Kimi No Shiranai Monogatari Chap 1


Tittle : Kimi No Shiranai Monogatari (The Story You Didn’t Know)

Rate : NC/17

Genre : AU, STRAIGHT (Drama, Friendship, Romance)

Lenght : Series/ chaptered

Main Cast :
– Park Yoon Rie as Park Yeon Min
– Kim Junsu
– Shin Ae Ri as Shin Ae Ro
– Kim Jaejoong

Others Cast :
– Jang Eun Ji as Jang Eun Jae
– Shim Changmin
– Lee Hye Jin as Lee Jin Hyeok
– Park Yoochun
– Choi Yong Rae
– Jung Yunho
– Dll

Disclaimer : Inspiration From HANAKIMI (to the beautiful you)

Author : Satsukisorayuki

If You don’t like! Don’t read!

Chapter 1 : She’s back

“Junsu, dia sudah kembali. Apa kau tidak mau menemuinya?”

Yoochun membuka tirai jendela bangsal ayahnya seraya menunggu balasan seseorang dari sebrang sana. Matahari sudah naik rupanya tetapi tampaknya kedua orang yang masih tertidur di sofa itu tidak terganggu dengan sinar mentari pagi, wajah kedua wanita itu terlihat lelah dan mata mereka sembab karena menangis semalaman.

“Yoon Rie?” tanya seseorang disebrang sana,

“Ne,” jawab Yoochun singkat.

Kedua mata Yoochun berkaca-kaca ketika tatapannya tertuju pada sosok seseorang yang tengah terbaring lemah tak berdaya. Mesin pengontrol detak jantung itu masih menunjukkan angka-angka kritis. Ia memejamkan matanya dan sesaat kemudian sebelah tangannya terkepal kuat. Wajahnya yang merah seakan memperlihatkan isi hati Yoochun yang sebenarnya. Marah. Yah, tentu saja Yoochun sangat marah…kalau bukan karena orang itu ayahnya pasti tidak akan seperti ini.

“Kapan dia kembali?”

“Kemarin. Kau tidak mau bertemu dengannya?” ulang Yoochun.

“Tentu saja aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku sangat merindukannya tapi hari ini aku tidak bisa, Yoochun-a.”

“Jadi kau…”

“Yoochun-a, apa adikmu itu masih ingat padaku?” potong Junsu.

“Sedikitpun ia tidak pernah lupa tentang dirimu.”

“Oppa, kau sudah bangun?” tanya suara feminim di belakangnya.

“Yoochun aku tutup dulu ya, mianhae.”

‘tut..tut..tut,’ sambungan telepon itu pun terputus.

Yoochun tersenyum pada sosok yeoja yang paling ia sayangi setelah ibunya itu. Yeoja itu membalas senyum Yoochun dengan senyumannya yang tak kalah manis. Ah, betapa Yoochun sangat merindukan senyuman itu setelah sekian lama mereka terpisah.

“Tadi kau sedang menelpon siapa, oppa?”

“Um, hanya seorang teman.”

“Nuguya? Yeojacingu?” goda Yoon Rie seraya mengedipkan sebelah matanya,

“Hentikan! Apa kau sedang meledekku? Kau kan tau sendiri, gara-gara abeoji menyekolahkanku di sekolah khusus laki-laki aku jadi tidak punya yeojacingu sampai sekarang.”

“SYUKURLAH! TERIMAKASIH TUHAN!” teriak Yoon Rie dengan wajah berbinar-binar.

“Yaa! Apa maksudmu, Park Yoon Rie? Kenapa kau malah senang melihat kakakmu menderita, huh?”

“Tentu saja aku senang. Oppa kan tau di New York itu aku punya banyak sekali teman dan mereka semua sangat beranekaragam…um bagaimana mengatakannnya ya? Ya, bisa di bilang kebanyakan dari mereka bukan orang baik-baik karena diantara mereka semua ada yang sangat tergila-gila pada seks, pakai obat-obatan terlarang, minum minuman keras walaupun usia mereka masih di bawah umur, anggota gengsters, bahkan ada juga yang…gay. Syukurlah, walaupun oppa sudah hampir dua tahun mendekam disana oppa masih normal,” ujar Yoon Rie panjang lebar.

“JADI SELAMA DISANA KAU BERTEMAN DENGAN ORANG-ORANG SEPERTI ITU? OH MY GOD!” tiba-tiba saja sikap over protective Yoochun keluar.

“Tenang saja, aku tidak terpengaruh kok…lagian diantara mereka juga banyak orang-orang yang baik.”

“…tapi kan…”

“Yoon Rie, Yoochun, kalian sudah bangun?” suara lembut seorang wanita memutus percakapan kakak-beradik itu.

“Ne, eomma.”

“Ne, eomoni.” Jawab mereka bersamaan,

“Sebenarnya eomma tidak pantas melakukan ini terutama padamu Yoochun, mengingat kita baru berkumpul kembali kemarin…”

Yoon Rie mengerutkan kening, ia masih belum mengerti apa maksud perkataan ibunya. Sementara Yoochun hanya menundukkan kepalanya. Memang benar ia baru berkumpul kembali dengan ibunya dan Yoon Rie setelah 10 tahun terpisah semenjak ibu dan ayahnya bercerai hingga akhirnya ibunya memutuskan untuk pindah ke Amerika bersama Yoon Rie, tapi kesedihan itu telah lenyap setelah keduanya kembali rujuk satu bulan yang lalu.

“Maksud eomma apa sih?” tanya Yoon Rie,

“Kalian juga tau kan gara-gara pengkhianat itu perusahaan ayah kalian terancam bangkrut hingga akhirnya ia terkena serangan jantung seperti ini, eomma hanya tidak ingin melihat anak-anak kesayangan eomma menderita karena keluarga kita jatuh miskin. Yoochun karena kau masih sekolah kau belum bisa menjadi penerus ayahmu, jadi eomma memutuskan untuk menjodohkan kalian dengan anak teman eomma.”

“MWEO?” Teriak Yoochun dan Yoon Rie bersamaan.

“Ini demi ayah kalian juga jadi eomma mohon jangan membantah!”

“Tidak mau. Aku tidak mau!” protes Yoon Rie dengan air mata yang mulai berlinang membasahi wajahnya.

“Eomma kan sudah bilang, jangan membantah!”

“…tapi eomoni kami masih sekolah. Kami belum siap untuk menikah!” sambung Yoochun,

“Memangnya siapa yang menyuruh kalian untuk menikah? Kalian cukup bertunangan saja dulu!”

“AKU TIDAK MAU!”

“Park Yoon Rie ini rumah sakit, jangan teriak-teriak seperti orang gila begitu!” tegur ibunya.

“Memangnya tidak ada cara lain selain menjodohkan kami?”

“Diamlah, Yoon Rie! Eomma yakin kalian akan menyukai mereka,” sambung Ny.Park seraya menyerahkan selembar foto pada Yoochun dan Yoon Rie.

Yoochun menerima foto itu dengan ogah-ogahan, memang benar ia belum punya pacar karena peraturan asrama yang sangat ketat tetapi untuk menikah dengan seorang gadis yang sama sekali bukan pilihannya sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya terlebih usianya baru 17 tahun.

“Eomma walaupun aku lebih pintar dari oppa hingga bisa loncat kelas aku baru berusia 15 tahun, aku belum mau bertunangan apalagi menikah!”

“Boleh saja menolak tapi tidak usah menyombongkan diri begitu segala kali,” protes Yoochun tak terima.

“Lihat dulu fotonya! Kau pasti akan menyukainya, namanya Jung Yunho.”

Perlahan-lahan Yoon Rie membalik foto itu. Namja itu memang tampan dan keren tapi tetap saja Yoon Rie sama sekali tidak tertarik, walau bagaimanapun dulu sekali ia pernah memiliki seseorang yang sangat spesial dihatinya dan ia hanya ingin menikah dengan orang itu, tidak dengan orang lain…tidak akan pernah!

“Kau juga Yoochun, lihatlah foto gadis itu!”

Melihat wajah adiknya yang terlihat begitu sedih, ia merasa ragu untuk membalik foto itu. Ia takut gadis yang dipilihkan untuknya itu tidak sesuai dengan kriteria yang dia cari. Walau bagaimanapun Yoochun juga tidak ingin dijodohkan dengan seorang gadis yang sama sekali bukan pilihannya.

“Park Yoochun!” tegur Ny.Park dan perlahan-lahan Yoochun pun membalik foto itu,

“HAH?” kaget Yoochun,

“Ada apa oppa, gadis itu jelek ya? Hiks…hiks eomma memang jahat, eomma egois!”

Tanpa diduga oleh Yoon Rie, Yoochun malah tersenyum senang dan langsung memeluk ibunya. Yoon Rie melongo tak percaya.

“Dijodohin kok malah senang sih? Hiks, dasar oppa pabo!”

“Tentu saja aku senang, yeoja ini…dia adalah Hye Jin, saengi! Gomawo, eomoni!”

“Hye Jin? Huaa, kenapa oppa dijodihin dengan Hye Jin sementara aku dengan orang yang tidak aku kenal. Tidak adil. Ini semua tidak adil!”

“Jadi kau sudah kenal dengan yeoja itu?” tanya Ny.Park,

“Ne. Hye Jin kan teman kami sejak kecil eomoni, masa kau lupa?”

“Oh iya, eomma ingat. Ia anak tomboy itu, kan?”

“Hmm…” gumam Yoochun, senyum tak lepas dari wajahnya.

“Kau lihat Yoon Rie, kakakmu saja sudah setuju…jadi mau tidak mau kau juga harus setuju!”

“EOMMA JAHAT! SUDAH KUBILANG AKU TIDAK MAU! TIDAK MAU!” teriak Yoon Rie yang kemudian berlari keluar kamar, Ny.Park hanya menggelengkan kepalanya.

>>>>>.<<<<<

=> Di Asrama, kamar no 204.

“Yun Yun!” panggil seseorang,

“Yaa! Kenapa kau ikut-ikutan memanggilku Yun Yun, Jae! Nama macam apa itu?” protes Yunho dengan mata berkilat marah.

“Wae? Nama itu cocok untukmu?”

“Mwo?”

“Sudahlah Yun Yun, itu kan panggilan kesayangan untukmu. Mestinya kau senang, hyung. Walau bagaimanapun kau menjadi ketua OSIS kan berkat mereka juga!” sambung seseorang lainnya.

“Tetap saja aku tidak suka dengan nama itu!”

“Ah president malu-malu nih!” goda orang itu pula, sementara Jaejoong sibuk menahan tawanya.

“Yaa! Shim Changmin! Bibirmu yang sexy itu ingin kubuat lebih sexy lagi, heh!”

“Boleh saja, asal kulkasmu beserta seluruh isinya untukku! Selain itu jatah makan malammu setiap hari, untukku juga ya?” sambung Changmin dengan wajah polosnya.

“Dasar monster food!”

“Yun Yun!”

“YAA! KIM JAEJOONG! BERHENTI MEMANGGILKU YUN YUN!”

“Baiklah, president. Ayolah bantu aku keluar dari asrama ini! Aku ingin menjemput seseorang di bandara!”

“Tidak bisa, Jae! Kau kan tau sendiri peraturan asrama kita ini sangat ketat, Yoochun saja perlu susah payah meminta izin kepsek saat ia mendengar kabar kalau ayahnya masuk rumah sakit apalagi kau yang hanya akan menjemput seorang yeoja, kujamin kau tidak akan diberi izin!”

“Hah? Memangnya mereka tidak pernah muda apa? Aku benar-benar sangat merindukan Ae Ri! Hari ini dia akan kembali, itu yang kudengar dari paman dan bibinya. Memangnya kau tidak bisa membantu sahabatmu ini?”

“Pergi keluar untuk sekedar bertemu dengan Yong Rae saja aku tidak bisa apalagi membantumu!”

“…tapi kau kan ketua osis. Kau pasti bisa menggunakan cara apapun, kan?”

“Sudahlah, lagipula yeoja yang bernama Ae Ri itu belum tentu masih ingat padamu!”

“Aku saja tidak lupa padanya, jadi aku yakin sekali dia juga tidak lupa padaku. Selain itu, Ae Ri adalah calon istriku…yah walaupun dia belum tau tapi pasti sebentar lagi ia akan segera tau.” Cerita Jaejoong sambil tersenyum senang,

“Hari ini sepertinya kau bahagia sekali! Padahal sejak ibumu meninggal aku tidak pernah melihatmu tersenyum dari hati, tapi hari ini kau bahkan hampir tertawa.”

“Jangan ingatkan aku tentang itu!” ujar Jaejoong dingin,

“Dasar Yun Yun, kau memang tidak peka. Lihat akibat perbuatanmu! Gara-gara kau dia kembali jadi ‘Ice Prince’ lagi, kan? Um…mashitta…”

Mata Yunho melebar saat melihat makanan yang baru di belinya tadi sudah hampir habis dimakan Changmin padahal demi Tuhan saat ini dia sedang kelaparan gara-gara seharian sibuk dengan pekerjaannya sebagai ketua osis.

“KEMBALIKAN MAKANANKU!” teriak Yunho seraya merebut roti yang tinggal setengah dari tangan Changmin dengan kasar.

“Yah..yah…aku masih belum kenyang!”

“SUDAH MAKAN EMPAT BUNGKUS ROTI MILIKKU SEENAKNYA, KAU MASIH BELUM KENYANG? HARI INI BENAR-BENAR HARI MINGGU YANG MENYEBALKAN!” teriak Yunho berapi-api.

“Aku sudah tidak mood, hari ini hari terakhirku menjadi ‘princess’ aku tidak mau lagi!” ujar Jaejoong seraya melepas wig panjang dan pakaian maidnya.

“Heh, hyung! Jangan curang dong! Minggu lalu aku saja menjadi princessnya selama satu minggu penuh…masa kau baru dua hari sudah mau berhenti? Lagipula event olahraga tinggal satu minggu lagi, kalau kau berhenti sekarang siapa yang akan menyemangati teman-teman? Bukankah kita sudah berjanji pada kepala sekolah dan guru-guru kalau tahun ini kita akan menjadi juara?” sambung Changmin panjang lebar.

“Minta saja pacar Yunho dan teman-temannya untuk menggantikanku.”

“Kau ini, anak perempuan kan tidak boleh masuk sini!” protes Changmin.

“Jae, kau boleh marah padaku tapi jangan begini! Lagipula mereka tidak memintamu macam-macam, kan? Kau hanya perlu tersenyum dan menyemangati mereka.”

“Tersenyum? Menyemangati? Mereka itu gila, mana ada laki-laki yang sampai mimisan hanya karena melihatku memakai pakaian bodoh itu, terlebih mereka juga suka memaksaku untuk foto bareng.”

“Aku juga diperlukan begitu sewaktu menjadi princess, bulan lalu saat sepupumu menjadi princess ia bahkan hampir dicium si Bong Choi…dibibir lagi! Syukurin bibirnya bengkak karena kena cium bola yang ditendang Junsu, hahaha.”

“Itu karena saat itu Junsu sangat manis.” Sambung Yunho,

“Memang tapi kan tidak perlu begitu juga kali, kita ini kan laki-laki Yun Yun!”

“Sekali lagi kau memanggilku Yun Yun, kuhajar kau!”

“Kau ini tempramen sekali sih!”

“Kalau diigat-ingat masa-masa Junsu saat menjadi princess, aku bahkan pernah melihat si Tae Suk hampir merape Junsu…untung saja Junsu melawanya hingga akhirnya dia sampai harus dirawat di ruang kesehatan selama dua minggu karena bahunya dipatahin Junsu. Hahaha, rasakan!”

“Dengar Yun jika kau tak ingin aku memasukan seseorang lagi ke UKS, biarkan aku berhenti! Kau atau Yoochun kan bisa menggantikanku! Kalian berdua juga harus merasakan bagaimana rasanya menjadi princess!”

“Memangnya berapa orang yang sudah kau ‘paksa’ masuk ke UKS, hyung?” tanya Changmin penasaran,

“Sejauh ini baru delapan orang!”

“Mwo? Baru dua hari sudah delapan orang yang kau masukkan ke UKS?” sambung Yunho,

“Kau tidak tahu sih, tatapan mesum mereka itu sangat menjijikan!” tegas Jaejoong.

“Mau bagaimana lagi, ini kan sudah tradisi di sekolah kita setiap kali menyambut event olahraga atau kegiatan-kegian tertentu lainnya.”

“Benar hyung, ayolah jangan curang lagian tinggal 4 hari lagi kan? Setelah itu kau tidak perlu menjadi princess lagi!”

“Kalian mau membayarku berapa, hmm?”

“Aku akan mengerjakan PR Matematikamu selama satu bulan penuh!” jawab Changmin.

“…dan aku akan membantumu membolos, besok. Bukankah kau ingin bertemu dengan Ae Ri mu itu?”

“Bagaimana caranya?” tantang Jaejoong,

“Gampang, kubilang saja pada kepsek kalau kau sakit parah dan harus check up ke rumah sakit…pasti diizinin deh.”

“KAU GILA! KALAU AKU SAKIT BENERAN BAGAIMANA?” teriak Jaejoong.

“Tidak akan, kau kan sehat Jae!”

“Baiklah, tapi aku bolosnya dua hari ya?”

“Okay, bisa diatur. Nah, sekarang pakai lagi pakaianmu, dandan yang cantik, dan pergilah ke lapangan untuk menyemangati anak-anak club sepak bola!” perintah Yunho.

“Ne.”

Jaejoong pun kembali memakai pakaian maidnya dan memasukkan dua buah jeruk ke dadanya. Setelah itu ia memakai kembali wignya dan memoles wajahnya di depan cermin.

“Yun Yun, bukankah dia sangat cantik? Yong Rae saja kalah menurutku,” bisik Changmin seraya memperhatikan pantulan wajah Jaejoong dari cermin itu.

“Enak saja. Jelas-jelas Yong Rae lebih cantik!”

“Ya..ya, terserah kau sajalah hyung!”

“President?”

“Ne?”

“Kali ini aku harus tersenyum seperti apa?”

“Kau ini, bukankah Changmin sudah mengajarimu!”

“…tapi aku sedang tidak mood tersenyum gara-gara tadi kau menyinggung soal mendiang ibuku!”

“Bukankah besok kau akan bertemu dengan Ae Ri, hmm? Pikirkan saja dia dan anggap saja anak-anak club sepak bola itu Ae Ri, dengan begitu kau bisa tersenyum dengan tulus.”

“Benar juga, kalau begitu aku pergi dulu!” pamit Jaejoong yang kemudian keluar dari kamar Yunho dan Changmin,

“Hyung, andai Jaejoong hyung terlahir sebagai wanita…aku pasti akan jatuh cinta padanya,” gumam Changmin.

“DASAR KAU INI! GANTI SEMUA MAKANANKU YANG SEENAKNYA KAU MAKAN TADI SEKARANG JUGA!” teriak Yunho tepat di dekat telinga Changmin,

“APA KAU MAU MEMBUATKU TULI, JUNG YUNHO? Begini-begini aku lebih pintar dari kalian makanya bisa loncat kelas!”

“Arra. Aku tidak mau tau, cepat ganti semua makananku!”

“Iya…iya, aku akan ke kantin sekarang!” ujar Changmin yang kemudian lekas keluar kamar.

>>>>>.<<<<<

Jaejoong berkali-kali terjatuh setiap kali dia berjalan. Memakai sepatu hak setinggi 7cm ini sungguh membuatnya frustasi, dengan seringai yang sangat menyeramkan ia pun melempar sepatu tak berdosa itu hingga akhirnnya sepatu itu mengenai kepala guru kimianya yang botak.

“Adaawww!” teriak guru Kimia itu,

Jaejoong menelan ludahnya, bagaimanapun ia tak ingin berurusan dengan guru kimia yang terkenal killer itu. Bisa-bisa ia dijemur seharian di tengah-tengah lapangan atau yang lebih parah lagi disuruh membersihkan toilet dan gudang yang penuh dengan debu selama satu minggu berturut-turut.

“SIAPA YANG BERANI MELEMPARKAN SEPATU INI PADAKU?” teriak guru kimia itu,

‘Aish, kalau begini bisa-bisa aku kena hukum. Apa yang harus kulakukan ya?’ pikir Jaejoong.

“KIM JAEJOONG! KAUKAH YANG MELAKUKANNYA?”

“Mianhae sonsaengnim, aku tidak sengaja. Hari ini aku memang sedang bad mood jadi bawaannya pengen melempar sesuatu tapi tak kusangka sepatu itu malah mengenaimu, mianhamnida!” Jaejoong menjelaskan semuanya, berharap guru kimia itu akan luluh tapi ternyata tidak…

“KIM JAEJOONG! KAU AKU HUKUM! BERDIRI DI TENGAH LAPANGAN TENNIS SEKARANG JUGA SAMPAI JAM 4 SORE NANTI!”

“…tapi sonsengnim sekarang ini hari libur, lagipula aku harus menyemangati anak-anak club sepak bola.”

“TIDAK ADA ALASAN, PADAHAL AKU HANYA INGIN KE TOILET TAPI TIBA-TIBA SAJA SEPATU SIALAN INI MENGENAI KEPALAKU YANG MULUS INI! KALAU AKU SAMPAI GEGAR OTAK BAGAIMANA? MEMANGNYA KAU MAU BERTANGGUNG JAWAB, HAH?”

‘Aduh, apa yang harus aku lakukan? Apa aku pura-pura pingsan saja ya? Tidak…tidak…bagaimana kalau sampai ketahuan, hukumanku bisa ditambah nih.’

“KIM JAEJOONG!”

‘Masa bodoh ah, Mi Yoon nuna kan diam-diam naksir padaku jadi aku bisa memintanya untuk membantuku berbohong.’

“CEPAT KE LAPANGAN SEKARANG!”

‘Bruukkk’

“Yaa! Kim Jaejoong, kau kenapa?” kaget guru kimia itu ketika Jaejoong tiba-tiba terjatuh tepat di depan matanya.

“Gawat, apa anak ini sedang kurang sehat ya? Sebaiknya kubawa dia ke ruang kesehatan saja.” Ujar Pak Lee yang kemudian memapah Jaejoong hingga akhirnya mereka sampai di ruang kesehatan.

“Sonsengnim, bukankah dia Kim Jaejoong? Kenapa dia berpakaian seperti itu?”

“Kau tidak tahu? Minggu ini kan gilirannya menjadi princess.”

“Lalu kenapa dia pingsan?”

“Aku tidak tahu, tolong periksa dia Mi Yoon-ssi!”

“Ne, tolong baringkan disana!” sambung dr.Mi Yoon seraya menunjuk sebuah ranjang kosong.

Pak Lee pun segera membaringkan Jaejoong di atas kasur. Setelah itu dr.Mi Yoon bergegas memeriksa keadaan Jaejoong.

“Sonsaengnim, ia tidak ap….”

Jaejoong mencubit pelan lengan Mi Yoon, mumpung Pak Lee sedang lengah ia pun memberikan isyarat pada Mi Yoon.

‘nuna, bantu aku…kali ini saja!’ Jaejoong berbicara tanpa suaranya, untungnya Mi Yoon bisa membaca gerakan bibir Jaejoong dengan tepat. Ia pun mengangguk mengerti.

“Bagaimana keadaannya, Mi Yoon?”

“Sepertinya dia kelelahan, mungkin gara-gara sibuk menjadi princess sekaligus karena pekerjaannya sebagai wakil ketua osis sangat banyak akhir-akhir ini. Ia harus istirahat, sonsaengnim!”

“Baiklah, kalau begitu kuserahkan dia padamu.”

“Ye.”

“Aku permisi dulu,” pamit Pak Lee yang kemudian pergi.

“Kenapa kau berbohong?”

“Dia mau menghukumku,” Jawab Jaejoong setelah bangkit dari posisi berbaringnya.

“Memangnya apa yang telah kau lakukan padanya?”

“Aku hanya tidak sengaja melempar sepatu hak ke kepalanya.”

“Apa kau bilang? Sonsaengnim terkena sepatu high heels? Hahaha…pasti sakit sekali,” Mi Yoon tertawa terbahak-bahak seraya memegangi perutnya yang mulai sakit karena kelamaan tertawa.

“Tidak sopan menertawakan orang tua,” ketus Jaejoong.

“Habisnya lucu banget sih, hahaha…”

“Keumanhae! Nanti dia dengar bagaiamana?”

“Benar juga.” Ujar Mi Yoon yang akhirnya berhenti tertawa,

“Ngomong-ngomong kedelapan pasienku yang lagi pada tidur itu mengadu pada Shin oppa dan aku kalau mereka cedera karena di hajar oleh seseorang, 5 orang diantaranya kemarin dan sisanya tadi pagi. Apa kau yang melakukannya?”

“Memangnya kenapa? Mereka memang pantas di hajar, nuna!”

“…tapi gara-gara kau beberapa tulang rusuk mereka patah. Kalau orang tua mereka sampai tahu, kau bisa dikeluarkan dari sekolah!”

“Salah sendiri berani macam-macam pada ketua club Taekwondo sepertiku!”

“Memangnya apa yang sudah mereka lakukan padamu, hmm?”

“Tidak banyak sih, mereka hanya merayuku saja!”

“Mwo? hanya karena merayu kau sampai mematahkan tulang rusuk mereka? Kau sungguh kejam!”

“Biar saja!”

“Ckck…benar-benar orang yang dingin!”

>>>>>.<<<<<

“Dimana princess Jaejoong, ya? Kok belum kelihatan?” tanya seseorang pada seseorang lainnya saat sedang sesi istirahat,

“…tadi saat aku mau ke toilet. Aku melihatnya pingsan di depan Lee sonsaengnim, sepertinya dia sedang sakit jadi hari ini mungkin dia nggak akan kesini.”

“Oh, begitu? Sayang sekali, padahal saat dia menjadi princess, aku seperti sedang melihat Eun Ha karena itulah aku semangat sekali kemarin!”

“Ya ampun Lee Gikwang, jadi yang kau bayangkan saat itu yeojacingumu?”

“Hmm, aku sangat merindukan Eun Ha. Sudah tiga bulan kami tidak bertemu!”

“Gikwang, Doo Joon, cepat kembali kelapangan!” panggil seorang pelatih,

“Ne,” teriak mereka yang kemudian segera melanjutkan latihan mereka.

“Yaa! Jae Joong kenapa tidak kelihatan hari ini?” tanya seseorang pada Doo Joon saat Doo Joon hendak merebut bola dari kakinya,

“Wae? Kau tidak ketularan si Bong Choi dan komplotannya, kan?”

“Tentu saja tidak.”

“Lalu kenapa kau terlihat begitu mengharapkan ia datang?”

“Ini kesempatan langka untuk bisa melihatnya tersenyum, tahu. Walaupun kami cukup dekat, aku jarang melihatnya tersenyum semenjak ibunya meninggal.”

“Haha, akhirnya aku mendapatkan bolamu. Kalau bisa, ayo kejar aku!” tantang Doo Joon seraya menggiring bola dengan gerakan kakinya yang sangat lincah.

“Aish, awas kau!” teriak Hyun Joong yang kemudian berlari menyusul Doo Joon.

>>>>>.<<<<<

Suasana hening dan sepi tercipta di sekitar koridor rumah sakit. Malam ini begitu dingin dan sunyi. Perawat-perawat dan beberapa dokter jaga yang biasanya berseliweran di area bangsal VIP tidak terlihat karena ini sudah masuk jam istirahat. Waktu sudah menunjukan pukul 2 dini hari.

Seorang remaja dengan piayama pasien yang dikenakannya terlihat berjalan tertatih. Ia sengaja berjalan-jalan sepanjang koridor karena ia merasa bosan terus menerus berbaring di atas ranjang. Sang ibu dan kakak yang menungguinya sudah terlelap tidur sejak tadi.

Nafas pemuda itu mulai tersenggal. Bukan karena efek kelelahan melainkan kondisi jantungnya yang memang belum stabil. Dua minggu lebih berada di rumah sakit membuatnya tak yakin bahwa ia bisa pulih. Yoon Min Tae—dokter yang selama ini merawatnya—tadi siang mengatakan bahwa yang ia butuhkan sekarang bukan hanya perawatan serta obat-obatan tetapi ia juga membutuhkan jantung yang baru. Di satu sisi ia merasa pasrah karena ia sudah menyadari bahwa cepat atau lambat hal ini pasti terjadi, namun disisi lain ia merasa bimbang. Ia masih ingin hidup tetapi itu berarti ia mengharapkan seseorang mati demi kesempatannya untuk hidup.

Nafas pemuda itu semakin tersenggal dan wajahnya semakin pucat, keringat dingin mulai bermunculan menghiasi wajah letihnya. Ia pun menyandarkan tubuhnya yang hampir limbung pada dinding yang berada di dekatnya. Saat itu juga rasa sakit itu menghujamnya tanpa ampun. Ia pun mencengkram kuat dada kirinya, kini nafasnya semakin memburu. Selang beberapa menit kemudian ia terbatuk-batuk,

“Uhuk…uhuk…uhuk…Hoek!” dan tiba-tiba saja darah segar keluar dari mulutnya.

Untuk sesaat ekspresi pemuda itu terlihat begitu kaget karena ini adalah pertama kalinya ia muntah darah. Ia pun tersenyum miris lalu mengambil saputangannya dan menghapus darah pekat disekitar mulut dan tangannya sampai bersih. Tiba-tiba ia kembali teringat ucapannya tadi siang.

“Keumanhae! Kenapa kau yang menangis sih? Memangnya kau juga merasakan apa yang kurasakan?”

“Tentu saja, kita ini kan saudara kembar! Aku tidak mau kau mati!”

“Siapapun pasti akan mati, Junho…kita juga begitu! Jadi berhentilah memperlihatkan wajah seperti itu di depanku!”

 

‘Benar, kalau aku saja masih bisa bersifat sewajarnya…kenapa kau tidak?’ pikir Junsu.

Setelah rasa sakitnya sedikit berkurang, Junsu pun kembali melangkahkan kakinya. Langkah Junsu terhenti ketika ia menemukan seorang gadis cantik sedang tertidur disebuah kursi tunggu dengan mata sembab seperti habis menangis seharian. Junsu menghampiri gadis itu. Sosok itu terlihat begitu familiar di matanya hingga akhirnya ia tersadar, gadis itu…

“Yoo…Yoon…Yoon Rie?”

Jantung Junsu tiba-tiba berdebar semakin kencang namun hatinya terasa begitu hangat dan nyaman. Ia pun melepaskan sweeter tebal yang membungkus bahunya lalu memberikan sweeter itu pada si gadis, Junsu bahkan menyelimuti gadis itu sambil tersenyum manis seperti biasanya,

“Yoon Rie, kau semakin cantik! Kukira aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi.”

Perlahan-lahan ia menyentuh pipi Yoon Rie dan mengecup keningnya namun hanya sekian detik karena ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ternyata ia sudah ketahuan kabur dari kamar rawatnya.

“Su-i!”

“Jangan memanggilku seperti itu, aku bukan anak kecil lagi tahu!” protes Junsu.

Junho menghampiri Junsu dengan raut wajah yang tampak khawatir setengah mati.

“Junsu! Kau tahu kan kalau kau itu sedang sakit! Kenapa tidak istirahat di kamar?” tanyanya seraya menatap Junsu dengan tatapan tajam.

“Mianhae, aku hanya merasa bosan di kamar terus.”

“…tapi tidak perlu keluar malam-malam begini juga, kan?” protesnya,

Junsu hanya nyengir tiga jari lalu melangkahkan kakinya dengan lambat. Junho memperhatikan gadis remaja yang baru saja diberi sweeter oleh saudara kembarnya itu. Rona merah tiba-tiba saja terlihat jelas di pipinya.

“Yoon Rie? Kok dia agak mirip Yoon Rie, ya? Jangan-jangan dia memang Yoon Rie? Wah, sekarang kau semakin cantik!”

“Kau masih menyukainya ya?” tanya Junsu tampak tak suka,

“Kalau begitu berarti kau juga masih menyukainya, makanya aku merasakan hal yang sama denganmu?”

“Sudahlah, jangan dibahas!”

Junho pun menyusul Junsu lalu menuntun langkah Junsu menuju kamar rawatnya. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua dari balik celah pintu sejak tadi. Orang itu tersenyum kecil,

“She’s back. Apa yang akan kau lakukan sekarang Junsu? Apakah kau akan mendekatinya atau justru menjauhinya?”

Yoochun menghampiri Yoon Rie dan duduk disampingnya. Ia kembali mengarahkan pandangannya pada kedua sosok kembar yang hampir menghilang dari pandangan matanya.

“Dasar mereka itu! Mentang-mentang kembar, dua-duanya sama-sama menyukai adikku tapi wajar sih kau kan adikku makanya kau jadi ketularan punya banyak fans deh.” Kata Yoochun dengan ge-er’nya.

Yoochun menepuk-nepuk pipi Yoon Rie sambil tersenyum jahil,

“Engh…oppa?”

“Akhirnya kau bangun juga? Kenapa tidur disini? Ayo masuk!”

“Tidak mau, aku masih kesal pada eomma!”

“Biarpun begitu kau tidak boleh tidur disini! Kalau kau sakit kan aku juga yang repot!”

“Aku kan tidak memiliki penyakit asma sepertimu jadi aku tidak akan gampang sakit.” Ujar Yoon Rie sambil meleletkan lidah, Yoochun yang semakin gregetan akhirnya mencubit pipi adiknya itu.

“Aawww, sakit tahu!” protes Yoon Rie dengan wajah cemberut,

“Habisnya kau suka sekali meledekku sih. Aku kan jadi gemas padamu.”

“Memangnya aku anak kecil?”

“Kajja, jangan tidur disini!”

Yoon Rie mengerutkan kening saat melihat benda asing yang menempel dibadannya, ia pun mencium aroma parfum yang masih tertinggal di sweeter itu.

“Oppa, ini sweeter siapa? Seingatku ini bukan aroma parfummu, jadi aku yakin ini pasti bukan punyamu!”

“Memang bukan milikku.”

“Kalau begitu, ini punya siapa?”

“Mollayo. Sudahlah tidak usah kau pikirkan! Simpan saja, siapa tahu nanti kau bisa bertemu dengan pemiliknya.”

“Baiklah,” Ujar Yoon Rie yang akhirnya melangkahkan kakinya menuju kamar rawat ayahnya.

>>>>>.<<<<<

“Begitulah ceritanya, Hye Jin-a.”  Ujar Yoon Rie setelah menceritakan semua yang dialaminya kemarin pada seorang gadis yang ia panggil Hye Jin itu.

“…tapi ibumu kan melakukan hal itu untuk kebaikan kalian juga.”

“Yang benar saja…aku tidak mau dijodohkan dengan putera sulung ‘Jung’ itu, Hye Jin-a!”

“Lho memangnya kenapa? Kudengar Jung Yunho itu orangnya tampan, keren, baik, kaya, pinter ngedance lagi…pasti cewek-cewek lain akan iri jika kau bersanding dengannya!” puji Hye Jin panjang lebar, sama sekali tak peka dengan perasaan yang kini berkecamuk di hati Yoon Rie.

“Shireo, aku mempunyai cinta pertama yang tidak bisa aku lupakan!” tegas Yoon Rie seraya mencengkram erat ujung sweeter abu-abu yang dikenakannya.

“Ngomong-ngomong sweetermu itu kok bau cowok, ya? Punya siapa, hayo? Bukankah kau belum bertemu dengan cheosarangmu itu.”

“Aku juga tidak tau ini punya siapa.”

“Kalau begitu kenapa kau memakainya?”

“Entahlah, aku merasa nyaman memakai ini.”

“Dasar orang aneh!”

“Ngomong-ngomong kau sendiri bagaimana?”

“Apa maksudmu?” tanya Hye Jin bingung,

“Kau kan mau dijodohkan dengan oppaku, pabo! Masa kau tidak merasakan apa-apa?”

Seketika itu pula semburat merah muncul memenuhi wajah Hye Jin. Demi Tuhan hatinya benar-benar berdebar kencang sekarang. Setelah sekian lama memendam perasaan terhadap Yoochun akhirnya dewi amor memihak padanya. Ia benar-benar merasa sangat bahagia. Kini pikirannya melayang kemana-mana. Ia mulai membayangkan seperti apa kehidupannya setelah menikah dengan Yoochun.

“Lee Hye Jin! Apa kau masih hidup?”

“Bicara apa kau? Tentu saja aku masih hidup!”

“Kupikir jiwamu sudah dibawa pergi oleh oppaku,” ujar Yoon Rie sambil tersenyum.

Wajah Hye Jin semakin memerah. Ya Tuhan bahkan senyum Yoon Rie saja bisa mengingatkannya pada Yoochun tapi sebenarnya itu adalah hal yang wajar karena senyuman Yoon Rie memang agak mirip dengan senyuman kakaknya.

“Menyesal aku menyinggung tentang oppa, sekarang saja kau sudah mengacuhkanku.”

“EH? Mianhae, lalu apa yang akan kau lakukan Yoon Rie?”

“Tunggu aku pikir-pikir dulu!” ujar Yoon Rie yang langsung memasang pose berpikir.

>>>>>.<<<<<

“Keumanhae! Kau sudah terlalu banyak minum!” tegur seseorang seraya merebut kaleng bir dari tangan sahabatnya.

“Hiks..Hiks…Eun Ji-ya, aku tidak mau dijodohkan dengan orang yang tidak aku kenal!” ujar Ae Ri.

Hari ini Ae Ri memang sudah berada di Seoul. Kemarin ia merasa sangat kesal karena yang menjemputnya dan juga kedua orang tuanya saat itu hanya bibi dan saudara sepupunya, Mi Cha. Orang yang sangat ia harapkan untuk menjemputnya sama sekali tidak datang. Dan Sekarang ia sedang berada di rumah sahabatnya—Eun Ji—Eun Ji memang sudah tiba di Korea sejak dua bulan yang lalu karena ia lebih suka tinggal di Korea walaupun berkewarganegaraan Amerika karena lahir disana padahal kedua orang tuanya masih menetap disana.

“Memangnya kenapa? Siapa tahu calon suamimu itu tampan dan kau akan jatuh cinta padanya!”

“Aku tidak mau! Aku baru saja kembali ke Korea setelah meninggalkannya selama 12 tahun, masa iya aku harus meninggalkannya lagi!”

“Siapa yang kau maksud? Cinta pertamamu itu?”

“Ne, Cheosarang. Namja yang aku cintai hanya dia, Eun Ji-ya!”

“Apa kau yakin kalau dia itu cinta pertamamu?”

“Apa maksud pertanyaanmu itu, hah?” tanya Ae Ri agak kesal.

“Maksudku adalah 12 tahun yang lalu itu kau kan baru berusia 4 tahun dan dia 5 tahun, kan? Memangnya anak sekecil itu sudah bisa mengerti cinta apa? Itu kan tidak wajar! Hah, ini pasti gara-gara kau kebanyakan minum!”

“…tapi sejak kecil aku memang sudah menyukainya.”

“Hanya perasaan ‘suka’ apa istimewanya? Lagipula orang itu belum tentu masih ingat padamu!”

Deg! Perkataan Eun Ji itu benar-benar menohok hatinya. Memang benar yang dikatakan Eun Ji, belum tentu Jaejoong masih mengingatnya? Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat terlebih sejak ia sekelurga pindah ke New York, ia dan Jaejoong benar-benar kehilangan kontak. Mungkin saat itu orang tuanya masih berhubungan dengan keluarga Jaejoong tetapi dirinya kan sama sekali tidak. Selama di Amerika ia bahkan sudah terbiasa hidup mandiri, kesibukkan kedua orang tuanya membuatnya muak hingga akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di Asrama sekolahnya.

Sudah berkali-kali pula ia menelan pil pahit karena di sekolah pun ia lebih banyak memiliki musuh daripada sahabat atau sekedar teman. Kebanyakan dari mereka memandang rendah dirinya. Mereka menganggapnya berbeda tetapi kenyataannya dari segi fisik pun dia dan mereka memang berbeda. Rata-rata mereka memiliki mata biru dan hijau, rambut mereka pirang keemasan, mereka juga lebih tinggi darinya, terlebih body mereka sangat sexy. Jika tidak ada Eun Ji dan Yoon Rie disana, sudah sejak dulu dia memutuskan untuk bunuh diri karena tidak tahan dengan perlakuan mereka.

“Eun Ji-ya, aku sudah memutuskan untuk…”

“Untuk?” potong Eun Ji,

“Pokoknya aku mau kabur dari rumah dan bersembunyi di suatu tempat yang tak akan mungkin ketahuan!”

“Orang tuamu kaya raya, dengan koneksi yang mereka miliki kujamin kau akan segera ketahuan!”

“Tidak akan pernah jika aku memalsukan identitasku dan menyamar sebagai laki-laki yang bersekolah di sekolah khusus laki-laki!”

“HEH? KAU GILA!”

“I don’t have choise…”

Eun Ji semakin shock mendengar pernyataan gila sahabatnya itu. Ia tak menyangka Ae Ri akan senekat ini. Walau bagaimanapun selama di Amerika sahabat terbaiknya hanya Ae Ri dan Yoon Rie karena itulah ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada mereka berdua, ditambah lagi Ae Ri dan Yoon Rie memang satu tipe, mereka cenderung ceroboh dan tidak pernah berpikir panjang sebelum merencanakan sesuatu, selain itu saat di Amerika pun kedua sahabatnya itu punya banyak sekali penggemar.

Eun Ji benar-benar cemas setengah mati, berbagai pikiran buruk pun memenuhi otaknya. Bagaimana jika Ae Ri sampai ketahuan lalu diperkosa ramai-ramai oleh cowok-cowok itu? Mungkin memang benar kalau orang-orang Amerika itu cenderung lebih ganas dari orang-orang Asia tetapi toh ketiganya bisa bertahan selama menetap disana, hanya saja situasinya sekarang sangat berbeda…walaupun mereka orang Asia mereka tetap laki-laki dan dia amat sangat yakin disekolah itu pasti guru-guru wanitanya pun cenderung lebih sedikit dibanding guru-guru pria.

“Aku ikut denganmu, ya?”

“Maksudmu, Eun Ji?”

“Aku akan menyamar sebagai laki-laki juga untuk melindungimu!”

“Hah? Sudahlah, tidak usah! Kau juga punya kehidupan sendiri lagipula aku juga bisa menjaga diriku sendiri jadi kau tidak usah ikut-ikutan terlebih kau sangat err…feminim.”

‘Pletak’

“Aoww, kenapa kau tiba-tiba memukul kepalaku?”

“Apa kau lupa saat kita masih di Amerika, hah? Saat-saat teman-teman kita mengajak kita berpesta di club malam kau hampir di perkosa oleh om-om genit, kalau tidak ada aku yang menolongmu kau pasti sudah…walaupun aku ini sangat feminim kalau sudah menyangkut soal kau atau Yoon Rie, aku bisa bertindak layaknya pria tahu!”

“Ya, ya, I’m sorry sista!”

“Jadi ‘deal’ ya aku ikut denganmu?”

“Hmm, deal. Gomapta, aku sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu Eun Ji-ya.” ujar Ae Ri seraya memeluk Eun Ji.

“Ae Ri-ya, padahal perasaanmu itu lebih halus dariku tapi kok bisa sih memutuskan ide gila seperti ini?”

“Entahlah, Eun Ji-ya. Aku hanya tidak ingin dijohkan dengan orang yang tidak aku kenal!”

“Mulai sekarang kita harus berlatih agar kita bisa cepat menyesuaikan diri di sekolah itu!”

“Ya, akan aku awali dengan ini…” ujar Ae Ri yang kemudian berdiri di depan cermin lalu mulai memotong rambut panjangnya dengan airmata berlinang.

“Ae Ri-chan! Kalau sudah besar nanti panjangkan rambumu, ya? Kau pasti cantik sekali, seperti bunga Sakura yang bermekaran di musim semi yang indah.”

“Kenapa kau selalu memanggilku dengan sufix ‘chan’? Aku bukan orang Jepang tahu!”

“…tapi ibuku orang Jepang, ia slalu memanggilku dengan sufix ‘chan’ jadi aku ketularan deh hehe.”

“Dasar kau ini! Kalau begitu ku panggil kau ‘Jejung-niichan’ saja ya?”

“Boleh Ae Ri-chan!”

 

“Ae Ri-ya, kalau memang merasa berat kau kan bisa memakai wig!”

“Terlalu beresiko, Eun Ji!”

“…tapi Jaejoong lebih suka gadis berambut panjang, kan?”

“Sudahlah toh mulai sekarang aku bukan Ae Ri lagi, sekarang namaku ‘Shin Ae Ro’ aku akan menjadi seorang cowok yang kuat biar tidak ketahuan!”

“Tetap saja kekuatan fisik kita kalah jauh dari mereka. Kita kan yeoja, pabo!”

“Itulah sebabnya aku akan lebih rajin berolahraga, kalau kau cukup fokuskan pada sifat feminimmu yang sulit dirubah itu!”

“Yee, aku kan juga harus meningkatkan kekuatan fisikku!”

“Eun Ji-ya, apa kau akan memotong rambutmu juga?”

“Tentu saja.” Jawab Eun Ji sambil tersenyum.

Air mata Ae Ri kembali menetes saat helaian rambut Eun Ji berjatuhan ke lantai, seingatnya Eun Ji sangat menyukai rambut panjangnya hingga ia rajin sekali pergi ke salon untuk perawatan tetapi hanya karena keegoisannya Eun Ji sampai rela memotong rambutnya. Ae Ri menggigit bibir bawahnya, dalam hati ia sedikit merasa bersalah.

“Bagaimana? Apa aku sudah terlihat seperti cowok?” tanya Eun Ji dengan wajah ceria.

Ae Ri menghapus air mata dipipinya lalu mengangguk.

“Ae Ri, tidak usah menangis begitu toh suatu hari nanti rambutku pasti akan panjang lagi. Sekarang kita shopping, yuk! Kita beli barang-barang cowok lalu mulai membuat identitas palsu. Mulai sekarang panggil aku ‘Jang Eun Jae’ okay?”

“Namamu aneh sekali…”

“KAU PIKIR NAMAMU SENDIRI TIDAK ANEH!”

“Tuh kan qumat lagi penyakit galaknya, feminim sih feminim tapi tetap saja galak! Dasar orang aneh!”

“Habisnya kau mengejek namaku!”

“Bukanya mengejek, namamu itu mengingatkanku padanya tahu!”

“Benar juga. Sewaktu-waktu kau pasti akan memanggilku ‘Jae, Jae!’ uwaahh mianhae,” Eun Ji langsung menghambur ke pelukan Ae Ri.

“Ya sudahlah, kajja kita shopping!” ajak Ae Ri.

Mereka pun pergi ke mall dan membeli cukup banyak barang-barang lelaki mulai dari sepatu, celana, kemeja, kaos oblong, jacket, sweeter, parfum cowok, arloji, komik, majalah porno, dll. Eh tetapi jangan lupakan juga pembalut walau bagaimana pun mereka kan tetap wanita. Mereka juga membeli banyak vitamin dan suplemen agar staminanya tak kalah dari anak laki-laki.

>>>>>.<<<<<

“Astaga Yoon Rie, kalau oppamu tahu kau memotong rambut panjangmu seperti ini aku bisa dibunuhnya!” ujar Hwe Jin histeris.

“Memangnya oppaku mafia? Tenang saja, ia tidak mungkin membunuhmu!”

“Lagian kenapa sih harus bersembunyi di kandang macan hanya karena ingin menghindar dari perjodohan itu?”

“…karena ini jalan terbaik menurutku!

“Memangnya kau tidak takut?”

“Takut sih tapi aku tidak punya pilihan lain. Kajja, kita pilih barang-barang yang lain! Eh, apa kita perlu membeli majalah porno?”

“Kudengar sekolahan itu peraturannya sangat ketat, bisa gawat kalau kita ketahuan punya majalah porno tapi kurasa itu ide yang bagus untuk mengelabui anak-anak cowok.”

“Jadi?”

“Ya, kita beli saja deh…asal jangan sampai ketahuan guru-guru.”

Saat mereka masih asik memilih-milih pakaian, mereka tidak sengaja bertemu dengan Ae Ri dan Eun Ji, akhirnya setelah membeli semua barang-barang yang dibutuhkan mereka berempat pergi ke cafe terdekat dan mulai bergosip ria usai Yoon Rie memperkenalkan Hye Jin pada kedua sahabatnya itu. Yoon Rie tak menyangka kalau Ae Ri juga bernasib sama seperti dirinya bahkan sekolahan yang Ae Ri tuju sama dengan sekolahan yang akan ia tuju.

“Jadi sekarang namamu siapa, Yoon Rie-a?” tanya Eun Ji penasaran,

“Hmm, namaku ‘Park Yeon Min’ kalau Hye Jin namanya ‘Lee Jin Hyeok’ bagus tidak?”

“Ne, kalian hebat dalam memilih nama.” Puji Ae Ri.

>>>>>.<<<<<

“Horee! Akhirnya tahun ini Sekolah kita menang dalam event olahraga!” Teriak semua murid SMU Dong Bang serentak *emang di Korea ada sekolah khusus laki-laki yang namanya sekolah ‘Dong Bang’? bodo ah, namanya juga fanfic #abaikan*

Saat anak-anak SMU Dong Bang masih sibuk merayakan kemenangan mereka di lapangan nan luas milik SMU Dong Bang, keempat cewek itu mulai beraksi. Mereka mulai berjalan tegap selayaknya anak laki-laki. Biarpun penampilan mereka tak kalah keren dengan anak-anak cowok tulen tetap saja sisi feminim mereka terlihat karena wajah mereka err…sangat cantik, di tambah lagi Eun Ji dan Yoon Rie yang biasanya berpenampilan sangat feminim terlihat tidak begitu nyaman mengenakan pakaian laki-laki. Wah bisa repot ini.

Setibanya di pintu gerbang mereka berempat dihadang oleh dua orang satpam. Kedua satpam itu memperhatikan mereka berempat dari ujung kaki hingga ujung rambut. Postur tubuh mereka yang pendek dan kurus dibanding semua murid-murid SMU Dong Bang yang rata-rata sangat atletis, gagah, tampan, dan keren membuat keduanya sedikit curiga, terlebih dari jauh saja wajah-wajah itu terlihat terlalu mulus dan lembut untuk ukuran seorang namja.

‘Sudahlah, Jaejoong dan beberapa murid Dong Bang lainnya juga memiliki wajah-wajah yang cantik dan kulitnya terlihat mulus tetapi toh mereka laki-laki,’ pikir salah seorang satpam.

“Yaa! Yeoja dilarang masuk!” tegas satpam yang satu lagi,

“Kami bukan yeoja, enak saja!” elak keempatnya tegas.

“Jangan membohongi kami! Kalian pasti anak-anak St.Blossom yang sedang menyamar. Kalian pasti teman-temannya Yong Rae-ssi, kan?”

“Jangan asal nuduh dong, pak! Jelas-jelas kami ini namja!”

“Alah, sudahlah alasan saja kalian. Aku tahu kalian semua itu fans-fans fanatiknya anak-anak sekolahan ini. Apa kalian tidak bisa membaca tanda peringatan itu?” tanyanya seraya menunjuk sebuah papan pengumuman bertuliskan ‘Kecuali guru-guru, para staff SMA Dong Bang, orang tua/wali murid, dan tamu berkepentingan, YEOJA DILARANG MASUK!”

“Yaa! Pak Satpam! Kami ini murid baru disini jadi izinkan kami masuk! Kalau tidak kalian akan kami laporkan ke pemilik sekolahan ini lho biar kalian berdua dipecat!” ancam Hye Jin dengan suara lantang.

“Kalau kalian ini benar-benar namja, kenapa aku tidak bisa melihat jakun kalian?” tanya satpam itu penuh selidik.

Jantung Yoon Rie dan Eun Ji mulai berdebar-debar. Kalau sudah membicarakan jakun, apalagi yang bisa mereka katakan? Mereka berdua benar-benar bingung sekarang dan mulai salah tingkah. Di tengah-tengah kebingungan itu keduanya melirik Ae Ri dan Hye Jin, kedua sahabat mereka itu tetap bersikap tenang seakan tidak merasa takut sama sekali.

“Aigoo, mau bagaimana lagi pak satpam? Ini sudah dari sononya, faktor keturunan karena dulu orang tua kami sangat mengiginkan anak perempuan!” jawab Hye Jin cepat.

“Kalau tidak percaya, lihat saja berkas-berkas kami ini!” ujar Ae Ri seraya menyerahkan berkas-berkas identitas palsu mereka dengan bahasa tubuh seorang laki-laki tulen.

‘Daebak, ia benar-benar seperti cowok. Apa dia benar-benar Ae Ri? Jangan-jangan anak itu kesurupan setan,’ pikir Eun Ji.

Satpam itu pun mulai membaca berkas-berkas mereka dengan teliti. Setelah itu ia menunduk dan meminta maaf.

“Maaf kami pikir kalian itu anak-anak St.Blossom yang sedang menyamar untuk mengambil foto-foto calon atlet kami tanpa izin. Yah, mereka memang nekat dan gila makanya nanti kalian juga harus berhati-hati!”

“Selamat datang di SMA Dong Bang! Anak-anak pasti senang sekali karena kalian bisa menjadi calon princess selanjutnya,” ujar Pak satpam satunya yang sejak tadi hanya diam saja.

“Calon princess? Apa itu?” tanya Eun Ji,

“Nanti kalian juga akan mengetahuinya. Masuklah!”

“Gomawo.” Jawab keempatnya serentak seraya menyeret koper mereka dan segera memasuki pintu gerbang.

Saat itu juga kekaguman tergambar jelas di bola mata mereka. Keempatnya terkesima. Sekolah ini benar-benar sangat elit. Areanya luas dan udaranya sejuk karena banyak pohon-pohon yang sepertinya tak pernah ditebang satu batang pun, di tambah lagi di setiap madding banyak terpangpang foto-foto alumni SMU Dong Bang yang hebatnya mereka semua sudah menjadi atlet profesional.

“Uwaah, sepertinya sekolahan ini banyak melahirkan atlet-atlet hebat ya?” ujar Hye Jin.

“Apa kita bisa bertahan lama disekolahan seperti ini?” tanya Eun Ji mulai merasa ragu karena mengkhawatirkan staminya yang sudah pasti kalah jauh dari anak-anak lelaki pada umumnya.

“Jika kita yakin pada diri sendiri, kita pasti bisa!” sambung Yoon Rie,

Saat keempatnya masih asik berbincang-bincang dua orang namja berpapasan dengan mereka. Junsu memiringkan kepalanya memperhatikan Yoon Rie, tetapi ia menggelengkan kepalanya cepat.

‘Tidak mungkin! Apa yang aku pikirkan sih? Mana mungkin Yoon Rie ada disini? Jangan-jangan aku benar-benar jatuh cinta pada Yoon Rie?’ pikir Junsu dalam hati, sementara namja disampingnya—Jaejoong–mulai memperhatikan keempat wajah-wajah baru itu dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan intens.

Ae Ri dan Yoon Rie terpaku, entah kenapa kedua wajah itu begitu familiar bagi mereka, terlebih detak jantung mereka mulai berdebar tak menentu. Jaejoong dan Junsu, sepertinya Ae Ri dan juga Yoon Rie benar-benar sangat merindukan kedua namja itu? Atau jangan-jangan namja di depan mereka ini benar-benar cinta pertama mereka—Jaejoong dan Junsu—oh, betapa keduanya begitu berharap hal itu benar adanya. Sementara itu setelah puas memperhatikan keempat wajah baru dihadapannya, Jaejoong menyeringai.

‘Dor! Kau kutemukan Ae Ri-chan!’ ujar Jaejoong dalam hati.

=> To Be Continued <=

 

A/n : Chapter pertama selesai, maaf kalau kepanjangan, minim deskriptif dan banyak typo. Cepat atau lambatnya update tergantung yang COMMENT. Sekian dan Terimakasih!

At the back stage :                                                                                                        

Junsu : Kau ini apa-apaan sih, Satsuki?” #manyun

Yoochun : Bwahahaha, sekarang giliranmu yang akan menjadi korban Shinigami kejam ini!

Junsu : YOOCHUN!

Jaejoong : Tumben bukan aku yang dibikin menderita?

Satsuki : Bosen kalau oppa mulu!

Yoochun : Tapi penyakitnya itu lho Satsuki, kenapa sama dengan penyakitku di FF ‘Love Sick’? Nggak kreatif!”

Satsuki : Sebenarnya authornya siapa? Oppa atau aku? Terserah aku dong! Suka-suka author gitu lho karena di semua ff karyaku akulah dewa kematian kalian, hahaha.

Jaejoong : Sudahlah Yoochun, biarkan Satsuki berimajinasi sesukanya kita nggak usah banyak protes daripada ntar dia bikin kita mati di fanficnya yang lain!

Changmin : Hyung, tadi itu kau sangat cantik! Harusnya hyung lebih lama jadi princessnya!

Yunho : Kau tidak nyambung Shim Changmin!

Changmin : Yee! Kenapa jadi elo yang nyaut, Yun Yun?

Yunho : Satsuki gara-gara kau Changmin jadi tidak sopan padaku!

Satsuki : Hehe, mianhae oppa.

Ae Ri dan Yoon Rie : Udahan, woii! Udah hampir 7000 words nih tulisanya! No Bashing and No Silent Reader please, kamsahamnida!

6 thoughts on “Kimi No Shiranai Monogatari Chap 1

  1. akhir y keempat cewe ini masyk juga ke sekolah cwo tapi tu Jaejoong bisa langsung ngenalin Ae Ri yg nyamar,,,, mata jaejoong jeli bgt….
    junsu y sakit parah…jantung… ngak bakal sad ending kan buat junsu….
    Yoon Rie y di loncat kelas??? n baru 15 thn…ajib bersti pinter bgt dong dia…
    ngak sabar mau liat gmn jehidupan mereka jd cwo,,,, Lanjut…..

    • Jaejoong kan punya ftonya Ae Ri apalagi Ae Ri kan yeoja yg ia cintai makanya ia bisa langsung tau. Hehe aku jg blom tau mau bkin sad ending buat Junsu ato ga?
      Next chapnya tunggu aja ya soalnya author suka males klo sidersnya banyak v yg komennya cma dkit v aku bkl usahain biar ga trllu lama updatenya, doain aja biar ada mood🙂

      Gomawo for read n comment ^^

  2. Eunchan She Peef berkata:

    keren~!! Ngocak ff nya~
    wkwkwk~😄
    hebat tuh si jj bisa langsung tau klw itu Ae ri~
    ckckck~
    gilee~!
    Satpam aja galaknya minta ampun!! ==”
    hadeuh~
    jadi penasaran nih kelanjutan nya~
    next chap author~^^v

    • Msa sih? Aku paling ga mahir bkin humor lho…
      Satpam mang harus galak, klo ga galak ga cocok jd satpam😉
      next chapnya ga tau kapan hehe
      doa’in aja biar aku ga bad mood ^^

      Gomawo for read n comment ^^

  3. chunnie_man berkata:

    Hahaha yunho punya pggl bru dr jj!! Atau author ya namanya lucu bgt yun yun!!knp msti yun yun??
    Sepertinya bakalan jelimet dan seru nih 3cwek masuk keasrama cwo dngn nyamar.dan parahny jae oppa ngenalin aeri lagi!!
    Junsu kok jdi skit parah yah?hemm apa yeon ri tau? N 4cwo jg tau junsu skit parah??hua penasaraNnn

    • Panggilan baru dari autor donk😀
      Ga tau, tiba2 aja kepikiran nama itu.

      Hmm, biar ada sedih2nya n critany ga datar2 aj gtu.
      Yoonri blom tau, malah d chapter ini ia blom tau klo cwo yg ma JJ oppa tu Junsu oppa.

      Gomawo for read n comment ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s