My Boy Chap 2


Title: My Boy

Cast :

–          Shim Changmin

–          Kim Jaejoong

–          Lee Chae Jin

Rating: PG13-NC17 *NC17-nya cuman dikit*/ STRAIGHT

Author : Lee Eun Ri 

A/N: author lagi-lagi terinspirasi ama komik jepang yang pernah author baca tapi lagi-lagi author lupa judul komiknya abis dah lama banget bacanya tapi yang jelas beda banget ma yang aslinya.

WARNING: Author bikinnya di kala kepala mumet, tugas segunung and lagi dapet masalah yang sangat berat. So kalo FF-nya kurang sreg and ga nyambung author bener-bener minta maaf. Satu lagi kalo ada typo mian juga,ga author edit sebelomnya.

DON’T LIKE DON’T READ !!!

Happy Reading

AUTHOR POV

Chae Jin berjalan keluar gedung apartemennya dengan senyum mengembang. Tapi senyuman itu hilang saat melihat namja yang tidak ia harapkan ada di depan gedung apartemennya. Namja yang selalu mendekatinya dengan cara apapun.

“Hei cantik, ayo berangkat denganku. Akan kuantar kau kemana pun kau mau.” Rayu Jaejoong. Chae Jin hanya terkekeh pelan sambil menatap namja itu sinis.

“Oh jadi kau ke sini untukku? Terima kasih sekali tapi maaf aku tak tertarik.” Jawab Chae Jin. Tak lama ia melihat Changmin datang, ia pun langsung menghampiri namja itu dan memeluknya.

“Bagaimana penampilanku?” Tanya Chae Jin antusias. Ia sengaja memakai pakaian manis dan berdandan cantik untuk Changmin setiap kali namja itu menjemputnya.

“Seperti biasa.” Jawab Changmin. Chae Jin mencibir pelan. Tak lama namja itu mengajaknya pergi ke kampus. Selama perjalanan Chae Jin berusaha mendapatkan pujian dari namjachingunya atas penampilannya itu tapi sia-sia. Changmin tak sekali pun meresponnya.

‘Benar-benar kaku. Kenapa setiap hari seperti ini? Tapi aku tidak bisa membencinya, aku sangat mencintainya.’ Batin Chae Jin sambil menatap Changmin yang sibuk membaca buku yang tidak ia mengerti sama sekali. Ia menghela nafas pelan lalu menyandarkan kepalanya di bahu namja itu.

Setelah sampai di kampus keduanya turun dari taksi dan masuk ke kampus mereka. Chae Jin melihat Changmin menutup buku dan menatapnya. Ia berharap namja itu akan mengatakan hal manis padanya.

“Aku masuk dulu ya, chagi. Semoga harimu menyenangkan. Nanti pulang dari kampus aku akan menjemputmu.” Ucap Changmin sambil mengelus pipi Chae Jin. Chae Jin menahan tangan Changmin saat namja itu akan pergi.

“Apa?” Tanya Changmin sambil mendekat ke arah Chae Jin.

“Bagaimana penampilanku hari ini?” Tanya Chae Jin lagi. Ia menatap Changmin dengan wajah cemberut. Namja itu berbisik padanya.

“Seperti biasa…” Jawab Changmin. Chae Jin menghela nafas kecewa.

“Sangat cantik.” Lanjut namja itu membuat Chae Jin tersenyum dan wajahnya memerah. Namja itu menatapnya dengan wajah memerah sama seperti dirinya.

“A aku pergi.” Ucap Changmin lalu pergi.

Chae Jin menatap punggung namjachingunya itu, ia sangat senang mendengar kata-kata Changmin tadi. Walaupun namjachingunya itu sangat kaku tapi entah mengapa hanya dengan pujian seperti itu sudah membuatnya sangat senang. Tak lama ia masuk ke dalam kelas bersama Hye Won dengan terus tersenyum bahagia.

Senyuman Chae Jin tak bertahan lama karena seharian ini ia harus berhadapan dengan namja menyebalkan bernama Kim Jaejoong. Namja itu selalu saja merayunya dan berusaha mendapatkan perhatiannya tapi semua itu tak berhasil. Hari buruknya semakin lengkap saat ia satu kelompok dengan Jaejoong untuk mengerjakan tugas dari dosen. Namja itu mengambil kesempatan dengan terus mendekatinya.

“Bisakah kau tidak dekat-dekat seperti ini?” Ucap Chae Jin kesal. Namja itu hanya tersenyum padanya dan tak sedikit pun menjauh darinya.

‘Ya tuhan kenapa engkau menciptakan manusia seperti dirinya? Sangat membuatku emosi setiap saat.’ Batin Chae Jin. Setelah menulis apa saja yang harus di cari untuk tugas mereka Chae Jin memberikannya pada Jaejoong.

“Itu bagianmu. Carilah semua yang sudah kutulis itu. aku akan mencari bagianku sendiri.” Ucap Chae Jin dingin. Tiba-tiba namja itu memeluk pinggangnya, ia berusaha mendorong namja itu tapi tenaga Jaejoong sangat besar membuatnya kesulitan.

“Kenapa kau jual mahal sekali? Padahal aku serius menyukaimu. Kau malah berdekatan dengan namja kuno itu. Dia kan sangat membosankan. Lebih baik kau denganku saja. Jangan dekat-dekat dengan namja itu lagi.” Ucap Jaejoong merayu Chae Jin.

Entah mendapat kekuatan dari mana Chae Jin bisa mendorong Jaejoong yang tadinya sangat sulit untuk mendorong namja itu. Ia menampar kedua pipi Jaejoong dengan sangat keras. Nafasnya memburu karena marah.

“Jangan sekali-kali kau berani mendekatiku lagi. Kau carilah kelompok lain untuk mengerjakan tugasmu. Aku tak sudi satu kelompok denganmu. Dasar namja brengsek dan playboy.” Ucap Chae Jin kesal. Ia mengambil tasnya lalu pergi. Saat sedang berjalan ia melihat temannya Junsu, namja itu menyapanya.

“Hei kau kenapa? Wajahmu terlihat marah sekali? Ada yang mengganggumu?” Tanyanya. Chae Jin menganggukan kepalanya. Namja itu mengelus punggungnya dan mengajaknya untuk duduk.

“Sebentar lagi Hye Won datang. Sekarang ceritakan siapa yang mengganggumu?” Tanya Junsu yang merupakan namjachingu baru sahabatnya Hye Won.

“Jaejoong. Dia menyebalkan oppa. Terus merayuku padahal aku sama sekali tidak tertarik padanya. Aku kan sudah punya namjachingu.” Ucap Chae Jin kesal. Ia mendengar Junsu menghela nafas pelan.

“Dia lagi. Satu kampus sudah tau kalau dia selalu mengejarmu. Oppa pernah dengar kalau dia mengatakan pada semua orang kalau dia akan mendapatkanmu menjadi miliknya. Tak kusangka dia benar-benar berusaha mendapatkanmu. Dia terkenal playboy dan badboy, apa kau sudah tau hal itu? Kau harus hati-hati padanya.” Ucap Junsu sambil mengelus rambut dan punggung Chae Jin. Chae Jin tak sadar kalau di belakangnya Changmin melihatnya bersama Junsu. Namja itu salah paham dengan keberadaan Junsu yang duduk di sebelah Chae Jin.

“Aku sudah tau oppa. Tadi aku menamparnya sangat keras, kuharap dengan itu dia tak lagi mendekatiku.” Ucap Chae Jin.

“Baguslah kalau kau tau. Kalau kau butuh bantuan hubungi oppa saja ok?” Ucap Junsu. Chae Jin mengangguk pelan.

“Wah ada apa ini? Junsu mulai selingkuh dengan temanku sendiri ya?” Ucap Hye Won bercanda. Ia duduk di sebelah Chae Jin. Ia menatap Junsu dengan tanda tanya saat melihat raut wajah Chae Jin yang murung sekaligus kesal.

“Jaejoong yang membuatnya begini.” Jelas Junsu. Hye Won berdecak kesal mendengarnya. Chae Jin menceritakan semuanya pada Hye Won membuat temannya itu semakin kesal.

“Dia itu namja tidak tau malu ya. Menyebalkan. Apa changmin tau hal ini?” Tanya Hye Won.

“Aku sudah pernah menceritakan padanya kalau Jaejoong berusaha mendekatiku tapi aku menolaknya. Aku mengatakan pada agar tak usah khawatir.” Jawab Chae Jin.

“Aish pabo. Kenapa tidak menyuruh Changmin melawan Jaejoong? Biar Jaejoong tau diri kalau dia mendekati yeoja yang sudah mempunyai kekasih.” Ucap Hye Won kesal. Chae Jin tersenyum tipis.

“Sudahlah. Aku tak mau ribut. Kuharap setelah ini dia tak lagi mendekatiku. Aku pergi dulu. Aku mau menemui dosen untuk meminta pergantian kelompok.” Ucap Chae Jin lalu pergi meninggalkan Hye Won dengan Junsu.

Chae Jin berusaha menelepon Changmin karena di saat seperti ini ia sangat membutuhkan kekasihnya itu. tpi sayang ponsel namjanya tidak aktif. Chae Jin menatap ponselnya dengan pilu.

“Kau kemana?” Gumamnya pelan. Tak lama ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan masuk ke ruangan dosen.

Seharian ini Chae Jin sangat kesal tapi di sisi lain ia beruntung karena dosennya mengijinkannya mengganti kelompok untuk tugasnya. Chae Jin berkali-kali menelepon Changmin tapi namja itu sulit di hubungi. Ia ingin berada di samping namja itu dan sangat khawatir dengan namjachingunya itu.

“Apa terjadi sesuatu padanya ya?” Gumam Chae Jin sambil masuk ke dalam lift menuju apartemennya.

Setelah mandi dan makan malam dengan lemas Chae Jin berbaring di atas ranjang. Ia memikirkan namjachingunya itu. Ia mencoba menelepon namja itu lagi tapi hasilnya tetap sama. Chae Jin berteriak kesal dan melempar barang yang ada di dekatnya.

Sementara itu Changmin menatap ke cermin panjang di depannya. Ia tersenyum penuh arti melihat penampilan barunya sekarang.

“Sepertinya cukup bagus. Chae Jin suka atau tidak ya? Apa gaya seperti ini sama seperti namja yang di sebelahnya tadi? Kalau tidak sama bagaimana? Apa Chae Jin akan tetap suka dengan penampilanku ini? Cara jalan yang baik bagaimana ya? Aish kalau bukan karena Chae Jin aku tak akan pernah mau berpakaian seperti ini.” Gumam Changmin. Tak lama ia membuka semua pakaiannya dan memakai pakaiannya yang seperti biasa lalu berbaring di ranjangnya.

—–

Changmin melangkah ke dalam kampus dengan ragu, ia berjalan dengan pelan. Ia sedikit menundukkan kepalanya saat orang-orang melihatnya dengan tatapan tidak seperti biasanya. Ia jadi merasa tambah aneh dengan berdandan seperti itu. orang-orang jadi memperhatikannya. Itu membuat Changmin risih.

“Apa penampilanku ini sangat aneh ya sampai-sampai semua orang menatapku seperti itu?” Gumamnya pelan. Ia terus berjalan ke fakultas seni di mana Chae Jin berada. Saat berada di depan gedung fakultas seni Changmin langsung menelepon yeojanya itu.

“Ya! Kemana saja kau? Sudah kubilang jangan membuatku khawatir. Aku mencemaskanmu semalaman. Kau sulit sekali di hubungi. Di mana kau?” Ucap yeoja itu langsung saat mengangkatnya padahal Changmin belum sempat menyapanya. Changmin menjauhkan ponselnya dan memegang telinganya yang sedikit sakit akibat teriakan Chae Jin.

“Aku di depan fakultasmu. Aku … “ Ucapan Changmin di potong Chae Jin.

“Di depan fakultasku? Kau kan hari ini tidak ada jadwal kuliah? Tunggu aku di sana. Jangan melangkah sedikit pun, arra?” Ucap yeoja itu lalu mematikan teleponnya. Changmin menatap sekeliling. Semakin banyak saja orang menatapnya dan hal itu membuatnya semakin risih. Ia ingin pergi tapi ia tak mau Chae Jin marah padanya. Semakin lama orang-orang yang menatapnya semakin mendekatinya. Orang-orang itu hampir semuanya yeoja dan mereka mulai berbisik-bisik di depannya.

“Minnie? Kenapa penampilanmu seperti ini?” Ucap Chae Jin membuat Changmin menatap yeojanya itu. Chae Jin menatapnya bingung. Saat ia melangkah akan mendekati yeojachingunya tiba-tiba orang-orang yang sejak tadi menatapnya menghampirinya dengan bergerombol.

“Minnie yang di maksud dia itu Changmin? Kau benar Shim Changmin? Namja dari fakultas science? Ya tuhan tampannya.” Ucap salah seorang yeoja padanya.

“N ne aku Changmin.” Jawabnya. Mendengar itu semua yeoja langsung berteriak dan berusaha untuk memeluk dan menyentuhnya. Changmin menatap Chae Jin yang kini terlihat marah padanya.

“Chagi-a.” Teriaknya memanggil Chae Jin saat melihat yeoja itu pergi tanpa menghampirinya lebih dekat atau pun membantunya menyingkirkan yeoja-yeoja yang kini berada di sekelilingnya. Changmin berusaha lepas dari yeoja-yeoja itu tapi sangat sulit.

‘Ya Tuhan kenapa jadi seperti ini? Kenapa dengan yeoja-yeoja ini? Kenapa mereka melakukan ini padaku?’ Batin Changmin saat melihat yeoja-yeoja di sekelilingnya.

“Kumohon jangan seperti ini. Kalian membuatku risih.” Ucapnya halus. Dengan perlahan yeoja-yeoja itu berhenti melakukan hal yang membuatnya risih. Tapi para yeoja itu tidak pergi sedikit pun hanya menjaga jarak beberapa langkah darinya. Salah seorang yeoja mendekatinya.

“Bolehkah aku pergi denganmu? Aku baru di seoul, aku tidak tau jalan di sekitar sini.” Ucap yeoja itu. Changmin tersenyum kaku.

“Maaf tapi aku tidak bisa. Permisi.” Ucap Changmin lalu masuk ke dalam mencari Chae Jin. Tak lama ia bertemu yeoja yang sering ia lihat bersama dengan yeojachingunya.

“Permisi, maaf mengganggu. Apa kau melihat Chae Jin?” Tanyanya pada Hye Won. Yeoja itu menatapnya bingung.

“Nugu?” Tanya yeoja itu.

“Aku Changmin.” Jawabnya. Sontak yeoja itu membelalakan matanya melihat perubahan dirinya.

“CHANGMIN? KAU SHIM CHANGMIN?” Teriak Hye Won tak percaya.

“Pantas saja dia mencintaimu, kau sangat tampan seperti ini. Wah aku tak menyangka kau berubah secepat ini. Ah Chae Jin sedang di ruang dosen.” Ucap Hye Won sambil tersenyum. Changmin melihat yeoja itu menggandeng seorang namja yang ia lihat bersama yeojachingunya kemarin.

“Siapa?” Tanya Junsu pada Hye Won.

“Ini loh. Dia kekasih Chae Jin yang sering kuceritakan.” Jawab Hye Won. . Junsu mengangguk mengerti.

“Kau tunggulah di sini. Sebentar lagi pasti Chae Jin akan kemari. Ah kenalkan aku Junsu.” Ucap Junsu ramah.

“Dia namjaku.” Ucap Hye Won bangga. Changmin tersenyum malu melihat Junsu. Namja yang ia kira sedang mendekati Chae Jin, kekasihnya.

“Changmin imnida.” Ucapnya. Tak lama ia melihat Chae Jin keluar dari ruang dosen. Dengan cepat ia menghampiri yeoja itu tapi sayang yeoja itu tak meresponnya dan langsung pergi. Changmin terus mengejar yeoja itu. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa Chae Jin marah padanya. Saat di luar kampus langkahnya terhenti karena terhalang oleh beberapa yeoja yang menghalanginya.

“Maukah kau mengajari kami science?” Tanya yeoja-yeoja itu.

“Chagi-a.” Teriaknya. Chae Jin berbalik menatapnya.

“Apa? Urus saja urusanmu dengan para yeoja-yeoja itu.” Ucap Chae Jin padanya lalu naik ke dalam taksi. Ia tak peduli lagi dengan namja itu. Namja yang membuatnya kesal.

—–

“Pagi-pagi sudah membuatku kesal.” Gumam Chae Jin sambil menatap ke depan kampus. Changmin, namjachingunya di kelilingi oleh yeoja-yeoja kampus. Dengan kesal ia masuk ke dalam kampus. Tak ia pedulikan teriakan namja itu yang memanggilnya.

“Aish dia lagi.” Ucapnya kesal saat melihat Jaejoong menghampirinya. Namja itu tersenyum padanya.

“Apa kurang tamparanku kemarin hah?” Ucap Chae Jin ketus.

“Aku tak akan menyerah.” Jawab Jaejoong membuat Chae Jin menghela nafas berat. Chae Jin terus berjalan ke kelasnya. Sialnya hari ini semua jadwal kuliahnya satu kelas dengan Jaejoong. Hal itu membuat hari-harinya semakin buruk.

Chae Jin menjalani kuliahnya hari ini dengan kesal dan ia sama sekali tidak bisa fokus dengan materi yang dosen berikan. Setelah selesai kuliah Chae Jin berjalan keluar dengan lemas. Langkahnya terhenti saat melihat Changmin berada tepat di depannya dengan penampilan yang sama seperti tadi pagi.

“Masih marah? Kenapa kau marah? Kau tak suka dengan penampilanku ini? Katakan saja. Jadi aku tau kau suka atau tidak.” Ucap namjachingunya itu dengan wajah memelas.

“Sebaiknya kita putus saja. Aku sudah tidak mengenalmu lagi. Kau bukan lagi Changmin yang kukenal dulu. Aku suka penampilanmu sekarang tapi kalau kau berubah seperti ini, banyak yeoja yang mendekatimu. Aku tak bisa melihatnya, kau seolah buka lagi milikku yang sangat spesial.” Ucap Chae Jin sambil menahan tangisnya.

“Aku pernah bilang padamu kalau kau hanya boleh membuka kacamatamu di depanku saja. Aku mengatakan itu karena aku ingin jadi yeoja satu-satunya yang melihat penampilanmu seperti ini. Aku ingin hanya aku satu-satunya yeoja yang melihat sisi lain dirimu tapi sepertinya tidak bisa. Mungkin kau pikir aku yeoja egois yang menginginkan kau hanya jadi milikku saja tapi itulah aku.” Ucap Chae Jin.

“Chagi-a.” Ucapan Changmin itu membuat hati Chae Jin sakit. Tak lama ia terkekeh pelan.

“Kau tak usah lagi memanggilku seperti itu. Panggilan itu sepertinya menyiksamu. Aku minta maaf. Permisi.” Ucap Chae Jin lalu pergi. Ia mendengar yeoja-yeoja di sampingnya berbisik yang mengatakan kalau mereka senang Changmin putus dengannya. Dan benar saja tak lama para yeoja itu berteriak lagi ke arah Changmin dan Chae Jin yakin para yeoja itu menghampiri Changmin.

Saat sedang melangkah ia melihat Jaejoong berdiri di depannya. Ia menghembuskan nafasnya pelan lalu kembali berjalan tanpa menghiraukan Jaejoong. Namja itu pun hanya diam saat mengikutinya.

“Berhenti mengikutiku. Aku sedang ingin sendirian.” Ucap Chae Jin lemas.

Chae Jin tiba di sungai han, ia duduk di tepi sungai sambil menatap ke depan. Pemandangan yang indah tapi berbeda jauh dengan hatinya yang saat ini sedang sakit. Ia akui kalau ia egois dan cemburu. Ia sangat cemburu melihat namjachingunya berada di kelilingi yeoja-yeoja.

“Ini.” Ucap seorang namja tiba-tiba membuat Chae Jin menoleh ke samping. Jaejoong memberikannya minuman dingin. Di ambilnya minuman itu dan berterima kasih. Chae Jin tak langsung meminum minuman itu. Ke duanya diam sambil menatap sungai han.

“Kau tau sejak bertemu denganmu tak sengaja waktu itu, aku langsung jatuh cinta padamu. Sejak saat itu aku merasa beruntung hampir menabrakmu dulu karena kalau tidak aku tidak akan pernah bertemu denganmu.” Ucap Jaejoong. Sontak Chae Jin mmukul lengan namja itu kesal.

“Kau beruntung tapi aku sial. Aku hampir mati tertabrak olehmu.” Ucap Chae Jin kesal. Jaejoong terkekeh pelan mendengarnya. Namja itu menatap Chae Jin yang tengah memandang sungai han dengan sedih.

‘Kau akan menerima balasan dariku atas tamparanmu kemarin.’ Batin Jaejoong dengan tersenyum licik.

Sementara itu Changmin masih berada di kampus dengan para yeoja di sekelilingnya. Ia tak bisa memikirkan yang lain, hanya Chae Jin yang ada di pikriannya. Perkataan yeoja itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ia mengutuk dirinya sendiri saat ingat yeoja itu tak suka kalau ia membuka kacamatanya di depan orang lain. Changmin memang lupa kalau yeoja itu hanya ingin ia membuka kacamatanya di depan Chae Jin.

‘Pabo!’ Batinnya. Changmin berhenti melangkah dan menatap kesal yeoja-yeoja di sekelilingnya. Para yeoja itu terus memanggilnya dan mengajaknya pergi.

“YA! BISA TIDAK KALIAN BERHENTI MENGIKUTIKU? AKU MUAK PADA KALIAN YANG SELALU BERADA DI SEKELILINGKU. PERGI!!!! DAN JANGAN MENDEKATIKU LAGI. GARA-GARA KALIAN CHAE  JIN PERGI DARIKU!!!” Teriak Changmin kesal. Sontak para yeoja itu terdiam dan perlahan mundur.

“Minggir!!!” Teriaknya lagi sambil berjalan.

“Menyebalkan. Apa sebenarnya mau mereka?” Gumamnya kesal. Tak lama ia melihat Hye Won dan kekasihnya Junsu. Changmin pun menghampirinya.

“Hye Won-sshi, apa kau melihat Chae Jin?” Tanyanya.

“Aku lihat dia tadi pergi dengan Jaejoong. Kuhubungi ponselnya pun sangat sulit. Aku sangat takut terjadi sesuatu padanya. Kudengar dari Junsu, Jaejoong sepertinya merencanakan sesuatu.” Ucap Hye Won. Changmin kaget mendengarnya.

“Sebaiknya kau segera mencari Chae Jin. Aku mendengar hal itu dari temanku yang kebetulan teman Jaejoong juga. Dia memberitahukanku tentang hal itu. kami akan membantu mencarinya dan kalau aku dan Hye Won sudah menemukan Chae Jin, kami akan menghubungimu.” Ucap Junsu ramah. Changmin mengangguk berterima kasih lalu ia bergegas pergi mencari keberadaan Chae Jin. Ia takut terjadi sesuatu pada yeojanya itu.

—-

“Kau mau pergi ketempat yang menyenangkan yang bisa melupakan kesedihanmu itu?” Tawar Jaejoong. Chae Jin tetap menatap ke arah sungai han.

“Kemana?” Tanya Chae Jin datar. Ia terlalu malas untuk menanggapi setiap omongan Jaejoong. Hatinya masih sangat sakit.

“Ayo ikut saja. Kau tak boleh sedih lagi karena namja itu.” Ucap Jaejoong lalu ia menarik tangan Chae Jin dan membawa yeoja itu ke dalam mobilnya.

“Apa ini?” Tanya Chae Jin saat ia sudah sampai. Ia menatap Jaejoong.

“Ini namanya Club malam. Apa kau tak pernah ke tempat seperti ini?” Ucap Jaejoong. Chae Jin berdecak kesal.

“Kau tau ini club malam tapi maksudku itu untuk apa kemari? Aku tak mau ke tempat seperti ini, aku mau pulang saja.” Ucap Chae Jin lalu melangkah pergi tapi baru beberapa langkah Jaejoong menahannya. Chae Jin menatap namja itu.

“Aku janji tidak akan apa-apa. Aku akan menjagamu.” Ucap  Jaejoong meyakinkan Chae Jin. Chae Jin menatap Jaejoong cukup lama. Akhirnya ia menghela nafas dan menganggukan kepalanya. Keduanya pun masuk ke dalam club. Jaejoong menggenggam erat tangan Chae Jin. Ia memesan tempat VVIP dan beberapa minuman untuk ia dan Chae Jin.

Saat minuman datang Jaejoong menawari Chae Jin minuman beralkohol. Ia terus menyuruh Chae Jin minum hingga yeoja itu mabuk. Chae Jin pun menerima minuman itu karena ia sedang sedih. Jaejoong melihat Chae Jin sudah mabuk berat dan kini yeoja itu tengah mengoceh tak jelas. Di dekatinya yeoja itu dan di peluknya pinggang Chae Jin yang seksi itu. Yeoja itu tak menolaknya sama sekali.

Perlahan Jaejoong mendekat ke arah Chae Jin lalu mencium lehernya, lagi-lagi yeoja itu tak menolaknya. Jaejoong tersenyum puas melihat reaksi Chae Jin. Tak lama ia kembali menuangkan minuman untuk Chae Jin tapi kali ini ia menaruh obat tidur berdosis pada yeoja itu. Chae Jin meminumnya tanpa sadar kalau minuman itu sudah di beri obat tidur oleh Jaejoong. Dan tak lama Chae Jin merasa mengantuk lalu tertidur di pangkuan Jaejoong.

“Aku akan segera mendapatkanmu. Kau akan merasakan balasan dariku atas perbuatanmu kemarin.” Gumam Jaejoong sambil tersenyum sinis. Ia menggendong Chae Jin dan membawanya ke apartemen miliknya.

Saat sampai di apartemen Jaejoong langsung membaringkan tubuh Chae Jin di atas ranjang miliknya. Di lepasnya pakaian yang melekat di tubuh yeoja itu satu per satu hingga tak tersisa satu pun. Ia sangat dendam pada Chae Jin, Jaejoong tak bisa memaafkan perlakukan yeoja itu padanya.

“Aku mendekatimu dengan baik-baik tapi kau meresponnya seolah aku ini manusia sampah yang sangat hina.” Ucap Jaejoong kesal. Ia mengikat kedua tangan Chae Jin ke sisi ranjang, begitu pun dengan kaki yeoja itu. Setelah itu Jaejoong melepas semua pakaiannya lalu mendekati Chae Jin. Di makinkannya vagina yeoja itu dengan jari-jarinya. Setelah puas ia mengocok juniornya hingga ia merasa cukup lalu ia memasukkannya ke dalam vagina Chae Jin. Di kocoknya vagina yeoja itu hingga ia klimaks. Jaejoong pun meremas payudara yeoja itu dengan sangat keras.

“Aaahhhh tubuhmu sangat nikmat Chae Jin-a, kau ternyata masih perawan. Vaginamu sangat sempit ahhhh ahhhh.” Lenguh Jaejoong.

Jaejoong tertawa setelah memperkosa Chae Jin sepuasnya. Dendam di hatinya masih ada, Jaejoong merasa belum puas menyiksa yeoja itu. Jaejoong melangkah mengambil pisau kesayangannya lalu mendekati Chae Jin lagi. Perlahan tapi pasti Jaejoong menyayat-nyayat tubuh mulus Chae Jin. Ia tak mempedulikan darah segar yang mengalir di sekujur tubuh yeoja itu.

Jaejoong tersenyum puas setelah melihat tubuh Chae Jin yang penuh sayatan yang ia perbuat. Ia tertawa keras saat melihat darah terus mengalir dari tubuh yeoja itu. Tawanya terhenti saat melihat yeoja itu bangun, reaksi obat tidur yang di berikannya sudah habis. Di hampirinya yeoja itu lalu tersenyum sinis saat yeoja itu membelalakan matanya melihat apa yang terjadi pada tubuhnya.

“Apa-apan kau? Lepaskan! Brengsek! Apa yang sudah kau lakukan?” Teriak Chae Jin. Jaejoong terawa keras mendengar pertanyaan Chae Jin.

“Apa yang kulakukan? Aku tadi memperkosamu lalu menyayat tubuh indahmu ini. Ternyata kau masih perawan ya. Vaginamu sangat nikmat dan sempit. Gumawo kau memberikan keperawananmu untukku.” Ucap Jaejoong lalu mencium pipi Chae Jin. Sontak Chae Jin menangis mendengar Jaejoong telah memperkosanya. Tak di hiraukannya rasa sakit yang menjalar di tubuhnya akibat luka yang di berikan Jaejoong.

“Ssssshhhh jangan menangis. Kau lebih cantik tersenyum. Aku jadi ingin menyayat wajah cantikmu ini agar lebih cantik.” Ucap Jaejoong. Ia pun menyayat wajah Chae Jin dengan pisaunya.

“Akkhhhhh.” Jerit Chae Jin kesakitan.

“Kau tau sayang? Aku mendekatimu setiap hari tapi kau malah tak peduli padaku dan sibuk dengan namja itu. Kau tak melirikku sedikit pun.” Ucap Jaejoong. Chae Jin takut melihat mata Jaejoong yang tak seperti biasanya. Namja itu seperti sedang ke setanan.

“Lepaskan, kumohon.” Ucap Chae Jin dengan memelas. Namja itu tersenyum horror padanya membuat ia semakin takut.

—–

Changmin berteriak kesal karena sudah berjam-jam ia mencari Chae Jin tapi tak bisa menemukan yeoja itu. Sampai pagi ini pun Changmin terus mencari Chae Jin. Perasaannya semakin tidak enak. Ia duduk di kursi panjang yang ada di taman, ia melihat ke sekelilingnya tapi tak menemukan sosok Chae Jin. Changmin menghela nafas panjang. Tak lama ponselnya berdering, dengan cepat ia melihat siapa yang menelepon.

“Yeoboseo, Hye Won-sshi.” Sapa Changmin langsung saat mengangkat telepon.

“Changmin-sshi, aku dan Junsu sedang dalam perjalanan ke apartemen Jaejoong. Kami sudah tau kalau Jaejoong membawa Chae Jin ke apartemennya yang baru. Datanglah ke apartemen Hilton sekarang.” Ucap Hye Won.

“Ne, aku akan segera kesana.” Ucap Changmin lalu menutup teleponnya. Ia bergegas ke apartemen Hilton di mana yeojanya itu berada.

Sampai di depan gedung apartemen, Changmin melihat Hye Won dan Junsu. Ketiganya langsung ke apartemen Jaejoong dimana  Chae Jin berada. Saat berada di depan pintu apartemen Jaejoong Changmin langsung memencet bel berkali-kali tapi tak ada yang membukakan pintu. Dengan kesal Changmin mendobrak pintu itu lalu masuk. Ia mencari Chae Jin. Mendengar teriakan yeojanya ia langsung masuk ke kamar yang ada di dekatnya.

Changmin membelalakan matanya saat melihat kondisi tubuh Chae Jin. Ia menatap Jaejoong dengan tajam, namja itu hanya tersenyum penuh kemenangan. Dengan kesal Changmin menghampiri Jaejoong, ia memukul namja itu dengan sangat keras. Ia berkali-kali memukul namja itu hingga babak belur. Di bantingnya Jaejoong dengan teknik judo yang ia pelajari dulu. Ia meludah ke wajah namja itu, merasa masih kesal Changmin menendang perut Jaejoong hingga namja itu muntah darah.

“Changmin-sshi, biarkan dia. Dia sudah tak berdaya, biar dia di urus oleh polisi. Aku sudah menelepon polisi tadi. Kita harus membawa Chae Jin ke rumah sakit.” Ucap Junsu membuat Changmin menatap Chae Jin. Ia menghampiri Chae Jin, yeoja itu menatapnya sambil menangis. Di hapusnya air mata yeoja itu dengan perlahan. Changmin menutupi tubuh Chae Jin dengan bedcover yang ada di kamar itu lalu menggendong yeojanya dan  membawanya ke rumah sakit.

Selama perjalanan Changmin sangat khawatir karena Chae Jin tak sadarkan diri. Sampai di rumah sakit ia bergegas membawa Chae Jin. Selama menunggu di ruang tunggu ia tak bisa diam, ia terus berjalan kesana kemari menunggu seseorang keluar dari ruang ICU.

—–

Chae Jin melenguh pelan lalu membuka matanya perlahan. Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat ia meringis pelan. Ia mengedarkan pandangannya melihat sekeliling ruangan, tak lama ia sadari kalau ia berada di rumah sakit. Di lihatnya ke samping ada Changmin yang tengah tertidur sambil menggenggam tangannya. Hatinya teriris melihat namja itu menemaninya di rumah sakit.

“Changmin-sshi.” Panggilnya dengan suara serak. Di gerakkannya perlahan jari-jari tangannya yang di genggam namja itu. Changmin pun sadar, namja itu langsung mendekat ke arahnya sambil tersenyum senang.

“Akhirnya kau sadar juga. Aku sangat khawatir, chagi-a.” Ucap Changmin. Mendengar Changmin masih memanggil Chae Jin dengan sebutan ‘chagi’ membuat Chae Jin menangis. Ia merutuki dirinya sendiri. Merutuki kebodohannya dan rasa cemburunya yang sangat besar pada Changmin. Namja itu menghapus air matanya dengan lembut.

“Wae? Ada yang sakit? Katakan padaku. Ah aku panggil dokter saja.” Chae Jin menggelengkan kepalanya cepat.

“Kenapa kau di sini?” Tanyanya. Namja itu tersenyum lembut, baru ia sadari kalau penampilan namja itu sama seperti dulu. Kini di depannya adalah Changmin yang ia kenal, seorang namja berkacamata dan berpenampilan tidak menarik tapi sangat ia cintai.

“Kenapa malah bertanya? Tentu saja aku di sini untuk menemanimu, kau pikir aku tega membiarkanmu sendirian di sini setelah apa yang Jaejoong perbuat pada yeoja yang kucintai?” Jawab Changmin. Mendengar nama Jaejoong membuat Chae Jin sadar kalau kini ia tak lagi perawan karena namja brengsek itu telah memperkosanya. Kembali ia menangis mengingat kejadian karena kebodohannya.

“Aku tidak lagi suci. Dia sudah memperkosaku. Aku kotor.” Ucapnya.

“Ssssssshhhh jangan berkata seperti itu.” Ucap Changmin menenangkan Chae Jin. Ia memeluk pelan yeojanya lalu mencium pipi Chae Jin dengan lembut.

“Kau akan baik-baik saja sekarang. Aku akan selalu ada di sisimu. Tak akan kubiarkan siapapun mendekatimu. Kau masih tetap yeojaku yang suci. Kau tetap seorang Chae Jin-ku yang manis, agresif, pemarah dan pencemburu. Sudah kukatakan padamu dulu. Seperti apapun dirimu aku akan tetap mencintaimu.” Ucap Changmin. Chae Jin menangis lagi lalu membalas pelukan Changmin.

“Mianhae jeongmal mianhaeyo. Aku terlalu bodoh dan sangat pencemburu hingga ini terjadi padaku. Aku sangat bodoh, kalau saja aku tidak cemburu aku pasti masih suci dan kesucianku pasti akan kuberikan padamu. Mianhae, Minnie-a.” Ucap Chae Jin. Changmin menenangkan yeojanya yang terus menangis.

“Sudah jangan katakan itu lagi.” Ucap Changmin sambil mengelus rambut Chae Jin dengan lembut.

***

Dua bulan setelah kejadian itu hubungan Chae Jin dan Changmin semakin dekat, keduanya sudah kembali menjadi sepasang kekasih. Chae Jin sampai saat ini masih berusaha mengontrol sifat cemburunya yang sangat besar itu, Changmin pun kini tengah berusaha menjadi namja yang romantis dan tidak membosankan bagi Chae Jin. Changmin sampai saat ini tak pernah memperlihatkan rasa cemburunya di depan Chae Jin. Ia selalu menahan rasa cemburunya yang ia rasakan lebih besar di bandingkan rasa cemburu Chae Jin.

Changmin berjalan ke arah fakultas Chae Jin, ia ingin menjemput yeojanya itu. Ia menunggu di depan kelas Chae Jin. Tak lama ia melihat beberapa mahasiswa keluar dari kelas. Tangan Changmin mengepal saat melihat yeoja itu tengah mengobrol dengan seorang namja yang tidak di kenal. Ia semakin kesal saat melihat tangan namja itu kini merangkul bahu Chae Jin. Di lihatnya yeoja itu menepis tangan namja itu dari bahunya.

“Minnie.” Panggil Chae Jin. Changmin berusaha tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Siapa?” Tanya namja itu pada Chae Jin.

“Namjachinguku.” Jawab Chae Jin sambil tersenyum. Changmin melihat namja itu terkekeh melihat penampilannya.

“Siapa?” Tanya Changmin pada Chae Jin.

“Anak baru di kelasku.” Jawab Chae Jin jujur.

“Kau yakin Chae Jin-sshi, ini pacarmu?” Ucap namja itu setengah meledek. Chae Jin menatap namja itu tak suka. Changmin mengulurkan tangannya, namja itu menyambutnya.

“Kenalkan Changmin. Shim Changmin.” Ucap Changmin dingin.

“Park Yuchun. Akkhh.” Jerit Yuchun saat Changmin meremas tangannya. Changmin terus menatap Yuchun dingin dan terus meremas kuat tangan namja itu.

“Hati-hati dengan bicaramu dan jangan dekat-dekat dengan Chae Jin lagi. Kuharap kau mengerti. Ini peringatan pertama dan terakhir kalinya dariku.” Changmin melepaskan jabatan tangannya itu lalu langsung membawa Chae Jin pergi. Chae Jin menatap kagum namjanya itu. Belum pernah ia melihat Changmin seperti tadi. Ini pertama kalinya ia melihat Changmin cemburu padanya, sangat menakutkan tapi ia suka melihat namjanya itu cemburu seperti tadi.

Changmin membawanya ke lab seperti biasa dan ia duduk di kursi biasa ia duduk. Di tatapnya wajah kesal dan marah Changmin. Ia tersenyum kecil melihat namjanya itu berubah seperti sekarang ini. Entah mengapa ia sangat menyukai Changmin yang cemburu.

Chae Jin merasa sangat beruntung mempunyai namjachingu seperti Changmin yang sangat sabar menghadapi dirinya. Ia pun sangat beruntung karena setelah kejadian itu Changmin tak pernah menyebut atau pun membahas mengenai Jaejoong. Kalau ia teringat dengan namja itu, Changmin langsung menghiburnya dan mengalihkan perhatiannya agar tak lagi mengingat namja brengsek itu.

Satu hal yang masih tidak bisa ia berikan pada Changmin, melakukan sex. Ia masih tidak bisa melakukan itu, ia masih terbayang-bayang namja menakutkan itu jika akan berhubungan dengan Changmin. Seagresif apapun dirinya ia tak pernah melebihi batas, ia hanya berani mencium bibir dan leher Changmin. Tidak pernah lebih. Itu ia lakukan jika ia sedang ingin bermanja-manjaan dengan namjachingunya.

“Haaaaaah.” Desahnya antara senang melihat Changmin cemburu dan tak tega membuat namja itu tersiksa karena dirinya. Selama ini Changmin di rasakannya sangat perhatian dan sabar padanya.

“Wae, chagi? Kau bosan? Kita pergi jalan-jalan saja bagaimana?” Tanya namjanya itu yang mendengar desahannya. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya dan menghampiri Changmin.

“Tidak apa-apa. Kubantu ya?” Ucap Chae Jin. Chae Jin membantu Changmin di lab sambil memikirkan cara agar namjanya itu senang.

Selesai membantu Changmin, Chae Jin dan namjachingunya itu pulang. Chae Jin meminta namjanya itu menemaninya ke apartemen miliknya. Selama perjalanan pulang Chae Jin terus bergelayutan manja di lengan Changmin. Sampai di depan gedung apartemennya ia langsung menarik tangan Changmin untuk segera masuk.

“Duduk dulu sebentar ya. Aku mau mandi dan ganti pakaian.” Ucap Chae Jin. Changmin hanya mengangguk pelan. Selama menunggu ia membaca majalah yang ada di sana, saat melihat edisi majalah itu ia teringat sesuatu. Untuk meyakinkannya ia melihat tanggal di ponselnya.

“Aish.” Ucapnya pelan.

“Apa yang harus kulakukan ya? Bagaimana kalau Chae Jin marah nanti?” Ucapnya pada diri sendiri.

“Sedang memikirkan apa?” Ucap Chae Jin yang sudah selesai mandi dan kini berada di samping Changmin. Changmin menatap Chae Jin dengan kaget. Yeoja itu mengelus pipinya dengan lembut.

“Waeyo Minnie-a?” Tanya yeojanya itu. Dengan cepat Changmin tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Di lihatnya Chae Jin memakai pakaian tidur yang tipis sehingga payudara yeoja itu sedikit terlihat olehnya. Changmin membuka jaketnya lalu menutupi tubuh yeojanya.

“Minnie-a, kenapa di tutup seperti ini? Aku kan sudah mandi. Apa kau mau mengajakku keluar?” Tanya Chae Jin sambil melepas jaket Changmin.

“Kau memakai pakaian tidurmu terlalu tipis. Gantilah dengan yang lain.” Ucap Changmin sambil menatap ke arah lain.

Chae Jin berdecak pelan mendengar ucapan namjachingunya itu. Ia langsung naik ke pangkuan Changmin dan mencium kilat bibir seksi namjanya itu. Ia tersenyum senang. Di kalungkan kedua tangannya di leher Changmin lalu mengelus rambut namjanya itu.

“Aku senang melihatmu tadi di kampus. Kau menunjukkan rasa cemburumu padaku. Baru kali ini kulihat dan sangat menyeramkan tapi aku suka melihatnya.” Chae Jin tambah senang saat melihat wajah Changmin berubah jadi memerah karena malu.

“Manisnya.” Ucapnya lalu kembali mencium sekilas namjachingunya. Ia menatap mata namja di depannya dalam.

“Gumawo kau masih menerimaku setelah kejadian itu. Kau dengan sabar menemaniku dan menerima sifatku yang seperti ini. Aku sangat beruntung memiliki namja yang sabar sepertimu. Apa kau menyesal masih bersamaku sampai saat ini?” Jantung Chae Jin berdetak cepat, ia takut namja itu menyesal masih bersamanya.

“Tidak akan pernah. Aku tak akan pernah menyesal menjadi namjachingumu.” Jawab Changmin. Sontak Chae Jin tersenyum lalu membuka  kacamata Changmin dan menaruhnya di atas meja. Di ciumnya namja itu dengan lembut.

Perlahan ciumannya berubah menjadi sangat agresif. Ia sudah bertekad untuk melakukannya hari ini dengan Changmin. Di tekannya kepala namja itu agar ciuaman mereka semakin dalam. Namjanya itu pun mulai membalas ciumannya dengan lembut. Tak lama ia mencium pipi Changmin lalu turun ke leher namja itu. Ia membuka kancing kemeja namjachingunya itu satu per satu sambil menggesekkan pinggulnya hingga junior namja itu terasa di vaginanya. Di rasakannya junior Changmin mulai membesar.

Setelah semua kancing kemeja namjanya terbuka Chae Jin mulai memasukkan tangannya dan mengelus dada bidang Changmin. Saat menemukan nipple namja itu Chae Jin mulai memainkannya, tangannya yang lain menuntun tangan namja itu untuk bermain di payudaranya. Ia senang mendengar namja itu melenguh atas perbuatannya. Tapi saat ia menuntun tangan namja itu di payudaranya namja itu hanya diam, ia sedikit mengerutkan dahinya.

“Ahhhh eeengghhhh chagi-a aaahhh aahhh tolong hentikan ahhhh jangan seperti ini.” Ucap Changmin lalu perlahan ia mendorong Chae Jin agar menghentikan perbuatannya itu. Di tatapnya wajah yeojanya itu yang terlihat kecewa dan bingung.

‘Ya tuhan kenapa di saat seperti ini kau mau melakukannya? Jika tidak mengingat itu aku tidak akan menolak apa lagi melihat wajahmu yang sangat seksi seperti sekarang ini. Mianhae aku tak bermaksud membuatmu kecewa dan sakit hati seperti ini.’ Batin Changmin.

“Waeyo? Kau jijik padaku yang sudah kotor ini?” Ucap Chae Jin sedih. Ia merasa Changmin menolaknya karena jijik padanya.

“YA! Sudah kukatakan jangan berkata seperti itu lagi. Aku tak suka kau berkata seperti itu. Kalau aku merasa jijik padamu kenapa aku tidak dari dulu meninggalkanmu? Dan kenapa aku harus setia di sampingmu? Jangan mengatakan itu lagi.” Teriak Changmin emosi. Ia paling tak suka yeojanya berkata sepetti itu. Chae Jin terisak mendengar Changmin membentaknya.

“Mianhae, chagi-a. Kau kan tau aku paling benci kau mengatakan hal itu. Kau harus ingat kata-kataku dulu. Aku tak akan meninggalkanmu. Asal kau tau jika aku tidak bisa mengontrol diriku tadi, aku sudah membawamu ke ranjang untuk bercinta. Wajahmu tadi sangat seksi dan menggoda.” Ucap Changmin memberi pengertian pada yeojanya.

“Lalu kenapa menolakku? Padahal aku bertekad untuk melakukannya hari ini denganmu. Aku tak tau apa yang harus kuberikan padamu sebagai tanda cintaku dan rasa terima kasihku karena kau terus di sampingku. Aku hanya bisa melakukan ini.” Ucap Chae Jin. Changmin tersenyum lembut.

“Aku akan menerimanya di saat yang tepat nanti. Kau jangan lagi berpikiran seperti tadi, arra? Ada satu hal yang bisa kau berikan padaku.”

“Arraseo, aku tak akan mengatakan dan berpikiran seperti itu lagi. Apa itu?” Tanya Chae Jin. Changmin tersenyum penuh arti.

“Jangan berdekatan dengan Yuchun atau namja lain yang belum kukenal dengan baik. Bagaimana?” Ucap Changmin. Chae Jin tersenyum lalu mengangguk senang. Changmin sangat suka melihat senyuman manis dan bahagia Chae Jin.

“Ngomong-ngomong kau bilang akan menerimanya di saat yang tepat nanti, itu maksudnya apa?” Tanya Chae Jin penasaran.

“Ah i itu …” Ucapan Changmin terpotong oleh ponselnya yang berdering. Chae Jin pun turun dari pangkuan Changmin. Changmin mengambil ponselnya dari saku celana lalu melihat id callernya. Saat melihatnya ia langsung berdiri dan menerimanya agak jauh dari Chae Jin. Hal itu membuat Chae Jin merasa aneh.

“Ah ne Sung Rin-a, gumawo. Besok bisakah kita bertemu? Ah ne ne arraseo. Sampai besok.” Ucap Changmin yang masih bisa di dengar oleh Chae Jin.

“Nugu?” Tanya Chae Jin penasaran.

“Ah itu Seung Hyun, temanku di kampus.” Jawab Changmin bohong.

‘Kau mulai bohong padaku.’ Batin Chae Jin kesal.

“Sebaiknya aku pulang. Ini sudah malam. Kau istirahatlah, tidur yang nyenyak ya.” Ucap Changmin lalu mencium kening Chae Jin.  Setelah itu ia pergi dengan cepat dari apartemen Chae Jin. Ia tak mau yeojanya itu tambah curiga dengannya.

Chae Jin berdecak kesal karena tau Changmin berbohong padanya. Ia mulai merasa curiga namjanya itu selingkuh darinya dan kata-kata manisnya selama ini dan tadi hanyalah bualan belaka.

“Awas kau Shim Changmin.” Gumamnya pelan.

“Tapi kalau Changmin benar-benar selingkuh berarti ia memang jijik padaku.” Ucap Chae Jin sedih.

—-

Beberapa hari setelah Changmin menolak Chae Jin bercinta malam itu. Chae Jin merasa kalau Changmin mulai menjauhinya. Berkali-kali ia mengajak Changmin jalan-jalan ataupun meminta menjemputnya di kampus tapi namja itu selalu beralasan untuk menolaknya. Hari-harinya jadi terasa sangat sepi tanpa Changmin. Ia benar-benar kesepian dan membutuhkan namjachingunya itu.

Chae Jin berjalan seorang diri di keramaian kota Seoul, ia berjalan dengan lemas. Sejak pagi ia berusaha mengajak Changmin keluar tapi namja itu selalu menolaknya. Ia terus berjalan malam itu seorang diri. Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang sangat ia kenal masuk ke dalam club malam yang ia tau menyediakan para pelacur untuk pelanggannya.

“Minnie-a.” Gumamnya pelan. Perlahan ia mulai menangis melihat namjachingunya berselingkuh.

TBC

Mianhae kalo tambah gaje…

2 Chap/Part terakhir akan author protect. silahkan baca rulesnya di sini.

16 thoughts on “My Boy Chap 2

  1. onnie,aqu pkir pwnya bda trnyta pwnya sama kya di blog yg 1nya😄 *ditbok enggal onn

    yaaaa onnie,lnjutannya cptan ngapa😄 aqu udh ga snggup mmikul ksetiaan min /plak
    mu si min slingkuh tau ga aqu ttp cinta sama min :-*

    lnjutkan onnie lnjutkan!!
    aqu udh bdoa ni biar cpt lnjut🙂 jdi msti kudu scptnya di lnjutk!!
    ya onnie lnjutin ya😉

    lanjutkan!!lnjutkan!!lnjutkan!!lanjutkan!!
    lanjutkan!!lanjutkan!!lanjutkan!!
    lanjutkan!!lnjutkan!! *demo di dpan enggal onn smbil bwa spnduk poto min😄

  2. kyuppa berkata:

    kereeeenn eon !!!
    Kasian amat chaejin disayat2. u,u
    pAs mbaca,ih ga tega bgt deh eon. Feelnya dpet. Eon,pkoknya hrus happy ending ya :p
    Penasaran ma nextnya. Jangan lama2 ya eon.

  3. Resty berkata:

    arrrgggggggghh JJ oppa kenapa jadi psyco gitu o,O

    emang bener kata orang ‘lovi is blind’
    bawaannya cemburu mulu, ga bs lht hal2 positif, selalu negatif thinking
    aigoo kenapa reader jadi melankolis gini sech @_@

    lanjutkan chingu hwaiting ^^

  4. Kim Hyun Rin (cassiopeiay) berkata:

    Weeehhhh jaejoong jahat bgt sih. Gara2 ditolak jd begitu. Adeuuuh pasti changmin gantebg bgt tuh sampe yeoja2 pada gmn gitu sama changmin. Changmin tuh emang guanteng bgt. Tapi yah itu bisa bikin chae jin cemburu.
    Btw ada apa dg shim changmin? Dan trus knp changmin ada di club? Jangan2 ada sesuatu dg keculunan(?) *ditampar* changmin….

  5. TriZheey2992 berkata:

    Jaejoong bner2 jdi badboy…
    Tpi knp dgn changmin…
    Knp berubah g2 sftx???
    Chaejin kau sbr lha…
    Pzti ada alsnx kok changmin brubh bg2…

  6. deewookyu berkata:

    ChangMin kenapa….
    kl gak cinta kok masih mw sama Chaejin
    iissshhkkk…..tuh changmin ke club
    mw apa dia….
    apa di juga..
    BadBoy …..???

  7. ini jejung phsyco kali ya? sampe disayat2 gitu ><
    chae jinnya sih nih yang cemburuan sama changmin,hhe
    eh, ada apa tuh sama changmin? kok tiba2 dy ada di club malam?
    pasti ada yang mau dy kerjain deh buat bikin surprise untuk chaejin *sok tau* kekekeke

  8. ckckckck~ chae jin bnr2 pencemburu y. ampe mikir yg aneh2 tntg minnie. minnie jd tmbh keren aja malah diputusin. ==”
    tapi yg bikin aku shock: JAEPPA PEMERKOSA?! OH MY GOD! MAU DONG DIPERKOSA JAEPPA! >///< #PLAAKK *gila*

  9. putrimays berkata:

    Ahhhh.. eonni.. ff mu sukses buat aku deg degan, penasaran dll..

    Ini changmin knp sih? Apa dia udah beneran jijik ya?? Ku harap tidak shheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s