My Boy Chap 3


Title: My Boy

Cast :

–          Shim Changmin

–          Kim Jaejoong

–          Lee Chae Jin

Rating: PG13-NC17 *NC17-nya cuman dikit*/ STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri 

A/N: author lagi-lagi terinspirasi ama komik jepang yang pernah author baca tapi lagi-lagi author lupa judul komiknya abis dah lama banget bacanya tapi yang jelas beda banget ma yang aslinya.

WARNING: Author bikinnya di kala kepala mumet, tugas segunung and lagi dapet masalah yang sangat berat. So kalo FF-nya kurang sreg and ga nyambung author bener-bener minta maaf. Satu lagi kalo ada typo mian juga.

DON’T LIKE DON’T READ !!!

Happy Reading

AUTHOR POV

Chae Jin berjalan ke dalam kampus, ia tersenyum manis melihat para namja menatapnya dengan kagum. Hari ini ia memutuskan untuk memakai pakaian yang terlihat seksi. Setelah beberapa hari yang lalu ia melihat Changmin mengkhianatinya dengan bermain dengan pelacur di club dan namja itu tak menunjukkan perubahan, selalu berbohong dan menjauhinya, Chae Jin memutuskan untuk menjauh dari Changmin dan berusaha untuk melupakan namja itu.

Langkah Chae Jin terhenti saat melihat sosok yang cukup membuatnya takut beberapa bulan yang lalu. Kim Jaejoong. Ya, namja itu kini berada di depannya sambil tersenyum. Chae Jin tak tau kenapa namja itu bisa keluar dengan cepat dari penjara tapi ia tak mempedulikan itu. Yang ia pedulikan saat ini adalah berusaha melupakan Changmin yang membuat hatinya sakit. Perlahan Chae Jin mendekati Jaejoong.

“Cepat sekali kau keluar dari penjara.” Ucap Chae Jin dingin. Jaejoong tersenyum.

“Aku bosan berada di dalam penjara jadi aku keluar. Lagi pula aku merindukanmu.” Jawab Jaejoong.

“Kau tidak kabur kan?” Mendengar pertanyaan Chae Jin membuat Jaejoong terkekeh.

“Aku tak sebodoh itu. Orang tuaku mengeluarkanku dengan tebusan beberapa juta won. Kau merindukanku?” Ucap Jaejoong.

“Ne, aku merindukanmu. Rindu ingin mencaci makimu dan menghantam juniormu.” Jawab Chae Jin. Jaejoong tertawa pelan mendengar jawaban dingin dari Chae Jin. Di elusnya pipi yeoja itu dan betapa kagetnya ia saat melihat tak ada penolakan dari Chae Jin.

“Kau sudah banyak berubah dalam beberapa bulan ini.” Ucap Jaejoong. Chae Jin menghela nafas berat.

“Orang bisa dengan cepat berubah. Permisi aku harus masuk ke kelas.” Ucap Chae Jin lalu berjalan. Jaejoong mengikutinya dan memeluk pinggangnya, saat Chae Jin akan melepaskan tangan namja itu di pinggangnya ia melihat namjachingunya berdiri sambil menatapnya.

“Apa-apaan kau dengan yeojachingu orang lain?” Tanya Changmin kesal pada Jaejoong.

“Dia saja tidak menolak kenapa kau marah? Kau hanya namjachingunya bukan suaminya. Lagi pula apa kau sudah mencicipi tubuhnya? Aku yang pertama kali merasakan dan mendapatkan keperawanannya.” Ucapan Jaejoong semakin menyulut amarah Changmin. Chae Jin langsung mendorong pelan Jaejoong agar tak terjadi perkelahian.

“Kau pergilah. Ada yang ingin kubicarakan dengan Changmin.” Pinta Chae Jin sambil menatap Jaejoong. Jaejoong menatap Chae Jin yang tengah menatapnya juga, tatapan yang tak pernah ia terima sebelumnya dari yeoja itu. Perlahan ia mengangguk lalu pergi.

“Mau apa kau?” Tanya Chae Jin saat melihat Jaejoong sudah pergi.

“Kenapa kau bersamanya? Kau tidak apa-apa? Apa yang sudah dia lakukan padamu? Katakan padaku.” Ucap Changmin sambil menatap Chae Jin khawatir. Chae Jin terkekeh pelan melihat kekhawatiran Changmin yang di tunjukan padanya. Hatinya sangat sakit melihat sikap Changmin yang menurutnya tidak tulus itu.

“Aku baik-baik saja. Aku bisa mengatasi Jaejoong. Tenang saja. Kenapa kau terlihat khawatir padaku? Padahal belakangan ini kau seperti menjauhiku. Selalu saja ada alasan jika aku mengajakmu keluar ataupun aku ingin kau menjemputku.” Ucap Chae Jin.

“Eh i itu aku tidak bisa mengatakannya padamu sekarang. Nanti jika sudah selesai aku pasti akan mengatakannya padamu. Aku janji. Mianhae aku membuatmu sedih, aku tak bermaksud seperti itu. Kuharap kau mengerti, chagi.” Ucap Changmin.

“Tak usah mengatakan maaf padaku, aku sudah terlanjur sakit hati dengan sikapmu padaku. Kau selalu menjauhiku di saat aku membutuhkan dan merindukanmu. Lakukanlah apa yang kau suka.” Ucap Chae Jin sambil menahan tangisnya. Ia pergi meninggalkan Changmin seorang diri.

“Mianhae, chagi-a. Nanti kalau sudah saatnya pasti aku akan mengatakannya padamu. Aku janji, kau bisa pegang kata-kataku. Ingat kau harus hati-hati dengan Jaejoong, aku takut dia berbuat jahat lagi padamu. Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu hubungi aku secepatnya.” Teriak Changmin pada Chae Jin. Chae Jin tak menghiraukan teriakan namja itu, ia terus menahan tangis dan sakit di hatinya.

“Gampang sekali kau mengatakan itu setelah selingkuh dariku.” Gumam Chae Jin.

“Apa Chae Jin akan baik-baik saja ya kubiarkan dengan Jaejoong? Tapi sekarang ini aku tidak bisa bersamanya. Mianhae chagi-a.” Ucap Changmin pelan. Tak lama ponselnya berbunyi, ia melihat id callernya lalu mengangkatnya. Yeoja pelacur di club malam meneleponnya lagi. Ia tersenyum saat mendengar ucapan yeoja itu. Setelah itu dengan cepat Changmin keluar kampus, beruntung ia sudah menyelesaikan jadwal kuliahnya hari ini jadi ia bisa dengan cepat menemui yeoja itu.

Chae Jin terus berjalan tak lama tangannya di tarik oleh Jaejoong. Namja itu membawanya ke taman belakang kampus. Karena sudah tak tahan akhirnya Chae Jin menangis dan memeluk Jaejoong.

Jaejoong sedikit tersentak saat Chae Jin tiba-tiba memeluknya. Awalnya ia menarik tangan yeoja itu dan membawanya ke taman belakang karena ingin membalas perbuatan yeoja itu yang membuatnya masuk penjara.

“Ada apa? Kenapa Chae Jin yang kukenal dingin dan selalu tak mempedulikanku kini menangis?” Tanyanya. Ia meringis kesakitan saat yeoja itu mencubitnya. Di elusnya dengan lembut punggung Chae Jin.

Chae Jin merasa sedikit lega saat menceritakan semua masalahnya pada Jaejoong. Entah itu keputusan yang benar atau tidak ia mengatakan itu pada namja yang sudah memperkosanya tapi yang jelas ia merasa sedikit lega sudah mengatakannya pada seseorang. Namja itu duduk di sebelahnya, di rasakannya sikap namja itu sedikit lebih baik di bandingkan saat bertemu di depan kampus tadi. Cukup lama keduanya hanya diam sambil menatap ke depan.

Tak lama Chae Jin berdiri dan pergi tapi Jaejoong menahan tangannya agar tak pergi. Ia meringis kesakitan karena genggaman tangan namja itu sangat kuat.

“Jaejoong-a, lepaskan. Sakit sekali. Kumohon berhenti menyakitiku, aku lelah terus di sakiti. Apa kau tak puas sudah memperkosaku dulu?” Ucapnya dengan wajah lelah dan sedih.

“Mianhae.” Ucap Jaejoong sambil mengelus tangan Chae Jin yang memerah akibat genggamannya tadi.  

‘Apa benar sikapnya ini bukan untuk mengelabuhiku saja ya?’ Batin Jaejoong bingung. Satu sisi ia tak tega melihat Chae Jin tapi di sisi lain ia tak mudah percaya dengan perubahan drastis yeoja itu padanya.

“Mau kemana? Biar kuantar.” Ucapnya. Chae Jin menatap Jaejoong lama.

“Entahlah yang jelas aku tak mau pulang atau pun kuliah.” Jawab Chae Jin.

“Baiklah ayo kuantar.” Ucap Jaejoong. Chae Jin menggelengkan kepalanya dengan lemas. Ia berusaha tersenyum di depan namja itu.

“Tidak usah. Kau kuliah saja. Aku sedang ingin sendirian.” Ucap Chae Jin menolak halus. Lalu ia pergi meninggalkan namja itu sendirian.

Sementara itu kini Changmin tengah bersama yeoja pelacur bernama Sung Rin. Keduanya duduk di sofa ruang tamu. Changmin berterima kasih pada yeoja itu karena sudah mau membantunya. Ia terus menunduk karena tak berani melihat yeoja itu. Yeoja itu memakai pakaian yang sangat mini.

“Emmm bi bisakah kau menutupi tubuhmu sebentar?” Pinta Changmin sambil membenarkan kacamata tebalnya.

“Ah mianhae.” Ucap Sung Rin lalu menutupi sebagian tubuhnya dengan jaket. Setelah itu Changmin baru berani menatap Sung Rin. Ia mengucapkan terima kasih pada yeoja itu berkali-kali.

“Boleh kutau kenapa kau mau bekerja jadi pelayan di club ini? Teman yang mengenalkanmu padaku tak mau memberitahuku.” Tanya Sung Rin. Changmin tersenyum malu.

“A aku sedang mengumpulkan uang untuk membelikan hadiah pada yeojachinguku. Aku ingin memberikan hadiah yang sangat spesial untuknya.” Jawab Changmin.

“Ah beruntung sekali yeojamu itu.” Ucapan Sung Rin membuat Changmin tertunduk malu. Tak lama yeoja itu mengajak Changmin untuk mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan.

Malam itu Changmin bekerja keras di club sebagai pelayan. Cukup sulit baginya beradaptasi dengan lingkungan kerja yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ini pertama kali baginya bekerja di tempat seperti itu. Changmin berharap dengan bekerja di tiga tempat ia bisa dengan cepat membelikan hadiah untuk Chae Jin, yeoja yang sangat ia cintai.

Changmin berharap Chae Jin tidak marah karena waktunya banyak tersita oleh pekerjaan dan sedikit sekali waktu yang ia berikan pada yeojanya itu. Ia sengaja tak memberitahukan tentang pekerjaan barunya di club pada Chae Jin karena Changmin tak mau yeoja itu sampai tau kalau ia mengambil pekerjaan tambahan untuk membelikan yeoja itu hadiah di hari ulang tahunnya. Changmin ingin memberikan kejutan pada Chae Jin.

—-

Hari berlalu begitu cepat, hubungan Chae Jin dengan Changmin pun semakin renggang. Changmin sibuk bekerja untuk yeojachingunya, sedangkan Chae Jin tak peduli lagi dengan Changmin. Ia sering menghabiskan waktunya seorang diri atau dengan Jaejoong namja yang dulu memperkosanya. Chae Jin semakin marah setelah ia memergoki Changmin berkali-kali masuk ke dalam club yang sama dengan di temani yeoja pelacur yang sama pula. Ia merasa namja itu memang benar-benar sudah bosan padanya. Chae Jin sama sekali tidak sadar kalau namja itu tengah bekerja untuk memberinya kejutan.

Chae Jin kini sedang berduaan bersama Jaejoong di taman belakang. Belakangan ini ia memang merasa sedikit lebih nyaman berada di samping Jaejoong, namja yang ia rasa selalu ada untuknya setiap saat. Ia menghembuskan nafasnya pelan saat kembali mengingat Changmin. Namja yang sampai saat ini masih ada di hatinya. Berkali-kali ia mencoba untuk melupakan namja itu tapi sangat sulit.

“Chae Jin-a, mianhae aku harus pergi sekarang. Aku harus mengantar orang tuaku ke bandara. Apa kau mau kuantar pulang?” Chae Jin menggelengkan kepalanya.

“Kau pergi saja. Aku masih mau di sini.” Ucapnya pada Jaejoong. Namja itu mengangguk mengerti lalu mencium keningnya. Chae Jin mengerutkan dahinya saat melihat Jaejoong masih berdiri di sampingnya. Perlahan ia melihat ke arah apa yang di lihat namja itu. Changmin berdiri terpaku tak jauh di depannya.  Namja itu melihat Jaejoong menciumnya tadi. Chae Jin menghela nafasnya lalu menyuruh Jaejoong pergi.

“Mau apa? Tumben sekali kau menemuiku.” Ucap Chae Jin dingin. Changmin menghampirinya.

“A apa kau punya waktu? Hari ini aku bebas, aku sedang libur bekerja tadinya kupikir kalau kau tidak sibuk aku ingin mengajakmu jalan-jalan ketempat yang kau sukai.” Ucap Changmin. Namja itu tak membahas tentang ciuman Chae Jin dengan Jaejoong sama sekali. Walaupun sebenarnya hatinya terluka tapi ia berusaha untuk memendamnya dan berpikir positif.

Chae Jin cukup lama terdiam. Ia menatap Changmin yang tengah tersenyum lembut padanya. Tak ia lihat marah atau pun kesal di mata namja itu karena ia telah di cium namja lain di depan Changmin.

“Baiklah. Kebetulan aku juga sedang bosan.” Chae Jin melihat Changmin tersenyum senang mendengar jawabannya. Keduanya pun berjalan keluar kampus. Changmin mengajak Chae Jin ke tempat parkir. Chae Jin melihat sebuah mobil sederhana, namja itu membukakan pintu untuknya. Ia menatap Changmin bingung.

“I ini mo mobil yang baru kubeli dari tabunganku. Kupikir dengan membeli mobil ini aku akan mudah mengantarmu kemana pun yang kau mau. Maaf aku tidak bisa membeli mobil mewah untuk mengantarmu, aku hanya bisa membeli mobil murahan ini.” Ucap Changmin jujur. Sebenarnya kemarin ia sudah bisa membeli hadiah untuk Chae Jin tapi saat melihat mobil ia berpikiran untuk membelinya. Ia berpikir akan lebih mudah mengantar Chae Jin jika ia mempunyai mobil. Masalah hadiah untuk Chae Jin ia bertekad untuk bekerja lebih keras lagi agar bisa membelinya.

Chae Jin masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Changmin menyadari perubahan sikap yeojachingunya itu yang menjadi dingin dan tak lagi manja padanya. Ia tak bisa marah karena ia tau kalau perubahan sikap yeoja itu karena ia tak lagi mempunyai waktu untuk Chae Jin. Selama perjalanan Changmin berusaha untuk mengobrol dengan yeojanya itu. tapi Chae Jin menjawabnya dengan datar dan dingin. Melihat itu Changmi hanya bisa tersenyum.

“Aku ingin pergi ke mall.” Ucap Chae Jin. Changmin pun menuruti keinginan yeoja itu.

Sampai di mall terbesar di Korea, Chae Jin langsung mengelilingi mall dan membeli barang-barang mewah yang ia inginkan. Chae Jin meminta Changmin yang membayarkannya, ia ingin melihat apakah namjanya itu akan mengeluh atau menolak membayarkannya. Changmin membayarkan semua barang yang ia ingin beli dan barang-barang itu semua Changmin yang membawanya. Ia berjalan di depan sedangkan Changmin berjalan di belakangnya dengan membawa semua belanjaannya. Ia tak peduli seberapa lelahnya namja itu, ia ingin memberi pelajaran pada namja itu yang telah membuatnya sakit hati karena telah berselingkuh.

“Kita makan dulu di sini. Aku lapar.” Ucap Chae Jin sambil masuk ke dalam sebuah restoran mewah. Langkahnya terhenti saat namja itu menahannya. Ia menatap Changmin dengan kesal.

“APA?” Tanyanya kesal.

“A a apa kau yakin mau makan di sini? Ba bagaimana kalau kita makan di café saja?” Tanya Changmin. Sebenarnya uang yang ia punya sudah hampir habis dan hanya tersisa untuk makan di café untuk satu orang saja. Semua uang di tabungannya pun sudah habis untuk membelikan barang-barang yang Chae Jin inginkan. Walaupun begitu ia tak mau Chae Jin tau akan hal itu.

“Ah di sana. Café itu sangat enak. Ayo kita ke sana.” Ucap Changmin. Ia berharap kalau Chae Jin mau makan di café yang ia tunjuk. Ia melihat yeojanya itu menghela nafas kesal dan berjalan ke café yang ia tunjuk tadi.

‘Mianhae chagi-a. Aku tidak bisa membuatmu senang. Kalau saja aku orang kaya pasti apapun yang kau mau kuturuti.’ Batinnya sambil menatap punggung Chae Jin.

“Sepertinya untuk membeli hadiah utama harus kumulai lagi dari awal. Aku harus bekerja lebih giat lagi.” Gumamnya pelan.

Changmin dan Chae Jin duduk di café. Changmin melihat yeoja itu melihat menu yang ada di café. Ia berharap yeoja itu tak membeli makanan yang terlalu mahal karena uang yang ia punya pasti tak akan cukup. Tak lama ia melihat yeojanya memesan beberapa makanan dan minuman. Harga yang tercantum sangat pas dengan uang yang ia miliki.

“Kau pesan apa?” Tanya Chae Jin padanya. Ia pun tersentak dari lamunannya.

“Ah aku air putih saja. Aku tidak lapar jadi kau saja yang makan, chagi.” Ucapnya bohong.

Saat makanan datang Chae Jin langsung memakannya tanpa menghiraukan Changmin. Changmin pun hanya tersenyum melihat yeojanya. Changmin memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk memberi hadiah ulang tahun pada Chae Jin.

“Kau yakin tidak lapar?” Tanya Chae Jin membuatnya kembali tersadar dari lamunannya. Ia melihat yeoja itu telah selesai makan.

“Anni. Aku tak lapar. Kau suka makanannya?” Tanyanya lembut.

“Yah lumayan.” Jawab Chae Jin dingin. Tak lama yeoja itu berdiri, dengan cepat Changmin membayar lalu membawa belanjaan yeoja itu.

“Aku mau pulang.” Ucap yeoja itu padanya.

“Arraseo.” Jawab Changmin. Lalu keduanya pergi dari mall itu. Selama perjalanan pulang Changmin sering kali melirik Chae Jin yang hanya diam dan menatap keluar jendela.

Tak lama sampai di depan gedung apartemen Chae Jin keduanya pun turun dari mobil. Changmin membawakan belanjaan yeoja itu sampai ke dalam apartemen.

“Sudah malam, aku pulang dulu ya. Kau istirahatlah. Apa kau senang hari ini?” Ucap Changmin. Chae Jin menatap namja di depannya sambil mnghela nafas.

“Ne aku senang hari ini kecuali saat makan di café.” Ucap Chae Jin.

“Mianhae, aku tidak bisa menuruti keinginanmu makan di restoran itu. Lain kali kita pasti akan makan di sana. Ah aku pergi dulu jalja.” Ucap Changmin lembut lalu mencium kening Chae Jin.

Sampai di rumah Changmin mandi lalu berbaring di ranjang kecil miliknya. Rumahnya memang tidak terlalu besar seperti apartemen Chae Jin bahkan bisa di bilang rumahnya hanya seperempatnya dari apartemen yeojanya itu. Changmin memikirkan cara untuk memberi kejutan pada Chae Jin di hari ulang tahunnya. Saat ia mendapatkan ide ia langsung tersenyum dan bergegas tidur.

—-

Besoknya saat di kampus Changmin langsung menemui Junsu yang merupakan namjachingu Hye Won. Ia ingin meminta bantuan namja itu. Saat menemui Junsu, ia melihat namja itu sedang bersama Hye Won. Sambil melihat sekelilingnya Changmin mendekati Junsu dan Hye Won, ia takut kalau Chae Jin memergokinya menemui Junsu.

“Maaf mengganggu.” Ucapnya tak enak.

“Ada apa Changmin-sshi? Kau mencari Chae Jin?” Ucap Hye Won. Changmin tersenyum mendengarnya lalu menggelengkan kepalanya.

“Aku ingin meminta bantuan Junsu, itu pun kalau mau membantuku.” Ucap Changmin. Junsu mengerutkan dahinya sambil menatap Hye Won.

“Bantuan apa? Kalau aku bisa membantumu aku pasti bantu.” Ucap Junsu.

“Mmmm bisakah kita tidak bicara di sini?” Pintanya. Junsu dan Hye Won mengangguk dan ketiganya pun langsung pergi ke tempat yang sedikit agak sepi. Changmin mengatakan bantuan yang ia perlukan dan mengatakan alasannya. Ia pun meminta pada Junsu dan Hye Won agar tak memberitahukan pada Chae Jin.

“Bersikaplah seolah-olah tak ada apa-apa. Ah ta tapi apakah Junsu-sshi bisa membantuku?” Ucap Changmin.

“Tentu saja bisa. Itu hal yang mudah. Aku akan mengajarimu melukis.” Ucap Junsu sambil tersenyum. Changmin pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

“Aku juga akan membantumu. Tenanglah kami tak akan mengatakan rencana manismu ini pada Chae Jin.” Ucap Hye Won sambil tersenyum.

Karena kebetulan Hye Won dan Junsu sudah tidak ada jadwal kuliah dan Changmin pun baru saja selesai jadi Junsu dan Hye Won mulai mengajari Changmin melukis. Changmin sedikit kesulitan dengan apa yang di ajarkan Junsu tapi ia tak menyerah dan terus mencobanya.

Berjam-jam mencoba hal dasar yang di ajarkan Junsu akhirnya Changmin mengalami perubahan yang lebih baik. Setelah cukup lama akhirnya Junsu mengatakan cukup untuk hari ini. Changmin mengangguk berterima kasih karena Junsu dan Hye Won mau mengajarinya. Tak lama ia pamit untuk pergi bekerja.

Saat baru datang ke tempat bekerjanya di café ice cream ia melihat Chae Jin tengah makan ice cream. Yeoja itu menatapnya membuat ia tersenyum lembut. Tak lama ia mulai bekerja di café itu dengan giat. Setelah sore ia selesai bekerja di café ice cream itu lalu pergi ke tempat kerjanya di supermarket. Selesai itu ia tak langsung pulang karena ia harus kembali bekerja di club sebagai pelayan. Ia bisa pulang jam 2 atau jam 3 pagi.

—-

Sudah hampir dua minggu Changmin bekerja di tiga tempat dengan sangat giat. Setiap hari setelah pulang kuliah ia pasti langsung berlatih melukis dengan Junsu lalu setelah itu bekerja di tiga tempat dan pulang jam 3 pagi. Itu pun ia tak langsung beristirahat, sampai di rumah kecilnya ia mandi lalu mengerjakan tugas kuliah dan kembali berlatih melukis. Kini ia semakin pandai melukis tapi ia tak memikirkan tubuhnya yang sakit karena terlalu giat bekerja.

Saat Junsu mengatakan kalau ia sudah mulai bisa melukis dengan baik, ia pun memutuskan untuk mulai melukis. Lukisan itu khusus ia buat untuk Chae Jin yang ia cintai. Ia melukis di kanvas yang cukup besar. Ia mulai melukis saat ada waktu luang dan setelah pulang bekerja.

Berhari-hari Changmin berusaha menyelesaikan lukisan yang ia buat untuk Chae Jin tanpa merasakan rasa lelahnya sedikit pun. Pekerjaannya tak satu hari pun ia lewatkan. Setiap hari ia berusaha menemui Chae Jin atau pun menghubungi yeoja itu. Beberapa kali ia berusaha menemui Chae Jin, ia melihat yeoja itu sedang bersama Jaejoong.

Ia berusaha berpikir positif saat mengetahui Chae Jin dekat dengan Jaejoong tapi walau bagaimana pun ia tetap khawatir yeoja itu akan di sakiti oleh Jaejoong. Banyak orang mulai mengatakan padanya kalau Chae Jin dan Jaejoong sudah sangat dekat. Junsu dan Hye Won pun berkata hal yang sama padanya. Beberapa kali ia melihat Chae Jin diam saja saat Jaejoong mencium pipi yeoja itu. Ia yakin saat ia melihat hal itu Chae Jin melihatnya dan ia berpikir kalau Chae Jin diam saja di cium Jaejoong karena ingin membuatnya cemburu.

Kini ia tengah menunggu Chae Jin di depan kelas yeoja itu sambil menggigil kedinginan. Cuaca hari ini memang sangat dingin, hal itu karena Seoul sudah mulai musim salju. Ia terus menunggu tanpa peduli dengan kondisi tubuhnya yang butuh istirahat.

Saat sedang menunggu Chae Jin tiba-tiba ia batuk sangat keras. Changmin membelalakan matanya saat melihat sarung tangan yang ia pakai penuh darah. Darah yang berasal dari mulutnya. Ya Changmin batuk dan mengeluarkan darah. Yang ia lakukan bukan langsung pergi ke rumah sakit tapi hanya mengelap bibirnya dan kembali menunggu Chae Jin.

“Ya tuhan kumohon jangan buat aku batuk darah di depan Chae Jin. Aku tak mau ia tau kalau aku sakit. Tolong kuatkan aku tuhan.” Gumam Changmin. Hal ini memang bukan yang pertama kalinya Changmin batuk darah. Ia selalu membiarkan dirinya batuk darah dan hanya meminum obat saja tanpa pergi ke dokter.

“Chagi-a.” Teriaknya senang saat melihat Chae Jin keluar kelas. Ia bersikap seolah tidak ada apa-apa dan seolah ia sedang sehat.

Chae Jin menghela nafas panjang melihat Changmin datang menjemputnya hari ini. Ia menghampiri namja itu yang sudah membukakan pintu untuknya. Tanpa banyak bicara Chae Jin pun masuk ke dalam mobil. Namja itu membawanya pergi. Tak sengaja ia melihat sarung tangan yang di pakai namja itu ada noda darah. Ia menatap namja itu dengan lekat.

“Kau kenapa? Maksudku tanganmu itu, sepertinya noda darah.” Ucap Chae Jin. Changmin tersenyum lembut padanya sambil menggelengkan kepalanya.

“Ah ini tadi aku menolong anak kecil yang terluka.” Jawab Changmin bohong. Ia terus fokus menyetir. Chae Jin menatap Changmin curiga. Ia tau namja itu bohong padanya.

“Benar?” Tanyanya lagi. Dan namjanya itu kembali menganggukan kepalanya.

‘Apa aku harus mengikuti kemana kau pergi hah? Kenapa terus berbohong padaku? Apa kau tau aku tersiksa dengan kebohonganmu itu?’ Batin Chae Jin sedih. Tak lama ia menatap keluar jendela mobil sambil menahan tangis dan sakit di hatinya.

Sampai di depan gedung apartemen, Chae Jin langsung masuk ke dalam tanpa di temani namjachingunya itu. Di dalam apartemen Chae Jin memikirkan cara agar ia bisa mendapatkan jawaban atas kecurigaannya selama ini.

“Apa aku harus membuntutinya ya?” Gumamnya pelan.

—– 

Sudah beberapa hari ini Chae Jin tidak melihat Changmin di kampus. Ia pun masih bingung apakah ia harus membuntuti namja itu untuk tau apakah benar Changmin selingkuh atau tidak. Ia takut kalau ia mendapatkan hal yang akan membuat hatinya lebih sakit.

Chae Jin berjalan keluar kampus dengan lemas. Ia tak mempedulikan Jaejoong yang berada di sampingnya. Tak lama ia menyuruh Jaejoong pulang lebih dulu karena ia ingin sendirian.

Chae Jin berjalan seorang diri di keramaian kota Seoul. Entah kenapa ia merasa hatinya sangat kosong dan hampa. Chae Jin terus berjalan hingga malam. Tak lama langkahnya terhenti saat melihat Changmin baru keluar dari toko perhiasan dengan yeoja itu lagi. Yeoja pelacur yang sama. Ia diam terpaku melihat namjanya bersama yeoja lain. Changmin terlihat mengangguk pada yeoja itu lalu yeoja itu pergi tanpa di antar Changmin.

“Chagi?” Ucap Changmin kaget saat melihat Chae Jin. Dengan cepat ia menyembunyikan bungkusan yang baru saja ia beli di saku celananya. Di hampirinya yeoja itu lalu mencium kening Chae Jin dengan lembut.

“Kenapa berjalan sendirian? Hari ini kan salju turun cukup lebat kenapa pakaianmu tipis seperti ini? Nanti kau bisa sakit.” Ucap Changmin sambil melepaskan jaket dan syalnya lalu memakaikannya pada Chae Jin.

Chae Jin menatap Changmin kesal, namja itu bersikap seolah-olah tak ada apa-apa. Namja itu menatapnya sambil tersenyum bahagia.

“Kau mau jalan-jalan hari ini? Mulai sekarang aku akan punya banyak waktu untukmu kecuali saat aku bekerja di supermarket dan café ice cream.” Ucap Changmin.

“Aku mau pulang.” Jawab Chae Jin. Namja itu menatapnya khawatir.

“Kau kenapa? Ada yang membuatmu sedih? Apa Jaejoong berbuat jahat lagi padamu?” Tanya Changmin yang melihat Chae Jin menahan tangisnya. Yeoja itu menggelengkan kepalanya.

“Aku mau pulang.” Ucap Chae Jin lagi. Changmin mengangguk mengerti lalu membawa yeoja itu pulang dengan mobilnya.

Saat sampai di apartemen Chae Jin, Changmin sekali lagi bertanya pada yeoja itu ada apa tapi yeoja itu hanya menggelengkan kepalanya.

“Yakin?”

“Hmm.” Jawab Chae Jin lemas.

“Baiklah. Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu telepon aku.” Ucap Changmin lalu mencium kening Chae Jin.

“Aku pulang dulu.” Pamit Changmin lalu pergi. Ia sebenarnya tak langsung pulang tapi pergi ke tempat yang sudah ia sewa untuk membuat kejutan ulang tahun Chae Jin. Sampai di tempat sewaannya ia langsung mendekorasi ruangan itu seindah mungkin. Lukisan yang ia buat pun sudah ia taruh di tempat yang mudah terlihat oleh yeojanya itu. Selesai mendekorasi ruangan Changmin langsung ke luar ruangan dan kembali mendekorasi halaman depan dengan lampu-lampu yang sangat indah di tengah salju.

Changmin tersenyum setelah berjam-jam mengerjakan semuanya sendirian. Ia merasa puas dengan hasil kerjanya dan berharap Chae Jin menyukainya. Saat melihat jam ia membelalakan matanya lalu masuk ke dalam dan menelepon Chae Jin. Ia meminta yeoja itu untuk datang ke tempat yang ia sewa itu sekarang juga. Setelah menelepon Changmin menata kue ulang tahun Chae Jin di atas meja lalu keluar menunggu Chae Jin datang.

“Kuharap kau suka dengan kejutan yang kusiapkan ini.” Gumam Changmin. Ia terus menunggu Chae Jin di luar dengan kedinginan, ia tak peduli dengan rasa dingin yang ia rasakan dan ia tak mau masuk sampai Chae Jin datang. Changmin menggosok-gosokkan telapak tangannya agar merasa hangat.

“Apa jalanan sekarang sedang macet ya? Chae Jin lama sekali.” Ucap Changmin saat melihat ia sudah menunggu dua jam di depan halaman. Tak lama Changmin batuk darah lagi, namja keras kepala itu hanya menghapus darah di mulutnya lalu kembali menunggu Chae Jin. Changmin berharap yeoja itu datang sebelum jam 12 malam tiba.

Sementara itu Chae Jin kini sedang duduk manis di sofa ruang tengahnya sambil menonton. Ia tak datang ke tempat yang di suruh Changmin. Ia masih kesal dengan sikap namja itu yang seolah-olah tak terjadi apa-apa.

“Kau menyuruhku ke tempat kumuh itu? Jangan harap aku mau datang. Sudah cukup kau terus menyakitiku dan berbohong padaku. Kau jelas-jelas selingkuh dengan wanita itu.” Gumamnya kesal.

Paginya Chae Jin berangkat ke kampus seperti biasa. Ia sama sekali tidak datang ke tempat yang Changmin beritahukan semalam. Chae Jin jalan dengan santai ke kampusnya dan menjalani jadwal kuliahnya seperti biasa. Hanya saja ia sangat tidak fokus menjalani jadwal kuliahnya.

“Jangan ganggu aku. Aku sedang kesal.” Ucap Chae Jin saat Jaejoong menghampirinya.

“Kau sepertinya memang benar sedang tidak mood. Aku hanya ingin memberikan ini padamu. Ini tugas akhir yang di berikan dosen tadi. Aku pergi dulu, nanti malam kita bersenang-senang. Aku akan menjemputmu.” Ucap Jaejoong lalu pergi. Chae Jin menghela nafas lalu menaruh tugas dari dosen ke dalam tas miliknya.

Chae Jin berjalan keluar kampus dan langsung pulang ke apartemennya. Pikirannya terus tertuju pada Changmin sejak pagi tadi.

“Apa mungkin dia masih menunggu di sana ya? Ah sepertinya tidak mungkin, apa lagi cuaca hari ini lebih dingin dari kemarin.” Gumamnya pelan.

Di apartemen Chae Jin menyibukkan diri dengan mengerjakan tugas kuliahnya. Saat sedang mengerjakan tugas kuliah tiba-tiba Hye Won meneleponnya. Dengan malas ia pun mengangkatnya. Yeoja itu mengajaknya pergi keluar dan menyuruhnya mengajak Changmin. Ia hanya mengiyakan saja perkataan Hye Won.

“Cepat dandan ya. Aku dan Junsu sedang dalam perjalanan ke apartemenmu. Nanti kita jemput namjachingumu.” Ucap Hye Won. Lalu yeoja itu menutup teleponnya, Chae Jin berdecak kesal lalu mau tak mau mengganti pakaiannya.

“Menggangu saja. Kalau bukan karena kau teman dekatku aku tak akan mau keluar.” Gumam Chae Jin pelan lalu turun menemui Hye Won. Ia turun sambil membawa tas kecilnya.

“Kalian mengajakku keluar hanya ingin melihatkan kemesraan kalian? Kalau begitu aku kembali saja.” Ucap Chae Jin. Tangannya di tahan Hye Won saat ia hendak pergi.

“Main mian. Ayo kita masuk. Kita jemput Changmin lalu bersenang-senang.” Ucap Hye Won. Chae Jin masuk ke dalam mobil lalu mengatakan pada Hye Won kalau tidak usah menjemput Changmin karena ia sedang kesal dengan namja itu. Selama di perjalanan Chae Jin hanya diam.

“Kita sudah sampai.” Ucap Junsu menyadarkan Chae Jin dari lamunannya. Ketiganya pun turun dari mobil dan Chae Jin menatap club di depannya. Club yang sama saat  ia melihat Changmin masuk ke dalam dengan yeoja pelacur itu. Hye Won menarik tangannya masuk. Ia melihat di dalam sudah ada Jaejoong.

Junsu dan Hye Won ternyata sudah mengundang beberapa teman untuk berpesta. Mereka semua bersenang-senang di club itu kecuali Chae Jin. Ia tidak mood untuk berpesta karena club itu mengingatkannya pada Changmin dan yeoja pelacur itu. Beberapa namja memesan pelacur untuk menemani mereka.

“Aku ke toilet sebentar ya.” Ucap Jaejoong pada Chae Jin. Tak lama para pelacur yang di pesan beberapa namja teman Chae Jin datang.  Chae Jin melihat ada yeoja pelacur yang selalu ia lihat bersama Changmin. Yeoja itu menghampiri salah satu temannya.

“Hei, kau hari ini sepertinya tidak bersemangat. Apa perlu kutelepon Changmin? Kau kenapa kesal padanya? Dia kan selalu baik padamu.” Ucap Hye Won. Chae Jin menatap Hye Won kesal.

“Sudah jangan membicarakan Changmin. Aku tak mau mendengar namanya lagi.” Ucap Chae Jin kesal. Ia benar-benar marah hari ini apa lagi yeoja pelacur itu ada di depannya. Yeoja itu membuatnya sakit hati karena teringat namjanya berselingkuh. Yeoja pelacur itu menatapnya bingung.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Tanyanya dengan nada sedikit membentak.

“Mianhae apakah kau itu Chae Jin? Lee Chae Jin kekasih Changmin?” Tanya Sung Rin sopan.

“Ne aku Lee Chae Jin. Yeojachingu Shim Changmin. Kenapa?” Tanya Chae Jin ketus. Hye Won menyenggol Chae Jin agar yeoja itu tidak kasar tapi Chae Jin tak peduli.

“Ah tidak apa-apa. Aku hanya bingung kenapa di hari ulang tahunmu kau malah bersama teman-temanmu di sini. Padahal Changmin sudah mempersiapkan kejutan dan hadiah manis untukmu kemarin malam. Dia bekerja keras untuk mendapatkan uang agar bisa membuat pesta kejutan untukmu.” Ucap Sung Rin sambil tersenyum ramah. Perasaan Chae Jin langsung tidak enak.

“A apa maksudmu?” Tanya Chae Jin tak mengerti.

“Eh? Kau tidak tau? Selama dua bulan ini Changmin bekerja di club ini sebagai pelayan untuk mengumpulkan uang. Sebenarnya satu bulan bekerja di sini saja hadiah yang dia ingin beli untukmu sudah bisa dia dapatkan tapi Changmin bilang uangnya habis untuk membeli mobil dan membelikan hadiah untukmu yang di belinya di mall.” Ucapan yeoja itu membuat Chae Jin membelalakan matanya.

“Kau memiliki namjachingu yang sangat baik dan setia. Aku belakangan sering menemaninya melukis, itu kulakukan karena melihat dia sering batuk darah. Sering kusuruh Changmin ke dokter tapi dia tidak mau. Dia malah bilang padaku kalau dia ingin menyelesaikan lukisannya tepat waktu agar kau bisa melihatnya saat hari ulang tahunmu. Aku iri padamu, dia bekerja di tiga tempat sekaligus untuk mencari uang hanya untukmu. Setelah bekerja dia bukan istirahat, yang dia lakukan yaitu melanjutkan lukisannya dan ia tidur hanya sebentar. Semua itu Changmin lakukan hanya untukmu. Ah iya sebentar.” Ucap Sung Rin, yeoja itu pergi lalu kembali memberikan Chae Jin obat.

“Tolong berikan ini pada namjachingumu. Obatnya tertinggal kemarin.” Ucap Sung Rin sambil tersenyum.

“Ah jadi dia yeojachingu Changmin? Kau beruntung sekali. Kuberitahu ya, namjamu itu sama sekali tidak tertarik pada kami yang bekerja di sini. Aku pernah bertanya padanya kenapa dia sangat setia dan mau bekerja keras seperti itu hanya untukmu. Dia bilang ‘aku bekerja keras seperti ini karena ingin membahagiakan yeojachingu yang sangat kucintai. Kenapa aku setia? Karena Chae Jin sudah mengambil hatiku, sejak kedatangannya di dalam hidupku dia sudah mengukirkan namanya di hatiku. Kurasa Chae Jin seorang saja sudah cukup bagiku, cintaku tak akan pernah habis untuiknya.’ Jawabannya itu membuatku kagum.” Tambah salah seorang yeoja pelacur yang ada di sana.

“Ch Cha Changmin di di dia melakukan itu untukku? Hanya untukku? Oh tuhan kenapa aku bisa sekejam ini?” Chae Jin mulai menangis saat tau kenyataannya kalau Changmin tidak pernah selingkuh darinya. Namja itu sangat setia padanya dan bekerja keras demi dirinya. Dengan cepat Chae Jin keluar club, Sung Rin menahannya.

“Bawa ini. Cuaca sangat dingin.” Ucap Sung Rin ramah. Chae Jin membungkuk berterima kasih dan meminta maaf karena sudah curiga pada yeoja itu.

“Sudahlah aku mengerti. Sana cepat pergi, temui namjamu yang membuatku dan teman-temanku iri karena kau mempunyai namja sepertinya.” Ucap Sung Rin lagi. Chae Jin tersenyum.

“Chae Jin-a, ayo kami antar. Cepat naik.” Ucap Junsu dan Hye Won. Tanpa banyak bicara Chae Jin pun naik mobil Junsu. Ia mengatakan tempat yang seharusnya ia datangi malam kemarin. Ia melihat sudah jam 10 malam. Ia berharap namjanya itu tak menunggunya di sana. Chae Jin sangat cemas saat melihat cuaca di luar.

“Chae Jin-a, kau bodoh sekali. Kupikir kau tidak akan sampai seperti ini. Kau tau Changmin datang pada kami untuk meminta kami mengajarkannya melukis. Dia melakukan hal yang asing baginya hanya untukmu. Oh tuhan kenapa kau menciptakan teman bodoh sepertinya?” Ucap Hye Won kesal. Chae Jin hanya bisa diam dan menangis karena kebodohannya dan kecemburuannya.

Saat sampai Chae Jin langsung keluar, langkahnya terhenti saat melihat namjanya itu berdiri di depan pintu sambil menyandarkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya. Namja itu masih menunggunya sambil menunduk dan kedinginan. Namja itu menunggunya hampir 24 jam.

“Minnie-a.” Panggilnya. Changmin menatapnya lalu tersenyum, namja itu menghampirinya.

“Akhirnya kau datang juga. Aku tau kau pasti akan datang.” Ucap Changmin sambil membelai pipinya. Tangan Changmin sangat dingin ia rasakan.

“Ah mianhae. Tanganku pasti dingin sekali, kau kan tidak suka.” Ucap namja itu.

“Minnie-a, aku…” ucapan Chae Jin di potong Changmin.

“Tunggu ya. Jangan kemana-mana.” Ucap Changmin lalu berjalan masuk. Chae Jin melihat Changmin berkali-kali jatuh karena lemas. Namja itu malah menyuruhnya diam di tempat saat ia akan menolongnya.

Changmin menyalakan lampu di halaman depan, lampu-lampu itu sangat indah. Halaman depan itu jadi sangat indah dan terang. Changmin menghampiri Chae Jin lalu mengajaknya masuk. Ia juga mengajak Hye Won dan Junsu. Langkahnya terhenti saat yeojanya itu menahannya. Yeoja itu menunjuk pakaiannya.

“Ah ini. Ini cat, bukan apa-apa. Kau tenanglah. Nah ayo masuk. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu.” Ucap Changmin semangat. Rasa dingin di tubuhnya sama sekali tak ia rasakan. Ia membuka pintu lalu menyalakan lampu. Ia menatap Chae Jin dengan senyum mengembang. Yeoja itu melangkah masuk. Changmin pun masuk dan melangkah menuju meja. Di bukanya penutup yang menutupi kuenya. Ia sempat menutup kuenya itu agar saat Chae Jin datang kuenya masih bagus. Changmin menyalakan lilin lalu menyanyikan lagu ulang tahun untuk Chae Jin.

“Saengil chukahamnida. Ayo tiup lilinnya.” Ucap Changmin. Chae Jin menatap Changmin sambil menangis lalu meniup lilinnya. Chae Jin memberikan potongan pertama kuenya itu pada Changmin. Setelah itu Changmin membuka kain yang menutupi lukisannya.

“Ini hadiah untukmu. Aku membuatnya sendiri.” Ucap Changmin lalu kembali menghampiri Chae Jin. Ia mengeluarkan kotak yang berisi cincin yang ia beli.

“Ini hadiah utamanya. Maukah kau bertunangan denganku? Aku ingin mengikatmu hanya menjadi milikku. Mianhae aku belum bisa mengajakmu menikah. Aku ingin mempunyai kehidupan yang layak lebih dulu agar aku bisa menikahimu.” Ucap Changmin tulus. Ia melihat Chae Jin menangis saat mendengar ucapannya.

“Mi mianhae, aku tau kalau kita belum lama berhubungan. Mian aku lancang sudah mengajakmu bertunangan tanpa memikirkan perasaanmu. A anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa tadi.” Ucapan Changmin membuat Chae Jin semakin keras menangis. Chae Jin merasa menjadi yeoja yang sangat kejam pada namjachingunya itu. Namja yang sangat baik padanya. Ia teringat beberapa kali ia membuat namja itu sakit hati dengan membiarkan Jaejoong mencium pipinya di depan Changmin dan menghabiskan tangungan namja itu hanya untuk berbelanja di mall.

“Kau bodoh. Kenapa melakukan ini? Kenapa membuatku curiga? Kenapa membuatku cemburu? Kenapa berbohong padaku? Kenapa? Kenapa?” Ucap Chae Jin sambil menangis. Tak lama ia memeluk Changmin dengan sangat erat dan terus menangis.

“Mianhae, aku sangat kejam padamu. Menghabiskan uang tabunganmu, membiarkanmu sakit hati karena Jaejoong mencium pipiku di depanmu, membiarkanmu menunggu seperti ini. Mianhae jeongmal mianhaeyo. Kalau saja aku tidak terlalu cemburu karena melihatmu masuk kedalam club bersama yeoja itu, kalau saja aku bukan yeoja pencemburu pasti ini semua tak pernah terjadi. Kau pasti tidak akan …” Changmin memotong perkataannya.

“Ssshhh sudah jangan mengatakan apa-apa lagi. Aku melakukan ini karena aku ingin membuatmu bahagia, apa lagi ini hari ulang tahunmu. Aku sudah pernah mengatakan padamu kan? Seperti apapun dirimu aku akan tetap mencintaimu. Mianhae aku hanya bisa melakukan ini. Aku tak tau harus melakukan apa lagi agar bisa menjadi namja romantis untukmu.” Chae Jin melepaskan pelukannya lalu memakaikan namja itu jaket tebal dan syal. Tubuh namja itu sangat dingin tapi tak mengeluh sedikit pun. Ia menangis lagi saat melihat Changmin tak marah padanya, namja itu menatapnya dengan senyum bahagia. Hal itu membuatnya merasa sangat bersalah.

“Apa ada air hangat di sini?” Tanya Chae Jin ingin membuatkan minuman hangat untuk Changmin. Belum sempat menjawab Changmin kembali terbatuk dan mengeluarkan darah. Chae Jin menghampiri Chae Jin dan mulai panik.

“Aku baik-baik saja. Kau tak usah khawatir seperti itu.” Ucap Changmin berusaha menenangkan Chae Jin.

“Kita bawa ke rumah sakit sekarang. Ayo.” Ucap Junsu lalu menolong Changmin.

Junsu menyetir mobil dengan cepat. Chae Jin menatap Changmin yang duduk di sebelahnya dengan khawatir. Ia mengelap noda darah di bibir namja itu. Saat sampai di rumah sakit Chae Jin segera membawa Changmin ke dalam. Para perawat langsung membawanya untuk di periksa. Ia, Hye Won dan Junsu menunggu dengan cemas di ruang tunggu.

Cukup lama mereka menunggu seseorang keluar dari ruang ICU itu. Tak lama seorang dokter keluar lalu mengatakan kalau Changmin butuh banyak istirahat dan sedang di pindahkan ke kamar rawat. Dokter juga mengatakan kalau Changmin harus di rawat secara intensif sampai keadaannya pulih.

—-

Chae Jin menatap Changmin yang terbaring di rumah sakit sejak semalam, ia pun terus menemani namjachingunya itu. Hati merasa teriris saat melihat tubuh Changmin yang kurus dan wajah namja itu yang terlihat lelah. Ia merasa sangat bersalah karena namjachingunya itu masuk rumah sakit karena dirinya. Di genggamnya tangan namja itu yang kini sudah mulai terasa hangat, berbeda jauh dengan semalam yang sangat dingin.

“Minnie-a, apa kau masih lelah dan masih mau tidur? Kalau kau merasa tidurmu sudah cukup cepatlah bangun. Aku merindukanmu, jangan tinggalkan aku. Kembalilah sehat dan menjadi namjachinguku yang dulu.” Ucapnya pelan.

“Maafkan aku, Minnie-a. Aku selalu saja seperti ini sampai membuatmu susah. Aku akan berusaha merubah sifat cemburuku ini.” Ucap Chae Jin. Tak lama Changmin melenguh lalu perlahan membuka matanya. Chae Jin membelalakan matanya sambil tersenyum senang. Dengan cepat ia memanggil perawat. Saat perawat datang dan memeriksa Changmin perawat itu mengatakan pada Chae Jin agar membiarkan Changmin istirahat karena tenaganya belum pulih.

Chae Jin menatap Changmin dengan penuh senyuman. Ia lupa dengan namja yang ia tinggalkan di club semalam. Namja yang kini berada di apartemen seorang diri. Jaejoong, namja itu berteriak kesal dan mengumpat dengan menyebut nama Changmin dan Chae Jin. Ia kesal karena rencananya mendekati Chae Jin untuk balas dendam hancur karena Changmin. Lagi-lagi Changmin. Jaejoong kini mengatur rencana untuk membalas dendam pada Changmin dan Chae Jin. Walaupun harus ia mulai dari awal lagi tapi ia tak peduli, yang ia pedulikan hanyalah dendamnya terbalaskan.

“Awas kalian. Jangan harap aku bisa memaafkan apa yang sudah kalian perbuat padaku. Aku berada di penjara gara-gara kalian.” Ucap Jaejoong sambil menatap foto Chae Jin dan changmin dengan kesal. Ia menancapkan pisau di foto itu.

“Tunggulah pembalasan dariku.” Ucapnya lagi.

 

TBC

13 thoughts on “My Boy Chap 3

  1. Eunchan She Peef berkata:

    Aissh!!!
    changmin emang keras kepala yah!!
    hiks..hiks..
    changmin nya jadi sakit kan..😥
    chae jin nya nyebelin ihh!! (?)
    tapi, wajar aja sih..
    waduhh!!! jaejoong mulai kumat!!
    moga2 changmin ngga mati deh.. T.T

    lanjutkan unn~!!!! ^^

  2. enth knp qu bnr2 ga sk ‘n jd ga respect sm chae jin,, dy 2h bnr2 keterlaluan bngt,sft’a menyblkn,hufthh *em0si*

    Yah si jejung pke m0 bls dndm sgla lg ,, bnci jg sy sm jejung #plak

  3. aih aih… minnie so sweet bgt! pengen banget deh punya namjachingu kyk minnie! >///<
    tapi sifat jealousnya chaejin tuh parah bgt y. ampe sgtunya bgt sm minnie. udh gtu babo bgt masih aj mw dideketin jaejoong yg udh prnah merkosa dy. =="

  4. Kim Hyun Rin (cassiopeiay) berkata:

    changmin knp harus sakit disini😦
    chaejin sih menjudge org seenaknya aja.. harusnya dia kan tanya dulu kek atau apa kek.. tp ya udh lah, skrg kan jg udh jelas kekeke
    jaejoong ,,,, kau mau apa hah!! hiiiiiiih

  5. putrimays berkata:

    Changmin cepat sembuh ya.
    chaejin seharusnya sadar g ada namja yg bisa kaya changmin di ff ini. Cieilah hahahaha

    Nice ff eonni

  6. haaaaahhhh,ternyata dugaan gue salah =,=
    kupikir minnie selingkuh dari chae jin,eh ternyata minnie emang masih polos banget si,ckckck
    jaejoongie kok jadi jahat gini si😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s