Revenge Or Love Chap 3


Cast :

–          Kim junsu / junsu

–          Park yoochun / yoochun

–          Kim lee sha / L

Another cast :

–          Park Yoohwan (Junsu’s past memory)

–          Shim Changmin

Lanjut ke part 3 ya ^^

Mian author rada lama,,uda sibuk mw KKN niech ^^ ,,,sebelumnya maaf yaw disini yoochun jadi uke..

Yuk mulai ceritanya !!!

 

Author POV

Jam menunjukkan pukul 6 sore, sedangkan Junsu masih sibuk berdandan di kaca sambil merapikan rambut yang sudah di tata sejak 2 jam yang lalu.

“ Kelihatannya aku sudah terlihat tampan. Tapi kenapa aku merasa masih ada yang kurang ya?” kata junsu sambil berlenggak lenggok di depan kaca bak seorang model di atas catwalk.

Ketika junsu sedang asyik merapikan rambutnya, datanglah Lee sha dari belakang mengagetkan Junsu.

“ Oppaaaaaaa!!!” katanya seraya memeluk Junsu dari belakang yang sukses membuat Junsu terlonjak kaget seraya membalikkan badannya.

“ Yaaa!!! Neo,,oo,oo aish bisa tidak kalau masuk kamar orang ketuk  pintu dulu?? Kau ini selalu mengagetkanku saja.” Kata Junsu sembari kembali menatap kaca.

“ Hehm,,mianhe oppaku sayang. Habisnya oppa terlalu asyik dengan rambut oppa sampai-sampai mengabaikan panggilanku.” Kata Lee sha sambil melihat-lihat koleksi parfum Junsu.

“ Eh? Masak? Kapan kau memanggilku? Aku tidak mendengarnya.” Kata Junsu sambil mengambil parfum yang dipegang oleh adiknya.

“ Tuh kan oppa,sebenarnya apa yang oppa pikirkan? Sampai tak menghiraukanku dan lagi.. tunggu,, ada yang aneh dengan oppa? Kenapa oppa berdandan seganteng ini? Memang oppa mau kemana? Ada meeting? Atau jangan jangan? Omoooo,,oppa kau mau ngedate dengan pacarmu ya??kok oppa tidak bilang kalau sudah punya pacar? Yaa oppaaaa?” kata Lee sha seraya mencubit lengan Junsu.

“ Uri yeppeun dongsaeng,, siapa yang mau berkencan? Aku hanya akan menghadiri rapat dengan klienku kok.” Kata Junsu mencubit kedua pipi dongsaeng kesayangannya itu. Entah mengapa dia enggan mengatakan dengan siapa sebenarnya dia bertemu , dia merasa tidak enak kepada Lee sha kalau adiknya sampai tahu kalau dia akan bertemu dengan Park Yoochun. Lelaki yang telah mengambil kehormatan adik kesayangannya itu. Tetapi ada perasaan janggal yang menghinggapi relung Junsu. Sedikit hati kecilnya tidak rela apabila Lee sha tahu dan akan menggagalkan rencana kencan pertama mereka.

“ Uhm baiklah oppa.” Kata Lee sha tersenyum sambil meninggalkan ruangan Junsu.

“ Tapi oppa, emm,,e..emm,, bagaimana kalau oppa menyetir sendiri? Aku ingin jalan-jalan malam ini.” Kata Lee sha dari depan pintu ruangan Junsu.

“ Mwo? Apa hubungannya dengan aku menyetir sendiri? Bukankah kau biasanya menyetir sendiri, kau kan tidak ingin di bilang gadis manja.” Kata Junsu memicingkan matanya.

“ Emmmm,,, itu,, it,, itu karena aku sedang malas menyetir sendiri oppa. Jadi aku ingin pergi dengan changmin. Oppa tidak apa-apa kan menyetir sendiri?”

“ Ne L, ya sudah kalau begitu bilang ke changmin tolong panaskan mobilku. Aku akan pergi sendiri.” Kata Junsu seraya mengambil ponselnya.

“ Ne oppa,,gomawo..saranghae Suie oppaaaaa.” Kata Lee sha sambil berlari menuju garasi rumah mereka.

Junsu yang merasa aneh dengan tingkah laku adiknya itu kemudian  segera menghubungi seseorang dan berbicara dengan serius kepada orang itu.

“ Hufh,,baru jam setengah 7, kenapa aku merasa waktu berjalan begitu lama. Setengah jam lagi dan aku akan memulai menjalankan rencanaku. Membuat Park Yoochun jadi tergila-gila kepadaku.” Kata Junsu melirik ke arah foto Yoochun yang menjadi wallpaper ponselnya.

 

Yoochun POV

Jam baru menunjukkan pukul setengah 7 malam, tetapi aku sudah tiba di Taman Pelangi. Tempat yang Junsu sebutkan kemarin. Entah mengapa aku begitu tegang. Padahal sebelumnya aku belum pernah setegang ini. Menghadapi puluhan atau bahkan ratusan yeoja aku tidak pernah gugup, tapi kenapa hanya dengan seorang namja imut bernama Junsu dapat menghilangkan sisi manly dan playboy yang telah lama aku bangun. Kenapa hanya dengan satu ciuman saja aku dapat dengan mudahnya membuang harga diriku demi Junsu. Apa ini yang namanya cinta? Aku merasa seperti seorang idiot yang sedang dimabuk cinta. Sepertinya sekarang aku mulai memahami bagaimana perasaan yeoja-yeoja yang selama ini aku permainkan. Sungguh sangat mengerikan.

“ Ah itu wahana bianglala. Aku harus kesana, siapa tahu Junsu sudah menungguku disana.” Kataku sambil melangakahkan kaki dengan riangnya.

Teng Teng Teng!!!!

Waktu telah menunjukkan pukul 7 tetapi belum kulihat tanda-tanda kedatangan Junsu. Mataku ku edarkan keseluruh penjuru Taman Pelangi. Tapi tetap saja nihil. Tak terlihat sosok Junsu yang imut itu. Tiba-tiba saja rasa sakit menyelimuti perasaanku. Perasaan terbuang. Sakit. Amat sangat sakit. Ada apa denganku ini? Kenapa sulit sekali rasanya bernapas. Sekelebat pikiran bahwa Junsu tengah bersenang-senang dengan yeoja ehm bukan atau bahkan dengan namja lain menghantuiku. Buru-buru ku nyalakan rokok dan menghisapnya dengan tidak sabar.

“ Junsu ya,, odiya? Kenapa kau belum datang juga?” tanyaku memandang ke langit.

Atau lebih baik aku menghubunginya saja. Segera ku ambil ponsel dari sakuku. Tapi rasa gengsi tiba-tiba melandaku. Aku takut kalau Junsu akan menganggapku namja murahan. Lalu ku urungkan niatku untuk menghubunginya. Kenapa kau belum datang juga Suie.

Jam berlalu dengan cepatnya, waktu sudah menunjukkan pukul 8 tapi Junsu belum datang juga. Kemana dia, mengapa belum datang juga. Apa dia memang sengaja mempermainkanku? Yahhh jongmal babooo neo Yoochuna.. tiba- tiba ada sebuah tangan yang memeluk pinggangku dari belakang dan mencium tengkukku seraya menghembuskan nafas hangat di kulitku. Aku menggigil dibuat olehnya.

“ Chunnieyaa,,mianhe aku telat.” Kata orang itu sambil memutar badankku yang kaku tak dapat bergerak karena menahan hawa dingin di malam hari. Suara itu, suara Junsu. Akhirnya.

“ J,,juun,,junsu.” Kataku terbata sambil memandang matanya yang entah mengapa menguapkan semua kemarahanku padanya tadi.

“ Ne chunnieya, mianhe jagi aku telat tadi aku ada rapat jadi terlambat untuk menemuimu. Dan lagi ponselku lowbat jadi aku tidak bisa menghubungimu. Kau tidak marah padaku kan jagi.” Kata junsu mengelus mesra kedua pipiku. Entah mengapa ada semacam aliran listrik yang membuat hawa dingin kota Seoul di malam hari hilang begitu saja tergantikan rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuhku.

“ Ehm, ne gwenchanayo Junsu. Aku tidak marah padamu kok.” Kataku tersenyum kepada Junsu.

“ Junsu? Kenapa kau memanggilku begitu lagi? Padahal kemarin kau baru saja memanggilku Suie.” Junsu membawaku ke dalam pelukannya. Hangat. Hanya satu kata itu yang dapat melukiskan perasaanku sekarang ini. Pelukan Junsu benar-benar membuatku terasa nyaman dan bahagia. Aku tidak peduli lagi jika harus mengorbankan harga diriku untuk mendapatkan hati namja imut yang satu ini.

Tiba-tiba Junsu mengernyitkan dahinya. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.

“ Ehm ada apa Suie? Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyaku dengan penasaran kenapa Junsu tiba-tiba melihatku dengan tatapan seperti itu.

“ Chunnie jagi, bolehkah aku meminta satu hal padamu?” tanyanya memberikan senyum yang sangat manis. Sebuah senyuman yang sukses menghantui mimpi-mimpiku.

“ Ne? Apa Suie?” tanyaku bingung.

“ Jagi bisa tidak kalau berhenti merokok? Aku tidak ingin melihat namjachinguku merokok. Karena aku tidak mau kehilanganmu hanya karena penyakit konyol yang ditimbulkan oleh efek dari rokok yang kamu hisap.” Junsu berkata sambil menggandeng tanganku dan mendudukkanku disalah satu bangku taman.

“ Oh, itu. Ne baiklah. Aku akan melakukannya. Aku biasanya merokok karena sedang stres untuk itu mulai sekarang aku akan berhenti merokok sesuai dengan keinginanmu jagi.” Kataku dengan sangat antusias. Entah seperti apa wajahku sekarang ini aku tidak bisa membayangkannya.

“ Jongmalo? Gomawo jagi, saranghae. Tapi ngomong-ngomong stres? Apa yang membuatmu stres jagi? Mungkin aku bisa membantumu.”

Junsu membawa kepalaku untuk bersandar di bahunya. Dari jarak yang sedekat ini dapat ku rasakan wangi parfum yang sangat manis. Sangat manis seperti wajah Junsuku. Tunggu junsuku? Sepertinya aku sudah benar-benar gila dibuat oleh Junsu.

“ Anii, tidak apa-apa kok. Hanya sedikit masalah dikantor.” Bohongku untuk menutupi kebohonganku. Padahal tadi aku stres memikirkan kenapa Junsu tak juga kunjung datang.

“ Jjinja? Gwenchana? Aku tidak percaya padaku jagi? Aku bisa menjaga rahasia dengan baik kok.” Junsu mulai menciumi puncak kepalaku sambil mengelus pelan lenganku.

“ Ne jjinja nan gwenchana. Ehm jun,,eh maksudku suie apa yang akan kita lakukan di Taman Pelangi ini?” kataku mengalihkan pembicaraan ini sebelum dia menyadari bahwa dialah yang telah membuatku berubah menjadi seorang idiot.

“ Bagaimana kalau kita makan dulu chunnie? aku lapar.”

“ Ne kajja kita makan.”

“ Kita makan direstoran dekat wahana bianglala itu saja ya chunnie, aku sudah lama tidak mengunjunginya” katanya menarik tanganku menuju tempat yang diinginkannya.

“ Ne ne Suie,, pelan-pelan jalannya.”

“ Ah mianhe chunnie jagi, aku terlalu bersemangat.” Katanya menunjukkan lagi senyumnya yang sangat menggoda.

Ku amati tubuh Junsu dari belakang. Sungguh sempurna. Dia hanya mengenakan jas warna hitam yang digulung sampai siku dengan kemeja putih yang 3 kancing teratasnya tidak terkancing. Menonjolkan lehernya yang putih. Setelan celana panjang warna hitam tidak mampu menutupi keseksian bokong Junsu yang sangat menggoda.

“ Chunnie kita duduk di dekat jendela ya. Disana pemandangannya sangat indah.” Kata junsu menunjuk tempat duduk yang berada di pojok.

“ Ah ne.” Kataku kemudian.

“ Chunnie kau tidak suka tempat ini ya?”

“ Nde? Ah ani Suie.”

“ Tapi kenapa sedari tadi aku perhatikan kau terus melamun? Kau tidak suka dengan kencan kita malam ini ya? Atau jangan-jangan kau memikirkan pacarmu? Baiklah, aku tidak apa-apa kalau kau ingin menemui pacarmu itu.” Kata Junsu tiba-tiba membuatku membelalakkan mata. Tersirat kekecewaan di mata indah Junsu. Yaaa Yoochun kenapa kau malah merusak acara makan malam ini. Dasar babo padahal tadi aku sudah gugup setengah mati kalau sampai Junsu tidak datang.

“ Ani Suie jagi, aku suka. Malah aku sangat suka dengan tempat ini.”

“ Lalu kenapa kau diam saja sedari tadi? Aku merindukanmu. Aku rindu suara huskymu. Tapi sedari tadi kau diam saja.”

Kugenggam tangannya sambil menatap kedua bola matanya.

“ Suie jagi mianhe. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya berpikir bahwa..bahwa..” kataku tidak berani melanjutkan perkataanku.

“ Bahwa apa? Bahwa kau hanya mempermainkanku seperti yeoja-yeoja koleksimu?” sepertinya Junsu sudah mulai marah. Buru-buru aku menjelaskan kepada Junsu.

“ Ani bukan seperti itu Junsu, aku tidak mempermainkanmu. Hanya tadi aku sempat berpikir kalau kau tidak datang dan hanya mempermainkanku.” Akhirnya aku mengatakan hal yang sedari tadi aku tutup-tutupi.

“ Hahahahaaa, kau lucu sekali chunnie? Seorang Park Yoochun bisa semudah ini merasa dipermainkan? Hehm sepertinya kau harus meninggalkan gelar playboymu jagi. Tenang saja aku tidak akan mempermainkanmu, aku akan selalu ada di sampingmu. Kau bisa percaya padaku. Saranghae ” Junsu lalu membawa telapak tanganku dan menciumnya.

Blushh,, entah mengapa darahku berasa mendidih. Kenapa aku merasa sangat senang saat Junsu mengatakan hal itu padaku. Setiap sentuhan tangannya di kulitku serasa bagaikan aliran listrik yang mampu membuatku melayang.

“ Jjinja?”

“ Ne yoochunie jagi, mau bukti?”

Tiba-tiba Junsu berdiri dari tempat duduknya dan memukul gelas beberapa kali membuat semua orang yang berada di restoran mengarah kepada kami berdua.

“ Excuse me ladies and gentlemen, maaf mengganggu waktu makan malam anda semua. Saya hanya ingin meminta sedikit perhatian dari anda semua. Malam ini saya bersama dengan namjachinguku dan malam ini pula saya akan mengatakan kepadanya betapa saya sangat mencintainya, karena sepertinya dia tidak percaya kepadaku.” Aku benar-benar shock melihat apa yang dilakukan oleh Junsu.

“ Yoochunie jagi, malam ini dengan disaksikan oleh semua orang yang ada di restoran ini, aku ingin mengungkapkan bahwa aku sangat mencintaimu. Dan terimalah kalung ini sebagai tanda bahwa aku sangat mencintaimu.” Junsu memberikan kalung berinisial JY.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Kemudian Junsu memasangkan kalung itu keleherku. Semua orang bertepuk tangan. Junsu mencium bibirku sekilas lalu memelukku.

“ Gomawo chunnie jagi.”

“ Gomawo Suie”

 

Junsu POV

“ Gomawo chunnie jagi.”

“ Gomawo Suie”

Ternyata sangat mudah memperdaya seorang Yoochun, tak kusangka semudah ini. Untung tadi aku sudah menghubungi pemilik restoran dan membooking restoran itu untuk malam ini. Semua tamu, menu dan pelayan sudah aku atur sesuai dengan skenarioku. Dan semuanya berjalan dengan lancar. Senang rasanya tahu bahwa Yoochun sepertinya benar-benar menyukaiku.

“ Chunnie apa yang ingin kamu lakukan setelah ini?” tanyaku sambil mengelap mulut karena aku sudah selesai makan.

“ Kenapa bertanya padaku? Kan kau yang mengajakku kesini Suie?” tanyanya sambil meneguk wine dengan perlahan. Sungguh gerakan yang amat sangat menggoda.

“ Oh iya aku lupa. Bagaimana kalau kita ke apartemenku saja? Aku sudah tak ingin bermain lagi. Lelah rasanya bekerja seharian. Aku ingin berdua denganmu.” Kataku sambil menjilat lidah bagian bawahku.

“ Eh? Apartemenmu? Bukankah kau tinggal di rumah bukan apartemen?” katanya mengernyitkan dahi.

“ Ne. Itu dulu sebelum orang tuaku meninggal. Bagaimana kamu mau kan jagi” menunjukkan muka memelasku.

Sejenak dia berpikir. Dan akhirnya dia mengangguk tanda setuju.

“ Nde. Baiklah.”

“ Gomawo Chunnie jagi.”

At Junsu’s apartement

Ku buka pintu apartemenku yang terletak di lantai 12. Terasa sedikit asing karena sesungguhnya aku jarang menggunakannya. Terus terang apartemen ini mengingatkanku akan Yoohwan.

“ Kajja kita masuk chunnie.” Kataku menarik Yoochun untuk masuk.

“ Ehm Suie, apartemenmu sungguh indah. Benar-benar sangat menarik sesuai dengan kepribadianmu.” Katanya terkagum-kagum. Entah mengapa aku senang mengetahui kalau dia nyaman berada di apartemenku. Eh? Apa yang kau pikirkan Junsu. Dia musuhmu, ingat itu baik-baik.

“ Chunnie aku ganti baju sebentar ya, kalau kamu mau minum ambil saja di kulkas.” Yang dijawab dengan anggukan kepala tanda mengerti darinya.

Aku masuk ke kamar dan mengganti bajuku dengan baju tidur. Saat aku keluar kulihat Yoochun sedang duduk melihat tv sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Ku amati dia dengan baik. Entah kenapa aku semakin ingin memilikinya bukan hanya karena ingin balas dendam tetapi lebih karena aku tidak ingin ada yeoja atau namja lain yang menyentuhnya. Apakah ini cinta?

“ Chun,,eh?”

Aku berniat untuk mengobrol dengannya. Tapi sepertinya dia sudah tertidur. Tidurnya amat sangat lelap, aku tidak tega membangunkannya. Akhirnya aku menggendongnya ala bridal style dan merebahkannya di kasurku yang berukuran king size.

Ku amati wajahnya yang sangat tampan, bibirnya yang tebal. Sungguh sangat menggodaku. Ingin rasanya aku mencium bibir itu. Tanpa sadar ku majukan wajahku mendekat kewajahnya. Dan tiba-tiba matanya terbuka.

“ Mmm,, Suie?” tanyanya setengah sadar.

“ Ne jagi, tidurlah. Aku terlihat sangat lelah.” Kataku membelai pipinya dan mencium keningnya.

“ Aku akan tidur di luar, kau tidak usah khawatir chunnie. Aku tidak akan berbuat tidak-tidak kepadamu.”

Tapi kemudian ketika kau berbalik Yoochun memelukku dari belakang.

“ Suie jangan pergi, tolong jangan pergi. Temani aku. Aku takut.” Katanya dengan suara bergetar. Aku membalikkan badanku, berusaha membaca maksud di balik ucapannya tadi.

“ Tapi Chunn..nn,,iiee mmphhh,,hhh.”

Aku tidak menyelesaikan kata-kataku saat tiba-tiba mulutmu di bungkam dengan mulutnya.

“ Suie temani aku, aku tidak suka tidur sendirian.” Katanya menggigit bibir bawahnya.

“ Ne, sekarang tidurlah jagi. Aku akan menemanimu. Aku pastikan tidak akan ada yang akan menggangu tidur indahmu.” Kataku seraya berbaring disampingnya kemudian membawa badannya ke pelukanku.

“ Em, gomawo Suie jagi.”

“ Cheonma Chunnie jagi, anything for you.”

Ku lirik Yoochun yang sudah mulai terpejam. Entah mengapa ada rasa bersalah padaku karena aku berniat untuk menyakitinya. Aku merasa dia memiliki sisi lemah yang selama ini enggan di tunjukkannya.

“ Tidurlah Chunnie jagi aku akan menjagamu.”

TBC 

6 thoughts on “Revenge Or Love Chap 3

  1. via berkata:

    nga nyangka suie tega bgt ngebohongin chunnie, tp aq masih bingung suie tuh cinta pa kaga seh ma chunnie!! kalau nga mau chunnie buat aq aja.
    #di timpuk junsu

  2. Rasanya kok janggal ya kalau suie yang memanjakan yoochun. Aku merasa kalau yoochun lebih manly jadi merasa janggal aja kalau yoochun diperlakukan seperti yeoja. Mian thor..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s