Twins Part 1


Title: TWINS

Main Cast:

–          Kim Jaejoong

–          Shim Changmin

–          Jung Yunho

Another Cast :

 

–          Kim JaeJoon (JaeJoong Twin)

–          Kim JunSu

–          Kim JunHo (JunSu twin)

–          Park YooChun

–          Park YooHwan (Yoochun twin)

–          Jung YunHo

–          Jung YunHyun (Yunho twin)

–          Shim ChangSoo (Changmin twin)

–          Jin Hee Young

–          Lee Chae Jin

–          Kim Di Kha

 

 

Rating: PG13-NC17 / STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri 

 

A/N: Bayangin aja kalo semua anak di sekolah itu kembar identik ya…

DISCLAIMER: FF ini murni buatan author sendiri tanpa menjiplak dari FF di blog mana pun. Kalaupun ada kesamaan itu hanya kebetulan semata. FF ini hanya khayalan author.

DON’T LIKE DON’T READ AND DON’T BASH MY FF!!!

Happy Reading

 

HEE YOUNG POV

Aku melompat kegirangan saat membaca surat dari SMA DongBang yang mengatakan kalau aku di terima di sekolah itu. Aku tak mempedulikan tatapan aneh yang di berikan dongsaengku. Dengan cepat aku pergi ke dapur dan memeluk umma-ku yang tengah sibuk membuat kue.

“Aish kau ini kenapa? Jangan ganggu, umma sedang membuat kue.” Omel umma padaku. Aku melepaskan pelukanku lalu menatap umma penuh senyum. Kuperlihatkan surat yang baru saja kuterima. Umma mengambilnya lalu membacanya, setelah itu umma menatapku tak percaya. Aku mengangguk senang.

“Aku di terima umma.” Ucapku. Sontak umma berteriak dan memelukku. Kami berdua berteriak sambil melompat senang.

“Cepat beritahu appa.” Suruh umma. Aku pun pergi ke ruang kerja appa, kuketuk pintunya lalu membukanya pelan.

“Appa, boleh aku masuk?” Ucapku meminta ijin. Appa menghentikan kegiatannya lalu mengangguk dan menyuruhku masuk.

Aku pun masuk dan menutup pintu. Aku melangkah mendekati appa, kupasang raut wajah sedih. Kutundukkan kepalaku seperti biasa kalau aku melakukan kesalahan atau membuat appa kecewa. Appa kudengar menghela nafas panjang. Kutahan tawaku.

“Ada apa? Kenapa menunduk seperti itu? Apa kau melakukan kesalahan?” Tanya appa.

“Eh mmm be begini appa. Tadi aku mendapat surat resmi dari sekolah DongBang.” Ucapku pura-pura gugup.

“Mana suratnya? Berikan pada appa.” Perintahnya. Aku pun memberikannya.

“Maafkan aku appa.” Ucapku dengan raut wajah takut dan sedih. Kulihat appa membuka surat itu dengan kasar lalu membacanya.

Appa menatapku tajam lalu berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan ke arahku.

“Anak nakal.” Ucap appa lalu tersenyum. Aku memeluk appa sambil berteriak senang.

“Selamat, nak. Kau membuat appa bangga.” Ucap appa sambil mengelus rambutku dengan lembut.

Aku, dongsaengku dan kedua orang tuaku merayakan keberhasilanku masuk ke SMA DongBang. Saat memilih SMA aku sedikit bingung tapi saat melihat di dalam daftar sekolah favorit ada SMA DongBang entah kenapa aku langsung memilih sekolah itu. Padahal aku tidak tahu menahu tentang sekolah itu. Bisa di bilang aku asal memilih SMA, hal ini hanya aku yang tahu. Kalau aku menceritakannya pada orang tuaku bisa-bisa mereka marah.

Kudengar dari temanku kalau SMA DongBang itu memang salah satu SMA favorit tapi sekolah yang misterius dan jarang sekali ada yang bisa masuk ke sekolah itu. Selain murid, guru, kepala sekolah dan staff dilarang masuk, itu yang kudengar. Sangat ketat sekali.

Saat sedang mengobrol di ruang tengah bersama keluargaku tiba-tiba ada yang memencet bel. Aku berdiri dan menghampiri pintu. Kubuka dan kulihat tukang pos datang membawa paket.

“Paket untuk nona Jin Hee Young.” Ucap namja itu.

“Itu aku.” Ucapku lalu namja itu memberikan paket dan menyuruhku tanda tangan. Namja itu mengangguk dan berterima kasih. Bukannya pergi tapi namja itu malah menatapku sambil tersenyum membuatku bingung.

“Mmmm ada lagi?” Tanyaku sedikit risih di tatap oleh orang asing seperti itu.

“Ah maaf. Permisi.” Ucapnya lalu pergi. Aku pun membawa paket itu ke dalam dan membukanya di depan keluargaku.

“Heh?” Ucapku bingung melihat isinya. Paket berisi pakaian seragam lengkap,  buku-buku dan beberapa surat. Aku mengambil amplop surat berwarna merah lebih dulu. Kubuka dan kubaca dengan teliti, ternyata surat ini berisi tentang peraturan sekolah. Setelah itu buka surat yang berwarna putih, isi surat itu memberitahukanku kalau aku mulai masuk sekolah senin besok dan menyuruhku untuk membawa surat putih itu.

Kutatap paket itu dengan bingung.

“Apa memang selalu seperti ini ya? Mengirimkan paket ini pada setiap murid.” Gumamku pelan. Kulihat umma dan appa-ku mengeluarkan semua seragam dari dalam paket, sedangkan dongsaengku mengambil buku dan menyerahkan padaku salah satunya. Kubaca judul buku itu yang ternyata peraturan mengenai seragam sekolah dan hal lainnya. Kubaca peraturan itu dengan teliti.

“Ah ketat sekali. Kuharap aku bisa menjalani semua peraturannya.” Ucapku sambil meletakan buku yang sudah selesai kubaca.

“Kau pasti bisa.” Ucap umma.

“Berjuanglah. Kalau kau melakukannya dengan semangat dan penuh senyum pasti bisa.” Ucap appa. Aku menatap mereka dengan senyum lalu mengangguk. Aku jadi semangat setelah mendengar dukungan dari mereka.

“Baiklah kalau begitu aku harus bersiap-siap untuk besok. Aku kekamar dulu.” Ucapku lalu mengambil seragam dan buku. Kutaruh seperti semula dan membawanya ke kamarku.

“Young-a.” Langkahku terhenti saat mendengar panggilan dari appa. Aku berbalik lalu melihat appa menghampiriku. Appa mencium keningku lembut.

“Tolong buat umma dan appa lebih bangga padamu.” Ucap appa. Aku mengangguk.

“Aku akan berusaha appa tapi bagaimana tentang biaya sekolahku? Apa aku berhenti saja dan memilih sekolah lain?” Tanyaku saat mengingat biaya sekolah DongBang yang sangat mahal. Keluargaku bukan berasal dari keluarga kaya raya, kelurgaku hanya berasal dari keluarga menengah biasa.

Aku sempat menyesal dan ingin mundur saat memilih sekolah itu dan melihat biaya sekolahnya tapi appa dan umma menyemangatiku dan memintaku agar tidak berhenti.

“Jangan khawatirkan itu. Biarkan hal itu umma dan appa yang mengurusnya.” Jawab appa lembut. Umma menghampiriku dan tersenyum.

“Jangan pikirkan hal itu lagi.” Ucap umma.

“Sana masuk ke kamarmu dan berisp-siap untuk sekolah pertamamu di SMA DongBang besok.” Ucap appa.

“Ne umma, appa.” Kupeluk mereka dengan erat lalu ke kamar.

Aku menyiapkan semua yang kuperlukan sesuai dengan peraturan dan beberapa perintah langsung dari surat kepala sekolah.

Aku menghela nafas pelan setelah semuanya selesai. Kulihat jam sudah 2 jam aku menyiapkan semuanya. Kurentangkan kedua tanganku sambil berjalan keluar kamar. Kulihat lampu kamar dongsaengku masih menyala. Kuketuk pintunya lalu kudengar suara sahutan dari dalam.

Perlahan kubuka pintu kamarnya. Dongsaengku terlihat sedang berada di ranjangnya sambil memegang komik kesukaannya.

“Boleh noona masuk, Ji Young?” Tanyaku.

“Masuklah noona.” Ucapnya. Aku pun masuk dan duduk di samping jendela kamarnya, menatap keluar kamar.

“Noona kenapa? Kok wajahnya terlihat sedih seperti itu? Bukankah seharusnya noona senang karena sudah di terima di SMA DongBang?” Tanyanya. Kutatap dongsaengku yang hanya terpaut dua tahun dariku itu.

“Memang tapi bagaimana dengan biaya sekolah? Tidak seharusnya noona memilih sekolah favorit yang sudah pasti biaya sekolahnya mahal.” Ucapku sedih.

“Noona jangan berkata seperti itu. umma dan appa kan bilang kalau jangan mengkhawatirkan tentang itu. Walaupun nanti kesulitan membayar pasti akan ada jalan keluarnya.” Aku menatap Ji Young lalu tersenyum. Aku memang sering mengobrol dengan dongsaengku tentang segala hal.

“Seharusnya kau jadi oppa-ku bukan dongsaeng. Terkadang pemikiranmu lebih dewasa di bandingkan noona.” Ucapku. Wajahnya yang terlihat bangga setelah mendengar ucapanku. Aku terkekeh lalu melemparnya dengan bantal kecil yang ada di dekatku.

“Aish noonaaaa.” Teriaknya kesal karena lemparanku mengenai wajahnya. Aku hanya tertawa melihat ekspresinya. Tak lama aku berdiri lalu berjalan pelan ke arah pintu.

“Gumawo sudah menyemangati noona. Maaf mengganggu. Selamat malam. Ingat jangan tidur terlalu malam.” Ucapku lalu membuka pintu kamar.

“Neeeeee.” Jawabnya.

 

*** 

 

AUTHOR POV

Hee Young kini sudah berada di depan pintu gerbang SMA DongBang, ia menatap takjub gedung sekolahnya itu. Ini pertama kalinya ia melihat gedung sekolah itu secara langsung. Saat tes masuk SMA DongBang ia melakukan tes di SMP-nya yang dulu.

Tak lama pintu gerbang sekolah di buka, Hee Young pun perlahan masuk ke dalam. Penjaga sekolah menahannya untuk masuk, ia menatap takut penjaga berwajah seram itu. Ia menatap tangan penjaga itu yang seolah-olah meminta sesuatu. Saat teringat surat yang ia terima kemarin Hee Young langsung mengambilnya di dalam tas lalu memberikannya pada penjaga.

“Ini.” Ucapnya. Di lihatnya penjaga itu membaca surat dengan seksama lalu tak lama mengerutkan keningnya.

“Kau sendirian nona Hee Young?” Tanya penjaga itu. Hee Young menatap penjaga itu bingung.

“Maksudnya? Apa aku harus datang dengan orang tuaku dan adik laki-lakiku?” Penjaga itu menatapnya sedikit kaget.

“Kau tidak punya saudara kembar?” Tanya penjaga sekolah itu. Hee Young pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Kenapa bapak bertanya seperti itu? Saya anak pertama dan hanya mempunyai seorang adik laki-laki.” Penjaga sekolah itu menatapnya lalu menggelengkan kepalanya.

“Kenapa kau bisa di terima di sini ya?” Hee Young mengerutkan keningnya.

“Maksud bapak?”

“Ah tidak apa-apa. Kau berhati-hatilah. Jaga diri baik-baik selama di sekolah ini, jangan percaya pada siapapun yang baru kau kenal. Nah sekarang kau pergilah ke kantor kepala sekolah yang ada di sana. Itu ruangan kepala sekolah.” Ucapan penjaga semakin membuat Hee Young bingung. Ia pun berjalan tanpa memikirkan ucapan penjaga sekolah itu lagi.

Saat di depan pintu ruang kepala sekolah, Hee Young mengatur detak jantungnya yang berdetak cepat karena gugup. Di ketuknya pintu itu lalu masuk setelah di suruh masuk oleh orang yang ada di dalam. Ia melangkah pelan ke dalam ruangan besar itu.

Hee Young tidak bisa melihat wajah kepala sekolah itu karena kepala sekolah kini sedang memunggunginya sambil duduk, menatap keluar jendela. Ia hanya bisa menatap kursi kepala sekolah.

“Kau Jin Hee Young.” Ucap kepala sekolah itu.

“N ne, saya Jin Hee Young. Terima kasih atas paketnya kemarin, pak.” Ucap Hee Young gugup.

“Akhirnya kau datang juga. Aku sudah tidak sabar menyambutmu di sekolah ini. Selamat datang nona Hee Young.” Ucap kepala sekolah itu sambil berbalik. Sontak Hee Young membelalakan matanya saat melihat kepala sekolah untuk yang pertama kalinya.

“Tukang pos kemarin sore.” Gumam Hee Young pelan. Kepala sekolah itu tersenyum padanya.

“Kenalkan, aku kepala sekolah SMA Dong Bang Seung Ho. Kau tak usah kaget begitu, kemarin itu aku menyamar karena penasaran dengan muridku yang spesial ini. Kuharap kau bisa beradaptasi di sekolah ini. Ayo kuantar kau ke kelasmu. Kuharap kau sudah membaca peraturan sekolah yang kemarin kuberikan.” Ucap kepala sekolah itu lalu berdiri dan menghampiri Hee Young.

“Ne, saya sudah membaca semua peraturan sekolahnya.”

Keduanya pergi meninggalkan kantor kepala sekolah. Hee Young mengikuti kepala sekolah itu dari belakang. Ia menatap bingung kepala sekolah itu. Untuk ukuran kepala sekolah menurutnya sangat muda. Dalam bayangannya sebelum bertemu, kepala sekolah itu tua, gendut dan berkacamata tebal dengan wajah yang selalu serius.

“Ma maaf pak. Bolehkah saya bertanya sesuatu?” Ucap Hee Young.

“Tanya apa?”

“Benarkah bapak kepala sekolah di sini?” Tanya Hee Young polos. Sontak kepala sekolah itu berbalik menatapnya lalu terkekeh.

“Memangnya kenapa?”

“Mmmm…” Hee Young enggan menjawabnya.

“Jawab saja. Aku tak akan marah.” Ucap kepala sekolah Seung Ho.

“Mmmm biasanya kepala sekolah itu tua, gendut dan selalu berwajah serius. Jarang sekali kepala sekolah yang berusaha akrab dengan murid-murid sekolahnya. Apa lagi kalau melihat dandanan bapak yang tidak seperti kepala sekolah, saya rasa akan banyak orang tertipu di luar sana.” Jawab Hee Young jujur.

Seung Ho tertawa mendengar jawaban Hee Young yang sangat jujur. Ia merasa tak salah memilih Hee Young untuk masuk ke sekolah miliknya itu. Ia mengelus rambut murid barunya itu dengan lembut.

“Aku berbeda dengan kepala sekolah kebanyakan. Sepertinya tak salah aku menerimamu di sini.” Ucap Seung Ho.

Tak lama Hee Young dan kepala sekolah Seung Ho sampai di depan kelas. Hee Young sangat gugup.

“Ah iya hampir lupa. Kau harus bersabar dengan semua murid di sekolah ini ya? Mereka senang sekali bermain dengan anak baru. Dan ingat jangan sampai tertipu dengan mereka. Hafalkanlah ciri-ciri mereka semua.” Ucap kepala sekolah itu sambil tersenyum.

Hee Young menatap bingung kepala sekolahnya yang masuk ke dalam kelas.

Setelah di melihat kepala sekolah berbicara dengan guru yang ada di dalam kelas. Hee Young masuk ke kelasnya dengan gugup. Kepala sekolah memperkenalkannya pada semua murid.

“Annyeonghaseo Jin Hee Young imnida.” Ucap Hee Young sopan.

“Bapak harap kalian bisa berteman baik dengannya dan jangan melakukan hal yang tidak-tidak. Ingat hukuman yang akan kalian terima jika melanggar aturan sekolah.” Hee Young menatap kepala sekolah itu dengan wajah bingung. Sikap kepala sekolah itu berbeda sekali saat mengobrol dengannya tadi.

“Nah nona Hee Young ini kelasmu dan bapak harap kau betah di kelas ini.” Ucap kepala sekolah.

“Ne. terima kasih, pak.” Ucap Hee Young. Tak lama kepala sekolah Seung Ho itu keluar kelas.

“Hee Young, kau bisa duduk di tempat yang kosong di sebelah sana.” Ucap guru itu sambil menunjukkan sebuah meja kosong yang berada paling belakang.

Hee Young merasa risih karena semua murid di kelas selalu menatapnya. Tatapan seperti tidak suka padanya. Ia berusaha mengabaikannya dan fokus pada pelajaran yang di berikan guru.

Bel berbunyi sontak semua murid berhamburan keluar tanpa menunggu guru mereka keluar terlebih dahulu. Hee Young sedikit bingung dengan sikap murid-murid yang menurutnya tidak sopan itu. Ia berdiri lalu menghampiri songsaengnimnya.

“Maaf, Lee songsaengnim. Apakah ada waktu sebentar?” Tanya Hee Young sopan.

“Ne, ada apa?”

“Saya ingin menanyakan materi yang tadi Lee songsaengnim berikan. Ada bagian yang saya tidak mengerti. Maukah songsaengnim menjelaskannya lagi? Maaf kalau saya menyita waktu songsaengnim.” Ucap Hee Young tidak enak.

“Kau mengikuti materi yang kuberikan tadi?” Tanya Lee songsaengnim.

“Ne, tentu saja. Bukankah kalau songsaengnim mengajar, murid-muridnya harus memperhatikan apa yang di ajarkan? Songsaengnim mengajar agar muridnya mengerti dengan materi yang ada dan membuat muridnya menjadi pintar bukan?” Ucap Hee Young jujur. Ia menatap Lee songsaengnim sedikit  bingung.

“Baiklah. Yang mana?” Hee Young tersenyum senang lalu menanyakan bagian yang tidak ia mengerti.

Lee songsaengnim itu senang karena ada murid yang memperhatikan materi yang ia berikan. Selama ini semua murid tidak ada yang pernah memperhatikan materi yang ia berikan.

“Bagaimana? Sudah mengerti?” Tanya Lee songsaengnim setelah menjelaskannya lagi.

“Ah ne. sekarang saya mengerti. Khamsahamnida songsaengnim.” Ucap Hee Young.

“Baru kali ini ada murid sepertimu. Selain ramah juga sopan. Sepertinya kepala sekolah Seung Ho tidak salah menerimamu.” Puji Lee songsaengnim. Hee Young tersenyum malu.

“Khamsahamnida.” Tak lama Lee songsaengnim pun keluar dari kelasnya.

Hee Young keluar kelas dengan bingung akan kemana. Ia tidak hafal dengan sekolah barunya itu. Ia memutuskan berjalan untuk berkeliling.

“Luas sekali. Kurasa aku tidak akan bisa menghafalnya dengan cepat.” Ucap Hee Young sambil berjalan.

Tak lama saat berjalan ia melihat kepala sekolah Seung Ho. Kepala sekolah menghampirinya sambil tersenyum.

“Bagaimana tadi di kelas? Sedang apa kau sendirian jalan di lorong seperti ini?” Tanya Kepala sekolah.

“Di kelas baik-baik saja, pak tapi saya belum mendapat teman. Saya bingung harus kemana karena saya belum hafal sekolah ini.” Jawab Hee Young. Ia melihat kepala sekolah mengangguk lalu memanggil seorang murid

 “Kim Jae Joon kemari.” Panggil kepala sekolah. Sontak muridnya itu berhenti lalu menghampirinya.

“Saya Kim Jae Joong, pak. Tolong ingat Kim Jae Joong.” Ucap namja bernama Kim Jae Joong itu. Hee Young menatap namja itu tak percaya.

‘Berani sekali pada kepala sekolah.’ Batinnya.

“Ah iya maafkan bapak. Sifatmu tak berubah. Tolong antar murid baru ini berkeliling sekolah. Jelaskan padanya segala sesuatu tentang sekolah ini. Dan kau harus membuatnya hafal dengan sekolah ini. Kalau bapak mendengar nanti dia tersesat, kau akan bapak hukum.” Ucap Seung Ho.

“Kenapa harus aku?” Tanya Jaejoong tak suka dengan perintah kepala sekolah.

“Karena kau sunbaenya.” Jawab Kepala sekolah Seung Ho singkat. Jaejoong hanya mendesah kesal.

“Nah nona Hee Young sekarang kau bisa berkeliling dengan sunbae-mu Kim Jaejoong. Dia akan menjelaskan tentang sekolah ini padamu.” Ucap Kepala sekolah pada Hee Young sambil tersenyum. Hee Young sedikit geli melihat tingkah kepala sekolah yang sangat perhatian padanya. Kepela sekolah itu mengelus rambutnya dengan lembut lalu pergi meninggalkannya dengan Jaejoong.

“Apa benar dia itu kepala sekolah ya?” Gumamnya pelan.

“Ayo.” Ucap Jaejoong. Ia berjalan meninggalkan Hee Young. Ia merasakan kalau yeoja itu berlari menyusulnya.

“Sunbae, kita akan kemana dulu?” Tanya yeoja itu.

“Tidak usah bawel. Ikuti aku saja.” Ucap Jaejoong galak membuat Hee Young terdiam.

“Ne. Maaf aku mengganggu waktu sunbae.”

Jaejoong terus berjalan tanpa peduli dengan yeoja itu. Saat melihat ruang untuk para staff  sekolah, ia masuk dan meminta buku yang ia perlukan. Setelah mendapatkannya ia keluar ruangan lalu memberikannya pada yeoja itu.

“Di dalamnya ada peta sekolah ini. Kau hafalkanlah dari situ. Aku hanya akan menjelaskan dan mengajakmu berkeliling satu kali. Ayo.” Ucapnya lalu kembali berjalan. Sesekali ia melirik yeoja yang kini berdiri di sampingnya, yeoja itu seperti sedang menghafalkan peta sekolah.

Tak lama ia berhenti melangkah tapi yeoja itu tanpa sadar terus berjalan.

“Ya!” Teriaknya. Sontak yeoja itu berhenti dan mencarinya, saat melihatnya yeoja itu berlari ke arahnya.

“Mianhae.” Ucap yeoja itu. Jaejoong menghela nafas lalu menjelaskan tentang ruangan di seberangnya dengan singkat. Lalu kembali berjalan, Jaejoong benar-benar menjelaskan secara singkat ruangan yang di lewatinya.

“Ini ruang olah raga. Yang disebelahnya ruang peralatan olah raga. Pintu itu tangga darurat. Lantai di bawah itu ruang khusus kelas 3,di bawahnya ruang khusus kelas 2 dan di bawahnya kelas 1. Lantai atas ruang music, ruang lab, dan ruang praktek memasak untuk putri. Lantai ini khusus untuk olah raga. Tepat di bawah lantai ini ruang khusus untuk kepala sekolah, guru, staff sekolah dan perpustakaan. dan gedung yang terpisah itu ruang serba guna, biasa di pakai untuk pertunjukan seni. Gedung yang satunya rumah kaca. Kantin ada tepat di ujung ruang khusus kelas 1.” Ucap Jaejoong cepat. Hee Young sedikit kesulitan mengikuti apa yang di jelaskan Jaejoong karena sangat cepat.

Jaejoong pergi meninggalkan Hee Young karena merasa sudah menjelaskan semuanya. Tapi Hee Young terus mengikuti Jaejoong karena ia berpikir kalau sunbaenya itu akan menjelaskan hal lain padanya.

Ia melihat ada beberapa murid yang lewat. Ia bingung karena saat satu orang berjalan melewatinya beberapa menit kemudian murid dengan wajah yang sama melewatinya lagi.

“Apa aku bermimpi ya?” Gumamnya pelan. Tak lama ia menyadari kalau ia masih memegang dua buku yang di berkan Jaejoong sunbae tadi. Di hampirinya sunbaenya itu.

“Sunbae …” Ucapannya terpotong oleh teriakan seseorang yang memanggil Jaejoong. Reflek Hee Young pun melihat ke sumber suara. Ia membelalakan matanya saat melihat orang dengan wajah yang sama seperti Jaejoong sunbae tengah melangkah mendekat. Ia menatap namja itu dan Jaejoong sunbaenya berulang kali.

“Ya! Ada apa? Kenapa masih di sini? Penjelasanku sudah selesai. Sana pergi.” Ucap Jaejoong kasar.

“Ah i ini sunbae. Buku yang sunbae berikan tadi. Aku akan menyimpannya satu. Gumawo.” Ucap Hee Young.

“Yang satu itu untuk kembaranmu.” Ucap Jaejoong datar. Hee Young menatap Jaejoong sunbae bingung.

“Kembaranku? Aku tidak punya kembaran, sunbae.” Ucap Hee Young polos. Sontak Jaejoong dan kembarannya Jae Joon saling bertatapan lalu menatap Hee Young tak percaya.

“Kau jangan bercanda. Kau pasti punya kembaran kan?” Tanya Jaejoon. Hee Young menggelengkan kepalanya tanda kalau ia tidak sedang bercanda.

“Sekarang sepertinya aku mengerti kenapa saat berjalan tadi banyak sekali orang berwajah mirip. Sepertinya mereka juga kembar seperti sunbae. Sekolah ini sepertinya banyak murid kembarnya ya. Pasti songsaengnim sulit membedakannya.” Ucap Hee Young polos tak menyadari tatapan terkejut dari kedua sunbaenya.

“Ah maaf mengganggu. Ini bukunya sunbae. Gumawo sudah menjelaskanku tentang ruangan-ruangan di sekolah ini. Permisi.” Ucap Hee Young sambil memberikan buku lalu pergi tanpa menyadari tatapan aneh dan tidak suka dari seluruh murid yang ia lewati. Murid yang mendengar dengan jelas kalau ia bukanlah anak kembar.

“Apa dia bodoh?.” Batin Jaejoong.

“Ya! Ada perlu apa?” Tanya Jaejoong pada saudaranya. Jaejoon menatapnya sambil tersenyum.

“Yang lain menunggu di kantin. Katanya mereka akan membicarakan tentang anak baru dan sepertinya anak itu anak yang tadi bersamamu. Kurasa mereka akan menjahili anak itu. Ayo kita kesana.” Ajak Jae joon. Jaejoong melangkah malas ke arah kantin bersama saudaranya.

Di kantin Jaejoong dan Jaejoon berkumpul dengan teman-temannya. Mereka membicarakan tentang murid baru yang tidak mempunyai saudara kembar itu. Mereka berencana untuk menjahili yeoja itu dan menyuruh semua murid untuk ikut menjahili Hee Young.

Jaejoong memberikan idenya untuk menjahili yeoja itu. Ia sudah tak sabar menunggu besok, ingin tahu seperti apa reaksi yeoja yang menurutnya bodoh itu.

Sementara itu Hee Young kini berada di perpustakaan sekolah, ia melihat-lihat dengan kagum isi buku dan desain perpustakaan itu. Ia mengambil salah satu buku yang menurutnya menarik lalu membacanya di salah satu sudut meja. Membacanya seorang diri.

“Asik sekali membacanya.” Hee Young mendongakan kepalanya saat mendengar suara. Ia menghela nafas saat melihat ternyata kepala sekolahnya. Di lihatnya kepala sekolah membawa sebuah buku yang cukup tebal.

“Kau suka membaca buku seperti itu?” Tanya kepala sekolah Seung Ho pelan.

“Tidak juga, Pak. Hanya saja sepertinya buku ini menarik jadi kubaca.” Jawab Hee Young.

“Ah begitu. Silahkan lanjutkan membacanya.” Ucap Kepala sekolah. Hee Young pun mengangguk lalu kembali membaca sampai bel istirahat selesai. Setelah mendengar bel Hee Young bergegas menaruh buku yang ia baca di tempat asal lalu berpamitan pada kepala sekolah.

Hee Young berlari menuju kelasnya tanpa melihat sekeliling. Saat hampir sampai tiba-tiba ia menabrak seorang namja hingga terjatuh. Hee Young segera bangun dan membantu namja itu. ia kaget saat melihat namja yang ia tabrak.

“Mianhae Jaejoong sunbae. Aku tadi buru-buru.” Ucapnya sambil membungkukkan badan.

“Aku saudara kembarnya, Jaejoon.  Kau salah orang.” Ucap Jaejoon.

“Ah mianhae sunbae. Aku belum bisa membedakan kalian.” Ucap Hee Young malu.

“Tidak apa-apa. Bukankah tadi kau bilang sedang terburu-buru?” Tanya Jaejoon. Hee Young membelalakan matanya.

“Ah iya masuk kelas. Permisi Jaejoon sunbae.” Ucap Hee Young lalu kembali bergegas ke kelasnya.

—-

Pulang sekolah Hee Young berjalan seorang diri keluar gedung sekolahnya. Semua teman sekelasnya sudah pulang dengan mobil jemputan masing-masing. Saat sedang berjalan ia melihat di depannya ada Jaejoong sunbae berjalan seorang diri sambil menggendong tas ranselnya. Hee Young melihat sunbaenya itu menjatuhkan sebuah buku dan sunbae itu tak menyadarinya. Reflek Hee Young mengambil buku itu, ia melihat sebuah lukisan indah di dalamnya. Ketika hendak memanggil sunbae itu, ia teringat kejadian tadi yang ia salah mengira kalau Jaejoon itu Jaejoong sunbae.

“Hafalkanlah ciri-ciri mereka semua.”

Ia teringat kata-kata kepala sekolah tadi pagi. Hee Young pun memejamkan matanya dan berusaha mengingat apa yang menjadi ciri khas mereka. Ia yakin walaupun mereka kembar identik tapi pasti ada sesuatu hal yang membedakan mereka.

Hee Young membuka matanya sambil tersenyum. Kini ia sudah tahu apa yang menjadi ciri khas mereka. Entah benar atau tidak tapi ia akan mencobanya dulu.

“Jaejoong sunbae.” Panggilnya. Hee Young tersenyum lebar saat melihat namja itu berbalik dan menatapnya kesal. Ia menghampiri namja itu.

“Ada apa? Jangan suka menggangguku.” Ucap namja itu.

“Jaejoong sunbae kan?” Tanyanya.

“Menurutmu?” Tanya sunbae itu padanya.

“Kalau menurutku sunbae itu Jaejoong sunbae bukan Jaejoon sunbae. Ah ini, tadi terjatuh.” Hee Young memberikan buku itu pada pemiliknya. Ia tersenyum melihat Jaejoong sunbaenya itu terdiam.

‘Sepertinya tebakanku benar.’ Batin Hee Young.

“Kalau begitu saya permisi, sunbae.” Ucap Hee Young sopan lalu berjalan pergi meninggalkan sunbaenya itu. Ia berjalan pulang dengan tersenyum.

Jaejoong menatap punggung yeoja yang pergi meninggalkannya. Hoobae yang baru saja ia kenal itu membuatnya terdiam.

“Bagaimana dia bisa tahu aku Jaejoong?” Gumamnya pelan. Tak lama Jaejoong menaruh bukunya di dalam tas dan kembali berjalan meninggalkan gedung sekolahnya. Ia memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Ia ingin berjalan-jalan sebentar.

Saat sampai di tempat yang ingin di datangi Jaejoong langsung masuk ke dalam. Ia melihat-lihat barang-barang yang ingin ia beli lalu setelah mendapatkannya ia membayarnya.

Jaejoong melangkah keluar dari toko dan kembali berjalan santai sambil melihat-lihat ke sekeliling mall. Langkahnya tak lama terhenti saat melihat hoobaenya yang akan ia jahili besok di sekolah. Yeoja itu kini tengah duduk di kursi panjang yang ada di mall. Yeoja itu melihat ke sekeliling lalu kembali melihat ke sebuah kertas yang di pegangnya.

‘Kenapa dia? Ah apa peduliku?’ Batin Jaejoong lalu kembali melangkah berjalan-jalan seorang diri.

“Harus cari pekerjaan paruh waktu di mana ya?” Gumam Hee Young saat Jaejoong berjalan melewatinya. Ia tak menyadari kalau sunbaenya itu melewatinya karena ia fokus membaca selebaran tentang lowongan pekerjaan paruh waktu. Semua lowongan yang ada tidak cocok dengannya karena pekerjaan itu saat ia sekolah.

“Di mall ini tidak bisa. Hmmm kucari di luar saja. Siapa tau ada toko yang menerimaku bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah.” Ucap Hee Young sambil tersenyum. Ia berdiri lalu berjalan keluar mall.

Hee Young berniat bekerja karena ingin membantu orang tuanya dan juga ingin mengumpulkan uang untuk membeli hadiah di hari ulang tahun Ji Young bulan depan.

Berjam-jam dan sudah beberapa toko Hee Young datangi untuk mencari pekerjaan paruh waktu tapi sayangnya tak ada satu pun yang menerimanya. Ia pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah sangat sore.

Sampai di rumah Hee Young langsung ke kamarnya dan mandi. Setelah itu ia berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit.

 

***

 

Di hari kedua Hee Young sekolah di SMA DongBang ia berangkat seperti biasa hanya saja ia tak menyadari kalau hari ini ia akan mulai di jahili oleh seluruh murid sekolah. Sampai di kelas ia menaruh tasnya lalu duduk dan menatap keluar jendela. Ia merasa sangat beruntung mendapatkan tempat paling belakang dan dekat dengan jendela yang bisa melihat pemandangan di luar gedung sekolah.

Saat pelajaran berlangsung ia mengikuti semua materi yang di berikan dengan lancar tanpa hambatan. Tapi saat waktunya istirahat dan ia akan berdiri ia tidak bisa karena Hee Young baru menyadari kalau roknya menempel pada bangkunya. Ada seseorang yang dengan sengaja mengelem bangkunya hingga kini ia kesulitan untuk berdiri.

“Aish siapa yang jahil seperti ini? Ini benar-benar tidak lucu dan bodohnya aku baru menyadarinya sekarang.” Ucap Hee Young kesal.

Tak lama ia teringat kalau hari ini ada pelajaran olahraga dan ia membawa pakaian olahraga itu di dalam tasnya. Dengan cepat ia membuka isi tasnya dan mengeluarkan pakaian olahraga itu. Hee Young  melihat kesekelilingnya tidak ada siapa-siapa ia pun melepas sepatunya dan memakai celana olah raga itu dengan cepat. Ia sempat kesulitan memakainya tapi ia nekat merobek roknya dan dengan secepat kilat memakai celana olahraga itu.

“Semoga tak ada yang melihatku tadi.” Ucapnya sambil melihat kesekeliling,

“Siapa ya yang jahil seperti ini? Ah menyebalkan. Bagaimana dengan rokku ya? Harus kubeli di mana? Apa kutanyakan saja pada kepala sekolah ya?” Gumam Hee Young sambil menghela nafas. Ia mengambil baju olahraganya dan menggantinya.

Selesai mengganti pakaiannya dengan seragam olahraga Hee Young berjalan menuju kantin sekolah. Ia mengantri untuk membeli makanan dengan di tatap aneh oleh seluruh murid yang ada di sana. Hee Young sebenarnya malu karena hanya ia yang memakai seragam olahraga tapi ia berusaha untuk tidak mempedulikan tatapan aneh itu.

Setelah membeli makanan dan minuman Hee Young melihat tempat duduk di kantin sudah penuh. Ia pun memutuskan untuk pergi keluar. Ia terjatuh saat akan berjalan keluar kantin, ia yakin tadi ada yang mendorongnya. Minumannya terjatuh dan roti yang ia beli pun jatuh dan sudah terinjak orang. Hee Young menghela nafas pelan lalu memunguti makanan dan minumannya itu dan membuangnya ke tempat sampah.

Kembali Hee Young mengantri untuk membeli makanan dan minuman. Ia berusaha bersikap biasa saja. Saat gilirannya memesan ia memesan 3 roti dan 3 minuman kaleng yang tersisa lalu membayarnya.

“Yah roti dan minuman yang kita suka sudah habis. Bagaimana?” Hee Young mendengar keluhan dari seorang namja di belakangnya.

“Ya sudah mau bagaimana lagi, pesan saja yang lain.”

“Tidak mau. Kau saja.” Ucap namja yang mengeluh tadi. Hee Young menatap kebelakang dan melihat ada dua namja yang merupakan sunbaenimnya. Ia tahu kalau itu sunbaenya dari salah satu atribut sekolah yang menandakan setiap tingkatkan kelas.

Hee Young  melihat salah satu dari kedua namja itu tengah sibuk memilih makanan mana yang akan di beli tapi salah satunya menatapnya. Lebih tepatnya menatap makanan dan minuman yang sudah ia beli tadi.

Reflek Hee Young menatap bungkusan makanan yang ia beli tadi lalu mengambil satu roti dan satu minuman dan menghampiri kedua namja itu. Hee Young memberikan bungkusan itu pada namja yang sejak tadi menatap makanannya. Namja itu menatapnya bingung.

“Apa sunbae tadi mau membeli roti dan minuman ini? Ini untuk sunbaenim.” Ucap Hee Young.

“Benarkah? Kau mau memberikan ini untukku?” Tanya namja itu dengan wajah senang membuat Hee Young tersenyum geli.

“Bukan untukmu tapi untuk kita berdua.” Sela teman namja itu.

“Anni dia memberikannya padaku jadi semuanya untukku.” Ucap namja itu sambil mengamankan bungkusan makanan yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya. Hee Young melihat teman namja itu menggerutu kesal. Reflek ia memberikan roti dan minuman yang tersisa di tangannya pada namja itu. Namja itu menatapnya.

“Untuk sunbae. Sepertinya sunbae juga sangat menyukai roti dan minuman ini sama seperti mmm…”

“Changmin, namaku Shim Changmin.” Ucap namja itu sambil tetap memegang bungkusan makanan yang Hee Young berikan.

“Ah ne Changmin sunbae. Ini untuk emmm…” Ucap Hee Young.

“Kim Junsu panggil saja Junsu. Gumawo.” Ucap namja bernama Junsu itu. Hee Young mengangguk lalu kembali berjalan untuk mengantri tapi langkahnya terhenti karena seseorang menahan tangannya. Ia melihat Changmin sunbae menahannya.

“Ne?”

“Mau kemana?”

“Kembali mengantri.” Jawab Hee Young.

“Aish ck tidak usah beli sekarang saja di sini. Kulihat kau sudah dua kali mengantri sejak tadi.” Ucap Changmin.

“Tapi bagaimana dengan yang sedang mengantri di belakang itu sunbae? Aku tidak enak dengan mereka.” Tolak Hee Young halus.

“Tidak apa. Ayo cepat.” Suruh Changmin.

“Ah ne. gumawo.” Hee Young pun membeli lagi makanan dan minuman. Saat ia akan membayarnya ia melihat Changmin dan Junsu sunbae melarangnya dan meminta mereka saja yang membayarnya tapi Hee Young menolak halus.

Setelah membayarnya Hee Young membungkukkan kepalanya sopan pada kedua sunbaenya lalu keluar dari kantin. Ia pergi ke taman sekolah untuk memakan makanannya.

“Baik sekali yeoja itu.” Ucap Changmin. Junsu melirik Changmin.

“Kau selalu mengatakan itu pada semua yeoja yang memberikanmu makanan.” Ucap Junsu lalu duduk di meja biasanya. Changmin mengikutinya dengan wajah kesal karena ucapan Junsu.

Keduanya menatap teman-teman yang menatap mereka dengan tajam. Changmin dan Junsu saling bertatapan bingung.

“Kenapa?” Tanya Junsu polos.

“Kenapa kalian berbicara dengan yeoja itu? Dia kan sasaran kita. Kalian lupa dengan pembicaraan kita kemarin?” Tanya Yunho tidak suka.

“Tapi dia baik kok.” Jawab Changmin sambil makan roti. Junsu pun mengangguk setuju.

“Dan dia juga sopan sekali. Aku tidak tega melihatnya tadi saat terjatuh. Apa sebaiknya aku mundur saja ya?” Ucap Junsu. Ia kembali mendapatkan tatapan tidak suka dari semua temannya kecuali Changmin dan saudara kembarnya Changsoo.

“Berhenti makan seperti orang kelaparan. Nanti tersedak.” Ucap Changsoo pada Changmin. Reflek Changmin mengangguk.

“Jangan menatapku seperti itu. Baiklah aku tidak akan mundur. Ya! Kim Junho kenapa diam saja saudaramu di tatap seperti itu? Kenapa tidak membelaku?” Junsu menatap kesal saudara kembarnya Junho.

“Kau tidak di sakiti kan? Kalau mereka berani menyakitimu baru aku akan membunuh mereka satu per satu dengan sadis.” Ucap Junho santai sambil terus berkutat dengan minumannya. Yuchun dan yang lainnya langsung bergidik ngeri termasuk Changmin dan Changsoo setelah mendengar perkataan Junho. Junsu tersenyum senang mendengar perkataan Junho yang ia rasa membelanya.

‘Kurasa di antara sepuluh orang di sini yang mempunyai sifat evil ada tiga orang.’ Batin Jaejoong sambil melirik Junho, Changmin dan saudaranya sendiri Jaejoon.

Tak lama Jaejoong berdiri hendak pergi.

“Mau kemana?” Tanya Yuhwan saudara Yuchun saat melihat Jaejoong berdiri.

“Pergi.” Jawab Jaejoong singkat lalu berjalan meninggalkan semua temannya dan saudaranya.

“Iya pergi tapi kemana? Dasar! Kenapa dia selalu seperti itu sih?” Ucap Yunho  kesal melihat tingkah Jaejoong yang menurutnya terkadang aneh. Yunhyun yang merupakan saudara kembar Yunho menatap saudaranya itu datar.

“Itu memang sifatnya. Kau ini sudah mengenalnya berapa lama sih? Sejak SMP kan? Tapi kenapa kau masih saja menanyakan tentang sifatnya itu? Dasar bodoh! Lebih baik aku juga pergi.” Ucap Yunhyun sambil berdiri dan pergi ke perpustakaan meninggalkan Yunho yang tengah bergumam kesal karena ucapannya.

“Hei kalian. Aku tidak bodoh kan?” Tanya Yunho pada teman-temannya.

“Menurutku kalau tentang ingatan kau memang sangat bodoh. Ah bukan tapi lebih tepatnya payah. Kita semua kan sudah saling kenal sejak SMP tapi kau masih menanyakan tentang sifat Jaejoong itu. Dia kan memang selalu seperti itu, galak dan kasar tapi sebenarnya ia pendiam dan tertutup.” Ucap Junho pada Yunho dengan wajah serius. Yuchun dan yang lainnya mengangguk setuju dengan apa yang di ucapkan Junho. Yunho yang mendengarnya langsung memanyunkan bibirnya kesal.

“Kalian menyebalkan. Aku kan bukan tidak tahu tapi lupa.” Ucap Yunho membela diri. Mendengar itu sontak membuat Changmin, Changsoo dan yang lainnya berhamburan pergi meninggalkan Yunho seorang diri.

“Ya!! Kenapa kalian meninggalkanku.” Teriak Yunho. Teriakannya itu tidak di gubris oleh teman-temannya.

Sementara itu Jaejoong kini berjalan menaiki tangga sekolah menuju atap sekolah yang sering ia datangi seorang diri. Ia melihat ke sekeliling sepi seperti biasa. Jaejoong duduk dan memulai kegiatannya seperti biasa. Melukis. Diam-diam ia memang senang melukis. Tak ada satu orang pun yang tahu tentang salah satu hobinya itu.

Saat Jaejoong sedang santai melukis tiba-tiba ia mendengar suara yang cukup membuatnya terganggu. Ia berdiri dan mencari asal suara itu. Jaejoong melihat seorang tengah berteriak kesal, orang itu berada di taman sekolah yang sepi. Jaejoong terus menatap orang itu dari atap sekolah. 

TBC

A/N : klo di baca lagi kok kayak BBF ya? =_= tapi yang jelas ini bukan kayak BBF ceritanya.

Author akan memposting Part 2 kalau komen sudah lebih dari 15 ya. kalo ga ya FF-nya akan author musiumkan ^_^

28 thoughts on “Twins Part 1

  1. sekolah yg aneh ckckck.. Misterius. Masih penuh dgn teka teki..
    Kira2 hee young bakalan dijailin gmana ya sma yg lain..
    Bagus ceritanya. Lanjut yaa~ jangan lama2😀 ditunggu^^

  2. keren bgt lho eon ffnya.. makin seru ini malah klo kembar gini.. klo kyk bbf sih engga, kan bbf gak kmbar gini😀 klo ntar misal commentnya gak ampe 15, tp reader pgn yg part 2 gmn? kalo aku pgn bgt gmn yg part2? emg udh jd y eon part 2 nya?

  3. Midori-chan berkata:

    aku reader bru, slam knal

    keren chingu crita’a
    sekolah’a unik cma anak kembar yg bsa msuk
    penasaran ma jaejoong’a yg ketus gtu, kesan’a jd smakin keren hehehe
    d tunggu bgt kelanjutannya

  4. Onni, ni ff tu kan?
    Akhh wlpun aqu udh bca tpi aqu ttp seneng bca tuk yg ke2xnya😄
    Aqu suka adegan min ngliatin makanaun yg dipgang heeyoung,min lucu bgt😄
    Msh pnasaran alsan sbnernya heeyong di trma di sma dongbang
    Apa jng2 heeyoung sbnernya punya sdra kmbar jga? *ngaco
    Tpi onnie, wlpun ga 15 komen ttp dilnjutinnya, nti kn ada yg di protec biar pra SR kelabakan mnta pw krna ga prnah komen *evil.smirk*
    Ditunggu lnjutannya onnie🙂

  5. biel berkata:

    wuah yg disekolah itu kembar smua?
    Seru ffnya,ngebayangin dbsk punya kembaran walapun aslinya cuma junsu aja
    Si heeyoung kok bisa diterima ya disana?dia kan ga kmbar
    Apa alesan kpala skolahnya sampai terima heeyoung?
    Jejung akan ada hbungan khusus ga sama heeyoung?sepertinya dia tertarik sama heeyoung
    Ditunggu lanjutannya🙂

  6. Cassieelf berkata:

    annyeong author
    ff kamu bagus, critanya unik baru pertama kli bca crita sperti ini hehehhe
    aqu pnasaran si heeyoung akan di jahilin sperti apa di skolah itu?
    apa nanti heeyoung akn ditolong sama jejung?
    alasan kapsek nrima heeyoung itu jga bkin penasaran loh
    ditunggu next chapternya🙂

  7. onnie,ni minhae adenya sofi onnie hehehe aqu ganti akun wp,soalnya aqu lupa pw akunqu yg lama XP
    aqu baru baca ff ini seru onnie, apalagi disini min lucu bgt ngliatin mkanannya heeyoung
    herann sgt heran knp yg ga punya kembaran kaya heeyoung diterima?bknkah itu aneh?yg lain kembar smua tp heeyoung sndri yg ga kembar
    aqu ketawa sndiri ngebayangin min punya kembaran,aqu mau mreka ber2 kalu itu beneran kyaaaaaa min :*
    onnie next part cepetan ya🙂 skalian ff my boy juga,aqu sama kaka juga nungguin lama banget updatenya!
    jangan lama update ya onnie🙂

  8. uwaah da ff baru🙂

    ni ff yg prnh eon ceritain tu ya? Akhirny d publish jg…
    ceritanya unik eon…kembar smua, coz mereka kembar identik psti ngebedaainny susah bgt, keren…keren. Jin Hee Young beruntung bgt wlopun ga punya saudara kembar v bisa d terima d sekolah Dongbang, ada apakah gerangan?

  9. mel_vina berkata:

    Min ini smw muridny kembar ya? Tp kok hee young bisa di terima ya pdhl kn dy gk kembar???

    Ditunggu ya kelanjutanny…

    Lam knl ya min, q reader bru… ^^

  10. kasian hee young y dijailin gt oadahal dia ngak salah apa2…..
    n satu sekolah kembar semua pasti hee young pusing bgt tuh hehehhe….
    JJ jutek bgt sih ma hee young,,,, seru lanjut….

  11. putrimays berkata:

    ah nnti jaejong suka sama heeyoung tapi nnti heeyoung sukanya ama jaejoon.. keder dah tuh. hahahaha

    lanjut ya eonni..

  12. annyeong eun ri eonnie^^
    mianhae,baru bisa koment T.T
    padahal aku udah baca part ini sebelumnya!
    tapi tetap aja enak bacanya….gegara semuanya twins sih,jadi lucu ngebayangin😀

  13. Rajaejoongie berkata:

    annyeong…^^
    gak sengaja nih nemu ff ini,,tdi nya bca dri part 4 krna gk geh dn cerita nya seru,lngsng deh cari part 1 nya,hehe..
    hhuuaa..kesian ne hea young akn di bully sama Oppadeul semua..T.T
    seperti nya orng yg baik di sini,junsu changmin&jaejoong,mskpn jaejoong orng nya agak dingin..
    next chap..

  14. yeonhwa berkata:

    annyeong..
    bagus bgt..^^ , lucu ngebayangin semua anak di sekolah DongBang kembar identik , pasti susah bgt ngapalinnya😄
    saya mau lanjut next chap😀

  15. emi berkata:

    Aq: Dri awal bca chap 1 udh bsa nebak ….ini skolah pasti musterius…
    Author: ya iya lh kn udh ada tulisan’y….”klo itu skolah misterius….
    Aq :klo kmbar smua hrs bsa bedain lwt ciri fisik…
    Author…gue jga udh nulissss…nee satu reders bkn gue darah tinggi sh….
    Aq :gpp thor skli” kna drh tinggi .. klo drh rendh obat’y mahal…hrs mkn sate kambing.hehehege…
    Abaikn…jdi pnasarnma chap selnjt’y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s