin tidak berkedip.

“Jae..kau…” bahkan ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dan ia pun sampai buta kalau wajah Jaejoong cukup pucat untuk menarik perhatian.

“Bisa kita pulang sekarang ?” tanya Jaejoong berusaha tetap ceria. Tapi Ye Rin memberinya gelengan.

“Belum, kita harus mencari sepatu, jam tangan, kau juga harus menata rambutmu.”

Maka lagi-lagi Jaejoong hanya bisa pasrah saat Ye Rin terus mengelilingi semua toko untuk mencari berbagai benda. Jaejoong tidak punya cukup kekuatan untuk menolak. Cukup baginya tahu, kalau Ye Rin tengah sangat gembira. Senyum gadis itu bisa menjadi pengganti makanannya.

Saat melihat sebuah gaun yang menarik perhatian matanya, Ye Rin meminta Jaejoong menunggu sejenak. Jaejoong yang merasa tubuhnya sulit berkompromi lagi, memberinya istirahat sejenak dengan menyandar pada dinding, memejamkan mata sesaat atau melihat-lihat Ye Rin yang tengah memilih gaun. Lalu saat Ye Rin keluar dari ruang ganti dengan gaun berwarna hijau muda –warna kesukaannya- yang memperlihatkan leher jenjangnya, tubuhnya mendadak mendapat suntikan untuk berdiri tegak. Ye Rin memandangnya dengan tanya dan langsung dibalas Jaejoong dengan acungan jempol.

****

“Sekarang kita ke salon,” ajak Ye Rin yang sama sekali tidak melihat keanehan pada Jaejoong. Pria itu sudah berusaha sesabar mungkin tidak bertanya, tidak menolak kemanapun dibawa, berusaha menikmati semuanya, tapi kali ini, ia tidak bisa diam saja.

“Han Ye Rin.”

Diam. Ye Rin melepas pegangan tangannya pada Jaejoong lalu menunduk. Rasa gembiranya terlalu besar bahkan sampai lupa kalau Jaejoong mungkin tidak suka dengan kegiatan mereka sejak tadi.

“Ada apa ?” tanya Jaejoong tanpa basa basi tapi masih berusaha lembut. Ye Rin menegakkan wajahnya, tersenyum pada Jaejoong.

“Kau lupa ? Besok adalah hari ulang tahunku.”

Jaejoong terkejut. Sungguh, ia lupa dengan hari penting itu. Sedangkan tiga bulan lalu saat ia berulang tahun, Ye Rin menyiapkan kejutan luar biasa. Dan sekarang ? Ia bahkan belum mempersiapkan apa-apa untuk kejutan gadisnya. Jadi, apa ini yang membuat Ye Rin begitu gembira ?

“Besok akan ada pesta untuk merayakannya. Yang sangat penting adalah…” Ye Rin menarik nafas sejenak, membiarkan Jaejoong menatapnya penasaran,“Ayah…ingin bertemu denganmu.”

Jaejoong diam beberapa detik dengan alis menyatu. Mengumpulkan data-data di otaknya untuk mencerna apa maksud kalimat tadi. Tapi otaknya sedang malas berpikir lama.

“Apa ?”

“Ayah mendatangiku, ayah bilang agar kau bersedia datang dan bicara dengannya. Ia mengundangmu sebagai tamu istimewa.”

Jaejoong terdiam mendengarnya. Apa itu artinya…..

“Jae..kau tahu bagaimana ayahku. Kau tahu sikapnya selama ini dan kau mengerti maksudku sekarang ? Ayah sudah memberikan lampu hijau.”

Ye Rin memeluk Jaejoong erat, meluapkan rasa gembiranya. Sedangkan Jaejoong belum membalas, masih meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi. Benarkah ?

Ye Rin melonggarkan pelukannya. Sedikit mendongak saat harus menatap Jaejoong,”Kau tidak senang ? Aku pikir bukan reaksi seperti ini yang aku lihat.”

Jaejoong cepat-cepat menggeleng, “Bukan begitu..aku hanya..tidak percaya. Aku tidak salah dengar kan ?”

Ye Rin menggeleng sebagai jawaban. Dengan gerakan kilat ia kecup bibir kekasihnya membuat Jaejoong terkejut.

“Apakah terasa ? Jika ya, artinya ini nyata.”

Tidak diragukan lagi, ini nyata. Tanpa menunggu, Jaejoong memeluk Ye Rin. Mendekapnya kuat seolah lupa mereka sedang dimana. Bukankah mereka masih berada di depan salon ? Tapi itu bukan masalah karena yang mereka tahu sekarang adalah apa yang mereka perjuangkan selama ini mulai menemui titik terang. Ayah Ye Rin yang sejak awal anti bertatap muka dengan Jaejoong, enggan sekedar melihat ujung rambutnya, sekarang justru mengundangnya sebagai tamu istimewa diacara yang istimewa pula.

Kriukkk

Hmm..lantunan fals dari perut Jaejoong benar-benar merusak suasana. Ia pikir masih bisa menjinakkannya, nyatanya suara itu justru datang lagi.

Ye Rin melepas pelukannya dan menatap Jaejoong sendu. Ia bukan akan tertawa dan mengejeknya, itu tidak mungkin. Dan ia rasa ingin merutuki ketidak pekaannya sejak tadi. Matanya baru sadar kalau wajah Jaejoong pucat.

Sadar kekasihnya khawatir, Jaejoong melepas pelukannya dan berlagak seolah tidak terjadi apa-apa,”Hmm..sepertinya kita harus pulang, ibu menungguku,” kilahnya yang tidak ditanggapi oleh Ye Rin yang diam saja.

“Mianhe…”

******

Jaejoong melahap habis semua makanan yang ada didepannya. Tidak menyisakan sedikitpun nasi membuat mangkuknya mengkilap. Ye Rin sejak tadi diam, tidak ikut mengutik makanan yang disediakan untuknya. Bukannya tidak suka, tapi buatnya, kebodohannya hari ini sulit dimaafkan.

Tadinya Ye Rin memaksa untuk singgah di restoran terdekat, tapi Jaejoong jauh lebih memaksa untuk pulang saja. Dan meski Jaejoong sudah meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja, Ye Rin tetap tidak memaafkan diri sendiri.

“Ye Rin-ah, Jaejoong sudah menghabiskannya dan sekarang ia terlihat segar. Apalagi yang kau pikirkan ?” Ibu Jaejoong coba mengembalikan senyum Ye Rin yang hanya dilihat sedikit yakni saat menyapanya.

“Mianhe…”

Hanya itu yang diucapkannya sejak tadi. Dan itupun dengan kepala tertunduk. Jaejoong yang sudah selesai memuaskan perutnya langsung memegang erat telapak tangan Ye Rin.

“Ye Rin-ah,” katanya sangat lembut. Sang ibu yang melihat nampak menahan senyum dan bergerak mundur, “Hmm..ibu akan mencuci piring ini dulu.”

Sang ibu tidak terlihat lagi, hanya terdengar suara keran tanda ibunya benar-benar memberi privasi. Jaejoong kembali menatap gadisnya. Ia angkat dagu Ye Rin dan sesuai dugaannya, Ye Rin menangis. Jaejoong menyentuh pipi Ye Rin, membersihkan air matanya yang bukannya berhenti justru datang lagi, bahkan lebih banyak.

“Aku baik-baik saja.”

“Aku bodoh. Aku tidak peka.”

Hah, Jaejoong ingin sekali mengunci mulut Ye Rin agar gadis itu berhenti menangis. Tapi ia tahu, itu tidak mungkin. Ye Rin selalu seperti ini, khawatir tingkat tinggi padahal ia tidak merasa ada yang perlu dikhawatirkan. Saat berbelanja, ia akui tubuhnya serasa ingin mencium lantai, tapi tidak untuk sekarang.

“Lihat aku ! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku hanya telat makan, hanya itu.”

Ye Rin mulai mengurangi intensitas tangisannya, membalas pegangan Jaejoong ditangannya lebih kuat. Mereka saling tatap dalam diam, tidak bersuara, tidak mengucap apapun. Cukup segaris senyuman dan itu sangat melegakan.

“Lain kali bicaralah ! Aku tidak suka sifatmu yang seperti ini.”

“Dan aku tidak suka sifatmu yang berlebihan.”

Ye Rin melepas pegangan ditangannya dan menatap Jaejoong kesal. Pria ini kenapa tidak suka ada yang mengkhawatirkannya ? Dia hanya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padanya, apa salah ?

“Harusnya kau menurutiku untuk makan di restoran, jadi kau tidak perlu menunda makan lagi. Makan itu adalah kebutuhan penting, kau ti…”

“Cukup !”

Ye Rin tidak melanjutkan omelannya yang memang serius. Jaejoong tiba-tiba dingin, menatapnya lama kemudian menghela nafas,“Aku lelaki. Aku tidak bisa merengek padamu hanya sekedar untuk makan. Dengan kau mengendarai mobil sedangkan aku berada disampingmu saja, itu sudah membuatku merasa tidak berguna. Kau yang mengantarku pulang, kau yang membayar biaya makan kita, kau menarikku ke sana kemari untuk membeli pakaian dan aku ? Tidak bisa seperti pria lain yang mengeluarkan kartu kreditnya melainkan hanya menemanimu. Itu bukan hal menyenangkan.”

Ye Rin menunduk takut, tidak berani melihat mata kekasihnya. Jadi itu yang dirasakannya ? Ye Rin bahkan tidak pernah berpikir ke arah sana. Ia pikir, selama ini Jaejoong menolak untuk diantar pulang hanya karena tidak ingin merepotkannya. Jaejoong tidak ingin makan diluar, pergi ke pusat perbelanjaan, hanya karena tidak suka tempat ramai. Ternyata…

“Mianhe..Tapi aku tidak perduli dengan semua itu. Cukup dengan kau tetap berada disampingku, cukup dengan itu.”

“Tapi aku merasa itu tidak cukup, karena aku posisiku sebagai seorang lelaki.”

Senyap untuk beberapa saat. Bahkan suara keran air yang tadi cukup jelas sudah tidak terdengar. Suasananya benar-benar membuat mereka kehilangan kata-kata. Ye Rin masih menunduk, dan Jaejoong tahu, sebentar lagi gadis itu akan menangis lagi dan dialah pelakunya. Perlahan, ia duduk disamping Ye Rin, memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya.

“Ye Rin-ah.”

Ye Rin menatap Jaejoong dan lagi-lagi tebakannya benar.

“Ini salahku karena tidak bisa berlaku sebagai pria yang benar. Aku tahu kau khawatir, tapi mulai saat ini, biarkan aku yang menjagamu, berikan aku kesempatan untuk melakukan banyak hal untukmu.”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian. Mulai besok, jangan jemput aku ! Jika kau tetap datang ke Restoran, aku akan mengantarmu pulang berjalan kaki, jika kau lelah aku bisa menggendongmu. Bagaimana tuan putri yang cengeng ?”Jaejoong memajukan wajahnya hingga hidungnya bertemu dengan hidung Ye Rin. Meniupkan udara disana membuat Ye Rin beringsut mundur.

“Jae…ini dirumahmu. Nanti ibu melihat.”

“Memangnya kita mau apa ?”

Sial ! Ye Rin mengumpat kesal karena Jaejoong sudah mempermainkannya. Pria itu malah berdiri tanpa dosa, tidak merasa baru saja membuat jantung Ye Rin melompat-lompat. Tidak merasa baru saja mereka cukup bersitegang.

“Baiklah tuan putri, saatnya pulang !”

******

I believe I can fly

I believe I can touch the sky

I think about it every night and day

Spread my wings and fly away…

Jaejoong bersenandung pelan mengisi kesunyian diantara mereka. Ye Rin menunduk dengan memainkan kerikil dibawahnya,”Kenapa lagi ?” Jaejoong berdiri didepan mobil Ye Rin, memperhatikan gadisnya yang sejak tadi seperti enggan masuk ke dalam mobil.

“Seperti ada yang kurang, kau tidak merasakannya ?” tanya gadis itu dengan wajah lucu –dimata jaejoong-. Jaejoong menghadap Ye Rin yang kini seperti bocah kecil yang ingin dicubit pipinya. Manis sekali.

“Apanya yang kurang ?”

Ye Rin tersenyum penuh arti dan melihat-lihat sekitar, memainkan mata dan bibirnya, “Ini..sepi, tidak ada ibumu. Tidak ada siapapun kecuali kita,” ujarnya hati-hati dan itu membuat Jaejoong mendekat padanya dengan kedua tangan melipat didepan dada.

“Maksudmu ?”

Ye Rin tersenyum lagi tapi kali ini bisa dimengerti oleh Jaejoong. Dengan gerakan cepat ia tarik pinggang Ye Rin,“Jadi ini hasilnya kau bergaul dengan Changmin ? Harusnya aku mengamankanmu.”

Ye Rin terkekeh dan melingkarkan lengannya dileher Jaejoong. Jaejoong tersenyum dan perlahan  membuat jarak diantara mereka berkurang. Sengaja mengulur dengan menikmati keindahan wajah Ye Rin lebih dulu.

Lagi, untuk ke dua kalinya mereka seolah buta sedang berada dimana. Tautan yang mampu membuat mereka tidak mendengar apapun, menutup mata erat dan hanya tahu satu hal. Mereka tidak ingin berhenti. Suara mobil yang lalu lalang dihadapan mereka bukan gangguan berarti. Masih larut dan hanyut dalam pertemuan ini. Hingga salah satunya bisa berpikir jernih sedikit, barulah ada tanda-tanda bahwa itu akan berakhir.

“Masih ada yang kurang ?”

Ye Rin mengangguk manja, mengalihkan kedua tangannya pada kancing kemeja Jaejoong membuat pria itu menaikan alisnya. Apa yang mau dilakukan gadisnya ?

“Changmin tidak mengajariku macam-macam. Jangan berpikiran mesum !” kata Ye Rin yang bisa membaca apa pikiran Jaejoong.

“Tapi aku tetap harus memperingatinya.”

Ye Rin tidak menjawab dan kini memindahkan tangannya melingkari pinggang Jaejoong, persis seperti yang dilakukan pria itu padanya. Maka sekarang mereka betah saja tanpa suara hingga beberapa menit kemudian, Ye Rin berucap, “ “Hmm…aku gugup menghadapi esok. Kau tidak ?”

“Bertemu dengan calon mertua, kedengarannya menyeramkan, tapi yakinlah, aku tidak akan mengecewakan orang tuamu.”

Perlahan, Jaejoong kembali mendekati wajah Ye Rin menghipnotisnya untuk menutup mata. Dan detik berikutnya, ia mendaratkan satu kecupan didahinya,“Itu untuk permintaan maafku karena membuatmu khawatir hari ini. Dan ini…” Jaejoong mengecup dahi gadisnya lagi tapi kali ini cukup lama,“Ini sebagai rasa terima kasihku karena kau masih berada disampingku. Dan esok…aku harap hanya akan ada hal baik.”

Ye Rin mengangguk, melepaskan pelukannya lalu  berjalan pelan seolah berat untuk meninggalkan pekarangan rumah sederhana Jaejoong. Entahlah, ada rasa tidak ingin pergi yang begitu kuat kali ini. Ini bukan pertama kalinya ia kemari dan tentu saja ini bukan pertama kalinya ia tidak ingin pergi. Tapi kali ini dengan alasan berbeda, alasan yang…entah apa itu.

Namun, melihat senyum Jaejoong untuknya, ia dapat sedikit mengesampingkan perasaan aneh itu. Masih dengan posisi berdiri disamping mobil, Ye Rin tersenyum sendiri. Tidak sadar sudah menarik perhatian Jaejoong.

“Ada yang lucu ?”

Ye Rin tersenyum ke arahnya, “Tidak ada, hanya saja…aku baru memikirkan perkataanmu tadi.”

“Yang mana ?”

“Bahwa jika aku lelah kau akan menggendongku sampai ke rumah. Tidak kah itu begitu romantis ? Seperti yang kerap kulihat di drama,” ungkap Ye Rin antusias.

“Sudah kubilang kurangi menonton drama !”

“Dan sudah kubilang tidak mau bukan ?”

Jaejoong mendesah panjang. Kalau begini, debat mereka hanya mengulur waktu Ye Rin untuk pulang. Meski ia pun senang, tapi bisa saja di rumah, orang tua Ye Rin menunggu anak semata wayang mereka dan khawatir.

“Oke oke, sekarang kau pulang ! Sudah malam.”

Dengan lambaian tangan, Jaejoong mengantar kepergian Ye Rin yang nampak tidak ikhlas bersama mobilnya. Setelah tak terlihat lagi, Jaejoong berbalik dan berjalan masuk ke rumah persis seperti orang gila. Senyumnya belum mau pergi dan beruntung tidak ada yang melihatnya. Ah, tapi sepertinya ia salah. Ada yang melihatnya !

“Ibu…” Jaejoong agak kaku dan menunduk malu. Tidak berani melihat ibunya yang berdiri didepan pintu dengan kedua tangan melipat didepan dada.

“Ibu belum tidur ?” tanyanya basa basi.

“Ada tontonan menarik,”

“Ibu mengintip kami ?”

“Kalian melakukannya di pinggir jalan, mana bisa disebut mengintip !”

Oke, jaejoong akui perkataan ibunya sangat benar. Tidak ingin membahas masalah ini lama-lama dan tidak ingin wajahnya memerah seperti gadis, ia dorong tubuh ibunya ke dalam.

Esok…..cepatlah datang !

****

Ye Rin berdiri didepan cermin, memperhatikan tubuhnya yang dibalut gaun hijau pilihan Jaejoong. Maksudnya, ia yang memilih dan mendapat anggukan semangat serta ancungan jempol dari Jaejoong. Ia bukan mencari-cari kekurangan tampilannya hari ini. Yang ia pikirkan sejak tadi hanya satu. Pertemuan ayahnya dengan Jaejoong. Berkali-kali ia berjalan tidak jelas memutari kamar. Menarik nafas lalu menghembuskannya, mengelus dada coba mentralkan kerja jantungnya sejak tadi.

“Ye Rin-ah.” Suara tegas yang berasal dari belakangnya, membuat Ye Rin berbalik. Ini justru membuatnya semakin gugup.

“Ayah…”

Pria tinggi dengan tubuh tegap itu mendekat pada putrinya. Dia, atau yang dikenal orang-orang sebagai Tuan Han mengelus puncak kepala anaknya halus. Ye Rin sedikit bingung, sudah lama hal-hal wajar seperti ini tidak dilakukan ayahnya. Terlebih saat ia berkata jujur bahwa menjalin hubungan serius dengan seorang Kim Jaejoong yang hanya seorang pelayan restoran.

“Gugup ?” Ye Rin mengangguk.

“Kau tenang saja. Ayah akan memperlakukan Jaejoong dengan baik.”

Ye Rin memeluk ayahnya erat. Dan itupun adalah hal wajar lain yang sudah lama tidak ia lakukan. Kali ini ayahnya seperti kembali ke masa dulu, saat ia masih kecil dan kerap diberikan perhatian berlebih. Bukan ayahnya yang menatap dingin dan memaksanya berhenti berhubungan dengan Jaejoong.

“Tamu sudah banyak yang datang. Ayah sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Jaejoongmu.”

Ye Rin menggamit lengan ayahnya dan berjalan beriringan keluar. Mereka turun perlahan melewati beberapa anak tangga. Kini semua mata tertuju pada mereka berdua, mungkin tepatnya pada Ye Rin. Semua mata sibuk memperhatikan kecantikan gadis itu. Rambutnya yang lurus kini dibuat sedikit bergelombang, gaun hijau muda sebatas lutut yang memamerkan leher serta bahunya. Ye Rin nampak nyaris sempurna.

Dan disaat bersamaan, dari arah pintu masuk, dua orang pria dengan jas hitam berjalan mengarah padanya. Salah satu diantaranya mampu membuat Ye Rin tidak fokus melangkahkan kaki. Nyaris terhuyung kalau bukan karena tolongan ayahnya. Ia, pria yang tengah berjalan itu….

“Jae….”

Mendengar ucapan pelan anaknya, ayah Ye Rin mengikuti arah pandang itu dan menemukan siapa yang dimaksud. Jaejoong yang berjalan bersama Changmin sudah semakin dekat dengan Ye Rin dan ayahnya yang baru saja mencapai anak tangga terakhir. Ye Rin dan Jaejoong terus bertatapan dan mungkin tanpa kedipan. Sama-sama terpesona dengan apa yang ada didepan. Ini…berbeda.

Ye Rin memperhatikan Jaejoong dari ujung kaki hingga ujung rambut. Iti jas yang ia belikan kemarin, ada jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, dan rambutnya….Ye Rin tidak menyangka jika Jaejoong merubah tatanan rambutnya seperti ini. Memperlihatkan dahinya yang menawan, membuang poni yang biasa sedikit menutupi matanya.

Sadar mereka sudah terlalu lama diam, Ye Rin menunjuk ayahnya dengan ekor matanya pada Jaejoong. Mengerti maksud Ye Rin, Jaejoong menunduk hormat pada sang calon mertua. Tersenyum seramah mungkin meski si objek masih menatapnya dengan tatapan…mengintrogasi ?

“Selamat malam Paman, aku Kim Jaejoong.”

Ayah Ye Rin tidak menjawab dan masih menatapnya intens. Ye Rin yang semakin gugup menguatkan pegangan tangannya pada sang ayah, berharap ayahnya mengerti.

“Ah, ya, jadi kau yang bernama Kim Jaejoong ? Kau…cukup tampan,” pujinya tapi masih berusaha tegas dan tidak menggebu-gebu. Jaejoong tersenyum menanggapi. Kalimat-kalimat yang sudah di ajarkan Changmin sejak tadi untuk diucapkan pada ayah Ye Rin lenyap seketika karena berada didepannya secara  langsung, atmosfirnya berbeda dibanding berlatih didepan Changmin tadi sore.

“Baiklah, nikmati pestanya. Aku harus ke sana.” Ayah Ye Rin berbaur dengan para tamu yang kebanyakan merupakan relasi kerja. Setelah menjauh, Ye Rin dan Jaejoong saling memegang tangan dan lanjut menatap tidak percaya.

“Ini kau kan ?”

“Dan ini benar-benar kau ?”

Mereka saling tanya dengan bodohnya dan itu membuat Changmin memilih mundur untuk mencari mangsa. Lebih baik berburu gadis cantik dibanding melihat adegan romantis ala Ye Rin dan Jaejoong.

“Apa yang kau lakukan dengan rambutmu ?”

“Kau tidak suka ?”

Ye Rin menggeleng cepat. Justru dia sangat sangat suka dengan gaya rambut baru ini. Bahkan jika bukan karena ditempat umum ia akan memberi dahi itu ucapan selamat datang.

Belum selesai percakapan mereka, Ye Rin sudah dipanggil sang ibu untuk segera memulai acara inti. Tanpa menunggu, Ye Rin menarik tangan Jaejoong untuk bergabung bersamanya serta keluarga. Bukankah momennya sangat tepat untuk semakin mengenal dan lebih dekat ?

Mereka, tepatnya Ye Rin dan Jaejoong berdiri di depan kue ulang tahun bertingkat dengan sebuah boneka beruang di puncaknya. Itu adalah boneka kesukaannya. Di sebelah kiri dan kanan mereka berdiri orang tua Ye Rin dan beberapa kerabat dekat.

Mereka memulai acara dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun pada Ye Rin. Dilanjutkan dengan meniup lilin, tentu dengan mengucap harapan terlebih dulu. Ye Rin menutup mata lama, membiarkan sekitarnya menunggu. Ia tengah memanjatkan doa yang hanya ia dan Tuhan yang tahu.

Jaejoong memperhatikan gadisnya yang tengah menutup mata. Ia selalu suka saat Ye Rin memejamkan mata dengan hikmat seperti sekarang. Terlihat damai dan…kecantikannya bertambah.

Setelah itu, dilanjutkan dengan acara pemotongan kue. Potongan pertama Ye Rin berikan pada sang ibu, yang kedua untuk sang ayah dan yang ketiga, ia berikan pada Jaejoong yang langsung mendapat bisikan serta tanda tanya besar dari para tamu. Orang tua Ye Rin memandang tidak suka dan rasa ingin sekali menghalangi tangan Ye Rin yang sekarang menyuapi Jaejoong dengan lembut.

“Baiklah..harap perhatiannya sejenak.”

Suara tegas dari sang ayah membuat percakapan yang baru saja ingin dimulai oleh Jaejoong terpaksa tertahan. Disana, di atas panggung kecil dimana para pemain musik berada, ayah Ye Rin berdiri didepan mic.

“Hari ini adalah ulang tahun putriku satu-satunya,” ucapnya pertama kali dengan menatap para tamu. Lalu matanya tertuju pada satu titik,” Ye Rin-ah. Selamat ulang tahun ! Ayah selalu berharap yang terbaik untukmu. Ayah sangat…mencintaimu.”

Ye Rin tersentuh mendengarnya. Itu benar, dibalik sikap tegas dan keras yang kerap ditunjukan sang ayah, Ye Rin yakin, ada suatu sisi baik yang ditujukan padanya. Ia menoleh pada Jaejoong yang memegang tangannya kuat.

“Bersamaan dengan ini, aku ingin menyampaikan hal penting lain. Ye Rin-ah, kemari !”

Ye Rin menoleh pada Jaejoong seolah meminta ijin, dengan anggukan dan senyum, Jaejoong melepas pegangan tangannya pada Ye Rin dan membiarkan gadisnya berjalan anggun menuju panggung. Ia mengambil segelas minuman -entah apa itu- ia tidak tahu. Lalu kembali pada panggung didepan.

“Bulan depan…adalah hari bahagia bagiku. Hari bahagia bagi kami, orang tua Han Ye Rin.”

Para tamu masih mendengar dengan seksama. Menunggu apa yang hendak disampaikan, apa yang dimaksud hari bahagia itu.

“Bulan depan, kami harus merelakan putri kecil ini untuk orang lain.”

Maksudnya ? Itu yang pertama kali muncul dibenak Jaejoong dan Ye Rin, mungkin beberapa tamu juga memikirkan pertanyaan yang sama.

“Seorang pria sudah menunggu untuknya, dan aku dengan senang hati melepas.”

DEG

Jaejoong terhenyak. Dilihatnya Ye Rin yang menunjukan ekspresi tak kalah bingung. Dari jarak yang tidak begitu jauh itu, mereka saling bertanya melalui mata, tapi detik berikutnya mereka sama-sama menggeleng, tidak mengerti.

“Wow, kalian langsung menikah ?” celetuk Changmin yang tiba-tiba berdiri disamping Jaejoong. Benarkah begitu ?

“Dan pria yang sudah kupilih untuk menjadi calon suami putriku adalah………..”

Jaejoong dan Ye Rin kembali bertatapan, menunggu dengan segera nama Jaejoong lah yang disebutkan. Terlebih saat mata ayah Ye Rin mengarah tepat pada Jaejoong, menatap Jaejoong dengan senyum menyeringai.

“Choi Seunghyun…”

Gelas ditangan Jaejoong nyaris terjatuh. Jadi…bukan Kim Jaejoong ? Ye Rin mengalihkan tatapannya pada sang ayah menuntut jawaban, penjelasan sejelas-jelasnya. Baru saja ayahnya bersikap begitu baik didepan Jaejoong, lalu ini apa ?

Pria tampan dengan tubuh tegap berjalan dan kini berdiri disamping Ye Rin. Ayah Ye Rin menyatukan kedua tangan mereka dan langsung mendapat sambutan dari para tamu. Suara tepukan membahana, tidak perduli dengan seseorang yang tidak bisa ikut menepuk tangannya. Mengacuhkan seseorang yang hanya bisa berdiri mematung dan melihat gadisnya bersama pria lain. Tepukan tangan itu mengantarkan Jaejoong pada kenyataan, bahwa Ye Rin….tiba-tiba terasa jauh disana.

****

“Kudengar kau pandai bernyanyi, bersediakah kau menyumbangkan suaramu untuk hari bahagia putriku ?”

Tawar ayah Ye Rin saat mereka tengah duduk bersama dalam sebuah meja. Changmin dan Jaejoong duduk bersebalahan, pada dua kursi sebelah kanan Changmin, Ye Rin dan pria yang bernama Seunghyun itu duduk bersama. Tidak ada rasa lagi saat Jaejoong terpaksa memasukkan berbagai macam makanan lezat didepannya, semua jadi hambar. Dan tawaran yang baru saja diajukan, membuatnya punya alasan untuk membalikkan sendok dan garpu. Mungkin beberapa ada yang menganggap itu tidak benar ketika meminta seseorang bernyanyi disaat makan.

Jaejoong berusaha tegak dan tidak tunduk atau mundur sedikitpun. Meski baginya tawaran ini lebih seperti hinaan. Matanya mengarah pada Ye Rin yang tidak berani menatapnya, hanya menunduk. Dengan yakin, Jaejoong berdiri dan berjalan menuju panggung kecil di depan.

“Perhatian semuanya…” belum sampai Jaejoong pada tempat yang dimaksud, ayah Ye Rin menyela.

“Malam ini aku kedatangan tamu istimewa. Kim Jaejoong, seorang pelayan yang tergila-gila dengan putriku, akan menghibur kita dengan suaranya.”

Jaejoong tersenyum. Dia memang seorang pelayan, bukan ? Lalu kenapa harus tersinggung dan menolak tawaran ini ? Ia lanjut berjalan dan kini sudah berdiri didepan  mic. Arah mata para tamu hanya tertuju padanya yang sudah akan bersuara. Beberapa gadis nampak memandangnya takjub. Karena ketampanannya kah ? Mungkin.

nun ddeugodo
neol baraboji mothae

Jaejoong memulai lirik pertamanya. Matanya fokus pada sang gadis yang sekarang jelas sudah berubah status menjadi gadis orang lain.

jichin chueoge heuryeojin
neoui mameul nan chatji mothae

mani ulgo
jichyeo deo isang mothae
saenggakhaedo neoreul bomyeon gwaenchaneul geot gata

jikyeojugo shipeo
neoui jalmotdwen nappeun beoreutdeulkkajido
himdeun nal utge mandeuneun geoya
jom himdeulgetjiman
neol saranghae rago maldo hal geoya
meonjeo nae pume oneun nalkkaji

Beberapa mata  dari orang-orang berdasi dan pakaian bermerk itu tampak terenyuh menyaksikan dan mendengarkan nyanyiannya. Beberapa memandangnya prihatian, terlebih saat sang penyanyi gagal menahan setetes air dari matanya, gagal menutupi kehancurannya.

utji mothae
useodo gieok mothae
oneul harudo kkumcheoreom
nunddeumyeon sarajil geot gateun
neol bogodo
gyeote eobneun geot gata
pyohyeoni seotunreungabwa neol saranghagien

jikyeojugo shipeo
neoui jalmotdwen nappeun beoreutdeulkkajido
himdeun nal utge mandeuneun geoya
jom himdeulgetjiman
neol saranghae rago maldo hal geoya
meonjeo nae pume oneun nalkkaji

hoksi dareun ongireul chaja
naege ddeonaga haengbokhae hal geoni
geuraedo neol bonael su eobseo
baby jukgiboda deo apeultende

Semua terhenyak. Lagu itu terasa sangat bermakna dan berbicara. Suara itu terdengar memilukan dan gadis yang menjadi tujuan lagu itu hanya bisa menunduk, menekan dadanya yang terasa terhimpit dinding.

naega neol saranghae, dareun nugudo ani ne ape itjana

naega ni soneul jabgo itjana

nugungaui pume
jul su eobseo aesseo utgo itjana
bonael su eobseohaneun mameul….wae

( Kim Jaejoong-I’ll protect you )

Prok prok prok

Dan tepukan tangan langsung mendominasi kala Jaejoong mengucap lirik terakhir. Sepertinya hanya beberapa yang melakukannya dengan tidak ikhlas. Dengan sekali gerakan ia usap bekas air mata di wajahnya, turun dengan wajah dan tubuh tegap. Berdiri tepat didepan sang tuan besar, Tuan Han.

“Wow, itu diluar ekspetasiku,” puji Tuan Han keras tapi lebih terasa nada ejek lebih unggul disana.

“Jaejoong-ssi, kenapa kau tidak mendaftar pada salah satu agensi ? Aku pikir itu membuka jalanmu untuk hidup lebih baik. Tapi…jika kau diterima, akan ada masa training yang entah kapan berakhir, lalu masa awal kau perlu merangkak meraih popularitas. Dan aku, tidak akan membiarkan putriku menunggu kapan waktu itu tiba. Waktu adalah uang dan uang adalah segalanya.”

Tuan Han mengucap kata terakhir penuh penekanan. Jaejoong tidak takut dan memberikan senyum yang tak kalah mengejek. Ia belum berminat membalas semuanya.

“Tanpa uang kau tidak bisa apa-apa. Kau lihat tempat ini ? Ini dibangun dengan uang, kau lihat jas yang kupakai, sepatuku, jas yang kau kenakan, semuanya, semuanya karena uang. Kau memeras keringat sebagai pelayan juga demi lembaran uang bukan ? Uang berada paling atas dan itu sulit kau jangkau.”

Jika bukan di tempat umum, dan jika pria didepannya ini bukan ayah dari gadis yang tengah menahan tangis itu, Jaejoong pastikan tangannya tidak bisa berlama-lama diam. Tapi sebisa mungkin ia tetap mempertahankan posisinya, tidak termakan emosi, memilih terus berdiri menatap tanpa rasa takut pada pria tua itu.

“Karena aku  bukan orang yang bisa bersabar lama, maka aku tidak akan menunggu. Kau tidak cukup bodoh untuk mengerti maksudnya bukan ?”

Jaejoong maju satu langkah dan membuat wajahnya tepat menghadap pria berkacamata itu yang tidak lebih tinggi darinya.

“Sudah selesai, Tuan Han ?” tanyanya pelan namun tegas. Sedang yang ditanya sedikit membuang pandangan, tentu ini bukan gangguan baginya. Tidak perduli jika beberapa pasang mata mulai memperhatikan mereka. Toh sejak tadi baginya yang dipermalukan dengan pembicaraan ini adalah Jaejoong, bukan dirinya.

“Aku pikir kau bukan tipe pembicara, kau terlalu banyak omong.”

“Apa maksudmu ?” sepertinya Tuan Han salah mengira. Jaejoong tersenyum meremehkan, memundurkan langkahnya sedikit.

“Tuan Han yang terhormat, biarkan aku bicara panjang lebar. Kau benar ! Uang punya kuasa besar. Aku tidak bisa mendapatkan anak anda karena tidak punya uang. Bisa kuartikan jika  kau juga menikahi wanita yang sekarang menjadi istrimu karena uang ?” tanyanya sinis, mengesampingkan segala rasa hormat dan sopan santun, dan itu cukup membuat pria didepannya tersentak tidak terima.

“Jae…” Ye Rin bersuara lirih. Tidak mengerti kenapa Jaejoong berpikiran begitu. Jaejoong memberi jeda, berjalan pelan melewati orang-orang disekitarnya. Berhenti didepan Ye Rin dengan tatapan yang…Ye Rin sendiri tidak tahu tatapan macam itu. kilatan mata yang tidak pernah ditemuinya pada seorang Kim Jaejoong, kekasihnya.

“Tidak terima nona Han Ye Rin ? Aku hanya mengambil contoh dari apa yang di sebutkan ayahmu” Jaejoong kembali ke depan ayah Ye Rin dengan kedua tangan disaku celana.

“Tapi apa kau tahu bahwa uang juga punya kekuatan besar untuk menghancurkanmu, Tuan Han ?” Jaejoong diam lagi beberapa saat menunggu reaksi pria itu, apakah masih bisa bersabar untuk tidak menamparnya ?

“Mau tahu pendapatku ? Kau hidup dipemikiran yang sempit.”

Tuan Han makin tidak terima dengan apa yang dikatakan Jaejoong. Jika bukan karena mereka sudah menjadi pusat perhatian, jika tidak untuk menjaga image, ia akan membuat Jaejoong menyesal mengatakan itu.

“Kau berdiri dengan uang, maka suatu saat kau juga akan jatuh karenanya. Kau perlu banyak-banyak melihat ke bawah, tuan. Kau perlu melihat kami, orang-orang rendahan yang menopang kalian. Kau tahu jas yang kau pakai ? Siapa yang membuatnya ? desainer terkenal ? bukan ! yang menyambung tiap benangnya adalah buruh, penjahit ! kau liat rumahmu yang mewah ini ? uangmu yang membangunnya ? merekalah, orang-orang bawah yang menyatukan batu dan pasir hingga membuatmu bisa tidur nyaman disini. Kau tidak bisa apa-apa tanpa kami, tuan.”

Mereka –Jaejoong dan Tuan Han- saling bertatapan. Hening sejenak dengan mata yang seolah saling melempar senjata dan menunggu siapa yang terkena. Para tamu hanya menunggu apa yang selanjutnya terjadi. Disudut lain beberapa pria dan wanita dengan kamera yang menggelantung dileher nampak memotret kejadian ini. Tentu saja akan menjadi headline untuk Koran besok. Ini mungkin lebih menarik dibanding berita pernikahan si anak pengusaha besar itu.

Tuan Han tidak mau kalah, “Mereka tidak akan bergerak tanpa ku hadapkan pada uang !”

“Mereka melakukan itu demi senyum anak dan istri mereka, demi keluarga mereka. Dan materi bukan satu-satunya pilihan untuk mendapatkan senyum itu. Jadi, berhenti memandang rendah pada orang-orang seperti kami, tuan.”

“Kau…” tangan Tuan Han sudah terangkat tinggi tapi terhenti karena ulah Ye Rin. Seolah tidak perduli, Jaejoong membungkuk hormat lalu berkata, ” Terima kasih atas undangannya. Dan kau nona Han Ye Rin, selamat.”

“Jae !!!”

Ye Rin berusaha menahan Jaejoong yang sudah melangkah cepat bersama Changmin. Tapi ayahnya memegang lengannya kuat. Dengan paksa, Ye Rin berusaha keras lepas dari halangan ayahnya, lalu berlari keluar mengejar.

“Seunghyun-ah ! Cepat kejar dia !” pria yang disebut langsung berlari , mengejar Ye Rin yang sudah tak terlihat dibalik pintu.

“JAE !!!”

Jaejoong berhenti. Ini jadi kesempatan Ye Rin untuk mengejarnya.

“Hanya sampai disini ?”

Jaejoong berbalik. Nafasnya terdengar cepat dengan dada yang naik turun. Kedua tangannya masih mengeras, menahan letupan emosi yang ingin meledak. Melihat Ye Rin yang menangis, tangan itu memukul keras pada mobil disampingnya.

BRAKKK

“JAE !!”

“KAU PUAS ?”

“Aku benar-benar tidak tahu akan seperti ini. Aku..”

“Hah, kau tidak tahu ? Ayahmu sudah merencanakan ini semua dan kau mengundangku seolah-olah aku tamu yang paling utama.”

Ye Rin tak kuasa menahan cairan yang terus meluncur dimatanya. Ia coba memegang tangan Jaejoong yang mulai meneteskan darah, tapi selalu ditepis. Sungguh, ia selalu dan tidak pernah bisa melihat lelakinya terluka.

“Demi Tuhan, aku tidak tahu apa-apa !”

“Jadi aku harus menyalahkan ayahmu yang bahkan tidak akan merasa bersalah ?”

 “Aku pikir ayah sudah merestui kita, aku pikir..”

“Ya ! Kau benar, kau dan ayahmu tidak salah. Bagaimanapun aku yang salah. Aku yang terlalu berharap. Aku yang terbang terlalu tinggi dan kalau aku jatuh tanpa pengaman apapun, itu resikoku bukan ?” Jaejoong sudah termakan emosi, mengacuhkan mantan gadisnya yang menangis hebat. Ia guncang kedua bahu Ye Rin kuat lalu melepasnya.

“Harusnya aku tahu, harusnya aku sadar bahwa kita memang tidak bisa berhubungan. Harusnya aku tahu diri sejak awal.”

“Kita harus maju dan tunjukan pada ayah bahwa kita bisa,” Ye Rin tidak lelah berusaha memegang tangan Jaejoong yang  tidak mau mendengarkannya.

“Kau sudah berada disamping pilihan ayahmu. Kenapa kau tidak terima saja ?” bentak Jaejoong tepat didepan wajah Ye Rin. Emosi memenuhi rongga nafasnya, menjalar ke setiap bagian tubuh dan mengabaikan Ye Rin yang diam dengan tangis.

“Kau bilang tidak akan berhenti. Kau bilang hanya pergi jika Dia memanggilmu,” lirih Ye Rin yang tetap diacuhkan Jaejoong, “Yang kau lakukan tadi bukan usaha memperbaiki melainkan makin menghancurkan semuanya.” Kali ini Jaejoong diam, baru menyadari sikapnya tadi. Itu diluar kendali otak warasnya. Sekarang jelas ayah ye Rin semakin tidak menaruh hati pada Jaejoong.

Ye Rin menunduk, membiarkan tangisnya lebih kuat . Jaejoong tidak akan bisa pura-pura tidak perduli. Dengan gerakan cepat ia tarik Ye Rin dalam dekapannya. Memeluknya erat, menghirup aroma tubuhnya untuk…yang terakhir.

“Jangan pergi ! Kau harus yakinkan ayah. Kau harus..”

Ucapan Ye Rin terhenti kala Jaejoong mengunci bibirnya. Menyalurkan apa yang mereka rasakan. Sakit, emosi, sedih, marah, kenapa Tuhan memilih mereka untuk tidak bersama ? apa mereka cukup kuat ? Dalam hitungan jam Jaejoong diterbangkan dan dihampas keras ke tanah. Harapan dan doa yang ia panjatkan lenyap dalam satu kedipan mata. Restu yang ia pikir sudah didepan mata nyatanya tetap menjadi satu pengharapan mustahil.

Jaejoong melepas ciumannya, matanya bertemu dengan pria beruntung yang kini tengah berdiri dibelakang Ye Rin dengan tatapan…bersalah ?

“Aku tidak bermaksud menyalahkanmu,” Jaejoong mengusap air mata Ye Rin. Gadis itu masih menunduk dan terisak kuat. Jaejoong menangkupkan kedua tangannya diwajah itu, mendekatkan wajahnya seperti tadi lalu mengecup keningnya.

“Pilihan ayahmu tidak salah ! Masuklah !”

Ye Rin kehilangan kekuatan untuk menyela dengan kata-kata. Ia hanya bisa cepat-cepat menggeleng sebagai tanda penolakan atas permintaan Jaejoong. Ia tidak akan masuk. Tidak akan !

“Maaf, aku tidak sekuat yang kau kira. Kita harus berhenti disini. Aku harus melanggar janjiku sendiri.“

Lagi, Ye Rin menggeleng dan tidak mau melepas tangan Jaejoong yang sejak tadi berusaha menjauh. Tapi dengan perlahan dan tatapan memohon, Jaejoong bisa melepas pegangan itu. Sekali lagi ia usap puncak kepala Ye Rin dan berbalik cepat dengan menahan air mata yang mungkin akan tumpah sebentar lagi. Ia berlari kencang menuju mobil Changmin dan menghempas pintunya keras.

Mobil itu berlalu cepat melewati Ye Rin yang tidak kuasa dan tidak punya kekuatan untuk mengejarnya. Sesak itu terlalu kuat dan membuat tulang-tulangnya terasa lepas. Seseorang yang saat ini menjadi pria asing yang sangat ia benci datang merengkuh tubuhnya. Ia ingin menolak, ia ingin berontak, tapi lagi-lagi usahanya sia-sia.

Kim Jaejoong .. Kau berbohong padaku…

****

“Berikan cincin ini padanya. Ibu yakin dialah yang tebaik untukmu.”

Sayangnya Jaejoong bukan pria terbaik pilihan ayah gadis itu. Dan dengan kepala tegak, dia mundur. Ingin menyebutnya pengecut ? Changmin lebih dulu berkata seperti itu, merutuki kepasrahan Jaejoong sedangkan baginya masih ada seribu cara untuk memperjuangkan Ye Rin.

Nama itu, menyebut namanya saja sudah membuat Jaejoong sakit. Ia tahu, ia memang bodoh, lemah, tidak cukup kuat sebagai seorang pria. Dan baginya, itu salah satu bukti bahwa ia tidak pantas bersamanya.

Jaejoong menghabiskan beberapa hari ini dengan menyibukkan diri di restoran, menjadi pelayan paling rajin dengan mengerjakan segalanya bahkan sampai pada hal yang tidak perlu. Ia mengelap meja, mengepel lantai yang jelas-jelas sudah menjadi tugas orang lain. Ia bukan menghapus jejak kaki atau debu disana, tapi menghapus air matanya yang berbekas, ia berusaha menghapus bayang-bayang gadis itu yang tersenyum dan menangis, ia berusaha melenyapkan apapun yang masih tersisa tentang Ye Rin. Ia pun pulang paling akhir, merangkap sebagai security.

Tak ada yang tega untuk mendekatinya atau memberinya pelukan. Meski hal itu lebih terasa sangat dibutuhkannya ketimbang berpura-pura sibuk. Semua yang berada di Restoran hanya membiarkannya melupakan Ye Rin dengan caranya sendiri.

Jika berada di rumah ia akan melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan sang ibu. Ia mencuci piring, mengelap kaca jendela yang sudah dibersihkan, menyirami tanaman yang layu. Apa tindakannya membuat ia dikasihani ? Memalukan !

Jaejoong tidak pernah berhubungan dekat dengan seorang gadis sebelumnya. Hanya dia, hanya seorang Han Ye Rin yang membuatnya seperti ini. Membuatnya seperti pria cengeng yang menjijikan. Tidak pernah terpikirkan olehnya akan selemah ini, akan sehancur ini karena masalah wanita. Tapi setelah merasakannya, Jaejoong harus mengakui jika  ini adalah rasa yang sangat tidak diinginkan.

Kertas tebal berwarna merah dengan pita pink baru saja menjadi bagian dari tong sampah. Jaejoong baru saja melemparnya kesana. Karena dua hari ini, isi kertas itu sudah kenyang mengisi otaknya. Sebuah kotak kecil berwarna merah juga berada di atas meja. Sebenarnya benda itu hampir bernasib sama dengan kertas tadi, tapi urung dilakukan.

Lama Jaejoong hanya duduk di salah satu meja kosong di restoran yang tengah sepi. Cukup banyak meja kosong disana dan entah dasar apa, seorang pelayan sepertinya santai saja duduk di salah satu bangku. Sejak tadi ia melihat-lihat layar ponselnya. Membuka folder yang berisi foto-fotonya bersama Ye Rin. Atau membuka kontak dan melihat nama gadis itu saja. Berkali-kali ia ingin menekan tombol hijau, tapi selalu tertahan.

Setelah menghabiskan cukup waktu untuk berpikir, akhirnya ia meletakkan ponselnya ditelinga. Mendengar nada sambung lama, itu cukup membuat keinginannya bicara langsung hilang. Nyaris saja ia menekan tombol merah saat sebuah suara yang satu bulan ini tidak didengar menyapa.

“Jae..kau kah itu ?”

Hening. Jaejoong tersenyum meski disaat bersamaan ia juga menangis, hanya satu tetes.

“Jae…”

Sekali lagi, Jaejoong tidak membalas, ia masih ingin menikmati ini, membiarkan namanya disebut secara singkat oleh suara yang akan sangat dirindukannya begitu hubungan telepon berhenti.

“Kumohon, bicaralah.”

Dengan satu tarikan nafas panjang, Jaejoong membuka mulutnya,“Han Ye Rin.” Hening kembali. Jaejoong belum mendengar sahutan disana, lebih terasa seperti…isakan.

“Panggilan itu hanya jika kau ingin aku mendengarkanmu. Kali ini aku ingin banyak bicara, dan kau pun mendengarku.”

Jaejoong tersenyum mendengar nada tidak terima dari mantan gadisnya.

“Kau gugup ?”

“Iya jika yang akan aku datangi dihadapan Tuhan adalah seorang Kim Jaejoong.” Kali ini Jaejoong menangkap ada nada penuh harap disana, “Kau pasti cantik sekali sekarang.”

“Tidak ada mempelai wanita cantik dengan mata merah dan bengkak.” Di situasi lain, kata-kata Ye Rin pasti bisa membuat Jaejoong tertawa sejak tadi. Tapi sekarang…

“Aku harap itu tangis bahagia.”

“Jae..tidak bisa kah kau…”

“Ayahmu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Aku rasa itu adalah yang utama. Aku rasa maksud ayahmu adalah karena ingin kau baik-baik saja, terjamin, bukan ikut berkeringat bersamaku di restoran. Dia hanya terlalu menyayangimu. Tidak ada orang tua yang senang melihat anaknya menderita. Mereka hanya tidak ingin anak satu-satunya yang dilahirkan penuh perjuangan, dijaga setiap malam saat menangis, diajari  berjalan, bicara, nantinya akan terjatuh ditangan yang salah.” sela Jaejoong sebelum Ye Rin menyelesaikan permintaannya.

“Tapi aku hanya ingin seorang Kim Jaejoong dan aku yakin dia pun hanya ingin seorang Han Ye Rin.”

Jaejoong tersenyum simpul, “Kau benar ! Kim Jaejoong melewati satu bulan ini dengan gila karenamu, rasa itu tidak bisa pergi secepat saat aku mendapatkannya. Tapi yakinlah, ini yang terbaik.”

“Jae…”

“Cukup ! Sampaikan maafku pada ayahmu. Saat itu aku hanya terbawa emosi.”

“Aku pikir kisah ini akan berlanjut dengan kau yang berteriak dan menarik tanganku lalu kita berlari bersama.”

“Kau benar-benar harus mengurangi hobimu menonton drama.”

“Tidak boleh kah aku berharap kehidupanku seperti drama ? Setidaknya untuk bagian ini. Disaat ayahku sudah berdri didepan pintu dan ingin menuntunku menuju altar.”

Jaejoong terdiam. Alisnya bermain penuh tanya. Jika itu hanya suatu perumpaman, akan ia balas dengan tawa. Tapi jika itu nyata, maka artinya ia harus mengakhiri pembicaraan ini.

“Jae…kumohon…”

Kali ini nada itu jauh lebih lirih, bahkan seperti ingin menangis hebat setelah mengucapnya. Jaejoong menguatkan pegangan pada ponselnya, memejamkan mata sejenak, “Maaf..Setelah ini silahkan kau mengingatku sebagai seorang pengecut, tidak bisa menepati janji dan kata-katanya. Tapi aku melakukan ini demi kebaikan bersama. Sekarang, kau harus berdiri, tersenyum dan sambut tangan ayahmu, juga tangan pria beruntung itu.”

“Jae….”

“Aku mencintaimu.”

TAP

Ponsel itu langsung ditutupnya dan mencelupkannya  ke dalam gelas yang berisi air putih. Cukup sampai disini. Kisahnya hanya kisah biasa, bukan drama. Ia tidak akan berlari kesana dan menghancurkan pernikahan yang akan segera dimulai.

“Jika aku meninggalkanmu, itu adalah campur tangan Tuhan, saat Dia memanggilku.”

Jaejoong merasa seperti menjilat ludah sendiri, tidak bisa menepati janjinya.

 “Kau tidak kalah, kawan !”

Changmin menepuk bahu Jaejoong. Pria itu memang suka datang dan pergi secara tiba-tiba. Dan sekarang pun duduk tiba-tiba.

“Bagiku, dalam cinta hanya akan ada 2 akhir. Bersatu atau berpisah. Tadinya aku harap kau memilih yang pertama. Banyak cara untuk mewujudkan itu. Tapi kau memilih akhir yang kedua, dan sepertinya itu tidak terlalu buruk. Setidaknya….aku melihatmu tersenyum setelah satu bulan yang berat ini.”

Jaejoong memang tersenyum dan itu ia lakukan sekarang.

“Maaf atas kata-kataku tempo hari. Kau melakukannya demi kebaikan banyak pihak bukan ? Untuk itu, kau tidak bisa disebut kalah.”

Jaejoong balas menepuk bahu Changmin dan berdiri. Mengambil buku kecilnya dan melihat-lihat sekitar. Masih banyak yang harus ia pikirkan dan kerjakan bukan ? Ia masukan kotak kecil pemberian ibunya itu ke dalam saku celana. Dan pintu utama terbuka memperlihatkan beberapa pasang kaki berjalan mengisi kekosongan dimana-mana. Sepertinya ia akan sibuk sekali hari ini. Saatnya kembali ke runtinitas.

“Pelayan !!!”

.

.

.

.

.

.

THE END

.

.

Iseng gugling, nemu blog ini, ya udah saya kirim ff ini. semoga suka, menghibur, mengisi waktu luang mungkin. Makasih yang mau baca. Ditunggu kritik dan sarannya *BOW*

11 thoughts on “This is (not) Drama [1 shoot]

  1. mereka berpisah sedih….T.T
    q jadi susah berkata kata nih kasian sama mereka cinta y ngak bisa bersatu cuma karna status….
    klo dipikir pikir yg realita sih kyk gini cinta si kaya n si miskin ngak bakal bersatu….
    yaudah jaejoong sama q ja deh….

  2. Eunchan She Peef berkata:

    ayah nya kejam bgt!
    Aku kagum sama kata2 jj buat ayah si han ye rin~
    keren! Udh buat aku meneteskan air mata~^^-
    coba ada kelanjutan nya lagî~
    kepingin tau kehidupan jj + ye rin selanjutnya kaya gimana~ :3
    wkwkwk~😄

  3. Young Hee berkata:

    Annyeong… Dah lama bgt g mampir ksini, kangen~

    endingnya sedih bgt sih? G rela klo JJ oppa menderita terus… Bikin sequel dong! JJ oppa hrs dapetin ceweknya! Hahaha😀

    keep writing!

  4. choichloa berkata:

    huwaaaaa kasian amat si jae T_T
    bneran tragis kisah cinta nya. .sukakk bgt sama quote ny jae buat ng bales hinaan appa ny ye rin!! ^^ dasar it ahjussi bkin tensi naek aja:/

    slamat menempuh hdup baru dh buat jae(hdup baru tanpa yerin) ama yerin(hdup baru sama seunhyun). .hopely mreka sma2 bhagia :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s