Twins Part 2


 Title: TWINS

Cast :

–          Kim JaeJoong

–          Kim JaeJoon (JaeJoong Twin)

–          Kim JunSu

–          Kim JunHo (JunSu twin)

–          Park YooChun

–          Park YooHwan (Yoochun twin)

–          Jung YunHo

–          Jung YunHyun (Yunho twin)

–          Shim ChangMin

–          Shim ChangSoo (Changmin twin)

–          Jin Hee Young

–          Kim Chae Jin

–          Kim Di Kha

 

Rating: PG13-NC17 / STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri 

DON’T LIKE DON’T READ AND DON’T BASH MY FF!!!

A/N : karna desakan dari Chae jin akhirnya author mutusin untuk publish ff ini sebelom komen nyampe 15. jujur author ga pede ma ini ff. jd kalo ff ini tambah ngaco n ga nyambung author bener2 minta maaf. ff ini ga diedit sebelomnya so klo ada yg salah2 harap di maklum.

Saat Jaejoong sedang santai melukis tiba-tiba ia mendengar suara yang cukup membuatnya terganggu. Ia berdiri dan mencari asal suara itu. Jaejoong melihat seorang tengah berteriak kesal, orang itu berada di taman sekolah yang sepi. Jaejoong terus menatap orang itu dari atap sekolah.

 

Happy Reading

Chapter 2

 

AUTHOR POV

“Menyebalkan! Kenapa mereka hari ini terus-terusan mengerjaiku? Tidak cukupkah dengan mengelem kursiku hingga aku terpaksa merobek rokku sendiri dan membuatku terjatuh di kantin?” Ucap Hee Young kesal. Ia menatap sepatu sekolahnya yang sudah rusak dan menatap kakinya yang kesakitan. Setelah sepatunya di rusak Hee Young terpaksa jalan dengan telanjang kaki

“Kenapa harus sepatuku? Apa yang harus kukatakan pada orang di rumah nanti?” Hee Young menundukkan kepalanya. Ia menahan tangisnya dan memikirkan alasan yang akan ia katakan pada orang di rumahnya jika nanti bertanya.

Hee Young sama sekali tak sadar kalau sejak tadi Jaejoong mengawasinya dari atap sekolah. Jaejoong mengawasi Hee Young sambil melukis. Jaejoong berhenti melukis saat melihat yeoja itu berdiri dan pergi dari taman. Ia terus menatap yeoja itu hingga tak terlihat lagi lalu kembali melukis.

Hee Young kembali ke kelasnya tanpa memakai sepatu. Selama pelajaran berlangsung Hee Young berusaha bersikap biasa saja dan fokus pada pelajaran yang di berikan songsaengnim-nya.

Saat pulang sekolah Hee Young berjalan keluar gedung sekolah. Saat tengah berjalan seorang diri tiba-tiba dari belakang ada yang menabraknya lalu menumpahkan minuman padanya. Orang itu mengatakan tidak sengaja lalu pergi tanpa meminta maaf padanya. Hal itu tak terjadi sekali, setelah orang itu pergi, anak-anak lain mulai melakukan hal yang sama hingga kini Hee Young basah kuyup. Hee Young menghela nafas berat lalu kembali berjalan.

“Kenapa hariku seperti ini?” Gumam Hee Young sambil berjalan.

Sampai di rumah Hee Young langsung masuk ke kamarnya dan mengobati kakinya yang sakit karena pulang tanpa menggunakan sepatu. Ia tak peduli dengan teriakan Ji Young yang memanggilnya tadi.

Selesai mengobati luka di kakinya Hee Young pergi ke kamar mandi lalu setelah itu berbaring di atas ranjangnya sambil menatap langit-langit kamar.

“Apakah besok akan seperti hari ini juga ya? Aku harus mempersiapkan diriku dan menyiapkan pakaian dan sepatu ganti. Siapa tau mereka akan melakukan hal yang lebih gila lagi besok. Aku tak boleh kalah dari mereka dan tidak boleh cengeng.” Ucap Hee Young menyemangati dirinya sendiri.

“Tapi ngomong-ngomong kenapa mereka menjahiliku ya? Apa salahku?” Gumam Hee Young. Tak lama ia merentangkan otot lengannya, ia merasa tubuhnya sangat lelah karena seharian ini ia di jahili oleh murid-murid sekolah.

 

***

 

Yunho tertawa senang karena melihat Hee Young masuk ke dalam perangkap yang ia buat. Perangkap ini ia buat dengan saudaranya Yunhyun, Yuchun dan Jaejoon. Ini sudah seminggu yeoja itu mereka jahili dan tak sedikit pun mereka merasa kasihan pada yeoja itu.

Diantara mereka semua yang tidak mau menjahili Hee Young hanyalah Changmin dan Junsu. Changmin dan Junsu meminta saudara kembar mereka, Changsoo dan Junho untuk tidak menjahili Hee Young. Keduanya tidak mau menjahili yeoja itu karena mereka merasa kalau yeoja itu merupakan yeoja yang sangat baik.

Yunho dan yang lainnya berhenti tertawa dan menatap Changmin dan Junsu juga saudara kembar mereka yang terlihat santai. Yunho berdecak kesal.

“Ya! Kalian ini kenapa santai seperti itu? Diantara kita hanya kalian yang tidak bersemangat menjahili yeoja itu. Jangan katakan lagi kalau alasannya karena yeoja itu baik, aku sudah bosan dengan alasan itu.” Ucap Yunho kesal.

“Tapi dia memang yeoja yang baik.” Ucap Junsu.

“Jangan katakan hal itu lagi!” Ucap Yunho.

“Changmin katakan sesuatu. Jangan bilang kalau kau baik dengan yeoja itu hanya karena yeoja itu memberikan roti dan minumannya padamu di kantin waktu itu.” Ucap Yunho kesal. Changmin menatap Yunho dan memasukkan ponselnya yang sejak tadi ia mainkan. Ia berjalan mendekati Yunho.

“Ne itu memang salah satu alasan lainnya. Tapi kenapa kau kesal begitu hanya karena kami tidak ikut menjahili Hee Young? Memangnya apa yang mau kau lakukan kalau kami tidak mau menjahili yeoja itu? Jangan pernah memaksa orang lain untuk mengikuti kemauanmu.” Ucap Changmin sambil menatap tajam Yunho. Ia sudah bosan dengan ocehan namja itu yang memaksanya untuk berbuat jahil.

“Apa kau tidak malu dengan umurmu? Kita bukan lagi anak kecil. Lagi pula alasanmu menjahili Hee Young sangat tidak masuk akal dan sangat kekanak-kanakan.” Ucap Changmin sambil terus menatap Yunho tajam.

“KAU!” Teriak Yunho kesal.

Changmin tak mempedulikan teriakan Yunho, ia pergi meninggalkan semua temannya yang sudah ia kenal sejak SMP itu. Changsoo mengikutinya.

“Dasar menyebalkan.” Ucap Changmin.

Junsu menatap Changmin dan semua temannya bergantian lalu menatap Junho. Ia menghela nafas lalu berlari menyusul Changmin dan Changsoo. Junsu merasa kalau apa yang di katakan Changmin tadi pada Yunho ada benarnya.

Changmin menengok kebelakang dan melihat Junsu dan Junho mengikutinya. Ia memutuskan untuk pergi ke taman, ia ingin menenangkan hatinya yang sedang emosi. Changmin duduk di kursi taman sekolah sambil berteriak mengeluarkan kekesalannya.

Ia memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang. Changmin sadari kalau ini pertama kalinya ia mengatakan hal itu pada Yunho. Sudah lama sebenarnya ia tak suka dengan kejahilan Yunho itu tapi baru kali ini ia mengungkapkannya.

“Kenapa dia kekanak-kanakan sekali? Kejahilannya itu sudah keterlaluan menurutku. Jujur aku kasihan melihat yeoja itu di jahili sampai seperti itu apa lagi saat melihat yeoja itu tak melawan ataupun menangis. Wajah yeoja itu hanya terlihat pasrah dan sesekali kulihat yeoja itu berusaha untuk tidak di jahili oleh anak-anak lain dengan bersembunyi.” Ucap Changmin.

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa akan terus bermusuhan dengan Yunho dan yang lainnya?” Tanya Junsu.

“Tidak tahu. Yang jelas aku tidak mau ikut campur lagi masalah menjahili yeoja itu.” Jawab Changmin.

“Bagaimana kalau kita membantu yeoja itu? kau bilang kau kasihan dengan yeoja itu kan?” Usul Changsoo.

“Ide bagus, Changsoo-a.” Junho setuju dengan ide yang di berikan Changsoo.

“Tapi apa dia tidak curiga ya kita membantunya tiba-tiba?” Ucap Junsu. Changsoo dan Junho mengangguk setuju dengan ucapan Junsu. Ketiganya berpikir jalan lain untuk membantu Hee Young.

“Bantu saja diam-diam. Selesai kan?” Changmin memberi jalan keluar. Mereka mengangguk setuju sambil tersenyum.

Tak lama mereka mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah taman. Hal itu membuat ketiganya terdiam dan melihat ke arah di mana suara langkah kaki itu berasal.

“Ah sunbaenim. Maaf, aku tak tahu kalau sunbae sedang ada di sini.  Aku permisi.” Changmin dan yang lainnya sedikit menghela nafas saat tahu kalau orang itu ternyata Hee Young. Junsu memanggil Hee Young saat melihat yeoja itu terlihat akan pergi.

“Hee Young-a, kemari.” Panggil Junsu. Hee Young pun berbalik dan mengangguk pelan lalu menghampiri ke empat sunbaenimnya itu. Ia menunduk takut kalau keempat sunbenimnya itu akan memarahinya atau menjahilinya.

“Kenapa dengan pakaianmu?” Tanya Junho. Ia melihat yeoja itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Ta tadi ada yang mendorongku dan menyiramku dengan lumpur.” Jawab Hee Young.

“Lalu kau bersihkan dan tidak bisa hilang seperti ini?” Tebak Changsoo.

“Ne.” Jawab Hee Young. Changmin menatap Junsu, Junho dan Changsoo bergantian lalu mereka menghela nafas pelan.

Mereka tahu siapa dalang dari semua itu. Ya siapa lagi kalau bukan teman mereka Yunho. Namja itu menyuruh beberapa murid sekolah ini untuk melakukan kejahilan itu pada Hee Young. Junsu memperhatikan wajah Hee Young. Ia melihat raut wajah yeoja itu sama seperti apa yang Changmin katakan tadi.

“Duduklah di sini.” Ucap Changmin saat melihat sepertinya yeoja itu akan pergi. Di lihatnya Hee Young hanya mengangguk lalu duduk di kursi yang masih kosong. Yeoja itu duduk dengan sangat kaku sambil terus memegang bungkusan di tangannya.

“Kau sering kemari?” Tanya Junsu. Yeoja itu mengangguk pelan.

“Sepertinya kau datang ke sini untuk makan siang. Kau membawa bekal sendiri?” Ucap Changsoo.

“Ne.” Jawab Hee Young singkat. Junho melihat yeoja itu masih gugup.

“Kau tidak usah bersikap seperti itu. Kami tidak akan berbuat jahat atau menjahilimu. Makanlah makan siangmu sebelum bel masuk.” Ucap Junho dengan wajah serius.

Hee Young mendongakkan kepalanya dan menatap satu per satu sunbaenimnya itu. Ia masih ragu dengan ucapan yang ia dengar tadi.

“Kalau kau takut kami akan menjahilimu kami akan pergi.” Ucap Changmin santai.

“Ah anni. Mianhae sunbaenim. A aku hanya…” Ucapan Hee Young terpotong oleh perkataan Junsu.

“Kami mengerti, kau pasti tidak mudah percaya dengan semua murid yang ada di sini termasuk kami kan? Kau bisa memegang perkataan kami. Kami tidak akan menjahilimu. Nah sekarang makanlah bekalmu itu.” Junsu tersenyum ramah pada Hee Young. Yeoja itu pun mengangguk sambil tersenyum kecil. Lalu tak lama Junsu melihat yeoja itu perlahan membuka bekalnya.

“Mmm sunbaenim mau mencoba masakanku?” Tawar Hee Young sambil menyodorkan kotak bekal makan siangnya. Ia melihat sunbae yang mirip Junsu menatap bekalnya sekilas lalu kembali berkutat dengan buku yang ada di tangannya, sedangkan sunbaenim-nya yang lain masih menatap bekalnya.

“Kau membuatnya sendiri? Hebat sekali.” Ucap Junsu.

“Terlihat lezat.” Ucap Changsoo. Hee Young melihat Changmin diam saja tapi ia terkekeh saat melihat mata namja itu yang terlihat sangat ingin mencoba masakannya itu. reflek ia pun menawarkannya lagi.

“Changmin sunbae mau mencoba?” Tawarnya lagi. Changmin menatapnya dan ia mengangguk sambil tersenyum. Changmin pun langsung mencoba bekal makanan Hee Young dan ia tersenyum senang saat merasakan masakan yang sangat enak dari Hee Young itu.

Hee Young pun kembali menawarkan kepada ketiga sunbaenya yang lain. Mereka pun sama seperti Changmin yang mencoba masakannya.

“Mmm pasti tidak enak ya, sunbae? Mianhae.” Ucap Hee Young.

“Akan lebih enak kalau kau membawakan bekal itu untukku.” Ucap Changmin santai. Ia menadapatkan tatapan aneh dari Junsu, Junho dan Changsoo tapi ia hanya duduk santai. Changsoo menyikutnya.

“Jangan berkata seperti itu. memalukan.” Ucap Changsoo mengingatkan Changmin. Hee Young hanya terkekeh melihat tingkah sunbaenimnya itu.

“Baiklah sunbaenim, kalau sunbae mau besok aku akan membawakan bekal untuk sunbaenim semua. Aku akan membuat makanan yang enak.” Ucap Hee Young. Ia melihat Changmin langsung menatapnya dengan mata berbinar sama seperti waktu di kantin waktu itu. Hee Young juga melihat ketiga sunbaenimnya.

“Sepertinya jawabannya iya.” Ucap Hee Young.

“Bawa saja kalau tidak merepotkanmu.” Ucap Changsoo. Hee Young mengangguk.

“Mmm sunbaenim apa boleh aku bertanya?” Tanya Hee Young ragu.

“Apa?”

“Aku sejak tadi sebenarnya masih bingung mana yang Junsu sunbae dan mana yang Changmin sunbae. Kalau Changmin sunbae kurasa yang ini.” Hee Young menunjuk Changmin..

“Pintar. Aku memang Changmin dan ini saudaraku Changsoo.” Ucap Changmin sambil memberikan jempol atas tebakan yeoja itu. Hee Young membungkukkan badannya pada Changsoo sebagai tanda sapaan perkenalan. Lalu ia menatap ke dua sunbaenya yang lain, ia bingung mana yang Junsu dan mana yang saudaranya. Tapi ia berusaha mengenali mereka dengan mengingat sesuatu yang mungkin menjadi ciri khas mereka.

“Ah aku tahu sekarang.” Ucap Hee Young sambil tersenyum.

“Ini Junsu sunbae yang ini.” Ucap Hee Young sambil menunjuk Junsu. Sontak Junsu pun tersenyum dan mengangguk.

“Ne, aku Junsu dan ini saudaraku Junho.” Kembali Hee Young membungkukkan badannya kini pada Junho sebagai sapaan perkenalan.

“ Ngomong-ngomong bagaimana bisa kau membedakan kami? Seingatku baru kau saja yang bisa membedakan kami di sekolah ini.” Ucap Junsu penasaran. Hee Young pun tersenyum sambil menatap keempat sunbaenya.

“Aku membedakan sunbaenim dari sikap sunbaenim yang terlihat sekali berbeda satu sama lain. Walaupun kembar tapi pasti kalau mengenai sifat tidak mungkin sama.” Ucap Hee Young.

Sementara itu Jaejoong sejak tadi mendengar percakapan antara Hee Young dan keempat temannya dari atap sekolah sambil melukis. Dan seperti biasa ia melukis seorang diri.

“Apa kami orang pertama yang kau bisa bedakan di sekolah ini?” Tanya Junsu yang terdengar oleh Jaejoong.

“Anni. Orang pertama yang bisa kubedakan itu Jaejoong sunbae.” Jawab Hee Young membuat Jaejoong reflek menghentikan kegiatan melukisnya. Ia menjauhkan pensil dari atas buku sketsanya.

“Waaaah… lalu bagaimana caranya kau membedakannya? Apa sama seperti kami? Dengan melihat sikapnya?” Tanya Junsu antusias.

“Bukan, caraku membedakan Jaejoong sunbae berbeda.”

“Ceritakan kapan kau bisa membedakannya.” Ucap Junho. Jaejoong pun mendengar Hee Young menceritakan semuanya pada keempat temannya itu. Ia hanya diam sambil terus mendengarkan.

“Buku apa yang terjatuh?” Tanya Changmin penasaran. Sontak Jaejoong mengepalkan tangannya.

“Mmmm mianhae sepertinya hal itu tidak bisa kukatakan karena sepertinya itu sangat privasi untuk Jaejoong sunbae.” Jawab Hee Young membuat Jaejoong mengendurkan kepalan di tangannya. Jaejoong bisa mendengar helaan nafas kecewa dari keempat temannya.

“Ah baiklah tapi tolong katakan apa yang bisa membuatmu membedakan Jaejoong dan Jaejoon.” Pinta Changmin. Jaejoong yang penasaran akhirnya berdiri dari duduknya dan mengintip mereka semua. Ia bisa melihat Hee Young tersenyum sambil menatap keempat temannya itu satu per satu. Saat yeoja itu akan berbicara tiba-tiba bel masuk berbunyi membuat yeoja itu mengurungkan niatnya.

“Ra-ha-sia. Itu jawabanku sunbae.” Ucap yeoja itu. Jaejoong melihat keempat temannya menghela nafas kecewa dan tanpa sadar ia pun menghela nafas kecewa. Jaejoong pun kembali ke tempatnya dan mengambil buku sketsa dan pensilnya, ia tak menyadari jika tadi saat ia berjalan meninggalkan percakapan keempat temannya dengan yeoja itu, Hee Young melihat bayangannya. Ia membuka pintu dan berjalan menuju kelasnya.

Saat tengah berjalan menuju kelas ia melihat yeoja itu berada tak jauh di depannya. Yeoja itu tengah mondar mandir seperti orang kebingungan. Jaejoong tak mempedulikan yeoja itu dan terus berjalan menuju kelasnya.

“Haduh aku harus kemana ya? Apa di ruangan ini? Aish Hee Young pabo masih saja bingung dengan hal seperti ini.” Ucap Hee Young saat Jaejoong melewatinya. Jaejoong menghela nafas sambil memejamkan mata. Lalu tak lama ia menghentikan langkahnya dan berbalik sambil menatap yeoja itu.

‘Kenapa kau selalu berkeliaran di sekitarku setiap hari sih?’ Batin Jaejoong.

“Ya!” Teriaknya yang sontak membuat yeoja itu terkejut. Yeoja itu membungkuk sopan padanya.

“Kemari.” Perintahnya. Jaejoong melihat yeoja itu ketakutan melihatnya.

Jaejoong menatap Hee Young yang tampak sangat berantakan. Yeoja itu terus menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajahnya.

‘Ya! Katakan padaku bagaimana kau bisa membedakanku dengan Jaejoon?’  Batin Jaejoong.

“Ya! Kenapa kau mondar mandir seperti itu?” Bentaknya.

“Mi mianhae Jaejoong sunbae. Aku sedang bingung, tadi kepala sekolah menyuruhku untuk mengambil seragam baru tapi aku tak tahu harus kemana.” Jawab Hee Young. Jaejoong menghela nafasnya panjang.

“Dasar bodoh.” Ucap Jaejoong lalu pergi meninggalkan yeoja itu sendirian.

Hee Young melirik ke arah Jaejoong pergi, setelah tak melihat sunbaenya itu ia kembali mencari ruangan untuk mengambil seragam baru untuk ia pakai. Ia terus mondar mandir.

“Ya!” Hee Young tersentak kaget dengan teriakan tiba-tiba itu. ia menoleh ke sumber suara itu dan melihat Jaejoong sunbae menatapnya sambil menyuruhnya mendekat atau lebih tepatnya menyuruhnya untuk mengikuti sunbaenya itu. Ia berjalan perlahan di belakang Jaejoong sunbae.

“Ya cepat sedikit! Kau ini lamban sekali sih?” Bentak namja itu. Sontak Hee Young berlari dan berjalan satu langkah di belakang namja itu.

“A ada apa sunbae?” Tanyanya gugup. Namja itu tak menjawabnya membuat ia ketakutan. Tak lama Hee Young melihat namja itu membuka pintu dan masuk, ia tak berani ikut masuk kedalam.

“Masuk.” Perintah Jaejoong pada Hee Young. Hee Young pun dengan ragu dan takut masuk ke dalam ruangan itu. Ia menatap sekeliling ruangan itu.

“Kenapa diam saja hah? Cepat ambil seragammu dan keluar dari sini. Jangan lupa kunci pintu.” Ucap Jaejoong lalu melangkah pergi tapi langkahnya terhenti karena yeoja itu menahan tangannya. Ia menengok kebelakang dan melihat yeoja itu menatapnya dengan wajah memohon.

“Bi bisakah su sunbae tunggu sebentar di sini? A aku ta takut sendirian di ruangan seperti ini.” Pinta yeoja itu pada Jaejoong. Jaejoong melihat wajah yeoja itu ketakutan sambil menatap ke sekeliling ruangan. Ia menatap yeoja itu dan hanya diam tak menjawab.

‘Baik aku akan menunggumu tapi hanya 5 menit, arra?’ Batin Jaejoong.

“Arra. Gumawo sunbae. Tu tunggu di si sini ya. Se sebentar saja.” Ucap Hee Young lalu dengan cepat mencari seragam yang ia butuhkan dan mencari ukuran yang pas untuknya.

Jaejoong menatap yeoja itu dengan wajah bingung.

‘Apa dia bisa membaca pikiranku? Kenapa menjawab arra dan berterima kasih padaku?’ Batin Jaejoong. Tak lama ia melihat jam di tangannya, ia merasa sudah 5 menit lebih. Jaejoong pun melangkah keluar ruangan.

Hee Young yang mendengar suara langkah kaki keluar langsung menengok kebelakang dan melihat sunbaenya sudah pergi. Sontak ia pun terduduk di lantai sambil memeluk kedua kakinya, Hee Young menangis ketakutan. Ia memang mempunyai trauma jika berada di ruang sempit dan sedikit pengap seorang diri, ia akan mengalami ketakutan yang luar biasa.

“Su sunbae ku kumohon kembali a aku takut sunbae tu tunggu a aku.” Ucap Hee Young ketakutan sambil terus menangis. Tubuhnya bergetar hebat.

Jaejoong menghela nafas, sebenarnya ia ada di sebelah pintu ruangan itu. Tidak pergi ke kelasnya. Ia kembali melangkah masuk dan hendak membentak yeoja itu tapi saat melihat yeoja itu, Jaejoong mengurungkan niatnya. Ia melihat Hee Young sangat ketakutan, yeoja itu pun menangis sambil sambil bergumam kecil.

“Jae Jaejoong su sunbae ja jangan pe pergi meninggalkanku se sendirian di sini a aku takut su sunbae to tolong a aku takut.” Gumam Hee Young yang masih terdengar oleh Jaejoong. Perlahan Jaejoong pun melangkah mendekati yeoja itu dan berjongkok agar sejajar dengan Hee Young.

“Su sunbae aku ta takut ja jangan pergi ku kumohon ke kembali.” Gumam yeoja itu lagi. Hee Young tak menyadari keberadaannya. Jaejoong sedikit kasihan melihat Hee Young apa lagi melihat sorot mata yeoja itu yang terlihat jelas sangat ketakutan. Ia sangat kaget saat menyentuh lengan yeoja itu, tubuhnya bergetar hebat.

“Hei, kau kenapa? Aku di sini.” Ucap Jaejoong. Yeoja itu tak menjawab pertanyaannya. Ia melihat yeoja itu memang benar-benar tak menyadari keberadaannya.

“Su sunbae jangan tinggalkan aku a aku takut kumohon kembali kyaaaaa.” Hee Young berteriak saat mendengar suara benda terjatuh. Jaejoong melihat sebuah gulungan kertas terjatuh.

Jaejoong melihat Hee Young benar-benar rapuh, yeoja itu sangat ketakutan. Entah apa sebabnya ia pun tak mengerti. Ia memutuskan untuk menggendong yeoja itu dan membawanya ke ruang kesehatan. Di dalam gendongannya tubuh yeoja itu tetap bergetar.

Saat sampai di ruang kesehatan Jaejoong pun masuk dan membaringkan tubuh mungil itu di atas ranjang. Ia melangkah mundur saat dokter sekolah memeriksa yeoja itu.

“Biarkan dia beristirahat dulu.” Ucap dokter setelah memeriksanya.

“Boleh saya tahu ada apa dengannya?” Jaejoong pun menceritakan kronologi kejadian mengapa Hee Young menjadi seperti itu pada dokter. Ia melihat dokter mengangguk mengerti.

“Kemungkinan besar mengalami trauma.” Ucap dokter itu.

“Kau temani temanmu itu, biarkan dia istirahat dan jangan biarkan dia sendirian.” Ucap dokter itu lagi lalu pergi meninggalkan Jaejoong dengan Hee Young.

Jaejoong menghampiri yeoja itu yang masih berbaring di ranjang. Yeoja itu tidak tertidur, hanya diam menatap langit-langit.

“Hei.” Ucap Jaejoong berusaha lembut. Ia tak mau membentak yeoja itu mengingat perkataan dokter tadi yang mengatakan kalau yeoja di hadapannya ini mengalami trauma. Perlahan yeoja itu menoleh ke arahnya, menatapnya dalam diam. Tapi tak lama Hee Young menangis dengan tetap menatap Jaejoong.

Jaejoong kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan pada yeoja itu. Ia berdecak kesal karena tak mengerti harus berbuat apa.

“Kau marah padaku? Kalau begitu aku minta maaf. Aku paling benci menunggu. Lagi pula kau terlalu lamban.” Ucap Jaejoong. Di lihatnya yeoja itu menghapus air matanya lalu berusaha tersenyum.

“Seharusnya aku yang minta maaf padamu sunbae. Sepertinya aku selalu merepotkanmu.” Ucap Hee Young. Jaejoong hanya diam tak menjawab, ia berdiri saat melihat yeoja itu bangun.

“Jangan turun.” Ucap Jaejoong dengan nada memerintah. Ia paling tidak bisa bersikap lembut pada seorang yeoja. Yeoja itu menatapnya.

“Aku mau kembali ke kelas sunbae.” Ucap Hee Young dengan suara lemah. Jaejoong melihat pakaian yeoja itu dan teringat perkataan dokter.

“Dokter bilang kau harus istirahat.” Ucap Jaejoong memberitahu. Yeoja itu menggelengkan kepalanya membuat ia menghela nafas.

“Terserah kau. Ini gantilah. Kau ganti saja di sini, di sini tak ada siapa-siapa.” Ucap Jaejoong lalu berjalan menuju pintu. Hee Young mengambil seragam sekolahnya yang di berikan namja itu dan melihat ukurannya.

“Itu kuambil dari lantai. Sepertinya itu seragam yang kau ambil tadi.” Ucap Jaejoong tanpa menoleh.

Saat Jaejoong membuka pintu dan akan keluar tiba-tiba Hee Young langsung memanggil namja itu dengan suara sama seperti di ruangan tadi.

“Su sunbae j ja jangan pe pergi a aku “ Jaejoong menoleh kebelakang dan melihat wajah yeoja itu yang sama seperti di ruangan seragam tadi, ketakutan. Di tutupnya kembali pintu ruang kesehatan itu. Ia melihat ruangan itu yang tidak terlalu besar dan ia mengira luas ruang kesehatan hampir sama dengan ruang seragam tadi.

‘Sepertinya pernah mengalami sesuatu yang membuatnya trauma dengan ruangan kecil seorang diri.’ Batin Jaejoong. Ia menghampiri yeoja itu dan saat sudah dekat yeoja itu menggenggam lengannya dengan sangat kuat dan bergetar.

“Kau mau aku bagaimana?” Tanya Jaejoong datar.

“Ja jangan pe pergi aku takut.” Jawab Yeoja itu. Jaejoong menghela nafas dan berusaha sabar. Di lihatnya tirai yang terdapat di samping ranjang. Reflek ia pun menarik tirai itu hingga menutupi ranjang yang sedang di pakai Hee Young. Saat akan menutup rapat ia menatap yeoja itu.

“Ganti pakaianmu dan jangan lama-lama. Aku benci menunggu.” Ucap Jaejoong lalu menutup rapat tirai itu. Ia duduk di kursi sambil menunggu yeoja itu selesai.

“Sunbae?” Jaejoong hanya diam tak menjawab panggilan yeoja itu.

“J Jae Jaejoong sunbae?” Panggil yeoja itu dengan nada suara ketakutan.

“Hmm.” Ucap Jaejoong singkat. Ia bisa mendengar helaan nafas lega dari yeoja itu.

“Su sunbae bisakah sunbae berbicara?” Pinta yeoja itu padanya.

“Bicara apa? Jangan meminta yang tidak-tidak, aku bukan ibu ataupun baby sitermu.” Ucap Jaejoong ketus.

“Bi bicarakan tentang sunbae misalnya atau menceritakan hal menarik. Ja jangan diam saja sunbae a aku takut.” Pinta Hee Young. Ia tahu kalau permintaaannya itu berlebihan tapi ia sangat takut kalau sunbaenya itu hanya diam, ia jadi merasa kalau ia seorang diri di ruangan itu.

“Aku bukan tukang dongeng. Cepatlah. Aku bosan menunggu. Atau kutinggal.” Ancam Jaejoong.

“ANDWE! Ja jangan sunbae. A aku sebentar lagi selesai.” Ucap Hee Young sambil buru-buru memakai seragamnya. Ia tak mendengar jawaban dari namja itu.

“Sunbae?” Panggilnya sambil terus memakai seragam. Ia mendengar suara-suara mengerikan di luar sana membuat ia semakin ketakutan dan teringat lagi masa lalunya yang membuat ia trauma. Perlahan ia turun dari ranjang dan perlahan mendekati tirai.

“Sunbae?” Panggilnya lagi dengan nada takut. Perlahan air mata pun mulai mengalir membasahi pipinya.

“Sunbae kumohon jawab. Jangan menghukumku seperti ini.” Hee Young tak mendengar suara sedikit pun.

“Songsaengnim jangan hukum aku seperti ini, aku takut. Tolong keluarkan aku dari tempat ini. Di sini gelap dan sempit, songsaengnim. Aku janji tidak akan telat lagi masuk sekolah.” Ucap Hee Young mulai tak karuan. Matanya terlihat kosong, ia merasa kembali ke masa lalunya. Dimana ia di hukum oleh songsaengnimnya saat kelas 1 SD hanya karena terlambat 10 menit. Ia mendapat hukuman di kurung di ruang sempit dan gelap.

Mendengar ucapan Hee Young yang aneh Jaejoong pun berdiri dan mendekati tirai. Perlahan ia membuka tirai itu dan melihat Hee Young menangis dan menatap ke arahnya dengan tatapan kosong. Yeoja itu pun bergumam hal yang tidak ia mengerti. Ia memanggil-manggil yeoja itu tapi yeoja itu tetap tak mendengarnya. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Hee Young pun masih sama. Tak ada reaksi. Jaejoong menghela  nafas lalu memegang pipi Hee Young.

“YA! SADARLAH!” Teriak Jaejoong yang ternyata teriakan itu berhasil membuat Hee Young tersadar dan menatapnya. Jaejoong tak lagi melihat tatapan kosong yeoja itu. Ia melihat yeoja itu tersenyum senang saat melihatnya.

“Duduk.” Perintah Jaejoong sambil menunjuk ranjang. Yeoja itu mengangguk dan menuruti perintahnya. Jaejoong membuka semua tirai lalu duduk di samping ranjang.

“Kau menyusahkan.” Ucap Jaejoong sambil mengetik sebuah pesan.

To Junsu:

Cepat bawakan minuman hangat dan makanan ke ruang kesehatan dan jangan memberitahu siapapun. Kutunggu 10 menit.

“Mianhae.” Ucap Hee Young yang menyadari kalau ia selalu menyusahkan sunbaenya itu. Tangannya masih sedikit bergetar dan masih merasa takut. Ia butuh sesuatu untuk di genggam agar rasa takutnya hilang.

Jaejoong melihat yeoja itu hanya diam setelah mengatakan maaf. Ia melihat tangan yeoja itu mengepal dan wajahnya seperti kebingungan dan masih terlihat takut. Ia menghela nafas panjang.

‘Kenapa aku selalu harus berurusan denganmu sih?’ Batinnya. Lalu Jaejoong memberikan sebelah tangannya pada yeoja itu.

“Kau masih terlihat ketakutan. Kau boleh menggenggam tanganku kalau kau mau. Anggap saja ini sebagai tebusan karena tak menjawab panggilanmu tadi.” Ucap Jaejoong tanpa menatap wajah yeoja itu. Ia terus mengutak atik ponselnya dengan sebelah tangannya.

Hee Young tersenyum lalu menggenggam tangan namja itu untuk menghilangkan rasa takutnya. Ia tak menyadari kalau genggamannya itu sangat kuat dan membuat sunbaenya kesakitan.

“Ya Jin Hee Young! Kau mau membunuhku hah?” Ucap Jaejoong kesal sambil menatap yeoja itu tajam. Yeoja itu menatapnya dengan wajah polos seolah tak tahu apa-apa.

“Ne?”

“Aku kan bilang kau boleh menggenggam tanganku bukan meremasnya dengan sangat kuat.” Ucap Jaejoong yang sontak membuat yeoja itu melepaskan genggamannya dan menatap tangannya yang memerah.

“Mianhae sunbae. Aku tak sadar.” Ucap Hee Young dengan wajah bersalah pada Jaejoong.

‘Kau memang yeoja pembawa bencana.’ Batin Jaejoong sambil menahan rasa sakit di tangannya. Yeoja itu mengelus tangannya lembut dan meniupnya pelan seolah sedang mengobati tangannya.

Jaejoong menarik tangannya dengan cepat saat mendengar suara dari arah luar ruangan itu. Ia pun sedikit menjauhkan kursinya.

“Hyung, kau sakit?” Tanya Junsu saat masuk ke ruang kesehatan tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Namja imut itu menatap Jaejoong dan Hee Young. Jaejoong melihat namja itu tidak datang seorang diri tapi dengan saudaranya, Changmin dan Changsoo. Ia menghela nafas dan menatap Junsu tajam.

“Kau!” Ucap Jaejoong. Junsu hanya tersenyum tanpa dosa padanya.

“Mianhae tadi saat hyung menyuruhku mereka membacanya juga. Ah Hee Young, kau sakit? Sakit apa? Dan kenapa Jaejoong hyung yang menemanimu?” Tanya Junsu bertubi-tubi. Ia menghampiri yeoja itu.

Jaejoong mengambil bungkusan dari tangan Junsu dan mengambil minuman kaleng untuknya. Sisanya ia taruh di atas ranjang Hee Young. Yeoja itu menatapnya seolah bertanya.

‘Bodoh. Makan dan minum-minuman hangat itu agar kau merasa lebih baik. Dan hilangkan traumamu itu. Itu sangat menyusahkan.’ Batin Jaejoong sambil menatap Hee Young dan meminum minumannya.

“Ah ne.” Ucap Hee Young yang seolah menjawab perkataan di dalam hati Jaejoong. Sontak Jaejoong pun tersedak saat mendengar ucapan yeoja itu. Ia menatap Hee Young yang kini tengah membuka bungkusan itu dan mengeluarkan makanan dan minuman untuk di makan. Yeoja itu memberikan bungkusan itu pada Junsu sambil tersenyum.

“Gumawo. Ah tunggu ini boleh kuambil kan, Junsu sunbae?” Junsu mengangguk sambil tersenyum ramah. Ia tak menatap Hee Young dengan tatapan aneh seperti Changmin dan yang lainnya. Ia tak menyadari keanehan ucapan Hee Young tadi.

Changmin menepuk-nepuk pelan punggung Jaejoong agar merasa lebih baik. Sambil menepuk-nepuk ia menatap Hee Young sedikit aneh dengan ucapan yeoja itu tadi.

‘Kurasa dia benar-benar bisa membaca pikiranku. Apa sebaiknya kucoba lagi untuk memastikannya ya?’ Batin Jaejoong.

‘Ya Jin Hee Young!’ Batin Jaejoong lagi.

“Eng, ne?” Jaejoong tak percaya dengan apa yang ia lihat. Yeoja itu menoleh padanya dan menatapnya seolah bertanya ‘ada apa?’. Ia menggelengkan kepalanya pelan lalu yeoja itu kembali makan.

Changmin menatap Hee Young dan Jaejoong bergantian. Ia merasa ada yang aneh dengan Hee Young. Dan Jaejoong walaupun berusaha bersikap biasa tapi ia tahu kalau ada yang di pikirkan namja itu.

“Aku pergi, kalian jaga dia.” Ucap Jaejoong. Ia berdiri lalu melangkah pergi.

“Kau mau kemana?” Tanya Junho.

“Pulang.” Jawab Jaejoong singkat tanpa menoleh.

Jaejoong berjalan sambil berpikir keras tantang yeoja itu yang bisa membaca pikirannya. Ia penasaran bagaimana bisa Hee Young melakukan itu.

‘Sudah menyusahkan, selalu ada di sekelilingku sekarang malah bisa membaca apa yang kupikirkan. Lebih tepatnya membaca apa yang kukatakan padanya dalam hati. Sepertinya aku harus waspada pada yeoja itu.’

 

***

 

Yunho berdecak kesal karena melihat Yunhyun dan yang lainnya sibuk dengan urusannya masing-masing. Ia merasa bosan berada di dalam kelas, di kelas sangat ribut karena songsaengnim yang harusnya mengajar tidak bisa datang mengajar karena sakit. Yunho menghela nafas lalu berdiri membuat kursi yang ia duduki sedikit berbunyi akibat terdorong olehnya. Reflek Yunhyun dan yang lainnya menatapnya tapi tak ia pedulikan.

Yunho melangkahkan kaki keluar kelas, ia berjalan tak tentu arah. Ia memikirkan apa yang harus di lakukan agar rasa bosannya hilang. Saat melihat ruang olahraga yang pertama ia pikirkan adalah basket. Yunho pun melangkahkan kakinya ke ruang olahraga itu.

Yunho bermain basket seorang diri. Sesekali ia berdecak kesal saat mengingat kejadian kemarin dengan Changmin. Ia bertambah kesal saat ingat kalau Junsu dan Junho mengikuti Changmin pergi.

Akibat kejadian kemarin hubungannya dengan Changmin sedikit renggang. Ia rasakan sikap namja itu biasa saja padanya tapi ia masih tidak bisa menerima apa yang di katakan Changmin padanya kemarin.

Karena kesal Yunho melempar asal bola basket itu. Ia duduk di lantai, nafasnya terengah-engah. Yunho mengatur nafasnya dan memejamkan mata. Sekali lagi ia memikirkan kata-kata yang di ucapkan Changmin kemarin.

“Apakah benar aku kekanak-kanakkan?” Gumamnya pelan. Di liriknya bola basket yang ada di dekatnya lalu ia ambil dan kembali ia lempar asal.

“Awww.” Teriak seorang yeoja yang membuat Yunho kaget. Ia menyipitkan matanya untuk melihat yeoja itu yang berdiri agak jauh darinya.

“Jin Hee Young, kemari kau!” Perintah Yunho saat tahu kalau yeoja itu Hee Young. Di lihatnya yeoja itu menghampirinya dengan perlahan dan wajah menunduk.

“N ne sunbae? A ada apa? A apa aku telah berbuat salah?” Tanya yeoja itu dengan suara takut.

“Kau mengikutiku hah?”

“A anni a aku hanya se sedang bersembunyi sunbae. A aku tidak tahu kalau sunbae ada di sini. Kalau begitu aku akan segera pergi, permisi.” Ucap Hee Young padanya.

“Tunggu.” Cegah Yunho. Yeoja itu pun berbalik menghadapnya lagi.

“Duduk!” Hee Young pun mengikuti perintahnya. Di lihatnya yeoja itu membawa kotak yang cukup besar. Yunho kembali menghela nafas panjang. Suasana menjadi hening, Hee Young pun tak mengeluarkan kata-kata karena takut. Yunho menatap yeoja yang duduk tak jauh darinya itu.

“Apa kau pikir aku jahat dan kekanak-kanakkan?” Tanya Yunho. Ia ingin mendengar pendapat orang lain tentang apa yang di katakan Changmin kemarin.

“Heh? Maksud sunbae?” Tanya Hee Young tak mengerti.

“Jawab saja.”

“Mmmm a aku tidak tahu sunbae. Aku kan tidak mengenal sunbae lebih jauh. Tapi kalau kupikir-pikir mungkin sunbae tidaklah jahat, hanya jahil. Mmm mianhae kalau ucapanku menyinggung.” Ucap Hee Young takut, ia tak berani menatap wajah sunbaenya itu. Yunho menatap yeoja itu.

“Kau tahu siapa aku?” Tanya Yunho. Ia yakin kalau yeoja itu tak mengenal siapa dirinya karena selain sahabatnya di sekolah ini tak ada yang bisa membedakannya dan Yunhyun.

“Yunho sunbae.” Jawab Hee Young. Yunho sedikit kaget dengan jawaban yeoja itu, ia tak mengira Hee Young bisa tahu siapa dia. Ia melihat yeoja itu berdiri dan membungkuk sopan padanya.

“Mianhae sunbae tapi aku harus pergi. Permisi.” Ucap yeoja itu lalu pergi meninggalkannya seorang diri.

 

—-

 

Jaejoong duduk di atas atap sekolah seperti biasa sambil menatap kotak bekal makan siang yang tadi di berikan Hee Young sebagai tanda ucapan maaf dan terima kasih. Perlahan di bukanya kotak makan siang itu. Ia ragu apakah ia akan memakannya atau tidak.

Ia mendengar Changmin, Changsoo, Junho dan Junsu mengatakan kalau makanan itu enak. Jaejoong menghela nafas pelan.

‘Mereka di taman makan bersama tapi aku seorang diri di sini. Haaah membosankan.’ Batin Jaejoong. Ia terus menatap bekal makan siang dari yeoja itu, perlahan ia mengambil sumpit lalu memakannya sambil mendengarkan sahabatnya mengobrol dengan yeoja itu.

“Hee Young-a, kemarin kau kenapa? Maksudku di ruang kesehatan, kau menatap Jaejoong hyung lalu mengatakan ‘ah ne’ dan saat kau makan kau menoleh ke Jaejoong hyung dan mengatakan ‘eng ne?’ padahal waktu itu tak ada yang sedang mengobrol.” Tanya Changmin penasaran. Mendengar itu sontak Jaejoong tersedak, ia langsung menyambar minuman yang ada di dekatnya dan meminumnya cepat.

“Ah itu tidak apa-apa sunbae.” Jawab Hee Young.

“Benar?” Selidik changmin.

“Ne.” Jawab Hee Young cepat.

“Pe permisi sunbae, aku harus ke perpustakaan.” Hee Young berdiri dan dengan cepat meninggalkan keempat sunbaenimnya itu.

 

JAEJOONG POV

Aku melangkah menyusuri lorong sekolah sambil membawa kotak makan siang dari yeoja itu. Yeoja yang membuatku pusing karena selalu saja ada di sekitarku, dia juga yeoja yang sangat aneh yang seolah bisa membaca pikiranku. Aku sebenarnya penasaran bagaimana bisa ia membaca pikiranku. Tapi rasanya tak mungkin kalau aku bertanya padanya.

Kuhentikan langkahku saat melihat seseorang keluar dari lorong sebelah utara yang tepat ada di depanku. Aku menghela nafas pelan saat melihat orang itu ternyata Hee Young.

‘Kenapa kau selalu ada di sekitarku sih?’

Tak lama aku kembali melangkah dan saat sudah dekat kukembalikan bekal makanan itu padanya. Ia mengambil kotak itu dan menatapku lama.

“Wae?” Tanyaku datar. Ia malah tersenyum padaku.

“Mmm apa masakan buatanku enak, sunbae? Itu khusus kubuat untukmu dan tentunya berbeda dengan yang kumasakan untuk Junsu sunbae dan yang lainnya.” Ucapnya dengan nada riang. Kulihat hari ini ia tak seperti kemarin yang terlihat sangat ketakutan. Tak lama ia membuka kotak bekal itu lalu tersenyum lebar sambil menatapku.

“Pasti sunbae suka masakan buatanku ya? Kotaknya kosong, aku senang sunbae memakan semuanya.” Ucap yeoja itu.

“Aku memakannya terpaksa, masakanmu tidak enak.” Ucapku ketus lalu meninggalkannya sendirian.

“Aku akan membuatkan lagi untuk sunbae yang lebih enak besok. Mian kalau makanan yang kuberikan ini tidak sesuai dengan selera sunbae.” Ucap yeoja itu sedikit berteriak. Aku tak mempedulikannya dan terus berjalan.

Saat pulang sekolah aku berjalan di belakang sahabat-sahabatku. Kulihat mereka tengah bercanda dan tertawa. Perlahan langkah semua sahabatku terhenti, mereka menatap lurus ke depan. Kudekati mereka dan melihat murid-murid lain tengah mengerjai Hee Young. Aku menghela nafas pelan. Ada sedikit rasa kasihan melihatnya seperti ini.

‘Sepertinya ideku waktu itu sangat keterlaluan.’ Batinku.

Yunho dan yang lainnya tertawa melihat yeoja itu di jahili. Aku hanya diam. Saat merasa ada seseorang di belakangku aku menoleh kebelakang. Ternyata Changmin, Changsoo, Junsu dan Junho. Tatapan mereka terlihat kesal melihat yeoja itu di jahili. Aku mencegah Junho dan Changmin yang akan menolong yeoja itu. Changmin menatapku seolah bertanya’kenapa?’.

“Jangan sekarang, nanti kau dapat masalah darinya.” Bisikku di telinganya. Ia tahu jelas siapa yang kumaksud.

Changmin menatapku tak setuju tapi akhirnya ia mengangguk sambil menghela nafas panjang. Ia tahu kalau aku mencegahnya bukan karena aku jahat. Changmin, Changsoo, Junsu dan Junho tahu jelas bagaimana sifat asliku. Hanya mereka yang tahu sifat asliku di bandingkan sahabat-sahabatku yang lain.

Melihatnya yang tak melawan sedikitpun membuatku benar-benar merasa iba padanya. Kutatap Hee Young dengan cukup tajam dan berharap kalau ia membaca pikiranku sekarang.

‘YA! Pabo yeoja!’ Batinku sambil menatapnya. Perlahan ia menatapku, ada sedikit rasa lega saat ia menoleh padaku.

‘Pabo yeoja! Kenapa diam saja hah? Lawan mereka! Apa kau selemah itu hah?’ Batinku lagi sambil terus menatapnya. Aku sedikit kesal saat yeoja itu diam saja.

‘LAWAN!’ Batinku kesal.

Sedetik kemudian kulihat yeoja itu melawan mereka semua yang menjahilinya. Memukul mereka sekuat yang ia bisa. Aku tersenyum tipis melihat yeoja itu.

Setelah yeoja itu melawan kulihat nafasnya terengah-engah lalu mengambil tasnya dan pergi.

“Ada apa dengannya hari ini?” Tanya Yuhwan.

“Sepertinya dia sudah tidak tahan di jahili terus. Tenaganya lumayan juga.” Ucap Yuchun.

Aku kembali berjalan meninggalkan mereka. Tak lama langkahku terhenti saat mendengar Yunhyun memanggilku.

“Mau kemana hyung?” Tanyanya. Aku berbalik dan menatapnya.

“Pulang.” Jawabku lalu kembali melangkah keluar sekolah. Kuhampiri mobilku yang terparkir agak pojok.

Aku kaget saat melihat Hee Young berjalan diam-diam seperti pencuri. Ia mengendap-endap sambil melihat ke kanan dan kirinya lalu saat melihat kebelakang ia melonjak kaget karena melihatku yang tengah melihat tingkahnya yang aneh.

“Su sunbae jangan menatapku aneh seperti itu.” Ucapnya.

‘Kau itu memang aneh.’

Aku terus menatapnya dan ia buru-buru mengambil sesuatu di sudut parkiran itu lalu menunjukkannya padaku.

“A aku hanya mengambil ini sunbae. Pa pakaian ganti.” Ucapnya menjelaskan.

“Aku tak peduli.” Ucapku lalu melangkah ke mobilku. Tak lama langkahku kembali terhenti saat mendengar namaku dipanggil oleh orang yang sedang tak mau kulihat. Kepala sekolah Seung Ho. Aku berbalik dan menatap kepala sekolah dengan malas.

“Apa yang kau lakukan pada Hee Young? Kenapa dia menjadi seperti itu? Kau apakan dia?” Tanya Kepala sekolah sambil menatapku tak percaya.

“Aku tak melakukan apa-apa.” Jawabku singkat.

“Tapi buktinya Hee Young babak belur dan pakaiannya jadi seperti itu.” Kepala Sekolah menuduhku tapi dengan cepat Hee Young membelaku. Yeoja itu kini berdiri di sampingku tapi agak jauh.

“Aku seperti ini bukan karena Jaejoong sunbae.” Ucap yeoja itu cepat.

“Lalu?” Selidik kepala sekolah. Hee Young pun menjelaskan semuanya pada kepala sekolah Seung Ho.

“Kalau begitu kau Kim Jaejoon…” Kupotong ucapan kepala sekolah.

“Aku Kim Jaejoong, pak.” Ucapku pada kepala sekolah dengan wajah datar.

“Ah ne Kim Jaejoong. Kau antar Hee Young pulang ke ruamhnya sekarang. Ingat sampai rumahnya, jangan kau turunkan di jalan. Kalau tidak kau akan bapak hukum.” Ancam kepala sekolah.

“Kenapa aku harus mengantarnya?” Tanyaku sebagai tanda penolakkan.

“Karena kau diam saja tak membantu Hee Young tadi saat di bully.” Jawab kepala sekolah. lalu tak lama kepala sekolah naik mobilnya dan pergi.

“Alasan apa itu? Benar-benar tidak cocok jadi kepala sekolah.” Ucapku. Kulirik Hee Young yang kini sibuk mengambil tas sekolah dan tas kecil yang ia katakan padaku berisi pakaian gantinya. Setelah itu ia membungkuk sopan padaku dan berpamitan pergi.

“Ya!” Sontak yeoja itu menghentikan langkahnya saat aku berteriak. Ia berbalik dan menatapku. Kuhela nafasku pelan.

“Naik.” Perintahku. Ia menggelengkan kepalanya cepat. Aku menatapnya tajam.

“Kau sengaja tidak mau naik karena ingin melihatku di hukum hah? Naik.”

     “T ta tapi sunbae pakaianku kotor.” Ucap yeoja itu takut.

     “Naiklah cepat. Jangan cerewet.” Perintahku sambil menatapnya. Ia mengangguk kecil lalu berjalan menghampiriku yang kebetulan berdiri di samping mobilku.

     “Naik.” Perintahku lagi saat kulihat ia hanya diam. Aku mundur beberapa langkah lalu ia naik.

     “Dasar.” Gumamku. Saat aku akan naik tiba-tiba aku melihat Yunho dan yang lainnya menatapku tidak suka kecuali Changmin, Junsu dan saudara mereka.

     “Apa yang kau lakukan?” Tanya Jaejoon.

     “Aku mau pulang.” Jawabku singkat.

     “Kenapa kau membawa yeoja itu? Kau tidak ingat perjanjian kita?” Tanya Yunho tidak suka.

     “Aku di suruh kepala sekolah mengantarnya pulang kalau tidak aku akan di hukum. Perjanjian? Aku rasa itu bukanlah sebuah perjanjian Jung Yunho. Jangan membuatku kesal, aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun termasuk kau.” Ucapku kesal.

     “Kau tahu jelas kan kalau aku marah akan seperti apa Jung Yunho?” Kulihat Yunho hanya diam. Entah aku benar atau tidak berkata seperti itu pada sahabatku sendiri tapi aku benar-benar tak ingin berdebat sekarang ini.

     Junsu menghampiriku dengan wajah tanpa dosanya, namja itu tersenyum padaku. Aku menghela nafas, aku tahu arti senyuman itu. Aku mengangguk pelan dan menyuruhnya masuk. Junsu langsung menyuruh saudaranya Junho untuk naik. Tak lupa ia menyuruh Changmin dan Changsoo untuk ikut naik juga.

     “Dasar.” Ucapku lalu masuk ke dalam mobil. Kulirik yeoja yang duduk di sampingku, ia menundukkan kepalanya. Kunyalakan mobil dan kembali menatapnya yang masih menunduk.

     “Ya!” Ia pun menoleh.

     “Kepalamu sakit?” Tanyaku. Ia menggelengkan kepalanya cepat.

     “Bagus, kalau begitu cepat pakai sitbeltmu atau kau akan ku…”

     “Ne.” Ucapnya cepat.

     Setelah melihatnya memakai sitbelt aku pun mengemudikan mobil untuk mengantarnya pulang. Di dalam mobil cukup ramai karena Changmin dan yang lainnya asik mengobrol dan memuji Hee Young yang tadi berani melawan murid-murid sekolah seorang diri.

    “Jaejoong sunbae mmm bolehkah kuminta di turunkan di halte depan?” Tanyanya tiba-tiba padaku. Kulirik sekilas untuk menatapnya.

     “Kau mau aku di hukum hah?” Ucapku datar.

     “A anni mmm nanti aku akan mengatakan pada kepala sekolah kalau aku yang minta di turunkan. A aku tidak boleh langsung pulang ke rumah.” Ucap yeoja itu.

     “Wae? Kau memangnya mau apa?” Tanya Junsu. Aku tetap fokus menyetir.

     “Mmmm aku mau cari pekerjaan paruh waktu sunbae.” Jawab yeoja itu dengan suara malu. Kulihat yeoja itu menundukkan kepalanya, kurasa yeoja itu sangat malu sekarang.

     “Pekerjaan?” Kudengar Changmin seperti tak percaya.

     “N ne aku butuh pekerjaan paruh waktu agar aku bisa meringankan beban orang tuaku dan aku ingin membeli kado untuk hadiah ulang tahun dongsaengku bulan depan.” Jawab yeoja itu.

     “Su sunbae bisakah turunkan aku?” Pintanya lagi padaku. Kulirik ia sekilas dan menghela nafas. Tatapannya sangat memohon padaku. Kuputuskan untuk menepikan mobilku dan menatapnya.

     “Kau mau cari pekerjaan dengan pakaian seperti itu?” Tanyaku datar. Senyum di wajahnya sedikit hilang saat menyadari pakaiannya yang kotor. Tapi detik berikutnya ia kembali tersenyum dan menunjukkan tasnya padaku yang ia katakan berisi pakaian gantinya.

     “Apa kau yakin Hee Young-a?” Tanya Changsoo membuka suara. Yeoja itu mengangguk mantap.

     “Tapi pasti akan sangat melelahkan.” Ucap Junsu. Aku hanya diam mendengar ucapan mereka semua.

     “Bagaimana kalau kau coba bekerja di rumah kami? Kau jadi guru privat dongsaengku dan Junsu, namanya Kim Chae Jin. Dia SMP kelas 3 dan butuh guru privat untuk mengajarkannya beberapa pelajaran.” Usul Junho dengan wajah serius seperti biasa. Sontak Junsu, Changsoo dan Changmin menyetujuinya dan langsung menyuruhku untuk pergi ke rumah Junsu dan Junho tanpa menunggu jawaban dari Hee Young.

 

AUTHOR POV

Junsu bertanya pada Hee Young apakah yeoja itu mau mencobanya atau tidak. Cukup lama Hee Young berpikir.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Changmin. Ia merasa yeoja itu berpikir terlalu lama untuk sebuah pekerjaan yang cukup mudah dan tidak memakan waktu lama.

“A aku merasa tidak enak pada sunbaenim. Sunbaenim sangat baik padaku.” Junsu berdecak kesal saat mendengarnya.

“Aish kalau itu kau tak usah pikirkan. Lagi pula kenapa merasa tak enak? Kau kan bekerja untuk mengajarkan dongsaengku. Kurasa ide dari Junho tadi ide yang bagus.” Junsu menepuk pundak Jaejoong dan meminta agar namja itu pergi ke rumahnya.

“Gu gumawo sunbaenim.” Ucap Hee Young saat mobil mulai berjalan.

Sebelum sampai di rumah Junsu dan Junho mereka memutuskan untuk mencari tempat agar Hee Young bisa mengganti pakaiannya. Jaejoong menepikan mobilnya saat Changmin menunjuk sebuah tempat. Semuanya turun dari mobil, Hee Young dengan cepat berlari untuk mengganti pakaiannya.

Ke lima namja itu menunggu di luar mobil sambil mengobrol, mereka tak mempedulikan tatapan dari yeoja-yeoja yang menatap mereka semua dengan kagum.

“Waaaah cantik sekali.” Ucap Junsu saat melihat Hee Young selesai berganti pakaian dengan rambut di gerai. Selama ini yeoja itu ke sekolah dengan rambut di ikat. Jaejoong dan yang lainnya melihat ke arah yang Junsu lihat.

‘Rambutnya di gerai seperti itu membuat wajahnya terlihat lebih manis dan cantik.’ Batin Jaejoong. Tak lama ia menggelengkan kepalanya saat menyadari apa yang ia pikirkan tadi. Dengan cepat ia kembali bersikap biasa.

Changmin dan Junsu memuji Hee Young membuat yeoja itu malu dan kini wajah yeoja itu merah padam. Keduanya mendesah kecewa saat melihat yeoja itu mengikat rambutnya lagi.

“Cepat masuk.” Perintah Jaejoong lalu namja itu masuk ke dalam dan mulai menyalakan mobilnya. Hee Young dan yang lainnya pun menyusul masuk ke dalam.

Selama perjalanan Hee Young sangat gugup dan tak tahu akan bicara apa jika bertemu dengan orang tua Junsu dan Junho. Tak lama ia tersentak karena sunbae-nya menepuk pundaknya dan mengatakan kalau sudah sampai. Ia pun turun dengan gugup, jantungnya berdetak sangat cepat. Hee Young berjalan masuk mengikuti para sunbaenim-nya.

Hee Young duduk di sofa ruang tamu. Para sunbaenya masuk ke dalam dan meninggalkannya seorang diri.

“Ya Tuhan kenapa gugup seperti ini. Tenangkan dirimu Hee Young-ah.” Gumamnya pelan. Tak lama ia mendengar suara mendekat, ia merapikan dirinya dan membenarkan posisi duduknya. Saat melihat Junsu sunbae dan Junho sunbae datang dengan kedua orang tuanya sontak ia berdiri dan membungkukkan kepalanya sopan.

“Ini Hee Young yang tadi kuceritakan, umma-appa. Kurasa Chae Jin akan cocok kalau mempunyai guru privat yang umurnya tak berbeda jauh darinya.” Ucap Junsu.

“A annyeonghaseo Jin Hee Young imnida.” Ucap Hee Young gugup.

—–

Yunho menatap rumah Junsu dan Junho dengan penasaran. Ia kini berada di dalam mobil dengan Yunhyun, Jaejoon, Yuhwan dan Yuchun. Mereka sejak tadi mengikuti Junsu dan yang lainnya.

“Apa yang mereka lakukan membawa yeoja itu ke sini?” Ucap Yunho tanpa mengalihkan pandangannya.

Yunhyun menatap saudaranya itu lalu menghela nafas pelan. Ia tak tahu bagaimana caranya agar saudaranya itu berhenti menjahili orang. Ia tak mau kalau Yunho terus bersikap seperti sekarang ini.

“Sepertinya hanya bermain.” Ucap Yuhwan menanggapi pertanyaan Yunho.

Yunhyun menepuk pundak Yunho, namja itu menatapnya dengan tatapan seolah bertanya ‘ada apa?’. Yunhyun terus menatap namja itu yang ia yakin Yunho mengerti arti dari tatapannya.

Tak lama Yunho mengangguk lalu meminta Yuchun yang duduk di kursi pengemudi untuk pergi. Selama perjalanan Yunho terus berpikir apa yang di lakukan yeoja itu di rumah Junho dan Junsu.

Sampai di rumah Yunho langsung mandi lalu setelah itu berbaring di ranjang kamarnya. Ia menghela nafas berkali-kali. Ia menoleh ke arah pintu saat mendengar sebuah ketukan. Dilihatnya pintu kamarnya sedikit terbuka.

“Boleh aku masuk?” Tanya namja yang merupakan saudara kembarnya.

“Masuklah.” Yunho bangun dan duduk di tepi ranjang. Yunhyun duduk di dekat jendela kamarnya, lama saudaranya itu terdiam sambil menatap keluar jendela. Lalu tak lama menatapnya dalam.

“Apa kau akan terus mengerjai yeoja itu?” Tanya Yunhyun langsung pada intinya.

Yunho sedikit kaget saat mendengar pertanyaan namja itu. Jarang sekali Yunhyun bertanya seperti itu padanya.

“Memang kenapa?” Tanya Yunho tanpa menjawab. Yunhyun tersenyum karena ia tahu kalau saudaranya itu tak akan langsung menjawab pertanyaannya.

“Aku tak mau kau terus bersikap seperti ini. Ini demi kebaikanmu, Yunho-a. Aku takut kau nanti akan menyesal suatu saat nanti.” Ucap Yunhyun.

“Menyesal kenapa?”

“Entahlah, perasaanku berkata seperti itu. Di sini merasakan hal yang tidak enak. Kuharap kau memikirkannya lagi.” Yunhyun memegang dadanya lalu menatap Yunho sambil tersenyum. Ia berdiri dan menepuk bahu saudaranya itu pelan lalu keluar kamar.

Yunho menatap pintu di mana Yunhyun keluar. Ia menghela nafas berkali-kali saat kembali memikirkan perkataan Yunhyun. Ia mengacak-acak rambutnya karena kesal. Yunho berdiri lalu mengambil jaket dan kunci mobilnya. Ia berniat mencari udara segar.

Sampai di Apgujung Yunho memarkirkan mobilnya lalu berjalan seorang diri mengitari beberapa toko yang ada di sana. Tak lama ia memasuki toko buku yang sering ia datangi dan mencari-cari buku yang menarik. Saat sedang mencari buku Yunho tiba-tiba tak sengaja menabrak seorang yeoja. Beberapa buku yang di pegang yeoja itu terjatuh membuat Yunho reflek mengambil buku itu dan mengembalikannya pada yeoja itu.

“Maaf aku tidak sengaja menabrakmu tadi.” Ucap Yunho dengan wajah tidak enak. Di lihatnya yeoja itu hanya mengangguk lalu pergi meninggalkannya. Yunho tak menyadari kalau sejak tadi ia menatap terus tanpa mengalihkan pandangannya. Saat tersadar ia kembali mencari-cari buku yang menarik.

‘Sial kenapa aku tadi menatap yeoja itu terus. Memalukan.’ Batin Yunho sambil mengambil sebuah buku yang cukup tebal.

Selesai mencari buku Yunho membeli beberapa buku lalu kembali berjalan-jalan seorang diri. Ia melihat-lihat kesekelilingnya mencari hal yang menarik untuk dilihat tapi sayang tak ada satu pun yang bisa menarik perhatiannya. Yunho merogoh saku celananya saat merasakan getaran yang berasal dari ponselnya. Ia menghela nafas saat melihat ID callernya. Yunhyun. Ia mengangkatnya dengan malas.

“Ada apa?”

“Aku sedang di luar.” Jawab Yunho saat saudaranya menanyakan keberadaannya. Ia terus berjalan hingga akhirnya berhenti di sebuah café. Yunho duduk setelah mencari tempat yang kosong, ia melihat menu sambil terus mendengarkan ocehan saudaranya.

“Aku tutup dulu ya. Nanti kuhubungi lagi.” Ucapnya lalu dengan cepat menutup teleponnya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan memanggil pelayan untuk memesan. Saat pelayan datang Yunho melihat ternyata pelayan itu yeoja yang tadi tak sengaja ia tabrak di toko buku.

 

***

 

Jaejoong menatap Hee Young yang kini tengah berjalan dengan riang di depannya. Ia sedang berjalan di koridor sekolah menuju kelasnya. Jaejoong hanya menatap yeoja itu dengan ekspresi wajah datar karena tingkah yeoja itu yang ia anggap aneh. Yeoja itu tak mengetahui kalau ia ada di belakangnya tengah menatap tingkah aneh yeoja itu.

Saat yeoja itu menghentikan langkahnya entah kenapa Jaejoong pun ikut menghentikan langkahnya. Yeoja itu berbicara sendiri dan menyebutkan namanya juga beberapa temannya. Tak lama Jaejoong kembali berjalan dan melewati yeoja itu. Bisa ia rasakan kalau yeoja itu kaget saat ia melewatinya.

Hee Young memanggilnya dan Jaejoong rasakan yeoja itu semakin mendekat ke arahnya. Ia tak mempedulikan yeoja itu dan terus berjalan menuju kelasnya. Tiba-tiba tangannya di tarik hingga ia berhenti, di tatapnya yeoja itu tidak suka. Hee Young membungkuk meminta maaf.

“Ada apa?” Tanya Jaejoong tidak suka. Yeoja itu langsung memberikannya sebuah kotak. Ia menatap Hee Young dengan tanda tanya.

“Be bekal makan siang ini aku buat untuk sunbae. Sebagai rasa terima kasih karena sudah menolongku waktu itu dan mengantarku pulang kemarin. Mohon di terima.” Yeoja itu kembali membungkuk padanya.

“Kalau tak mau buatku saja.” Changmin yang baru datang menghampiri Jaejoong dan Hee Young. Ia menatap bekal itu dengan wajah senang tapi tak lama ia mendesah kecewa karena Hee Young mengamankan bekal makanan itu.

“I ini untuk Jaejoong sunbae. Kalau untuk Changmin sunbae yang ini.” Hee Young memberikan kotak bekal makanan yang memang ia buat untuk Changmin. Dengan cepat namja itu mengambilnya dengan penuh senyum dan berterima kasih pada Hee Young. Jaejoong, Junsu dan Changsoo dengan cepat menjitak Changmin karena sikapnya yang memalukan.

Hee Young hanya tersenyum, lalu tak lama ia memberikan bekal makan siang untuk Junsu, Junho, dan Changsoo. Ia mengucapkan terima kasih pada sunbaenim-nya itu karena sudah membantunya. Hee Young  pun memberikan bekal makan siang yang sejak tadi ia pegang pada Jaejoong. Ia membungkukkan badannya 90 derajat lalu berjalan ke kelasnya dengan riang.

Sementara itu Yunho menatap semua temannya sejak tadi dengan wajah datar. Ia tak tahu harus bagaimana, pikirannya kacau setelah ucapan Yunhyun padanya kemarin. Ia menoleh saat seseorang menepuk pundaknya. Dilihatnya ternyata saudaranya, Yuchun dan temannya yang lain. Yunho menghela nafas pelan lalu pergi ke kelasnya seorang diri. Ia sempat melirik Changmin dan yang lainnya saat mereka tengah bercanda.

Sampai di kelas Yunho menatap keluar jendela dan entah kenapa ia teringat kejadian kemarin saat bertemu seorang yeoja di café, yeoja yang sama yang tak sengaja ia tabrak di toko buku. Sejak bertemu dengan yeoja itu Yunho tidak bisa melepaskan bayangan yeoja itu dari pikirannya. Ia berdecak kesal.

‘Kenapa aku memikirkan yeoja itu? Bahkan namanya saja aku tidak tahu.’ Batin Yunho. Ia menatap semua temannya dan beberapa murid yang ada di kelasnya. Mereka semua menatapnya dengan aneh. Termasuk saudaranya Yunhyun.

“Berhenti menatapku seperti itu.” Ucap Yunho tidak suka.

“Kau kenapa?” Tanya Jaejoon. Dengan cepat Yunho menggelengkan kepalanya.

—-  

Saat pulang sekolah Hee Young melawan beberapa murid sekolah yang akan memukulnya tanpa sebab. Ia kini bertekad untuk melawan semua murid yang hendak menjahili ataupun memukulnya. Ia sudah sangat lelah di jahili dan di siksa setiap hari. Hee Young pun tak peduli jika pada akhirnya nanti ia yang akan di keluarkan oleh pihak sekolah. Ia terus melawan hingga pada akhirnya sebuah teriakan menghentikannya dan murid-murid lainnya.

“BERHENTI!!!” Hee Young pun reflek berhenti lalu melihat ke sumber suara. Changmin, namja itu berteriak sangat keras dan kini Hee Young melihat wajah Changmin sangat marah. Hee Young terdiam dan sedikit menjauhi murid-murid yang tadi akan memukulnya. Ia tertunduk karena takut. Di rasakannya sunbaenimnya itu berjalan mendekat.

“Kalian berhenti menjahilinya ataupun memukulnya. Jika aku melihat kalian mendekatinya lagi dengan niat tidak baik, maka kalian akan kuberi pelajaran yang amat berharga dalam hidup kalian. Tidak peduli itu namja ataupun yeoja. Pergi!” Sontak semua murid itu berlarian meninggalkan tempat itu.

Hee Young masih menundukkan kepalanya karena takut. Junsu yang ada di sana dan melihat itu langsung tersenyum dan menghampiri Hee Young. Di ambilnya tas yeoja itu dan menarik lengannya pergi.

“Su sunbae ma mau kemana?” Tanya Hee Young. Ia menatap satu per satu sunbaenimnya sambil terus berjalan dengan tangannya di tarik oleh Junsu. Mendengar pertanyaan itu Junsu menghentikan langkahnya dan menatap Hee Young.

“Kau lupa? Hari ini kan hari pertama kau menjadi guru privat Chae Jin, dongsaengku.” Ucap Junsu. Hee Young mengangguk mengerti.

“Tapi kenapa sunbae harus menarik tanganku?”

“Karena dia ingin mengantarmu.” Jawab Changsoo santai.

“Benar. Jadi setiap hari aku dan Junho akan pulang bersamamu. Bukankah ini menguntungkan untukmu? Jadi kau tidak di jahili lagi oleh murid di sekolah ini.” Ucap Junsu dengan tersenyum cerah.

“Karena Hee Young diam saja berarti dia setuju, ayo Jaejoong hyung kita pergi bersama mereka.” Ucap Changmin santai.

“Kenapa kalian harus ikut dengan kami?” Tanya Junho dan Junsu bersamaan.

“Dan kenapa aku harus ikut?” Tanya Jaejoong tak setuju.

“Karena Jaejoong hyung yang membawa mobil diantara kami semua dan aku ikut karena ingin menghabiskan isi kulkas yang ada di rumah Junsu dan Junho. Ayo pergi.” Changmin mendapatkan tatapan datar dari semua temannya termasuk saudaranya Changsoo, sedangkan Hee Young hanya terkekeh kecil.

Mereka semua berjalan menuju mobil Jaejoong, Jaejoong pun mau tak mau mengantar mereka ke rumah Junsu dan Junho.

Sesampainya di rumah Junsu dan Junho, Jaejoong di tarik Changmin untuk masuk dan tidak di perbolehkan untuk pulang. Kenapa? Karena Changmin ingin Jaejoong mengantarnya dan Changsoo pulang ke rumah. Changmin tidak mau naik taksi.

Hee Young duduk sambil memeriksa materi yang nanti akan ia berikan pada Chae Jin. Ia tersenyum saat melihat semuanya lengkap dan tak ada yang tertinggal satu pun. Tak lama ia melihat Chae Jin turun dari lantai dua, yeoja itu turun dengan membawa buku dan tersenyum cerah padanya. Hee Young pun membalas senyuman itu.

“Ah oppadeul juga datang?” Ucap Chae Jin saat melihat Changmin, Changsoo dan Jaejoong.

“Oppa di paksa mengantarnya kemari untuk menghabiskan isi kulkasmu.” Ucap Jaejoong sambil menunjuk Changmin. Chae Jin tertawa kecil mendengar ucapan Jaejoong. Tak lama pelayan datang dengan membawa minuman derta makanan kecil.

“Hee Young eonni ayo kita mulai. Ada beberapa materi yang tidak kumengerti yang ingin kutanyakan pada eonni.” Ucap Chae Jin sambil menarik lengan Hee Young dan duduk agak jauh dari para namja yang ada di sana. Mereka belajar dengan sangat serius. Junsu dan Junho tersenyum melihat dongsaeng mereka terlihat serius dengan penjelasan yang di berikan Hee Young. Keduanya beranjak pergi ke kamar mereka dan meninggalkan ketiga teman mereka di ruang tamu bersama Hee Young dan Chae Jin.

Jaejoong diam-diam terus menatap Hee Young yang tengah mengajari Chae Jin. Ia kembali teringat yeoja itu yang bisa membaca pikirannya. Ia menebak-nebak bagaimana Hee Young bisa melakukan hal itu. Jaejoong menggelengkan kepalanya saat melirik Changmin yang asik dengan makanannya. Lalu tak lama ia kembali menatap Hee Young sambil berpikir keras.

‘Bagaimana bisa kau membaca pikiranku?’

‘YA! Jin Hee Young! Aish kenapa aku seperti orang sinting seperti ini?’ Reflek Hee Young menatap Jaejoong. Jaejoong sedikit tersentak karena yeoja itu menatapnya dengan wajah seolah bertanya padanya. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya pada ponsel yang sejak tadi ia genggam.

Changmin yang menyadari hal itu menatap Jaejoong dan Hee Young. Kembali ia merasa curiga pada Jaejoong dan yeoja itu. Awal kecurigaannya saat di ruang kesehatan waktu itu. Ia merasa ada yang aneh dengan mereka berdua. Changmin menaruh gelas di meja lalu mendekati Jaejoong dan berbisik pada namja itu.

“Hyung, sepertinya ada yang aneh denganmu dan Hee Young. Ada apa sebenarnya diantara kalian?” Jaejoong sontak menatap Changmin yang tengah menatap Hee Young dan Chae Jin.

“Maksudmu?” Changmin menatap Jaejoong dengan wajah kesal dan berdecak.

“Jangan pura-pura, hyung. Aku mulai curiga saat di ruang kesehatan waktu itu. kau hanya menatap Hee Young lalu yeoja itu menjawabnya atau dengan cepat menoleh padamu. Seolah-olah kau mempunyai kontak batin dengannya. Atau memang kau diam-diam bisa melakukan telepati, hyung?” Changmin menatap Jaejoong penuh curiga dan penasaran. Jaejoong menghela nafas dan menjitak pelan kepala Changmin.

“Aku tidak melakukan telepati atau semacamnya, singkirkan hal itu dari otakmu. Aku pun tidak mengerti, Changmin-a. Sepertinya yeoja itu bisa membaca pikiranku.” Jaejoong mulai menceritakan apa yang ia alami pada namja di sebelahnya dengan nada berbisik agar yang lain tidak dengar.

Changmin dengan serius mendengarkan cerita Jaejoong. Ia mulai tertarik dengan cerita namja itu dan ingin mengetahui apakah yeoja itu memang benar bisa membaca pikiran Jaejoong atau tidak.

Setelah mendengarkan cerita Jaejoong, Changmin menatap kedua yeoja yang tengah sibuk itu. Ia menatap Hee Young cukup lama lalu tak lama perhatiannya teralih pada yeoja di sebelah Hee Young. Ia tersenyum kecil saat melihat yeoja itu. Yeoja yang sudah cukup lama ia perhatian dengan diam-diam.

Jaejoong menatap Changmin yang tengah asik menatap Chae Jin. Ia sudah lama tahu kalau namja itu sering memperhatikan dongsaeng Junsu dan Junho itu. Dan sepertinya yang menyadari hal ini hanya ia saja karena ia melihat sikap Changsoo biasa saja. Namja itu bahkan kini masih asik membaca buku.

‘Betah sekali kau selama 3 tahun ini hanya menatapnya dari jauh seperti ini tanpa melakukan pendekatan atau menyatakan perasaanmu.’ Jaejoong menatap Changmin sekilas lalu kembali berkuatat dengan ponselnya. Ia membalas pesan dari Jaejoon yang menanyakan keberadaannya.

—- 

“Dia bilang sedang ada di rumah Junsu dan Junho.” Ucap Jaejoon setelah mendapatkan balasan dari Jaejoong. Ia mengambil tasnya lalu berpamitan pulang pada Yunho, Yuchun dan yang lainnya. Sejak tadi mereka berada di café mengobrol. Yunho  mengangguk mengerti lalu tak lama menghela nafas berat.

“Kau kenapa? Sejak tadi wajahmu muram dan terus menerus menghela nafas. Ada masalah?” Tanya Yuhwan.

“Entahlah, hanya saja sejak kemarin pikiranku kacau dan moodku jadi jelek. Semalam pun tidurku tidak nyenyak.” Jawab Yunho malas. Tak lama Yunho berdiri saat melihat yeoja yang sejak kemarin mengacaukan pikirannya.

“Aku pergi dulu. Kalian pulang saja, pakai mobil yang di bawa Yunhyun. Yunhyun-a tolong antar mereka ya. Aku pergi.” Ucap Yunho lalu berlari menyusul yeoja itu. Entah kenapa ia ingin sekali bertemu dengan yeoja itu.

Saat yeoja itu sudah dekat Yunho menghentikan langkahnya. Yeoja itu tersenyum pada namja yang ada di sebelahnya. Yunho hanya diam saat melihat pemandangan itu, ia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Perlahan  ia mengikuti yeoja itu dari belakang dengan jarak yang cukup dekat.

Entah kenapa Yunho penasaran siapa namja yang kini tengah bersama yeoja itu. Di lihatnya namja yang berada di samping yeoja itu sudah pergi. Yunho terus mengikuti yeoja itu. ia berjalan dengan cepat karena ia hampir kehilangan yeoja itu saat yeoja itu masuk ke sebuah gang kecil.

Langkahnya terhenti saat gang itu ternyata buntu, Yunho terus berjalan hingga tiba-tiba yeoja itu muncul dari sebuah dus besar membuat ia kaget. Yeoja itu menatapnya tidak suka.

“Kenapa kau mengikutiku?” Tanya yeoja itu kesal. Yunho hanya diam sambil menatap yeoja itu, ia tak tahu harus menjawab apa karena ia sendiri pun bingung.

“Kau tak mau menjawabnya? Baiklah kalau begitu akan kulaporkan kau ke kantor polisi.” Ucap yeoja itu lalu hendak pergi tapi terhenti karena Yunho menahannya.

“Kau mau tahu alasanku mengikutimu? Jawabannya aku pun tak tahu mengapa aku mengikutimu. Saat melihatmu tadi reflek aku mengejarmu.” Yeoja itu mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Yunho.

“Kau orang sinting ya?” Yunho menggeleng cepat saat mendengar pertanyaan yeoja di depannya ini. Yeoja mungil yang cukup galak baginya.

“Biarkan aku berada di sampingmu sebentar saja.” Ucap Yunho serius.

“Kau benar-benar sakit jiwa.” Yeoja itu melepaskan tangan Yunho yang menggenggam lengannya lalu pergi.

Yunho terus mengikuti yeoja itu dari belakang. Ia tak mau berhenti sebelum di ijinkan berada di samping yeoja itu sebentar saja. Ia ikut masuk ke dalam café saat melihat yeoja itu masuk. Café yang Yunho tahu tempat yeoja itu bekerja. Ia duduk di tempat yang sama seperti kemarin ia datang ke tempat itu. Ia menunggu yeoja itu keluar dan saat melihatnya Yunho langsung memanggilnya dan memesan sesuatu. Ia melirik name tag yeoja itu.

‘Kim Di Kha.’

Yeoja itu menatapnya tidak suka tapi Yunho menatap yeoja itu dengan wajah serius. Yunho menghela nafas saat yeoja itu pergi begitu saja setelah ia memesan.

‘Kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku ingin berada di sampingnya? Aish!’

Di tatapnya yeoja itu yang kembali melayani pelanggan lain. Tapi tak lama yeoja itu menghampirinya dan membawa pesanannya. Yunho menahan tangan yeoja itu saat akan pergi. Yeoja itu berbalik dan menatapnya dengan tidak suka, berusaha melepaskan genggamannya di tangan yeoja itu.

“Boleh kutahu siapa namja tadi?” Tanyanya penasaran. Yeoja itu mengerutkan dahinya mendengar pertanyaannya.

“Bukan urusanmu. Lepaskan!” Yunho melepaskan tangan yeoja itu sambil menghela nafas pelan.

Yunho menatap pesanannya dengan hambar, ia tak berselera memakannya. Ia terus menatap Di Kha yang terus bekerja melayani pesanan para pelanggan lain. Ia memegang hatinya yang berbeda saat bertemu yeoja itu. Ia tak mengerti ada apa dengan dirinya, ia pun bertanya-tanya dalam hati tapi tak menemukan jawabannya.

“Ada apa denganku ya? Kenapa jadi seperti ini?” Ucap Yunho lemas.

Saat café akan tutup Yunho terpaksa keluar tapi ia tak langsung pulang ke rumahnya. Ia menunggu yeoja itu keluar dari café. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding café sambil menatap kedepan.

Yunho membenarkan posisi berdirinya saat Di Kha keluar, yeoja itu menghela nafas saat melihat ia masih menunggunya. Yeoja itu pergi meninggalkannya tapi Yunho tetap mengikuti dari belakang. Sesekali ia lihat yeoja itu menatap kebelakang dan berdecak kesal saat mengetahui ia masih mengikutinya.

Saat berada di jalan yang terdapat banyak club tiba-tiba beberapa namja yang tengah mengobrol di depan club itu menghampiri Di Kha dengan tatapan nakal. Reflek Yunho dengan cepat menghampiri Di Kha dan memeluk pinggang yeoja itu.

Yunho menatap Di Kha yang menatapnya kaget tapi ia berusaha tersenyum. Ia mengalihkan pandangannya menatap para namja itu yang terlihat kesal.

“Ada apa? Kenapa kalian menatap kami seperti itu? Ada masalah jika aku memeluk yeojachinguku sendiri?” Ucap Yunho dengan nada cukup tinggi. Ia menatap para namja itu dengan tajam dan penuh amarah. Tanpa merespon ucapannya ia lihat para namja itu pun pergi.

Yunho membawa Di Kha pergi menjauh dari tempat itu. Saat sudah cukup jauh Di Kha menepis tangannya yang masih memeluk pinggang yeoja itu.

“Jangan harap aku akan berterima kasih padamu. Aku tak butuh bantuanmu.” Ucap Di Kha dengan nada ketus. ia kembali berjalan meninggalkan namja yang menurutnya sangat aneh itu. Ia kesal karena hampir seharian ini namja itu terus mengikutinya. Ia terus mengumpat hingga ia di buat kaget oleh seorang namja asing yang tiba-tiba memeluknya dan berusaha menciumnya. Dari baunya ia tahu kalau namja itu tengah mabuk. Di Kha berusaha melepaskan diri dari namja itu. Saat namja itu semakin dekat untuk meenciumnya Di Kha memejamkan mata dan berusaha menjauh sebisanya.

Tiba-tiba Di Kha merasakan tak ada lagi yang memeluknya. Ia perlahan membuka mata dan membelalakan matanya saat melihat Yunho kini tengah memukul namja yang tadi berusaha menciumnya.

“YA! Hentikan!!!” Teriaknya. Namja itu berbalik dan menatapnya tajam, tatapan yang sangat menakutkan baginya. Tangan namja itu masih menahan namja mabuk itu.

“Berhenti. Kau bisa membunuhnya.” Ucap Di Kha. Ia melihat namja itu berbalik dan memukul namja mabuk itu beberapa kali.

“Awas kau kalau berani menyentuhnya lagi!” Ancam Yunho. Di Kha melihat namja mabuk itu lari setelah namja aneh itu melepaskannya. Namja aneh itu menghampirinya dan memegang kedua pipinya sambil menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Kau baik-baik saja kan? Tak ada yang luka? Namja brengsek itu sudah berbuat apa padamu tadi? Mian tadi aku sedang membeli minuman hangat untukmu.” Ucap namja itu dengan wajah khawatir. Tatapan namja itu kini sangat lembut, berbeda sekali saat tadi tengah memukul namja mabuk itu.

‘Tatapannya berbeda sekali. Benar-benar namja aneh’ Batinnya.

“Aku baik-baik saja tapi bisakah kau singkirkan tanganmu ini?” Ucap Di Kha sambil melirik kedua tangan namja itu yang masih menyentuh pipinya.

“Mian.” Yunho langsung melepaskan tangannya. Ia menatap yeoja itu lama. Di lihatnya yeoja itu menatap kebelakangnya dan berdecak.

“Kalau di perhatikan sepertinya namja tadi berasal dari keluarga kaya. Menyebalkan. Ah iya khamsahamnida atas bantuanmu tapi jangan lakukan lagi. Permisi.” Ucap yeoja itu lalu kembali meninggalkannya. Yunho berbalik dan kembali mengikuti yeoja itu.

“Memangnya kenapa kalau namja tadi berasal dari keluarga kaya?” Tanya Yunho penasaran.

“Biasanya orang yang berasal dari keluarga kaya itu egois, seenaknya sendiri dan merasa dengan uang masalah yang mereka perbuat bisa selesai. Contohnya tadi, namja itu dengan seenaknya berusaha menciumku dan melecehkanku. Seandainya nanti aku laporkan kepolisi pun pasti mereka membayar dengan uang agar masalah selesai.” Jawab Di Kha tanpa menoleh dan terus berjalan.

“Aku benci dengan orang kaya.”

Deg

Dada Yunho tiba-tiba berdetak kencang saat yeoja itu mengatakan membenci orang kaya. Ia memegang dadanya lalu berhenti saat melihat yeoja itu berbalik dan menatapnya.

‘Kenapa dadaku sakit ya?’

“Apa benar yang kau katakan tadi sore? Ingin berada di sampingku. Boleh aku tahu kenapa?” Tanya yeoja itu padanya.

“Molla. Aku juga tidak mengerti.” Jawab Yunho jujur. Di Kha menghela nafas lalu menatap namja di depannya kesal.

“Dasar sinting. Berhenti mengikutiku.” Ucapnya lalu kembali berjalan pulang ke rumahnya. Ia melirik kebalakang dan melihat namja aneh itu masih mengikutinya.

“Ya Tuhan kenapa ada namja aneh dan bodoh sepertinya?” Gumam Di Kha. Saat sampai di depan rumah mungilnya ia melihat kebelakang dan kembali menghela nafas. Namja aneh itu kini berdiri di depan gerbang rumahnya yang tak terlalu tinggi. Namja itu menatapnya dengan serius dan tatapan namja itu terlihat kebingungan.

“Sudah kubilang jangan mengikutiku lagi atau kulaporkan polisi.” Ancam Di Kha. Ia berjalan mendekati gerbang rumahnya. Di lihatnya namja itu menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak bisa, Di Kha-sshi. Jika kau tanya lagi kenapa, aku pun tidak tahu jawabannya. Biarkan aku di sampingmu sampai aku tahu jawabannya.” Pinta Yunho. Dengan cepat Di Kha menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Aku tidak mau ada orang aneh ada di dekatku, apa lagi aku tidak mengenalmu sama sekali.” Ucap Di Kha tegas.

“Aku Jung Yunho.” Ucap Yunho memperkenalkan dirinya.

“Dasar keras kepala.” Di Kha masuk ke dalam dan meninggalkan namja aneh itu sendirian.

“Besok aku akan datang lagi.” Teriak Yunho.

Yunho menatap punggung yeoja itu sampai benar-benar hilang. Ia menghela nafas pelan lalu kembali berjalan sambil mencari taksi. Saat mendapat taksi ia masuk dan menatap keluar jendela memikirkan tindakannya yang nekat hari ini dengan mengikuti yeoja itu seharian dan memikirkan alasan mengapa ia ingin berada di dekat yeoja itu.

Yunho sedikit berpikir keras saat mengingat yeoja itu membenci orang yang berasal dari keluarga kaya. Ia berpikiran berarti yeoja itu akan membencinya juga jika tahu kalau ia berasal dari keluarga kaya.

“Apa aku harus menutupi jati diriku darinya kalau aku berasal dari keluarga kaya?” Gumamnya pelan.

 

 TBC

 

Masih mau lanjut? silahkan komennya ^^

 

27 thoughts on “Twins Part 2

  1. wiih asyik.. heeyoung kok bs sih baca pikiran.. msh bingung knp heeyoung msk ke sekolah itu padahal gak ada kembaran…
    wah pasti yunho bakalan jadian ma dika eonni nih kkkk… btw trauma apa sih yg dialami heeyoung kok bs ketakutannya ampe segitunya, jgn2 ada hal di kegelapan pada masa lalu? tapi apa coba?
    penasaran ah lanjutannya… waiting again xD…
    jangan lama2 please :p #maksa

  2. ya eonni enth knapa aqu snang skli bca ff ni😄
    kau tau onnie,stiap bgian min tuh brasa lucu ja soalnya min tuh imut bgt dng polosnya blg mu ngabisin isi kulkas jun twins😄
    si uno polos apa pabo si, klo udh bgtu tuh namanya cinta!! pngen ktmu, pngen dket terus, pngen lyat wajahnya brti cinta!! woi bang uno sdar atuh bang, kau jatuh cinta pda pndangan prtama😄
    mngkin kah alasan heeyoung diterima di skul itu krna bsa bca pikiran? kerennnn euy bsa bca pikiran!! apa cuma pikiran jj doang? pkiran yg laennya gymna ke bca jga ga?
    yaoloh onnie, bner kan ktaqu bagus😀 mkanya next part jgn lama ya!!
    aqu tunggu loh!! jngan ga pd ya!!
    ditunggu part berikutnya!!
    jangan lama!!

  3. onni, minhae comming😀
    min diisini krakternya bener2 min ya onni,doyan makan!!suka sama krakter min disini😀 tpi onni si chaejin tu kaka ya? -.-a ga iklas klo kaka itu chaejin yg disukain min disini!!sekali kali aqu kek dipasangin sama min #rikues
    onni,si heeyoung bneran bisa bca pikiran jeje? omo keren sekali, telepati gtu bkn onni? tapi kasian heeyoung dikerjain smpe sgtunya😦 poor heeyoung
    Kim Dikha itu dika onni ya? omo bertebaran nama para onni di ff ini XP si uno juga haduh polos bgt,masa ga sadar itu suka ckckckck #pukpuk uno oppa
    nanti sperti apa hbungan heeyoung dng jeje? apa krna heeyoung bisa baca pikiran jeje nanti jadi suka?
    ditunggu lanjutannya onnie!!
    oiya, my boy juga!! aqu sangat menanti ff itu sama kaka😀

    • iya chaejin itu your onni😄
      oh biasnya min jg?ok deh nanti klo ada ilham buat ff yg laen dongsaengi jd castnya.tp namkornya apa?tar ksh tau onni ya ;D

      yup betul skali kim di kha itu dika…
      yg my boy diusahain ya,doain aja dpt ilham segudang ^_~

  4. biel berkata:

    si heeyoung bisa baca pikiran? kok bisa? apa ini alasan kepala sekolah nerima dya di skolah itu?
    iri sekligus ksian sama heeyoung,dijahilin tp yg nolong byk bgt
    cast utamanya disni jj,changmin sama yunho ya?tadinya aqu pikir cuma jj doang trnyta klu dibca tliti jga dijelasin prasaan ktiganya hehehe
    jj sama heeyoung,changmin sama chaejin,yunho sama dikha.akan sprti apa hbungan mreka?
    critanya smakin seru dan menarik,ditunggu lanjutannya🙂

  5. Cassieelf berkata:

    musti dlnjutin loh author!!
    ffmu mnrik soalnya🙂 apalagi heeyoung bs bca pikiran jejung,ga nyaka dia punya kkuatan kaya gitu!!
    jejung sprtnya mulai trtarik dng heeyoung ya?aqu hrap mreka bisa lbh dkat🙂
    changmin suka adenya junsu?bhkn nyaris 3th, smoga changmin jga dket sama ade junsu🙂 changmin disini lucu ya, sbgai pnghibur di ff ini hehhe
    yunho love at first sigh rupanya sama dikha, tpi polos skli ga tau rasa yg dirasain itu apa. buat mreka jga brsama ya thor!!
    bikin happy ending ya😀 ditunggu next chapternya😀

  6. heeyoung kembarannya jaejoong kah ? #plak *ngawur* wkwk abisan aneh masa heeyoung bisa baca pikiran jaejoong -_-” mungkin jodoh kah ? Hehehe
    yunho kayanya jatuh cinta tuh sma kim di kha..
    Disini karakternya pas. Menurutku sesuai sma karakter masing2 xD
    seru~ lanjut ya thor^^

  7. Wow, keren bgt Hee Young bisa bca pikiran Jaejoong…jdnya mereka bisa ngobrol lewat telepati gtu, ini bkin aku penasarn ‘kok bisa?’ pdhl biasany yg punya ikatan bathin kuat gtu tu saudara kembar.
    Ceritany mkin seruu eon, Changminny lucu lagi. Satu lg, sofi bener FFny bagus kok🙂
    Oia aku jd mikir klo Hee Young trauma dg ruang gelap n sempit brarti ga bisa naik lift dong, trs klo mo ke toilet gmna tuh…kn toilet ruanganny sempit jg?
    Eonnie lanjutanny d tunggu ya? ^^
    Oia eon mian ya aku lum bisa update ff ku lg biz males sih coz yg komen dikit bgt, v ntar klo dah mood next chapny psti aku update lg ga apa2 kan? hehe…

  8. mel_vina berkata:

    Ih keren Hee Young bsa bca pkrnny jaejoong… Tp knp bsa ya???

    Yunho brhnt kek jailin Hee Young, kn kasian di kerjain mulu

  9. yunho kyk y nemu pujaan hati y nih,,,tp sayang dhika y bgak suka ma org kaya pa nanti jgn2 yunho bakal bohong lg biar bisa deket ma dhika……
    tu hee young bener2 bisa baca pikiran jaejoong,,,, wah jaejoong harus hati2 nih….
    jaejoong lg sikap y dingin bgt sih kadang2 bertolak belakang sama apa yg dukata hati y……
    seru….
    changmin suka adik y junsu ya??? yunho jg dah nemu pasanan n jaejoong yg terus dikelilingi hee young….

  10. putrimays berkata:

    ini kenapa si hee young jadi bisa baca pikirannya jaejoong??
    aduh.. aku jadi bingung..
    aku sempet ngira kalo yunho bakalan suka ama hee young karna sering ngejailin dia. ternyata ada kim dikha. hahaha

    NICE FF EONNI

  11. aha! aku tau kenapa aku suka sama ff ini!
    karena ada si monster food alias minchang,keke~
    heran juga kenapa hee young kok polos banget sih….jeje juga ketusnya bener bener,wkwkwk

  12. chunnie_man berkata:

    Heeyoung. Sama jae punya feeling kynya jodoh nih.kenapa yunho selalu iseng sih kasihan heeyoung dikerjain trs.wah minnie jtuh cinta sm anak SMP

  13. Rajaejoongie berkata:

    hhhuuaaa…keren hee young bisa membaca pikiran jaejoong ne..
    changmin oppa cept nytkn cinta mu dngn chae jin..
    yunho sprti nya bnr2 jatuh cinta ne dngn di hka,fighting yunho aku yakin kmu pasti akn mndptkn di hka ..! ^^

  14. yeonhwa berkata:

    woah…., hee young bisa baca pikiran jaejoong *_* , apa cuma pikirannya jaejoong yg bisa dia baca ? wah penasaran😀

  15. emi berkata:

    Aq jdi tmbh pnasaran …knpa hee young yg gk pnya kmbrn bsa skolh d’skolah khusus anak kmbr sh.. ??

    Knpa yuhno oppa yg pling smngt buat ngrjain hee young eoni yua …aq kira mereka akn jth cinta …trnyta yuhho oppa suka’y ma dikha eoni…

    Lanjut chap 3 .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s