My Boy Chap 4


Title: My Boy

Cast :

–          Shim Changmin

–          Kim Jaejoong

–          Lee Chae Jin

Rating: PG13-NC17 *NC17-nya cuman dikit*/ STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri 

A/N: author lagi-lagi terinspirasi ama komik jepang yang pernah author baca tapi lagi-lagi author lupa judul komiknya abis dah lama banget bacanya tapi yang jelas beda banget ma yang aslinya.

WARNING: Author bikin yang chap ini dengan ide yang amat sangat minim jadi kalo FF-nya kurang sreg and ga nyambung author bener-bener minta maaf. Satu lagi kalo ada typo mian juga.

DON’T LIKE DON’T READ !!!

Happy Reading

AUTHOR POV

Chae Jin menghela nafas sambil tersenyum, ia sangat bersyukur karena kini keadaan Changmin perlahan mulai membaik. Sejak namjachingunya masuk rumah sakit ia setiap hari datang menjenguk namja itu dan sering menginap di rumah sakit agar bisa merawat Changmin. Walaupun sudah ada perawat tapi Chae Jin tetap ingin merawat namja itu.

Chae Jin menaikan sandaran ranjang Changmin agar namja itu merasa nyaman. Chae Jin mengupas buah lalu di berikannya pada Changmin. Ia tersenyum saat melihat namja itu memakan buahnya hingga habis. Ia menggenggam tangan kanan namja itu lalu duduk di tepi ranjang. Di tatapnya dengan lekat namja itu. Changmin membenarkan kacamatanya dengan gugup karena di tatap oleh Chae Jin.

“Ke kenapa menatapku sepert itu? A ada yang aneh pada diriku? Atau ka kau sedang marah padaku?” Tanya Changmin. Chae Jin berdecak lalu memanyunkan bibirnya.

“Aku kan hanya menatap namjachinguku saja. Memangnya salah?” Ucap Chae Jin. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Changmin. Chae Jin memeluk namjanya dengan erat. Ia tersenyum senang saat namja itu membalas pelukannya. Changmin mengelus rambutnya dengan lembut.

“Kau tidak kecewa padaku, chagi?” Tanya Changmin membuat Chae Jin mengerutkan dahinya.

“Kenapa harus kecewa?” Tanya Chae Jin balik.

“Aku tak bisa memberikan kejutan manis di hari ulang tahunmu dan tidak bisa menjadi namjachingu yang romantis.” Jawab Changmin. Chae Jin mempererat pelukannya saat mendengar ucapan namjanya itu, ia jadi teringat kebodohannya hingga membuat Changmin masuk rumah sakit. Perlahan ia mulai menangis mengingat kejadian itu.

“Hei, kenapa kau menangis?” Tanya Changmin saat sadar Chae Jin menangis di pelukannya.

“Kejutan darimu waktu itu sangat manis. Kumohon jangan melakukan hal yang akan menyakiti dirimu lagi. Aku tak sanggup melihat kau sakit, Minnie-a.” Ucap Chae Jin. Ia melepaskan pelukannya lalu menatap Changmin lembut.

“Mianhae gara-gara aku kau jadi masuk rumah sakit. Jeongmal mianhaeyo.” Ucap Chae Jin lagi. Changmin menghapus air mata Chae Jin lalu tersenyum.

“Kau tak perlu meminta maaf. Aku melakukannya karena aku mencintaimu jadi jangan pernah merasa bersalah lagi ok?” Changmin menatap Chae Jin lembut.

“Gumawo. Saranghae, Minnie-a.” Ucap Chae Jin lalu memeluk Changmin lagi. Changmin kembali tersenyum senang mendengar ucapan Chae Jin.

“Nado chagi-a.”  Balasnya.

Chae Jin teringat cincin yang di berikan Changmin waktu itu. ia mengambil cincin itu lalu memberikannya pada Changmin. Ia ingin namja itu memakaikan cincin itu di jari manisnya tapi yang ia lihat Changmin malah menaruh kotak cincin itu di meja samping sambil tersenyum.

“Kenapa di simpan saja?” Tanya Chae Jin bingung.

“Kau menolak bertunangan denganku kan? Ya jadi cincinnya kusimpan saja.” Jawab Changmin. Chae Jin memanyunkan bibirnya.

“Aku kan belum menjawabnya. Cepat pasangkan.” Chae Jin memberikan jari manisnya pada Changmin. Namja itu menatapnya dalam.

“Kenapa diam saja? Apa kau sudah tidak mau bertunangan denganku?” Tanya Chae Jin takut. Changmin langsung memakaikan cincin itu di jari manis Chae Jin. Di genggamnya tangan yeoja itu lalu menatap mata Chae Jin lagi.

“Apa kau tidak menyesal menerima namja kaku dan tidak romantis sepertiku ini?” Tanya Changmin. Chae Jin menggelengkan kepalanya sambil menangis. Menangis karena bahagia memiliki namja setia dan baik seperti Changmin. Chae Jin memeluk Changmin dengan erat.

“Gumawo.  Gumawo karena mencintaiku dengan tulus.” Ucap Chae Jin. Changmin mengelus rambutnya dengan lembut lalu membalas pelukannya. Cukup lama keduanya berpelukan.

“Kuharap kau mau bersabar hingga aku bekerja dan mapan. Setelah itu baru aku akan melamarmu. Nanti setelah aku pulih aku akan menemui orang tuamu, bagaimana?” Chae Jin mengangguk pelan lalu mencium pipi Changmin.

‘Aku harus merubah sifat cemburuku. Aku tak mau ini terjadi lagi pada Changmin.’ Batin Chae Jin sambil menatap Changmin.

‘Bagaimana tentang Jaejoong ya? Apa aku harus mengatakannya pada Chae Jin? Tapi aku penasaran dan juga takut. Aku tak yakin namja itu tidak akan melakukan apa-apa pada Chae Jin setelah keluar dari penjara.’ Batin Changmin. Sejak awal ia memang tak yakin dengan perubahan sikap namja itu yang menjadi sangat baik pada yeojachingunya. Ia menatap Chae Jin lekat sambil berharap tidak akan terjadi apa-apa pada yeojachingunya itu.

—-

Jaejoong kini tengah duduk di taman kampus sambil mengirimi pesan pada temannya. Teman yang ia suruh untuk mendekati Chae Jin, ia sudah merencanakan semuanya. Jika ia gagal melakukan pendekatan seorang diri pada Chae Jin untuk balas dendam maka ia akan menggunakan rencana cadangannya itu.

Jaejoong tersenyum licik setelah mengirimkan pesan pada temannya itu. Ia bersandar di kursi taman sambil menghela nafas panjang. Ia membayangkan rencananya akan berhasil kali ini. Rencana untuk menghancurkan Chae Jin dan Changmin.

‘Kali ini harus berhasil’

Jaejoong mengedarkan pandangannya di sekitar taman, tak lama ia berdiri dan pergi keluar kampus. Ia berniat untuk menyegarkan pikirannya dengan berjalan-jalan.

Saat sedang berjalan dengan santai di keramaian kota seoul tiba-tiba ia melihat seorang yeoja dengan pakaian sederhana terjatuh karena di dorong oleh sekelompok yeoja kaya. Para yeoja itu Jaejoong lihat menatap yeoja itu dengan jijik. Entah kenapa Jaejoong reflek menghampiri yeoja itu saat melihat para yeoja kaya itu akan memukul yeoja itu.

“Ada apa ini? Kenapa kalian memperlakukannya seperti ini? Apa salahnya?” Tanya Jaejoong sambil menatap sekelompok yeoja itu dengan tatapan tajam dan tak suka.

“Aku tidak suka dia melamar pekerjaan di tempat seperti ini. Jadi aku mengusirnya tapi dia malah terus memohon padaku agar menerimanya.” Jawab seorang yeoja yang sepertinya pemilik dari butik tempat yeoja itu bekerja. Jaejoong membantu yeoja itu berdiri.

“Apa kau pemilik butik ini?” Tanya Jaejoong.

“Butik ini milik orang tuaku. Memangnya kenapa?” Jawab yeoja itu.

“Orang tua?” Jaejoong menekankan kata ‘orang tua’ dengan sangat jelas. Yeoja itu menatap geram Jaejoong. Wajah yeoja itu merah karena malu dan marah.

“Tidak usah merasa bangga dengan butik seperti ini kalau bukan kau sendiri yang memilikinya. Kau hanya memakai fasilitas yang di berikan orang tuamu. Dengan melihat pakaian dan tingkahmu kurasa kau yeoja manja dan tidak pernah bekerja.” Ucap Jaejoong tajam.

“Kau juga kulihat sama saja denganku. Memakai fasilitas yang orang tuamu berikan. Sebelum berbicara sebaiknya kau lihat dulu dirimu.” Balas yeoja itu tak mau kalah. Jaejoong terkekeh.

“Ya memang benar. Aku juga memakai fasilitas yang di berikan orang tuaku tapi aku tidak sama denganmu. Aku tak pernah merendahkan ataupun menghina orang kecil. Sifatku pun lebih baik dari dirimu. Kau cantik tapi sayang sikapmu tak sebanding dengan wajahmu.” Ucap Jaejoong sambil tersenyum puas melihat yeoja itu terdiam. Ia lihat teman-temannya pun hanya diam. Ia membawa yeoja yang masih di sampingnya itu pergi.

Jaejoong membawa yeoja itu ke sebuah taman yang sepi. Saat melihat yeoja itu terluka Jaejoong membeli obat, beberapa makanan dan minuman.

Jaejoong memberikan obat dan makanan juga minuman yang sudah ia belikan untuk yeoja berpakaian sederhana itu. Ia duduk di samping yeoja itu lalu menatap ke depan. Ia memikirkan tindakannya tadi yang membela yeoja yang tidak ia kenal sama sekali. Ia sendiri bingung kenapa ia bisa melakukan hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya itu.

“Ini.” Ucapan yeoja itu membuat Jaejoong menoleh ke arah yeoja itu. Yeoja itu memberikannya roti dan minuman yang tadi ia beli. Jaejoong menatap wajah yeoja itu yang terlihat sangat polos.

“Kau saja yang makan. Aku tidak lapar.” Jawab Jaejoong.

“Lalu kenapa tuan membelinya?” Tanya yeoja itu polos.

“Aku membelinya untukmu. Makanlah.” Jawab Jaejoong.

“Benarkah? Aku boleh memakan roti mahal ini?” Ucap yeoja itu sambil tersenyum dan menatap Jaejoong senang. Jaejoong mengangguk dan terus menatap yeoja itu yang langsung memakan roti itu dengan lahap.

“Kulihat kau sangat menikmatinya. Apakah sangat enak?” Tanya Jaejoong saat yeoja itu selesai makan. Yeoja itu mengangguk cepat.

“Bagiku sangat enak tuan. Jarang sekali aku bisa makan roti mahal itu. oh ya terima kasih, tuan sudah membelikanku obat, makanan minuman dan menolongku tadi.” Jawab yeoja itu senang.

“Umurmu berapa? Dan kenapa kau melamar di tempat seperti itu?” Tanya Jaejoong.

“Umurku 15 tahun, tuan. Aku melamar di sana karena aku butuh pekerjaan tuan. Jika aku tidak mendapat pekerjaan nanti aku tidak akan mendapat uang dan pasti akan di usir oleh pemilik rumah tempatku tinggal.” Jawab Yeoja itu sedih.

“Di usir?”

“Ne. aku menunggak selama 3 bulan tuan. Aku sulit mendapatkan pekerjaan karena umurku.”

“Orang tuamu?”

“Sudah meninggal. Aku sebatang kara tuan.” Jawab yeoja itu sambil menatap Jaejoong.

“Mian.”

“Tidak apa-apa tuan.”

“Kau bilang butuh pekerjaan. Bekerja di tempatku bagaimana?” Tawar Jaejoong. Yeoja itu menatapnya antara bingung dan curiga.

“Jangan berpikir yang macam-macam. Kalau kau mau kau bisa bekerja di apartemenku. Kau cukup membersihkan apartemenku. Itu pun kalau kau mau.” Yeoja itu langsung mengangguk mengerti setelah mendengar pekerjaan yang di maksud Jaejoong.

“Terima kasih, tuan sudah mau memberikanku pekerjaan. Tuan sangat baik.” Ucap yeoja itu senang. Yeoja itu berdiri lalu membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih.

‘Baik?’ Batin Jaejoong. Ia baru sadar kalau ini pertama kalinya ada orang mengatakan kalau ia baik.

“Aku bukan orang baik. Jadi kau harus berhati-hati padaku.” Ucap Jaejoong sambil mengalihkan pandangannya dari yeoja itu.

“Bukan orang baik? Kalau bukan orang baik kenapa menolongku, tuan?” Jaejoong hanya diam tak menjawab pertanyaan yeoja itu.

“Walaupun tuan bilang tuan bukan orang baik tapi bagiku tuan orang yang sangat baik hati. Ngomong-ngomong kapan aku mulai bekerja? Hari ini? Itu kurasa lebih baik tuan.” Jaejoong menatap yeoja itu yang menatapnya dengan mata berbinar dan senyum yang terus mengembang di wajahnya.

‘Kenapa aku harus menolongnya sejauh ini?’ Batin Jaejoong. Ia memutuskan untuk bersikap dingin dan menjaga jarak agar tak terlalu dekat dengan yeoja itu. Itu ia lakukan karena ia tak mau hal yang tak ia inginkan terjadi. Ia tak mau larut dalam kebaikan, apa lagi menolong orang. Jaejoong tak mau hatinya menjadi lemah karena kebaikan.

Tak lama Jaejoong berdiri membuat yeoja yang baru duduk itu langsung ikut berdiri dan menatapnya.

“Bagaimana tuan? Apakah aku bekerja mulai hari ini?” Tanya yeoja itu. Jaejoong menatap yeoja itu cukup lama.

“emmmm”

“Jin Hee Young. Panggil saja aku Hee Young, tuan.” Ucap yeoja itu. Hee Young melihat majikan barunya ini sikapnya langsung berubah padanya. Menjadi sangat dingin, ia menyadari hal itu tapi ia tak berani mengatakan apa-apa.

“Mulai bekerjalah besok tapi hari ini akan kuberitahu apa saja yang harus kau kerjakan di apartemenku jadi kau ikut dulu denganku.” Ucap Jaejoong lalu berjalan tanpa menunggu jawaban dari yeoja bernama Hee Young itu.

Hee Young mengikuti Jaejoong dari belakang. Ia menatap punggung orang yang menyelamatkannya hari ini.

“Kau hanya perlu datang pagi dan pulang setelah aku datang.” Ucap Jaejoong sambil berjalan.

“Ne.” Jawab Hee Young.

“Mmmm tuan kalau boleh tau siapa nama tuan?” Tanyanya pelan.

“Kim Jaejoong.” Jawab Jaejoong singkat. Hee Young mengangguk sambil terus mengikuti Jaejoong.

 

 

***

 

Chae Jin dan Changmin kini berada di rumah kecil Changmin, namja itu sudah di perbolehkan pulang oleh dokter tapi dokter mengatakan kalau Changmin tidak boleh terlalu banyak beraktifitas terlebih dahulu dan harus cek kesehatan dua minggu sekali. Chae Jin sedikit merasa senang karena Changmin sudah bisa pulang dan sebentar lagi namja itu akan pulih 100%. Ia melihat ke sekeliling rumah namjanya yang kecil.

“Mianhae kau harus ke rumahku yang kecil dan jelek seperti ini. Kau pasti merasa tidak nyaman berada di sini.” Ucap Changmin. Chae Jin menatap Changmin tidak suka.

“Jangan berkata seperti itu, aku tidak suka. Rumahmu memang kecil tapi kan sejak awal aku mencintaimu tidak melihat dari harta yang kau punya. Aku kan mencintaimu karena dirimu bukan hartamu.” Ucap Chae Jin. Ia duduk di samping Changmin lalu mencium pipi namjanya itu.

Sambil memeluk Changmin, Chae Jin melihat keadaan rumah yang sangat berantakan. Ia mencubit pelan pinggang namja itu lalu mulai membereskan rumah Changmin hingga bersih.

“Kau itu jorok sekali sih?” Protes Chae Jin. Changmin hanya tersenyum menanggapi perkataan yeojanya itu.

Chae Jin duduk di samping Changmin, ia tersenyum senang karena telah selesai membereskan rumah namjanya itu. Changmin menyeka keringatnya, ia menatap namja itu sambil tersenyum.

“Kau tak perlu membereskan rumahku.” Ucap Changmin.

“Memangnya kenapa? Ini kan rumahmu lagi pula aku ingin belajar menjadi istri yang baik. Aku kan sudah jadi tunanganmu.” Ucap Chae Jin senang. Saat melihat jam ia teringat kalau Changmin belum makan dan minum obat. Chae Jin pun bergegas ke dapur mencari bahan makanan yang bisa di masak.

“Kenapa tidak ada apa-apa seperti ini? Apa Minnie tak pernah memasak?” Gumam Chae Jin.

“Minnie-a, apa kau tdak pernah memasak? Kenapa di dapur tidak ada apa-apa?” Tanya Chae Jin.

“Tidak ada apa-apa?” Ucap Changmin sambil menghampiri Chae Jin. Chae Jin menganggukan kepalanya. Changmin membuka lemari yang ada di dapur lalu tersenyum dan mengambil makanan yang sering ia makan. Ia menunjukkannya pada Chae Jin.

“Kan ada ramen.” Ucap Changmin. Chae Jin menghela nafas melihatnya.

“Kau ….” Chae Jin tak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Kali ini kita pesan makanan saja. Kalau aku ke supermarket dulu lalu masak akan memakan waktu lebih lama lagi.” Ucapnya lalu menelepon. Ia memesan makanan cukup banyak.

Sambil menunggu pesanan makanannya datang  dan Changmin mengobrol. Changmin sejak tadi ingin bertanya mengenai Jaejoong pada Chae Jin tapi melihat yeojanya itu sedang senang ia jadi mengurungkan niatnya itu. Ia menggenggam tangan yeoja itu dengan lembut.

‘Kapan aku bisa menanyakan tentang namja itu ya? Melihatnya seperti ini membuatku tak tega tapi aku sangat penasaran.’ Batin Changmin. Tak lama yeoja itu menyandarkan kepala di bahunya. Di ciumnya puncak kepala yeoja itu.

TING TONG

“Ah biar aku yang buka. Itu pasti pesanan kita.” Ucap Chae Jin lalu berjalan membuka pintu. Chae Jin tersenyum ramah saat yang datang ternyata orang yang mengantar pesanannya. Setelah membayar ia langsung membawa makanan itu dan di taruh di atas meja. Ia memberikan makanan pada Changmin dan menyuruh namja itu agar memakannya hingga habis.

Setelah Changmin selesai makan Chae Jin memberikannya obat. Ia pun meminum obat itu satu per satu. Selesai itu Chae Jin menyuruhnya beristirahat dan yeoja itu berpamitan akan pulang tapi Changmin langsung menahan tangan yeojanya. Ia meminta Chae Jin untuk menemaninya lebih lama. Yeoja itu tersenyum padanya lalu duduk di sampingnya.

‘Sebaiknya kutanya tidak ya? Aku penasaran sekali.’ Batin Changmin. Ia melirik Chae Jin sekilas.

“Kenapa? Kau sepertinya gugup sekali.” Ucap Chae Jin lembut. Ia melihat Changmin sedikit aneh.

“Emmmm begini, aku mau tanya. Hubunganmu dengan Jaejoong bagaimana? Boleh aku tau sejauh mana hubunganmu dengannya? Dan apakah dia pernah menyakitimu?” Tanya Changmin. Chae Jin menatap namjanya itu dengan gugup. Entah kenapa ia takut Changmin akan menjauhinya atau bahkan putus dengannya.

“Aku dan Jaejoong hanya berteman. Dia memang sering mendekatiku tapi seingatku aku tak pernah menanggapinya dengan berlebihan. Dia tidak pernah menyakitiku, kenapa? Kau marah?” Tanya Chae Jin takut.

“Ah tidak. Kalau bisa jangan dekat-dekat lagi dengannya. Aku takut kalau kau di sakiti olehnya.” Ucap Changmin. Hati Changmin merasa senang karena yeojanya hanya berteman dengan Jaejoong dan tidak  berhubungan sejauh yang ia pikirkan. Ia menatap Chae Jin dengan tersenyum tapi yeoja itu menatapnya dengan bingung.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau tak percaya padaku? Atau kau marah?” Tanya Chae Jin.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya bertanya saja.” Jawab Changmin. Ia tak mau mengatakan kalau ia cemburu pada yeoja itu kalau dekat-dekat dengan Jaejoong.

“Agghhh.” Teriak Changmin saat Chae Jin mencubitnya.

“Kau bohong. Kenapa tidak pernah jujur padaku?” Ucap Chae Jin yang sadar kalau Changmin berbohong padanya. Ia menatap Changmin dengan memohon agar namja itu jujur padanya.

“Aku cemburu. Kau pulanglah aku mau istirahat.” Ucap Changmin lalu berjalan ke kamarnya. Ia merasa wajahnya kini memerah karena malu. Baru kali ini ia mengatakan pada yeojanya kalau ia cemburu. Ia menutup pintu lalu merutuki dirinya sendiri.

“Ya tuhan memalukan sekali.” Gumamnya pelan.

Tak lama Changmin merasa di depan sudah sepi, ia berpikir kalau Chae Jin mungkin sudah pulang. Ia menghela nafas pelan lalu membuka pintu. Changmin sangat kaget saat ia membuka pintu, yeoja itu ada di depan pintu kamarnya lalu langsung memeluknya dengan sangat erat.

“Cha chagi-a.” Ucapnya.

“Aku senang kau cemburu padaku.” Ucap Chae Jin. Wajah Changmin semakin memerah mendengar ucapan yeojanya itu.

“T ta tapi aku tak hanya cemburu. A aku juga khawatir padamu, aku takut kalau Jaejoong menyakitimu.” Changmin membalas pelukan Chae Jin dengan perlahan, yeoja itu semakin memeluknya dengan erat.

“Iya iya aku tau. Aku senang kau cemburu dan perhatian padaku. Aku jadi semakin mencintaimu, Minnie-a.” Ucap Chae Jin. Perlahan ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Changmin, namja itu tak mau menatapnya. Changmin menatap keluar jendela, Chae Jin tersenyum tipis saat melihat wajah namjanya yang memerah. Di pegangnya kedua pipi namja itu lalu mengarahkannya agar menatapnya. Ia mencium sekilas bibir namja itu.

“Kau malu kalau aku tau kau cemburu padaku?” Changmin tak menjawabnya tapi Chae Jin melihat wajah namja itu semakin memerah. Kembali ia tersenyum senang melihatnya. Di ajaknya namja itu duduk di sofa.

“Jangan malu lagi. Kau boleh cemburu padaku, kau kan tunanganku. Tapi kau jadi sangat lucu kalau wajahmu memerah seperti ini.” Ucap Chae Jin menggoda Changmin dan benar saja wajah namja itu semakin memerah dan enggan melihatnya. Changmin melihat ke arah lain. Chae Jin memeluk lengan Changmin lalu menyandarkan kepalanya di lengan kekar namja itu.

Changmin menatap Chae Jin yang tengah bersandar di lengannya. Ia berusaha mengatur detak jantung dan rasa malunya. Lalu ia mencium puncak kepala yeoja itu dan kembali menatap ke arah lain. Wajahnya kembali memerah saat Chae Jin mencium pipinya dan mengatakan kalau yeoja itu mencintainya.

“Nado.” Jawabnya singkat tanpa menatap Chae Jin.

‘Kenapa aku jadi seperti ini? Aish memalukan!’ Batinnya. Chae Jin terus bergelayut manja di lengan kekarnya itu. Tak lama ia melihat jam lalu ia melepaskan pelukan yeoja itu di lengannya. Chae Jin menatapnya.

“Sudah malam. Ayo pulang, biar kuantar. Tidak baik malam-malam kau masih berada di luar. Seharusnya kau sudah ada di dalam apartemenmu.” Changmin berdiri lalu mengambil kunci mobilnya dan jaket tapi saat ia akan memakai jaket Chae Jin menahannya.

“Kau istirahat saja. Kau kan baru saja keluar dari rumah sakit. Besok aku akan ke sini lagi. Kau jangan terlalu lelah ya. Besok jangan dulu kuliah, nanti biar aku yang menemui dosenmu. Jalja.” Chae Jin mencium Changmin sekilas lalu memakai jaketnya.

“Kalau begitu kupanggilkan taksi untukmu.” Chae Jin mengikuti Changmin yang berjalan ke arah depan rumah. Ia melihat namja itu langsung memanggil taksi untuknya. Ia menghampiri namja itu yang sudah membukakan pintu mobil untuknya. Ia mencium pipi Changmin dengan lembut.

“Istirahat ya.” Changmin hanya mengangguk pelan.

“Kalau sudah sampai hubungi aku, chagi.”

“Ne.” Jawab Chae Jin singkat lalu masuk ke dalam mobil. Setelah melihat Chae Jin pergi Changmin kembali masuk ke dalam rumahnya.

Changmin masuk ke dalam kamar sambil menunggu pesan dari Chae Jin kalau yeoja itu sudah sampai.

***

Chae Jin berjalan ke fakultas Changmin untuk menemui dosen namjanya itu. Ia harus memberitahu dosen itu tentang Changmin yang masih sakit dan belum bisa masuk kuliah seperti biasa. Chae Jin masuk ruangan dosen lalu berbicara pada dosen itu. Beruntung dosen itu mau mengerti dan menyuruh Changmin beristirahat hingga pulih.

Setelah itu Chae Jin keluar ruangan dan berjalan keluar dari fakultas science. Ia menemui Hye Won dan Junsu di kantin kampus. Ketiganya sedang mengobrol. Hye Won menanyakan tentang hubungan Chae Jin dengan Jaejoong dan reaksi Changmin. Chae Jin menjawabnya dengan jujur pada temannya itu. Junsu memperingatkannya agar lebih hati-hati dengan Jaejoong. Ia mengangguk mengerti dengan semua nasihat yang di berikan Junsu dan Hye Won.

“Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Changmin sekarang?” Tanya Hye Won.

“Sudah lebih baik dari sebelumnya. Kalau mengingat Changmin sakit karena kebodohanku aku jadi merasa tak pantas untuknya. Aku selalu menyakitinya dan menyusahkannya.” Ucap Chae Jin dengan wajah sedih. Hye Won mengelus punggung Chae Jin dengan lembut sambil tersenyum.

“Kau jangan merasa seperti itu. Asal kau mau berubah dan tak melakukan hal bodoh itu lagi pasti hal itu tak akan terulang. Lagi pula Changmin kan sekarang baik-baik saja. Sudah jangan sedih lagi.” Chae Jin tersenyum mendengar perkataan Hye Won. Tak lama Jaejoong datang dan duduk di sebelah Chae Jin. Namja itu memeluk Chae Jin seperti biasa seolah tak tau apa-apa. Jaejoong tersenyum seperti biasa.

Chae Jin menatap Jaejoong sambil tersenyum, ia berusaha bersikap biasa saja pada Jaejoong. Ia menatap Hye Won dan Junsu dengan tatapan bingung. Di lihatnya sepasang kekasih itu berusaha tersenyum pada Jaejoong.

“Kalian sedang membicarakan apa? Kulihat dari jauh sepertinya seru sekali.” Selidik Jaejoong sambil memasang wajah ceria.

“Hanya membicarakan tentang kuliah saja.” Jawab Junsu santai. Jaejoong hanya mengangguk mendengar jawaban dari Junsu. Jaejoong menatap Chae Jin lalu mengajak yeoja itu pergi jalan-jalan.

“Mianhae tapi aku tidak bisa pergi denganmu. Aku harus menemui Changmin.” Tolak Chae Jin halus. Jaejoong menatap Chae Jin sedih, ia berpura-pura sedih di depan yeoja itu.

“Kenapa harus menemui Changmin? Bukankah dulu kau sudah tidak peduli lagi dengan namja itu?” Tanya Jaejoong.

“Dia namjachinguku. Dulu itu aku terlalu bodoh tapi sekarang aku tidak akan mengulangi hal itu lagi. Tolong mengerti. Aku minta maaf padamu kalau aku menyakitimu selama ini.” Ucap Chae Jin tegas.

“Hye Won-a, Junsu oppa aku pergi dulu. Jaejoong-sshi, aku permisi dulu.”  Setelah berpamitan Chae Jin berdiri lalu berjalan meninggalkan kampus.

Jaejoong menatap Chae Jin yang berjalan pergi.

‘Tunggulah hari yang indah nanti.’  Batin Jaejoong.

Langkah Chae Jin terhenti karena tiba-tiba ia merasakan hal yang tidak enak di hatinya. Perasaannya menjadi berat tapi ia tak mengerti kenapa. Ia menghembuskan nafasnya pelan lalu kembali berjalan.

Saat hampir keluar dari kampusnya ia di panggil oleh seorang namja dari belakang. Chae Jin pun menoleh kebelakang. Di lihatnya Yuchun menghampirinya.

“Ada apa Yuchun-sshi?” Tanyanya.

“Begini, kelas Mr.Han tadi kan kita di beri tugas kelompok apakah boleh aku ikut dengan kelompokmu? Aku belum mendapatkan kelompok, kutanya teman yang lain mereka sudah mendapatkan kelompoknya masing-masing. Bagaimana? Ah apakah kau juga sudah mendapatkan kelompok?” Ucap Yuchun. Chae Jin tersenyum.

“Tentu saja boleh. Kebetulan aku belum mendapatkan kelompok. Kapan kita akan mengerjakannya? Tapi jangan hari ini, aku tidak bisa.” Ucap Chae Jin. Yuchun tersenyum senang.

“Gumawo. Besok saja kita mengerjakannya, bagaimana? Ah tapi nanti namjachingumu tak marah kan? Jujur aku jadi sedikit takut saat ingin berteman dekat denganmu karena selalu ingat namjachingumu. Pertama kali bertemu dengannya saja tanganku langsung di remas kuat olehnya hingga tanganku sakit sekali. Padahal kurasa aku hanya mengobrol denganmu saja waktu itu.” Ucap Yuchun. Chae Jin sontak tertawa mendengarnya.

“Mianhae. Tenang saja dia tak akan marah. Baiklah besok  kita mulai mengerjakannya. Ah iya catat no.ponselku agar kita bisa lebih mudah berkomunikasi tentang tugas Mr.Han.” Chae Jin memberikan no.ponselnya begitu pun sebaliknya, Yuchun memberikan no.ponselnya.

“Kalau begitu nanti kuhubungi.” Ucap Yuchun senang.

“Ne, aku pergi dulu ya.” Ucap Chae Jin. Yuchun mengangguk.

“Ah ne, hati-hati di jalan.” Chae Jin mengangguk lalu pergi meninggalkan Yuchun. Ia pergi ke rumah Changmin naik taksi.

Selama perjalanan ke rumah Changmin, Chae Jin terus memegang dadanya yang kembali terasa berat. Perasaan tak enak di hatinya kembali terasa dan di rasakannya semakin berat.

Saat sampai di rumah Changmin, Chae Jin langsung memeluk namjachingunya itu. Selama beberapa menit ia terus memeluk Changmin sambil berdiri. Entah mengapa ia tiba-tiba takut kehilangan namjanya itu.

‘Ya Tuhan. Kenapa dengan perasaanku ini? Aku takut sekali.’ Batin Chae Jin.

Changmin membalas pelukan Chae Jin. Ia tak tau kenapa tiba-tiba yeojanya itu memeluknya dengan sangat erat dan lama. Di elusnya punggung Chae Jin dengan lembut.

“Kau kenapa?” Tanya Changmin. Chae Jin menggelengkan kepalanya pelan. Tak lama ia melepaskan pelukannya lalu menatap Changmin lembut, di ciumnya pipi namja itu lalu berjalan masuk dan pergi menuju dapur, memasak makanan untuk namjachingunya itu.

Changmin menatap Chae Jin yang tengah asik memasak. Ia melihat wajah yeojanya itu tak seperti biasa. Terlihat sangat murung dan seolah ada ketakutan saat melihat mata yeoja itu.

‘Ketakutan apa itu? Tak pernah kulihat sorot mata yang seperti itu darinya. Sebaiknya nanti kutanyakan saja.’ Batin Changmin. Ia terus duduk di meja makan sambil menatap Chae Jin yang sedang memasak.

—- 

“Bagaimana?” Tanya Jaejoong. Ia tengah menelepon temannya yang ia suruh untuk mendekati Chae Jin maupun Changmin.

“Lancar.” Jawab namja itu singkat.

“Bagus. Kau lanjutkan pendekatanmu itu. Aku ingin rencana kali ini berhasil.” Ucap Jaejoong.

“Ne.” Jawab namja itu. Lalu tak lama Jaejoong menutup sambungan teleponnya. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil tersenyum licik.

“Sepertinya malam ini aku akan tidur sangat nyenyak dan hari-hariku kedepan akan sangat menyenangkan.” Ucap Jaejoong sambil tertawa senang.

 

TBC

Ancur bgt ya? Mianhae jeongmal mianhaeyo… Ini udah author rombak selama kurang lebih 1 bulan tapi kayaknya makin ancur T_T      

9 thoughts on “My Boy Chap 4

  1. putrimays berkata:

    Aduh firstkah??
    eonni. Jgn bilang kalo si yoochun yg ngebantuin jaejoong!!
    nyesek baca ff ini. Ngeliat perjuangan changmin sampe dia musti sakit. Mau nangis rasanya. T.T

  2. wkwkwk,jeje dibilangin baik sama hee young aja udah shock😀
    eh,eonnie kenapa kok yang koment di part ini malah menghilang? padahal part ini bagus lho,ada JaeHee soalnya,hehe XP

  3. deewookyu berkata:

    Aaaiissshhkkkk……Jae
    Brentilaaahhhhh
    Gangguuin changmin

    Saeng jd curiga
    Apa si chunnie ya yg bantuin JJ

    Chuunniiie gangguin aku aja doooongggg!
    Jgn gangguin chaejin
    Dia sdh punya cgangmin….yaaa….yaaa….yaaaa…

  4. SunakumaKYUMIN berkata:

    Ikh… Jaejong oppaaa~
    *teriak bawa2 pentungan(?) :p

    changmin.y jangan ampe knapa2 ya thor, awal loh klo ampe lecet..
    Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s