A Goodbye Kiss


Title : A Goodbye Kiss

Author : Yuridista

Genre : Romance, angst, yaoi

Pairing : YunJae

Rating : AA-PG

BGM : Turning Page-Sleeping At Last

Note : FF ini sudah pernah dipost di blog pribadi author di somewordsofme.wordpress.com.

           Boleh banget, loh, kalo mau main ke sana xD Ah, dan jangan lupa tinggalin jejak, ya,

           Cassies yang baik xD

***

“Giliranmu sudah tiba, Yunho,” Lee Sooman berkata datar dari atas singgasananya.

Yunho mendongak, memandang sang Pemimpin Langit Pertama dengan tatapan bertanya-tanya. “Maksud Yang Mulia?” ujarnya tak mengerti.

Lee Sooman berdeham sebelum menjawab, “Besok kau sudah harus terbang ke langit ke-enam, tempat tinggalmu yang baru. Tempat tinggal permanen, maksudku. Dan itu berarti kau tidak bisa lagi bolak-balik mengunjungi bumi setiap akhir pekan.”

“Eh?” Yunho terperanjat. “Kenapa tidak boleh?”

“Karena,” kata Lee Sooman, “itu melanggar peraturan langit, Nak. Langit ke-enam adalah tempat berdiamnya jiwa-jiwa pilihan yang telah berhasil melewati masa kematiannya dengan baik. Jiwa-jiwa yang berada di sana sudah dibersihkan dari campur tangan kehidupan duniawi. Dan secara pribadi aku berpendapat kalau kau harusnya bersyukur bahwa Raja Langit bersedia memilihmu untuk bergabung dengan mereka.”

Yunho mengerjap, diam-diam menahan rasa nyeri yang mendadak menyisip ke hatinya. “Apakah ini keharusan—untuk tinggal di langit ke-enam?” Dia bertanya lagi, meski setengah hatinya lebih memilih untuk tidak mengetahui jawabannya.

Lee Sooman mengangguk, dan seketika itulah nyeri di hati Yunho terasa semakin menekan dadanya. “Perintah Raja Langit adalah hukum, Nak,” sahutnya tegas, “lagipula kau juga tak akan pergi ke sana sendirian, kok. Ada satu jiwa lagi yang juga telah dipilih Raja Langit untuk pergi bersamamu besok.”

Mencoba mengabaikan nyeri yang dirasakannya, Yunho bertanya ragu-ragu, “Siapa?”

Lee Sooman tersenyum, pandangannya melembut, dan suaranya bergetar penuh sayang ketika menjawab, “Shim Changmin.”

***

Nyaris seluruh penghuni Langit Pertama tahu kalau Shim Changmin adalah Half-Angel kesayangan Lee Sooman. Selain karena wajahnya yang luar biasa tampan dan tutur katanya yang halus namun juga tajam dan penuh makna di saat yang bersamaan, Changmin juga memiliki track-record yang bagus di mata sang Pemimpin Langit Pertama itu. Dia jarang membuat masalah, hampir tidak pernah turun ke bumi meski hanya untuk sekedar berjalan-jalan, dan selalu dengan senang hati menawarkan bantuan kepada setiap penghuni langit yang membutuhkannya. Berbeda dengan Yunho yang sepertinya masih ingin memutar mundur waktu untuk kembali hidup sebagai manusia, Changmin tampak senang-senang saja dengan kehidupan setelah matinya yang sekarang. Singkatnya, dia adalah sosok Half-Angel yang sempurna, jauh melebihi para Half-Angel lainnya.

***

“Yunho-hyung,” Changmin menyapa seraya menundukkan kepalanya sekilas ketika berpapasan dengan Yunho di koridor yang menuju ruangan pemimpin langit.

“Changmin,” Yunho membalas, tersenyum tipis kepada lelaki yang lebih muda darinya itu.

“Aku menebak kau pasti sudah diberitahu tentang kepindahan kita,” kata Changmin dalam nada anggunnya yang biasa.

Yunho mengangkat bahunya sekilas. “Yah, begitulah.”

“Dan kau tidak senang karenanya?” tanya Changmin tepat sasaran.

Yunho menyeringai sedih. “Ya dan tidak,” jawabnya.

Changmin mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa begitu?”

Well,” Yunho mendesah, “aku tidak senang karena dengan pindah itu berarti aku tidak bisa lagi mengunjungi bumi. Tapi aku juga senang karena bisa pergi ke tempat jiwa-jiwa terpilih berada dan mulai menjalani hidup dengan tenang di sana.”

“Apakah sebegitu pentingnya untuk mengunjungi bumi, Hyung?” Changmin bertanya, kali ini tampak benar-benar ingin tahu.

Yunho tertegun. Sebentuk wajah tiba-tiba melintas dalam kepalanya. “Kurasa…memang iya. Aku meninggalkan sesuatu yang penting di sana, Changmin-ah.”

“Sesuatu atau seseorang?” tanya Changmin lagi, seolah bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran lelaki di hadapannya.

Keduabelah pipi Yunho langsung bersemu merah. “Err—yah, kau pasti sudah tahu apa jawabanku,” bisiknya malu-malu.

Changmin tertawa. “Pantas saja kau betah sekali berada lama-lama di bumi setiap akhir pekan, Hyung. Rupanya ini alasannya.”

Yunho memelototkan matanya, berlagak marah. “Hei. Sudah, berhentilah mengejekku.”

“Maaf,” Changmin berkata setengah hati. “Jadi, hari ini kunjungan terakhir, kalau begitu?” lanjutnya kemudian.

Wajah Yunho seketika berubah muram kembali. “Aku benci mengiyakan pertanyaanmu yang ini.”

Changmin meringis, kemudian melangkah mendekati Yunho untuk menepuk pelan bahu lelaki itu. “Kau tahu, Hyung, aku mungkin tidak mengerti seberapa pentingnya orang itu bagimu, tapi percayalah, kalau memang kalian telah ditakdirkan bersama ketika suatu saat nanti tiba gilirannya untuk menjumpai kematian, kau pastilah orang pertama yang akan ditemukannya.”

“Ah,” Yunho berkata, tampak terkesan dengan ucapan Changmin barusan. “Terimakasih, Changmin-ah. Aku sungguh bersyukur kau juga ikut pergi bersamaku besok.”

Changmin tersenyum. “Tidak masalah, Hyung. Mungkin kita bisa membentuk koalisi di langit ke-enam kapan-kapan. Kau tahu, sebagai partner.”

Yunho mengangguk. “Yah, partner. Itu kedengaran bagus,” timpalnya senang.

***

Lelaki itu sedang duduk di bangku favoritnya yang biasa—bangku paling ujung yang agak tersembunyi dari jalan setapak di tengah taman. Dia biasa melakukan kegiatan favoritnya di sana—mendengarkan lagu-lagu cinta kesukaannya sambil menggambar sketsa apa saja yang terbayang di kepalanya, meski seringnya memang hanya ada satu sketsa yang terlintas dalam pikirannya—dan juga hatinya. Dan setiap kali tengah sibuk dengan kegiatannya, tiba-tiba saja langit akan menggelap kemudian berubah cerah lagi dalam sekejap, dan entah bagaimana dia akan merasa bahwa si pemilik wajah yang digambarnya telah berada di sampingnya, menemaninya sampai hampir sepanjang sisa hari itu.

Hari ini pun tak berbeda. Kim Jaejoong, nama lelaki itu, tengah sibuk menggoreskan pensilnya ke bagian hidung dari sketsa wajah di pangkuannya ketika langit di atas kepalanya menggelap dengan cepat kemudian berubah cerah lagi dalam satu kedipan mata. Jaejoong mengulum senyum, menoleh ke kiri, dan memfokuskan tatapannya kepada seseorang yang tak bisa dilihatnya. “Halo, Yunho,” katanya pelan namun penuh kerinduan.

Yunho balas tersenyum kemudian menggoyangkan ujung telunjuknya, hingga sebentuk kalimat muncul di atas kertas sketsa Jaejoong. Halo juga, Jae. Kabar baik?

Dengan cepat Jae mengangguk lalu berujar, “Apa kau juga baik? Makan dengan teratur dan tidur dengan cukup?”

Sekali lagi Yunho menggoyangkan telunjuknya. Sebenarnya memang hanya dua hal itu yang bisa aku kerjakan selain pergi mengunjungimu setiap akhir pekan.

Jaejoong tertawa kecil. “Rupanya kau sama pemalasnya dengan waktu masih menjadi manusia, ya? Aku berani bertaruh kamarmu pasti sangat berantakkan dan bau di atas sana,” ejeknya seraya menunjuk langit di atas kepalanya.

Yunho memajukan bibirnya. Berisik. Aku bukan maniak bersih-bersih sepertimu, ya. Lagipula di tempatku tinggal tidak ada orang yang kurang kerjaan sepertimu untuk mencerewetiku setiap hari.

“Bodoh. Mereka pasti sudah muak terhadapmu, Yunho-ya,” Jaejoong berkata, nadanya terdengar putus asa. “Tapi benarkah tidak ada yang peduli pada tingkat kesadaranmu akan kerapian dan kebersihan yang minus sejuta itu?”

Yunho terdiam, tampak berpikir-pikir. Kemudian digoyangkannya lagi telunjuknya setelah jeda semenit. Ada…sepertinya.

Jaejoong langsung waspada. “Siapa?”

Namanya Shim Changmin. Yunho menjawab singkat.

“Lelaki?” tanya Jae, kecurigaannya meningkat dengan cepat.

Ragu-ragu, Yunho mengayunkan jemarinya perlahan. Iya. Sudah kuanggap adik sendiri, kok.

Jae memberengut. “Adik? Benarkah?”

Yunho mengangguk buru-buru, tapi lalu dengan cepat menjawab ketika menyadari Jae tak bisa melihatnya. Sungguh. Aku, kan, tidak pernah dan tidak bisa bohong padamu.

Untuk beberapa saat tatapan Jaejoong masih terpaku pada jawaban yang ditulis Yunho di atas kertas gambarnya sebelum kemudian kepalanya terangkat lagi untuk ‘memandang’ Yunho. “Baiklah, aku percaya padamu. Jadi, ada kabar apa hari ini?”

Mendengar itu, raut wajah Yunho langsung berubah kaku. Aku besok berangkat ke langit ke-enam. Dia menulis dengan enggan.

Jaejoong, yang berpikir bahwa itu adalah kabar gembira, menyahut dengan riang, “Keren. Apa itu sama artinya dengan kau naik pangkat?”

Yunho mendesah. Jemarinya bergerak pelan-pelan menuliskan kata demi kata yang samasekali tak ingin diungkapkannya. Mungkin. Tapi bukan itu intinya.

Sepasang mata Jaejoong membulat tak mengerti. “Kau tidak terdengar senang. Ada yang salah dengan ini?”

Ini buruk sekali. Aku tidak yakin kau akan siap mengetahuinya. Yunho berujar setengah hati.

“Katakan padaku sekarang juga, Jung Yunho,” Jae memaksa, melotot galak ke samping kirinya.

Yunho menghela nafas. Tinggal di langit ke-enam membuatku tak bisa lagi turun ke bumi untuk mengunjungimu. Kita tidak akan bertemu lagi setelah ini. Akhirnya, dia berhasil menuliskannya juga, meski lagi-lagi harus dibarengi rasa nyeri yang menyakiti hatinya.

Jeda lama.

“Kau pasti sedang bercanda. Iya, kan?” Jaejoong akhirnya menyahut. Kepalanya menggeleng-geleng dan wajahnya berubah menjadi sangat menyedihkan.

Sayangnya tidak. Yunho berujar lagi. Bahkan kini kesedihan dapat dibaca dari kalimat-kalimat yang ditulisnya.

“Tapi kau tidak bisa meninggalkan aku begitu saja. Kau sudah berjanji,” tukas Jaejoong cepat.

Dan aku memang tidak berencana untuk melanggarnya, Jae, Demi Tuhan. Kau tahu aku juga tidak pernah menginginkan ini. Aku cukup senang tetap hidup sebagai Half-Angel dan bisa datang mengunjungimu setiap akhir pekan. Kau tahu aku terlalu penakut untuk bisa hidup tanpa kau, bahkan meskipun dunia kita sudah berbeda. Yunho menulis panjang lebar.

“Ini tidak benar. Aku tidak bisa hidup kalau kau pergi. Aku akan mati dan mencarimu di langit sialanmu itu. Kau dengar aku, Yunho? Aku akan mati. MATI,” kata Jaejoong berapi-api. Dia bahkan telah berdiri dari duduknya sekarang, berjalan mondar-mandir di depan Yunho dengan langkah lebar-lebar dan tidak nyaman.

Jangan! Yunho buru-buru mencegah. Apa kau idiot, hah? Aku datang hari ini untuk mendapatkan ucapan selamat tinggal yang manis darimu, bukannya ancaman konyol bahwa kau akan mati hanya untuk menyusulku.

Ekspresi wajah Jaejoong langsung dipenuhi amarah ketika membaca tulisan Yunho. “Kau masih mengharapkanku mengucapkan selamat tinggal dengan manis padamu dalam keadaan seperti ini? Brengsek. Leluconmu samasekali tidak lucu, Jung Yunho. Aku sedikitpun tidak terkesan.”

Jae, kumohon dengarkan aku dulu. Please?

Jaejoong menggeleng. “Kau yang dengar aku.”

Aku tahu kau sedih, kesal, marah, dan sudah ingin mencekik leherku seandainya bisa, tapi ini perintah dari Raja Langit. Aku tidak bisa tidak mematuhinya.

“Omong kosong. Aku tidak peduli pada segala hal tentang Raja Langit dan aturan konyolnya itu. Yang penting kalau kau pergi maka aku juga akan mati dan mencarimu. Kau tidak perlu repot-repot mendebatku, tidak ada gunanya—”

Dalam sedetik, ucapan Jaejoong langsung terhenti karena Yunho telah merentangkan sayapnya untuk meraup Jaejoong ke dalam pelukannya. Sekarang kau boleh menangis sepuasmu, Kim Jaejoong. Kali ini Yunho berbisik, yakin bahwa entah bagaimana, Jae akan bisa mendengarnya.

Dan benar saja. Seketika, tangis Jaejoong pun pecah. Secara naluriah, dia mengalungkan tangannya ke sekeliling leher Yunho dan membenamkan wajahnya ke dada lelaki itu. Tubuhnya bergetar hebat di dalam dekapan Yunho, dan dia tahu saat ini satu-satunya hal yang dia inginkan  adalah memeluk Yunho seperti ini dan tak pernah melepaskannya. “Yunho-ya…” dia berbisik serak di antara isak tangisnya.

Hmmm? Yunho menggumam seraya meletakkan kepalanya di atas kepala Jaejoong.

Jae mendongak. Matanya yang basah dan merah menatap Yunho penuh permohonan. “Cium aku,” pintanya putus asa.

Mata Yunho melebar, tapi entah bagaimana ekspresi wajah Jaejoong membuatnya luluh seketika. Dia menunduk, lalu dengan hati-hati mencium lelaki itu tepat di bibirnya. Awalnya rasanya aneh karena dia tahu bahwa bagaimanapun juga Jaejoong tidak bisa melihatnya, tetapi makin lama bibir mereka makin bergerak seirama, dan dalam sekejap mendatangkan lagi ingatan akan kenangan masa lalu mereka.

Pertemuan hampir sepuluh tahun lalu, pelukan, natal yang dilewatkan berdua, hadiah-hadiah ulangtahun, ciuman pertama, janji untuk tidak pernah berpisah, hingga kecelakaan yang pada akhirnya merenggut nyawa Yunho…

Airmata Jaejoong semakin menderas setiap kali ingatan lama yang lain lagi menyerang pikirannya. Alih-alih menjauhkan diri dari Yunho untuk menenangkan dirinya sendiri, dia justru semakin mengeratkan kaitan tangannya di leher lelaki itu dan menyerah kepada dorongan dari dalam dirinya yang memerlukan jalan keluar atas pendambaannya terhadap Yunho.

Lalu, ketika ada satu detik di mana Yunho menjauhkan dirinya dari Jae, lelaki itu kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Jae dan berbisik lambat-lambat, Aku mencintaimu. Selamanya.


Kalimat itu memunculkan reaksi yang luar biasa bagi Jaejoong. Tubuhnya langsung menegang di dalam pelukan Yunho, dan airmatanya semakin deras lagi menuruni kedua belah pipinya. “Yunho-ya, apakah kita benar-benar harus berpisah?” tanyanya, masih sambil terisak-terisak.

Yunho tersenyum. Diulurkannya tangannya untuk menghapus air mata Jaejoong yang tak bisa berhenti mengalir sambil berkata, Kita sudah membuktikan bahwa kematian pun tak bisa memisahkan kita, Jae. Karenanya, tidak bisakah kita melakukannya lagi kali ini?

Tangan Jaejoong terangkat untuk menyentuh rambut Yunho yang nyaris jatuh menutupi mata. “Tapi berapa lama?” tanyanya, samasekali tidak yakin.

Yunho tersenyum lagi seraya menurunkan tangan Jaejoong dari kepalanya untuk diletakkan kembali ke sekeliling lehernya. Meski kau baru mati seratus atau seribu tahun lagi, aku masih akan tetap begini, mencintaimu dan menunggumu sampai kau datang padaku dan menemukanku lagi, Jae…

Setelahnya, bibir mereka kembali bertaut—lebih dari cukup untuk sebuah ucapan selamat tinggal yang manis dan tak terlupakan.

 

—END—

One thought on “A Goodbye Kiss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s