Love Sick chapter 3


Tittle         : Love Sick

Genre        : AU/ Angst, Family, Romance

Rating       : NC/17

Lenght       : 3 of ??

Main Cast  : Park Yoochun, Kim Jaejoong, Park Yoon Rie & Park So Jin (Girls day)

Other Cast : Jung Yunho as Jaejoong’s brother, Kim Junsu, Seo Ji Eun, Shim Changmin, Kim Jun Mi, Shim Min Ah and others

Author       : Satsukisorayuki

Disclaimer : The fanfic is mine (Plot is my own). Inspirasi author dapat dari lagu-lagu, dan realita kehidupan manusia.

A/n : Fanfic ini menceritakan tentang perjalanan hidup manusia sekaligus cerita fiktif yang muncul dari otak sendiri yang author karang sedemikian rupa. Fanfic yang berisi tentang cinta, harapan, kasih sayang dan perjuangan hidup.

Happy Reading?! ^^

 

Chapter 3

=> Previous chapter

“Jangan seenaknya ya! Aku ini kan hanya menyukaimu oppa! Aku tak’kan pernah bisa membuka hatiku untuk namja lain karena sejujurnya sejak dulu perasaanku padamu tidak pernah berubah. Aku jatuh cinta padamu!” tegas Yoon Rie,

Yoochun tersentak kaget mendengar pengakuan Yoon Rie, diremasnya dada kirinya yang kembali terasa sangat sakit dan bersamaan dengan itu keringat dingin mengucur membasahi wajahnya.

“Mwoo?” teriak seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam

“Appa!” kaget Yoon Rie

Park In Woo menatap putrinya tajam. Sementara itu peluh mulai menghiasi wajah Yoon Rie. Dia bukan hanya kaget tetapi juga tegang sekaligus takut. Yoon Rie semakin gelisah saat ayahnya terlihat menggelengkan kepalanya.

>>>>>.<<<<<

=> Author POV

“Yoon Rie, nanti kita bicarakan ini dirumah! Sekarang, keluar!” tegas In Woo

“Wae, appa?” tanya Yoon Rie dengan airmata berlinang

“Aku harus memeriksa kakakmu lagi, jadi cepat kau keluar sana!” tegas In Woo dan Yoon Rie pun menurut

Yoochun masih meremas kuat dada kirinya yang semakin sakit. Dia terlalu kaget dengan apa yang terjadi hari ini. Di satu sisi dia memang merasa bahagia karena dia tak pernah menyangka bahwa perasaan Yoon Rie ternyata sama dengannya namun di sisi lain dia begitu shock karena tiba-tiba saja ayah mereka muncul dan mendengar pembicaraannya dengan Yoon Rie tadi.

“Apa-apaan anak itu, bisa-bisanya dia jatuh cinta pada kakaknya sendiri!” ujar In Woo

“Aarrgghhh” tiba-tiba Yoochun berteriak kesakitan

In Woo mengalihkan pandangannya ke arah Yoochun yang kini sedang meringis sambil berguling-guling di ranjang dengan tangan kanannya yang masih meremas dada kirinya.

In Woo dengan sigap segera memberikan pertolongan pertama. Yoochun mulai tenang setelah diberi suntikan obat penghilang rasa sakit dan In Woo pun tersenyum padanya.

“Sudah merasa lebih baik?” tanyanya

“Ne. Appa, tadi itu rasanya sakit sekali. Mungkinkah aku tidak bisa pulih lagi?”

“Aku sendiri tidak yakin tapi Yoochun-a kau tidak boleh menye…”

“Sudah separah apa?” potong Yoochun

In Woo mengenggam tangan Yoochun erat dan air mata Yoochun mulai mengalir membasahi pipinya.

“Nak, kamu harus kuat ya? Appa akan usahakan agar kau bisa segera melakukan operasi secepatnya!” ujar In Woo sambil membelai rambut Yoochun.

“Begitukah? Jadi sudah saatnya?”

“Nde, makanya sampai saat itu tiba putera appa harus tetap kuat! Bertahanlah, nak!”

“Bagaimana jika aku tidak kuat lagi?”

Yoochun menatap wajah ayahnya dengan mata berkaca-kaca. In Woo memejamkan matanya sesaat dan air mata In Woo akhirnya terjatuh tak tertahankan.

“Tidak, jangan katakan itu! Appa percaya kau akan berhasil melewati semua ini. Kau akan segera sembuh, nak!” tegas In Woo

Yoochun memejamkan matanya dan tiba-tiba dia teringat akan Jaejoong,

“Appa, mukjijat itu apakah benar-benar ada?” tanyanya.

“Tentu, nak. Mukjijat itu nyata bagi setiap orang yang mempercayainya!” ujar In Woo

In Woo segera menghapus air matanya karena sebagai seorang dokter dia dituntut untuk selalu bersikap profesional apapun yang terjadi.

“Apa menurutmu mukjijat itu akan terjadi padaku?”

In Woo tersenyum dan menjawab pertanyaan puteranya,

“Selama kau mempercayainya Tuhan pasti akan menurunkan mukjijatnya untukmu.”

“Seandainya aku percaya tetapi keajaiban seperti itu tidak pernah terjadi padaku karena sudah takdir mutlak, apa yang akan kalian lakukan?”

In Woo memalingkan wajahnya. Ucapan Yoochun barusan benar-benar mengena sampai ke hati, membuat In Woo tak berani untuk menatap mata puteranya lagi.

“Ara, kalian tidak bisa merelakanku pergi bukan?” tanya Yoochun namun ayahnya sama sekali tidak menyahut.

“Appa, aku punya permintaan. Apa kau mau mendengar permintaanku?”

In Woo kembali menoleh pada Yoochun dengan susah payah dia melukiskan sebuah senyum.

“Nde, katakan saja nak!”

“Aku memiliki seorang teman. Dia juga sakit parah. Selama ini aku selalu merepotkan kalian semua. Aku hanya menjadi beban appa dan eomma saja, makanya sebelum aku meninggal nanti aku ingin berguna untuk orang lain. Jika aku meninggal lebih dulu dari Jaejoong, kumohon berikan ginjalku untuknya!”

“Mwoo?” kaget In Woo

“Appa ginjalku sangat sehat, kan?”

“Memang benar Yoochun, keunddae….”

“Appa aku kan sudah bilang, aku hanya akan memberikan ginjalku jika aku diharuskan meninggal lebih dulu darinya. Aku dan dia sama-sama sekarat appa tapi walaupun aku harus pergi asalkan dia bisa sembuh, aku akan sangat bahagia.” jelas Yoochun sambil tersenyum

Saat ini In Woo merasa ingin sekali berteriak kencang. Kenapa puteranya seperti sudah kehilangan semangat hidup padahal dia selalu meyakinkan Yoochun bahwa dia pasti akan sembuh?

“Yoochun, mendonorkan ginjal itu tidaklah mudah. Di Rumah Sakit ini ada banyak sekali pendonor ginjal tetapi jika ginjal itu tidak cocok untuk pasien yang membutuhkannya, hal itu tidak akan berguna!” jelas ayahnya

“97%, appa. Kecocokan ginjalku dengannya 97%. Aku melakukan test itu kemarin dan dokter Lee mengatakan, dia sangat terkejut karena kecocokan ginjal kakaknya dengan Jaejoong bahkan hanya 93% saja!”

“Jengmalyo?” In Woo semakin terkejut.

Yoochun berusaha bangkit dari posisi berbaringnya untuk duduk dan In Woo membantunya. Yoochun membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat lalu menyerahkannya kepada In Woo.

In Woo merobek bagian atas amplop itu dan mengeluarkan berkas yang ada di dalamnya.

“Itu surat penyerahan organ jika sesuatu terburuk terjadi padaku. Tolong tandatangani itu appa, jebal!”

“Kau serius ingin melakukan ini?” tanya In Woo. Yoochun mengangguk pasti.

“Kenapa kau ingin melakukannya? Memangnya sudah berapa lama kau mengenal temanmu itu, hm?”

“Belum lama.”

“Kau belum lama mengenalnya tetapi kau rela menyerahkan organ ginjalmu padanya? Ini sangat gila, nak. Kau tidak bisa melakukan itu karena kau bukan pendonor yang baik!” bentak In Woo

“Appa ini bicara apa? Jika dalam keadaan hidup aku memang bukan pendonor yang baik, tetapi kalau aku sudah meninggal kan beda lagi ceritanya. Aku sangat mengerti rasa sakit dan penderitaannya karena aku sendiri juga sakit. Appa jebal, anggap saja ini permintaan terakhirku!”

In Woo menatap Yoochun dan berkas itu bergantian. Dia berpikir keras.

“Appa, aku janji tidak akan pernah menyerah. Aku janji akan terus bertahan sampai ada donor jantung untukku karena aku juga masih ingin hidup lebih lama lagi. Itu hanya akan kulakukan jika aku tidak bisa bertahan!” tegas Yoochun

In Woo mengangguk mengerti. Dia pun mengambil pulpennya dan menandatangani surat itu.

“Kamsahamnida appa,” ujar Yoochun sambil tersenyum senang.

“Yoochun kau harus ingat itu baru tandatanganku saja, ibumu belum tentu setuju begitupula dengan temanmu itu.”

“Arraseo, nanti akan kujelaskan ini pada eomma. Kurasa tandatangan appa saja sudah cukup. Aku tinggal meminta tandatangan Jaejoong,” sambung Yoochun.

“Apa menurutmu dia akan mau menandatangani itu? Kurasa jika dia juga menganggapmu sahabatnya, dia tidak akan mau menerima ginjalmu.”

“Dia harus mau! Aku akan memaksanya!” jawab Yoochun

“Keras kepala,” gerutu In Woo.

Yoochun hanya tersenyum mendengar ocehan ayahnya lalu dia kembali teringat pada Yoon Rie.

“Appa,”

“WAE?” bentak In Woo kesal.

“Soal Yoon Rie, kumohon nanti appa jangan memarahinya!”

Mendengar ucapan Yoochun itu, In Woo menjadi semakin kesal. Dia benar-benar tidak bisa menahan kemarahannya lagi.

“Dia mencintaimu, kupikir tidak pantas seorang adik mencintai kakaknya sendiri. Aku akan menyuruhnya untuk melupakan perasaannya itu!” bentak In Woo pula

“Bukan cuma Yoon Rie, sebenarnya diam-diam aku juga jatuh cinta pada Yoon Rie. Mianhae appa,” beber Yoochun.

“Mwo? Kau becanda, kan?”

“Anieyo.”

“Astaga, walaupun kau bukan putera kandungku kau tetap putraku karena semenjak kami mengadopsimu kami sudah memasukkanmu kedalam daftar keluarga. Kami mengangkatmu sebagai putera kami bukan untuk menjadi pacar apalagi suaminya tetapi untuk menjadi kakaknya! Jadi jangan pernah mencintai Yoon Rie! Lupakan dia! Kau harus tetap menjadi kakaknya, arraseo!”

Bentakkan keras In Woo itu membuat jantung Yoochun kembali terasa sakit dan disaat yang bersamaan Yoochun juga merasa sedih karena ternyata mencintai Yoon Rie memang mustahil, walaupun dia dan Yoon Rie saling mencintai sampai kapanpun kedua orangtua mereka tidak akan pernah merestui hubungan mereka. Obat penghilang rasa sakit yang tadi disuntikkan oleh ayahnya seakan tidak ada pengaruhnya sama sekali.

“Cukup! Aku…” perkataan Yoochun terhenti karena rasa sakit itu semakin menyiksanya,

“Yoochun-a, mianhae karena emosi appa jadi lupa untuk tidak bersikap keras padamu!” ujar in Woo dan bersamaan dengan itu tiba-tiba Yoochun tak sadarkan diri.

>>>>>.<<<<<

‘Plaakk!’ tamparan keras melayang pada pipi Yoon Rie membuat pipi Yoon Rie membiru dan sudut bibirnya berdarah. Wajah In Woo yang marah tampak bagai monster yang sangat menakutkan.

“BISA-BISANYA KAU MENCINTAI KAKAKMU SENDIRI! INI SANGAT TIDAK BERMORAL!” teriak In Woo

Yoon Rie hanya menangis menanggapi kemarahan ayahnya itu. Mendengar keributan dan isak tangis Yoon Rie, Ny.Eun Hye datang menghampiri mereka.

“Ada apa ini?” tanya Eun Hye dan dia terkejut melihat keadaan puterinya saat ini,

“Ya! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukul puterimu sendiri?” bentak Eun Hye tak terima.

“Aku tidak akan memukul anak itu tanpa alasan!” sanggah In Woo.

“Memangnya apa salah Yoon Rie? Kenapa kau menamparnya, hah?”

Yoon Rie yang tidak tahan melihat kedua orangtuanya bertengkar berlari kencang menuju kamarnya dan mengunci pintu itu sambil terus menangis.

“Ya! Dengarkan penjelasanku dulu! Tadi aku mendengar percakapan Yoochun dengan Yoon Rie dan anak itu bilang dia mencintai Yoochun!”

“Mwo? Maksudmu dia mencintai Yoochun sebagai….”

“Ne,” potong In Woo.

Eun Hye semakin shock, sendi-sendinya melemas. Dia memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing dan hampir terjatuh tetapi In Woo buru-buru menahan tubuh istrinya itu.

“Gwaenchanha?”

“Aigoo, kenapa anak itu bisa jatuh cinta pada Yoochun? Mana boleh kakak-beradik memiliki hubungan seperti itu, yeobo! Ini tidak pantas karena biarpun Yoochun bukan darah daging kita dia tetap putera kita! Kau harus melakukan sesuatu!”

“Jika hanya Yoon Rie saja yang mencintai Yoochun aku bisa melakukan apapun tetapi masalahnya Yoochun juga mencintai Yoon Rie. Itulah yang membuatku bingung setengah mati. Kondisi Yoochun saat ini sangat rentan dan jika aku memaksakan kehendak padanya entah apa yang akan terjadi?”

Eun Hye semakin shock. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa kedua anaknya bisa saling mencintai. Apakah mengangkat Yoochun sebai putera mereka merupakan sebuah kesalahan? Eun Hye juga bertanya-tanya sejak kapan perasaan seperti itu tumbuh di hati kedua anaknya? Telaga bening mulai terlukis di mata Eun Hye dan kepalanya semakin pening.

“Yoochun, sebelum aku meninggalkan Rumah Sakit kami terpaksa memasangkan banyak sekali alat bantu medis di tubuhnya karena kondisinya semakin memburuk. Yeobo, dia kritis!”

“Mwo?” kaget Eun Hye yang langsung kehilangan kesadarannya.

“Eun Hye-yah” teriak In Woo.

In Woo mennggendong istrinya ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Setelah itu dia kembali memeriksa kondisi istrinya.

‘Sepertinya darah tingginya kumat. Aigoo, apa harus aku lakukan pada kedua anak itu?’ pikir In Woo.

>>>>>.<<<<<

Yoon Rie membuka pintu kamar Yoochun dan tidak melihat siapapun di sana. Tentu saja kamar itu kosong karena Yoochun sudah lama sekali tidak menempati kamar itu. Yoon Rie naik ke atas tempat tidur Yoochun kemudian memandang foto Yoochun yang terpajang di dinding. Foto itu berukuran besar dan dalam foto tersebut Yoochun tengah tersenyum.

Yoon Rie mengulurkan tangannya dan ujung-ujung jarinya menyentuh gambar wajah Yoochun. Bulir-bulir bening terjatuh membasahi pipinya. Dia benar-benar ingin melihat wajah Yoochun lagi. Satu minggu telah berlalu. Dia sangat merindukan sosok namja yang sangat dicintainya itu.

“Oppa, appa bilang selama aku masih memiliki perasaan cinta terhadapmu aku tidak boleh menemuimu dulu. Oppa, neomu bogoshippo. Apa kau tahu betapa tersiksanya aku tanpa dirimu?”

Yoon Rie membaringkan tubuhnya di atas ranjang Yoochun. Dia memejamkan kedua matanya.

“Dulu aroma tubuh oppa masih tercium setiap aku tiduran di tempat tidurmu ini keunddae karena sudah lama sekali kau tidak pulang ke rumah, sekarang aku sudah tidak bisa mencium aroma tubuhmu lagi” gumam Yoon Rie.

Yoon Rie membuka kedua matanya lagi. Saat dia menoleh ke samping, dia menemukan sebuah gulungan kanvas yang diikat dengan pita berwarna merah tergeletak disana. Yoon Rie membuka gulungan itu, sontak Yoon Rie terduduk karena kaget. Ternyata lukisan itu adalah lukisan dirinya yang tengah tersenyum bahagia.

Yoon Rie tersenyum dengan air mata berlinang saat dia menemukan tulisan ‘Cheossarang (cinta pertamaku). Yoon Rie-a, neomu saranghae.’ diujung kanan kanvas itu. Yoon Rie sangat mengenali tulisan tangan itu sebagai tulisan Yoochun.

“Jadi kau juga mencintaiku, oppa?” tanya Yoon Rie,

Yoon Rie memeluk kanvas itu erat-erat. Saat ini dia benar-benar semakin merasa bimbang. Haruskah dia melupakan perasaannya terhadap Yoochun sesuai perintah kedua orangtuanya walaupun Yoochun juga mencintai dirinya?

>>>>>.<<<<<

Jaejoong berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit sambil menundukkan kepala, tiba-tiba tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang berada di hadapannya dan menyebabkan amplop cokelat yang ia pegang terjatuh.

“Chew song hamnida!” ucapnya cepat seraya membungkukkan tubuhnya

“Yaa! Memangnya kau tidak lihat tubuhku?”

“Mian, aku sedang terburu-buru,” sesal Jaejoong namun tetap tidak memandang orang yang telah ditabraknya.

“Kau bahkan tidak menyadari kalau ini adalah suaraku. Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan, Jae?” tanya orang itu.

Akhirnya Jaejoong pun mengangkat kepalanya dan menatap wajah namja itu,

“Yoochun-a” ujar Jaejoong.

Yoochun mengambil amplop yang dijatuhkan Jaejoong itu dan hendak membukanya.

“Andwe! Jangan dibuka!” tegas Jaejoong sambil mencoba mengambil amplop itu kembali, namun Yoochun tidak membiarkan tangan Jaejoong kembali meraih amplop itu.

“Ya! Kembalikan!” ujar Jaejoong,

“Ani. Aku mau lihat ini apa?”

“Park Yoochun, ayo kembalikan!” tegas Jaejoong.

“Bukankah kita teman? Kalau kau benar-benar menganggap aku temanmu kau tidak boleh menyembunyikan rahasia apapun dariku!” sambung Yoochun.

Jaejoong menghela nafas panjang, sepertinya setegas apapun dia meminta Yoochun untuk menyerahkan amplopnya kembali dia tak akan berhasil. Ia tahu Yoochun itu keras kepala, sama seperti dirinya. Dilihat sekilas pun Jaejoong sudah bisa menebak kalau Yoochun adalah tipe orang yang emosional dan egois. Ya, mirip sekali dengan orang itu—Seo Ji Eun— Ah, lagi-lagi ia teringat dengan yeoja itu. Seorang yeoja yang dari luar terlihat anggun, lembut, tegar dan optimis tetapi sebenarnya rapuh dan egois.

“Arraseo tapi setelah kau melihatnya tolong kembalikan itu padaku!”

“Ne,”

“Jangan lihat disini! Kajja, kita ke taman saja!” ajak Jaejoong.

Yoochun mengikuti langkah Jaejoong dan keduanya duduk di salah satu kursi yang ada didekat mereka. Dia pun mulai membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.

“Ini hasil pemeriksaan terbarumu, ya? Kenapa kau yang mengambilnya?”

“Hyungku masih kuliah dan kedua orang tuaku masih belum kesini. Makanya aku mengambilnya sendiri,” jelas Jaejoong.

Yoochun mengangguk mengerti, lalu mulai membaca isi berkas itu dan dia tampak kaget.

“Kau…”

“Wae?” tanya Jaejoong.

“82%? Benarkah kerusakan ginjalmu sudah mencapai 82%?”

“Bukankah semuanya sudah tertulis di sana? Kenapa kau masih bertanya padaku?”

“Kerusakan ginjalmu itu sudah sangat parah, Jae.”

“Ne, bukan akut lagi tetapi itu sudah kronis. Lalu kenapa?” tanya Jaejoong dengan wajah santai,

“Kudengar jika kerusakan ginjal sudah lebih dari 75% maka pasien harus sering melakukan cuci darah. Kau kuat sekali Jae, selain kemoterafi kau juga harus cuci darah.”

“Sudah, kembalikan itu padaku!” Jaejoong merebut amplop itu kembali.

Yoochun memasang deathglare pada Jaejoong dan itu sukses membuatnya risih. Tatapan itu mengingatkannya pada sosok Seo Joo Won—kakak kandung Ji Eun— Orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, sama seperti Yunho. Anehnya Jaejoong malah lebih menurut pada Joowoon daripada Yunho. Entahlah, mungkin karena sikap Joowon yang keras…kalau Yunho kan lebih lembut padanya. Sebenarnya kepribadian Joowon hampir sama seperti Yunho, ia namja yang sangat tegas, disiplin dan berjiwa pemimpin. Sosok yang dihormati, susah untuk dilawan namun lemah terhadap adiknya sendiri—sama seperti Yunho–. Itu karena Joowon sangat menyayangi Ji Eun. Begitupula dengan Yunho yang sangat menyayangi dirinya.

“Jae, kau memang kuat atau pura-pura kuat, hmm?” selidik Yoochun,

Jaejoong hanya tersenyum tipis,

‘Ya, mungkin aku harus berbagi dengannya lagi karena dia pasti akan langsung mengerti apa yang aku rasakan’ pikirnya. Setelah itu dia menceritakan semua yang selama ini ia pendam sendiri pada Yoochun, sebab sejak mereka bersahabat Jaejoong memang sudah menganggap Yoochun sebagai saudaranya.

“Aku pura-pura kuat. Sebenarnya aku sudah tidak kuat lagi tapi aku menyembunyikan semuanya karena aku tidak ingin mengambil apa yang menjadi milik hyungku lagi,” tegas Jaejoong.

“Pabo! Memangnya kau bisa terus berpura-pura seperti ini? Kepura-puraanmu itu tidak akan bertahan lama Jae. 82% itu sangat serius. Saat ini kau sudah sangat membutuhkan cangkok ginjal!” sambung Yoochun.

“Kau benar, aku memang sudah sangat membutuhkan itu. Sebenarnya sudah ada beberapa orang yang bersedia mendonorkan ginjalnya untukku tapi ginjal mereka semua tidak ada yang cocok denganku,” cerita Jaejoong.

“Apa kau benar-benar tidak ingin menerima ginjal kakakmu itu? Bukankah kau pernah bilang kalau dia sangat sehat? Kurasa tidak apa-apa jika kau mau menerima satu ginjalnya. Yunho hyung, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya dia pasti seorang pendonor yang baik dan memenuhi syarat.”

“Bagaimana kalau dia jadi sakit setelah aku mengambil satu ginjalnya? Aku tidak mau Yoochun. Aku ingin dia tetap hidup dengan normal. Dia sudah banyak sekali berkorban untukku sejak kami masih anak-anak.”

“Aku mengerti tapi saat ini kau sudah sangat membutuhkan ginjalnya!”

“Ya! Kenapa kau terus menerus mengatakan hal yang sama? Geurae, sekarang aku mau tanya padamu. Jika kau bisa menjawab pertanyaanku ini dengan tegas dalam waktu kurang dari 3 menit aku akan menerima ginjal hyung!”

“Benarkah? Kalau begitu cepat katakan pertanyaanmu itu!”

“Jika sahabatmu atau Yoon Rie mau mendonorkan organ jantungnya untukmu, apakah kau akan menerimanya?”

Yoochun langsung terdiam mendengar pertanyaan Jaejoong itu. Ia benar-benar merasa bingung, di satu sisi dia ingin sembuh dan meraih kebahagiannya namun di sisi lain dia merasa lebih baik dia mati daripada harus sembuh dengan mengorbankan nyawa orang-orang yang sangat disayanginya.

Jaejoong memperhatikan jam tangannya. Tiga menit telah berlalu dan Yoochun masih diam saja.

“Kau juga tidak bisa melakukannya bukan?” tanya Jaejoong pula

“Baiklah, aku tidak akan berusaha membujukmu lagi lagipula aku sudah punya rencana lain untukmu,” sambung Yoochun sambil tersenyum.

“Maksudmu apa Yoochun-a? Rencana apa?”

“Ra-ha-sia” jawab Yoochun.

“Ya!” protes Jaejoong tidak terima karena dia benar-benar merasa penasaran.

“Aku juga punya pertanyaan untukmu!”

“Mweoya?”

“Kita bicara tentang kemungkinan terburuk, ya? Seandainya aku meninggal, apa kau bersedia menerima ginjalku?”

Jaejoong terbelalak kaget. Ia pun menggelengkan kepalanya. Tak pernah sedikit pun ia berharap sahabatnya itu akan meninggal. Ia juga ingin melihat Yoochun sehat, melihatnya cepat sembuh.

“Kau tidak akan meninggal Yoochun-a. Kau akan sembuh!”

“Huh, so tahu! Sekarang penyakitku ini sudah mencapai tahap tiga yang berarti aku akan sesak nafas dan kesakitan walaupun hanya melakukan aktivitas ringan sekalipun! Aku dan tim dokterku saja tidak yakin kalau aku akan sembuh dan satu hal lagi, jika sekali saja aku tak meminum obatku…aku akan lebih cepat pergi. Ironis bukan?” sambung Yoochun sambil tertawa kecil.

“Kau akan sembuh karena jika aku meninggal lebih dulu darimu dan organ jantungku memungkinkan untuk didonorkan, aku akan memberikan jantungku ini untukmu!”

“Mwo? Hahaha, becandamu itu tidak lucu Jae! Bukankah kau mengidap ALL? Seandainya kau hampir mati sekalipun memangnya orang yang kena leukemia bisa mendonorkan jantungnya apa? Bagaimana kalau misalnya sebelum waktumu yang sempit itu habis kau sampai menderita perikarditis juga?” ujar Yoochun.

Sebenarnya Jaejoong sendiri tidak yakin, dialah yang paling tahu dengan kondisi tubuhnya sendiri. Ya, ia berkata demikian hanya agar sahabatnya itu tidak sampai kehilangan semangat hidupnya dan tetap optimis. Yoochun benar, cepat atau lambat penyakit kanker darah itu bisa menyerang semua organ vital yang ia miliki: limfa, liver, ginjal, paru-paru, bahkan jantung sekali pun, dan itu memang terbukti bukan…sekarang saja organ tubuhnya yang masih sehat hanya tinggal jantungnya. Jaejoong sangat paham bahwa harapan hidupnya memang sangatlah kecil, namun sampai sekarang ia masih percaya bahwa mukjijat itu nyata.

“Aku kan bilang jika bisa, ah kau ini” ujarnya.

“Jika tidak bisa, otte?”

“Aku akan mencarikan pendonor yang lain untukmu.”

“Gamsahamnida tapi kita ini kan sama-sama sakit, jadi lebih baik kau memikirkan kesehatanmu sendiri saja!” sambung Yoochun kembali memamerkan senyumnya.

“Baiklah tapi ada satu hal yang harus kau ingat Yoochun-a,”

“Ne?”

“Seandainya kau memang harus pergi lebih dulu daripada aku, aku tidak akan pernah mau menerima ginjalmu itu! Lagipula ginjalmu itu belum tentu cocok untukku, kan?” tegas Jaejoong sambil menatap Yoochun tajam.

“Dasar, kalau kau terus menerus bersikap seperti ini bagaimana kau bisa sembuh? Bukankah kau ingin sembuh, ha?”

“Tidak sembuh juga tidak apa-apa lagipula aku kan punya leukemia. Seandainya aku melakukan cangkok ginjal sekalipun aku belum tentu bisa menang melawan leukemiaku!”

“Mukjijat itu nyata bagi setiap orang yang mempercayainya dan karena kau percaya kalau mukjijat itu ada, kau mungkin akan mendapatkan mukjijat itu dan leukemiamu akan sembuh total! Jadi mau tidak mau kau harus menerima ginjalku!” tegas Yoochun.

“Yoochun, jangan-jangan rencanamu itu…”

“Ne, jika aku meninggal lebih dulu aku akan memberikan ginjalku untukmu dan ayahku juga sudah menyetujuinya. Kajja, ikut aku!”

Jaejoong yang masih shock dan tidak bisa berkata apa-apa lagi mengikuti langkah Yoochun dengan pandangan kosong. Setelah keduanya sampai di kamar Yoochun, Yoochun mengambil surat yang sudah ditandatangani ayahnya dan menyerahkan surat itu pada Jaejoong.

“Jebal tandatangi ini untukku,” pinta Yoochun.

“Aku tidak mau. Wae, kita belum lama berteman tapi kenapa kau malah melakukan ini?” tolak Jaejoong.

“Kau lupa ya? Aku kan sudah bilang kalau aku hanya akan melakukan ini jika aku meninggal lebih dulu darimu.”

“Biarpun begitu, tetapi kenapa ha? Kenapa kau harus melakukan ini?” bentak Jaejoong.

“Aku ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk sahabatku sebelum aku pergi.”

“Ginjalmu itu bukan hanya sesuatu yang berharga tetapi juga sesuatu yang sangat aku butuhkan, jadi bagaimana bisa aku….bagaimana bisa aku membalas kebaikanmu nanti?”

“Asal kau bahagia itu sudah lebih dari cukup. Tunggu apa lagi, cepat tandatangan! Kecocokannya 97% lho,” sambung Yoochun menyodorkan sebuah pulpen kepada Jaejoong.

Jaejoong memegang pulpen itu dengan gemetar. Ia kembali menatap Yoochun yang masih tersenyum. Jaejoong memejamkan matanya. Ia sama sekali tidak berharap menerima ginjal Yoochun karena ia sendiri juga tidak ingin Yoochun meninggal. Ia hanya ingin Yoochun sembuh total dan selalu sehat.

“Aku janji tidak akan menyerah tetapi semuanya kan tergantung nanti dan jika aku memang sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan…aku rela memberikan kedua ginjalku untukmu!” bujuk Yoochun lagi.

“Pokoknya kau harus bertahan. Kau harus sembuh! Aku tidak mau tahu!”

“Ne, aku akan berusaha.”

“Jeongmal kamsahamnida.”

Jaejoong akhirnya menyerah, ‘dasar keras kepala…benar-benar mirip dengan dia’ pikirnya. Ia pun menandatangini surat itu dengan setetes air mata yang jatuh tak terkontrol. Sementara itu Yoochun tersenyum bahagia walaupun ia sendiri tidak tahu siapa yang akan meninggal lebih dulu. Apakah dirinya ataukah Jaejoong?

“Aku harap kita berdua panjang umur. Kau harus sembuh total begitu juga aku. Kita harus bahagia Yoochun-a,” lanjut Jaejoong.

“Ne, ayo kita berusaha. Fighting!” sambung Yoochun dan Jaejoong kembali tersenyum.

“Ne, pokoknya kau jangan pernah berkata kalau kau takut umurmu tidak lama lagi!” balas Jaejoong.

Yoochun mengangguk, walaupun sebenarnya dia sangat takut sebab belakangan ini dia semakin yakin kalau hidupnya tidak lama lagi.

‘Mianhae Jaejoong-a, sebenarnya aku sangat takut sebab keadaanku sudah semakin parah tapi aku janji akan bertahan lebih lama!’ ujar Yoochun dalam hati.

“Yoochun-a, kalau di pikir-pikir kita berdua ini sangat egois ya?”

“Apa maksudmu?” Yoochun heran dan mengerutkan kening,

“Jangan munafik! Kau tak jauh berbeda denganku yang mengharapkan seseorang memberikan organ tubuhnya hanya untuk memperpanjang umurku,” jelas Jaejoong.

Yoochun yang baru mengerti apa maksud perkataan Jaejoong tadi akhirnya tersentak kaget, kenapa ia baru menyadari hal itu sekarang?

“Kau benar juga. Aku bahkan lebih buruk darimu…karena yang kubutuhkan adalah organ jantung baru yang lebih sehat sebagian hatiku sangat mengharapkan kematian seseorang. Kenapa aku baru sadar kalau aku ini sangat egois ya? Aku hanya mempedulikan diriku sendiri padahal jika seandainya ada pendonor yang sukarela memberikan organ jantungnya untukku keluarganya pasti akan sangat sedih dan merasa kehilangan.”

“…tapi aku jadi tersadar akan satu hal, Yoochun-a.”

“Apa itu?”

“Saat seseorang mendapatkan kehidupan maka seseorang yang lain akan kehilangan hidupnya karena siapapun pasti akan mati…kita juga begitu.” jawab Jaejoong sambil menghapus setetes airmata yang baru saja jatuh lagi dari sudut matanya.

“Jae…” desis Yoochun dengan pandangan iba.

“Mianhae Yoochun-a, aku sok tegar, sok optimis. Sebenarnya aku bohong kalau bilang aku tidak takut. Aku bahkan mengira sebentar lagi aku akan mati sama seperti yang kau rasakan. Mengingat kondisiku yang sudah seperti ini, aku tak yakin aku bisa pulih. Ya, setelah aku mati nanti aku terpaksa harus meninggalkan semua orang yang aku sayangi dan semua hal yang kumiliki. Bagaimana menurutmu? Apakah aku masih punya harapan?”

Yoochun tersenyum tipis,

“Kita tunggu saja, Jae. Biasanya harapan itu datang tanpa diduga.”

“Ne, kau benar,” Jaejoong menepuk bahu Yoochun.

“Bicara denganmu selalu membuat bebanku terasa lebih ringan, Jae. Gomawo. Ah aku bosan, ayo kita jalan-jalan sebentar!” ajak Yoochun, dilihatnya Jaejoong mengangguk.

Mereka pun berjalan-jalan sekitar Rumah Sakit sambil sesekali saling bercanda dan tertawa bersama. Saat keduanya hendak kembali ke kamar masing-masing tiba-tiba nafas Yoochun mulai tersenggal, mungkin karena efek kelelahan dan kondisi jantungnya yang belum stabil. Ia terlihat berjalan tertatih.

“Yoochun-a, kau kenapa?” tanya Jaejoong yang merasa ada yang tidak beres dengan kondisi sahabatnya itu.

“Ani, aku hanya lelah saja.” balas Yoochun sambil tersenyum kecil.

Jaejoong pun segera memapah Yoochun,

“Sebaiknya kuantar kau kembali ke kamarmu, kau harus istrihat!” tegas Jaejoong.

Setelah sampai di kamar Yoochun, Jaejoong segera membantu Yoochun berbaring di ranjang. Ia pun tersenyum miris,

‘Jika kanker itu juga mengenai organ jantungku, apa aku akan seperti Yoochun? Ya Tuhan dia hebat sekali, aku tak yakin bisa bertahan lebih lama sepertinya jika kanker itu sudah menjalar ke jantungku’ pikir Jaejoong, ia benar-benar merasa semakin takut.

“Yoochun, aku panggilkan dokter ya?” ucap Jaejoong cemas,

“Tidak usah, kau kembali ke kamar saja…aku akan segera minum obat,” balas Yoochun yang kemudian mengambil obat-obatan miliknya lalu meminumnya.

“Istirahatlah, kau harus cepat pulih. Aku pergi dulu ya.”

Yoochun pun mengangguk dan Jaejoong segera keluar dari kamarnya.

>>>>>.<<<<<

“Jaejoong-ssi!” sapa seseorang

Jaejoong kembali membuka kedua bola matanya dan menoleh ke arah sumber suara yang terdengar jelas di telinga kanannya. Melihat sosok imut yang tengah tersenyum manis padanya. Jaejoong terlihat heran seakan bertanya-tanya ‘Sejak kapan yeoja ini ada di sampingku?’

“Kau sangat keren dengan posisi menengadah ke langit dengan mata terpejam seperti tadi,” lanjut yeoja itu.

“Ya! Apa sejak tadi kau memperhatikanku diam-diam?”

Yeoja itu tersenyum lebar dengan wajah memerah karena malu.

“Ne.”

“Aish, tidak sopan!” ketus Jaejoong.

“Jangan ketus begitu ah. Kita sama-sama pasien disini berarti kita teman dan kau tidak boleh bersikap ketus kepada temanmu, arra!”

“Mian,” ujar Jaejoong singkat.

“Emh karena kita teman lebih baik kita gunakan bahasa informal saja, okay?”

“Terserah kau saja!”

“Nah sekarang kita cari tahu dulu diantara kita berdua siapa yang oppa dan siapa yang noona? Berapa umurmu Jaejoong-ssi?”

“17”

*A/n: oia author lupa bilang, kalau dicerita ini tuh Girsdays mulai debutnya saat So Jin baru mau menginjak usia 17 tahun terus usia Ji Hae, Yura, Minah dan Hyerinya cuma beda dua tahun dari So Jin soalnya ini fanfic AU dan OOC*

“Wah ternyata kita seumuran. Kalau begitu kapan hari ulang tahunmu?”

“Apa itu penting?”

“Tentu saja. Aku lahir bulan Mei. Bagaimana denganmu?”

“Kalau begitu kau yang harus memanggilku oppa karena aku beberapa bulan lebih tua darimu!” ujar Jaejoong.

“Benarkah? Baiklah, aku akan memanggilmu oppa!”

Yeoja itu kembali tersenyum manis pada Jaejoong. Ia merasa senang karena Jaejoong sudah tidak bersikap ketus seperti tadi.

“Kau sangat imut saat tersenyum, So Jin-a.” puji Jaejoong membalas senyuman So Jin.

“Ahahaha, yang benar?”

“Oh iya soal waktu itu saat kita pertama kali bertemu jeongmal mianhae, tidak seharusnya kau melihatku dalam keadaan seperti itu.”

“Ah, gwaenchanha keunddae waktu itu aku sangat kaget saat kau tiba-tiba pingsan di depanku, saking kagetnya aku sampai berteriak kencang sekali. Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kau sampai mimisan dan muntah darah sebanyak itu. Jangan-jangan kau sakit parah ya, oppa?

“Ne, seperti yang kau lihat.”

“Sekarang apa sudah baikan?” tanya So Jin pula.

Jaejoong tidak menjawab lalu dia memperhatikan kaki So Jin yang sepertinya sudah hampir sembuh.

“Gipsmu sudah boleh dilepas?” Jaejoong mengalihkan pembicaraan.

“Ne, kakiku sudah hampir sembuh total. Lusa aku juga sudah boleh keluar dari tempat yang membosankan ini,” jawab So Jin.

Jaejoong mengangguk mengerti. Suasana hening untuk sesaat.

“Kalau kau mau segera keluar dari tempat membosankan ini sebenarnya tidak perlu menunggu lusa,”

“Maksud oppa?”

“Aku juga sedang bosan. Bagaimana kalau hari ini kita kabur untuk sehari?” tawar Jaejoong.

“Mwo? Kabur? Sekarang?”

“Ne, mumpung masih pagi.”

So Jin memperhatikan jam tangannya. Jarum jam itu menunjukan pukul 9.30. So Jin mulai berpikir, ia memang merasa bosan dan ingin pergi jalan-jalan tetapi ia tidak mungkin pergi tanpa seizin manajernya apalagi tanpa penyamaran. Lalu bagaimana jika seandainya hari ini membersnya datang untuk menjenguknya?

“Tidak mau, ya?” tanya Jaejoong.

“Bukannya tidak mau. Aku hanya takut ketahuan fansku atau paparazi.”

“Mwo? Fans? Paparazi?”

“Nde, kau benar-benar tidak tahu ya? Aku ini Park So Jin salah satu members girlband Girlsday,”

“Mwo?”

“Mian, aku baru bisa mengatakan kebenaran ini padamu.”

So Jin sedikit menyesal, ia takut namja itu akan marah padanya atau yang lebih buruk tidak mau berteman dengannya karena ia adalah seorang artis yang hampir setiap hari sibuk dengan semua jadwalnya. Bukankah dekat sekali dengan seorang artis itu sangat tidak enak? Tidak jarang orang yang begitu dekat dengan seorang artis terlibat dalam berbagai macam skandal atau bahkan harus pura-pura tidak mengenalinya dan itu sangatlah menyakitkan.

“Girsday itu apa benar-benar terkenal?” tanya Jaejoong polos.

“Gubrak! Ya lumayan, ternyata kau benar-benar tidak pernah menonton televisi atau internetan ya? Huh, kau ini orang dari planet mana sih?” bentak So Jin.

So Jin sedikit kesal dan kecewa karena ternyata di Seoul masih ada orang-orang yang tidak kenal mereka seperti Jaejoong.

“Aku mana punya waktu untuk menonton televisi apalagi bermain internet.”

“Huh, so sibuk!” ketus So Jin

“Kenapa tiba-tiba kau marah?”

“Aku tidak marah, aku hanya sedikit kecewa.”

Ya, ia kecewa…sangat kecewa tetapi bukan karena mengharapkan ketenaran yang lebih atau haus dengan popularitas, sungguh bukan itu alasannya. Ia hanya berharap lebih pada Jaejoong. Entah kenapa ia sendiri juga tidak tahu? Yang jelas ia ingin sekali namja itu menjadi salah satu orang terdekatnya, orang yang begitu mengenalnya dan memahaminya secara berlebih.

“Wae?” tanya Jaejoong.

“…karena sepertinya oppa tidak tau sedikitpun tentang kami. Biarpun kami belum lama debut dan tidak seterkenal SNSD ataupun 2ne1 tetap saja aku ingin sedikit di kenal olehmu!”

“Bicara apa kau ini? Sekarang aku kan sudah mengenal seorang Park So Jin. Ini kedua kalinya kita bertemu tetapi walaupun begitu aku senang sekali bisa berteman denganmu karena sepertinya kau yeoja yang menarik So Jin-a.”

Wajah So Jin semakin memerah mendengar perkataan Jaejoong itu. Ada perasaan aneh yang menelusup hatinya. Ia sangat senang mendengar Jaejoong berkata seperti itu, ‘Aku kan sudah mengenal seorang Park So Jin’ kata-kata yang entah kenapa membuaatnya terharu.

“Bagaimana? Kau mau jalan-jalan denganku atau tidak?” tanya Jaejoong lagi, tentu saja yeoja itu ingin sekali tetapi…

“Hmm, baiklah tapi sebelum itu kau harus membantuku mencari alat penyamaran.”

“Kalau begitu ayo kita ke tempat Jun Mi noona!” ajak Jaejoong.

“Jun Mi itu siapa? Kenapa kita harus pergi ke tempatnya?”

Entah kenapa So Jin sedikit cemburu mendengar nama itu padahal So Jin belum lama mengenal sosok namja di sampingnya ini ‘Bagaimana kalau yeoja itu pacarnya?’ pikirnya

“Dia pacar hyungku. Selain masih kuliah Jun Mi noona juga membuka usaha salon. Kurasa dia bisa membantumu dalam menyamar,” jelas Jaejoong.

Kini perasaan lega yang So Jin rasakan. Ia pun menyetujui ajakan Jaejoong. Setelah sampai di salon kecantikan milik Jun Mi, So Jin mulai dilayani oleh salah seorang karyawan Jun Mi. Sementara Jun Mi sendiri sedang sibuk memakaikan make up pada muka Jaejoong.

“Jae, walaupun kau pakai make up wajahmu yang pucat itu tidak akan tertupi selamanya.” ujar Jun Mi.

“Gwaenchanha, hanya bertahan beberapa jam saja sudah cukup noona.”

“Apa tidak apa-apa kau kabur dari RS seperti ini?” tanya Jun Mi, ia sangat khawatir mengingat kondisi calon adik iparnya yang tidak bisa di bilang baik itu.

“Selama kau tidak memberitahu hyungku tidak akan apa-apa.”

“Ini bukan soal akan ketahuan Yunho oppa atau bukan tapi kalau tiba-tiba penyakitmu kambuh bagaimana? Aku khawatir Jae!”

“Sudahlah, aku hanya akan pergi jalan-jalan sebentar. Tolong izinkan aku noona! Aku benar-benar jenuh di RS terus.”

“Baiklah, tapi kau harus janji akan baik-baik saja!” tegas Jun Mi yang akhirnya luluh juga.

Ya, Jun Mi sangat paham. Siapa yang bisa betah di rumah sakit, coba? Dirinya saja tidak betah. Rumah Sakit adalah tempat yang paling ia benci. Tempat yang selalu di penuhi dengan aura suram dan kematian. Tempat yang paling menjemukan. Tempat dimana makanan-makanannya tidak enak. Tempat yang terkadang menakutkan baginya. Memang tempat serba putih itu ada banyak sisi positifnya, namun bagi Jun Mi justru sisi negatifnya yang jauh lebih banyak.

“Nde,” sambung Jaejoong sambil tersenyum.

>>>>>.<<<<<

So Jin mengajak Jaejoong ke Leeum. Dia ingin menunjukan Samsung Museum Art pada Jaejoong. Sebuah museum yang dijalankan oleh yayasan kebudayaan samsung sebagai dedikasi untuk melestarikan dua jenis kesenian yang berbeda. So Jin menjelaskan dengan detail tiap bagian dalam museum yang mempunyai banyak karya yang sangat menawan itu.

Jaejoong tampak terkesan memperhatikan berbagai gaya lukisan, patung, fotografi dan sejumlah video yang kontras dengan kebudayaan tradisional yang mewakili media baru yang selau beradaptsi dengan gaya seni kontemporer yang sedang tumbuh.

So Jin tersenyum senang melihat Jaejoong yang tampak bersemangat mengikuti perjalanannya kali ini. Setelah itu So Jin mengajak Jaejoong menyusuri pasar tradisional Gwajang yang merupakan salah satu pusat wisata kuliner. Suasana pasar yang bersih dan rapi membuat Jaejoong kembali terkesan. Disini mereka bisa menikmati perjalanan mereka dengan santai. Berbagai kedai makanan dan minuman buka sejak pagi hari.

So Jin mengajak Jaejoong merasakan secara langsung membuat kimbap dan topokki bersama dengan ibu penjual makanan. Dia senang sekali karena perjalanannya kali ini tidak terganggu, dalam hati dia sangat memuji penampilannya kali ini sebab sejak tadi tidak ada seorangpun yang mengenalinya sebagai So Jin Girldays. Saat Jaejoong sedang asik membuat topokki, diam-diam So Jin menjahilinya dengan melumuri wajah Jaejoong dengan saos.

“Hahaha, kau lucu sekali oppa.” goda So Jin.

Jaejoong yang sedikit kesal akhirnya ikut menjahili So Jin dan tingkah So Jin yang lucu membuatnya tertawa lepas. Ia tidak peduli wajah dan tangannya harus penuh dengan lumuran bumbu dan saos karena bagi Jaejoong kegiatan ini sungguh mengasyikan. Entah kapan terakhir kali ia tertawa lepas seperti ini? Saat kencan dengan Ji Eun kah?

Bibi penjual makanan itu ikut terhibur melihat keakraban kedua anak muda yang sepertinya begitu gembira. Ia bahkan dengan senang hati mengajarkan keduanya memasak dan memberikan resep dan cara mengolah berbagai jenis bahan hingga menjadi makanan yang lezat untuk disantap.

“Modeunge gamsahamnida, ahjumma (Terimakasih atas segalanya, bibi),” Ucap So Jin dan Jaejoong sambil membungkuk.

“Ne, sering-seringlah datang kesini! Kalian berdua benar-benar pasangan yang serasi,” ucap bibi itu ramah.

Setelah menyusuri pasar tradisional Gwajang, So Jin mengajak Jaejoong pergi ke berbagai tempat menarik lainnya.

Jam sudah menunjukkan pukul enam sore namun So Jin rasanya masih enggan untuk pulang. Entah kapan lagi dia bisa jalan-jalan bersama Jaejoong seperti ini, mengingat sebentar lagi dia akan segera pulang dari RS dan kembali sibuk dengan berbagai kegiatannya bersama Girsday.

“Oppa, ayo kita pulang!” ajak So Jin,

Sebenarnya So Jin masih belum mau kembali ke Rumah Sakit tetapi dia mengkhawatirkan kondisi Jaejoong yang sepertinya sudah mulai kelelahan sebab saat ini wajah Jaejoong tidak setampan tadi, kini wajahnya terlihat pucat seperti saat sebelum mereka meninggalkan RS.

“Aku masih mau jalan-jalan ke tempat lain,” ujar Jaejoong.

“Mwo? Aigoo, sebaiknya kita pulang saja wajahmu sudah pucat tuh! Oppa pasti sudah lelah, kan?”

“Hari ini begitu menyenangkan mana mungkin aku merasa lelah,” jawab Jaejoong bohong karena sebenarnya dia memang sudah lelah dan kepalanya mulai terasa pusing.

“Kau tidak bohong kan, oppa?” selidik So Jin.

“Tentu saja tidak,” tegas Jaejoong.

Akhirnya So Jin mengajak Jaejoong berjalan-jalan ditepian sungai Han. Mentari sore yang sedang terbenam menampakkan keindahannya. Warna merah bercampur jingga melengkapi suasana senja yang romantis. Jaejoong mengambil Samsung Galaxy Notenya dan memotret suasana sungai Han saat itu.

“Oppa, apa kau tertarik dengan fotografi?” tanya So Jin.

“Ne, aku sangat suka memotret.” ujar Jaejoong sambil tersenyum manis.

“Wae?”

“…karena bagiku memotret itu adalah bagian dari sebuah kenangan yang indah dan aku ingin menyimpan kenangan itu sebanyak-banyaknya,” jelas Jaejoong.

“Oh,” ujar So Jin yang kembali memandang matahari terbenam.

Jaejoong memotret So Jin secara diam-diam dari berbagai sisi. Bahkan ketika So Jin sedang merapikan ikatan rambutnya yang mulai longgar, dia juga memotretnya.

“Ya! Apa yang kau lakukan oppa?” teriak So Jin yang baru sadar telah dipotret secara diam-diam.

“Wae? Bukankah ini adalah bagian dari kenangan juga?” tanya Jaejoong.

“Tapi aku tidak mau dipotret dalam keadaan jelek,” rengek So Jin.

“Kau tetap cantik kok,” sambung Jaejoong yang kemudian memotret ekspresi So Jin yang sedang marah dan terlihat kesal.

“Jangan oppa! Kalau foto-foto seperti itu tersebar di internet kan bisa gawat,”

“Aku hanya akan menyimpannya sendiri, jadi kau tenang saja.”

“Anni, berikan itu padaku dan aku akan menghapus semuanya!” teriak So Jin yang kemudian berusaha merebut ponsel Jaejoong namun Jaejoong yang lebih tinggi darinya membuatnya kesusahan.

“Ya! Oppa, berikan itu padaku!” paksa So Jin.

Pada akhirnya keduanya main kejar-kejaran. Jaejoong terus berlari kencang menjauhi So Jin sambil terus menertawakan So Jin yang sampai saat ini belum bisa menangkapnya. So Jin yang mulai merasa capek akhirnya menyerah. Ia pun pura-pura terjatuh dan kakinya terkilir.

“Aaou, kakikku…padahal kan baru sembuh.” ringis So Jin yang kemudian pura-pura menangis.

Jaejoong yang khawatir akhirnya menghampiri So Jin,

“Neo gwaenchahnha?” tanya Jaejoong cemas.

Saat Jaejoong memijat-mijat pergelangan kakinya, So Jin merebut ponsel itu dari Jaejoong dan berlari kencang sambil tertawa terbahak-bahak karena merasa telah menang.

“Ya! Jadi kau membohongiku?” teriak Jaejoong.

So Jin meleletkan lidahnya dari jauh, lalu menyalakan ponsel Jaejoong.

“Ya! Oppa, kenapa handphonenya pake pola? Katakan bagaimana gambar polanya biar aku bisa membuka kuncinya!” teriak So Jin frustasi.

“Percuma saja, selain memakai pola aku juga menggunakan password,” teriak Jaejoong yang kemudian balas meleletkan lidah.

“Aish, oppa menyebalkan.” teriak So Jin.

Jaejoong menghampiri So Jin dan mengambil ponselnya kembali.

“Percayalah, aku hanya akan menyimpannya sendiri!” sambung Jaejoong yang kemudian mengacak-ngacak rambut So Jin.

“Jangan mengacak-ngacak rambutku!” tegas So Jin cemberut.

“Ya! Apa seorang artis selalu ingin tampil perfect?” tanya Jaejoong

“Tentu saja. Kau akan mengerti perasaanku jika suatu saat nanti kau menjadi artis sepertiku, oppa.” jawab So Jin.

“Begitu ya?”

“Ne. Mungkin kalau kau jadi artis kau juga akan berubah menjadi orang yang sangat narsis oppa,”

“So tahu!” ujar Jaejoong.

“Anieyo, aku tidak So tahu!”

“Terserah kau lah. Ah, ayo kita berfoto bareng.” ajak Jaejoong.

“Nanti jelek kalau kau memotret sendiri oppa,”

“Tidak akan,” ujar Jaejoong yang kemudian memanggil seorang anak laki-laki yang sedang assik bersepeda bersama teman-temannya.

“Ya! anak laki-laki yang memakai baju merah,”

Anak laki-laki itu menghampiri Jaejoong dan So Jin dengan sepedanya.

“Kau memanggilku, hyung?” tanya anak itu dengan wajah heran.

“Ne, memangnya diantara teman-temanmu itu siapa lagi yang memakai baju merah?”

“Ada apa hyung?” tanya anak itu lagi.

“Tolong potret kami berdua!” pinta Jaejoong sambil tersenyum.

“Wajahmu pucat hyung nanti fotonya jadi jelek. Kau tidak cocok berfoto dengan noona cantik ini,” ujar anak itu polos.

“Ya! Aku tetap tampan walaupun wajahku pucat. Sudah lakukan saja!”

“Tuh kan narsis,” cibir So Jin.

“Aku tidak narsis. Memang itu kenyataannya bukankah dulu kau juga pernah bilang kalau aku ini tampan?” tampaknya penyakit narsis Jaejoong semakin kronis,

“Kapan? Aku hanya bilang kau lebih cantik dariku!” tegas So Jin.

“Ya! Malah berantem, jadi di foto tidak? Sebentar lagi aku harus pulang,” ujar anak laki-laki itu.

“Oh iya hampir lupa, mianhae saengie.” ujar So Jin ramah.

Anak itu pun mulai memotret So Jin dan Jaejoong berkali-kali,

“Sudah cukup. Gamsahamnida,” ujar Jaejoong.

Anak itu pun menyerahkan ponsel itu kepada Jaejoong,

“Berikan aku uang!” kata anak itu.

“Aish, dasar. Arra, akan kuberi kau uang!” ujar Jaejoong yang kemudian memberikan sejumlah uang pada anak laki-laki itu.

“Gamsahamnida, hyung.” ujar anak itu tampak begitu senang,

“Ne, hati-hati di jalan!”

Anak laki-laki itu mengangguk, lalu berbisik pada Jaejoong.

“Hyung, noona cantik itu mirip Park So Jin Girlsday ya?”

“Eh, kau tau Girlsday?” tanya Jaejoong.

“Tentu saja, aku ini kan fanboynya Minah noona. Hyung beruntung sekali punya yeojacingu yang mirip dengan So Jin noona. Jaga dia baik-baik hyung, jangan pernah menyakitinya apalagi mengkhianatinya, arra!” ujar anak itu.

“Kau ini seperti orang dewasa saja padahal kan cuma anak kecil,” cibir Jaejoong.

“Ya! Namaku bukan anak kecil tapi Lee Junhyung,” sanggah anak itu dengan penuh penekanan.

“Ne,” kata Jaejong sambil mencubit pipi chuby Junhyung.

“Ya! Hentikan, sakit hyung! Ngomong-ngomong kau sedang sakit ya hyung, wajahmu pucat sekali?” tanya Junhyung pula.

“Sok tahu. Sana pulang!”

“Kau pacar yang baik hyung, walaupun kau sedang sakit kau tetap pergi kencan dengan yeojacingumu. Sampai jumpa lagi hyung.”

Junhyung membungkuk pada So Jin lalu mengendarai sepedanya lagi.

“Kalian tadi berbisik-bisik apa sih, lama sekali. Membicarakanku, ya?” tanya So Jin.

“Ani, kami hanya kenalan lalu Junhyung bilang kau mirip sekali dengan So Jin Girlsday,” jawab Jaejoong.

“Eh? padahal aku kan sudah menyamar. Kenapa anak itu bisa tau?”

“Katanya dia Minah biased,”

“Uuwaah! Minah hebat sekali. Dia terkenal sampai kalangan anak-anak!” seru So Jin.

“So Jin-a, gomawo untuk hari ini. kajja, kita pulang!” ajak Jaejoong.

So Jin tersenyum, merekapun berjalan menuju halte sambil bergandengan tangan. Saat berada di dalam bis So Jin mulai menguap karena ia mulai mengantuk dan Jaejoong lagi-lagi memotretnya.

“Ya! Oppa, apa yang kau lakukan?” teriak So Jin membuat penumpang lain menoleh padanya. Ia pun membungkuk dan meminta maaf kepada mereka semua.

Jaejoong hanya tersenyum karena berhasil mengambil foto yang unik.

“Kau Jahat!” ujar So Jin.

“Aku akan menyimpannya sendiri, jadi kau tidak usah khawatir.”

“Awas saja jika kau menyebarkannya ke internet. Aku akan menuntutmu!” sambung So Jin.

“Hn.”

Di tengah perjalanan akhirnya So Jin tertidur di bahu Jaejoong.

“Gomawo. Kau adalah yeoja kedua yang membuatku merasa bahagia,” gumam Jaejoong.

>>>>>.<<<<<

Sebelum meninggalkan Rumah Sakit So Jin mencari Jaejoong ke taman. Ia tersenyum karena ternyata Jaejoong memang sedang berada disana. Ia pun menghampiri Jaejoong.

“Oppa, annyeong?”

“So Jin-a, kupikir kau sudah pulang.” ujar Jaejoong.

“Ani, aku pulang 2 jam lagi. Katanya nanti Hyeri akan menjemputku,” jawab So Jin.

“Kalau kau pulang, kapan ya kita bisa bertemu lagi?”

“Ne, setelah aku pulang aku akan sibuk lagi.”

“Pasti susah sekali untuk bertemu dengan artis sepertimu,” ujar Jaejoong dengan wajah sendu.

“Hm kalau aku punya waktu luang aku akan menelponmu,” janji So Jin sambil tersenyum seperti biasa.

“Aku lebih banyak menghabiskan waktu di RS jadi kau juga akan sulit untuk menghubungiku,” jelas Jaejoong.

“Benar juga. Kalau begitu jika aku bisa pergi keluar dengan bebas aku akan mengunjungimu disini,”

“Kuharap kita bisa bertemu lagi,” sambung Jaejoong sambil tersenyum tipis…senyuman yang jelas dipaksakan.

“Kenapa oppa bicara begitu? Tentu saja kita akan bertemu lagi.”

“Hanya jika aku masih bernafas,” kata Jaejoong sambil menerawang, membuat So Jin mengerutkan kening pertanda heran dengan sikap namja di depannya.

“Lagi-lagi bicara aneh. Memangnya kau sakit apa sih, oppa?” tanya So Jin penasaran.

“Menurutmu?”

“Karena kau pernah mimisan sekaligus muntah darah, kalau bukan kanker paru-paru pasti kanker liver atau kanker otak atau jangan-jangan…leukemia?” tebak So Jin menyimpulkan.

“Ne, salah satu dari yang kau sebutkan itu!” jelas Jaejoong.

“Eh? Yang mana oppa?”

“Ra-ha-sia.”

“Iih, kau menyebalkan tapi keempat-empatnya sama-sama penyakit kanker. Itu adalah penyakit yang sangat serius. Ah, apapun itu kau harus sembuh ya oppa? Fighting!” ujar So Jin.

“Ne. So Jin-a, aku akan sangat merindukanmu!”

“Nado, oppa! Saat kita bertemu lagi aku harap kita bisa lebih dari sekedar teman atau sahabat, maksudku…kuharap kita bisa menjadi sepasang kekasih,” ucap So Jin sambil menatap mata Jaejoong dengan tatapan penuh cinta.

Jaejoong tidak merespon apapun. Ia hanya menanggapi perkataan So Jin itu dengan senyuman. Suasa menjadi hening. So Jin sedikit kecewa pada Jaejoong yang hanya diam saja. Ia sama sekali tidak mengerti apa arti senyuman Jaejoong barusan. Mungkinkah namja itu menolak pernyataan cintanya barusan? Ataukah namja itu saja yang tidak peka?

‘Padahal aku berharap kau akan bilang iya oppa karena sepertinya aku jatuh cinta padamu. Apakah kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku?’ pikir So Jin,

So Jin paling tidak suka dengan suasana canggung seperti itu. Ia pun kembali membuka pembicaraan,

“Oppa, apa kau punya cita-cita?”

“Tentu saja,” jawab Jaejoong singkat.

“Apa cita-citamu itu?”

“Sebenarnya dari dulu aku ingin sekali menjadi seorang penyanyi.”

“Kalau begitu ikut audisi pencarian bakat saja, kupikir suara oppa sangat bagus. Aku yakin sekali oppa bisa lolos audisi dengan mudah,” ujar So Jin penuh dengan keyakinan.

“Ani, sebelum itu aku harus sembuh dulu.”

“Benar juga. Jadi artis itu kan sangat melelahkan,” komentar So Jin yang memang merasakannya sendiri pahit manis menjadi seorang entertainer.

So Jin terus berceloteh tentang kekesalannya pada beberapa sasaeng fans yang sering sekali menguntitnya dan members lainnya kemanapun mereka pergi bahkan ia juga bercerita tentang manejer mereka yang terkadang bisa sangat cerewet, juga tentang kejenuhannya yang merasa seperti dalam jeruji besi tanpa kebebasan karena berbagai peraturan yang harus ia dan teman-temannya taati baik di dalam dorm maupun di luar dorm. Rasa haru saat mendapat penghargaan dan kesenangannya saat berada di atas panggung karena mereka mendapatkan banyak sekali cinta dan dukungan dari semua fans dan juga rasa sakit hati yang terkadang menyerangnya saat mereka harus berhadapan dengan antis girldays dan lain sebagainya.

Jaejoong hanya tersenyum menyimak ekspresi So Jin yang berubah-ubah tetapi selalu tampak lucu dan manis di depannya. Tiba-tiba semua persendiannya terasa sakit,

‘Sial? Kenapa lagi dengan tubuhku? Kenapa harus disaat-saat seperti ini?’ umpat Jaejoong dalam hati.

Sungguh ini tak terduga baginya, mengingat sebelumnya ia sudah meminum obatnya yang super banyak dan pahit itu. Rasa sakit itu kian menjalar ke seluruh bagian tubuhnya yang semakin lama semakin ringkih saja…tubuhnya mulai bergetar hebat, dadanya terasa begitu sesak, ditambah dengan rasa sakit pada ginjalnya yang bukan main rasanya…sangat sakit dan rasa itu semakin menjadi-jadi hingga ia sadar bahwa saat ini penyakitnya kambuh lagi. Ia mulai merasakan sakit kepala yang hebat dan kalau sudah begini ia yakin, ia pasti akan mimisan bahkan yang lebih parah bisa sampai muntah darah seperti tempo hari dan pingsan di tempat.

Saat So Jin masih sibuk berceloteh ria mengenai suka dukanya sebagai anggota girlband yang terbilang masih baru, darah segar mengalir mulus dari hidung Jaejoong…ternyata dugaannya benar. Secepat kilat ia pun merogoh saputangannya dan menghapus jejak-jejak darah di wajahnya. Tidak lagi. Tak akan ia biarkan So Jin melihat hal seperti itu untuk yang kedua kalinya.

‘Gawat, aku tidak boleh pingsan di depan So Jin lagi,’ pikir Jaejoong.

“So Jin-a,” yang di panggil akhirnya menghentikan cerita panjang lebarnya.

“Ne? Apa kau bosan mendengar ceritaku, oppa? Mianhae.”

“Ani, hanya saja kau harus segera pulang kan? Hati-hati di jalan ya, sekarang aku harus kembali ke kamarku. Semoga kita bisa bertemu lagi,” Jaejoong tersenyum sambil terus berusaha menahan rasa sakitnya yang semakin menjadi.

“Ne, apa perlu aku antar?” tawar So Jin.

“Tidak usah,” ujar Jaejoong yang kemudian beranjak pergi.

“Tunggu sebentar oppa!” panggil So Jin pula.

Jaejoong menghentikan langkahnya dan kembali berbalik pada So Jin,

“Wae?”

So Jin menghampiri Jaejoong dan memberikan selembar foto bertandatangan dirinya.

“Untuk apa fotomu ini? Aku kan sudah punya banyak fotomu?” tanya Jaejoong.

“Tolong simpan baik-baik ya, dibelakangkangnya ada nomor ponselku dan itu sangat rahasia. Kalau bisa hubungi aku sesekali, oppa!”

“Ne, gomawo!” ujar Jaejoong yang kembali berbalik, lalu berjalan pergi.

“Aku akan sangat merindukanmu!” teriak So Jin dengan air mata menetes.

>>>>>.<<<<<

Yunho memasuki kamar Jaejoong namun ternyata adiknya tidak ada disana. Selalu saja begitu, menghilang tiba-tiba dan membuatnya was-was.

“Pergi kemana lagi anak itu? Apa dia sudah minum obat?” tanyanya.

Yunho melihat ponsel Jaejoong yang tergeletak di atas meja. Tiba-tiba saja ia penasaran apakah adiknya itu masih menjadikan foto Seo Ji Eun sebagai wallpapernya? Yunho kaget karena ternyata wallpaper itu sudah berganti dengan foto Jaejoong bersama seorang yeoja.

“Yeoja ini, bukankah dia adalah yeoja yang mirip dengan Park So Jin Girlsday itu?”

Yunho pun mulai menggambar pola dan menuliskan Seo Ji Eun untuk membuka password. Setelah berhasil membuka passwordnya, dia pun membuka gallery. Seperti biasanya gallery itu masih penuh dengan foto-foto Seo Ji Eun. Kini yunho membuka sebuah folder yang diberi nama ‘memories’. Betapa terkejutnya Yunho saat melihat ada banyak foto di sekitar sungai han dalam folder tersebut.

“Sungai Han? Jadi kemarin dia pergi ke sungai Han? Aish, lagi-lagi seenaknya kabur dari RS. Awas kau Jae, aku akan memarahimu nanti!” tegas Yunho yang tampak sangat kesal.

Yunho masih sibuk melihat foto-foto itu dan kembali terkejut karena kini dia melihat ada banyak foto yeoja yang mirip dengan So Jin Girlsday. Yunho sangat yakin kalau foto-foto itu bukan dari internet karena selain melihat foto-foto So Jin dalam berbagai ekspresi, Yunho juga melihat belasan foto So Jin dengan Jaejoong.

“Kau membajak ponselku lagi, dasar!” ujar suara seseorang, Yunho pun berbalik ke belakang.

“Joongie-a, mian!” ujar Yunho.

“Kembalikan padaku!” tegas Jaejoong sambil merebut ponselnya dari Yunho.

“Apa saja yang sudah hyung lihat?” lanjut Jaejoong.

“Aku yang harusnya bertanya padamu. Kenapa ada banyak sekali foto-foto di sekitar Sungai Han di sana? Kau kabur dari Rumah Sakit tanpa izin lagi, ya?”

“Ne. Wae? Tidak boleh?”

“Tentu saja! Dokter Lee kan sudah bilang kalau kau tidak boleh sampai kelelahan!”

“Aku tau.”

“Kalau tau kenapa kau masih nekad memaksakan diri seperti itu, ha?” bentak Yunho.

“Aku bosan!” ujar Jaejoong. Ia meletakkan ponselnya ke dalam laci.

“Ada banyak cara untuk menghilangkan rasa bosan tanpa harus kabur-kaburan seperti itu, tau! Dengar, mulai sekarang kau tidak boleh kabur-kaburan lagi!” tegas Yunho.

“Ne,” ucap Jaejoong dengan nada kesal.

“Mulai sekarang aku akan terus mengawasimu!” tegas Yunho pula,

“Kau tidak akan kubiarkan lepas dari pengawasanku!” lanjutnya yang mulai kesal karena Jaejoong tidak meanggapi perkataannya sama sekali. Ia benar-benar geram kali ini.

‘Brraaakkkk!’ tiba-tiba saja Jaejoong terjatuh dan tak sadarkan diri di hadapannya,

“JAEJOONG!” teriak Yunho panik.

>>>>>.<<<<<

 

=> Yoon Rie’s POV

Akhirnya aku berhasil meyakinkan kedua orangtuaku bahwa perasaan cintaku pada oppa sudah hilang dan yang tertinggal sekarang hanyalah rasa sayangku sebagai adiknya padahal sebenarnya aku tidak bisa membohongiku perasaanku sendiri bahwa aku masih mencintainya. Aku sungguh merasa tersiksa tanpa oppa. Aku begitu merindukannya.

Aku senang sekali karena aku sudah diperbolehkan untuk menemuinya lagi, pokoknya sebisa mungkin aku harus bisa menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya di depan kedua orangtuaku.

Begitu tiba di Rumah Sakit dengan semangat aku segera menuju kamar rawat Yoochun oppa, sayangnya oppa sama sekali tidak berada disana. Ah, aku bingung sebenarnya Yoochun oppa pergi kemana? Aku bahkan tidak bisa menemukannya disekitar taman.

“Yoon Rie-a, kau sedang mencari seseorang ya?” sapa seorang suster.

“Min Ah eonnie!” sambungku,

“Dia sedang berada di atap RS,” ujarnya.

Min Ah eonni sepertinya bisa menebak siapa yang sedang aku cari tetapi penjelasannya itu benar-benar membuatku kaget.

“Dia tidak pergi lewat tangga darurat, kan?” tanyaku,

Aku sangat takut jika oppa pergi kesana lewat tangga darurat sebab yang kutahu tangga darurat menuju atap RS itu jumlahnya cukup banyak. Aku saja yang pernah pergi kesana lewat tangga darurat lumayan merasa capek apalagi oppa.

“Kau tenang saja aku sudah menyuruhnya untuk menggunakan elevator,” jawab Min Ah eonnie.

“Gamsahamnida eonnie,” kataku yang segera pergi menuju atap RS.

Ternyata Yoochun oppa memang sedang berada di sana. Aku sangat mengenali punggung milik siapa itu. Aku pun lekas menghampirinya dan menyapanya.

“Oppa, sedang apa kau sendirian disini?” tanyaku.

Yoochun oppa menoleh kearahku dengan ekspresi kaget dan langsung memeluk tubuhku dengan erat. Biarpun sempat kaget karena ia tiba-tiba memelukku, pada akhirnya aku menikmati hangatnya pelukan oppa. Setiap kali oppa memelukku aku selalu merasakan kehangatan memenuhi relung hatiku.

“Kau kemana saja, hah? Padahal tadi malam aku hampir mati!” ujarnya.

Apa maksudnya dengan tadi malam dia hampir mati? Sebenarnya itu kenyataan atau hanya sekedar kiasan saja? Aku sungguh tidak mengerti.

“Neomu bogoshippo. Aku ingin terus mendekapmu seperti ini,” lanjutnya mesra.

Saat ini aku tidak ingin berpikir apa-apa lagi karena aku juga sudah sangat merindukan kebersamaanku dengannya. Yoochun oppa mengusap rambut panjangku dan mengecup dahiku dengan lembut. Aku sungguh tidak kuat menahan tatapan penuh cinta oppa. Apa yang harus aku lakukan?

“Gomawo, aku sungguh bahagia bisa melihatmu hari ini. Kupikir aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi.”

Kenapa bibirku terasa kelu hanya untuk sekedar berkata ‘Nado’ padanya? Maafkan aku oppa, aku harus tetap menyembunyikan perasaanku ini. Aku takut ketahuan appa dan eomma. Kalau sampai ketahuan aku mungkin akan semakin sulit untuk bertemu denganmu.

“Yoon Rie-a, ayo kita pergi kencan!”

“Mwo? Kencan?”

“Semalam aku hampir mati, makanya aku takut tidak akan pernah bisa pergi jalan-jalan bersamamu lagi.” sambung oppa membuatku kaget setengah mati.

“Apa maksudmu dengan kau hampir mati, oppa?”

“Sudahlah, yang jelas tadi malam jantungku sakit sekali. Kau mau kan pergi kencan denganku?”

“Sebaiknya jangan, aku takut penyakitmu kambuh saat kita sedang jalan-jalan nanti!” tegasku.

“Kau ingin aku marah, ya?”

“Eh? Dasar emosional, kau tidak boleh marah-marah oppa! Kalau sampai kejadian seperti waktu itu terjadi lagi bagaimana?”

Benar aku tidak ingin oppa drop lagi hanya karena tidak bisa mengontrol emosinya seperti waktu itu,

“Kalau begitu jangan menolak ajakanku!” paksa oppa.

“Memangnya tidak apa-apa kau pergi jalan-jalan?” tanyaku ragu, habis wajah Yoochun oppa pucat sekali.

“Hanya kali ini saja, aku janji!” ujarnya.

“Baiklah, aku mengerti tapi aku tidak akan membawamu ke Lotte World!” tegasku.

“Wae?”

“Pokoknya tidak akan!”

“Kalau begitu kita pergi ke Myeongdong, ne?”

“Itu juga tidak boleh!” teriakku lagi, apa-apaan sih si Yoochun oppa ini?

“Lalu kita akan pergi kemana?” tanya Yoochun oppa dengan nada kesal.

“Kita ke Museum Nasional Korea saja!”

Benar, mengingat kondisi oppa yang tidak memungkinkan lebih baik pergi ke tempat seperti itu saja. Itu jauh lebih baik daripada  Myeongdong apalagi Lotte World yang luar biasa luasnya dan penuh dengan wahana-wahana ekstrim pemicu adrenalin. Itu kan tempat orang-orang berteriak sekeras-kerasnya dan bersenang-senang sepanjang hari. Aku tak bisa membayangkan kalau oppa pergi ke sana. Itu sama saja dengan bunuh diri, kan? Walaupun sebenarnya aku ingin sekali suatu hari nanti bisa pergi ke tempat rekreasi paling populer itu bersama oppa. Walau bagaimanapun Lotte World adalah tempat yang hebat sekali. Aku membayangkan main ice skating bersama oppa lalu kami berputar-putar sambil bergandengan tangan dan selanjutnya ia menciumku di tengah-tengah area ice skating. Hyaa, itu sangat romantis seperti dalam drama-drama.

“Aku tidak suka melihat karya seni! Memangnya apa yang menarik di dalam Museum?”

“Tentu saja ada banyak karya seni yang menarik dan sangat bernilai harganya di dalam sana. Yoochun oppa seni itu sangat indah dan mengagumkan, tau. Di Museum Nasional Korea ada begitu banyak benda-benda peninggalan sejarah.” jelasku panjang lebar.

“Geurae? Terserah kau saja!”

Akhirnya oppa menyerah juga kekeke. Kuharap berkeliling didalam Museum Nasional yang berlantai tiga tersebut tidak membuatnya lelah, bagaimanapun juga oppa tidak boleh sampai kelelahan.

>>>>>.<<<<<

Musim gugur memang merupakan musim yang paling dinanti oleh wisatawan asing maupun masyarakat Korea sebab di musim ini cuaca sangat bersahabat, pemandangannya juga sangat indah. Aku suka sekali dengan musim gugur. Pohon maple dan ginko yang berubah warna dan berguguran tersebar disepanjang jalan…menimbulkan suasana yang romantis.

Setelah tiba di Museum Nasional kami berdua berkeliling dan memotret berbagai jenis lukisan hasil karya pelukis terkenal Korea dan juga dunia. Setelah itu aku mengajak oppa mampir ke sebuah kedai karena setelah berkeliling rasanya aku lapar sekali. Aku pun segera menyantap makanan pesananku.

“Yoon Rie-a,”

“Ne?”

“Kalau makan pelan-pelan! Kalau sampai tersedak bagaimana?”

“Aku hanya perlu minum!” ujarku cuek tanpa memandangnya.

“Aku seperti sedang kencan dengan Changmin!” keluhnya.

“Ya! Makanku tidak sebanyak Changmin, enak saja. Aku kan harus menjaga tubuhku biar bodyku tetap menarik dan badanku tetap sehat.” protesku dan kembali fokus dengan makanan.

Tiba-tiba aku mendengar oppa terbatuk pelan, hal ini membuatku sangat cemas sekaligus takut. Mungkinkah oppa sudah kelelahan karena sejak tadi kami terus berkeliling? Sial, harusnya aku juga tidak membawanya kesini. Ia…batuknya semakin menjadi-jadi saja.

“Oppa, neo gwaenchanha?”

“Uhuk…uhuk…uhuk!”

Oppa yang masih tetap terbatuk-batuk seperti itu benar-benar membuatku sangat takut, hingga tanpa sadar air mataku keluar. Kalau di pikir-pikir aku ini memang cengeng sekali. Lebay.

“Uljima! Nan gwaenchanha. Aku hanya sedikit lelah,” sambung oppa setelah batuknya mereda.

“Makanya jangan suka memaksakan diri. Untung aku tidak membawamu ke Lotte World, kalau aku sampai membawamu kesana oppa pasti nekad untuk menaiki berbagai wahana. Kau kan orang yang egois, benarkan yang aku katakan?” kataku sambil terisak.

“Yoon Rie, shut up! Kita masih di kedai, jangan melakukan hal memalukan seperti ini!” bisiknya sambil menyeka air mata di pipiku.

“Ne. Oppa, sebaiknya kita pulang saja ya? Kalau merasa sakit tolong katakan dengan jujur padaku!”

“Ne. Saat ini jantungku memang terasa sakit, puas?”

“Mwo?”

“Biarpun begitu tidak sesakit tadi malam, jadi kau tidak usah khawatir!” katanya sambil tersenyum padaku.

“Sesak nafas tidak?” tanyaku masih cemas,

“Hn. Kajja, katanya mau pulang!” ajak oppa.

Akhirnya kami pun segera kembali ke RS. Aku langsung menyuruh oppa untuk kembali berbaring di tempat tidur tetapi dia malah tidak mau dan menyuruhku untuk duduk disebelahnya. Aku pun duduk di ranjang oppa dan dia tersenyum sangat manis padaku. Senyuman yang selalu membuatku meleleh dibuatnya.

“Gamsahamnida, hari ini sangat menyenangkan.” ujar oppa.

Yoochun oppa menyentuh pipiku dengan kedua telapak tangannya dan aku menatapnya dengan berbagai rasa.

“Modeunge gomawo (terimaksih untuk segalanya)” bisiknya, lalu menarik wajahku untuk mendekat dan dia mencium bibirku dengan penuh rasa sayang.

Aku memejamkan mata dan menikmati berbagai gelora rasa yang bersatu melalui kehangatan sentuhan Yoochun oppa. Rasanya aku ingin waktu berhenti saat ini juga biar kami berdua bisa terus seperti ini. Oppa, saranghaeyo…neomu saranghaeyo.

“APA-APAAN KALIAN?”

Aku kaget setengah mati, begitupula dengan Yoochun oppa yang bergegas melepas kehangatannya pada bibirku. Bukankah itu suara eomma?

=> To Be Continued <=

 

Yeay! Setelah sekian lama nggak mood ngelanjutin ff ini akhirnya chapter 3 nya selesai juga. Mian karena di chapter ini terlalu banyak dialog, kepanjangan dan masih ada typo maklum menulis itu bukan bidangku hanya sekedar hobi aja, jadi author payah dalam hal tulis-menulis terutama soal kalimat deskripsi, diksi, dan juga EYD *PundungDiPojokan*. Ya, sekarang saya sadar kenapa setiap fanfic yang saya buat pasti lebih banyak mengandung dialog daripada deskripsi.. err itu karena author pribadi lebih suka baca komik daripada novel *plak*. Semoga chapter kali ini tidak mengecewakan deh. Ammin.

Bocoran dikit, mungkin next chap bakalan ada adegan NC/21, jadi buat reader dibawah umur sebaiknya adegan itu di skip aja ya😀 Mm, kira-kira couple mana yang bakal ngelakuinnya ya? Nah sekian curcolnya. Like usual No Bashing okay, coz it just a FANFICTION?! Well, silahkan tinggalkan komentar atau kritiknya ya, semakin banyak yang ngasi komentar semakin cepet juga author upadate next cahapternya. kamsahamnida. ^^

30 thoughts on “Love Sick chapter 3

  1. keika berkata:

    wah setelah skian lama nunggu akhirnya chap 3 dpost.,
    aq harap jae ma chun dhampiri mukjijat., N g ad yang meninggal.,
    ditunggu chap slanjutnya.,
    jangan lama2 ea.,
    hehehehe
    gomawo

  2. jung hyo dae berkata:

    HUWAAAA#7oktaf
    kau apakan uchun thor!! my jidat baby hunie

    ngomong” ff ini updatenya lama ya?

    thor lanjut ne??

  3. aname91 berkata:

    Itu pemeran ceweknya dari girlsday semua y? Sepertinya harus searching ttg mereka…🙂
    author-san… Entah kenapa saya berharap ini happy end buat yoochun, tapi sad end buat jaejae #eh? #digampar haha, bercanda! Apapun akhirnya nanti saya menanti dgn setia…
    Hehe… Next chappie😄

  4. aname91 berkata:

    Author-san!!! Next chap-nya di protect ternyata..???!!! Gimana caraku membaca lanjutanya ???😦
    minta password!!!

  5. kalau dipikir2, misal Yoochun sama Hyo Rin jadian itu sah2 aja. Tapi memang agak bertentangan sama moral, ya. .
    kasian juga sih, bacanya. mereka musti sembunyiin perasaan masing2, setelah sama2 tahu kalau saling suka, malah ga direstuin sama orang tuanya. mending Yoochun mati aja deh, daripada sakit hati terus2an. *andweee u,u
    JJ kayaknya mulai cocok sama So Jin, nih. kayaknya dari awal emang So Jin itu suka ama JJ ya? atau dia cuma sekedar penasaran sama JJ gara2 namja itu ga tau kalau dia personil girlband?

    chapter berikutnya pake pass semua, ya? T,T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s