Not Easy To Forgive You! part 1


Cast :

–          Kim junsu / Xia Junsu (yeoja)

–          Park yoochun / Micky Yoochun (namja)

–          Lee Hyuk Jae / Spencer Lee (namja)

Another cast :

–          Kim Junho / Juno (namja)

Pengen buat oneshoot ^^ tapi gagal lagi ^^

Mencoba buat jadi 2 part,,, semoga berkenan buat para reader

Oh iya lupa,,ini cerita pernah author post dblog author dulu jadi kalo ada yang pernah baca harap maklum ^^

Nama castnya author ganti sesuai biasnya author ^^

silahkan mulai dibaca :

 

Hey, perkenalkan namaku Kim Junsu. Biasa dipanggil Junsu, but please call me XiaAku anak kedua dari 2 bersaudara. Aku mempunyai seorang kakak, namanya Kim Junho biasa kupanggil Juno oppa. Aku rasa sudah cukup perkenalan kita tidak perlu panjang lebar. Akan terasa lebih menyenangkan kurasa bila lebih baik kalian baca sendiri all about me.

So let’s read my story………

Tertegun ku memandang rintik hujan yang turun membasahi jendela kamar. Tetes-tetes air bergerak menuruni lekukan jendela yang terbuat dari kaca itu. Terus turun tanpa menghiraukan medan yang terbentang di depannya. Sungguh mengagumkan apabila aku dapat seperti tetesan air itu. Dapat terus berjalan ke depan tanpa ragu dan takut untuk melewati medanyang mungkin tak semudah kelihatannya.

Tapi aku hanyalah seorang anak manusia bernama Xia, bukan tetes air yang dapat dengan berani melintasi semua medan yang tersaji di depannya. Aku hanyalah aku, hanya seorang pengecut yang malah menghindar dari masalah bukan menyelesaikannya. Ku pikir lebih mudah untuk menghindarinya daripada menyelesaikannya, walaupun aku tahu selama ini yang kulakukan hanya memperburuk keadaan.

Memperburuk keadaan? Ya. Tentu itu yang ku lakukan atas masalah yang sedang ku hadapi saat ini. Masalahku dengan Micky. Micky terlihat sangat marah saat pertemuan terakhirku dengannya. Semenjak itu aku tak pernah lagi berhubungan dengan Micky. Micky tak pernah mau menemuiku lagi, tak pernah mau menelepon atau bahkan hanya sekedar mengirim pesan untuk menanyakan kabarku. Padahal sebelumnya Micky setiap hari, setiap jam bahkan setiap menit selalu menanyakan kabarku. Apa yang telah aku perbuat kepada Micky? Apakah aku sangat melukai perasaannya? Apakah aku sudah memusnahkan cinta yang selama ini kami perjuangkan bersama?

Oh My God,, betapa tololnya aku kalau sampai apa yang telah aku perbuat di malam itu benar-benar telah membuat menjauhiku. Tidak, tidak aku harus segera menepis pikiranku itu, membayangkan Micky meninggalkanku sama seperti membayangkan malaikat pencabut nyawa datang menjemputku. Mungkin bahkan lebih menyeramkan dari malaikat pencabut nyawa. Sulit di ungkapkan dengan kata-kata arti seorang Micky bagi hidupku.

***

Sejenak pikiranku melambung membayangkan segala kemungkinan-kemungkinan yang telah ku perbuat yang mungkin telah melukai relung hati Mickyku. Mencoba kembali menyatukan kepingan-kepingan kenangan pahit pada malam itu. Malam di mana seharusnya menjadi malam terindah di dalam hidupku. Malam yang seharusnya menjadi malam penyatuan cinta kita. Ah, mengapa aku merasa sangat kehilangan, melebihi rasa kehilanganku atas keluarga yang sangat aku cintai. Cinta yang sempat kurasa hanya cinta monyet itu.

Ponselku berdering.

Mendendangkan lagu Picture Of You, lagu terindah saat aku menemukan orang terindah yaitu Micky.

Aku langsung tersentak dari lamunanku saat mendengarnya. Lama aku mengamati nama yang berkedip-kedip di layar ponsel ku menunggu untuk ku angkat. Tiba-tiba kerongkonganku terasa tercekik seperti oksigen di dunia ini telah habis terhirup manusia bumi.

Nama itu, nama yang jelas terpampang di dalam layar ponselku. Nama yang sungguh tak asing lagi di kepalaku. Nama yang sempat menempati urutan kedua daftar orang yang paling ku sayangi setelah Juno oppa kakak ku satu-satunya yang selalu rela memberikan apapun yang aku inginkan walaupun terkadang aku meminta sesuatu hal yang kelewat konyol sekalipun.

Lama aku memandangi layar ponselku yang akhirnya mati karena lama tak kunjung aku angkat. Beberapa saat kemudian aku larut dalam lamunanku lagi. Mengingat-ingat kenangan masa lalu tanpa berusaha mengingat lagi luka yang selalu aku takutkan terbuka kembali. Luka yang belum sepenuhnya sembuh atas rasa kehilangan orang yang ku sayangi kini harus terkoyak lagi karena orang yang sama. Orang yang sudah kuanggap mati selama 2 tahun terakhir ini.

Micky Yoochun………

Micky Yoochun sang bad boy yang sukses menghancurkan hatiku. Membawa serta semangat hidupku terbang jauh bersamanya.

Tanpa terasa butiran air mata yang sedari tadi sudah berada di ujung mataku mulai mengalir seperti anak sungai. Buru-buru ku hapus air mata itu, takut kalau-kalau Juno oppa tiba-tiba datang masuk ke kamarku karena Juno oppa sedang berada di rumah. Tidak seperti biasanya kakakku ini betah berlama-lama di rumah. Mungkin sebenarnya aku tahu apa penyebabnya, kondisiku sekarang inilah yang memaksanya sejenak meninggalkan segala aktivitas pekerjaannya yang bisa di bilang sangat padat. Sebenarnya aku ikut senang, karena kalau Juno oppa tidak mencemaskan keadaanku seperti sekarang ini, Juno oppa tidak akan pernah mengambil cuti bahkan hanya untuk sekedar beristirahat menikmati hidupnya sendiri. Walaupun terkadang Juno oppa mengambil cuti hanya untuk sekedar menyempatkan menemaniku bermain, acara ulang tahun atau di saat aku membutuhkan sosok seseorang yang dapat melindungiku. Maklum kami berdua anak yatim piatu semenjak aku berumur 10 tahun dan Juno oppa berumur 21 tahun. Aku tidak ingin memoriku mulai mengorek-orek kenangan 10 tahun silam. Buru-buru aku menutup memoriku agar tidak berusaha mengingat kecelakaan mobil yang menimpa kedua orang tuaku.

***

Ponselku berdering untuk kedua kalinya.

1 message received

From : MickY

Tak cukupkah waktu 2 tahun selama kita berpisah untuk kau memahami apa arti perpisahan kita??? Aku berjanji akan kembali bukan untuk melukaimu hanya untuk membuat agar kau dapat melepaskanku… tak kusangka akibat yang ditimbulkan dari kebodohanku ternyata menyeretmu kedalam masalah yang lebih rumit… kita harus bicara,, temui aku di Mirotic Cafe tepat pukul 7 malam ini…

What? What’s the meaning of is???

Apa-apaan ini??

Micky memintaku datang menemuinya? Untuk apa? Mengenang kembali saat-saat dia meninggalkanku. Saat-saat dimana dia mencampakanku. Tidak aku tidak akan pernah menemuinya lagi. Tidak setelah janji yang telah aku ucapkan saat aku mulai menutup lembaran kelamku bersama Micky dan mulai membuka lembaran baru bersama Spencer Lee.

***

Spencer Lee. Nama itu sukses membuat otakku mulai fokus kembali memikirkan masalahku dengannya, setelah sejenak terganggu oleh kenanganku tentang Micky. Walaupun masih ada sedikit otakku yang entah mengapa malah berusaha membuka kembali kenanganku dengan Micky. Mengapa harus Micky? Mengapa Micky datang dan mengacaukan semua kebahagian yang sudah susah payah aku bangun bersama Spencer Lee. Spencer Lee seorang dewa penyelamat yang dikirim datang padaku di saat aku membutuhkan seseorang sebagai pelindungku.

Spencer Lee adalah dokter pribadi baru yang ada untuk menggantikan dokter pribadi keluargaku yang lama. Spencer Lee berumur 25 tahun masih cukup muda untuk ukuran dokter spesialis penyakit dalam, tinggi 178 cm, bentuk muka yang lonjong, gummy smile yang selalu menghiasi wajahnya saat Spencer Lee tersenyum serta wajah tenang Spencer Lee yang selalu mampu membuatku terhanyut dalam semua nasehat-nasehatnya. Membuat aku menuruti semua anjuran medis yang Spencer sarankan, berbeda dengan sebelum-sebelumnya kalau ada dokter yang memberiku saran aku berani menjamin dokter itu akan mengundurkan diri kurang dari waktu 2 minggu setelah menanganiku. Tapi yang terpenting adalah aku menuruti semua sarannya bukan karena wajahnya yang selalu membawa kedamaian saat aku menatapnya, melainkan karena Spencer mempunyai cara tersendiri untuk membujukku agar mau menuruti semua sarannya. Seperti saat aku ingin bermain video game seharian, Spencer tidak melanggarnya hanya saja Spencer mengajukan beberapa syarat yang harus aku penuhi setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Spencer selalu mempunyai bermacam-macam cara untuk membuatku patuh padanya dan anehnya lagi aku selalu patuh padanya tanpa merasa jengkel maupun kesal seperti hari-hari biasanya. Sejak saat itu aku benar-benar lupa akan luka yang di timbulkan oleh kepergian seorang Micky.

Ku lirik jam dinding yang tergantung di atas lukisan bunga, jarum baru menunjukkan pukul 6.20. Aku sengaja datang lebih awal hanya sekedar untuk mengingat kembali memori-memori indahku di tempat ini. Tak ingin melewatkan semua memori indah yang pernah aku alami disini, karena aku tahu semua suasana yang hangat ini akan segera hilang saat aku bertemu dengannya. Dengan Micky seseorang yang pernah memberiku kenangan indah di tempat ini. Kupandangi dinding kotak-kotak berwarna biru muda yang sampai sekarang tak pernah berubah meskipun sudah 2 tahun aku tidak mengunjunginya. Pemiliknya pun masih sama seorang namja yang biasa di panggil dengan sebutan Jae oppa. Masih senang berdiri di dekat perapian sambil memandangi para pelayannya melayani tamu-tamu yang datang. Suasana yang mula-mula terasa sangat hangat di musim hujan seperti ini tiba-tiba berubah menjadi beku sebeku hatiku saat aku melihat sesosok laki-laki yang kukenal datang mendekatiku. Dengan tergesa-gesa laki-laki itu melepas jas tebal yang ia gunakan untuk melindungi tubuhnya dari air hujan.

Matanya, mata itu masih memancarkan kehangatan yang sama seperti saat Micky meninggalkanku. Aku berusaha keras agar tidak larut dalam pesonanya untuk kedua kalinya seperti yang pernah aku lakukan beberapa tahun yang lalu.

“ apa maumu? ” kataku sambil menatapnya dengan tatapan tak bersahabat. Takut kalau-kalau aku akan terbuai lagi oleh mulut manisnya.

Micky tersenyum melihat ekspresiku. Kemudian sambil duduk di depanku Micky  memesan cappuccino kesukaannya.

“ tak pernah ku lihat kau semarah ini sebelumnya? Aku baru tahu kalau kau bisa juga menunjukkan wajah yang sangat tidak bersahabat kepadaku” katanya sambil melirik ke arah ku.

“ tak usah bertele-tele aku tidak punya banyak waktu. Katakan apa yang ingin kau sampaikan? ” kataku dengan nada yang ku buat terlihat sangat kesal.

Micky menatapku lama, detik demi detik pun berlalu. Akhirnya Micky mulai membuka pembicaraan kami.

“ aku tak pernah bermaksud melukai perasaanmu dengan meninggalkanmu. Bahkan walaupun aku adalah seorang bad boy yang sering berganti-ganti pasangan tanpa memikirkan luka yang aku timbulkan. Namun jauh dari dasar lubuk hatiku yang paling dalam aku tak menginginkan kau terluka karena aku Chagi. Kau tak pantas hanya mendapatkan namja sepertiku. Sekarang aku sadar bahwa aku telah benar-benar jatuh cinta kepadamu. Itu sebabnya karena cinta. Cinta malah mengubahku ingin berada di sampingmu. Membuatku mengingkari janjiku untuk melepasmu bersama orang yang lebih baik. ” Mata Micky memandang ke arah jendela mengamati hujan yang sudah mulai reda.

Sebelum aku sempat melontarkan argumenku atas pernyataan konyol yang baru saja Micky sampaikan, Micky sudah memulai menyampaikan pernyataan-pernyataan lainnya yang tak kalah mengagetkanku.

“ Chagiya, kau tidak akan pernah tahu tentang satu hal yang aku rasakan. ” katanya sambil menarik napas dalam-dalam.

“ Aku tidak perlu tahu apa yang kau rasakan, kaupun juga tak pernah tahu apa yang aku rasakan selama 2 tahun terakhir ini. ” kataku dengan sedikit lega karena akhirnya aku dapat menumpahkan kemarahanku kepadanya. Kurasa bukan kemarahan, tepatnya adalah kekesalan karena kemarahanku sudah hilang seiring perjalanan cintaku dengan My Dr. Prince (panggilan kesayanganku untuk Spencer).

Sambil memainkan sendok di dekat cangkir cappucinonya Micky mulai berbicara.

“ Sepertinya kau benar-benar tak ingin mendengar pengakuanku atau mungkin lebih tepatnya alasan mengapa aku mampu membuat keputusan, keputusan meninggalkan makhluk secantik dirimu. ” Matanya memancarkan kehangatan yang mengalahkan hangatnya perapian.

“ Kepergianku bertujuan agar kau bisa mendapatkan pendamping yang pantas.”

“ Owh,, hanya itu alasanmu. Kalau begitu seharusnya sekarang kau memberiku ucapan selamat karena aku sudah mendapatkan pendamping yang lebih baik daripada dirimu. Bukan malah datang kembali mengacaukan hidupku yang nyaris sempurna. ” Seketika kekagumanku terhadap pancaran kehangatan di matanya berubah menjadi rasa benci yang amat sangat mendalam setelah mendengar ucapannya.

“ Bu,,,Bukan itu maksudku Chagi. Aku kan tadi sudah bilang, rasa egoisku yang timbul karena cintaku padamu membutakan mata hatiku. Sehingga aku tak dapat melihatmu dengan laki-laki lain. Tidak sesuai dengan janji yang pernah aku yakini dulu. Janji yang malah membuatmu tambah menderita. Janji itu pula yang memaksaku untuk mengambil keputusan meninggalkanmu. ” Tidak biasanya Micky seorang bad boy ini berbicara dengan mata berkaca-kaca.

Hal itu membuatku sedikit bingung, sehingga membuat rasa benci yang tadi aku tunjukkan berubah menjadi rasa penasaran yang tak tertahankan. Terlalu sulit bagiku untuk tidak menanyakan kebingunganku ini kepadanya.

“ Apa yang sebenarnya terjadi? Apa hanya itu alasan kepergianmu? Kau tidak seperti biasanya. Tidak seperti Micky yang ku kenal selama ini. Atau waktu 2 tahunkah yang mengubah dirimu menjadi seperti ini? Tidak mungkin. Aku tidak percaya. ” aku mulai mengerutkan kening mencermati semua ekspresi ganjil Micky berusaha mencari jawabannya dari sorot matanya.

“ Entah Chagi aku bingung, aku tidak tahu darimana harus memulainya. Aku merasa, aku sudah sangat melukai perasaanmu. Sampai-sampai aku tidak mampu untuk memaafkan diriku sendiri. Aku tahu ini semua akan membuatmu bingung. Ini semua salahku, tapi kau harus mendengar semua penjelasanku. Walaupun mungkin untuk yang terakhir kalinya, karena mungkin kau tidak akan mau bertemu denganku lagi setelah malam ini. ”

Oh My God… ada apa ini. Kenapa alur pembicaraan kami semakin tidak dapat ku mengerti. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi kepada Micky?

“ Oke, sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya? Aku sudah muak dengan semua ini? ” sepertinya perkataanku tadi telah menggoreskan luka di hati Micky. Aku dapat melihat matanya yang sangat kesakitan saat mendengar ucapanku tadi.

Apa ini? Aku melukai Micky? Aku melukai hati seorang bad boy ? ah tidak mungkin itu pasti hanya perasaanku saja. Mana mungkin seorang bad boy dapat terluka hanya karena omongan gadis lemah sepertiku. Apa artiku baginya? Tidak ada. Jadi mana mungkin aku dapat melukai perasaannya. Tapi sisi lain hatiku berkata bahwa tak mungkin aku salah mengenali sorot mata itu. Aku mengenal Micky selama kurang lebih hampir 3 tahun jadi walaupun sudah berpisah hampir 2 tahun lamanya, aku masih bisa membaca sorot matanya itu.

“ Kau dapat mulai memberitahuku dari hal yang paling sederhana atau hal yang paling mudah untuk kau ceritakan. Aku tak punya banyak waktu. Bisakah kau membuat ini menjadi lebih cepat? ” aku melanjutkan kata-kataku.

“ Baiklah Chagi kalau itu memang yang kau inginkan. Kau memang selalu bisa membaca alur pikiranku. Tidak seperti yeoja-yeojaku yang lain. Yang dapat dengan mudahnya aku bohongi. Aku tak pernah menginginkan perpisahan itu terjadi. ”

“ Toh akhirnya terjadi juga, dan itu semua juga bukan karena aku menginginkannya. ” potongku di sela-sela penjelasannya.

“ Chagiya,, bisakah kau mendengarkanku 5 menit saja? Bukan, bukan 5 tapi hanya 3. Ya kurasa 3 menit sudah cukup bagiku untuk menjelaskan semuanya kepadamu. “ katanya dengan mimik muka sangat mengharapkan persetujuan dariku.

“ Oke. ” hanya kata itu yang terucap dari mulutku sambil berpura-pura melirik jam di dinding.

“ Terima kasih. Aku mampu membuat keputusan itu bukan karena aku tidak menginginkanmu di sisiku. Melainkan,,melainkan… ” Micky terdiam sejenak untuk mengambil napas. Semua ini terasa sangat aneh bagiku. Padahal sewaktu Micky memutuskan untuk meninggalkanku dia berkata dengan lancarnya dan tanpa perasaan bersalah sedikitpun.

“ Selain karena aku memang mempunyai yeoja lain, tapi sebenarnya bukan itu masalahnya. Itu hanya salah satu bagian kecil dari alasanku meninggalkanmu. Aku meninggalkanmu karena aku ingin kamu dapat menikah dan memiliki keturunan seperti orang-orang pada umumnya. Hal itu yang tidak akan pernah terjadi bila kau terus bersamaku. Aku tidak bisa Chagi…. ” kata-katanya terputus. Micky tidak dapat meneruskan kata-katanya.

Tunggu aku masih setengah tidak percaya tentang apa yang aku dengar tadi. Otakku mulai mencerna kata-kata yang baru saja Micky ucapkan. Aku masih tidak percaya dengan indera pendengaranku. Sementara otakku masih terus berputar untuk memahami apa yang tadi ku dengar, aku mencoba memberanikan diri membuka mulut untuk mulai bertanya kepada Micky.

“ Ap……apa…… apa maksud dari perkataanmu tadi? Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan? ” Tanya ku dengan terbata-bata saat otakku menemukan satu kata yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Mandul.

Tidak, aku bahkan tak sanggup memikirkan kata-kata itu apa lagi mengucapkannya. Begitu pula dengan Micky, apabila itu semua benar aku berani bertaruh Micky akan sama sepertiku. Tak akan mampu untuk mengungkapkannya.

“ Chagi,, apakah apa yang aku katakan tadi kurang jelas bagi mu? ” kata-kata Micky semakin membuat hatiku bergetar.

Kemudian ku dengar suara tawa pelan, tapi bukan tawa bahagia. Tawa saat Micky sedang sedih atau merasa frustasi. Aku masih membatu pada posisiku semula masih belum mampu untuk berkata-kata.

“ Xia chagi,, aku tidak dapat memberikanmu keturunan apabila nantinya kau menjadi istriku. Maka dari itu aku memberanikan diri untuk meninggalkanmu. Maafkan aku. ”

***

Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku berkelana entah kemana. Mencerna apa yang telah Micky katakan tadi kepadaku. Mengenai alasan mengapa dulu Micky meninggalkanku. Sulit rasanya mempercayai kata-katanya tadi. Tapi untuk apa Micky berbohong padaku. Apa gunanya? Untuk apa? Toh tanpa berbohong seperti itu aku juga sudah sangat membencinya. Lagi pula jika memang benar Micky mengharapkan ku bahagia dengan orang lain, sekarang aku sudah bahagia bersama My Dr. Prince. Atau setidaknya sebelum Micky datang dan mengacaukan acara malam pertunanganku dengan My Dr. Prince.

Ya,,malam pertunanganku dengan My Dr. Prince yang berantakan karena kehadiran orang yang telah menorehkan luka dihatiku.

TBC

One thought on “Not Easy To Forgive You! part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s