Because I Love You Part 2


Title : Because I Love You

Cast : Jung Yunho

Rating : NC17(mungkin bisa berubah di next part)/Straight

Author : Lee Eun Ri

A/N: cerita ini author bikin dengan otak mumet jadi klo agak2 gaje, aneh and ga dpt feelnya mohon di maklum ya :D … ga di edit sebelumnya jd kemungkinan ada typo,skali lg mohon di maklum. judulnya agak2 aneh krn author bingung ngasih judul…

Happy Reading

Part 1 You can read in here

AUTHOR POV

Semenjak kejadian di club dan apartemen waktu itu Yunho mulai merubah hidupnya yang urakan dan tidak teratur. Malam itu setelah mengantar Hee Young ke rumahnya, Yunho merenungkan semua kejadian yang ia alaminya hari itu. Ia pun terngiang-ngiang tentang perkataan yeoja itu saat di apartemennya. Keluarga dan tragedy hampir di perkosa.

Yunho memutuskan untuk berubah lebih baik demi Hee Young, ia kini serius menjalani kuliahnya dan mengurus bisnis kecil yang ia bangun dan sudah lama tak diurus olehnya. Ia juga sudah tidak menjadi namja playboy dan tidak pernah melirik yeoja manapun seperti dulu. Tak lupa ia terus berusaha mendekati Hee Young setiap hari dan menanyakan tentang kabar yeoja itu.

Tentang pekerjaan Hee Young, Yunho sudah berusaha menawarkan pekerjaan untuk yeoja itu di café miliknya, mulai menjadi manajer sampai pelayan ia tawarkan tapi Hee Young tetap menolaknya. Yeoja itu malah mengatakan padanya kalau tak mau menerima pekerjaan darinya. Alhasil Hee Young kini hanya bekerja harian di setiap toko ataupun café yang sedang membutuhkan pekerja hanya satu hari saja. Melihat pekerjaan Hee Young membuat Yunho sedih dan khawatir. Ia tak bisa berbuat apa-apa karena setiap ia menawarkan pekerjaan yeoja itu malah marah padanya.

Yunho menghela nafas pelan melihat Hee Young di depannya yang kini tengah sibuk dengan koran di depannya. Melingkari setiap lowongan pekerjaan yang ada.

“Kenapa?” Tanya Hee Young yang sadar namja di depannya sejak tadi menghela nafas sambil menatapnya.

“Anni, aku hanya heran saja. Kenapa yeoja di hadapanku ini sangat keras kepala? Sudah kutawarkan pekerjaan dengan posisi tinggi sampai rendah sekalipun tidak di terima.” Ucap Yunho sambil menatap koran yang ada di tangan Hee Young dengan datar. Ia melihat yeoja itu berdecak setelah mendengar ucapannya lalu kembali berkutat pada koran yang tengah di pegangnya.

“Haaah lagi-lagi tak mendengar ucapanku.” Ucap Yunho lagi. Tak lama ia mengirim pesan pada Changmin, ia meminta tolong pada temannya itu untuk membelikannya dua minuman dingin. Yunho memainkan ponselnya dan diam-diam ia memotret Hee Young. Ia tersenyum saat mendapatkan foto yeoja itu.

“Hyung.” Sebuah teriakan dari Changmin membuat Yunho mengalihkan pandangannya.

“Ini pesananmu. Kubawakan juga makanan.” Ucap Changmin sambil memberikan yang ia bawa pada Yunho.

“Gumawo.” Ucap Yunho.

“Annyeong Hee Young-sshi.” Sapa Changmin dan Yuchun. Hee Young hanya mengangguk lalu perlahan mulai menjauh dari ketiga namja itu. Tak lama ponselnya berbunyi dan ia pun langsung mengangkatnya.

“Yeoboseo.” Sapa Hee Young lalu menjauh dari ketiga namja itu.

“Anni, aku belum mendapatkannya. Hanya harian yang kudapat.” Ucap Hee Young menjawab pertanyaan teman kerja yang dulu tak terlalu dekat dengannya. Ia tak sadar kalau Yunho memperhatikan pembicaraannya.

“Heh? Jinja? Kau serius? Kalau begitu kapan aku bisa ke sana?” Ucap Hee Young tak percaya.

“Baiklah, aku kesana. Gumawo.” Ucap Hee Young.

“Apa yang dia bicarakan? Membuatku penasaran saja.” Gumam Yunho. Saat yeoja itu kembali ia berusaha bersikap biasa, begitupun dengan Changmin dan Yuchun. Dilihatnya Hee Young mengambil tasnya dengan cepat.

“Mau kemana?”

“Pergi. Permisi.” Jawab Hee Young cepat. Lalu ia pergi. Tadi ada teman di tempat kerjanya yang dulu menelepon dan menawarkan pekerjaan. Hee Young naik taksi dan meminta supir untuk segera ke alamat yang tadi di berikan temannya. Selama perjalanan ia sangat gugup dan berharap kalau pekerjaan yang di berikan padanya tidak aneh-aneh.

Sampai di alamat yang di tuju, Hee Young menatap rumah itu dengan kagum. Rumah itu sangat besar. Perlahan ia mendekat dan menanyakan nama temannya pada penjaga rumah itu.

“Ne, dia bekerja di sini. Anda nona Hee Young?”

“Ne.” Jawab Hee Young. Setelah mendengar jawaban darinya penjaga rumah itu membuka gerbang dan mempersilahkannya untuk masuk. Tak lama Hyo Rim datang dan menghampirinya, ia mengangguk lalu tersenyum kaku.

“Aish kau ini masih saja kaku dan dingin seperti itu. Santailah sedikit.” Ucap Hyo Rim. Hee Young mengangguk.

“Gumawo sudah menawarkanku pekerjaan.”

“Aish! Tak usah sungkan, kita kan berteman. Lagi pula saat mendengar dari tuan muda di rumah ini kalau sedang membutuhkan asisten yang kupikirkan hanya kau. Tuan muda membutuhkan asisten yang lulusan sekolah tinggi.” Ucap Hyo Rim.

“Teman?” Gumam Hee Young.

“Memang kita berteman kan? Ah kau ini.” Hee Young tersenyum mendengar hal itu dari Hyo Rim karena selama ini ia hanya berpikir kalau semua orang menjauhi dan tak mau berteman dengannya.

“Mmmm tapi aku belum lulus.” Ucap Hee Young.

“Tidak apa-apa. Tadi aku mencoba merekomendasikanmu pada tuan muda dan aku mengatakan kalau kau belum lulus dari kuliahmu. Tuan muda langsung menyuruhku untuk membawamu kemari. Coba saja dulu siapa tau tuan muda menerimamu.” Hyo Rim tersenyum ramah.

“Gumawo. Mmm tapi kenapa tidak kau saja yang melamar jadi asisten tuan muda rumah ini?” Tanya Hee Young.

“Aku kan hanya lulusan SMA. Lagi pula mana mungkin aku yang sudah jadi pembantu di sini melamar jadi asisten. Ah itu ayo masuk. Tuan muda sudah menunggu.” Hyo Rim mengetuk pintu lalu setelah ada perintah masuk ia dan Hee Young pun masuk.

“Tuan, ini teman saya yang saya ceritakan.” Ucap Hyo Rim sopan. Hee Young pun membungkuk sopan.

“Jin Hee Young imnida.” Hee Young melirik Hyo Rim yang tersenyum tipis padanya.

“Baiklah, kau boleh keluar dan lanjutkan pekerjaanmu.” Perintah tuan muda itu pada Hyo Rim.

“Ne.” Jawab Hyo Rim lalu melangkah keluar ruang kerja itu.

Hee Young menunduk saat tuan muda di depannya itu menatapnya dari atas ke bawah. Ia sangat gugup dan takut kalau tidak di terima. Ia memainkan jari-jarinya untuk menghilangkan kegugupannya.

“Kudengar kau kuliah, apa benar? Jurusan apa?” Tanya tuan muda itu.

“Ne benar tuan. Saya kuliah di jurusan desain interior.” Jawab Hee Young sambil menatap namja di depannya. Namja itu menganggukan kepalanya.

“Apa kau sanggup menjadi asistenku? Kau akan bekerja cukup berat karena selain mengurusi jadwal kuliahku kau juga harus mengikutiku sampai jam 8 malam.” Ucap namja itu pada Hee Young.

“Ne, saya sanggup. Saya akan mencobanya tuan.” Jawab Hee Young.

“Hmmm baiklah. Kalau begitu kau kuterima dan mulai hari ini kau jadi asistenku. Tolong kau urus kepindahanku di Universitas Seoul. Aku menjadi mahasiswa pertukaran dan baru sampai tadi malam jadi belum sempat mengurusnya. Ini berkas-berkasnya. Dan tulis di sinidata dirimu dan no.rekening bankmu. Aku akan mengirimkan gajimu sekarang.” Ucap namja itu membuat Hee Young terdiam.

“S sa saya di terima tuan?” Tanya Hee Young tak percaya. Namja di depannya mengangguk lalu menyuruhnya mendekat.

“Khamsahamnida tuan.” Ucap Hee Young senang. Ia mengambil berkas-berkas dan kertas yang harus ia isi dengan data dirinya. Ia membungkuk lalu berbalik tapi belum sempat ia melangkah namja itu menahannya.

“Duduk di sini saja dan cepat tulis data dirimu. Aku tak mau menunggu.” Namja itu menunjuk kursi di depan meja kerjanya jadi mau tak mau Hee Young duduk di depan namja itu dan mulai menulis data dirinya. Setelah selesai ia memberikan kertas itu.

“Mmm tuan boleh saya tanya sesuatu?” Tanya Hee Young.

“Silahkan.” Jawab namja itu sambil membaca data dirinya.

“Na nama tuan siapa? Dan mmm tuan kuliah di jurusan apa? Kebetulan saya kuliah di Universitas Seoul juga jadi saya pikir kalau ada  masalah pekerjaan, nanti bisa bertemu atau saya nanti akan ke fakultas tuan. Agar lebih mudah, tuan.” Ucap Hee Young sopan. Namja di depannya langsung menatapnya.

“Kau kuliah di sana juga? Bagus sekali kalau begitu, bisa memudahkan pekerjaanku dan kau juga. Aku kuliah di jurusan IT. Tolong kau nanti beritahu aku tentang Universitas Seoul dan jalan yang ada di sana agar aku tidak salah jalan. Walaupun aku orang korea tapi aku besar di Amerika jadi harap kau memakluminya. Namaku Kim Junsu, panggil saja Junsu. Tidak usah terlalu kaku denganku, santai saja.” Ucap namja yang kini Hee Young tahu bernama Junsu. Ia mengangguk mengerti. Dilihatnya namja itu tengah berkutat dengan computer di ruangan itu.

“Nah gajimu untuk bulan ini sudah kukirim ke rekeningmu. Kalau kerjamu bagus akan kuberi bonus. Harap kerja yang baik. Aku tak mau terus menerus mengganti asisten setiap bulan.” Ucap Junsu.

“Se setiap bulan?” Ucap Hee Young tak percaya. Namja di depannya mengangguk.

“Asistenku sebelumnya bekerja sangat buruk dan tidak teliti. Kuharap kau tidak seperti itu.” Ucap Junsu sambil berdiri. Hee Young pun reflek ikut berdiri. melihat namja itu akan keluar ruangan Hee Young mengikutinya dari belakang.

“Ah iya, kau libur setiap sabtu dan minggu. Nah selamat bekerja dan tolong segera urus kepindahanku segera. Ah iya catat no.ponselku.” Hee Young dengan cepat mengeluarkan ponselnya untuk mencatat no.ponsel bos barunya itu.

“No.ponselmu hanya ada satu yang tertera di data kan?” Tanya Junsu memastikan.

“Ne, tuan.” Jawab Hee Young cepat.

“Bagus. Aku ada urusan dan kau lakukan pekerjaanmu dengan baik. Selamat bekerja.” Ucap Junsu lagi lalu melangkah pergi. Hee Young membungkukkan badannya.

“Khamsahamnida tuan.” Ucap Hee Young. Setelah melihat bos barunya itu pergi sontak Hee Young melompat senang. Tak lama Hyo Rim menghampirinya sambil tersenyum.

“Bagaimana? Sepertinya kalau kulihat dari senyummu kau di terima ya?” Hee Young mengangguk lalu ia mendapatkan pelukan dari Hyo Rim.

“Chukae.”

“Gumawo, Hyo Rim-a.” Tak lama keduanya melepaskan pelukan mereka. Hee Young berpamitan pada Hyo Rim dan yeoja itu mengantarkannya.

“Mmmm Hyo Rim, benarkah kau menganggapku sebagai teman?” Tanya Hee Young.

“Tentu saja memangnya kenapa?” Hyo Rim menatap Hee Young bingung.

“Ah anni hanya bertanya saja karena aku selama ini tidak mempunyai teman. Di kampus pun aku di jauhi dan orang-orang menyebarkan gossip kalau aku seorang lesbian karena aku pernah mengatakan kalau aku tidak suka berdekatan dengan namja.” Ucap Hee Young sambil tersenyum tipis. Hyo Rim terlihat cukup kaget dengan ucapannya.

“Kenapa bisa begitu? Mau menceritakannya padaku?” Tanya Hyo Rim. Hee Young pun dengan ragu mulai menceritakan semuanya pada Hyo Rim. Semua kejadian yang pernah ia alami.

“Kuharap setelah mendengar ceritaku tadi tidak ikut menjauhiku.” Ucap Hee Young sambil tertunduk. Sedetik kemudian ia mendapatkan pelukan dari Hyo Rim.

“Aku tidak akan sekejam itu, Hee Young-a. Aku tak menyangka kalau kau mengalami hal seperti itu. dulu aku sempat berpikiran buruk tentangmu dan sekarang aku tahu itu semua salah, mianhae.” Ucap Hyo Rim. Hee Young merasakan kalau yeoja itu menangis. Ia tersenyum tipis lalu menepuk pelan punggung temannya itu.

“Kenapa jadi kau yang menangis? Seharusnya akan aku.” Ucap Hee Young. Hyo Rim melepaskan pelukannya lalu memukulnya pelan.

“Kau ini tetap saja menyebalkan. Orang sedang sedih malah berbicara seperti itu.” ucap Hyo Rim sambil menghapus air matanya.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Tuan muda sudah memberiku tugas pertama. Nanti kita makan bersama ya. Annyeong. Terima kasih banyak ya. Berkat kau, aku mendapatkan pekerjaan tetap.” Ucap Hee Young sambil berjalan pergi.

—-

“Kemana yeoja itu?” Gumam Yunho sambil mencari Hee Young ke sekeliling kampus. Ia berdecak esal berkali-kali karena tidak bisa menemukan yeoja itu.

“Ah itu dia.” Ucap Yunho saat menemukan yeoja itu tapi saat ia akan memanggil Hee Young, yeoja itu terlihat sedang terburu-buru. Yunho mengikuti yeoja itu dari belakang. Ia mengerutkan dahinya saat melihat yeoja itu masuk ke ruang yang khusus menangani perpindahan para mahasiswa.

“Jangan bilang kau mau pindah.” Gumam Yunho takut. Ia menunggu yeoja itu keluar dari ruangan itu.

“Akhirnya selesai juga.” Ucap Hee Young setelah selesai mengurus kepindahan Junsu. Tak lama ia melihat Yunho berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Namja itu menghampirinya saat melihatnya keluar ruangan. Yunho memegang kedua bahunya dan menatapnya lekat.

“Singkirkan tanganmu.” Ucap Hee Young dingin.

“Jangan bilang kau sedang mengurus kepindahanmu dari kampus ini? Kau tidak pindah kan?” Tanya Yunho.

“Kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa?” Tanya Hee Young. Namja itu semakin erat memegang kedua bahunya sampai Hee Young merasa kesakitan.

“Ya! Appo!” Teriak Hee Young. Sontak Yunho melepaskan tangannya dari bahu Hee Young.

“Mianhae.” Ucap Yunho menyesal.

“Jangan pindah kumohon. Aku tak mau kau pindah. Ah atau katakan kau pindah kemana biar aku juga ikut pindah.” Ucap Yunho.

“Kalau aku pindah dan memberitahumu itu sama saja bohong. Tidak ada gunanya aku pindah.” Ucap Hee Young. Ponsel Hee Young berbunyi dan ia langsung mengangkatnya saat melihat Junsu yang menelepon.

“Ne sudah. Ah baik saya akan kesana.” Hee Young menutup teleponnya lalu pergi tapi langkahnya terhenti karena ditahan oleh Yunho. Ia berbalik dan menatap namja itu tidak suka.

“Jangan ganggu aku. Aku sibuk.” Ucap Hee Young. Ia menepis tangan Yunho lalu berlari ke depan kampus.

Hee Young menatap ke sekeliling mencari Junsu. Namja itu tadi menelepon Hee Young dan menanyakan tentang kepindahannya. Saat menemukan Junsu, Hee Young langsung menghampiri namja itu dan memberikan berkas-berkas.

“Sudah selesai tuan. Di dalamnya sudah ada jadwal kuliah tuan yang akan di mulai besok.” Ucap Hee Young. Namja itu melihat jadwal kuliahnya.

“Bagus. Kau ada kuliah hari ini?” Tanya Junsu.

“Kuliah saya sudah selesai hari ini, tuan.” Jawab Hee Young.

“Kau antarkan aku berkeliling kampus ini sekarang.” Ucap Junsu lalu berjalan. Hee Young mengangguk dan mengikuti namja itu dari belakang.

“HEE YOUNG-A.” Teriak Yunho lalu menghampiri Hee Young.

Hee Young membelalakan matanya saat Yunho berteriak dan menghampirinya. Ia menatap tajam namja itu yang tengah mengautr nafasnya.

“Kau sedang apa? Dan siapa dia? Apa dia yang menyuruhmu pindah dari kampus?” Tanya Yunho sambil menunjuk Junsu. Dengan cepat Hee Young menurunkan tangan Yunho yang sedang menunjuk pada bos barunya itu.

“Maafkan teman saya yang tidak sopan ini.” Ucap Hee Young meminta maaf sambil membungkukkan kepalanya.

“Mmm kuberi kau waktu 10 menit.” Ucap Junsu lalu pergi, ia tak mempedulikan tatapan tajam dari namja yang bersama Hee Young.

Melihat bosnya sudah pergi sedikit jauh Hee Young langsung memukul Yunho cukup keras. Ia tak peduli dengan rintihan yang keluar dari mulut namja itu.

“Kau itu menyebalkan sekali sih?” Omel Hee Young sambil terus memukul Yunho.

“Mian mian habisnya kau dekat-dekat dengan namja itu dan mau pindah kuliah.” Ucap Yunho membela diri, ia menahan tangan Hee Young yang terus memukulnya.

“Jangan pindah kumohon. Dan jelaskan padaku siapa namja itu.” pinta Yunho dengan sangat. Hee Young menahan tawanya mendengar ucapan namja itu yang masih mengira ia akan pindah.

“Jangan pindah?” Yunho langsung mengangguk cepat mendengar ucapan Hee Young.

“Hei cepat, aku tidak ada waktu menunggu lagi.” Teriak Junsu membuat Hee Young menoleh pada bosnya.

“Ne, sebentar.” Teriak Hee Young. Saat akan meninggalkan Yunho, Hee Young di tahan oleh namja itu.

“Lepaskan.” Ucap Hee Young sambil berusaha melepaskan tangannya. Namja itu menatapnya sendu.

“Aish! Ya!” Hee Young mendekat menatap Yunho lekat.

“Siapa yang bilang aku mau pindah hah?”

“Tapi kenapa kau tadi …”

“Ya! Aku kesana belum tentu aku yang pindah. Jangan membuat spekulasi sendiri. Aku kesana mengurus kepindahan Junsu.” Ucap Hee Young sambil melirik Junsu. Tak lama ia kembali menatap Yunho, Hee Young memegang kedua pipi namja itu dan ia tekan sehingga bibir namja itu sedikit monyong *?*

“Satu hal lagi, kumohon berhenti mengikutiku setiap hari. Kalau perlu jangan mengikutiku lagi. Aku sangat terganggu, apa lagi kau itu sangat bawel. Sudah playboy, jelek dan sangat berisik.” Ucap Hee Young.

“Jelek?” Ucap Yunho tidak terima. Hee Young menghela nafas lalu mengarahkan wajah namja itu pada kaca jendela mobil yang ada di sampingnya. Kedua tangan Hee Young masih memegang pipi Yunho.

“Kau tidak sadar kalau kau itu jelek? Lihatlah di kaca ini, kau sangat jelek di tambah kau sangat bawel. Tak ada bagus-bagusnya dari dirimu. Kau jangan terlalu percaya diri, playboy jelek.” Ucap Hee Young lalu pergi meninggalkan Yunho.

“Ya! Aku ini tampan bukan jelek.” Teriak Yunho tidak terima. Hee Young berbalik lalu memeletkan lidahnya pada Yunho tanda kalau ia tidak perduli dengan ocehan namja itu.

“Aku tidak peduli. Yang kutahu kau itu playboy jelek.” Balas Hee Young lalu berlari pada Junsu yang sudah menunggu.

“Aish! Yeoja itu. Awas kau. Eh tapi tadi dia menyentuh pipiku dan memeletkan lidahnya padaku.” Ucap Yunho sambil tersenyum. Ia memegang pipinya.

“Ini pertama kalinya Hee Young seperti tadi. Apa dia mulai bisa menerimaku ya? Ah senangnya.” Yunho tersenyum senang tapi tak lama senyumannya itu hilang teringat oleh namja tak ia kenal yang dekat dengan Hee Young. Dengan cepat ia membuntuti Hee Young dan namja itu.

—-

Hee Young mengantar Junsu keliling kampus dan memberitahukan semua hal di kampus itu. Ia sangat gugup dan kegugupannya itu membuatnya beberapa kali salah menjelaskan pada bosnya. Junsu duduk di kantin kampus dan Hee Young masih tetap berdiri. Ia duduk setelah bosnya menyuruh ia untuk duduk.

“Pekerjaan seperti ini pertama kalinya untukmu?” Tanya Junsu.

“Ne, tuan. Mianhamnida tadi saya banyak melakukan kesalahan saat menjelaskan tentang kampus ini.” Ucap Hee Young sambil membungkuk.

“Pantas saja. Tidak apa, kau santai saja. Tidak usah gugup. Bisa kau rekomendasikan makanan dan minuman apa di kantin ini yang enak?” Ucap Junsu sambil melihat sekeliling kampus. Hee Young mengatakan makanan dan minuman yang terkenal di kampusnya itu.

“Bisa tolong pesankan satu untukku? Kau juga pesan biar kita makan bersama disini. Dan ini pegang. Agar kau mudah melakukan tugasmu jika kusuruh. Kau aturlah sendiri cara agar kau tidak kesulitan.” Ucap Junsu memberikan dompet yang cukup tebal. Hee Young menerimanya dan membukanya. Ia membelalakan matanya saat melihat dompet itu berisi beberapa kartu, uang dll.

“Se sebanyak ini tuan?” Tanya Hee Young.

“Ne. Nanti sewaktu-waktu kau akan kusuruh membeli sesuatu dan mendadak jadi peganglah.” Ucap Junsu.

“Ne.” Ucap Hee Young lalu pergi memesan pesanan bosnya itu.

Setelah memesan dan membayar ke kasir Hee Young membawa nampan berisi pesanannya dan bosnya. Ia melirik ke arah kanannya dan melihat Yunho membuntutinya. Ia berdecak kesal. Sampai di meja ia memberikan pesanan bosnya lalu meminta izin untuk keluar sebentar. Beruntung bosnya sangat baik jadi ia dengan mudah mendapat izin. Dengan cepat Hee Young keluar dan menarik Yunho. Ia membawa namja itu ke tempat yang sedikit agak sepi. Ruang olah raga.

“Kau itu kenapa?” Tanya Hee Young kesal.

“Siapa dia?” Tanya Yunho tanpa menjawab pertanyaannya.

“Jawab pertanyaanku.”

“Aku cemburu. Puas? Aku memang bukan namjachingumu tapi aku sudah bilang padamu kalau aku mencintaimu dan jika kau membenciku dan tidak mencintaiku tolong katakan padaku agar aku bisa menjauhimu dan tak lagi menganggumu. Jangan seperti ini padaku, kau seolah-olah memberikanku harapan.” Ucap Yunho.

“Tapi bisa kan tidak membuntutiku saat sedang bersama Junsu?” Ucap Hee Young kesal.

“Dia namjamu?” Reflek Hee Young menggelengkan kepalanya. Yunho menatapnya dengan tatapan yang menurut Hee Young mencurigainya.

“Sama sekali bukan namjachinguku. Dia itu bosku, aku baru mendapatkan pekerjaan darinya hari ini. Mulai hari ini aku asistennya.Puas?” Hee Young berdecak kesal.

“Berikan buktinya.” Pinta Yunho.

“Bukti?” Hee Young sedikit kebingungan karena ia tak ada bukti untuk di tunjukan pada Yunho.

“Ne bukti kalau dia bukan namjachingumu dan bukti kalau kau memberikanku harapan. Beri aku sedikit kejelasan.” Ucap Yunho serius. Hee Young menelan ludahnya sendiri saat mendengar ucapan Yunho dan tatapan namja itu.

“Tapi apa?” Gumam Hee Young. Ia terus menatap Yunho untuk mencari ide. Tak lama ia mendapatkan ide gila.

‘Apa harus melakukan itu?’ Batin Hee Young ragu.

Sedetik kemudian Hee Young mencium bibir namja itu, tangannya meremas kaos yang di pakai Yunho. Tangan dan semua tubuhnya bergetar karena takut. Ia takut karena kembali teringat kejadian dulu saat ia hampir di perkosa. Tak lama ia melepaskan ciumannya. Hee Young berusaha mengontrol tubuhnya yang masih bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya lalu memberanikan diri menatap Yunho. Hee Young melihat namja di depannya masih terlihat kaget dengan ciumannya yang tiba-tiba.

“A ak aku hanya bi bisa memberikan bukti seperti itu. Ci ci ciuman itu bu bukan ciuman pertamaku ta tapi ka kau na namja pertama yang kucium. Ci ci ciuman pertamaku di diambil o ol oleh nam namja brengsek ya yang hampir memperkosaku dulu. Mi mi mianhae.” Ucap Hee Young terbata-bata. Ia memundurkan langkahnya saat Yunho  mendekat.

“Ja jangan mendekat. Tu tubuhku ko kotor, nam namja itu sudah menciumi tu tubuhku na namja itu.” Ucap Hee Young mulai tak jelas. Yunho menarik Hee Young ke dalam pelukannya, hatinya sangat sakit saat mendengar ucapan yeoja itu. Hati Yunho bertambah sakit saat merasakan tubuh Hee Young bergetar hebat.

“Le lepaskan aku. Tu tu tubuhku kotor. Ja jangan mencintai ye yeoja se sepertiku.” Yunho mengeratkan pelukannya mendengar ucapan Hee Young.

“Bagiku kau tidak kotor jadi berhenti berkata seperti itu.” Ucap Yunho. Ia melepaskan pelukannya dan sedikit membungkukan badannya agar sejajar dengan Hee Young. Di hapusnya air mata yang mengalir di pipi yeoja itu.

“Mianhae aku membuatmu seperti ini tapi gumawo kau sudah memberikanku sebuah kejelasan.” Ucap Yunho lembut.

“K ka kau juga ha harus me membuktikan kalau kau tidak main-main denganku.” Pinta Hee Young.

“Mmm itu pasti. Kalau begitu mulai sekarang kita tahap pendekatan, ok? Kuharap kau bisa mencintaiku. Dan satu hal yang kuminta darimu. Jangan menutupi apapun tentang dirimu dan masa lalumu.” Hee Young mengangguk pelan. Yunho tersenyum lalu memeluk yeoja itu erat. Ia akan berusaha membuat Hee Young berubah menjadi yeoja menyenangkan, tidak dingin lagi dan berusaha agar yeoja itu melupakan kenangan pahitnya dulu. Yang terpenting Yunho akan berusaha membuat yeoja itu mencintainya.

Ciuman tadi memang membuat Yunho senang tapi ia sadar kalau itu bukan berarti Hee Young mencintainya. Ciuman tadi pun membuatnya merasa bersalah karena membuat yeoja itu teringat masa lalunya yang buruk.

TBC

mau di lanjut? silahkan komen.

13 thoughts on “Because I Love You Part 2

  1. karina berkata:

    omygod ff ini sangat aku tunggu bgt , , , kirain tad bos nya it jaejoong . . Dan stelah baca brusan jad pngen cpet lanjutan nya jadi d tnggu yah keren bgt bgt bgt suka dh . . .

  2. yunho akhir y dikasi kesempatan juga ma hee young,,,, hee young y udah berani main cium yunho aja walaupun dia harus ngadepin trauma y tu tapi tu ngebiktiin klo dia aa perasaan ma yunho,,,,n yunho tobat jadi playboy….
    kirain bos y tu jaejoong q dah mikir kesana ja n nyari kapan nama bos y ‘jaejoong’ disebut tau y Junsu yg disebut sbg bos y….
    Lanjut…….

  3. desi retina berkata:

    Eonni dah lama g berkunjung ke blok eonni eh nemu ff keren buatan eonni
    Sumpah dilanjut donk eon keyen bgt Ceritanya buat lebih kuat lg biar tambah penasaran hehehe ^^

  4. eonni udah lama aku nunggu lanjutan ff ini sampe aku lupa sama cerita part sebelumnya dan sampe aku baca ulang -.-

    aku ngira itu boss jaejoong bukan boss junsu.. hahaha
    trus nnti si heeyoung bakalan pacaran sama yunho kan?
    junsu g bakalan ngerusak hubungan yunho sama heeyoung kan??
    ah penasaran..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s