Love Sick Chap 1


Tittle         : Love Sick

Genre        : AU/ Angst, Family, Romance

Rating       : NC/17

Lenght       : 1 of ??

Main Cast  : Park Yoochun, Kim Jaejoong, Park Yoon Rie & Park So Jin (Girls day)

Other Cast : Jung Yunho as Jaejoong’s brother, Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Jun Mi, Shim Min Ah and others

Author : Satsukisorayuki

Disclaimer : The fanfic is mine (Plot is my own). Inspirasi author dapat dari lagu-lagu, dan realita kehidupan manusia.

A/n : Fanfic ini menceritakan tentang perjalanan hidup manusia sekaligus cerita fiktif yang muncul dari otak sendiri yang author karang sedemikian rupa. Fanfic yang berisi tentang cinta, harapan, kasih sayang dan perjuangan hidup.
Happy Reading?! ^^

Chapter 1

=> Backsound ‘Puisi untukmu’ ( Mianhae author ga tau siapa penyayi lagu ini, soalnya author juga minta mp3 nya dari temen dan disitu ga ada keterangannya, tapi kalau denger dari suaranya sih kayak ‘De Pasfour)

Tersenyumlah saat kau mengingatku karena saat itu aku sangat merindukanmu dan menangislah saat kau merindukanku karena saat itu aku tak ada disampingmu, tetapi pejamkanlah mata indahmu itu karena saat itu aku akan terasa ada di dekatmu karena aku telah berada dihatimu untuk selamanya.

Tak ada yang tersisa lagi untukku selain kenangan-kenangan yang indah bersamamu. Mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta. Mata indah yang dahulu adalah milikku kini semuanya terasa jauh meninggalkanku. Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu. Hati, cinta dan rindukku adalah milikmu.

Cintamu tak kan pernah membebaskanku. Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain saat sayap-sayapku telah patah karenamu. Cintamu akan tetap tinggal bersamaku hingga akhir hayatku dan setelah kematian. Hingga tangan Tuhan akan menyatukan kita lagi.

Betapapun hati telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan yang tengah menghidupkan sinar redupku, namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya. Aku tak pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu, karena mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku.

Kau tak akan pernah terganti, bagaikan pecahan logam mengekalkan kesunyian, kesendirian dan kesedihanku. Kini, aku telah kehilanganmu.

( Puisi untukmu )

>>>>>.<<<<<

=> Yoochun’s POV

Namaku Park Yoochun. Aku kehilangan kedua orang tuaku saat aku masih kecil. Appa jatuh sakit hingga akhirnya meninggalkanku dan umma. Saat usiaku 7 tahun aku juga harus kehilangan umma. Dia meninggal dalam kecelakaan maut itu, kecelakaan tragis yang membuatnya tewas saat itu juga tanpa sempat dilarikan ke Rumah Sakit untuk diberikan pertolongan. Kecelakaan tragis yang juga membuatku menjadi begini. Membuatku menjadi sebatang kara. Membuatku merasakan cinta dan sakit disaat yang bersamaan.

Akan kuceritakan kisahku pada udara. Setelah kematian umma, tetanggaku menyerahkanku ke sebuah panti asuhan, disanalah rumah baruku sampai akhirnya 6 bulan kemudian aku bertemu dengannya. Aku bertemu dengan cinta pertamaku, Yoon Rie. Yoon Rie adalah putra dokter Park In Woo, salah satu dokter specialis jantung yang paling terkenal di Korea. Tadinya Mr.Park dan Mrs.Park hanya ingin menyumbangkan sebagian dananya untuk panti kami, tetapi pada akhirnya mereka juga mengadopsiku sebagai putranya.

Tuhan jika aku boleh memilih aku lebih baik hidup di panti daripada aku harus hidup bersamanya. Hidup bersama cinta pertamaku hanya membuat hatiku sakit, karena aku memiliki perasaan lebih pada Yoon Rie. Aku tak bisa jika harus menjadi kakaknya. Aku ingin dia mencitaiku juga. Aku ingin dia mencintaiku bukan hanya sebagai kakaknya, tapi kurasa itu tak mungkin bukan?

Tuhan mengapa kau mempermainkanku? Kau menyatukan kami dengan cara seperti ini dan ironisnya aku juga hidup dibawah vonis appa. Appa pernah mengatakan padaku bahwa waktu pacaranku singkat. Apa kalian mengerti maksudku? Waktu pacaranku singkat berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Bukan karena aku playboys atau hal negatif lainnya, tetapi karena aku memang tak sanggup. Aku mengetahui kenyataan itu 3 bulan setelah appa dan umma mengadopsiku.

“Mweo? Kau bilang ada kelainan di jantung Yoochun? Yeobo jangan becanda! Kurasa dia hanya kelelahan saja sampai akhirnya jatuh pingsan seperti itu. Kau pasti salah, itu tidak mungkin yeobo!”

“Apa kau lupa aku ini siapa? Aku mengerti ini sangat berat untukmu karena kau juga sama seperti aku, kita berdua sudah menganggap anak itu sebagai putra kandung kita sendiri. Kau juga sudah melihat hasil medical check up ini bukan? Aku tidak main-main! Ini adalah penyakit yang sangat serius”

“Tidak mungkin, nan shireo. Yoochun.. aku tak mau kehilangan anak itu!”

“Nado. Aku juga ingin Yoochun menjadi penerusku keunddae Istriku.. jeonngmal mianhae, menurut hasil diagnosis kami Yoochun tidak akan sanggup melewati usia 20 tahun”

Huh, lucu bukan? Park In Woo bukan hanya ayah angkatku tetapi juga dokterku dan ironisnya aku memberikan cinta pertamaku pada putri kandungnya Yoon Rie yang kini adalah adikku. Aku bahkan tak bisa mencintai orang lain selain Yoon Rie, karena seluruh hatiku sudah menjadi miliknya. Di satu sisi aku adalah putra Park In Woo tetapi di sisi lain aku ini adalah salah satu pasiennya juga. Apa-apaan semua ini? Mengapa perjalan hidupku seperti ini? Ini seperti permainan!

“God, aku sangat membencimu!”

“Yaa, kau bicara apa? Kau bilang, kau membenci Tuhan? Apa aku tak salah dengar? Kau membenci penciptamu sendiri?!”

Terdengar suara seseorang menegurku, entah siapa? Kubuka kedua mataku yang tadi kututup rapat. Kuperhatikan seorang namja yang kini tengah duduk disampingku. Dia tampan dan cantik disaat yang bersamaan. Warna kulitnya putih bersih, warna yang paling aku benci. Putih, hampir semua yang ada disekitarku putih. Jeongmal, aku benci putih.

“Aku benci putih”

“Mweo? Tadi kau bilang kau sangat membenci Tuhan dan sekarang kau bilang, kau benci putih? Sepertinya kau sudah gila” ujar namja itu lagi

Kuperhatikan lagi sosoknya. Dia lumayan tinggi dan juga kurus sepertiku. Ada kesamaan diantara kami. Aku dan dia memakai pakaian yang sama, pakaian pasien.. dan aku baru sadar kalau ternyata wajahnya sangat pucat, matanya sayu, namun senyum indah tersungging dibibirnya yang putih.

“Kau lucu. Seumur hidupku aku baru bertemu seseorang yang aneh seperti dirimu. Kim Jaejoong imnida”

Dia mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri. Aku pun membalas salam perkenalannya.

“Park Yoochun imnida”

“Boleh kutahu, mengapa kau sangat membenci Tuhan?” tanyanya lagi

“Karena dia selalu mempermainkan hidupku” jawabku

“Hahaha”

Dia tertawa. Dam it, kenapa dia malah menertawakanku sih?

“Yoochun-a, berapa umurmu?”

“17 tahun. Wae? Apa maksudmu bertanya seperti itu?” tanyaku ketus

“Kau memang lucu. Kau seumuran denganku, keunddae sikapmu malah seperti anak berusia 7 tahun”

“Mweo?”

“Memang benar, kan? Yoochun-a, Tuhan itu tidak pernah mempermainkan kita justru hidup dan mati kita ada ditangannya. Apakah kau pernah mendengar istilah bahwa hidup ini adalah perjalanan?”

“Hidup adalah perjalanan?” ulangku

“Hidupku adalah sebuah perjalanan. Perjalanan yang sangat melelahkan. Selalu banyak rintangan yang harus kuhadapi, keunddae aku harus tetap bertahan, walaupun sendiri, disini, didunia yang fana ini”

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Jae?”

Itu benar, aku memang tidak mengerti apa maksud perkataannya ini.

“Yoochun-a, perjalanan ini bagaikan roda berputar. Suka dan duka terus aku jalani, keunddae aku belajar untuk selalu bersabar. Walaupun sesungguhnya itu sangatlah sulit”

“Yaa, jangan bertele-tele kau Jae! Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”

“Aku mempunyai seorang kakak, dia bukan kakak kandungku sih. Umma dan Appa mengadopsinya dari sebuah panti asuhan ketika aku berusia 5 tahun. Dia lebih tua 2 tahun dariku?!”

“Aku semakin tidak mengerti. Tadi kau menceritakan tentang perjalanan dan sekarang kau malah menceritakan tentang kakakmu. Memangnya itu ada hubungannya?”

‘Sebenarnya apa maksud Jaejoong sih?’

Sesaat dia tidak menjawab pertanyaanku. Kuperhatikan lagi lekuk wajahnya. Di matanya aku melihat luka dan kesedihan disaat yang bersamaan.

“Yunho hyung pernah berkata padaku, Joongie kau harus belajar untuk hidup dengan penuh kesabaran karena dengan begitu kau akan mengerti arti hidup ini. Teruslah tersenyum walaupun mengalami kegagalan karena hidup dibumi adalah sebuah perjuangan. Belajarlah dari kegagalan, hingga akhirnya kau bahkan tak berputus asa” ujarnya panjang lebar

Untuk sesaat suasana hening. Dia terdiam dan aku pun ikut terdiam. Detik berikutnya aku melihatnya memejamkan kedua matanya lalu setetes cairan bening tergelincir jatuh menodai wajahnya.

“Wae? Aku ingin menyerah. Aku sudah lelah tetapi kenapa hyung malah berkata seperti itu? Tidak bisakah mereka merelakanku? Tidak bisakah mereka melepasku pergi?”

Eh? Dia ini kenapa sih? Kenapa moodnya cepat sekali berubah? Orang yang aneh. Baru saja dia menyuruhku untuk tidak menyerah secara tidak langsung, tetapi kenapa sekarang dia malah terang-terangan mengatakan padaku bahwa dia ingin menyerah?

“Itulah yang aku pikirkan saat Yunho hyung mengatakan hal itu untuk pertama kalinya Yoochun-a, tetapi sekarang aku sadar. Dia berkata seperti itu karena dia dan kedua orang tuaku ingin aku terus berjuang untuk bertahan hidup. Mereka tidak bisa melepasku karena mereka terlalu menyayangiku. Maka dari itu aku tak ingin membuat mereka sedih lagi” lanjutnya

“Yaa! Pernyataanmu ini janggal sekali. Kau tau, perkataanmu itu membuatku tersadar akan sesuatu”

“Jeongmal? Kau tersadar akan apa?”

“Kau sakit parah, ya?” tanyaku to the point, kulihat dia mengangguk

“Nde” jawabnya

“Hah? Jadi tebakanku benar? Kau sakit apa?”

“Biasa seperti yang ada di film-film itu lho. Kanker darah” bisiknya pelan

“Mweo? Kau.. jadi kau mengidap Leukemia?” tanyaku tak kalah pelan

“Ne”

“Sejak kapan?” tanyaku lagi

Kulihat dia hanya tersenyum seakan tak terbebani dengan penyakitnya. Yang benar saja, mengapa anak ini masih bisa tersenyum? Apakah dia tidak sadar bahwa  penyakit itu adalah pembunuh nomor dua di dunia?

“Sejak kecil. Kalau tidak salah penyakitku ketahuan saat aku berusia 5 tahun. Itulah sebabnya kedua orangtuaku mengadopsi Yunho hyung. Awalnya mereka mengadopsi Yunho hyung agar aku memiliki seorang teman, tak kusangka pada akhirnya lebih dari itu”

“Lebih dari itu. Maksudmu?”

“He is my guardian angel. Dialah yang membuatku bertahan hidup hingga aku masih bisa bernafas sampai saat ini. Darahku, tulang sum-sum ku, bahkan limfosit.. aku mendapatkan itu semua darinya. Aku dan orangtuaku juga tidak mengerti, mengapa organ tubuhnya bisa begitu cocok denganku padahal Yunho hyung bukan putra kandung mereka”

Ya Tuhan, aku tidak salah dengar bukan? Jadi Jaejoong bisa bertahan hingga kini karena orang yang bernama Yunho itu telah menjadi donornya selama ini? Mulia sekali dia, dia rela mengorbankan semua yang dia miliki hanya untuk menyelamatkan nyawa adiknya.

“Setelah melakukan operasi pencangkokkan sum-sum tulang belakang, aku sembuh. Yunho hyung memang penyelamatku keunddae itu tidak bertahan lama, 4 tahun yang lalu penyakitku kambuh lagi, sel kanker itu kembali. Dokter bilang penyakitku adalah jenis yang langka makanya tidak bisa sembuh total, apalagi aku tak pernah menjalani kemoterafi”

“Wae? Seharusnya kau melakukannya bukan?”

“Kemoterafi menimbulkan banyak efek samping, kau akan sering merasa mual-mual lalu muntah darah bahkan mengalami kebotakan rambut. Selain itu obat kimianya juga sangat keras, hal terburuk yang akan kau alami adalah komplikasi. Kemo tidak akan bisa menyembuhkanmu, sebab kemo tidak akan bisa mematikan sel kanker itu.. fungsinya hanya memperlambat penyebaran”

“Jadi karena itu kau tidak mau? Itu kan belum tentu benar, Jae”

“Itu benar Yoochun-a”

“Sok tahu sekali kau ini”

“Aku tidak sok tahu. Saat usiaku 14 tahun aku sekarat, aku hampir mati Yoochun-a. Lalu orangtuaku dan Yunho hyung memaksaku untuk melakukan kemoterafi. Aku tetap tidak mau, keunddae seiring berjalannya waktu kondisiku semakin lemah. Mereka selalu menangis dan aku tidak tega melihatnya dan pada akhirnya aku menuruti keinginan mereka”

“Jadi akhirnya kau rutin melakukan kemoterafi? Boleh kutahu sejak kapan?”

“Satu tahun yang lalu. Kalau dihitung-hitung sudah belasan kali aku melakukannya, tepatnya tiga minggu sekali”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Seperti yang kau lihat, aku masih hidup keunddae…”

“Keunddae?”

“Aku mengalami komplikasi satu bulan yang lalu. Aku mengalami gagal ginjal”

“Mweo? Gagal ginjal?”

“Selain itu rambutku juga mengalami kerontokan. Kau lihat? Dulu rambutku jauh lebih tebal dari ini lho”

Aku tercenung, terlalu sock untuk sekedar berkata-kata. Kim Jaejoong, ternyata dia sama sepertiku.. hampir semua waktu yang dimilikinya diselingi rasa sakit tetapi dia tak pernah mengumpat pada Tuhan seperti aku. Dia bahkan masih bisa tersenyum dan tertawa. Dia masih memiliki semangat hidup, tidak seperti aku.

“Bagaimana denganmu?” tanyanya

“Maksudmu?”

“Kau sakit apa, Yoochun-a?”

Dia bertanya aku sakit apa? Haruskah aku mengatakannya? Tidak, penyakitku adalah rahasia selain keluargaku tidak boleh ada yang mengetahuinya, keunddae walaupun pertama kali bertemu aku merasa nyaman mengobrol dengan Jaejoong. Jaejoong sendiri bahkan tidak berpikir ulang untuk membagi deritanya denganku. Kurasa sebaiknya aku juga berbagi dengannya, lagipula sekarang dia adalah temanku, bukan?

Aku membuka kancing piyamaku satu persatu. Kutunjukan padanya garis jelek berukuran lumayan besar itu, garis bekas jahitan ketika appa melakukan pembedahan terhadapku dua tahun yang lalu. Pembedahan untuk mengetahui secara lagsung dan lebih detail, sudah separah apa kondisi organ jantungku saat itu.

“Apa itu?” tanyanya

“Bekas jahitan, masa tidak tahu?” ujarku

“Bukan, maksudku.. apakah kau…”

“Ne, aku mengidap penyakit jantung bawaan sejak aku masih kecil” potongku

Jaejoong tampak terkejut membuat mata besarnya seakan mau melompat keluar. Dia memandangku dengan tatapan yang tidak aku mengerti. Kurasa dia kasihan padaku?

“Ada kelainan di jantungku, akibatnya organ jantungku ini tidak bisa berfungsi dengan baik dan benar, tidak bisa memompa darah sebagaimana mestinya, otot jantungku lemah bahkan operasi transplantasi jantung sekalipun tidak bisa menjamin kesembuhanku”

“Pasti sakit sekali bukan?”

“Bukan sakit lagi tetapi juga menyebalkan”

“Menyebalkan?”

“Ne, menyebalkan. Pernahkah kau mendengar vonis dokter tentang sisa hidupmu? Sisa umurku sudah bisa di prediksi sejak aku berusia 8 tahun. Menurut hasil diagnosis mereka, aku tidak mungkin sanggup melewati usia 20 yang berarti tiga tahun dari sekarang atau bahkan kurang dari itu.. I will die, my time is over”

Aku tak bisa menahan air mataku lagi saat aku berkata demikian. Jaejoong tersenyum sambil menepuk bahuku

“Yoochun-a, aku sangat mengerti perasaanmu keunddae setidaknya vonismu itu dalam hitungan tahun. Tiga tahun apalagi dua tahun atau satu tahun memang waktu yang sangat singkat, tetapi itu jauh lebih lama jika dibandingkan dengan vonis dokter terhadapku”

“What? Memangnya berapa lama vonis dokter atasmu, Jae?”

“Tergantung keadaanku. Jika masih baik aku masih punya sisa empat bulan, keunddae jika sebaliknya aku hanya punya waktu dua atau bahkan satu bulan dari sekarang, begitulah yang dikatakan dokter Lee. Aku hanya bisa pasrah mendengarnya, tetapi Yunho hyung bilang dokter itu bukanlah Tuhan. Jadi aku harus tetap optimis”

“Optimis?”

“Ne. Memiliki harapan akan adanya suatu keajaiban Tuhan”

Aku kembali memejamkan mataku, merasakan sejuknya angin sepoi yang menerpa wajahku. Kurasa Tuhan benar-benar sedang mempermainkanku. Di taman ini aku mendapatkan teman yang lain. Selama ini hanya Yoon Rie saja yang menjadi temanku, sebab aku sudah berhenti sekolah setelah penyakitku ketahuan untuk pertama kalinya. Lalu setelah itu appa dan umma menyarankanku untuk mengikuti home schooling saja. Awalnya aku tidak mau karena sepertinya homoschooling itu tidak menarik, aku akan kesepian karena tidak mempunyai teman lain selain Yoon Rie tetapi sekarang aku sudah punya teman baru walaupun dia itu juga sepertiku, sakit. Jujur ini pertama kalinya aku merasa senang aku sakit karena aku bisa bertemu dengan teman baruku ini. Semua yang dia katakan memberiku inspirasi dan motivasi.

“Jaejoongie”

“Yaa! Kenapa kau memanggilku seperti itu?” protesnya

“Gomawo” ujarku sambil menunjukkan senyum tulusku padanya

“Eh? Terimakasih untuk apa?”

“Untuk semua yang kau lakukan hari ini”

“Memangnya aku melakukan apa?” tanyanya polos, aku sampai ingin tertawa melihat ekspresinya kali ini

Drdrtttdrrttt, kurasakan ponselku bergetar. Kurogoh ponselku dan membaca message itu, ternyata ini adalah pesan dari adikku.. sudah kuduga.

From ‘My Love: Yaa, oppa! Eodiga? Cepat kembali ke kamarmu! Kau tidak boleh telat minum obat, arraseo!

“Jae, maaf aku harus segera kembali ke kamar serba putih yang sangat membosankan itu” pamitku

“Ne, sampai jumpa lagi” ujarnya

Aku hanya mengangguk lalu segera berdiri dari posisi dudukku dan melangkahkan kakiku menuju tempat serba putih itu.

>>>>>.<<<<<

=> Yoon Rie’s POV

Aigoo, sebenarnya Yoochun oppa itu kemana sih? Kenapa lama sekali? Omo, jangan-jangan dia pingsan dalam perjalanan menuju kemari. Gawat, aku harus segera mencarinya.
Dengan panik aku segera berlari menyusuri koridor RS. Aku harus cepat, aku takut penyakit oppa kambuh lagi.

“Yoon Rie, kau mau pergi kemana?” tanya suara familiar seseorang

Aku berhenti berlari. Menoleh ke arah sumber suara. Syukurlah ternyata oppa baik-baik saja. Aku sangat lega melihatnya baik-baik saja, reflek aku berlari kearahnya dan memeluknya.

“Kau membuatku khawatir, oppa. Sebenarnya tadi kau itu pergi kemana, oppa? Aku mencarimu kemana-mana tapi tidak berhasil menemukanmu?”

“Aku hanya pergi ke taman belakang RS, lalu disana aku bertemu dengan seorang teman. Kau tidak usah khawatir aku tidak menghabiskan energiku saat bersamanya. Kami hanya berbincang-bincang”

‘Seorang teman? Siapa yang oppa maksud? Aku jadi penasaran’

“Yoon Rie, waeyo?”

“Teman oppa itu namja atau yeoja?” tanyaku, kulihat dia tersenyum

“Tentu saja namja. Waeyo?”

“Baguslah kalau namja dengan begitu aku tak akan cemburu”

“Mweo? Kau bilang apa?”

‘Yoon Rie pabo! Kenapa kau bisa keceplosan seperti itu? Bagaimana kalau Yoochun oppa sampai tau perasaanmu yang sesungguhnya?’

“Anni. Aku hanya bilang cepatlah kau ke kamar lalu minum obat!” tegasku

“Nde. Kajja!” ujar Yoochun oppa yang kemudian menggandeng tanganku

Seperti biasa genggam tangannya selalu terasa hangat. Entah kenapa setiap kali dia menggandeng tanganku, aku jadi teringat masa lalu? Hari itu pertama kalinya jantungku berdetak jauh lebih cepat dan darahku berdesir. Kami memang masih anak-anak saat itu, keunddae ada perasaan yang aneh. Aku selalu tersipu jika dia berada di dekatku apalagi jika dia memujiku. Aku merasakan gejolak yang berbeda. Saat itu aku tidak mengerti perasaan apa itu? Tetapi sekarang aku sudah mengerti. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku telah memberikan cinta pertamaku pada seorang Park Yoochun.

=> Flashback <=

“Appa, umma.. Yoon Rie boleh main dengan anak-anak itu?” tanyaku pada appa dan umma saat kami sudah sampai di panti.

“Tentu saja, sayang. Mainlah, lagipula kami ingin mengobrol dulu dengan suster Sara” jawab umma

Aku pun tersenyum senang dan berterimakasih pada umma. Di taman itu ada banyak sekali anak-anak yang sepertinya sebagian besar dari mereka masih seumuran denganku. Aku memperhatikan sekeliling, ada yang sedang bermain seluncuran, ayunan, bahkan ada juga sekelompok anak perempuan yang sedang bermain rumah-rumahan dan sekelompok anak laki-laki yang sedang bermain sepak bola.

Aku ingin sekali berkenalan dan berteman dengan mereka semua, tetapi semua itu sirna setelah aku melihat seorang anak laki-laki yang sedang duduk sendirian. Anak itu tersenyum sambil memperhatikan sekelompok anak laki-laki yang sedang bermain sepak bola. Aku berpikir, kenapa dia hanya sendirian? Mengapa dia tidak bergabung dengan teman-temannya? Akhirnya aku pun menghampirinya dan menyapanya.

“Annyeong, Park Yoon Rie imnida” kataku sambil tersenyum semanis mungkin

“Annyeong. Wah marga mu sama denganku, ya? Park Yoochun imnida. Senang berkenalan denganmu” ujarnya membalas senyumku,

Aku langsung terpana, senyumannya itu membuatku terasa meleleh, sangat manis dan menawan. Dan jantungku berdetak jauh lebih kencang, darahku berdesir, bahkan wajahku terasa memanas saat itu juga. Aku mulai gugup, tetapi jika kau ingin punya teman baru.. kau harus berani berbicara.

“Berapa umurmu?” tanyaku lagi

“8 tahun, bagaimana dengan Yoon Rie?”

“Aku 6 tahun. Kalau begitu kau kupanggil oppa saja ya?”

“Nde”

“Gomawo. Oppa?”

“Hmm?”

“Kenapa oppa tidak ikut bermain bola dengan mereka?” tanyaku sambil menunjuk sekelompok anak laki-laki yang masih semangat bermain.

“Aku tidak bisa” jawabnya

“Wae? Bermain bola kan mudah oppa, lihat kau hanya perlu berlari sambil menendang bola itu, sampai akhirnya bola itu masuk ke gawang lawan” kataku menjelaskannya

Yoochun oppa tersenyum sambil mengacak-ngacak rambutku.

“Oppa mengerti Yoon Rie, peraturan nya juga oppa mengerti”

“Kalau begitu kenapa tidak ikut bermain?” tanyaku lagi

“Aku juga tidak tahu. Aku pernah bermain, keunddae tiba-tiba saja disini terasa sakit sekali dan aku juga susah bernafas. Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi setelah itu? Sejak saat itu suster Sara menyuruhku untuk tidak bermain sepak bola lagi” cerita Yoochun oppa sambil memegang dada kirinya

Aku membuka tas ranselku, lalu aku mengeluarkan stetoskop milik appa yang aku pinjam diam-diam. Aku memakainya dan meniru apa yang sering dilakukan appa selama ini.

“Kau mau apa? Sepertinya itu bukan mainan?” tanyanya

“Memang bukan, ini punya appa. Biar aku dengarkan denyut jantungmu ya?” kataku

Aneh, denyut jantungnya terdengar lemah.. karena merasa heran aku pun membandingkannya dengan denyut jantungku sendiri dan ternyata hasilnya sangat berbeda.

“Ada apa Yoon Rie? Kenapa terlihat bingung seperti itu?” tanyanya lagi

“Sepertinya kau sakit, oppa” ujarku, lalu kusentuh dahinya yang lebar

“Tapi kok tidak panas, ya?” lanjutku

“Kalau begitu berarti aku tidak sakit. Yoon Rie, aku tau tempat yang bagus di sekitar sini! Mau lihat?”

“Emh, mau.. mau?!” kataku semangat, dan aku kembali memasukan stetoskop itu pada tas ranselku.

Aku mengikutinya yang terus berjalan menuju ke suatu tempat yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Disana aku terkagum-kagum, pemandangannya sangat indah. Ternyata tempat ini seperti sebuah bukit, rumputnya hijau dan banyak sekali bunga-bunga indah yang tumbuh dan bermekaran disekitarnya, terlihat juga beberapa ekor kupu-kupu dan kumbang-kumbang yang ikut melengkapi keindahannya.

“Waw, indahnya!”

“Kalau kita duduk disana terlihat lebih indah lho, Yoon Rie” kata Yoochun oppa yang kemudian duduk di atas rumput

Dia benar, dari atas sini kami bisa melihat gedung-gedung tinggi. Itukah kota Seoul? Sungguh pemandangan yang indah. Aku masih melihat-lihat pemandangan dibawah sana saat aku merasakan sentuhan hangat seseorang dan sesuatu yang melingkar di jari manisku. Yoochun oppa tersenyum. Ternyata dia membuat sebuah cincin dari tangkai bunga, tapi aku tidak tahu bunga apa itu, yang jelas bunganya kecil-kecil dan berwarna putih hingga bunga itu terlihat seperti sebuah permata yang indah.

“Park Yoon Rie, mulai sekarang dan selamanya.. kau adalah pasangan pengantinku”

Saat Yoochun oppa berkata seperti itu, aku merasa bahagia dan malu disaat yang bersamaan. Suara husky nya ini tidak akan pernah aku lupakan, suaranya terdengar romantis, padahal aku tidak tahu apa itu romantis.. aku hanya pernah dengar di tv-tv.

“Yoon Rie, kau mau kan menjadi pasangan pengantinku?” tanyanya lagi

“Ne, aku mau” jawabku sambil tersenyum

Yoochun oppa semakin mendekatkan wajahnya dengan wajahku, membuat jantungku semakin berdetak cepat.

‘Cup’

Sesuatu yang lagi-lagi membuatku merasa senang entah karena apa? Yoochun oppa, dia mencium bibirku. Ciuman pertamaku.

“Oppa, barusan itu apa?” tanyaku polos

“Seperti yang ada di tv-tv, itu pertanda kalau aku suka Yoon Rie” jawabnya sambil tersenyum.

“Ohh, aku juga suka oppa” jawabku sambil membalas senyumnya

“Kalau begitu kita harus selalu bersama, ne?”

“Hmm, nanti aku akan sering-sering datang ke panti untuk mengunjungi oppa”

“Janji ya?” tanya nya sambil melingkarkan jari kelingkingnya di jari kelingkingku

Janji pertamaku yang sudah aku putuskan tak akan pernah aku ingkari, tetapi entah kenapa perasaanku terasa aneh, aku merasa senang tetapi juga sedih? Saat kami pulang ke panti, appa dan umma mengatakan padaku kalau mulai sekarang Yoochun oppa adalah kakakku dan dia akan tinggal bersama kami.

=> Flasback End <=

Aku masih ingat masa kecilku sampai sekarang, lalu bagaimana dengan Yoochun oppa? Apakah kau juga masih ingat apa yang saat itu kau katakan padaku, oppa?

“Yoon Rie, wae? Apa yang sedang kau pikirkan?” pertanyaan oppa tersebut membuatku kembali tersadar

“Hmm, anniyo. Aku hanya merasa, sepertinya oppa semakin kurus” jawabku sekenanya

“Oh, kurasa itu bukan hanya perasaanmu soalnya berat badanku memang turun”

“Hah? Turun berapa kilo, oppa?” kagetku

“Ah, sudahlah. Mana obatku?”

“Akan aku ambilkan. Oppa, kembali ke kasur dulu sana!” perintahku dan Yoochun oppa pun menurut

Aku pun segera mengambilkan obat-obatan miliknya. Miris, aku merasa sedih melihat Yoochun oppa yang sangat tergantung pada obat-obatan ini sejak dia masih kecil.. rasanya aku ingin sekali menggantikan posisinya.

>>>>>.<<<<<

=> Yunho’s POV

Bagus, tanda tangan appa sudah, tanda tangan umma juga sudah.. tinggal minta tanda tangan Joongie, adikku. Lho, kemana dia? Kenapa dia tidak ada di kamar ini?

Dengan panik aku letakkan surat itu di atas meja lalu mencari Jaejoong ke kamar mandi. Kosong, dia tidak ada disana. Aku ingat betul hari ini dia tidak ada jadwal kemoterafi, keunddae kenapa dia tidak ada?

‘Omo! Jangan-jangan dia kabur dari Rumah Sakit lagi, dasar anak keras kepala!’

Aku berlari menyusuri koridor RS dengan tergesa-gesa dengan pandangan mata terus teralih kemana-mana. Kalau sudah berhubungan dengan anak itu, aku selalu merasa takut.

‘Brruukkkk’

“Yaah, kalau jalan lihat-lihat!! Dasar, kau tidak lihat kalau aku ini pasien?” protes seseorang yang sepertinya tak sengaja aku tabrak

Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya, ternyata dia jatuh terduduk di depanku sambil mencoba berdiri dengan bantuan tongkatnya. Oh, ternyata kaki kiri yeoja ini terluka dan sepertinya cukup parah. Tunggu, sepertinya aku pernah melihat yeoja cantik ini.. tapi dimana ya?

“Mianhae, jeongmal mianhae aku sedang buru-buru” ujarku sambil membungkukkan badanku

“Aku benar-benar sial” sambung yeoja itu sambil terisak

‘Eh? Kenapa dia menangis?’

“Agassi, jeongmal mianhae. Biar aku antar kau ke kamarku?” tawarku

“Tidak usah, kau hanya membuat moodku semakin jelek saja” bentaknya yang kemudian berjalan melewatiku

‘Aigoo, apa yang harus aku lakukan sekarang?’

“Hyung, sedang apa kau disini?” tanya seseorang,

‘Ah suara ini!’

“Aku sedang mencari Jaejoong, Junsu-ya” jawabku

“Oh, aku pikir kau sedang mencari noonaku” sambung Junsu sambil tersenyum

“Kau ini! Jun Mi kan sedang istirahat, jadi aku tidak mau menganggunya. Kau sendiri mau kemana Junsu-a?”

“Emh, aku sedang mencari Yoon Rie. Biasanya jam segini dia ada di taman, membacakan beberapa dongeng untuk anak-anak keunddae hari ini aku tak melihatnya di taman, padahal ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya” cerita Junsu

“Mungkin dia sedang di kamar kakaknya”

“Oh iya, benar juga. Gomawo hyung, aku pergi dulu ne?” pamitnya dengan wajah ceria seperti biasanya

‘Sepertinya anak itu benar-benar mencintai yeoja itu’

Kembali kulangkahkan kakiku untuk mencari Jaejoong. Aku pun berlari ke taman belakang, mudah-mudahan Joongie ada disana?

Sesampainya di taman aku menemukan sosok orang yang aku cari sejak tadi. Dia sedang duduk di kursi taman sambil menengadah ke langit dengan mata terpejam.

‘Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan barunya’

“Yah, Jaejoongie. Dasar anak nakal, cepat kembali ke kamar!” tegasku

Jaejoong membuka matanya dan menunjukkan wajah cemberutnya padaku

“Dasar penganggu!” ketusnya

“Sudahlah, ayo kembali ke kamar!”

“Mau apa? Aku masih ingin disini!”

“Yaa! kau ini jangan membantah!” kataku sambil menunjukkan wajah galak padanya

“Aish, dasar tukang maksa” katanya yang kemudian berdiri dari posisi duduknya.

Sekarang kami sudah sampai di kamar nya. Aku pun segera menyerahkan surat itu kepadanya.

“Apa ini?” tanyanya

Jaejoong membuka amplop cokelat itu, lalu dia mualai membaca berkas-berkas di dalamnya. Ekspresinya berubah marah, di lemparnya surat itu ke wajahku membuat kertas-kertas itu terbang berjatuhan.

“Sampai mati pun aku tak akan pernah menandatangani surat itu!” tegas Jaejoong

“Joongie, sudahlah tanda tangan saja! Lagipula aku hanya akan menyerahkan satu, yang berarti aku masih punya satu ginjal lagi!” jelasku

Kulihat dia tersenyum sinis dan secepat kilat dia meninju wajahku. Perih, pukulannya keras sekali sampai membuat sudut bibirku robek dan berdarah seperti ini.

“Dengar! Sudah cukup, hyung! Ku tegaskan padamu sekali lagi jangan pernah memberikan organ tubuhmu lagi padaku!”

“Joongie, bukankah kau ingin sembuh? Aku hanya akan memberikan satu. Jeongmal aku tak keberatan walaupun aku harus hidup dengan satu ginjal saja, karena kau adikku”

“Tapi aku sangat keberatan, hyung. Aku tidak mau mengambil apa yang menjadi milikmu lagi, semua yang kau berikan padaku sudah lebih dari cukup! Aku tidak perlu ginjalmu dan aku tidak mau melihatmu hidup dengan satu ginjal. Resikonya sangat besar.. kau tidak akan bisa hidup normal lagi, hyung? Apakah kau bodoh, hah?”

“Sudahlah tidak usah membentakku! Bukankah disana sudah tertulis jelas bahwa appa dan umma bahkan sudah mendukung keputusanku”

“Diam, jika kau tak ingin aku tendang!” ancamnya dengan penuh emosi

“Silahkan! Silahkan tendang aku sepuasku, kalau perlu buat wajahku babak belur. Lakukan apa yang kau inginkan dan aku tidak akan merubah keputusanku!”

“Mianhae hyung, aku tak bisa menghargai keputusanmu! Egoisku ini bukan tanpa alasan, aku hanya ingin kau hidup normal. Kalaupun aku harus mati, asalkan aku bisa melihatmu bahagia bersama Jun Mi noona.. aku tak keberatan hyung, lagipula aku sudah siap untuk mati?!”

“Jaejoong-a, jebal kau harus menerimanya!”

“Jangan memaksaku!” bentaknya yang kemudian pergi

‘Lagi-lagi dia pergi, selalu begini. Kenapa kau tidak pernah mau mengerti? Aku hanya ingin kau sehat!’

>>>>>.<<<<<

=> So Jin’s POV

Hyeri, Minah, Yura, Jihae aku merindukan kalian. Mianhae gara-gara aku cedera Girls Day terpaksa harus vacum dulu. Kalian tahu ini sangat menyebalkan! Aku bosan disini, apalagi kalian belum datang untuk menjengukku. Ah, aku benar-benar benci RS.

“Dasar hyung, pabo!”

‘Aish, orang gila kali ya? Masa teriak-teriak di taman Rumah Sakit?’

Aku memperhatikan seorang namja yang kini sedang berdiri beberapa meter di depanku. Kedua tangannya terkepal kuat, walaupun dia sedang memunggungiku keunddae hanya melihat dari punggungnya saja aku berani bertaruh kalau namja itu tampan. Dia memakai pakaian yang sama denganku.

‘Apa orang itu salah satu pasien disini juga?’

Penasaran dengan orang di depanku ini, aku pun menghampirinya.. sedikit merepotkan sih berjalan dengan tongkat seperti ini tapi tak masalah karena sepertinya aku sudah mulai terbiasa. Saat jarak nya denganku tinggal beberapa inci lagi, aku pun menyentuh bahu nya.

Dia berbalik ke arahku, menatapku dengan mata sayu nya yang besar.

‘Pucat, keunddae dia masih terlihat tampan dan sepertinya aku menyukainya karena jantungku mulai berdetak tak karuan’

“Nugu?” tanyanya

“Mweo? Masa kau tidak kenal aku? Kau tidak pernah menonton televisi ya?”

“Memangnya apa hubungannya kau dengan televisi, agassi?”

“Serius, kau tidak kenal aku? Aigoo, walaupun aku sedang tidak memakai make up aku ini tetap Park So Jin, hey?!” jelasku

“Oh jadi namamu Park So Jin? Kim Jaejoong imnida, senang berkenalan denganmu” ujarnya sambil tersenyum padaku

‘Eh, jadi dia benar-benar tak mengenaliku? Perasaan Girls Day cukup terkenal walaupun belum lama debut’

“So Jin-ssi, anda sungguh cantik” puji namja yang bernama Jaejoong itu

“Tapi kau lebih cantik” sambungku

“Ha? Aku cantik?! Sepertinya kau buta, bukankah wajahku terlihat seperti hantu?”

Lucu sekali namja ini, aku jadi ingin tertawa.. tapi benar juga sih yang dia katakan wajahnya yang pucat terlihat seperti hantu. Hantu yang tampan kekeke.

“Kenapa kau senyum-senyum sendiri, So Jin-ssi?”

“Anni. Jaejoong-ssi?”

“Ne?”

“Kau salah satu pasien RS ini juga ya?” aish, kenapa aku jadi salting begini sih?

“Hmm” jawabnya singkat

“Merasa bosan tidak? Aku sangat bosan. Kaki ku tidak sembuh-sembuh keunddae aku lumayan senang juga sih, sebab saat seperti ini aku tidak perlu merasa lelah karena sibuk bekerja”

“Kau benar, ini memang tempat yang paling membosankan di seluruh dunia”

“Begitulah, makanya aku ingin sekali cepat-cepat keluar dari RS ini”

Benar, aku ingin sekali cepat-cepat pulang dari RS dan kembali ke dorm tapi entah kenapa walaupun aku dan dia baru pertama kali bertemu, rasa bosanku sedikit berkurang.

“So Jin-ssi, mianhae sepertinya aku harus segera kembali. Sampai jumpa lagi”

‘Eh, kenapa tiba-tiba dia mendadak ingin pergi?’

“Chamkanman! Jaejoong-ssi kau mau kemana? Bagaimana kalau kita pergi bersama?” teriakku sambil terus berusaha mengejarnya

Ternyata Jaejoong-ssi belum jauh karena dia berhenti tiba-tiba. Dia masih berdiri disana, seperti tadi memunggungiku. Aku pun segera menghampirinya lagi.

“Jaejoong-ssi, kau menungguku ya?”

“So Jin-ssi, jangan lihat aku! Pergilah!”

‘Eh? Eh kenapa dia mengusirku?’

Aku hendak menatapnya tapi Jaejoong malah memunggungiku lagi. Aku bergerak ke kiri dan dia kembali berpaling, terus begitu berulang kali. Sebenarnya ada apa? Kenapa dia terus menghindari kontak mata denganku.

Aku langsung terdiam saking kagetnya saat pandanganku teralih pada rumput yang dia injak. Darah, ada beberapa tetes darah disana.

Kulihat Jaejoong-ssi berlari kencang menjauhiku. Aku terus mengejarnya dengan susah payah dan berharap aku masih bisa menyusulnya. Jaejoong-ssi lagi-lagi berhenti dan dia terlihat sedang memuntahkan sesuatu disana. Aku kembali menghampirinya dan kini aku berhasil menatap wajahnya. Darah, dia muntah darah. Anni, bukan hanya muntah darah keunddae darah dalam jumlah banyak juga terus mengalir dari lubang hidungnya. Dia mimisan dan juga muntah darah? Sebenarnya Jaejoong-ssi kenapa? Kenapa wajahnya penuh dengan darah?

“Jaejoong-ssi…” panggilku dengan panik

“Aku.. benci merah” ujarnya sebelum dia terjatuh dan tak sadarkan diri di depanku

=> To Be Continued <=

Annyeong reader/siders. Author datang lagi dengan FF baru padahal yang ‘Wanna Love You but I Can’t…’ kan belom tamat, yak? Dan mohon maaf sekali karena di fic ini author nyiksa Yoochun oppa dan Jaejoong oppa *digorok Yoochun & JJ*

No Bashing, Okay? Because this only a fanfiction, cerita fiksi milik author. Mau di lanjut atau tidak terserah kalian! Silahkan tinggalkan komentar atau kritiknya, ya? kamsahamnida. ^^

30 thoughts on “Love Sick Chap 1

  1. aku sedih bangeet bacanya, jaeppa kasian sakit gtu, trus yunho sayang bgt sm dy smpe mw donorin ginjalnya, I really love YunJae Moment!>///<
    trus chunppa juga kasian, punya penyakit jantung. ya ampuuunnn~ hidup mereka brdua menderita bgt sih! pdhl bru part 1 tp aku udh mewek gni,

  2. kok cast y pada sakit semua y sih,,,, kasian bgt n sesak nih nahan tangis krn baca suang bolong gini…..
    pa lg jj padahal udah sembuh tapi balik lg tuh penyakit n tambah parah….
    ni ff nyesekin bgt deh….

  3. Karina berkata:

    Uda lama ga jalan jalan k blog ini . . .
    Eh . . Uda bnyak ff bru . .

    Kya nya yg ini bkalan sedih sedih dan cry cry . . .

    D tnggu ya lanjutan nya🙂

  4. disini jaechun tersiksa bgt yak .. Kasian .. Penyakitnya parah2 bgt .. Paling tersiksa kayanya jeje tuh,, udh leukemia, gagal ginjal pula ckckck .. Yunho oppa baik bgt .. Yunpa bner2 leader paling top dh #lho(?) *ga nyambung*
    ternyata yoochun sma yoonri saling cinta toh .. Ni ff ceritanya bikin nyesek bacanya .. Tpi keren .. Lanjuutt ^^

  5. Ping-balik: Eminem « Catatan FAY
  6. Hyun Ah berkata:

    huaaaaa…..kasih tak sampaaaiiii..
    tapi salut bgt deh sama karakter Yunho yg rela melakukan apapun demi Joongie-nya sembuh……
    gotta love this fic ^^

  7. Wahhh daebak! Keren ceritannya aku tarik kesimpulan dunia itu emang sempit. Haha buktinya mereka bisa ketemu gitu😄
    lanjuutttt😄

  8. chunnie_man berkata:

    Ff terlalu sedih,kenapa dua2nya sakit parah jj oppa n yoochun oppa..kasihan mereka divonis dngn umur yng pndek..
    Tapi masa kecil chun oppa wktu dipanti sangat playboy masih kecil ngerebut first kiss orang aigoo
    N yunho baik skali jadi abang!!

  9. aname91 berkata:

    Suka… Suka… Suka…
    Authos-san, buat jaejoong makin menderita y? Banyakin adegan jaejae nya y? Soalnya saya suka jaejae tersiksa hahaha… *dirajam*
    oke, next…

  10. taby_chan berkata:

    koq semuanya penyakitan yah??😀
    kasian jj sm uchun…
    ada bbrpa adegan wktu mrka msh kecil mrip sm film jepang yg prnh q tnton, kaloq gk slah jdulnya ‘i give my 1st love 2 u’… Tp aq ttep suka…🙂

  11. mira haje berkata:

    omg jaejoong n yoochun sabar ya nak atas penyakitmu yg diberikan author. hehe
    miris banget sama castnya. bacanya sedih

  12. Fanfictnya bikin nyesek. kebanyakan cast nya pada sakit. tapi emang latarnya d rumah sakit, sih. ga mungkin kan, kalau cast nya lagi pada dugem. *lupakan. . .

    aku suka banget sama kata-kata yg dipakai author d prolognya. berasa gimana, gitu.
    tapi ada beberapa typo, ya. Misal: Yoon Rie kan yeoja, tapi waktu Yoochun POV dia dibolang putra. Terus Bibir putih JJ juga, bakal lebih baik kalau pakai kata bibir pucat.
    Mian, kalau sok pinter. . .

    Tapi aku suka banget sama fanfict ini. Ada pesan yg bisa diambil, soal keoptimisan, kasih sayang. . .

    daebak

  13. chunsasnva berkata:

    Tp ntar junsunya jd apa ya ? Di chapter 2 junsunya nongol mulu di rs tp ga ada kerjaan .. ah ga tega ngebayangin chun oppa kayak gitu😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s