In My Camera (Chapter 4)


Author:: ideafina a.k.a Jung Yuuri

Cast : Jung Yuuri, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Jung Yunho, DBSK
Genre : Romance
Rate : G

 

Author’s POV
Jaejoong memandang lembut Yuuri yang sedang tertidur pulas di kasurnya.
Jadi kau berbohong demi melindungi Hye mi? Setelah perbuatannya yang membuatku menuduhmu, kau bahkan meminjaminya uang juga untuk adiknya berobat? Apakah ini yang kau maksud untuk membantu orang yang kau sayangi itu?


*Flashback*
“O y, mengenai Kim Jaejoong-ssi…”
Deg. Kenapa namaku disebut?
“…aku akan jujur Yuuri-ah. Aku akan mengatakan padanya bahwa aku stalker yang waktu itu. Aku tidak mungkin membiarkanmu dipandang buruk terus olehnya, karena bagiku kau malaikatku….”
Jadi bukan Yuuri? Tapi Hye mi pelakunya?
“Aku tidak peduli jika ia marah padaku dan melaporkan perbuatanku. Yang penting aku ingin dia tahu bahwa kau yeoja yang baik Yuuri-ah..”
“Sekarang aku sudah tahu, Hye mi-ssi.”jawab Jaejoong.
“Eh? Nuguya?”Tanya Hye mi bingung.
“Kim Jaejoong.”
“Kenapa ponsel Yuuri ada padamu?”
“Dia mabuk saat makan malam bersama kru pemotretan, jadi aku mengantarnya pulang. Dan karena dia tidak bangun saat kau menelpon, aku yang mengangkatnya.”
“Oh…”
“Jadi benarkah itu?”
“Ne?”
“Kau stalker sebenarnya? Bukan Jung Yuuri?”
Hye mi menghela napas. “Ne. Akulah pelakunya, bukan Yuuri. Mianhe. Jeongmal mianhe. Kau boleh melaporkanku, terserah padamu. Tapi yang pasti aku ingin kau tahu jika aku menyesal melakukannya…”
Jaejoong terdiam. Marah padanya? Seharusnya aku marah padanya, tapi kurasa tidak perlu. Foto-fotonya juga sudah kembali sebelum tersebar.
“Aku tidak akan melaporkanmu Hye mi-ssi. Yang penting aku sudah tahu yang sebenarnya, dan fotonya pun sudah kembali. Lagipula…”Jaejoong melirik Yuuri yang tertidur lelap, dan tersenyum lembut. “…jika bukan karena kau, aku tidak akan pernah mengenalnya.”
*end of flashback*

 

Jaejoong’s POV

Aku duduk di lantai samping tempat tidur dengan posisi menghadap Yuuri. Aku terus memperhatikan wajah tidurnya. Ini pertama kalinya aku melihat wajahnya yang tenang. Biasanya jika bertemu dengannya kami selalu ribut, dan ekspresi wajahnya selalu terlihat marah. Tapi sekarang berbeda. Ia terlihat sangat cantik ketika tenang seperti ini.
Aku melirik kamera Yuuri yang rusak lalu mengambilnya dan memperhatikannya seksama. Kau bahkan tidak menggunakan uang itu untuk memperbaiki kameramu. Bukankah kau sangat mencintai kamera ini?
Senyum tipis terulas di bibirku saat melihat Yuuri berganti posisi tidur. Hatiku menghangat melihatnya.
“Kau yeoja yang baik Yuuri-ssi… Mianhe karena menuduhmu… Apa kau akan memaafkanku?”
Seakan-akan menjawab pertanyaanku, Yuuri menendang-nendang dan memukul-mukul udara sambil mengigau, “Aku membencimu Kim Jaejoong! Gara-gara kau aku tidak bisa ikut lomba! Padahal aku pasti bisa menang! Trus Cassie juga rusak! Ini semua gara-gara kau! Menyebalkaannnn!!”
Setelah membuatku kaget dengan berteriak seperti itu, ia tertidur lagi. Aku hampir saja meledak tertawa, segera saja kututup mulutku. Lucu sekali, apa ia sering mengigau seperti ini? Aku jadi tidak tahan ingin menyentuhnya.
“Mianhe… aku akan melakukan apapun asal kau memaafkanku, Yuuri-ssi.” Aku mengusap pelan pipinya. Kemudian aku bangkit dan menyelimutinya. Kotak kamera kuletakkan kembali ke tempat semula, sementara kameranya kubawa.
“Aku akan memperbaikinya seperti semula. Mianhe… jeongmal mianhe…”

 

Yuuri’s POV

Aku terbangun dengan kepala yang terasa berat. Sepertinya sudah pagi, karena aku melihat sinar matahari melalui celah-celah jendela. Aku memandang sekelilingku. Ini kan kamarku? Siapa yang mengantarku pulang ya? Apa Yoochun Oppa?
Aku melihat jam tanganku, kemudian menjerit. “Udah jam segini?!”
Setelah mandi dan berpakaian secepat kilat, aku langsung berlari keluar. Aduh, perutku lapar lagi. Sementara halte bis jaraknya lumayan jauh.
“Fighting Yuuriiiii!!!”teriakku sambil berlari, dan akhirnya sampai halte bis tepat waktu saat bis datang. Aku buru-buru masuk ke dalam.
Dan seperti sebelumnya, namja itu duduk di kursi belakang dan memandang keluar jendela. Aku duduk di kursi yang sama, di dekat jendela yang berlawanan. Kupandangi wajah tampannya lama-lama, dan kurasakan hatiku menghangat. Seandainya dia sekarang bersamaku, apa dia akan tumbuh setampan namja itu?
Tiba-tiba namja itu berbalik menghadapku. Aku tersentak lalu memegang topiku agar lebih menutupi wajahku. Dari sudut mataku kulihat ia masih terus memandangiku. Aduh, bagaimana ini? Dia pasti mengiraku stalker. Sudah cukup aku dianggap stalker oleh satu orang.
Aku memutuskan untuk tidak menghiraukannya dan memandang keluar jendela.
“Ehem.”
Siapa itu yang berdeham? Sepertinya tidak ditujukan padaku.
“Ehem.”
Siapa sih? Aku lalu menolehkan kepala dari jendela dan terkejut melihat wajah namja itu yang sangat dekat denganku. Refleks aku menempelkan punggungku ke jendela, membuat topiku terlepas, dan rambutku tergerai.

Yunho’s POV

Aku memandang keluar jendela, tapi bisa kurasakan yeoja bertopi yang kemarin aku tolong itu masih memandangiku. Aku balas memandangnya, dan kulihat ia dengan gugup memegang topinya membuat wajahnya lebih tertutupi topi lagi. Penampilannya seperti laki-laki. Jika sebelumnya ia tidak mengajakku bicara, mungkin aku masih tetap mengira ia seorang namja. Ia masih melihatku dari sudut matanya.
Apa ia menyukaiku? Ini bukan pertama kalinya ada yeoja yang suka memperhatikanku seperti itu. Tentu saja ini karena diriku yang terlalu tampan. *iyaaa,, Yunho oppa emang ganteng bangeetttt! >///< *
Mungkin karena terlalu malu ketahuan memandangku, ia sekarang mengalihkan wajahnya ke jendela. Aku pun memutuskan untuk menghampirinya dan duduk di dekatnya. Tapi sepertinya ia tidak menyadarinya.
“Ehem.”aku berdeham, dia diam saja.
Kemudian aku berdeham lagi, dan akhirnya yeoja itu berbalik melihatku. Mungkin karena kaget dengan wajahku yang terlalu dekat dengannya, refleks ia memundurkan tubuhnya ke jendela, membuat topinya terlepas dan rambutnya tergerai.
Aku terpana memandangnya. Ia sangat… cantik. Tapi bukan hanya itu yang membuatku terpana. Kenapa yeoja ini terlihat mirip dengannya? Apalagi matanya, mata cokelat muda beningnya. Mengingatkanku akan…
“A..apa maumu?”tanyanya.
Aku tersenyum. “Mianhe karena aku sudah mengagetkanmu. Tapi sebelumnya kau terus memandangiku, membuatku tidak nyaman.”
Ia terlihat tidak enak. “Jweseunghamnida. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman.” Kemudian ia mengambil topinya yang terjatuh dan memakainya lagi.
Aku masih terus memandanginya, kenapa ia terlihat begitu mirip? Aku memutuskan untuk memastikan siapa namanya. “Jika sebelumnya kita tidak pernah berbicara, mungkin aku akan mengira kau seorang namja. Kenalkan, Lee Yunho imnida.” Aku mengulurkan tanganku padanya.
Dia terlihat terkejut saat aku menyebutkan namaku. Mungkin karena ia tidak menyangka jika aku akan mengajaknya berkenalan. Atau karena dia adalah…
“Choneun…mm.. Park… Yuuri imnida…”katanya dan ia pun membalas uluran tanganku.
Yuuri? Kenapa namanya sama? Tapi… Park?
“Mm… Lee Yunho-ssi..”
“Ne?”
“Bisa tidak geser sedikit?”
Aku mengedip-ngedipkan mata melihat wajahnya yang terlihat tidak nyaman. Baru aku sadar kenapa ia seperti itu. Aku duduk terlalu dekat dengannya.
“Ah… mianhe.”ucapku, melepaskan tanganku lalu sedikit bergeser.
Kemudian kami asik mengobrol. Dia bilang jika ia mahasiswa fotografi tingkat dua di Kyunghee. Pantas saja saat tasnya jatuh kemarin banyak foto-foto dan album yang keluar dari tasnya.
Akhirnya bis sampai di halte Universitas Kyunghee. Ia pamit turun. Tapi sebelum ia melangkahkan kaki keluar bis, tanpa mempedulikan orang-orang yang berada di bis, aku berteriak, “Sampai ketemu besok!”
Dia tersenyum, dan aku membalas senyumnya dengan lebih lebar.

 

Yuuri’s POV

“Sampai ketemu besok!”
Aku menoleh saat mendengar teriakan namja bernama Lee Yunho itu. Dan tanpa bisa kutahan, senyumku pun mengembang. Ia membalas senyumku dengan lebih lebar lagi.
Entah ada apa dengan diriku. Tapi aku merasa senang sekali berbicara dengan Yunho-ssi. Tadi kami mengobrol banyak. Ia bercerita jika ia bekerja sebagai manajer di perusahaan kakeknya, dan umur kami berbeda tiga tahun, tahun ini umurnya 25 tahun. Dan ia sering sekali naik bis pagi-pagi karena ada suatu tempat yang ingin ia kunjungi, dan ke tempat itu harus menggunakan bis.
Dia bilang namanya Lee Yunho. Aku sedikit kaget mendengar namanya. Karena namanya Yunho, bukan Jung Yunho, tapi Lee Yunho. Hal itu membuatku kecewa. Padahal aku berharap jika namanya Jung Yunho. Aku merasa ia ramah sekali, membuatku teringat saat pertama kali kenal Yoochun oppa. Jadi tanpa aku sadari aku mengatakan namaku Park Yuuri.-_-‘
Walaupun bukan Jung Yunho yang aku kenal, tapi aku ingin sekali bertemu dengannya lagi. Mungkin kami bisa berteman.
Aku melangkahkan kakiku dengan riang ke gerbang kampus. Akhirnya setelah beberapa hari ini aku bisa gembira. Mudah-mudahan setelah ini akan ada hal baik lainnya. Aku bahkan tidak terlalu peduli saat tidak bisa masuk kelas Han sosaengnim karena terlambat. Aku pun memutuskan untuk pergi ke kantin dan membeli roti untuk kumakan di tempat favoritku, di taman belakang kampus.
Kumakan rotiku dalam diam. Pikiranku masih melayang ke pertemuanku dengan Lee Yunho tadi pagi, membuatku senyum-senyum sendiri.
“Ternyata kau ada disini.”
Aku menoleh ke asal suara. “Kim Jaejoong-ssi?” Untuk apa dia kemari? Mau cari ribut lagi? Ah, biarkan saja, lebih baik tidak usah mempedulikan apa yang dia bicarakan nanti. Saat ini aku hanya ingin mengingat hal yang menyenangkan saja.
Ia duduk di sampingku. “Kelihatannya kau sedang gembira.”
Aku menatapnya dengan cengiran lebar. “Ne. dan karena aku sedang gembira, aku tidak ingin merusak kegembiraanku dengan mendengar kata-kata menyebalkan darimu!”kataku lalu menggigit rotiku lagi.
Aku mendengarnya terkekeh geli. “Aku tidak ingin membuatmu kesal. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena tadi malam aku antar pulang.”
Aku langsung menatapnya lagi. “Jinjjayo?”tanyaku sangsi.
“Ne.”jawabnya dengan senyum yang… manis. Ah! Apa sih yang kau pikirkan, Jung Yuuri!
“Ya! Kenapa malah kau yang mengantarku?! Seharusnya kan Yoochun oppa!”seruku kesal. Ngapain sih dia tiba-tiba bersedia mengantarku pulang seperti itu? Membuatku curiga saja. Padahal aku inginnya Yoochun oppa yang mengantarku.
“Kenapa harus dia?”tanyanya dengan menyipitkan mata. Kenapa dia memandangku seperti itu?
“Ya karena….”tiba-tiba ponselku berbunyi.
“Yeoboseyo? Yoochun oppa? Ne. kemarin aku memang mabuk, tapi sekarang aku sedang gembira.”
Kemudian aku mendengarkan kata-katanya, lalu tertawa. “Jinjjayo? Oppa benar-benar…? Haha… kau jahil sekali oppa. Anhi. Neomu neomu chuaheyo. Aku akan selalu mendukung oppa. Ne, oppa. Bye.”
Setelah mematikan telponku, aku kembali memandang Jaejoong, dan kulihat ia menatapku dengan wajah cemberut. “Ah, mianhe aku berbicara dengan oppa terlalu lama.” Ia memalingkan wajah dengan kesal. “Ngomong-ngomong ada urusan apa kau mencariku? Bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi?”
Kemudian wajahnya yang tadinya kesal, langsung berubah… bingung, senang,… dan… entahlah. Ekspresinya susah digambarkan, sepertinya emosinya saat ini sedang bercampur aduk. Ia kembali menatapku, membuatku jengah dan melirik ke arah lain.
“Aku…ada yang ingin kukatakan.”
Aku melirik sedikit wajahnya. “N..ne.. Mworago?”
Ia memejamkan mata dan menghela napas. “Maukah kau memaafkanku?”
“Hah?” Aku bingung. “Untuk apa?”
“Karena sudah menuduhmu sebagai stalker, dan merusak kameramu.”
Kok? Kenapa tiba-tiba? “Ng… kalau tentang kamera, memang dirimu yang salah, dan memang seharusnya minta maaf padaku. Tapi tentang stalker…. Kan aku yang salah?”
Ia menggeleng. “Aku sudah mendengarnya dari Cho Hyemi-ssi. Ternyata dia stalker waktu itu.”
Aku terkesiap mendengarnya. Jadi Hye mi yang memberitahunya? Kenapa Hye mi memberitahunya? Hye mi babo! Nanti kalau dia mengalami masalah gimana?!
“Tolong maafkan Hye mi. jangan laporkan dia…”ucapku sambil membungkuk padanya.
“Jung Yuuri-ssi, angkat kepalamu..”
“Aku tidak akan mengangkat kepalaku sampai kau mau memaafkannya.”
Tiba-tiba aku merasakan bahuku dipegang, dan posisiku yang sedang membungkuk diluruskan. “Aku sudah memaafkannya. Sekarang, maukah kau memaafkanku?”tanyanya dengan pandangan mata yang lembut.
Jujur saja, aku masih bingung dengan hal ini. Jadi aku pun tidak tahu harus berkata apa.
“Kau pernah bilang, jika suatu saat aku mengetahui dirimu bukanlah stalker waktu itu, aku akan menyesal dan kau tidak akan pernah memaafkanku. Sekarang aku tahu dan aku menyesal. Tapi aku harap kau mau memaafkanku…”pintanya dengan wajah yang sepertinya penuh dengan penyesalan.
Tapi kapan aku pernah berkata seperti itu padanya? Aku berusaha mengingat-ingat. Haduuuhhh…. Kenapa aku pelupa sekali sih?
“Ng… Kim Jaejoong-ssi… memangnya aku pernah berkata seperti itu ya?”
“Hah?”
“Kapan aku bilang ‘kau akan menyesal dan aku tidak akan memaafkanmu’?”tanyaku bingung.
Ia menatapku tercengang. “Kau benar-benar tidak ingat?”
Aku meringis kecil. “Aku ini pelupa parah. Biasanya aku tidak akan mengingat hal-hal yang menurutku tidak perlu kuingat. Jadi, jika aku tidak mengingatnya, berarti itu tidak terlalu penting untukku. Lagipula aku bukan orang pendendam.”jelasku, dan aku jadi menahan tawa saat melihat wajahnya yang tercengang. “Tapi permintaan maafmu kuterima.”
Ia kemudian tertawa kecil. “Walaupun tidak seperti dugaanku, aku sudah lega sekarang. gomapta.”
“Cheonmaneyo.”ucapku ikut tersenyum. Aku juga lega masalah diantara kami selesai.
“Lalu…”
“Hm?”
“Apa kita bisa berteman?”
Aku berpikir-pikir sebentar. “Apa kita perlu berteman?”
“Kenapa tidak perlu?”
“Kenapa perlu?”tanyaku balik.
“Jika kita tidak ribut lagi, sudah baikan, lalu hubungan kita sekarang apa selain teman?”
Aku rasa sekarang saatnya pembalasan. Aku akan sedikit mengerjainya. Hehe..*evilYuu mode on* “Kau sedang beruntung Kim Jaejoong-ssi. Kau meminta maaf padaku pada saat suasana hatiku sedang baik, jadi kau kumaafkan. Tapi untuk berteman, sepertinya aku belum bisa menerimamu sebagai temanku.”
“Kenapa?”tanyanya dengan wajah kecewa. Membuat evilYuu tertawa dalam hati.
“Karena kau lebih cantik daripada yeoja-yeoja di kampus ini.”ucapku dengan terkekeh geli.
Kim Jaejoong langsung memelototkan matanya. “Ya! Nan namja!”serunya kesal. “Berani-beraninya kau mengatakan itu!”
Aku langsung berdiri dari dudukku, dan berjalan pergi meninggalkannya sambil tertawa-tawa. “Ada banyak hal yang harus kupertimbangkan untuk menerimamu sebagai temanku Kim Jaejoong-ssi! Annyeong~!”teriakku dari jauh dan melambai-lambaikan tanganku padanya.

 

Jaejoong’s POV

Ia berpikir-pikir sebentar. “Apa kita perlu berteman?”
“Kenapa tidak perlu?”
“Kenapa perlu?”tanyanya balik. Haduh, kenapa dia suka sekali membalik-balikkan pertanyaan orang sih?
“Jika kita tidak ribut lagi, sudah baikan, lalu hubungan kita sekarang apa selain teman?”
Ia tersenyum angkuh. Dasar! Apa dia sudah merasa di atas angin sekarang? “Kau sedang beruntung Kim Jaejoong-ssi. Kau meminta maaf padaku pada saat suasana hatiku sedang baik, jadi kau kumaafkan. Tapi untuk berteman, sepertinya aku belum bisa menerimamu sebagai temanku.”
Aku langsung kecewa mendengarnya. Dia pasti belum sepenuhnya memaafkanku. “Kenapa?”tanyaku. Apa kau masih belum sepenuhnya memaafkan kesalahanku? Tapi aku tidak berani menyuarakan pikiranku itu. Aku takut itu benar.
Kemudian kulihat bibirnya mulai membentuk senyuman. “Karena kau lebih cantik daripada yeoja-yeoja di kampus ini.”ucapnya dengan terkekeh geli.
Mataku melotot. “Ya! Nan namja!”seruku kesal. “Berani-beraninya kau mengatakan itu!”
Ia langsung berdiri dari duduknya, dan berjalan pergi meninggalkanku sambil tertawa-tawa. Aku terpesona menatap wajahnya yang tertawa. Wajah ceria pertama yang kulihat darinya.“Ada banyak hal yang harus kupertimbangkan untuk menerimamu sebagai temanku Kim Jaejoong-ssi! Annyeong~!”teriaknya dari jauh dan melambai-lambaikan tangannya padaku.
Aku masih terus menatap kepergiannya. Kurasakan bibirku masih membentuk senyuman di wajahku. Dasar yeoja menyebalkan! Dia menolakku menjadi temannya, tapi malah berbicara banmal(informal) padaku. Tapi…kenapa rasanya bahagia sekali melihatnya ceria seperti itu? Aku masih teringat kata-katanya tadi yang mengataiku lebih cantik dari yeoja-yeoa yang ada di kampus. Ternyata dia yeoja yang suka meledek orang dan suka bercanda. Apa ia seperti itu karena sedang gembira? Aku penasaran sekali, sebenarnya apa yang membuatnya begitu ceria hari ini? Padahal tadi malam dia mabuk karena kesal denganku.
Tiba-tiba aku teringat pembicaraannya dengan Yoochun tadi. Apa karena namja itu? Kurasa aku harus segera menanyakan apa hubungan mereka sebenarnya.
Tiba-tiba aku tertegun sendiri menyadari apa yang baru saja aku pikirkan.
Untuk apa aku harus melakukan itu?

 

Author’s POV

Bukan tanpa sebab Yuuri datang sangat awal ke studio pemotretan. Ini karena permintaan yang sangat tidak biasa dari Yoochun. Ya, Yoochun yang selama ini selalu membantunya, sekarang meminta bantuannya. Tentu saja Yuuri dengan senang hati bersedia membantu namja itu. Apalagi saat mendengar bantuan apa yang diinginkan oleh Yoochun, langsung saja ia bersedia.
“Bagaimana Yuuri-ah?”Tanya Yoochun gugup setelah menjelaskan mengenai masalahnya pada Yuuri. Yuuri terlihat berpikir-pikir sebentar.
“Aku tidak tahu bagaimana nanti jadinya. Tapi aku pasti akan membantu oppa.”jawab Yuuri sambil mengacungkan jempolnya. Yoochun tersenyum sangat lebar, kemudian mengacak-acak rambut Yuuri yang tidak ditutupi topi dengan gemas.
“Ya! Oppa!”seru Yuuri kesal.
“Gomapta, chagi.”Yoochun terkekeh geli saat mengatakan ‘chagi’, apalagi melihat wajah Yuuri yang mulai menahan mual mendengar kata itu.
“Tidak bisakah oppa tidak menggunakan panggilan itu? Aku benar-benar mual mendengarnya oppa.”
“Waeyo? Masa’ aku tidak boleh memanggilmu seperti itu sih?”
“Aku tidak habis pikir kenapa yeoja namja yang berpacaran selalu menggunakan kata-kata itu. Itu terdengar menggelikan di telingaku.”
“Kalau begitu bagaimana jika aku memanggilmu ‘yeobo’?”Tanya Yoochun dengan senyum jahilnya.
“Oppa! Sekarang aku mau muntah!”seru Yuuri sebal. “Kau ingin membuatku malu ya?! Awas saja jika kau berani memanggilku seperti itu di depan orang-orang!”
Yoochun tertawa geli melihat wajah Yuuri yang sekarang sedang menatapnya kesal dengan bibir dimanyunkan. Ia mencubit kedua pipi Yuuri gemas.
“Aigoo… Neomu kyeopta…”ucap Yoochun dengan nada gemas. “Jangan memajukan bibirmu seperti itu Yuuri-ah. Kau minta kucium ya?”
Wajah Yuuri memerah, dan dengan wajah malu ia memukul lengan kekar Yoochun dengan keras, membuat namja itu berteriak kesakitan.

Yuuri’s POV

Aku merasa mual mendengar Yoochun Oppa memanggilku ‘chagi’. Walaupun ia berhak memanggilku seperti itu, tapi tetap saja aku tidak menyukainya. Kata itu terasa sangat menggelikan di telingaku.
“Tidak bisakah oppa tidak menggunakan panggilan itu? Aku benar-benar mual mendengarnya oppa.”
“Waeyo? Masa’ aku tidak boleh memanggilmu seperti itu sih?”
“Aku tidak habis pikir kenapa yeoja namja yang berpacaran selalu menggunakan kata-kata itu. Itu terdengar menggelikan di telingaku.”
“Kalau begitu bagaimana jika aku memanggilmu ‘yeobo’?”Tanya Yoochun oppa dengan senyum jahilnya.
“Oppa! Sekarang aku mau muntah!”seruku sebal. “Kau ingin membuatku malu ya?! Awas saja jika kau berani memanggilku seperti itu di depan orang-orang!”
Ia tertawa geli melihat wajahku yang sekarang sedang menatapnya kesal dengan bibir dimanyunkan. Kemudian ia mencubit kedua pipiku gemas.
“Aigoo… Neomu kyeopta…”ucapnya dengan nada gemas. “Jangan memajukan bibirmu seperti itu Yuuri-ah. Kau minta kucium ya?”
Kurasakan wajahku memerah karena malu, lalu kupukul lengan kekarnya dengan keras, membuatnya berteriak kesakitan. Kenapa sikapnya jadi menjijikkan seperti ini sih? Aku jadi menyesal bersedia membantunya. Tapi aku tidak mungkin menarik kata-kataku kan?
Aku melihatnya yang masih memegangi lengannya dengan kesakitan. Apa aku memukulnya terlalu keras?
“Neo gwenchanayo? Mianhe, oppa. Apa aku memukulmu terlalu keras?”tanyaku cemas, lalu menyentuh lengannya yang tadi kupukul dengan cukup keras.
Yoochun oppa meringis kecil. “Gwenchana, chagiya.”
Pipiku memanas, tapi bibirku cemberut mendengarnya memanggilku seperti itu lagi. Lagi-lagi ia menggodaku dengan kata yang aku tidak suka itu. Tapi aku tidak bisa berlama-lama marah padanya. Ini gara-gara aku terlalu menyayanginya sih.

 

Author’s POV

Yoochun dan Yuuri masih terus berbicara dengan mesra dan akrab, padahal sekarang sudah lumayan banyak orang yang berada di depan pintu ruangan itu dan mengintip mereka berdua dari balik pintu yang separuh terbuka.
“Mereka pacaran ya onnie?”tanya seorang kru pada yeoja berambut panjang dan berpakaian modis yang sedang melihat pemandangan itu dengan mata nanar.
“Mwolla.”jawabnya pelan.
“Aku kira Ji Hye yeojachingunya Yoochun, kalian kan dekat sekali. Tapi sepertinya aku salah.”kata kru yang lain.
Yeoja bernama Seo Ji Hye itu menatap kru yang mengatakan hal itu sambil tersenyum kecil. “Sekarang oppa percaya kan jika aku tidak berpacaran dengan Yoochun? Lagipula Yuuri yeoja yang sangat baik dan manis, mereka cocok sekali.”

 

Jaejoong’s POV

Aku baru saja sampai ke studio pemotretan dan menuju ruang ganti untuk mengganti bajuku dengan kostum pemotretan. Kulihat ada banyak orang sedang berkumpul di depan pintu. Aku menghampiri mereka dengan penasaran.
“Sekarang oppa percaya kan jika aku tidak berpacaran dengan Yoochun? Lagipula Yuuri yeoja yang sangat baik dan manis, mereka cocok sekali.”
DEG.
Apa yang barusan Ji Hye noona katakan? Pacaran? Cocok?
Aku melihat ke arah pandangan mereka, dan hal yang kulihat selanjutnya membuatku mengepalkan tangan karena marah. Yuuri dan… Yoochun. Mereka berdua terlihat berbincang dengan seru dan akrab. Wajah Yuuri terlihat sangat ceria. Jadi benar mereka pacaran?
Aku tidak bisa melihat pemandangan ini lebih lama lagi. Dadaku terasa sesak. Dengan cepat aku balik badan dan meninggalkan tempat itu.
“Lho? Jaejoong-ssi!”panggil Ji Hye noona, tapi aku tidak mempedulikan hal itu. Aku terus berjalan keluar dan duduk di kursi di halaman.
Aku menekan tangan kananku di dada kiriku. Kenapa dadaku terasa begitu sesak saat mendengar kedekatan antara Yuuri dan Yoochun? apa ada yang salah denganku?
Kemudian aku teringat kata-kata Junsu.
‘Kau menyukainya hyung’
“Anhiyo. Aku hanya penasaran saja padanya,”jawabku pelan, berusaha menghilangkan kata-kata Junsu di kepalaku.
‘Penasaran bisa berubah jadi suka, hyung.’
“Tidak… tidak mungkin…”
Tapi kenapa semakin aku menyangkalnya, dadaku semakin sesak dan jantungku berdebar semakin kencang?
Aku memejamkan mataku sejenak, berusaha mencerna kata-kata Junsu, perasaanku, dan semua yang terjadi padaku. Kupijat kepalaku dengan kesal saat aku benar-benar menyadarinya sekarang. Ya, Kim Jaejoong, kau menyukainya. Bukan penasaran. Kau benar-benar menyukainya.
Kemudian aku membuka mata dan terkejut melihat orang yang sedang kupikirkan sedang menatapku dengan tersenyum.

 

Author’s POV

Yuuri tersenyum saat dilihatnya Jaejoong sedang duduk sendirian di halaman. Ia menghampiri namja itu dan berdiri di hadapan namja yang kini sedang memejamkan matanya itu. Ia tersenyum saat melihat namja itu terkejut melihatnya.
“Sedang apa?”tanyanya, lalu duduk di sebelah Jaejoong.
Jaejoong menatapnya dengan gugup. “Ti..tidak sedang apa-apa.” Setelah menyadari perasaannya mendadak Jaejoong jadi tidak ingin melihat Yuuri. Ia terlalu gugup menghadapi Yuuri dan terlalu kesal saat menyadari dirinya sudah kalah sebelum berperang. Yoochun sudah memiliki yeoja itu. Jaejoong memijat keningnya dengan kesal.
Yuuri menatapnya tidak percaya. “Kau sakit ya?”tanyanya. Jaejoong menggeleng.
“Tapi wajahmu terlihat lelah dan pucat. Kau yakin tidak apa-apa?”Tanya Yuuri dengan nada suara cemas.
Jaejoong memandang Yuuri lalu tersenyum kecil. ‘Kau memperhatikanku? Apakah aku masih bisa berharap lebih?’
“Aku benar-benar tidak apa-apa Yuuri-ssi. Hanya sedikit lelah karena tadi malam aku tidak bisa tidur.”jawab Jaejoong tidak sepenuhnya berbohong. Tadi malam ia memang tidak bisa tidur saking senangnya Yuuri memaafkannya.
Yuuri masih menatapnya khawatir. “Kau sudah sarapan?” Jaejoong mengangguk. Kemudian Yuuri membuka tas selempang hitam belelnya dan mengeluarkan jus jeruk kaleng. Ia memberikannya pada Jaejoong.
“Ini. Minumlah. Kau pasti akan merasa segar setelah meminumnya.”
Jaejoong memandang Yuuri takjub. Ia seperti bermimpi melihat yeoja ini memperhatikannya seperti itu. Ia menerima jus kaleng itu dengan tersenyum lebar. “Gomapta.”
“Cheonmaneyo. Aku akan masuk ke dalam dan memberitahu para kru tentang kondisimu. Sepertinya kau butuh istirahat setidaknya sekitar setengah jam.”kata Yuuri lalu bangkit dari duduknya, tapi Jaejoong menangkap tangannya dan menahannya.
“Tetaplah disini. Temani aku.”
***
Yoochun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Yuuri dan Jaejoong? Kombinasi yang sangat tidak biasa. Mereka terlihat mengobrol tanpa ada urat leher yang keluar. Apa masalah di antara mereka sudah selesai?
Dengan penasaran, Yoochun masih memandangi kedua orang yang sedang mengobrol di halaman itu. Kemudian ia mengernyitkan dahinya melihat ekspresi wajah Jaejoong pada Yuuri. Apalagi senyum lebar namja itu saat Yuuri memberikannya jus kaleng, membuat Yoochun membelalakkan matanya.
“Jangan-jangan ia menyukai Yuuri?”gumamnya, kemudian tertawa kecil. “Sepertinya kau harus menghadapiku dulu baru bisa mendapatkannya, Kim Jaejoong-ssi.”
***

Sejak ia melihat Yoochun dan Yuuri berbicara akrab di dalam ruang ganti, Ji Hye tidak bisa melepaskan pandangannya dari Yoochun. Sebenarnya ia masih tidak percaya jika Yoochun berpacaran dengan Yuuri, apalagi Yoochun pernah mengatakan jika baginya Yuuri yeodongsaeng yang sangat manis.
Matanya terus menatap Yoochun yang sedang mempersiapkan peralatan untuk pemotretan. Kemudian dilihatnya Yoochun menghampiri jendela, dan terlihat kaget dengan apa yang dilihatnya di luar sana. Penasaran, Ji Hye mendekati Yoochun dan melihat apa yang dilihat Yoochun dari belakang. Yuuri dan Jaejoong.
Ji Hye terbelalak melihat senyum Jaejoong yang sangat kentara ketika Yuuri memberikan jus kaleng kepada namja itu. Ia melirik Yoochun cemas. Apakah Jaejoong…
“Jangan-jangan ia menyukai Yuuri?”gumam Yoochun, menyuarakan pikiran Ji Hye. Kemudian namja itu tertawa kecil. “Sepertinya kau harus menghadapiku dulu baru bisa mendapatkannya, Kim Jaejoong-ssi.”
Ji Hye berbalik meninggalkan Yoochun. Walaupun pelan, Ji Hye bisa mendengar kata-kata Yoochun tadi dengan jelas. Dan semua keraguan di hatinya terjawab sudah. Yoochun dan Yuuri memang berhubungan. Dan itu berarti ia harus mengubur perasaannya dalam-dalam.

 

Jaejoong’s POV

Akhirnya pemotretan hari ini selesai juga. Aku masuk ke ruang ganti dan duduk di sana untuk beristirahat sebentar. Awalnya memang mood-ku buruk sekali saat melihat Yuuri dan Yoochun. Tapi setelah berbicara dengan Yuuri di halaman, moodku langsung membaik. Aku mengingat kejadian tadi pagi dengan tersenyum.

*Flashback.*
“Tetaplah disini. Temani aku.”
Yuuri menatap tangan Jaejoong yang sekarang sedang memegang lengannya. Jaejoong melihat tatapan Yuuri kemudian langsung melepaskan tangannya. “Mianhe…”
Yuuri hanya tersenyum kecil. Ia duduk kembali di sebelah Jaejoong lalu menelpon Yoochun. “Yeoboseyo. Oppa, sepertinya kita harus menunda pemotretan sekitar setengah jam. Jaejoong-ssi sedang tidak enak badan. Aku akan menemaninya sebentar. Ne, oppa. Gomawoyo.”
Yuuri tersenyum memandang Jaejoong. “Kau bisa beristirahat selama setengah jam. Bagaimana jika kita ke dalam saja? Kau bisa tidur sebentar.”
Jaejoong menggeleng dan tersenyum. Bukan tidur yang dibutuhkannya. Ia hanya butuh yeoja ini bersamanya. Tapi mana mungkin ia mengatakan hal itu.
“Aku hanya perlu duduk sebentar disini dan kau hanya perlu menemaniku.”
Yuuri menatapnya bingung, tapi ia tidak mengatakan apapun. Mereka hanya terdiam sampai kemudian Jaejoong memejamkan matanya dan mendendangkan lagu ciptaannya dengan merdu.

Jikyeo jugo sipho neoui jalmotdwin nappeun boreutdeul kkajido
Himdeun nal utge mandeuneun geoya
Jom himdeul getjiman neol saranghae rago maldo halgeoya
Meonjeo nae phume oneun nal kkaji
(I want to protect you… even your bad habits make me smile
When I’m tired
Although it may be difficult, I’m going to say that I love you
Until the day you first come into my arms)
I’ll Protect You – by Kim Jaejoong

Lagu itu sangat mewakili perasaannya saat itu. Jaejoong tahu sekarang yeoja yang berada di sampingnya ini sudah menjadi milik Park Yoochun, tetapi ekspresi Yuuri saat melihatnya bernyanyi membuatnya berpikir lain.
“Akan kubuat kau menyukaiku.”
*End of flashback*

Aku segera mengganti bajuku dan keluar dari ruang ganti. Kulihat Yoochun menghampiriku dengan tersenyum, membuat moodku jelek lagi. Untuk apa ia menghampiriku?
“Aku ingin berbicara sebentar denganmu.”katanya, menjawab pikiranku. Aku memandangnya malas. Apa sih yang ingin ia bicarakan? Aku sedang malas berbicara dengannya.
“Bisa kita bicara di dalam?”tanyanya saat melihatku masih diam saja. Kemudian aku mengikutinya masuk kembali ke ruang ganti. Aku menghempaskan tubuhku di sofa di ruangan itu. Ia hanya berdiri dan menyandarkan punggungnya di dinding dan melipat tangannya di depan dadanya. Hah! Sok sekali!
“Ada apa?”tanyaku langsung, aku tidak ingin berlama-lama bersamanya. Bisa-bisa aku meledakkan kemarahanku padanya.
Aku mengambil botol air mineralku di meja, dan meminumnya. “Kau menyukai Yuuri?” aku langsung tersedak dan memuntahkan air yang kuminum saat mendengar pertanyaan Yoochun yang langsung itu.
Aku terbatuk-batuk dan menatapnya kesal. Ia hanya memandangku dengan wajah datar.
“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?”
“Aku bisa melihatnya dari wajahmu saat kau memandang Yuuri. Aku benar kan?”
Aku menatapnya tajam. “Kalau iya memangnya kenapa?”
Yoochun mengangkat alisnya. “Kurasa kau sudah tahu. Hubunganku dengan Yuuri bukan hanya sekedar teman. Kami…”
“Aku tahu.”langsung saja kupotong kata-katanya. Aku tidak ingin mendengarnya mengatakan mengenai hubungan mereka.
“Lalu?”
“Apa salah jika aku menyukainya? Apa aku tidak punya hak untuk menyukainya?” Aku melontarkan pertanyaan itu dengan tajam. Rasanya semakin lama disini aku semakin panas. Aku ingin sekali melampiaskan kemarahanku pada namja ini.
Aku tercengang ketika melihat Yoochun tersenyum alih-alih marah atau kesal. “Tidak ada salahnya menyukai seseorang. Kau juga punya hak untuk menyukainya. Hanya saja, jangan memaksanya atau menyakitinya dengan perasaanmu. Biarkan ia memilih siapa yang ia sukai.” Kemudian ia keluar meninggalkanku yang bingung dengan kata-katanya.
“Kau benar-benar percaya diri sekali Park Yoochun!”desisku kesal.

 

Yuuri’s POV

Aku berjalan ke halte bis dengan pikiran menerawang. Sejak beberapa hari yang lalu, sejak Kim Jaejoong bernyanyi di depanku, aku jadi terus-menerus memikirkan namja itu. Hari itu pertama kalinya aku mendengar suaranya saat bernyanyi, dan itu membuatku…terpesona. Apa suara merdunya itu yang membuat yeoja-yeoja seakan-akan terhipnotis olehnya. Sekarang aku baru sadar kenapa ia bisa sangat terkenal. Ia sangat berbakat, dan sejak kemarin aku jadi sangat menyukai lagu yang ia nyanyikan itu. Anhi. Bukan hanya lagunya, tapi suaranya juga. Suara merdunya benar-benar membuatku merasa nyaman ketika mendengarnya.
Hmm.. tapi suara Yoochun oppa juga merdu kok. Kalo Yoochun oppa juga penyanyi pasti jika mereka digabungkan akan menjadi grup yang lebih terkenal lagi dari popularitas Jaejoong-ssi sekarang.
Aku melihat bis yang sudah tiba dan bergegas masuk ke dalamnya. Kemudian aku tersenyum melihat Yunho yang menatapku dengan senyum lebar dan menepuk-nepuk kursi di sebelahnya yang kosong. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Bagaimana kabarmu?”tanyanya.
“Akhir-akhir ini semuanya berjalan baik. Bagaimana denganmu?”
Ia terlihat berpikir-pikir sebentar, kemudian menghela napas. “Tidak begitu baik.”jawabnya murung.
“Waeyo?”
“Aku sedang bersitegang dengan harabeoji. Ia mengatakan akhir-akhir ini aku tidak becus mengurus perusahaan. Padahal kan aku hanya perlu sedikit bersantai.” Ia menghela napas lagi. “Kenapa ya semakin tua seseorang, sifat egoisnya semakin kuat?”
“Ah, tidak juga. Aku banyak mengenal orang yang semakin tua ia semakin pengertian.”
“Benarkah? Tapi memang sudah sifat asli harabeoji dari masih muda sudah seperti itu sih.”katanya terkekeh kecil. “Hei, apa hari ini kau sibuk?”
“Tidak. Sebenarnya hari ini aku tidak ada kuliah, juga tidak ada pekerjaan di studio, tapi aku bosan di rumah, jadi aku pergi ke kampus.”
Yunho tersenyum senang.”Kalau begitu, kau mau menemaniku?”
***

Sekarang aku sudah berada di taman bermain dengan Yunho. Aku menatap taman bermain itu dengan takjub. Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak pernah kesini, dan ternyata permainannya semakin banyak saja. Aku jadi merasa excited.
“Mau mulai naik apa?”tanya Yunho yang tersenyum melihatku yang sekarang pasti terlihat norak sekali. Tapi aku tidak peduli. Aku langsung menunjuk satu permainan. Kemudian kami bergegas kesana.
Perutku merasa sangat lapar setelah sekitar tiga jam kami mencoba berbagai wahana di taman bermain. Yunho mengajakku makan di kafe di taman bermain itu. Ia mengatakan es krim disini enak sekali, terutama es krim duriannya.
“Es krim durian?”
“Ne. kau pernah mencobanya? Buahnya enak sekali.”
“Tentu saja pernah. Durian salah satu buah favoritku. Dulu saat appa mengajakku untuk memotret di Indonesia, saat itu disana sedang musim buah itu. Dan kami sering sekali memakannya. Sejak itu aku jadi sangat menyukai buah itu. Walaupun jarang beli juga sih…”
Yunho menatapku terkejut. “Ayahmu juga seorang fotografer?”
“Juga? Apakah ayah Yunho-ssi…”
Tiba-tiba ada suara ponsel yang mengagetkanku. Yunho merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. “Yeoboseyo, harabeoji?”kemudian ia pergi ke sudut kafe yang tidak banyak orang untuk meneruskan pembicaraan di telpon itu.
Sambil menunggu Yunho selesai menelpon, aku melihat-lihat ke sekelilingku. Kemudian mataku melihat sebuah dompet yang berada di bawah meja kami berdua. Apa itu dompet Yunho-ssi?
Aku merunduk ke bawah meja dan menjangkau dompet itu. Jika diperhatikan, sepertinya ini dompet mahal. Mungkin benar ini dompetnya Yunho. Aku membukanya, lalu melihat ID cardnya, ada foto Yunho. Berarti ini memang dompetnya. Kemudian aku terpaku melihat foto yang berada di lipatan lain dompet itu.
Foto itu… wajah yang sangat kurindukan berada di foto itu.
Foto aku dan Yun waktu kecil.
Aku langsung memandang Yunho yang sedang menelpon di kejauhan. Kurasakan airmataku menetes.
Jadi kau adalah Yun?

~TBC~

Kenapa appa meninggalkanku setelah memisahkan aku dari Yun…?~ Yuuri’s POV
Apa ini karena Park Yoochun?~ Jaejoong’s POV
Kau masih mau jadi yeojachingu oppa kan?~Yoochun’s POV

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s