Twins part 3


Title: TWINS

Main Cast:

–          Kim Jaejoong

–          Shim Changmin

–          Jung Yunho

Another Cast :

–          Kim JaeJoon (JaeJoong Twin)

–          Kim JunSu

–          Kim JunHo (JunSu twin)

–          Park YooChun

–          Park YooHwan (Yoochun twin)

–          Jung YunHo

–          Jung YunHyun (Yunho twin)

–          Shim ChangSoo (Changmin twin)

–          Jin Hee Young

–          Lee Chae Jin

–          Kim Di Kha

Rating: PG13-NC17 / STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri 

A/N: Bayangin aja kalo semua anak di sekolah itu kembar identik ya…mian klo tambah aneh >.<

DISCLAIMER: FF ini murni buatan author sendiri tanpa menjiplak dari FF di blog mana pun. Kalaupun ada kesamaan itu hanya kebetulan semata. FF ini hanya khayalan author.

DON’T LIKE DON’T READ AND DON’T BASH MY FF!!!

Happy Reading : )

AUTHOR POV

Changmin duduk di tepi ranjangnya sambil menatap keluar jendela. Ia tersenyum saat membayangkan Chae Jin. Belakangan ini ia memang sering ke rumah Junsu dan Junho dengan alasan mengantar Hee Young. Sebenarnya ia mengantar Hee Young karena ingin bertemu dengan yeoja manis itu. Yeoja yang sudah kurang lebih tiga tahun ia perhatikan. Tapi tak pernah sekali pun ia menyatakan perasaan atau melakukan pendekatan padanya. Changmin tak melakukan itu karena ia malu dan tak tahu harus berbuat apa.

Changmin berdiri dan menghampiri meja belajarnya, ia membuka laci dan mengambil foto Chae Jin yang selama ini ia simpan. Ia duduk dan menatap foto yang ia ambil diam-diam itu. Changmin menghela nafas pelan.

“Aku ingin sekali dekat denganmu. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mulai mendekatimu? Tapi bagaimana dengan Junsu dan Junho? Apa mereka akan setuju?” Ucapnya sambil terus menatap foto itu. kembali ia menghela nafas lalu sedetik kemudian ia menaruh foto itu di laci.

—-

Changmin berjalan di lorong sekolah bersama yang lainnya. Ia melihat di depannya ada Hee Young dan Jaejoong. Ia tersenyum saat melihat yeoja itu memberikan bekal pada Jaejoong sebagai ucapan terima kasih mau mengantarnya setiap hari ke rumah Junsu dan Junho. Yeoja itu memang hampir setiap hari membuatkan Jaejoong, ia dan yang lainnya bekal makanan sebagai ucapan terima kasih.

Hal yang menarik perhatiannya adalah sikap Jaejoong pada yeoja itu. Terlihat galak di depan tapi sebenarnya perhatian pada Hee Young. Selain itu telepati antara keduanya yang membuat ia tertarik dan sering memperhatikan mereka ketika sedang berkumpul. Ia berpikiran kalau yeoja itu sama sekali tidak sadar dengan hal itu.

Ia menghampiri yeoja itu dan Jaejoong. Hee Young reflek memberikannya bekal makanan, ia menerimanya dan berterima kasih. Ia mengelus puncak kepala yeoja itu sambil tersenyum.

“Gumawo. Tapi kurasa kau tidak harus sampai setiap hari melakukan ini.” Ucap Changmin yang mendapat tatapan aneh dari semua temannya.

“Wae? Kenapa menatapku aneh seperti itu?” Tanyanya.

“Tumben sekali kau berkata seperti itu? Aku tak menyangka kau bisa berkata sebijak itu padahal diantara kami semua kau yang paling semangat mendapat bekal dari Hee Young.” Ucap Junsu. Changmin berdecak kesal. Ia tak menanggapi ucapan namja itu dan menatap Jaejoong. Di rangkulnya pundak namja itu dan menariknya pergi.

“Hyung, ikut aku. Ada yang ingin kutanyakan.” Bisik Changmin.

“Ada apa?” Tanya Jaejoong sambil menatap Changmin yang berwajah serius.

“Kita cari tempat sepi dulu.” Changmin mengedarkan pandangannya dan berhenti di ruang olahraga. Keduanya masuk ruang olahraga yang kebetulan sedang tidak dipakai itu. Changmin menatap Jaejoong yang kebingungan.

“Hyung, aku penasaran dengan kau dan Hee Young.” Ucap Changmin. Jaejoong mengerutkan dahinya.

“Maksudmu?” Changmin berdecak kesal dengan pertanyaan Jaejoong.

“Tentang telepatimu dan Hee Young. Apa masih berlanjut sampai sekarang? Kau sudah menanyakan padanya?” Tanya Changmin. Jaejoong menghela nafas.

“Kau membahas itu lagi. Masih berlanjut, kadang aku memanggilnya dan dia langsung menatapku dengan wajah seolah bertanya ‘ada apa?’ . Sampai sekarang aku belum menanyakan tentang hal ini padanya. Biarkan saja.” Jawab Jaejoong.

“Kau sepertinya penasaran sekali.” Ucap Jaejoong santai.

“Hal seperti ini kan kejadian langka, hyung.”

Jaejoong menatap Changmin yang masih berpikir tentang telepatinya dan Hee Young. Ia  terkekeh kecil saat menyadari sesuatu.

‘Kau mengurusi hal tak penting seperti ini. Harusnya kau memikirkan cara untuk mendekati Chae Jin.’

“Changmin-a.” Panggilnya. Namja itu pun menoleh.

“Kau masih mau seperti ini?” Ucap Jaejoong yang tak dimengerti Changmin. Namja itu mengerutkan dahinya.

“Kau tak mau mendekati Chae Jin? Selama ini kau hanya memandanginya saja kan? Apa kau tak bosan selama tiga tahun diam saja dan hanya menatap dari jauh?” Ucap Jaejoong. Changmin pun kaget dan menjadi salah tingkah.

“Apa maksudmu, hyung? Jangan berbicara yang aneh-aneh.” Ucap Changmin berusaha mengelak. Jaejoong menepuk pundaknya pelan.

“Tidak usah pura-pura lagi. Aku sudah tahu lama kalau kau mencintai Chae Jin. Kau tenang saja karena aku tidak mengatakan hal ini pada siapapun.” Ucap Jaejoong. Changmin menatap Jaejoong lama lalu menghela nafas pelan. Ia tahu kalau apa yang namja itu katakan tidak bohong ‘Tidak mengatakan hal ini pada siapapun’.

Changmin menatap lapangan di depannya dengan tatapan kosong. Ia menghela nafas.

“Aku tidak tahu harus bagaimana, hyung. Apa dia akan menerimaku? Dan apakah Junho dan Junsu akan setuju? Kau tahu kan hyung, aku tidak pandai mendekati seorang yeoja yang kusukai.” Changmin berkata pelan tapi masih terdengar jelas oleh Jaejoong.

“Cobalah dulu dekati dia, tidak ada salahnya kan? Kurasa kalau kau memang serius dengan Chae Jin, Junho dan Junsu tidak akan masalah kau berhubungan dengan dongsaeng mereka. Aku tahu kalau kau tidak pandai mendekati yeoja yang kau sukai, aku pun seperti itu tapi perlahan cobalah ajak dia mengobrol.” Saran Jaejoong. Lama Changmin terdiam memikirkan ucapan Jaejoong, setelah merasa mantap ia menganggukan kepalanya lalu tersenyum pada namja di sebelahnya.

“Aku akan mencobanya, hyung. Kau mendukungku kan? Tapi tolong bisakah hyung tidak mengatakan hal ini pada siapapun? Termasuk Changsoo.” Pinta Changmin. Jaejoong mengerutkan dahinya tapi sedetik kemudian ia mengangguk. Ia merasa sedikit aneh dengan Changmin yang ingin menutupi hal ini dari saudara kembarnya sendiri. Tapi ia merasa pasti namja itu punya alasan tersendiri.

“Masalahku sudah selesai kini tinggal masalahmu, hyung.” Ucap Changmin. Kembali Jaejoong mengerutkan dahinya.

“Maksudmu?”

“Aish. Bukankah kau menyukai, Hee Young? Cara pendekatanmu pada yeoja itu sedikit aneh, hyung.”

“Menyukai Hee Young?”

“Kau menyukainya kan, hyung?” Tanya Changmin saat melihat namja itu menunjukkan wajah bingung. Namja itu terdiam cukup lama.

“Entahlah, Changmin-a. Di sisi lain aku mulai merasa nyaman dan senang berada di sampingnya tapi di sisi lain aku takut kalau aku berusaha mendekatinya ia menjauh atau bahkan tak menyukaiku. Kau tahu kan kalau aku tidak bisa bersikap lembut pada seorang yeoja.” Ucap Jaejoong. Keduanya menghela nafas bersamaan.

“Paling tidak kau berusahalah mendekatinya, hyung. Tapi jangan sering membentaknya.” Saran Changmin. Jaejoong mengangguk pelan.

Tak lama keduanya beranjak dari ruang olahraga menuju kelas mereka. Saat berjalan di lorong mereka mendengar suara Hee Young yang tengah bergumam seorang diri. Changmin dan Jaejoong saling berpandangan lalu menatap ke sumber suara. Sedetik kemudian mereka melihat yeoja itu keluar dari lorong yang merupakan ruang kesehatan.

Hee Young terus mengoceh tanpa sadar Jaejoong dan Changmin berada di belakangnya dan mendengarkan ocehannya. Changmin menahan rasa gelinya mendengar ocehan yeoja itu. Saat Changmin akan kembali berjalan Jaejoong menahannya dan memberi kode agar mereka berjalan memutar. Ia mau tak mau mengikuti perintah Jaejoong.

—-

Sepulang sekolah Changmin seperti biasa mengikuti Hee Young ke rumah Junsu dan Junho dengan alasan ingin menghabiskan isi kulkas yang ada di sana dan juga memaksa Jaejoong untuk mengantar mereka. Di dalam mobil Changmin membayangkan wajah manis Chae Jin. Hal itu membuat hatinya hangat dan ia sangat menyukainya.

Sampai di rumah Junsu dan Junho, ia dan yang lainnya masuk dan duduk di ruang tengah. Jantung Changmin berdetak cepat saat melihat Chae Jin hari ini berpenampilan sangat berbeda dari biasanya. Sangat cantik dan manis. Ia tersenyum melihatnya. Yeoja itu langsung menghampiri Hee Young dan mulai belajar. Changmin menoleh pada Jaejoong saat namja itu menyikutnya pelan. Namja itu menatapnya dan seolah memberi kode agar menjaga sikap karena ada Junho dan Junsu. Ia pun menatap kedua namja itu dan kembali bersikap biasa.

“Junsu-a, pinjam toilet.” Ucap Changmin. Junsu berdecak.

“Pakai yang ada di kamarku.” Ucap Junsu. Changmin mengangguk pelan lalu mulai pergi ke kamar Junsu yang sudah ia tahu letaknya berada di mana.

Selesai memakai toilet Changmin mencuci tangan dan mendengar suara dari kamar Junsu. Ia mengira itu Junsu jadi ia berceloteh tanpa melihat siapa orang yang ada di kamar itu sebenarnya. Selesai mencuci tangan Changmin pun keluar dan sedikit kaget karena yang ia kira Junsu ternyata Chae Jin. Yeoja itu tersenyum sambil membungkuk pelan.

“Mian, kukira tadi Junsu.” Ucap Changmin. Kini ia sangat gugup karena hanya berduaan dengan yeoja yang ia cintai.

“Cheonma oppa.” Balas Chae Jin. Changmin melihat yeoja itu tengah mencari-cari sesuatu di meja belajar Junsu.

“Kau sedang mencari apa? Mau kubantu?” Tawarnya sambil mendekat.

“Aku ingin meminjam buku Junsu oppa, katanya ada di meja tapi kucari-cari tidak ada. Apa di laci sini ya?” Ucap Chae Jin sambil membuka laci dan sedetik kemudian yeoja itu berteriak. Changmin yang sudah berada di belakang yeoja itu sontak kaget karena Chae Jin berteriak dan langsung memeluknya. Tubuh yeoja itu bergetar ketakutan.

“Hei, ada apa?” Ucapnya lembut. Sambil mengelus rambut yeoja itu.

“La laci o oppa a ada…” Changmin menghampiri laci dengan tetap Chae Jin memeluknya erat. Ia membelalakan matanya saat melihat boneka voodoo dan beberapa boneka menakutkan lainnya ada di dalam sana.

“Apa-apaan ini?” Ucapnya. Tak lama Junsu dan Junho datang dan berteriak saat melihat dongsaeng mereka memeluk Changmin.

“Apa yang kau lakukan pada Chae Jin kami?” Ucap Junho. Changmin menatap kesal Junho yang menuduhnya. Ia mengambil boneka voodoo dan melemparnya pada Junsu.

“Chae Jin berteriak karena itu. Tanya saja pada kembaranmu itu kenapa menyimpan benda seperti itu di laci membuat Chae Jin ketakutan. Dia tadi bilang ingin mencari buku yang ingin dia pinjam, karena di meja tidak ada dia mencoba mencari di laci dan mendapatkan itu.” Ucap Changmin sambil mengelus rambut Chae Jin dan berusaha menenangkan tangisan yeoja itu. Chae Jin memang paling takut dengan hal-hal semacam itu. Changmin mengeluarkan isi yang ada di laci agar Junho lihat.

Tak hanya Junho yang kaget yang lain pun kaget melihat hal itu, mereka pun reflek menatap Junsu tak percaya.

“I ini bukan milikku. Ke kemarin Ji Ji Sub menitipkannya padaku.” Ucap Junsu menjelaskan. Changmin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia merasakan tubuh Chae Jin lemas, reflek ia menggendong yeoja itu. Tanpa mengatakan apa-apa pada Junho dan Junsu, Changmin langsung membawa Chae Jin keluar dari kamar Junsu. Ia melihat yeoja itu masih sadar tapi tubuhnya masih bergetar hebat.

“Kamarmu?” Tanyanya. Yeoja itu menunjuk ke arah pojok. Dengan cepat Changmin membawa yeoja itu ke kamarnya dan membaringkannya di atas ranjang. Di tutupnya tubuh yeoja itu dengan selimut. Saat melihat ada air putih di meja samping Changmin menawarkan yeoja itu untuk minum tapi Chae Jin tidak mau dan terus menggenggam tangannya.

Changmin menarik kursi dan duduk di samping yeoja itu. ia tak tahu apa yang harus di lakukan agar yeoja itu kembali seperti biasa. Saat ada yang mengetuk pintu Changmin reflek mengalihkan pandangannya.

“Boleh aku masuk?” Tanya Hee Young saat membuka pintu perlahan.

“Masuklah, eonni.” Jawab Chae Jin. Changmin pun melihat yeoja itu masuk dengan Jaejoong dan Changsoo. Ketiganya menghampiri Chae Jin yang masih menggenggam tangan Changmin.

“Kau masih takut?” Tanya Hee Young lembut. Chae Jin mengangguk. Hee Young mengelus rambut yeoja itu dengan lembut. Walaupun masalah yang berbeda ia tahu apa yang di rasakan Chae Jin karena ia pun pernah dan sering merasa ketakutan.

“Boleh eonni duduk di sini?” Tanya Hee Young meminta izin sambil menunjuk tepi ranjang. Ia tersenyum saat mendapatkan anggukan. Ia menggenggam tangan yeoja itu dengan lembut sambil tersenyum.

“Eonni sudah dengar rasa takutmu dari Jaejoong sunbae tadi. Kau tahu, eonni pun sering merasa ketakutan. Beberapa waktu lalu trauma eonni pada ruang sempit seorang diri kembali kambuh dan itu terjadi saat berada di sekolah. Eonni sangat ketakutan bahkan merasa seperti akan mati. Tapi eonni beruntung ada Jaejoong sunbae yang menolong eonni. Sejak saat itu eonni sampai sekarang masih berusaha melawan rasa takut eonni itu. Walaupun masalah yang berbeda tapi eonni harap kau bisa mengatasi rasa takutmu pada hal seperti itu.” Saran Hee Young.

“Apa motivasi eonni?” Tanya Chae Jin.

“Motivasi eonni? Jaejoong sunbae.” Jawab Hee Young yang membuat Jaejoong kaget.

“Eonni ini selalu menyusahkan dan merepotkan Jaejoong sunbae. Maka dari itu eonni berusaha menghilangkan trauma ini agar tidak lagi menyusahkan Jaejoong sunbae. Sebagai rasa terima kasih, eonni setiap hari membuatkan bekal khusus untuk Jaejoong sunbae. Kau tahu Chae Jin-a? Walaupun Jaejoong sunbae sering membentak eonni dan sangat galak tapi eonni tidak mau berhenti membuatkan bekal untuknya.” Ucap Hee Young sambil terkekeh kecil.

“Kenapa eonni tidak berhenti walau sudah dibentak?” Tanya Chae Jin lagi.

“Karena eonni tahu walaupun galak dan sering membentak eonni, Jaejoong sunbae itu baik hati. Eonni lihat Jaejoong sunbae pun selalu baik pada teman-temannya. Setiap orang pasti mempunyai sisi baik dan lembut.” Ucap Hee Young bijak.

“Berarti walaupun di luar terlihat sedikit galak, cuek dan tak peduli pada apapun yang ada di sekitarnya, orang itu masih mempunyai sisi baik dan hati yang lembut, eonni?” Tanya Chae Jin polos. Hee Young pun mengangguk sambil tersenyum.

“Kau bisa tanya langsung pada Jaejoong sunbae. Jaejoong sunbae itu baik dan lembut, iya kan sunbae?” Ucap Hee Young sambil menoleh kebelakang menatap Jaejoong.

“Terserah.” Ucap Jaejoong sambil mengalihkan pandangannya. Ia merasa kalau wajahnya memerah kali ini karena ucapan Hee Young.

“Ngomong-ngomong siapa yang kau maksud sedikit galak, cuek dan tak peduli pada apapun itu?” Tanya Hee Young. Chae Jin reflek menatap Changmin.

“Dia, eonni.” Jawab Chae Jin polos sambil menunjuk namja yang ada di sebelahnya. Namja yang sampai sekarang tangannya masih ia genggam. Changmin kaget saat mengetahui namja yang di maksud Chae Jin itu dirinya.

“Aku?” Ucap Changmin tak percaya dan bingung. Chae Jin mengangguk mantap. Jaejoong menahan tawanya saat mendengar jawaban Chae Jin. Ia menatap Changmin dengan tatapan meledek.

“Gumawo eonni. Aku akan berusaha menghilangkan rasa takutku.” Ucap Chae Jin. Hee Young tersenyum. Tak lama pintu kamar Chae Jin terbuka perlahan, Junho dan Junsu masuk perlahan dan menatap dongsaeng mereka dengan sendu, terutama Junsu. Ia benar-benar merasa bersalah pada Chae Jin.

Chae Jin yang melihat kedua oppa-nya itu datang langsung melempar bantal dan menyuruh mereka keluar. Ia tak mau melihat kedua namja itu sekarang ini. Saat Hee Young menggenggam tangannya ia menatap yeoja itu.

“Jangan seperti itu, Chae Jin-a. Biarkan oppa-mu itu menjelaskan semuanya dan eonni harap kau memaafkannya. Kalau begitu eonni keluar dulu agar kau leluasa mengobrol dengan oppa-mu.” Ucap Hee Young. Lalu ia berdiri dan membungkuk sopan pada Junho dan Junsu. Ia menengok ke belakang ternyata ketiga sunbaenya juga ikut keluar.

Mereka duduk di sofa ruang tengah. Cukup lama mereka terdiam dan berkutat dengan pikiran masing-masing. Tak lama Hee Young menoleh ke arah Jaejoong.

“Sunbae apa sebaiknya aku pulang saja ya? Biar Chae Jin bisa beristirahat hari ini.” Jaejoong hanya mengangguk mendengar pertanyaan yeoja di sampingnya. Yeoja itu berdiri dan pada saat yang sama Junho turun dari tangga dengan wajah lemas.

“Sunbae, aku pamit dulu. Kurasa Chae Jin hari ini butuh istirahat.” Ucap Hee Young.

“Gumawo, Hee Young-a.” Ucap Junho. Hee Young pun mengangguk dan pamit pulang. Ia berjalan keluar tanpa sadar ketiga namja itu mengikutinya dari belakang.

“Akh.” Jerit Hee Young kecil saat kerah seragamnya ada yang mengangkat. Ia berusaha menoleh kebelakang dan melihat Jaejoong yang menarik kerahnya.

“Mau kemana hah?”

“Pu pulang sunbae.” Jawab Hee Young sedikit kesulitan. Jaejoong melepaskan tarikannya pada kerah yeoja itu.

“Naik.” Perintah Jaejoong. Hee Young menggelengkan kepalanya.

“A aku ma mau ke suatu tempat dulu sunbae. A ada yang harus aku beli. Jadi sebaiknya aku pulang sendiri.” Ucap Hee Young menolak halus.

“Naik saja. Jaejoong hyung tidak suka melakukan hal setengah-setengah. Jika dia mengantarmu ke sini maka dia juga yang harus mengantarmu pulang.” Ucap Changmin. Jaejoong yang tak peduli langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia melihat Changmin dan Changsoo naik kedalam mobilnya tapi yeoja itu hanya diam lalu tak lama menggelengkan kepalanya.

“Tunggu sebentar, hyung.” Ucap Changmin. Lalu Changmin membuka jendela dan membujuk Hee Young tapi sayang yeoja itu tetap tidak mau. Jaejoong pun berdecak kesal dan menurunkan kaca jendela mobilnya.

“JIN HEE YOUNG NAIK SEKARANG!!!” Teriak Jaejoong kesal.

“Hyung.” Ucap Changmin.

“Kau tahu kalau aku benci menunggu, Changmin-a.” Ucap Jaejoong sambil menatap Hee Young yang kini tengah berjalan untuk naik ke dalam mobilnya. Yeoja itu duduk di sampingnya, memasang sitbelt lalu menundukkan kepalanya.

Selama perjalanan Jaejoong melihat yeoja itu hanya diam saja dan terus menunduk. Tak lama ia sampai di depan rumah Changmin dan Changsoo. Kedua namja itu pun turun dan melambaikan tangannya, ia membalasnya lalu pergi. Suasana masih hening tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Jaejoong menoleh saat mendengar suara tangisan. Ia melihat yeoja itu menangis.

“Ya!” Ucap Jaejoong. Bukan berhenti tapi yeoja itu malah semakin keras menangis membuat Jaejoong bingung. Ia memarkirkan mobilnya di tempat yang cukup sepi lalu menatap Hee Young yang masih terus menangis. Jaejoong menghela nafas sambil mengacak-acak rambutnya frustasi, ia tak tahu harus bagaimana agar yeoja itu menghentikan tangisnya.

“Gara-gara aku membantakmu tadi?” Tanyanya. Yeoja itu mengangguk membuat Jaejoong reflek berdecak.

“Kau tahu kan aku benci menunggu. Lagi pula apa susahnya kau tinggal naik saja dan katakan padaku ingin kemana.” Ucap Jaejoong. Ucapannya itu semakin membuat Hee Young menangis keras. Jaejoong semakin frustasi.

“Aish! Ya! Oh Tuhan kenapa seperti ini? Kau itu menyusahkan dan selalu merepotkan. Tapi kenapa aku tidak bisa mengabaikanmu?” Ucap Jaejoong dan langsung mencium bibir mungil Hee Young. Ia mencium yeoja itu lembut. Tidak ada respon maupun penolakan dari yeoja itu. Jaejoong tak mempedulikan tasnya yang terjatuh.

“Mmmpphhh.” Lenguh keduanya saat Jaejoong melepaskan ciumannya. Ia melihat yeoja itu sudah tak menangis lagi. Di hapusnya air mata yang masih mengalir di pipi Hee Young. Yeoja itu menatapnya kaget.

“Berhenti menangis.”

“Su sun sunbae me menciumku. W wa wae?” Ucap Hee Young kaget. Jaejoong berdecak saat mendengarnya.

‘Kau bodoh, apa masih tidak mengerti kalau seorang namja mencium yeoja itu artinya apa’ Batin Jaejoong yang di jawab tatapan bingung dan tak mengerti dari Hee Young.

“Aku hanya iseng dan berusaha menghentikan tangisanmu.” Jawab Jaejoong asal lalu membenarkan posisi duduknya. Ia melihat Hee Young mengambil tasnya yang terjatuh tepat diatas kaki yeoja itu. Ia membelalakan matanya saat yeoja itu melihat buku sketsanya yang terbuka. Yeoja itu menatapnya sekilas lalu membuka isi buku sketsanya satu per satu. Buku sketsa yang penuh dengan gambar yeoja itu. Jantung Jaejoong berdetak sangat kencang.

“I ini aku sunbae?” Tanya Hee Young.

“Bukan.” Jawab Jaejoong galak.

“Tapi mirip sekali denganku.” Ucap yeoja itu lagi.

“Itu memang kau. Kenapa masih bertanya? Bodoh.” Gumam Jaejoong kecil tapi masih bisa terdengar oleh Hee Young.

“Kenapa aku, sunbae?” Tanya Yeoja itu pada Jaejoong. Jaejoong hanya diam tak menjawab, ia menatap keluar jendela dengan perasaan gugup.

“Sejak kapan sunbae melukisku?”

“Tidak tahu.” Jawab Jaejoong jujur. Ia tak mau menatap yeoja itu karena ia malu.

“Ini lukisan yang sangat indah. Aku suka yang ini.” Ucap Hee Young yang membuat Jaejoong menoleh. Lukisan yeoja itu bersama Jaejoong. Jaejoong melukiskan itu karena ia berkhayal ingin berjalan berdua dengan  yeoja itu ke tempat yang menyenangkan.

“Kembalikan.” Ucap Jaejoong ketus lalu mengambil tas dan buku sketsa miliknya dari tangan Hee Young. Ia memasukkannya kedalam tas lalu melempar tasnya ke kursi yang ada dibelakang mobilnya. Jaejoong menyalakan mesin mobilnya lagi lalu pergi dari tempat itu.

“Katakan mau kemana? Kau tadi bilang ingin kesuatu tempat.” Tanya Jaejoong tanpa menatap yeoja itu.

“A aku mau ke mall mencari hadiah ulang tahun.” Jawab Hee Young.

“Untuk siapa?” Tanya Jaejoong yang sedikit curiga.

“Untuk Ji Young.” Jawab Hee Young jujur. Ia ingin membelikan kamera dan beberapa buku komik kesukaan dongsaengnya itu.

“Ji Young?” Ucap Jaejoong. Hee Young mengangguk.

“Ne Ji Young. Dongsaengku satu-satunya, sunbae.” Jelas Hee Young.

“Oh.” Jawab Jaejoong dengan hati lega. Ia sempat takut kalau yeoja itu menjawab kalau Ji Young itu merupakan namjachingunya.

Tak lama keduanya sampai di mall terbesar di kota seoul. Keduanya turun dan masuk ke dalam mall. Hee Young mencari-cari kamera yang sempat ia tahu sangat diinginkan dongsaengnya itu.  Ia sedikit bingung dengan area mall itu karena ia sangat jarang datang ke sana. Hee Young mengedarkan pandangannya.

“Apa yang kau cari?” Tanya Jaejoong.

“Kamera seperti ini dan beberapa komik.” Jawab Hee Young sambil menunjukkan contoh kamera yang ia dapat dari internet. Ia melihat namja itu mengangguk lalu menarik tangannya pergi, lebih tepatnya menggenggam tangannya.

Saat sampai Hee Young melihat Jaejoong berbicara dengan karyawan disana. Ia melepaskan genggaman namja itu dan melihat-lihat sambil mencari kamera yang ingin ia beli. Saat melihat ada kamera yang ingin ia beli, ia pun melihat harga yang tertera. Hee Young membelalakan matanya saat melihat harganya. Sangat mahal dan uang yang ia punya belum cukup. Ia menatap sedih kamera itu.

“Kenapa?” Tanya Jaejoog.

“Harganya terlalu mahal untukku sunbae, tabunganku belum cukup. Aku cari hadiah  yang lain saja.” Ucap Hee Young. Jaejoong menahan tangannya yang hendak pergi.

“Dongsaengmu sangat menyukai fotografi?” Tanya namja itu yang ia jawab dengan anggukan.

“Aku tak mengerti tentang kamera tapi sepertinya spesifikasi yang ada di kamera itu sangat bagus dan di butuhkan oleh Ji Young.” Jawab Hee Young. Ia melihat namja itu memanggil karyawan yang ada di sana.

“Tolong yang ini.” Ucap Jaejoong pada karyawan itu. Karyawan itu mengangguk lalu pergi. Hee Young menatap Jaejoong tak percaya.

“Su sunbe?”

“Anggap saja permintaan maafku karena mambuatmu menangis.” Hee Young menggelengkan kepalanya tidak setuju.

“Aku tidak mau gratis. Aku lebih suka memberikan hadiah pada dongsaengku dengan uang hasil keringatku sendiri. Tolong batalkan, sunbae.” Jaejoong hanya diam tak merespon. Hee Young menarik lengan Jaejoong berharap namja itu akan membatalkannya.

“Kalau begitu aku akan memberikan tabungan yang kupunya lalu sisanya akan kuberikan kalau gajiku dari mengajar Chae Jin terkumpul.” Ucap Hee Young. Jaejoong menatap Hee Young tak suka.

“Sunbae tolong mengerti. Aku ingin memberikannya dengan hasil keringatku. Aku akan lebih senang dan bangga jika memakai uangku sendiri.” Ucap Hee Young memberikan penjelasan. Jaejoong menghela nafas.

“Terserah kau.” Ucap Jaejoong ketus. Hee Young tersenyum senang.

“Gumawo. Penilaianku pada sunbae tidak salah. Walaupun galak, kasar, sering membentakku tapi sunbae baik.” Ucap Hee Young memuji.

“Kalau kau bilang aku baik kenapa kau tadi menangis?” Ucap Jaejoong berusaha tak peduli.

“Habis tadi sunbae kan berteriak padaku. Itu teriakan paling keras selama ini yang pernah kuterima dari sunbae. Tapi buktinya sunbae tidak tinggal diam saat aku menangis. Sunbae itu baik.” Ucap Hee Young lagi.

“Kalau kau tidak berhenti mengatakan aku baik aku akan …”

“Baik baik baik sunbae. Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi.” Potong Hee Young dengan cepat karena ia takut.

“Kenapa marah? Padahal kan itu memang benar.” Gumam Hee Young pelan tapi terdengar oleh Jaejoong.

“Ehem.” Hee Young menoleh dan tersenyum lalu dengan cepat menghampiri karyawan yang tengah membungkus kamera dengan rapi dan teliti.

Jaejoong menghampiri yeoja itu lalu membayar pada karyawan toko itu. Di bawanya tas berisi kamera itu. Yeoja itu mengikutinya dan menarik tangannya.

“Ke toko buku, sunbae. Ah atau kalau memang sunbae mau pulang biar aku pergi sendiri saja, bagaimana?” Ucap Hee Young. Ia melihat sepertinya namja itu kelelahan. Ia mendapatkan tatapan tajam dan tidak suka dari namja itu.

“W wa wae?” Tanya Hee Young takut.

“Perlu kau tahu aku bukan tipe namja yang meninggalkan seorang yeoja di tempat ramai seperti ini sendirian. Toko buku dimana? Cepat. Aku benci menunggu.” Hee Young mengatakan toko buku yang sudah Jaejoong tahu tempatnya. Ia berjalan dengan di ikuti Hee Young di sampingnya. Di peluknya pinggang yeoja itu saat akan terjatuh karena terdorong.

“Hati-hati.”

“Ne.”

Sampai di toko buku, Hee Young langsung menghampiri teman SMPnya yang bekerja paruh waktu di tempat itu. Hee Young sempat meminta temannya itu untuk menyimpan beberapa komik yang sangat sulit di dapat itu untuknya. Ia tersenyum saat temannya mengeluarkan komik yang ia minta. Cukup banyak tapi Hee Young puas karena hadiah untuk dongsaengnya sudah lengkap. Ia langsung membayarnya pada temannya itu yang bekerja sebagai kasir.

“Bagaimana sekolahmu di sana? Menyenangkan?” Tanya Lee Joo teman Hee Young.

“Walaupun terkadang membosankan tapi cukup menyenangkan.” Jawab Hee Young.

“Mmmm Hee Young-a, apakah akhir pekan ini kau ada waktu?” Tanya Lee Joo yang bermaksud mengajak kecan. Hee Young mengerutkan dahinya.

“Akhir pekan? Memangnya ada apa?” Tanya Hee Young. Belum sempat Lee Joo menjawab tiba-tiba Jaejoong menghampiri Hee Young.

“Hei, sudah selesai, belum?” Tanya Jaejoong. Hee Young menoleh dan memperlihatkan komik yang ia beli sambil tersenyum lebar. Jaejoong menggelengkan kepalanya saat melihat komik-komik itu. Setelah yeoja itu membayar Jaejoong mengambil bungkusan itu dari tangan Hee Young. Ia menggenggam tangan yeoja itu hendak mengajak pergi dari mall tapi yeoja itu menahannya. Di tatapnya yeoja itu yang tengah menatap kasir.

“Apa teman-teman SMP mengadakan reuni di akhir pekan?” Tanya Hee Young.

“Ti tidak, lupakan saja.” Ucap Lee Joo sambil menatap Jaejoong.

“Mmm baiklah. Aku pergi dulu ya. Gumawo.” Ucap Hee Young. Lalu dengan cepat Jaejoong menarik tangan yeoja itu keluar dari mall.

“Sunbae jangan cepat-cepat. Kakiku sakit.” Keluh Hee Young yang merasa kesakitan.

“Aku benci berada di tempat ramai seperti ini.” Jaejoong berhenti dan menatap yeoja itu yang kesakitan. Jaejoong sengaja diam cukup lama agar yeoja itu tidak lagi merasa kesakitan.

Hee Young melihat Jaejoong menatapnya dengan diam. Ia tahu kalau namja itu tengah menahan rasa kesal karena yang ia tahu namja itu benci menunggu. Ia pun mengajak Jaejoong pergi walaupun kakinya masih sakit.

“Gumawo sunbae sudah mau mengantarku.” Ucap Hee Young saat sudah duduk di dalam mobil.

“Hmm.” Balas Jaejoong. Hee Young menatap Jaejoong yang kini tengah fokus mengemudi. Ia kembali memikirkan tentang ciuman tadi. Ia tak mengerti mengapa sunbaenya yang galak itu menciumnya tiba-tiba. Ia ingin sekali menanyakannya.

“Su sunbae, aku mau bertanya sesuatu.” Ucapnya gugup. Namja itu menatapnya sekilas lalu kembali fokus menyetir.

“Apa?”

“Ke kenapa tadi su sunbae menciumku? Boleh aku tahu alasannya selain iseng dan ingin menghentikan tangisanku?” Tanyanya. Ia menunduk saat Jaejoong menatapnya. Di rasakannya mobil yang ia naiki berhenti. Suasana hening. Hee Young mendengar helaan nafas yang berasal dari namja itu.

“Kau benar-benar tak mengerti kenapa seorang namja mencium yeoja? Tak mengerti mengapa aku begitu banyak melukismu di buku sketsaku?” Tanya Jaejoong. Hee Young menggelengkan kepalanya.

“Aku takut salah mengartikannya, sunbae.” Jawab Hee Young jujur. Ia masih menundukkan kepalanya dengan gugup.

“Otakmu berjalan lambat sekali sih. Kita pulang saja.” Ucap Jaejoong kesal. Ia kesal karena Hee Young tak juga mengerti mengapa ia mencium yeoja itu. Selain itu ia juga sangat malu mengatakan perasaannya pada Hee Young.

“Kenapa wajah sunbae memerah seperti itu?” Tanya yeoja itu yang sadar wajahnya memerah.

“Apa sunbae sedang menahan emosi karena pertanyaanku tadi?” Tanya yeoja itu lagi yang membuat Jaejoong menghela nafasnya berat. Ia kembali menghentikan mobilnya di tempat yang cukup sepi. Lalu menatap Hee Young yang menatapnya bingung.

Jaejoong kembali mencium yeoja itu lembut tapi perlahan berubah kasar. Ia mengelus tengkuk Hee Young membuat yeoja itu melenguh dan mulai membalas ciumannya. Ia melepas ciumannya untuk mendapatkan oksigen. Di tatapnya yeoja itu lembut, selembut yang ia bisa.

“Masih tidak mengerti? Aku bukan tipe namja yang mudah menyatakan perasaan pada yeoja yang kucintai. Bahkan sikapku akan semakin kasar dan galak pada yeoja itu untuk menutupi perasaan dan rasa maluku. Jadi kumohon jangan menanyakan hal itu lagi. Ne?” Ucap Jaejoong dengan suara berat dan pelan.

“N ne.” Jawab Hee Young. Setelah mendengar jawaban yeoja itu Jaejoong kembali duduk dan merapikan pakaiannya lalu kembali mengemudi. Ia sesekali memegang dadanya yang berdetak sangat cepat.

“Hee Young-a.” Panggilnya dengan suara pelan. Tapi sayang yeoja itu hanya diam karena tak mendengar panggilannya.

“Ya!.” Panggilnya dengan kasar. Jaejoong merutuki dirinya sendiri saat sadar dengan sikapnya itu.

“Ne?” Jawab yeoja itu yang terdengar takut.

“Maukah kau bersamaku? Menjalani bersama.” Ucap Jaejoong gugup.

“Maksud sunbae berpacaran?” Tanya Hee Young yang sontak membuat wajah namja di sampingnya kembali memerah.

“Jawab saja mau atau tidak.” Ucap Jaejoong galak.

“N ne a aku mau.” Jawab Hee Young tanpa berpikir lebih dulu. Namja itu meliriknya tak percaya lalu untuk ketiga kalinya Jaejoong menepikan mobilnya. Jaejoong memeluknya erat dengan wajah yang terlihat sangat bahagia. Wajah yang baru kali ini Hee Young lihat. Namja itu melepaskan pelukannya dan mencium keningnya. Hee Young melihat Jaejoong sangat bahagia. Ia mengulas senyum di depan namja itu.

Tak lama Jaejoong kembali mengemudikan mobilnya untuk mengantar Hee Young pulang. Hatinya sangat senang karena yeoja itu menerimanya. Ia tak menyangka sama sekali akan secepat ini ia mendapatkan Hee Young. Ia tadinya berpikir kalau akan sulit mendekati yeoja itu untuk mengungkapkan perasaannya.

‘Kenekatanku menciumnya ada gunanya juga ternyata.´ Batin Jaejoong senang. Sepanjang jalan mengantar Hee Young, Jaejoong terus tersenyum.

“Sudah sampai.” Ucap Jaejoong. Ia mematikan mesin mobilnya lalu membuka sitbeltnya. Ia melihat yeoja itu tengah menatapnya. Secepat kilat Jaejoong kembali bersikap seperti biasa. Yeoja itu masih diam tak melakukan apa-apa. Sitbelt pun masih terpasang di tubuhnya. Tatapan yeoja itu sedikit aneh menurutnya. Tapi sedetik kemudian yeoja itu membuka sitbelt dan membungkuk padanya.

“Gumawo sunbae sudah mau mengantarku pulang. Ah iya ini uang untuk membeli kamera tadi. Sisanya seperti yang kujanjikan setelah gajiku terkumpul.” Ucap Hee Young sambil memberikan amplop padanya. Jaejoong menatap yeoja itu tidak suka.

“Kita kan sekarang sudah berpacaran kenapa masih membahas ini?” Ucap Jaejoong tidak suka. Yeoja itu menatapnya sendu.

“Kumohon sunbae terima. Aku kan sudah mengatakan alasannya di mall. Walaupun aku sekarang kekasih sunbae tapi aku tidak mau terkesan memanfaatkan sunbae karena sunbae orang kaya dan aku tak akan pernah mau memberi kesan seperti itu.” Jaejoong menghela nafas mendengarnya. Ada sedikit rasa senang di hati Jaejoong saat yeoja itu mengatakan tidak ingin memanfaatkannya atau lebih tepatnya memanfaatkan uangnya karena ia orang kaya. Selama ini jika ia mempunyai yeojachingu, mereka semua selalu memanfaatkan uangnya saja.

“Akan kuambil tapi ada syaratnya. Sisanya kau bayar dengan membawakanku bekal setiap hari.” Ucapnya. Hee Young menganggukan kepalanya setelah mendengar ucapannya. Jaejoong pun mengambil amplop itu dan memasukannya ke dalam tas.

“Sekali lagi gumawo. Aku permisi dulu.” Ucap Hee Young.

“Ya! Tunggu dulu!” Bentak Jaejoong kasar. Saat tersadar lagi-lagi ia merutuki sikapnya itu. yeoja itu menoleh dan menatapnya.

“Berikan ponselmu.” Perintah Jaejoong. Hee Young pun memberikan ponsel miliknya pada Jaejoong. Jaejoong menyimpan nomor ponsel miliknya lalu setelah itu menelepon ponselnya sendiri dengan ponsel yeojanya itu. Setelah itu ia memberikan ponsel Hee Young. Jaejoong mengambil ponselnya dan menyimpan nomor itu lalu menelepon.

“Masukkah? Itu nomorku. Jangan kau hapus.” Ucap Jaejoong ketus. Hee Young mengangguk pelan.

Jaejoong keluar dari mobil dan menatap Hee Young cukup lama. Di hampirinya yeoja itu lalu tersenyum sekilas.

“Masuklah.” Hee Young mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Saat masuk Hee Young menutup pintu dan mengintip Jaejoong dari jendela. Ia terkekeh kecil saat mendapati namja itu bertingkah aneh. Tak lama namja itu kembali bersikap biasa dan melihat sekeliling sambil masuk ke dalam mobil.

Setelah namja itu pergi Hee Young langsung masuk ke kamarnya dengan cepat, takut kalau Ji Young melihatnya membawa barang-barang sebanyak itu. Ia mengunci pintu kamarnya dan menaruh barang bawaannya di atas meja belajarnya. Hee Young bergegas mandi untuk menyegarkan tubuhnya.

Selesai mandi Hee Young duduk di kursi yang ada di dekat jendela kamarnya. Ia memeluk kedua kakinya lalu menatap keluar jendela, di luar sudah cukup gelap dan hanya di terangi oleh cahaya lampu. Hee Young menghela nafas berkali-kali dan menatap keluar dengan sendu.

“Apa keputusanku benar ya dengan menerima Jaejoong sunbae?” Tanyanya pada diri sendiri.

Sebenarnya ia tadi reflek menjawab mau karena namja itu membentaknya. Sejujurnya ia tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap namja itu. Hee Young memiliki perasaan terhadap sunbaenya itu tapi ia merasa itu hanya sebatas hubungan sunbae dan hoobae saja. Cukup lama Hee Young memikirkannya di dalam kamar.

“Apa aku ceritakan saja pada Jaejoong sunbae ya?” Gumamnya pelan. Hee Young mengambil ponselnya lalu mulai mengetik pesan untuk namja itu.

To: Jaejoong

Sunbae apa sudah tidur?

Hee Young menghela nafas setelah mengirim pesan itu. Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan. Sambil berfikir Hee Young tanpa sadar mengubah nama ‘Jaejoong’ yang ada di ponselnya menjadi ‘Jaejoongie’. Ia sedikit tersentak saat ponselnya berbunyi dan yang meneleponnya itu namja yang baru saja ia kirimi pesan. Hee Young pun mengangkatnya.

“Ada apa?” Tanya Jaejoong dengan suara yang terdengar lembut di telinga Hee Young.

“Apa aku mengganggu?” Ucap Hee Young.

“Aish kau tidak mengganggu.” Ucap Jaejoong kesal.

“Mian.” Ucap Hee Young lemas.

“Ya! Kenapa dengan suaramu? Kau sakit?” Tanya Jaejoong galak tapi sebenarnya ia khawatir.

“Anni, aku baik-baik saja.” Jaejoong semakin kesal saat mendengar jawaban Hee Young.

“Aish kau ini menyusahkan.” Ucap Jaejoong lalu menutup teleponnya. Hee Young menghela nafas pelan.

“Sunbae jadi marah.” Gumam Hee Young sambil menatap ponselnya. Ia menaruh ponselnya lalu kembali menatap keluar jendela.

“Apa yang harus kulakukan?” Gumamnya lagi. Hee Young beranjak dari kursinya menuju ranjang, ia berbaring dan menatap langit-langit kamar. Ia berteriak kesal sampai-sampai Ji Young mengetuk kamarnya.

“Noona baik-baik saja.” Jawabnya sambil membuka pintu. Ia menahan Ji Young yang ingin masuk karena teringat hadiah untuk dongsaengnya itu masih ada di atas meja.

“Noona sedang ingin sendiri.” Ucapnya tegas.

“Tapi benar kau baik-baik saja kan, noona?” Hee Young mengangguk cepat. Ji Young memberikan nampan berisi makan malam padanya.

“Kau tidak makan malam tadi, noona. Jadi kubawakan ini. Padahal umma, appa dan aku memanggilmu tapi kau diam saja membuat kami khawatir. Makanlah hingga habis, jangan sampai sakit.” Ucap Ji Young yang membuat Hee Young terharu akan perhatian dongsaengnya itu.

“Gumawo Ji Young-a.” Ji Young mengangguk lalu pergi. Hee Young masuk dan mengunci kamarnya. Ia makan malam di kamarnya sambil kembali melamun.

Selesai makan ia membawa nampan ke dapur dan kembali ke kamar. Saat akan menutup pintu ponsel Hee Young berbunyi. Diambil ponsel itu lalu melihat id callernya ‘Jaejoongie’.

“Yeoboseo.” Sapanya.

“Keluarlah sekarang.” Ucap namja itu.

“Heh?” Hee Young mengerutkan dahinya.

“Aku di depan rumahmu. Cepatlah sedikit!” Namja itu kembali membentaknya dan menutup telepon. Hee Young menghampiri jendelanya dan melihat namja itu tengah berdiri tepat di depan rumahnya. Jaejoong menatapnya dan menyuruhnya untuk turun, reflek Hee Young pun mengangguk dan bergegas turun dan menghampiri namja itu.

“Ada apa sunbae?”

“Kau sakit? Di telepon tadi kau terdengar lemas. Ini kubawakan obat, mungkin bisa membantu. Dan ini makanan agar kau cepat sembuh.” Jaejoong memberikan Hee Young apa yang ia beli tadi. Yeoja itu mengambilnya dengan wajah kaget.

“Gumawo.” Ucap Hee Young. Jaejoong melihat yeoja itu berpakaian cukup tipis membuatnya kesal.

“Ya! Jin Hee Young, kenapa kau berpakaian setipis ini hah? Di luar dingin. Kalau kau berpakaian seperti ini pantas saja tadi kau terdengar lemas di telepon dan sakit seperti sekarang ini. Kau itu bodoh sekali sih!” Ucap Jaejoong kasar. Ia membuka jaket tebalnya dan memakaikannya pada yeoja itu.

“Sudah sana masuk.” Perintah Jaejoong. Lalu Jaejoong berjalan menuju mobilnya.

“Su sunbae tunggu. A aku ingin mengobrol sebentar dengan sunbae.” Ucap Hee Young. Jaejoong menatap Hee Young lalu berdecak kesal.

“Tidak bisa. Kau sedang sakit jadi istirahat saja. Sana masuk.” Tolak Jaejoong. Ia menatap tajam Hee Young saat yeoja itu menatapnya dengan wajah memohon.

“Aish terserah kaulah.” Ucap Jaejoong akhirnya.

“Kalau begitu aku masuk dulu menaruh ini.” Ucap Hee Young sambil bergegas masuk.

“YA!” Panggil Jaejoong kasar.

“Ne?”

“Pakai Syal. Diluar dingin.” Ucap Jaejoong. Hee Young mengangguk lalu masuk.

“Asih pabo kau Jaejoong-a. Kenapa galak dan kasar sekali? Dia kan yeojachingumu. Bersikaplah lembut dan halus. Ingat lembut dan halus. Kau harus menghilangkan sikap kasarmu padanya, dia itu yeoja yang kau cintai.” Ucap Jaejoong pada diri sendiri. Ia tak menyadari kalau tak jauh dari tempat ia berdiri ada kedua orang tua Hee Young yang baru saja pulang membeli hadiah kecil untuk Ji Young yang akan berulang tahun. Orang Hee Young yang sejak tadi melihat ia dan Hee Young.

“Apa-apaan dia? Berani sekali bersikap seperti itu pada putriku?” Ucap appa Hee Young tidak suka. Sedangkan umma Hee Young menatap suaminya itu sambil berdecak.

“Yeobo, kau jangan berkata seperti itu seolah tak ingat sesuatu.” Ucap umma Hee Young berusaha menyindir suaminya. Appa Hee Young menatap istrinya dengan bingung.

“Kau lupa kalau sikap anak muda itu sangat mirip denganmu waktu muda?” Ucap umma Hee Young. Appa Hee Young berdehem dan tak menjawab.

“Tapi kan anak muda itu tak perlu bersikap galak pada putriku.”

“Yeobo, kau juga tidak ingat bagaimana sikapmu padaku saat mengajakku kencan? Kau sangat galak dan perhatian padaku pun tidak. Anak muda ini walaupun galak tetap perhatian pada putri kita.” Ucap umma Hee Young. Appa Hee Young hanya bisa berdecak mendengarkan ocehan istrinya itu.

“Lalu kenapa kau menerima lamaranku waktu itu kalau kau bilang aku galak dan tidak perhatian?”

“Aku menerimanya karena takut kau akan membujang seumur hidup.” Ucap umma Hee Young.

“Aish kau.” Ucap appa Hee Young kesal.

“Ayo kita menemuinya.” Ucap umma Hee Young. Appa Hee Young hanya mengangguk.

“Akan kuberi pelajaran anak muda itu.” Ucap appa Hee Young.

“Awas kalau kau berani.” Ancam umma Hee Young. Mereka berdua pun berjalan mendekati Jaejoong.

“Annyeonghaseo.” Sapa umma Hee Young ramah. Jaejoong yang sejak tadi masih merutuki dirinya sendiri karena bersikap kasar pada Hee Young pun berusaha bersikap biasa. Ia membungkukkan badannya 90 derajat.

“Annyeonghaseo.” Balasnya.

“Kau menunggu siapa? Putri kami Hee Young atau putra kami Ji Young?” Tanya umma Hee Young pura-pura tidak tahu. Jaejoong sedikit tersentak kaget saat tahu kalau di depannya ini merupakan orang tua dari yeoja yang ia cintai.

“Saya menunggu Hee Young, Ajumma. “ Jawab Jaejoong gugup.

“Oh. Mmm apa kau temannya Hee Young?” Tanya umma Hee Young lagi-lagi pura-pura tidak tahu.

“Anni ajumma. Saya namjachingu Hee Young.” Jawab Jaejoong.

“Ajumma ajusshi, saya ingin meminta ijin agar di perbolehkan berpacaran dengan Hee Young. Saya harap ajumma dan ajusshi merestui.” Ucap Jaejoong. Ia merasa harus meminta restu dari kedua orang tua Hee Young.

Umma dan appa Hee Young sedikit tersentak dengan ucapan Jaejoong karena mereka merasa sangat jarang ada anak muda yang berkata seperti itu. Appa Hee Young sedikit melunak saat mendengar ucapan Jaejoong. Ia menatap istrinya dan istrinya itu tersenyum. Ia menghela nafas pelan.

“Kami merestuimu berpacaran dengan putri kami. Tolong jaga dia saat bersamamu dan jangan menyakitinya.” Ucap appa Hee Young tegas.

“Ne, ajusshi. Khamsahamnida ajusshi ajumma.” Jaejoong membungkukkan badannya. Ia merasa senang karena mendapat restu.

Tak lama Hee Young keluar dan Jaejoong melihat yeoja itu menuruti ucapannya untuk memakai syal. Ia tersenyum tipis. Yeoja itu menghampirinya dan menatap kedua orang tua yeojanya itu.

“Umma appa? Sedang apa? Jangan katakan appa mengintrogasi Jaejoong sunbae?” Ucap Hee Young curiga. Ia mendapakan cubitan kecil dari ummanya, ia meringis pelan dan menatap ummanya bingung.

“Kau ini bagaimana? Mana ada seorang yeojachingu memanggil namjanya dengan sebutan sunbae. Jangan panggil seperti itu, pikirkan perasaannya.” Ucap umma Hee Young. Hee Young membelalakan matanya saat mendengar ucapan ummanya.

“Kami sudah tahu. Appa tidak mengintrogasinya.” Ucap appa Hee Young. Hee Young hanya bisa diam tak bisa berkata apa-apa.

“Umma appa, a aku mau mengobrol sebentar de dengan Jaejoong sunbae.” Ucap Hee Young gugup dan malu. Umma Hee Young tersenyum melihat sikap putrinya, ia pun mengangguk.

“Kami hanya akan ke taman di sana.” Ucap Hee Young memberitahu.

“Jangan terlalu malam.” Ucap appa memberitahu.

“Ne.” Jawab Hee Young sambil berjalan dengan Jaejoong. Ia merasa wajahnya memerah kali ini.

Hee Young melepaskan syalnya dan memberikannya pada namja di sampingnya. Ia memasangkan syalnya itu di leher Jaejoong. Setelah selesai namja itu malah melepaskannya dan memakaikannya kembali di lehernya.

“Sunbae pakai ini.” Ucap Hee Young kembali memakaikan syal tapi dengan cepat namja itu menahannya dan kembali syal itu di pasangkan di lehernya.

“Kau sedang sakit jadi kau yang pakai. Jangan membantah.” Ucap Jaejoong. Ia sedikit senang karena yeoja itu tidak membantah.

“Tapi aku tidak sakit.” Gumam yeoja itu.

“Tapi suaramu terdengar sakit.” Ucap Jaejoong. Ia mendengar yeoja itu hanya menghela nafas.

“Yang menyangka aku sakit kan sunbae.” Ucap Hee Young tak mau kalah. Keduanya duduk di kursi taman.

“Lalu kenapa kau lemas seperti ini?” Jaejoong memegang kedua pipi yeojanya itu sambil menatap dari ujung kepala hingga kaki dengan wajah cemas.

Hati Hee Young sedikit merasa bersalah saat melihat Jaejoong menatapnya dengan cemas. Ia jadi tidak tega untuk memberitahukan tentang perasaannya.

Sebenarnya tadi ia ingin mengobrol dengan Jaejoong hanya untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya karena ia tak mau berbohong pada Jaejoong tapi melihat sikap namja itu membuatnya tidak tega dan hatinya terasa sakit.

“Aku baik-baik saja, sunbae.” Jawab Hee Young. Jaejoong sedikit sedih dan tidak suka karena yeojanya itu masih memanggilnya sunbae. Ia melepaskan tangannya dari pipi Hee Young lalu bersandar sambil menatap ke depan.

Hee Young sadar akan perubahan Jaejoong yang tiba-tiba itu. Ia langsung teringat ucapan ummanya yang mengingatkannya untuk memanggil Jaejoong dengan sebutan lain dan jangan sunbae. Hee Young menatap Jaejoong sendu lalu menghela nafas sepelan mungkin. Dilihatnya namja itu hanya menatap kedepan tanpa berkata apa-apa. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jaejoong dan merangkul lengan namja itu.

“Joongie.” Panggil Hee Young yang membuat Jaejoong kaget.

“Bolehkah aku memanggil sunbae seperti itu sekarang?” Tanya Hee Young.

“Hmmm.” Ucap Jaejoong singkat. Hatinya sangat senang yeojanya itu memanggilnya seperti itu.

“Joongie oppa.” Panggilnya lagi.

“Apa?”

‘Aku sebenarnya tidak mencintaimu, tidak memiliki perasaan apapun padamu. Ah mungkin bukan tidak tapi belum. Apa kau akan marah jika aku berkata seperti itu?’

“Kenapa mencintaiku? Apa yang joongie lihat dari yeoja sepertiku?” Tanya Hee Young.

“Jadi ini alasan kenapa kau lemas tadi?” Tanya Jaejoong sebelum menjawab. Hee Young mengangguk pelan. Ia berbohong.

“Aish pabo! Aku tidak tahu tapi yang jelas di sini terasa berbeda.” Ucap Jaejoong lalu meraih tangan Hee Young dan meletakkannya di dada kirinya. Hati Hee Young kembali merasa sakit dan bersalah.

“Mian kalau aku selalu bersikap kasar, galak, ketus atau pun selalu membentakmu. Dan mungkin sikapku itu masih akan berlanjut. Sulit bagiku bersikap romantis ataupun lembut pada seorang yeoja walaupun yeoja itu orang yang sangat kucintai. Tapi aku akan berusaha berubah di depanmu.” Ucap Jaejoong.

“Gumawo karena kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Kau mencintaiku. Hari ini kau membuatku sangat senang dan bahagia.” Ucapnya lagi.

“Aish perkataanku pasti sangat aneh. Aku tidak terbiasa mengatakan hal itu.” Ucapnya malu. Hee Young menangis dan memeluk namjanya itu erat. Jaejoong kaget dan mengira kalau Hee Young menangis karena ucapannya yang tidak romantis dan sangat aneh.

“Mi mianhae Young-a. A aku nanti akan berusaha lebih baik. Ja jangan menangis, aku minta maaf.” Ucap Jaejoong. Hee Young menggelengkan kepalanya dan memeluk erat namja itu. Ia membenamkan wajahnya di dada Jaejoong. Jaejoong hanya diam dan mengelus rambut yeojanya itu pelan.

“Jangan berubah. Jadilah diri oppa sendiri agar oppa lebih nyaman. Ne, joongie-a?” Pinta Hee Young.

“Hmm.” Jawab Jaejoong. Lama keduanya terdiam.

“Joongie.” Panggil Hee Young.

“Apa?”

‘Aku akan belajar mencintaimu.’

“Saranghae.”

‘Jika aku berhasil mencintaimu satu kata itu nanti akan kuucapkan dengan sangat tulus dan penuh senyum kebahagiaan.’

“Nado.” Balas Jaejoong.

“Ayo pulang sudah malam.” Hee Young mengangguk lalu melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Ia berusaha tersenyum pada namja di depannya.

Jaejoong mengantar Hee Young sampai di depan rumah yeoja itu dan saat yeojanya sudah masuk barulah ia masuk ke dalam mobil dan pulang. Ia merasa ada yang aneh pada Hee Young saat berada di taman tadi.

 

***

 

Hari ini Yunho datang ke sekolah lebih cepat, bahkan ia datang sendirian. Biasanya ia akan datang bersama Yunhyun di antar oleh supir pribadi mereka tapi hari ini entah mengapa Yunho lebih memilih berangkat seorang diri dengan naik bis yang sebelumnya belum pernah ia naiki. Ia menatap keluar jendela sambil terus menghela nafas.

Sudah sebulan Yunho bekerja di café dan berusaha mendekati yeoja bernama Di Kha tapi belum berhasil. Ia pun sampai sekarang masih tidak mengerti mengapa ia ingin berada di dekat yeoja itu.

Yunho mengacak-acak rambutnya kesal. Ia menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya. Seperti biasa saat ia memejamkan mata bayangan yang ia lihat adalah bayangan yeoja itu. bayangan Kim Di Kha. Ia tersenyum kecil saat bayangan yeoja itu tengah tersenyum terlintas di benaknya.

“Ada apa denganku? Kenapa seperti ini?” Gumamnya pelan. Tak lama Yunho tersentak karena teriakan Jaejoong yang memanggil namanya. Ia mendongakan kepalanya dan menatap pintu masuk, sedetik kemudian namja itu masuk dengan pakaian yang sangat basah dan penuh lumut. Yunho mengerutkan dahinya melihat temannya seperti itu.

“Kau kenapa?” Tanya Yunho. Jaejoong menghampirinya dengan wajah kesal.

BRAKK

Jaejoong memukul meja dengan sangat keras di depan Yunho. Yunho membelalakan matanya kaget dan tak mengerti.

“Ada apa denganmu, Jaejoong-a? kenapa marah-marah?”

“Kenapa? Aish kau. Jika bukan teman sudah kuhabisi kau. Bisakah kau berhenti memerintah para siswa-siswi di sini untuk menjahili Hee Young? Dan mulai detik ini jika kau terus menjahilinya aku tidak segan-segan untuk menghabisi para suruhanmu itu.” Ucap Jaejoong kesal.

“Apa kau tega melihatnya belajar dengan pakaian seperti itu. lihatlah sendiri kondisinya sekarang.”

“HEE YOUNG MASUK!” Teriak Jaejoong. Hee Young pun perlahan masuk dengan kepala tertunduk.

“Kenapa kau melindunginya?” Tanya Yunho.

“Karena dia yeojachinguku.” Jawab Jaejoong tegas. Yunho membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Jadi bisakah kau berhenti menjahilinya?” Yunho menghela nafas mendengar ucapan Jaejoong.

“Arra. Akan kuhentikan. Chukae. Mianhae Hee Young-a selama ini aku sudah keterlaluan.” Ucap Yunho dengan suara lemas. Jaejoong mengerutkan dahinya melihat Yunho tidak seperti biasanya.

“Kau kenapa? Lemas sekali? Ada masalah?” Tanya Jaejoong dengan suara tak seemosi tadi.

“Aku bingung.” Jawab Yunho jujur. Jaejoong semakin mengerutkan dahinya mendengar jawaban temannya itu. Ia melirik Hee Young yang tengah membersihkan diri dengan handuk kecil lalu mengambil handuk lain di dalam tas dan di berikan padanya. Ia tersenyum dan mengambilnya.

“Apa yang kau bingungkan?” Tanya Jaejong sambil membersihkan diri.

“Aku bingung kenapa aku ingin sekali dekat dengan yeoja itu sejak bertemu tak sengaja di toko buku, padahal aku belum kenal terlalu dekat dengannya. Sampai-sampai aku rela bekerja paruh waktu di tempat yang sama dengan yeoja itu hanya agar aku tahu jawaban dari pertanyaanku itu. Dan aku sampai berbohong mengenai statusku yang merupakan orang dari kalangan berada padanya. Ia benci dengan orang kaya.” Ucap Yunho lemas. Jaejoong menatap Yunho datar dan menggelengkan kepalanya.

‘Kau itu kenapa bodoh sekali dalam hal percintaan seperti ini? Kau sudah jelas sedang jatuh cinta tapi masih juga bingung. Tak heran kau sulit mendapatkan yeojachingu.’ Batin Jaejoong.

“Sunbae sedang jatuh cinta?” Tanya Hee Young reflek. Yunho menatap yeoja itu dengan wajah bingung.

“Jatuh cinta? Aku tidak tahu.” Jaejoong ingin sekali membongkar isi otak Yunho setelah mendengar ucapan namja itu.

“Kurasa iya, sunbae. Kenapa sunbae tidak jujur pada yeoja itu tentang status dan perasaan yang ada di hati sunbae padanya? Mungkin dengan begitu kebingungan sunbae akan terjawab. Berbohong pada orang yang kita cintai maupun pada orang mencintai kita itu tidak baik, sunbae. Nanti pasti kedua belah pihak akan tersakiti.” Ucap Hee Young.

Hee Young tersentak dengan ucapannya sendiri. Ia reflek menatap Jaejoong dengan sendu dan berusaha tersenyum tipis. Hatinya kembali merasa bersalah dan sangat sakit.

‘Harusnya kata-kata itu untuk diriku sendiri. Bisa-bisanya kau menasehati orang lain tanpa berkaca pada diri sendiri Jin Hee Young.’ Batin Hee Young.

“Gumawo atas sarannya, Hee Young-a.” Ucap Yunho. Hee Young tersentak tapi sedetik kemudian ia tersenyum dan mengangguk.

“Aku permisi dulu sunbae. Oppa aku permisi.” Ucap Hee Young lalu pergi. Jaejoong yang menyadari perubahan pada Hee Young langsung mengejarnya.

Sementara itu Yunho kembali melamun sambil menatap keluar jendela. Ia memikirkan ucapan Hee Young. Tak lama ia mengambil ponselnya dan mengirimi Di Kha sebuah pesan. Setelah itu ia kembali menatap keluar jendela.

“Apa harus melakukan itu ya?” Gumamnya pelan. Tak lama saudaranya dan teman-temannya yang lain datang dan berhamburan menghampirinya. Yunhyun duduk di sampingnya dan menepuk pundaknya pelan. Yunho menoleh dan menghela nafas.

“Kau kenapa? Ada masalah? Kucari tadi pagi kau tidak ada kata pembantu di rumah kau berangkat pagi-pagi. Ini seperti bukan saudaraku Yunho yang biasanya.” Ucap Yunhyun sambil tersenyum. Yunho menatap saudaranya itu lama.

“Nanti saja kuceritakan di rumah, tidak di sini.” Ucap Yunho. Yunhyun tersenyum dan mengangguk.

“Hei, kau kenapa? Lemas sekali.” Tanya Yuchun. Yunho menggelengkan kepalanya lemas.

Selama pelajaran Yunho terlihat sangat lemas dan tak bersemangat membuat saudara dan teman-temannya khawatir. Saat pulang sekolah pun Yunho tanpa berkata apa-apa langsung pulang dengan Yunhyun.

Sampai di rumah Yunho langsung masuk ke dalam kamarnya dan berbaring di ranjang miliknya. Ia mendesah frustasi. Sebuah ketukan pintu ia abaikan.

“Yunho, boleh aku masuk.” Ucap Yunhyun meminta ijin.

“Hmm.” Jawab Yunho asal. Yunhyun pun masuk setelah mendengar jawaban dari Yunho. Ia melihat Yunho berbaring dengan wajah frustasi.

“Kau kenapa? Sikapmu seharian di sekolah membuatku cemas. Kau ada masalah?” Tanya Yunhyun khawatir.

“Mian.” Ucap Yunho merasa bersalah membuat saudaranya khawatir.

“Aku hanya sedang bingung.” Yunho mulai bercerita pada saudaranya itu, ia menceritakan semuanya.

“Pagi tadi aku bercerita pada Jaejoong dan Hee Young, yeoja itu malah mengatakan kalau aku sepertinya sedang jatuh cinta.” Ucap Yunho.

“Apa yang di katakan yeoja itu memang benar, kau sedang jatuh cinta. Kenapa kau bingung? Seharusnya kau bahagia, orang yang sedang jatuh cinta itu biasanya hatinya berseri-seri dan bahagia.” Ucap Yunhyun membenarkan apa yang di katakan Hee Young pada saudaranya.

“Tapi aku tidak yakin kalau aku jatuh cinta padanya.”

“Kalau begitu kau katakan saja perasaan yang ada di hatimu padanya. Mungkin dengan begitu kau akan tahu apa arti kebingunganmu itu.” saran Yunhyun. Yunho menghela nafas lagi saat mendengar saran Yunhyun.

“Saranmu sama dengan saran yang di berikan Hee Young. Tapi aku akan memikirkannya. Gumawo, hyun-a.” Yunhyun mengangguk dan tersenyum. Ia lega sekarang saat mendengar dari Yunho tentang masalah yang di hadapi namja itu. Seharian ia benar-benar khawatir pada saudaranya itu.

“Kalau begitu aku ke kamar dulu. Kau istirahatlah, jangan terus memikirkan hal itu.” Yunho mengangguk mendengar ucapan dari Yunhyun.

Yunho menatap ponselnya saat mendengar suara pesan masuk. Ia membuka pesan itu yang ternyata dari Di Kha. Yeoja itu menanyakan keberadaannya yang tidak masuk kerja. Yunho tersenyum kecil setelah membaca pesan itu.

To : Di Kha

Aku tidak masuk hari ini, aku sakit. Kau tidak usah merindukanku.

Yunho menaruh kembali ponselnya dan berbaring di ranjangnya.

Di Kha berdecak kesal saat menerima balasan dari Yunho. Dengan cepat ia kembali memasukan ponselnya ke dalam saku lalu kembali bekerja.

Selama bekerja Di Kha sangat serius tapi ia merasakan ada yang kurang saat ia tengah bekerja. Dan ia sadari hal itu karena Yunho tidak ada. Selama ini namja itu terus mengganggunya setiap hari hingga membuatnya kesal.

Selesai bekerja Di Kha pulang seorang diri. Ia reflek menoleh kebelakang dan melihat tidak ada siapa-siapa. Ia menghela nafas pelan.

“Kenapa aku jadi seperti ini? Padahal kalau ada pasti aku sangat kesal karena mengangguku setiap hari. Haaah namja menyebalkan.” Gumamnya pelan. Tak lama ia memegang dadanya sambil berjalan, ia menundukkan kepalanya. Di Kha terus bergumam kecil.

“Kalau kau berjalan seperti itu nanti kau menabrak orang Kim Di Kha.” Mendengar suara itu sontak membuat Di Kha mendongakan kepalanya dan menatap ke sampingnya, dimana suara itu berasal.

“Yunho.” Ucapnya.

“Ne? Ada apa?” Tanya Yunho. Di Kha memegang dadanya yang berdetak kencang.

‘Sejak kapan?’ Batinnya.

“Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau bilang sedang sakit?” Tanya Di Kha sambil mengatur detak jantungnya.

“Aku mengkhawatirkanmu. Aku takut kau di ganggu oleh orang saat pulang.” Jawab Yunho santai.

“Lalu penyakitmu? Kau sakit apa? Kulihat sepertinya kau sehat.” Di Kha menatap Yunho dari atas hingga kebawah.

“Aku memang sakit tapi sakit hati.” Jawab Yunho sambil tersenyum lebar. Mendengar itu sontak Di Kha menghela nafas dan pergi meninggalkan Yunho. Yunho mengejarnya dan berjalan sejajar dengannya.

“Kenapa kau masih bersikap seperti ini padaku? Padahal aku hanya ingin berteman dan …” Ucapan Yunho terhenti dan memikirkan perkataan saudaranya dan Hee Young tadi.

“Dan apa?” Tanya Di Kha.

“Ah tidak lupakan saja. Ayo cepat ini sudah sangat malam untuk seorang yeoja berada di luar rumah.” Yunho dengan ce[at mengalihkan pembicaraan dan bergegas mengajak yeoja itu pulang.

Sampai di depan rumah Di Kha, Yunho melambaikan tangannya saat yeoja itu berbalik sebelum membuka pintu. Ia tersenyum lebar lalu senyumannya hilang saat yeoja itu masuk. Ia menghela nafas pelan lalu pulang ke rumahnya.

“Dasar, bodoh.” Gumam Yunhyun yang sejak tadi mengikuti Yunho. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Yunho yang masih tidak menyatakan perasannya pada yeoja itu.

“Apa sebaiknya aku berkata sesuai saran Yunhyun dan Hee Young ya?” Ucap Yunho sambil berjalan pulang.

TBC

21 thoughts on “Twins part 3

  1. yaoloh si chaejin polos n imut bgt ya /plak
    mna si min sweet gymna gtu, wlpun tnpa sadar ngelakuinnya (*> U <*)
    kyanya si chaejin jga ada rasa deh mah si min! yakin bgt deh aqu!
    next hrus ada kmjuan ya dng hbungan min n chaejin ya onnie heheh

    si jj ngakuin dya suka ma heeyoung bhkan ampe popo heeyoung sgala!! yaoloh bang mnding kau popo aqu ja /plak hwaakakak tpi ksian jga si jj, heeyoung ga da rsa ma dya tpi wlau kya gtu aqu yakin heeyoung bkalan cinta bgt deh ma jj hihihi

    abang uno kau polos mnjurus pabo deh, msa udh dijlasin msih kga nyadar klo drimu tuh jtuh kdlh sbuah rasa yg dinamakan cinta *ecieee abang
    yg diskitar ja udh sadar drimu jtuh cinta mlah kau sndri ga sadar bang ckckck

    next part cpet publish ya onnie!! jgn lupa my boy jga publish ya onni!!

  2. onnie, aqu sebel bca bgian kaka ma min!! ukhh rasanya tuh gymana gtu, aqu jdi sebel sndiri😦
    aqu pling suka adegannya jj oppa sama heeyoung, manis bgt apalagi pas jj oppa nyium heeyoung aqu deg2an loh onnieXD
    akhirnya heeyong jadian juga sama jj oppa,tapi kasian jj oppa heeyoung cuma nganggep jj oppa sunbaenya aja😦
    semoga heeyoung cepet suka ma jj oppa ya onnie
    aqu sebel dengan kebodohan yun oppa,abis lamban bgt sadar klo dia tuh sbnrnya suka ma dhika onnie!org disekitarnya aja pada sadar, eh yun oppa malah enggak sadar ckckckck #pukpuk yun oppa

    ditunggu lanjutannya onnie, sama ff my boy kesukaan aqu ya onnie😀 jangan lama2 ya publis ffnya onnie, skian komen dari minhae #lambay2 tgn

  3. Yunho..Yunho, ia tu ga peka atau apa? Masa ga tau rasanya jatuh cinta sih? Mudah2an yunho cpt2 nyatain perasaanny k di kha…cwo kan hrs berani ambil resiko x aja ntar di kha jg suka ma ia.

    Jaejoong jg aneh, masih aja galak n kasar ma hee young pdhl kan ia udh jd yeojacingunya v emng sih lebih nyaman jd diri sndri🙂

    Changmin ma Chae Jin so sweet, mudah2an mereka jg bisa jadian. Oh ya eon FF ini kan castnya bnyk nih…main castny jg 3 v knp cweny cma tiga pdhl cwoknya kan 10, ga da rencana ngasi pairing buat yg laenkah?

  4. akhirnya dipost jga😀 udh nunggu lama nih nungguin ff ini di post:/
    wooww jae-young pacaran!! kirain hee young jga cinta sma jaejoong. kenapa ga cinta aja sma jaejoong. aku aja bisa cinta sma jaejoong (?) wkwk *abaikan*
    kedepannya gimana tu hubungan mereka. ga tega sma jaejoong,, kyanya cinta bgt sma hee young..
    author,, bikin hee young jatuh cinta dong sma jaejoong. klo ga ntar jaejoong aku rebut haaha /dibacok

    aku masih penasaran knapa jaejoong sma hee young kya bisa telepatian gitu.. ada hubungan lain kah mereka ??

    changmin kalah cepet sma jaejoong. malah jaejoong duluan yg udh pacaran. ayoo mimin pacaran jga sma chaejin😀

    disini kisah cintanya yg udh trungkap baru yunjaemin. tinggal junsu sma yoochun n kembaran2 mereka yg belum..

    overall seru thor^^
    lanjut ya thor.. ditunggu^^
    jangan lama2 ya thor🙂

  5. kasian yunho y mpe depresi gt hhahahhaa…..
    knp ngak jujur ja susah bgt sih,,,,, n kejar sampe dhi ka y nerima…..
    jaejoong akhir y nembak hee young juga n sikap y jaejoong udah agak berubah swdikit ngilangin bentakkan y tp yg bikim kaget pengakuan hee yeoung y dia ngak cinta ma jaejoong,,,,, gmn nanti klo jaejoong tau pasti jaejoong sakit hati bgt deh pa lg dia org y ngak gampang buat ngungkapin perasaan y kyk yg dia bilang tu,,,, berharap hee young bener2 cinta n jgn sampe jaejoong tau……
    chae jin polos bgt sih,,,, dia takut ma changmin ahahahhahha…. q ketawa pas hee young nanya siapa yg ditakutin,,,, tinggal changmin chaejin n yunho dhika yg jadian……
    Lanjut…..

  6. putrimays berkata:

    hee young harus musti bisa mencintai jaejoong.. g mau tau!!
    yunho g peka banget dih. udah tau lagi jatuh cinta ama dika. dikanya juga ada perasaankan sama yunho -,-

    gerem aku bacanya tapi aku tetep nunggu lanjutannya.. hahaha

    HWAITING EONNI!!

  7. Eunchan She Peef berkata:

    semoga heeyoung cepet suka sama jj~
    ngga nyangka klw heeyoung cuma nganggap jj itu sunbae nya~ ==”
    changmin dan chaejin… Cepatlah kalian pacaran~
    chaejin nya polos bgt~!😀
    lucu~

    lanjutkan author~^^
    aku tunggu kelanjutan nya~ :3

  8. hahaha😄
    diantara couple couple di ff ini,yang paling ku suka itu jeje sama hee young. abisnya lucu gila! masa jeje nembak yeoja geh kayak introgasi di kantor polisi,ckckck!
    eonnie,part 5 nya sudah selesai kah?

  9. Midori-chan berkata:

    ahhhh so sweet akhir’a hee young jdian ma jaejoongie
    jeje ga bisa lembut deh😄
    smoga hee young cpet suka ma jeje, ksian jeje klo hee young ga suka

  10. Rajaejoongie berkata:

    aaaaa…jaejoong gk romantis mengtakn cinta nya sama hee young,ha ha..tpi lucu juga liat kelakuan jaejoong,apa bila dkt dngn hae young,semoga jaejoong bisa membuat hee young jatuh cinta dngan nya,!!
    yunho fighting..!!

  11. yeonhwa berkata:

    agak sebel sih si jaejoong bentak hee young terus , tapi lucu juga😀 , semoga aja hee young ga ngomong tentang perasaan sebenernya, kasihan jaejoong😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s