Love Sick Chapter 2


Tittle         : Love Sick

Genre        : AU/ Angst, Family, Romance

Rating       : NC/17

Lenght       : 2 of ??

Main Cast  : Park Yoochun, Kim Jaejoong, Park Yoon Rie & Park So Jin (Girls day)

Other Cast : Jung Yunho as Jaejoong’s brother, Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Jun Mi, Shim Min Ah and others

Author       : Satsukisorayuki

Disclaimer : The fanfic is mine (Plot is my own). Inspirasi author dapat dari lagu-lagu, dan realita kehidupan manusia.

A/n : Fanfic ini menceritakan tentang perjalanan hidup manusia sekaligus cerita fiktif yang muncul dari otak sendiri yang author karang sedemikian rupa. Fanfic yang berisi tentang cinta, harapan, kasih sayang dan perjuangan hidup.

Happy Reading?! ^^

 

Chapter 2

=> Jaejoong’s POV

 
Aku melihat Yunho hyung yang sedang tertidur di sofa dengan mulut terbuka saat aku terbangun, lagi-lagi aku kembali ke tempat ini. Ya, aku sudah menduga sebelumnya kalau tidak mati saat itu juga aku pasti akan berakhir di tempat ini. Sebenarnya aku suka warna putih tapi entah kenapa belakangan ini aku bosan dengan warna itu, mungkin karena selama ini aku sudah terlalu sering melihat warna putih? Kurasa tidak lama lagi aku akan seperti Yoochun, membenci warna putih. Biarpun begitu aku jauh lebih benci dengan warna merah padahal selama ini aku sangat tergantung dengan warna ini, contohnya sekarang.. lagi-lagi cairan merah itu memasuki tubuhku.

 
Omo! Aku jadi teringat saat aku pertama kali bertemu dengan So Jin. Memalukan, penyakitku malah kambuh didepan seorang yeoja dan kurasa lagi-lagi aku kehilangan banyak darah?!

 
Ya sudahlah aku tak peduli, toh penyakit ini memang tak bisa aku sembunyikan dari siapapun. Kuperhatikan lagi sosok orang yang selalu membuatku cemas saat ia sedang tidur tetapi terkadang juga membuatku ingin tertawa.

 
“Hyung, kenapa kau selalu tertidur seperti itu? Bagaimana kalau ada lalat masuk? Tidak bisakah kau menghilangkan kebiasaan burukmu itu?”

 
Nyenyak sekali tidurnya, mungkin dia kelelahan? Baiklah aku tidak akan menganggumu, hyung!

 
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, pantas hyung sudah tidur. Di malam yang sunyi seperti ini aku selalu teringat padanya.. pada seorang yeoja yang sangat aku cintai dan pernah mengisi hari-hariku dengan canda tawa, duka, bahkan kebahagian dan rasa cinta.

 
Hari-hariku bersamanya bagaikan mimpi yang sangat indah, namun kini semua itu lenyap tak berbekas. Aku telah kehilangan dia, semua janji yang pernah kami buat bersama dan juga semua mimpi-mimpi indahku hilang sudah.

 
Hatiku terasa hancur setiap kali aku teringat pada Ji Eun noona. Aku merasa seluruh kebahagian dihatiku telah lenyap dan aku hanya bisa menangisi semua ini, melihatnya pergi saat itu aku benar-benar merasa hancur bahkan langit menjadi gelap berkelabu dan seakan menyelimuti hatiku dan mengubah seluruh hidupku.

 
God, mengapa semua menjadi begini? Perpisahan yang terjadi diantara aku dan noona membuatku masih belum bisa membuka hatiku untuk yeoja lain. Sudah kuputuskan aku akan selalu menanti sebuah keajaiban yang membuat aku dan noona bisa bersama kembali.

 
‘Kau harus mencari yeoja lain, Jae! Aku percaya kelak kita akan bersama lagi, keunddae mulai sekarang kau harus move on…terbanglah mencari cinta yang lain! Jae, walaupun sayap-sayapmu telah patah karena aku suatu saat kau pasti akan mendapatkan sayap yang baru dan jauh lebih indah! Pokoknya uri Joongie harus tetap bahagia walaupun tanpa aku, arra!’

 
Kata-kata noona waktu itu aku benar-benar tidak bisa melupakannya, bahkan saat itu noona tersenyum tulus. Noona, sampai saat ini aku masih belum bisa terbang karena bagiku noona tidak akan pernah terganti, karena noona telah berada dihatiku untuk selamanya, lagipula belum tentu ada yeoja lain yang mau berpacaran denganku, kan?

 
Noona kau adalah orang yang sangat berarti bagiku, kau telah mengubahku. Aku yang dulu sangat pesimis akhirnya bisa menjadi lebih optimis berkat noona. Aku yang tadinya selalu merasa bahwa hidup ini sangat kejam, pada akhirnya bisa menerima semua itu sebagai cobaan yang harus aku lalui agar aku menjadi lebih kuat, bahkan noonalah yang membuatku percaya bahwa keajaiban itu pasti akan datang suatu saat nanti, walaupun noona tidak mendapatkan keajaiban itu.

 
Noona, kau adalah orang pertama yang membuatku percaya diri, bahkan nasihat yang pernah Yunho hyung berikan padaku persis sekali dengan lirik lagu yang pernah noona nyanyikan, hingga akhirnya aku bisa ikhlas menerima kehidupanku yang seperti ini. Modeunge gamsahamnida, noona (kakak terimakasih untuk segalanya).

>>>>>.<<<<<

 

 

=> Author POV

 
=> Flashback <=

 
Seorang yeoja bersandar di sebuah pohon dengan mata terpejam sambil melantunkan sebuah lagu berbahasa asing. Suara yeoja itu sangatlah merdu bahkan Jaejoong yang saat itu sedang menghirup udara segar sendirian tergerak untuk menghampiri yeoja itu.
Diam-diam Jaejoong menghampiri yeoja itu dan duduk diatas rumput tepat disamping yeoja itu. Jaejoong tersenyum melihat yeoja cantik disampingnya yang sama sekali tidak berkutik.

 
‘Sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku?’ pikir Jaejoong

 

 

 

Perjalananku terasa melelahkan,

kududuk bertahan sendiri…disini

Hidup adalah sebuah perjalanan,

slalu bayak rintangan yang kuhadapi

Dengan seksama Jaejoong mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh yeoja itu walaupun sebenarnya Jaejoong sama sekali tidak mengerti arti dari lirik lagu itu, tetapi hanya dengan mendengarnya saja Jaejoong merasa makna dari lagu itu tersampaikan padanya karena tiba-tiba saja dia merasa sedih.

 

 

Perjalanan ini bagaikan roda berputar,

suka dan duka terus kujalani…

Ku berjalan untuk hidup.. slalu bersabar,

kini ku mengerti arti hidup ini

 

 

Air mata Jaejoong ikut mengalir saat yeoja yang masih memejamkan matanya itu meneteskan bulir-bulir bening yang menyapu wajahnya.

 

 

Ku terus tersenyum melawan.. kegagalan,

hidup di bumi sebuah perjuangan

Ku akan pelajari dari.. kegagalan,

hingga aku bahkan tak putus asa

 

 

Yeoja itu berhenti bernyanyi dan membuka kedua matanya lagi. Saat yeoja itu menoleh ke samping dia tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya, karena tiba-tiba saja ada seorang namja sedang tersenyum tipis disampingnya.

 
“Kau siapa? Kenapa tiba-tiba ada disampingku? Kau muncul tiba-tiba seperti hantu saja?” tanya yeoja itu

 
“Lagu yang kau nyanyikan bagus sekali, aku jadi tersentuh!” jawab Jaejoong

 
“Eh? Memangnya kau mengerti, ini kan Bahasa Indonesia?”

 
“Sebenarnya aku tidak mengerti artinya keunddae hatiku seperti bisa merasakan makna dari lagu itu, makanya aku jadi tersentuh!”

 
Yeoja itu tersenyum manis pada Jaejoong

 
“Wah, tak kusangka!” ujar yeoja tu

 
Jaejoong mengulurkan tangannya dan yeoja itu langsung menjabat tangan Jaejoong sambil tetap tersenyum.

 
“Kim Jaejoong imnida”

 
“Emh, Seo Ji Eun imnida” balas yeoja itu

 
“Ngomong-ngomong bahasa indonesiamu itu sangat fasih, ya? Aku tidak merasakan ada yang aneh dengan pengucapanmu”

 
“Soalnya aku blasteran, ibuku orang indonesia jadi dia sering sekali mengajari Appa, Joowon oppa dan juga aku bahasanya!”

 
“Jeongmalyo? Pantas kau terlihat berbeda dengan yeoja Korea lain, keunddae hanya sedikit sih?” ujar Jaejoong ragu-ragu

 
“Kau ini, banyak juga tidak apa-apa!” sambung Ji Eun diselingi suara tawanya

 
Ji Eun mempersempit jaraknya dengan Jaejoong, dia memperhatikan lekuk wajah Jaejoong dengan lebih detail hingga akhirnya dia menyadari sesuatu, sementara Jaejoong terlihat salah tingkah.

 
“Mian, apakah ada yang aneh dengan wajahku?”

 
“Jae sepertinya kau lebih muda dariku, wajahmu itu terlihat seperti masih anak-anak. Berapa umurmu?”

 
“15 tahun, wae?”

 
“Ahahaha, seperti dugaanku ternyata kau memang masih anak-anak. Aku 19 tahun dan karena aku ini sudah dewasa, sebaiknya kau panggil aku noona, ne?”

 
“Mweo? Jadi kau 4 tahun lebih tua dariku? Kau tidak bohong kan, wajahmu itu masih terlihat seperti ABG?” kaget Jaejoong

 
“Tentu saja tidak, apa perlu aku perlihatkan kartu identitasku padamu, hmm?”

 
“Tidak perlu! Baiklah, akan kupanggil kau noona!”

 
“Anak baik!” ujar Ji Eun sambil mengacak-ngacak rambut Jaejoong

 
“Yaa, noona! Hentikan itu! Kau ini, kita kan cuma berbeda 4 tahun saja. Jadi jangan memperlakukanku seperti anak kecil, arraseo! Bisa saja kan sikapku jauh lebih dewasa darimu”

 
“Hahaha, aku tidak percaya.. itu tidak mungkin, wajahmu saja masih imut-imut begini, bikin gemes!” sambung Ji Eun sambil mencubit pipi Jaejoong

 
“Noona, jika kau tidak menghentikan itu aku akan menciummu!” tegas Jaejoong

 
Ji Eun langsung reflek melepaskan cubitannya dan kembali berwajah sedih, dan hal ini membuat perasaan Jaejoong menjadi tidak enak.

 
“Noona, apakah aku salah bicara?” tanya Jaejoong takut-takut

 
“Sebenarnya di umurku yang sekarang ini, aku bahkan belum pernah merasakan seperti apa ciuman pertama itu!”

 
“Eh? Tidak mungkin! Noona bohong nih, aku tidak percaya ah!”

 
“Itu benar Jae, aku bahkan tidak pernah pacaran!”

 
“Wae? Noona kan cantik sekali, jadi aku yakin pasti banyak sekali namja yang menyukaimu!”

 
“Aku sakit semenjak dua tahun yang lalu, itulah sebabnya aku tidak pernah berpacaran apalagi sebelumnya orang tuaku pernah melarangku untuk pacaran sebelum usiaku 18 tahun. Kau tahu sebenarnya ini bukan wajah asliku? Aku memakai make up untuk menyembunyikan wajah pucatku, karena biarpun tubuhku sakit aku ingin tetap terlihat seperti orang yang sehat dan aku benci dengan bibir putihku yang pecah-pecah itu!”

 
“Mweo? Jadi noona…kau…pantas kau memakai pakaian yang sama denganku?!”

 
“Ah benar juga, aku baru sadar! Apa kau juga sakit, Jae?”

 
“Hn”

 
“Paling kau cuma demam, kan? Harusnya kalau demam tidak usah menghabiskan uang dengan sia-sia seperti ini!” tegas Ji Eun

 
“Anni, aku mengidap penyakit berat noona. Sebenarnya aku sudah sembuh sih, keunddae setengah tahun yang lalu aku kembali merasakan ada yang aneh dengan tubuhku. Sepertinya sejak awal penyakitku ini memang tidak sembuh total makanya kumat lagi!”

 
Ji Eun terbelalak kaget mendengar cerita Jaejoong itu. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang baru dikenalnya ini juga mengidap penyakit berat seperti dirinya.

 
“Aku juga belum pernah berciuman sama seperti noona!” lanjut Jaejoong

 
Jaejoong menundukkan wajahnya, airmata yang sejak tadi dia tahan kini sudah tak terbendung lagi.

 
“Hidup ini sangat kejam, aku… sudah lelah untuk sakit. Aku merasa Tuhan sangat tidak adil padaku, seumur hidupku aku belum pernah merasakan kebahagian dan aku paling benci melihat keluargaku bersedih karena aku. Kenapa harus aku?”

 
“Jae…”

 
“Mianhae noona, kau pasti bosan mendengar keluhanku kan? Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku malah membeberkan semua rahasiaku padamu?”

 
“Mungkin kau butuh seseorang untuk berbagi! Sudah ya, jangan menangis lagi! Aku sama sekali tidak bosan mendengar ceritamu, kok!”

 
Ji Eun memeluk Jaejoong dan menepuk-nepuk punggung Jaejoong pelan, berharap dekapan hangatnya itu bisa sedikit menenangkan hati Jaejoong. Setelah Ji Eun tidak mendengar isak tangis Jaejoong lagi, dia pun melepaskan pelukannya.

 
“Noona, gomawo” ujar Jaejoong sambil tersenyum

 
Dalam jarak sedekat itu dengan Ji Eun tiba-tiba Jaejoong merasakan hal yang aneh, jantungnya berdebar jauh lebih kencang dari biasanya, darahnya berdesir dan dalam waktu bersamaan dia merasa gugup apalagi setelah matanya tertuju pada bibir Ji Eun yang menggoda.

 
Perlahan Jaejoong semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Ji Eun sementara debaran jantungnya terasa semakin kencang.

 
Ji Eun yang sepertinya merasakan perasaan yang sama dengan Jaejoong reflek memejamkan kedua matanya hingga akhirnya bibirnya beradu dengan bibir Jaejoong. Ji Eun merasakan lumatan yang lembut dibibirnya dan juga sensasi menyenangkan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, inilah ciuman pertamanya.

 
“Rasanya manis” ujar Jaejoong polos setelah dia melepas ciumannya

 
“Benar, selain itu entah kenapa aku juga merasa bahagia” sambung Ji Eun sambil tersenyum

 
“Aku juga senang karena ciuman pertamaku adalah dengan noona” balas Jaejoong sambil tersenyum

 
Kini keduanya saling bertatapan. Ji Eun mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah seperti ini rasanya jatuh cinta? Ji Eun belum bisa memastikan hal itu, itulah sebabnya dia hanya tersenyum pada Jaejoong. Sesaat kemudian Ji Eun mengalihkan pandangannya ke atas langit yang terlihat cerah, seperti perasaannya saat ini.

 
“Jae, aku juga ingin cerita. Kau juga pasti bertanya-tanya aku sakit apa, kan?”

 
“Ne, keunddae kalau noona tidak mau tidak usah diceritakan!”

 
“Anni, aku akan cerita! Aku ada kanker, kanker darah!”

 
“Mweo? Leukemia?”

 
“Nde, Chronic Lymphosytic Leukemia! Kau terlihat sangat terkejut? Memangnya kenapa dengan Leukemia? Apakah itu terdengar buruk? Aku juga sebenarnya tidak yakin penyakit itu bisa disembuhkan atau tidak keunddae aku percaya kalau keajaiban itu pasti ada. Apakah setelah ini kau akan menjauhiku, Jae?”

 
“CLL? Noona, itu sangat serius keunddae aku tidak akan pernah menjauhi noona karena sebenarnya aku juga sakit Leukemia. Aku mengidap Acute Lymphosytic Leukemia bahkan menurut dokter Lee kasus ALL ku ini  sedikit berbeda dengan kasus-kasus ALL lainya, bisa dikatakan jenis virus yang menyebakan leukemiaku termasuk jenis yang langka. Ah, aku tidak ingat nama virus itu apa?”

 
“ALL?” kaget Ji Eun, setetes airmata jatuh membasahi wajahnya

 
“Nde, waeyo noona?”

 
“Berarti kau sakit semenjak kau masih kecil, Jae? ALL itu kan biasanya hanya menyerang anak-anak dan orang dewasa yang berusia 65 tahun keatas?”

 
“Iya makanya kubilang aku sudah lelah untuk sakit apalagi ketika sel tepiku harus di ambil untuk pemeriksaan lebih lanjut, waktu itu rasanya sangat sakit noona”

 
“Ternyata kau lebih menderita dariku”

 
“Hn, mungkin penyakitku lebih parah dari noona dan harapan hidupku akan jauh lebih kecil jika aku tidak melakukan pengobatan secara rutin. Aku mungkin tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama”

 
“Tidak usah kau pikirkan, Jae! Aku yakin kau tidak akan kalah dari penyakit itu!”

 
“Noona orang yang sangat optimis, ya?” puji Jaejoong sambil tersenyum

 
“Ne, itu karena oppa selalu bilang kalau aku harus kuat tetapi terkadang aku juga tidak bisa seoptimis itu karena kenyataannya aku tidak kuat dengan kemoterafi yang harus aku jalani!”

 
“Kemoterafi?”

 
“Nde, kau tau kemoterafi itu sangat menyakitkan efek sampingnya juga banyak sekali! Tubuhmu akan terasa lemas dan seiring berjalannya waktu tubuhmu akan semakin mengecil karena kau akan sering mual-mual hingga muntah-muntah dan tidak enak makan, bibirmu akan pecah-pecah, otot dan sarafmu akan terganggu dan kau juga bisa mengalami gangguan pencernaan. Perlahan rambutmu akan rontok dan daya tahan tubuhmu juga akan menurun drastis hingga akhirnya sakit ringan pun akan menjadi berat. Mungkin kau juga akan lebih sering mengalami pendarahan atau mengalami anemia, kulitmu dapat menjadi kering dan lebih sensitive terhadap cahaya matahari. Selain itu efek samping yang terburuk adalah komplikasi!” cerita Ji Eun

 
“Noona benar. Aku dengar obat kimia yang digunakan untuk kemoterafi itu sangatlah kuat sehingga  tidak hanya mampu membunuh sel-sel kanker tetapi juga dapat menyerang sel-sel sehat terutama sel-sel yang membelah dengan cepat, karena itulah efek samping kemoterafi muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya membelah dengan cepat” sambung Jae

 
“Wah, ternyata kau juga tau banyak ya? Bukankah penyakit ini sangat kejam?” canda Ji Eun

 
“Nde, kau benar noona! Jadi noona sudah pernah menjalani kemoterafi?”

 
“Bukan pernah lagi tetapi sudah sering, Jae. Emh, sebenarnya aku masih punya satu rahasia lagi…”

 
“Apa itu noona?”

 
Ji Eun tersenyum kemudian melepas rambut hitam panjangnya yang ternyata adalah sebuah wig. Mata Jaejoong membulat sempurna karena kaget, ternyata rambut asli Ji Eun sudah sangat tipis karena sebagian besar sudah botak.

 
“Ini rambut palsu” lanjut Ji Eun sambil tersenyum miris

 
“Noona…”

 
“Aku tidak cantik, kan?” tanya Ji Eun dengan airmata berlinang

 
“Anni, kau tetap cantik noona. Aku tidak bohong!”

 
“Gomawo, kau adalah orang keempat yang mengatakan kalau aku tetap cantik walaupun dengan kondisi seperti ini!”

 
“Jadi siapa orang pertama sampai ketiganya?”

 
“Tentu saja kedua orangtuaku dan juga oppa! Makanya Jae aku suka sekali dengan rambutmu yang indah itu, jadi kalau bisa jangan sampai dihilangkan ya? Maksudku sebaiknya kau tidak usah kemoterafi karena kemoterafi itu terkadang tidak bisa mematikan sel-sel kanker sampai ke akar-akarnya melainkan hanya sanggup memperlambat penyebarannya saja, sekaligus membuatmu sangat menderita!”

 
“Sebenarnya aku juga tidak mau noona keunddae mereka bilang jika keadaanku semakin parah, mau tidak mau aku harus menjalankan kemoterafi itu!”

 
“Andwae, aku tidak mau melihatmu menderita seperti aku apalagi kalau sampai kau mengalami komplikasi ginjal, itu sangat sakit Jae!”

 
“Maksud noona, kau mengalami gagal ginjal?”

 
“Nde, tim dokterku sudah hampir menyerah tetapi kedua orangtuaku dan juga oppa tidak pernah berhenti meminta mereka untuk melakukan yang terbaik untuk kesembuhanku karena itulah aku ingin sekali sembuh. Aku tidak ingin melihat semua orang yang aku sayangi sedih lagi!” cerita Ji Eun dengan airmata yang lagi-lagi tidak bisa dia tahan.

 
Jaejoong hanya terdiam menanggapi cerita Ji Eun itu. Dia sadar bahwa dirinya sama seperti Ji Eun. Dia tidak punya pilihan lain walaupun sesungguhnya dia sudah lelah dan ingin menyerah. Dia harus tetap bertahan demi orang-orang yang dia cintai.

 
Jaejoong menyeka airmata diwajah cantik Ji Eun dengan telapak tangannya, setelah itu didekapnya tubuh kurus Ji Eun erat karena Jaejoong lebih suka melihat Ji Eun tersenyum daripada menangis tetapi isak tangis Ji Eun masih belum mereda.

 
“Aku mengerti perasaan noona, meninggalkan orang yang paling kita sayangi adalah hal tersulit dalam hidup karena itulah noona harus tetap optimis!”

 
“Kau benar, aku harus sembuh dan kembali sehat seperti dulu. Gomawo Jaejoongie!” sambung Ji Eun yang akhirnya bisa kembali melukiskan sebuah senyuman.

 
=> End Flasback <=

 

 

>>>>>.<<<<<

 

 

=> Yoochun’s POV <=

 
Ah, aku sangat bosan berada disini terus menerus. Aku ingin sekali pergi jalan-jalan lagipula hari ini aku merasa sangat baik. Benar juga karena Yoon Rie belum pulang sekolah aku akan mengajak Jaejoong jalan-jalan ke suatu tempat, aku yakin dia juga pasti bosan terpenjara ditempat seperti ini.

 
“Resepsionis bilang ini adalah kamar Jae, baiklah aku langsung masuk saja!”

 
Aku pun segera memasuki kamar Jaejoong dan dia langsung menyapaku begitu melihatku datang.

 
“Yoochun-a, ada perlu apa kesini?”

 
“Jae, kita jalan-jalan ke luar rumah sakit yuk?” ajakku to the point

 
Aku harap Jaejoong langsung setuju walaupun aku tidak yakin karena mungkin saja dia akan bereaksi sama seperti Appa, Umma, dan Yoon Rie setiap kali aku bersikeras untuk pergi ke luar.

 
“Sayang sekali Yoochun-a, aku ingin sekali sih keunddae aku tidak bisa kalau hari ini dan juga dua hari kedepan. Mianhae, satu jam lagi aku ada jadwal kemoterafi dan hyungku pasti akan segera datang dan cerewet seperti biasanya!”

 
“Hmm, baiklah lain kali saja kalau begitu. Aku akan mengajak Changmin saja!” kataku

 
“Changmin itu siapa?” tanyanya

 
“Dia adiknya suster Shim Min Ah, biasanya dia sering kesini karena katanya di rumah itu sangat membosankan. Di rumahnya hanya ada para pelayan mereka saja karena orangtuanya sering pergi ke luar negri untuk urusan bisnis!”

 
“Oh, ya sudah ajak dia saja keunddae kau harus ingat Yoochun-a nanti kau jangan terlalu hyperaktif dan jangan lupa untuk….”

 
“Meminum obatku tepat waktu, itu kan yang ingin kau katakan?” potongku

 
“Tahu saja!”

 
“Aku sudah terbiasa mendengar ucapan itu dari orang-orang sekitarku, Jae! Oh iya tadi kau bilang kau tidak bisa pergi keluar untuk hari ini dan dua hari kedepan, memangnya dua hari kedepan kenapa?”

 
“Biasanya setiap selesai kemo aku merasa sangat buruk, itu karena efek kemoterafi benar-benar menyiksaku. Aku sering merasa pusing dan mual hingga akhirnya aku kehabisan tenaga!”

 
“Jadi efeknya bisa berhari-hari seperti itu? Arraseo, untuk beberapa hari ini kau istirahat saja aku tak akan mengganggumu! Nah, aku pergi dulu ya Jae?” pamitku, dia hanya tersenyum dan mengangguk

 

>>>>>.<<<<<

 

 

 

Aish, anak kecil itu ada dimana ya? Benar juga aku baru ingat dia kan monster food jadi sudah pasti dia sedang berada di cafetaria rumah sakit, sekarang.

 
Ternyata dugaanku benar. Aku menemukan sosoknya yang sedang serius menyantap makanan-makanan dalam jumlah banyak itu dan lengkap dengan segelas susu. Aku pun lekas menghampirinya lalu duduk didepannya.

 
“Hai tinggi, serius sekali makannya!” sapaku

 
Setelah mendengar suaraku Changmin berhenti makan dan menatapku dengan wajah kesal.

 
“Waeyo?”

 
“Kau ini hyung, menganggu orang yang sedang makan saja!”

 
“Aku hanya menyapamu bukan mau mengganggumu!” tegasku

 
“Nanti ujungnya juga pasti menggangguku! Jadi aku tidak mau makan lagi!” ketusnya

 
“Ya sudah terserah kau”

 
Akhirnya anak itu benar-benar berhenti makan. Setelah itu Changmin memperhatikan penampilanku dan menatapku dengan wajah serius.

 
“Waeyo?” tanyaku

 
“Kenapa hari ini kau berpenampilan keren bahkan sepertinya kau memakai make up untuk menutupi wajahmu yang pucat itu? Yaa, Yoochun hyung!! Jangan bilang kau berniat kabur dari rumah sakit?”

 
Mulai deh bersikap seperti polisi, dasar dia tidak jauh berbeda dari kakaknya.. menyebalkan! Pokoknya aku tidak akan mempedulikan teguran anak ini. Kau harus mengerti Changmin kalau hari ini aku ingin sekali pergi keluar.

 
“Aku tidak akan kabur! Aku hanya ingin jalan-jalan karena aku sudah bosan menghirup bau obat!” tegasku

 
“Mweo? Astaga hyuung, jangan seenaknya! Kau kan sakit hyung, kalau terjadi apa-apa bagaimana?”

 
“Shim Changmin! Pelankan suaramu! Kalau mau nyanyi dengan nada setinggi itu di hutan saja sana!”

 
“Hyung, aku tidak berani membawamu keluar kalau noona sampai tahu aku bisa diomeli. Noona itu kan salah satu suster dalam tim doktermu!” bisik Changmin

 
“Yaa, tiang listrik tubuhku memang sakit tetapi itu tidak berarti aku harus tiduran sepanjang waktu, kan? Bagaimanapun juga sekali-kali aku ingin terlihat sehat dan melakukan apa yang sering dilakukan orang lain! Kau tidak usah khawatir! Kalau ada apa-apa aku janji akan langsung cerita padamu. Hari ini saja temani aku jalan-jalan, ya?”

 
Kuharap bujukanku ini mempan, pokoknya sebelum Yoon Rie datang aku harus segera pergi biar tidak ketangkap basah dan dipaksa berbaring ditempat tidur seperti biasanya.

 
“Baiklah dahi lebar keunddae aku tidak akan membawamu ke Lotte World!” ujar Changmin sambil menjulurkan lidahnya.

 
“Changmin sebenarnya dari dulu aku ingin sekali pergi kesana!”

 
“Apppaaa? Shireo! Dengar ya suatu saat nanti aku akan menjadi seorang dokter, jadi aku akan bersikap tegas padamu. Kau dilarang tegas untuk pergi ke Lotte world, arraseo!”

 
Oh, jadi dia ingin menjadi seorang dokter? Pantas dia cerewet sekali! Seram juga kalau melihat matanya melotot seperti itu. Baiklah lain kali saja aku pergi ke Lotte Worldnya sambil ngedate bersama Yoon Rie tentunya.

 
“Okay kita ke tempat lain saja. Kau puas?”

 
“Nah gitu dong. Kajja hyung!”

 
‘Yoon Rie-a, mianhae oppa mau pergi jalan-jalan sebentar’

 

>>>>>.<<<<<

 

 

 

Senangnya bisa pergi jalan-jalan setelah sekian lama terperangkap ditempat serba putih itu, yah walaupun hanya pergi bersama Changmin saja tetapi aku bahagia. Udara luar memang jauh lebih baik dari ruangan tertutup yang penuh dengan bau obat-obatan itu.

 

Biarpun cerewet ternyata Changmin itu  mengerti perasaanku bahkan dia mengajakku pergi ke beberapa tempat yang menarik dan menyenangkan.

 
Tak terasa sudah seharian kami pergi jalan-jalan dan bersenang-senang. Jam tanganku juga sudah menunjukkan pukul 16.45. Bagaimana dengan Yoon Rie, ya? Aku yakin dia pasti kaget sekali saat menyadari bahwa aku tidak berada di kamarku.

 
“Hyung, kajja kita kembali ke rumah sakit! Aku saja sudah lelah apalagi kau!”

 
Benar juga kata Changmin, aku sudah mulai lelah padahal sebenarnya aku masih ingin bersenang-senang dengannya. Baiklah daripada terjadi sesuatu memang lebih baik jika aku menurutinya.

 
“Hyung, kau baik-baik saja kan? Jantungmu tidak sakit, kan?” tanya Changmin dengan wajah cemas

 
“Tentu saja tidak. Baiklah kita kembali ke tempat membosankan itu” jawabku sambil memamerkan senyumku

 
Pergi keluar bersama Changmin saja sudah sangat menyenangkan bagiku apalagi jika aku pergi bersama Yoon Rie. Aku yakin pasti akan jauh lebih menyenangkan. Sudah kuputuskan, lain kali aku harus bisa membujuknya untuk menemaniku jalan-jalan dan bersenang-senang. Bersama Yoon Rie aku ingin pergi ke suatu tempat yang sejak dulu belum pernah aku kunjungi, seperti Lotte World, Myeongdong, dan tempat luar biasa lainnya keunddae bisa tidak ya?

 

>>>>>.<<<<<

 

 

 

=> Author POV

 
Di kursi taman itu Yoon Rie masih belum bisa berhenti menangis. Yoon Rie sangat khawatir pada Yoochun yang sejak tadi siang belum juga kembali.

 
“Yoon Rie, sudahlah jangan menangis lagi!” tegur seorang namja sambil membelai rambut Yoon Rie lembut

 
“Bagaimana aku tidak menangis? Sampai sekarang oppaku masih belum ditemukan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Junsu oppa, ayo kita cari dia lagi mungkin dia pergi ke luar!”

 
Junsu menghela nafas panjang. Dia menyeka airmata Yoon Rie dengan telapak tangannya kemudian menatap mata Yoon Rie lekat.

 
“Yoon Rie-a, dia memang sakit keunddae biarpun begitu ka u tidak boleh memperlakukannya seperti orang sakit terus nanti dia malah semakin sedih dan tertekan. Aku mengerti kalau kau sangat mengkhawatirkannya tetapi tidak perlu terlalu berlebihan juga. Bisa saja kan sebenarnya Yoochun itu tidak nyaman diperlakukan seperti ini? Tubuh Yoochun memang sakit tetapi aku yakin, sekali-kali dia juga pasti ingin melakukan hal-hal yang dia inginkan. Kurasa Yoochun hanya ingin jalan-jalan sebentar dan akan segera kembali jadi kau tidak usah cemas!” nasihat Junsu

 
Yoon Rie terdiam mendengar perkataan Junsu itu. Mungkin yang dikatakan Junsu benar, itulah yang dia pikirkan. Selama ini Yoochun jarang ke luar rumah walaupun Yoochun tidak pernah berterus terang tetapi Yoon Rie paham bahwa sebenarnya Yoochun ingin bebas, pasti ada banyak hal yang ingin Yoochun lihat di luar sana.

 
‘Benar, oppa mungkin senang sekali hari ini keunddae tetap saja aku khawatir’

 
Yoon Rie memperhatikan jam tangannya, sudah lewat pukul enam bahkan cuaca mulai terasa dingin. Angin malam mulai berhembus kencang menerpa wajahnya. Tiba-tiba mata Yoon Rie terasa perih. Yoon Rie mengucek-ngucek matanya yang semakin terasa perih.

 
“Yoon Rie, waeyo?”

 
“Oppa, sepertinya mataku kemasukan sesuatu. Ini perih sekali!”

 
Junsu memegang tangan Yoon Rie sementara yeoja itu belum bisa membuka matanya.

 
“Yoon Rie, jangan di gosok terus! Buka matamu perlahan akan kutiup matamu supaya debu yang masuk keluar”

 
Yoon Rie menuruti perkataan Junsu. Dia membuka matanya perlahan.

 
Kini jarak wajah Junsu dan Yoon Rie semakin dekat. Junsu mulai merasakan gejolak itu lagi. Debaran jantungnya terasa semakin kencang. Junsu mulai tidak bisa menahan diri untuk menyentuh bibir merah Yoon Rie dengan bibirnya tetapi dia harus bisa menahan hawa nafsunya itu, karena saat ini ada hal yang lebih penting yang harus dia lakukan. Junsu mulai meniup-niup sebelah mata Yoon Rie lembut.

 

>>>>>.<<<<<

 

 

 

Yoochun dan Changmin sudah tiba di rumah sakit, tiba-tiba langkah Yoochun terhenti saat kedua matanya menangkap dua sosok orang yang dia kenal. Kedua tangan Yoochun terkepal kuat. Pemandangan yang dia lihat dari jarak beberapa meter itu benar-benar menyulut emosinya.

 
‘Mereka berciuman? Jadi ini yang sering Yoon Rie lakukan jika aku sedang tidak berada didekatnya? Dia bermesraan dengan Junsu!’

 
Changmin yang merasa heran dengan Yoochun yang tiba-tiba saja berhenti melangkah mengalihkan pandangannya ke arah pandang Yoochun saat ini.

 
Changmin kaget setengah mati ketika matanya menangkap sosok Yoon Rie dan Junsu yang sepertinya sedang berciuman tetapi biarpun begitu Changmin masih bisa berpikir dengan logika, mungkin saja mereka sedang tidak berciuman. Mungkin saja mereka terlihat berciuman karena dia dan Yoochun melihat pemandangan itu dari sudut ini?

 
Changmin semakin kaget lagi saat menyadari kalau dulu Yoochun pernah bercerita bahwa dia menyukai Yoon Rie dan mungkin saat ini Yoochun salah paham. Changmin tiba-tiba merasa cemas saat dia menyadari, kini namja didepannya sedang mengepalkan kedua tangannya.

 
‘Omo! Dia mengepalkan kedua tangannya, ini gawat!’ pikir changmin

 
Yoochun tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia benar-benar merasa sakit hati, marah dan cemburu disaat yang bersamaan. Yoochun menghampiri Junsu dan Yoon Rie dengan penuh emosi.

 
“Hyung, apa yang mau kau lakukan?” teriak Changmin sambil berlari menyusul Yoochun

 
Sudah terlambat untuk Changmin mencegah Yoochun karena saat ini Yoochun sudah melayangkan tinjunya ke rahang Junsu

 
BUGH

 
“Yaa! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tiba-tiba memukulku seperti ini?” bentak Junsu tidak terima

 
“Oppa?” kaget Yoon Rie

 
“Kau, beraninya mencium adikku” bentak Yoochun

 
“Kau salah paham! Aku tidak menciumnya, pabo! Aku hanya membantunya karena tadi mata Yoon Rie kemasukan debu!” jelas Junsu

 
“Jangan berbohong padaku, jelas-jelas aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Kau juga melihatnya kan, Changmin?”

 
“Oppa hentikan! Jantungmu bisa sakit yang dikatakan Junsu oppa itu benar” jelas Yoon Rie

 
“Aku memang melihatnya hyung keunddae bisa saja kan kita salah paham karena melihat pemandangan itu dari sudut seperti tadi!” sambung Changmin

 
“Sebenarnya kau kenapa, hah? Kau terlihat marah sekali padahal Yoon Rie itu kan hanya adikmu!” sindir Junsu sambil menghapus noda darah disudut bibirnya

 
Nafas Yoochun mulai naik turun, keringat dingin mulai bercucuran membanjiri wajahnya yang semakin memucat.

 
“Mian. Mianhae junsu-a, aku hanya….”

 
“Oppa, kau tidak apa-apa kan?” potong Yoon Rie

 
Dada Yoochun tiba-tiba terasa sakit. Sangat sakit. Di tekannya dada kirinya yang sakit dengan tangan kanannya berharap rasa sakit itu akan hilang atau setidaknya berkurang, tetapi dadanya tetap terasa sangat sakit. Yoochun terus berusaha menahan sakitnya. Tubuhnya semakin tertunduk, tangan kanannya terus meremas dadanya yang sakit sementara tangan kirinya mengenggam erat lengan Changmin, berusaha menopang tubuhnya yang terasa semakin lemah.

 
“Hyung, apakah jantungmu sakit lagi?” tanya Changmin cemas

 
“Tubuhku…mataku…Changmin-a, aku….”

 
Perkataan Yoochun terputus-putus, dan sedetik kemudian Yoochun terbatuk-batuk.

 
“Uhuk..uhuk..uhuk”

 
“Ooppaaa!” teriak Yoon Rie

 
Rasa sakit yang Yoochun rasakan semakin menjadi-jadi. Dia bahkan semakin sulit untuk sekedar bernafas karena dadanya terasa sangat sesak. Tiba-tiba darah segar mengalir deras dari lubang hidungnya.

 
“Hyyuung!” teriak Changmin

 
Yoon Rie yang panik langsung berlari untuk mencari pertolongan sedangkan Junsu yang tidak tahu harus melakukan apa, bergegas lari menyusul Yoon Rie.

 
Yoochun menatap pemandangan itu dengan tatapan kosong

 
‘Apa Junsu juga mencintai Yoon Rie?’ pikir Yoochun

 
“Hyung, katakan apa yang harus aku lakukan?” tanya Changmin yang mulai kebingungan karena ikutan panik

 
“Chang…Changmin. Aku semakin tidak bisa melihat dengan jelas dan tubuhku rasanya….”

 
“Bertahanlah hyung! Aku akan menggendongmu dan membawamu kembali ke kamarmu secepat yang aku bisa” ujar Changmin yang lantas berjongkok

 
“Ayo naik ke punggungku hyung!” lanjutnya

 
“Tidak usah, aku ini berat.. kau… tidak akan kuat pria kecil!”

 
“Jangan meremehkanku ya? Kubilang cepat sandarkan tubuhmu yang semakin melemah itu ke punggungku!” tegas Changmin

 
Yoochun menuruti perintah Changmin.

 
“Berpeganganlah yang erat!” lanjut Changmin

 
Setelah merasakan kedua rangkulan tangan Yoochun di lehernya, Changmin pun segera berdiri dan mulai melangkah melewati lorong-lorong rumah sakit.

 
‘Apanya yang berat? Justru berat badannya malah terasa lebih ringan dari yeojacinguku’ pikir Changmin dengan airmata yang menetes

 
“Hyung” panggil Changmin sekedar untuk memastikan Yoochun masih dalam keadaan sadar atau tidak

 
“Nde?” sambung Yoochun dengan suara lirih

 
“Apakah kau sudah sering mimisan seperti tadi?” tanya Changmin

 
“Anni, tadi pertamakalinya makanya jujur saja aku juga shock”

 
“Jangan berbuat seenaknya lagi! Sepertinya kondisi organ jantungmu itu sudah semakin parah hyung!” sambung Changmin, namun tidak ada jawaban lagi dari Yoochun

 
“Hyung, kau pingsan ya?” tanya Changmin tetapi tetap tidak ada yang menyahut

 

 

>>>>>.<<<<<

 

 

 

Junsu terus menatap cemas kearah pintu ruangan dimana Yoochun sedang ditangani dokter. Sudah lama dokter Park memeriksa Yoochun dan sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda akan ke luar dari ruangan itu.

 
Yoon Rie menangis dalam pelukan Changmin. Raut ketakutan dan kecemasan masih tergambar jelas di wajah Changmin.

 
“Changmin-a, Yoochun oppa akan baik-baik saja, kan?” tanya Yoon Rie masih terisak

 
Melihat kondisi Yoon Rie yang seperti itu Junsu mengigit bibir bawahnya, entah kenapa perasaan aneh menghinggapi dirinya? Junsu mulai menyadari sesuatu, ekspresi Yoochun tadi juga tingkah Yoon Rie yang terlihat aneh saat ini seakan-akan menunjukkan bahwa keduanya saling menyukai apalagi Junsu sudah tahu kalau Yoochun bukanlah kakak kandung Yoon Rie. Hati Junsu terasa sakit dan hancur saat itu juga, membayangkan yeoja yang dia cintai tidak akan pernah membalas cintanya sampai kapanpun karena hati yeoja itu sudah dimiliki oleh orang lain.

 
‘Yoon Rie, apakah kau mencintai kakakmu dan apakah Yoochun itu juga mencintaimu?’ bathin Junsu

 
Junsu menghela nafas panjang dan telaga bening telah terlukis di pelupuk matanya. Junsu sendiri tidak menyangka hatinya akan terasa sakit seperti ini padahal Yoon Rie dan Yoochun yang saling menyukai baru praduganya saja. Kini Junsu hanya menunduk menatap lantai.

 
‘Kau pasti bingung kan Junsu hyung? Sebenarnya Yoochun hyung itu menyukai Yoon Rie dan kurasa tadi itu dia benar-benar cemburu makanya dia jadi emosi seperti itu. Hyung, aku harap kau baik-baik saja!’ pikir Changmin.

 
Sesaat kemudian Junsu berdiri dari posisi duduknya, karena tiba-tiba seorang yeoja menghampirinya dan berdiri dihadapannya.

 
“Junsu-ya, ternyata kau disini. Sejak tadi aku mencarimu kemana-mana?! Omo! Kenapa dengan wajahmu?” tanya yeoja itu

 
“Gwaenchanha, tadi itu hanya terjadi sedikit kesalahpahaman. Jun Mi noona kenapa kau keluar kamar? Memangnya kau sudah tidak apa-apa?”

 
“Tentu saja, luka-lukaku sudah sembuh. Besok aku juga sudah diperbolehkan untuk pulang! Jangan khawatir, mulai sekarang noona berjanji tidak akan kebut-kebutan di jalan raya lagi kalau sedang sedih”

 
“Benar ya? Awas saja kalau kau mengingkarinya akan kulaporkan pada Yunho hyung”

 
“Aish, mentang-mentang aku hanya menurut padanya, dasar. Iya aku janji, uri dolphin!”

 
Junsu hanya tersenyum menanggapi perkataan Jun Mi itu. Tatapan matanya kembali terlihat sendu memperhatikan Yoon Rie yang masih terlihat sedih.

 
“Eh, bukankah gadis itu Yoon Rie? Dia gadis yang sering kau ceritakan itu, kan? Kenapa dia menangis?” bisik Jun Mi

 
“Molla. Kajja kita kembali ke kamar noona saja! Aku akan membantumu berkemas”

 
“Gomawo” sambung Jun Mi sambil tersenyum

 
“Changmin-a, Yoon Rie, aku pergi duluan ya?” pamit Junsu

 
“Ne” jawab Changmin singkat

 
Junsu berjalan dengan gontai mengikuti langkah kakaknya, sesaat dia kembali menoleh ke arah Yoon Rie dan menyunggingkan sebuah senyum yang penuh dengan luka.

 

>>>>>.<<<<<

 

 

 

Jaejoong terbangun dari tidurnya dan keringat dingin membanjiri wajahnya. Untuk sesaat Jaejoong tertegun dengan nafas yang tak beraturan, lalu dia segera melepas selang infus dilengannya dan berlari ke kamar mandi, memuntahkan seluruh isi perutnya ke dalam washtafel. Dia benar-benar merasa sangat mual.

 
Yunho ikut terbangun dari tidurnya, mata kecilnya menyipit saat menyadari Jaejoong tidak ada di atas ranjang. Mendengar suara seseorang di kamar mandi, Yunho pun segera pergi menghampiri sumber suara itu.

 
Yunho terdiam didepan pintu, dilihatnya Jaejoong masih sibuk memuntahkan seluruh isi perutnya ke dalam washtafel. Yunho mengigit bibir bawahnya. Dia tak tega melihat kondisi adiknya yang selalu seperti ini setiap kali selesai kemoterafi. Yunho pun menghampiri Jaejoong dan menyodorkan dua buah permen mint.

 
“Makanlah, percaya padaku kau akan merasa lebih baik!” ujar Yunho

 
Jaejoong membersihkan wajahnya, lalu tersenyum pada Yunho.

 
“Gomawo” ujar Jaejoong yang segera memakan permen itu

 
Yunho membalas senyum Jaejoong dan menyentuh dahi Jaejoong.

 
“Kau demam lagi. Kajja, kau harus kembali ke tempat tidur!”

 
“Nanti saja hyung, aku masih mual!”

 
“Kalau kau mau muntah lagi tidak perlu repot-repot ke kamar mandi kan diatas mejamu itu sudah tersedi baskom berukuran sedang dan juga baskom kecil”

 
“Hyung, kalau aku muntah disana itu akan sangat menjijikan!” sanggah Jaejoong

 
“Gwaenchanha. Kajja, kau harus istirahat!” paksa Yunho sambil memapah Jaejoong menuju ke tempat tidurnya.

 
Yunho membaringkan Jaejoong di tempat tidur tetapi tiba-tiba saja Jaejoong kembali bangkit dari posisinya.

 
“Wae?” tanya Yunho

 
“Aku mual lagi, hyung!”

 
Yunho pun segera menyodorkan baskom itu kepada Jaejoong. Jaejoong kembali muntah-muntah dan Yunho menepuk-nepuk punggung Jaejoong.

 
“Aku lelah” ujar Jaejoong dengan suara lirih

 
“Ne, hyung mengerti. Ayo tidur lagi! Pejamkan matamu, rileks dan jangan memikirkan apapun lagi!”

 
“Maafkan aku” sambung Jaejoong masih dengan suara yang lirih

 
“Untuk apa?”

 
“Karena aku selalu merepotkanmu, hyung”

 
“Anni, itu sudah menjadi kewajibanku sebagai kakakmu, bukan?” sambung Yunho sambil memamerkan senyumnya

 
Jaejoong membalas senyuman Yunho dan mulai mencoba memejamkan matanya.

 
“Joongie, bisakah lain kali kau tidak usah mengucapkan kata itu?”

 
“Maksud hyung?”

 
“Selama ini kau sering sekali mengucapkan kata maaf pada kami. Mulai sekarang bisakah kau mengubah kata mianhae dengan gomawo?”

 
“Baiklah, gomawo…”

 
“Nah, tidurlah!” ujar Yunho,

 
Jaejoong membuka matanya lagi karena seluruh tubuhnya terasa sakit.

 
“Hyung, aku tidak bisa tidur!”

 
“Wae? Kau sedang jatuh cinta, ya?” goda Yunho

 
“Pabo! Badanku sakit semua, hyung!” bentak Jaejoong sambil meringis

 
“Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kau minum obat lagi!”

 
“Ne”

 
Setelah meyerahkan obat-obatan itu pada Jaejoong dan Jaejoong meminumnya, Yunho kembali memasangkan jarum infus itu dilengan Jaejoong.

 
“Besok, umma dan appa akan kesini kan, hyung?” tanya Jaejoong

 
“Ne, aku sudah menelpon mereka tadi siang katanya mereka akan segera tiba disini besok pagi” jawab Yunho

 
“Gomawo, hyung. Jaljayo!”

 
“Jaljayo”

 
Bulir-bulir bening berjatuhan membasahi pipi Yunho setelah Jaejoong benar-benar tertidur. Sejak dulu Yunho memang sudah memutuskan untuk tidak memperlihatkan airmatanya kepada Jaejoong. Yunho menghela nafas panjang. Dia mengambil baskom berukuran sedang yang kini sudah penuh itu dan membawanya ke kamar mandi, kemudian dibersihkannya.

 
“Dia muntah sebanyak ini. Tubuhnya pasti lemas sekali” gumam Yunho

 
Yunho kembali menghampiri Jaejoong lalu mengambil baskom berukuran kecil diatas meja dan mengisinya dengan air dingin. Dengan telaten Yunho membasahi handuk kecil itu dan menghapus peluh di wajah Jaejoong. Setelah itu Yunho mengompres kening Jaejoong, berharap besok pagi suhu tubuh Jaejoong kembali normal.

 
Yunho memejamkan matanya untuk sesaat. Dia benar-benar sudah tidak tahan melihat gurat kesakitan diwajah adiknya.

 
“Aku akan melakukan apapun agar kau sembuh Joongie termasuk mendonorkan ginjalku saat kau benar-benar sudah sangat membutuhkannya dan kalaupun aku tetap tidak mendapatkan izin darimu aku tidak peduli. Aku akan melakukannya diam-diam!” tegas Yunho

 
Yunho kembali tersenyum saat pandangannya teralih pada sebuah bingkai foto berukuran sedang, foto Jaejoong dan juga Ji Eun. Jaejoong terlihat sangat bahagia dalam foto itu.

 
“Walaupun Ji Eun sudah tidak ada, aku percaya Joongie pasti akan mendapatkan kebahagiaannya lagi. Aku akan mencarikan seorang yeoja untukmu! Ah benar juga, sepertinya yeoja yang tidak sengaja pernah bertabrakan denganku itu sangat cocok untukmu. Dia imut dan cantik seperti So Jin Girls day”

 
Yunho menghapus airmatanya dan kembali tersenyum. Tiba-tiba saja dia tersadar akan sesuatu.

 
“So Jin Girls Day? Tunggu, jangan-jangan yeoja itu memang So Jin Girls day? Bisa saja, kan? Lain kali aku harus menyelidiki ini!”

 
Yunho kembali mengarahkan pandangannya ke arah Jaejoong dan membasahi handuk kecil itu lagi. Setelah itu dibelainya rambut Jaejoong selembut yang ia mampu tetapi sedetik kemudian tangannya gemetar, dalam telapak tangannya tertempel rambut Jaejoong dalam jumlah banyak. Yunho segera berlari keluar ruangan dan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Lagi-lagi airmatanya kembali berebutan keluar dan Yunho mulai menangis.

 
“Andwae, rambutnya rontok lagi!”

 
Yunho mengegeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan tetap tertuju pada telapak tangannya. Digenggamnya potongan rambut itu erat. Sendi-sendi Yunho terasa melemas saat itu juga. Dia pun terduduk dilantai dan terus menundukkan wajahnya sambil terus berusaha meredam isak tangisnya.

 
“Joongie, kau pasti akan sembuh, kan?”

 

>>>>>.<<<<<

 

 

 

Yoochun membuka matanya yang masih terasa berat. Meski tubuhnya masih terasa lemas dan dada kirinya masih terasa sakit tetapi dia merasa sedikit lebih baik daripada semalam. Yoochun bangkit dari posisi tidurnya dan mendapati Yoon Rie tertidur disisi tempat tidur dengan menggunakan tangan sebagai penyangga kepala. Yoochun memejamkan matanya mengingat kejadian kemarin. Masih tergambar jelas di kepalanya kemesraan antara Yoon Rie dan Junsu saat itu.

 
Yoochun membuka matanya kembali dan tersenyum miris, kemudian ia merapikan anak rambut yang menutupi pipi Yoon Rie untuk melihat lebih jelas wajahnya.

 
Merasakan sentuhan lembut di  pipinya Yoon Rie pun terbangun dan dia tersenyum lega saat melihat Yoochun yang kini tengah tersenyum padanya.

 
“Oppa, kau sudah siuman?”

 
Yoochun semakin mendekatkankan wajahnya. Ia mengecup lembut dahi Yoon Rie.

 
“Nde. Kau tidak usah cemas lagi, saengie” jawab Yoochun

 
“Bagaimana mungkin aku tidak cemas? Semalam appa dan yang lainnya lama sekali tidak keluar-keluar dari kamar ini” sambung Yoon Rie

 
“Mianhae, aku selalu membuatmu cemas”

 
“Jangan lakukan hal seperti itu lagi, arra! Kau harus bisa mengontrol emosimu, oppa!” tegas Yoon Rie

 
“Nde. Oh iya, Yoon Rie apa hubunganmu dengan Junsu?” tanya Yoochun

 
“Aigoo, kan sudah kubilang kalau kau salah paham. Junsu oppa itu hanya aku anggap sebagai sahabat sekaligus kakakku. Waktu itu kami sama sekali tidak berciuman. Aku hanya kelilipan!” jelas Yoon Rie

 
“Jeongmal? Tidak apa-apa kalau kau menyukainya. Aku akan mendukungmu lagipula aku yakin sekali hidupmu akan bahagia jika bersama Junsu”

 
“Jangan seenaknya ya! Aku ini kan hanya menyukaimu oppa! Aku tak’kan pernah bisa membuka hatiku untuk namja lain karena sejujurnya sejak dulu perasaanku padamu tidak pernah berubah. Aku jatuh cinta padamu!” tegas Yoon Rie,

 
Yoochun tersentak kaget mendengar pengakuan Yoon Rie, diremasnya dada kirinya yang kembali terasa sangat sakit bersamaan dengan itu keringat dingin mengucur membasahi wajahnya.

 
“Mweoo?” teriak seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam

 
“Appa!” kaget Yoon Rie

 
Park In Woo menatap putrinya tajam. Sementara itu peluh mulai menghiasi wajah Yoon Rie. Dia bukan hanya kaget tetapi juga tegang sekaligus takut. Yoon Rie semakin gelisah saat ayahnya terlihat menggelengkan kepalanya.

 

 

=> To Be Continued <=

Annyeong all, I’m comeback. Adakah yang sudah menanti chapter 2 ini sejak kemarin-kemarin? ^^

Mianhae author kelamaan update chapter selanjutnya, karena belakangan ini selain kuliah author juga lagi sibuk-sibuknya dengan Tugas Akhir yang sampai sekarang belum juga selesai jadi mohon dimaklumi ya? Huuaa, author juga minta maaf kalau ceritanya jadi semakin gaje dan membosankan seperti ini #JedotinKepalaKeTembok *Efek kelamaan hiatus kayaknya*  -__-

Mianhae kalau chapter ini kepanjangan dan masih ada typo. Nah like usual no bashing okay? Dan Silahkan tinggalkan komentar atau kritiknya, ya? kamsahamnida. ^^

 

 

14 thoughts on “Love Sick Chapter 2

  1. keika berkata:

    wahh gimana kelanjutannya??? apakah yoochun akan mundur aph bpaknya ngrestuin?? penasaran bangetz.,
    ditunggu lanjutannya.,
    fighting ea

  2. aname91 berkata:

    Yippie!!!
    Ternyata ada chap 2 nya… Suka… Suka… Suka…
    Jd Yoochun pasti ribet banget dan jadi yunho pasti kasihan banget… Alah, sy ngomong apa… Next…😄

  3. aigoo. . .
    kenapa harus ketahuan mr. Park, sih?

    di chapter ini kok aku lebih ngerasain feel nya JJ, ya? hanyut sama perasaannya ke Ji Eun yg ternyata udah meninggal. *bener, ga?
    Enak ya, jadi JJ. . . Dia punya Hyung yg perhatian + sayang banget sama dia. Feel Yunjae itu emang ga bisa ditutup-tutupib lagi.😀

    Abang Jidat cemburu buta ama Dolphin, sampe dibela2in nonjok Dolphin pula. *elus2 Su-ie
    tenang Abang, cinta Hyo Rin hanya untukmu seorang. hohoho

  4. ‘Apanya yang berat? Justru berat
    badannya malah terasa lebih ringan
    dari yeojacinguku’ pikir Changmin
    dengan airmata yang menetes

    kebayang pas changmin ngegendong chun T.T jadi inget sama drakor Im sorry i love waktu Ji Sub ngegendong Yune T.T

  5. kasian sumpah yc kasian😦

    oia ini junsu kok kerjanya main di RS mulu? critnya dia siapa?

    btw ini crtinya oppadeul masih berumur kurang 20an kan? aissh bayangku mrka pasti lgi imut2nya hihi

  6. shishinki berkata:

    Kasihan banget yunho nya, tapi dia baik bgt sama jj ;; dan kesian juga sama yoochun, pasti bingung banget di situasinya mereka e.e

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s