In my Camera (Chapter 1)


Author : ideafina a.k.a Jung Yuuri

Cast     : Kim Jaejoong, Jung Yuuri, Shim Changmin

Genre  : Romance

Rating : G

Length :Chapter 1-..?

a/n: annyeong, perkenalkan, author baru nih di wp ini. Udh cukup lama di dunia per-FF-an, udh byk juga nulis FF dbsk. Tapi aku mw publish FF pertama yg kutulis ini disini, jadi mian ya kalo keliatan bgt amatirnya dr nih tulisan. Hehe~

disclaimer: FF ini perwujudan rasa cintaku sm Jaeppa, jd ini MURNI hasil pemikiranku sendiri. Hope u like it.^^

~HAPPY READING~

Jaejoong’s POV

Aku terdiam lama di dalam salah satu bilik toilet kampusku, menunggu seseorang datang. Sudah beberapa hari ini aku merasa ada yang menguntitku. Bukan hanya diikuti, tapi aku yakin penguntitku itu juga memotretku diam-diam. Bukannya aku tidak terbiasa dipotret. Aku malah sangat terbiasa. Setiap orang yang melihatku pasti mengenalku sebagai Kim Jaejoong, penyanyi dan aktor terkenal. Jadi wajar saja kalau mereka berusaha memotretku, dan aku juga tidak keberatan. Tapi ini berbeda. Orang ini bukan memotretku di tempat ramai, seperti penggemarku. Tapi dia berusaha memotretku di tempat-tempat privasi, seperti toilet, ruang ganti, yang semacam itulah. Kalau dia bukan penggemar fanatik, pasti dia paparazzi.

Aku mendengar seseorang masuk toilet yang sepi ini. Dan saat aku dengar suara langkah kaki itu mendekat ke bilik toilet tempatku berada, aku langsung membuka pintu. Lalu kulihat seorang namja (atau yeoja?) kurus dengan tinggi badan sedang, rambut pendek, memakai jaket merah marun, jeans hitam, topi merah dan kacamata hitam besar memegang kamera DSLR berwarna merah. Orang itu membeku melihatku yang menatapnya tajam.

Oh, oke, tampaknya dia bukan paparazzi. Mana ada paparazzi berdandan mencolok serba merah dan bersikap seceroboh itu. Jadi dia pasti seorang penggemar fanatik.

“Sedang apa kau?! Aku bisa melaporkanmu ke kantor polisi!”seruku. kemudian orang itu balik badan dan kabur dari toilet. Aku mengejarnya.

Sial! Larinya cepat sekali. Aku terus mengejarnya, tidak peduli dengan tatapan aneh orang-orang di kampus, melihat Kim Jaejoong mengejar orang yang berpenampilan mencolok. Hah! Aku tidak peduli! Yang pasti aku harus menangkap orang itu.

Kulihat ia masuk ke fakultas seni. Tapi ternyata aku tidak cukup kuat untuk terus berlari mengejar stalker itu. Aku mengumpat kesal. Bagaimanapun aku harus mencari tahu siapa orang itu.

 

Yuuri’s POV

“Huaaahhhhmmm….” Aku terbangun dari tidurku dan mengucek-ucek mataku. Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela ruangan. Sepertinya sudah pagi.

Badanku terasa pegal. Aku memandang sekelilingku. Oh, tentu saja pegal. Aku kan tidur dalam posisi duduk dan menempelkan wajahku di meja di ruang klub fotografi. Sudah beberapa hari ini aku sibuk mencari objek foto untuk lomba fotografi alam yang deadlinenya seminggu lagi. Dan selama itu pula aku selalu tertidur di ruang klub. Bagiku ruangan ini seperti rumah keduaku.

Aku bangkit dari dudukku dan mencuci mukaku di wastafel. Dimana Cassie? Mataku mencari-cari kamera berwarna merah marun kesayanganku. Ternyata ada di depan komputer bersama jaket merah marunku dan juga topi merahku. Kapan aku meletakkannya disana?

Kruyuukkk.

Kurasa ingatanku akhir-akhir ini semakin memburuk karena kurang makan dan tidur. Aku mengelus-elus perutku yang berbunyi terus. “arra, aku akan memberimu makan cacing-cacingku.”gumamku pelan.

Aku menggelung rambut panjangku dan menutupinya dengan topi merahku. Kumasukkan Cassie ke dalam tas dan menyampirkannya di bahuku. Sementara jaketku hanya kupegang saja. Aku benar-benar harus makan sekarang.

 

Jaejoong’s POV

“Hyung yakin dia mahasiswa seni?”

Aku menatap Changmin kesal. “Tentu saja!”

Changmin mengernyitkan keningnya. “tau darimana?”

“Dia memakai kamera DSLR dan aku lihat dia masuk fakutas seni. Dia pasti mahasiswa jurusan

fotografi.”kataku yakin.

“Aku malah berpikir kalau orang itu benar-benar paparazzi. Ciri-cirinya bagaimana?”

“Tinggi badan sedang, badan agak kurus, memakai jaket merah, topi merah, juga kamera DSLR merah marun. Aish! Aku yakin sekali dia penggemar fanatikku, seorang stalker! Dan itu sangat mengganggu!”

“Entahlah. Aku tidak mengenal mahasiswa seni penggemar fanatic hyung yang suka memakai pakaian berwarna merah.” Changmin terlihat berpikir-pikir.

“Kau kan punya banyak teman di fakultas seni. Bisa membantuku mencari tahu? Aku tidak bisa

tenang kalau dia terus mengikutiku!”aku memelototinya kesal kemudian memandang ke sekitar kantin yang dipenuhi -kebanyakan- yeoja penggemarku. Apa stalker itu berada disini juga?

“Arra. Nanti kucari tahu.”jawab Changmin lalu kembali memakan sarapannya. Aku pun terdiam lalu memakan sarapanku yang sejak tadi belum kusentuh ketika mataku terpaku melihat seseorang.

 

Yuuri’s POV

“Ahjumma, ada menu apa hari ini?”tanyaku pada ahjumma ketika akan membeli makan siang di kantin fakultas musik. Biasanya aku tidak pernah makan di kantin fakultas lain, tapi hari ini entah kenapa aku ingin mencobanya.

“Itu ada daftar menunya.”tunjuk ahjumma pada daftar menu yang ditempel di di meja pesanan.

Aku meliriknya. Tulisan di menu itu terlihat berbayang dan bergerak-gerak tak beraturan. Mana mungkin aku tahu jika aku saja tidak bisa membacanya.’

“Ahjumma, bisa tolong bacakan menunya? Aku tidak memakai kacamata, jadi tidak bisa membacanya.”

Ahjumma itu tersenyum, lalu mulai membacakan menunya. Yah, tapi setelah dibacakan menunya dan diberitahu harganya, ternyata uangku hanya cukup untuk membeli jajangmyeon.

Ternyata memang benar kata orang-orang kalau kantin fakultas music itu harganya mahal-mahal.

“Gamsa hamnida, ahjumma.”ucapku lalu pergi membawa satu porsi jajangmyeon. Aku memutuskan untuk makan di tempat lain saja. Aku mengeluarkan headphone merahku, memasangnya di telinga dan menyetel rekaman kuliahku. Sebentar lagi ada kuis, jadi aku harus belajar. Sepertinya taman belakang adalah tempat yang tepat untuk sarapan sambil belajar. Aku melangkahkan kakiku kearah taman belakang.

Sesampainya di taman yang sepi ini aku mulai ke tempat ku biasa. Aku naik ke atas dahan pohon besar yang berada di taman itu dan mulai melakukan aktivitasku seperti biasa, sarapan sambil mendengarkan rekaman kuliah. Dengan cepat aku menghabiskan Jajangmyeon-ku ketika aku melihat sesuatu yang menarik.

 

Jaejoong’s POV

Dia!

Aku membelalakkan mataku saat melihat seseorang yang berpakaian sama persis dengan stalker yang kemarin kukejar. Pakaiannya persis sama, hanya saja ditambah headphone merah di atas topi yang dipakainya. Ia keluar dari kantin sambil membawa plastic makanan.

Aku beranjak pergi mengikutinya.

“Ya! Jaejoong hyung, kau mau kemana?!”seru Changmin ketika melihatku pergi terburu-buru.

“Ada urusan penting! Nanti kuhubungi!”sahutku tanpa menoleh ke belakang.

Aku mengejar orang berbaju mencolok itu ke arah taman belakang. Aish! Kemana orang itu?! Jangan-jangan dia tahu kalau aku mengikutinya?!

Lalu aku berhenti di kursi taman di bawah pohon besar dan duduk disana beberapa lama karena kelelahan sampai suara sesuatu yang terjatuh mengagetkanku. Aku langsung bangkit ketika aku melihat seseorang berpakaian mencolok dominan merah terduduk di bawah pohon dengan daun menempel disana sini. Rambut panjangnya tergerai menutupi wajahnya, dan ia menggenggam erat kamera DSLR merah marun. Di dekatnya, tergeletak topi dan headphone merah.

Dia pasti stalker itu! Dan dia seorang yeoja!

 

Yuuri’s POV

Aku membuka mataku perlahan lalu mengusap-usap pantatku sakit. Aku memeriksa Cassie yang sejak hampir jatuh tadi kupeluk erat dengan khawatir. Gara-gara berusaha memotret sarang burung di atas dahan pohon tempatku duduk tadi, aku jadi terjatuh. Untung saja pohonnya tidak terlalu tinggi, jika tidak Cassie  pasti sudah rusak sekarang dan aku tidak akan bisa memotret lagi. Aku bernafas lega melihat Cassie ku yang baik-baik saja, lalu kukalungkan talinya ke leherku. Kupungut headphone dan topi yang terlepas di sampingku lalu melangkah pergi ketika seseorang menarik tanganku dengan kasar yang membuat headphone dan topiku terjatuh dari tanganku.

Aku terkejut dan menatap orang yang menarik tanganku itu dari balik rambutku yang awut-awutan menutupi wajahku. Seorang namja. Dan ia menatapku dengan tatapan dingin dan marah. Sangat marah.

Aku menatapnya bingung.“Nuguya?”

“Kau.”ujarnya geram. “Sedang apa kau di atas sana?”

Aku bergidik ngeri mendengar suaranya yang pelan dan dingin.

“Eh? Aku sedang memotret…”

“Berikan padaku foto-fotonya!”

“hah?!”

“Kubilang, berikan padaku foto-fotonya!” Ia memerintahku. Hei! Siapa dia berani memerintahku?!

“Anhi. Kenapa aku harus memberikanmu foto-fotoku?!”jawabku kesal. Aku melepaskan cengkeraman tangannya di lenganku lalu melangkah pergi.

Dia menarikku lagi.

“Kau bisa kulaporkan ke polisi jika kau terus menstalkerku! Sekarang berikan foto-fotonya!”

Aku melotot mendengar kata-katanya. Siapa yang stalker?!

“Ya! Siapa yang menstalkermu! Memangnya kau siapa sampai aku harus menstalkermu?!”

“Jangan pura-pura tidak mengenalku! Kau kemarin mengikutiku kemana-mana dan memotretku

di toilet. Kau pikir aku bodoh! Cepat serahkan!”

“Aku yakin kau bodoh! Kau pasti salah orang!”kataku memberontak terus berusaha melepaskan cengkeraman tangannya yang kuat.

“Tidak mungkin salah orang, memangnya ada lagi orang berpakaian mencolok serba merah selain kau di kampus ini?! Bahkan kamera pun berwarna merah!”

Kemudian ia memaksa mengambil Cassie dariku. Tali Cassie terlepas dari leherku dan ia mengangkatnya tinggi saat aku mencoba mengambilnya. Namja itu membuka tutup tempat memory card berada lalu mengambil memorycard nya. Aku berusaha mengambilnya sampai  terdengar suara mengerikan.

Kulihat Cassie terjatuh di tanah.

 

Jaejoong’s POV

Yeoja ini berusaha terus merebut kameranya dariku. Aku kewalahan menghadapinya, sampai…

PRAAKK.

Ia melepaskan tangannya, kemudian memandang nanar kamera yang sekarang lensanya sudah pecah itu. Lalu matanya menatapku marah.

“Salahmu sendiri tidak mau memberikan foto itu padaku!”seruku. aku tentu saja tidak mau disalahkan. Itu kan salahnya. Kenapa tidak mau memberikan foto-foto itu.

Yeoja itu mengambil kameranya dengan tangan bergetar, dan kulihat bahunya bergerak naik turun. Sepertinya ia menangis. Aku mendengar isakan tangisnya dan itu membuatku merasa bersalah. Untuk seorang fotografer atau yang hobi fotografi, kamera pasti sangat berharga. Tapi aku tidak ingin meminta maaf. Sejak awal bukan salahku kok.

Ia mengalungkan kembali kameranya yang pecah ke lehernya. Tiba-tiba saja angin menghembus kencang, menyibakkan rambut awut-awutan yeoja itu sehingga aku bisa melihat wajahnya yang sedari tadi tertutup rambut. Wajahnya putih pucat, dengan noda hitam di beberapa tempat, kurasa karena dia naik ke atas pohon tadi. Dengan bibir tipis dan hidung mancung yang mungil ia terlihat manis. Tetapi aku tersentak melihat mata coklat mudanya yang besar berair dan menatapku dengan begitu sedih dan marah. Sebegitu berartinyakah kamera itu?

Ia menghampiriku dengan terus menatapku seperti itu.

“AAAWW”

Aku jatuh terduduk dan memegangiku kakiku yang diinjak oleh yeoja itu. “Ya! Michyeoso!”

Ia tidak menjawab, tapi terus menatapku sinis dengan mata basahnya. Setelah itu ia berlari pergi meninggalkanku yang masih menatap sosoknya dengan rambut panjang berkibar di belakangnya.

 

Yuuri’s POV

Aku berlari menjauh dari taman dengan memeluk erat Cassie. Pandangan mataku buram karena air mata yang terus-menerus keluar. Cassie. Kamera kesayanganku. Hadiah ulang tahun terakhirku dari almarhum Appa. Kini rusak. aku berlari ketakutan mencari seseorang yang aku tahu bisa memastikan keadaan Cassie sekarang.

Aku bergegas ke halte bus, dan langsung naik ketika bus tujuanku tiba. Tangisanku masih tidak dapat kuhentikan. Bisa kulihat orang-orang di bus menatapku cemas. Tapi tidak kupedulikan, aku menekan tombol 1 di ponselku. Setelah mencoba menelpon 3 kali, akhirnya telponnya diangkat. Tangisku langsung tumpah lagi.

“Sunbae…. Cassie rusak…”

~TBC~

                                                         

 

Next chapter:

‘tidak ada satupun fotoku di memory cardnya’~Jaejoong’s POV

‘Aku lebih baik mati kelaparan daripada harus melakukan hal rendah seperti itu!’~ Yuuri’s POV

‘Kim Jaejoong-ssi, aku tidak tahu ada masalah apa di antara kalian. Tapi bersikaplah

professional.’ ~Yoochun’s POV

Nah kan keliatan banget ya amatirnya? yah maklum deh, ini FF pertama bgt kubuat waktu baru niat nulis FF. hehe~

Tiap chapt kukasih teaser cz emang udh beres lanjutannya. So, keep RCL ya. ^^

11 thoughts on “In my Camera (Chapter 1)

  1. Kim Hyun Rin (cassiopeiay) berkata:

    kalo bkn yuuri yg motret, trus siapa?
    kasian yuuri, kameranya rusak gara2 jj.. padahal pemberian almarhum appa nya😦
    jeje sih agak nyebelin…
    ff ini bener2 bagus… aku tunggu next chapter nya ya🙂

  2. eunchan she peef berkata:

    wow!
    Segini sih ngga amatir! Malah menurutku seru!~^^
    wah!
    Terus, siapa yg motret si JJ..??
    Jadi penasaran…
    Kasian si yuuri.. T.T
    lanjut next chap nya..
    Di tunggu loh! :3

  3. park ji hee berkata:

    hwa dah lama ga baa ff nich. eh pas liat ada ff nich langsung kubaca
    ternyata ceritanya menarik,seru trus kayaknya yg ditelfon yuri pasti yuchun oppa
    next chap jgn lama2 ya post nya cos penasaran bgt nich

  4. hmm klo mnrut qu kyanya mmg yuuri tpi ada ssuatu hal yg ngbuat yuuri lupa tau ga inget *sotoy
    tp si jj jga ktrlaluan msa ampe sgtunya ma seorang yeoja😦
    ok next part ditunggu🙂
    lnjutkn!

  5. kyurang berkata:

    Kirain cassie siapa ternyata kamera .. Ahahahaa ..
    Jae salah orang tuh, ngira yg stalkerin dia, mungkin yg stalker minjem si cassie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s